Anda di halaman 1dari 4

Hubungan Biologi

Lingkungan biologis sangat berpengaruh dan memegang peranan yang penting dalam
interaksi antara manusia sebagai pejamu dengan unsur penyebab, baik sebagai unsur
lingkungan yang menguntungkan manusia (sebagai sumber kehidupan) maupun yang
mengancam kehidupan / kesehatan manusia.
7

Dalam hubungannya dengan penyakit, maka sektor lingkungan biologi dapat dibagi
dalam beberapa hal, seperti :
1. Agent penyakit yang infeksius
2. Reservoir ( manusia dan binatang )
3. Vektor pembawa penyakit ( lalat, nyamuk, dll )
4. Tumbuhan dan binatang
Dalam kejadian TB Paru di Gambia, hubungan biologi penyakit terlihat pada agen dan
reservoir. Walaupun hubungannya tidak secara jelas dipaparkan, interaksi agen ini dapat
dilihat dari pengaruh faktor lingkungan. Adapun faktor lingkungan yang berhubungan dengan
interaksi agen tersebut adalah:
Tidak adanya langit-langit
Salah satu fungsi atap rumah yaitu melindungi masuknya debu dalam rumah. Atap
sebaiknya diberi plafon atau langit-langit, agar debu tidak langsung masuk ke dalam
rumah (Nurhidayah, 2007). Jika sebuah rumah tanpa langit-langit maka rumah
tersebut akan mudah dimasuki oleh debu yang terbawa udara. Debu-debu yang
berasal dari luar tersebut tentunya sudah tidak terjamin kebersihannya. Kebanyakan
dari mereka telah kontak dengan berbagai agen lainnya tidak terkecuali kuman TB.
Kuman TB yang terbawa udara dapat menempel pada debu sebagai media
perkembangbiakannya dan memasuki rumah. Setelah kuman TB memasuki rumah
maka kuman tersebut akan cepat berinteraksi dengan penghuninya sehingga dapat
menimbulkan sakit.
Dinding yang berbahan lumpur
Dinding rumah yang baik adalah menggunakan tembok yang berasal dari semen.
Jenis dinding ini lebih rapat sehingga tidak dapat menyebabkan penyakit pernapasan
yang berkelanjutan menjadi TB Paru, karena angin malam tidak langsung masuk ke
dalam rumah. Selain demikian, jenis dinding dari semen ini juga mudah dibersihkan
sehingga penumpukkan debu yang dapat sebagai media perkembangbiakan kuman
TB juga dapat dihindarkan. Jika sebuah rumah dengan dinding yang berbahan
lumpur maka rumah tersebut akan rentan terhadap penumpukan debu akibat
pengikisan lumpur seiring lamanya waktu. Debu-debu yang berasal dari lumpur
tersebut akan dijadikan sebagai media yang baik bagi berkembangbiaknya kuman
TB yang selanjutnya akan dapat menimbulkan sakit bagi penghuni rumahnya.
Kepadatan hunian
Kepadatan hunian yang tampak sebagai faktor risiko TB Paru di Gambia adalah
kategori dimana anggota rumah tangga berjumlah minimal 4 orang dan minimal 2
orang per kamar. Kategori ini mewakilkan jumlah anggota rumah tangga paling
banyak dibandingkan dengan dua kategori lain. Dapat dikatakan pula bahwa
kategori ini merupakan kategori rumah yang over crowing (penuh sesak). Dalam
kaitannya dengan kejadian TB Paru, rumah yang over crowing berperan dalam
meningkatkan jumlah bakteri TB, hal ini terjadi apabila terdapat sumbernya
misalnya adanya penderita Tuberkulosis Paru, sehingga kondisi ruangan yang
memang mendukung perkembangan bakteri dan mikroorganisme lain akan
menyebabkan jumlah bakteri juga mengalami peningkatan jumlahnya yang
membawa resiko bagi orang lain. Luas bangunan yang optimum menurut
Notoatmodjo (1997) adalah apabila dapat menyediakan 2,5 3 m untuk tiap orang
anggota keluarga. Menurut Lubis (1985) over crowing suatu perumahan apabila
kondisi rumah terhadap jumlah penghuni sebagai berikut :
a. Dua individu dari jenis kelamin berbeda dan usia diatas 10 tahun yang bukan
suami isteri, tidur dalam satu kamar.
b. Jumlah penghuni dibandingkan dengan luas lantai melebihi ketentuan yang
ditetapkan.
Di Indonesia ketentuan mengenai kepadatan hunian ruang tidur oleh keputusan
Menteri Kesehatan RI Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999, yaitu luas ruang tidur
minimal 8 meter, dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari 2 orang tidur dalam satu
ruang tidur, kecuali anak dibawah 5 tahun.
Anggota rumah tangga yang memiliki TB Paru
Anggota rumah tangga yang memiliki TB Paru sangat berisiko menularkan TB Paru
ke anggota rumah tangga lain. TB Paru adalah penyakit yang sangat rentan terjadi
penularan. Kuman TB Paru dapat menyebar saat pasien penderita TB Paru batuk,
saat batuk penderita dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei, sifat kuman ini dapat
bertahan lama ditempat yang gelap dan lembab sebaliknya dapat mati jika terkena
sinar matahari. Kuman yang keluar saat pasien batuk dapat menetap dalam waktu
lama di ruang yang tertutup atau melekat pada barang-barang sekitar yang dipaki
penderita seperti selimut, kasur dan sofa.Selain itu dapat tertinggal pada gelas dan
alat-alat makan lain yang dipakai oleh penderita TB Paru. Kuman-kuman yang
melayang di udara atau kuman yang tertinggal pada barang-barang sekitar penderita
dapat terhisap oleh anggota keluarga lain, hal inilah yang dapat menyebabkan
penularan penyakit TB Paru terutama pada anggota keluarga yang mempunyai daya
tahan tubuh yang lemah dan lebih rentan terhadap penyakit menular, terutama pada
balita dan lansia yang memiliki daya tahan tubuh lebih rendah selain itu pada
penderita HIV yang mengalami kerusakan sistem imun pada tubuh.
Depkes RI, 2008. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi 2,
Cetakan kedua, Jakarta.
Jaji, 2010. Upaya Keluarga dalam Pencegahan Penularan Tuberkulosis (TB) Paru ke
Anggota Keluarga Lainnya di Wilayah Kerja Puskesmas Sidorejo Paralam Tahun
2010. PSIK-FK Unsri, Palembang.
Selanjutnya, untuk hubungan biologi penyakit dengan reservoir dijelaskan sebagai
berikut:
Reservoir adalah organisme hidup/mati, dimana penyebab penyakit hidup normal dan
berkembang biak. Reservoir dapat berupa manusia, binatang, tumbuhan serta lingkungan
lainnya. Reservoir merupakan pusat penyakit menular, karena merupakan komponen utama
dari lingkaran penularan dan sekaligus sebagai sumber penularan. Manusia sebagai reservoir
TB Paru adalah selalu sebagai penderitanya. Seorang manusia dapat menderita TB paru
karena adanya penularan dari penderita TB BTA positif. Pada wakti batuk atau bersin
penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet. Droplet yang mengandung
kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi
kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernapasan. Setelah kuman TB masuk ke
dalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman tersebut dapat menyebar dari paru ke
bagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran nafas atau
penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang penderita
ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya, makin tinggi derajat positif
hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak
negatif maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi
TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamnya menghirup udara tersebut
(Depkes RI, 2002. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI)

HUBUNGAN WAKTU

Adnani, Hariza; Mahastuti, Asih. Hubungan Kondisi Rumah Dengan Penyakit TBC
Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Karangmojo II Kabupaten Gunungkidul Tahun 2003-
2006. Jurnal Kesehatan Surya Medika, Yogyakarta.
Anonimuous, 2011. Hubungan Rokokdan TBC.
(http://www.ppti.info/2011/06/hubungan-rokok-dan-tbc.html) Diakses pada tanggal 2 Juni
2014.

Darwel, 2012. jjdsfksfjsdf
Depkes RI, 2002. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
Depkes RI, 2008. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi 2,
Cetakan kedua, Jakarta.
Jaji, 2010. Upaya Keluarga dalam Pencegahan Penularan Tuberkulosis (TB) Paru ke
Anggota Keluarga Lainnya di Wilayah Kerja Puskesmas Sidorejo Paralam Tahun
2010. PSIK-FK Unsri, Palembang.