Anda di halaman 1dari 12

Tri Susilowati, Perlindungan Hukum Tenaga Kerja

151


PERLINDUNGAN HUKUM TENAGA KERJA INDONESIA
DI LUAR NEGERI


Tri Susilowati
(Dosen Fakultas Hukum Undaris Ungaran)
E-mail: tri.susilowati.undaris@gmail.com


Abstract: The Government of Indonesia and the nation is facing serious
problems regarding the placement of Indonesian migrant workers (TKI)
abroad. Many of the problems faced by migrant workers, for example, the
rough treatment, wages or salaries are not paid immediately, sexual
harassment, working hours are longer, and the weak aid and legal protection
for migrant workers facing legal problems. One of the problems examined in
this study is the extent to which the legal protection provided by the
government of Indonesia to the work force? Analysis of the data in this study
using the analysis of socio-legal research methods. The results of this study
indicate that the number of cases and legal issues faced by Indonesian workers
working abroad indicate poor positive legal protection provided for in laws
regarding the placement and protection of Indonesian workers.
Key words: labor, legal protection, the government
Kata-kata kunci: tenaga kerja, perlindungan hukum, pemerintah


A. PENDAHULUAN
Undang-Undang Dasar 1945 memberi rambu-rambu untuk melindungi
Buruh Migran Indonesia, hal ini merupakan landasan yang menjadi pegangan
para pelaku mapun pengambil kebijakan tentang orang yang bekerja di luar
negeri, Sebagai Konstitusi Republik Indonesia telah ditetapkan pula prinsip-
prinsip hak asasi manusia bagi setiap orang dan warga negara sebagai jaminan
atas kehormatan dan martabat mereka sebagai manusia. Kemudian UUD 1945
juga mengakui setiap warga negara sama di depan hukum tanpa adanya dis-
kriminasi yang didasarkan pada apapun juga. Untuk itu, perlindungan buruh
migran dalam konteks hukum di Indonesia dapat dilihat dari Pasal-pasal UUD
1945 yang melindungi berperan sebagai pelindung hak-hak warga negara.
Untuk mengkaji peran dan posisi pada buruh migran Indonesia yang
bekerja diluar negeri menunjukkan fakta ekonomi yang cukup menarik, karena
menurut Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI), pada
Jurnal Ilmiah Inkoma, Volume 22, Nomor 2, Juni 2011
152
2008 sumbangan devisa buruh migran mengalami kenaikan sangat signifikan.
Jumlah uang yang mereka kirimkan ke tanah air mencapai USD 8,24 miliar atau
sekitar Rp 86,7 triliun. Kiriman uang (remitansi) para TKI naik sekitar 37 persen.
Sebelumnya, para buruh migran Indonesia itu rata-rata mengirimkan USD 6,1
miliar atau sekitar Rp 64,2 triliun (Kompas, 8 Mei 2009). Namun sayangnya,
kenaikan sumbangan devisa yang diberikan oleh buruh migran tersebut tidak
diikuti oleh perlakuan dan perlindungan yang seimbang dari pemerintah hal ini
menunjukkan bahwa fakta hukum belum menjanjikan perlindungan bagi buruh.
Karena pada realitanya, sebagian besar TKI/TKW yang bekerja di luar negeri
seringkali menjadi korban kekerasan, baik itu kekerasan fisik, psikis, dan ekonomi.
Menurut Migrant Care, pada tahun 2007 ada sekitar 61 buruh migran yang
meninggal di luar negeri, sebanyak 28 buruh migran mengalami perlakuan tindak
kekerasan dan 56 buruh migran lainnya terancam hukuman cambuk atau mati (Nor
Chasanah, Selasa, 21 September 2010). Berbagai persoalan tentang buruh migran
yang pulang ke Indonesia dalam kondisi fisik dan psikis yang memprihatinkan
akibat tindak kekerasan yang dilakukan oleh majikannya, bahkan ada yang sampai
meninggal dunia. Meski semakin banyak kasus kekerasan yang terjadi pada para
buruh migran kita yang bekerja di luar negeri, namun belum terlihat respon efektif
dari pemerintah untuk meminimalisir penderitaan nasib buruh migran yang tak
kunjung berubah dari waktu ke waktu. Berdasarkan catatan penanganan kasus oleh
Solidaritas Perempuan menunjukkan, terdapat 15 jenis kasus yang dialami buruh
migran perempuan. Kelima belas kasus tersebut adalah gagal berangkat, gaji tidak
dibayar, hilang kontak, kecelakaan kerja, kematian, over kontrak, pelecehan sek-
sual, pemerasan, penganiayaan, penipuan, penyekapan, perkosaan, permasalahan
hukum, trafficking (perdagangan manusia), dan depresi.
Menjadi buruh migran yang sering disebut Tenaga Kerja Indonesia (TKI)
di luar negeri sebenarnya bukan sesuatu yang kerap diasosiasikan dengan pekerjaan
hina dan hanya menjadi penata laksana rumah tangga, justru ini adalah pekerjaan
dengan bayaran yang tinggi dan mengubah nasib. Perlu dicatat bahwa TKI
bermasalah jumlahnya sangat tidak signifikan hanya 4 persen dan terus menurun,
sementara 90 persen lebihnya sukses dan dapat bekerja dengan sah dan layak. Akan
tetapi bukan berarti jumlah problem hanya 4% maka negara bisa mengabaikan
