Anda di halaman 1dari 11

Makalah Agroindustri

Pengembangan Agroindustri Nata De CoCo Berkelanjutan





Disusun oleh :
1. Pujo
2. Mala Wijayanti
3. Mutya Pramuditawati
4. Mey Wulandari
5. Maranatha Fectauli


TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012
Daftar Isi

Judul
Daftar Isi .
Bab I Pendahuluan
1.2 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah ..
1.3 Tujuan .
Bab II Isi ..
2.1 Pengantar Produksi .
2.2 Kendala dalam Pengembangan Agroindustri Nata de coco
2.3 Cara Pelestarian Bahan Baku Produksi Nata de Coco ...
2.4 Cara Produksi Nata de Coco
2.5 Dampak Produksi Nata de Coco Terhadap Lingkungan .
Bab III Penutup
3.1 Kesimpulan .
3.2 Saran







BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam perkembangannya, pembuatan nata de coco, telah menyebar ke berbagai negara
penghasil kelapa, termasuk Indonesia. Nata de coco merupakan hasil fermentasi air kelapa
dengan bantuan mikroba Acetobacter xylinum. Air kelapa merupakan limbah cair produksi
kopra, minyak kelapa, dodol dan industri pangan lainnya yang menggunakan buah kelapa.
Disamping itu nata de coco juga dapat dibuat dari pemanfaatan limbah air kelapa, ini sering
dise but dengan istilah re-use , dan ramah lingkungan. Kandungan utama nata de coco adalah
selulosa.Gula yang terdapat pada air kelapa diubah menjadi asam asetat dan benang - benang
selulosa oleh Acetobacter xylinum, lama kelamaan akan terbentuk suatu masa yang kokoh
dan mencapai ketebalan beberapa sentimeter.
Nata ternyata dapat pula dibuat dari berbagai cairan buah seperti tomat
( nata de tomato), nenas ( nata de pina), pepaya ( nata de papaya) dan buah-buah
yang lain yang mempunyai kandu ngan gula yang cukup tinggi. Produk nata
diperkirakan mempunyai prospek yang cerah dimasa yang akan datang,sebagai
upaya pengembangan perlu dicari a lternatif bahan baku substrat nata ,salah satu
alternatifnya cairan buah semu jambu mete / cashew nut. Nata de coco yang dihasilkan oleh
spesies Acetobacter xylinum mempunyai beberapa keunggulan antara lain kemurnian struktur
serat, kekuatan absorbsi air yang besar, pertambaha n berat yang cukup besar jika bentu
keringnya direndam dalam air serta bersifat biodegradable . Pada pertumbuhannya
Acetobacter xylinum dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain tingkat keasaman
medium (pH), oksigen, suhu fermentasi dan nutrisi.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana produksi nata de coco?
Apa saja kendala yang dihadapi dalam pengembangan agroindustri nata de coco
berkelanjutan?
Bagaimana melestarikan bahan baku produksi nata de coco?
Bagaimana dampak produksi nata de coco terhadap lingkungan?
Bagaimana cara mengembangkan produk nata de coco menjadi produk agroindustri
berkelanjutan?
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui cara produksi nata de coco
Untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam pengembangan agroindustri nata de
coco berkelanjutan.
Untuk mengetahui cara melestarikan bahan baku produksi nata de coco.
Untuk mengetahui dampak produksi nata de coco terhadap lingkungan.
Untuk mengetahui cara pengembangan produk nata de coco menjadi produk
agroindustri berkelanjutan



















