Anda di halaman 1dari 15

DAFTAR ISI

COVER ............................................................................................................................ i
DAFTAR ISI ..................................................................................................................... 1
I. MAKSUD DAN TUJUAN ...................................................................................... 3
II. TEORI DASAR .................................................................................................... 3
2.1. Jenis Serat ............................................................................................... 3
2.2. Proses Persiapan Penyempurnaan Tekstil ........................................... 5
2.3. Proses Pengelantangan ......................................................................... 6
III. PRAKTIKUM ........................................................................................................ 8
A. Alat dan Bahan ................................................................................................... 8
B. Diagram Alir Proses ........................................................................................... 9
C. Resep Pengelantangan ...................................................................................... 10
D. Fungsi Zat ........................................................................................................... 10
E. Perhitungan Resep .............................................................................................. 10
F. Skema Proses ..................................................................................................... 11
G. Langkah Kerja ..................................................................................................... 11
IV. DATA HASIL PERCOBAAN ................................................................................ 12
A. Persentase Pengurangan Berat ......................................................................... 12
Kain Kapas .......................................................................................................... 12
Kain Poliester ..................................................................................................... 12
Kain Poliester Kapas .......................................................................................... 13
B. Daya Serap .......................................................................................................... 13
Kain Kapas .......................................................................................................... 13
Kain Poliester ...................................................................................................... 14
Kain Poliester Kapas .......................................................................................... 14

C. Tes Derajat Putih ................................................................................................ 15
Kain Kapas .......................................................................................................... 16
Kain Poliester ...................................................................................................... 16
Kain Poliester Kapas .......................................................................................... 16
GRAFIK ........................................................................................................................... 17
A. Persentase Pengurangan Berat ................................................................... 17
Kain Kapas .......................................................................................................... 17
Kain Poliester ..................................................................................................... 17
Kain Poliester Kapas .......................................................................................... 18
B. Daya Serap .................................................................................................... 18
Kain Kapas .......................................................................................................... 18
Kain Poliester ...................................................................................................... 19
Kain Poliester Kapas .......................................................................................... 19

V. DISKUSI ............................................................................................................... 20
VI. KESIMPULAN ...................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 21






PROSES PENGURANGAN BERAT KAIN POLIESTER

I. MAKSUD DAN TUJUAN
Memahami tujuan dan mekanisme proses pengurangan berat kain poliester.
Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses pengurangan berat kain
poliester.
Menguasai cara proses pengurangan berat kain poliester.
Menganalisa dan mengevaluasi hasil proses pengurangan berat kain poliester.

II. TEORI DASAR
2.1. Jenis Serat
Serat digolongkan menjadi serat alam dan buatan. Serat alam dibagi menjadi dua
bagian yaitu serat selulosa atau tumbuhan dan serat protein. Serat selulosa terdiri
dari dari serat kapas, rami, dan guni sedangkan serat protein terdiri dari serat sutera
dan wol. Serat buatan terdiri dari serat sintetis, setengah sintetis, diolah kembali dan
serat inorganik. Serat buatan disebut juga serat kimiawi. Serat sintetis dapat
dihasilkan secara tiruan dengan memintal polimer molekul tinggi. Ada tiga jenis
pemintalan diantaranya:
a. Pemintalan basah.
Cara pemintalan basah yaitu bahan polimer dilarutkan dalam pelarutnya, lalu
larutan ini dipaksakan melalui alat pemintal yang mempunyai bahan-bahan halus
(spinneret), sehingga terjadi cairan yang dapat membekukkan polimernya.
b. Pemintalan kering
Cara pemintalan kering yaitu bahan polimer dilarutkan dalam pelarutnya,
dipompakan melalui spinneret dan dipanaskan dengan udara panas untuk
mengendapkan pelarutnya dan memadatkan polimernya.
c. Pemintalan lebur
Pemintalan lebur yaitu bahan polimer dilebur panas, lalu dipaksakan melalui
spinneret dan didinginkan dengan udara atau air untuk memadatkan polimernya.
Jenis serat buatan yang digunakan dalam praktikum ini adalah serat poliester.
Serat poliester dibuat melalui proses reaksi esterifikasi, polimerisasi dan dipintal
dengan pemintalan leleh.
Sifat fisika dari serat poliester diantaranya:
Tahan panas sampai 200
O
C
Dalam penyinaran lama kekuatan berkurang dan warna menguning
Kekuatan tarik (g/denier) : 4,5 6,9
Mulur (%) : 11 - 40
MR (%) : 0,4
Elastisitas baik
Sifat kimia serat kapas diantaranya:
Tidak tahan terhadap alkali kuat
Dalam larutan alkali panas terjadi pengikisan permukaan, digunakan untuk
proses pengurangan berat
Tahan terhadap asam
Larut dalam metil salisilat dan m cresol
Bersifat hidrofob, dicelup dengan zat warna hidrofob: zat warna disperse

