Anda di halaman 1dari 17

SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP)

Mata Kuliah : Keperawatan Jiwa


Kode MK/ SKS : / 2 SKS
Waktu Pertemuan : 1 x 45 menit
Pertemuan Ke : 1

A. Kompetensi
1. Standar Kompetensi
Setelah menempuh mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan dapat melaksanakan asuhan
keperawatan pada pasien dengan gangguan jiwa.
2. Kompetensi Dasar
Mahasiswa dapat menjelaskan konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
sensori persepsi halusinasi.

B. Materi Pembelajaran
Konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sensori persepsi halusinasi.

C. Uraian Materi Pembelajaran
1. Pengertian Halusinasi
2. Psikodinamika
3. Rentang Respon Halusinasi
4. Faktor Penyebab Halusinasi
5. Manifestasi Klinis
6. Penatalaksanaan
7. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Halusinasi
a. Pengkajian
b. Diagnosa Keperawatan
c. Rencana Tindakan Keperawatan
d. Implementasi Keperawatan
e. Evaluasi
8. Asuhan Keperawatan Pada Keluarga Pasien Halusinasi

D. Strategi Pembelajaran
1. Ceramah
2. Diskusi dan Tanya Jawab
3. Penugasan







E. Kegiatan Belajar Mengajar

Tahap
Kegiatan
Kegiatan Pengajar Kegiatan Mahasiswa Media
Pendahuluan
5 menit
1. Perkenalan
2. Menjelaskan tujuan MK
dan aturan-aturan
pembelajaran
3. Menjelaskan manfaat
pembelajaran
4. Menjelaskan standar
kompetensi dan kompetensi
dasar

1. Merespon perkenalan
dari dosen
2. Memperhatikan dan
bertanya tentang tujuan
dan aturan pembelajaran
3. Memperhatikan dan
bertanya
1. Whiteboard
2. Spidol
3. Laptop
4. LCD
5. File materi

Penyajian
30 menit
1. Menjelaskan dan
mendiskusikan Konsep
Askep Halusinasi:
a. Pengertian Halusinasi
b. Psikodinamika
c. Rentang Respon
Halusinasi
d. Faktor Penyebab
Halusinasi
e. Manifestasi Klinis
f. Penatalaksanaan
g. Asuhan Keperawatan
Pada Pasien Halusinasi
Pengkajian
Diagnosa Kep.
Rencana Tindakan
Keperawatan
Implementasi Kep.
Evaluasi
h. Askep Pada Keluarga
Pasien Halusinasi
2. Memberikan kesempatan
mahasiswa bertanya
3. Memberikan umpan balik

1. Memperhatikan,
bertanya dan diskusi
tentang materi yang
dibahas
2. Bertanya tentang hal-hal
yang perlu
3. Memperhatikan dan
merespon arahan dosen

1. Whiteboard
2. Spidol
3. Laptop
4. LCD
5. File materi
Penutup
10 menit
1. Meminta tanggapan dari
mahasiswa
2. Menyimpulkan materi
kuliah
3. Memberikan tugas rumah
kepada mahasiswa

1. Memberikan tanggapan
atau komentar
2. Membuat kesimpulan
atau rangkuman
3. Melaksanakan tugas di
rumah
1. Whiteboard
2. Spidol
3. Laptop
4. LCD
5. File materi






F. Penilaian
1. Prosedur Penilaian
a. Teknik : Tes
b. Bentuk : Tes Tertulis
c. Ragam : Uraian

2. Soal-soal
a. Sebutkan penyebab halusinasi
b. Sebutkan rentang respon halusinasi
c. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis terapi somatik pada pasien halusinasi
d. Sebutkan strategi pelaksanaan (SP) tindakan keperawatan pada pasien halusinasi
e. Sebutkan 4 cara mengontrol halusinasi pada pasien


G. Referensi
Keliat. 2008. Perawatan kesehatan jiwa. Jakarta: Erlangga
Maramis. 2004. Catatan ilmu kedokteran. Surabaya: Airlangga University Press
Sunaryo. 2004. Psikologi untuk keperawatan. Jakarta: EGC




















MATERI PEMBELAJARAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
GANGGUAN SENSORI PERSEPSI HALUSINASI

1. Pengertian Halusinasi
Halusinasi adalah keadaan ketika atau kelompok mengalami suatu perubahan
dalam jumlah, pola atau interprestasi stimulus yang datang (Carpenito 2007). Halusinasi
adalah persepsi sensorik suatu objek gambaran dan pikiran yang sering terjadi tanpa
adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan
(pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan, dan pengecapan).
Halusinasi merupakan salah satu gejala gangguan jiwa pada individu yang
ditandai dengan perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara,
penglihatan, pengecapan, perabaan dan penghiduan (Keliat, 2008). Halusinasi merupakan
gangguan persepsi dimana pasien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi.
Keyakinan tentang halusinasi adalah sejauh mana pasien itu yakin bahwa halusinasi
merupakan kejadian yang benar, umpamanya mengetahui bahwa hal itu tidak benar, ragu-
ragu/ yakin sekali bahwa hal itu benar adanya (Maramis, 2004).
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan halusinasi adalah ketidakmampuan
pasien menilai dan merespon pada realitas pasien tidak dapat membedakan rangsangan
internal dan eksternal, tidak dapat membedakan lamunan dan kenyataan, pasien tidak
mampu memberi respon secara akurat sehingga tanpa perilaku yang sukar
dimengerti dan mungkin menakutkan.
2. Psikodinamika
Ada beberapa penyebab seseorang yang mengalami halusinasi. Menurut
Nanda (2005) sebagai berikut penurunan sensori persepsi, ketidakseimbangan biokimia,
kurangnya stimulus lingkungan, stress psikologi penurunan/ hambatan neurotransmitter,
kurangnya rangsangan saat perkembangan, keseimbangan biokimia untuk sensori yang
keluar, keseimbangan elektrolit. Halusinasi mungkin disebabkan oleh banyak faktor, tetapi
kemungkinan penyebab terjadinya halusinasi pada pasien dengan masalah psikiatrik
adalah karena adanya stres psikologi (psychological stress) atau kurangnya stimulus dari
lingkungan (insufficient environmental stimull).



Pada pasien dengan masalah psikiatrik, stres psikologi bisa menyebabkan pasien
berhalusinasi. Stres ini mungkin berasal dari dalam dirinya sendiri misalnya pasien
berfikir negatif atau menyalahkan dirinya sendiri, atau stres yang didapatkan dari luar
yang bisa berasal dari hubungan yang tidak menyenangkan dengan keluarga, teman atau
bahkan petugas kesehatan. Apabila pasien berada di rumah sakit tentunya pasien
berinteraksi dengan petugas kesehatan. Sikap verbal dan nonverbal petugas yang tidak
terapeutik bisa menyebabkan pasien merasa terancam dan menyebabkan halusinasi
semakin kuat dan sering muncul. Lingkungan di rumah sakit yang baru dan asing juga
bisa memicu pasien untuk merasa cemas dan tertekan, dan apabila hal ini tidak
diantisipasi maka mungkin akan memicu halusinasi menjadi semakin kuat.
Kurangnya stimulus lingkungan juga akan menjadi penyebab terjadinya halusinasi.
Pada umumnya pasien dengan masalah halusinasi diawali dengan perasaan sedih/ stres
karena masalah tertentu dan kemudian pasien menyendiri dalam waktu yang cukup lama.
Pada saat ini pasien berada dalam kondisi dimana stimulus dari lingkungan sangat kurang
sementara stimulus dalam dirinya semakin kuat. Apabila hal ini terjadi dalam waktu lama
maka pasien akan mulai berhalusinasi. Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien dengan
halusinasi adalah resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan, kesulitan
mengakses dan menggunakan ingatan yang telah disimpan, kerusakan ingatan jangka
pendek atau jangka panjang.

3. Rentang Respon Halusinasi





Keterangan Gambar :
a. Respon adaptif adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial
budaya yang berlaku. Dengan kata lain, individu tersebut dalam batas normal jika
menghadapi suatu masalah akan dapat memecahkan masalah tersebut. Respon adaptif
berupa :
1). Pikiran logis adalah pikiran yang mengarah pada kenyataan.
2). Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan.
3). Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul dari hati sesuai
dengan pengalaman.
4). Perilaku sesuai adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalam batas
kewajaran.
5). Hubungan sosial adalah proses suatu interaksi dengan orang lain dan
lingkungan.
b. Respon Psikososial
Respon psikososial, antara lain :
1). Proses pikir terganggu adalah proses pikir yang menimbulkan
kekacauan/mengalami gangguan.
2). Ilusi adalah interprestasi atau penilaian yang salah tentang penerapan yang
sungguh terjadi (objek nyata), karena rangsangan panca indera.
3). Emosi berlebihan atau berkurang.
4). Perilaku tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku yang melebihi batas kewajaran.
5). Menarik diri yaitu percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain atau
hubungan dengan orang lain.
c. Respon Maladaptif
Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah yang
menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan lingkungannya. Respon maladaptif
yang sering ditemukan meliputi :
1). Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh dipertahankan walaupun
tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan kenyataan sosial.
2). Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau persepsi eksternal yang
tidak realita atau tidak ada.



3). Kerusakan proses emosi ialah perubahan sesuatu yang timbul dari hati.
4). Perilaku tidak terorganisir merupakan suatu perilaku yang tidak teratur.
5). Isolasi sosial adalah kondisi kesendirian yang dialami oleh individu dan diterima
sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu keadaan yang negatif
mengancam.

4. Penyebab Halusinasi
a. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi yang mungkin mengakibatkan gangguan orientasi realita
adalah aspek biologis, psikologis dan sosial (Stuart dan Laraia, 2005).
1). Biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak atau susunan saraf pusat dapat
menimbulkan gangguan orientasi realitas (halusinasi) seperti hambatan
perkembangan otak khususnya kortek frontal, temporal dan limbik. Gejala yang
mungkin muncul adalah hambatan dalam belajar, bicara, daya ingat dan mungkin
muncul perilaku menarik diri atau kekerasan.
2). Psikologis
Keluarga, pengasuh dari lingkungan pasien sangat mempengaruhi respon
psikologis dari pasien. Sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan
orientasi realita adalah penolakan dan kekerasan dalam kehidupan pasien.
Penolakan dapat dirasakan dari ibu, pengasuh atau teman yang bersikap cemas,
tidak sensitif atau bahkan terlalu melindungi. Pola asuh pada usia kanak-kanak
yang tidak adekuat misalnya, tidak ada kasih sayang, diwarnai kekerasan, ada
kekerasan emosi, konflik dan kekerasan dalam keluarga (pertengkaran rumah
tangga) merupakan lingkungan resiko gangguan orientasi realitas.
3). Sosial
Kehidupan sosial budaya dapat pula mempengaruhi gangguan orientasi
realitas, seperti kemiskinan, konflik sosial budaya (peperangan, kerusakan,
kerawanan) kehidupan yang terisolasi disertai stres.






b. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi dapat berasal dari pasien, lingkungan atau interaksi dengan
orang lain, stressor juga bisa menjadi salah satu penyebab. Gangguan orientasi realita
halusinasi yang meliputi biologis dan stressor lingkungan.
1). Biologis
Stressor Biologis yang berhubungan dengan respon neurobiologik yang
maladaptif termasuk gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur
proses informasi dan abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang
mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi rangsangan.
2). Stressor Lingkungan
Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap stress yang
berinteraksi dengan stressor lingkungan untuk menetapkan terjadinya gangguan
perilaku.
5. Manifestasi Klinis
Menurut Stuart dan Laraia (2005) tahap-tahap halusinasi karakteristik dan perilaku
yang ditampilkan oleh pasien yang mengalami halusinasi sebagai berikut:
a. Halusinasi penglihatan
Adapun perilaku yang dapat teramati:
1). Melirikkan mata kekiri dan kekanan seperti mencari siapa atau apa yang sedang
dibicarakan.
2). Mendengarkan dengan penuh perhatian pada orang lain yang sedang tidak
berbicara atau pada benda seperti mebel.
3). Terlihat percakapan dengan benda mati atau dengan seseorang yang tidak tampak.
4). Menggerak-gerakan mulut seperti sedang berbicara atau sedang menjawab suara.
b. Halusinasi pendengaran
Adapun perilaku yang dapat teramati:
1). Tiba-tiba tampak tanggap, ketakutan atau ditakuti oleh orang lain, benda mati atau
stimulus yang tidak tampak.
2). Tiba-tiba berlari ke ruangan lain.
c. Halusinasi penciuman
Adapun perilaku yang dapat teramati:



1). Hidung yang dikerutkan seperti, mencium bau yang tidak enak.
2). Mencium bau tubuh.
3). Mencium bau udara ketika sedang berjalan kearah orang lain.
4). Merespon terhadap bau dengan panik seperti mencium bau api atau darah.
5). Melempar selimut atau menuang air pada orang lain seakan sedang memadamkan
api.
d. Halusinasi perabaan
Adapun perilaku yang dapat teramati:
1). Sering menggaruk-garuk permukaan kulit
2). Mengatakan ada serangga di permukaan kulit
3). Merasa seperti tersengat listrik.
e. Halusinasi pengecapan
Adapun perilaku yang dapat teramati:
1). Meludahkan makanan atau minuman
2). Menolak untuk makan, minum atau minum obat
3). Tiba-tiba meninggalkan meja makan.
6. Penatalaksanaan
a. Psikofarmaka
Psikofarmaka adalah therapi dengan menggunakan obat, tujuannya untuk
menghilangkan gejala gangguan jiwa, adapun yang tergolong dalam pengobatan
psikofarmaka adalah :
1). Clopromazine (CPZ)
Indikasinya untuk sindrom psikosis yaitu berdaya berat dalam kemampuan
menilai realita, kesadaran diri terganggu, daya ingat normal, sosial dan titik
terganggu berdaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari, tidak mampu bekerja,
hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin.
Mekanisme kerjanya adalah memblokade dopamine pada reseptor sinap
diotak khususnya system ekstra pyramida.
Efek sampingnya adalah gangguan otonomi, mulut kering, kesulitan dalam
miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intra okuler meninggi,



gangguan irama jantung. Kontra indikasinya penyakit hati, kelainan jantung,
febris, ketergantungan obat, penyakit sistem syaraf pusat, gangguan kesadaran.
2). Thrihexyfenidil (THP)
Indikasinya adalah segala penyakit parkinson, termasuk pasca ensefalitis
dan idiopatik, sindrom parkinson akibat obat misalnya reserfina dan senoliazyne.
Mekanisme kerja : sinergis dan kinidine, obat anti depresan trisiclin dan
anti kolinergik lainnya.
Efek samping : mulut kering, pandangan kabur, pusing, mual, muntah,
bingung, konstipasi, takikardi dilatasi, ginjeksial letensi urin.
Kontra indikasi : hipersensitif terhadap trihexyphenidil, glukoma sudut
sempit, psikosis berat, psikoneurosis, hipertropi prostase dan obstruksi saluran
cerna.
3). Halloperidol (HLP)
Indikasinya: berbahaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam
fungsi netral serta dalam fungsi kehidupan sehari-hari.
Mekanisme kerja: obat anti psikosis dalam memblokade dopamine pada
reseptor pasca sinoptik neuron di otak, khususnya system limbic dan system ekstra
pyramidal.
Efek samping: sedasi dan inhabisi psimotor gangguan otonomik yaitu
mulut kering, kesulitan dalam miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur,
tekanan intra okuler meninggi, gangguan irama jantung.
Kontra indikasi: penyakit hati, epilepsy, kelainan jantung, febris,
ketergantungan obat, penyakit system saraf pusat, gangguan kesadaran.
b. Terapi Somatik
Terapi Somatik merupakan suatu terapi yang dilakukan langsung mengenai
tubuh. Adapun yang termasuk terapi somatik adalah :
1). Elektro Convulsif Therapy (ECT)
Merupakan pengobatan secara fisik menggunakan arus listrik dengan
kekuatan 75-100 volt. Cara kerja ini belum diketahui secara jelas, namun dapat
dikatakan bahwa terapi ini dapat memperpendek lamanya serangan skizofrenia dan
dapat mempermudah kontak dengan orang lain.



2). Pengekangan atau pengikatan
Pengekangan fisik menggunakan pengekangan mekanik, seperti manset
untuk pergelangan tangan dan pergelangan kaki serta sprei pengekangan dimana
pasien dapat di imobilisasi dengan membalutnya. Cara ini dilakukan pada pasien
halusinasi yang mulai menunjukkan perilaku kekerasan diantaranya: marah-marah,
mengamuk.
3). Isolasi
Isolasi dapat menempatkan pasien dalam suatu ruangan dimana pasien
tidak dapat keluar dari ruangan tersebut sesuai kehendaknya. Cara ini dilakukan
pada pasien halusinasi yang telah melakukan perilaku kekerasan seperti memukul
orang lain/ teman, merusak lingkungan dan memecahkan barang-barang yang ada
didekatnya.
c. Terapi Okupasi
Terapi Okupasi merupakan suatu ilmu dan seni untuk mencurahkan partisipasi
seseorang dalam melaksanakan aktivitas atau tugas yang sengaja dipilih dengan
maksud untuk memperbaiki, memperkuat dan meningkatkan harga diri seseorang.
Terapi Okupasi menggunakan pekerjaan atau kegiatan sebagai media pelaksana.
7. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Halusinasi
a. Pengkajian
1). Mengkaji Jenis Halusinasi
Ada beberapa jenis halusinasi pada pasien gangguan jiwa. Kira-kira 70%
halusinasi yang dialami oleh pasien gangguan jiwa adalah halusinasi dengar atau
suara, 20% halusinasi penglihatan, dan 10% halusinasi penghidu, pengecap,
perabaan, senestik dan kinestik. Mengkaji halusinasi dapat dilakukan dengan
mengevaluasi perilaku pasien dan menanyakan secara verbal apa yang sedang
dialami oleh pasien.
2). Mengkaji Isi Halusinasi
Ini dapat dikaji dengan menanyakan suara siapa yang didengar, berkata apabila
halusinasi yang dialami adalah halusinasi dengar. Atau apa bentuk bayangan yang
dilihat oleh pasien, bila jenis halusinasinya adalah halusinasi penglihatan, bau apa



yang tercium untuk halusinasi penghidu, rasa apa yang dikecap untuk halusinasi
pengecapan, atau merasakan apa dipermukaan tubuh bila halusinasi perabaan.
3). Mengkaji Waktu, Frekuensi, dan Situasi Munculnya Halusinasi
Perawat juga perlu mengkaji waktu, frekuensi, dan situasi munculnya halusinasi
yang dialami oleh pasien. Hal ini dilakukan untuk menentukan intervensi khusus
pada waktu terjadinya halusinasi, menghindari situasi yang menyebabkan
munculnya halusinasi. Sehingga pasien tidak larut dengan halusinasinya. Dengan
mengetahui frekuensi terjadinya halusinasi dapat direncanakan frekuensi tindakan
untuk pencegahan terjadinya halusinasi. Informasi ini penting untuk
mengidentifikasi pencetus halusinasi dan menentukan jika pasien perlu
diperhatikan saat mengalami halusinasi. Ini dapat dikaji dengan menanyakan
kepada pasien kapan pengalaman halusinasi muncul, berapa kali sehari, seminggu.
Bila mungkin pasien diminta menjelaskan kapan persisnya waktu terjadi halusinasi
tersebut.
4). Mengkaji Respon Terhadap Halusinasi
Untuk menentukan sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi pasien dapat dikaji
dengan menanyakan apa yang dilakukan oleh pasien saat mengalami pengalaman
halusinasi. Apakah pasien masih dapat mengontrol stimulus halusinasi atau sudah
tidak berdaya lagi terhadap halusinasi.
b. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan pengkajian diatas, maka dapat disusun pohon masalah sebagai
berikut:
1). Pohon Masalah
Resiko Perilaku Kekerasan


Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi Core Problem


Isolasi Sosial




2). Diagnosa Keperawatan
Dari pohon masalah diatas, dapat disimpulkan bahwa diagnosa
keperawatan yang terdapat pada klien dengan gangguan sensori persepsi halusinasi
adalah sebagai berikut :
a). Resiko perilaku kekerasan
b). Gangguan sensori persepsi halusinasi
c). Isolasi sosial
c. Rencana Tindakan Keperawatan
1). Tujuan
a). Pasien dapat mengenali halusinasi yang dialaminya.
b). Pasien dapat mengontrol halusinasinya.
c). Pasien dapat mengikuti program pengobatan secara optimal.
2). Rencana Tindakan Perawatan
Adapun rencana tindakan perawatan pada pasien dengan halusinasi sebagai
berikut:
a). Melatih pasien mengenali halusinasi yang dialami
Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah perawat berdiskusi
dengan pasien tentang isi halusinasi (apa yang didengar/ dilihat), waktu terjadi
halusinasi, frekuensi terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan
halusinasi timbul dan respon pasien saat halusinasi timbul.
b). Melatih pasien mengontrol halusinasi
Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah perawat melatih
pasien empat cara yang sudah terbukti dapat mengendalikan halusinasi, yaitu :
(1). Menghardik halusinasi
Menghardik halusinasi adalah upaya mengendalikan diri terhadap
halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang muncul. Pasien dilatih
untuk mengatakan Tidak Terhadap Halusinasi yang muncul atau tidak
mempedulikan halusinasinya. Kalau ini dapat dilakukan, pasien akan
mampu mengendalikan diri dan tidak mengikuti halusinasi yang muncul.
Mungkin halusinasi tetap ada namun dengan kemampuan ini pasien tidak



akan larut untuk menuruti apa yang ada dalam halusinasinya. Tahapan
tindakan menghardik halusinasi meliputi:
(a). Menjelaskan cara menghardik halusinasi;
(b). Memperagakan cara menghardik;
(c). Meminta pasien memperagakan ulang;
(d). Memantau penerapan cara ini, menguatkan perilaku pasien.
(2). Bercakap-cakap dengan orang lain
Untuk mengontrol halusinasi dapat juga dengan bercakap-cakap
dengan orang lain. Ketika pasien bercakap-cakap dengan orang lain maka
terjadi distraksi; fokus perhatian pasien akan beralih dari halusinasi ke
percakapan yang dilakukan dengan orang lain tersebut. Sehingga salah
satu cara yang efektif untuk mengontrol halusinasi adalah dengan
bercakap-cakap dengan orang lain.
(3). Melakukan aktivitas yang terjadwal
Untuk mengurangi risiko halusinasi muncul lagi adalah dengan
menyibukkan diri dengan aktivitas yang teratur. Dengan beraktivitas
secara terjadwal, pasien tidak akan mengalami banyak waktu luang sendiri
yang seringkali mencetuskan halusinasi. Untuk itu pasien yang mengalami
halusinasi bisa dibantu untuk mengatasi halusinasinya dengan cara
beraktivitas secara teratur dari bangun pagi sampai tidur malam, tujuh
hari dalam seminggu. Tahapan tindakannya sebagai berikut:
(a). Menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi
halusinasi;
(b). Mendiskusikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh pasien;
(c). Melatih pasien melakukan aktivitas;
(d). Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan aktivitas yang
telah dilatih;
(e). Upayakan pasien mempunyai aktivitas dari bangun pagi sampai tidur
malam, tujuh hari dalam seminggu;
(f). Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan;
(g). Memberikan penguatan terhadap perilaku pasien yang positif.



(4). Menggunakan obat secara teratur
Untuk mampu mengontrol halusinasi pasien juga harus dilatih
untuk menggunakan obat secara teratur sesuai dengan program. Pasien
gangguan jiwa yang dirawat di rumah seringkali mengalami putus obat
sehingga akibatnya pasien mengalami kekambuhan. Bila kekambuhan
terjadi maka untuk mencapai kondisi seperti semula akan lebih sulit.
Untuk itu pasien perlu dilatih menggunakan obat sesuai program dan
berkelanjutan. Berikut ini tindakan keperawatan agar pasien patuh obat:
(a). Jelaskan guna obat;
(b). Jelaskan akibat bila putus obat;
(c). Jelaskan cara mendapatkan obat/berobat.
d. Implementasi Keperawatan
Sebelum melaksanakan tindakan keperawatan yang sudah direncanakan.
perawat perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih sesuai dan
dibutuhkan pasien sesuai dengan kondisi saai ini (here and now). Perawat juga menilai
diri sendiri, apakah mempunyai kemampuan interpersonal, intelektual, tekhnikal
sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan. Dinilai kembali apakah aman bagi
pasien. Setelah semua tidak ada hambatan maka tindakan keperawatan boleh
dilaksanakan. Pada saat akan dilaksanakan tindakan keperawatan maka kontrak
dengan pasien dilaksanakan dengan menjelaskan apa yang akan dikerjakan dan peran
serta pasien yang diharapkan.
Adapun pelaksanaan keperawatan pasien dengan halusinasi disini pasien harus
mengenal jenis, isi, waktu dan frekwensi halusinasi, dan mengidentifikasi situasi yang
menimbulkan halusinasi dan mengidentifikasi respon pasien terhadap halusinasi.
Pelaksanaan keperawatan untuk keluarga adalah mendiskusikan masalah yang
dirasakan, menjelaskan pengertian, tanda dan gejala, jenis, dan beserta proses
terjadinya halusinasi dan juga menjelaskan cara-cara merawat pasien halusinasi.
Adapun prinsip tindakan keperawatan pada halusinasi adalah sebagai berikut:
1). Membina hubungan interpersonal saling percaya dengan cara mengekspresikan
perasaan secara terbuka dan jujur.



2). Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap observasi tingkah laku pasien
yang terkait dengan halusinasi.
3). Mengajarkan bagaimana cara mengontrol halusinasi dengan bantuan perawat.
4). Fokuskan pada gejala dan minta individu untuk menguraikan apa yang sedang
terjadi. Hal ini akan menolong individu untuk mengendalikan penyakitnya,
meminta bantuan dan diharapkan dapat mencegah halusinasi yang lebih kuat.
5). Katakan bahwa perawat percaya pasien mengalaminya (dengan nada bersahabat,
tanpa menuduh dan menghakimi) katakan bahwa ada pasien lain yang
mengalami hal yang sama, katakan bahwa perawat akan membantu.
6). Memberikan perhatian pada pasien dan memperhatikan kebutuhan dasar pasien
seperti makan dan minum, mandi dan berhias.
7). Bantu individu untuk menguraikan dan membandingkan halusinasi yang
sekarang dengan terakhir yang dialaminya.
8). Dorong individu untuk mengamati dan menguraikan pikiran, perasaan dan
tindakannya sekarang atau yang lalu berkaitan dengan halusinasi yang
dialaminya.
9). Bantu individu untuk mengidentifikasi apakah ada hubungan antara halusinasi
dengan kebutuhan yang mungkin tercermin.
10). Sarankan dan perkuat penggunaan hubungan interpersonal dalam pemenuhan
kebutuhan.
11). Identifikasi bagaimana gejala psikosis lain telah mempengaruhi kemampuan
individu untuk melaksanakan aktifitas hidup sehari-hari.
e. Evaluasi
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan
keperawatan pada pasien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon pasien
terhadap tindakan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi dua jenis yaitu
evaluasi proses atau formatif dilakukan dengan membandingkan respon pasien pada
tujuan umum dan tujuan khusus yang telah ditentukan. Adapun hasil yang diharapkan
dari tindakan keperawatan pada ganguan sensori persepsi halusinasi adalah sebagai
berikut: pasien dapat membina hubungan saling percaya, pasien dapat mengenal
halusinasi, pasien dapat mengontrol halusinasinya.



8. Asuhan Keperawatan Pada Keluarga Pasien
a. Tujuan
1). Keluarga dapat terlibat dalam perawatan klien dengan masalah halusinasi baik di
rumah sakit maupun di rumah.
2). Keluarga dapat menjadi sistem pendukung yang efektif untuk klien.
b. Rencana Tindakan
1). Bina hubungan saling percaya dengan keluarga klien;
2). Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar keluarga
klien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi. Tindakan yang harus anda
lakukan dalam rangka membina hubungan saling percaya dengan keluarga klien
adalah dengan :
a). Mengucapkan salam terapeutik
b). Berjabat tangan
c). Menjelaskan tujuan interaksi
d). Membuat kontrak topik, waktu dan tempat yang disetujui bersama.
3). Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat klien
4). Berikan pendidikan kesehatan tentang :
a). Pengertian halusinasi
b). Jenis halusinasi yang dialami klien
c). Tanda dan gejala halusinasi
d). Cara merawat klien dengan halusinasi.
5). Beri kesempatan kepada keluarga untuk mempraktekkan cara merawat klien
dengan halusinasi langsung kepada klien
6). Buat perencanaan pulang bersama keluarga.