Anda di halaman 1dari 7
PROSIDING SEMINAR NASIONAL REKAYASA KIMIA DAN PROSES 2004 ISSN : 1411 - 4216 PELEBURAN PERAK

PROSIDING SEMINAR NASIONAL REKAYASA KIMIA DAN PROSES 2004 ISSN : 1411 - 4216

PELEBURAN PERAK DENGAN MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR BRIKET BATU BARA PADA INDUSTRI KERAJINAN PERAK

Dwi Suheryanto dan Tri Haryanto

Peneliti pada Balai Besar Kerajinan dan Batik Badan Penelitian dan Pengembangan Industri dan Perdagangan Departemen Perindustrian dan Perdagangan Jl. Kusumanegara No 7 Yogyakarta ñ 55166, Telp. (0274) 546111, 546222, 546333 Fax (0274) 543582

Abstrak

Briket Batubara adalah hasil olah lanjut dari batubara yang cukup melimpah persediannya dan merupakan bahan bakar alternatif untuk peleburan perak. Penggunaannya dalam proses peleburan perak menggunakan tungku pelebur bentuk silindris dengan penyuapan angin melalui blower. Panas yang dihasilkan dialirkan memutar sepanjang ruang tungku membentuk putaran (cyclone) dan memanasi kowi pelebur. Temperatur yang dapat dicapai dari hasil peleburan logam perak mencapai 1280°C melebihi titik lebur (melting point) logam perak dan menghabiskan briket batubara rata-rata 775,20 gram untuk melebur 1 kg logam perak atau senilai Rp 1162,80,-.

Kata Kunci: briket batu-bara; perak; peleburan; titik lebur

Pendahuluan

Industri kerajinan perak banyak tersebar di daerah Indonesia, antara lain di D.I.Yogyakarta, Lamongan, Bali dan Kendari, merupakan salah satu komoditi ekspor non migas yang cukup potensial. Dalam proses peleburan logam, bahan bakar yang digunakan berbagai jenisnya disesuaikan dengan kondisi suatu daerah, sistem peleburan dan konstruksi tungku yang digunakan umumnya masih menggunakan bahan bakar komersial seperti: minyak tanah, arang kayu dan bahan bakar lainnya, bahkan ada beberapa perajin yang menggunakan LPG. Kapasitas peleburan perak per hari rata-rata 1 kg perak dengan menghabiskan arang kayu 1,5 kg. Berkaitan dengan program pemerintah untuk menggalakan dan memasyarakatkan pemakaian briket batubara sebagai pengganti bahan bakar komersial, untuk sektor Industri sekitar 50 % beralih ke batubara atau setara dengan 2,7 juta ton batubara, sedang untuk tahun berikutnya 100% atau setara dengan 8,9 juta ton batubara. Diperkirakan cadangan batubara di Indonesia sebagai bahan baku briket batubara jumlahnya masih melimpah yaitu 34 miliar ton, dan diperkirakan akan habis dalam waktu 230 tahun, sementara perkiraan kondisi cadangan bahan bakar minyak diperkirakan persediaannya paling lama untuk 22 tahun ke depan Tujuan penggunaan briket batubara di Indonesia (terutama di pulau Jawa) untuk mengurangi ketergantungan pemakaian minyak tanah yang kian terbatas dan untuk mengurangi penebangan hutan secara liar oleh penduduk yang memanfaatkan kayu sebagai bahan bakar /arang kayu. Pendekatan Briket Batu-bara Pemanfaatan potensi batubara Indonesia yang cukup besar sudah saatnya dikembangkan. Salah satu peluang dalam pemanfaatan batubara tersebut adalah sebagai bahan bakar, baik untuk keperluan rumah tangga maupun untuk industri. Selama ini bahan bakar utama untuk rumah tangga di Indonesia adalah kayu, BBM, gas dan arang kayu. Untuk masa yang akan datang jenis-jenis bahan bakar tersebut akan makin langka, baik karena cadangan yang terbatas maupun konservasi vegetasi di Indonesia. Pemanfaatan batubara dapat di bagi dalam 3 (tiga) jenis, yaitu sebagai bahan bakar langsung, bahan bakar tak langsung dan bukan bahan bakar. Bahan bakar langsung, artinya batubara langsung dibakar setelah mengalami speparasi, jadi pembakarannya masih dalam bentuk bongkahan, butiran atau dalam bentuk serbuk, misalnya untuk penggunaan pada pemanasan ketel uap (boiler), industri semen, industri pembakaran kapur, bata, genteng, kramik gerabah dan pande besi. Bahan bakar tak langsung artinya, batubara diubah menjadi bentuk lain melalui proses, seperti gasifikasi, pencairan, karbonisasi, pembriketan, suspensi, kemudian baru dipergunakan sebagai bahan bakar. Sedangkan batubara bukan sebagai bahan bakar, yaitu dengan melalui berbagai proses sehingga dapat dipergunakan untuk bahan industri kimia antara lain sebagai elektroda, reduktor dan bahan aktif.