BAB II
ISI
2.1 Pengantar Produksi
Nata De Coco adalah dibuat dari limbah air kelapa yang bisa menjadi salah satu bentuk
minuman segar yang menyerupai agar-agar atau jelly yang sudah dikenal lama di
Indonesia.Walaupun aslinya bukan dari Indonesia. Tapi datangnya dari Negara Spanyol yang
masuk ke Negara Filipina lalu masuk ke Indonesia. Kunci utama pembuatan Nata De Coco dan
bentuk Nata yang lainnya adalah berkat adanya bakteri acetobacter xylinum. Rasa dan bentuk
Nata De coco adalah sudah tidak asing lagi bagi orang Indonesia. Karena bentuk nata inilah yang
pertama populer di Indonesia sebelum bentuk nata yang lain. Rasanya enak menyegarkan baik
untuk dipakai dessert (pencuci mulut) sehabis makan, dijadikan hidangan cocktail maupun
diminum langsung dari gelas kemasannya. Sebagian orang membuat nata de coco hanya berhenti
pada nata lembaran mentah saja, Sehingga pemasarannya sangat tergantung pada para pengepul
atau pada agen nata mentah saja. Jika pengepul ybs libur atau kelebihan pasokan, maka para
pembuat nata mentah juga ikut libur menunggu pengepul ybs menerima pasokan lagi. Sangat tidak
nyaman bekerja dibawah ketergantungan pihak lain.
Untuk itu, sangat disarankan bagi para pembuat nata de coco yang sudah eksis lama atau
yang akan memulai usaha nata de coco baru, sebaiknya tidak menjual berupa bahan mentah
kepada pihak lain. Tetapi juallah berupa hasil produk yang sudah jadi. Karena nilai tambahnya
berlipat-lipat. Jika memproduksi nata mentah dalam jumlah besar keuntungan yang didapat hanya
sedikit. Karena nilai tambahnya dinikmati pihak lain. jika sudah bisa membuat nata de coco,
lakukanlah dengan pengemasannya dan pemasarannya sendiri sehingga tidak bergantung dengan
pihak lain dan untungnya bisa dinikmati sendiri. Nata yang terbuat dari air limbah fermentasi
pembuatan tepung mocaf, namanya Nata De Mocaf. Nata yang terbuat dari air limbah pembuatan
tahu, namanya Nata De Soya. Dan masih banyak lagi nata yang terbuat dari bahan organik
lain.Nata De Coco atau nata yang lain, adalah salah satu bentuk asupan yang berserat tinggi dan
menyehatkan bagi pencernaan. Terbukti beberapa Dokter menganjurkan kepada orang yang sudah
berumur atau yang sedang bermasalah dengan BAB-nya, agar makan atau minum Nata De Coco
secara rutin.
Membuka usaha produksi Nata De Coco adalah pilihan yang masih sangat terbuka luas.
Bahan bakunya melimpah ada dimana-mana dan sangat murah. Bahkan kalau mau mengambil
sendiri dibeberapa pembuat kopra, pembuat jajanan yang banyak menggunakan kelapa, jasa
pemarutan kelapa atau disemua pasar tradisional, bisa gratis. Karena limbah air kelapa ini
biasanya dibuang begitu saja oleh para pedagang kelapa yang dapat mencemari lingkungan daerah
setempat. Cara memproduksinya sangat mudah dan tidak memerlukan teknologi tinggi. Semua
orang bisa membuatnya (kalau mengerti caranya). Juga sangat laku dipasaran dan tidak ada
limbahnya. Karena limbahnya bisa diolah lagi menjadi produk turunan yang berguna bagi
lingkungan dan bisa mendatangkan uang tambahan.
Usaha nata de coco memang sangat mungkin manajemennya diserahkan kepada orang lain
karena tidak sulit dan tidak menggunakan teknologi yang tinggi. Memulai usaha produksi Nata De
Coco, tidak memerlukan modal besar dan lahan yang luas. Cukup dimulai dengan Industri
rumahan, bekerja dirumah sendiri dengan tenaga 2 orang, sudah bisa memproduksi 20 karton box
setiap minggu untuk memenuhi kebutuhan pasar daerah setempat. Kalau ingin membesarkannya
atau ingin menjadikannya sebuah pabrik Nata De Coco, tinggal menambah semangat kerja, modal
usaha dan ekspansi pasar. Sekarang pabrik yang sudah memproduksi Nata De coco, adalah baru
para pemodal besar yang ada dikota besar. Sedangkan pengusaha didaerah-daerah belum banyak
bahkan belum ada. Padahal kebutuhan Nata De Coco bila dibandingkan dengan jumlah penduduk
Indonesia yang 230 juta dan terus berkembang, masih sangat kurang. Terutama didaerah luar
pulau jawa yang banyak menghasilkan buah kelapa, sangat potensial sekali untuk memproduksi
nata de coco walaupun diawali dari usaha rumahan.Didaerah-daerah diluar pulau Jawa, nyaris
belum ada yang memikirkannya untuk memproduksi nata de coco sampai ke pengemasannya
sendiri. Modal utama untuk mencapai sukses usaha nata de coco adalah semangat yang konsisten
dan tidak mudah menyerah dari dalam diri sendiri. Modal uang bisa didapat dari pinjaman. Modal
ilmu ketrampilan bisa didapat dari mana saja atau dicari di internet. Tapi kalau modal semangat,
tidak bisa didapat dari tempat lain, kecuali dari dalam diri sendiri.
2.2 Cara pengembangan Agroindustri Nata decoco berkelanjutan :
Aspek Produksi Potensi daerah sebagai penghasil bahan baku merupakan peluang, sehingga
mendukung pengembangan usaha agroindustri nata de coco. Namun adanya ancaman berupa
kenaikan harga bahan baku dan bahan penunjang menjadi kendala dalam memproduksikarena
petani kelapa langsung menjual keperusahaan sehingga harga kelapa naik demikian juga kenaikan
harga bahan penunjang dan kesulitan untuk mendapatkan kemasan sachet.
Aspek Pengolahan Diversifikasi produk nata de coco dari segi rasa, yaitu rasa orange, rasa rose,
rasa lechy sehingga mampu memenuhi permintaan pasar menjadi kekuatan dari usaha agroindustri
nata de coco.Antisipasi yang diperlukan yaitu ketika terjadi perubahan permintaan konsumen, oleh
sebab itu diperlukan kreativitas untuk memenuhi permintaan pasar. Kelemahannya adalah
kapasitas produksi terbatas karena menggunakan teknologi sederhana dengan skala rumahtangga
dan hanya mengandalkan modal dan tenaga kerja sendiri.
Aspek Teknologi Penguasaan teknologi semi modern, terdiri dari peralatan listrik dan diesel,
