Anda di halaman 1dari 65

SKRIPSI

TEORI UTAMA ISOMORFISMA RUANG VEKTOR DAN


APLIKASINYA


Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains




Oleh :



FREDERIK YOHANES
1006042003






JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2014
i

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui dan disahkan serta telah diseminarkan pada :
Hari / tanggal : Jumat, 30 Mei 2014
Ruang : LAB 1 MATEMATIKA FST UNDANA


Menyetujui

Pembimbing I



Ariyanto, S.Si, M.Si
NIP. 19750510 2000312 1 001
Pembimbing II



Rapmaida M. Pangaribuan, S.Si, M.Sc
NIP. 19720204 200604 2 001



Mengetahui
Ketua Jurusan Matematika






Kristina Br. Ginting, S.Si, M.Si
NIP.19701223 200012 2 005
ii

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini telah diuji dan dipertahankan di hadapan Dewan Penguji pada tanggal 30
Mei 2014 dan dinyatakan LULUS.


1
.

2
.

3
.

Ketua Tim Penguji

Anggota I Tim Penguji

Anggota II Tim Penguji
Dosen Penguji
Aryanto, S.Si, M.Si
NIP. 19750510 200312 1 002
Rapmaida M. Pangaribuan, S.Si, M.Sc
NIP. 19720204 200604 2 001
Jusrry R. Pahnael, S.Si, M.Si
NIP. 19770715 200112 2 001

...........................

...........................

...........................


Kupang, 30 Mei 2014
Dekan Fakultas Sains dan Teknik


Prof. Drs. M. Lumban Gaol, M.Sc, Ph.D
NIP. 131 953 305
Ketua Jurusan Matematika


Kristina Br. Ginting, S.Si, M.Si
NIP.19701223 200012 2 005

iii

MOTTO


(Hal yang besar mendatangkan tanggung jawab yang besar)

iv

PERSEMBAHAN

Dengan tulus saya persembahkan skripsi ini kepada :
1. Almamater FST Undana.
2. Mama Jane E. Beama yang tersayang.
3. Ketiga saudara saya, k Fa, Victor, dan Ester serta Tii
Honi, Too Celi dan k Joe yang telah menjadi bagian yang
terpenting dalam hidup saya.
4. Dia yang menjadi anugerah terindah dari Tuhan dan
memberikan semangat hidup bagi saya.










v

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan berkat dan tuntunan-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan
skripsi ini.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan
terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun secara
tidak langsung. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan rasa
terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Drs. M. Lumban Gaol, M.Sc, Ph.D selaku Dekan FST UNDANA.
2. Ibu Keristina Br Ginting, S.Si, M.Si selaku Ketua Jurusan Matematika yang telah
mendidik dan membekali saya dengan berbagai ilmu pengetahuan selama masa
perkuliahan.
3. Bapak Ariyanto, S.Si, M.Si selaku pembimbing I, yang telah meluangkan waktu
untuk membimbing saya dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Ibu Rapmaida M. Pangaribuan, S.Si, M.Sc selaku pembimbing II, yang telah
meluangkan waktu untuk membimbing saya dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Ibu Jusry R. Pahnael, S.Si, M.Si selaku penguji yang telah meluangkan waktu
untuk menguji pemahaman saya terhadap skripsi ini.
6. Bapak dan Ibu Dosen pada Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknik
Undana yang telah mendidik dan membekali saya dengan berbagai ilmu
pengetahuan selama masa perkuliahan.
vi

7. Mama tersayang, K Fa, Victor, Ester, Tii Hony, K Joe, dan Too Celi; atas doa,
kasih sayang serta cinta dan dukungan yang selalu untuk sayaterima kasih
atas semangat hidup yang telah kalian berikan.
8. Teman-teman angkatan 2010 Jurusan Matematika FST Undana; Oldha, Rinbol,
Mirend, Jose, Arifat, Jhonter, Rian, Figo, Bapa Djiman, Dede, Ito, Andre, Rinto,
Leto, Alfred, Medi, Sidiq, Gomer, Rafli, Ita, Astin, Tata, Rita, K Sipo, Lili, Lefi,
Adin, Eflin, K Yeli, Rina, Rin, Vivi, Nola, Lelo, Fhila, Maya, Ay, Ayu, Nia dan
Ina yang telah membantu saya dalam menyelesaikan skripsi ini serta yang sudah
membantu dalam berbagai hal selama perkuliahansangat bahagia bisa dekat
dengan kalian semua.
9. Teman-teman dari jurusan Matematika FST Undana K Jack, K Basti, K Moad, K
Nuki, dan yang tidak dapat disebutkan namanya satu per satu yang telah
bersedia membantu saya dalam segala hal dan selalu mendukung saya selama
perkuliahan.
10. Teman-teman dari jurusan Fisika, Kimia, Biologi, Ilmu Komputer dan Teknik
yang tidak sempat disebutkan namanya satu per satu; terima kasih atas segala
dukungan, doa dan motivasi yang telah diberikan kepada saya selama
perkuliahan.
11. Terima kasih pula bagi kakak-kakak, teman-teman dan adik-adik KMK SPC
MIPA FST UNDANA, teman-teman ARBIDZ serta teman-teman OMK
SANYORA atas segala dukungannya selama perkuliahan sampai pada penulisan
skripsi ini, baik secara langsung maupun tidak langsung.
vii

Saya menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat saya harapkan demi
penulisan yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.
Harapan saya semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang
membutuhkan. Semoga Tuhan Yesus selalu menolong kita dalam setiap langkah
hidup masing-masing.


