Anda di halaman 1dari 51

GAMBARAN KEJADIAN POST OPERATIVE NAUSEA AND VOMITING (PONV)

PADA PASIEN YANG MENJALANI ANESTESI UMUM DENGAN MENGGUNAKAN


LARYNGEAL MASK AIRWAY (LMA)
DI RSUD ARIFIN ACHMAD PROVINSI RIAU
SKRIPSI

YUSA HAS JULIANA
0908151694
Pembimbing I Pembimbing II
dr. Dino Irawan, Sp. An, MM dr. M. Yulis Hamidy M. Kes, M.Pd.Ked

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2013






BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Keuntungan anestesi umum ini
adalah pengontrolan penuh terhadap
jalan nafas, pernafasan serta
sirkulasi pasien. Untuk mengatur
jalan nafas pasien saat operasi
digunakan alat untuk menjaga
patensinya.
Anestesi umum biasanya
dilakukan secara intravena
ataupun inhalasi.
Anestesi umum
adalah suatu keadaan
hilangnya kesadaran,
amnesia, analgesia,
kelumpuhan otot dan
sedasi ketika
diberikan obat.
Jalan nafas pharyngeal
Jalan nafas supraglotik (seperti face mask,
laryngeal mask airway/LMA)
Jalan nafas intratracheal.
Penanganan jalan
nafas pasien saat
operasi digolongkan
menjadi tiga
golongan
Kondisi tiap-tiap pasien
Jenis anestesi,
Prosedur pembedahan
Ahli anestesi
mempunyai variasi
yang lebih besar
untuk penanganan
jalan nafas sehingga
lebih dapat
disesuaikan
24 jam pertama pasca operasi, pasien yang menggunakan anestesi umum akan
mengalami :
1. Muntah 10-20%
2. Mual 10-40%
3. Sakit tenggorokan 25%
4. Nyeri insisi 30%

Keadaan mual dan muntah pasca operasi dikenal dengan istilah Post
Operative Nausea and Vomiting (PONV) merupakan salah satu
komplikasi tersering yang dikeluhkan pada pasien dengan anestesi
umum.


Insiden : 25-30% dan dapat mencapai 70% pada pasien dengan risiko
tinggi.


Faktor Risiko Primer
Faktor lain : Umur, prosedur operasi, durasi operasi dan
anestesi, ansietas pasien ataupun parental ansietas,
anestetic volatile, nitrous oxide, dan penggunaan
intraoperative dan postoperative opioid.
Jenis kelamin wanita
Status tidak merokok
Mempunyai riwayat PONV
Menggunakan opioid
Laryngeal Mask Airway (LMA) adalah alat
supraglotis airway untuk memberikan dan
menjamin tertutupnya bagian dalam laring
untuk ventilasi spontan. Salah satu komplikasi
gastrointestinal penggunaan LMA adalah mual
dan muntah sekitar 0,02-5% yang dapat
meningkatkan kejadian terjadinya PONV.

p
enggunaan LMA pada pembedahan sudah
semakin meluas karena merupakan alternatif
untuk manajemen jalan nafas yang sulit.
Tahun 2007 di Austria didapatkan kejadian PONV
pada pasien bedah ginekologi dengan LMA
menurun hingga mencapai 13%.
Penelitian di Jerman yang dilakukan pada
pembedahan strabismus anak usia 4-14 tahun
didapatkan kejadian PONV yaitu vomiting 32%
dan nausea 16%.
Kejadian ini lebih kecil dibandingkan dengan
kejadian PONV akibat pemakaian ETT
(Endotracheal tube).
Menurut penelitian Reno Putri Utami pada tahun
2011 yang berjudul Gambaran Kejadian Post
Operative Nausea and Vomiting (PONV) pada
Pasien Anestesi Umum Endotrakeal di RSUD
Arifin Achmad Pekanbaru didapatkan 37%
pasien mengalami PONV. Di RSUD Arifin
Achmad belum ada data mengenai kejadian
PONV pada pasien anestesi umum dengan
menggunakan LMA. Oleh karena itu, peneliti
tertarik melakukan penelitian ini.

Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran kejadian Post Operative Nausea
and Vomiting (PONV) pada pasien yang menjalani
anestesi umum dengan menggunakan Laryngeal Mask
Airway (LMA) di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau.