peralatan perebus, peralatan fermentasi, peralatan penampung bahan baku dan hasil, peralatan
pengukur berat dan volume, dan peralatan press kemasan. Disamping itu, ada peralatan kebersihan
merupakan modifikasi dari peralatan industri skala besar yang diadopsi sewaktu menjadi
karyawan pada perusahaan pembuatan nata de coco di Padang Sumatera Barat dari PT. Bumi
Sarimas Kelapa selama 3 tahun, yaitu pada tahun 2002-2005 merupakan kekuatan dari aspek
teknologi. Disamping itu, yang masih menjadi kelemahannya adalah daya tahan produk rendah
dibandingkan produk sejenis, karena konsumen yang menjadi sasaran adalah kelompok
masyarakat golongan pendapatan menengah ke bawah sehingga untuk menurunkan harga jual,
pilihan kemasan menjadi kendala dalam memperpanjang masa kadaluwarsa.
Aspek Pemasaran
Pada saat ini yang menjadi kekuatan bagi pengusaha agroindustri nata de coco adalah pengusaha
Nata de Coco Salju merupakan produsen tunggal nata de coco di daerah, kemasan 82 yang
berbentuk sachet merupakan ciri khas dalam strategi pemasaran produk. Selain itu, juga kemasan
sachet lebih murah dibandingkan dengan kemasan gelas, sehingga dapat mengurangi biaya
produksi. Kelemahannya promosi dan distribusi, produk nata de coco relatif terbatas, meskipun
jangkauan produk selain di Kabupaten Indragiri Hilir sudah mencapai Taluk Kuantan dan
Pekanbaru, dengan target konsumen kelas menengah ke bawah terutama anak sekolah. Menurut
Romdhon (2003) dalam pengembangan industri nata de coco di tingkat petani, di samping
kelayakan finansial, hal yang perlu lebih dipertimbangkan adalah kepercayaan konsumen dan
keterandalan jaringan pemasaran produk yang dihasilkan
Aspek Kelembagaan Sampai saat ini kekuatannya adalah Perusahaan Nata de Coco Salju
merupakan anggota organisasi Aspari yang berfungsi menjembatani pemerintah dan pengusaha
dalam mengatasi masalah dan hambatan usaha termasuk permodalan dan akses pasar. Namun
kelemahannya pengusaha kurang memanfaatkan lembaga yang ada di bidang permodalan seperti
tawaran dari perbankan tidak digunakan untuk menambah modal usaha, karena memiliki prinsip
tidak mau berhutang, sehingga kapasitas produksi tergantung modal yang dimiliki. Dukungan
perbankan dalam permodalan merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan oleh pengusaha yang
sudah sering ditawarkan kepada pengusaha, serta perhatian pemerintah di bidang permodalan pada
usaha kecil dan menengah melalui bantuan kredit bunga lunak menjadi peluang yang dapat
dimanfaatkan.
Prospek Pengembangan Sistem Agriindustri Di Indonesia :
Dilihat dari berbagai aspek, seperti potensi sumberdaya yang dimiliki, arah kebijakan
pembangunan nasional, potensi pasar domestik dan internasional produk-produk agroindustri, dan
peta kompetisi dunia, Indonesia memiliki prospek untuk mengembangkan sistem agroindustri.
Prospek ini secara aktual dan faktual ini didukung oleh hal-hal sebagai berikut:
Pertama, pembangunan sistem agroindustri di Indonesia telah menjadi keputusan politik. Rakyat
melalui MPR telah memberi arah pembangunan ekonomi sebagaimana dimuat dalam GBHN
1999-2004 yang antara lain mengamanatkan pembangunan keunggulan komparatif Indonesia
sebagai negara agraris dan maritim. Arahan GBHN tersebut tidak lain adalah pembangunan sistem
agroindustri.
Kedua, pembangunan sistem agroindustri juga searah dengan amanat konstitusi yakni No. 22
tahun 1999, UU No. 25 tahun 1999 dan PP 25 tahun 2000 tentang pelaksanaan Otonomi Daaerah.
Dari segi ekonomi, esensi Otonomi Daerah adalah mempercepat pembangunan ekonomi daerah
dengan mendayagunakan sumberdaya yang tersedia di setiap daerah, yang tidak lain adalah
sumberdaya di bidang agroindustri. Selain itu, pada saat ini hampir seluruh daerah struktur
perekonomiannya (pembentukan PDRB, penyerapan tenagakerja, kesempatan berusaha, eskpor)
sebagian besar (sekitar 80 persen) disumbang oleh agroindustri (agribinsis).
Ketiga, Indonesia memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) dalam agroindustri.
Kita memiliki kekayaan keragaman hayati (biodivercity) daratan dan perairan yang terbesar di
dunia, lahan yang relatif luas dan subur. Dari kekayaan sumberdaya yang kita miliki hampir tak
terbatas produk-produk agroindustri yang dapat dihasilkan dari bumi Indoensia. Selain itu,
Indonesia saat ini memiliki sumberdaya manusia (SDM) agroindustri, modal sosial (kelembagaan
petani, local wisdom, indegenous technologies) yang kuat dan infrastruktur agroindustri /
agribisnis yang relatif lengkap untuk membangun sistem agroindustri / agribisnis.
Keempat, pembangunan sistem agroindustri / agribisnis yang berbasis pada sumberdaya domestik
(domestic resources based, high local content) tidak memerlukan impor dan pembiayaan eksternal
(utang luar negeri) yang besar. Hal ini sesuai dengan tuntutan pembangunan ke depan yang
menghendaki tidak lagi menambah utang luar negeri karena utang luar negeri Indonesia yang
sudah terlalu besar.
Kelima, dalam menghadapi persaingan ekonomi global, Indonesia tidak mungkin mampu
bersaing pada produk-produk yang sudah dikuasai negara maju. Indonesia tidak mampu bersaing
dalam industri otomotif, eletronika, dll dengan negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, Jerman
atau Perancis. Karena itu, Indonesia harus memilih produk-produk yang memungkinkan Indonesia
memiliki keunggulan bersaing di mana negara-negara maju kurang memiliki keunggulan pada
produk-produk yang bersangkutan. Produk yang mungkin Indonesia memiliki keunggulan
bersaing adalah produk-produk agribisnis, seperti barangbarang dari karet, produk turunan CPO
(detergen, sabun, palmoil, dll). Biarlah Jepang menghasilkan mobil, tetapi Indonesia
menghasilkan ban-nya, bahan bakar (palmoil diesel), palmoil-lubricant


