Anda di halaman 1dari 8

Nur Mi ta, S.Si., M.Si.

, Apt
1 mithafarma@gmail.com

1 BAHAN KULIAH TEKNO. STERIL
METODE STERILISASI


1. STERILISASI UAP

Pengertian: Proses sterilisasi termal menggunakan uap jenuh di bawah tekanan
berlangsung di suatu bejana di sebut autoklaf. Suatu siklus autoklaf yang ditetapkan dalam
farmakope, untuk media atau pereaksi adalah selama 15 menit, 121C, kecuali dinyatakan
lain.

Prinsip dasar kerja alat : udara di dalam bejana diganti dengan uap jenuh, dan hal ini
dicapai dengan menggunakan alat pembuka atau penutup khusus.

Faktor yang mempengaruhi desain atau pemilihan suatu siklus utk produk atau
komponen tertentu: ketidakstabilan panas bahan, pengetahuan ttg penetrasi panas ke
dalam bahan, faktor lain yang tercantum dalam program validasi.

Sediaan yang akan disterilkan diisikan ke dalam wadah yang cocok, kemudian ditutup
kedap.
J ika volume dalam tiap wadah tidak lebih dari 100 ml, sterilisasi dilakukan dengan uap
air jenuh pada suhu 115C-116C selama 30 menit.
J ika volume dalam tiap wadah lebih dari 100 ml, waktu sterilisasi diperpanjang hingga
seluruh isi tiap wadah berada pada 115C-116C selama 30 menit.

Digunakan utk: zat yg stabil pd panas, tahan lembab dan dpt ditembus uap air panas.

Mekanisme Kerja:
Reaksi kimia yg mematikan terjadi lebih mudah dengan adanya air & konsekuensinya
akan butuh waktu pemaparan panas lebih sedikit utk membunuh mikroorganisme dlm
keadaan terhidrasi dibandingkan keadaan kering. Inaktivasi panas dlm sel terhidrasi
disebabkan oleh denaturasi dan koagulasi ireversibel enzim dan struktur protein,
kemungkinan melalui proses hidrolisis.
Ikatan hidrogen mudah putus dgn adanya molekul air krn terjadinya ikatan hidrogen
antara masing-masing gugus amino & karboksi dengan molekul air. Fungsi air pd panas
lembab adh dlm proses denaturasi.

Hubungan suhu dan waktu tunggu utk sterilisasi panas lembab:
Suhu C
Wkt tunggu minimum
(menit)
Fo (menit)

115-118
121-124
126-129
134-138
30
15
10
3
7,5-15
15-30
32-63
60-150

Keuntungan: adanya uap jenuh mempunyai aktivitas pembunuhan yg tinggi & dpt
membunuh semua jns mikroorganisme, tmsk spora yg resisten, dlm wkt 15 mnt 121C,
murah, sederhana, hny membutuhkan pemantauan waktu, suhu&tekanan, cepat.




Nur Mi ta, S.Si., M.Si., Apt
2 mithafarma@gmail.com

2 BAHAN KULIAH TEKNO. STERIL
2. STERILISASI PANAS KERING

Pengertian: Proses sterilisasi termal untuk bahan yang tertera di farmakope dengan
menggunakan panas kering, biasanya dilakukan dengan suatu proses bets dalam suatu oven
yang didesain khusus untuk tujuan tersebut. Distribusi panas dapat berupa sirkulasi atau radiasi
menggunakan sistem semprotan dengan peralatan sensor, pemantau dan pengendali
parameter kritis.

Cara Kerja:
Sediaan yang akan disterilkan dimasukkan ke dalam wadah kemudian ditutup kedap atau
penutupan ini bersifat sementara untuk mencegah cemaran.
J ika volume dalam tiap wadah tidak lebih dari 30 ml, panaskan pada suhu 150
o
C selama 1
jam.
J ika volume dalam tiap wadah lebih dari 30 ml, waktu 1 jam dihitung setelah seluruh isi tiap
wadah mencapai suhu 150
o
C.
Wadah yang tertutup sementara kemudian ditutup kedap menurut teknik aseptik.

