Anda di halaman 1dari 74

ANALISA PENGENDALIAN RESIKO PEKERJAAN

PEMBERSIHAN HEAT EXCHANGER DAN KONDENSOR


DENGAN MENGGUNAKAN METODE RI SK ASSESSMENT
(Studi Kasus di PT. Pertamina RU V Balikpapan)


LAPORAN KERJA PRAKTEK


Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Strata-1
Pada Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri





Nama : Satria Nugraha
No. Mahasiswa : 10 522 131





PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2014
ii
Disclaimer

Sesuai UU No. 14 tahun 2008, seluruh data dan informasi pada laporan PKL ini adalah
milik PT Pertamina (Persero). Dilarang menyalin, memperbanyak, dan meperjual
belikan isi laporan tanpa seijin dari PT Pertamina (Persero). Pelanggaran ketentuan ini
akan ditindak sesuai hukum yang berlaku.

iii
HALAMAN PENGESAHAN PERUSAHAAN
Laporan Kerja Praktek yang dilaksanakan di PT. Pertamina (Persero) RU V
Balikpapan periode Februari 2014 sampai dengan April 2014 telah kami setujui.

Nama : Satria Nugraha
NIM :10522131




Balikpapan, Maret 2014
Supply Chain Section Head, Pembimbing Kerja Praktek,




Muhammad Alaidin Aries Arthanto
Nopek. 720319 Nopek. 747474

iv
HALAMAN PENGESAHAN
ANALISA PENGENDALIAN RESIKO PEKERJAAN PEMBERSIHAN
HEAT EXCHANGER DAN KONDENSOR DENGAN MENGGUNAKAN
METODE RI SK ASSESSMENT
(Studi Kasus di PT. Pertamina RU V Balikpapan)

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Disusun Oleh:
Satria Nugraha (10522131)


Menyetujui,
Dosen Pembimbing Kerja Praktek



Ir. Hartomo, M.Sc., Ph.D.


Mengetahui,
Ketua Program Studi Teknik Industri
Fakultas Teknologi Industri
Universitas Islam Indonesia



Drs. H. Mohammad Ibnu Mastur., MSIE
v



KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat
melaksanakan Kerja Praktek selama kurang lebih 2 bulan di PT. Pertamina RU V
Balikpapan dengan baik dan menyelesaikan penyusunan Laporan Kerja Praktek ini
dengan baik dan tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penyusunan Laporan Kerja Praktek sebagai syarat akademis
yang wajib dipenuhi dalam kurikulum di Program Studi Teknik Industri Universitas
Islam Indonesia. Selain itu Kerja Praktek dirasa dapat menjadi sarana bagi mahasiswa
untuk mengenal dunia kerja sehingga diharapkan dapat mengembangkan etos kerja
profesional sebagai calon sarjana Teknik Industri.
Selama pembuatan sampai terselesaikannya laporan ini tidak lepas dari bantuan,
bimbingan, dan motivasi dari berbagai pihak. Sehingga pada kesempatan ini penulis
ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Kedua orang tua dan kakak saya yang telah mendukung, memberikan perhatian,
dan selalu memberikan doa restu.
2. Bapak Muhammad Alaidin dan Bapak Aries Arthanto, selaku pembimbing dari
bagian Supply Chain yang telah banyak membantu dalam memberikan nasehat,
masukan, dan motivasi selama Kerja Praktek.
3. Bapak Rusdi Rachmani, Bapak Subagio, Mas Dodi, Bu Endang, dan rekan-rekan
lainnya selaku bagian Refinery Planning yang telah banyak membantu dalam
memberi bimbingan serta pengarahan dalam menjalankan program Kerja Praktek
ini
4. Bapak Johnni dan para staff lainnya selaku bagian Hydroskimming Complex yang
sangat membantu dalam proses pengambilan data Kerja Praktek ini.
5. Bapak Joyo dari bagian Maintenance Area 1 yang telah banyak memberikan info
dan penjelasan tentang proses pembersihan unit Heat Exchanger dan Kondensor
pada Area Utilities dan Power Plant
6. Bapak Bayu Prabowo dari Maintenance Area 3 yang membantu dalam proses
pengambilandata selama kegiatan Kerja Praktek di PT. Pertamina (Persero) RU V
Balikpapan dan juga banyak memberi inspirasi dan masukan serta berbagi
pengalaman.
vi


7. Bapak Hartomo Ir. M.Sc., Ph.D , selaku dosen pembimbing Kerja Praktek yang
telah memberikan bimbingan selama pelaksanaan dan penyusunan laporan ini.
8. Seluruh staf bagian Hydroskimming Complex, Hydrocracker Complex, Utilities
dan Power Plant, Diswax, Oil Movement, Process Engineering, Facility
Engineering, Rotating Engineering, Stationary Engineering, Maintenance Area 1
dan 3, Health, Safety, Security and Evironment dan bagian-bagian lainnya atas
penjelasan dan bimbingan selama masa orientasi di area Kilang di PT. Pertamina
(Persero) RU V Balikpapan.
9. Ibu Puput Dewanthy dan Ibu Ayu dari Public Relation PT. Pertamina (Persero) RU
V Balikpapan yang telah memberikan pengarahan dan membantu proses perijinan
untuk kegiatan Kerja Praktek (KP).
10. Bapak Said, Bapak Sugiyanto, Bapak Mustofa, dan rekan-rekan selaku bagian
Security Administration PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan yang telah
membantu dalam proses pembuatan Badge PT. Pertamina (Persero) RU V
Balikpapan.
11. Kedua orang tua dan Saudara Rachmad Sujono yang telah menyediakan tempat
untuk tinggal dan transportasi selama kegiatan Kerja Praktek di PT. Pertamina
(Persero) RU V Balikpapan.
12. Rachmad Sujono, Verdianto Prada, Ary Bhinuko, Orryza, Annisa, Nevi, dan
kawan-kawan lainnya sebagai rekan selama Kerja Praktek yang telah bekerja sama
dengan baik dari awal pelaksanaan Kerja Praktek hingga terselesaikannya laporan
ini.
13. Teman-teman Teknik Industri 2010 UII yang telah memberikan dukungan dan
semangat selama Kerja Praktek.
14. Semua officer di PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan yang telah membantu
selama pelaksanaan Kerja Praktek.
15. Alat Pelindung Diri yang selalu melindungi didalam area kilang.
16. Pihak-pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah
membantu baik selama Kerja Praktek maupun dalam pembuatan laporan ini.

vii


Penulis menyadari bahwa penulisan Laporan Kerja Praktek ini masih jauh dari
sempurna dan dengan penuh kerendahan hati penulis mohon maaf serta mengharapkan
adanya kritik maupun saran yang membangun dari pembaca. Akhir kata penulis
mengharapkan semoga laporan ini dapat bermanfaat bukan saja bagi penulis tetapi juga
bermanfaat bagi pihak perusahaan dan memperluas pengetahuan dan wawasan
pembaca, khususnya rekanrekan mahasiswa. Selamat membaca, terima kasih
Balikpapan, Maret 2014



Penyusun
viii


DAFTAR ISI
Halaman Judul ........................................................................................................... i
Disclaimer .................................................................................................................. ii
Halaman Pengesahan ................................................................................................. iii
Halaman Pengesahan ................................................................................................ iv
Kata Pengantar ........................................................................................................... v
Daftar Isi .................................................................................................................... viii
Daftar Tabel ............................................................................................................... x
Daftar Gambar ........................................................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2 Tujuan Kerja Praktek .............................................................................. 3
1.3 Batasan Kerja Praktek ............................................................................ 4
1.4 Waktu dan Lokasi Kerja Praktek ........................................................... 3
1.5 Metode Penulisan Laporan ..................................................................... 4
1.6 Sistematika Penulisan ............................................................................ 4
1.7 Manfaat Kerja Praktek ............................................................................ 5
BAB II PROFIL PERUSAHAAN
2.1 Sejarah PT. Pertamina (Persero) dan RU V Balikpapan ........................ 6
2.2 Logo Perusahaan .................................................................................. 13
2.3 Visi dan Misi PT. Pertamina (Persero) dan RU V Balikpapan ............ 14
2.4 Tata Nilai .............................................................................................. 15
2.5 Lokasi PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan .............................. 15
2.6 Produksi PT. Pertamina (Persero) ....................................................... 19
2.7 Status Kepemilikan .............................................................................. 20
2.8 Distribusi dan Pemasaran Produk ......................................................... 20
2.9 Unit Kerja ............................................................................................. 23
BAB III DESKRIPSI SISTEM INDUSTRI
3.1 Sistem dan Manajemen Produksi ......................................................... 25
3.2 Human Capital Management ................................................................ 32
ix


3.3 Pemasaran dan Distribusi ..................................................................... 39
3.4 Sistem Informasi Manajemen ............................................................... 40
BAB IV TUGAS KHUSUS
4.1 Latar Belakang Masalah ....................................................................... 43
4.2 Rumusan Maasalah .............................................................................. 45
4.3 Tujuan Penelitian .................................................................................. 45
4.4 Batasan Masalah ................................................................................... 45
4.5 Landasan Teori ..................................................................................... 46
4.6 Metode Penelitian ................................................................................. 53
4.7 Hasil dan Pembahasan .......................................................................... 53
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
4.8 Kesimpulan ........................................................................................... 61
4.9 Saran ..................................................................................................... 62
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

x


DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Perkembangan Kilang Minyak PT. Pertamia (Persero) RU V ................. 11
Tabel 2.2 Kapasitas Produksi PT. Pertamina (Persero) ............................................ 19
Tabel 2.3 Kapasitas Terpasang Kilang I ................................................................... 23
Tabel 2.4 Kapasitas Terpasang Kilang II .................................................................. 24
Tabel 2.5 Fasilitas Pendukung Lainnya .................................................................... 24
Tabel 3.1 Perbandingan antara Teori A dan Teori Z ................................................ 38
Tabel 4.1 Nilai tingkat kemungkinan ........................................................................ 50
Tabel 4.2 Nilai tingkat keparahan ............................................................................. 51
Tabel 4.3 Skala tingkatan resiko ............................................................................... 51
Tabel 4.4 Identifikasi kegiatan dan resiko pekerjaan ................................................ 54
Tabel 4.5 Penilaian resiko pekerjaan ........................................................................ 56
Tabel 4.6 Pengkategorian resiko pekerjaan .............................................................. 57
Tabel 4.7 Penanganan Resiko ................................................................................... 59

xi


DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Monumen Sumur Pertama Mathilda ................................................ 7
Gambar 2.2 Lokasi Refinery Unit Pertamina di Seluruh Indonesia ......................... 10
Gambar 2.3 Perkembangan Logo PT. Pertamina (Persero) ..................................... 13
Gambar 2.4 Logo PT. Pertamina (Persero) .............................................................. 13
Gambar 2.5 Lokasi PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan .............................. 16
Gambar 2.6 Lokasi PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan via Satelit ............. 17
Gambar 2.7 Peta Lokasi PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan ...................... 18
Gambar 2.8 Alur Pendistribusian PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan ........ 22
Gambar 3.1 Sistem Produksi existing refinery PT Pertamina RU V Balikpapan ... 26
Gambar 3.2 Visualisasi pola-pola data .................................................................... 30
Gambar 3.3 Struktur Organisasi PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan ......... 34
Gambar 3.4 Teori Kebutuhan Maslow ..................................................................... 36
Gambar 3.5 Tampilan Halaman Utama Website PT. Pertamina (Persero) RU V
Balikpapan ............................................................................................ 41
Gambar. 3.6 Tampilan Halaman Website Online Owner Estimasi (O2E) ............... 42














BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Disadari atau tidak, ternyata pemahaman keilmuan yang didasari hanya pada tataran
teoritis kerap tidak dapat memberikan hasil yang optimal. Banyak hal, ketika dalam
operasionalnya tidak dapat diselesaikan hanya dengan dasar-dasar teori belaka. Dilain
pihak sampai saat ini perkembangan teknologi dan informasi yang terjadi dalam dunia
industri, tidak selalu dapat diikuti oleh pihak universitas, sebagai sebuah institusi
pendidikan yang memiliki kewajiban mempersiapkan tenaga kerja. (Hermawan
Kertajaya, 1996).
Dalam mengikuti perkembangan khususnya di bidang industri, pihak Jurusan
Teknik Fakultas Tekonologi Industri Universitas Islam Indonesia sudah semestinya
menerapkan sistem Kerja Prakterk (KP) bagi para mahasiswanya. Tujuan dari Kerja
Praktek ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan skill dari mahasiswa tersebut
agar dapat memenuhi tuntuan di dunia kerja nantinya. Selain itu hasil yang didapatkan
dari Kerja Praktek ini adalah sebagai penjembatan antara pihak Jurusan Teknik Fakultas
Tekonologi Industri Universitas Islam Indonesia dengan industry-industri yang ada agar
saling membagi informasi tentang perkembangan dunia industry dijaman sekarang ini.
Pada zaman sekarang ini kegiatan industri di berbagai negara sangatlah
berkembang maju. Untuk dapat mengikuti bahkan menyaingi pesaing-pesaing dari
perusahaan lain tentunya perusahaan diwajibkan untuk dapat menghasilkan produk
dengan mutu yang baik. Akan tetapi hal tersebut tidak melupakan aspek-aspek lain yang
mendukung dalam kegiatan yang ada didalam sebuah industri. Keselamatan kerja
pekerja dan kesehatan para pekerja harus diperhatikan oleh perusahaan supaya dengan
SDM yang baik akan menghasilkan produk yang baik pula.
Industri saat ini, terutama industri-industri yang sudah sangat besar sudah pasti
menerapkan kebijakan yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan kerja bagi
2


para pekerjanya. Akan tetapi kebijakan-kebijakan yang telah dibuat belum tentu
memberikan jaminan terhadap perlindungan terhadap para pekerjanya. Kecelakaan kerja
masih sering terjadi di dalam sebuah industri besar. Hal ini disebabkan oleh kondisi
lingkungan para pekerja hingga pada pekerjanya sendiri. Pengkajian terhadap kegiatan-
kegiatan yang ada didalam industri harus dilakukan setiap harinya. Untuk itu
identifikasi-identifikasi yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan kerja harus
dilakukan secara rutin dan penanggulangan tentang resiko pekerjaan harus dilakukan
evaluasi setiap harinya.
Pada perusahaan PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan memiliki sebuah
bagian yang membuat kebijakan-kebijakan berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan
kerja para pekerjanya. HSE (Health Safety Environment) dimana bagian HSE itu sendiri
terdari dari beberapa bagian lagi, yaitu bagian safety section head, Fire & section head,
Environment section head, Occupational health section head. Dan setiap bagian pada
HSE (Health Safety Environment) juga memiliki tugas yang berbeda-beda sesuai
dengan bidangnya masing-masing.
Salah satu bagian pekerjaan yang memiliki resiko pekerjaan yang tinggi adalah
bagian dari Maintenance Area. Maintenance Area ini dibagi menjadi empat bagian yaitu
Maintenance Area 1 (MA1), Maintenance Area 2 (MA2), Maintenance Area 3 (MA3),
dan Maintenance Area 4 (MA4). Setiap bagian memiliki tanggun jawab untuk
melakukan maintenance area kerja masing-masing. Salah satu area yang paling utama
dan paling penting disini adalah area MA1 yaitu pada bagian utilities dan power plant
satu dan power plant dua.
Dari beberapa bidang yang ada pada bagian HSE dapat menunjang peningkatan
kinerja sebuah perusahaan terutama di PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan
karena setiap pekerjaan yang dilakukan di bagian-bagian kilang PT. Pertamina (Persero)
RU V Balikpapan sendiri telah diatur sesuai dengan tingkat kecelakaan yang
memungkingkan terjadi. Sehingga HSE (Health Safety Environment) sangat perlu
karena untuk meminimalisir tingkat kecelakaan di PT. Pertamina (Persero) RU V
Balikpapan. Untuk mengantisipasi agar suatu pekerjaan yang beresiko dapat
digolongkan tingkat resikonya serta meminimalisir terjadi nya kecelakaan kerja maupun
gangguan kesehatan pada saat bekerja, dibutuhkan analisa tentang kesehatan dan
3


keselamatan kerja terutama pada pengendalian resiko kerja yang akan terjadi di PT.
Pertamina RU V Balikpapan.

1.2 Tujuan Kerja Praktek
Tujuan kerja praktek di lingkungan PT. Pertamina RU V Balikpapan ini adalah
1. Mengetahui manajemen kesehatan dan keselamatan kerja dan manajemen resiko
yang ada di PT. Pertamina RU V Balikpapan.
2. Dapat membandingkan serta mengaplikasikan teori yang sudah didapat di bangku
kuliah ke kehidupan nyata yang ada dilapangan.
3. Dapat memberikan rekomendasi terhadap pelaksanaan manajemen kesehatan dan
keselamatan serta pengendalian resiko kerja di PT. Pertamina RU V Balikpapan.
1.3 Batasan Kerja Praktek
Untuk pembahasan tema kerja praktek yang diambil tentang manajemen kesehatan dan
keselamatan kerja dan manajemen resiko adalah kegiatan-kegiatan operasional yang
berada di PT. Pertamina RU V Balikpapan. Penerapan manajemen kesehatan dan
keselamatan kerja dan manajemen resiko yang sudah ada dibandingkan dengan
pengamatan langsung dan literatur yang ada kemudian dianalisa untuk menemukan
kekurangan-kekurangan yang ada.

1.4 Waktu dan Lokasi Kerja Praktek
Kerja praktek ini dilaksanakan selama kurang lebih 2 bulan :
Tanggal : 3 Februari 2014 3 April 2014
Tempat : PT. Pertamina (Persero) RU V , Jalan Yos Sudarso No. 1 Balikpapan

1.5 Metode Penulisan Laporan
Penyusunan laporan kerja praktek ini dilakukan dengan menggunakan metode
penelitian sebagai berikut:

4


1. Pengamatan Sistem
Dilakukan dengan mengamati sistem dan proses kerja secara langsung dari divisi
Maintenance Area 1 dan Health Safety Environment PT. Pertamina (Persero) RU V
Balikpapan.
2. Perumusan Masalah
Melakukan identifikasi masalah berdasarkan hasil pengamatan langsung sesuai
dengan topik permasalahan.
3. Pengumpulan Data
Mengumpulkan data yang diperlukan melalui sumber-sumber sebagai berikut:
- Studi Literatur
Penulis mempelajari berbagai sumber tertulis yang berhubungan dengan topik.
- Pengambilan Data
Meminta data historis dari pihak terkait.
- Wawancara
Melakukan wawancara dengan pihak terkait dengan topik pembahasan.
4. Analisis Data
Menganalisis data dengan mengaplikasikan teori-teori yang berkaitan dengan
permasalahan yang dibahas sehingga dapat tercapai suatu kesimpulan.

1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan laporan kerja praktek ini tersusun sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Memuat latar belakang kerja praktek, tujuan kerja praktek, batasan kerja praktek,
manfaat dari kerja praktek yang dilakukan, waktu dan tempat pelaksanaan, metode
penulisan laporan, dan sistematika penulisan.

BAB II PROFIL PERUSAHAAN
Memuat kondisi umum mengenai PT. Pertamina (Persero) secara keseluruhan dan PT.
Pertamina (Persero) RU V Balikpapan pada khususnya yaitu visi dan misi, status
kepemilikan, sejarah singkat, lokasi, hasil produksi, pemasaran produk serta unit kerja.

5


BAB III DESKRIPSI SISTEM INDUSTRI
Memberikan penjelasan mengenai proses produksi berbagai macam produk yang ada di
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan dari bahan baku, pengadaan bahan baku,
proses produksi sampai dihasilkan produk olahan yang siap untuk dipasarkan kepada
masyarakat.
BAB IV TUGAS KHUSUS
Memuat tugas khusus yang diberikan perusahaan tempat kerja praktek yaitu PT.
Pertamina (Persero) RU V Balikpapan atau dosen pembimbing yang membahas
permasalahan tentang sistem industri secara mendalam di perusahaan. Tema tugas
khusus diarahkan ke bidang sistem produksi atau manufaktur, ergonomi, atau
manajemen industri khusunya pengendalian resiko pada pekerjaan pembersihan Heat
Exchanger pada area Utilities dan Power Plant.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Memuat rangkuman pelaksanaan kerja praktek yang relevan dengan tujuan kerja
praktek dan tugas khusus yang diberikan.
2. Saran
Memuat beberapa saran yang perlu diperhatikan mengenai pelaksanaan kerja praktek
dan perbaikan yang dapat dilakukan perusahaan tempat kerja praktek dalam hal ini
yaitu PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan.

1.7 Manfaat Kerja Praktek
Manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan kerja praktek di PT. Pertamina RU V
Balikpapan adalah :
1. Mendapatkan pengalaman bekerja langsung melalui kegiatan-kegiatan yang telah
dilakukan di PT. Pertamina RU V Balikpapan.
2. Mengetahui persaingan dunia kerja saat ini.
3. Mengetahui implementasi metode risk assessment untuk resiko pekerjaan di PT.
Pertamina RU V Balikpapan pada pekerjaan pembersihan Heat Exchanger pada area
Utilities dan Power Plant.sebagai penerapan ilmu yang didapatkan dibangku kuliah.
4. Menambah wawasan tentang industri.





BAB II
PROFIL PERUSAHAAN
2.1 Sejarah PT. Pertamina (Persero) dan PT. Pertamina RU V Balikpapan
Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki beraneka ragam sumber daya alam,
seperti minyak bumi dan gas alam. Minyak bumi dan gas alam telah mulai dikelola
sejak masa penjajah Belanda. Minyak bumi sendiri banyak digunakan untuk
menghasilkan energi (bahan bakar) dan pembangkit tenaga listrik. Bagi Indonesia,
minyak bumi merupakan sumber daya alam yang sangat penting. Hal ini disebabkan
karena disamping untuk dikonsumsi dalam negeri, juga diekspor sehingga
meningkatkan devisa negara. Kendati telah dieksploitasi selama hampir 2 abad, ternyata
masih banyak yang belum diberdayakan. Tercatat baru sekitar 30 cekungan yang telah
dieksploitasi dan umumnya berada di wilayah barat Indonesia. Diperkirakan masih ada
30 cekungan lagi di wilayah timur Indonesia yang masih menunggu sentuhan eksplorasi
dan eksploitasi di masa depan.
Pada zaman penjajahan Belanda, sejak tahun 1871, orang-orang Belanda telah
mulai berusaha mendapatkan minyak bumi di Indonesia dengan jalan melakukan
pemboran di daerah-daerah sumber minyak untuk diolah menjadi minyak lampu. Pada
tanggal 15 Juni 1885, seorang pemimpin perkebunan Belanda bernama Aeilco Janszoon
Zylker berhasil melakukan pemboran yang pertama di Telaga Tunggal dekat Pangkalan
Berandan di Sumatera Utara pada kedalaman kira-kira 400 kaki. Sejak penemuan ini,
pencarian minyak bumi terus berlanjut, dimana pada saat yang hampir bersamaan telah
ditemukan pula sumber minyak bumi di Indonesia, seperti di desa Ledok Jawa Tengah,
di desa Minyak Hitam di daerah Muara Enim Palembang dan Riam Kiwa dekat
Sangasanga di Kalimantan Timur.
7



Gambar 2.1 Monumen Sumur Pertama Mathilda
Di Indonesia penemuan minyak bumi mengakibatkan tumbuhnya banyak
perusahaan minyak asing, dimana pada akhir abad XIX tidak kurang dari 18 buah
perusahaan asing secara aktif mengusahakan sumber-sumber minyak di Indonesia.
Karena usaha eksplorasi dan kekuatan finansialnya, maka pada tahun 1902 Royal Dutch
Company, yaitu perusahaan yang mengambil ahli konsesi Zylker, dapat menyisihkan
perusahaan-perusahaan yang ada pada waktu itu. Pada tahun 1907, Royal Dutch
Company bergabung dengan Shell Transport and Trading Company, dimana perusahaan
yang beroperasi dari kelompok Royal Dutch dan Shell di Indonesia adalah Bataafshe
Petroleum Maatschappij (B.P.M.), dan ini merupakan satu-satunya perusahaan yang
beroperasi di Indonesia sampai tahun 1911. Pada tahun 1912 Standard Vacum Oil
Company (STANVAC), suatu anak perusahaan Standard Oil (New Jersey) dan Vacum
Oil Company mulai beroperasi di Indonesia. Perusahaan tersebut mengerjakan
lapangan-lapangan minyak di Talang Akar dan Pendopo Sumatera Selatan.
Untuk menghadapi saingan dari Standard Oil ini, maka pada tahun 1930 oleh
pemerintah kolonial Belanda dan B.P.M, dibentuklah suatu campuran yaitu N.V.
Nederlandsche Indische Aardolie Maatschappij (N.I.A.M.) pada tahun 1935, CALTEX
yaitu sebuah anak perusahaan Standard Oil of California and Texas Company mulai
beroperasi di Indonesia, dimana lapangan produksinya terletak di Minas dan Duri di
daerah Daratan Riau. Pada tahun 1935, dibentuk perusahaan minyak bernama
Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij (N.N.G.P.M) untuk
mengeksploitasi Irian Jaya (sekarang disebut Papua) bagian barat, dengan sahamnya
dengan dari Royal Dutch-Shell, Stanvac, dan Caltex. Kilang minyak yang ada sebelum
8


perang dunia II ada 6 buah yaitu di Plaju (B.P.B), Sungai Gerong (STANVAC),
Balikpapan (B.P.M.), Cepu (B.P.M), Wonokromo (B.P.M.) dan Pangkalan Brandan
(B.P.M.).
Dengan berakhirnya Perang Dunia II, karena serbuan bala tentara Jepang ke
Indonesia dan politik bumi hangus pemerintah Hindia Belanda, sebagian besar instalasi-
instalasi kilang minyak hancur, terutama kilang minyak Pangkalan Brandan. Dalam
perjuangan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, satu-satunya lapangan
minyak yang dapat dikuasai oleh pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia adalah
lapangan minyak sekitar Pangkalan Brandan dan daerah Aceh, bekas milik Shell-B.P.M,
yang selanjutnya merupakan perusahaan minyak Indonesia yang pertama dan diberi
nama Perusahaan Tambang Minyak Negara Republik Indonesia (P.T.M.N.R.I.). Pada
tahun 1945 B.P.M. berhasil meneruskan produksi minyak mentahnya di Tarakan, dan
pada tahun 1946 Kilang Plaju dan Sungai Gerong dikembalikan kepada B.P.M. dan
STANVAC untuk rekonstruksi. Di Jawa Tengah B.P.M. tidak berhasil memperoleh
kembali lapangan minyak Kawengan, Ledok, dan kilang minyak Cepu karena telah
dikuasai oleh koperasi buruh minyak yang kemudian menjadi perusahaan negara
PERMIGAN.
Karena sesudah selesainya perjuangan fisik di tahun 1950 P.T.M.N.R.I. juga belum
menunjukkan usaha-usaha pembangunannya, maka bulan April 1945 P.T.M.N.R.I.
diubah menjadi Tambang Minyak Sumatera Utara (T.M.S.U.). Tindakan ini ternyata
juga belum ada manfaatnya, sehingga pada tangggal 10 Desember 1957 T.M.S.U.
diubah menjadi P.T. Perusahaan Pertambangan Minyak Nasional (P.T. PERMINA).
Setelah kira-kira 3,5 tahun, maka pada tanggal 1 Juli 1961 statusnya dirubah menjadi
Perusahaan Negara Pertambangan Minyak Nasional (P.N. PERMINA).
Dengan penyerahan kedaulatan oleh pemerintah kolonial Belanda kepada Republik
Indonesia, maka pada tanggal 1 Januari 1959 status N.V. N.I.A.M. dirubah menjadi P.T.
Pertambangan Minyak Indonesia (P.T. PERMINDO). Untuk itu, pemerintah Indonesia
mengeluarkan UU No.19/1960 tentang perusahaan negara dan UU No. 44/1960 Tentang
Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (pertambangan minyak dan gas bumi yang hanya
boleh dilakukan oleh Negara). Atas dasar kedua UU tersebut, maka pada tahun 1961
dibentuk Perusahaan Negara sektor Minyak dan Gas Bumi, yaitu :
1. PN PERTAMIN (Perusahaan Pertambangan Minyak)
9


2. PN PERMINA (Perusahaan Minyak Nasional)
Kedua perusahaan tersebut bertindak selaku kuasa pertambangan yang meliputi
bidang gas dan minyak dengan melakukan kegiatan :
1. Eksplorasi.
2. Eksploitasi.
3. Pemurnian dan Pengolahan.
4. Pengangkutan.
Pada tahun 1968 kedua perusahaan tersebut digabung menjadi PN PERTAMINA
(Perusahaan Pertambangan Milik Nasional). Demi kelanjutan dan perkembangannya,
pada tanggal 15 September 1971 pemerintah mengeluarkan UU No.8/1971 tentang
Pertamina sebagai Pengelolaan Tunggal di Bidang Minyak Dan Gas Bumi di Indonesia,
sehingga pada tanggal 1 Januari 1972 PN PERTAMINA diubah namanya menjadi
PERTAMINA.
Pertamina terus tumbuh dan berkembang menjadi salah satu BUMN yang handal.
Berdasarkan UU No.22 Tahun 2001 dan No.31 Tahun 2003, status Pertamina
mengalami perubahan dari Lembaga Pemerintahan Non-Departemen (LPND) menjadi
Persero. Dengan adanya perubahan status ini, PT. PERTAMINA (PERSERO) (Persero)
berada di bawah stakeholder-nya, dalam hal ini adalah pemerintah yang berperan
sebagai profit oriented.
PT. Pertamina (Persero) didirikan dengan akta Notaris Lenny Janis Ishak, SH No.
20 tanggal 17 September 2003, dan disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM melalui
Surat Keputusan No. C-24025 HT.01.01 pada tanggal 9 Oktober 2003. Pendirian
Perusahaan ini dilakukan menurut ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Undang-
Undang No. 1 tahun 1995 tentang Perseroan terbatas, Peraturan Pemerintah No. 12
tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan (Persero), dan Peraturan Pemerintah No. 45
tahun 2001 tentang Perubahan atas Peraturan No. 12 tahun 1998 dan peralihanya
berdasarkan PP No.31 Tahun 2003 Tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan
Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (PERTAMINA) Menjadi Perusahaan
Perseroan (PERSERO).
Sesuai akta pendirianya, maksud dari perusahaan perseroan adalah untuk
menyelenggarakan usaha di bidang minyak dan gas bumi, baik di dalam maupun di luar
10


negeri serta kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang kegiatan usaha di bidang
minyak dan gas bumi tersebut.
Adapun tujuan dari perusahaan perseroan adalah untuk:
1. Mengusahakan keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perseroan secara efektif
dan efisien.
2. Memberikan kontribusi dalam meningkatkan kegiatan ekonomi untuk kemakmuran
dan kesejahteraan rakyat.
Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, perseroan melaksanakan kegiatan usaha
sebagai berikut:
1. Menyelenggarakan usaha di bidang minyak dan gas bumi beserta hasil olahan dan
turunannya.
2. Menyelenggarakan kegiatan usaha di bidang panas bumi yang ada pada saat
pendirianya, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang telah
mencapai tahap akhir negosiasi dan berhasil menjadi milik perseroan.
3. Melaksanakan pengusahaan dan pemasaran Liquified Natural Gas (LNG) dan produk
lain yang dihasilkan dari kilang LNG.
4. Menyelenggarakan kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang kegiatan usaha
sebagaimana dimaksud dalam nomor 1,2, dan 3.
Sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang MIGAS baru, Pertamina tidak lagi
menjadi satu-satunya perusahaan yang memonopoli industry MIGAS dimana kegiatan
usaha minyak dan gas bumi diserahkan kepada mekanisme pasar.


Gambar 2.2 Lokasi Refinery Unit Pertamina di Seluruh Indonesia


I
II
II
I
V
V
V
11


Pendirian kilang minyak Pertamina RU V Balikpapan dilatar belakangi
ditemukannya sumber minyak mentah (crude oil) di daerah Sanga-sanga pada tahun
1897. Menyusul kemudian ditemukan sumber-sumber minyak lain di Tarakan (1899),
Samboja (1911) dan Bunyu (1922). Kemudian pada tahun 1922 mulai dibangun kilang
di Balikpapan yang kemudian disebut sebagai Kilang Balikpapan I. Setelah mengalami
kerusakan berat dalam masa perang Dunia II (1940-1945) perbaikan dan rehabilitasi
mulai dilakukan tahun 1948, kemudian secara berturut-turut dibangun Crude Distillation
Unit V (CDU V), Heavy Vacuum Unit II (HVU II), Wax Plant, serta unit-unit yang
termasuk dalam proyek pembangunan Kilang Balikpapan II yaitu Hydroskimming
Complex (HSC) dan Hydrocracking Complex (HCC).
Secara kronologis, perkembangan Kilang Minyak Pertamina RU V Balikpapan
adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1 Perkembangan Kilang Minyak PT. Pertamia (Persero) RU V
Masa Kejadian
1897-1922 Ditemukan beberapa sumber minyak mentah di beberapa tempat
di Kalimantan Timur
1922 Unit Penyulingan Minyak Kasar (PMK) I didirikan oleh
perusahaan minyak BPM
1946 Rehabilitasi PMK I, karena mengalami kerusakan akibat Perang
Dunia II
1949 HVU I selesai didirikan dengan kapasitas 12 MBSD
1950 Wax plant dan PMK I selesai didirikan, dengan kapasitas
produksi 110 ton/hari dan 25 MBSD
1952 Unit PMK II selesai didirikan. Dibangun oleh PT. Shell
Indonesia dan didesain ALCO dengan kapasitas 25 MBSD
1954 Modifikasi PMK III, sehingga memiliki kapasitas 10 MBSD.
Mulai tahun 1985 PMK III tidak beroperasi
1973 Modifikasi wax plant, kapasitas 175 ton/hari
April 1981 Kilang Balikpapan II mulai dibangun dengan hak paten proses
dari UOP Inc
Nov 1981 Penetapan kontraktor utama, yaitu Bechtel International Inc.
dari Inggris dan consultant supervisor-nya adalah PROCON
Inc. dari Amerika Serikat
Nov 1983 Kilang Balikpapan II diresmikan oleh Presiden Republik
Indonesia (Presiden Soeharto)
5 Des 1997 Proyek up-grading Kilang Balikpapan I, diresmikan oleh
Presiden RI (Presiden Soeharto)
Nov 2003 Perubahan status Pertamina dari BUMN menjadi Perseroan
Terbatas
23 Juni 2005 Proyek pembangunan Flare Gas Recovery System dan
Hydrogen Recovery System diresmikan.

12


Refinery Unit V Balikpapan terletak di teluk Balikpapan yang menempati areal
seluas 2.5 Km
2
yang awalnya didesain untuk mengolah crude Handil dan Bekapai.
Namun saaat ini mengolah berbagai macam crude (mix crude) baik local atau impor,
antara lain:
- Senipah
- Sepinggan
- Bunyu
- Belida, dll.
Menurut desainnya kilang Balikpapan mengolah total 260 MBSD minyak mentah.
Kilang Balikpapan I berkapasitas 60 MBSD sedangkan kilang Balikpapan II
berkapasitas 200 MBSD. Kilang Pertamina UP V Balikpapan adalah kilang yang
dikhususkan untuk memenuhi kebutuhan BBM di Indonesia Bagian Timur. Namun
pada kasus-kasus insidental, produksi BBM dari Kilang Pertamina UP V Balikpapan
juga didistribusikan ke daerah-daerah lain yang membutuhkan. Selain BBM, Kilang
Pertamina UP V Balikpapan juga memproduksi Wax (lilin). Sampai saat ini UP V
adalah satu-satunya yang memproduksi lilin di Indonesia.
Kilang Balikpapan terdiri dari kilang lama dan kilang baru. Pada daerah kilang
lama terdiri dari :
- Unit Penyulingan Minyak Kasar I ( PMK I )
- Unit Penyulingan Minyak Kasar II ( PMK II )
- Unit Penyulingan Hampa I ( HVU I )
- Pabrik Lilin ( Wax Plant )
- Dehydration Plant ( DHP )
- Effluent Water Treatment Plant ( EWTP )
- Crude Distilation Unit V ( CDU V )
- Unit Penyulingan Hampa III ( HVU III )
Mulai Oktober 1997 Unit PMK I, PMK II, dan HVU I fungsinya digantikan oleh
CDU V dan HVU III. Sedangkan kilang Balikpapan II atau kilang baru terdiri dari :
1. Hydro Skimming Compleks ( HSC ) yang meliputi
- Crude Distilation Unit IV, Plant 1
- Naphta Hydrotreater, Plant 4
- Platformer Unit, Plant 5
13


- LPG Recovery, Plant 6
- Sour Water Stripper Unit, Plant 7
- LPG Treater, Plant 9
2. Hydro Cracking Compleks ( HCC ) yang meliputi :
- Vacuum Distilation Unit (HVU II), Plant 2
- UOP HC Unibon Process Unit, Plant 3
- Hydrogen Plant, Plant 8
- Flare Gas Recovery, Plant 19
- Hydrogen Recovery, Plant 38
2.2 Logo Perusahaan
Pada awalnya logo pertaminabukan seperti logo sekarang yang baisa kita temui. Namun
ada beberapa logo-logo terdahulu hingga sekarang. Berikut adalah sejarah pergantian
logo-logo pertamina dari masa ke masa:
Gambar 2.3 Perkembangan Logo PT. Pertamina (Persero)
Pada akhirya logo pertamina yang bertahan hingga sekarang adalah logo berupa
anak panah yang menyerupai bentuk huruf P yang menginisialkan PERTAMINA.
Berikut adalah logo pertamina sekarang:
Gambar 2.4 Logo PT. Pertamina (Persero)
Arti dari logo tersebut, yaitu:
a. Merah : Keuletan dan ketegasan serta keberanian dalam menghadapi berbagai
macam keadaan.
b. Hijau : Sumber daya energy yang berwawasan lingkungan.

14


c. Biru : Handal, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab.
Selalu hadir melayani masyarakat, berorientasi pada kepuasan
pelanggan dengan menggalakkan Quality Control.
Dengan adanya perubahan logo PT. Pertamina (Persero) sekaligus meluncurkan
slogan (band driver) ALWAYS THERE yang diterjemahkan menjadi SELALU HADIR
MELAYANI. Dengan slogan tersebut diharapkan perilaku seluruh jajaran pekerja akan
berubah menjadi enterpreneur dan customer oriented, terkait dengan persaingan yang
sedang dan akan dihadapi perusahaan.

2.3 Visi dan Misi PT. Pertamina (Persero) dan RU V Balikpapan
Setiap perusahaan pastinya memiliki visi dan misi untuk dijadikan landasan dari
berjalannya perusahaan tersebut sehingga dapat mencapai target maupun tujuan dari
perusahaan yang telah ditentukan. Adapun visi dan misi untuk PT. Pertamina (Persero)
secara keseluruhan adalah sebagai berikut:
o Visi : Menjadi perusahaan energy nasional kelas dunia.
o Misi : Menjalankan usaha minyak, gas, serta energy baru dan
terbarukan secara terintegrasi, berdasarkan prinsip-prinsip
komersial yang kuat.
Disamping visi dan misi utama dari keseluruhan perusahaan PT. Pertamina
(Persero), juga terdapat visi dan misi untuk menjalankan perusahan pada PT. Pertamina
(Persero) RU V Balikpapan. Adapun visi dan misi untuk PT. Pertamina (Persero) RU V
Balikpapan adalah sebagai berikut:
o Visi : Menjadi kilang kebanggan nasional yang mampu bersaing dan
menguntungkan
o Misi :
1. Mengelola operasional kilang secara aman, handal, efisien
dan ramah lingkungan untuk menyediakan kebuthan energy
yang berkelanjutan.
2. Mengoptimalkan fleksibilitas pengolahan untuk
memaksimalkan valuable product.
3. Memberikan manfaat kepada stakeholder.

15


2.4 Tata Nilai
Dalam mencapai visi dan misinya, Pertamina berkomitmen untuk menerapkan tata nilai
sebagai berikut :
o Clean (Bersih)
Dikelola secara profesional, menghindari benturan kepentingan, tidak
menoleransi suap, menjunjung tinggi kepercayaan dan integritas. Berpedoman pada
asas-asas tata kelola korporasi yang baik.
o Competitive (Kompetitif)
Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional, mendorong
pertumbuhan melalui investasi, membangun budaya sadar biaya dan menghargai
kinerja.
o Confident (Percaya Diri)
Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional, menjadi pelopor dalam
reformasi BUMN, dan membangun kebanggaan bangsa.
o Customer Focused (Fokus Pada Pelanggan)
Beorientasi pada kepentingan pelanggan, dan berkomitmen untuk memberikan
pelayanan terbaik kepada pelanggan.
o Commercial (Komersial)
Menciptakan nilai tambah dengan orientasi komersial, mengambil keputusan
berdasarkan prinsip-prinsip bisnis yang sehat.
o Capable (Berkemampuan)
Dikelola oleh pemimpin dan pekerja yang profesional dan memiliki talenta dan
penguasaan teknis tinggi, berkomitmen dalam membangun kemampuan riset dan
pengembangan.

2.5 Lokasi PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan.
Kilang minyak PT. PERTAMINA (Persero) UP V Balikpapan berdiri tahun 1922,
beberapa tahun setelah ditemukan cadangan minyak yang cukup besar di Kalimantan.
Kilang Balikpapan I dan II terletak di kota Balikpapan propinsi Kalimantan Timur,
tepatnya di tepi teluk Balikpapan.
16


Lokasi kilang Balikpapan yang berdekatan dengan perairan laut mempermudah
transportasi produk dan bahan baku keluar maupun menuju kilang. Selain itu, sumber
air laut sebagai air proses ataupun utilitas dapat dengan mudah diperoleh. Kilang
Pertamina UP V terletak di Teluk Balikpapan dengan luas area 2,5 km
2
. Pemilihan
Teluk Balikpapan sebagai kawasan kilang dilakukan atas dasar :
- Tersedianya pasokan minyak mentah yang cukup banyak dari kawasan sekitarnya
- Lokasinya strategis untuk pendistribusian hasil produksi terutama ke kawasan
Indonesia Bagian Timur
- Tersedianya areal yang cukup luas untuk pendirian kilang
- Tersedianya sarana pelabuhan untuk kepentingan distribusi minyak mentah dan hasil
produksi
Pemilihan lokasi ini tentu saja diikuti dengan banyak pertimbangan-pertimbangan
yang ada. Pada dasarnya lokasi ini disesuaikan dengan lokasi kilang minyak terdahulu
yang dipegang oleh belanda sehingga lokasi yang ada dapat digunakan sebagai kilang
minyak PT. PErtamina (Persero) RU V Balikpapan. Dismaping itu, lokasi ini juga
strategis dengan didukung perairan teluk yang dapat dilewati kapal tanker untuk
membawa minyak mentah maupun hasil produk dari PT. Pertamina (Persero) RU V
Balikpapan ini. Tersedianya fasilitas-fasilitas kilang peninggalan Belanda juga dapat
memudahkan dalam proses pengembangan kilang pengolahan minyak di PT. Pertamina
(Persero) RU V Balikpapan. Adapun lokasi dari PT. Pertamina (Persero) RU V
Balikpapan dapat dilihat seperti pada gambar berikut:








Gambar 2.5 Lokasi PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan
UP.V BALIKPAPAN
(260 MBSD)




Berikut merupakan panorama posisi kilang di PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan dilihat menggunakan satelit dengan bantuan
Software Google Earth
Gambar 2.6 Lokasi PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan via Satelit




Berikut merupakan peta lokasi dari area PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan dari
dokumen hasil pemetaan lapangan.
Gambar 2.7 Peta Lokasi PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan
19


2.6 Produksi PT. Pertamina (Persero)
Dalam menjalankan perusahaannya, PT. Pertamina (Persero) ini melakukan proses
produksi yang mengolah minyak mentah dan gas. Namun yang menjadi prioritasnya
yaitu pengolahan minyak mentah atau yang biasa dikenal dengan nama crude.
Kapasitas pengolahan minyak mentah di setiap area PT. Pertamina (Persero)
berbeda-beda tergantung jumlah kapasitas mesin produksi dan tempat penyimpanannya.
Untuk kapasitas pengolahannya minyak mentah oleh PT. Pertamina (Persero) di seluruh
Indonesia dapat kita dilihat seperti pada tabel berikut:
Tabel 2.2 Kapasitas Produksi PT. Pertamina (Persero)
Kilang Provinsi
Kapasitas
(BPSD)
Prosentase
RU I Pangkalan Brandan* Sumatera Utara 5.000 0.5 %
RU II Dumai Riau 170.000 16.3 %
RU III Plaju & Sungai Gerong Sumatera Selatan 132.500 12.7 %
RU IV Cilacap Jawa Tengah 348.000 33.3 %
RU V Balikpapan Kalimantan Timur 253.500 24.3 %
RU VI Balongan Jawa Barat 125.000 12.0 %
RU VII Kasim Irian Jaya 10.000 1.0 %
Total 1.044.000 100.00 %
*sudah tidak beroperasi sejak Januari 2007
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan merupakan daerah pengolahan minyak
mentah terbesar kedua setelah PT. Pertamina (Persero) RU IV Cilacap, yaitu sebanyak
253.500 Barrels Per Stream Daya (BPSD) dengan prosentase dari pengolahan
keselurahan PT. Pertamina (Persero) yaitu sebesar 24,30 %.
Saat ini kilang Balikpapan mengolah minyak mentah ( crude oil ) yang berasal dari
dalam maupun luar negeri, diantaranya berasal dari Minas, Sepinggan, Badak, Handil,
Bekapai, Arjuna, Attaka, Sangatta, Duri, Kakap, Tepian Timur, Sanga-sanga, Tanjung,
Cinta, Malaysia (Tapis), Australia (Jabiru dan Chalyts), Arabian Light Crude, Amna,
Bach Ho, Badin, Brass River, Borrow Island, Bunga Kekwa, Cooper Basin, Dulang,
Harriet, Iranian Light Crude, Marrieb, Maul, Miri, Nan Hai, North West Sheif, Palanca,
Qua Iboe, Sarir, Tapis, Tantawan Varanus Blend, Xi Chiang dan Zarzaltine. Minyak
20


mentah yang diolah merupakan minyak mentah hasil blending beberapa jenis minyak
mentah dengan spesifikasi sesuai dengan spesifikasi desain.
Hasil produksi kilang Balikpapan berupa produk BBM dan non BBM, yaitu
premium, kerosene (minyak tanah), avtur, solar (minyak diesel), fuel oil (minyak bakar),
heavy nafta, LPG, LSWR dan lilin (wax).

2.7 Status Kepemilikan
Pertamina merupakan suatu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan satu-satunya
badan usaha yang mendapat wewenang untuk mengelola kekayaan negara berupa
minyak dan gas bumi. Pertamina didirikan tahun 1972 berdasarkan Undang Undang
Republik Indonesia No.8 Tahun 1972. Pertamina merupakan penggabungan dari PN
PERTAMIN dan PN PERMINA pada tahun 1968. Pertamina berubah menjadi PT
(persero) mulai tanggal 1 Oktober 2003 berdasarkan Peraturan Pemerintah No.31 tahun
2003 sebagai amanat dari pasal 60 UU No.22 tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi.

2.8 Distribusi dan Pemasaran Produk
Untuk hasil dari pengolahan di PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan ini disalurkan
ke daerah-daerah di Indonesia, khususnya di daerah Indonesia bagian Tengah dan
Timur. Hasil pengolahan dari PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan dibagi menjadi
dua pembagian secara umum yaitu dari UPMS VI ,Pusat / UPMS lain, serta langsung
dari Refinery Unit V Balikpapan. Dan untuk prosesnya juga terbagi dua, yaitu Operasi
Perkapalan serta Pemasaran dan Niaga
Pada Operasi perkapalan bertujuan untuk menyalurkan produk dari PT. Pertamina
(Persero) RU V Balikpapan ke wilayah-wilayah penyimpanan (storage) yang nantinya
akan diproses untuk proses pemasaran dan niaga. Untuk proses perkapalan dilakukan
dari UPMS VI menuju Depot Balikpapan, Banjarmasin, Samarinda, Kotabaru dan
tarakan. Proses perkapalan juga dilakukan dari Pusat / UPMS lain menuju Pare-pare,
Makassar, Bitung, Kupang , Tanjung Wangi, Manggis (Bali), Wayame (Ambon),
Surabaya, Semarang, Jakarta. Dan proses perkapalan yang langsung dari Refinery Unit
V Balikpapan secara khusus menyalurkan Indutry Diesel Oil (IDO) atau Industry Fuel
Oil (IFO) langsung menuju Makasar, Pomala, Tanjung Wangi dan Wayame
21


Untuk beberapa proses perkapalan ke beberapa daerah-daerah di Indonesia bagian
Tengah Timur, akan dilanjutkan kembali ke operasi Pemasaran dan Niaga. Dari
Kotabaru/Tarakan, hasil produksi akan didistribusikan kembali ke daerah Pangkalan
Bun, Sampit, dan Pulang Pisau. Sedangkan untk daerah Pare-pare, Makassar, Bitung,
Kupang , dan Tanjung Wangi akan diteruskan ke operasi pemasaran dan niaga ke
daerah Kendari, Bau-Bau, Palopo, Pare-Pare, Raha, Kolaka, Inco Malili, Gorontalo,
Ampana, Aprigi, Tahuna, Luwuk, Banggai, Kolenedale, Toli-Toli, Mountung, dan Poso.
Untuk daerah perkapalan di wilayah Manggis (Bali) akan di lanjutkan dengan Operasi
Pemasaran dan Niaga ke daerah Benoa, AMpenan, Tanjung Wangi, Larantuka, Bima ,
Waingapu, Badas, Kalabihi, Dilli(Eksport), Ende, Reo, Maumere, Kupang, dan
Atapupu. Dan untuk daerah perkapalan yang terkahir dari Wayane (Ambon) akan
dilanjutkan ke operasi permasaran dan niaga ke daerah seperti Biak, Ambon, Dono,
Namlea, Jayapura, Mearuke, Labuha, Fak-Fak, Kaimana, Sorong, Saumlaki, Bula,
Manokwari, Ternate, Serui, Masohi, Nabire, Tual, Tobelo, dan Sanana.




Berikut merupakan alur pendisitribusian hasil produk dari PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan:

Gambar 2.8 Alur Pendistribusian PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan
23

2.9 Unit Kerja
Unit kerja dalam lingkungan PERTAMINA RU V Balikpapan memiliki beberapa
bagian yang didalamnya terdapat unit-unit yang berkaitan satu sama lain dalam proses
produksi, dimana kilang Balikpapan I terdiri atas unit-unit :
a. Crude Distillation Unit V (CDU V)
b. High Vacuum Unit III (HVU III)
c. Dehydration Plant (DHP)
d. Wax Plant
e. Effluent Water Treatment Plant (EWTP)
Tabel 2.3 Kapasitas Terpasang Kilang I
Plant
Unit Proses Kapasitas
Crude Distillation Unit V (CDU V) 60 MBSD
High Vacuum Unit III (HVU III) 25 MBSD
Dehydration Plant (DHP) 55 MBSD
Wax Plant 150 ton/day
Effluent Water Treatment Plant (EWTP) 100 m/h
Kilang Balikpapan II terdiri dari dua unit produksi, yaitu unit Hydroskimming
Complex (HSC) serta unit Hydrocracking Complex (HCC). Kedua unit ini memproduksi
bahan bakar minyak dan LPG.
1. Unit Hydroskimming Complex (HSC), yang meliputi :
a. Crude Distillation Unit IV (CDU IV) - Plant 1
b. Naphta Hydrotreater Unit (NHTU) - Plant 4
c. Platformer Unit - Plant 5
d. LPG Recovery Unit - Plant 6
e. Sour Water Stripper Unit (SWS) - Plant 7
f. LPG Treater - Plant 9
2. Unit Hydrocracking Complex (HCC), yang meliputi :
a. High Vacuum Unit II (HVU II) Plant 2
b. Hydrocracking Unit (HCU) Plant 3
c. Hydrogen Plant Plant 8
d. Unit-unit penunjang lainnya seperti : Cooling Water Unit (Plant 32), Boiler feed
Water System (Plant 31), Fuel Gas System (Plant 15), Nitrogen Plant and Air
Instrument (Plant 35), dan Flare System (Plant 19).
24

Tabel 2.4 Kapasitas Terpasang Kilang II

Sedangkan fasilitas pendukung seperti tabel di bawah berikut :
Tabel 2.5 Fasilitas Pendukung Lainnya
Fasilitas
Unit Proses Kapasitas
Crude Oil Tanks 30 unit
Product Tanks 74 unit
LPG Tanks 2 unit
Jetties 8 unit
SPM 1 unit


Plant
Unit HSC Kapasitas Unit HCC Kapasitas
Crude Distillation Unit
IV (CDU IV) 200 MBSD
High Vacuum Unit II
(HVU II) 81 MBSD
Naphta Hydrotreater
Unit (NHTU) 20 MBSD
Hydrocracking Unit
(HCU) 55 MBSD
Platformer Unit 20 MBSD Hydrogen Plant 68 MMSCFD
LPG Recovery Unit 534 ton/day Nitrogen Plant 645 Nm/h
Sour Water Stripper Unit
(SWS)
633 m/h
Incinerator 655 Nm/h
Flare Gas Recovery 4000 Nm/h



BAB III
DESKRIPSI SISTEM INDUSTRI
3.1 Sistem dan Manajemen Produksi
Definisi dari sistem produksi adalah suatu aktivitas untuk mengolah atau mengatur
penggunaan sumberdaya (resources) yang ada dalam proses penciptaan barang atau jasa
yang bermanfaat dengan melakukan optimasi terhadap tujuan perusahaan. Dapat pula
dikatakan bahwa sistem produksi adalah keterkaitan antara unsur-unsur yang berbeda
secara terpadu, menyatu dan menyeluruh dalam pelaksanaan proses produksi untuk
menghasilkan barang atau jasa. Sebagai suatu sistem, sistem produksi mempunyai ciri-
ciri sebagai berikut :
1. Terdiri dari unsur-unsur yang berbentuk satu kesatuan sistem
2. Adanya tujuan dan saling ketergantungan
3. Mengandung mekanisme, atau dapat disebut juga transformasi
4. Adanya lingkungan yang menyebabkan sistem
Dalam sistem produksi terdapat komponen struktural dan fungsional yang berperan
penting dalam menunjang keberlangsungan operasi dari sistem tersebut. Komponen
struktural yang membentuk sistem produksi terdiri dari material, mesin dan peralatan,
manusia, energi, informasi serta lingkungan kerja. Sedangkan komponen fungsional
terdiri dari manajemen dan organisasi, juga dipengaruhi oleh aspek-aspek lain seperti
teknologi, ekonomi, sosial dan pemerintah.
Sistem produksi pada PT Pertamina RU V Balikpapan pada dasarnya sama dengan
sistem produksi industri lainnya, yaitu terdapat beberapa bahan baku sebagai input yang
kemudian akan diproses melalui mesin-mesin produksi dan kemudian akan
menghasilkan produk atau output.




26


Sistem produksi pada PT Pertamina RU V Balikpapan secara umum dapat
digambarkan pada diagram berikut :

Gambar 3.1 Sistem Produksi existing refinery PT Pertamina RU V Balikpapan

3.1.1 Peramalan Produksi
Aktivitas peramalan merupakan suatu fungsi bisnis yang berusaha memperkirakan
permintaan atau penjualan dan penggunaan produk sehingga dapat dibuat dalam
kuantitas yang tepat sesuai dengan permintaan pasar. Lebih jauh dapat dikatakan bahwa
fungsi peramalan adalah sebagai suatu dasar bagi perencanaan, seperti dasar bagi
perencanaan kapasitas, anggaran, perencanaan produksi dan inventori dsb. Kebutuhan
akan peramalan meningkat seiring dengan usaha pihak manajemen untuk mengurangi
ketidakpastian atau resiko bisnis dalam lingkungan yang semakin kompleks dan dinamis
(selalu berubah-ubah). Prinsip Peramalan yang perlu dipertimbangkan :
27

1. Secara umum, teknik peramalan berasumsi bahwa sesuatu yang berlandaskan pada
sebab yang sama yang terjadi di masa yang lalu, akan berlanjut pada masa yang akan
datang.
2. Peramalan melibatkan kesalahan (error). Peramalan hanya mengurangi
ketidakpastian tetapi tidak menghilangkannya.
3. Peramalan untuk famili produk lebih akurat daripada peramalan untuk produk
individu.
4. Peramalan jangka pendek mengandung ketidakpastian yang lebih sedikit (lebih
akurat) daripada peramalan jangka panjang, karena dalam jangka pendek, kondisi
yang mempengaruhi permintaan cenderung tetap atau berubah lambat.
5. Peramalan sebaiknya menggunakan tolok ukur kesalahan peramalan.
6. Jika dimungkinkan, hitung peramalan daripada meramal permintaan.
a. Pendekatan Peramalan
Pada dasarnya pendekatan peramalan dapat diklasifikasikan menjadi dua
pendekatan, yaitu: pendekatan/teknik kualitatif dan pendekatan/teknik kuantitatif.
1) Pendekatan kualitatif
Pendekatan kualitatif bersifat subjektif dimana peramalan dilakukan
berdasarkan pertimbangan, pendapat, pengalaman dan prediksi peramal
(forecaster), pengambil keputusan atau para ahli. Pendekatan ini digunakan
pada saat tidak tersedia sedikitpun data historis. Yang termasuk pendekatan
kualitatif antara lain market research, consumer surveys, delphi method, sales
force composite, executive opinions, historical analogy, panel consensus.
2) Pendekatan kuantitatif
Pendekatan kuantitatif meliputi metode deret berkala (time series) dan metode
kausal (eksplanatoris). Metode deret berkala melakukan prediksi masa yang
akan datang berdasarkan data masa lalu tanpa melihat faktor-faktor yang
mempengaruhi data tersebut. Tujuan peramalan deret berkala ini adalah untuk
menentukan pola data masa lalu dan mengekstrapolasikannya untuk masa yang
akan datang. Metode kausal mengasumsikan faktor yang diramal memiliki
hubungan sebab akibat terhadap beberapa variabel independent. Tujuan metode
kausal ini adalah untuk menentukan hubungan antar faktor (input dan output
dari suatu sistem) dan menggunakan hubungan tersebut untuk meramal nilai-
nilai variabel dependent. Sebagai contoh suatu perusahaan minuman ringan
28

ingin mengetahui jumlah volume penjualan produknya selama beberapa
periode kedepan. Melalui deret berkala perusahaan akan menduga/meramal
kelanjutan jumlah volume penjualan produknya hanya dengan berlandaskan
pada data jumlah volume penjualan produk tersebut pada beberapa periode
sebelumnya tanpa memperhatikan faktor-faktor lain yang mempengaruhi
naik/turunnya jumlah volume penjualan. Namun melalui metode kausal faktor-
faktor tersebut justru sangat diperlukan. Faktor-faktor tersebut dapat berupa
peningkatan jumlah penduduk dimana produk tersebut dipasarkan dan
pengaruhnya terhadap permintaan, sejauh mana usaha adverstising dapat
meningkatkan volume penjualan, penetapan harga terhadap produk tersebut,
pengaruh cuaca, dan lain sebagainya.
b. Pendekatan kuantitatif dapat diterapkan dengan syarat:
1) Tersedia informasi masa lalu
2) Informasi masa lalu tersebut dapat dikuantifikasikan dalam bentuk data
numerik
3) Diasumsikan pola data masa lalu akan berlaku sama untuk masa yang akan
datang.
Dalam prakteknya, kombinasi dari kedua pendekatan tersebut (kualitatif dan
kuantitatif) biasanya lebih efektif karena pada dasarnya peramalan itu merupakan
suatu seni dan science.
c. Karakteristik Peramalan yang Baik
Sebuah peramalan yang baik harus mengandung unsur SMART, yaitu:
1) Simple to understand and use.
2) Meaningful units
3) Accurate
4) Reliable (consitenly)
5) Timely
d. Time Series Forecasting (Deret Berkala)
Deret berkala adalah suatu urutan waktu observasi yang diambil pada interval
waktu tertentu (per jam, harian, mingguan, bulanan, kuartalan, tahunan dsb). Data
yang diambil dapat berupa data permintaan, pendapatan, keuntungan, kecelakaan,
output, produktivitas dan indeks harga pelanggan, (Pada praktikum ini ditekankan
pada data permintaan). Teknik ini dibuat dengan asumsi bahwa nilai pada masa
29

yang akan datang pada deret tersebut dapat diestimasi dari nilai deret tersebut di
masa lampau. Analisa data deret berkala menghendaki seorang analis untuk
mengidentifikasi perilaku dasar deret data dengan cara membuat plot data secara
visual sehingga dapat dilihat pola data yang terbentuk pada masa lalu yang
diasumsikan dapat berulang pada periode yang akan datang.
Time series mengidentifikasi pola data yang umum terbentuk sebagai berikut:
1) Trend
Pola data trend menunjukkan pergerakan data secara lambat/bertahap yang
cenderung meningkat atau menurun dalam jangka waktu yang panjang. Pola
data trend terdiri dari beberapa tipe, seperti: Linear trend, S-Curve Trend atau
Growth curve, Asymptotic trend dan Exponential trend.
2) Seasonality (musiman)
Pola data musiman terbentuk jika sekumpulan data dipengaruhi faktor
musiman, seperti cuaca dan liburan. Dengan kata lain pola yang sama akan
terbentuk pada jangka waktu tertentu (harian, mingguan, bulanan, atau
kuartalan/perempat tahunan). Pada dasarnya pola musiman yang umum terjadi
dibedakan menjadi dua model yaitu, additive seasonality dan multiplicative
seasonality model.
3) Cycles (Siklus)
Pola data siklus terjadi jika variasi data bergelombang pada durasi lebih dari
satu tahun. Data cenderung berulang setiap dua tahun, tiga tahun, atau lebih.
Fluktuasi siklus biasanya dipengaruhi oleh faktor politik, perubahan ekonomi
(ekspansi atau kontraksi) yang dikenal dengan siklus usaha (business cycle).
4) Horizontal / Stasionary / Random variation
Pola ini terjadi jika data berfluktuasi di sekitar nilai rata-rata secara acak tanpa
membentuk pola yang jelas seperti pola musiman, trend ataupun siklus.
Pergerakan dari keacakan data terjadi dalam jangka waktu yang pendek,
misalnya mingguan atau bulanan.

30


`Gambar 3.2 Visualisasi pola-pola data
Metode Peramalan di PT PERTAMINA Refinery Unit V Balikapapan
menggunakan tools GRTMPS (Generalized Refining Transportation Marketing
Planning System) dimana software atau aplikasi tersebut digunakan untuk
mengoptimisasi crude oil yang akan diolah di masa yang akan datang. Data-data yang
dimasukkan yaitu data-data demand forecast, market price, dan refinery feedstock.
Setelah mendapat hasil optimisasi tersebut kemudian hasilnya dibawa ke Departemen
Supply Chain untuk dilakukan Perhitungan Blending, dan diteruskan ke kantor pusat
untuk di simulasikan.
3.1.2 Perencanaan Kapasitas
Dalam menentukan perencanaan kapasitas, PERTAMINA RU V Balikpapan memiliki
bagian-bagian yang berfungsi untuk mengelola dan mengatur kapasitas bahan baku
yang didapatkan dari pusat untuk dijadikan produk akhir yaitu diantaranya yaitu
Refinery Planning and Optimization dan bagian Supply Chain and Distribution.
Caranya yaitu dengan membuat perhitungan STS, penjadwalan crude, simulasi crude
dan rencana transfer. Sehingga ketika bahan baku datang dengan menggunakan kapal,
bagian Supply Chain and Distribution langsung membuat rencana produksi dari
kapasitas crude yang didapatkan berdasarkan pembagian crude untuk masing-masing
RU PERTAMINA di seluruh Indonesia.
31

3.1.3 Manajemen Perawatan Mesin
Perawatan mesin dilakukan oleh departemen maintenence. Prinsip yang digunakan
adalah lebih baik mencegah daripada memperbaiki, sesuai dengan prinsip tersebut
perawatan yang lebih banyak dilakukan adalah perawatan pencegahan preventif. Agar
perawatan preventif berjalan dengan efektif, semua kegiatan dicatat dalam laporan
harian yang berguna untuk menganalisis jenis dan frekuensi kerusakan yang terjadi
sehingga dapat dilakukan pencegahan dini. Selain itu dalam pemberian tugas perbaikan
atau perawatan dikeluarkan dua jenis surat izin yaitu:
1. Izin kerja dingin (Cold Work Permit)
Izin kerja dingin dikeluarkan bagi pekerjaan-pekerjaan pemeliharaan yang tidak
mengandung atau mempergunakan unsur-unsur panas atau api dalam pekerjaannya.
2. Izin kerja panas (Hot Work Permit)
Izin kerja panas dikeluarkan bagi pekerjaan-pekerjaan pemeliharaan yang
mengandung atau mempergunakan unsur-unsur panas atau api dalam pekerjaannya.
Sebagai penunjang dalam melakukan perawatan pada mesin-mesin produksi PT
Pertamina RU V Balikpapan memiliki fasilitas bengkel yang dilengkapi dengan
peralatan-peralatan untuk perawatan permesinan dan lain-lain. Fungsi bengkel di RU IV
tidak hanya sebagai perbaikan peralatan, tetapi juga sebagai sarana pembuatan suku
cadang pengganti yang diperlukan. Disamping itu dapat melayani perbaikan dan
pemeliharaan sarana permesinan bagi industri lainnya.

3.1.4 Penanganan Material Handling
Masalah utama dalam produksi ditinjau dari segi kegiatan/proses adalah bergeraknya
material dari suatu tingkat ke tingkat proses produksi selanjutnya. Untuk
memungkinkan proses produksi dapat berjalan dibutuhkan adanya kegiatan pemindahan
material yang disebut dengan material handling.
Tujuan utama dari perencanaan material handling adalah untuk mengurangi biaya
produksi. Selain itu, material handling sangat berpengaruh terhadap operasi dan
perancangan fasillitas yang diimplementasikan.

32

Beberapa tujuan dau sistem material handling antara lain (Meyers, F.E) :
1. Menjaga atau mengembangkan kualitas produk, mengurangi kerusakan, dan
memberikan perlindungan terhadap material
2. Meningkatkan keamanan dan mengambangkan kondisi kerja
3. Meningkatkan produkstivitas
4. Meningkatkan tingkat penggunaan fasilitas
5. Mengurangi bobot mati
6. Sebagai pengawas persediaan
Adapun jenis peralatan material handling yang digunakan pada PT Pertamina RU
V Balikpapan antara lain:
1. Conveyor
Conveyor digunakan untuk memindahkan material secara kontinyu dengan jalur yang
tetap. Tipe conveyor yang dioergunakan adalah roller conveyor
2. Cranes dan Hoists
Cranes (derek) dan Hoists (kerekan) adalah peralatan di atas yang digunakan untuk
memindahkan beban secara terputus-putus dengan area terbatas.
3. Trucks
Trucks yang digerakkan tangan atau mesin dapat memindahkan material dengan
berbagai macam jalur yang ada. Yang termasuk dalam kelompok trucks antara lain,
fork lift tRUck, hand tRUck, fork tRUks, trailer trains, automated guded vehicles
(AGV) dan sebagainya.

3.2 Human Capital Management
3.2.1 Sistem Kepegawaian
Dalam kegiatan sehari-hari, PT Pertamina RU V Balikpapan mempunyai pekerja-
pekerja dilingkungannya. Dengan pembagian jam kerja sebagai berikut:
1. Karyawan Harian
Untuk pekerja harian bekerja selama 40 jam setiap minggu dengan perincian sebagai
berikut:
Hari Senin Jumat : 07.00 16.00
Istirahat (Senin-Kamis) : 12.00 13.00 (Khusus Hari Jumat : 12.00-13.30)
2. Karyawan Shift
33

Untuk pekerja shift bekerja dengan sistem 3 : 1, artinya 3 hari kerja dan 1 hari libur.
Periode tersebut berjalan secara bergantian dari shift pagi, sore, dan malam dengan
jam kerja sebagai berikut:
a. Untuk Karyawan Operasi:
Shift pagi : 08.00 16.00
Shift sore : 16.00 24.00
Shift malam : 00.00 08.00
b. Untuk Karyawan Security:
Shift pagi : 06.00 14.00
Shift sore : 14.00 22.00
Shift malam : 22.00 06.00

34

3.2.2 Struktur Organisasi
Adapun struktur organisasi dari PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan adalah sebagai berikut:
GM RU V
HSE
Manager
Procurment
Manager
General
Afairs
Manager
Reliability
Manager Manager HR
Area
Manager Keuangan
Region IV
IT Manager RU
V
Eng & Dev
Manager
Process Eng
Section Head
Project Eng
Section Head
Facilty Eng
Section Head
Energy &
Loss Control
Section Head
TQM Section
Head
Fire &
Insurance
Section Head
Safety
Section Head
Environment
Section Head
Occupational
Health
Section Head
Purchasing
Section Head
Contract
Office
Section Head
Inventory
Section Head
Service
Transport &
Warehoushing
Section Head
Public
Relationship
Section Head
Security
Section Head
Legal Section
Head
Equipment
Reliability
Section
OPS TEAM
Plant
Reliability
Section
Senior Manager
Operation &
Manufacturing Head of HR
Service
Head of People
Development
Organitation
Development
Analyst
Head of
Industrial
Relation
Head of
Medical
Kepala Bagian
Kontroler
Kabag Akuntansi
Kilang
Kabag
Perbendaharaan
Bagian
Pengembangan
Bagian Operasi
Pruduction
Manager
Manager TA
Refinery Planning
& Optimization
Manager
Maintenance
Planning &
Support Manager
Maintenanance
Execution Manager
Schedulling & Mat
Support SH
Equipment Overhead
Section Head
Turn Araund Section
Head
Oil Movement
Section
Hydro Skimming
Complex Section
Laboratory
Section
Distilling & Wax
Plant Section
Utilities
Section
Hydro Crecking
Complex Section
Budget and
Performance
Section
Supply Chain and
Distribution Section
Refinery Planning
Section Head
Maintenance Area
IV Section Head
Maintenance Area
II Section Head
General
Maintenance
SecMarine
Maintenance Area
I Section Head
Workshop
Section Head
Maintenance Area
III Section Head
Planning and
Schedulling
Section
Electrical and
Instrument Eng
Section
Rotating
Equipment Eng
Section Head
Stationery
Engineer Section
MANAGER HR
REFINERY
VP
KEUANGAN
MAN IT
REGION IV
SVP
OPERATION
Struktur Organisasi Pertamina
RU V Balikpapan
Gambar 3.3 Struktur Organisasi PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan



3.2.3 Manajemen Sumber Daya Manusia
Manusia berbeda dengan komponen peralatan atau komponen lainnya, karena manusia
merupakan komponen yang memiliki perasaaan, memiliki motif-motif tertentu, dimana
setiap orang mempunyai perilaku yang unik. Berdasarkan hal tersebut, dalam penanganan
sumber daya manusia diperlukan yang sangat berbeda dari penanganan komponen atau
peralatan.
Pada dasarnya terdapat dua komponen yang sangat mempengaruhi proses perilaku
manusia, yaitu komponen fisiologis dan komponen psikologis. Komponen fisiologis
berkaitan dengan faktor keturunan (genetik), kematangan/kedewasaan, sistem syaraf, dan
kelenjar endrokin yang menghasilakan hormon-hormon. Sedangkan komponen psikologis
berkaitan dengan persepsi, belajar, dan motivasi.
Motivasi adalah proses psikologis dasar yang mencakup kebutuhan (needs) yang
membangkitkan dorongan-dorongan (drives) untuk mencapai tujuan-tujuan (goals). Tidak
dapat disangkal bahwa proses motivasi sangat berpengaruh terhadap perilaku manusia.
Dalam hal ini motivasi kerja akan mempengaruhi tingkah laku/ prestasi kerja yang jelas
akan berpengaruh terhadap efektivitas sistem dimana manusia itu terlibat didalamnya.
Abraham Maslow mengemukakan bahwa, ada 5 tingkatan kebutuhan manusia yang dikenal
dalam Teori Hirarki Kebutuhan Maslow yaitu:
1. Kebutuhan fisiologis.
Tingkat yang paling dasar dalam Hirarki Kebutuhan Maslow adalah kebutuhan-
kebutuhan fisiologis yang secara umum berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan primer.
Kebutuhan primer yang termasuk kebutuhan fisiologis adalah makan, minum, tidur, dan
seks. Dalam kaitan dengan pekerjaan, upah kerja dapat dianggap sebagai kebutuhan-
kebutuhan fisiologis. Menurut teori maslow, kebutuhan fisiologis harus dipenuhi namun
bukan merupakan faktor yang memotivasi kerja. Hanya kebutuhan pada tingkat yang
lebih tinggi yang akan memotivasi kerja.
2. Kebutuhan akan keamanan.
Tingkat kedua dari Hirarki Kebutuhan Maslow adalah kebutuhan akan rasa aman
terhadap berbagai hal yang dapat mengganggu kelangsungan hidupnya. Sebagai contoh,
membentuk serikat pekerja. Peraturan-peraturan yang melindungi pekerja merupakan
kebutuhan akan keamanan pekerja.

36

3. Kebutuhan sosial.
Tingkat ketiga dari Hirarki Kebutuhan Maslow adalah kebutuhan untuk memperoleh
rasa kasih sayang atau berafiliasasi.
4. Kebutuhan memperoleh penghargaan.
Tingkat ini menunjukan kebutuhan yang lebih tinggi dari manusia. Kebutuhan akan
kekuasaan, prestasi dan status dapat dipandang sebagai bagian dari tingkat kebutuhan
ini. Maslow secara hati-hati membagi jenis kebutuhan ini kedalam dua bagian yaitu
kebutuhan yang didapat dari orang lain dan kebutuhan diri sendiri termasuk otonomi.
5. Kebutuhan aktualisasi diri.
Tingkat ini menggambarkan puncak dari kebutuhan manusia. Orang-orang yang telah
memenuhi kebutuhan ini berarti telah mampu merealisasikan semua potensi mereka.

Gambar 3.4 Teori Kebutuhan Maslow
Menurut Maslow, jika kebutuhan fisik seseorang telah terpenuhi makin kebutuhan
yang lebih tinggi akan muncul sehingga perlu dipenuhi akan kebutuhan-kebutuhan
tersebut. PT Pertamina RU V Balikpapan sejalan dengan teori motivasi kerja yang
dipaparkan oleh Abraham Maslow, hal ini terlihat pada:
1. Pemenuhan kebutuhan fisiologis
Dalam memenuhi kebutuhan fisiologis ini PT. PERTAMINA (Persero) RU V
Balikpapan berusaha memberikan yang tebaik bagi karyawannya dalam bidang finansial
yang diberikan pada setipa pekerja terdiri dari:
a. Gaji setiap bulan sesuai dengan pangkat dan golongannya.
b. Jasa produksi dan uang cuti tahunan.
c. Premi shift bagi para pekerja shift.
37

Untuk pekerja yang sudah pensiun, menerima uang pensiun setiap bulan. Untuk
keperluan cuti, bagi setiap pekerja mendapat kesempatan cuti selama 12 hari kerja setiap
tahunnya dan setiap 3 tahun mendapat cuti besar selama 26 hari kerja. Selain itu juga
disediakan Perumahan Pertamina RU V Balikpapan.
Mobil dinas disediakan sebagai alat transportasi bagi staf senior yang dapat digunakan
bagi kegiatan operasional. Serta disediakan beberapa bus sebagai sarana bagi para pekerja,
tamu maupun alat tranportasi bagi para anak pekerja ke sekolah. Serta disediakan pula
sarana lainnya, meliputi:
a. Klinik darurat, terletak di kilang sebagi sarana pertolongan pertama pada kecelakaan
kerja.
b. Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB), terletak di Komplek Tegal Katilayu yang
juga melayani kesehatan bagi masyarakat umum.

2. Pemenuhan kebutuhan keamanan
Pekerjaan di PT. PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan termasuk resiko tinggi
(High Risk) sehingga dalam melakukan pekerjaanya para pekerja wajib untuk
menggunakan alat keselamatan kerja. Untuk perangkat kerja dan keselamatan kerja bagi
setiap pekerja.

3. Pemenuhan kebutuhan sosial
Sosialisasi antar pekerja dan juga antara pekerja dengan penduduk dijembatani dengan
penyediaan sarana olahraga dan gedung pertemuan dan rekreasi. Terdapat gedung
pertemuan dan rekreasi yang dimiliki oleh Pertamina RU V Balikpapan, yaitu Gedung
Banua Patra. Selain itu, tersedia juga sarana olah raga, diantaranya:
a. Lapangan sepak bola
b. Lapangan bola voli
c. Lapangan bulu tangkis dan tenis
d. Arena Bowling
e. Lapangan basket
f. Kolam renang

38

4. Pemenuhan kebutuhan penghargaan
Untuk menigkatkan kemampuan dan karir Pertamina juga memberikan kesempatan bagi
para pekerjanya untuk mengikuti pendidikan ataupun pelatihan. Selain itu bagia anak-
anak pekerjanya, disediakan TK dan SD dan terbuka juga untuk umum.
Keberhasilan di dalam mengembangkan sumber daya manusia tidak dapat terlepas
dari sistem manajemen dan organisasi itu sendiri. Terdapat dua teori organisasi yaitu
teori organisasi A dan Z, yang masing-masing mempunyai pendekatan yang berbeda
dimana dasarnya teori A mempriotaskan pada pembuatan keputusan dan tanggung
jawab individual, sedangkan teori organisasi Z yang dianut dalam manajemen Jepang
yang lebih mempriotaskan pembuatan keputusan kolektif melalui sepenuhnya
melibatkan partisipasi para pekerja dalam menjalankan perusahaan dan menekankan
tata hubungan interpersonal. Teori Z bercirikan kerja sama antar pekerja dan keterkaitan
pada sasaran perusahaan. Pemakaian Teori Z mempunyai sasaran untuk
mengembangkan kemampuan organisasi orang, bukan teknologi untuk mencapai
produktivitas. Upaya ini mencangkup pengembangan ketrampilan pekerja, disamping
sebagai penciptaan struktur baru, perangsang, dan falsafah manajemen baru.
Ciri-ciri dari kedua teori A dan Z dicantumkan dalam tabel berikut:
Tabel 3.1 Perbandingan antara Teori A dan Teori Z
No Teori A Teori Z
1 Kesempatan kerja jangka pendek Kesempatan kerja jangka panjang
2 Jalur karier terspesialisasi Jalur karier tidak terspesialisasi
3 Pembuatan keputusan individu Pembuatan keputusan kolektif
4 Penilaian sering dilakukan Penilaian jarang dilakukan
5 Penilaian eksplisit formal Penilaian implisisf informal
6 Promosi jabatan secara tepat Promosi jabatan lambat
7 Perhatian terhadap orang secara segementasi Perhatian terhadap orang secara komprehensif

Organisasi pada PT Pertamina RU V Balikpapan memiliki beberapa ciri-ciri pokok
yaitu:
1. Kesempatan kerja jangka panjang.
2. Jalur karier terspesialisasi
3. Pembuatan keputusan kolektif
39

4. Penilaian sering dilakukan
5. Promosi jabatan lambat.
6. Perhatian terhadap orang secara komperhensif.
Berdasarkan ciri-ciri organisasi A dan Z yang dikemukakan Robin (1983) maka PT.
PERTAMINA (Persero) RU V Balikpapan secara organisasi lebih condong ke tipe Z
walaupun tidak secara murni.

3.3 Pemasaran dan Distribusi
3.3.1 Strategi Harga
Harga keekonomian BBM (Harga Beli Pemerintah) adalah harga yang dihitung
berdasarkan formulasi yang dikaitkan dengan MOPS serta ditambahkan dengan biaya
operasi, margin serta pajak. Dengan kata lain Strategi harga mengikuti MOPS (Mean Oil
Platts Singapore) atau dengan kata lain acuan harga minyak mentah yang akan kita olah
mengikuti pedoman harga dari Singapura. Harga perencanaan masa depan ditentukan oleh
tim sebagai acuan rekan-rekan unit untuk membuat perencanaan. Harga realisasi didapat
ketika periode tersebut sudah lewat, harga actual atau realisasi didapat dari keuangan atau
kantor pusat, harga real bisa jadi evaluasi. Biaya pemasaran adalah biaya yang
dikeluarkanuntuk mempromosikan barang, memberikan insentif kepada para penjual
dan pengeluaran-pengeluaran lain yang berhubungan dengan masalah pemasaran produk (
Moore, Jaddicke & Anderson,1997:312 ).

3.3.2 Strategi Promosi yang Dilakukan
Ketika ada pameran pembangunan, PT PERTAMINA ikut berpartisipasi dalam acara
tersebut. Di PT PERTAMINA juga mempunyai program CSR (Company Social
Responsibility) yaitu membangun lingkungan sekitar seperti memberikan tempat buat para
kaki lima untuk berdagang di tepi pantai melawai.

40

3.3.3 Jaringan Distribusi dan Transportasi
Untuk memelihara keandalan distribusi BBM dalam negeri dan sebagai penunjang industri,
disiapkan armada transportasi laut yang andal dan ekonomis. Dengan meningkatnya
kebutuhan BBM maka muatan yang di angkut melalui laut ikut meningkat. Jalur distribusi
minyak mentah di kilang RU V ini pertama didapatkan dari minyak mentah yang berada di
Tanjung, dialirkan melalui pipa sebanyak 170MB/bln ke tangki timbun Balikpapan, lalu
minyak mentah dari domestik yang dibawa oleh kapal tanker sebanyak 2400MB/bln di
discharge ke tangki timbun Balikpapan. Lalu ada pula minyak mentah import yang
dialirkan ke tangki timbun Lawe-Lawe melalui pipa sebanyak 360MB/bln, selain itu ada
minyak mentah domestik dan import yang dibawa oleh kapal tanker lalu di alirkan ke SPM
untuk dialirkan lagi ke tangki timbun Lawe-Lawe sebanyak 6000MB/bln. Tangki timbun
yang ada di Balikapapan dan tangki timbun yang ada di Lawe-:Lawe kemudian dialirkan
melalui pipa ke Kilang RU V Balikpapan.
3.3.4 Strategi Produk/Jasa
Produk-produk di PT PERTAMINA Refinery Unit V Balikapapan yang sifatnya umum
akan dimaksimalkan untuk kebutuhan rakyat banyak. Produk yang bersifat umum ini jalur
distribusinya sesuai dengan jalur distribusi yang ada. Contoh transportasinya yaitu kapal.
Produk umum yang seperti premium, kerosin, pertamax, solar, dan lain-lain dalam
pemasarannya tidak ada strategi khusus. Sedangkan produk khusus sesuai dengan demand
atau permintaan konsumen. Salah satu contoh produk khusus di PT PERTAMINA RU V
yaitu SF-05 (Smooth Fluid) yaitu produk untuk Fluida campuran lumpur untuk pengeboran
minyak. Konsumennya yaitu PSC (Production Sharing Contract). Strategi produk/jasanya
yaitu melaksanakan pengenalan produk, melakukan uji laboraturium oleh Baker Huger
untuk sumur Vico, setelah uji laboraturium selesai lalu dilakukan uji lapangan.

3.4 Sistem Informasi Manajemen
Sistem Informasi Manajemen yang ada di PT PERTAMINA RU V Balikapapan
menggunakan intranet yaitu sistem online yang hanya bisa diakses di RU V Balikpapan.
Jaringan ini bisa digunakan untuk melihat informasi tentang RU V, seperti visi dan misi,
41

sejarah perusahaan, mengupload laporan-laporan rencana kegiatan, dan lain-lain. Pada
gambar 3.5 adalah contoh gambar halaman web RU V.

Gambar 3.5 Tampilan Halaman Utama Website PT. Pertamina (Persero) RU V
Balikpapan
Sistem Informasi Manajemen yang ada di PT PERTAMINA RU V Balikapapan selain
intranet ada juga MySAP, PTP ( Procurement To Pay ), O2E ( Online Owner Estimasi ),
dan juga IRES ( Integrated Recommendation System ). Adapun penjelasannya antara lain :
a. MySAP yaitu software yang dipakai untuk memanagementkan perusahaan.
b. PTP ( Procurement To Pay ) yaitu system yang berbasis web yang kegunaannya untuk
pembuatan PO ( Purchasing Order ), Penerimaan Servis, Public Relation dan masih
banyak lagi.
c. O2E ( Online Owner Estimasi ) yaitu sistem yang berbasis web yang sudah disiapkan
oleh Planner dan mendapatkan persetujuan pejabat terkait masih berpotensi hilang sifat
kerahasiannya karena didalam proses administrasi dan deliverynya masih sangat terbuka
untuk terjadi kebocoran informasi. Oleh karena itu kondisi yang diharapkan system
pembuatan rekap OE (hasil dari proses estimasi) berikut proses approvalnya dibuat
secara elektronik disertai sistem sekuriti yang ketat, sehingga keamanan informasi OE
menjadi lebih terjaga sejak saat pembuatan hingga proses pelelangan (comply tehadap
GCG). Gambar 4 ini adalah contoh gambar halaman web O2E.

42


Gambar. 3.6 Tampilan Halaman Website Online Owner Estimasi (O2E)

d. IRES ( Integrated Recommendation System ) yaitu sistem yang berbasis web yang
kegunaannya untuk membuat rekomendasi. Misalnya data-data rekomendasi yang
dibuat oleh Stat.Eng ada di IRES.





BAB IV
TUGAS KHUSUS
4.1 Latar Belakang Masalah
Industri pada saat ini sangatlah bermacam-macam dengan kapasitas yang berbeda-beda
pula. Kegiatan industri sendiri adalah mengolah suatu input yang diproses lalu
menghasilkan sebuah output. Dalam mengolah sebuah input tentunya memerlukan sumber
daya untuk menjalankan proses produksinya. Sumber daya sendiri dapat berasal dari alam
dan manusianya. Sumber daya alam maupun manusia yang berkualitas akan memberikan
hasil yang baik pada output kegiatan sebuah produksi.
Untuk kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) yang baik ditunjang oleh beberapa
faktor internal dan eksternalnya. SDM disini merupakan operator yang menjalankan proses
produksi. Untuk faktor internal ada dari dalam diri SDM, misalnya softskill, kecerdasan,
sifat dan lainnya. Sedangkan faktor eksternal dapat dilihat dari kondisi lingkungan dimana
tempat tinggalnya, kondisi tempat kerja dan masih banyak yang lainnya. Hal ini berkaitan
juga dengan kesehatan dan keselamatan kerja di perusahaan dimana operator bekerja. Baik
tidaknya angka produktivitas sebuah perusahaan dapat berawal dari tingkat kepedulian
perusahaan terhadap kesehatan dan keselamatan kerja pekerjanya dalam hal ini
operatornya. Akan tetapi dalam kenyataannya masih banyak perusahaan yang kurang
memperhatikan tentang kesehatan dan keselamatan kerja para pekerjanya. Kecelakaan-
kecelakaan kerja sendiri lah yang mengingatkan para petinggi perusahaan untuk lebih
meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan dan keselamatan kerja para pekerjanya.
Langkah untuk pencegahan terjadinya kecelakaan kerja sangatlah beragam.
Mengidentifikasi resiko-resiko pekerjaan yang dilakukan dan pengendalian bahaya-bahaya
yang ada secara tepat merupakan contoh beberapa cara pencegahan terjadinya kecelakaan
kerja. Hal tersebut menjadikan pengendalian resiko kerja secara cepat dan tepat menjadi
sangat penting.
PT. Pertamina RU V Balikpapan merupakan sebuah perusahaan minyak kelas dunia
yang memproduksi 260.000 barel/hari. Kegiatan produksi dengan menggunakan mesin-
44

mesin besar dan kondisi lingkungan yang cukup luas memerlukan tenaga kerja yang besar
dengan tingkat intelegensi pekerja yang besar juga. Dengan kapasitas produksi yang sangat
banyak mengakibatkan kegiatan produksi yang dilaksanakan memberikan resiko-resiko
pekerjaan yang tinggi. Begitu pula dengan bahaya-bahaya yang dapat mengancam
kesehatan dan keselamatan kerja para pekerjanya. Paparan hazard yang setiap hari
dihadapi oleh para pekerja dan lingkungan sekitar pabrik harus diperhatikan dengan baik.
Salah satu unit yang ada di PT. Pertamina RU V Balikpapan ini adalah Utilities dan
Power Plant. Unit ini sendiri adalah unit yang menyediakan tenaga listrik, tenaga uap, air
pendingin, air bersih, bahan bakar cair/gas, angin instrumen (udara bertekanan), dan lain-
lain. Utilities merupakan jantung bagi proses produksi yang dilakukan di PT. Pertamina
RU V Balikpapan. Di unit ini terdapat bermacam-macam resiko pekerjaan dari rendah
hingga menyebabkan fatality/kematian. Tingkat resiko ini yang harus dimanajemen dengan
baik oleh perusahaan untuk mengurangi resiko kerja yang dapat terjadi.
Didalam unit Utilities ini, terdapat suatu alat atau instrument yang merupakan salah
satu yang terpenting dari jalannya aktifitas fungsi dan produksi di unit ini yaitu Heat
Exchanger dan Kondensor. Kedua alat atau bagian ini memiliki bentuk yang tidak jauh
berbeda antara satu sama lain dan memiliki ukuran yang relatif besar. Selain itu kedua alat
ini biasanya terletak pada ketinggian diatas 180cm dan juga menghasilkan suhu
temperature yang tinggi.
Didalam setiap kegiatan rutin pembersihan, kedua bagian ini juga ikut dilakukan
pembersihan. Pembersihan yang dilakukan biasanya dengan menurunkan kedua bagian ini.
Dilihat dari ukuran dan suhu yang tinggi serta tempat alat ini terpasang, maka penanganan
yang dilakukan untuk kegiatan pembersihan juga harus ketat. Dengan tujuan agar tidak
terjadi kesalahan ataupun kejadian yang tidak diinginkan, para pekerja harus dapat
mengetahui dan memahami potensi-potensi bahaya yang ada.

45

4.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian yang dilakukan adalah
a. Bagaimana resiko-resiko yang terdapat dari pekerjaan pembersihan unit Heat
Exchanger atau kondensor?
b. Bagaimana implementasi metode Risk Assessment pada setiap resiko pekerjaan
pembersihan unit Heat Exchanger atau Kondensor?
c. Bagaimanakategori tingkat resiko dari suatu pekerjaan pembersihan unit Heat
Exchanger atau Kondensor?
d. Bagaimana Rekomendasi yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan
kerja?

4.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian yang telah dilakukan adalah
a. Menganalisa resiko-resiko yang terdapat dari pekerjaan pembersihan unit Heat
Exchanger atau kondensor?
b. Pengimplementasian metode Risk Assessment pada setiap resiko pekerjaan pembersihan
unit Heat Exchanger atau Kondensor?
c. Pengkategorian tingkat resiko dari suatu pekerjaan pembersihan unit Heat Exchanger
atau Kondensor?
d. Memberikan Rekomendasi yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya
kecelakaan kerja?

4.4 Batasan Masalah
Batasan-batasan masalah dalam penelitian ini adalah
a. Pengambilan data hanya berfokus pada lingkungan kerja, resiko kerja, kegiatan kerja
harian dan alat pelindung diri yang digunakan.
b. Pengamatan dilakukan pada pekerjaan pembersihan Heat Exchanger dan Kondensor di
area Utilities dan Power Plant PT. Pertamina RU V Balikpapan.

46

4.5 Landasan Teori
4.5.1. Tenaga Kerja
Menurut Aris Ananta dan Tjiptoherjanto (1990), tenaga kerja adalah sebagian dari
keseluruhan penduduk yang secara potensial dapat menghasilkan barang dan jasa. Dengan
kata lain, tenaga kerja adalah bagian penduduk yang dapat menghasilkan barang dan jasa
bila ada permintaan akan barang dan jasa tersebut. Sedangkan menurut Payaman
Simanjuntak (2001), tenaga kerja mencakup penduduk yang sudah dan sedang bekerja,
sedang mencari pekerjaan dan yang melakukan kegiatan lain seperti bersekolah dan
mengurus rumah tangga. Pencari kerja, bersekolah dan mengurus rumah tangga, walaupun
tidak bekerja, mereka dianggap secara fisik mampu dan sewaktu-waktu dapat ikut bekerja.
Tenaga kerja terdiri dari angkata kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja adalah
bagian dari tenaga kerja yang ingin dan yang benar-benar menghasilkan barang dan jasa
(BPS,2008). Angkatan kerja terdiri dari:
1. Golongan yang bekerja.
2. Golongan yang menganggur dan mencari kerja.
Sedangkan kelompok yang bukan angkatan kerja terdiri dari:
1. Golongan yang bersekolah.
2. Golongan yang mengurus rumah tangga.
3. Golongan lain-lain atau yang menerima pendapatan.
Angkatan kerja yang digolongkan bekerja (BPS, 2008) adalah:
1. Mereka yang selama seminggu sebelum pencacahan melakukan pekerjaan dengan
maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan
yang lamanya bekerja paling sedikit satu jam selama seminggu yang lalu.
2. Mereka yang selama seminggu sebelum pencacahan tidak melakukan pekerjaan atau
bekerja kurang dari satu jam adalah:
a. Pekerja tetap, pegawai-pegawai pemerintah atau swasta yang sedang tidak masuk
kerja karena cuti, sakit, mogok, mangkir ataupun perusahaan menghentikan kegiatan
sementara.
b. Petani-petani yang mengusahakan tanah pertanian yang tidak bekerja karena
menunggu hujan untuk menggarap sawah.
47

c. Orang-orang yang bekerja di bidang keahlian seperti dokter, tukang cukur, dalang,
dan lain-lain.
Angkatan kerja yang digolongkan menganggur dan sedang mencari pekerjaan
(BPS, 2007):
1. Mereka yang belum pernah bekerja pada saat sedang berusaha mendapatkan pekerjaan.
2. Mereka yang pernah bekerja pada saat pencacahan, sedang menganggur dan berusaha
mencari pekerjaan.
3. Mereka yang dibebastugaskan dan sedang berusaha mendapatkan pekerjaan.

4.5.2. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Kesehatan dan keselamatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin
keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya
dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan
makmur (Mangkunegara, 2002). Sedangkan menurut Mathis dan Jackson (2002)
menyatakan bahwa keselamatan adalah merujuk pada perlindungan terhadap kesejahteraan
fisik seseorang terhadap cidera yang terkait dengan pekerjaan. Kesehatan adalah merujuk
pada kondisi umum fisik, mental dan stabilitas emosi secara umum. Untuk tujuan
kesehatan dan keselamtan kerja sendiri menurut Mangkunegara (2002) adalah :
- Agar setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja baik secara
fisik, sosial dan psikologi.
- Agar setiap perlengkapan dan perlatan kerja yang digunakan sebaik-baiknya dan
seselektif mungkin.
- Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.
- Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi pegawai.
- Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja dan partisipasi kerja.
- Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau kondisi
kerja.
- Agar setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja.