antara lain sebagai elektroda, reduktor dan bahan aktif. JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

A-2-1

Batubara yang akhir-akhir ini dimasyarakatkan baik untuk rumah tangga maupun untuk industri kecil merupakan bahan bakar batubara yang telah diolah yaitu berupa briket batubara (yang telah mengalami

proses karbonisasi dan pembriketan) mempunyai nilai kalori antara 4000 ñ 6300 k.kal./kg, sedangkan kalori arang kayu berkisar 6300 ñ 7500 k.kal/kg. Proses karbonisasi bertujuan untuk menghilangkan unsur-unsur yang terdapat pada batubara yang apabila dibakar akan membentuk asap dan akan mengganggu lingkungan. Pembuatan Briket Semi Kokas Batubara bentuk Telur:

a. Bahan

-

Batubara Pada dasarnya semua jenis batu bara dapat dibuat briket tipe telur dan tipe silinder. Namun yang terbaik untuk briket tipe telur sedapat mungkin menggunakan batubara dari prangkat sub-bituminus sampai dengan semi antrasit. Bahan Pengikat, terdiri dari:

Lempung, lempung yang digunakan adalah lempung yang liat, misalnya lempung yang biasa digunakan untuk bahan baku pembuatan bata/genteng, kanji dan air.

b. Bagan Alir:

Zat Terbang

Batubara

Karbonisasi

Penggerusan

 

Semi Kokas

Halus

Halus Pengayakan Kasar

Pengayakan

Halus Pengayakan Kasar

Kasar

( 3 mm)

(> 3mm)

Pencampuran

dengan bahan pengikat (lempung, kanji, air)

Pembriketan

Pengeringan (produk briket semi kokas)

Gambar I Bagian Alir Pembuatan Briket Batubara

c. Bentuk dan Ukuran Briket Batubara Tipe Telur:

Briket tipe telur ada beberapa ukuran. Ukurannya bervariasi dengan lebar (diameter) 3 - 5 Cm dan tebal 2 ñ 3 Cm (lihat gambar 2).

3 -5 Cm

3 - 5 Cm dan tebal 2 ñ 3 Cm (lihat gambar 2). 3 -5 Cm

2 – 3 Cm

Gambar 2 Bentuk dan Ukuran Briket Batubara Tipe Telur

Kandungan dan Nilai Kalori Briket Batubara Tipe Telur:

Nilai Kalori

Belerang

Zat Terbang

Air Lembab

6300

< 1,0

8 ñ 15

< 7,5

Air Lembab 6300 < 1,0 8 ñ 15 < 7,5 JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

A-2-2

d.

Logam perak Perak termasuk golongan logam mulia dengan simbul Ag ( Argentum), nomor atomnya 47 mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

a. Sifak fisik Berat jenis (BJ) Titik lebur

: 10,5 : 961 C

Tahanan listrik pada 20 C : 1,59 /cm

Kondusktifitas listrik Warna Kerapatan (density)

: 108,4 5 I ACS : Putih mengkilap : 10,49 g/cm

Modulus elastisitas

: 10,3 x 10

lb pern inch

b. Sifat mekanik Kekutan tarik

: 18.200 Psi

Kekerasan : 29 Brienel (25 VHN)