persoalan TKI. Namun hal ini tidak pernah menjadi fokus. Walaupun para diplomat
RI di Jeddah, Malaysia dan negara lain bekerja sangat keras dalam mengamankan
proses ketenagakerjaan yang terjadi di setiap negara akreditasi. Kinerja dan
koordinasi memang harus terus ditingkatkan. Birokrasi dan tertutupnya pemerintah
lokal di luar negeri terhadap akses negara Indonesia menjadi tantangan tersendiri.
Harapannya adalah Kementerian Luar Negeri dan Diplomat Indonesia dapat
menjadi lebih aktif dan memiliki sense of down to earth yang semakin baik.
Tri Susilowati, Perlindungan Hukum Tenaga Kerja
153
Seiring berjalannya waktu, sering muncul permasalahan karena pelanggaran
berlapis yang dialami oleh buruh migran perempuan dan dilakukan oleh banyak
pihak, membuat sulitnya penyelesaian kasus. Belum lagi kurangnya bukti-bukti
yang dipegang oleh buruh migran atau keluarganya membuat posisi buruh migran
menjadi lebih rentan terhadap hilangnya akses atas keadilan. Sampai hari ini
haknya sebagai manusia, sebagai warga negara dan sebagai pekerja belum
dilindungi, kata Thaufiek Zulbahary, Ketua Divisi Program Migrasi, Traffiking
dan HIV/AIDS Solidaritas Perempuan di sela-sela peluncuran buku 'Menguak
Pelanggaran Hak Asasi Buruh Migran Indonesia'.
Dewasa ini, buruh migran perempuan yang dikenal dengan Tenaga Kerja
Wanita (TKW) dari Indonesia yang keluar negeri sangatlah banyak. Feminisasi
migrasi internasional ini ditunjukkan dengan besarnya angka buruh migrant
perempuan (70% dari total buruh migrant Indonesia) (Rosenberg, 2003:44).
Sebagai sesama Negara berkembang, Indonesia mempunyai kesamaan dengan
Philipina dalam hal terjadinya factor-faktor penyebab feminisasi buruh migran.
Dalam A Comparative Study Of Women Trafficked in Migran Process, para peneliti
Philipina mencatat beberapa faktor penyebab meningkatnya migrasi perempuan ke
luar negeri. Faktor-faktor tersebut adalah: (1) Perkembangan ekonomi yang pesat
di negara-negara tujuan dan meningkatnya permintaan terhadap buruh migrant
perempuan; (2) Kebijakan migrasi tenaga kerja resmi dari pemerintah, dimana
perekrutan perempuan secara aktif digalakkan melalui kerja sama dengan agen
perekrut tenaga kerja; (3) Stereotip gender terhadap perempuan dalam situasi kerja
yang mencerminkan peran tradisional mereka sebagai pengasuh dan penghibur; (4)
Meningkatnya kemiskinan dalam konteks program penyesuaian struktural yang
menyebabkan penduduk pedesaan kehilangan tanah dan menjadi miskin, sehingga
mendorong lebih banyak perempuan untuk memasuki pasar tenaga kerja; (5)
Kurangnya kesempatan kerja di dalam negeri yang memungkin-kan perempuan
untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, meningkatkan keterampilan dan mem-
peroleh masa depan yang lebih menjamin; (6) Meningkatnya ketergantungan
keluarga pada perempuan untuk memperoleh pendapatan, khususnya dari keluarga
yang kurang mampu.
Khususnya faktor kedua, meskipun terdapat pelarangan pengiriman buruh
migrant informal pada bulan Februari 2003 oleh Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi (Jacob Nuwawea) dengan asalan rendahnya mutu buruh migran
Indonesia, namun ia tidak membahas pelarangan itu bukan merupakan alternatif
terbaik dalam penyelesaian eksploitasi terhadap buruh migran di negara lain karena
pelarangan itu hanya akan menimbulkan semakin banyaknya buruh migran illegal
ke luar negeri (Hugo, 2002:177). Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah konteks
moratorium sejak tahun 2003 sudah pernah mencoba mengikuti keinginan
Jurnal Ilmiah Inkoma, Volume 22, Nomor 2, Juni 2011
154
masyarakat dengan moratorium untuk Malaysia. Hasilnya peningkatan TKI ilegal
yang masuk dari jalur-jalur tikus (istilah jalur tidak resmi) termasuk perbatasan
entikong semakin besar dan jumlah kekerasan TKI makin besar. Hal ini dikarena-
kan dua hal: karena Malaysia membutuhkan TKI Indonesia sebagai pekerja yang
sangat terampil, dan masyarakat Indonesia butuh uang.
Menghentikan pengiriman TKI akan memberikan efek ekonomi yang besar
bagi Indonesia. Jumlah pengiriman uang dari tenaga kerja Indonesia yang bekerja
di luar negeri tahun 2010 lalu sudah mencapai US$ 5 miliar ke atas atau sekitar Rp
45 triliun. Angka tersebut berasal dari 4,32 juta TKI yang tersebar di berbagai
negara. Remittance ini meningkatkan daya beli keluarga dan menguatkan per-
ekonomian di sektor riil dan industri.
Bersarkan latar belakang yang dipaparkan di depan, dapat dirumuskan dua
masalah pokok yang hendak diteliti: (1) Bagaimana latar belakang dan pelaksanaan
penempatan tenaga kerja Indonesia? (2) Bagaimana bentuk dan mekanisme
perlindungan hukum yang diberikan pemerintah kepada tenaga kerja Indonesia?

B. METODE PENELITIAN
Penelitian menggunakan tradisi penelitian kualitatif dengan operasionalisasi
penelitian yang berparadigma alamiah (naturalistic paradigm)
1
, karena dengan
menggunakan metode penelitian kualitatif diharapkan akan ditemukan makna-
makna tersembunyi di balik objek yang diteliti (S. Nasution, 1996:18).
Penelitian kualitatif memiliki ciri atau karakteristik yang membedakan
dengan penelitian jenis lainnya, berarti penelitian kualitatif bekerja dalam setting
yang alami, yang berupaya untuk memahami, memberi tafsiran pada fenomena
yang dilihat dari arti yang diberikan orang-orang kepadanya. Dalam penelitian
kualitatif menghendaki agar pengertian dan hasil interpretasi yang diperoleh
dirundingkan dan disepakati oleh manusia yang dijadikan sumber data yang
dikenal dengan key-informant, informan yang jumlahnya tidak ditentukan secara
limitatif melainkan mengikuti prinsip snowball.
Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri. Dalam penelitian kualitatif
interpretatif atau konstruktivis, maka tujuan penelitian untuk: (1) to explore; (2) to
critizise; (3) to understand. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara
triangulasi sumber.

1
Suteki menyatakan bahwa penelitian kualitatif mempunyai literasi empat unsur, yaitu: (1)
Pengambilan atau penentuan sampel secara purposive; (2) Analisis induktif; (3)
Grounded theory; (4) Desain sementara akan berubah sesuai konteksnya. Lihat juga
Noeng Muhadjir, 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Penerbit Rake
Sarasin, Hal. 165-168.
Tri Susilowati, Perlindungan Hukum Tenaga Kerja
155
C. HASIL PENELITIAN
Analisis data yang terkumpul dalam penelitian ini menunjukkan bahwa
kondisi perlindungan yang seharusnya diterimapara tenaga kerja Indonesia yang
bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja pada sektor informal yang
menunjukkan posisi pada pekerjaan domestik sebagai penata laksanaan rumah
tangga masih menyisakan persoalan yang cukup banyak serta sangat kompleks.
Perlindungan sebagai masalah yang dipersoalkan dalam hubungan kerja pada
pekerjaan domestik sebagai penata laksanaan rumah tangga adalah problem
rendahnya perlindungan terhadap tenagakerja Indonesia di luar negeri oleh pihak
pengguna tenaga kerja. Konsep hubungan kerja meliputi 3 unsur pendukung yaitu
upah, pekerjaan, perjanjian kerja. Ketiga aspek ini saling terkait dalam pem-
berdayaan hubungan kerja. Dari ketiga unsur tersebut upah merupakan unsur
terakhir yang dianggap memiliki posisi strategis sebagai faktor kunci yang meng-
hubungkan atau memiliki korelasi antara pengguna jasa tenagak kerja Indonesia di
luar negeri dengan pekerja yang bekerja diluar negeri yang rentan dengan konflik.
Sebagai konsep yang dimanfaatkan dalam menganalisis kepentingan hukum
berperspektif keadilan maka memerlukan analisis kualitatif mengingat bahwa
dinamika hukum tidak kunjung berhenti, oleh karena hukum terus menerus berada
pada status membangun diri, dengan demikian terjadinya perubahan sosial dengan
didukung oleh social engineering by law yang terencana akan mewujudkan apa
yang menjadi tujuan hukum progresif yaitu kesejahteraan dan kebahagiaan
manusia. Untuk itu, pada kepentingan hubungan kerja pada orang yang bekerja
diluar negeri maka hubungan pekerja dengan dengan pengguna jasa di luar negeri
perlu mendapatkan kehidupan hukum yang berada dan bekerja berdasarkan pola
pikir hukum yang progresif (paradigma hukum progresif), barang tentu berbeda
dengan paradigma hukum positivistis-praktis yang diajarkan di perguruan tinggi.

