Anda di halaman 1dari 46

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menjelang tahun 2000, umur harapan hidup wanita Indonesia
meningkat menjadi 67,5 tahun dan kelompok usia tua akan mencapai 8,2 %
dari seluruh populasi Indonesia. Diperkirakan pada tahun 2010, usia harapan
hidup wanita Indonesia akan mencapai 70 tahun (Proverawati, 2010). Menurut
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ditahun 2030 nanti ada 1,2 milyar wanita
yang berusia 50 tahun.
Di Indonesia pada tahun 2020 diperkirakan jumlah perempuan yang
hidup dalam usia menopause adalah 30,3 juta orang (Baziad, 2003). Jumlah
dan proporsi penduduk perempuan yang berusia diatas 50 tahun dan
diperkirakan memasuki usia menopause (berhenti siklus haid), dari tahun ke
tahun mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Menurut proyeksi
penduduk Indonesia tahun 2000-2010 oleh Badan Pusat Statistik, jumlah
penduduk perempuan berusia diatas 50 tahun adalah 20,9 juta orang, dan
tahun 2025 akan ada 60 juta perempuan yang mengalami menopause
(BKKBN, 2006).
Menopause dikenal sebagai berhentinya menstruasi, yang disebabkan
oleh hilangnya aktivitas folikel ovarium. Menopause alamiah terjadi pada
akhir periode menstruasi dan sekurang-kurangnya selama 12 bulan tidak
menstruasi (Proverawati, 2010). Menopause alami umumnya terjadi pada usia
2

50 tahun (Baziad, 2003). Meskipun begitu, menopause bisa terjadi pada usia
30 tahun atau pertengahan 50 tahun (Waluyo, 2010). Pada kebanyakan wanita
yang mendekati menopause, periode menstruasinya menjadi tidak teratur,
semakin rapat atau semakin jarang (Hutapea, 2005).
Sebelum terjadi menopause didahului dengan fase pramenopause yang
mulai muncul sekitar usia 40 tahun. Fase pramenopause terjadi pada sekitar 6
tahun sebelum menopause (Wiknjosastro,2009). Fase ini ditandai dengan
siklus haid yang tidak teratur, dengan perdarahan haid yang memanjang dan
jumlah darah haid yang relatif banyak, dan kadang-kadang disertai nyeri haid
(dismenorea). Pada wanita tertentu telah timbul keluhan vasomotorik dan
keluhan sindrom prahaid atau sindrom pramenstrual (Baziad, 2003). Masalah
yang terjadi dapat berupa masalah fisik maupun psikologis. Gejala semakin
sangat serius jika tidak ditangani karena dapat menimbulkan perubahan yang
menyebabkan kecemasan pada wanita (Proverawati, 2010).
Banyak wanita yang menganggap bahwa menopause memberi
semacam kebebasan bagi hidupnya secara fisik, emosional, seksual dan
spiritual. Mereka antusias karena terbebas dari kekuatiran perihal kehamilan
dan menstruasi. Akan tetapi, ada juga wanita yang ketakutan menghadapi
masa menopause ini (Hutapea, 2005).
Gejala menopause terjadi secara individual. Gejala-gejala menopause
dapat berupa kepanasan (hot flashes), gangguan tidur, banyak berkeringat,
sakit kepala, mudah tersinggung, nyeri pada sendi, jantung berdebar, cepat
lelah, sulit berkonsentrasi, mudah lupa, depresi, keringnya vagina, sulit
3

menahan dorongan untuk kencing (inkontinensia). Dengan menerapkan pola
maupun gaya hidup sehat dalam menghadapi masa menopause diantaranya
olahraga teratur dan terukur, pola makan sehat, pola tidur teratur, jauhi rokok
dan minuman beralkohol sehingga gejala-gejala tersebut dapat di antisipasi
dengan baik (Waluyo, 2010).
Sebagian besar wanita Indonesia dalam memasuki masa menopause
tidak mengetahui dengan benar dampak yang bisa timbul dari datangnya
menopause, dimana ketidaktahuan itu didasari pada pandangan yang
menganggap bahwa menopause merupakan suatu gejala yang alami (
Mangoenprasodjo, 2004). Wanita menjelang menopause akan mengalami
penurunan berbagai fungsi tubuh, sehingga akan berdampak pada
ketidaknyamanan dalam menjalani kehidupannya. Diperlukan sikap positif
dengan diimbangi oleh informasi atau pengetahuan yang cukup, sehingga ibu
lebih siap dalam menghadapi menopause (Ismiyati, 2010). Kesiapan wanita
dalam menghadapi menopause sangat membantu ia menjalani masa ini dengan
baik (Bramantyo, 2002).
Hasil penelitian dari Rahmanoza (2004) menunjukkan bahwa
pengetahuan, sikap mempunyai hubungan yang positif dalam menghadapi
masa menopause. Pengetahuan wanita pramenopause yang tinggi tentang
menopause maka sikapnya akan positif dalam menghadapi menopause dan
dengan pengetahuan wanita pramenopause yang rendah tentang menopause
maka sikapnya akan negatif dalam menghadapi menopause. Didapatkan pula
jumlah tingkat pengetahuan wanita usia subur dalam menghadapi masa
4

menopause yang berpengetahuan baik berjumlah (51,4 %) yang kurang baik
(48,6%). Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Ismiyati (2010)
menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang
menopause dengan kesiapan menghadapi menopause pada ibu premenopause.
Berdasarkan catatan Profil Kesehatan Kabupaten Tanjung Jabung
Barat tahun 2009 jumlah penduduk wanita yaitu 118.633 jiwa. Jumlah wanita
yang berusaia 40-44 tahun berjumlah 7.248 jiwa dan yang berusia 45-49 tahun
berjumlah 5.154 jiwa (Profil Kesehatan Kabupaten Tanjung jabung Barat,
2009). Jumlah wanita yang berusia 44-49 tahun di wilayah kerja Puskesmas
Suban berjumlah 521 jiwa (Puskesmas Suban,2009).
Puskesmas Suban adalah salah satu Puskesmas yang berada di
Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Wilayah kerja Puskesmas Suban terdiri dari
5 desa dan 1 kelurahan. Desa Sri Agung merupakan desa yang tercatat sebagai
desa dengan jumlah penduduk terbanyak yaitu 4.076 jiwa dengan jumlah
wanita usia 44-49 tahun yaitu 126 jiwa (Data Desa Sri Agung tahun 2010).
Penduduk Desa Sri Agung mayoritas bekerja sebagai petani, ada juga yang
bekerja sebagai wiraswasta dan pegawai. Di Desa Sri Agung Wilayah Kerja
Puskesmas Suban tidak pernah di adakan penelitian sebelumnya mengenai
menopause.
Studi awal yang dilakukan pada tanggal 2 januari 2011 melalui
wawancara kepada 10 wanita pramenopause di Desa Sri Agung wilayah kerja
Puskesmas Suban Kabupaten Tanjung Jabung Barat didapatkan data sebanyak
7 orang wanita pramenopause mengatakan tidak tahu apa yang dimaksud
5

dengan menopause, tanda dan gejala apa saja yang terjadi pada saat akan
memasuki masa menopause dan 5 orang wanita pramenopause menganggap
perubahan yang terjadi pada saat memasuki masa menopause sebagai penyakit
seperti keringat malam, dan kepanasan. Wanita pramenopause juga
mengatakan kurang siap untuk menghadapi menopause.
Hasil penelitian didapatkan bahwa responden yang tidak siap
menghadapi menopause persentasenya lebih tinggi pada responden yang
tingkat pengetahuannya rendah (71,2%) dibandingkan dengan yang
pengetahuannya tinggi (2,7%) dan responden yang tidak siap menghadapi
menopause persentasenya lebih tinggi pada responden yang sikapnya negatif
(75,0%) dibandingkan yang sikapnya positif (19,2%).
Berikut ini peneliti melaporkan hasil penelitian yang telah dilakukan
dengan judul Hubungan Pengetahuan dan Sikap Wanita Pramenopause dengan
kesiapan menghadapi Menopause di Desa Sri Agung Wilayah Kerja
Puskesmas Suban Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi Tahun 2011.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara pengetahuan dan sikap
wanita pramenopause dengan kesiapan menghadapi menopause di Desa Sri
Agung Wilayah Kerja Puskesmas Suban Kabupaten Tanjung Jabung Barat
Jambi Tahun 2011.

6

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan dan Sikap Wanita
Pramenopause dengan kesiapan menghadapi Menopause di Desa Sri
Agung Wilayah Kerja Puskesmas Suban Kabupaten Tanjung Jabung Barat
Jambi Tahun 2011.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya kesiapan wanita pramenopause menghadapi menopause di
Desa Sri Agung Wilayah kerja Puskesmas Suban Kabupaten Tanjung
Jabung Barat Jambi Tahun 2011.
b. Diketahuinya pengetahuan wanita pramenopause tentang menopause di
Desa Sri Agung Wilayah Kerja Puskesmas Suban Kabupaten Tanjung
Jabung Barat Jambi Tahun 2011.
c. Diketahuinya sikap wanita pramenopause tentang menopause di Desa Sri
Agung Wilayah Kerja Puskesmas Suban Kabupaten Tanjung Jabung Barat
Jambi Tahun 2011.
d. Diketahuinya hubungan pengetahuan wanita pramenopause dengan
kesiapan menghadapi menopause di Desa Sri Agung Wilayah kerja
Puskesmas Suban Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi Tahun 2011.
e. Diketahuinya hubungan sikap wanita pramenopause dengan kesiapan
menghadapi menopause di Desa Sri Agung Wilayah kerja Puskesmas
Suban Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi Tahun 2011.

7

D. Manfaat Penelitian
1. Peneliti
Menambah wawasan dan pengalaman peneliti dalam melakukan
penelitian.
2. Pimpinan Puskesmas
Sebagai bahan masukan bagi pimpinan Puskesmas Suban dalam membuat
kebijakan untuk mempersiapkan wanita pramenopause menghadapi
menopause.
3. Tempat Pengembangan Ilmu
Dapat memberikan tambahan referensi bagi pendidikan mengenai
hubungan pengetahuan dan sikap wanita pramenopause dengan kesiapan
menghadapi menopause.
4. Peneliti Berikutnya
Menambah literatur bagi peneliti berikutnya dalam lanjutan penelitian
tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kesiapan menghadapi
menopause.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Dari uraian diatas penelitian ini melihat tentang hubungan pengetahuan
dan sikap wanita pramenopause dengan kesiapan menghadapi menopause di
Desa Sri Agung Wilayah kerja Puskesmas Suban Kabupaten Tanjung Jabung
Barat Jambi Tahun 2011. Variabel independen yaitu pengetahuan wanita
pramenopause dan sikap wanita pramenopause sedangkan variabel dependen
adalah kesiapan menghadapi menopause.
8

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A. Menopause
1. Pengertian
Menopause dikenal sebagai berhentinya menstruasi, yang
disebabkan oleh hilangnya aktivitas folikel ovarium. Menopause
terjadi pada akhir siklus menstruasi yang terakhir tetapi kepastiannya
baru diperoleh jika seorang wanita sudah tidak mengalami siklus
haidnya selama minimal 12 bulan (Proverawati, 2010).
Menopause adalah berhentinya menstruasi secara menetap yaitu
berturut-turut selama 12 bulan dan disertai dengan menurunnya kadar
hormon estrogen dan progesteron (Waluyo, 2010).
Menopause adalah penghentian permanen menstruasi (haid),
berarti pula akhir dari masa reproduktif. Perubahan endokrin
hormon yang terlibat selama bertahun-tahun dalam kehidupan wanita
ini, terutama disebabkan oleh kehilangan fugsi ovarium yang semakin
meningkat (Purwoastuti, 2008).
Menopause adalah berhentinya proses di dalam tubuh atau
disebut fisiologis siklus menstruasi, yang berkaitan dengan usia lanjut.
Seorang wanita disebut memasuki atau mengalami menopause bila
9

yang bersangkutan tidak menstruasi lagi dalam rentang waktu 12
bulan (Lestary, 2010).
2. Proses Terjadinya Menopause
Terjadinya menopause disebabkan oleh perubahan fungsi kedua
ovari. Proses menjadi tua sudah mulai pada umur 40 tahun. Jumlah
folikel pada ovarium waktu lahir 750.000 buah, pada waktu
menopause tinggal beberapa ribu buah. Tambahan pula folikel yang
tersisa ini rupanya juga lebih resisten terhadap rangsangan
gonadotropin. Dengan demikian, siklus ovarium yang terdiri atas
pertumbuhan folikel, ovulasi, dan pembentukan korpus luteum lambat
laun terhenti.
Penurunan drastis kadar hormon estrogen akan mempengaruhi
berbagai perubahan fisik yang sangat individual. Hormon estrogen
sesungguhnya berpengaruh terhadap sel-sel dalam pembuluh darah,
tulang, kulit, uterus, jaringan payudara, lapisan vagina, dan saluran
kemih, juga otak. Jika kadar estrogen turun, maka jaringan dan organ-
organ tersebut akan terganggu sehingga timbul berbagai gejala, antara
lain gejolak panas (hot flush), vagina kering, dan iritasi pada saluran
kemih (Waluyo, 2010).



10

3. Tanda dan Gejala Menopause
Secara garis besar, tanda dan gejala menopause dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu secara fisiologis dan secara psikologis (Purwoastuti,
2008).
a. Secara fisiologis
Gejala secara fisiologis akan dapat diamati berdasarkan
perubahan-perubahan yang terjadi pada organ reproduksi, anggota
tubuh lainnya, susunan ekstragenital, dan adanya gejala klinis.
1) Perubahan Pada Organ Reproduksi
a) Uterus (rahim)
Uterus mengecil, selain disebabkan atrofi
endometrium juga disebabkan hilangnya cairan dan
perubahan bentuk jaringan ikat interstisial. Serabut otot
miometrium menebal, pembuluh darah miometrium
menebal dan menonjol.
b) Tuba Falopii (saluran telur)
Lipatan-lipatan tuba menjadi lebih pendek, menipis
dan mengkerut, endosalpingo menipis mendatar dan silia
menghilang.
c) Servik
Servik akan mengkerut sampai terselubung oleh
dinding vagina, kripta servikal menjadi atropik, kanalis
11

servikalis memendek, sehingga menyerupai ukuran servik
fundus saat masa adolesen/ kanak-kanak.
d) Vagina
Terjadinya penipisan vagina menyebabkan hilangnya
rugae (lipatan-lipatan vagina), berkurangnya vaskularisasi,
elastisitas yang berkurang, sekret vagina menjadi encer.
e) Ovarium
Perubahan dalam sistem peredaran darah indung telur
sebagai akibat proses penuaan yang selektif dan terjadinya
kekakuan dini pada sistem pembuluh darah indung telur
diperkirakan sebagai penyebab utama dangguan peredaran
darah ovarium. dalam fase pramenopause, siklus haid
menjadi anovulasi (tidak mengeluarkan sel telur), folikel
primer tidak dapat matang secara baik, dan di samping itu,
kadar hormon gonadotropin juga meninggi.
2) Perubahan pada anggota tubuh lainnya
a) Dasar Pinggul
Kekuatan dan elastisitas menghilang, karena atrofi dan
lemahnya daya sokong disebabkan prolapsus utero vaginal
(turunnya alat-alat kelamin bagian dalam).


12

b) Perineum dan Anus
Lemak subkutan menghilang, atrofi, otot sekitarnya
menghilang yang menyebabkan tonus spinkter melemah
dan menghilang.
c) Vesika Urinaria (kandung kencing)
Tampak aktivitas kendali spinkter dan destrusor (otot
kandung kemih) hilang sehingga sering kencing tanpa
sadar.
d) Kelenjar Payudara
Diserapnya lemak subkutan, atrofi jaringan parenkim,
lobulus menciut, stroma jaringan ikat fibrosa menebal.
Puting susu mengecil, kurang erektil, pigmentasi berkurang
sehingga payudara menjadi datar dan mengendor.
3) Perubahan pada susunan ekstragenital
a) Adipositas (penimbunan lemak)
Penyebaran lemak ditemukan pada tungkai atas,
pinggul, perut bawah dan lengan atas. Ditemukan 29%
wanita klimakterium memperlihatkan kenaikan berat badan
yang sedikit dan 20% kenaikan yang menyolok. Diduga ada
hubungan dengan turunnya estrogen dan gangguan
pertukaran zat dasar metabolisme lemak.

13

b) Hipertensi (tekanan darah tinggi)
Adanya gejolak panas terjadi suatu peningkatan
tekanan darah baik sistol maupun diastol. Diketahui bahwa
2/3 penderita hipertensi esensial primer adalah wanita
antara 45-70 tahun. Pada permulaan peningkatan tekanan
darah paling banyak terjadi selama masa klimakterium.
c) Hiperkolesterolemia (kolesterol tinggi)
Penurunan atau hilangnya kadar estrogen menyebabkan
peningkatan kolesterol. Peningkatan kadar kolesterol pada
wanita terjadi 10-15 tahun lebih lambat pada laki-laki.
d) Aterosklerosis (pengapuran dinding pembuluh darah)
Adanya hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol
menyebabkan peningkatan faktor risiko terhadap terjadinya
aterosklerosis.
e) Virilisasi (pertumbuhan rambut-rambut halus)
Turunnya estrogen dalam darah dan adanya efek
androgen menyebabkan tanda-tanda diferensiasi dari
defeminisasi dan maskulinisasi.
f) Osteoporosis
Dengan menurunnya kadar estrogen, maka proses
osteoblast yang berfungsi dalam pembentukan tulang akan
terhambat dan fungsi osteoclast dalam merusak tulang akan
14

meningkat. Karena tulang tua diserap dan dirusak oleh
osteoclast tetapi tidak dibentuk tulang baru oleh osteoblast,
maka tulang menjadi osteoporosis.
4) Gejala Klinis
Gejala klinis yang terjadi pada masa menopause
sebagai akibat turunnya funfsi ovarium, yaitu kurangnya kadar
hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh wanita.
Kekurangan hormon estrogen ini menyebabkan keluhan-
keluhan sebagai berikut.
a) Hot Flush ( perasaan panas dari dada hingga wajah)
Hot flush (perasaan panas dari dada hingga wajah),
wajah dan leher menjadi berkeringat. Kulit menjadi
kemerahan muncul di dada dan lengan terasa panas terjadi
beberapa bulan atau beberapa tahun sebelum dan sesudah
berhentinya menstruasi. Perasaan panas terjadi akibat
peningkatan aliran darah di dalam pembuluh darah wajah,
leher, dada dan punggung.kulit menjadi merah dan hangat
disertai keringat yang berlebihan (keringat terutama pada
malam hari) dan jantung berdebar-debar (Proverawati,
2010).


15

b) Night Sweat ( keringat dimalam hari)
Meskipun hot flushes dan berkeringat secara bersamaan
dialami sebagian besar wanita, tapi sebagian ada yang
merasakan hot flushes tanpa berkeringat dan sebagian lagi
hanya berkeringat.
c) Dryness Vaginal (kekeringan pada vagina)
Area genital yang kering dan bisa sebagai bahan
perubahan kadar estrogen.
d) Insomnia
Beberapa wanita mengalami kesulitan saat tidur,
mereka tidak dapat tidur dengan mudah atau bangun terlalu
dini. Hot flushes juga dapat menyebabkan perempuan
bangun dari tidur. Selain itu kesulitan tidur dapat
disebabkan karena rendahnya kadar serotonin pada masa
premenopause.
e) Penurunan Libido
Para penelitian melaporkan, wanita yang keinginan
seksualnya berkurang selama menopause lebih banyak
melaporkan gangguan tidur, keringat malam dan depresi.
Hal tersebut terjadi karena perubahan vagina, seperti
kekeringan, yang membuat area genital sakit dan selain itu
terjadi perubahan hormonal sehingga dapat menurunkan
16

gairah seks. Libido yang rendah mungkin disebabkan
masalah psikologis, biologis, atau sosial, jadi membutuhkan
penyelidikan aspek-aspk untuk mengetahui penyebabnya.
f) Inkontinensia Urin
Beberapa wanita memiliki risiko lebih terhadap
adanya infeksi saluran urin. Masalah lain yang muncul
adalah kesulitan untuk menampung air seni yang cukup
lama hingga dapat sampai ke kamar mandi. Beberapa
wanita menemukan bahwa kebocoran air seni selama
latihan, bersin, batuk, tertawa atau berjalan.
b. Secara Psikologis
1) Penurunan daya ingat dan mudah tersinggung
Penurunan kadar estrogen berpengaruh terhadap
neurotransmiter yang ada di otak. Neurotransmiter ini
berfungsi dalam menunjang proses kehidupan. Penurunan
kadar endorfin, dopamin, dan serotonin tersebut
mengakibatkan gangguan yang berupa menurunnya daya ingat
dan suasana hati yang sering berubah atau mudah tersinggung.
2) Depresi (rasa cemas)
Deresi ataupun stress sering terjadi pada wanita yang
berada pada masa pre menopause. Hal ini terkait dengan
penurunan hormon estrogen sehingga menyebabkan wanita
17

mengalami depresi ataupun stress. Turunnya hormon estrogen
menyebabkan turunnya neurotransmiter di dalam otak,
neurotransmiter di dalam otak tersebut mempengaruhi suasana
hati sehingga jika neurotransmiter ini kadarnya rendah, maka
akan muncul perasaan cemas yang merupakan pencetus
terjadinya depresi ataupun stress.
4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Menopause
Saat masuknya seseorang dalam fase menopause sangat berbeda-
beda. Wanita di Eropa tidak sama usia menopausenya dengan wanita
di Asia. Umur waktu terjadinya menopause dipengaruhi oleh
keturunan, kesehatan umum, dan pola kehidupan. Ada kecendrungan
dewasa ini untuk terjadinya menopause pada umur yang lebih tua.
Menopause rupanya ada hubungan dengan menarche. Makin dini
menarche terjadi, makin lambat menopause timbul. Sebaliknya makin
lambat menarche terjadi, makin cepat menopause timbul
(Wiknjosastro, 2009). Memasuki usia menopause lebih awal juga
dijumpai pada wanita perokok berat, kurang gizi, dan wanita dengan
sosioekonomi rendah (Baziad, 2003).



18

B. Kesiapan Wanita Pramenopause Dalam Menghadapi Menopause
Kesiapan seorang wanita menghadapi menopause akan sangat
membantu ia menjalani masa ini dengan lebih baik (Bramantyo, 2002).
Kesiapan wanita pramenopause menghadapi menopause adalah kesediaan
wanita pramenopause untuk bertindak dalam menghadapi segala sesuatu
yang berhubungan dengan menopause.
1. Upaya yang sebaiknya dilakukan ketika wanita pramenopause hendak
memasuki menopause (Proverawati, 2010).
a. Mengkonsumsi makanan bergizi
Menopause adalah bagian alami dari kehidupan seorang
wanita. Hormon estrogen yang dikeluarkan indung telur berkurang
secara drastis. Untuk mencegah konsekuensi dari rendahnya kadar
estrogen, selama masa transisi, sebaiknya ubah pola hidup, termasuk
pola makan. Konsumsi zat gizi yang dapat mengurangi gejala
menopause serta mencegah masalah yang dapat timbul setelah
menopause, seperti osteoporosis (Lestary, 2010). Makanan harus
tinggi serat, rendah lemak, cukup protein, banyak mengandung
vitamin dan mineral misalnya buah-buahan dan sayur-sayuran hijau
(Purwoastuti, 2008).
b. Olahraga secara teratur
Lila Nachtigall menyarankan agar para wanita melakukan
olahraga untuk menghadapi gejala menopause. Olahraga bisa berupa
jalan kaki, aerobik atau melakukan latihan di pusat kebugaran.
19

Olahraga yang teratur diyakini bisa mengurangi risiko seperti
perdarahan dan bahkan mengurangi risiko lain sebagai dampak dari
gejala menopause. Olahraga akan membuat para wanita akan merasa
lebih baik secara fisik (Lestary, 2010).
Olahraga teratur minimal 30 menit dalam sehari. Olahraga
mempunyai banyak manfaat. Olahraga yang teratur meningkatkan
harapan hidup dan memperbaiki kesehatan secara menyeluruh.
Kegiatan fisik yang teratur dapat mengurangi risiko kanker, penyakit
jantung, dan osteoporosis. Juga dapat mengurangi atau mengurangi
gejala menopause (Proverawati, 2010).
Berbagai manfaat yang dapat kita peroleh dengan olahraga
antara lain : membuat jantung kuat, dimana semakin memperlancar
peredaran darah dan pernafasan, mempercepat sistem pencernaan
dan membantu menyingkirkan masalah pencernaan seperti sembelit,
menetralkan depresi, meningkatkan kapasitas untuk bekerja dan
mengarahkan pada kehidupan yangbaktif, membantu membakar
lemak dan mengatasi kegemukan, membantu mengatasi masalah
selera makan, mengencangkan otot kaki, paha dan pungung, dan
membuat tidur lebih nyenyak (Proverawati, 2010).



20

c. Menghindari Stres
Usahakan untuk membiasakan gaya hidup rileks dan
menghindari tekanan yang dapat membebani pikiran. Hal ini penting
untuk mengatasi dampak psikologis akibat menopause. Stres atau
keadaan tegang akan merangsang otak yang dapat mengganggu
keseimbangan hormon yang akhirnya berdampak pada kesehatan
tubuh.
d. Hindari Rokok
Perilaku hidup yang sehat juga berperan penting dalam
pencegahan gejala menopause, misalnya tidak merokok. Penelitian
membuktikan bahwa wanita yang merokok mempunyai kadar
estrogen yang lebih rendah dari pada wanita yang tidak merokok
(Proverawati, 2010).
C. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kesiapan Wanita
Pramenopause Menghadapi Menopause
1. Pengetahuan
Pengetahuan sangat penting sekali bagi seseorang untuk dapat
memperoleh suatu informasi yang mudah dipahami oleh masyarakat,
karena pendidikan kesehatan sangat penting untuk mendukung
perilaku sehat, pengetahuan yang baik akan diiringi oleh sikap yang
sesuai dengan yang ada dan dilanjutkan dalam bentuk tindakan
(Notoatmodjo, 2007).
21

Pengetahuan wanita pramenopause mengenai menopause adalah
hasil dari tahu setelah wanita pramenopause melakukan pengindraan
terhadap perihal menopause. Pengetahuan wanita pramenopause
tentang menopause sangatlah diperlukan karena banyak wanita merasa
takut mencapai masa menopause. Sudah saatnya wanita pramenopause
tahu mengenai apa itu menopause, proses terjadinya menopause ,apa
saja tanda dan gejala menopause, dan perubahan-perubahan apa saja
yang terjadi pada masa menopause ( Prihartini, 2008).
Pengetahuan mengenai menopause sangat diperlukan oleh
wanita karena banyak wanita yang merasa takut mencapai masa
menopause dan malas membicarakan fase menopause, karena ada
anggapan umum bahwa ini adalah pintu yang harus dilalui menuju
usia tua (Mangoenprasodjo, 2004).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ismiyati (2010)
menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan
tentang menopause dengan kesiapan menghadapi menopause. Hasil
penelitian dari Rahmanoza (2004) menunjukkan bahwa pengetahuan
mempunyai hubungan yang positif dalam menghadapi masa
menopause didapatkan pula jumlah tingkat pengetahuan wanita usia
subur dalam menghadapi masa menopause yang berpengetahuan baik
berjumlah (51,4 %) yang kurang baik (48,6%).
22

Hal-hal yang harus diketahui wanita pramenopause dalam
menghadapi menopause adalah dengan menerapkan pola hidup sehat.
Wanita pramenopause dapat menerapkan pola hidup sehat dengan
mengkonsumsi makanan bergizi dan olahraga secara teratur.
Konsumsi zat yang dapat mengurangi gejala menopause serta
mencegah masalah yang dapat timbul setelah menopause seperti
osteoporosis( Lestary, 2010).
Zat gizi yang dapat membantu mengurangi keluhan menopause
antara lain Pertama, asam lemak omega 3, asam folat dan vitamin D
untuk mengikis keluhan depresi. Sumbernya dari ikan yang ada
lemaknya, sayuran berdaun hijau, jus jeruk dan produk susu. Kedua,
zat besi untuk mengurangi keluhan menstruasi berat. Sumbernya dari
daging merah, kacang-kacangan, bayam, kismis, sereal. Ketiga,
kalsium untuk mengurangi keluhan hot flashes. Sumbernya dari susu
rendah lemak dan produk olahan, sayuran berdaun hijau, ikan teri.
Keempat, vitamin D dan kalsium untuk mengurangi keluhan
osteoporosis. Sumbernya dari ikan yang berlemak, tuna, salmon,
sardine dan sayuran berdaun hijau (Lestary, 2010).
Olahraga teratur minimal 30 menit dalam sehari. Olahraga
mempunyai berbagai manfaat. Olahraga teratur meningkatkan harapan
hidup dan memperbaiki kesehatan secara menyeluruh. Olahraga dapat
mengurangi atau memperbaiki gejala menopause, pramenopause dan
sejumlah gejala penyakit lainnya (Proverawati, 2010).
23

Hal lain yang harus diketahui wanita pramenopause menjelang
menopause adalah tidak merokok (Purwoastuti, 2008). Merokok dapat
mempercepat terjadinya sindrom premenopause karena penelitian
membuktikan bahwa wanita yang merokok mempunyai kadar
estrogen yang lebih rendah dari pada wanita yang tidak merokok (
Proverawati, 2010).
2. Sikap
Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran,
keyakinan, dan emosi memegang peranan penting (Notoatmodjo,
2007). Sikap wanita pramenopause akan mengiringi hasil dari
pengetahuan terhadap masalah menopause sebagai aspek evaluatif
yang dapat bersifat positif atau negatif, sikap mengenai menopause
adalah suatu pandangan atau perasaan yang disertai kecendrungan
untuk bertindak terhadap perihal menopause (Prihartini, 2008). Suatu
contoh misalnya wanita pramenopause telah mendengar tentang
menopause, proses terjadinya menopause, tanda dan gejala
menopause. Pengetahuan ini akan membuat wanita pramenopause
untuk berpikir dan berusaha agar wanita pramenopause siap
menghadapi menopause. Dalam berpikir ini komponen emosi dan
keyakinan ikut bekerja sehingga wanita pramenopause berniat
menerapkan pola hidup sehat untuk memperlambat terjadinya
menopause. Wanita pramenopause ini mempunyai sikap tertentu
terhadap objek yaitu menopause.
24

Diperlukan sikap positif dalam menghadapi menopause dengan
diimbangi oleh informasi atau pengetahuan yang cukup sehingga ibu
lebih siap baik secara fisik, mental dan spiritual (Ismiyati, 2010).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahmanoza (2004) bahwa sikap
mempunyai hubungan yang positif dalam menghadapi masa
menopause.













25

D. Kerangka Teori
Menurut Lawrence green, 1980 dalam Notoatmodjo (2002)
perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu faktor predisposisi, faktor
pendukung dan faktor pendorong.
Kerangka teori dari penelitian ini adalah :










Gambar 1. Kerangka teori penelitian



Perilaku
kesehatan
Faktor Predisposisi :
Pendidikan
Pengetahuan
Sikap
Persepsi
Faktor Pendukung :
Fasilitas
Lingkungan
Faktor Pendorong :
Petugas kesehatan
Pendidik
26

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian Analitik dengan rancangan
penelitian cross sectional yaitu penelitian dimana variabel independen dan
dependen yang diteliti dalam waktu yang bersamaan (Notoatmodjo, 2005),
bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap wanita
pramenopause dengan kesiapan menghadapi menopause di Desa Sri
Agung Wilayah kerja Puskesmas Suban Kabupaten Tanjung Jabung Barat
Jambi tahun 2011.

B. Waktu dan Tempat
Tempat penelitian dilakukan di Desa Sri Agung Wilayah kerja
Puskesmas Suban Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi. Waktu
penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2010 sampai Agustus
2011.


27

C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua wanita pramenopause
usia 44-49 tahun yang berada di Desa Sri Agung Wilayah kerja
Puskesmas Suban Kabupaten Tanjab Barat Jambi tahun 2011 yang
berjumlah 126 orang.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti
(Arikunto, 2006). Jumlah sampel ditetapkan dengan menggunakan
rumus (Notoatmodjo, 2005)
N
n =
1 + N (d)
Keterangan :
N = besar populasi
n = besar sampel
d = tingkat kepercayaan / ketepatan yang diinginkan
Maka sampel yang dibutuhkan adalah :

126
n =
1 + 126 (0,05)

28

126
n =
1,315
n = 96

Dari rumus diatas maka didapatkan sampel dengan jumlah 96
orang wanita pramenopause dengan usia 44-49 tahun. Pengambilan
sampel dilakukan secara acak (simple random sampling).

D. Teknik Pengumpulan Data
1. Data Primer
Data yang diperoleh atau yang dikumpulkan langsung pada
sumbernya. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara
wawancara terpimpin. Pengumpulan data dibantu oleh dua orang
perawat Puskesmas Suban yang mempunyai persepsi yang sama
dengan peneliti.
2. Data Sekunder
Data yang diperoleh dari laporan Puskesmas Suban dan laporan Desa
Sri Agung Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi mengenai jumlah
wanita usia 44-49 tahun.


29

E. Pengolahan Data
1. Editing
Peneliti melakukan pengecekan pada semua pertanyaan di kuesioner,
dengan mengecek semua pertanyaan sudah terjawab dan hasilnya baik.
2. Coding
Memberi kode pada tiap variabel dengan cara mengganti huruf dengan
skor seperti berikut variabel pengetahuan, apabila jawaban benar maka
diberi kode 1, jika salah maka diberi kode 0. Untuk variabel sikap
menggunakan skala likert yaitu bila pernyataan positif, sangat setuju
(SS) diberi nilai 4, setuju (S) diberi nilai 3, tidak setuju (TS) diberi
nilai 2, sangat tidak setuju (STS) diberi nilai 1, bila pernyataan negatif,
sangat setuju (SS) diberi nilai 1, setuju (S) diberi nilai 2, tidak setuju
(TS) diberi nilai 3, sangat tidak setuju (STS) diberi nilai 4. Untuk
variabel kesiapan, apabila jawaban benar diberi kode 1, jika salah
maka diberi kode 0.
3. Entry
Setelah semua kegiatan pengkodean selesai dilakukan, maka langkah
selanjutnya adalah memasukkan semua data yang berbentuk numerik
kedalam master tabel dengan menggunakan program komputer.



30

4. Cleaning
Sebelum data dianalisis, data yang telah dimasukan perlu dilakukan
pengecekan kelengkapan data untuk memastikan bahwa data telah
bersih dari kesalahan pengkodean maupun dalam membaca kode
sehingga data dapat dianalisis.

F. Analisis Data
Data dianalisa dengan menggunakan software komputer melalui :
1. Analisis univariat
Analisis univariat digunakan dengan statistik deskriptif untuk
mengetahui distribusi frekuensi dan persentase dari masing-masing
variabel yang diteliti.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara dua
variabel yaitu variabel independen dan variabel dependen dengan
menggunakan uji statistik Chi Square. Dalam pengolahan data dari
hasil penelitian ini peneliti menggunakan perangkat lunak komputer
yang sesuai. Untuk melihat kemaknaan 0,05 sehingga bila nilai P <
0,05 maka hasil statistik dinilai bermakna. Jika P > 0,05 maka hasil
perhitungan statistik tidak bermakna.

31

G. Kerangka Konsep
Variabel Independen Variabel Dependen





Gambar 2. Kerangka konsep penelitian










Pengetahuan wanita
pramenopause
Sikap wanita
pramenopause
Kesiapan wanita
pramenopause
menghadapi
menopause
32

H. Defenisi Operasional
Variabel Defenisi
Operasional
Cara Ukur Alat
Ukur
Skala
Ukur
Hasil Ukur
Pengetahuan
wanita
pramenopause
tentang
menopause
Segala sesuatu yang
diketahui wanita
pramenopause tentang
menopause meliputi :
pengertian menopause,
proses terjadinya
menopause, tanda dan
gejala menopause, serta
perubahan-perubahan
yang terjadi pada masa
menopause.
Wawancara Kuesioner Ordinal Tinggi = 60%
Rendah = <60%
(Machfoedz,2009)
Sikap wanita
pramenopause
tentang
menopause
Respon wanita
pramenopause baik
positif maupun negatif
dalam menyikapi tentang
masalah menopause
Wawancara Kuesioner
dengan
skala
likert
Ordinal Sikap negatif :
(X) < median
Sikap positif : (X)
median
(Azwar, 2007)
Kesiapan wanita
pramenopause
menghadapi
menopause
Segala sesuatu atau upaya
untuk mempersiapkan
terjadinya menopause
Wawancara Kuesioner Ordinal Siap median
Tidak siap <
median



33

I. Hipotesis Penelitian
1. Ada hubungan antara pengetahuan wanita pramenopause dengan
kesiapan mengahadapi menopause di Desa Sri Agung Wilayah
Kerja Puskesmas Suban Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi
tahun 2011
2. Ada hubungan antara sikap wanita pramenopause dengan kesiapan
menghadapi menopause di Desa Sri Agung Wilayah Kerja
Puskesmas Suban Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi tahun
2011









34

BAB IV
HASIL PENELITIAN

Pengambilan data telah dilakukan pada bulan Maret 2011 selama 2
minggu di Desa Sri Agung Wilayah kerja Puskesmas Suban Kabupaten
Tanjung Jabung Barat Jambi. Dalam penelitian ini sampel berjumlah 96
responden dengan karakteristik responden sebagai berikut : pendidikan
wanita pramenopause yaitu lebih dari separoh (59,3%) berpendidikan rendah
(SD dan SMP). Pekerjaan wanita pramenopause terbanyak yaitu sebagai
petani (34,4%). Sebagian besar (96,9%) wanita pramenopause memiliki
suami. Riwayat penggunaan alat kontrasepsi wanita pramenopause hampir
separoh (49,0%) menggunakan kontrasepsi suntik.
A. Analisa Univariat
1. Distribusi Frekuensi Kesiapan
Tabel 4.1.Distribusi Frekuensi Kesiapan Responden Menghadapi
Menopause Di Desa Sri Agung Wilayah Kerja Puskesmas
Suban Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi Tahun 2011

Kesiapan Frekuensi Persentase
Tidak Siap 43 44,8
Siap 53 55,2
Jumlah 96 100

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa hampir separoh responden yang tidak
siap menghadapi menopause (44,8%).
35

2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan
Tabel 4.2.Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Tentang
Menopause Di Desa Sri Agung Wilayah Kerja Puskesmas
Suban Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi Tahun 2011

Pengetahuan Frekuensi Persentase
Rendah 59 61,5
Tinggi 37 38,5
Jumlah 96 100

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa lebih dari separoh responden yang
berpengetahuan rendah (61,5%).
3. Distribusi Frekuensi Sikap
Tabel 4.3.Distribusi Frekuensi Sikap Responden Tentang Menopause Di
Desa Sri Agung Wilayah Kerja Puskesmas Suban Kabupaten
Tanjung Jabung Barat Jambi Tahun 2011

Sikap Frekuensi Persentase
Negatif 44 45,8
Positif 52 54,2
Jumlah 96 100

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa hampir separoh responden yang
sikapnya negatif (45,8%).




36

B.Analisa Bivariat
4. Hubungan Pengetahuan Dengan Kesiapan Menghadapi Menopause

Tabel 4.4. Distribusi Pengetahuan Responden Berdasarkan Kesiapan
Menghadapi Menopause Di Desa Sri Agung Wilayah Kerja
Puskesmas Suban Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi
Tahun 2011


Pengetahuan Kesiapan

Total P Value

Tidak Siap Siap



Jumlah % Jumlah % Jumlah %
Rendah 42 71,2 17 28,8 59 100
Tinggi 1 2,7 36 97,3 37 100 0,000
Total 43 44,8 53 55,2 96 100

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa responden yang tidak siap
menghadapi menopause, presentasenya lebih tinggi pada responden yang
tingkat pengetahuannya rendah (71,2%) dibandingkan dengan yang
pengetahuannya tinggi (2,7%).
Dari hasil uji statistik chi-square didapatkan bahwa nilai (P value
0,000 < 0,05) dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang
signifikan antara pengetahuan wanita pramenopause dengan kesiapan
menghadapi menopause di Desa Sri Agung Wilayah Kerja Puskesmas Suban
Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi Tahun 2011.


37

5. Hubungan Sikap Dengan Kesiapan Menghadapi Menopause

Tabel 4.5.Distribusi Sikap Responden Berdasarkan Kesiapan
Menghadapi Menopause Di Desa Sri Agung Wilayah Kerja
Puskesmas Suban Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi
Tahun 2011

Sikap Kesiapan

Total P Value

Tidak Siap Siap



Jumlah % Jumlah % Jumlah %
Negatif 33 75,0 11 25,0 44 100
Positif 10 19,2 42 80,8 52 100 0,000
Total 43 44,8 53 55,2 96 100

Tabel 4.5 menunjukkan responden yang tidak siap menghadapi
menopause, persentasenya lebih tinggi pada responden yang sikapnya negatif
(75,0%) dibandingkan dengan yang sikapnya positif (19,2%).
Dari hasil uji statistik chi-square didapatkan bahwa nilai (P value
0,000 < 0,05), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan
yang signifikan antara sikap wanita pramenopause dengan kesiapan
menghadapi menopause di Desa Sri Agung Wilayah Kerja Puskesmas Suban
Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi Tahun 2011.




38

BAB V
PEMBAHASAN

A. Kesiapan Menghadapi Menopause
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan bahwa
hampir separoh responden yang tidak siap menghadapi menopause
(44,8%).
Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Hudiyawati (2008) di Semarang, didapatkan bahwa banyak responden
yang tidak mengetahui persiapan menghadapi menopause secsara benar
karena keterbatasan informasi yang diperoleh. Alasan tidak melakukan
persiapan karena tidak mempunyai dana dan waktu.
Kesiapan wanita pramenopause menghadapi menopause adalah
kesediaan wanita pramenopause untuk bertindak dalam menghadapi segala
sesuatu yang berhubungan dengan menopause. Kesiapan seorang wanita
menghadapi menopause akan sangat membantu ia menjalani masa ini
dengan lebih baik (Bramantyo 2002).
Kurangnya informasi tentang menopause dapat menyebabkan
pandangan yang negatif terhadap menopause sehingga mempengaruhi
kesiapan wanita dalam menghadapi menopause. Terlihat dari pertanyaan
yang diajukan bahwa (53,1%) responden tidak tahu apa yang harus
39

dilakukan untuk menghindari kegemukan pada saat menopause.
Responden tidak mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menghindari
pengeroposan tulang (56,3%).
Dampak dari tidak mengetahui tentang menopause membuat wanita
pramenopause tidak siap dalam menghadapi menopause. Ketidaksiapan
wanita pramenopause menghadapi menopause membuat wanita menjalani
menopause menjadi takut dan ingin menghindari menopause, padahal
menopause alamiah di alami oleh wanita.
Hal ini di asumsikan peneliti bahwa pengetahuan dan sikap wanita
pramenopause harus lebih ditingkatkan agar wanita pramenopause siap
menghadapi menopause. Dengan adanya pengetahuan yang tinggi dan
sikap yang positif wanita pramenopause akan lebih siap menghadpi
menopause.
B. Hubungan antara pengetahuan wanita pramenopause dengan
Kesiapan menghadapi menopause
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan bahwa
responden yang tidak siap menghadapi menopause, presentasenya lebih
tinggi pada responden yang tingkat pengetahuannya rendah (71,2%)
dibandingkan dengan yang pengetahuannya tinggi (2,7%).
Dari hasil uji statistik chi-square didapatkan bahwa nilai (P value
0,000 < 0,05), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan
yang signifikan antara pengetahuan wanita pramenopause dengan kesiapan
40

menghadapi menopause di Desa Sri Agung Wilayah kerja Puskesmas
Suban Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi Tahun 2011.
Hasil penelitian ini juga di dukung oleh penelitian yang dilakukan
oleh Ismiyati (2010) di Yogyakarta menunjukkan bahwa ada hubungan
antara tingkat pengetahuan tentang menopause dengan kesiapan
menghadapi menopause pada ibu premenopause.
Hasil penelitian ini sama dengan penelitian Rahmanoza (2004) di
Wilayah Kerja Puskesmas Padang Pasir menunjukkan bahwa pengetahuan
mempunyai hubungan yang positif dalam menghadapi masa menopause,
dimana didapatkan bahwa kebanyakan wanita lebih cendrung
berpengetahuan kurang, hal ini disebabkan karena belum seluruh dari
responden mendapatkan informasi yang tepat tentang menopause,sehingga
pengetahuan wanita usia subur perlu ditingkatkan agar mereka mengetahui
dengan baik melalui informasi yang tepat.
Wanita pramenopause yang memiliki pengetahuan yang tinggi
tentang menopause akan memiliki kesiapan dalam menghadapi
menopause, tetapi wanita pramenopause yang memiliki pengetahuan yang
rendah akan lebih cenderung tidak siap dalam menghadapi menopause.
Hal ini terlihat dari jawaban wanita pramenopause tentang : apa gejala
yang dialami wanita pada saat memasuki menopause yang menjawab salah
(64,6%), perubahan psikis apa yang sering dialami wanita menjelang
menopause yang menjawab salah (72,9%), apa yang sebaiknya dilakukan
41

wanita menjelang menopause dalam mengatasi masalah sulit tidur yang
menjawab salah (66,7%).
Menurut Lestary (2010) Hal-hal yang harus diketahui wanita
pramenopause dalam menghadapi menopause adalah dengan menerapkan
pola hidup sehat. Wanita pramenopause dapat menerapkan pola hidup
sehat dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan olahraga secara teratur.
Konsumsi zat yang dapat mengurangi gejala menopause serta mencegah
masalah yang dapat timbul setelah menopause seperti osteoporosis.
Pakasi (2000) juga mengatakan pengetahuan tentang perubahan
fisik dan psikis yang terjadi selama masa menopause akan menunjang
kesiapan ibu dalam menghadapi masa menopause dan wanita akan
memahami tentang menopause akan mengisi waktu luang dengan kegiatan
masyarakat yang bermanfaat dan membiasakan diri untuk berkonsultasi
dengan para ahli. Disinilah peranan tenaga kesehatan (perawat) sangat
dibutuhkan untuk memberikan dan menyampaikan penyuluhan kepada ibu
mengenai menopause.
Hal ini di asumsikan peneliti bahwa pengetahuan tentang
menopause bagi wanita pramenopause perlu mendapat perhatian. Wanita
pramenopause harus mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, olahraga
secara teratur, namun hal ini jarang dilakukan karena mereka belum
mengetahui secara jelas. Sehingga perlu dilakukan promosi kesehatan dan
penyebarluasan informasi tentang pengertian menopause, tanda dan gejala
42

menopause, perubahan psikis yang dialami wanita pramenopause yang
dapat dilakukan melalui pendekatan individu atau kelompok.
C. Hubungan antara sikap wanita pramenopause dengan kesiapan
menghadapi menopause
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan bahwa
responden yang tidak siap menghadapi menopause, persentasenya lebih
tinggi pada responden yang sikapnya negatif (75,0%) dibandingkan
dengan yang sikapnya positif (19,2%).
Dari hasil uji statistik chi-square didapatkan bahwa nilai (P value
0,000 < 0,05), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan
yang signifikan antara sikap wanita pramenopause dengan kesiapan
menghadapi menopause di Desa Sri Agung Wilayah kerja Puskesmas
Suban Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi Tahun 2011.
Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian yang dilakukan
oleh Prihatini (2008) di Semarang Barat menunjukkan bahwa ada
hubungan antara sikap dengan kesiapan wanita premenopause menghadapi
menopause.
Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2003) bahwa sikap
merupakan suatu tindakan atau aktivitas akan tetapi merupakan
predisposisi tindakan atau perilaku. Faktor-faktor yang mempengaruhi
suatu sikap untuk berubah menjadi suatu tindakan adalah orang yang
dianggap penting, pengaruh kebudayaan, media masa, pengaruh
43

lingkungan, lembaga pendidikan dan agama, faktor emosional dan
pengalaman pribadi.
Berdasarkan penelitian ini menunjukkan bahwa wanita
pramenopause yang memiliki sikap positif tentang menopause akan
memiliki kesiapan yang baik dalam menghadapi menopause, tetapi wanita
pramenopause yang memiliki sikap negatif akan lebih cenderung tidak
siap dalam menghadapi menopause. Sikap negatif wanita pramenopause
terlihat dari pertanyaan wanita pramenopause yang menjawab sangat
setuju antara lain : apabila memasuki menopause saya mengalami
kegemukan maka saya akan minum obat pelangsing sebanyak (35,4%),
saya akan minum obat tidur bila saya susah tidur dimalam hari sebanyak
(49,0%).
Diperlukan sikap positif dalam menghadapi menopause dengan
diimbangi oleh informasi atau pengetahuan yang cukup sehingga ibu lebih
siap baik secara fisik, mental dan spiritual (Ismiyati, 2010).
Sikap wanita pramenopause akan mengiringi hasil dari
pengetahuan terhadap masalah menopause sebagai aspek evaluatif yang
dapat bersifat positif atau negatif, sikap mengenai menopause adalah suatu
pandangan atau perasaan yang disertai kecendrungan untuk bertindak
terhadap perihal menopause (Prihartini, 2008).
Hal ini di asumsikan peneliti bahwa sikap yang negatif ini
dipengaruhi oleh rendahnya pengetahuan wanita pramenopause, dimana
ketidaktahuan wanita pramenopause untuk mempersiapkan diri dalam
44

menghadapi menopause dan kurang terpaparnya informasi tentang
menopause baik dari tingkat pendidikan, televisi maupun dari petugas
kesehatan sehingga terbatasnya pengetahuan yang dimiliki wanita
pramenopause membuat kurangnya sikap wanita pramenopause dalam
mempersiapkan diri menghadapi menopause.














45

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Berdasarkan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui Hubungan
Pengetahuan dan Sikap Wanita Pramenopause dengan kesiapan menghadapi
Menopause di Desa Sri Agung Wilayah Kerja Puskesmas Suban Kabupaten
Tanjung Jabung Barat Jambi Tahun 2011. Dalam penelitian ini sampel
berjumlah 96 responden, maka dapat diambil kesimpulan:
1. Hampir separoh (44,8%) wanita pramenopause yang tidak siap menghadapi
menopause di Desa Sri Agung Wilayah Kerja Puskesmas Suban Kabupaten
Tanjung Jabung Barat Jambi Tahun 2011.
2. Lebih dari separoh (61,5%) wanita pramenopause yang berpengetahuan
rendah di Desa Sri Agung Wilayah Kerja Puskesmas Suban Kabupaten
Tanjung Jabung Barat Jambi Tahun 2011.
3. Hampir separoh (45,8%) wanita pramenopause yang sikapnya negatif di
Desa Sri Agung Wilayah Kerja Puskesmas Suban Kabupaten Tanjung
Jabung Barat Jambi Tahun 2011.
4. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan wanita
pramenopause dengan kesiapan menghadapi menopause di Desa Sri Agung
Wilayah kerja Puskesmas Suban Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi
Tahun 2011.
46

5. Terdapat hubungan yang bermakna antara sikap wanita pramenopause
dengan kesiapan menghadapi menopause di Desa Sri Agung Wilayah kerja
Puskesmas Suban Kabupaten Tanjung Jabung Barat Jambi Tahun 2011.

B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas maka harapan peneliti terhadap hasil
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Diharapkan adanya upaya dari Pimpinan Puskesmas Suban untuk
mempersiapkan wanita pramenopause menghadapi menopause dengan cara
meningkatkan pengetahuan dan sikap tentang menopause kepada wanita
pramenopause melalui pendidikan kesehatan tentang apa itu menopause, apa
tanda dan gejala menopause, apa yang harus dipersiapkan menjelang
menopause, apa saja faktor-faktor yang memperlambat atau mempercepat
terjadinya menopause.
2. Diharapkan bagi peneliti berikutnya untuk dapat melanjutkan penelitian ini
dengan melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan kesiapan wanita
pramenopause dalam menghadapi menopause.