Anda di halaman 1dari 6

Anatomi

Dalam periode 1996 sampai 2000, terdapat penelitian tentang pengaduan hukum yang
berkaitan kesehatan. Sesuai dengan penelitian tersebut, terjadi peningkatan pengaduan
sebanyak 7 kali lipat yang berkaitan dengan anatomi yang diberikan kepada Medical Defence
Union serta 32 % dari kasus yang dilaporkan berkaitan dengan bedah dan bedah vascular
akibat kerusakan yang disebabkan oleh struktur anatomi.
1

Selama 30 tahun terakhir terjadi penurunan waktu dalam mempelajari anatomi
terutama pelajaran diseksi
Pada masa sekarang, terjadi perdebatan antara bagaimana metode yang tepat untuk
proses pembelajaran anatomi. Terdapat 2 pendapat untuk metode yang tepat untuk proses
pembelajaran anatomi. Pendapat pertama yaitu pendapat yang lebih menyukai
penggunaankadaver atau diseksi dalam proses pembelajaran anatomi. Sedangkan pendapat
kedua adalah yang mendukung penggunaan metode pembelajaran yang lebih modern (Seperti
PBL, Computer Asisted Learning)










Tinjauan Pustaka
Anatomi merupakan intidari pelajaran dalam ilmu medis selama bertahun-
tahun.Anatomi merupakan landasan dalam pendidikan kedokteran. Mempelajari anatomi
membuat mahasiswa memiliki pemahaman yang lebih baik tentang prosedur medis dan
prinsip dari tindakan medis.
Suster
Anatomi pada saat ini berada mengalami kegagalan dalam berkembang dan menyesuaikan
diri dengan kurikulum modern yang sekarang. Selain itu, untuk mempertahankan ruangan
diseksi sesuai dengan peraturan National and Eurpean membutuhkan biaya yang besar dan
perubahan ini dapat menurunkan kebutuhan terhadap jumlah ahli anatomi terlebih lagi
dengan meningkatnya jumlah mahasiswa kedokteran dewasa ini
1
Pengetahuan terhadap anatomi membantu dokter dalam memeriksa pasien, dalam
membuat diagnosis dan berkomunikasi dengan pasien atau petugas medis lainnya tentang apa
yang ditemukan. Anatomi tidak hanya penting untuk dokter bedah tapi juga untuk para medis
yang melakukan prosedural invasiev, pemeriksaan radiologi, melakukan prosedur gawat
darurat serta merujuk pasien ke dokter atau ahli medis lainnya
1
.


Metode Traditional dalam Pembelajaran Anatomi
Sejarah Metode Traditional
Metode diseksi pertama kali diperkenalkan oleh Vesalius pada tahun 1542, Pada masa
itu, Vesalius mengumpulkan berbagai macam informasi anatomi berdasarkan hasil
pengamatannya ketika melakukan diseksi pada kadaver. Apa yang dilakukan oleh Vesalius
menjadi langkah awal dalam proses penetapan metode pembelajaran dengan observasi
langsung. Hal ini juga memicu perubahan pola dengan menekankan pembelajaran pada
patient centered.
Metode tradisional dalam pembelajaran anatomi berdasarkan metode dissection atau
pembedahan termasuk penggunaan kadaver sebagai proses pembelajaran anatomi
a
. Metode
dissection masih dianggap sebagai metode yang paling ideal bagi mahasiswa untuk belajar
mandiri. Metode diseksi membuat mahasiswa merasakan pengalaman untuk mengeksplorasi
lebih jauh subjek lebih jauh dengan kemampuan mereka sendri dan sesuai dengan kemauan
mereka sendiri
Ahli bedah juga menganjurkan penggunaan metode diseksi dalam pembelajaran
anatomi karena metode ini tidak hanya bermanfaat untuk mempelajari anatomi secara detail
tapi agar mahasiswa memahami variasi anatomi tiap manusia yang tidak dapat ditemuakn di
textbook ataupun dengan struktur yang rusak secara tidak sengaja. Pengalaman mahasiswa
pada saat mencari objek merupakan pengalaman yang baik dimana seorang mahasiswa akan
memperoleh gambaran 3 dimesi dari suatu struktur anatom, pengalaman taktil dan
mempelajari jaringan sekitar dari struktur yang dia cari tersebut. Pengalaman mahasiswa pada
saat melakukan diseksi memberikan pelajaran tentang arti kematian dan bagaimana menjadi
seorang tenaga medis yang profesional
Kesimpulan para ahli mengatakan bahwa penggunaan metode diseksi dan kadaver sangat
penting terutatama dalam proses pembelajaran anatomi terutama dapat meningkatkan proses
pemahaman dan pengetauan serta keterampilan.
a
Masalah Metode Traditional
Beberapa masalah yang ditemyu dengan penggunaan metode tradisional sbagai
metode utama pembelajaran anatomi disebabkan beberaoa hal yaitu
a. Proses penyimpanan kadaver yang mahal
3

b. Menurunnya jumlah kadaver disebabkan oleh masalah penyakit, obesitas atau
persepsi masyarakat tentang kadaver
3

c. Penggunaan metode diseksi membutuhkan waktu yang lama dan sangat sulit untuk
dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan yang hanya memberikan waktu yang
sedikit untuk basic science
3


Jelaskan tentang diseksi dan penggunaan prostetik anatomi

Daftar Pustaka
1. Turney BW. Anatomy in a Modern Medical Curriculum. Ann R Coll Surg Engl 2007; 89:
104107
2. Sugand K, Abrahams P, Khurana A. The Anatomy of Anatomy: A Review for its
Modernization. Anat Sci Educ 3:8393 (2010)
3. Shaffer K. Teaching Anatomy in the Digital World. N ENGL J MED. 351(13). 1279-
81.
4. Suster Johnston ANB. Anatomy for Nurses: Providing students with the best
learning experience. Nurse Education in Practice 10 (2010) 222226
Kompetensi indoneisa
Kompetensi dokter layanan primer di Indonesia mengacu SKDI (Standard Kompetensi
Dokter Indonesia) yang dibuat oleh Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). SKDI berisi tentang standar
minimal kompetensi dari dokter-dokter layanan primer di Indonesia dan digunakan secara nasional di
seluruh Indonesia.SKDI memiliki 7 area kompetensi yang terdiri dari 3 pondasi berupa profesionalitas
yang luhur, komunikasi yang efektif, kemampuan untuk mawas dan mengembangkan diri serta terdiri
dari 4 pilar yaitu pengelolaan informasi yang ditunjang oleh pilar pilar yang mencakup pengelolaan
informasi, landasan ilmu kedokteran, keterampilan klinis dan pengelolaan masalah kesehatan

Gambar :Pondasi dan Pilar Kompetensi
Untuk menentukan salah satu komponen dari kompotensi kedokteran umumnya digunakan
piramida miller. Piramida miller merupakan suatu piramida yang menggambarkan tingkat kompetensi
seseorang yang disusun oleh miller. Piramida miller terdiri dari 4 komponen kompetensi

Gambar : Tingkat kemampuan menurut piramida miller dan alternatif metode untuk mengujiinya
Tingkat kemampuan 1 (Know) : Mengetahui dan mampu menjelaskan tentang suatu. Seorang
lulusan dokter layanan primer diharapkan memiliki pengetahuan secara teoritis terhadap suatu hal dan
dapat menjelaskannya kepada pasein/kline dan keluarganya, teman sejawat dan petugas kesehatan
laiinnya. Pengetahuan yang diperoleh meliputi prinsip, indikasi serta komplikasi yang mungkin
timbul. Tingkat kemampuan 1 ini umumnya di uji dengan Ujian tulis sedangkan keterampilan
diperoleh dari perkuliahan, diskusi,penugasan dan belajar mandiri
Tingkat Kemampuan 2 (Know How) yaitu Pernah melihat atau mendemonstrasikan.Seorang
lulusan dokter layanan primer memiliki pengetahuan secara teoritis serta pada aplikasi dari ilmu
pengetahuan tersebut terutama menekankan kepada problem solving dan clinical reasoning. Untuk
menguji tingkat kemampuan 2 menggunakan ujian tulis pilihan bergada, atau penyelesaian kasus
secara tertulis atau oral.
Tingkat Kemampuan 3 (Shows) yaitu pernah melakukan atau pernah menerapkan di bawah
suervisi. Lulusan dokter layanan primer harus mampu menunjukan kemampuannya untuk melalukan
suatu prosedur. Show how umumnya akan mengintegrasikan pengetahuan yang diperoleh dan
kemampuan sehingga mampu melakukan suatu tindakan medis dengan baik. Tingkat kemampuan 3
ini diperoleh dari melihat da mengamati suatu keterampilan melalui demonstrasi atau langsung pada
pasien/masyarakat serta mempraktekan pengetahuan yang diperoleh pada alat peraga dan/atau pada
pasien yang sudah distandarisasi. Untuk mengukur kemampuan tingkat 3 ini menggunakan metode
Objective structures Clinical Examination (OSCE), atau objective structures assasment of Technical
skills(OSATS)
Tingkat kemampuan 4 yaitu memiliki kemampuan untuk mengerjakan suatu keterampilana secara
mandiri. Seorang dokter layanan primer diharapkan mampu melakukan keterampilan berlandaskan
teori, prinsip, indikasi, cara melakukan, komplikasi dan cara mengatasi serta mengendalikan
komplikasi. Tingkat kemamouan ini diperoleh dengan melakukan suatu keterampilan di bawah
supevisi dan di uji dengan Workbased Assesment seperti mini-CEX, portofolio, logbook. ram
\Tabel1: Matriks tingkat keterampilan klinis, metode pembelajaran dan metode penilaian
Daftar Pustaka
1. Wass V, Vieuten CV, Snatzer J, Jones R. Assesment of Clinical competence. Lancet 2001; 357:
94549
2. Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia. 2 nd ed. Jakarta: Konsil Kedokteran
Indonesai;2012.