Anda di halaman 1dari 2

EPIDEMIOLOGI HEART FAILURE

Gagal jantung adalah sindrom klinis, yang disebabkan oleh kelainan struktur
atau fungsi jantung. Untuk dapat didiagnosis sebagai gagal jantung, seorang
pasien harus memiliki tampilan berupa: gejala gagal jantung (nafas pendek yang
tipikal saat istirahat atau saat melakukan aktifitas disertai/atau kelelahan), tanda-
tanda retensi cairan seperti kongesti paru atau edema pergelangan kaki, serta
adanya bukti obyektif dari gangguan struktur atau fungsi jantung saat istirahat.
Angka insidensi gagal jantung prevalensinya semakin meningkat. (Shila Lupiyatama,
2011)
Insiden gagal jantung mengalami penngkatan secara konsisten, walaupun
terjadi kemajuan teknologi dalam diagnosis dan penatalakanaan gagal jantung. Di
Amerika sekitar 5,7 juta orang menderita gagal jantung, 670.000 kasus baru
didiagnosa setiap tahun. American Heart Association memperkirakan biaya yang
dibutuhkan untuk pasien jantung 33 dolar juta tiap tahun (AHA, 2010). Penyakit ini
sering menyebabkan ketidakberdayaan dan mempunyai prognosis yang buruk.
(Tsao dan Gibson 2004 dalam Tony Suharsono 2011). Pasien yang didiagnosa
gagal jantung 50% mengalami kematian dalam 5 tahun dan 25% mengalami
kematian pada satu tahun pertama setelah didiagnosa (AHA, 2010).
Prevalensi gagal jantung meningkat secara dramatis seiring bertambahnya
usia. Gagal jantung muncul pada 1-2% individu dengan usia 50-59 tahun dan
meningkat sampai 10% pada individu dengan usia diatas 75. Kurang lebih 80% dari
semua kasus gagal jantung muncul pada pasien dengan usia diatas 65 tahun.
Dalam Profil Kesehatan Indonesia tahun 2008 disebutkan bahwa gagal jantung
menyebabkan 13.395 orang menjalani rawat inap, dan 16.431 orang menjalani
rawat jalan di seluruh rumah sakit di Indonesia, serta mempunyai presentase Case
Fatality Rate sebesar 13,42%, kedua tertinggi setelah infark miokard akut (13,49%).
Hal ini membuktikan bahwa gagal jantung termasuk dalam penyakit yang banyak
diderita oleh masyarakat dan menimbulkan penurunan kualitas hidup. ( Shila
Lupiyatama, 2011)
Prevalensi penyakit gagal jantung meningkat seiring dengan bertambahnya
umur, tertinggi pada umur 65 74 tahun (0,5%) untuk yang terdiagnosis dokter,
menurun sedikit pada umur 75 tahun (0,4%), tetapi untuk yang terdiagnosis dokter
atau gejala tertinggi pada umur 75 tahun (1,1%). Untuk yang didiagnosis dokter
prevalensi lebih tinggi pada perempuan (0,2%) dibanding laki-laki (0,1%),
berdasar didiagnosis dokter atau gejala prevalensi sama banyaknya antara laki-laki
dan perempuan (0,3%). Prevalensi yang didiagnosis dokter serta yang didiagnosis
dokter atau gejala lebih tinggi pada masyarakat dengan pendidikan rendah.
Prevalensi yang didiagnosis dokter lebih tinggi di perkotaan dan dengan kuintil
indeks kepemilikan tinggi. Untuk yang terdiagnosis dokter atau gejala sama
banyak antara perkotaan dan perdesaan. (Riskesdas, 2013)


DAFTAR PUSTAKA
1. Suharsono, Tony. 2011. Dampak Home Based Exercise Training terhadap
Kapasitas Fungsional dan Kualitas Hidup Pasien Gagal jantung di RSUD
Ngudi Waluyo Wlingi. Depok: FIK Progam Magister Keperawatan Universitas
Indonesia
2. Lupiyama, Shila. 2012. Gambaran Peresepan Digoksin pada Pasien Gagal
Jantung yang berobat Jaan di RSUP Dr. Kariadi Semarang
3. Kemenkes RI. 2013. Riset kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan RI