D. PEMBAHASAN HASILPENELITIAN
1. Pelaksanaan dan Latar Belangan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia
Makna dan arti pentingnya pekerjaan bagi setiap orang tercermin dalam
UUD 1945 Pasal 27 ayat (2) menyatakan bahwa setiap Warga Negara Indonesia
berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Namun pada
kenyataannya, keterbatasan akan lowongan kerja di dalam negeri menyebabkan
banyak TKI mencari pekerjaan di luar negeri. Dari tahun ke tahun jumlah mereka
yang bekerja di luar negeri semakin meningkat. Besarnya animo tenaga kerja yang
akan bekerja ke luar negeri dan besarnya jumlah TKI yang sedang bekerja di luar
negeri di satu segi mempunyai sisi positif, yakni dapat mengatasi sebagian masalah
pengangguran di dalam negeri. Namun, mempunyai pula sisi negative, berupa
Jurnal Ilmiah Inkoma, Volume 22, Nomor 2, Juni 2011
156
risiko kemungkinan terjadinya perlakuan yang tidak manusiawi terhadap TKI.
Risiko tersebut dapat dialami oleh TKI baik selama proses keberangkatan, selama
bekerja di luar negeri maupun setelah pulang ke Indonesia. Dengan demikian perlu
dilakukan pengaturan agar risiko perlakukan yang tidak manusiawi terhadap TKI
sebagaimana disebutkan di atas dapat dihindari atau minimal dikurangi.
Kasus eksekusi pancung terhadap salah satu anak bangsa, Ruyati (54
tahun), dihukum pancung di Arab Saudi tanpa ada pemberitahuan resmi.
Ruyatibinti Satubi, pekerja rumah tangga dari RT 03 RW II Kampung Ceger,
Sukatani, Bekasi, Jabar, dihukum pancung pada Sabtu 18-6- 2011 di Mekah karena
mengakui telah membunuh majikan perempuannya, Khairiya Hamed binti Majlad.
Ruyati membunuh Khairiya (64) menggunakan pisau pemotong daging pada 10
Januari 2010. TKW Indonesia asal Bekasi, Ruyati binti Satubi di Arab Saudi pada
tanggal 18 Juni 2011 merupakan fenomena orang bekerja diluar negeri sebagai
fenomena minimnya fakta hukum yang mendukung perlindungan orang bekerja di
luar negeri, yang merupakan gunung es pengiriman TKW Informal ke negara lain.
Hal ini merupakan persoalan yang mencoreng pekerjaan Badan Nasional
Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Menteri
Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Mennakertrans) dan Duta Besas RI untuk Arab
Saudi, meminta pihak-pihak terkait untuk bekerja keras mempertanggungjawabkan
atas perlindungan hukum terhadap TKW.
Pemerintah dianggap tidak berusaha maksimal, meskipun akhirnya
anggapan itu langsung dibantah. Hal ini layak untuk dikemukakan sebagai contoh
betapa pentingnya Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor buruh
migran terbesar di dunia. Setiap tahun (antara 2006-2009) kurang lebih ada 6 juta
TKI yang bekerja di luar negeri. Mereka tersebar di sejumlah negara, seperti
Malaysia, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Singapura, Brunei Darussalam, Kuwait,
Oman, Qatar, Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, Taiwan, dan beberapa negara
lainnya seperti Amerika dan Kanada. Dari 6 juta TKI di luar negeri, sebanyak 4,3
juta di antaranya bekerja di sektor informal. Mereka bekerja di sektor informal
karena mereka memiliki tingkat pendidikan yang rendah, lulusan SD, SLTP, dan
tertinggi SLTA. Malaysia merupakan negara tujuan utama TKI, sedikitnya ada 2,2
juta orang TKI yang bekerja di Malaysia. Dari jumlah tersebut, hanya 1,2 juta
orang yang terdaftar resmi di Keimigrasian Malaysia dan 1 juta TKI lainnya tidak
terdaftar dan tidak berdokumen (Kompas, Senin 15 Juni 2009).
Pada tahun 2006 diperkirakan sekitar US$ 30 milyar atau setara dengan Rp
30, 6 trilliun masuk sebagai remiten ke negara Indonesia dari negara-negara Arab
petro dollar (GCC), hal ini menunjukkan menjadi negara tujuan pengiriman tenaga
kerja Indonesia. Jumlahnya diperkirakan sekitar 1,4 juta TKI dari total 2,7 juta TKI
di luar negeri. Mereka telah berjasa memberikan devisa dan remitansi yang
Tri Susilowati, Perlindungan Hukum Tenaga Kerja
157
signifikan bagi kepentingan ekonomi rakyat Indonesia. Jumlahnya cukup fantastis,.
Sekaligus mengurangi angka pengangguran yang relatif masih tinggi di dalam
negeri. Selain TKI, setiap tahun jemaah haji Indonesia berkunjung ke Arab Saudi
jumlahnya lebih dari 205.000 orang. Sedangkan umroh jumlahnya sekitar 70.000
orang pertahun. Belum termasuk para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang
belajar di berbagai perguruan tinggi di Saudi diperkirakan sekitar 3.000 orang. Hal
ini memperlihatkan bahwa fenomena yang ada menunjukkan masih muncul
berbagai permasalahan orang bekerja diluar negeri. Bekerja diluar negeri bagi
rakyat Indonesia memerlukan berbagai faktor pendukung. Aspek hukum
merupakan salah satu faktor pendukung yang sangat penting.