Elongasi

Perak murni selain harga mahal juga sangat lunak, oleh karena itu untuk memperbaiki sifat mekanik (kekerasan) sering dicampur dengan logam lain. Logam-logam-logam yang biasa dipadukan dengan perak antara lain, tembaga, zeng, antimon, arsen dan emas. Kebanyakan perajin menggunakan logam tembaga sabagai bahan pencampur. Paduan logam perak, tembaga dan zeng biasa dipakai untuk membuat patri perak, kadar peraknya 10% ñ 80 %, tembaga 15%-50% dan zeng 5%-40%. Sehingga dapat diperoleh logam perak yang mempunyai kadar variasi, seperti, Perak 925 adalah kadar perak minimum 925 per 1000 dan Perak 800 adalah kadar perak minimum 800 per 1000 Dalam perdagangan dikenal 6 jenis perak yang diklasifikasi seperti pada tabel dibawah ini :

: 54 %

Tabel 1 Beberapa kadar perak dan nama dagang

No

Kadar Perak

Nama dagang

Stempel

1

1000 (999)

Perak murni

1000

2

925

ñ 995

Perak sterling

925

3

800

ñ 920

Perak kadar tinggi

800

4

600

ñ 795

Perak kadar biasa (std)

600

5

300

ñ 595

Perak kadar rendah

300

6

 

300

Buka perak

-

e. Bentuk tungtku pelebur perak dengan bahan bakar briket batubara :

10 Cm

10 Cm

10 Cm 5 - 6 Cm 7,5 cm 60 Cm
10 Cm
5 - 6 Cm
7,5 cm
60 Cm

ì Pandangan samping ì

10 Cm 10 Cm 5 - 6 Cm 7,5 cm 60 Cm ì Pandangan samping ì

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

A-2-3

ÿ 10 cm
ÿ 10 cm

ÿ 30 cm

ÿ 10 cm ÿ 30 cm ÿ 50 cm ÿ 5-6 cm ì Pandangan Atas ì

ÿ 50 cm

ÿ 5-6 cm ì Pandangan Atas ì
ÿ 5-6 cm
ì Pandangan Atas ì
ÿ 10 cm ÿ 30 cm ÿ 50 cm ÿ 5-6 cm ì Pandangan Atas ì

Gambar 3 Tungku Silindris Pelebur Perak

Metode Penelitian Peleburan perak dengan mengunakan bahan bakar briket batubara type telur memakai tungku silindris dengan bantuan blower sebagai penyuap angin/udara, dimana sekali peleburan perak dengan jumlah 250 gr. Sistim peleburan dengan ì Sistim Sekali Lebur, Ganti Briketî dan ìSistim Penambahan Langsung ì Pemakaian batu bara pada awal peleburan 2 kg, kemudian untuk penambahan peleburan berikutnya 1 kg. Data-data yang diamati : waktu penyalaan awal, waktu peleburan, temperatur lebur (saat mencair), pemakaian bahan bakar, sisa abu.

Pelaksanaan Penelitian

1. Bahan : - Briket semi kokas/batubara tipe telur

- Logam perak

2. Alat

: - Kowi pelebur

- Alat pengaduk dan serok

- Blower keong

- Stop watch

- Timbangan analitis

- Alat pengukur panas

- Alat pengaman

- Tungku pelebur

- Tang penjepit kowi

- Cetakan

3. Tahapan Pengerjaan

a. Penyalaan Briket Batubara Penyalaan awal briket batubara dapat dilakukan dengan menggunakan potongan kayu atau ranting kering, sabut kelapa, arang kayu atau dengan briket penyulut. Briket penyulut dinyalakan terlebih

dahulu hingga timbul bara api, setelah bara api merata diseluruh bagian, letakkan briket batubara diatas bara api tersebut sambil diberi penyuapan angin melalui blower hingga api merambat keseluruh briket.

b. Proses Peleburan Peleburan logam kuningan dan perak dilakukan pada tungku tahan api bentuk silindris dengan sistem penyuapan angin melalui blower. Dalam percobaan dilakukan dengan dua cara, yaitu: cara sekali melebur ñ ganti briket dan peleburan sistem penambahan langsung (bahasa Jawa ìjog-joganî).

penambahan briket

Pemakaian jumlah batubara untuk setiap kali peleburan 2 kg, akan tetapi untuk

batubara pada cara sistem tambah briket yaitu sebesar 1 kg untuk peleburan kedua Jumlah pemakaian briket tersebut berdasarkan kapasitas ruang pada tungku peleburan.

dan seterusnya.