2.3 Kendala dalam Pengembangan Agroindustri Nata de coco
1. Kendala dalam bidang ekonomi:
Biaya tambahan peralatan
Besarnya modal/investasi dibanding kontrol pencemaran secara konvensional sekaligus
penerapan produksi bersih.

2. Kendala teknologi:
Kurangnya penyebaran informasi tentang konsep produksi bersih.
Penerapan sistem baru ada kemungkinan tidak sesuai dengan yang diharapkan atau
malah menyebabkan gangguan.
Tidak memungkinkan tambahan peralatan, terbatasnya ruang kerja atau produksi.
3. Kendala Sumber Daya Manusia:
Kurangnya dukungan dari pihak manajemen puncak
Keengganan untuk berubah baik secara individu maupun oraganisasi
Lemahnya komunikasi intern tentang proses produksi yang baik
Pelaksanaan manajemen organisasi perusahaan yang kurang fleksibel
Biokrasi yang sulit terutama dalam pengumpulan data primer
Kurangnya dokumentasi dan penyebaran informasi
Agroindustri di Indonesia mempunyai peluang dan kelebihan untuk dapat dikembangkan karena
banyak hal. Bahan bakunya seperti ketela pohon, sagu, buah-buahan, sayur-sayuran, tanaman
perkebunan, ikan laut dan hasil hutan mempunyai potensi berlimpah. Sebagian besar penduduk
indonesia tergantung dari sektor pertanian. Kandungan bahan baku agroindustri yang berasal dari
impor relatif rendah. Usaha agroindustri terutama sektor pertanian mempunyai keunggulan
komparatif. Pada era perdagangan bebas, tidak ada lagi restriksi terutama restriksi non tarif
sehingga pengembangan pasar ke luar negeri mempunyai peluang yang besar.
Meskupin mempunyai peluang dan kelebihan yang tinggi agroindustri masih dihadapkan pada
berbagai permasalahan baik permasalahan yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri.
Permasalahan di dalam negeri antara lain :
1. Kurang tersedianya bahan baku secara kontinyu
2. Kurang nyatanya peran agroindustri di pedesaan
3. Kurang konsistennya kebijakan pemerintah terhadap agroindustri
4. Kurangnya fasilitas permodalan
5. Keterbatasan pasar
6. Lemahnya infrastruktur
7. Kurangnya penelitian dan pengembangan produk
8. Lemahnya keterkaitan antara industri hulu dan industri hilir
9. Kualitas produksi dan prosesing yang belum mampu bersaing
10. Lemahnya entrepreneurship
Permasalahan yang berasal dari luar negeri merupakan dampak dari adanya perdagangan bebas.
Pada era perdagangan bebas semua negara mempunyai peluang yang sama sehingga masing-
masing negara akan bersaing memperebutkan pasar dunia. Tiap-tiap negara akan berusaha
meningkatkan kualitas dan efisiensi produknya agar mempunyai keunggulan komparatif dan
kempetitif, sehingga hanya negara majulah yang akan memenangkan persaingan terswebut.
Negara-negara maju, dengan alasan melindungi kesehatan dan keselamatan konsumen telah
menetapkan standar mutu internasional seperti ISO 9000, ISO 14.000, HACCP (Haazard Analysis
and Critical Control Point), Nutritional Labelling and Education Act dan HAM (Hak Azasi
Manusia). Standar mutu internasional tersebut dirasakan oleh Negara-negara berkembang sebagai
suatu hambatan non tarif.
2.4 Cara Pelestarian Bahan Baku Produksi Nata de coco :
Bahan baku nata de coco adalah kelapa.buah kelapa. Buah kelapa bukan buah musiman tetapi
kuantitasnya berbeda-beda tiap panen,dan tiap kali panen buah kelapa belum tentu memiliki standart
yang diharapkan pabrik. sedangkan perusahaan sendiri memiliki lahan agribisnis bahan baku kelapa
namun kapasitas tersebut belum dapat mencukupi pasar sehingga perlu adanya penambahan areal tanam
milik perusahaan sendiri agar hasil panen buahnya bisa melimpah dan memiliki standart
pabrik.penambahan ini juga berdampak pada penambahan tenaga kerja yaitu petani kelapa sehingga
perusahaan juga memilki tanggungan untuk memberikan gaji petani dan biaya perawatan agribisnis.
2.5 Cara Produksi Nata de coco :
Proses pembuatan Nata De Coco dilakukan dengan melalui tahap-tahap proses sebagai berikut :
a. Persiapan air kelapa
Air kelapa yang akan digunakan untuk pembuatan Nata De Coco harus dibersihkan dari kotoran
lain dengan cara disaring dengan menggunakan kain kasa.
b. Persiapan media
Media Nata De Coco dibuat dengan cara mencampurkan air kelapa yang sudah disaring lalu
dipanaskan dalam dandang sampai mendidih, kemudian ditambahkan gula pasir, cuka, ZA dan
kemudian diaduk sampai merata. Media ini kemudian disimpan dalam baki. Baki-baki ini ditutupi
rapat dengan kertas koran supaya tidak dapat dimasuki serangga dari luar.
c. Fermentasi (peragian)
Selama fermentasi, tambahkan starter bakteri Nata dan diaduk lagi sampai merata media dibiarkan
pada rakrak yang datar dan tidak diganggu. Setelah dua hari, mulai terlihat ada lapisan tipis di
permukaan yang semakin lama semakin menebal. Hasilnya dapat dipanen setelah waktu peragian
selama 6 hari.
2.5 Dampak Produksi Nata de coco terhadap lingkungan










BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Strategi pengembangan agroindustri nata de coco strategi produksi adalah meningkatkan
kemampuan dalam perencanaan proses produksi, strategi teknologi adalah meningkatkan standar
kualitas produk, strategi pengolahan adalah meningkatkan kapasitas produksi seiring dengan
permintaan konsumen, strategi kelembagaan adalah memanfaatkan kelembagaan yang ada seperti
Asosiasi (Aspari) sehingga segala kendala yang menjadi hambatan dalam pengembangan usaha
dapat diatasi seperti permodalan, pemasaran maupun promosi dan strategi pemasaran adalah
meningkatkan promosi melalui distribusi pemasaran yang lebih luas dan segmen pasar yang lebih
beragam.
3.2 Saran
Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan, maka disarankan :
1) Perusahaan, agar terus menjalankan usahanya dengan cara mengefisiensikan biaya yang
dikeluarkan untuk proses produksinya.
2) Agar perusahaan dapat memperoleh penerimaan ataupun keuntungan lebih besar, maka
perusahaan harus meningkatkan produksinya, supaya dapat menjadi perusahaan yang lebih besar
lagi.
3) Dengan meningkatnya produksi, diharapkan perusahaan Nata de coco dapat memperoleh nilai
tambah yang lebih besar dan juga usaha yang dijalankan lebih menguntungkan. Selain itu juga
supaya dapat mengambil tenaga kerja di daerah sekitar, sehingga dapat meningkatkan
pertumbumbuhan perekonomian masyarakat.
4) Memberikan bentuk-bentuk pelatihan kepada tenaga kerja agroindustri diperlukan agar dalam
melaksanakan pekerjaannya bisa lebih terampil dan tangkas sehingga akan menunjang pada
kelancaran proses produksi. Selain itu upaya efisiensi produksi tetap dilaksanakan, selain itu
peningkatan pendapatan petani kelapa juga dapat diupayakan dengan melibatkan petani dalam
simpul-simpul agribisnis yang menghasilkan nilai tambah.





DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rodjak. 1996. Diktat Dasar Manajemen Usahatani, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran.
Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis. 2008. Laporan Tahunan. Ciamis.
Gittinger, J. Price. 1986. Analisis Ekonomi Proyek Pertanian. UI-Press. Jakarta
Hadisapoetro.1973. Biaya dan Pendapatan di dalam Usahatani. Fakultas Pertanian Universitas Gajah
Mada. Departemen Ekonomi Pertanian. Yogyakarta.
Hardjanto, W. 1993. Bahan Kuliah Manajemen Agribisnis. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian.
Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Hayami, Kawagoe, Marooka, Siregar.1987, Agricultural Marketing and Processing in Upland Java. A
Perspective From a Sunda Village, CGPRT. Bogor.
Hick, P. A. 1995. An Overview of issues and Strategies in The Development of Food Processing
Industries In Asia and The Pacific, APO Symposium, 28 September-5 Oktober. Tokyo.
Manalili, 1996. Pembangunan agroindustri berkelanjutan. Kanisius, Yogyakarta.
Mubyarto. 1989, Pengantar Ekonomi Pertanian, Lembaga Penelitian Pendidikan dan
Penerapan Ekonomi Sosial, Jakarta.
Soekartawi. 1996, Panduan Membuat Usulan Proyek Pertanian dan Perdesaan. Andi
offset. Yogyakarta
Soeharjo, 1991. Konsep dan Ruang Lingkup Agroindustri dalam Kumpulan Makalah Seminar Agribisnis.
Buku I. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertananian IPB. Bogor.
Tenda, E. T., H. G. Lengkey, Miftahorrachman dan H. Tampake. 1999. Produktivitas sifat kimia daging
dan air buah enam jenis kelapa hibrida. J. Penelitian Tanaman Industri. 5 (2): 39 45.
Tjakrawiralaksana.1983, Usahatani. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Wisnu, 2007. Makalah Teknologi Pengolahan Kelapa Terpadu. Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Pasca Panen. Bogor