2.2. Proses Persiapan Penyempurnaan Tekstil
Proses persiapan penyempurnaan tekstil adalah semua proses baik kimia
maupun mekanik yang dilakukan terhadap bahan tekstil yang terbuat dari serat alam
maupun buatan sebelum mengalami proses pencelupan, pencapan, penyempurnaan
yang bertujuan agar bahan mempunyai daya serap dan nilai derajat putih yang lebih
baik sehingga proses-proses tersebut dapat berjalan dengan lancer dan hasilnya sesuai
dengan yang diharapkan.
Proses persiapan penyempurnaan dilakukan karena pada umumnya bahan
tekstil mentah (grey) mengandung kotoran-kotoran diantaranya:
Kotoran Alamiah yaitu kotoran yang timbul bersamaan dengan terjadinya serat
misalnya: lemak, lilin, malam, pectin pada kapas; serisin pada sutera; keringat, lemak,
lanolin pada wol dsb.
Kotoran yang berasal dari luar dan menempel pada kain misalnya: debu, ranting,
daun, noda-noda minyak yang berasal dari mesin, dll.
Kotoran yang sengaja ditambahkan untuk kelancaran proses misalnya minyak untuk
zat anti statik pada benang, kanji pada benang lusi dll.
Kotoran tersebut dapat menggangu proses selanjutnya yang akan dialami bahan
tekstil tersebut, yaitu terhambatnya masuknya zat kimia, zat warna ke dalam
serat, oleh karena itu harus dihilangkan.

2.3. Proses Pengurangan Berat
Penggunaan serat poliester filamen untuk mempunyai beberapa sifat
kekurangan antara lain permukaan licin, pegangan kaku dan keras. Untuk
mendapatkan sifat kain polyester yang lebih baik, dapat dilakukan dengan proses
pengerjaan kain polyester dengan larutan alkali yang dikenal dengan proses
pengurangan berat (weight reduce).
Proses pengurangan berat dilakukan berdasarkan pada sifat polyester yangtidak
tahan terhadap larutan alkali yaitu terjadinya pengikisan permukaan serat atau
terbentuk efek permukaan yang berlubang-lubang dan kasar sehingga mengalami
penurunan berat kain. Proses pengurangan berat ini mempunyai tujuan untuk
mendapapatkan sifat kain polyester yang tipis, lemas atau langsai, ringan dan
pegangan lembut menyerupai sutera (silky).
Proses pengurangan berat polyester didasarkan pada sifat polyester yang tidak
tahan terhadap alkali kuat, terutama bila dikerjakan pada suhu tinggi. Alkali kuat
seperti NaOH akan menghidrolisa bagian permukaan serat polyester pada tingkat
tertentu menjadi natrium terftalat yang larut dalam air. Hidrolisa ini selanjutnya
perlahan-lahan menuju ke dalam serat. Dengan adanya hidrolisa serat ini penampang
serat menjadi lebih kecil, berat kain berkurang sehingga kain menjadi lebih tipis,
lemas dan pegangan menjadi lembut. Semakin besar pengurangan beratnya,
semakin lemas kainnya hingga pengurangan berat tertentu sekitar 20-30%, lebih dari
itu seratnya rusak. Serat polyester terdiri dari bagian amorf dan kristalin. Bagian
amorf akan lebih mudah diserang oleh NaOH karena pada bagian amorf ini alkali
akan lebih mudah berpenetrasi masuk ke dalam serat polyester sehingga lebih cepat
menghidrolisa serat.
Faktor-faktor yang berpengaruh dan dapat dipakai sebagai pengontrol
persentase pengurangan berat pada proses pengurangan berat kain polyester
dengan NaOH adalah sebagai berikut:
1. Konsentrasi NaOH
Konsentrasi NaOH yang digunakan berbanding lurus dengan pengurangan berat
polyester. Semakin besar konsentrasi NaOH yang digunakan maka secara teoritis
semakin banyak NaOH yang menyabunkan (menghidrolisa) serat polyester
sehingga pengurangan berat semakin besar.
2. Suhu Proses
Suhu merupakan factor penting dalam proses pengurangan berat sebab,
kecepatan pengikisan serat akan bertambah cepat bila suhu dinaikkan. Semakin
tinggi suhu proses pengurangan berat pada waktu dan konsentrasi NaOH yang
sama pengurangan berat semakin besar pula.
3. Waktu Proses
Selain factor konsentrasi NaOH dan suhu proses, maka waktu proses juga
mempengaruhi terhadap hasil pengutangan berat. Artinya apabila konsentrasi
dan suhu dinaikkan maka waktu proses menjadi lebih singkat tetapi, waktu yang
terlalu singkat dikhawatirkan menurunkan kualitas hasil pengurangan berat.
4. Perbandingan Larutan (Vlot)
Pemakaian perbandingan larutan yang besar menyebabkan hasil pengurangan
berat menurun, dibandingkan dengan pemakaian perbandingan larutan yang lebih
kecil jika kondisi lainnya dianggap sama. Pada perbandingan larutan alkali yang
terdapat disekitar permukaan serat lebih banyak sehingga derajat hidrolisanya
lebih tinggi dibandingkan perbandingan larutan yang besar.
5. Puntiran (Twist)
Jenis kain polyester dengan benang yang di twist tinggi akan mengalami hasil
pengurangan berat yang berbeda dengan kain yang benangnya tidak di-twist atau
twist rendah. Benang dengan twist tinggi akan mempengaruhi kerja NaOH
sehingga persentase pengurangan berat akan berkurang dari standard resep
yang sama yaitu sekitar 5-6% lebih rendah. Hasil dari proses pengurangan berat,
polyester akan mempunyai sifat antar lain: pegangan lembut, drapenya bagus,
mengurangi bau keringat , sifat elektrostatik dan kekuatan kain turun serta
meningkatkan ketuaan warna.







III. PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
No Alat dan Bahan Jumlah
1. Beaker gelas 500 mL 1 buah
2. Pengaduk kaca 1 buah
3. Timbangan digital
4. Kassa
5. Kaki tiga
6. Bunsen
7. Kain Poliester
8. Mesin Padder
9. NaOH
10. Zat Pembasah
11. Termometer












B. Diagram Alir Praktik
























Timbang bahan
Timbang NaOH sesuai resep
Buat larutan sesuai resep di dalam beaker
Bunsen dinyalakan dan larutan dipanaskan hingga
mendidih
Kain dimasukkan ke dalam larutan resep dan
direndam selama 60 menit

Kain dicuci dengan air panas
Kain dicuci dengan air dingin
Kain dikeringkan
Evaluasi kain: % pengurangan berat; daya serap
kain; pegangan kain
Kain diperas menggunakan padder 2 dip-2nip

Timbang bahan
C. Resep Pengelantangan
NaOH

: 5 g/L
Zat pembasah : 2 cc/L
Suhu : mendidih
Waktu : 60 menit
Vlot : a. 1 : 20
b. 1 : 25
c. 1 : 30
d. 1 : 35
D. Fungsi Zat
NaOH : zat yang akan menghidrolisa serat polyester.
Zat pembasah : Memudahkan kain terbasahi dan larutan kostik masuk
berpenetrasi kedalam celah antar serat serta zat yang
membantu proses penyerapan larutan secara merata dan
cepat pada bahan.


















E. Perhitungan Resep

Sample



Vlot

Berat Kain
(g)
Jumlah air
(mL)
NaOH
(g/L)


Zat Pembasah
(cc/L)

1.



1:20



3,97

3,97 x 20 =
77,4






2.





1:25



3,91

3,91 x 25 =
97,75






3.





1:30



3,84

3,84 x 20 =
115,2






4.



1:35



4,05


4,05 x 35 =
141,75






F. Skema Proses

G. Langkah Kerja

1. Kain dan alat praktikum disiapkan
2. Kain dan zat sesuai resep ditimbang.
3. Larutan sesuai resep dibuat dalam beaker , lalu kain dimasukkan kedalam
bejana larutan kemudian rendam peras kain 2 dip-2 nip dengan menggunakan
padder WPU Kapas: 80%; Poliester: 60%; Poliester Kapas: 70%.
4. Kain dibacam sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
5. Kain dicuci dengan air panas.
6. Kain dicuci dengan air dingin.
7. Kain dikeringkan
8. Kain ditimbang
9. Evaluasi kain : % pengurangan berat; daya serap bahan; derajat putih dilakukan.






IV. DATA HASIL PERCOBAAN
a. Persentase Pengurangan Berat

Sample

Berat awal
(g)


Berat akhir
(g)


% Pengurangan Berat
1.

4,80 4,48
2.

4,94 4,55
3.

4,31 4,00
4.

4,33 3,91

b. Tes Daya Serap
Kain Kapas

Sampel
Daya Serap
Sebelum Proses
(detik)



Daya Serap
Setelah Proses
(detik)
1. >10 9,72
2. >10 6,25
3. >10 3,11
4. >10 12,55
c. Tes Pegangan Kain (Handling)

Sampel
Pegangan kain
sebelum proses



Pegangan kain
setelah proses
1. >10 9,72
2. >10 6,25
3. >10 3,11
4. >10 12,55
















Sampel Kain Poliester

Kain Kapas

Kain Poliester
Kapas


1.





2.





3.





4.














V. DISKUSI

VI. KESIMPULAN






























DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Proses Persiapan Penyempurnaan Tekstil. Bandung: Sekolah Tinggi
Teknologi Tekstil.
Anonim. 2013. Pedoman Praktikum Teknologi Persiapan Penyempurnaan. Bandung:
Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil.
dalam situs http://www.slideshare.net/septianraha/proses-pengelantangan
Kemal, Noerati. 2012. Serat Tekstil. Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil.
N. Sugiarto Hartanto dan Shigeru Watanabe. 1980. Teknologi Tekstil. Pradnya
Paramita.
Suprapto, Agus dan M. Ichwan. 2005. Teknologi Persiapan Penyempurnaan. Bandung:
Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil