Anda di halaman 1dari 81

ALIGNMENT AND BALANCING

1. Pengertian

Dalam dunia industri, baik industri kecil maupun industri besar, termasuk pada unit-unit
pembangkit tenaga listrik, banyak dijumpai adanya penyambungan antara poros
penggerak dan poros yang digerakkan dilakukan dengan menggunakan sambungan
kopling, seperti misalnya:
Antara poros penggerak dengan poros pompa
Antara poros disel dengan poros generator
Antara poros turbin dengan poros generator
dll
Meskipun metoda penyambungan poros dengan menggunakan kopling ini banyak
digunakan, namun satu hal yang tidak bisa dihindari adalah adanya ketidak sebarisan
(misalignment) dari kedua poros yang disambungkan.
Namun ketidak sebarisan tersebut bisa diatasi dengan cara melakukan penyebarisan
(alignment), baik pada saat pemasangan baru maupun dalam perawatan rutin.

1. Pengertian Penyebarisan (Alignment).

Penyebarisan (alignment) adalah melakukan koreksi terhadap adanya ketidak
sebarisan (mis- alignment) antara poros penggerak dengan poros yang
digerakkan, sehingga didapat kesebarisan yang memenuhi persaratan dari kedua
poros tersebut.

1.2 Pengertian ketidak sebarisan (mis-alignment)

Yaitu adanya penyimpangan dari garis sumbu kedua poros yang
dipersambungkan, baik arah sejajar (paralel) maupu arah axial, sehingga terjadi
ketidak sebarisan dari kedua poros yang dipersambungkan.

1.2.1 Ketidak sebarisan radial

Adalah suatu kondisi dimana garis sumbu kedua poros yang
dipersambungkan dalam keadaan sejajar / paralel, tetapi tidak berada dalam
satu garis sumbu.
Oleh karena penyimpangan dalam arah radial dari poros, maka kondisi ini
disebut ketidak sebarisan radial.
Ketidak sebarisan radial terjadi dalam dua arah, yaitu arah vertikal dan arah
horizontal




X = Ketidak sebarisan radial
arah vertikal







Pandangan atas

Y = ketidak sebarisan radial
arah horizontal







1.2.2 Ketidak sebarisan axial

Adalah suatu kondisi dimana garis sumbu dari kedua poros yang
dipersambungkan dalam keadaan tidak sejajar dan saling membentuk sudut
simpangan.
Oleh karena penyimpangan yang terjadi dalam arah axial dari poros, maka
kondisi ini disebut ketidak sebarisan axial.
Ketidak sebarisan
axial terjadi dalam dua
arah yaitu arah vertikal
dan arah horozontal.










= sudut simpangan
axial yang dibentuk oleh
kedua poros yang
dipersambungkan dalam
arah vertikal.











= sudut simpangan axial yang dibentuk oleh kedua poros yang
dipersambungkan dalam arah horizontal.
1.3 Akibat dari ketidak sebarisan

Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa adanya ketidak sebarisan (mis
alignment0 diluar batas yang diijinkan akan mengakibatkan:
o Kopling menjadi panas
o Terjadi kelelahan material pada elemen kopling (untuk kopling kering)
o Terjadinya keausan terutama pada kopling roda gigi
o Keretakan pada poros akibat gaya tekuk yang berulang-ulang
o (keretakan biasanya terjadi pada sisi yang berdekatan dengan hub kopling)
o Kerusakan pada bantalan (bearing)
o Salah satu penyebab timbulnya getaran (vibrasi) pada mesin

1.4 Penyebab ketidak sebarisan

Terjadinya ketidak sebarisan bisa disebabkan antara lain:
o Kesalahan dalam pemasangan
o Pre load dari poros bengkok
o Bantalan yang tidak mapan, dimana sumbu bantalan tidak berimpit dengan
sumbu poros
o Sumbu poros / kopling tidak sebaris

1.5 Batas penyimpangan / toleransi yang diijinkan:

Batas penyimpangan / toleransi ketidak sebarisan (mis alignment) yang diijinkan
biasanya dipengaruhi oleh besar daya dan putaran dari poros penggerak dan
poros yang digerakkan.
Dalam arti, makin besar daya dan putaran yang dipindahkan akan makin kecil
toleransi yang diijinkan. Namun demikian masih ada faktor lain yang
mempengaruhi toleransi yang diijinkan yaitu dari jenis kopling yang digunakan.
Untuk pelaksanaan dilapangan harus mengikuti petunjuk atau referensii yang telah
ditetapkan oleh pabrik pembuatnya.
Apabial tidak ada, maka referensi berikut bisa digunakan sebagai pedoman.
Mather & Platt Ltd Inggris memberi batasan toleransi sbb:

Kopling dengan diameter sampai dengan 12 = 0,002 inchi
Kopling dengan diameter lebih besar dari 12 = 0,003 inchi

Sedangkan Whortington Simpson Ltd Inggris memberikan batas maksimum
untuk radial dan angular mis alignment sebesar 0,002 inchi untuk pompa-pompa
centrifugal dengan 3000 rpm.










2. KOPLING

2.1 Fungsi utama

Yaitu untuk memindahkan daya dan putaran dari poros penggerak ke poros yang
digerakkan.

2.2 Fungsi lainnya:

Kopling juga mempunyai fungsi lain yaitu:
Mengantisipasi ketidak sebarisan dari poros
Memberikan kemungkinan kepada poros untuk berekspansi (memuai) yang
disebabkan oleh panas
Meredam getaran
Pengaturan putaran pada poros yang digerakkan (terutama pada kopling fluida)
Memungkinkan pelepasan dari bagian-bagian poros untuk pekerjaan perbaikan

2.3 Jenis kopling

Sesuai dengan fungsinya kopling bisa diklasifikasikan menjadi:
Kopling tetap
Kopling tidak tetap

2.3.1 Kopling tetap:

Adalah suatu elemen mesin yang berfungsi sebagai penerus putaran dan
daya dari poros penggerak ke poros yang digerakkan secara pasti, dimana
jumlah putaran poros penggerak sama dengan putaran poros yang
digerakkan.
Kopling tetap secara umum dapat dibedakan menjadi:
Kopling kaku (rigid coupling)
Depergunakan apabila kedua poros harus dihubungkan dengan sumbu
segaris dalam posisi yang tetap.
Kopling fleksibel (flexible coupling)
Dipergunakan apabila poros yang dihubungkan dapat mentolelir ketidak
lurusan sumbu kedua poros tersebut.

2.3.2 Kopling tidak tetap

Bedanya dengan kopling tetap adalah, hubungan antara poros penggerak
dan poros yang digerakkan tersebut dapat dilepas (dibebaskan) baik dalam
keadaan diam maupun dalam keadaan berputar.
Dengan kata lain putaran poros yang digerakkan tidak selalu sama dengan
putaran poros penggerak, (contoh kopling fluida).




3. PERALATAN PENYEBARISAN (ALIGNMENT)

Alat-alat kerja yang lengkap dan sesuai dengan kebutuhan dan memenuhi persyaratan
akan memperlancar proses pelaksanaan pekerjaan sehingga akan menghemat waktu
dan biaya yang akhirnya akan meningkatkan produktifitas.
Peralatan-peralatan yang digunakan untuk melakukan pekerjaan penyebarisan adalah:

3.1 Dial gauge atau dial indikator

Alat ini bentuknya seperti gambar dibawah ini. Gambar disebelah kanan
menunjukkan dial gauge sepenuhnya, sedangkan gambar disebelah kiri
menunjukkan penampang dial gauge yang diperbesar.


















Cara membaca dial indikator

Setiap satu kali putaran jarum besar berarti menunjukkan ukuran 1 mm, dan jarum
pada lingkaran kecil angka menunjuk 1 angka.
Lingkaran luar / besar dial indikator dibagi menjadi 10 skala bagian (angka 1 10 ),
yang berarti setiap skala nilainya = 1/10 mm atau 0,1 mm.
Setiap 1 skala (0,1 mm) dibagi menjadi 10 strip, maka nilai setiap strip = 0,1/10 mm
= 0,01 mm atau 1/100 mm.
Misalnya jarum besar bergerak dari skala 0 ke skala angka 3 + 5 strip, maka besar
pengukuran adalah = 0,3 mm + 0,05 mm = 0,35 mm.
Jumlah putaran jarum besar dapat diketahui dari penunjukkan jarum kecil.
Misalnya jarum besar berputar 4x, maka jarum kecil akan menunjuk angka 4.

Keterangan:

Jika jarum besar berputar searah jarum jam berarti penunjukannya adalah (+),
sedangkan kebalikannya adalah (-).


3.2 Blok magnet (magnet base)

Dengan bantuan tuas
pengikat gunanya untuk
menempatkan dial indikator
pada tempat yang
dikehendaki

Magnetik base terbuat dari
balok magnet yang bisa
diaktifkan magnetnya, yaitu
posisi on = magnet
berfungsi dan off = magnet
tidak berfungsi.




3.3 Pengukur Celah (Feeler gauge)

Gunanya untuk mengukur gap atau celah antara permukaan kopling.
Satu set feeler gauge ini terdiri dari bilah-bilah besi plat tipis yang mempunyai
ketebalan mulai 0,05 mm sampai dengan 0,8 mm atau dalam satuan inchi kopling,
0,002 s/d 0,003
Cara mengukur celah dengan alat ini, yaitu celah-celah tersebut diisi dengan bilah-
bilah feeler gauge sampai penuh, selanjutnya bilah-
bilah tersebut dijumlahkan.











3.4 Tapered gauge
Tapered gauge ini fungsinya
hampir sama dengan feeler gauge
yaitu untuk mengukur celah / gap
antara permukaan dua kopling,
dengan cara menusukkan tapered
gauge tersebut kedalam celah.

Tapered gauge terbuet dari plat
bilah runcing dengan panjang 100
mm dan lebar sisi pangkal = 10 mm.
Dengan demikian ketirusan sisi miring adalah
=10/100 mm = 0,1 mm.gap.
Contoh: jika pengukuran gap dengan tapered
gauge terbaca pada angka 3 lebih 2 strip, berarti
jarak celah / gap = 3 mm + 2/10 mm = 3,2 mm.
Kunci ring / pass jumlah satu set
Shim dalam berbagai ketebalan ukuran, mulai dari 0.02 s/d 1 mm
Palu besi ukuran 2 kg
Palu lunak dan karet atau plastik, dengan ukuran 1 kg
Gunting untuk pemotong sim
Jack / dongkrak (jika perlu)
Pray bar

Alat ini gunanya untuk
mengungkit atau
meluruskan lubang








Micrometer
Scuifmad / jangka sorong
Kaca spion = untuk membantu membaca sisi belakang




























4. PERSIAPAN PENYEBARISAN ALIGNMENT

4.1 Persiapan alat

Telah diuraikan didepan, bahwa peralatan yang lengkap dan memenuhi
persyaratan akan meningkatkan unjuk kerja.
Oleh karena itu sebelum melakukan pekerjaan alignment, maka terlebih dahulu
mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan secara lengkap seperti yang ada
pada daftar peralatan.