2. Fakta Sosial Tenaga Kerja Indonesia
Sebagai illustrasi pada tahun 2004 jumlah TKI bermasalah di Arab Saudi
yang berada di Tarlhil (Karantina-Deportasi) sebanyak 13.888 orang dan di Sijjin
(penjara) sebanyak 278 orang. Dari jumlah tersebut, dilihat dari ijin masuk visa
yang digunakan WNI bermasalah pada paspor sebanyak 59% adalahmereka benar-
benar TKI yang memperoleh working permit. Selebihnya sebanyak 41% adalah
mereka yang menyalahgunakan visa umrah dan sebagian kecil visa haji. Selama 6
tahun terakhir, periode tahun 2000-2006 trend jumlahTKI bermasalah di Saudi
meningkat dari tahun 2000 sekitar 14.000 orang menjadi 23.000 orang pada tahun
2006. karena melalui aspek hukum dimaksudkan untuk menciptakan perlindungan
tenaga kerja yang bekerja di luar negeri.
a. Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 menebutkan, Tiap-tiap warga negara berhak atas
pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Pasal ini mem-
berikan sinyalemen, bahwa setiap tindakan atau perbuatan yang telah dipilih
oleh warga negara sebagai upaya untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidup-
an yang layak harus dilindungi secara penuh oleh negara. Hak atas pekerjaan
dan penghidupan yang layak ini tidak hanya menuntut negara untuk memenuhi-
nya, tetapi juga memberikan fasilitas perlindungan terhadap apa yang menjadi
pilihan setiap warga negara, termasuk jika mereka memutuskan untuk menjadi
pekerja migran. Secara lebih umum, Pasal 28A UUD 1945 menyebutkan,
Setiap warga negara berhak untuk hidup dan mempertahankan hidup dan
kehidupannya. Artinya, pilihan untuk menjadi buruh migran tidak lebih dari
upaya mempertahankan hidup dan kehidupan mereka, yang pada prinsipnya
menjadi kewajiban negara untuk menjamin keberlangsungannya.
b. Di samping itu, Pasal 28D ayat (2) UUD 1945 menyebutkan bahwa selain
mempunyai hak untuk bekerja, Konstitusi Republik Indonesia juga memberikan
hak kepada setiap warga negara untuk mendapatkan imbalan atau upah dan
perlakukan yang adil dan layak dalam setiap hubungan kerja. Untuk itu, Negara
Jurnal Ilmiah Inkoma, Volume 22, Nomor 2, Juni 2011
158
juga berkewajiban untuk memastikan hak setiap warga negara dalam hubungan
kerja, baik di dalam atau di luar negeri.
c. Pasal 28G UUD 1945 menyebutkan, bahwa:
(1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormat-
an, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak
atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat
atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.
(2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang
merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka
politik dari negara lain.
Atas dasar ayat (1) Pasal 28D di atas menekankan adanya perlindungan
diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda, termasuk pula
bagi para buruh migran Indonesia, karena secara universal UUD 1945 tidak
membedakan setiap warga negara. Selanjutnya, ayat (2) Pasal ini menyebutkan,
bahwa setiap warga negara berhak untuk bebas dari setiap bentuk penyiksaan.
Dengan demikian, Pemerintah berkewajiban pula untuk melindungi para pe-
kerja migran, terutama pekerja perempuan, dari setiap perlakukan buruk yang
mengarah kepada penyiksaan sering terjadi pada buruh migran, sehingga
menghalangi mereka untuk menikmati hak asasi dan martabat kemanusiaannya.
TKI adalah pahlawan devisa negara, hasil remittance TKI pada ekonomi
Indonesia sangat besar, namun demikian tidak sedikit hasil ini diperoleh dari status
pekerjaannya yang tidak legal di negara tempat bekerja. Tidak usah TKI yang
memang datang niat bekerja, banyak sekali mahasiswa Indonesia bekerja di luar
negeri dengan tidak mengindahkan hak dan kewajiban yang diperoleh, seperti jatah
20 jam per minggu di Australia, atau dilarangnya bekerja paruh waktu di Amerika
dan Inggris.
Peningkatan buruh migrant memang diperlukan, tetapi lebih essensiil adalah
bagaimana perlindungan dapat diberikan terhadap buruh migrant tersebut baik se-
masih ada di Indonesia, setelah berada di luar negeri dan juga setelah kembali ke
Indonesia. Perlindungan terhadap buruh migrant tersebut sangat diperlukan
mengingat banyaknya eksploitasi yang dialami buruh migrant dari tahap perekrutan
sampai mereka kembali ke Indonesia.

3. Perlindungan Hukum Terhadap Tenaga Kerja Indonesia
Logikanya rambu-rambu hukum sudah cukup banyak memberikan
persyaratan yang ketat bagi penempatan seorang TKI. Misalnya PPTKIS
(Pelaksana Penempatan TKI Swasta ) harus memiliki hal-hal sebagai berikut:
Tri Susilowati, Perlindungan Hukum Tenaga Kerja
159
dokumen legalitas usaha, job order dan recruitment agreement yang telah di-
legalisasi oleh Perwakilan RI dan perjanjian kerjasama dengan agen di luar negeri.
Selain itu, TKI sendiri harus memiliki jatidiri yang jelas. Bukti dari keseriusan
Pemerintah RI dalam masalah TKI ini bisa dilihat dari perangkat hukum yang
dikeluarkan. Tidak cukup dengan hanya UU Nomor 39 Tahun 2004, Presiden RI
juga mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2006 sebagai wujud ke-
pedulian untuk melakukan reformasi sistem penempatan dan perlindungan TKI di
luar negeri. Dalam perkembangannya, UU Nomor 39 Tahun 2004 tidak dapat
mengantisipasi persoalan TKI, dan bahkan mengandung kelemahan-kelemahan.
Misalnya Pasal 35 tentang usia calon TKI, Pasal 51 tentang kelengkapan dokumen,
Pasal 102, 103, 104 tentang ketentuan pidana, dan sebagainya.
Kelemahan-kelemahan tersebuti harus segera dibenahi dengan cara meng-
amandemen pasal-pasal yang dirasa sangat mengganggu dan bahkan dapat menjadi
kontra produktif bagi TKI yang akan bekerja di luar negeri. Pembenahan terhadap
kelemahan sebagaimana tersebut di atas penting agar tidak merugikan semua
stakeholders (para pemangku kepentingan) yang ada baik pemerintah selaku
regulator dan supervisor, para TKI/calon TKI, masyarakat dan pihak-pihak terkait
lainnya. Persoalannya apakah tepat bila kasus yang menimpa TKI itu disebabkan
diplomasi yang tidak efektif ataukah apakah MoU bilateral menjadi kunci jawaban
terhadap permasalahan yang ada. Untuk menjawab masalah tersebut haruslah
diingat bahwa akar persoalan TKI adalah pada sisi hulu. Misalnya kemiskinan,
ketidakterampilan TKI, TKI (baik pria maupun wanita) dapat dijadikan bisnis
yangsangat menguntungkan.
Sementara itu, masalah yang menimpa TKI dengan para majikannya di luar
negeri berada pada sisi hilir. Oleh sebab itu tidak relevan jika mengaitkan persoalan
diplomasi dengan masalah TKI, karena selama persoalan TKI yang berada pada sisi
hulu masih belum diselesaikan, maka instrumen diplomasi tidak dapat berfungsi
sebagaimana yang diharapkan.