Tujuan Penelitian
Umum : Untuk mengetahui gambaran kejadian Post Operative
Nausea and Vomiting (PONV) pada pasien yang menjalani
anestesi umum dengan menggunakan Laryngeal Mask
Airway (LMA) di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau
berdasarkan :
1. Proporsi pasien yaitu derajat nausea dan vomiting, durasi
operasi dan anestesi, tingkat keparahan PONV dan jenis
operasi.
2. Karakteristik pasien yang mengalami PONV, yang terdiri dari
usia, jenis kelamin, riwayat PONV dan riwayat merokok.




Manfaat Penelitian
Peneliti
Menambah pengetahuan dalam bidang penelitian kedokteran
serta menambah wawasan khususnya mengenai Post
Operative Nausea and Vomiting.
Peneliti lain
Sebagai informasi dan referensi untuk penelitian lebih lanjut.
RSUD Arifin Achmad Pekanbaru
Sebagai masukan kepada pihak RSUD Arifin Achmad
Pekanbaru mengenai gambaran kejadian Post Operative
Nausea and Vomiting (PONV) pada pasien yang menjalani
anestesi umum dengan menggunakan Laryngeal Mask
Airway (LMA) di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi dan Fisiologi Saluran
Pencernaan dan Pernapasan Bagian
Atas

a. Mulut : pintu masuk ke saluran pencernaan.
Mulut terbentang dari bibir sampai isthmus
faucium yaitu peralihan dari mulut dengan faring.
b. Faring : rongga dibelakang tenggorokan. Letaknya
berada di belakang cavum nasi, mulut dan laring.
Faring merupakan saluran bersama untuk sistem
pencernaan dan sistem pernapasan.
c. Laring : sebuah tabung yang menghubungkan
laringofaring dengan trakea. Laring dilindungi
oleh kartilago epiglottica. Laring melindungi
saluran pernapasan bawah pada saat menelan dan
adaptasi untuk fonasi
Mekanisme Mual dan Muntah
Pusat muntah terletak di formatio reticularis lateral
medulla oblongata dekat dengan ventrikel cerebral
keempat.
Pusat muntah ini akan menerima sinyal afferent dari
Chemoreseptor Trigger Zone (CTZ), apparatus
vestibularis, saluran pencernaan, cortex cerebri, dan
pusat batang otak, serta nucleus tractus solitarius.
Struktur tsb kaya akan dopaminergik, muskarinik,
serotoninergik, histaminik dan reseptor opioid.
Mual, retching, dan muntah dapat dimulai dari semua
masukan afferent tersebut ke pusat muntah dari
jumlah reseptor seluruh tubuh.
Saraf eferen ditransmisikan oleh saraf cranial V, VII,
IX, X dan XII menuju traktus gastrointestinal (GIT)
dan melalui saraf spinal ke otot-otot diafragma dan
abdomen yang menyebabkan aksi mekanik dari
muntah.
Muntah diawali oleh inspirasi dalam dan penutupan
glotis. Diafragma berkontraksi turun menekan
gaster sementara kontraksi otot-otot abdomen
secara stimultan menekan rongga abdomen
sehingga tekanan intraabdomen meningkat dan isi
gaster terdorong ke dalam oesophagus dan keluar
melalui mulut. Glotis tertutup sehingga muntahan
tidak masuk ke saluran pernapasan dan uvula
terangkat untuk menutup rongga hidung. Siklus
muntah dapat berulang sampai gaster kosong.
Definisi Post Operative Nausea and
Vomiting (PONV)
Nausea Perasaan subjektifitas sensasi ingin
muntah. Nausea juga diartikan sebagai perasaan
yang sangat tidak nyaman di belakang tenggorokan
dan epigastrium yang sering menyebabkan muntah.

Vomiting suatu refleks yang menyebabkan
pengeluaran (ekspulsi) dari isi saluran pecernaan
bagian atas (lambung, terkadang dari usus halus)
melalui mulut.

Post Operative Nausea and Vomiting (PONV)
keadaan mual dan muntah setelah operasi yang
merupakan salah satu keluhan paling utama dan
tersering setelah anestesi dan operasi.