4.2 Persiapan tempat

Pengertian dalam house keeping menyebutkan bahwa, tempat kerja yang aman
tidak hanya menurukan tingkat resiko kecelakaan, tetapi juga akan meningkatkan
gairah kerja karyawan, yang dengan sendirinya akan meningkatkan produktifitas .
Oleh karena itu:
Persiapan penerangan yang cukup untuk menghindari kesalahan membaca ukuran
Barang-barang yang tidak berguna lebih baik disingkirkan, karena akan
mengganggu kelancaran pekerjaan dan bisa menimbulkan kecelakaan
Bersihkan ceceran minyak atau air yang menggenang yang bisa menimbulkan
kecelakaan kerja
Sediakan balok kayu / ganjal dan scafolding bila perlu

4.3 Persiapan tenaga kerja

Tenaga kerja yang banyak, belum tentu dapat mempercepat penyelesaian
pekerjaan. Untuk melakukan alignment biasanya dilakukan oleh:
1 orang teknisi yang berpengalaman
Maksimal 2 orang pembantu / helper

1. 4.4 Peralatan mesin yang akan dibersihkan

Matikan sumber daya atau power suply pada peralatan yang akan disebariskan
Lakukan prosedur tagging terhadap peralatan tersebut termasuk juga peralatan
atau instalasi lain yang terkait
Ambil data kesebarisan pada kondisi awal
Lihat buku petunjuk dari pabrik pembuatnya dan ikuti prosedur yang telah
ditentukan
Melakukan penyebarisan sebaiknya setelah panas dari poros turun sampai dengan
temperatur ruangan







4.5 Kelamatan Kerja

Yakinkan bahwa peralatan / mesin yang disebariskan sudah bebas dari sistem
operasi
Gunakan pakaian dan peralatan keselamatan kerja yang dipersyaratkan
Ikuti dan laksanakan peraturan keselamatan kerja yang berlaku di tempat kerja
Ikuti petunjuk / rekomendasi dari pabrik pembuatnya
Yakinkan bahwa tempat kerja aman / bebas dari:
Benda / barang jatuh
Pekerjaan lain yang dapat mengganggu kelancaran penyebarisan
Jika perlu pasang pagar pembatas agar orang yang tidak berkepentingan tidak
masuk ke lokasi kerja


5. METODA MENGETAHUI KETIDAK SEBARISAN

5.1 Metoda Dengan Menggunakan Mistar

Cara ini sangat sederhana sekali yaitu dengan mengguanakan mistar / penggaris
yang rata, yang ditempelkan pada keliling sisi luar dari kopling.
Dengan melakukan
pengambilan data
pada empat tempat,
yaitu pada posisi 0
o
,
90
o
, 180
o
, dan 270
o
,
maka akan
didapatan besarnya
nilai ketidak
sebarisan radial
arah vertikal dan
arah horizontal.


























5.2 Metoda Dengan Menggunakan Feeler Gauge Atau Tapered Gauge

Cara dapat dilakukan dengan memasukkan tapered gauge atau feeler gauge untuk
mengetahui gap / jarak antara dua permukaan kopling.
Dengan melakukan pengukuran gap antara permukaan kopling yaitu pada posisi
0
o
, 90
o
, 180
o
, dan 270
o
, maka akan didapatan besarnya nilai ketidak sebarisan
axial.
Dilapangan sering ditemui penggunaan kode A
(axial) diganti F artinya Face











5.3 Metode Dengan Menggunakan Dial Gauge

Melakukan alignment dengan menggunakan dial gauge / dial indikator akan
memberikan hasil yang jauh lebih teliti bila dibandingkan dengan menggunakan
mistar, tapeler gauge maupun feeler gauge, karena tingkat ketelitiannya mencapai
0.01 mm baik untuk axial maupun radial.
Oleh karena tingkat ketelitian yang tinggi / presisi maka metode ini selalu
digunakan untuk melakukan penyebarisan mesin-mesin dengan daya besar dan
putaran tinggi.
Dengan menggunakan dial gauge maka sekaligus dapat diukur adanya ketidak
sebarisan axial dan radial.

6. PELAKSANAAN PENYEBARISAN TERHADAP KETIDAK SEBARISAN RADIAL

6.1 Pengambilan Data Ketidak Sebarisan Radial

Kesepakatan:

6.1.1 Arah Pandang

Arah pandang dari sisi peralatan yang tidak disebariskan (pompa)
menghadap ke peralatan yang yang disebariskan (motor).

6.1.2 Pengambilan Data

Pengambilan data dilakukan pada sitiap posisi 90
o
lingkaran kopling dengan
referensi titik atas (RT) = 0
o

Dial indikator pasang pada poros / kopling dari peralatan yang disebariskan (sisi
pompa) diputar bersama-sama secara perlahan-lahan.
Titik diatas RT dipakai sebagai referensi dengan menyimpang = 0 (nol)
Jika jarum penunjuk pada dial indikator bergerak:
o Searah jarum jam : ujung dial tertekan, diberi nilai (+)
o Berlawanan jarum jam : ujung diameter memanjang diberi nilai (-)

6.1.3 Penulisan Data

Data ketidak sebarisan yang telah diambil ditulis diluar lingkaran bantu dalam
satuan (mikron) dengan ketentuan sbb:


RT = nilai ketidak sebarisan radial sisi top (atas)
RR = nilai ketidak sebarisan radial sisi right (kanan)
RB = nilai ketidak sebarisan radial sisi bottom (bawah)
RL = nilai ketidak sebarisan radial sisi left (kiri)




Misalkan didapatkan nilai pengukuran sbb:

R
selanjutnya nilai tersebut ditulis diluar lingkaran bantu seperti gambar diatas
T = 0
RB = -65
RR = - 70
RL = + 5





6.2 Gambar ilustrasi

Untuk memberikan gambar yang nyata dan jelas dari kondisi peralatan yang
disebariskan maka perlu dibuat suatu gambar ilustrasi.

Kecuali untuk maksud tersebut keuntungan lainnya adalah:
Mengindari adanya kesalahan dalam pengurangan atau penggeseran kekiri atau
kekanan dari peralatan yang disebariskan.
Dari hasil pengukuran yang telah tersebut diatas selanjutnya dibuatkan gambaran
ilustrasinya sehingga bisa diketahui dengan jelas:
Penambahan atau pengurangan shim
Arah penggeseran motor ke kiri atau ke kanan















6.2.1 Gambar Ilustrasi Tampak Pandangan Depan

Dari gambar ilustrasi tampak jelas bahwa pada sisi motor harus ditambah
shim


















6.2.2 Gambar Ilustrasi Tampak Pandangan Atas

Dari gambar ilustrasi tampak jelas bahwa pada sisi motor harus digeser ke
kiri




























6.3.Menghitung besarnya penambahan atau pengurangan shim maupun
pergeseran kearah kiri maupun ke kanan

6.3.1 Pengambilan Data Dengan Menggunakan Filler Gauge

Dapat dihitung dengan menggunakan rumus:








Jika RV hasilnya (+) berarti perlu tambahan shim pada motor
Jika RV hasilnya (-) maka shim pada motor perlu dikurangi

Selanjutnya dari data pengukuran dapat dihitung:





Hasilnya = + berarti perlu tambahan shim pada motor setebal 32,5
(penambahan shim pada motor sesuai dengan gambar ilustrasinya)

gambar ilustrasi














6.3.2 Menghitung Arah Ketidak Sebarisan Radial Arah Horizontal (RH) Yaitu:

Dapat dihitung dengan rumus:

RR - RL
RH =
2







Jika RV hasilnya (+) berarti perlu tambahan shim pada motor
Jika RV hasilnya (-) maka shim pada motor perlu dikurangi

Selanjutnya dari data pengukuran dapat dihitung:







Hasilnya = (+) motor perlu digeser ke kiri sejauh 37,5
(arah penggeseran motor sesuai dengan gambar ilustrasi)
















Catatan

Jika pengambilan data ketidak sebarisan dengan menggunakan filler gauge,
maka perlu dibat kesepakatan sbb:

Untuk memudahkan dalam pemberian nilai hasil pengambilan data, misalnya
(+) atau (-), maka yang dipakai pedoman adalah:

Tampak pandangan depan atau arah vertikal dari peralatan yang
disebariskan yaitu sbb:

a
.

A
p
a
b
i
l
a

k
o
p
l
i
ng pada motor
posisinya pada RT lebih
tinggi dari kopling sisi
pompa, maka RT diberi
nilai (-) dan RB diberi
nilai (+), lihat gambar
disamping.


b. Apabila kopling
pada motor
posisinya
pada RT lebih
rendah dari
kopling sisi
pompa, maka
RT diberi nilai
(+) dan RB
diberi nilai (-) ,
lihat gambar
disamping.


Keterangan:

Untuk pemberian nilai (+) atau (-) pada arah horizontal dapat berpedoman pada
referensi tersebut
Untuk perhitungan selanjutnya bisa menggunakan cara tersebut diatas baik untuk
penambahan atau pengurangan shim maupun arah penggeseran motor

7. PELAKSANAAN PENYEBARISAN TERHADAP KETIDAK SEBARISAN AXIAL

7.1 Pengambilan Data Ketidak Sebarisan Axial

Kesepakatan

7.1.1 Arah Pandang

Arah pandang dari sisi peralatan yang tidak disebariskan (sisi pompa)
menghadap kearah peralatan yang disebariskan (sisi motor).

7.1.2 Pengambilan Data Menggunakan Dial Indikator

o Pengambilan data dilakukan pada setiap posisi 90
o
lingkaran kopling,
dengan referensi titik atas (AT) 0
o
.
o Dial indikator dipasang pada sisi poros / kopling dari peralatan yang
disebariskan, dan ujung dial indikator menyentuh sisi permukaan dari
kopling ( atau pada permukaan ).
o Kopling / poros yang disebariskan (sisi motor) dan kopling yang tidak
disebariskan (sisi pompa) diputar secara bersama-sama dan perlahan-
lahan.
o Titik atas (AT) dipakai sebagai referensi dengan besarnya penyimpangan =
0 (nol).
o Jika jarum penunjuk pada dial indikator bergerak:
Ke kanan ujung dial gauge menekan permukaan diberi nilai (+)
Ke kiri ujung dial gauge memanjang diberi nilai (-)























7.1.3 Penulisan Data

Data data ketidak sebarisan axial yang telah diambil, ditulis dalam lingkaran
bantu dalam satuan (micron) dengan ketentuan sbb:

AT = ketidak sebarisan axial sisi top (atas)
AR = ketidak sebarisan axial sisi right (kanan)
AB = ketidak sebarisan axial sisi bottom (bawah)
AL = ketidak sebarisan axial sisi left (kiri)

Misalnya didapat data-data sbb:

AT = ketidak sebarisan axial sisi top (atas) = 0
AR = ketidak sebarisan axial sisi right (kanan)= + 25
AB = ketidak sebarisan axial sisi bottom (bawah) = = + 15
AL = ketidak sebarisan axial sisi left (kiri)= - 10

Data-data tersebut selanjutnya ditulis didalam lingkaran bantu












7.2 Gambar ilustrasi

Tujuan pembuatan gambar ilustrasi adalah sama dengan tujuan dari ketidak
sebarisan axial, yaitu untuk menghindari kesalahan dalam penambahan atau
pengurangan shim, maupun arah pergeseran motor.

Data-data yang telah didapat (seperti didepan) adalah sbb:


AT = 0
AR = + 25
AB = + 15
AL = - 10







7.3 Ketidak Seimbangan / Unbalance Rotor

Tidaklah mungkin rotor yang berputar akan setitik dengan garis sumbu bantalan.
Jadi pada garis besarnya sisa unbalance akan terjadi pada benda yang berotasi
pada sumbu putarnya.
Prosedur mesin telah membuat batasan-batasan yang boleh dilalui untuk membuat
mesin itu aman beroperasi. Secara umum kita bisa membuat grafik getaran yang
diperbolehkan, tetapi bila kita mengenali suatu getaran, maka haruslah ada
peralatan maupun parameter lainnya untuk menentukan jenis getaran itu.





































7.3.1 Pengaruhnya

Banyak sekali penyebab ketidak seimbangan pada rotor:
Cacat pengecoran
Eksentrik
Pasak tambahan
Distorsi
Toleransi clerance
Pengikisan dan kerusakan
depsit

Sedangkan pengaruh ketidak seimbangan pada rotor antara lain:
Terjadinya baut kendor
Terjadinya kelelahan material
Terjadinya getaran tinggi
Terjadinyakerusakan pada bantalan
Terjadinya keretakan (kendor) baut kopling
Terjadinya kerusakan pada bantalan peluru
Terjadinya defleksi pada poros
Terjadinya ketidak serasian dengan bantalan
Terjadinya getaran disertai bising
Terjadinya olahan minyak

Gambar terjadinya kerusakan dan pengaruh dari pengoperasian mesin yang
tidak balance











TERJADINYA PENGENDORAN ATAU KELONGGARAN PADA BAUT
PENGIKAT ANTARA BANTALAN DAN BADPLATE MESIN










TERJADINYA KELELAHAN MATERIAL POROS DIANTARA DUA BUAH
BANTALAN YANG LAMA KELAMAAN DAPAT MENYEBABKAN PATAHNYA
POROS
















TERJADINYA GETARAN YANG TINGGI YANG MENGAKIBATKAN
KERETAKAN PADA PIPA DISEKITAR SAMBUNGAN - SAMBUNGAN DAN
BELOKAN - BELOKAN














TERJADINYA KERUSAKAN DAN KERETAKAN PADA TUTUP BAGIAN
ATAS BANTALAN










TERJADINYA KERETAKAN ATAU PUTUSNYA BAUT PENGIKAT KOPLING
DAN MENGAKIBATKAN TERJADINYA KETIDAK SEBARISAN PADA
POROS DAN KOPLING













TERJADINYA KERETAKAN ATAU GORESAN DAN COAKAN PADA
RUMAH BANTALAN PELURU













TERJADINYA DEFLEKSI ATAU LENTURAN
PADA POROS AKIBAT GETARAN YANG TINGGI PADA BANTALAN















TERJADINYA KETIDAK SEBARISAN ANTARA POROS DENGAN
BANTALAN


















TERJADINYA GETARAN DISERTAI BISING
PADA SAMBUNGAN PIPA SISI MASUK DAN SISI KELUAR GAS TURBIN






















TERJADINYA OLAHAN MINYAK (OIL WHIRL) PADA BANTALAN

7.3.2 Tipe kerusakan

Pengertian tipe kerusakan disini adalah bisa diartikan sama dengan tipe
unbalance.
Ada 4 macam tipe unbalance dimana masing-masing tipe unbalance
didapatkan hubungan antara titik berat rotor dengan suatu putar mesin.

7.3.2.1 Statik Unbalance

Statik unbalance adalah suatu kondisi unbalance dimana garis sumbu
utama bergeser paralel terhadap garis sumbu putar.

7.3.2.2 Couple Unbalance
Adalah suatu kondisi unbalance dimana sumbu titik berat memotong
sumbu pada pusat rotor.

7.3.2.3 Quasi Static Unbalance
Adalah suatu kondisi unbalance dimana sumbu titik berat memotong
sumbu-sumbu putar, bukan berada pada pusat rotor,

7.3.2.4 Dynamic Unbalance
Adalah suatu kondisi unbalance dimana sumbu titik berat dan sumbu
putar tidak bersamaan atau tidak saling menyentuh.


7.4 Prosedur Penyeimbangan Statis

Metode Balancing
Berdasarkan iso standart 1925 dari terminologi pelaksanaan balancing rotor
mempunyai dua metode:

o Metode balancing statis
o Metode balancing dinamis

Pemakaian kedua metode tersebut adalah tergantung konstruksi mesin yang akan
di balance. balancing statis pada umumnya dilaksanakan pada putaran poros
rendah atau dapat disesuaikan dengan diameter yang poros rendah atau dapat
disesuaikan dengan diameter yang di balance. Kondisi balancing statis adalah
kondisi dimana pemasangan bobot balance hanya pada satu bidang (single palne
unbalance). Contoh: knife adge, sebuah fly wheel, sebuah impeller, runner
centrifugal pump dengan sistem bantalannya.
Balancing dinamis hampir sama dengan balancing statis, bedanya konstruksi objek
yang di balance adalah kondisi dimana pemasangan bobot balance dipasang pada
beberapa bidang, lebih dari satu bidang (two plane unbalance).
Contohnya: rotor turbin uap biasanya terdiri dari tiga bidang tempat membalance,
yaitu pada cakra kurtis, sudu tekanan menengah, dan sudu tekanan rendah.
Untuk materi modul II/PM hanya akan mempelajari penyeimbangan statis.
Membalance bertujuan untuk memperkecil getaran sekecil mungkin yang
diakibatkan oleh keadaan tidak balance (unbalance). Getaran yang diakibatkan
oleh selain unbalance tidak dapat dikoreksi dengan cara-cara yang akan diuraikan
dibawah ini. Sumber penyebab getaran seperti itu harus diperbaiki terlebih dahulu.
Suatu benda berputar dikatakan balance apabila titik
berat benda tersebut berada pada sumbu putarnya. Apabila titik berat tidak berada
pada sumbu putarnya akan mengakibatkan timbulnya gaya sentrifugal yang
mengarah menjauhi dan tegak lurus terhadap sumbu putar melalui titik beratnya.

Besarnya gaya sentrifugal adalah G

G = m
2
R

Dimana:
G = gaya sentrifugal (kg)
M = massa benda (kg det
2
/ m).
Rr = jarak sumbu putar terhadap titik berat (m)

2
= kecepatan sudut (rad /det)





n = kecepatan putaran

Agar benda berputar tersebut menjadi balance, berarti gaya sentrifugalnya harus
dihilangkan dengan cara:
Diimbangi dengan gaya sentrifugal lain yang sama besar tetapi berlawanan arah
yaitu dengan memasang bobot pengimbang pada lawan arah gaya sentrifugal tadi
(berat tertentu).
Membuang sebagian (berat tertentu) berat dari benda berputar tadi pada arah
gaya sentrifugal tersebut.
Dengan salah satu cara tersebut titik berat akan bergeser kearah sumbu putarnya
sehingga menjadi balance. Demikianlah cara membalance benda berputar.

7.4.1 Persiapan Membalance Statis

Sebelum dilaksanakan pekerjaan membalance, harus benar-benar
diyakinkan bahwa timbulnya getaran adalah akibat unbalance dan bukan
karena pengaruh lain, diantaranya akibat bantalan yang tidak baik,
penyetelan kopling yang tidak tepat dll.
Peralatan atau instrumen yang diperlukan akan tergantung dari metode
membalance yang digunakan.
Ada tiga cara membalance yang sering diterapkan:
Metode dua titik
Caranya sederhana dengan alat ukur yang mampu menunjukkan besarnya
amplitudo getaran
Metode tiga titik
Hampir sama dengan metode dua titik tetapi lebih teliti
Metode sudut phase
Lebih teliti tetapi memerlukan alat ukur yang minimal dapat menunjukkan
besarnya amplitudo getaran dan sudut phase
7.4.2 Metode Dua Titik

Prosedurnya adalah sbb:
Tanpa adanya penambahan bobot percobaan (trial weight = TW), putar rotor
sampai putaran penuh, kemudian catat amplitudo getarannya pada arah horizontal
dan vertikal, lalu pilih yang terbesar. Misalnya didapat amplitudo getaran terbesar
pada arah horizontal adalah a m.
Stop rotor
Pasang TW di titik PI (atau separuh di PI dan separuhnya lagi di PI) seberat M
gram. Berat TW sulit untuk diperkirakan karena sangat tergantung dari rotor
sendiri. Untuk amannya pilih TW yang ringan saja (misalnya 50 gram), lalu nanti
apabila getarannya tidak jauh berbeda dengan getaran semula (a m.) berarti TW
kurang berat.
Putar rotor dan catat amplitudo getarannya, misalnya didapat b m
Stop rotor
TW tadi dilepas dan dipindahkan sejauh 180
o
dari titik semula pada radius yang
sama (di P2)
Putar rotor dan catat getarannya, misalnya didapat c m
Selanjutnya dengan cara melukis dapat diperoleh atau ditentukan besarnya bobot
pengimbang sebenarnya dan lokasinya.

Cara melukis
Buat garis dengan skala 0
1
0
2
sebesar 2a dengan titik A sebagai titik tengahnya
Dari 0
1
dibuat lingkaran dengan jari-jari b
Dari 0
2
dibuat lingkaran dengan jari-jari c
Kedua lingkaran akan berpotongan di B1 dan B2
Lukis B1 Amplitudo dan perpanjang sampai C1 dimana B1 Amplitudo = C1A
Lukis segitiga O1 B1 C1 didapat sudut

O1 A
Bobot pengimbang sebenarnya M1 = x M
AB1

Lokasi bobot pengimbang sebenarnya berjarak
o
dari P2 yaitu di P3 atau P4
Pasan M1 di P3 lalu putar rotor dan catat getarannya. Kemudian pindahkan M1 ke
P4 dan catat pula getarannya. Dengan melihat getaran yang terkecil dapat
diketahui tempat memasang bobot pengimbang yang paling tepat.

























































METODE DUA TITIK

7.4.3 Metode tiga titik

Prosedurnya sbb:
Pada rotor diberi tanda A, B, C tempat pemasangan TW. Jarak A ke B dan B ke C
dan C ke A, masing-masing 120
0
atau mendekati 120
0

Tanpa dipasang TW, putar rotor sampai kecepatan penuh dan catat getaran pada
bantalan terdekat dengan lokasi yang diperkirakan tidak balance, getaran yang
diukur diutamakan arah horizontal dan vertikal, kemudian pilih yang terbesar,
misalnya horizontal

Untuk selanjutnya cukup mengukur arah horizontalnya saja
Misalnya didapat besarnya amplitudo vibrasi x m

Stop rotor, kemudian pasang TW di A seberat M gram, menentukan berat TW lihat
3.2
Putar rotor dan catat getarannya, misal A m
Stop rotor pindahkan TW ke B
Putar rotor dan catat getarannya, misal B m
Stop rotor pindahkan TW ke C
Putar rotor dan catat getarannya, misal m
Selanjutnya melukis lingkaran-lingkaran dengan cara sebagai berikut;

Cara melukis:

o Dengan pusat Kopling, buat lingkaran 1 dengan jari-jari x mm
o Lingkaran 1 dibagi tiga dan diberi tanda A, B dan C. Jarak ABC sesuai
pembagian sudut pada rotor. Juga posisi pada rotor, misalnya dari A ke B
ke C sesuai arah putaran jarum jam
o Dengan pusat A dibuat 2 lingkaran berjarijari A mm
o Dengan pusat B dibuat 3 lingkaran berjarijari B mm
o Dengan pusat C dibuat 4 lingkaran berjarijari C mm
o Lingkaran 1,2 dan 3 saling berpotongan di D
o Tarik garis OD dan diperpanjang sampai memotong lingkaran 1 di E berat
bobot pengimbang sebenarnya adalah













Lokasi bobot pengimbang sebenarnya di E yaitu berjarak
o
dari A kearah Balance






































METODE TIGA TITIK







7.4.4 Metode Sudut Phase

Untuk dapat menentukan sudut phase ada berbagai macam cara sesuai
dengan tipe alat ukur yang digunakan. Oleh karenanya harus diikuti petunjuk
dari instruktion manual alat ukur tersebut.
Didalam mengukur getaran pada bantalan, dipilih bantalan terdekat dengan
rotor yang diperkirakan tidak balance, arahnya dipilih getaran terbesar,
misalnya arah horizontal. Arah ini harus tetap selama pengukuran-
pengukuran selanjutnya.
Putaran rotor pada waktu mengukur getaran tidak perlu sampai putaran
penuh (demikian juga untuk metode dua titik dan tiga titik), asalkan disetiap
saat pengukuran putarannya sama dan getarannya dapat diukur dengan
jelas.

Test ke 1:
Putar rotor tanpa TW, catat amplitudo dan sudut phase getaran, misal 50
m / 140
o
. Hasil yang didapat ini dinamakan vektor O dan digambarkan
pada vektor diagram 50mm pada 140
o
.
Stop rotor
Test ke 2
Pasang TW seberat M gram pada rotor dengan posisi sudut yang
sembarang, akan tetapi sebaiknya berlawanan arahdengan vektor O. misal
pada 320
o
.
o Putar lagi didapat vibrasi T = 60 m/20
o

o Stop rotor
o Hubungkan ujung vektor O dengan ujung vektor O + T diberi nama vektor T
o Ukur sudut (sudut O antara dengan T) misalnya didapat 37
o
berlawanan
arah dengan arah putaran jarum jam bila diukur dari T ke O.
o Lokasi bobot pengimbang sebenarnya adalah 37
o
adalah digeser dari
tempat TW semula arah dengan arah putaran jarum jam, yaitu searah
o Berat boboy pengimbangsebenarnya:


























































7.4.5 Membagi Correction Weight

Pada beberapa rotor, tempat memasang Correction Weight terbatas, hal
yang demikian tentu saja tidak cukup diselesaikan hanya dengan vektor
diagram seperti biasa, karena tempat pemasangan Correction Weight sesuai
dengan perhitungan diagram polar.

Contoh:
Anggap kita membalance sebuah fan dengan 6 blade, masing-masing posisi
blade adalah 60
0
.
Lihat gambar.

















Setelah penambahan tial weight pada blade 1, diagram vektor meminta
Correction Weight dipasang pada posisi 75
o
tidak ada blade tempat
memasang Correction Weight, sehingga Correction Weight harus dipasang
pada blade 2 dan blade 3.
Permasalahannya sekarang adalah berapa banyak Correction Weight
dipasang pada masing-masing blade 2 dan blade 3. untuk menjawab
permasalahan tersebut kita akan membuat diagram vektor.
Pada selembar kertas polar dibuatkan garis sesuai posisi dan jumlah blade.













Gambar Correction Weight hasil perhitungan diagram polar dalam vektor,
yaitu berat 29 gram dengan arah 75
o
searah jarum jam dari blade 1.
















Tarik garis sejajar blade 3 dari ujung vektor Correction Weight hingga memotong
garis blade 32
Tarik garis sejajar garis blade 2 dari ujung vektor Correction Weight hingga
memotong garis blade 3.





















Untuk mendapatkan berat Correction Weight pada blade 2 adalah dengan
cara mengukur panjang garis vektor OA, demikian juga ukur panjang OB
untuk mendapatkan berat Correction Weight pada blade 3.


VIBRATION VELOCITY
(Inches / Second Peak)

0 - .005 In / Sec EXTREMELY SMOOTH
.005 - .01 In / Sec VERY SMOOTH
.01 - .02 In / Sec SMOOTH
.02 - .04 In / Sec VERY GOOD
.04 - .08 In / Sec GOOD
.08 - .16 In / Sec FAIR
.16 - .32 In / Sec SLIGHTLY ROUGH
.32 - .64 In / Sec ROUGH
above - .64 In / Sec VERY ROUGH

Suatu toleransi unbalance dapat ditetapkan oleh pabrik pembuat mesin. Jika
pabrik pembuat tidak menetapkannya, maka ada petunjuk yang dapat
dipergunakan. Cotoh, beberapa ahli mengusulkan bahwa, gaya yang layak
pada sebuah bearing karena unbalance adalah 10% dari berat rotor yang
ditumpu oleh bearing.
Sebagai gambaran, sebuah cakra berbobot 5000 pound dengan kecepatan
putar 1800 rpm ditumpu oleh dua buah bearing. Masing-masing bearing
menunjukkan kira-kira dari berat rotor atau 2500 pound.
Dengan demikian gaya yang diijinkan karena unbalance pada masing-masing
bearing adalah 250 pound (10% dari 2500 = 250 pound). Untuk merubah
harga gaya tersebut menjadi satuan unbalance, digunakan rumus gaya sbb:

Rpm
Frekwensi = 1,77 x (
______
)
2
x ons inch
1000

karena, F = 250 pound
rpm = 1800

1800
maka, 250 pound = 1,77 x (
_____
)
2
x ons inch
1000


250
ons inch =
_____________________________

1800
1,77 x (
_______
)
2

1000
250
=
___________________

1,77 x 324
= 43,6 ons inch
Dengan demikian, sesuai dengan petunjuk toleransi unbalance pada masing-
masing bearing adalah lebih kurang 43,6 ons - inch.
Petunjuk lain untuk menetapkan toleransi unbalance adalah Unbalance
Tolerance Guide for right rotor. Lihat tabel.
Petunjuk tersebut diatas telah dikembangkan oleh Society of German Engineer
(VDI) dan dipertimbangkan dengan tipe benda kerja dan kecepatan
putarannya.



































Dari grafik dapat dilihat bahwa ada 6 kelompok toleransi dan masing-masing
kelompok disesuaikan dengan tipe tertentu dari klasifikasi rotor.
Klasifikasi tersebut dapat dilihat pada tabel.
Langkah pertama menggunakan petunjuk toleransi adalah menetapkan
klasifikasi rotor. Pada contoh, sebuah cakra dengan bobot 5000 pound
diklasifikasikan sebagai G 2,5 karena ukurannya besar.
Langkah berikutnya, adalah melihat batas harga atas dan batas harga bawah.
Harga-harga tersebut ditampilkan dalam satuan.

Berat rotor (pound)
ons ince x
___________________________

1000

Toleransi kecepatan putar yang dipilih adalah kecepatan putar maksimum
normal operasi.
Pada contoh, kecepatan putar adalah 1800 rpm, dengan demikian batas atas
adalah 8,0 dan batas bawah adalah 3,5.
Batas harga atas dipakai untuk rotor yang dipakai pada rigid frame, sedangkan
batas harga bawah diipakai untuk rotor yang dipasang pada fexible frame.
Sebagai contoh, dipakai batas harga atas yaitu 8,0.


ROTOR CLASIFICATION ROTOR DESCRIPTION
(Balance Quality) (Example of General Type)
G 40 Passenger car wheel and rims
G 16 Automotive drive shafts
Parts of crushing and agricultural machinery
G 63 Drive shaft with special requirements
Rotor of procesing machinery
Centrifuge bowl; fans
Flywheel, centrifugal pumps
General machinery and machine tool parts
Standart electric motor armatures
G 25 Gas and steam turbines, blowers
Turbine rotors, turbo generators
Machine tool drives, medium and bigger electric
motor armature with special requirement, armature of
fractional hp motor
Pump with turbine drive
G1
Precition
Balancing
G 0.4
Ultra
Precition
balancing
Jel engine and super charger rotors
Tape recorder and phonograph drives
Grinding machine drives
Armature of fractional hp motors with special
requirement
Armature, shaft and wheel of precition grinding
machines

Harga toleransi 8.0 yang diambil dari grafik adalah toleransi unbalance dalam
ons-inch untuk setiap 1000 pound berat rotor. Apabila berat rotor 5000 pound,
maka jumlah toleransi akan diperoleh dengan cara membagi berat rotor
dengan 1000 kemudian dikalikan dengan hasil perolehan grafik.

Contoh:

5000
jumlah toleransi unbalance =
______
x 8,0
1000

= 40 ons-inch

harga toleransi yang diperoleh dengan cara tersebut diatas adalah jumlah
toleransi unbalance rotor.
Jika rotor yang akan dibalance lebih dari satu bidang, maka jumlah harga
tersebut harus dibagi dengan sejumlah bidang yang akan dibalance.
Jika rotor single plane , maka jumlah toleransi dipakai untuk satu bidang saja.
Kesimpulan.
Petunjuk untuk menunjukkan toleransi unbalance yang dibicarakan diatas
mungkin tidak dapat menampung semua aplikasi, tetapi paling tidak dapat
dipakai sebagai starting point.
Tentu saja penampilan akhir sebuah mesin adalah smooth dari tanpa ada
gangguan. Dan untuk itu harga-harga yang terpilih dari petunjuk-petunjuk
tersebut diatas dikurangi atau ditambah sesuai dengan pengalaman.
Pergunakan skala yang sama dengan skala correction weight.
Pada gambar 29 vektor OA menggambarkan berat correction weight = 16,3
gram yang akan dipassasng pada blade 2 dan vektor OB menggambarkan beat
correction weight = 6 gram yang akan dipasang pada blade 3.
Pemasangan kedua correction weight tersebut tentu saja pada radius yang
sama dengan radius trial weight pada blade 1.

















7.4.6 Tingkat Yang Bisa Diterima Dari Penyeimbangan

Pada pembicaraan balancing terdahulu telah dikatakan, bahwa benda kerja
harus di balance hingga mencapai batas yang diijinkan.
Tetapi, berapa batas yang diijinkan?
Tentu saja balancing yang lebih baik adalah jika tidak ada lagi unbalance,
dan pada prakteknya tidak pernah tercapai. Oleh karena itu ditentukan harga
realistis. Biasanya batas realistis untuk rotorrotor yan dibalance inplace
ditetapkan oleh pabrik pembuat. Apabila tidak ada petunjuk tersedia, maka
sebagai petunjuk dipakai vibrasi tolerance chart.
Rotor yang dibalance pada mesin balancing biasanya ditentukan batas
unbalance-nya dari radius unbalance yang diijinkan dengan satuan ons-inci,
gram-inci, dll.

38
H MS/UNJ2009