Teknik Aseptik.
Cara pengurusan bahan steril menggunakan teknik yang dapat memperkecil kemungkinan
terjadinya cemaran kuman hingga seminimum mungkin.
Teknik aseptik dimaksudkan untuk digunakan dalam pembuatan injeksi yg tidak dapat
dilakukan proses sterilisasi akhir, krn ketidakmantapan zatnya.
Teknik ini tidak mudah diselenggarakan dan tidak ada kepastian bahwa hasil akhir
sesungguhnya steril. Sterilitas hasil akhir hanya dapat disimpulkan, jika hasil itu telah
memenuhi syarat Uji sterilitas yg tertera pd Uji keamanan Hayati.
Teknik aseptik mjd hal yg penting sekali diperhatikan pd waktu melakukan sterilisasi
menggunakan cara sterilisasi penyaringan&pemanasan kering sewaktu memindahkan atau
memasukkan bhn steril ke dlm wadah akhir steril.
Dlm hal tertentu, untuk meyakinkan terjadinya cemaran atau tidak sewaktu memindahkan
atau memasukkan carian steril ke dlm wadah steril menggunakan cara ini, perlu diuji dgn
cara sbb:
- Ke dlm salah satu wadah masukkan medium biakan bakteri sebagai ganti cairan steril.
Tutup wadah&diamkan pd suhu 32
o
C selama 7 hari.
- J k tjd pertumbuhan kuman, menunjukkan adanya cemaran yg tjd pd waktu memasukkan
atau memindahkan caran ke dlm wadah akhir.
- Dlm pembuatan cairan steril menggunakan proses ini, obat steril dilarutkan atau
didispersikan dlm zat pembawa steril, diwadahkan dlm wadah steril, akhirnya ditutup
kedap untuk melindungi thdp cemaran kuman.
- Semua alat yg digunakan harus steril.
- Ruangan yg digunakan utk melakukan pekerjaan ini harus disterilkan terpisah&tekanan
udaranya diatur positif dgn memasukkan udara yg telah dialirkan melalui penyaring
bakteri.
- pekerjaan ini hrs dilakukan dgn tabir pelindung atau dlm aliran udara steril.
- Pakaian pekerja hrs khusus&steril, dilengkapi dgn penutup muka&topi.





Nur Mi ta, S.Si., M.Si., Apt
3 mithafarma@gmail.com

3 BAHAN KULIAH TEKNO. STERIL
Digunakan utk: zat yg stabil pd panas ttp sensitif lembab atau tidak dpt ditembus uap air
panas. Digunakan utk sterilisasi serbuk obat kering, suspensi obat dgn pelarut non air, minyak,
lemak, waxes, liquids, soft&hard parafin, lubrikan spt silikon, injeksi minyak, implants, basis
salep mata, pakaian bedah, wadah gelas&logam, alat operasi. Pd suhu diatas 250C selama
minimal 30 menit bisa sterilisasi dan depirogenisasi glassware dan logam yg resisten panas.
Variasi suhu oven tidak boleh lbh dr 5C pd suhu sterilisasi selama wkt tunggu. Barang-barang
dibiarkan dingin dlm oven hgg sekitar 40 C sebelum kmd dipindahkan. Inakivasi oleh panas pd
sel terdehidrasi, terutama sbg hasil proses oksidasi.

Hubungan suhu dgn wkt tunggu pd sterilisasi panas kering:

Suhu C Waktu tunggu minimum (menit)
160
170
180
120
60
30

British Pharmacopoeia 1993 merekomendasikan protokol ini dan menerima hubungan suhu dan
waktu tunggu lain misalnya pd bbrp minyak yg membutuhkan suhu lebih rendah.

Keuntungan: pd suhu tertentu dpt utk sterilisasi&depirogenisasi, metode aman&terpercaya.
Tingkat pembunuhan & penetrasi tergantung pd enrgi yg digunakan, jika energi panas cukup
dpt berpenetrasi baik&membunuh semua mikroorganisme.



3. STERILISASI GAS

Penggunaan: Pilihan untuk menggunakan sterilisasi gas sebagai alternatif dari sterilisasi termal
sering dilakukan jika bahan yang akan disterilkan tidak tahan terhadap suhu tinggi pada proses
sterilisasi uap atau panas kering.

Untuk materi yg kompatibel dgn gas yg digunakan, tidak tahan pd suhu sterilisasi uap, panas
kering, atau dosis radiasi tinggi.

Bahan aktif yang umumnya digunakan pada sterilisasi gas adalah etilen oksida.
Keburukan dari bahan ini adalah:
sangat mudah terbakar
bersifat mutagen dan kemungkinan adanya residu toksik dalam bahan yang disterilkan
terutama yang mengandung ion klorida.
Proses sterilisasi umumnya berlangsung dalam bejana yang bertekanan yang didesain
sama seperti autoklaf tetapi dengan tambahan bagian khusus yang hanya terdapat pada
alat sterilisasi yang menggunakan gas.
Kualifikasi proses sterilisasi gas etilen oksida lebih luas cakupannya drpd cara sterilisasi
lainnya krn selain suhu, kelembaban, tekanan positif atau hampa udara jg diperlukan
pengendalian ketat thdp kadar etilen oksida.
Keterbatasan utama dari proses sterilisasi etilen oksida adalah terbatasnya kemampuan
gas tersebut untuk berdifusi sampai ke daerah yang paling dalam dari bahan yang
disterilkan. J d desain kemasan&cara pengisisan bejana sterilisasi hrs ditetapkan
sedemikian rupa hingga resistensi minimal thdp difusi gas.

Nur Mi ta, S.Si., M.Si., Apt
4 mithafarma@gmail.com

4 BAHAN KULIAH TEKNO. STERIL
Kondisi kritis yg hrs dikontrol: konsentrasi gas, suhu, kelembaban relatif, dan waktu
pemaparan.
Dgn melihat faktor kritis pd proses sterilisasi gas mk metode ini tidak disarankan selama
masih ada metode lain yg sesuai.
Gas etilen oksida biasa digunakan utk sterilisasi peralatan medis, jg bisa utk wadah
plastik&serbuk termolabil. Etilen oksida merupakan pengalkilasi kuat dan aktivitas
antimikroba melalui alkilasi gugus sulfhidril, hidroksil, karboksil, amino pd protein&asam
nukleat. Tidak ada siklus standar utk sterilisasi dgn etilen oksida, siklus yg digunakan
biasanya pd rentang kadar gas 250-1500 mg/L, kelembaban relatif 30-90%, suhu 30-
65
o
,&wkt pemaparan 1-30 jam.

Gas yang lain yang dapat dipakai yaitu:

Formaldehid (seperti box sterilisasi)
Gas formaldehid tdk berwarna, tdk eksplosif, tdk mdh tbakar. kekuatan penetrasinya
rendah, afinitas thd air tinggi, mudah tpolimerisasi pd permukaan pd suhu dibawah 80
o
,
toksik bg manusia ttp dibandingkan etilen oksida, dia dpt dideteksi dgn baunya pd
konsentrasi yg msh dibawah kdr toksiknya.

Hidrogen peroksida
Hidrodgen peroksida, proses sterilisasi pada suhu rendah (4-80
o
) dan dgn kadar gas
rendah (0,5-5 mg/L) yg diklaim tidak korosif, dgn siklus sterilisasi kurang dr 90 menit
telah diterima. Hidrogen Peroksida tdk dapat digunakan utk sterilisasi
liquid&inkompatibel dgn material selulosa berpori tinggi dan nilon.

Ozon
Ozon merupakan bahan pengoksidasi kuat, aktif melawan endotoksin. Proses sterilisasi
pd kelembaban relatif 75-90%, suhu rendah (25
o
), kadar gas 2-5mg/L. Kelembaban
tinggi pd prosesnya, sifat pengoksidasinya menyebabkan korosi logam, degradasi
karet&bbrp plastik, sehingga menyebabkan sedikitnya penggunaan utk sterilisasi.

klorin dioksida
Klorin oksida telah byk digunakan utk pegolahan air. Proses sterilisasi pd kelembaban
relatif tinggi (>80%), suhu rendah (25-30C), kadar gas <25mg/L. Sifat klorin oksida;
korosif, kompatibel dgn bbrp plastik, selulosa, karet silikon & stainless steel.