Kejadian dan Faktor Resiko Post
Operative Nausea and Vomiting
(PONV)
Kejadian : 30% pasien tak terseleksi dan sampai 70% pada
pasien dengan resiko tinggi selama 24 jam setelah oprerasi.
Faktor risiko :
1. Individu : usia, jenis kelamin, obesitas, riwayat PONV atau
motion sickness sebelumnya, riwayat merokok dan
penyakit-penyakit tertentu.
2. Preoperatif : makanan, ansietas, jenis operasi tertentu dan
premedikasi
3. Intraoperatif : anestetik, seperti intubasi, prosedur
anestetik, obat-obat anestesi, agen inhalasi, jenis anestesi,
jenis operasi dan durasi operasi
4. Post-operatif : nyeri, intake oral, pergerakan, dan obat-
obatan termasuk opioid.
Penatalaksanaan Post Operative
Nausea and Vomiting (PONV)
Yang memiliki sifat antiemetik :
1. steroid (dexamethasone) : 4 mg (dosis induksi)
2. antagonist reseptor serotonin 5HT3 (setrons)
3. antagonis reseptor dopamin D2 (droperidol).
Laryngeal Mask Airway (LMA)
alat jalan napas berbentuk sendok terdiri atas pipa
besar berlubang dengan ujung menyerupai sendok
yang pinggirnya dapat dikembangkempiskan seperti
balon pada pipa trakea.
Jenis :
1. LMA klasik
2. LMA fleksibel
3. LMA proseal
4. LMA fast track
5. single use LMA (LMA unique)
6. LMA Ctrach
7. LMA supreme
Indikasi
1. Alternatif penggunaan face mask dan intubasi endotrakeal
untuk penanganan jalan nafas.
2. Penanganan airway selama anestesi umum pada :
Rutin atau emergensi
Radioterapi
CT scan/ MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Resusitasi luka bakar
ESWL (Extracorporeal shock wave lithotripsy)
Adenotonsilektomy
Bronkhoskopi dengan fleksibel fiberoptik
Resusitasi neonatal
3. Pada situasi jalan nafas sulit yaitu :
Terencana
Penyelamatan jalan nafas
Membantu intubasi endotrakheal

Kontraindikasi
Resiko meningkatnya regurgitasi isi lambung
(kondisi tidak puasa)
Terbatasnya kemampuan membuka mulut atau
ekstensi leher (misalnya artritis rematoid yang berat
atau ankylosing spondylitis) menyebabkan sulitnya
memasukkan LMA lebih jauh ke hipopharynx.
Tahanan jalan nafas yang besar
Obstruksi jalan nafas setinggi laring atau
dibawahnya.
Kelainan pada oropharynx (misalnya hematoma dan
kerusakan jaringan)
Ventilasi satu paru

Teknik insersi
Teknik klasik/standard (Brains original
technique)
Inverted/reserve/rotation approach
Lateral approach inflated atau deflated cuff

Ukuran Usia Berat (kg)
1.0 Neonatus <3
1.3 Bayi 3-10
2.0 Anak kecil 10-20
2.3 Anak 20-30
3.0 Dewasa kecil 30-40
4.0 Dewasa normal 40-60
5.0 Dewasa besar >60
Ukuran
LMA
LMA dapat digunakan dengan
atau tanpa bantuan laringoskop.
dapat dipasang langsung tanpa
bantuan alat dan dapat
digunakan jika diperkirakan
intubasi trakea akan mengalami
kesulitan dalam pemakaiannya.

Pemasangan LMA hendaknya
menunggu anastesi cukup dalam
atau menggunakan pelumpuh
otot untuk menghindari trauma
rongga mulut, faring-laring.
Anestesi Umum
Pertama kali : Oliver Wendell Holmes pada tahun 1948
yang menggambarkan keadaan tidak sadar yang bersifat
sementara, karena anestesi adalah pemberian obat
dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri pembedahan.

Visual Analogue Scale (VAS)

Tingkat keparahan mual diukur dengan menggunakan Visual
Analogue Scale (VAS) yaitu dengan meminta pasien untuk
menganalogikan mual yang dirasakannya pada kertas yang
telah digambar dengan sebuah garis horizontal sepanjang 10
cm , ujung kiri garis diberi tulisan tidak ada mual dan ujung
yang lain bertuliskan mual yang sangat kuat.
Perangsangan terhadap pusat muntah berupa:
Operasi, bau, nyeri, penglihatan, memori, rasa takut,
trauma, bahan kimia (obat), motion sickness, stimulasi
faring
Reseptor aferen:
CTZ, apparatus vestibularis, cortex cerebri,
thalamus, nukleus traktus solitarius, sistem
spinoretikular
Pusat muntah
PONV
Terapi farmakologi
Faktor risiko
individu:
1. Usia
2. Jenis kelamin
3. Obesitas
4. Riwayat
PONV
5. Riwayat
merokok
Faktor risiko post-
operatif:
1. Intake oral
2. Nyeri
3. Pergerakan
4. Obat-obatan
(opioid)
Faktor risiko pre operatif :
1. Ansietas
2. Jenis operasi
3. Premedikasi
Faktor risiko intraoperatif :
1. Jenis anestesi
2. Intubasi : LMA
3. Durasi operasi dan anestesi
4. Obat-obatan (opioid, agen
anestesi)
Kerangka
Teori
Anestesi Umum
Faktor risiko
intraoperatif
PONV
Derajat nausea
Derajat vomiting
Durasi operasi dan anestesi
Jenis operasi
Tingkat keparahan PONV
Karakteristik :
1. Usia
2. Jenis kelamin
3. Riwayat PONV
4. Riwayat merokok


Penggunaan LMA
Kerangka
Konsep
BAB III
METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Jenis penelitian bersifat deskriptif dengan
desain penelitian cross sectional.

Tempat dan Waktu Penelitian


Tempat : di RSUD Arifin Achmad
Provinsi Riau
Waktu : Desember 2012 Januari 2013.

Populasi dan Sampel
Populasi Sampel

Pasien yang menjalani
anestesi umum dengan
menggunakan Laryngeal
Mask Airway (LMA).
Pengambilan sampel
dilakuan dengan teknik
Consecutive sampling.


n = =
= 41,69 42

Jadi : 42 sampel

n = Besar sampel
Z = Standar deviasi normal,
dikarenakan derajat kepercayaan 95%
maka Z bernilai 1,96%
P = Estimasi proporsi kejadian
PONV pada pasien pasca operasi dengan
anestesi umum menggunakan LMA dari
kepustakaan yaitu 0,13
Q = 1 P
D = Presisi, yaitu sebesar 0,1

Kriteria Inklusi Kriteria Eksklusi
Pasien pasca operasi
yang menjalani
anestesi umum
dengan
menggunakan LMA
ukuran 3.0, 4.0 dan
5.0
Pasien bersedia
diwawancarai
Operasi elektif

Wanita hamil
Pasien dengan riwayat
gastritis
Durasi operasi dan anestesi
> 2 jam
Pasien obesitas (IMT > 25)
Penggunaan opioid
berlebihan (fentanil >1-3
g/kgBB, petidin >0,2-0,5
mg/kgBB)
Pasien yang diberikan
antiemetik sebelum operasi
Variabel penelitian
Derajat nausea
Derajat vomiting
Tingkat keparahan PONV
Jenis operasi
Usia
Jenis Kelamin
Riwayat PONV
Riwayat merokok
Durasi operasi dan anestesi

