Anda di halaman 1dari 2

.

TERAPI PSIKORELIGIUS

A. Pendahuluan
B. Religius sebagai kebutuhan dasar dan God Spot pada otak manusia
C. Riset epidemologis, korelasi antara kesehatan dan religiusitas
D. Riset religiusitas pada klien jiwa
E. Pendapat para ahli ilmu jiwa
F. Pandangan beberapa ahli ilmu jiwa
G. Pengaruh doa terhadap penyakit kejiwaan
H. Penerapan psikoreligius terapi di Rumah Sakit Jiwa
I. Kaitan antara shalat dengan ilmu keperawatan

Agama sebagai Modalitas Terapi

Agama membuat manusia hidup bermakna, bertujuan dan mempunyai panduan. Dengan
agama, orang akan berpikir positif, mempunyai kendali dan harga diri, serta mempunyai
metode pemecahan masalah spesifik yang memperbaiki daya tahan mental. Individu dengan
komitmen agama yang tinggi terlibat langsung dengan masyarakat luas, sehingga didukung
dan diterima. Skor religius terbukti menjadi indicator hubungan baik dan harmoni antar
keluarga. Kegiatan ibadah dan Tomography-Radio ligan (PET) membuktikan kepadatan
reseptor 5HT1A social bersama serta berulang kali membangkitkan rasa kebersamaan dan
solidaritas. Pencitraan otak dengan Positron Emision yang rendah ditemukan pada orang
dengan komitmen agama tinggi yang tenang. Seorang penganut agama yang taat,cenderung
bermoral terpuji,berakhlak yang baik,taat pada norma social dan mendapat dukungan
masyarakat.
Secara biologis,tutur kata yang halus dan baik seperti ketika berdoa,mampu mengubah
partikel air menjadi kristal heksagonal yang bukan saja indah,tetapi juga sehat. Dia bukti
hubungan potensi internal manusia dengan kondisi eksternal alam semesta. Penelitian
psikoneuro-imunologik menunjukkan korelasi positif langsung antara aktivitas ibadah dengan
kesehatan jiwa. Kadar CD-4(Limfosit T helper) yang tinggi merefleksikan daya tahan
imunologi yang tinggi ditemukan pada orang dengan skor religiusitas yang tinggi. Sholat
tahajud rutin selama delapan minggu mampu meningkatkan kadar limfosit dan
immunoglobulin serta meningkatkan kekebalan tubuh. Puasa Ramadhan pada dua minggu
pertama meningkatkan kadar kortisol firasat stress. Namun, puasa pada dua minggu terakhir
meningkatkan respons kekebalan imunologik. Mendengarkan ayat-ayat Al-Quran dapat
menurunkan intensitas tegangan otot.
Religiusitas berkorelasi negatif dengan skor depresi. Pasien transplantasi jantung yang taat
beribadah jauh lebih mampu bertahan hidup daripada yang tidak beribadah. Komitmen agama
terbukti juga menurunkan kadar C Reaktive Protein (CRP) yang bersama IL-6 mencegah
serangan jantung koroner. Peningkatan pemahaman beragama dan doa mampu menekan
intensitas depresi. Skor anxietas yang lebih rendah ditemukan pada pasien yang mendapat
ceramah agama dan bimbingan doa. Komitmen agama berkorelasi negatif dengan bunuh diri
sehingga terapi religi digunakan untuk menekan perilaku bunuh diri.
Komitmen agama secara klinis berperan sebagai sarana promotif,preventif,kuratif dan
rehabilitatif gejala depresi,ansietas,penyalahgunaan obat,serta perilaku antisosial.
Dominasi tokoh-tokoh kedokteran jiwa yang atheis dan terapi religi dilakukan oleh orang
yang tidak paham agama dalam terapi psikiatri terpuruk pada jalan setapak yang diperolok-
olokan. Sudah saatnya kita menaruh minat dan belajar lebih banyak lagi tentang terapi
religi,yang secara empiris memperlihatkan hasil nyata dan menakjubkan.
Sumber: Pidato Pengukuhan Mohammad Fanani, Guru Besar FK UNS dalam Majalah
MEDIKA No. 11 Tahun XXXIV,November 2008.


Agama membuat manusia hidup bermakna, bertujuan dan mempunyai panduan. Dengan
agama, orang akan berpikir positif, mempunyai kendali dan harga diri, serta mempunyai
metode pemecahan masalah spesifik yang memperbaiki daya tahan mental. Individu dengan
komitmen agama yang tinggi terlibat langsung dengan masyarakat luas, sehingga didukung
dan diterima. Skor religius terbukti menjadi indicator hubungan baik dan harmoni antar
keluarga. Kegiatan ibadah dan Tomography-Radio ligan (PET) membuktikan kepadatan
reseptor 5HT1A social bersama serta berulang kali membangkitkan rasa kebersamaan dan
solidaritas. Pencitraan otak dengan Positron Emision yang rendah ditemukan pada orang
dengan komitmen agama tinggi yang tenang. Seorang penganut agama yang taat,cenderung
bermoral terpuji,berakhlak yang baik,taat pada norma social dan mendapat dukungan
masyarakat.
Secara biologis,tutur kata yang halus dan baik seperti ketika berdoa,mampu mengubah
partikel air menjadi kristal heksagonal yang bukan saja indah,tetapi juga sehat. Dia bukti
hubungan potensi internal manusia dengan kondisi eksternal alam semesta. Penelitian
psikoneuro-imunologik menunjukkan korelasi positif langsung antara aktivitas ibadah dengan
kesehatan jiwa. Kadar CD-4(Limfosit T helper) yang tinggi merefleksikan daya tahan
imunologi yang tinggi ditemukan pada orang dengan skor religiusitas yang tinggi. Sholat
tahajud rutin selama delapan minggu mampu meningkatkan kadar limfosit dan
immunoglobulin serta meningkatkan kekebalan tubuh. Puasa Ramadhan pada dua minggu
pertama meningkatkan kadar kortisol firasat stress. Namun, puasa pada dua minggu terakhir
meningkatkan respons kekebalan imunologik. Mendengarkan ayat-ayat Al-Quran dapat
menurunkan intensitas tegangan otot.
Religiusitas berkorelasi negatif dengan skor depresi. Pasien transplantasi jantung yang taat
beribadah jauh lebih mampu bertahan hidup daripada yang tidak beribadah. Komitmen agama
terbukti juga menurunkan kadar C Reaktive Protein (CRP) yang bersama IL-6 mencegah
serangan jantung koroner. Peningkatan pemahaman beragama dan doa mampu menekan
intensitas depresi. Skor anxietas yang lebih rendah ditemukan pada pasien yang mendapat
ceramah agama dan bimbingan doa. Komitmen agama berkorelasi negatif dengan bunuh diri
sehingga terapi religi digunakan untuk menekan perilaku bunuh diri.
Komitmen agama secara klinis berperan sebagai sarana promotif,preventif,kuratif dan
rehabilitatif gejala depresi,ansietas,penyalahgunaan obat,serta perilaku antisosial.
Dominasi tokoh-tokoh kedokteran jiwa yang atheis dan terapi religi dilakukan oleh orang
yang tidak paham agama dalam terapi psikiatri terpuruk pada jalan setapak yang diperolok-
olokan. Sudah saatnya kita menaruh minat dan belajar lebih banyak lagi tentang terapi
religi,yang secara empiris memperlihatkan hasil nyata dan menakjubkan.
Sumber: Pidato Pengukuhan Mohammad Fanani, Guru Besar FK UNS dalam Majalah
MEDIKA No. 11 Tahun XXXIV,November 2008.