Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN


KUNJUNGAN KE BALAI PENELITIAN KARET SEMBAWA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Balai Penelitian Sembawa telah menghasilkan berbagai inovasi teknologi yang terbukti
mampu memberikan hasil yang nyata. Berbagai inovasi teknologi tersebut seperti klon unggul
karet, bahan tanam bermutu, sistem sadap, sistem usahatani karet terpadu baik pada tanaman
belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman menghasilkan (TM), pengendalian hama dan
penyakit, rekomendasi pemupukan, perbaikan mutu bahan olah karet yang ramah lingkungan,
dan model percepatan peremajaan karet rakyat partisipatif.
Balai Penelitian Sembawa Terletak di tengah-tengah perkebunan karet rakyat, sejak tahun
1982 Balai Penelitian Sembawa menjalankan misinya untuk menghasilkan teknologi di bidang
perkaretan. Tidak kurang dari 27 orang tenaga peneliti yang handal dari berbagai disiplin ilmu
seperti pemuliaan, agronomi, proteksi tanaman, tanah dan iklim, pengolahan hasil, dan sosial
ekonomi terintegrasi bekerja dan berusaha menghasilkan teknologi yang bermanfaat bagi
pengembangan perkebunan karet. Dilengkapi dengan berbagai laboratorium, kebun percobaan,
perpustakaan, stasiun klimatologi, rumah kaca yang memadai.

Berdasarkan kronologis berdirinya Balai Penelitian Sembawa dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Surat Menteri Pertanian Republik Indonesia yang ditujukan kepada Gubernur Kepala Daerah
Propinsi Sumatera Selatan No. 210/Mentan/V/1973 tanggal 23 Mei 1973, perihal Pendirian
Cabang Balai Penelitian Perkebunan Bogor di Sumatera Selatan.;
2. Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Propinsi Sumatera Selatan No.
PD/123/1973, tanggal 28 Juli 1973 tentang Persiapan Pendirian Cabang Balai Penelitian
Perkebunan di Daerah Propinsi Sumatera Selatan dan Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera
Selatan menyetujui penyerahan penguasaan atas tanah Kebun Percobaan di Sembawa Sumatera
Selatan Kepada Departemen Pertanian c.q. Balai Penelitian Perkebunan Bogor untuk
dimanfaatkan dalam rangka pendirian Cabang Balai Penelitian Perkebunan Bogor di Propinsi
Sumatera Selatan.;
3. Surat Keputusan Menteri Pertanian No.445/Kpts/OP/9/1973, tanggal 10 September
1973, tentang Penugasan Direktur Balai Penelitian Perkebunan Bogor untuk Menerima
Penyerahan Penguasaan Tanah Kebun Percobaan Di Sembawa Sumatera Selatan.;
4. Surat Gubernur Kepala Daerah Propinsi Sumatera Selatan Palembang yang ditujukan kepada
Direktur Balai Penelitian Perkebunan BogorNo.Dp-6/1566/1974, tanggal 11 Mei 1974, perihal
Tanah untuk Perluasan Kebun Percobaan Sembawa.;
5. Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Selatan
Palembang No.275/Kpts/I/1975, tanggal 05 Juni 1975, tentang Penggunaan Tanah Seluas 4850
Ha Di Marga Pangkalan Balai dan Marga Rantau Bayur Daerah Tingkat II Musi Banyuasin yang
diperlukan untuk Perluasan KP. Sembawa.;
6. Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 270/ HP/DA/79 tanggal 21 Desember
1979 dalam Sertifikat Tanah Hak Pakai nomor 2, Desa Pangkalan Balai, Kecamatan
Banyuasin III, Kabupaten Musi Banyuasin.
7. Surat Keputusan Menteri Pertanian No.789/Kpts/Org/9/1981, tanggal 11 September
1981, tentang Pembentukan Balai Penelitian Perkebunan Sembawa. dan peresmiannya
dilaksanakan pada tanggal 18 April 1982 oleh Wakil Presiden Republik Indonesia (Bapak H.
Adam Malik).

Balai Penelitian Perkebunan Sembawa adalah balai penelitian perkebunan milik
Pemerintah berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 823/Kpts/KB.110/11/89,
tanggal 30 Nopember 1989 dan pada tanggal 17 Februari 2009 diperbaharui dengan Surat
Keputusan Menteri Pertanian No. 785/Kpts/PD.300/2/2009 tentang Pengelolaan Balai/Penelitian
Perkebunan dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen
Pertanian.
Dengan terbentuknya Asosiasi Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Indonesia
(AP3I) vide akta notaris Ny. Subagio Reksodipuro, SH No. 50 tanggal 24 Nopember 1987. maka
koordinasi dan pengelolaan kegiatan penelitian Balai Penelitian Perkebunan Sembawa dilakukan
oleh AP31. Kemudian berdasarkan Surat Keputusan No. 222/SPP/89 tanggal 3 Juli 1989 nama
Balai Penelitian Perkebunan Sembawa diubah menjadi Pusat Penelitian Perkebunan Sembawa (
Puslitbun Sembawa ).
Sejalan dengan konsolidasi Puslit - puslit di lingkungan AP3I pada tanggal 1 Februari
1993, melalui Surat Keputusan No. 059/93 Status Pusat Penelitian Perkebunan Sembawa
berubah menjadi Balai Penelitian Sembawa di bawah naungan Pusat Penelitian Karet.
Balai Penelitian Sembawa berlokasi di tengah-tengah sentra perkebunan karet rakyat, berjarak 29
km sebelah barat kota Palembang dan 19 km dari Pelabuhan Udara Sultan Mahmud Badaruddin
II Palembang. Secara Administratif termasuk daerah Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera
Selatan.

Visi & Misi Balai Penelitian Sembawa :
Sebagaimana telah dirumuskan dalam Rencana Strategis (Renstra) Periode 2005-2009, Balai
Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet menetapkan
Visi :
Menjadi lembaga penelitian, pengembangan dan pelayanan yang terkemuka, mandiri dan
berperan aktif dalam mewujudkan usaha agribisnis karet nasional yang berdaya saing tinggi,
mensejahterakan, berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
Misi :
Menghasilkan inovasi, merekayasa dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
diperlukan bagi pengembangan sistem dan usaha agribisnis karet untuk mendukung pencapaian
tujuan pembangunan nasional;
memasyarakatkan secara intensif inovasi teknologi hasil penelitian kepada pengguna;
mendorong peningkatan kinerja industri berbasis karet di dalam negeri, melalui introduksi inovasi
teknologi serta pelayanan yang proaktif;
mendorong terciptanya industri berbasis karet yang ramah lingkungan guna mempertahankan
kelestarian agroindustri;melakukan upaya-upaya yang mengarah pada kemandirian institusi
secara finansial melalui kegiatan usaha yang berbasis pada
Tugas pokok dan fungsi Balai Penelitian Sembawa:
Dalam pelaksanaannya Balai Penelitian Sembawa mempunyai tugas pokok dan fungsi (tupoksi)
sebagai berikut :
Melaksanakan kegiatan penelitian untuk menghasilkan teknologi karet meliputi prapanen, pasca
panen dan sosial ekonomi;
Melaksanakan pelayanan dan jasa hasil penelitian;
Melaksanakan kegiatan alih teknologi.

1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum lapangan ke Balai Penelitian Sembawa ini adalah untuk
mengaplikasikan dan melihat secara langsung perkembangan tanaman karet (Hevea
brassiliensis) yang telah didapat selama perkuliahan dan juga untuk melihat dan mengetahui
lebih jauh tentang teknik okulasi tanaman karet.

1.3 Manfaat Praktikum
Manfaat yang diharapkan dari praktikum adalah sebagai informasi dan pelatihan bagi
mahasiswa yaitu bagaimana mahasiswa dapat mengaplikasikan teori yang didapat saat kuliah
dengan keadaan yang sesungguhnya dilapangan, serta memberikan gambaran bagaimana proses
budidaya dan teknik okulasi tanaman karet bagi mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas
Jambi.

1.4 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada :

Hari : Rabu
Tanggal : 13 Juli 2011
Waktu : 10.00 14.00 WIB
Tempat : Balai Penelitian Sembawa Sumatera Selatan


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Karet merupakan salah satu komoditi perkebunan penting, baik sebagai sumber
pendapatan, kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-sentra baru di
wilayah sekitar perkebunan karet maupun pelestarian lingkungan dan sumberdaya hayati. Namun
sebagai negara dengan luas areal terbesar dan produksi kedua terbesar dunia, Indonesia masih
menghadapi beberapa kendala, yaitu rendahnya produktivitas, terutama karet rakyat yang
merupakan mayoritas (91%) areal karet nasional dan ragam produk olahan yang masih terbatas,
yang didominasi oleh karet remah (crumb rubber).
Tujuan pengembangan karet ke depan adalah mempercepat peremajaan karet rakyat
dengan menggunakan klon unggul, mengembangkan industri hilir untuk meningkatkan nilai
tambah, dan meningkatkan pendapatan petani. Sasaran jangka panjang (2025) adalah: (a)
Produksi karet mencapai 3,5-4 juta ton yang 25% di antaranya untuk industri dalam negeri; (b)
Produktivitas meningkat menjadi 1.200-1.500 kg/ha/th dan hasil kayu minimal 300 3 m
/ha/siklus; (c) Penggunaan klon unggul (85%); (d) Pendapatan petani menjadi US$ 2.000/KK/th
dengan tingkat harga 80% dari harga FOB; dan (e) Berkembangnya industri hilir berbasis karet.
Sasaran jangka menengah (2005-2009) adalah: (a) Produksi karet mencapai 2,3 juta ton yang
10% di antaranya untuk industri dalam negeri; (b) Produktivitas meningkat menjadi 800 kg/ha/th
dan hasil kayu minimal 3 300 m /ha/siklus; (c) Penggunaan klon unggul (55%); (d) Pendapatan
petani menjadi US$ 1.500/KK/th dengan tingkat harga 75% dari harga FOB; dan (e)
Berkembangnya industri hilir berbasis karet di sentrasentra produksi karet.
Karet cukup baik dikembangankan di daerah lahan kering beriklim basah. Tanaman karet
memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan komoditas lainnya, yaitu: dapat tumbuh
pada berbagai kondisi dan jenis lahan, serta masih mampu dipanen hasilnya meskipun pada tanah
yang tidak subur, Mampu membentuk ekologi hutan, yang pada umumnya terdapat pada daerah
lahan kering beriklim basah, sehingga karet cukup baik untuk menanggulangi lahan kritis, Dapat
memberikan pendapatan harian bagi petani yang mengusahakannya, dan Memiliki prospek harga
yang cukup baik, karena kebutuhan karet dunia semakin meningkat setelah China membuka
pasar baru bagi karet Indonesia.
Prospek agribisnis karet diprediksi oleh para ahli akan semakin menjanjikan di masa yang
akan datang. Peningkatan harga karet alam di pasaran dunia terjadi karena adanya defisit suplai
karet alam dibanding permintaan yang terus meningkat tajam disertai tingginya harga bahan
baku karet sintetis yang merupakan barang substitusi karet alam akibat tingginya harga minyak
mentah dunia (Anwar, 2006). Negara-negara seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan China
merupakan contoh konsumen besar karet alam. Defisit suplai karet alam dunia salah satunya
disebabkan oleh rendahnya produktivitas tanaman karet. Usaha-usaha yang dapat ditempuh
untuk meningkatkan produktivitas tanaman di antanya adalah penggunaan bahan tanam unggul
dan penerapan sistem eksploitasi yang tepat. Selain kedua faktor tersebut, faktor lain yang
memiliki pengaruh signifikan terhadap produktivitas adalah pemeliharaan tanaman baik pada
fase betum menghasilkan (TBM) maupun fase menghasilkan (TM).
Produktivitas tanaman karet sangat ditentukan oleh kapasitas produksi tanaman dan
hamparan, sedangkan kapasitas produksi secara langsung dipengaruhi oleh tingkat pemeliharaan
tanaman. Oleh sebab itu, pemeliharaan memegang peranan penting dalam peningkatan
produktivitas tanaman. Seperti halnya tanaman perkebunan pada umumnya, tanaman karet
memerlukan tindakan pemeliharaan secara agronomis untuk menunjang pertumbuhan dan
perkembangannya. Tanaman karet yang tidak dipelihara dengan baik akan menghasilkan
tanaman karet yang heterogen sehingga produktivitas areal menjadi rendah. Di samping itu,
tanaman juga mengalami hambatan pertumbuhan dan perkembangan sehingga matang sadap
dicapai dalam waktu yang lebih lama. Pemeliharaan tanaman yang baik hendaknya dilakukan
sejak pertama kali tanaman dipindah ke lapangan.
Karet merupakan komoditas unggulan Provinsi Jambi. Dari tahun ke tahun terjadi
peningkatan luasdan jumlah petani yang berusaha pada komoditas ini. Luas perkebunan karet
rakyat di Provinsi Jambi 557.042 hektar dengan produksi229.900 ton.Dari luasan tersebut
105.566 hekter merupakan tanaman belum menghasilkan (TBM), 330.820 hektar tanaman
menghasilkan (TM) dan 130.656 hektar tanaman tua (TT) (Disbun Provinsi Jambi, 2005).
Jumlah petani yang menggantungkan hidupnya dari usahatani tanaman karet juga mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun. Tercatat pada tahun 1988 jumlah petani yang berusahatani
tanaman karet sebanyak 181.074 KK (BPS Provinsi Jambi, 1999) dan pada tahun 2003
meningkat menjadi 190.133 KK (Rosyid et al., 2004). Sumbangan devisa sektor perkebunan
karet mencapai lebih dari tiga miliar per tahun dan cendrung akan meningkat pada tahun
berikutnya.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil yang diperoleh dari praktikum ini adalah berupa materi - materi tentang Balai
Penelitian Sembawa, perkembangan tanaman karet (Hevea brassiliensis) dan teknik okulasi
tanaman karet.
Fasilitas Balai Penelitian Sembawa :
1. Kebun Percobaan
Balai Penelitian Sembawa mempunyai areal kebun percobaan di Sembawa, Kabupaten
Banyuasin seluas 3.350 hektar (Sertifikat Tanah Hak Pakai No. 2 / Pangkalan Balai tahun 1979)
dan unit kebun percobaan di Batumarta, Kabupaten Ogan Komering Ulu, dengan luas 146.35
hektar (Sertifikat Tanah Hak Pakai No. 01 / Ogan Komering Ulu tahun 2003). Areal Kebun
Percobaan Sembawa sebagian besar didominasi jenis tanah podsolik merah kuning dengan
elevasi 0 10 meter dari permukaan laut (dpl). Beriklim basah klas A (Koppen), dengan rata-
rata curah hujan 2.200 mm dan mempunyai dua bulan kering, Juli dan Agustus setiap tahunnya.
Suhu udara maksimum adalah 32 C. dan suhu minimum 22 C, dengan kelembapan lebih dari
80 % sepanjang tahun.
2. Laboratorium
Analisis dan pengujian teknis dapat dilakukan di Laboratorium Balai Penelitian
Sembawa. Jenis analisis yang dapat dilakukan meliputi: analisis tanah, analisis jaringan
tanaman, analisis lateks, dan analisis bekuan. Saat ini ada empat laboratorium yang dimiliki oleh
Balai Penelitian Sembawa untuk mendukung kegiatan penelitian maupun untuk jasa pelayanan
terhadap para pengguna. Keempat laboratorium tersebut adalah : Laboratorium Tanah dan
Pemupukan, Laboratorium Fisiologi Tanaman, Laboratorium Hama dan Penyakit, dan
Laboratorium Teknologi.
Kegiatan yang dilakukan di Laboratorium Tanah dan Pemupukan meliputi analisis tanah,
analisis daun/tanaman, analisis pupuk, pengukuran kadar proline pada daun, dan pengukuran
kadar sukrosa pada lateks. Kegiatan yang dilakukan di Laboratorium Teknologi meliputi analisis
lateks dan bekuan, antara lain kadar karet kering (KKK), kandungan jumlah padatan (KJP),
kandungan amoniak, mutu spesifikasi teknis (khusus untuk bekuan) dan kalibrasi alat metrolaks
(alat untuk menentukan kadar karet kering lateks). Kegiatan-kegiatan yang sedang dikerjakan di
Laboratorium Fisiologi saat ini meliputi analisa lateks (analisa kadar Thiol, Pi, Sukrosa, dan
KKK), serta analisis genetik. Kegiatan yang dilakukan di Laboratorium Proteksi Balai Penelitian
Sembawa meliputi pembuatan media isolasi untuk jamur dan bakteri, isolasi jamur dan bakteri,
identifikasi jamur dan bakteri, pemurnian isolat, inokulasi isolat jamur pada tanaman,
pengawetan isolat, dan melayani identifikasi patogen penyakit karet
3. Rumah Kaca
Rumah Kaca Didirikan tahun 1981 dengan luas 216 m2.
4. Stasiun Klimatologi
Didirikan tahun 1983 dengan luas 400 m2. Dilengkapi dengan alat penakar curah hujan
(Ombrometer tipe Observatorium dan Hellman), alat pengukur evaporasi (Panci Kelas A),
termometer pengukur suhu tanah (kedalaman 20, 50, dan 100 cm), Sangkar Meteorologi, alat
pengkur lama penyinaran (Campbell-Stokes), alat pengukur intensitas radiasi matahari
(Actinograf dan Quantum meter), Alat Pengukur Kecepatan Angin (Cup Anemometer).
5.Perpustakaan
Koleksi Perpustakaan Balai Penelitian Sembawa sampai akhir bulan Desember 2008
meliputi : buku sebanyak 3.552 judul (3.591 eksemplar), majalah 619 judul (20.692 eksemplar),
brosur 1.486 judul (1.797 eksemplar), dan leaflet 1.236 judul (1.944 eksemplar). Diolah
berdasarkan sistem AACR II (Anglo American Cataloging Rules Edisi II) untuk
mendeskripsikan dokumen (bahan pustaka buku), dan UDC (Universal Decimal Classifications)
untuk notasi pengklasan subjek terkait. Untuk memudahkan penelusuran dan sistem temu
kembali informasi dalam memberikan pelayanan pada pengguna, perpustakaan menyimpan dan
mengolah data kepustakaan di komputer dengan perangkat lunak CDS/ISIS versi 3.0.
Data yang dapat diakses melalui CDS/ISIS ini berjumlah: 23.100 entri data yang
bersumber dari buku, artikel majalah, dokumen intern, dan artikel prosiding/pertemuan teknis,
workshop. Walaupun demikian disadari bahwa koleksi bahan pustaka sebanyak ini dirasakan
kurang mencukupi, terutama koleksi jurnal dan majalah ilmiah, karena kelengkapan dan
ketersediaan literatur yang bersumber dari jurnal ilmiah ini sangat membantu memperluas
wawasan peneliti dalam penyusunan rencana penelitiannya.
Selain itu, Perpustakaan Balai Penelitian Sembawa juga melakukan kegiatan seperti
Kliping Surat Kabar, Scanning artikel majalah ilmiah, menyusun Indeks Artikel Majalah Pilihan,
dan membuat Daftar Buku Baru setiap tahun. Perpustakaan Balai Penelitian Sembawa tidak
hanya digunakan oleh peneliti dan karyawan, tetapi digunakan juga oleh pengguna dari luar,
terutama para mahasiswa. Pada akhir bulan Desember 2008 tercatat 4.024 pengguna, yang terdiri
atas: peneliti 1.051 orang, teknisi 946 orang, penunjang 958 orang, mahasiswa 1069 orang.
Fasilitas Pendukung :
1. Gedung Aula Balai Penelitian Sembawa
Didirikan tahun 2007 dengan luas 609 m2 berkapasitas 200 orang lebih dan dilengkapi dengan
fasilitas AC dan sound system yang memadai.
2. Pesanggrahan
Mess Senior
Didirikan tahun 1981 dengan luas 500 m2, kapasitas 7 kamar (1 ruangan single bed besar dan 6
kamar double bed), dan dilengkapi dengan fasilitas AC.
Mess Yunior
Didirikan tahun 1981 dengan luas 450 m2, kapasitas 8 kamar (double bed), dan dilengkapi
dengan fasilitas AC.
Guest House
Didirikan tahun 2007 dengan luas 90 m2, kapasitas 3 kamar (double bed), dan dilengkapi
dengan fasilitas AC.
Asrama
Didirikan tahun 1985 dengan luas 283 m2, kapasitas 12 kamar (triple bed) non AC (kipas angin).
Ruang Kelas
Didirikan tahun 1985 dengan luas 160 m2, kapasitas 50 orang, dan dilengkapi dengan fasilitas
AC.>
3. Pendopo
Didirikan tahun 1980 dengan luas 144 m2. Kepasitas 150 orang
4. Gedung Bulutangkis
Didirikan tahun 2007 dengan luas 258 m2.
5. Lapangan Tenis
6. Lapangan Basket
7. Lapangan Basket
Didirikan pada tahun 1995 dengan luas 407 m2.
7. Lapangan Voli
8. Lapangan Sepakbola Mini
9. Kolam Pemancingan
Struktur Organisasi Balai Penelitian Sembawa :
Balai Penelitian Sembawa merupakan salah satu dari empat Balai Penelitian pada
Pusat Penelitian Karet Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI). Kepala Balai
Penelitian dibantu oleh Koordinator Penelitian, Kepala Urusan Penelitian, Kepala Urusan
Komerialisasi Hasil Penelitian, Kepala Kebun, Kepala Urusan Tata Usaha, Manager Unit
Prosesing Kecambah Sawit, serta Staf Peneliti dan Penunjang. Setiap kegiatan penelitian
dilakukan oleh tim peneliti dengan pendekatan multi-disiplin yang terdiri atas pemuliaan,
agronomi, proteksi tanaman, tanah dan iklim, usahatani, penyadapan, pengolahan, dan
sosial ekonomi.
Struktur Organisasi Balai Penelitian Sembawa adalah sebagai berikut :

Sumber Daya Manusia Balai Penelitian Sembawa :
Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya Balai Penelitian Sembawa didukung oleh
tenaga peneliti sebanyak 27 orang dan teknisi 9 orang. Tenaga pendukung (administrasi,
perpustakaan, laboratorium, rumah kaca, dan kebun) sebanyak 633 orang, sehingga jumlah
karyawan di Balai Penelitian Sembawa berjumlah 665 orang. Pendidikan dari ke-27 orang
peneliti Balai Penelitian Sembawa tersebut antara lain 8 orang S3 (Doktor), 12 orang S2
(Master), 6 orang S1, dan 1 Orang sarjana muda. Dari 27 tenaga peneliti yang telah
mendapatkan jenjang fungsional peneliti terdiri dari 8 Orang Peneliti Utama, 3 orang Peneliti
Madya, 2 orang Peneliti Muda, 4 orang Peneliti Pertama, 5 orang Peneliti Nonklas, dan 1 orang
Calon Peneliti.

Ir. H. M. Solichin, MS
Peneliti Utama
irri-sbw@mdp.net.id
1980 - 1987 Staf Peneliti dan Pengembangan Bagian Hasil di Lembaga Tabung Getah Sabah,
Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia, 1988 - sekarang, Staf Peneliti Pasca Panen di Balai Penelitian
Sembawa, Pusat Penelitian Karet

Dr. Thomas Wijaya, M. Agr. Sc.
Peneliti Utama
irri-sbw@mdp.net.id
1985 - sekarang bekerja sebagai peneliti pada bagian Tanah dan Agroklimat di Balai Penelitian
Sembawa, Pusat Penelitian Karet. Pernah melakukan kerjasama penelitian internasional dengan
ACIAR (crop modelling), CIRAD agroclimatic zoning), ICRAF (rubber agroforestry system),
dan CSIRO (climatic suitability mapping for rubber)

Eva Herlinawati, M. Sc.
Peneliti Pertama
irri-sbw@mdp.net.id
2009 - sekarang calon peneliti bidang agronomi di Balai Penelitian Sembaw
Risal Ardika, S. P.
Peneliti Pertama
irri-sbw@mdp.net.id
2007 - sekarang, Peneliti Tanah dan Pemupukan, Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian
Karet
Fetrina Oktavia, M.Si.
Peneliti Pertama
Penanggung Jawab Laboratorium Fisiologi
irri-sbw@mdp.net.id
2006 - sekarang sebagai peneliti bidang pemuliaan tanaman di Balai Penelitian Sembawa, Pusat
Penelitian Karet Indonesia

KLON ANJURAN

Rekomendasi Klon Karet Unggul Periode 2010 -2014

Klon unggul baru merupakan syarat utama agar komoditas karet dapat menghasilkan
produksi dengan tingkat produktivitas yang tinggi sehingga dapat menguntungkan didalam
persaingan global. Dalam upaya memperoleh klonklon unggul, para peneliti dan pemulia
tanaman terus menerus melakukan penelitian untuk menghasilkan klon karet unggul baik
penghasil lateks, maupun lateks-kayu. Balai Penelitian Karet Sembawa telah menghasilkan klon-
klon karet ungul yang direkomendasikan untuk periode tahun 2010-2014. Sistem rekomendasi
disesuaikan dengan Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman
yang menyebutkan bahwa klon/varietas yang dapat disebarluaskan kepada pengguna harus
berupa benih bina. Klon anjuran komersial dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu
kelompok klon penghasil lateks dan penghasil lateks-kayu, yaitu :
Klon Penghasil Lateks :
IRR 104, IRR 112, IRR 118, IRR 220, BPM 24, PB 260, PB 330, dan PB 340.
Klon Penghasil Lateks-Kayu :
RRIC 100, IRR 5, IRR 39, IRR 42, IRR 107, dan IRR 119.

Sedangkan benih anjuran untuk batang bawah sebagai berikut :
Benih Anjuran untuk Batang Bawah :
AVROS 2037, GT 1, BPM 24, PB 260, RRIC 100, dan PB 330.

POTENSI PRODUKSI
Data potensi produksi lateks merupakan rata-rata produksi tahunan selama 5 15 tahun
sadap. Potensi ini merupakan hasil pengamatan pada plot percobaan dengan pengelolaan yang
dilakukan sesuai standar dan penyadapan dilakukan dengan sistem s/2 d/3 selama dua tahun
pertama dan diikuti dengan s/2 d/2 tanpa menggunakan stimulan.

TANAMAN SELA
Tanaman karet dapat ditumpang sarikan dengan tanaman berikut :
-Karet dengan jagung
-Karet dengan cabe
-Karet dengan padi
-Karet dengan pisang dan nenas
-Karet dengan jati

BUDIDAYA TANAMAN KARET
Pembibitan
Komponen bahan tanaman karet adalah :
- Ketersediaan mata entres ( kebun entreas)
- Ketersediaan biji ( batang bawah )
- Ketersediaan tenaga okulator
Perbanyakan tanaman karet dapat dilakukan secara generatif maupun vegetatif. Namun
demikian, cara perbanyakan yang lebih menguntungkan adalah secara vegetatif yaitu dengan
okulasi tanaman. Okulasi sebaiknya dilaksanakan pada awal atau akhir musim hujan dengan
tahapan sbb:
- Buatlah jendela pada batang bawah dengan ukuran panjang 5 cm dan lebar
1/2 - 3/4 cm.
- Buatlah perisai pada entres dengan ukuran lebih kecil dari jendela dan mata diambil dari ketiak
daun.
- Bukalah jendela pada batang bawah kemudian selipkan perisai diantara kulit
jendela dan kambium
- Tutuplah kulit jendela kemudian dibalut dengan rafia atau pita plastik yang
tebalnya 0,04 mm.
- 2 minggu setelah penempelan, penbalut dibuka dan periksalah perisai.
- Potonglah batang bawah pada ketinggian 10 cm diatas tempelan dengan
arah pemotongan miring.
Klon-klon yang dianjurkan sebagai bibit batang bawah adalah:
AVROS 2037, PR 350, PB 260, BPM 24, RRIC 100, PB 330, GTI, LCB 1320 dan PR 228.
Sifat yang diharapkan adalah cepat tumbuh, daya gabung, kemampuan berbuah, tahan hama
penyakit daun, mudah di okulasi, akarnya kuat.
Pembukaan lahan (Land Clearing)
Lahan tempat tumbuh tanaman karet harus bersih dari sisa-sisa tumbuhan hasil tebas
tebang, sehingga jadwal pembukaan lahan harus disesuaikan dengan jadwal penanaman.
Kegiatan pembukaan lahan ini meliputi : (a) pembabatan semak belukar, (b) penebangan pohon,
(c) perecanaan dan pemangkasan, (d) pendongkelan akar kayu, (e) penumpukan dan
pembersihan. Seiring dengan pembukaan lahan ini dilakukan penataan lahan dalam blokblok,
penataan jalan-jalan kebun, dan penataan saluran drainase dalam perkebunan.
a. Penataan blok-blok.
Lahan kebun plasma dipetak-petak menurut satuan terkecil antara lain 2 hektar untuk
setiap KK peserta plasma, dan kemudian ditata ke dalam blok-blok berukuran 400m x 400m,
sehingga setiap blok dikuasai oleh 8 KK petani. Setiap 4 blok disatukan menjadi satu kelompok
tani sehamparan yang terdiri dari 32 KK petani.
b. Penataan Jalan-jalan
Jaringan jalan di dalam kebun plasma harus ditata dan dilaksanakan pada waktu
pembangunan tanaman baru (tahun 0) dan dikaitkan dengan penataan lahan ke dalam blok-blok
tanaman. Pembangunan jalan di areal datar dan berbukit dengan pedoman dapat menjangkau
setiap areal terkecil, dengan jarak pikul maksimal sejauh 200m. Sedapatkan mungkin seluruh
jaringan ditumpukkan/disambungkan, sehingga secara keseluruhan merupakan suatu pola
jaringan jalan yang efektif. Lebar jalan disesuaikan dengan jenis/kelas jalan dan alat angkut yang
akan digunakan.
c. Penataan Saluran Drainase
Setelah pemancangan jarak tanam selesai, maka pembuatan dan penataan saluran drainase (field
drain) dilaksanakan. Luas penampang disesuaikan dengan curah hujan pada satuan waktu
tertentu, dan mempertimbangkan faktor peresapan dan penguapan. Seluruh kelebihan air pada
field drain dialirkan pada parit-parit penampungan untuk selanjutnya dialirkan ke saluran
pembuangan (outlet drain).

PENANAMAN

Persiapan Lahan Penanaman
Dalam mempersiapkan lahan pertanaman karet juga diperlukan pelaksanaan berbagai
kegiatan yang secara sistematis dapat menjamin kualitas lahan yang sesuai dengan persyaratan.
Beberapa diantara langkah tersebut antara lain :

a. Pemberantasan Alang-alang, Ilalang dan Gulma lainnya
Pada lahan yang telah selesai tebas tebang dan lahan lain yang mempunyai vegetasi
alang-alang, dilakukan pemberantasan alang-alang dengan menggunakan bahan kimia antara lain
Round up, Scoup, Dowpon atau Dalapon. Kegiatan ini kemudian diikuti dengan pemberantasan
gulma lainnya, baik secara kimia (Ally) maupun secara mekanis.
b. Pengolahan Tanah
Dengan tujuan efisiensi biaya, pengolahan lahan untuk pertanaman karet dapat
dilaksanakan dengan sistem minimum tillage, yakni dengan membuat larikan antara barisan satu
meter dengan cara mencangkul selebar 20cm. Namun demikian pengolahan tanah secara
mekanis untuk lahan tertentu dapat dipertimbangkan dengan tetap menjaga kelestarian dan
kesuburan tanah.
c. Pembuatan ters/Petakan dan Benteng/Piket
Pada areal lahan yang memiliki kemiringan lebih dari 50 diperlukan pembuatan
teras/petakan dengan sistem kontur dan kemiringan ke dalam sekitar 150. Hal ini dimaksudkan
untuk menghambat kemungkinan terjadi erosi oleh air hujan. Lebar teras berkisar antara 1,25
sampai 1,50 cm, tergantung pada derajat kemiringan lahan. Untuk setiap 6-10 pohon (tergantung
derajat kemiringan tanah) dibuat benteng/piket dengan tujuan mencegah erosi pada permukaan
petakan.

d. Pengajiran
- Pada dasarnya pemancangan air adalah untuk menerai tempat lubang tanaman dengan
ketentuan jarak tanaman sebagai berikut :
- Pada areal lahan yang relatif datar / landai (kemiringan antara 00 - 80) jarak tanam adalah 7m x
3m (= 476 lubang/hektar) berbentuk barisan lurus mengikuti arah Timur - Barat berjarak 7m dan
arah Utara - Selatan berjarak 3m.
- Pada areal lahan bergelombang atau berbukit (kemiringan 8%-15%) jarak tanam 8m x 2,5m
(=500 lubang/ha) pada teras-teras yang diatur bersambung setiap 1,25m (penanaman secara
kontur).
Bahan ajir dapat menggunakan potongan bambu tipis dengan ukuran 20cm sampai 30cm. Pada
setiap titik pemancangan ajir tersebut merupakan tempat penggalian lubang untuk tanaman.
e. Pelubang
Ukuran lubang untuk tanaman dibuat 60cm x 60cm bagian atas, dan 40cm x 40cm
bagian dasar dengan kedalaman 60cm. Pada waktu melubang, tanah bagian atas (top soil)
diletakkan di sebelah kiri dan tanah bagian bawah (sub soil) diletakkan di sebelah kanan. Lubang
tanaman dibiarkan selama 1 bulan sebelum bibit karet ditanam.
f. Penanaman Kacangan Penutup Tanah (Legume cover crops = LCC)
Penanaman kacangan penutup tanah ini dilakukan sebelum bibit karet mulai ditanam
dengan tujuan untuk menghindari kemungkinan erosi, memperbaiki struktur fisik dan kimia
tanah, mengurangi pengupan air, serta untuk membatasi pertumbuhan gulma. Komposisi LCC
untuk setiap hektar lahan adalah 4kg. Pueraria javanica, 6kg Colopogonium mucunoides, dan
4kg Centrosema pubescens, yang dicampur ke dalam 5 kg rock Phosphate (RP) sebagai media.
Selain itu juga dianjurkan untuk menyisipkan Colopogonium caerulem yang tahan naungan
(shade resistence) ex biji atau ex steck dalam polibag kecil sebanyak 1.000 bibit/ha. Tanaman
kacangan dipelihara dengan melakukan penyiangan, dan pemupukan dengan 200 kg RP per
hektar, dengan cara menyebar rata di atas tanaman kacangan.

Seleksi dan Penanaman Bibit
a. Seleksi bibit
Sebelum bibit ditanam, terlebih dahulu dilakukan seleksi bibit untuk memperoleh bahan
tanam yang memeliki sifat-sifat umum yang baik antara lain : berproduksi tinggi, responsif
terhadap stimulasi hasil, resitensi terhadap serangan hama dan penyakit daun dan kulit, serta
pemulihan luka kulit yang baik. Beberapa syarat yang harus dipenuhi bibit siap tanam adalah
antara lain :
- Bibit karet di polybag yang sudah berpayung dua.
- Mata okulasi benar-benar baik dan telah mulai bertunas
- Akar tunggang tumbuh baik dan mempunyai akar lateral
- Bebas dari penyakit jamur akar (wws).
b. Kebutuhan bibit
Dengan jarak tanam 7 m x 3 m (untuk tanah landai), diperlukan bibit tanaman karet
untuk penanaman sebanyak 476 bibit, dan cadangan untuk penyulaman sebanyak 47 (10%)
sehingga untuk setiap hektar kebun plasma diperlukan sebanyak 523 batang bibit karet.
c. Penanaman
Pada umumnya penanaman karet di lapangan dilaksanakan pada musim penghujan yakni
antara bulan September sampai Desember dimana curah hujan sudah cukup banyak, dan hari
hujan telah lebih dari 100 hari. Pada saat penanaman, tanah penutup lubang dipergunakan top
soil yang telah dicampur dengan pupuk RP 100 gram per lubang, disamping pemupukan dengan
urea 50 gram dan SP - 36 sebesar 100 gram sebagai pupuk dasar.

Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan yang umum dilakukan pada perkebunan tanaman karet meliputi
pemberantasan gulma, pemupukan dan pemberantasan hama dan penyakit tanaman.
a. Penyiangan gulma
Areal pertanaman karet, baik tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman
sudah menghasilkan (TM) harus bebas dari gulma seperti alang-alang, Mikania, Eupatorium, dll
sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Untuk mencapai bal tersebut, penyiangan pada
tahun pertama dilakukan dengan rotasi 2x sebulan, sedangkan pada tahun ke dua hingga
mencapai matang sadap, rotasi penyiangan dilakukan 1 x sebulan.
b. Program pemupukan
Selain pupuk dasar yang telah diberikan pada saat penanaman, program pemupukan
secara berkelanjutan pada tanaman karet harus dilakukan dengan dosis yang seimbang dua kali
pemberian dalam setahun. Jadwal pemupukan pada semeseter I yakni pada Januari/Februari dan
pada semester II yaitu Juli/Agustus. Seminggu sebelum pemupukan, gawangan lebih dahulu
digaru dan piringan tanaman dibersihkan. Pemberian SP-36 biasanya dilakukan dua minggu
lebih dahulu dari Urea dan KCl.

c. Pemberantasan Hama dan Penyakit
Pada umumnya hama utama tanaman karet adalah rayap (Coptotermes sp), yang dapat
diberantas dengan menggunakan Chlordane 8 EC atau Basudin 6 0 EC dengan konsentrasi 0,3%.
Sementara itu hama Kuuk (Exopholis hypoleuca) dapat diberantas dengan Basudin 10 G.
Penyakit tanaman karet yang umum ditemukan pada perkebunan antara lain :
- Cendawan akar merah (Ganoderma pseudoferrum) dapat diberantas dengan collar
protectant.
- Penyakit daun Gloesporium pada TBM, dapat diberantas penyemprotan larutan KOC,
misalnya Cabak dengan konsentrasi 0,1% atau Daconil 75 wp dengan konsentrasi 0,1
sampai 0,2%. Sementara itu, jika menyerang TM, dapat diberantas dengan system fogging
menggunakan Daconil atau fungisida lainnya.
- Cendawan akar putih (Rigidonporus lignosus), dapat diberantas dengan Fomac 2 atau
Shell Collar Protectant atau Calixin Collar Protectant.
- Penyakit jamur upas (Corticum salmonikolor) dapat diberantas dengan Calixin Ready
Mix 2%.
- Penyakit bidang sadapan Mouldyrot dapat diberantas dengan Benlate konsentrasi 0,1 -
0,2% atau Difolan 4F konsentrasi 1 - 2%.
- Penyakit bidang sadapan kanker garis (Phytophora palmivora) diberantas dengan
Difolatan 4 F konsentrasi 2 - 4%.




Jenis okulasi
Teknik Umur Batang Bawah Umur dan Warna Entres
Dini 2-3 bulan 3-4 minggu, hijau muda
Hijau 4-6 bulan 3-4 bulan , hijau
Cokelat 8-18 bulan 1-2 tahun, cokelat
Tahapan Okulasi berupa persiapan dan kesiapan :
Bahan okulasi berupa :
Batu asa dan pisau
Plastic okulasi

Pada dasarnya tanaman karet memerlukan persyaratan terhadap kondisi iklim untuk
menunjang pertumbuhan dan keadaan tanah sebagai media tumbuhnya. Adapun syarat tumbuh
tanaman karet adalah sebagai berikut:
A. Iklim
Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zone antara 15C LS dan 15LU.
Diluar itu pertumbuhan tanaman karet agak terhambat sehingga memulai produksinya juga
terlambat. Tanaman karet memerlukan curah hujan optimal antara 2.500 mm sampai 4.000
mm/tahun,dengan hari hujan berkisar antara 100 sd. 150 HH/tahun. Namun demikian, jika sering
hujan pada pagi hari, produksi akan berkurang. Suhu optimal diperlukan berkisar antara 25C
sampai 35C.
Pada dasarnya tanaman karet tumbuh optimal pada dataran rendah dengan ketinggian 200
m dari permukaan laut. Ketinggian > 600 m dari permukaan laut tidak cocok untuk tumbuh
tanaman karet. Kecepatan angin yang terlalu kencang pada umumnya kurang baik untuk
penanaman karet.
B. Tanah
Lahan kering untuk pertumbuhan tanaman karet pada umumnya lebih mempersyaratkan
sifat fisik tanah dibandingkan dengan sifat kimianya. Hal ini disebabkan perlakuan kimia tanah
agar sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet dapat dilaksanakan dengan lebih mudah
dibandingkan dengan perbaikan sifat fisiknya. Berbagai jenis tanah dapat sesuai dengan
syarattumbuh tanaman karet baik tanah vulkanis muda dan tua, bahkan pada tanah gambut < 2
m.
Tanah vulkanis mempunyai sifat fisika yang cukup baik terutama struktur, tekstur, sulum,
kedalaman air tanah, aerasi dan drainasenya, tetapi sifat kimianya secara umum kurang baik
karena kandungan haranya rendah. Tanah alluvial biasanya cukup subur, tetapi sifat fisikanya
terutama drainase dan aerasenya kurang baik. Reaksi tanah berkisar antara pH 3, 0 - pH 8,0
tetapi tidak sesuai pada pH, 3,0 dan > pH 8,0. Sifat-sifat tanah yang cocok untuk tanaman karet
pada umumnya antara lain:
Sulum tanah sampai 100 cm, tidak terdapat batu-batuan dan lapisan cadas
Aerase dan drainase cukup
Tekstur tanah remah, poreus dan dapat menahan air
Struktur terdiri dari 35% liat dan 30% pasir
Tanah bergambut tidak lebih dari 20 cm
Kandungan hara NPK cukup dan tidak kekurangan unsur hara mikro
Reaksi tanah dengan pH 4,5 - pH 6,5
Kemiringan tanah < 16% dan
Permukaan air tanah < 100 cm
Dalam pelaksanaan budidaya tanaman karet diperlukan berbagai langkah yang dilakukan secara
sistematis mulai dari pembukaan lahan sampai dengan pemanenan.
5. Penyadapan Tanaman Karet
Produksi lateks dari tanaman karet disamping ditentukan oleh keadaan tanah dan
pertumbuhan tanaman, klon unggul, juga dipengaruhi oleh teknik dan manajemen penyadapan.
Apabila ketiga kriteria tersebut dapat terpenuhi, maka diharapkan tanaman karet pada umur 5 - 6
tahun telah memenuhi kriteria matang sadap. Kriteria matang sadap antara lain apabila keliling
lilit batang pada ketinggian 130 cm dari permukaan tanah telah mencapai minimum 50 cm. Jika
60% dari populasi tanaman telah memenuhi criteria tersebut, maka areal pertanaman sudah siap
dipanen.

Deorub K Pembeku Lateks dan Pencegah Timbulnya Bau Busuk Karet

Masalah utama yang terjadi yang terjadi dalam bokar (bahan olah karet) yang dihasilkan
oleh petani karet untuk diolah menjadi karet remah jenis SIR 20 adalah mutu bokar yang rendah
dan bau busuk yang menyengat sejak dari kebun. Mutu bokar yang rendah disebabkan petani
menggunakan bahan pembeku lateks (getah karet) yang tidak dianjurkan dan merendam bokar di
dalam kolam/sungai selama 7-14 hari. Hal ini akan memacu berkembangnya bakteri perusak
antioksidan alami di dalam bokar, sehingga nilai plastisitas awal (Po) dan plastisitas setelah
dipanaskan selama 30 menit pada suhu 140 oC (PRI) menjadi rendah.
Bau busuk menyengat terjadi juga karena pertumbuhan bakteri pembusuk yang
melakukan biodegradasi protein di dalam bokar menjadi amonia dan sulfida. Kedua hal tersebut
terjadi karena bahan pembeku lateks yang digunakan saat ini tidak dapat mencegah pertumbuhan
bakteri. Kemudian bau busuk tersebut di bawa terus sampai ke pabrik karet remah dan di pabrik
yang menjadi sumber bau busuk tersebut adalah berasal dari tempat penyimpanan bokar, kamar
gantung angin (pre drying room), dan mesin pengering (dryer).
Masalah bau busuk yang mencemari udara di sekitar pabrik karet remah ini sampai saat
ini sangat sulit diatasi walaupun semua pabrik sudah menggunakan scrubber (cerobong asap),
padahal disekeliling pabrik sudah menjadi kawasan perumahan.
Pada akhirnya bau busuk ini menimbulkan keluhan-keluhan masyarakat disekeliling
pabrik atau bahkan yang jauh dari pabrik (bau terbawa oleh angin). Sedangkan masalah nilai
plastisitas (Po dan PRI) yang rendah dapat diatasi oleh pabrik karet remah dengan proses
penggantungan angin selama 7-14 hari, walaupun hal ini akan menyebabkan waktu pengolahan
meningkat karena terhentinya perputaran modal dalam jumlah besar selam waktu tersebut.
Untuk mengatasi masalah bau busuk dan mutu karet tersebut, Balai Penelitian Sembawa
telah mengembangkan dan menghasilkan formula Deorub yang disebut dengan Deorub K.
Deorub K dapat mengatasi semua masalah tersebut diatas karena mengandung senyawa-senyawa
yang dapat membekukan dengan cepat, mencegah pertumbuhan bakteri dan harganya sebanding
dengan asam semut (format).
Mutu teknis, karakteristik vullkanisasi dan sifat fisik vulkanisat dari karet yang
dibekukan dengan Deorub K adalah setara dengan asam semut. Deorub K merupakan
pengembangan dari Deorub yang dihasilkan dari penelitian di Balai Penelitian Sembawa - Pusat
Penelitian Karet. Deorub K adalah cairan berwarna coklat tua dengan bau asap , pH sekitar 0,5
dan digunakan untuk lateks yang akan dibekukan dan diolah menjadi karet remah jenis SIR 20.
Deorub K ditujukan khususnya untuk petani karet yang menghendaki pembekuan cepat dengan
harga murah, dan tidak berbau sejak dari kebun sehingga dapat disimpan di dekat rumahnya
(tidak takut dicuri orang).
Deorub K dapat mengatasi masalah tersebut di atas karenma mengandung senyawa -
senyawa yang dapat berfungsi sebagai antibakteri, antioksidan, pembeku, dan bau asap yang
khas. Senyawa yang berfungsi sebagai antibakteri adalah fenol dan turunannya, yang akan
membunuh bakteri didalam lateks dan bekuan sehingga tidak terjadi bau busuk. Senyawa fenol
atau turunannya juga berfungsi sebagai antioksidan yang akan melindungi molekul karet dari
oksidasi pada suhu tinggi sehingga nilai PRInya tetap tinggi. Asam-asam terutama asam asetat
akan membekukan lateks kebun dan juga berperan sebagai antibakteri. Senyawa karbonil, fenol,
alkohol dan ester kan menyebabkan warna coklat dan akan memberikan bau asap khas pada
bokar.
Jadi fungsi dari Deorub K adalah mencegah pertumbuhan bakteri (karena adanya fenol)
sehingga tidak terjadi bau busuk. Karena bakteri ridak berkembang akibatnya adalah tidak terjadi
kerusakan antioksidan dalam bentuk protein (asam-asam amino) sehingga nilai Po dan PRI tetap
tinggi. Dengan nilai Po dan PRI tinggi tidak diperlukan penggantungan angin (pre-drying )
akibatnya proses pengolahan lebih cepat dan biaya pengolahan menjadi lebih murah.
Kemudian dengan tidak terjadinya dekomposisi protein menjadi amonia dan sulfida maka
terjadi pengurangan jumlah limbah cair dalam bentuk NH3-N. Pengaruh Deorub K terhadap
pembekuan (pH larutan, pH bekuan, kecepatan bekuan, kondisi bekuan) dan mutu teknis (Po,
PRI, dan VR) antara Deorub K dan asam semut (format) tidak terjadi perbedaan yang nyata.
Perbedaan yang nyata antara Deorub K dan asam semut adalah pada warna bekuan dan bau yaitu
berwarna cokelat dipermukaan sampai abu-abu dan berbau asap ringan.
Untuk karakteristik vulkanisat menunjukkan bahwa torque modulus dan indeks kecepatan
masak (cure rate indeks) dari Deorub K sedikit lebih tinggi, tetapi waktu masak (cure time)
Deorub K lebih cepat sedikit dibandingkan dengan asam semut, sedangkan waktu scroch sama.
Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi perbedaan yang nyata antara Deorub K dan asam
semut.
Untuk beberapa sifat fisik vulkanisat menunjukkan bahwa kuat tarik, modulus 500% dan
perpanjangan putus dari kompon karet yang menggunakan pembeku Deorub K lebih tinggi
dibandingkan dengan asam semut sedangkan kekerasan sama. Hal ini menunjukkan bahwa
pembeku Deorub K lebih baik sedikit dibandingakn dengan asam semut.



BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Balai Penelitian Sembawa Terletak di tengah-tengah perkebunan karet rakyat, sejak
tahun 1982 Balai Penelitian Sembawa menjalankan misinya untuk menghasilkan teknologi di
bidang perkaretan. Tidak kurang dari 27 orang tenaga peneliti yang handal dari berbagai disiplin
ilmu seperti pemuliaan, agronomi, proteksi tanaman, tanah dan iklim, pengolahan hasil, dan
sosial ekonomi terintegrasi bekerja dan berusaha menghasilkan teknologi yang bermanfaat bagi
pengembangan perkebunan karet. Dilengkapi dengan berbagai laboratorium, kebun percobaan,
perpustakaan, stasiun klimatologi, rumah kaca yang memadai.

Teknik budidaya tanaman karet yang dilakukan dibalai penelitian sembawa tidak jauh
berbeda dengan materi yang diperoleh di perkuliahan, termasuk dengan tekhnik okulasi yang
dilakukan. Hanya saja disini menggunakan tenaga ahli yang sudah terlatih, sehingga hasil yang
diperoleh bias maksimal.

4.2 Saran

Dalam praktikum lapangan sebaiknya perlu diperhatikan efektifitas dan keefisienan
dalam penyampaian materi-materi oleh narasumber, seperti dengan membuat kelompok-
kelompok kecil yang didampingi oleh seorang ahli, selain itu perlu diperhatikan waktu dan cara
penyampaian materi oleh narasumber, agar mahasiswa bisa memperoleh informasi sesuai dengan
tujuan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA


http://balitsembawa.com./index.php

http://www.scribd.com/doc/52839320/laporan-BTT-karet-fix

http://www.icraf.org/201097765378799/Okulasi Karet

Setiawan, D. H. dan Andoko A., 2005. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet. Agromedia Pustaka,
Jakarta.

Setyamidjaja, D., 1993. Karet, Budidaya dan Pengolahannya. Kanisius, Yogyakarta.

Sianturi, H. S. D., 2001. Budidaya Tanaman Kelapa Karet. USU Press, Medan.

Syamsulbahri, 1996. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan Tahunan. UGM Press, Yogyakarta.

Tim Penulis PS, 2008. Panduan Lengkap Karet. Penebar Swadaya, Jakarta.

Widianto, I., 2000. Membuat Stek, Cangkok dan Okulasi. Penebar Swadaya, Jakarta