Anda di halaman 1dari 6

Isu-isu penting

M
asalah gizi, khususnya anak pendek,
menghambat perkembangan anak
muda, dengan dampak negatif yang
akan berlangsung dalam kehidupan selanjutnya.
Studi menunjukkan bahwa anak pendek sangat
berhubungan dengan prestasi pendidikan yang buruk,
lama pendidikan yang menurun dan pendapatan
yang rendah sebagai orang dewasa. Anak-anak
pendek menghadapi kemungkinan yang lebih besar
untuk tumbuh menjadi orang dewasa yang kurang
berpendidikan, miskin, kurang sehat dan lebih rentan
terhadap penyakit tidak menular. Oleh karena itu,
anak pendek merupakan prediktor buruknya kualitas
sumber daya manusia yang diterima secara luas, yang
selanjutnya menurunkan kemampuan produktif suatu
bangsa di masa yang akan datang.
Intervensi untuk menurunkan anak pendek harus
dimulai secara tepat sebelum kelahiran, dengan
pelayanan pranatal dan gizi ibu, dan berlanjut
hingga usia dua tahun. Proses untuk menjadi seorang
anak bertubuh pendek yang disebut kegagalan
pertumbuhan growth faltering ! - dimulai dalam dalam
rahim, hingga usia dua tahun. Pada saat anak melewati
usia dua tahun, sudah terlambat untuk memperbaiki
kerusakan pada tahun-tahun awal. Oleh karena itu,
status kesehatan dan gi"i ibu merupakan penentu
penting tubuh pendek pada anak-anak.
Gizi Ibu & Anak
unite for children
Untuk mengatasi masalah gizi, khususnya anak
pendek, diperlukan aksi lintas sektral. Asupan
makanan yang tidak memadai dan penyakit - yang
merupakan penyebab langsung masalah gi"i ibu
dan anak - adalah karena praktek pemberian makan
bayi dan anak yang tidak tepat dan, penyakit dan
infeksi yang berulang terjadi, perilaku kebersihan
dan pengasuhan yang buruk. Pada gilirannya,
semua ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti
kurangnya pendidikan dan pengetahuan pengasuh
anak, penggunaan air yang tidak bersih, lingkungan
yang tidak sehat, keterbatasan akses ke pangan dan
pendapatan yang rendah.
Anak-anak merupakan penerima manfaat
terbesar ketika intervensi gizi merupakan bagian
dari prgram terpadu pengembangan anak usia
dini. #isalnya, penambahkan "at gi"i mikro pada
makanan anak-anak atau pemberian makanan
yang diperkaya dengan $itamin dan mineral, dan
pemberian konseling kepada ibu dan bapak tentang
praktek pemberian makan harus berjalan seiring
dengan pengajaran orang tua tentang perilaku
kesehatan dan kebersihan secara optimal, kegiatan
untuk meningkatkan keterampilan orangtua, dan
inter$ensi psikososial untuk mempromosikan
perkembangan psikologis anak. #anfaat program
pengembangan anak usia dini bagi masyarakat
melebihi biaya tersebut sebesar lima sampai
tujuh kali.
RingkasanKajian
OKTOBER 2012
UNICEF INDONESIA


2
!erlunya tindakan segera
M
eskipun Indnesia telah menunjukkan
penurunan kemiskinan secara tetap, tetapi
masalah gizi pada anak-anak menunjukkan
sedikit perbaikan. %ari tahun &''( sampai &')),
proporsi penduduk miskin di *ndonesia mengalami
penurunan sebesar )+,+ - )&,, persen, tetapi masalah
gi"i tidak menunjukkan penurunan secara signifikan
-ambar )!. Pre$alensi anak pendek sangat tinggi,
mempengaruhi satu dari tiga anak balita, yang
merupakan proporsi yang menjadi masalah kesehatan
masyarakat menurut kriteria Organisasi .esehatan
%unia /0O!.
Anak pendek mempengaruhi jauh lebih banyak
anak miskin. Proporsi anak pendek dalam
kuintil penduduk termiskin hampir dua kali lipat
proporsi anak dalam kuintil kekayaan tertinggi.
%aerah perdesaan memiliki proporsi yang lebih
besar untuk anak pendek 1' persen! dibandingkan
dengan daerah perkotaan 22 persen!. Pre$alensi
anak pendek yang tinggal di rumah tangga dengan
kepala rumah tangga yang tidak berpendidikan
adalah ),( kali lebih tinggi daripada pre$alensi
di antara anak-anak yang tinggal di rumah
tangga dengan kepala rumah tangga yang
berpendidikan tinggi.
"ata gegrafis menunjukkan keseriusan dan ruang
lingkup masalah gizi kurang dan perlunya tindakan
segera. .lasifikasi /0O )33,! digunakan untuk
menilai tingkat keparahan masalah gi"i dengan
tingkat pre$alensi rendah, sedang, tinggi, sangat
tinggi! untuk setiap indikator.
Anak pendek berbeda-beda di seluruh Indnesia
dari prevalensi menengah sampai sangat tinggi.
4ahkan di 5ogyakarta, pro$insi dengan pre$alensi
terendah, anak pendek mempengaruhi &2 persen
anak balita. 6ujuh pro$insi memiliki pre$alensi
sangat tinggi 1' persen atau lebih!, sedangkan )(
pro$insi memiliki pre$alensi tinggi 2'-23 persen!.
7ebih dari setengah anak ,8 persen! di 9usa
6enggara 6imur adalah anak pendek, proporsi
yang kira-kira &,, kali pre$alensi di 5ogyakarta
-ambar &!.
Angka anak kurus adalah tinggi. Secara nasional,
enam persen anak sangat kurus, sehingga
menempatkan mereka pada resiko kematian
yang tinggi, situasi yang menunjukkan tidak
adanya peningkatan antara tahun &''( dan &')'.
Sembilan pro$insi memiliki pre$alensi anak kurus
yang sangat tinggi, sebesar ), persen atau lebih.
#nam belas prvinsi menunjukkan prevalensi
berat badan kurang, yang mempengaruhi $%
persen atau lebih anak-anak. Pre$alensi berat
badan kurang sangat tinggi di 9usa 6enggara
4arat, melebihi 2' persen.
Anak pendek sangat menantang karena skala
permasalahan, sifat desentralisasi Indnesia dan
kapasitas pemerintah daerah yang terbatas. Perkiraan
kasar pada tahun &''( menunjukkan bahwa kira-kira
8) persen kabupaten di *ndonesia memiliki pre$alensi
anak pendek yang sangat tinggi.
"ata nasinal tentang gizi ibu sangat tidak tersedia,
tetapi berat lahir rendah dan anemia memberikan
sebuah indikasi. 4erat anak saat lahir merupakan
akibat langsung dari status kesehatan dan gi"i ibu
sebelum dan selama kehamilan. Secara nasional,
proporsi anak dengan berat lahir rendah pada
-ambar ). Prosentase anak balita yang terkena
dampak gi"i kurang moderat : parah. *ndonesia,
&''(-&')'. /arna lebih gelap menunjukkan tingkat
wasting, berat badan kurang : stunting parah.
;*S.<S%AS, .ementerian .esehatan, *ndonesia
1
Ringkasan Isu: Gizi Ibu dan Anak
isu-isu penting
Gizi kurang, khususnya stunting (tubuh pendek),
menghambat perkembangan anak muda, dengan
dampak negatif yang akan berlangsung dalam
kehidupan selanjutnya. Studi menunjukkan bahwa
stunting pada anak-anak sangat berhubungan
dengan kinerja pendidikan yang buruk, lama
pendidikan yang menurun dan pendapatan yang
rendah sebagai orang dewasa. Kemungkinan anak-
anak yang bertubuh pendek (stunteduntuk tumbuh
menjadi orang dewasa yang kurang berpendidikan,
miskin, kurang sehat dan lebih rentan terhadap
penyakit tidak menular adalah lebih besar. !leh
karena itu, stuntingmerupakan prediktor buruknya
kualitas sumber daya manusia yang diterima secara
luas, yang selanjutnya menurunkan kemampuan
produktif suatu bangsa di masa yang akan datang.
Intervensi untuk menurunkanstunting harus
dimulai searatepat sebelum kelahiran, dengan
pelayanan pranatal dan gizi ibu, dan berlanjut
hingga usia dua tahun. "roses untuk menjadi
seorang anak bertubuh kurus # yang disebut
kegagalan pertumbuhan (growth faltering - dimulai di
dalam rahim, hingga usia dua tahun. "ada saat anak
melewati usia dua tahun, sudah terlambat untuk
memperbaiki kerusakan pada tahun-tahun awal. !leh
karena itu, status kesehatan dan gi$i ibu merupakan
penentu penting stunting pada anak-anak.
!ntuk mengatasi gizi kurang, khususnya sunting,
diperlukan aksi di lebih dari satu sekt"r. %supan
makanan yang tidak memadai dan penyakit - yang
merupakan penyebab langsung gi$i kurang ibu dan
anak - adalah karena praktek pemberian makanbayi
dan anak yang tidak tepat atau tidak memadai dan,
penyakit dan infeksi yang sering terjadi, praktek
higiene dan pengasuhan yang buruk. "ada
gilirannya, semua ini disebabkan oleh faktor-faktor
seperti kurangnya pendidikan dan pengetahuan
pengasuh anak, penggunaan air yang tidak bersih,
lingkungan yang tidak sehat, keterbatasan akses ke
pangan dan pendapatan yang rendah.
Anak#anak menerima manfaat terbesar ketika
intervensi gizi merupakan bagian dari pr"gram
pengembangan anak usia dini terpadu. Misalnya,
penambahkan bubuk gi$i mikro pada makanan anak-
anak atau pemberian makanan yang diperkaya
dengan &itamin dan mineral, dan pemberian
konseling kepada ibu dan bapaktentang praktek
pemberian makan harus berjalan seiring dengan
pengajaran orang tua tentang praktek kesehatan dan
higienesecara optimal, kegiatan untuk meningkatkan
keterampilan orangtua, dan inter&ensi psikososial
untuk mempromosikan perkembangan psikologis
anak. Manfaat program pengembangan anak usia
dini bagi masyarakatmelebihi biaya tersebut sebesar
lima sampai tujuh kali .
Perluny !si "en#es!
$eskipun Ind"nesia telah menunjukkan
penurunan kemiskinanseara tetap, tetapi gizi
kurang pada anak#anak menunjukkan sedikit
peningkatan. 'ari tahun 2(() sampai 2(**, proporsi
penduduk miskin di +ndonesia mengalami
penurunansebesar *,,,-*2,- persen, tetapigi$i
kurang tidak menunjukkan penurunan secara
signifikan (.ambar *. "re&alensi stunting sangat
tinggi, yang mempengaruhi satu dari setiap tiga anak
balita, yang merupakan proporsi yang menjadi
masalah kesehatan masyarakat menurut kriteria
!rganisasi Kesehatan 'unia (/0!.
%tunting mempengaruhi jauh lebih banyak anak#
anak miskin. "roporsi anak yang menderita stunting
dalam kelompokpenduduk termiskin hampir dua kali
lipat proporsi anak dalamkelompok kekayaan
tertinggi. 'aerah perdesaan memiliki proporsi yang
lebih besar untuk anak stunting (1( persen
dibandingkan dengan daerah perkotaan (22 persen.
"re&alensi stunting pada anak-anak yang tinggal di
rumah tangga dengan kepala rumah tanggayang
tidak berpendidikan adalah *,) kali lebih tinggi
daripadapre&alensi di antara anak-anak yang tinggal
rumah tangga dengan kepala rumah tangga yang
berpendidikan tinggi.
&ata ge"grafis menunjukkan keseriusan dan
ruang lingkup masalah gizi kurang dan perlunya
aksimendesak. Klasifikasi /0! (*33- digunakan
untuk menilai tingkat keparahan gi$i kurang dengan
tingkat pre&alensi (rendah, sedang, tinggi, sangat
tinggi untuk setiap indikator.
k
%tunting berbeda#beda di seluruh Ind"nesia
dari prevalensi menengah sampai sangat
tinggi. 4ahkan di 5ogyakarta, pro&insi dengan
pre&alensi terendah, stunting mempengaruhi 22
persen anak balita. 6ujuh pro&insi memiliki
pre&alensi sangat tinggi (1( persen atau lebih,
'(()
*+.,-
'(()
*../-
'(()
+,..-
2010
1$%$&
2010
1'%(&
2010
$)%*&
(7
*(7
2(7
2(7
1(7
-(7
+sting Un#er,eig-t stunting
Figure 1% Per.entge /0 .-il#ren un#er ) yers /l# 00e.te# 1y
"/#erte 2 se3ere "lnutriti/n4 in#/nesi4 200'-2010% 'arker colours
indicate le&els of se&ere wasting, underweight 8 stunting. Source: RISKESDAS, Ministry of
Health, Indonesia
g"1r 1% Pr/sentse n! 1lit yng ter!en #"p! gi5i !urng
"/#ert 2 pr-% in#/nesi4 200'-2010. /arna lebih gelap menunjukkan tingkat
wasting, berat badan kurang 8 stunting parah. RISKESDAS,
Kementerian Kesehatan, Indonesia
Bert 1#n !urng
ring!sn !6in O!TOBEr 2012



2
tahun &')' )) persen dengan berat badan kurang
dari &.,'' gram! tidak menunjukkan perubahan
signifikan sejak tahun &''(. %i )1 pro$insi,
pre$alensi berat lahir rendah meningkat dari tahun
&''( sampai &')'. Anemia merupakan masalah,
yang mempengaruhi sekitar seperempat peremuan
hamil pada tahun &''(.
&ebih dari sepertiga perempuan usia subur di
Indnesia tidak memenuhi persyaratan nasinal
untuk asupan makanan yang mengandung
energi atau prtein. %i lebih dari sepertiga seluruh
pro$insi, proporsi ini meningkat menjadi lebih dari
1' persen perempuan usia subur.
'ambatan
%
da tiga hambatan utama terhadap
peningkatan gi"i dan perkembangan anak
di *ndonesia.
!ertama, masalah anak pendek dan gizi ibu tidak
mudah dilihat. Pada umumnya, orang tidak tahu
bahwa masalah gi"i merupakan sebuah masalah,
kecuali gi"i kurang tersebut berbentuk anak
yang sangat kurus. Oleh karena itu, upaya-upaya
diarahkan secara tidak tepat untuk menangani anak
yang sangat kurus, bukan diarahkan pada sistem
dan inter$ensi untuk menanggulangi gi"i kurang
pada ibu dan anak anak.
(edua, banyak pihak menghubungkan gizi kurang
dengan kurangnya pangan dan percaya bah)a
penyediaan pangan merupakan ja)abannya.
.etersediaan pangan bukan penyebab utama gi"i
kurang di *ndonesia, meskipun kurangnya akses
ke pangan karena kemiskinan merupakan salah
satu penyebab. 4ahkan anak-anak dari dua kuintil
kekayaan tertinggi menunjukkan anak pendek dari
menengah sampai tinggi, sehingga penyediaan
pangan saja bukan merupakan solusi.
(etiga, pengetahuan yang tidak memadai dan
praktek-praktek yang tidak tepat merupakan
hambatan signifikan terhadap peningkatan gizi.
Pada umumnya, orang tidak menyadari pentingnya
gi"i selama kehamilan dan dua tahun pertama
kehidupan. Secara lebih khusus=
!erempuan tidak menyadari pentingnya gizi
mereka sendiri. #isalnya, 8) persen perempuan
hamil menerima atau membeli tablet besi-
folat pada tahun &')', tetapi hanya )8 persen
yang mengkonsumsi tablet sebagaimana
direkomendasikan minimal selama 3' hari selama
masa kehamilan. Perbedaan antara pro$insi
dengan kinerja terbaik 5ogyakarta! dan pro$insi
terburuk Sulawesi 4arat! adalah +, persen.
*asyarakat dan petugas kesehatan perlu
memahami pentingnya A+I eksklusif dan
praktek-praktek pemberian makan bayi dan
anak yang tepat, dan memberikan dukungan
kepada para ibu. Sur$ei %emografi dan .esehatan
*ndonesia &''( menunjukkan bahwa kurang dari
satu dari tiga bayi di bawah usia enam bulan
diberi AS* eksklusif dan hanya 1) persen anak
usia +-&2 bulan menerima makanan pendamping
2
sedangkan *) pro&insi memiliki pre&alensi tinggi
(2(-23 persen. 9ebih dari setengah anak (-:
persen di ;usa 6enggara 6imur mengalami
stunting, proporsi yang kira-kira 2,- kali
pre&alensi di 5ogyakarta (.ambar 2.
k
Angka0asting (tubuh kurus) adalah tinggi.
Secara nasional, enam persen anak mengalami
wasting parah,sehingga menempatkan mereka
pada resiko kematian yang tinggi, situasi yang
menunjukkan tidak adanyapeningkatan antara
tahun 2(() dan 2(*(. Sembilan pro&insi memiliki
pre&alensi wasting yang sangat tinggi, sebesar
*-persen atau lebih.
k
1nam belas pr"vinsi menunjukkan prevalensi
berat badan kurang, yang mempengaruhi 2(
persen atau lebih anak-anak. "re&alensi berat
badan kurang sangat tinggi di ;usa 6enggara
4arat, melebihi 2( persen.
%tunting sangat menantang karena skala
permasalahan, sifat desentralisasi Ind"nesia dan
kapasitas pemerintah daerah yang terbatas.
"erkiraan kasar pada tahun 2(() menunjukkan
bahwa kira-kira :* persen kabupaten di +ndonesia
memiliki pre&alensi anak stunting yang sangat tinggi.
&ata nasi"nal tentang gizi ibu pada umumnya
tidak tersedia, tetapi berat lahir rendah dan
anemia memberikan sebuah indikasi. 4erat anak
saat lahir merupakanakibat langsung dari status
kesehatan dan gi$i ibu sebelum dan selama
kehamilan. Secara nasional, proporsi anak dengan
berat lahir rendah pada tahun 2(*( (** persen
dengan berat badan kurang dari 2.-(( gram tidak
menunjukkanperubahan signifikan sejaktahun 2(().
'i *1 pro&insi, pre&alensi berat lahir rendah
meningkat dari tahun 2(() sampai 2(*(. %nemia
merupakan masalah, yang mempengaruhi sekitar
seperempat peremuan hamil pada tahun 2(().
2ebih dari sepertiga perempuan usia subur di
Ind"nesia tidak memenuhi persyaratan nasi"nal
untuk asupan makanan yang mengandung energi
atau pr"tein. 'i lebih dari sepertiga seluruh pro&insi,
proporsi ini meningkat menjadi lebih dari 1( persen
perempuan usia subur.
7"1tn
%da tiga hambatan utama terhadappeningkatan gi$i dan perkembangan anak di +ndonesia. 3ertama, stunting (tubuh pendek) dan gizi ibu tidak mudah dilihat."ada umumnya, orang tidak tahu bahwa gi$i kurang merupakan sebuah masalah, kecuali gi$i kurang tersebut berbentuk wasting (tubuh urus yang parah. !leh karena itu,upaya-upaya diarahkan secara tidak tepat untuk menangani wasting yang parah, bukan diarahkan pada sistem dan inter&ensi untuk menanggulangigi$i kurang pada
ibu dan anak anak.
4edua, "rang menghubungkan gizi kurang
dengan kurangnya pangan dan peraya bah0a
penyediaanpanganmerupakan ja0abannya.
Ketersediaan pangan bukan penyebab utama gi$i
kurang di +ndonesia, meskipun kurangnya akses ke
pangan karena kemiskinan merupakan salah satu
penyebab. 4ahkan anak-anak dari dua kelompok
kekayaan tertinggi menunjukkan stunting menengah
sampai tinggi, sehingga penyediaan pangan saja
bukan merupakan solusi.
4etiga, pengetahuan yang tidak memadai dan
praktek#praktek yang tidak tepat merupakan
hambatan signifikan terhadappeningkatan gizi.
"ada umumnya, orang tidak menyadari pentingnya
gi$i selama kehamilan dan dua tahun pertama
kehidupan. Secara lebih khusus<
k
Pere"pun tidak menyadari pentingnya gi$i
mereka sendiri. Misalnya, :* persen perempuan
hamil menerima atau membeli tablet besi pada
tahun 2(*(, tetapi hanya *: persen yang
mengkonsumsi tablet sebagaimana
direkomendasikan minimal selama 3( hari.
"erbedaan antara 5ogyakarta dan Sulawesi
4arat, masing-masing sebagai pro&insi dengan
kinerja terbaik dan terburuk, adalah ,- persen.
k $asyarakat dan petugas kesehatan perlu memahami pentingnya %S+ eksklusif dan praktek- praktek pemberian makan bayi dan anak yang tepat, dan memberikan dukungan kepada para ibu. Sur&ei 'emografi dan Kesehatan +ndonesia 2(() menunjukkan bahwa kurang dari satu dari tiga bayi di bawah usia enam bulan diberi %S+ eksklusif dan hanya 1* persen anak usia ,-22 bulan menerima makanan pendamping %S+ (M"- %S+ yang sesuai dengan praktek-praktek yang direkomendasikan tentangpengaturan waktu,
0& 20& 80& *0& 90&
Di :/gy!rt
D!i 6!rt
riu isln#s
n/rt- sul,esi
Ppu
Bng! Belitung
Est !li"ntn
Bli
n/rt- ;lu!u
6"1i
Beng!ulu
riu
+est su"tr
Bnten
+est 63
Centrl 63
s/ut- !li"ntn
inDOnEsi
Est 63
Centrl sul,esi
<"pung
;lu!u
s/ut-est sul,esi
s/ut- sul,esi
.e-
Centrl !li"ntn
+est !li"ntn
g/r/ntl/
s/ut- su"tr
+est sul,esi
n/rt- su"tr
+est nus Tenggr
+est Ppu
Est nus Tenggr
Figure 2% Pre3len.e /0
"/#erte 2 se3ere
stunting "/ngst .-il#ren
un#er ge )4 1y pr/3in.e4
2010%
%"ure: RI%41%&A%, $inistry
"f 5ealth, Ind"nesia
g"1r 2% Pre3lensi
stunting "/#ert 2 pr-
p# n!-n! 1lit4
"enurut pr/3insi4 2010.
Sumber< RISKESDAS,
Kementerian Kesehatan,
Indonesia
nTT
Ppu Brt
nTB
su"ut
sul1r
su"sel
g/r/ntl/
!l1r
!lteng
.e-
sulsel
sultr
;lu!u
<"pung
sulteng
6, Ti"ur
inDOnEsi
!lsel
6, Teng-
6, Brt
Bnten
su"1r
riu
Beng!ulu
6"1i
;lu!u Utr
Bli
!lti"
Bng! Belitung
Ppu
sulut
!epri
D!i 6!rt
Di :/gy!rt
-ambar &.
Pre$alensi stunting
moderat : parah
pada anak-anak
balita, menurut
pro$insi, &')'.
Sumber= ;*S.<S%AS,
.ementerian .esehatan,
*ndonesia
O!TOBEr 2012 ring!sn !6in

1 -
AS* #P-AS*! yang sesuai dengan praktek-praktek
yang direkomendasikan tentang pengaturan waktu,
frekuensi dan kualitas.
(eluarga seringkali tidak memiliki pengetahuan
tentang gizi dan perilaku kesehatan. 4erdasarkan
;iskesdas &')', sebagian besar rumah tangga
di *ndonesia masih menggunakan air yang tidak
bersih 1, persen! dan sarana pembuangan
kotoran yang tidak aman 13 persen!. #inimal
satu dari setiap empat rumah tangga dalam
dua kuintil termiskin masih melakukan buang
air besar di tempat terbuka. Perilaku tersebut
berhubungan dengan penyakit diare, yang
selanjutnya berkontribusi terhadap gi"i kurang.
Pada tahun &''(, diare merupakan penyebab dari
2) persen kematian pada anak-anak di *ndonesia
antara usia ) sampai )) bulan, dan &, persen
kematian pada anak-anak antara usia satu sampai
empat tahun.
!enyedia layanan kesehatan dan petugas
masyarakat tidak memberikan knseling gizi
yang memadai. 6anpa konseling yang efektif,
pemantauan pertumbuhan tidak akan efektif
dalam menurunkan gi"i kurang.
!engambil keputusan lkal seringkali tidak
memiliki pengetahuan yang memadai tentang
apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan
untuk meningkatkan gizi. *ni berarti sumber daya
terbuang, misalnya, tentang program pemberian
makanan prasekolah, yang tidak efektif dalam
menurunkan gi"i kurang pada anak-anak, meskipun
program tersebut dapat memberikan manfaat
pendidikan. .urangnya kesadaran juga berarti
tidak adanya tindakan tentang langkah-langkah
penting yang harus dilakukan oleh para pengambil
keputusan kabupaten, misalnya, pengeluaran
dan pelaksanaan peraturan daerah Perda!
tentang iodisasi garam uni$ersal atau tentang
pemberian AS*. Pada tahun &''(, hanya +& persen
rumah tangga di seluruh *ndonesia yang dapat
mengkonsumsi garam beryodium secara memadai,
sebuah indikator yang belum menunjukkan banyak
peningkatan selama beberapa tahun terakhir.
!eluang untuk
melakukan tindakan
+
ntervensi yang terkait dengan praktek-
praktek pemberian makanan anak dan gizi ibu
merupakan kunci untuk menangani gizi kurang
pada anak-anak.
Untuk menangani gizi kurang, intervensi gizi
perlu ditingkatkan yang dinyatakan dengan
bukti ilmiah. *nter$ensi ini merupakan paket
*nter$ensi -i"i <fektif *-<!, yang memberikan
sebuah rangkaian layanan sejak pra-kehamilan
sampai usia dua tahun - yang mencakup >).'''
hari? kehidupan. .onseling gi"i bagi para
perempuan hamil dan ibu untuk mempromosikan
praktek-praktek yang baik merupakan bagian
penting dari paket terpadu ini lihat .otak!.
Aksi di tingkat nasinal diperlukan untuk
memperkuat kerangka kebijakan dan legislatif,
mekanisme kelembagaan dan pengembangan
sumber daya manusia. !erhatian khusus harus
diberikan pada,
!enciptaan dan penguatan mekanisme krdinasi
nasinal dan daerah untuk mengimplementasikan
;encana Aksi 9asional Pangan dan -i"i, dan
untuk melakukan koordinasi dengan sektor-sektor
non-gi"i@
!engembangan, pemantauan dan penegakan
peraturan nasinal untuk mengawasi pemasaran
produk pengganti AS*@
-evisi standar minimal pelayanan kesehatan
untuk mencakup aksi-aksi dan sasaran gizi, seperti
aksi-aksi yang berhubungan dengan konseling gi"i,
makanan pendamping AS* dan gi"i ibu@
!enguatan sistem infrmasi kesehatan untuk
meningkatkan keandalan data, promosi
pengawasan suportif terhadap program kesehatan
dan gi"i, dan promosi penggunaan data oleh
petugas kesehatan secara terus-menerus untuk
meningkatkan dampak program@
ring!sn !6in O!TOBEr 2012

1 -
!enguatan prgram frtifikasi pangan nasinal
dengan memperbarui standar frtifikasi untuk
terigu, pengharusan fortifikasi minyak, dan
peningkatan penegakan legislasi yang ada@
tentang iodisasi garam@
Implementasi langkah-langkah untuk merekrut,
mengembangkan dan mempertahankan ahli gizi
yang memenuhi syarat, termasuk insentif bagi
mereka yang bekerja di daerah-daerah yang kurang
terlayani.
Untuk mengimplementasikan intervensi gizi
efektif di tingkat kabupaten, diperlukan kmitmen
dari para pemimpin di tingkat kabupaten serta
dukungan dari tingkat pusat dan prvinsi untuk
melakukan berbagai aksi,
*engembangkan dan mengimplementasikan
rencana dan anggaran gizi kabupaten untuk
intervensi gizi efektif, dengan tugas dan
tanggung ja)ab yang ditentukan dengan jelas
pada setiap tingkat, khususnya bagi para ahli gizi
di !uskesmas. 4agian-bagian dari paket inter$ensi
i
gi"i efektif berada di luar sektor kesehatan dan
melibatkan para pemangku kepentingan lain,
sehingga meningkatkan kemungkinan terpecahnya
upaya-upaya yang dilakukan. Oleh karena itu,
pengambil keputusan kabupaten perlu memastikan
koordinasi yang efektif, serta kesesuaian rencana
dengan target nasional. Selain itu juga diperlukan
koordinasi dengan program bantuan tunai, seperti
P.0, untuk memastikan bahwa pelayanan yang
ii
digunakan oleh penerima manfaat tersedia dengan
kualitas yang tinggi.
*eningkatkan mtivasi petugas kesehatan dan
gizi dengan insentif yang memadai. *mbalan
dapat meliputi pengakuan profesi, tanggung jawab
yang lebih besar dan komponen berbasis kinerja
untuk gaji, dengan kinerja yang dinilai terhadap
indikator cakupan dan hasil program. %ata dari
Sistem .ewaspadaan Pangan %an -i"i harus
digunakan secara lebih efektif bagi pengambilan
keputusan dan penetapan target daerah. Sesi
masukan, pemantauan dan pengawasan secara
terus-menerus memainkan peran penting dalam
memoti$asi tim, yang semuanya memerlukan
sumber daya yang memadai dari kabupaten.
*emberikan priritas pada knseling gizi.
!enyedia layanan kesehatan di kabupaten dan
masyarakat perlu mendapatkan pendidikan
tentang pentingnya dan efektivitas knseling,
Intervensi gizi efektif dan rangkaian knsep
layanan. .ampanye komunikasi di kabupaten
harus menggunakan argumen tentang kinerja
pendidikan serta argumen kesehatan.
*endrng revitalisasi !syandu dengan
menggunakan knseling gizi dan !AU" sebagai
kegiatan utama. Aaringan Posyandu yang luas
iii
di *ndonesia merupakan satu-satunya struktur
yang memberikan kemungkinan untuk konseling
Apa yang seharusnya dimasukkan
dalam !aket Intervensi Gizi #fektif.
B .onseling gi"i bagi ibu hamil dan ibu anak-anak
muda
B Praktek pemberian makan bayi dan anak yang
BepaB=inisiasipemberianArhdalamjamperBama
kelahiran.pemberianArheksklusifkepadabayi
usiakurangdarienambulan.danpengenalan
makananpendampingArhsesuaidenganprakBek-
prakBekyangdirekomendasikanpadausia+bulan.
dilanjuBkandenganpemberianArhsampaiusia
minimalduaBahun
B -i"i mikro bagi perempuan hamil dan bagi anak
yangmelipuBi=
B 4esi dan asam folat atau suplementasi gi"i mikro
gandabagiperempuanhamil
B -aram beryodium yang memadai bagi semua
rumahBangga
B Suplementasi Citamin A bagi anak-anak
usia+-63bulan
B Suplementasi seng untuk diare pada anak-anak di
aBasusia+bulan
B Perilaku kebersihan yang baik dalam kehamilan,
masabayiandusiadini
B Pemberantasan penyakit cacingan bagi ibu dan
anak-anakusiaP-6Bahun
B Pengobatan anak yang sangat kurus, dengan
menggunakanmakananBerapeBiksiappakai
B Pemberian makanan tambahanbagi ibu hamil
yangkekuranganenergidanproBeinbagiibuhamil
kurangmakan
B Dalcium supplementation for pregnant women
B *nsecticide-treated bed nets for pregnant
O!TOBEr 2012 ring!sn !6in

E/hat worksF *nter$entions for maternal and child
undernutrition and sur$i$al.G #aternal and Dhild
Hndernutrition 2= 7ancet 2()=1)(I1'.
4PS-Statistics *ndonesia and #acro *nternational
&''8!= *ndonesia %emographic and 0ealth Sur$ey
*%0S &''(!. Dal$erton, #aryland, HSA= #acro
*nternational and Aakarta= 4PS.
.ramer, #. )38(!= E%eterminants of low birth weight=
methodological assessment and meta-analysis.G
4ulletin of the /orld 0ealth Organi"ation +,= ++2-(2(
#inistry of 0ealth &''8a!= 7aporan 9asional= ;iset
.esehatan %asar ;iskesdas! &''( , Aakarta= 9ational
*nstitute of 0ealth ;esearch and %e$elopment
#inistry of 0ealth &''8b!= ;e$itali"ing Primary
0ealth Dare. Dountry <Jperience= *ndonesia. /0O-
S<A;O ;egional Donference on ;e$itali"ing Primary
0ealth Dare, +-8 August . Aakarta= /orld 0ealth
Organi"ation
#inistry of 0ealth &'))!= 7aporan 9asional= ;iset
.esehatan %asar ;iskesdas! &')' , Aakarta= #inistry
of 0ealth, 9ational *nstitute of 0ealth ;esearch and
%e$elopment.
Pelto, -., %ickin, .. and <ngle, P. )333!. A critical link=
*nter$entions for physical growth and psychological
de$elopment. -ene$a= /orld 0ealth Organi"ation
Shrimpton, ;., Cictora, D.-., de Onis, #., 7ima, ;.D.,
4lKssner, #. and Dlugston, -. &'')!= E/orldwide
timing of growth faltering= implications for nutritional
inter$entions.G Pediatrics )'(= <(,
Cictora, D.-., Adair, 7., Lall, D., 0allal, P.D., #artorell,
;., ;ichter, 7. and Sachde$, 0.S. &''8!= E#aternal and
child undernutrition= conseMuences for adult health and
human capital.G #aternal and Dhild Hndernutrition &,
7ancet 2()= 21'-2,(
/orld 0ealth Organi"ation )33,!= EPhysical Status=
Hses and *nterpretation of Anthropometry. G /0O
6echnical ;eport Series, ;eport 9o. 8,1. -ene$a,
Swit"erland= /orld 0ealth Organi"atio
ring!sn !6in O!TOBEr 2012
+ni adalah salah satu dari serangkaian =ingkasan Kajian yang dikembangkan oleh >;+?@A +ndonesia.
>ntuk informasi lebih lanjut, hubungi jakartaBunicef.org atau klik www.unicef.or.id , -
gi"i sampai ke tingkat masyarakat. %ari tahun
&''' hingga &''+, jumlah Posyandu mengalami
peningkatan sebesar ), persen, sedangkan jumlah
jenis Posyandu yang berfungsi lebih baik dan
lebih berkesinambungan Purnama dan #andiri!
meningkat sebesar +' persen, sebuah tren yang
layak mendapatkan dukungan. Pengalaman selama
dekade terakhir dengan model-model seperti
6aman Posyandu menunjukkan bahwa dukungan
masyarakat bagi Posyandu lebih berkesinambungan
ketika keluarga termoti$asi oleh alasan pendidikan
dan sosial - khususnya PAH% dan kinerja sekolah
yang lebih baik daripada oleh alasan kesehatan
atau gi"i saja.
*engembangkan cara-cara untuk memtivasi
agen masyarakat dan rang tua. (abupaten
perlu merevitalisasi dan memtivasi para rela)an
!(( yang memberikan layanan di !syandu.
i$
%i beberapa kabupaten, pelatihan bagi relawan
tentang kegiatan yang menghasilkan pendapatan
yang digabungkan dengan dukungan pemerintah
kabupaten untuk mekanisme kredit memberikan
insentif kepada relawan yang terlibat dalam
kegiatan promosi pengembangan anak usia dini. %i
kabupaten-kabupaten lainnya, kesempatan untuk
pelatihan itu sendiri misalnya, konseling gi"i! atau
kompetisi yang baik di antara Posyandu dapat
dijadikan sebagai insentif.
+umber
4appenas 9ational %e$elopment Planning Agency! :
#inistry of 0ealth &')'!= 6he 7andscape Analysis=
*ndonesia Dountry Assessment. Linal ;eport, +
September &')'. A$ailable from=http=NNwww.mediafire.
comNFi"88bJ+ea"J8c"+ Accessed , August &')&
4arnett, S./. )38,!. E4enefit-cost analysis of the
Perry Preschool Program and its policy implications.G
<ducational e$aluation and policy analysis. (= 222-21&
4arnett, S./. )33,!. E 7ong-term effects of early
childhood programs on cogniti$e school outcomesG 6he
future of children. ,= &,-,'.
4hutta, O., Ahmed, 6., 4lack, ;.<., Dousens, S.,
%ewey, .., -iugliani, <., 0aider, 4.A., .irkwood, 4.,
#orris, S.S., Sachde$, 0.P.S. and Shekar, #. &''3!=
i
ouskesmas=ousaBjesehaBanlasyarakaB-BingkaBkecamaBan0
ii
ojg=orogramjeluargagarapan.programbanBuanBunaibersyaraB
iii
oosyandu=oosoelayananserpadu-BingkaBdesa0
i$
ojj=oemberdayaanjesejahBeraanjeluarga.sebuahjejaring
relawanyangluas