4. Keterbatasan Perlindungan oleh Negara.
Dalam hukum internasional berlaku prinsip an equal has no authority over
an equal sebagai perwujudan prinsip kedaulatan negara. Dengan demikian per-
lindungan negara terhadap TKI di luar negeri terbatas pada perlindungan diplo-
matik dan konsuler karena penegakan hukum merupakan wewenang dan ke-
daulatan dari negara penerima.
Selanjutnya, asumsi bahwa pembuatan MoU merupakan jalan keluar
pengatasan persoalan TKI juga tidak tepat. Hal ini disebabkan bahwa perlindungan
TKI di luar negeri tunduk pada hukum tenaga kerja negara penerima, dengan
demikian MoU mempunyai keterbatasan secara yuridis untuk memasuki wilayah
Jurnal Ilmiah Inkoma, Volume 22, Nomor 2, Juni 2011
160
internal negara penerima. Mengacu pada pembahasan tersebut di atas upaya
pengatasan persoalan TKI adalah membenahi root causes yang ada pada sektor
hulu baik substansi hukum, struktur (aparat yang terlibat dalam TKI), maupun
budaya hukum (TKI, keluarga) dan bukan mempersoalkan hal-hal yang ada pada
sektor hilir, agar TKI benar-benar dapat menjadi pahlawan devisa dan tidak ter-
maginalkan. Bukankah tidak mungkin menyalahkan montirnya apabila kerusakan
mobil itu merupakan bawaan dari pabrik.
Melalui Penetapan Presiden RI Nomor 81 Tahun 2006 dibentuk BNP2TKI
untuk mempermudah dan mempercepat penempatan dan perlindungan TKI. Kalau
realita di lapangan masih banyak terjadi pelanggaran, itu artinya law enforcement
lemah. Kebijaksanaan sistem dan prosedur harus dibenahi lagi, baik dari hulu
maupun hilir. Tidak hanya persoalan TKI, tetapi juga penertiban para penyeleng-
gara PJTKI dan PPTKIS (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia dan Penyeleng-
gara Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta). Masalahnya apabila problem
TKI tidak dipersiapkan mekanisme penyelesaian dengan dapat menimbulkan
kerawanan sosial maupun gangguan keamanan. Yang jelas, akan menguras tenaga,
pikiran, waktu dan uang dalam jumlah yang cukup besar.
Di sinilah diperlukan kearifan bagi semua pemangku kepentingan TKI.
Siapa pemangku kepentingan ini? Cukup banyak, dari hulu sampai ke hilir! Sebut
saja, antara lain PPTKIS/PJTKI dan mitrakerjanya di negara asing, Depnakertras,
BNP2TKI, Deplu, Dephub, Depdagri, Depsos, Imigrasi, Kepolisian, Pemeintah
Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota , Perusahaan Asuransi, LSM dan Perwakilan
RI. Saatnya bekerja sama secara sinergis tanpa menyalahkan salah satu pihak.
Mengedepankan lobbi dan negosiasi dengan pihak berwenang di negara asing
untuk memperoleh keringanan atau pembebasan bayar denda sekaligus member-
dayakan pilar-pilar hubungan kerjasama bilateral kedua negara.
Sebagaimana salah satu ciri metode hukum berperspektif gender, maka
didalamnya mengakomodasi suara individu atau kelompok yang tertindas atau
tereksploitasi khususnya suara perempuan yang merupakan jumlah terbesar dalam
permasalahan TKI. Dengan demikian memakai perspektif gender berarti member-
kan ruang pada kelompok yang rentan untuk didengar suaranya dan dijadikan
masukan dalam menyusun suatu kebijakan. Dengan kata lain indikator keberhasilan
suatu kebijakan adalah keberpihakkan kepada kaum yang rentan (buruh, laki-laki
terutama perempuan) sebagai satu indikator utama (Prihatinah, 2004).
Untuk itu diperlukan paradigma baru yang semula melihat buruh migran
sebagai sumber devisa menjadi paradigma hak asasi manusia. Hal ini dikarenakan
output paradigma devisa adalah aturan-aturan yang dibuat lebih bernuansa tata
niaga, tidak melihat buruh sebagai manusia. Ketentuan ini nampak dalam Bilateral
Agreement 1998 antara Indonesia dan Malaysia tentang Ketentuan Penyimpanan
Tri Susilowati, Perlindungan Hukum Tenaga Kerja
161
Paspor Buruh oleh Majikan. Ini artinya sama saja dengan penyanderaan. Paspor
bagi orang asing yang berada di luar negeri adalah sangat diperlukan, seperti
halnya Surat Izin Mengendarai (SIM) bagi pengendara mobil atau motor untuk
keperluan mobilitas. Aturan ini sama saja menghalangi hak-hak buruh migran kita
dan sering menjadi alat eksploitasi oleh majikan bahkan menjadi sasaran
pemerasan para polisi Malaysia.

E. PENUTUP
Berdasarkan uraian dalam pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
keberadaan TKI di luar negeri masih banyak menghadapi masalah. Hal itu meng-
indikasikan tingkat pendidikan TKI masih rendah dan pemahaman tentang budaya
negara tujuan tidak baik. Hal ini menunjukkan bahwa pembekalan perlindungan
TKI masih sangat rendah sehingga bargaining power tidak dimiliki tenaga kerja
yang sedang menghadapi masalah di luar negeri.
Perlindungan hukum terhadap TKI belum memadai dalam upaya mewujud-
kan kesejahteraan sosial dan perlindungan warga negara. Hal ini terjadi karena TKI
yang bekerja di luar negeri memiliki tingkat pendidikan dan keterampilan yang
rendah, sehingga mereka rentan diperlakukan sewenang-wenang, dan secara
normatif belum ada peraturan hukum yang dapat memberikan jaminan kepastian
hukum dalam rangka mewujudkan kesejahteraan sosial dan perlindungan bagi TKI.
Berdasarkan simpulan di atas, dapat diberikan rekomendasi bahwa pemberi-
an jaminan perlindungan hukum terhadap TKI dalam upaya mewujudkan kesejah-
teraan sosial dan perlindungan warga negara adalah dengan meningkatkan kualitas
pendidikan masyarakat, memberikan pembinaan, pengarahan, informasi, dan trans-
paransi biaya kepada masyarakat yang berpotensi untuk menjadi TKI, meringankan
dan mempermudah birokrasi untuk menjadi TKI legal. Secara normatif, Pemerintah
harus merevisi UU Nomor 39 Tahun 2004 sehingga berisi ketentuan yang dapat
mengakomodasi jaminan kesejahteraan sosial dan jaminan perlindungan hukum.
Dengan demikian, akan tercipta sarana kepastian hukum bagi TKI yang bekerja di
luar negeri.

DAFTAR RUJUKAN
Fakih, Mansour. 1996. Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Hugo. 2002. Womens International Labour Migration, dalam Inka Robinson and S
Bessel (eds), Women In Indonesia Gender Equity and Development, Singapore:
ISEAS.
Moleong, Lexi. 1997. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Remaja Rosda Karya.
Jurnal Ilmiah Inkoma, Volume 22, Nomor 2, Juni 2011
162
Nasution, S. 1996. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, Bandung: Tarsito.
Nugroho, Ryant D. 2003. Kebijakan Publik Formulasi, Implementasi, dan Evaluasi,
Jakarta: PT Gramedia.
Prihartinah & Marinova. 2004. Empowering Women Through Income Generating
Project;evidance from Indonesia, Community Technologi. Perth Western
Australia: CD ROM
Sadli, Saparinah. 1996. Trafiking Anak dan Perempuaan. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
Sutedi, Adrian. 2009. Hukum Perburuhan, Jakarta: Sinar Grafika.
Tempo Media. 2010. Menteri Tenaga Kerja: Seleksi TKI akan Diperketat. Diunduh
tanggal 25 Nopember 2010. www.tempointeraktif.com
Ventriyana. Ine. 2010. Perlindungan Hukum Terhadap Tenaga Kerja Indonesia (Sektor
PRT) di Luar Negeri. Diunduh tanggal 25 Nopember 2010.
www.antaranews.com.
Widanti, Agnes. 2005. Hukum Berkeadilan Jender. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Widyaningrum, Nurul. 2009. Menuju Upah Layak Survei Buruh Tekstil dan Garmen di
Indonesia, Laporan Penelitian AKATIGA. November 2009.
Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
Undang-undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga
Kerja Indonesia di Luar Negeri.

-------------