4. STERILISASI DENGAN RADIASI ION

Penggunaan: Untuk yg tahan radiasi tinggi, tidak tahan panas & kekhawatiran ttg keamanan
etilen oksida.

Keunggulan sterilisasi radiasi meliputi:
reaktivitas kimia rendah
residu rendah yang dapat diukur dan kenyataan yang membuktikan bahwa variabel yang
dikendalikan lebih sedikit.

Radiasi hny menimbulkan sedikit kenaikan suhu, ttp dpt mpengaruhi kualitas&jenis plastik atau
kaca tertentu.
Nur Mi ta, S.Si., M.Si., Apt
5 mithafarma@gmail.com

5 BAHAN KULIAH TEKNO. STERIL
Ada 2 jenis radiasi ion yang digunakan yaitu:

1) Disintegrasi radioaktif dari radioisotop (radiasi )
Utk sterilisasi radiasi hrs dipilih dosis sterilisasi yg efektif & dpt ditoleransi tanpa
menimbulkan kerusakan.
Berdasarkan pengalaman dipilih dosis 2,5 Mrad radiasi yg diserap, ttp dlm bebrapa hal,
diinginkan&dpt diterima penggunaan dosis lbh rendah/tinggi untuk peralatan, bhn obat,
dan bentuk sedan akhir.
Radiasi adalah elektromagnetik energi tinggi dgn 1-10
-4
nm & energi 10
-6
-10
-9
eV.
Absorpsi ke dlm sel akan menyebabkan ionisasi komponen sel, pembentukan radikal
bebas,&eksitasi molekul yg memicu disorganisasi enzim & DNA serta kematian sel
Resistensi oleh radiasi berhubungan dgn besarnya kerusakan yg dibutuhkan untuk
menyebabkan kematian & kapasitas organisme utk memperbaiki kerusakan.
Kemampuan penetrasi tinggi, kenaikan suhu yg dpt diabaikan pd objek yg diradiasi dgn
dosis normal,& tdk menginduksi radioaktivitas
Umumnya sumber radiasi adh Co-60. Dosis utk sterilisasi berbeda-beda. Di UK&
hampir seluruh negara di Eropa sterilisasi radiasi dgn dosis minimum yang
terabsorbsi 25kGy.
Keterbatasan:
o Agen protektif spt komponen yg mengandung sulfhidril, askorbat & gliserol
meningkatkan resistensi.
o Diskolorasi mengkin tjd selam iradiasi pd bbrp gelas & plastik spt PVC,
politetrafluoroetilen&polipropilen.
o Degradasi material oleh radiasi diperbesar dgn adanya air & hal ini membatasi
penggunaan radiasi utk sterilisasi larutan obat dgn pelarut air.
Penggunaan utama utk sterilisasi peralatan medis. Dpt utk sterilisasi enzim, vitamin,
mineral, antibiotik, antibodi monoklonal,& peptida.
Keuntungan: penetrasi tinggi (radiasi ), aktivitas pembunuhan tinggi sehingga tingkat
kepercayaan tinggi.

2) Radiasi berkas elektron
Elektron energi tinggi adalah partikel yg dipercepat oleh energi tinggi dgn
menggunakan potensial voltase tinggi.
Penetrasi lbh kecil dibandingkan radiasi .

Radiasi UV adlh pd 210-328 nm.
o Aktivitas Bakterisidal maksimumnya ditunjukkan pd 253,7nm. Radiasi UV adlh energi
rendah, tidak mengionisasi, hny meningkatkan eksitasi molekul.
o Efek hny pd mikroorganisme yg terpapar langsung oleh radiasi.
Sebagian besar mikroorganisme melalui proses enzimatik dpt memperbaiki kerusakan yg
diinduksi oleh UV.
o Oleh krn itu hny sesuai utk sterilisasi udara dan air dalam lapisan tipis & permukaan keras
yg impermeabel.
o Radiasi UV adalah metode pilihan untuk senyawa yang sensitif terhadap panas.
o Tidak direkomendasikan utk sterilisasi produk yang memiliki wadah dan permukaan yang
keras tidak permeabel (hard in permeable surface)





Nur Mi ta, S.Si., M.Si., Apt
6 mithafarma@gmail.com

6 BAHAN KULIAH TEKNO. STERIL
5. STERILISASI DENGAN PENYARINGAN

Pengertian: Sterilisasi larutan yang labil terhadap panas sering dilakukan dengan penyaringan
menggunakan bahan yang dapat menahan mikroba, sehingga mikroba yang dikandung dapat
dipisahkan secara fisika.

Perangkat penyaring umumnya terdiri dari suatu matriks berpori bertutup kedap atau
dirangkaikan pada wadah yang tidak permeabel.

Efektivitas suatu penyaring media atau penyaring substrat tergantung pada:
ukuran pori bahan dan dapat tergantung pada daya absorbsi bakteri pada atau dalam
matriks penyaring; atau
bergantung pada mekanisme pengayakan.

Penyaringan untuk tujuan sterilisasi umumnya dilaksanakan menggunakan rakitan yang
memiliki membran dengan porositas nominal 0,2 m atau kurang.

Media membran penyaring yg tsedia saat ini: celulosa asetat, celulosa nitrat, fluorokarbonat,
polimer akrilik, polikarbonat, polister, polivinil klorida, vinil, nilon, politef, dan jg membran
logam, dan ini dpt diperkuat atau ditunjang oleh bahan berserat internal. Rakitan penyaring
membran harus diuji utk integritas awal sebelum dan sesudah digunakan.

Larutan disaring melalui penyaring bakteri steril, diisikan ke dlm wadah akhir yg steril, kmd
ditutup kedap menurut Teknik aseptik.

Kelebihan: Metode cepat, dan khususnya sesuai utk larutan yg mengandung bahan termolabil
yg tdk bisa dengan sterilisasi panas walaupun menggunakan protokol dgn waktu singkat & suhu
tinggi. Minyak, cairan kental, pelarut organik dapat disterilisasi dgn cara ini.

Keterbatasan:
Tidak dpt membedakan mikroorganisme/partikel hidup&mati, & akan memisahkn semua tipe
partikel dgn ukuran lbh besar dr ukuran pori membran.
Filter & perangkatnya harus kompatibel secara fisik&kimia dgn larutan & bisa tahan dgn
suhu & tekanan selama proses.

Berbagai pertimbangan pemilihan filter:
a. Ukuran pori
Ukuran maksimum pori 0,22 m, tetapi utk kepastiannya perlu ditentukan SAL (sterility
assurance level). Batasan Normal SAL utk filter 0,22 m yg dpt diterima 1:1000 atau
dgn kata lain tidak lebih dr 0,1% mikroorganisme yg tertinggal.
b. Kompatibilitas
Hati-hati: Pelarut terutama alkohol, glikol, dimetilformamid dpt menyebabkan polimer
mengembang & larut.
c. Volume cairan
Utk memperoleh kecepatan aliran yg sesuai perlu filter dgn luas area permukaan yg
sesuai.
d. Beban partikulat
Saat sterilisasi dgn filtrasi, proses sterilisasi filtrasi tsb hrs complete/sempurna tanpa
mengganti filternya. Ketika partikulat dlm larutan tinggi maka diperlukan satu/lbh
prefilter. Bila beban partikulat relatif rendah, bisa digunakan filter membran 5m utk
prefilternya.
Nur Mi ta, S.Si., M.Si., Apt
7 mithafarma@gmail.com

7 BAHAN KULIAH TEKNO. STERIL
6. PEMANASAN DENGAN BAKTERISIDA

Cara Kerja:
Sediaan dibuat dengan melarutkan atau mensuspensi bahan obat dalam larutan klorkresol
P 0,2% b/v dalam air untuk injeksi atau dalam larutan bakterisida yang cocok dalam air
untuk injeksi.
Isikan ke dalam wadah lalu ditutup kedap.
J ika volume dalam tiap wadah tidak lebih dari 30 ml, panaskan pada suhu 98-100
o
C selama
30 menit.
J ika volume lebih dari 30 ml waktunya diperpanjang hingga seluruh isi tiap wadah berada
pada suhu 98-100
o
C selama 30 menit.
J ika dosis tunggal injeksi yang digunakan secara iv lebih dari 15 ml, pembuatan tidak
dilakukan dengan cara ini. Injeksi yang digunakan secara intratekal, intrasisternal, atau
epidural tidak boleh dibuat dengan cara ini.



