Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

Otitis media akut, otitis media akut adalah peradangan pada telinga tengah yang bersifat
akut atau tiba-tiba. Otitis media akut merupakan salah satu kelainan telinga tengah yang paling
sering ditemukan terutama pada anak-anak. Meskipun masih dalam penelitian dalam pencegahan
dan terapi, angka kejadian penyakit ini terus meningkat.Sekitar 25 juta orang pertahun
mengunjungi dokter akibat otitis media akut. Infeksi pada telinga ini merupakan diagnosis yang
paling sering ditegakkan pada anak di Amerika dan diagnosis kedua tersering dalam kedokteran
menyeluruh. Bayi dan anak beresiko paling tinggi terinfeksi otitis media akut, dengan angka
kejadian pada anak berusia 1 tahun sekitar 62%, sedangkan anak-anak berusia 3 tahun sekitar
83%. Di Amerika Serikat, diperkirakan75% anak mengalami minimal satu episode otitis media
sebelum usia 3 tahun dan hampir setengah dari mereka mengalami tiga kali atau lebih. Insiden
Otitis media akut tertinggi terjadi pada usia 2 tahun pertama kehidupan, dan yang kedua pada
waktu berusia 5 tahun bersamaan dengan anak masuk sekolah Insiden ini cenderung menurun pada anak
dengan usia lebih dari 6 tahun. Otitis Media Akut atau (OMA) banyak terjadi pada anak karena
sumber infeksi dari tenggorok atau pilek yang terjadi terus menerus.
Indonesia sebagai negara berkembang perlu memperhatikan masalah kesehatan
ini,namun hal ini tidak didukung dengan pendataan yang jelas tentang insidensi otitis media akut
itu sendiri. Data yang didapat dari Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Otitis Media
Akut (OMA) selalu ada pada 20 besar penyakit dengan insidensi tersering. Penyebab OMA dapat
berupa virus atau bakteri. Pada 25% pasien, tidak ditemukan miroorganisme penyebabnya. Virus
ditemukan pada 25% kasus dan kadang menginfeksi telinga tengah bersama bakteri.




BAB II
ANATOMI DAN FISIOLOGI TELINGA

II.1. Anatomi Telinga
Untuk memahami tentang gangguan pendengaran perlu diketahui dan dipelajari anatomi
telinga dan fisiologinya. Telinga terdiri dari tiga bagian; telinga luar, tengah, dan dalam. Bagian
luar dan tengah telinga menyalurkan gelombang suara dari udara ke telinga dalam yang berisi
cairan, untuk memperkuat energi suara dalam proses tersebut.

II.1.1. Anatomi Telinga Luar
Telinga luar terdiri dari pinna (bagian daun telinga, auricula), meatus auditorius
eksternus (liang telinga), dan membrana timpani (gendang telinga). Pinna, suatu lempeng tulang
rawan elastin terbungkus kulit, yang berfungsi mengumpulkan gelombang suara dan
menyalurkannya ke liang telinga. Daun telinga secara parsial menahan gelombang suara yang
mendekati telinga dari arah belakang, dengan demikian membantu seseorang membedakan
apakah suara datang dari arah depan atau belakang.

Liang telinga berbentuk huruf S dengan
rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya
terdiri dari tulang. Pada sepertiga bagian luar kulit telinga terdapat banyak kelenjar serumen.
Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada duapertiga bagian dalam hanya
sedikit dijumpai kelenjar serumen.


II.1.2. Anatomi Telinga Tengah
Membran timpani yang teregang menutupi pintu masuk ke telinga tengah. Membran
timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik
terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas disebut pars flaksida sedangkan bagian bawah disebut
pars tensa.

Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran timpani disebut sebagai
umbo. Dari umbo bermula suatu refleks cahaya ke arah bawah yaitu pada pukul 7 untuk
membran timpani kiri dan pukul 5 untuk membran timpani kanan. Refleks cahaya adalah cahaya
dari luar yang dipantulakan oleh mamran timpani. Membran timpani dibagi dalam 4 kuadran,
dengan menarik garis searah dengan prosesus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada
garis itu di umbo, sehingga didapatkan bagian atas-depan, atas-belakang, bawah-depan, serta
bawah-belakang, untuk menyatakan letak perforasi membran timpani.
Tulang pendengaran di dalam telinga tengah saling berhubungan. Prosesus longus maleus
melekat pada membran timpani, maleus melekat pada inkus, dan inkus melekat pada stapes.
Stapes terletak pada tingkap lonjong yang berhubungan dengan koklea. Tuba eustachius
termasuk dalam telinga tengah yang menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah.
Tuba eustachius dalam keadaan normal tertutup, tetapi dapat dibuat terbuka dengan gerakan
menguap, mengunyah, atau menelan. Pembukaan tersebut memungkinkan tekanan udara di
dalam telinga tengah menyamakan diri dengan tekanan atmosfer, sehingga tekanan di kedua sis
membran timpani menjadi setara. Infeksi yang berasal dari tenggorok kadang-kadang menyebar
melalui tuba eustachius ke telinga tengah.


Gambar 1.1 Anatomi Telinga Tengah



II.I.3. Anatomi Telinga Dalam
Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan
vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung atau puncak koklea disebut
helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli. Pada irisan
melintang koklea tampak skala vestibuli sebelah atas, skala timpani di sebelah bawah dan skala
media (duktus koklearis) berada diantaranya. Skala vestibuli dan skala timpani berisi perilimfa,
sedangkan skala media berisi endolimfa. Dasar skala vestibuli disebut membran vestibuli
(Reissners membrane) sedangkan dasar skala media adalah membran basalis. Pada membran
basalis ini terletak organ corti. Pada skala media terdapat bagian yang disebut membran tektorial
dan pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel rambut luar,
dan canalis corti yang membentuk organ corti (gambar 1.4).
Gambar 1.2. Membran Timpani Kanan



II.2. Fisiologi Telinga
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam
bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut
menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang
pendengaran (maleus, inkus, dan stapes). Rantai tulang ini bergerak dengan frekuensi yang sama,
memindahkan getaran dari membran timpani ke jendela oval yang menghubungkan ke telinga
dalam. Tulang-tulang pendengaran itu yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit
tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong.
Energi tulang yang telah diamplifikasi akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap
lonjong sehingga perilimfa pada skala vestibuli bergetar. Getaran diteruskan melalui membrana
Reissner yang mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antar membran
basilaris dan membra tektorial. Proses ini merupakan rangsangan mekanik yang mnyebabkan
terjadinya defleksi stereosillia sel-sel rambut sehingga kanal ion terbuka dan terjadi
pengelepasan ion bermuatan listrik. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut,
sehingga melepaskan neurotransmitter ke sinaps yang akan menimbulkan potensial aksi pada
saraf auditorius.
Gambar 1.3 Anatomi Telinga















Gambar 1.4 Anatomi Telinga Dalam
BAB III
OTITS MEDIA AKUT

III.1. Definisi
Otitis media ialah peradangan sebagian atau seluruh mukosa liang telinga tengah, tuba
Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid.

Otitis media terbagi atas otitis media supuratif
dan otitis media non-supuratif, dimana masing-masing memiliki bentuk akut dan kronis. Otitis
media akut termasuk dalam bentuk otitis media supuratif.

Otitis media akut ialah peradangan
telinga tengah yang mengenai sebagian atau seluruh periosteum dan terjadi dalam waktu kurang
dari 3 minggu.

III.2. Etiologi dan Faktor Predisposisi
Telinga tengah biasanya steril, meskipun terdapat mikroba di nasofaring dan faring.
Secara fisiologik terdapat mekanisme pencegahan masuknya mikroba ke dalam telinga tengah
oleh silia mukosa tuba Eustachius, enzim, dan antibodi. Otitis media akut ini bisa terjadi karena
pertahanan tubuh ini terganggu. Sumbatan tuba Eustachius merupakan faktor penyebab utama
dari otitis media. Sumbatan juga dapat dikarenakan adanya massa yang menyumbat seperti
tumor ataupun akibat pemasangan tampon. Karena fungsi tuba terganggu, pencegahan invasi
kuman ke dalam telinga tengah juga terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah
dan terjadi peradangan. Infeksi saluran napas atas juga alergi dapat menjadi pencetus
(gambar1.4). Bayi dan anak-anak memiliki tuba Eustachius yang lebih horizontal, pendek, dan
lebih lebar, hal ini mempermudah terjadinya otitis media akut pada anak yang sering terserang
infeksi saluran napas (gambar 1.5).
Kuman penyebab utama pada otitis media akut ialah bakteri piogenik, seperti
Streptokokus hemoltikus, Stafilokokus aureus, Pneumokokus. Selain itu kadang-kadang
ditemukan juga Hemofilus influenza yang sering ditemukan pada anak yang berusia dibawah 5
tahun, Escherichia colli, Streptokokus anhemolitikus, Proteus vulgaris, dan Pseudomonas
aurugenosa.






Gambar 1.5 tuba Eustachius
Gambar 1.4. Patogenesis OMA
III.3. Patofisiologi dan Stadium
Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas atas seperti batuk, pilek,
dan radang tenggorokan. Infeksi menyebar ke telinga tengah melewati tuba Esutachius. Kuman
yang masuk ke tuba Eustachius menyebabkan reaksi radang dan edema di dinding tuba
Eustachius, hal ini menyebabkan fungsi tuba Eustachius sebagai pencegah invasi kuman ke
telinga tengah terganggu. Kuman dapat terus menyebar ke telinga tengah, terjadi proses radang
dan edema hebat di telinga tengah. Terbentuklah sekret yang awalnya serosa lalu berubah
menjadi purulen yang makin lama bertambah banyak yang menyebabkan bulging pada membran
timpani dan dapat terjadi perforasi.




Berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi otitis media akut dapat
dibagi dalam 5 stadium;

Gambar 1.6 Patofisiologi OMA
Stadium Otitis Media Akut :
1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius
Tanda adanya oklusi tuba Eustachius ialah gambaran retraksi membran timpani
akibat terjadinya tekanan negatif di dalam telinga tengah, akibat absorpsi udara. Kadang-
kadang membran timpani tampak normal (tidak ada kelainan) atau berwarna keruh pucat.
Efusi mungkin telah terjadi, tetapitidak dapat di deteksi. Stadium ini sukar dibedakan
dengan otitis media serosa yang disebabkan oleh virus ataupun alergi.
2. Stadium Hiperemis (Pre-Supurasi)
Pada stadium hiperemis,tampak pembuluh darah yang melebar di membran
timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang telah
terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat.
3. Stadium Supurasi
Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel
superfisial, serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani menyebabkan
membran timpani menonjol (bulging) ke arah liang telinga luar. Pada keadaan ini pasien
tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta rasa nyeri telinga bertambah hebat.
Apabila tekanan nanah di kavum timpani tidak berkurang, maka terjadi iskemia, akibat
tekanan pada kapiler-kapiler, serta timbul tromboflebitis pada vena-vena kecil dan
neksrosis mukosa dan submukosa. Nekrosis ini pada membran timpani terlihat sebagai
daerah yang lembek dan berwarna kekuningan. Di tempat ini biasanya akan terjadi
ruptur.
Bila tidak dilakukan insisi membran timpani (miringotomi) pada stadium ini,
maka kemungkinan besar membran timpani akan ruptur dan nanah keluar ke liang telinga
luar. Dengan melakukan miringotomi, luka insisi akan meutup kembali sedangkan
apabila terjadi ruptur, maka lubang tempat ruptur (perforasi) tidak mudah menutup
kembali.

4. Stadium Perforasi
Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi
kuman yang tinggi, maka dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar
mengalir dari telinga tengah ke telinga luar. Anak yang tadinya gelisah sekarang menjadi
tidur dengan tenang, suhu badan turun, dan anak dapat tertidur nyenyak. Keadaan ini
disebut dengan otitis media akut stadium perforasi.
5. Stadium Resolusi
Bila membran timpani tetap utuh, maka keadaan membran timpani perlahan-lahan
akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan
akhirnya kering. Bila daya tahan tubuh baik atau virulensikuman rendah, maka resolusi
dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan.

III.4. Gejala Klinik
Gejala klinik otitis media supuratif akut (OMA) tergantung dari stadium penyakit dan
umur penderita. Gejala stadium supurasi berupa demam tinggi dan suhu tubuh menurun pada
stadium perforasi. Gejala klinik otitis media supuratif akut (OMA)berdasarkan umur penderita,
yaitu.

Bayi dan anak kecil
- Gejalanya : demam tinggi bisa sampai 39C merupakan tanda khas, sulit tidur, tiba-tiba
menjerit saat tidur, mencret, kejang-kejang, dan kadang-kadang anak memegang telinga
yang sakit.
Anak yang sudah bisa bicara
- Gejalanya : biasanya rasa nyeri dalam telinga, suhu tubuh tinggi, dan riwayat batuk pilek
sebelumya.
Anak lebih besar dan orang dewasa
- Gejalanya : rasa nyeri dan gangguan pendengaran (rasa penuh dan pendengaran
berkurang).

III.5. Diagnosis
1. Anamnesis gejala yang didapati pada pasien
2. Pemeriksaan telinga dengan menggunakan lampu kepala
3. Otoskop untuk melihat gambaran membran timpani yang lebih jelas
4. Kultur sekret dari membran timpani yang perforasi untuk mengetahui mikroorganisme
penyebab

Diagnosis otitis media akut juga ahrus memenuhi 3 hal berikut
1. Penyakitnya muncul mendadak (akut)
2. Ditemukan tanda efusi (efusi: pengumpulan cairan disuatu rongga tubuh) di telinga
tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu tanda berikut:
Mengembungnya membran timpani
Gerakan membran timpani yang terbatas
Adanya bayangan cairan di belakang membran timpani
Cairan yang keluar dari membran timpani
3. Adanya tanda/gejala peradangan telinga tengah yang dibuktikan dengan adanya salah
satu diantara tanda berikut:
Kemerahan pada membran timpani
Nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal

Otitis media akut harus dibedakan dengan otitis media dengan efusi yang sangat menyeruoai
otitis media akut. Untuk dapat membedakannya perhatikan hal-hal berikut;
Gejala dan Tanda Otitis Media Akut Otitis Media Efusi
Nyeri telinga, demam, gelisah + -
Efusi telinga tengah + +
Membran timpani suram + + / -
Membran timpani bulging + / - -
Gerakan membran timpani
berkurang

+
+



III.6. Penatalaksanaan
Terapi otitis media akut tergantung pada stadium penyakitnya;


1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius
Terutama bertujuan untuk membuka kembali tuba Eustachius dari sumbatan, sehingga
tekanan negatif di telinga tengah menghilang. Diberi obat tetes hidung HCl efedrin 0,5%
dalam larutan fisiologik (anak <12 tahun) atauh HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologik
untuk yang berumur di atas 12 tahun dan pada orang dewasa. Selain itu sumber infeksi
harus diobati Antibiotika diberikan bila penyebab penyakit adlah kuman, buka oleh virus
atau alergi.

2. Stadium Hiperemis (Stadium Pre-Supurasi)
Pemberian antibiotika yang dianjurkan ialah golongan penisilin atau ampisilin. Ampisilin
dengan dosis 50-100mg/kgBB per hari dibagi dalam 4 dosis atau amoksisilin 40mg/kgB
per hari dibagi dalam 3 dosis. Bila pasien alergi terhadap penisilin dapat diberi
Tabel 1.7. OMA dan Otitis Media Efusi
eritromisin dengan dosis 40mg/kgBB per hari. Pemberian antibiotika dianjurkan diberi
selama 7 hari. Selain itu dapat diberikan obat tetes hidung dan analgetika.

3. Stadium supurasi
Pemberian antibiotika disertai miringotomi bila membran timpani masih utuh. Dengan
miringotomi gejala-gejala klinis lebih cepat hilang dan ruptur dapat dihindari.

4. Stadium Perforasi
Pada stadium ini sekret banyak keluar dan terkadang keluar secara berdenyut, sekret yang
banyak ini merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman, oleh karena itu
sangat perlu dilakukan pencucian tellinga untuk menghilangkan sekret. Pengobatan yang
diberikan adalah obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotika yang
adekuat.

5. Stadium Resolusi
Bila tidak terjadi stadium resolusi biasanya sekret akan terus mengalir melalui perforasi
membran timpani. Pada keadaan ini mpemberian antibiotika dapat dilanjutkan smapai 3
minggu. Bila 3 minggu setelah pengobatan sekret masih terlihat banyak keluar maka
kemungkinan telah terjadi komplikasi mastoiditis.
Miringotomi
Miringotomi adalah tindakan insisi pada pars tensa membran timpani, agar terjadi
drenase sekret dari telinga tengah ke liang telinga luar. Miringotomi merupakan tindakan
pembedahan kecil yang dilakukan secara a-vue (dilihat langsung), anak harus tenang, dan dapat
dikuasai, sehingga membran timpani dapat dikuasai dengan baik. Lokasi miringotomi ialah di
kuadran posterior inferior karena didaerah ini tidak didapatkan tulang pendengaran. Untuk
tindakan ini harus menggunakan lampu kepala yang mempunyai sinar cukup terang, memakai
corong telinga, dan pisau khusus (miringotomi) yang berukuran kecil dan steril (tabel 1.8)




III.7 Komplikasi
- Otitis media supuratif kronik, yang ditandai dengan keluarnya sekret dari telinga lebih
dari 2 bulan.
- Otitis media yang tidak diobati dapat menyebar ke jaringan sekitar telinga tengah,
sehingga dapat timbul mastoiditis, abses-subperiosteal, sampai komplikasi yang
menyerang otak seperti meningitis dan abses otak.
- Otitis media yang tidak diatasi juga dapat menyebabkan hilangnya pendengaran
permanent, cairan di telinga tengah dan otitis media kronik dapat mengurangi
pendengaran anak serta dapat menyebabkan masalah dalam kemampuan bicara dan
bahasa.

Tabel 1.8. Miringotomi
BAB IV
KESIMPULAN

Otitis media akut adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, dan
antrum serta sel sel mastoid. Otitis media akut terdiri dari 5 stadium. Penyebab otitis media akut
dapat berupa infeksi bakteri maupun virus. Bayi dan anak-anak dan anak-anak lebih sering
terserang otitis media akut dibanding orang dewasaa. Gejala klinis yang didapati pada otitis
media akut tergantung pada stadium penyakit dan usia pasien. Terapi yang perlu dilakukan juga
bergantung pada stadium. Otitis media akut yang tidak tertangani dengan baik bisa berlanjut dan
dapat menimbulkan komplikasi. Oleh karena itu, diperlukan ketepatan diagnosis dan terapi yang
tepat.












DAFTAR PUSTAKA

1. Teele.Dw, Klein Jo: Department of pediatrics, Boston City Hospital: Epidemiology of
otitis media during the first seven years of life in children. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2732519

2. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, et al. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga. Jakarta;
Penerbit FKUI; 2004. p. 105-06.
3. Guyton, Arthur C. & John E. Hall, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 9,
Editor: Irawati Setiawan. Jakarta; ECG:2001.p.178-182

4. Tierney L M, McPhee S J, Papadaxis M A. 2005. Current Medical Diagnosis And
Treatment. McGraw Hill Appleton Lange, Toronto USA. Ebook.
5. Adams GL, Boeis, LR, Higler PA. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi keenam. Jakarta;
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2000. p. 240-59.

6. Vetri RW, Sprinkle PM., Etiologi Peradangan Telinga Luar dan Tengah. Ballenger JJ.
Ed. Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi 13. Bahasa Indonesia,
jilid I. Jakarta: Binarupa Aksara; 1994:194-224

7. Chan LS, Takata GS, Shekelle P, Morton SC, Mason W, Marcy SM. Evidence
assessment of management of acute otitis media: II. Research gaps and priorities for
future research. Pediatrics.2001;108 :248 254

8. Karma PH, Penttil MA, Sipl MM, Kataja MJ. Otoscopic diagnosis of middle ear
effusion in acute and non-acute otitis media. I. The value of different otoscopic findings.
Int J Pediatr Otorhinolaryngol.1989;17 :37 49