Anda di halaman 1dari 4

DASAR TEORI

Formaldehid (HCOH) merupakan suatu bahan kimia dengan berat molekul 30,03 yang
pada suhu kamar dan tekanan atmosfer berbentuk gas tidak berwarna, berbau pedas (menusuk)
dan sangat reaktif (mudah terbakar). Bahan ini larut dalam air dan sangat mudah larut dalam
etanol dan eter (Moffat, 1986).

A. PENGERTIAN FORMALIN
Senyawa kimia formaldehida (juga disebut metanal, atau formalin),
merupakan aldehida dengan rumus kimia H2CO, yang berbentuknya gas , atau cair yang
dikenal sebagai formalin , atau padatan yang dikenal sebagai paraformaldehyde atau trioxane.
Formaldehida awalnya disintesis oleh kimiawan Rusia Aleksandr Butlerov tahun 1859 , tapi
diidentifikasi oleh Hoffman tahun 1867 .
Pada umumnya, formaldehida terbentuk akibat reasi oksidasi katalitik pada metanol .
Oleh sebab itu, formaldehida bisa dihasilkan dari pembakaran bahan yang
mengandung karbon dan terkandung dalam asap pada kebakaran hutan , knalpot mobil , dan
asap tembakau . Dalam atmosfer bumi, formaldehida dihasilkan dari aksi
cahaya matahari dan oksigen terhadap metana dan hidrokarbon lain yang ada di atmosfer.
Formaldehida dalam kadar kecil sekali juga dihasilkan
sebagai metabolit kebanyakan organisme , termasuk manusia . Formalin merupakan salah satu
pengawet yang akhir-akhir ini banyak digunakan dalam makanan, padahal jenis pengawet
tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan. Formalin merupakan larutan tidak berwarna, berbau
tajam, mengandung formaldehid sekitar 37% dalam air, biasanya ditambahkan metanol 10-15%.
Formalin mempunyai banyak nama atau sinonim, seperti formol, morbicid, methanal, formic
aldehyde, methyl oxide, oxymethylene, methyl aldehyde, oxomethane, formoform, formalith,
oxomethane, karsan, methylene glycol, paraforin, poly-oxymethylene glycols, superlysoform,
tetraoxymethylene dan trioxane.

SIFAT FORMALIN
Pengawet ini memiliki unsur aldehida yang bersifat mudah bereaksi dengan protein,
karenanya ketika disiramkan ke makanan seperti tahu, formalin akan mengikat unsur protein
mulai dari bagian permukaan tahu hingga terus meresap kebagian dalamnya. Dengan matinya
protein setelah terikat unsur kimia dari formalin maka bila ditekan tahu terasa lebih kenyal .
Selain itu protein yang telah mati tidak akan diserang bakteri pembusuk yang menghasilkan
senyawa asam, Itulah sebabnya tahu atau makanan berformalin lainnya menjadi lebih awet.
Formaldehida membunuh bakteri dengan membuat jaringan dalam bakteri dehidrasi
(kekurangan air), sehingga sel bakteri akan kering dan membentuk lapisan baru di permukaan.
Artinya, formalin tidak saja membunuh bakteri, tetapi juga membentuk lapisan baru yang
melindungi lapisan di bawahnya, supaya tahan terhadap serangan bakteri lain. Bila desinfektan
lainnya mendeaktifasikan serangan bakteri dengan cara membunuh dan tidak bereaksi dengan
bahan yang dilindungi, maka formaldehida akan bereaksi secara kimiawi dan tetap ada di dalam
materi tersebut untuk melindungi dari serangan berikutnya.
Melihat sifatnya, formalin juga sudah tentu akan menyerang protein yang banyak terdapat
di dalam tubuh manusia seperti pada lambung. Terlebih, bila formalin yang masuk ke tubuh itu
memiliki dosis tinggi. Masalahnya, sebagai bahan yang digunakan hanya untuk mengawetkan
makanan, dosis formalin yang digunakan pun akan rendah. Sehingga efek samping dari
mengkonsumsi makanan berformalin tidak akan dirasakan langsung oleh konsumen. Banyak
pihak mengingatkan formalin juga memiliki sifat karsinogen atau dapat menyebabkan
kanker.Tetapi kemunculan kanker akibat bahan berbahaya ini dengan kanker dari penyebab yang
lain hampir sulit dibedakan, keduanya membutuhkan waktu panjang untuk menyerang tubuh
manusia.
Menurut Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), sampai kadar tertentu,
formalin diizinkan untuk pengawet kosmetik, yaitu untuk pasta gigi maksimum 0,1% dan untuk
produk kosmetik lainnya 0,2%. Ketentuan ini sesuai dengan aturan yang berlaku secara
internasional seperti ASEAN Cosmetic Directive, European Union Directive, dan SK BPOM
untuk kosmetik.

MANFAAT DAN KEGUNAAN FORMALIN
Formalin selain harganya murah, mudah didapat dan pemakaiannya pun tidak sulit
sehingga sangat diminati sebagai pengawet oleh produsen pangan yang tidak bertanggung jawab.
Hasil survei dan pemeriksaan laboratorium menunjukkan, sejumlah produk pangan
menggunakan formalin sebagai pengawet.
Anjuran penggunaan formalin yang benar adalah:
sebagai pembunuh kuman, sehingga banyak dipakai dalam pembersih lantai, pakaian,
kapal dan gudang,
pembasmi lalat dan serangga lainnya,
salah satu bahan dalam pembuatan sutera buatan, zat pewarna cermin kaca dan bahan
peledak,
pengeras lapisan gelatin dan kertas foto,
bahan pembuatan pupuk urea, parfum, pengeras kuku dan pengawet produk kosmetik,
pencegah korosi pada sumur minyak,
bahan untuk insulasi busa, dan,
bahan perekat kayu lapis.
Dalam konsentrasi kurang dari 1%, formalin digunakan sebagai pengawet dalam pembersih
rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, sampo mobil, lilin, dan karpet.

BAHAYA FORMALIN

Efek formalin jika tertelan menyebabkan gangguan pencernaan, asidosis yang kuat,
karena formalin dalam tubuh mengalami metabolisme menjadi asam formiat, karbondioksida,
metanol, dan dalam bentuk metabolit HO-CH2 alkilasi (Theines dan Halley, 1955). Formalin
juga dapat menyebabkan sakit perut, mual, muntah, diare, bahkan kematian jika dikonsumsi pada
jumlah yang melewati ambang batas aman (Gazette, 2003).
Efek jangka pendek dari mengkonsumsi formalin antara lain terjadinya iritas pada saluran
pernafasan, muntah-muntah, pusing, dan rasa terbakar pada tenggorokan. Efek jangka
panjangnya adalah terjadinya kerusakan organ penting seperti hati, jantung, otak, limpa,
pankreas, sistem susunan saraf pusat, dan ginjal (Lee, et all 1978).
Batas normal tubuh dapat menetralisir formalin dalam tubuh melalui konsumsi makanan
adalah 1,5 sampai 14 mg setiap harinya. Mengkonsumsi secara terus menerus dan dalam skala
cukup tinggi dapat menyebabkan mutasi genetik yang berakibat pada meningkatnya
kemungkinan terkena kanker (Anonim, 2006). The United States Environmental Protection
Agency (USEPA) yang merupakan salah satu badan perlindungan makanan dunia menetapkan
nilai ADI (Acceptable Daily Intake) formalin sebesar 0,2 mg/kg berat badan.

DAFTAR PUSTAKA

Gazette, P. 2003. Thailand crackdown on hazardous food additives,
(online),http://www.thaivisa.com/index.php ? 514 &backPID=10&tt_news=291. 6 Juni
2014
Groliman, A. 1962. Pharmakology and theyrapetics, Edisi ke- 5, Lea dan Febiger,
Philadelphia.
Moffat, A. C. (1986). Clarkes isolation and identification of drugs. Edisi 2.
London. The Pharmaceutical Press. Hal. 420-421, 457-458, 849, 932-933.Ngadiwaluyo
dan Suharjito, 2003
Winarno FG, Rahayu TS. Bahan Tambahan Untuk Makanan danKontaminan. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan; 1994.
Winarno, F. G. 1997. Keamanan pangan, Naskah Akademis Institut Pertanian Bogor.
Bogor
Yuliarti, N. (2007). Awas! Bahaya di balik lezatnya makanan. Yogyakarta
Aguest. 2012. Makalah Formalin. Online: http://aguest-
dradonizer.blogspot.com/2012/10/makalah-formalin_27.html. 16 Juni 2014