Kupang, Mei 2104
Penulis

Frederik Yohanes










viii

ABSTRAK

Diberikan dua buah ruang vektor dan atas lapangan yang sama dan
subruang dari . Apabila kedua ruang vektor tersebut dikaitkan dengan transformasi
linear , yaitu , maka dapat dibentuk konsep tentang () dan ().
Selanjutnya jika dibentuk koset dari yakni

yang merupakan ruang vektor atas


, transformasi linear

dan

maka dapat dikonstruksi teori


utama isomorfisma ruang vektor yakni

()

() yang masih dapat


dikembangkan lagi dengan mengaplikasikan teori tersebut sehingga diperoleh teori
yang lain yakni

.
Kata kunci: Ruang Vektor, Transformasi Linear dan Isomorfisma Ruang Vektor.





























ix

ABSTRACT


Given two vector spaces and over the same field and a subspace of the
vector space V. If both are associated with a linear transformation , it can
be established the concept of () and (). Furthermore, if formed coset of
that

is a vector space over , linear transformation

and

, it
can be constructed the main theory of vector space isomorphism that is

()

() which can be developed by applying the theory in order to obtain another


theory that is

.
Keyword: Vector Space, Linear Transformation and Vektor Space Isomorphism





























x

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PERSETUJUAN i
HALAMAN PENGESAHAN ii
MOTTO ............................................................................................................ iii
PERSEMBAHAN ............................................................................................ iv
KATA PENGANTAR ...................................................................................... v
ABSTRAK ....................................................................................................... viii
ABSTRACT ..................................................................................................... ix
DAFTAR ISI .................................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xii
DAFTAR SIMBOL .......................................................................................... xiii
BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1
1.2 Identifikasi dan Pembahasan Masalah ................................................... 2
1.3 Tujuan .................................................................................................... 2
1.4 Manfaat .................................................................................................. 2
BAB II. LANDASAN TEORI ......................................................................... 3
2.1 Grup dan Lapangan ................................................................................ 3
2.2 Ruang Vektor ......................................................................................... 6
2.3 Kombinasi Linear dan Himpunan Pembangun ...................................... 15
2.4 Himpunan Bebas Linear dan Tak Bebas Linear .................................... 17
2.5 Basis dan Dimensi ruang vektor ............................................................ 19
2.6 Pemetaan dan Relasi Ekuivalensi .......................................................... 23
2.7 Transformasi Linear ............................................................................... 24
2.8 Kernel dan Daerah Hasil Transformasi Linear ...................................... 26
2.9 Transformasi Linear Non-singular dan Isomorfisma Ruang Vektor ..... 29
BAB III. METODE KAJIAN ........................................................................... 32
3.1 Desain Kajian ......................................................................................... 32
3.2 Prosedur Kajian ..................................................................................... 32
3.3 Hasil yang Diharapkan .......................................................................... 32

xi

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................... 33
4.1 Relasi Ekuivalensi ................................................................................. 33
4.2 Partisi(kelas-kelas) pada Ruang Vektor ................................................. 34
4.3 Transformasi Linear Ruang Vektor ....................................................... 38
4.4 Teori Utama Isomorfisma Ruang Vektor .............................................. 40
4.5 Aplikasi Teori Utama Isomorfisma Ruang Vektor ................................ 44
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 49
5.1 Kesimpulan ............................................................................................ 49
5.2 Saran ...................................................................................................... 49
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 50



















xii

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Pengabstraksian Ruang Vektor ................................................ 6
Gambar 2.2 Himpunan Semua Kombinasi Linear ...................................... 15
Gambar 2.3 Transformasi Linear pada Ruang Vektor ................................ 27
Gambar 4.1 Keluarga kelas-kelas pada Ruang Vektor ................................ 34
Gambar 4.2 Transformasi Linear Ruang Vektor ......................................... 40
Gambar 4.3 Pemetaan Linear ...................................................................... 41
Gambar 4.4 Diagram Transformasi Linear ................................................. 44















xiii

DAFTAR SIMBOL

: Grup
: Anggota grup
: Subgrup
: Anggota subgrup
: Himpunan bilangan real
: Himpunan bilangan bulat
: Lapangan
: Anggota lapangan

: Elemen identitas di lapangan


: Sublapangan

: Himpunan vektor atas berdimensi 3


: Ruang vektor
: Anggota ruang vektor

: Elemen identitas di ruang vektor

: Elemen invers di ruang vektor


: Subruang
[] : Himpunan semua kombinasi linear di ruang vektor
: Transformasi linear
: Transformasi linear identitas
() : Daerah hasil transformasi linear
() : Kernel transformasi linear
: Partisi ruang vektor

: Keluarga Kelas-kelas ruang vektor V (koset pada ruang vektor )


: Anggota ruang vektor

: Invers transformasi linear


xiv

: Isomorfik terhadap
: Anggota(elemen) dari
: Sedemikian hingga
: Untutk setiap
: ada (terdapat)
: Komposisi fungsi dan
: Relasi ekuivalensi
: Implikasi
: Biimplikasi
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Aljabar merupakan salah satu bidang ilmu matematika yang dalam penyajiannya
memuat huruf-huruf untuk mewakili bilangan yang belum diketahui. Aljabar sendiri
dibagi kedalam beberapa konsentrasi, salah satunya adalah aljabar linear yang lebih
membahas tentang ruang vektor dan matriks.
Konsep tentang ruang vektor dibangun dari suatu grup abelian dengan operasi
penjumlahan (adisi) yang setiap anggotanya jika dioperasikan dengan setiap anggota
pada suatu lapangan (operasi pergandaan skalar), maka hasil operasi pergandaan
skalar tersebut masih merupakan anggota dari grup abelian dan memenuhi aksioma-
aksioma tertentu pada operasi pergandaan skalar tersebut. Selanjutnya dari struktur
ruang vektor dapat dibangun konsep atau pengertian himpunan bebas linear, tak
bebas linear, pembangun dan basis. Dari konsep-konsep di atas, kemudian dapat
dibangun konsep tentang Transformasi Linear yang merupakan pemetaan dari suatu
ruang vektor ke ruang vektor lainnya yang juga memenuhi aksioma-aksioma tertentu.
Adapun konsep yang dapat diturunkan dari konsep transformasi linear yakni kernel
dari )) dan image dari )). Dari konsep tersebut, selanjutnya akan
dikonstruksi teori utama isomorfisma ruang vektor. Teori utama isomorfisma ruang
vektor sendiri masih dapat dikembangkan lebih lanjut dengan mengaplikasikan teori
tersebut yang akan menghasilkan teori yang lain.
Berdasarkan latar belakang diatas, akan dikonstruksi struktur aljabar tentang teori
utama isomorfisma ruang vektor dan akan diteliti lebih lanjut mengenai aplikasi teori
isomorfisma ruang vektor. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul Teori Utama Isomorfisma Ruang Vektor dan
Aplikasinya.


2

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, ditemukan beberapa masalah yakni:
1. Bagaimana mengkonstruksi teori utama isomorfisma ruang vektor?
2. Bagaimana aplikasi dari teori isomorfisma ruang vektor?

1.3 Tujuan
Menanggapi permasalahan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengkonstruksi teori utama isomorfismaruang vektor.
2. Membangun teori lain dengan mengaplikasikan teori utama isomorfisma ruang
vektor.