48

4.5.3. Alat Pelindung Diri
Di dalam dunia industri merupakan salah satu sektor lapangan kerja tertinggi yang sering
terjadinya kecelakan kerja. Oleh sebab itu, untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja di
industri diperlukan beberapa Alat Pelindung Diri (APD) yang disediakan bagi tenaga kerja.
Alat Pelindung Diri (APD) adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan
untuk melindungi seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh
dari potensi bahaya di tempat kerja.
Berikut ini uraian jenis-jenis Alat Pelindung Diri (APD) yang biasanya digunakan di
dunia industri beserta fungsinya.
a. Safety Helmet
Safety helmet berfungsi sebagai pelindung kepala dari benda yang bisa mengenai kepala
secara langsung.
b. Safety Belt
Safety belt berfungsi sebagai pelindung diri ketika pekerja bekerja/berada di atas
ketinggian.
c. Safety Shoes
Safety shoes berfungsi untuk mencegah kecelakaan fatal yang menimpa kaki karena
benda tajam atau berat, benda panas, cairan kimia dan sebagainya.
d. Sepatu Karet
Sepatu karet (sepatu boot) adalah sepatu yang didesain khusus untuk pekerja yang
berada di area basah (becek atau berlumpur). Kebanyakan sepatu karet di lapisi dengan
metal untuk melindungi kaki dari benda tajam atau berat, benda panas, cairan kimia,
dsb.
e. Sarung Tangan
Berfungsi sebagai alat pelindung tangan pada saat bekerja di tempat atau situasi yang
dapat mengakibatkan cedera tangan.
f. Masker (Respirator)
Berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di tempat dengan kualitas
udara buruk (misal berdebu, beracun, dsb).
g. Cover All
Berfungsi sebagai baju kerja pelindung untuk melindungi pekerja dari ancaman bahaya
dengan tingkat resiko rendah sampai sedang.
49

h. Kaca Mata Pengaman (Safety Glasses)
Berfungsi sebagai pelindung mata ketika bekerja (misalnya mengelas).
i. Penutup Telinga (Ear Plug)
Berfungsi sebagai pelindung telinga pada saat bekerja di tempat yang bising.
j. Pelindung Wajah (Face Shield)
Berfungsi sebagai pelindung wajah dari percikan benda asing saat bekerja (misal
pekerjaan menggerinda).
k. Pelampung
Pelampung berfungsi melindungi pengguna yang bekerja di atas air atau dipermukaan
air agar terhindar dari bahaya tenggelam dan atau mengatur keterapungan (buoyancy)
pengguna agar dapat berada pada posisi tenggelam (negative buoyant) atau melayang
(neutral buoyant) di dalam air.
Dan masih banyak alat pelindung diri lainnya.

4.5.4. Risk Assessment
Resiko adalah kemungkinan yang dapat diukur dari suatu kejadian yang menimbulkan
bahaya terhadap kehidupan, kesehatan, harta benda atau lingkungan (Majid, A. 2005).
Penilaian resiko (Risk Assessment) merupakan suatu cara atau metode untuk mengevaluasi
dan menentukan tingkat resiko berdasarkan hasil identifikasi bahaya yang telah dilakukan.
Penilaian resiko adalah proses mengukur kemungkinan yang dapat terjadi dari suatu
kegiatan dan besarnya kemungkinan yang dapat terjadi dari suatu kegiatan dan besarnya
kemungkinan terjadi efek yang merugikan (Keselamatan, kesehatan, ekologi atau financial)
selama periode waktu tertentu (Kolluru, 1996). Tujuan dari penilaian resiko ini adalah
untuk untuk melihat dan memisahkan antara resiko kecil dan resiko besar sehingga kita
tahu mana resiko yang dapat ditoleransi dan mana resiko yang membutuhkan perbaikan.
Metode dalm menentukan penilaian resiko ada 3 cara, yaitu analisa kualitatif, analisa
semi kuantitatif dan analisa kuantitatif.
1. Analisa kualitatif
Analisa kualitatif menggunakan kalimat atau bahasa untuk mendeskripsikan keterkaitan
dari konsekuensi yang berpotensi dan kemungkinan seberapa sering konsekuensi
tersebut akan terjadi. Skala ini dapat diadaptasi untuk mengatur keadaan dan perbedaan
50

deskripsi boleh digunakan untuk resiko yang berbeda pula. Analisa kualitatif boleh
digunakan untuk:
- Sebagai kegiatan penyaringan awal untuk mengidentifikasi resiko yang membutuhkan
analisa lebih detail.
- Dimana data numeric atau sumbernya tidak cocok untuk analisa kualitatif. Analisa
kualitatif harus diinformasikan oleh informasi factual dan data harus juga tersedia.
2. Analisa semi-kuantitatif
Dalam analisa semi kuantitatif, skala kualitatif seperti yang dideskripsikan diatas adalah
memberikan nilai. Tujuannya adalah untuk menghasilkan skala rangking yang lebih
besar dari biasanya yang dicapai dalam analisa kualitatif, tidak untuk menyarankan nilai
yang realistis untuk resiko seperti percobaan dalam analisa kuantitatif. Bagaimanapun,
sejak nilai dialokasikan pada masing-masing deskripsi bukan berarti keterkaitan dari
konsekuensi atau kemungkinan terjadi hubungan yang akurat/tepat, nilai tersebut harus
dikombinasikan menggunakan rumus yang diijinkan oleh batasan dari jenis skala yang
digunakan.
Metode ini mengkombinasikan antara angka yang bersifat subjektif pada
kemungkinan dan dampak dengan rumus matematika yang menghasilkan tingkat resiko.
Metode semi kuantitaif berguna untuk mengidentifikasi dan memberikan rating dari
suatu kejadian yang berpotensi untuk menimbulkan konsekuensi yang parahseperti
kerusakan peralatan, cidera pada manusia, gangguan terhadap bisnis dan lain-lain.
Untuk penilaian resiko dilakukan dengan mengkombinasikan/perkalian antara tingkat
kemungkinan (likelihood/probability) dengan tingkat keparahan (severity). Dalam
menentukan tingkatan tersebut dapat digambarkan pada beberapa tabel berikut:
Tabel 4.1 Nilai tingkat kemungkinan
Likelihood/Probability Rating Deskripsi
Frequent 5 Selalu terjadi
Probable 4 Sering terjadi
Occasional 3 Kadang-kadang dapat terjadi
Unlikely 2 Mungkin dapat terjadi
Improbable 1 Sangat jarang terjadi


51

Tabel 4.2 Nilai tingkat keparahan
Severity Rating Deskripsi
Catastrophic 5
Meninggal dunia, cacat permanen/ serius,
kerusakan lingkungan yang parah, kebocoran
B3, kerugian finansial yang sangat besar,
biaya pengobatan > 50 juta.
Major 4
Hilang hari kerja, cacat permanen/ sebagian,
kerusakan lingkungan yang sedang, kerugian
finansial yang besar, biaya pengobatan < 50
juta.
Moderate/
Serious
3
Membutuhkan perawatan medis,
terganggunya pekerjaan, kerugian finansial
cukup besar, perlu bantuan pihak luar, biaya
pengobatan < 10 juta.
Minor 2
Penanganan P3K, tidak terlalu memerlukan
bantuan dari luar, biaya finansial sedang,
biaya pengobatan < 1 juta
Negligible 1
Tidak mengganggu proses pekerjaan, tidak
ada cidera/ luka, kerugian financial kecil,
biaya pengobatan < 100 ribu.

Setelah didapatkan nilai kemungkinan terjadinya insiden atau kerugian dan
didapatkan nilai dari tingkat keparahan yang terjadi dari suatu kejadian kemudian kiteria
penilaian resiko dapat digambarkan pada tabel berikut.
Tabel 4.3 Skala tingkatan resiko
Risk Rank Deskripsi
17 25 Extreme High Risk Risiko Sangat Tinggi
10 16 High Risk Risiko Tinggi
5 9 Medium Risk Risiko Sedang
1 4 Low Risk Risiko Rendah


52

3. Analisa kuantitatif
Analisa kuantitatif menggunakan penilaian angka. Untuk keduanya, yaitu konsekuensi
dan kemungkinan menggunakan data dari sumber yang bervariasi. Kualitas dari analisa
berdasar pada ketepatan dan kelengkapan dari penilaian angka dan validitas model yang
digunakan.
Konsekuensi bisa ditentukan dengan memodelkan hasil dari suatu kejadian atau
kronologi kejadian, atau dengan extrapolais dari studi percobaan atau data masa lalu.
Konsekuensi bisa diekspresikan dalam criteria yang menimpa manusia. Dalam kasus
yang sama lebih dari satu nilai angka dibutuhkan untuk mengspesifikasi pada waktu
yang berbeda, tempat, kelompok atau situasi.

4.5.5. Bahaya (Hazard)
Definisi bahaya menurut Majid A. pada tahun 2005 adalah potensi yang menimbulkan
bahaya terhadap kehidupan kesehatan, harta benda atau lingkungan. Berikut ini beberapa
jenis atau macam hazard yang sering dijumpai pada lingkungan kerja antara lain :
1. Physical Hazard
Untuk bahaya ini yang termasuk didalamnya adalah suhu, tekanan, getaran,
pencahayaan, radiasi dan kebisingan. Berikut ini tabel nilai ambang batas untuk
kebisingan di tempat kerja.
2. Chemical Hazard
Untuk bahaya ini bersumber dari bahan-bahan yang bersifat kimiadari bahan-bahan
yang digunakan selama proses produksi. Yang termasuk dalam bahaya ini contohnya
toksisitas bahan kimia, daya ledak bahan kimia, bahan kimia yang mudah terbakar.
3. Biological Hazard
Yang termasu kedalam kategori bahay ini adalah virus, jamur, bakteri, tanaman,
binatang yang dapat menginfeksi atau memberikan reaksi negative kepada manusianya.
4. Psychological Hazard
Gangguan psikologis atau kejiwaan seseorang diakibatkan oleh adanya tekanan atau
intervensi yang terjadi didalam lingkungan kerjanya. Sehingga dapat mengakibatkan
gangguan terhadap fisik misalnya tekanan darah naik.

53

5. Ergonomic Hazard
Gangguan ini dapat bersifat fatal dikarenakan beban kerja yang diterima oleh tubuh
pekerja tidak sesuai dengan kekuatan yang dimiliki oleh pekerja bisa juga diakibatkan
oleh posisi bekerja yang kurang baik saat bekerja. Sehingga dapat mengakibatkan patah
tulang dan lain sebagainya (Siswowardjojo, 2003).

4.6 Metode Penelitian
Dalam penyusunan laporan kerja praktek yang baik dan benar diperlukan suatu data dan
informasi yang mendukung serta mempunyai nilai kebenaran yang tinggi. Dengan
demikian metode yang digunakan dalam penyususnan laporan kerja praktikan, yaitu :
a. Observasi
Dalam metode ini peneliti melakukan pengamatan dan terjun langsung ke
lapangan/lokasi kerja peneliti. Dalam hal ini di PT. Pertamina RU V Balikpapan pada
pekerjaan pembersihan Heat Exchanger dan Kondensor di area Utilities dan Power.
b. Wawancara
Dalam metode ini peneliti mengajukan beberapa pertanyaan terkait pengumpulan data.
Pertanyan-pertanyaan diajukan kepada operator yang bekerja dilapangan langsung yang
biasanya bekerja pada pekerjaan pembersihan Heat Exchanger dan Kondensor di area
Utilities dan Power.

4.7 Hasil dan Pembahasan
4.7.1 Pengumpulan Data
Setelah melakukan beberapa hari pengamatan di lapangan secara langsung dan
mengajukan beberapa pertanyaan kepada operator dan pekerja pada pekerjaan pembersihan
Heat Exchanger dan Kondensor di area Utilities dan Power Plant, didapatkan data sebagai
berikut :

54


Tabel 4.4 Identifikasi kegiatan dan resiko pekerjaan
Kegiatan Pekerjaan Resiko Dari Pekerjaan
Tahap persiapan dan pengamanan:
-Ijin kerja (SIKA dan JSA)
- Material dan Alat kerja serta
- pengamanan area kerja
Checklist terlewat / tidak terisi
Kejatuhan material / tool
Gas dan Liquid Berbahaya
Radiasi panas
Terjatuh dari ketinggian
Terjadi Flash/Kebakaran/Ledakan
Tertimpa Material/Equipment/Tools
Terpeleset / tersandung
Pemasangan Scaffolding / perancah
Terjatuh dari ketinggian
Terpeleset / tersandung
Tertimpa Material/Equipment/Tools
Tangan terjepit dan/ terpukul
Scafollding roboh karena tidak kuat menahan
beban
Pemasangan Sorokan
Terjatuh dari ketinggian
Terpeleset / tersandung
Tertimpa Material/Equipment/Tools
Gas dan Liquid Berbahaya
Terkena semburuan liquid
Jari tangan terjepit dan atau terpukul
Terjadi Flash/Kebakaran/Ledakan
Membuka baut-baut cover, channel
cover, floating head
Terjatuh dari ketinggian
Terpeleset / tersandung
Tertimpa Material/Equipment/Tools
Gas dan Liquid Berbahaya
Terkena semburuan liquid
Jari tangan terjepit dan atau terpukul
Mengangkat, mencabut, dan
menurunkan cover, channel cover,
floating head and tube bundle
(Forklift, Crane)
Sling putus dan barang terjatuh
Chainblock / crane tidak kuat menahan beban
Material yang diangkat membentur equipment lain
Mengangkat, membawa,
menurunkan tube bundle ke tempat
cleaning (Mobil Trailer)
Sling putus dan barang terjatuh
Chainblock / crane tidak kuat menahan beban
Material yang diangkat membentur equipment lain
Membuka / memasang isolasi
Terpapar debu / iritasi mata
Gangguan Pernapasan
Tangan tergores dan/ terluka
Terjatuh dari ketinggian

55

Kegiatan Pekerjaan
Resiko Dari Pekerjaan
Cleaning shell, floating head,
channel, channel cover, shell cover
and tube bundle menggunakan
water jet
Mata terkena minyak
Gangguan pernapasan
Terpeleset / tersandung
Tertimpa Material/Equipment/Tools
Terkena water jet
Penggerindaan (jika diperlukan) Terkena percikan gram dan batu gerinda pecah
Tersengat aliran listrik
Pengelasan (jika diperlukan)
Luka Bakar Ringan
Terkena panas api las dan mata terpapar sinar las
yang menyilaukan
Tersengat aliran listrik
Memasang dan membuka test ring
Terjatuh dari ketinggian
Terpeleset / tersandung
Tertimpa Material/Equipment/Tools
Gas dan Liquid Berbahaya
Jari tangan terjepit dan atau terpukul
Terjadi Flash/Kebakaran/Ledakan
Test tube side dan shell side
Terkena percikan air
Terjatuh dari ketinggian
Terpeleset / tersandung
Tertimpa Material/Equipment/Tools
Gas dan Liquid Berbahaya
Jari tangan terjepit dan atau terpukul
Terjadi Flash/Kebakaran/Ledakan
Pengecatan
Gangguan Pernapasan
Terjadi Flash/Kebakaran/Ledakan
Pemakaian material berbahan kimia dan mudah
terbakar
Terjatuh dari ketinggian
Terpeleset / tersandung
Tertimpa Material/Equipment/Tools
Pembersihan area kerja
Terjatuh dari ketinggian
Kejatuhan material / tool
Terpapar debu /iritasi mata
Terjepit

4.7.2 Pembahasan
Berdasarkan data pada tabel 4.4, dapat diketahui bahaya dan resiko pekerjaan yang muncul
pada saat kegiatan tersebut dilakukan. Setelah mengetahui bahaya dan resiko pekerjaan
yang akan muncul, dari data tersebut dilakukan penilaian terhadap resiko pekerjaannya.
56

Berikut ini tabel penilaian resiko yang dampaknya langsung kepada operator dan
pekerjanya.
Tabel 4.5 Penilaian resiko pekerjaan
No Bahaya / Resiko Potensial
Probabilitas
terjadinya
kecelakaan
Tingkat
Keparahan
Total
Penilaian
1
Chainblock / crane tidak kuat
menahan beban
2 5 10
2 Checklist terlewat / tidak terisi 2 4 8
3 Gangguan Pernapasan 2 3 6
4 Gas dan Liquid Berbahaya 2 3 6
5 Jari tangan terjepit dan atau terpukul 3 2 6
6 Kejatuhan material / tool 3 3 9
7 Luka Bakar Ringan 2 3 6
8 Mata terkena minyak 2 3 6
9
Material yang diangkat membentur
equipment lain
2 3 6
10
Pemakaian material berbahan kimia
dan mudah terbakar
4 2 8
11 Radiasi panas 4 2 8
12
Scafollding roboh karena tidak kuat
menahan beban
2 5 10
13 Sling putus dan barang terjatuh 2 5 10
Tangan tergores dan/ terluka 3 1 3
14 Tangan terjepit dan/ terpukul 3 1 3
15 Terjadi Flash/Kebakaran/Ledakan 1 5 5
16 Terjatuh dari ketinggian 2 5 10
17
Terkena panas api las dan mata
terpapar sinar las yang menyilaukan
4 2 8
18 Terkena percikan air 4 1 4
19
Terkena percikan gram dan batu
gerinda pecah
4 1 4
20 Terkena semburuan liquid 3 3 9
21 Terkena water jet 2 2 4
22 Terpapar debu / iritasi mata 4 1 4
23 Terpeleset / tersandung 3 2 6
24 Tersengat aliran listrik 2 3 6
25 Tertimpa Material/Equipment/Tools 2 3 6
Setelah melakukan penilaian terhadap resiko pekerjaan pada pekerjaan pembersihan
Heat Exchanger dan Kondensor di area Utilities dan Power, pekerjaan-pekerjaan tersebut
dapat dikategorikan kedalam skala tingkatan resiko. Pada umumnya skala resiko
didapatkan dari hasil perkalian antara nilai Probabilitas terjadinya kecelakaan dengan
57

tingkat keparahan. Hasil dari perkalian tersebut disesuaikan dengan table skala tingkat
resiko. Dari hasil table tersebut dapat dilihat pekerjaan-pekerjaan yang telah tergolongkan
kedalam skala tingkat resikonya.
Berikut ini tabel pengkategorian resiko pekerjaan yang ada pada pekerjaan
pembersihan Heat Exchanger dan Kondensor di area Utilities dan Power.
Tabel 4.6 Pengkategorian resiko pekerjaan
Klasifikasi Resiko Resiko Pekerjaan
Low Risk
Tangan tergores dan/ terluka
Tangan terjepit dan/ terpukul
Terkena percikan air
Terkena percikan gram dan batu gerinda pecah
Terkena water jet
Terpapar debu / iritasi mata
Medium Risk
Gas dan Liquid Hydrocarbon
Gangguan Pernapasan
Jari tangan terjepit dan atau terpukul
Kejatuhan material / tool
Luka Bakar
Mata terkena minyak
Material yang diangkat membentur equipment lain
Pemakaian material berbahan kimia dan mudah terbakar
Radiasi panas
Terjadi flash, kebakaran, ledakan
Terkena panas api las dan mata terpapar sinar las yang menyilaukan
Terkena semburuan liquid
Terpeleset / tersandung
Tersengat aliran listrik
Tertimpa
High Risk
Chainblock / crane tidak kuat menahan beban
Scafollding roboh karena tidak kuat menahan beban
Sling putus dan barang terjatuh
Terjatuh dari ketinggian
Suatu pekerjaan yang dinilai biasa-biasa saja dan hanya memiliki dampak resiko
yang kecil dapat digolongkan ke dalam pekerjaan yang berisko menengah, tinggi, bahkan
sangat tinggi jika diiringi dengan seberapa besar tingkat kejadian tersebut terulang. Jika
terulang secara terus menerus, maka pekerjaan yang semulanya dianggap beresiko kecil ini
juga dapat digolongkan ke pekerjaan yang beresiko tinggi dan begitu juga sebaliknya.
58

Suatu nilai resiko pekerjaan tidak dilihat hanya dari tingkat akibat dari pekerjaan itu
sendiri, namun juga dilihat dari seberapa sering kejadia pekerjaan bersesiko itu terjadi.
Perlunya penilaian dari para ahli yang berpengalaman juga banyak membantu dalam
pengelompokkan resiko pekerjaan. Setiap resiko pekerjaan harus ada penanganan-
penangannnya agar dapat meminimalisir akibat dari resiko pekerjaan yang ditimbulkan
Dari tabel 4.6 diketahui bahwa untuk tingkat resiko paling tinggi Chainblock / Crane
tidak kuat menahan beban, Scaffolding roboh karena tidak kuat menahan beban serta sling
putus dan barang terjatuh. Hal ini disebabkan alat Heat Exchanger dan kondensor ini
memiliki bobot yang berat dan berada di ketinggian diatas 180 cm, dimana ketinggian ini
merupakan batas ketinggian untuk wilayah area bawah. Sedangkan untuk kedua alat ini
berada di atas batas keitnggian tersebut
Untuk penangan resiko kerja yang tergolong memiliki resiko harus lebih
diperhatikan karena pekerjaan yang beresiko tinggi cenderung akan mengakibatkan
kerugian yang besar, baik dari segi fisik, material, maupun finansial sehingga dapat
mengganggu jalannya proses dari suatu persusahaan.
Chainblock atau crane yang tidak kuat menahan beban, scaffolding roboh karena
tidak kuat menahan beban, dan sling yang putus sehingga menyebabkan barang yang
diangkut terjatuh. Merupakan suatu kejadian dimana suatu alat yang digunakan tidak
sesuai dengan kapasitasnya. Alat yang digunakan tidak dapat dipaksakan untuk melakukan
pekerjaan yang melebihi kapasitas daya angkatnya. Setiap pekerjaan harusnya diteliti
terlebih dahulu spesifikasi-spesifikasi dari pekerjaan tersebut. Berbat beban yang diangkat
harus disesuaikan dengan alat pengangkatnya. Jika kapasitas dari alat pengangkat kurang
dari kapasitas beban makan hal-hal seperti ini sudah dapat dipastikan dapat terjadi.
Dalam memilih alat hendakanya bobot maksimal yang dapat diangkat adalah
maksimal 95 persen dari kapasitas angkat alat tersebut. 5% lainnya diisi untuk antisipasi
jika ada pengurangan daya tahan dan sebagaimya. Sebagai contohnya, crane dengan
kapasitas 100 Ton hendaknya dipakai untuk mengangkat benda denan maksimal berat 95
Ton.
Selain itu perawatan alat angkat atau penyangga harusnya dilakukan secara berkala.
Hal ini dapat mengantisipasi jika ada alat yang sudah memiliki daya tahan yang berkurang
dan dapat ditentukan apakah alat tersebut layak atau tidak untuk digunakan. Dilain hal,
kebiasaan untuk tidak membuang langsung alat yang sudah melewati masa pakainya juga
59

dapat berdampak buruk kedepannya. Sering kali orang mengesampingkan jika alat sudah
melebihi masa pakainya namun masih terlihat bagus masih tetap digunakan. Namun pada
perusahaan besar seperti PT. Pertamina Persero hal seperti ini sudah hampir tidak ada
terjadi lagi.
Didasarkan dari hasil perhitungan tersebut maka diperlukannya penangan terhadap
pengendalian untuk masing-masing resiko pekerjaan tersebut. Adapun penangan yang
disarankan untuk menghindari terjadinya kejadian yang tidak diinginkan dapat dilihat pada
table berikut:
Tabel 4.7 Penanganan Resiko
Resiko Pekerjaan Rekomendasi
Checklist terlewat / tidak terisi
Lakukan Control Checklist
Chainblock / crane tidak kuat
menahan beban
Pastikan alat pengangkat kuat mengangkat beban
Jika menggunakan crane pastikan operator ahli dan
bersertifikat
Gangguan Pernapasan
Gunakan PPE berupa masker / respirator
Gas dan Liquid Berbahaya
Lakukan gas test dan masker serta sarung tangan
Jari tangan terjepit dan atau
terpukul Gunakan Sarung Tangan yang sesuai spesifikasi
Kejatuhan material / tool Memposisikan diri di posisi yang aman dan gunakan
PPE berupa Helmet, Cover All, dan Safety Shoes
Luka Bakar Ringan Gunakan PPE berupa jacket / aorin dibagian dada dan
lengan
Mata terkena minyak
Gunakan PPE berupa kacamata Safety / Google
Material yang diangkat
membentur equipment lain
Awasi rigger pada saat pengangkatan
Setting crane pada permukaan tanah yang rata
Tempatkan orang untuk mengawasi material yang
diangkat
Pemakaian material berbahan
kimia dan mudah terbakar
Hindarkan percikan api
Siapakan APAR
Radiasi panas
Pemberian tagging
Scafollding roboh karena tidak
kuat menahan beban
Pastikan semua clamp terpasang dengan kuat
Ikat semua perlatan / kunci dengan tambang kecol
Ikat lantai kerja / papa dengan kawat ikat
Tidak menyimpan material yang tidak terpakai di atas
Sling putus dan barang terjatuh
Gunakan sling tidak melebihi beban maximum
Pastikan kondisi sling layak pakai
Tangan tergores dan/ terluka Gunakan PPE berupa sarung tangan yang sesuai
spesifikasi
Tangan terjepit dan/ terpukul
Gunakan Sarung Tangan yang sesuai spesifikasi

60

Resiko Pekerjaan Rekomendasi
Terjadi
Flash/Kebakaran/Ledakan Sediakan APAR dan selang air
Terjatuh dari ketinggian
Gunakan Fullbody Harness
Terkena panas api las dan mata
terpapar sinar las yang
menyilaukan
Gunakan PPE berupa Face Protector / Face Seal
dengan kaca berwarna gelap (masker las)
Terkena percikan air Gunakan PPE berupa Face Protector / Face Seal atau
kacamata safety
Terkena percikan gram dan batu
gerinda pecah
Gunakan PPE berupa Face Protector / Face Seal
Gunakan batu gerinda yang layak pakai dan kapasitas
RPM batu gerinda yang sesuai dnegan RPM mesin
gerinda
Gunakan PPE berupa sarung tangan yang sesuai
spesifikasi
Terkena semburuan liquid
Gunakan PPE Goggle / Kacamata Safety
Terkena water jet
Gunakan jas hujan dan safety boots
Gunakan PPE berupa sarung tangan yang sesuai
spesifikasi
Terpapar debu / iritasi mata Gunakan PPE berupa masker / respirator serta
kacamata safety
Terpeleset / tersandung Gunakan PPE berupa Safety Shoes yang anti slip dan
beri tanda peringatan, eliminasi bahaya terpeleset
Tersengat aliran listrik Pastikan seluruh sambungan kabel tersambung dengan
baik
Gunakan kabel power standar industry
Pasang kabel Grounding pada mesin penyuplai listrik
Gunakan PPE berupa sarung tangan yang sesuai
spesifikasi
Tertimpa
Material/Equipment/Tools Gunakan PPE berupa Safety Shoes dan Helmet





BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengumpulan data, analisa dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Resiko pekerjaan dapat dianalisa dari urutan pelaksaan pekerjaan
2. Data resiko pekerjaan dikonversikan kedalam bentuk skala angka dan dilakukan
perhitungan dengan metode Risk Assessment sehingga didapatkan presentasi resiko
kerja: 24% Low Risk, 60% Medium Risk, 16% High Risk
3. Didapatkan hasil bahwa pekerjaan ini tergolong pekerjaan beresiko tinggi.
4. Diberikan saran kepada pihak pekerja dan perusahaan agar dapat mengurangi
potensi terjadinya kecelakaan kerja.
5. Teori yang didapatkan dibangku kuliah dapat diaplikasikan pada pekerjaan
pembersihan Heat Exchanger dan Kondensor di area Utilities dan Power Plant.
6. Implementasi penanganan resiko menggunakan metode risk assessment di PT.
Pertamina RU VBalikpapan pada pekerjaan pembersihan Heat Exchanger dan
Kondensor di area Utilities dan Power Plant dapat dilaksanakan.
7. Resiko pekerjaan terbesar pada pekerjaan pembersihan Heat Exchanger dan
Kondensor di area Utilities dan Power Plant adalah gangguan dari kualitas dan
daya tahan alat penyangga dan alat angkut.
8. Pekerjaan yang beresiko dapat diantisapasi dengan rekomendasi-rekomendasi yang
telah diberikan.
9. Implementasi penangan resiko menggunakan meotde risk assessment sudah
dilakukan dengan baik, namun ada masih ada beberapa poin yang masih
dilewatkan.

62

5.2 Saran
Dari hasil yang didapatkan maka peneliti memberikan saran sebagai berikut :
1. Pengadaan evaluasi terhadap penggunaan APD khususnya APD tentang kebisingan
pada pekerjaan pembersihan Heat Exchanger dan Kondensor di area Utilities dan
Power Plant dan APD standar pada umumnya di PT. Pertamina RU V Balikpapan
dilakukan secara rutin.
2. Penggunaan wajib APD sesuai dengan ketentuan bagi operator yang berada di
lapangan sehingga dapat mengurangi frekuensi kecelakaan atau gangguan akibat
kerja
3. Memberi peringatan pada pekerja yang tidak menggunakan APD standar pada
umumnya.
4. Perawatan terhadap papan-papan peringatan bahaya agar pekerja lebih
memperhatikan peringatan tersebut.
5. Memberikan sanksi yang keras pada setiap pelanggaran tentang Keselamatan,
Keamanan dan Keselamatan Kerja.
6. Setiap pekerjaan harus dilakukan oleh pekerja yang berkualifikasi untuk
melakukan pekerjaan tersebut.
7. Jika pekerjaan dilakukan oleh pihak luar atau perusahaan lain, maka peraturan dari
pihak luar atau perusahaan lain tersebut harus mengikuti aturan kerja yang ada di
PT. Pertamina (Persero) RU V Balikapapan.
8. Pihak luar atau perusahaan lain yang mengerjakan pekerjaan, khususnya
maintenance di PT. Pertamina (Persero) RU V Balikapapan harus diuji terlebih
dahulu dan disesuaikan dengan tingkat resiko kerja yang telah diketahui.
9. Hendaknya di PT. Pertamina (Persero) RU V Balikapapan memiliki kontrak yang
tetap dengan pihak luar atau perusahaan lain untuk mengerjakan pekerjaan di PT.
Pertamina (Persero) RU V Balikapapan, khususnya bagian maintenance agar
kualitas pekerjaan dapat dijaga dan dapat lebih mudah dipercaya.




DAFTAR PUSTAKA
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-48/MENLH/11/1996
Tentang Baku Tingkat Kebisingan
Imami, R.Z. 2013. Implementasi Hearing Conservation Program (HCP) Di Area Utilities
05 PT Pertamina (Persero) Refinery Unit IV Cilacap Periode Juli- Agustus 2013. Laporan
magang Universitas Indonesia : 45-48, 55-58, 61-63.
Pertamina. 2013. Visi dan Misi. (online) :
http://www.pertamina.com/vision_and_mission.aspx (24 September 2013)
Pertamina. 2013. Visi dan Misi.(online) : http://www.pertamina-up4.co.id/profil.aspx
(24 September 2013)
Media Proyek .2013. Jenis-jenis Alat Pelindung Diri. (online) :
http://www.mediaproyek.com/2013/07/jenis-jenis-alat-pelindung-diri-apd.html (23
Sepetember 2013)
Ari Setia Budi Blog. 2013. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja. (online) :
http://arisetiabudiblog.wordpress.com/2013/06/20/kesehatan-dan-keselamatan-
kerja-k3-definisi-indikator-penyebab-dan-tujuan-penerapan-keselatan-dan-
kesehatan-kerja (28 September 2013)
Oxy Prima Setiya Blog. 2013. Pengertian Tenaga Kerja. (online) :
http://oxyprimasetiya.blogspot.com/2012/02/pengertian-tenaga-kerja.html (23
September 2013)
Unstrat. 2013. Undang-Undang K3. (online) : http://hukum.unsrat.ac.id/uu/uu_1_70.htm
(23 September 2013)