Definisi Operasional
No. Variabel Definisi Operasional Alat Ukur
Skala
Ukur
Hasil Ukur
1. Anestesi
umum
Suatu keadaan tidak sadar
yang sementara ditimbulkan
oleh agen anestetik dengan
hilangnya rasa nyeri
diseluruh tubuh dan
relaksasi otot pada pasien
operasi di RSUD Arifin
Achmad
Rekam
Medik
2. Larynge
al Mask
Airway
(LMA)
Alat bantu jalan nafas pada
pasien yang menjalani
operasi dengan anestesi
umum, terbuat dari karet
lunak silicone khusus untuk
kepentingan medis ukuran
3,0 , 4,0 dan 5,0.
Rekam
Medik
No. Variabel Definisi Operasional
Alat
Ukur
Skala
Ukur
Hasil Ukur
3. Derajat
nausea
Tingkatan keluhan mual
pada pasien anestesi umum
yang menggunakan LMA
Visual
Analo
gue
Scale
(VAS)
Ordinal a. Ringan : Skala 1 3
b. Sedang : Skala 4 6
c. Berat : Skala 7 10
4. Derajat
vomiting
Tingkatan keluhan muntah
pada pasien anestesi umum
yang menggunakan LMA
Kuesi
oner
Ordinal a. Tidak ada keluhan
b. Ringan (mild) : 1-2
kali
c. Berat (severe) : 3
kali/lebih
No. Variabel
Definisi
Operasional
Alat
Ukur
Skala
Ukur
Hasil Ukur
5. Tingkat
keparahan
PONV
Tingkat
keparahan
nausea and
vomiting
yang
dirasakan
pasien
dikategorika
n kedalam
empat
derajat
menggunaka
n algoritma
penilaian
standar
Algori
tma
penilai
an
standa
r
Ordinal a. Tidak PONV: tidak ada episode nausea and
vomiting.
b. PONV ringan: 1) pasien hanya nausea
ringan, 2) satu episode vomiting atau
nausea yang berlangsung singkat (<10
menit), tetapi dipicu oleh stimulus eksogen,
misalnya minum, makan, atau gerakan
pasca operasi. Setelahnya mual berkurang
dan pasien merasa membaik selama
keseluruhan periode observasi.
c. PONV sedang: pasien mengalami 1 2
episode vomiting atau nausea sedang atau
berat tanpa stimulus eksogen.
d. PONV berat : pasien mengalami lebih dari
2 episode vomiting atau nausea lebih dari
dua kali (sedang atau berat).
No
.
Variabel Definisi Operasional
Alat
Ukur
Skala
Ukur
Hasil Ukur
6. Jenis Operasi Jenis operasi yang
dilakukan di ruang bedah
RSUD Arifin Achmad
Provinsi Riau
Rekam
Medik
Nominal a. Bedah umum
b. Bedah obstetri
c. Bedah orthopedi
7. Usia Usia pasien yang
dikelompokkan dalam
tahun
Kuesio
ner
Ordinal
a. 9-16 tahun
b. 17-24 tahun
c. 25-32 tahun
d. 33-40 tahun
e. 41-48 tahun

8. Jenis Kelamin Jenis kelamin biologis
pasien yang menjalani
operasi anestesi umum
dengan menggunakan
LMA
Kuesio
ner
Nominal
a. Pria
b. Wanita
No. Variabel Definisi Operasional
Alat
Ukur
Skala
Ukur
Hasil Ukur
9. Riwayat
Post
Operative
Nausea
and
Vomiting
(PONV)
Riwayat pasien dimana pernah
mengalami Post Operative
Nausea and Vomiting (PONV)
sebelumnya
Kuesio
ner
Nominal a. Riwayat PONV
b. Tidak ada riwayat
PONV
10. Riwayat
merokok
Kebiasaan merokok aktif
pasien dengan kriteria yaitu
pasien adalah orang yang
langsung menghisap rokok
setiap hari, dan telah merokok
selama 1 10 tahun atau lebih.
Kuesio
ner
Nominal a. Perokok
b. Bukan Perokok
11. Durasi
operasi
dan
anestesi
Lamanya operasi dan anestesi
yang dijalani pasien
Kuesio
ner
Nominal a. < 30 menit
b. 30 menit 2 jam
Prosedur Pengumpulan Data
Data yang digunakan adalah data sekunder dari rekam medis
pasien dan data primer yaitu data yang berasal dari hasil
wawancara yang dilakukan langsung kepada pasien.

Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan secara manual dengan mencatat
data rekam medik penderita dan hasil wawancara yang akan
dikelompokkan berdasarkan variabel penelitian, kemudian
data tersebut ditabulasikan untuk selanjutnya disajikan
dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.

Etika Penelitian
Penelitian ini telah lolos kaji etik di Unit Etik Penelitian
Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas
Riau dengan Nomor : 151/UN19.1.28/UEPKK/2012.