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

A-2-4

Peleburan Logam Perak Logam perak yang akan dilebur adalah perak campuran (perak 950), logam campurannya adalah tembaga. Jumlah total logam perak untuk sekali peleburan 250 g. Untuk membakar briket batubara perlu dibantu dengan briket penyulut yang berupa potongan-potongan kayu kecil yang diletakkan disekeliling dasar tungku pelebur. Briket penyulut kemudian dibakar sambil diberi penyuapan angin melalui bantuan blower. Setelah bahan penyulut terbakar merata, masukan kowi dan letakan diatas dudukan, kemudian briket batubara diletakan disekeliling diatas bara api, sambil diberikan penyuapan angin melalui blower. Setelah bara api menjalar kebriket batubara. Masukan logam perak kedalam kowi, amati proses peleburan hingga logam perak mencair, kemudian dengan bantuan tang penjepit panjang kowi dijepit dan diangkat, selanjutnya dituangkan kedalam cetakan. Briket batubara yang masih membara diambil dengan penjepit dan dimatikan dengan cara dimasukan kedalam suatu ruangan yang tertutup (untuk menghindari kontak dengan oksigen). Untuk selanjutnya dilakukan percobaan peleburan perak menggunakan sistem penambahan bahan briket batu bara langsung, yaitu setiap kali melebur ditambah briket batubara tanpa mengambil briket awal yang masih membara. Setiap penambahan briket batubara jumlahnya tetap yaitu sebanyak 1 kg dan jumlah pengujian dan jumlah pengujian keseluruhan 10 kali.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Tabel 2 Data Hasil peleburan Logam Perak dengan Briket Batu-bara (Sistim Sekali Lebur, Ganti Briket)

No

Waktu

Temperatur saat paduan mencair (˚ C)

Total waktu

Percobaan

Penyalaan awal

peleburan (detik)

1.

132

1276

777

2.

129

1277

576

3.

128

1281

563

4.

130

1282

572

5.

130

128

589

6.

128

1281

577

7.

129

1283

571

8.

130

1281

568

9.

127

1285

571

10.

125

1281

574

Jumlah

1288

12807

5938

Rata-rata

128,8

1280,7

593,8

Tabel 3 Data Hasil Peleburan Logam Perak dengan Briket Batu-Bara (Sistim Penambahan Langsung)

 

Temperatur saat penuangan ( ˚ C)

 

Berat (g)

Berat (g) sisa briket *)

No

Percobaan

Total Waktu

Peleburan (detik)

Penambahan

briket

1.

1269

714

2000

 

2.

1271

410

1000

 

3.

1273

397

1000

 

4.

1265

392

1000

 

5.

1266

389

1000

 

6.

1265

383

1000

 

7.

1267

373

1000

 

8.

1263

373

1000

 

9.

1269

377

1000

 

10.

1262

373

1000

 

Jumlah

12670

4181

11000

 

Rata-rata

1267,0

418,1

1100

7224

 

Jumlah pemakaian b.b.b selama peleburan = 11000-7224 = 3776 gr

pemakaian b.b.b selama peleburan = 11000-7224 = 3776 gr JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

A-2-5

Tabel 4 Data Penggunaan Briket Batubara dan Sisa Briket Hasil Peleburan Logam Perak

 

Jml. briket

     

No.

Percobaan

batubara

sebelum

peleburan (g)

Sisa briket setelah peleburan (g)

Waktu pematian bara briket batu bara*) (menit)

Jumlah pemakaian

b.b.b selama

peleburan (g)

 

1. 2.000

985,16

76

1014,84

 

2. 2.000

1406,13

81

593,87

 

3. 2.000

1257,27

83

742,73

 

4. 2.000

1389,33

79

10,67

 

5. 2.000

1336,29

87

663,71

 

6. 2.000

1324,11

81

675,89

 

7. 2.000

1381,02

83

618,98

 

8. 2.000

1371,08

79

628,92

 

9. 2.000

1349,76

83

650,24

10.

2.000

1331,17

82

668,83

Jumlah

20.000

13131,32

814

6868,68

Rata-rata

2.000

1313,132

81,4

686,868

Keterangan *). Bara briket batu bara dibiarkan dalam tungku pelebur yang tertutup.

Pembahasan

1. Penyalaan awal (Proses Penyulutan) dan pemadaman Briket Batubara Pada saat proses penyulutan briket batubara yang perlu diperhatikan ialah saat penggunaan bahan bakar penyulut. Bahan bakar penyulut harus diletakkan merata diseluruh permukaan bahan bakar briket batubara serta penyalaannya harus terjadi secara merata. Pada percobaan, bahan penyulut yang digunakan adalah potongan-potongan ranting kayu. Kemudian untuk mempercepat nyala bahan penyulut perlu diberikan penyuapan angin melalui alat bantu yaitu blower. Penyuapan angin akan mempercepat penyalaan bahan penyulut. Apabila bahan penyulut telah terbakar seluruhnya, letakkan briket batubara diatas bahan penyulut yang telah menyala, dan diberi penyuapan angin. Melihat konstruksi tungku pelebur yang berbentuk silindris, udara yang disuapkan akan berputar disekeliling kowi dan putaran angin ini akan mempercepat nyalanya baru api keseluruh briket batubara. Seperti terlihat pada tabel 2 peleburan logam perak, bahwa rata-rata untuk proses penyalaan awal diperlukan waktu rata-rata 128,8 detik. Untuk proses pemadaman nyala briket batubara waktu yang diperlukan tergantung kepada ada tidaknya udara yang terkontaminasi langsung terhadap nyala/bara briket. Atas dasar tersebut pemadaman dilakukan pada tempat yang tertutup yang kemungkinan terjadinya kontak dengan oksigen dari udara sama sekali tidak ada. Pada percobaan, setelah peleburan selesai bara api briket batubara ditutup dengan abu, kemudian lubang atas pada tungku pelebur ditutup dengan penutup. Seperti terlihat pada tabel 4 rata-rata waktu matinya nyala/bara briket 81,4 menit.

2. Proses Peleburan Logam Perak Dari hasil percobaan proses peleburan logam perak yang menggunakan bahan bakar briket batubara, maka

hasil yang dilakukan baik itu yang dilakukan dengan ì Sistim Sekali Lebur, Ganti Briketî menghabiskan 686,868 g briket batubara (tabel 4) sedangkan ìSistim Penambahan Langsungî dengan peleburan total sebanyak 2500 g menghabiskan briket batubara 3776 g (tabel 3) atau rata-rata untuk setiap peleburan 250 gr perak menghabiskan 377,6 g briket batubara. Pada awal proses peleburan waktu total peleburan relatip cukup lama, dimana waktu peleburan perak awal memerlukan waktu 777 detik (tabel 2) dengan pemakaian briket batubara 1014,84 g (tabel 4), hal ini disebabkan karena pada awal peleburan kondisi kowi dan tungku masih dalam keadaan dingin, sehingga waktu yang diperlukan relatip cukup lama dan berpengaruh terhadap pemakaian bahan bakar briket batubara. Temperatur yang dicapai baik pada saat ìpaduan mencairî maupun temperatur saat ìpenuanganî menunjukan nilai rata-rata masing-masing 1280 C dan 1267 C(tabel 2 dan 3), dimana kondisi temperatur ini sudah melebihi titik lebur logam perak (961 C) dan cukup aman untuk melakukan proses penuangan kedalam cetak. Temperatur tersebut dapat dicapai karena menggunakan tungku silindris yang dibantu dengan peyuapan udara melalui blower. Sistim ini memutarkan panas diseluruh ruang tungku (karena bentuknya silindris) menyerupai putaran syclone, sehinga temperatur yang dapat dicapai dapat melebihi

sehinga temperatur yang dapat dicapai dapat melebihi JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

A-2-6

titik lebur logam perak bahkan logam kuningan. Temperatur ini dapat ditingkat dengan penyuapan udara/angin melalui blower yang lebih baik serta menghambat panas yang terbuang dengan menutup sebagian permukaan atas tungku pelebur, serta abu yang dihasilkan dari proses pembakaran dihilangkan/dipisahkan agar tidak menghambat lajunya panas. 3. Tinjauan Ekonomi Proses peleburan perak yang menggunakan bahan bakar arang kayu yang biasa dilakukan perajin untuk peleburan 1 kg menghabiskan 1,5 kg arang kayu ( harga 1 kg arang kayu diperkirakan Rp 1.200,-) atau senilai Rp 1.800,-, sedang peleburan perak untuk setiap 1 kg menghabiskan briket batubara 775,20 gr atau senilai Rp 1162,80,- , dimana 1 kg batubara Rp 1.500,-

Kesimpulan dan Saran Dari hasil percobaan penelitian peleburan perak dengan menggunakan bahan bakar briket batubara dapat disimpulkan sebagai berikut :

1.

Bahan briket batubara dapat digunakan untuk peleburan perak

2.

Dengan menggunakan tungku pelebur berbentuk silindris dan blower sebagai penyuap udara, temperatur dapat mencapai rata-rata 1280 C sudah lebih cukup untuk melebur logam perak.

3.

Untuk melebur 1 kg perak menghabiskan 775,20 gr briket batubara atau setara dengan Rp 1162,80,-

Saran

1.

Untuk memperoleh temperatur peleburan yang maksimal abu hasil pembakaran sebaiknya dibuang.

2.

Untuk memudahkan penyalaan awal dan mempersingkat waktu pembakaran, sebaiknya menggunakan bahan penyulut/pematik.

Daftar Pustaka

1. Anonimus., ìPengembangan Briket Semikokas/Batubara beserta Anglo untuk Bahan Bakar Rumah Tangga”., Departemen Pertambangan dan Energi Direktorat Jendral Pertambangan Umum, Buletin Batubara No.5., tahun 3, 1994.

2. Anonimus., ìProses Pembuatan Briket Semikokas/Batubara beserta Anglo untuk Bahan Bakar Rumah Tangga”., Departemen Pertambangan dan Energi Direktorat Jendral Pertambangan Umum, Buletin Batubara No.5.,tahun 3, 1994.

3. A. Bambang Yunianto., ì Briket Batubara Sebagai Salah Satu Alternatif Sumber Energi Rumah Tangga”., Berita Penelitian dan Pengambangan Teknologi Mineral, No.56 Tahun 17, 1993.

4. Anonimus., ìBriket Batubara Hemat Energi Hemat Biaya”., PT. Kresna Kundi Kencana, Bandar

Lampung,1993.

5. Anonimus.,îMemasak Dengan Briket Batubara”., PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero), Palembang, 1993.

6. Anonimus.,îStandard Nasional Indonesia Arang Aktif Teknis”., SNI 06-3730-1995 Dewan Standardisasi Nasional, Jakarta, 1995.

7. Anonimus., ìStandard Nasional Indonesia Arang Tempurung Kelapa”.,SNI.01-1682-1989, Dewan Standardisasi Nasional, Jakarta, 1989.

8. Bayuni, Y.,Slamet Suprapto., Sumaryono., Sugamal., ìPembuatan Briket Batubara Tak Berasap Untuk Rumah Tangga”.,No.54 ,Tahun 17, Bandung,1993.

9. Ringkuangan dkk., ìPengembangan Pembuatan Bahan Bakar Briket daru Arang Tempurung”.,Badan Litbang Industri, Manado, 1993.

10. Soemartono.,îStatistik Pola Percobaan Teknik Lapangan”.,Yayasan Pembina Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta, 1977

11. Tata Surdia., Kenji Chijiwa., ìTeknik Pengecoran Logam”.,Jakarta, 1976.

Chijiwa., ì Teknik Pengecoran Logam”., Jakarta, 1976. JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

A-2-7