1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini antara lain sebagai berikut:
1. Sebagai tambahan informasi bagi mahasiswa mengenai teori isomorfisma di
ruang vektor sehingga dapat membantu mahasiswa dalam mempelajari aljabar
linear khususnya tentang aplikasi isomorfisma di ruang vektor.
2. Sebagai tambahan ilmu dan materi aljabar linear mengenai teori isomorfisma di
ruang vektor di Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa
Cendana Kupang.










3

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Grup dan Lapangan
Dalam subbab ini, akan dipaparkan beberapa definisi dan teorema yang berkaitan
dengan grup dan lapangan.

Definisi 2.1 (Setiadji, 1983) : Diketahui suatu himpunan yang tak kosong. Apabila
pada dikenakan operasi biner , maka merupakan suatu grup jika memenuhi
aksioma-aksioma berikut.
1. Bersifat tertutup.


2. Memiliki elemen identitas.
) )
3. Setiap elemen grup memiliki invers.
)


4. Asosiatif.


Jika pada operasi biner dalam grup juga berlaku sifat komutatif yaitu

, maka grup disebut grup Abelian.



Definisi 2.2 (Lang, 1996) : Diketahui suatu grup . himpunan bagian yang tak
kosong dari grup disebut subgrup dari grup jika sendiri merupakan grup
terhadap operasi biner yang sama dengan grup .

Teorema 2.3 (Setiadji, 1983) : Diketahui suatu grup , disebut subgrup dari
grup jika dan hanya jika

.

4

Bukti :
) Diketahui subgrup dari . Diambil sebarang

. Karena subgrup
dari grup , maka ada

, sehingga diperoleh

dan karena
merupakan subgrup dari grup , maka setiap sifat grup yang berlaku pada grup
juga berlaku pada , sehingga pada juga berlaku sifat tertutup. Jadi terbukti
bahwa

.
) Diketahui

.
i. Diambil sebarang

, maka diperoleh


Jadi, himpunan memiliki elemen identitas.
ii. Karena

maka untuk setiap

diperoleh


Jadi,

atau setiap anggota di memiliki invers.


iii. Karena

, maka untuk setiap

diperoleh


Dengan kata lain terutup.
iv. Diambil sebarang

.
Karena tertutup,

dan

sehingga diperoleh

) atau bersifat assosiatif.


Terbukti bahwa merupakan subgrup dari grup .

5

Definisi 2.4 (Setiadji, 1983) : Diketahui sebuah himpunan merupakan suatu grup
Abelian terhadap operasi penjumlahan dan memenuhi aksioma-aksioma berikut.
1. Terhadap pergandaan
i. Bersifat tertutup.
ii. Memiliki elemen satuan.
iii. Setiap elemen bukan 0 dari memiliki invers.
iv. Asosiatif.
v. Komutatif
2. Bersifat distributif
Jika diambil sebarang

anggota pada grup abelian F, maka

)
Maka grup Abelian disebut lapangan terhadap operasi penjumlahan dan
pergandaan, dan dinotasikan dengan ) atau cukup saja.

Definisi 2.5 (Lang, 1996) : Diketahui merupakan suatu lapangan. Himpunan
disebut sublapangan dari jika terhadap operasi yang sama dengan ,
juga merupakan suatu lapangan.

Contoh 2.6 : Himpunan bilangan kompleks merupakan lapangan terhadap operasi
penjumlahan dan pergandaan bilangan real karena memenuhi aksioma-aksioma di
atas yaitu merupakan grup Abelian terhadap operasi penjumlahan dan pergandaan,
dan bersifat distributif.
Himpunan bilangan real juga merupakan suatu lapangan karena memenuhi
semua aksioma dalam lapangan. Karena , maka himpunan bilangan real
merupakan sublapangan dari himpunan bilangan kompleks .
6

2.2 Ruang Vektor
Dalam subbab ini, akan dipaparkan beberapa materi yang berkaitan dengan ruang
vektor.

Definisi 2.7 (Lang, 1996) : Diketahui suatu grup Abelian terhadap operasi
penjumlahan. disebut ruang vektor atas lapangan jika untuk setiap dan
untuk setiap

berlaku

dan memenuhi aksioma-aksioma berikut.


i.


ii.


iii.

)
iv.

Berikut akan ditampilkan visualisasi dari pengabstraksian operasi pergandaan
skalar pada ruang vektor.

)grup Abelian
)lapangan

Gambar2.1PengabstraksianRuangVektor
Anggota ruang vektor disebut vektor dan anggota lapangan disebut skalar.

F V

v
v +
7

Contoh 2.8 : Misal diberikan

{(

+|

}
Himpunan

di atas merupakan suatu grup Abelian terhadap operasi


penjumlahan karena memenuhi aksioma-aksioma sebagai berikut.
i. Bersifat tertutup.

+ (

+ (


ii. Memiliki elemen identitas.

) (

+ (

+ (

+ (



iii. Setiap elemen grup memiliki invers.


Misalkan

), maka

) (

+ (

) (

+
(

+ (

+ (

) (

+
iv. Asosiatif.

),
8

((

+ (

+) (

+ (

+ (

+
(

+ (

+ (

+
(

+ ((

+ (

+)

)
v. Komutatif

),

+ (

+ (

+ (


Jadi,

merupakan grup Abelian terhadap operasi penjumlahan.


Didefinisikan operasi pergandaan scalar dalam

sebagai berikut.
(

+ )


Untuk setiap

dan

maka operasi pergandaan skalar di atas


memenuhi aksioma-aksioma sebagai berikut.
i.


ii.


iii.

)
iv.



Teorema 2.9 (Lang,1996) : Jika diketahui merupakan lapangan dan sub
lapangan dari , maka merupakan ruang vektor atas .



9

Bukti:
Diketahui merupakan suatu lapangan. Jelas bahwa merupakan grup Abelian
terhadap operasi penjumlahan.
Diambil sebarang dan . Karena sublapangan maka sehingga
diperoleh operasi pergandaan skalar juga merupakan anggota atau
Aksioma-aksioma dalam ruang vektor juga dipenuhi karena langsung diwariskan dari
operasi pergandaan skalar tersebut.
Jadi, merupakan ruang vektor atas

Teorema 2.10 (Lang, 1996) : Diketahui ruang vektor atas lapangan .

adalah
elemen netral lapangan ,

adalah suatu vektor nol dalam ruang vektor , dan


adalah invers grup untuk . Maka untuk setiap dan diperoleh:
i.


ii. )
iii.



Bukti:
i.


Berdasarkan aksioma ) dan ) dari definisi 2.6, maka diperoleh:


Dengan menambahkan invers penjumlahan pada masing-masing ruas, maka
diperoleh:
) )


10


ii. )
) ) ( ))


Karena invers grup bersifat tunggal, maka diperoleh ) .
iii.

( )) ) () )
( )) )
( ))



Contoh 2.11 : Telah diketahui bahwa

{(

+|

} merupakan suatu ruang vektor atas lapangan


bilangan real .
Diambil himpunan bagian dari

sebagai berikut.
{(

) |

}
Diketahui bahwa merupakan suatu lapangan, dan jelas bahwa merupakan
suatu grup Abelian terhadap operasi penjumlahan.
Juga memenuhi operasi pergandaan skalar sebagai berikut.
( (

) ) ) (

)
Keempat aksioma dalam definisi 2.6 jelas dipenuhi. Jadi, merupakan ruang
vektor atas lapangan yang sama dengan ruang vektor

.


11

Berdasarkan uraian sebelumnya, diperoleh definisi berikut:

Definisi 2.12 (Lang, 1996) : Diketahui ruang vektor atas lapangan . Himpunan
disebut subruang dari ruang vector jika terhadap operasi yang sama
dengan , juga merupakan ruang vektor atas lapangan .

Contoh 2.13 : Berikut contoh-contoh subruang.
Diketahui himpunan

{(

+|

}
merupakan suatu ruang vektor atas lapangan bilangan real .
a) Himpunan {(

+|

merupakan subruang dari

karena
merupakan ruang vektor terhadap lapangan bilangan real dengan operasi yang
sama dengan

.
b) Himpunan {(

+}

merupakan subruang dari

karena merupakan
ruang vektor terhadap lapangan bilangan real dengan operasi yang sama dengan

.
c) Himpunan {(

+ (

+}

bukan merupakan subruang dari

karena jika
diambil (

+ diperoleh (

+ (

+ (

+ .
12

Teorema 2.14 (Lang, 1996) : Diketahui adalah ruang vektor atas lapangan .
Himpunan merupakan subruang dari ruang vector jika dan hanya jika
dalam berlaku.
i.


ii. ) )

Bukti:
)Karena dik. subruang dari ruang vektor , maka setiap sifat yang berlaku pada
ruang vektor juga berlaku pada , sehingga jelas terbukti untuk sifat (i) & (ii).
)Diketahui dan aksioma (i) dan (ii) dipenuhi dalam . Diambil sebarang
maka diperoleh
) )
)


Sehingga terhadap operasi penjumlahan dipenuhi sifat-sifat berikut:
a) )
Karena maka juga berlaku
b) ) ) )
c)

dan


d) )


e) )
13

Maka merupakan grup Abelian terhadap operasi penjumlahan. Karena sifat
(ii) dipenuhi dan maka untuk setiap dan untuk setiap


berlaku juga
a)


b)


c)

)
d) )
Berdasarkan keseluruhan uraian di atas terbukti bahwa merupakan ruang
vektor atau merupakan subruang dari ruang vektor

Teorema 2.15 (Lang, 1996) : Diketahui adalah ruang vektor atas lapangan .


dan

masing-masing subruang di .
Diperoleh:
i.

subruang di .
ii.

{ |

} subruang di .
iii.

belum tentu subruang di .



Bukti:
i. Diambil sebarang

dan . Karena

subruang di maka

dan

. Demikian pula, karena

subruang di maka

dan

.
Jadi,

dan

. Dengan kata lain,

subruang di .
ii. Diambil sebarang

dan , maka diperoleh

, untuk suatu

dan


14

, untuk suatu

dan


Karena

dan

masing-masing subruang di , maka

dan

. Jadi,


Demikian pula karena

dan

masing-masing subruang di , maka


dan

.
Jadi,


Terbukti bahwa

subruang di .
iii. Akan dibuktikan dengan menggunakan contoh penyangkal sebagai berikut:
Diambil

{(

)|

} dan

{(

+|

} masing-masing
adalah subruang di

.
Akan ditunjukkan

bukan subruang di

sebagai berikut :

{(

) (

+|

}
Bukan subruang sebab untuk setiap (

) (

maka
15

(

) (

+ (


Jadi,

belum tentu subruang di .



2.3 Kombinasi Linear dan Himpunan Pembangun
Berikut akan dipaparkan beberapa definisi dan teorema yang berkaitan dengan
kombinasi linear dan himpunan pembangun.

Definisi 2.16 (Setiadji, 1983) : Diketahui ruang vektor atas lapangan , dan
{

} . Himpunan semua kombinasi linear dari

dinotasikan
dengan dan didefinisikan sebagai {

}
Ilustrasinya sebagai berikut.


Gambar 2.2 Himpunan Semua Kombinasi Linear

Teorema 2.16 (Setiadji,1983) : Himpunan
{

}
merupakan subruang dari .

F
V
[A]
A
16

Bukti:
Karena selalu berlaku


Maka

atau .
Diambil sebarang maka diperoleh

, untuk suatu

, untuk suatu


Jadi,


Jadi, )
Diambil sebarang , maka diperoleh


Jadi, ) )
Maka terbukti bahwa adalah subruang dari .


Definisi 2.17 (Lang, 1996) : Diketahui adalah ruang vektor atas lapangan .
Himpunan {

} disebut generator (pembangun) ruang vektor jika


)



17

Contoh 2.18 : Diketahui

adalah ruang vektor atas lapangan , dan himpunan


{

)} . Karena semua anggota dapat dituliskan


sebagai kombinasi linear dari atau , maka dikatakan himpunan
merupakan himpunan pembangun (generator) ruang vektor .

2.4 Himpunan Bebas Linear dan Tak Bebas Linear
Berikut merupakan definisi dari himpunan bebas linear dan tak bebas linear.

Definisi 2.19 (Setiadji, 1983) : Diketahui ruang vektor atas lapangan . Himpunan
{

} disebut bebas linear apabila dipenuhi implikasi



Contoh 2.20 : Vektor-vektor {

} bebas linear dalam

{ }. Sebagai
bukti, diambil sebarang kombinasi linear

)
Untuk maka


Untuk maka


Diperoleh


Karena

maka


Sehingga

.
Jadi, vektor-vektor {

} bebas linear dalam


18

Definisi 2.21 (Setiadji, 1983) : Diketahui ruang vektor atas lapangan . Himpunan
{

} disebut tak bebas linear apabila


Atau ada skalar-skalar

yang tidak semuanya nol sehingga

.
Jadi, definisi bebas linear merupakan suatu ingkaran dari definisi tak bebas
linear.

Contoh 2.22 Diketahui ruang vektor atas lapangan , dan {

} ,
pernyataan berikut selalu bernilai benar.


Atau ekivalen dengan pernyataan berikut.


Konvers dari pernyataan di atas, yaitu


tidak selalu bernilai benar, sebagai contoh vektor-vektor (

+ (

maka
(

+ (

+ (


Akan tetapi, apabila pernyataan tersebut selalu bernilai benar, maka memenuhi
pengertian baru, yaitu dikatakan bahwa {

} bebas linear.



19

2.5 Basis dan Dimensi Ruang Vektor
Berdasarkan definisi bebas linear dan himpunan pembangun, dapat dibangun
definisi berikut.

Definisi 2.23 (Lang, 1996) : Diketahui ruang vektor atas lapangan , dan
{

} . Himpunan disebut basis dari ruang vektor jika merupakan


pembangun (generator) yang bebas linear untuk .

Contoh 2.24 : Diketahui vektor-vektor {

)} dalam

. Akan
dibuktikan bahwa {

} merupakan basis untuk

.
Diambil sebarang (

dengan , maka diperoleh


) (

)
(

) (

dan

dan


Jadi ada

dan

sedemikian sehingga

. Jadi,
{

)} membangun

.
Dibentuk kombinasi linear

) (

)
20

(

) (

)
Diperoleh

sehingga

. Jadi, {

} bebas linear.
Terbukti bahwa {

)} merupakan generator yang bebas linear di


atau {

} merupakan basis untuk

.
Jika ruang vektor memiliki basis berhingga, disebut berdimensi hingga. Jika
tidak, disebut berdimensi tak hingga.

Teorema 2.25 (Beachy, 2006) :Ruang vector atas lapangan memiliki basis yang
tidak tunggal.

Bukti:
Diambil {

} sebarang basis dari . Akan ditunjukkan bahwa terdapat

sehingga {

} adalah basis yang lain untuk .


Akan ditunjukkan bahwa {

} bebas linear, yaitu


Karena {

} bebas linear, maka diperoleh


Karena

, maka ada

sehingga

. Diperoleh,


21

Akan ditunjukkan bahwa {

} membangun .
Diambil sebarang , karena {

} basis dari maka



Karena

, maka ada

sehingga


Jadi, {

} adalah basis yang lain untuk .Terbukti bahwa basis pada


ruang vector atas lapangan tidaklah tunggal.

Teorema 2.26 (Setiadji, 1983) : Setiap anggota ruang vector atas lapangan
merupakan kombinasi linear yang tunggal dari vektor-vektor basis untuk .

Bukti:
Diketahui {

} basis dari . Jadi diperoleh


, untuk suatu


dan

, untuk suatu


Akibatnya diperoleh,


Karena {

} bebas linear maka diperoleh


22


Terbukti bahwa setiap anggota V direpresentasikan secara tunggal sebagai kombinasi
linear dari vektor-vektor dalam basis.

Definisi 2.27 (Beachy, 2006) : Dimensi dari ruang vector atas lapangan adalah
jumlah vektor-vektor dalam basis untuk .

Contoh 2.28 : Sebarang ruang vektor

berdimensi atas lapangan , di mana


buah vektor {(

, (

, (

,} membentuk basis dari ruang vektor

atas
lapangan .
Diambil sebarang (

, maka v dapat ditulis sebagai kombinasi linear


dari {(

, (

, (

,} yaitu
(

,
Jadi, vektor-vektor di atas membangun

.
Karena vektor-vektor tersebut juga bebas linear, maka buah vektor tersebut
merupakan basis untuk ruang vektor

atas lapangan . Jadi, ruang vektor


berdimensi atas lapangan .
23

2.6 Pemetaan dan Relasi Ekuivalensi
Pada subbab ini akan ditubjukkan beberapa definisi tentang pemetaan dan relasi
ekuivalensi.

Definisi 2.29 : Diketahui pemetaan dan . Pemetaan
dikatakan sama, ditulis bila ) ) .

Definisi 2.30 (Setiadji, 1983) : Relasi disebut refleksif jika dan hanya jika untuk
setiap anggota dari semestanya berlaku , atau
)

Definisi 2.31 (Setiadji, 1983) : Relasi disebut simetris jika dan hanya jika untuk
setiap dari semestanya berlaku: apabila maka .

Definisi 2.32 (Setiadji, 1983) : Relasi disebut transitif jika dan hanya jika untuk
setiap dari semestanya berlaku: apabila dan maka .

Definisi 2.33 (Setiadji, 1983) : Relasi dikatakan suatu relasi ekuifalensi jika
merupakan relasi yang refleksif, simetris dan transitif.

Teorema 2.34 (Setiadji, 1983) : Suatu relasi ekuivalensi antara anggotanya suatu
semesta mengakibatkan adanya penggolengan (partitioning) di dalam .

Bukti :
Misalkan relasi diatas disebut , maka ditentukan bahwa memiliki sifat-sifat
refleksif, simetris dan transitif. Semua elemen-elemen yang berada dalam relasi
dengan , kita kumpulkan dalam suatu himpunan

. Jadi

{ |}.
Himpunan

tidak kosong sebab refleksif, jadi . Sehingga

dan


24

sekurang-kurangnya mempunyai suatu anggota. Dari sini disimpulkan bahwa setiap
anggota pasti berada dalam sekurang-kurangnya satu kelas, yaitu kelas yang memuat
ia sendiri.
Apabila dua golongan itu berserikat satu elemen saja, maka mereka berimpitan,
sebab andaikan

berserikat elemen c. Karena

maka . Karena
simetris, maka dari diturunkan . Dari sebab

maka . Dari sini


dengan menggunakan sifat transitif diturunkan . Sehingga

. Selanjutnya,
untuk setiap

berlaku , dan karena dengan menggunakan transitif


maka . Jadi

. Maka terbukti setiap anggota dari

menjadi anggota

,
yaitu

. Dengan jalan yang sama, maka dapat dibuktikan

atau dengan
kata lain terbukti bahwa

.

2.7 Transformasi linear
Pada subbab ini akan dipaparkan materi yang berkaitan dengan Transformasi
Linear.

Definisi 2.35 (Miller, 1997) : Diketahui dan ruang vektor atas lapangan yang
sama. Transformasi linear adalah suatu pemetaan dari ke
sedemikian sehingga untuk setiap dan berlaku.
i. ) ) )
ii. ) )

Definisi 2.36 (Miller, 1997) : Diketahui dan ruang vektor atas lapangan yang
sama. Transformasi linear adalah suatu pemetaan dari ke
sedemikian sehingga untuk setiap dan berlaku.
) ) )
Definisi 2.27 dan definisi 2.28 adalah ekivalen. (Setiadji, 1983).

25

Definisi 2.37 (Miller, 1997) : Transformasi linear

dan

dari ruang vektor ke


dikatakan sama jika

)

Definisi 2.38 (Lang, 1996) : Diketahui

dan

transformasi linear dari ruang


vektor ke . Untuk setiap dan didefinisikan jumlahan

dan
pergandaan skalar

yaitu

))

))

)

Contoh 2.39 : Misalkan suatu pemetaan

didefinisikan sebagai
(

+ (

), di mana


Diambil sebarang (

+ (

maka
) (

+ (

* (

) (

*
(

) (

) (

+ (

+
) )
untuk setiap dan . Jadi, merupakan suatu transformasi linear.




26

Selanjutnya akan diberikan transformasi-transformasi linear khusus yakni
sebagai berikut.
Transformasi-transformasi Linear Khusus (Lang, 1996)
Diketahui dan sebarang ruang vektor atas lapangan . Untuk setiap
berlaku.
i. Transformasi Linear Identitas didefinisikan dengan
)
ii. Transformasi Linear Nol didefinisikan dengan
)
iii. Transformasi Linear Negatif didefinisikan dengan
)) )

2.8 Kernel dan Daerah Hasil Transformasi linear
Berikut akan ditunjukkan konsep yang mendukung teori transformasi linear pada
ruang vektor.
Diberikan

{(

,|

}
Diketahui

) merupakan himpunan matriks-matriks yang berukuran


dengan elemen bilangan real.

)
Diambil sebarang

, diperoleh


Atau,


27


Dapat dibentuk suatu pemetaan

sebagai berikut

)
Pemetaan di atas memenuhi sifat-sifat sebagai berikut.
1.

)
2.

)
Berdasarkan model 1 dan 2dapat dibentuk pengertian pemetaan linear lewat
abstraksi yang diilustrasikan lewat gambar 2.3 dengan ruang vektor atas
lapangan yang sama dan pemetaan dari ruang vektor ke (William, 2010).

Gambar 2.3 Transformasi Linear pada Ruang Vektor

Definisi 2.40 (Miller, 1997) : Diketahui dan ruang vektor atas lapangan .
Misalkan adalah transformasi linear dari ke .
i. Daerah hasil dari adalah himpunan semua bayangan (images) )
dengan dan didefinisikan sebagai
) { |) }
T
F
V W
Ow
Ov

28

ii. Kernel dari adalah himpunan semua vektor sedemikian sehingga
) dan didefinisikan sebagai
) { |)

}

Teorema 2.41 (Wiliam, 2010) : Daerah hasil dari suatu transformasi linear
merupakan subruang dari .

Bukti :
Sebagai bukti, diambil sebarang

) maka terdapat

sehingga

dan

.
Diperoleh

) )
Untuk setiap diperoleh

) )
Maka terbukti bahwa ) merupakan subruang dari .

Teorema 2.42(Wiliam, 2010) : Kernel dari suatu transformasi linear merupakan
subruang dari .

Bukti:
Telah diketahui sebelumnya bahwa ) .
Diambil sebarang

maka

dan

. Diperoleh

)
Untuk setiap diperoleh

)
Maka terbukti bahwa ) merupakan subruang dari .

29

Teorema 2.43 (Anonymous, 2009) : Diketahui adalah transformasi linear
dari ruang vektor ke . Maka diperoleh


Bukti :
Karena

elemen identitas terhadap penjumlahan maka diperoleh


) (

))

))

)
Jadi,

.

2.9 Transformasi Linear Non-Singular dan Isomorfisma Ruang Vektor
Pada subbab ini akan ditunjukkan beberapa definisi dan teorema yang
berhubungan dengan transformasi linear non-singular dan isomorfisma ruang vektor.

Definisi 2.44 (Setiadji, 1983) : Suatu transformasi linear merupakan transformasi
non-singular jika terdapat invers transformasi linear

sehingga

. Jika
tidak terdapat invers transformasi demikian maka disebut transformasi singular.

Teorema 2.45 (Wiliam, 2010) : Diketahui transformasi linear dari ruang vektor
ke . Maka injektif jika dan hanya jika ) {

}.

30

Bukti:
)Diketahui injektif

)
Diambil sebarang ), maka diperoleh
)

)
Menurut yang diketahui maka


Jadi ) {

}
)Diketahui ) {

}
Diambil sebarang

sedemikian sehingga

).
Jadi,


Atau,

) {

}
Oleh karena itu,


Dengan kata lain,

)
Atau terbukti injektif.



31

Teorema 2.46 (Setiadji, 1983) : Jika

pada ruang vektor , maka


pada ) .

Bukti (Setiadi, 1983) :
Diketahui transformasi non-singular, maka sebarang ) dapat dinyatakan
secara tunggal sebagai ) untuk suatu , dan diperoleh

()) (

))) ()) )
Jadi,

pada ).

Definisi 2.47 (Setiadji, 1983) : Misalkan dan adalah ruang vektor atas
lapangan . Transformasi linear dari ruang vektor ke disebut isomorfisma
jika bijektif, ditulis .






















32

BAB III
METODE KAJIAN

3.1 Desain Kajian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur, yaitu
menghimpun beberapa sumber referensi dan dibuat suatu kajian khusus mengenai
Teori Utama Isomorfisma Ruang Vektor dan Aplikasinya. Sumber kajian dan
penulisan diperoleh dari buku-buku referensi, jurnal-jurnal ilmiah, dan artikel web
lainnya.
Kajian tentang Teori Utama Isomorfisma Ruang Vektor ini merupakan penelitian
yang bersifat murni atau penelitian dasar.

3.2 Prosedur Kajian
Langkah-langkah kajian Teori Utama Isomorfisma Ruang Vektor dan
Aplikasinya adalah sebagai berikut:
1. Mengkonstruksi struktur aljabar tentang teori utama isomorfisma ruang vektor.
2. Membentuk teori baru berdasarkan aplikasi dari teori utama isomorfisma ruang
vektor.

3.3 Hasil yang diharapkan
Adapun hasil yang diharapkan dari penelitian ini, antara lain:
1. Dapat merumuskan struktur aljabar tentang teori utama isomorfisma ruang
vektor.
2. Dapat membentuk teori baru berdasarkan aplikasi dari teori utama isomorfisma
ruang vektor.



33

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Relasi Ekuivalensi
Diketahui ruang vektor atas lapangan , subruang dari ruang vektor .
Bila

maka kemungkinan yang terjadi antara lain:

, atau


Jika yang terjadi adalah kemungkinan

, maka dapat dibangun definisi


sebagai berikut:

Definisi 4.1 : Diketahui ruang vektor dan merupakan subruang dari .

dikatakan berelasi jika dan hanya jika

.

Teorema 4.2 : Diketahui ruang vektor dan merupakan subruang dari .

. Relasi dimana

merupakan relasi ekuivalensi.



Bukti :
Akan dibuktikan bahwa relasi merupakan suatu relasi ekuivalensi maka menurut
definisi 2.33 relasi haruslah reflektif, simetris dan transitif. Diambil sebarang

, maka diperoleh:
(i.) Relasi Reflektif

, karena merupakan subruang dari ruang vektor .


Dengan kata lain terbukti bahwa

atau refletif.
(ii.) Relasi Simetris

. Karena subruang maka berlaku:


)

) )(

))
)


Dengan kata lain terbukti bahwa

atau simetris.
34

(iii.) Relasi Transitif.

&

, karena subruang, maka


berlaku:


Dengan kata lain terbukti bahwa

atau transitif.

4.2 Partisi (kelas-kelas) pada Ruang Vektor
Berdasarkan teorema 4.1 maka ruang vektor terbagi atas keluarga kelas-kelas
yang saling asing. Jadi , kelas yang diwakili , dinotasikan dengan .
{ } { }
{ }
{ }
{ }

Kemudian dapat dibentuk keluarga kelas-kelas sebagai berikut:

{ }
Keluarga kelas-kelas pada ruang vektor dapat divisualisasikan lewat gambar berikut
ini.

Gambar 4.1 Keluarga kelas-kelas pada Ruang Vektor


35

Jadi keluarga kelas

didefinisikan operasi-operasi penjumlahan dan perkalian


skalar sebagai berikut.
i.


ii.



Himpunan bilangan bulat mempunyai dua operasi biner yang dikenakan padanya
yaitu penjumlahan ) dan pergandaan ). Dalam hal ini untuk setiap pasangan
dan dalam , dan dikawankan secara tunggal dengan suatu anggota
dalam . Operasi biner mempunyai dua bagian dari definisi yaitu:
1. Terdefinisikan dengan baik (well-defined) yaitu untuk setiap pasangan berurutan
dalam dikawankan dengan tepat satu nilai .
2. tertutup di bawah operasi yaitu untuk setiap dalam maka masih
dalam .

Teorema 4.3 : operasi penjumlahan dan operasi perkalian yang di definisikan
pada

adalah well definited (terdefinisi dengan baik).



Bukti :
Diambil sebarang

dan , dimana
(a.)


Karena merupakan subruang dari ruang vektor , maka berlaku

)........................................(i)

)
36

) .....................................................................(ii)
Dari (i) dan (ii) terbukti pernyataan pertama well definited.
(b.)

.................................................................(i)

................................................................................(ii)
Dari (i) dan (ii) terbukti bahwa pernyataan kedua well definited.
dari (a) dan (b) terbukti bahwa operasi-operasi yang didefinisikan pada

adalah
well defnited.

Teorema 4.4 : Diketahui ruang vektor atas lapangan dan himpunan
subruang dari .

adalah ruang vektor atas lapangan F.



Bukti :
(I). Akan di tunjukkan bahwa (

) merupakan grup abelian.


Diambil sebarang

, maka diperoleh.
(a) tertutup.
Karena

maka

, sehingga



37

(b) assosiatif.

)
(c) memiliki elemen identitas.


(d) memiliki invers.



38

(e) komutatif.


dari a s/d e terbukti bahwa (

) merupakan grup Abelian.


(II). Diambil sebarang

sedemikian sehingga

dan berlaku aksioma-aksioma sebagai berikut:


(a) )


(b)


(c) )

)
(d)


Karena

merupakan grup abelian dan memenuhi keempat aksioma di atas, maka


terbukti bahwa

merupakan ruang vektor atas lapangan .






39

4.3 Transformasi Linear Ruang Vektor
ruang vektor atas lapangan dan himpunan subruang dari ruang vektor
. Dibentuk pemetaan sebagai berikut:


)
Berdasarkan sajian di atas, dapat diturunkan teorema sebagai berikut:

Teorema 4.5 : i.) merupakan suatu Transformasi Linear dan Surjektif
ii.) )

Bukti:
Diambil sebarang

dan , maka diperoleh


i.)

)
Dengan kata lain, terbukti bahwa merupakan transformasi linear.
Diambil sebarang

, maka dan didefinisikan:


)
Sehingga terbukti bahwa surjektif.
ii.)Diambil sebarang , maka diperoleh
) { )

} Karena,



, sehingga diperoleh
40

) { )

}
) { ) }
Karena sebarang elemen di , maka diperoleh:
)................................................................................................(i)
Diambil sebarang ), maka diperoleh
)

, dengan kata lain sehingga diperoleh:


) ...............................................................................................(ii)
Dari (i) dan (ii), terbukti bahwa ) .

Berikut akan ditampilkan visualisasi dari transformasi linear ruang vektor, untuk
memperjelas penjelasan di atas.

Gambar 4.2 Transformasi Linear Ruang Vektor









41

4.4 TeoriUtamaIsomorfismaRuangVektor
Dari teori-teori di atas, kemudian dapat dibentuk beberapa teorema yang
mendukung teori utama isomorfisma ruang vector sebagai berikut.

Toerema4.6 :Diketahui masing-masing ruang vektor atas lapangan , dan
subruang dari .

merupakan transformasi linear yang surjektif.


Diketahui suatu transformasi linear atas sedemikian hingga termuat
dalam ) maka ada dengan tunggal transformasi linear atas ,


sedemikian hingga .

Bukti:

Gambar 4.3 Pemetaan Linear

Diambil sebarang

dan .
Kemudian dibentuk

dengan syarat:
) )


(i.) merupakan suatu pemetaan, sebab

dengan

maka:



W



42

menurut diketahui:

)
Sehingga diperoleh:

)
(ii.)

)
Berdasarkan (i) dan (ii) terbukti bahwa .
Selanjutnya diambil pemetaan sedemikian hingga

.
Untuk sebarang

berlaku ) ()), sehingga diperoleh:

))
)
))
())
)
Karena diambil sebarang, dan

) ) maka

.
terbukti bahwa merupakan transformasi linear yang tunggal dengan

43

Teorema 4.7 : Diketahui masing-masing ruang vektor atas lapangan . Bila
adalah suatu transformasi linear, maka

).

Bukti :
Dibentuk suatu transformasi linear


dan pemetaan

), dengan

) ) .
Dari teorema 2.41 dan teorema 2.42 dapat disimpulkan bahwa ) merupakan
subruang atas dan ) merupakan subruang dari .
Berdasarkan teorema 4.6 maka terdapat dengan tunggal transformasi linear


Karena

masing-masing transformasi linear yang surjektif, maka juga


surjektif. Akan ditunjukkan injektif.
Diambil sebarang ) ) )dengan .
Karena ) merupakan subruang dari

(teorema 2.32), maka )


sehingga diperoleh:
)


() ))


( ))


) )


) )


) ) ) )
)) ))
44

()) ())
) )
karena diambil sebarang ) ) ) dengan
berlaku ) ).
Jadi terbukti bahwa injektif, dan karena merupakan transformasi linear yang
surjektif dan injektif, maka merupakan suatu isomorfisma atau dengan kata lain
terbukti bahwa

).

4.5 Aplikasi Teori Utama Isomorfisma Ruang Vektor
Berdasarkan teorema 2.11, bila

masing-masing subruang atas ruang vektor


, maka

dan

juga merupakan subruang dari ruang vektor .


Selanjutnya dibentuk partisi pada ruang vektor yakni

dan

. Akan
ditunjukkan bahwa kedua partisi tersebut adalah isomorfik, yang akan disajikan
dalam teorema sebagai berikut.

Teorema 4.8 : Jika

masing-masing subruang dari ruang vektor atas


lapangan , maka



Bukti :
Dibentuk transformasi linear

yang surjektif dan pemetaan


transformasi linear yang injektif, yaitu pemetaan)


sehingga diperoleh diagram sbb:

45


Gambar 4.4 Diagram Transformasi Linear
Karena juga merupakan suatu transformasi linear, maka ) merupakan suatu
transformasi linear.

, maka

dan berlaku:
)) ()) )

, karena ) injektif (teorema2.45).


Sehingga diperoleh ), dan

).

Kemudian diambil sebarang ), maka:

))
())
)


Sehingga ) berlaku

.
Jadi )

, maka diperoleh

) ..............................................................................(1)
Selanjutnya diambil sebarang

, maka

. Jadi ada

) , dimana untuk suatu

dan menurut
teorema 4.5 )



46

Berarti terdapat

sehingga berlaku:


)
)
) )

)
)
Jadi, terdapat

sedemikian hingga ) atau dengan kata lain


) sehingga diperoleh

).
Karena transformasi linear yang injektif maka

selalu berlaku
)) ()) )
sehingga jika diambil sebarang ) maka terdapat

sedemikian
hingga berlaku:
))
())
)

)
) ), dimana


) ), untuk


47

Jadi diperoleh )

, dan karena

) maka:
)

....................................................................................(2)
berdasarkan uraian (1) dan (2) , dan menurut Teorema 4.7 terbukti bahwa



Contoh 4.9 :
Telah diketahui sebelumnya bahwa

merupakan ruang vektor atas lapangan .

{|

{|

merupakan subruang dari ruang vektor

maka diperoleh:

{ |

} subruang dari ruang vektor

dan

{|

} subruang dari ruang vektor

.
Dibentuk:

}
Selanjutnya dikonstruksi transformasi linear

, sehingga diperoleh:
)


Misalkan diambil sebarang

dengan

.
Karena

merupakan ruang vektor, maka

, sehingga diperoleh:

)


48

Menurut teorema 2.34:


Sehingga:

)
Karena

berakibat

) maka injektif sehingga terbukti bahwa


merupakan isomorfisma, atau dengan kata lain terbukti bahwa:


















49

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari pembahasan pada bab-bab sebelumnya, dapat diperoleh kesimpulan sebagai
berikut:
1. Diketahui ruang vektor atas lapangan yang sama, subruang dari
dan transformasi linear . Jika dibentuk

suatu transformasi
linear yang surjektif maka terdapat dengan tunggal transformasi linear


sedemikian hingga berlaku , dari sini dapat dibentuk teori utama
isomorfisma yakni:

)
2. Dari teori utama isomorfisma diatas, diperoleh teori yang lain dengan
mengaplikasikan teori tersebut sehingga dapat disajikan sebagai berikut:


5.2 Saran
Melalui penelitian ini, penulis mengkaji mengenai teori utama isomorfisma dan
aplikasinya. Sangat diharapkan bahwa skripsi ini dapat digunakan sebagai sumbangan
pemikiran bagi Universitas Nusa Cendana, khususnya bagi pembaca yang ingin
mengembangkan tulisan ini dengan permasalahan yang lebih kompleks terkait dengan
aplikasi dari teori utama isomorfisma ruang vektor.
Dari pembahasan mengenai teori utama isomorfisma ruang vektor dan aplikasinya
ini masih dimungkinkan kajian yang lebih mendalam lewat pengkajian berikutnya.
Dengan mengaplikasikan teori utama isomorfisma ruang vektor, masih banyak teori
yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
50

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2009. Linear Transformations. (Diunduh dari http://www.maths.
ox.ac.uk/system/files/coursematerial/2009/961/14/LA-web6.pdf pada 22 Feb.
2014).

Bretscher, Otto. 1997. Linear Algebra with Applications. Prentice Hall, New Jersey.

Budhi, WonoSetya. 1995. Aljabar Linear. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.

Gultom B. 1985. Soal dan Penyelesaian Aljabar Linier. Penerbit Tarsito, Bandung.

Gultom B. 1985. Teori Aljabar Linier. Penerbit Tarsito, Bandung.

Lang, Serge. 1996. Linear Algebra. Addison-Wesley Publishing Company,
California.

Lawson, Terry. 1996. Linear Algebra. John Wiley & Sons Inc, New York.

Pinter, Charles C. 1990. A Book of Abstract Algebra. McGraw-Hill Inc, New York.

Setiadji. 1983. Aljabar Linier 1. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

William, Andre. 2010. Analisis Matriks Representatif Transformasi Linear pada
Ruang vektor. Matematika-FST Universitas Nusa Cendana, Kupang.

Anda mungkin juga menyukai