Anda di halaman 1dari 6

Subdirektorat Pengendalian Arbovirosis Dit PPBB -Ditjen PP dan PL Kementerian

Kesehatan RI
1
INFORMASI UMUM DEMAM BERDARAH DENGUE
I. Kondisi Umum
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang
masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan endemis di sebagian
kabupaten/kota di Indonesia. Hampir setiap tahun terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa)
di beberapa daerah yang biasanya terjadi pada musim penghujan namun sejak
a!al tahun "#$$ ini sampai bulan %gustus "#$$ ter&atat jumlah kasus relati'e
menurun sebagaimana tampak pada gra(ik di ba!ah. DBD pertama kali dilaporkan
pada tahun
$)*+ di ,akarta dan -urabaya dengan .+ penderita dan angka kematian (/01)
sebesar .$23. De!asa ini DBD telah tersebar di seluruh pro'insi di Indonesia.
Program pen&egahan dan pemberantasan DBD telah berlangsung lebih kurang
.2 tahun dan berhasil menurunkan angka kematian dari .$23 pada tahun
$)*+ menjadi #+4 3 pada tahun "#$# tetapi belum berhasil menurunkan
angka kesakitan. ,umlah penderita &enderung meningkat penyebarannya
semakin luas menyerang tidak hanya anak5anak tetapi juga golongan umur yang
lebih tua. Pada tahun "#$$ sampai bulan %gustus ter&atat "..2*" kasus
dengan $)* kematian (/016 #+# 3)
Berdasarkan rekapitulasi data kasus yang ada sampai tanggal "" %gustus "#$$
ter&atat hanya Pro'insi Bali yang masih memiliki angka kesakitan DBD diatas target
nasional yaitu 77 per $##.### penduduk sebagaimana tampak pada gra(ik diba!ah
ini.
Subdirektorat Pengendalian Arbovirosis Dit PPBB -Ditjen PP dan PL Kementerian
Kesehatan RI
2
-edangkan angka kematian akibat DBD di beberapa !ilayah masih &ukup tinggi di
atas target nasional $ 3 antara lain Pro'insi 8orontalo 1iau -ula!esi 9tara
Bengkulu Lampung :;; ,ambi ,a!a ;imur -umatra 9tara dan -ula!esi ;engah
(lihat grafik di bawah ini).
Subdirektorat Pengendalian Arbovirosis Dit PPBB -Ditjen PP dan PL Kementerian
Kesehatan RI
3
II. Isu dan Permasalahan Pengendalian.
DBD sangat endemis di Indonesia sejak ditemukan pertama kali tahun $)*+ jumlah
kasus dan luas daerah terjangkit terus meningkat. Penyebab meluasnya
penyakit DBD di Indonesia multi (aktorial antara lain6
$. 0aktor <anusia dan -osial Budaya
a. 0aktor manusia kepadatan penduduk sangat berpengaruh pada kejadian kasus
DBD makin padat penduduk makin tinggi kasus DBD di kota tersebut. Hal ini
karena berkaitan dengan penyediaan I:01% -;19K;91 yang kurang memadai
seperti penyediaan sarana air bersih sarana pembuangan sampah sehingga
terkumpul barang" bekas yang dapat menampung air dan menjadi tempat
perkembang biakan nyamuk %edes penular DBD.
b. <obilitas manusia 6 perpindahan manusia dari satu kota ke kota
lain
mempengaruhi penyebaran penyakit DBD.
&. Perilaku manusia 6 kebiasaan menampung air untuk keperluan sehari5hari seperti
menampung air hujan air sumur harus membeli air didalam B%K <%:DI
membuat bak mandi atau drum/tempayan sebagai tempat perkembangbiakan
nyamuk .
d. Kebiasaan menyimpan barang" bekas atau kurang memeriksa lingkungan
terhadap adanya air" yang tertampung didalam !adah" dan kurang
melaksanakan kebersihan dan 2 < PL9- ( <enguras <enutup dan <engubur
PLUS menaburkan Lar'asida memelihara ikan pemakan jentik dll. )
". 0aktor agen dan lingkungan
a. 0aktor agen/ 'irus DBD 6 ada . serotipe yang tersebar luas di seluruh !ilayah
Indonesia dan bersirkulasi sepanjang tahun Dipertahankan siklusnya didalam
tubuh nyamuk
b. 0aktor :yamuk penular yaitu %edes aegypti yang tersebar luas diseluruh pelosok
tanah air populasinya meningkat pada saat musim hujan
&. 0aktor lingkungan6 <usim hujan meningkatkan populasi nyamuk namun
di
Indonesia musim kering pun populasinya tetap banyak karena orang
&enderung menampung air dan didaerah sulit air orang menampung air
didalam bak" air/
drum sehingga nyamuk dan jentik selalu ada sepanjang tahun.
2. -=P
a. Kurangnya pemahaman tentang penegakan diagnosis dan penatalaksanaan
penderita DBD sesuai standar pada sebagian klinisi baik di 1umah -akit
Puskesmas maupun sarana pelayanan kesehatan lainnya sehingga sering
terjadi o'er diagnosis.
b. Belum semua rumah sakit menggunakan (orm KD1-/KD5DBD dan seringnya
keterlambatan pelaporan kasus dari rumah sakit ke Dinas Kesehatan atau ke
Puskesmas. ,ika sesuai standar seharusnya setiap kasus yang ditemukan
dilaporkan dalam !aktu kurang dari ". jam agar dapat dilakukan langkah5
langkah penanggulangan kasus se&ara &epat dan tepat sebelum terjadi
penyebaran lebih luas lagi.
Subdirektorat Pengendalian Arbovirosis Dit PPBB -Ditjen PP dan PL Kementerian
Kesehatan RI
4
.. Ketersediaan ;enaga Pelayanan
a. 0aktor pelaksana program yang sering berganti5ganti kurangnya
petugas lapangan dan khususnya kurangnya pendanaan bagi pelaksanaan
program
pengendalian DBD.
b. Kegiatan pemeriksaan jentik berjalan namun tidak menyeluruh karena
keterbatasan tenaga. Puskesmas melaksanakan P,B ( Pemeriksaan ,entik
Berkala) kader" ,9<%:;IK melaksanakan pemeriksaan jentik seminggu
sekali
di lingkungannya namun tidak tersedia dana operasional maupun
biaya pengganti transport bagi para kader ,umantik sehingga kegiatannya
mengendur. Beberapa kota seperti ,akarta ;imur Pekalongan <ojokerto sangat
akti( melaksanakan kegiatan Pemeriksaan ,entik melalui peran serta masyarakat
dan ,umantik
7. Kondisi -arana Pendukung
<esin (ogging tersedia disetiap Dinas Kesehatan kota atau Puskesmas
jumlahnya ber'ariasi namun biasanya tidak disertai biaya pemeliharaan. =leh
karena itu mesin" yang rusak tidak tersedia suku &adang sering kali diambil
dari mesin" yang ada sehingga banyak mesin (ogging yang rusak.
*. -umber Pembiayaan
a. <asalah DBD belum dianggap sebagai masalah prioritas di beberapa !ilayah
sehingga alokasi dana %PBD untuk penanggulangan DBD masih tergolong
ke&il
di masing5masing !ilayah endemis.
b. 9ntuk penyemprotan suatu area luas radius $## meter ( $ H% estimasi hanya
untuk "#5.# rumah ) dibutuhkan biaya 1p.2##.### 5 7##.###/ " siklus . %rea
yang disemprot harus memenuhi kriteria P> tersebut dengan tujuan membunuh
nyamuk yang mengandung 'irus. =leh karena itu apabila masyarakat meminta
penyemprotan tidak memenuhi kriteria P> mereka harus menanggung biaya itu
sendiri. Penyemprotan (fogging) liar ini biasanya dilakukan oleh perusahaan"
penyemprot/ pihak s!ata yang hanya mengutamakan aspek keuntungan/komersil
saja.
&. Peningkatan kasus yang umumnya terjadi bulan ,anuari hingga <aret dimana
pada bulan5bulan tersebut dana operasional belum turun dari %PBD ini membuat
hambatan dalam pelaksanaan penanggulangan kasus di lapangan.
4. 0aktor kerjasama/peran serta
0aktor peran serta lintas sektor maupun peran serta masyarakat yang masih kurang
dan &enderung mengharapkan sektor kesehatan saja yang mengatasi masalah
DBD. Dengan kata lain masalah DBD masih dianggap sebagai masalah sektor
kesehatan semata.
III. Arah Kei!a"an Pengendalian Pen#a"i$ DBD
<elalui Kepmenkes no. 7+$/;ahun $))" telah ditetapkan Program
:asional
Penanggulangan DBD yang terdiri dari + pokok program yaitu 6
$. -ur'eilans epidemiologi dan Penanggulangan
KLB
". Pemberantasan ?ektor
2. Penatalaksanaan Kasus
.. Penyuluhan
Subdirektorat Pengendalian Arbovirosis Dit PPBB -Ditjen PP dan PL Kementerian
Kesehatan RI
5
7. Kemitraan dalam !adah P=K,%:%L DBD
*. Peran -erta <asyarakat 6 ,umantik
4. Pelatihan
+. Penelitian
Subdirektorat Pengendalian Arbovirosis Dit PPBB -Ditjen PP dan PL Kementerian
Kesehatan RI
6
Langkah5Langkah Kebijakan Pemerintah 6
$. 9ntuk setiap kasus DBD harus dilakukan Penyelidikan epidemiologi meliputi
radius $## meter dari rumah penderita. %pabila ditemukan bukti" penularan
yaitu adanya penderita DBD lainnya ada 2 penderita demam atau ada
(aktor risiko yaitu ditemukan jentik maka dilakukan penyemprotan (Fogging
Focus) dengan siklus " Kali disertai lar'asidasi dan gerakan P-:.
". Puskesmas melaksanakan kegiatan Pemeriksaan ,entik Berkala ( P,B )
setahun . kali untuk memonitor kepadatan jentik di!ilayahnya.
2. Lebih mengutamakan pen&egahan yaitu dengan melaksanakan P-: (
Pemberantasan -arang :yamuk ) melalui 2 < PL9- dengan melibatkan
masyarakat.
.. <em(asilitasi terbentuknya tenaga ,9<%:;IK ( ,uru Pemantau ,entik)
7. Kemitraan melalui !adah P=K,%:%L . bersama D>PD%81I dan lintas
sektor lainnya terutama D>PDIK:%-
*. Penyuluhan kepada masyarakat agar masyarakat tetap !aspada.
I%. &an$angan Ke De'an
DBD merupakan masalah kita bersama bukan hanya sektor kesehatan semata.
-ektor kesehatan bertanggung ja!ab penuh pada pera!atan penderita di
Puskesmas/ 1umah -akit dalam rangka menurunkan angka kematian. :amun
mengingat begitu kompleksnya masalah penularan DBD maka perlu peran berbagai
->K;=1 dan <asyarakat sendiri untuk memberantas penyakit DBD melalui
pemberantasan nyamuk dan jentik nya. <engingat bah!a kejadian DBD semakin
meluas maka DBD perlu mendapat perhatian dari semua pihak dan menjadi
masalah :asional dan perlu perbaikan di berbagai aspek mulai dari aspek
manajemen kasus manajemen 'ektor manajemen logistik ( insektisida lar'asida
mesin (ogging) peningkatan peran serta masyarakat dan penelitian5penelitian
termasuk pengembangan 'aksin didukung dengan pendanaan yang memadai.
%. Priori$as Kegia$an
a. Pengendalian 'ektor dengan melaksanakan 8erakan Pemberantasan
-arang :yamuk (P-:) terutama pada kabupaten dan kota endemis
tinggi dengan tetap meningkatkan ke!aspadaan di setiap !ilayah.
b. Peningkatan sur'eilans kasus @ 'ektor
&. Peningkatan kemitraan dengan lintas sektor dan lintas program terkait
diantaranya melalui !adah P=K,%:%L (Kelompok Kerja =perasional)
DBD 9K- B<K8 kalangan %kademisi dan lain5lain.
d. Penanggulangan kasus / KLB
<anajemen kasus di 9PK sesuai standar
-etiap kasus yang dilaporkan dari 9PK (9nit Pelayanan Kesehatan)
maka dilakukan langkah A langkah Penanggulangan kasus/(okus
yaitu6 Penyelidikan >pidemiologi (P>) 0ogging 0okus
Lar'asidasi dan Penyuluhan.
Peningkatan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan KLB
antara lain dengan peningkatan sur'eilans dan memenuhi
ketersediaan logistik (insektisida lar'asida dll)