CATATAN:

*** Untuk sedaan yg tidak dapat disterilkan dgn salah satu cara diatas, pembuatan
dilakukan dgn cara teknik aseptik yg umumnya sbb:
a. Masing-masing bahan dan wadah disterilkan menurut salah satu cara di atas.
b. Pencampuran dilakukan sesempurna mungkin hingga memenuhi syarat Uji bebas jasad
renik.

*** Dlm prakteknya untuk mengurangi bioburden semua alat dan bahan yang
memungkinkan di sterilisasi terlebih dahulu dan proses aseptik tetap digunakan,
baik utk metode pembuatan secara aseptik maupun sterilisasi akhir.





















Nur Mi ta, S.Si., M.Si., Apt
8 mithafarma@gmail.com

8 BAHAN KULIAH TEKNO. STERIL
METODE STERILISASI

Metode Karakteristik zat aktif,
eksipien, wadah
Kerugian
Sterilisasi
basah (autoklaf)
Tahan panas (121C selama 15
menit) dan tahan lembab, cairan
bercampur dengan air, wadah
dapat ditembus oleh air
Tidak depirogenasi
Tdk bs bhn sensitif panas atau panas
lembab, keterbatasan panas lembab utk
berpenetrasi melalui wadah, perlu
penghilangan udara krn udara dpt
menghalangi difusi uap air.
Sterilisasi
panas kering
(oven)
Tahan panas (170 C selama 1
jam) tidak tahan lembab, cairan
tidak bercampur dengan air
Dapat depirogenasi Kerugian:
waktu&suhu lbh lama&lbh tinggi
dibandingkan panas lembab, terbatas pd
bhn tahan panas.
Filtrasi
menggunakan
membran
Tidak tahan panas berbentuk
cairan Tidak dapat digunakan
untuk wadah
Tidak depirogenasi, kemungkinan terjadi
absorbsi zat pada membran dan
leaching membran
Radiasi
(gamma,
elektron)
Memiliki ikatan molekul stabil
terhadap radiasi. Harus
dipastikan tahan radiasi (tahan
radiasi UV, blm tentu tahan
radiasi )
Tidak depirogenasi, mahal, dapat
merusak ikatan molekul bbrp zat,
ongkos kapital awal tinggi &
keamanannya.
Sterilisasi gas Wadah polimer harus permeabel
terhadap udara,uap air,gas
Kemungkinan residu


SIFAT ZAT AKTIF METODA STERILISASI KETERANGAN
Zat padat tahan
panas dan tidak
mudah menguap
Sterilisasi panas kering Zinc oxide, kalamin, talk, bismuth
subnitrat, bismuth subkarbonat, calomel
(tahan pemanasan 160-180 C selama
1-2 jam) Sulfanilamid, sulfadiazin,
sulfathiazole, sulfamerazin (thn
pemanasan 3 jam 140-150 C)
Larutan tahan
panas, dan
lembab
Sterilisasi autoklaf (121 C
selama 20 menit)

Zat padat sensitif
panas
Sterilisasi gas seperti
formaldehid, atau 10-20%
etilen dioksida dicampur
dengan karbondioksida

Cairan sensitif
panas
Filtrasi menggunakan
membran, secara aseptis

Cairan minyak
(tidak bercampur
dengan air)
Sterilisasi oven (120-130 C
selama 1-2 jam)
Minyak mineral, petrolatum cair,
gliserin. Gliserin tidak dapat dipanaskan
melebihi 150C. Minyak&petrolatum cair
tahan pemanasan sampai 200 C