BAB IV DAN BAB V
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Gambaran Umum Subjek Penelitian
Variabel Frekuensi Persentase (%)
Jenis Kelamin
Pria 17 37,8 %
Wanita 28 62,2 %
Usia
9-16 tahun
17-24 tahun
25-32 tahun
33-40 tahun
41-48 tahun

9
13
1
16
6

20,0%
28,9%
2,2%
35,6%
13,3%
Riwayat Merokok
Perokok
Bukan Perokok
Riwayat PONV
Riwayat PONV
Tidak ada Riwayat PONV
Durasi operasi dan anestesi
<30 menit
30 menit 2 jam


7
38

3
42

21
24


15,6 %
84,4 %

6,7 %
93,3 %

46,7 %
53,3 %

Variabel Frekuensi Persentase (%)
Jenis Operasi
Bedah umum
Bedah obstetri
Bedah orthopedi
Jenis dan Ukuran LMA
3 supreme
4 supreme
3 unique
4 unique
5 unique


20
15
10

6
4
12
17
6


44,4%
33,3%
22,2%

13,3 %
8,9 %
26,7 %
37,8 %
13,3 %

Gambaran Kejadian PONV
Kejadian PONV Frekuensi Persentase (%)
PONV 10 22
Tidak PONV 35 78
Total 45 100
Lebih kecil daripada penelitian sebelumnya mengenai kejadian PONV pada
pasien anestesi umum endotrakeal sebesar 37% dan penelitian Doubravska et al
yang menunjukkan kejadian PONV secara keseluruhan yaitu 36%.

Kejadian PONV pada pasien anestesi umum dengan menggunakan LMA pada
kepustakaan mencapai 23% pada 24 jam pertama setelah operasi.

Pada
kepustakaan lain menyebutkan bahwa kejadian PONV dapat mencapai 40%.

Bervariasi : Sifat multifaktorial (faktor individual, preoperatif, intraoperatif, dan
post operatif)
Gambaran Kejadian PONV Berdasarkan Tingkat Keparahan
Tingkat Keparahan Frekuensi Persentase (%)
Tidak PONV 35 77,8%
PONV Ringan 5 11,1%
PONV Sedang 2 4,4%
PONV Berat 3 6,7%
Total 45 100%
Gartner et al : 13% mengalami PONV ringan, 4,1% mengalami
PONV sedang, dan 3,7% mengalami PONV berat.
berbedanya faktor risiko seperti riwayat PONV sebelumnya,
durasi operasi dan anestesi, serta riwayat merokok yang
ditemukan dan dialami setiap individu yang menjalani operasi.

Gambaran Kejadian PONV Berdasarkan Usia

Usia
PONV Tidak PONV
Frekuensi Persentase (%) Frekuensi Persentase
(%)
9-16 tahun
17-24 tahun
25-32 tahun
33-40 tahun
41-48 tahun
3
4
0
3
0
33,3%
30,8%
0
18,8%
0
6
9
1
13
6
66,7%
69,2%
100%
81,2%
100%
Klockgether et al : kejadian PONV banyak pada anak usia 14 tahun yaitu
32%.
Penelitian lain : PONV pada anak usia 6 16 tahun berkisar antara 42%
50%.
Sinclair et al menyatakan bahwa kejadian PONV akan menurun setelah
usia 50 tahun.
Kejadian PONV akan meningkat pada usia dewasa muda dan akan terus
menurun pada usia tua.



Gambaran Kejadian PONV Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis
Kelamin
PONV Tidak PONV
Frekuensi Persentase (%) Frekuensi Persentase (%)
Pria 3 17,6 % 14 82,4 %
Wanita 7 25,0 % 21 75,0 %
Apfel et al menunjukkan bahwa kejadian PONV pada pasien wanita yaitu 45%
sedangkan pada pasien pria 15%.
Doubravska et al menunjukkan bahwa kejadian PONV pada wanita lebih
banyak yaitu 26,5% sedangkan pada pria sebesar 6,3%.
Pada wanita tiga kali berisiko mengalami PONV dibandingkan pasien pria.
Perbedaan ini disebabkan oleh adanya variasi dalam serum gonadotropin atau
kadar hormon dalam tubuh .

Gambaran Kejadian PONV Berdasarkan Riwayat PONV
Riwayat
PONV
PONV Tidak PONV
Frekuensi Persentase (%) Frekuensi Persentase (%)
Ya 2 67% 1 33%
Tidak 8 19% 34 81%
Sune B et al yang didapatkan prevalensi PONV sebesar 75% dari pasien
dengan riwayat PONV sebelumnya.
riwayat PONV atau motion sickness sebelumnya meningkatkan risiko
terjadinya PONV sebanyak dua sampai 3 kali.
Gambaran Kejadian PONV Berdasarkan Riwayat Merokok
Riwayat
Merokok
PONV Tidak PONV
Frekuensi Persentase (%) Frekuensi Persentase (%)
Perokok 0 0 6 100%
Bukan Perokok 10 25,6% 29 74,4%
Cohen et al : Kebiasaan merokok akan menurunkan risiko terjadinya PONV.
Apfel et al juga menunjukkan bahwa status bukan perokok merupakan salah
satu dari empat faktor risiko utama dari PONV.
Rokok mengandung zat psikoaktif berupa nikotin yang mempengaruhi sistem
saraf. Seorang perokok akan mengalami toleransi terhadap kesan seperti
nausea dan vomiting, atau dizziness yang dirasakan pada saat permulaan
merokok yang disebabkan oleh zat emetogenik kronik dari nikotin tersebut.
Gambaran Kejadian PONV Berdasarkan Durasi Operasi
dan Anestesi

Durasi Operasi dan
Anestesi
PONV Tidak PONV
Frekuensi Persentase (%) Frekuensi Persentase
(%)
< 30 menit 2 9,5% 19 90,5%
30 menit 2 jam 8 33,0% 16 67,0%
Setiap kenaikan 30 menit durasi operasi dan anestesi,kejadian PONV dapat
meningkatkan faktor risiko PONV sebesar 59%.
Semakin lama durasi operasi maka penumpukan agen anestesi dalam tubuh
pasien akan semakin besar, dan semakin berkurang pula kadar antiemetik pada
pasien yang mendapat obat-obatan antiemetik serta semakin banyaknya
komplikasi dan manipulasi pembedahan yang dilakukan.

Gambaran Kejadian PONV Berdasarkan Jenis Operasi
Jenis Operasi
PONV Tidak PONV
Frekuensi Persentase (%) Frekuensi Persentase (%)
Bedah umum
Bedah obstetri
Bedah orthopedi
3
2
5
15,0%
13,3%
50,0%
17
13
5
85,0%
86,7%
50,0%
Literatur : kejadian PONV meningkat pada operasi bedah plastik (45%),
bedah abdominal (29%), dan bedah orthopedi (22%).
Hal ini dipengaruhi oleh faktor preoperasi yaitu jenis operasi yang dijalani
pasien dan premedikasi yang diberikan sebelum operasi.
Kesimpulan
1. Persentase kejadian PONV adalah 22%
2. Berdasarkan tingkat keparahan :11,1% mengalami PONV ringan,
4,4% mengalami PONV sedang, dan 6,7% mengalami PONV berat.
3. Kejadian PONV lebih banyak : usia 9 16 tahun yaitu 33,3%.
4. Berdasarkan jenis kelamin, lebih banyak terjadi pada wanita.
5. PONV banyak pada : riwayat PONV sebelumnya yaitu 67%.
6. PONV lebih banyak : status bukan perokok yaitu 100%.
7. PONV lebih banyak ditemukan pada pasien yang menjalani
operasi dan anestesi lebih dari 30 menit sampai 2 jam.
8. PONV lebih banyak ditemukan pada bedah orthopedi yaitu 50%.

Saran
1. Pihak RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau agar dapat
melakukan tindakan pencegahan untuk mencegah
terjadinya PONV dengan menggunakan LMA sebagai
alternatif pemakaian alat bantu jalan nafas pada
operasi superfisial dengan durasi operasi kurang dari 2
jam.
2. Peneliti lain agar dapat melakukan penelitian dengan
topik yang sama tetapi menambahkan variabel berupa
obat-obatan yang diberikan kepada pasien sebelum
maupun selama operasi dan mengambil jenis operasi
yang lebih spesifik.
3. Peneliti lain untuk melakukan penelitian mengenai
penggunaan LMA lebih lanjut seperti menambahkan
jenis-jenis LMA yang digunakan.

TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai