Anda di halaman 1dari 7

PROSIDING

SEMINAR NASIONAL REKAYASA KIMIA DAN PROSES 2004


ISSN : 1411 - 4216
PELEBURAN PERAK DENGAN MENGGUNAKAN BAHAN
BAKAR BRIKET BATU BARA PADA
INDUSTRI KERAJINAN PERAK
Dwi Suheryanto dan Tri Haryanto
Peneliti pada Balai Besar Kerajinan dan Batik
Badan Penelitian dan Pengembangan Industri dan Perdagangan
Departemen Perindustrian dan Perdagangan
Jl. Kusumanegara No 7 Yogyakarta 55166, Telp. (0274) 546111, 546222, 546333
Fax (0274) 543582

Abstrak

Briket Batubara adalah hasil olah lanjut dari batubara yang cukup melimpah persediannya dan
merupakan bahan bakar alternatif untuk peleburan perak. Penggunaannya dalam proses
peleburan perak menggunakan tungku pelebur bentuk silindris dengan penyuapan angin
melalui blower. Panas yang dihasilkan dialirkan memutar sepanjang ruang tungku membentuk
putaran (cyclone) dan memanasi kowi pelebur. Temperatur yang dapat dicapai dari hasil
peleburan logam perak mencapai 1280C melebihi titik lebur (melting point) logam perak dan
menghabiskan briket batubara rata-rata 775,20 gram untuk melebur 1 kg logam perak atau
senilai Rp 1162,80,-.

Kata Kunci: briket batu-bara; perak; peleburan; titik lebur

Pendahuluan
Industri kerajinan perak banyak tersebar di daerah Indonesia, antara lain di D.I.Yogyakarta, Lamongan,
Bali dan Kendari, merupakan salah satu komoditi ekspor non migas yang cukup potensial. Dalam proses
peleburan logam, bahan bakar yang digunakan berbagai jenisnya disesuaikan dengan kondisi suatu daerah,
sistem peleburan dan konstruksi tungku yang digunakan umumnya masih menggunakan bahan bakar
komersial seperti: minyak tanah, arang kayu dan bahan bakar lainnya, bahkan ada beberapa perajin yang
menggunakan LPG. Kapasitas peleburan perak per hari rata-rata 1 kg perak dengan menghabiskan arang
kayu 1,5 kg. Berkaitan dengan program pemerintah untuk menggalakan dan memasyarakatkan pemakaian
briket batubara sebagai pengganti bahan bakar komersial, untuk sektor Industri sekitar 50 % beralih ke
batubara atau setara dengan 2,7 juta ton batubara, sedang untuk tahun berikutnya 100% atau setara dengan
8,9 juta ton batubara. Diperkirakan cadangan batubara di Indonesia sebagai bahan baku briket batubara
jumlahnya masih melimpah yaitu 34 miliar ton, dan diperkirakan akan habis dalam waktu 230 tahun,
sementara perkiraan kondisi cadangan bahan bakar minyak diperkirakan persediaannya paling lama untuk 22
tahun ke depan Tujuan penggunaan briket batubara di Indonesia (terutama di pulau Jawa) untuk mengurangi
ketergantungan pemakaian minyak tanah yang kian terbatas dan untuk mengurangi penebangan hutan secara
liar oleh penduduk yang memanfaatkan kayu sebagai bahan bakar /arang kayu.
Pendekatan
Briket Batu-bara
Pemanfaatan potensi batubara Indonesia yang cukup besar sudah saatnya dikembangkan. Salah satu
peluang dalam pemanfaatan batubara tersebut adalah sebagai bahan bakar, baik untuk keperluan rumah
tangga maupun untuk industri. Selama ini bahan bakar utama untuk rumah tangga di Indonesia adalah kayu,
BBM, gas dan arang kayu. Untuk masa yang akan datang jenis-jenis bahan bakar tersebut akan makin langka,
baik karena cadangan yang terbatas maupun konservasi vegetasi di Indonesia.
Pemanfaatan batubara dapat di bagi dalam 3 (tiga) jenis, yaitu sebagai bahan bakar langsung, bahan bakar tak
langsung dan bukan bahan bakar. Bahan bakar langsung, artinya batubara langsung dibakar setelah
mengalami speparasi, jadi pembakarannya masih dalam bentuk bongkahan, butiran atau dalam bentuk
serbuk, misalnya untuk penggunaan pada pemanasan ketel uap (boiler), industri semen, industri pembakaran
kapur, bata, genteng, kramik gerabah dan pande besi. Bahan bakar tak langsung artinya, batubara diubah
menjadi bentuk lain melalui proses, seperti gasifikasi, pencairan, karbonisasi, pembriketan, suspensi,
kemudian baru dipergunakan sebagai bahan bakar. Sedangkan batubara bukan sebagai bahan bakar, yaitu
dengan melalui berbagai proses sehingga dapat dipergunakan untuk bahan industri kimia antara lain sebagai
elektroda, reduktor dan bahan aktif.
JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK A-2-1
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
Batubara yang akhir-akhir ini dimasyarakatkan baik untuk rumah tangga maupun untuk industri kecil
merupakan bahan bakar batubara yang telah diolah yaitu berupa briket batubara (yang telah mengalami
proses karbonisasi dan pembriketan) mempunyai nilai kalori antara 4000 6300 k.kal./kg, sedangkan kalori
arang kayu berkisar 6300 7500 k.kal/kg. Proses karbonisasi bertujuan untuk menghilangkan unsur-unsur
yang terdapat pada batubara yang apabila dibakar akan membentuk asap dan akan mengganggu lingkungan.
Pembuatan Briket Semi Kokas Batubara bentuk Telur:
a. Bahan
- Batubara
Pada dasarnya semua jenis batu bara dapat dibuat briket tipe telur dan tipe silinder. Namun yang terbaik
untuk briket tipe telur sedapat mungkin menggunakan batubara dari prangkat sub-bituminus sampai
dengan semi antrasit.
Bahan Pengikat, terdiri dari:
Lempung, lempung yang digunakan adalah lempung yang liat, misalnya lempung yang biasa digunakan
untuk bahan baku pembuatan bata/genteng, kanji dan air.
b. Bagan Alir:
Zat Terbang
!
Batubara " Karbonisasi " Penggerusan
Semi Kokas !
Halus Pengayakan Kasar
(# 3 mm) ! (> 3mm)
Pencampuran
dengan bahan pengikat
(lempung, kanji, air)
!
Pembriketan
!
Pengeringan
(produk briket semi kokas)

Gambar I
Bagian Alir Pembuatan Briket Batubara

c. Bentuk dan Ukuran Briket Batubara Tipe Telur:
Briket tipe telur ada beberapa ukuran. Ukurannya bervariasi dengan lebar (diameter) 3 - 5 Cm dan tebal 2
3 Cm (lihat gambar 2).

3 -5 Cm
2 3 Cm
Gambar 2
Bentuk dan Ukuran Briket Batubara Tipe Telur

Kandungan dan Nilai Kalori Briket Batubara Tipe Telur:

Nilai Kalori Belerang Zat Terbang Air Lembab
6300 < 1,0 8 15 < 7,5




JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK A-2-2
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

d. Logam perak
Perak termasuk golongan logam mulia dengan simbul Ag ( Argentum), nomor atomnya 47 mempunyai
sifat-sifat sebagai berikut :
a. Sifak fisik
Berat jenis (BJ) : 10,5
Titik lebur : 961 C
Tahanan listrik pada 20 C : 1,59 $/cm
Kondusktifitas listrik : 108,4 5 I ACS
Warna : Putih mengkilap
Kerapatan (density) : 10,49 g/cm
Modulus elastisitas : 10,3 x 10 lb pern inch
b. Sifat mekanik
Kekutan tarik : 18.200 Psi
Kekerasan : 29 Brienel (25 VHN)
Elongasi : 54 %
Perak murni selain harga mahal juga sangat lunak, oleh karena itu untuk memperbaiki sifat mekanik
(kekerasan) sering dicampur dengan logam lain. Logam-logam-logam yang biasa dipadukan dengan
perak antara lain, tembaga, zeng, antimon, arsen dan emas. Kebanyakan perajin menggunakan
logam tembaga sabagai bahan pencampur. Paduan logam perak, tembaga dan zeng biasa dipakai
untuk membuat patri perak, kadar peraknya 10% 80 %, tembaga 15%-50% dan zeng 5%-40%.
Sehingga dapat diperoleh logam perak yang mempunyai kadar variasi, seperti,
Perak 925 adalah kadar perak minimum 925 per 1000 dan
Perak 800 adalah kadar perak minimum 800 per 1000
Dalam perdagangan dikenal 6 jenis perak yang diklasifikasi seperti pada tabel dibawah ini :

Tabel 1
Beberapa kadar perak dan nama dagang

No Kadar Perak Nama dagang Stempel
1 1000 (999) Perak murni 1000
2 925 995 Perak sterling 925
3 800 920 Perak kadar tinggi 800
4 600 795 Perak kadar biasa (std) 600
300 595 Perak kadar rendah 300
300 Buka perak -
5
6

e. Bentuk tungtku pelebur perak dengan bahan bakar briket batubara :

10 Cm 10 Cm










Pandangan samping
10 Cm
7
,
5

c
m

5

-

6

C
m

6
0

C
m

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK A-2-3
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG





5-6 cm


Pandangan Atas





10 cm

30 cm

50 cm

Gambar 3
Tungku Silindris Pelebur Perak
Metode Penelitian
Peleburan perak dengan mengunakan bahan bakar briket batubara type telur memakai tungku silindris
dengan bantuan blower sebagai penyuap angin/udara, dimana sekali peleburan perak dengan jumlah 250 gr.
Sistim peleburan dengan Sistim Sekali Lebur, Ganti Briket dan Sistim Penambahan Langsung
Pemakaian batu bara pada awal peleburan 2 kg, kemudian untuk penambahan peleburan berikutnya 1 kg.
Data-data yang diamati : waktu penyalaan awal, waktu peleburan, temperatur lebur (saat mencair),
pemakaian bahan bakar, sisa abu.

Pelaksanaan Penelitian
1. Bahan : - Briket semi kokas/batubara tipe telur
- Logam perak
2. Alat : - Kowi pelebur
- Alat pengaduk dan serok
- Blower keong
- Stop watch
- Timbangan analitis
- Alat pengukur panas
- Alat pengaman
- Tungku pelebur
- Tang penjepit kowi
- Cetakan
3. Tahapan Pengerjaan
a. Penyalaan Briket Batubara
Penyalaan awal briket batubara dapat dilakukan dengan menggunakan potongan kayu atau ranting
kering, sabut kelapa, arang kayu atau dengan briket penyulut. Briket penyulut dinyalakan terlebih
dahulu hingga timbul bara api, setelah bara api merata diseluruh bagian, letakkan briket batubara
diatas bara api tersebut sambil diberi penyuapan angin melalui blower hingga api merambat keseluruh
briket.
b. Proses Peleburan
Peleburan logam kuningan dan perak dilakukan pada tungku tahan api bentuk silindris dengan sistem
penyuapan angin melalui blower. Dalam percobaan dilakukan dengan dua cara, yaitu: cara sekali
melebur ganti briket dan peleburan sistem penambahan langsung (bahasa Jawa jog-jogan).
Pemakaian jumlah batubara untuk setiap kali peleburan 2 kg, akan tetapi untuk penambahan briket
batubara pada cara sistem tambah briket yaitu sebesar 1 kg untuk peleburan kedua dan seterusnya.
Jumlah pemakaian briket tersebut berdasarkan kapasitas ruang pada tungku peleburan.
JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK A-2-4
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Peleburan Logam Perak
Logam perak yang akan dilebur adalah perak campuran (perak 950), logam campurannya adalah
tembaga. Jumlah total logam perak untuk sekali peleburan 250 g. Untuk membakar briket batubara
perlu dibantu dengan briket penyulut yang berupa potongan-potongan kayu kecil yang diletakkan
disekeliling dasar tungku pelebur. Briket penyulut kemudian dibakar sambil diberi penyuapan angin
melalui bantuan blower. Setelah bahan penyulut terbakar merata, masukan kowi dan letakan diatas
dudukan, kemudian briket batubara diletakan disekeliling diatas bara api, sambil diberikan penyuapan
angin melalui blower. Setelah bara api menjalar kebriket batubara. Masukan logam perak kedalam
kowi, amati proses peleburan hingga logam perak mencair, kemudian dengan bantuan tang penjepit
panjang kowi dijepit dan diangkat, selanjutnya dituangkan kedalam cetakan. Briket batubara yang
masih membara diambil dengan penjepit dan dimatikan dengan cara dimasukan kedalam suatu
ruangan yang tertutup (untuk menghindari kontak dengan oksigen). Untuk selanjutnya dilakukan
percobaan peleburan perak menggunakan sistem penambahan bahan briket batu bara langsung, yaitu
setiap kali melebur ditambah briket batubara tanpa mengambil briket awal yang masih membara.
Setiap penambahan briket batubara jumlahnya tetap yaitu sebanyak 1 kg dan jumlah pengujian dan
jumlah pengujian keseluruhan 10 kali.

Hasil Penelitian dan Pembahasan
Tabel 2
Data Hasil peleburan Logam Perak dengan Briket Batu-bara
(Sistim Sekali Lebur, Ganti Briket)

No
Percobaan
Waktu
Penyalaan awal
Temperatur saat
paduan mencair ( C)
Total waktu
peleburan (detik)
1. 132 1276 777
2. 129 1277
3. 128 1281 563
130 1282 572
5. 130 589
6. 128 1281
7. 129 1283 571
8. 130 1281 568
1285 571
10. 574
Jumlah 1288
Rata-rata 128,8 1280,7

Tabel 3
Data Hasil Peleburan Logam Perak dengan Briket Batu-Bara (Sistim Penambahan Langsung)

Temperatur saat
penuangan ( C)
Total Waktu
Peleburan (detik)
Berat (g)
Penambahan
briket
Berat (g)
sisa briket *)
1269 714 2000
2.
576
4.
128
577
9. 127
125 1281
12807 5938
593,8
No
Percobaan
1.
1271 410 1000
3. 1273 397 1000
1265 392 1000
1266 389 1000
1265 383 1000
7. 1267 373 1000
8. 373 1000
9. 377 1000
373 1000
12670 4181
4.
5.
6.
1263
1269
10. 1262
Jumlah 11000
Rata-rata 1267,0 418,1 1100 7224
Jumlah pemakaian b.b.b selama peleburan = 11000-7224 = 3776 gr

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK A-2-5
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK A-2-6
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

dengan peyuapan udara melalui blower. Sistim ini memutarkan panas diseluruh ruang tungku (karena
bentuknya silindris) menyerupai putaran syclone, sehinga temperatur yang dapat dicapai dapat melebihi
Tabel 4
Data Penggunaan Briket Batubara dan Sisa Briket Hasil Peleburan Logam Perak

No.
Percobaan
Jml. briket
batubara
sebelum
peleburan (g)
Sisa briket setelah
peleburan (g)
Waktu pematian
bara briket batu
bara*) (menit)
Jumlah pemakaian
b.b.b selama
peleburan (g)
1. 2.000 985,16 76 1014,84
2. 2.000 1406,13 81 593,87
3. 2.000 1257,27 83 742,73
4. 2.000 1389,33 79 10,67
5. 2.000 1336,29 87 663,71
6. 2.000 1324,11 81 675,89
7. 2.000 1381,02 83 618,98
8. 2.000 1371,08 79 628,92
9. 2.000 1349,76 83 650,24
10. 2.000 1331,17 82 668,83
Jumlah 20.000 13131,32 814 6868,68
Rata-rata 2.000 1313,132 81,4 686,868

Keterangan
*). Bara briket batu bara dibiarkan dalam tungku pelebur yang tertutup.

Pembahasan
1. Penyalaan awal (Proses Penyulutan) dan pemadaman Briket Batubara
Pada saat proses penyulutan briket batubara yang perlu diperhatikan ialah saat penggunaan bahan bakar
penyulut. Bahan bakar penyulut harus diletakkan merata diseluruh permukaan bahan bakar briket batubara
serta penyalaannya harus terjadi secara merata. Pada percobaan, bahan penyulut yang digunakan adalah
potongan-potongan ranting kayu. Kemudian untuk mempercepat nyala bahan penyulut perlu diberikan
penyuapan angin melalui alat bantu yaitu blower. Penyuapan angin akan mempercepat penyalaan bahan
penyulut. Apabila bahan penyulut telah terbakar seluruhnya, letakkan briket batubara diatas bahan
penyulut yang telah menyala, dan diberi penyuapan angin.
Melihat konstruksi tungku pelebur yang berbentuk silindris, udara yang disuapkan akan berputar
disekeliling kowi dan putaran angin ini akan mempercepat nyalanya baru api keseluruh briket batubara.
Seperti terlihat pada tabel 2 peleburan logam perak, bahwa rata-rata untuk proses penyalaan awal
diperlukan waktu rata-rata 128,8 detik. Untuk proses pemadaman nyala briket batubara waktu yang
diperlukan tergantung kepada ada tidaknya udara yang terkontaminasi langsung terhadap nyala/bara briket.
Atas dasar tersebut pemadaman dilakukan pada tempat yang tertutup yang kemungkinan terjadinya kontak
dengan oksigen dari udara sama sekali tidak ada.
Pada percobaan, setelah peleburan selesai bara api briket batubara ditutup dengan abu, kemudian lubang
atas pada tungku pelebur ditutup dengan penutup. Seperti terlihat pada tabel 4 rata-rata waktu matinya
nyala/bara briket 81,4 menit.
2. Proses Peleburan Logam Perak
Dari hasil percobaan proses peleburan logam perak yang menggunakan bahan bakar briket batubara, maka
hasil yang dilakukan baik itu yang dilakukan dengan Sistim Sekali Lebur, Ganti Briket menghabiskan
686,868 g briket batubara (tabel 4) sedangkan Sistim Penambahan Langsung dengan peleburan total
sebanyak 2500 g menghabiskan briket batubara 3776 g (tabel 3) atau rata-rata untuk setiap peleburan 250
gr perak menghabiskan 377,6 g briket batubara.
Pada awal proses peleburan waktu total peleburan relatip cukup lama, dimana waktu peleburan perak awal
memerlukan waktu 777 detik (tabel 2) dengan pemakaian briket batubara 1014,84 g (tabel 4), hal ini
disebabkan karena pada awal peleburan kondisi kowi dan tungku masih dalam keadaan dingin, sehingga
waktu yang diperlukan relatip cukup lama dan berpengaruh terhadap pemakaian bahan bakar briket
batubara.
Temperatur yang dicapai baik pada saat paduan mencair maupun temperatur saat penuangan
menunjukan nilai rata-rata masing-masing 1280C dan 1267 C(tabel 2 dan 3), dimana kondisi temperatur
ini sudah melebihi titik lebur logam perak (961C) dan cukup aman untuk melakukan proses penuangan
kedalam cetak. Temperatur tersebut dapat dicapai karena menggunakan tungku silindris yang dibantu
titik lebur logam perak bahkan logam kuningan. Temperatur ini dapat ditingkat dengan penyuapan
udara/angin melalui blower yang lebih baik serta menghambat panas yang terbuang dengan menutup
sebagian permukaan atas tungku pelebur, serta abu yang dihasilkan dari proses pembakaran
dihilangkan/dipisahkan agar tidak menghambat lajunya panas.
3. Tinjauan Ekonomi
Proses peleburan perak yang menggunakan bahan bakar arang kayu yang biasa dilakukan perajin untuk
peleburan 1 kg menghabiskan 1,5 kg arang kayu ( harga 1 kg arang kayu diperkirakan Rp 1.200,-) atau
senilai Rp 1.800,-, sedang peleburan perak untuk setiap 1 kg menghabiskan briket batubara 775,20 gr atau
senilai Rp 1162,80,- , dimana 1 kg batubara Rp 1.500,-

Kesimpulan dan Saran
Dari hasil percobaan penelitian peleburan perak dengan menggunakan bahan bakar briket batubara dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1. Bahan briket batubara dapat digunakan untuk peleburan perak
2. Dengan menggunakan tungku pelebur berbentuk silindris dan blower sebagai penyuap udara,
temperatur dapat mencapai rata-rata 1280 C sudah lebih cukup untuk melebur logam perak.
3. Untuk melebur 1 kg perak menghabiskan 775,20 gr briket batubara atau setara dengan Rp 1162,80,-

Saran
1. Untuk memperoleh temperatur peleburan yang maksimal abu hasil pembakaran sebaiknya dibuang.
2. Untuk memudahkan penyalaan awal dan mempersingkat waktu pembakaran, sebaiknya
menggunakan bahan penyulut/pematik.

Daftar Pustaka
1. Anonimus., Pengembangan Briket Semikokas/Batubara beserta Anglo untuk Bahan Bakar Rumah
Tangga., Departemen Pertambangan dan Energi Direktorat Jendral Pertambangan Umum, Buletin
Batubara No.5., tahun 3, 1994.
2. Anonimus., Proses Pembuatan Briket Semikokas/Batubara beserta Anglo untuk Bahan Bakar Rumah
Tangga., Departemen Pertambangan dan Energi Direktorat Jendral Pertambangan Umum, Buletin
Batubara No.5.,tahun 3, 1994.
3. A. Bambang Yunianto., Briket Batubara Sebagai Salah Satu Alternatif Sumber Energi Rumah
Tangga., Berita Penelitian dan Pengambangan Teknologi Mineral, No.56 Tahun 17, 1993.
4. Anonimus., Briket Batubara Hemat Energi Hemat Biaya., PT. Kresna Kundi Kencana, Bandar
Lampung,1993.
5. Anonimus.,Memasak Dengan Briket Batubara., PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero),
Palembang, 1993.
6. Anonimus.,Standard Nasional Indonesia Arang Aktif Teknis., SNI 06-3730-1995 Dewan Standardisasi
Nasional, Jakarta, 1995.
7. Anonimus., Standard Nasional Indonesia Arang Tempurung Kelapa.,SNI.01-1682-1989, Dewan
Standardisasi Nasional, Jakarta, 1989.
8. Bayuni, Y.,Slamet Suprapto., Sumaryono., Sugamal., Pembuatan Briket Batubara Tak Berasap Untuk
Rumah Tangga.,No.54 ,Tahun 17, Bandung,1993.
9. Ringkuangan dkk., Pengembangan Pembuatan Bahan Bakar Briket daru Arang Tempurung.,Badan
Litbang Industri, Manado, 1993.
10. Soemartono.,Statistik Pola Percobaan Teknik Lapangan.,Yayasan Pembina Fakultas Pertanian UGM,
Yogyakarta, 1977
11. Tata Surdia., Kenji Chijiwa., Teknik Pengecoran Logam.,Jakarta, 1976.

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK A-2-7
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG