Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN KELOMPOK

HOSPITAL TOUR
KELAS A-03
Oleh :
FAUZI SATRIA 1107101010118
KHOLIL ABDUL KARIM 1107101010119
NIDHA SARI 1107101010219
KIKI RIZKI ANANDA 1107101010021
THIFLA FARHANI 110710101002
OKTA!IAN ARMANDA 11071010101"9
EL!I NURUL HIDA#ATI 11071010100$1
RASUNA %AMILAN 1107101010132
&UT MERR# SAHARA PUTRI 1107101010171
HUSNA ISLAHUDDIN 11071010100$0
RAHMAT 'INANDAR 11071010101$"
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNI!ERSITAS S#IAH KUALA
201
1
KASUS TRAUMA KAPITIS
PENDAHULUAN
1( De)*+*,*
Menurut Brain Injury Association of America, trauma kapitis merupakan
suatu kerusakan pada kepala yang bukan bersifat congenital maupun
degenerative tetapi disebabkan oleh serangan/ benturan fisik dari luar yang dapat
mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan
kemampuan kognitif dan fungsi fisik. (American ollege of !urgeon ommittee
on "rauma, #$$%&.
2( E-*.l./*
'enyebab trauma kapitis menurut or(in, ) (#$$*& adalah sebagai
berikut+
,ecelakaan mobil
'erkelahian
-atuh
edera olahraga
"rauma kapitis terbuka sering disebabkan oleh luka karena peluru atau
pisau
3( E0*1e2*.l./*
.i Amerika !erikat, kejadian trauma kapitis setiap tahunnya diperkirakan
mencapai /$$.$$$ kasus. .ari jumlah tersebut, 0$1 meninggal sebelum tiba di
rumah sakit. 2ang sampai di rumah sakit, 3$1 dikelompokkan sebagai trauma
kapitis ringan (,4&, 0$1 termasuk trauma kapitis sedang (,!&, dan 0$1
sisanya adalah trauma kapitis berat (,B&. Insiden trauma kapitis terutama
terjadi pada kelompok usia produktif antara 0/5%% tahun. ,ecelakaan lalu lintas
merupakan penyebab %315/61 dari insiden trauma kapitis, #$15#31 lainnya
karena jatuh dan 615*1 lainnya disebabkan tindak kekerasan, kegiatan olahraga
dan rekreasi.
.ata epidemiologi di Indonesia belum ada, tetapi data dari salah satu
rumah sakit di -akarta, 4! ipto Mangunkusumo, untuk penderita ra(at inap,
terdapat 7$158$1 dengan ,4, 0/15#$1 ,!, dan sekitar 0$1 dengan ,B.
Angka kematian tertinggi sekitar 6/15/$1 akibat ,B, /150$1 ,!,
sedangkan untuk ,4 tidak ada yang meninggal. 3American ollege of !urgeon
ommittee on "rauma, #$$%&.

( Kl4,*)*54,*
edera kepala diklasifikasikan dalam berbagai aspek. !ecara praktis
cedera kepala diklasifikasikan berdasarkan mekanisme, beratnya dan morfologi
cedera kepala.
A. Mekanisme cedera kepala
Berdasarkan mekanisme cedera kepala dibagi atas +
a.edera kepala tumpul
edera kepala tumpul, dapat terjadi akibat9
0.,ecepatan tinggi berhubungan dengan kecelakaan
mobil5Motor.
#.,ecepatan rendah, biasanya disebabkan jatuh dari ketinggian atau
dipukul dengan benda tumpul.
b.edera kepala tembus
.isebabkan oleh +
5 cedera peluru
5 cedera tusukan
Adanya penetrasi selaput dura menentukan apakah suatu cedera termasuk
cedera tembus atau cedera tumpul.
B. Beratnya cedera kepala
:lasgo( oma !cale (:!& digunakan untuk menilai secara kuantitatif
kelainan neurologis dan dipakai secara umum dalam deskripsi beratnya
penderita cedera kepala

Berdasarkan skor :!, beratnya cedera kepala dibagi atas +
a. edera kepala ringan + :! 0% ; 0/
b. edera kepala sedang + :! * ; 06
c. edera kepala berat + :! 6 5 3
. Morfologi cedera kepala
!ecara morfologi cedera kepala dapat dibagi atas+
a.<raktur kranium.
<raktur kranium dapat terjadi pada atap atau dasar tengkorak. "erbagi atas+
0.<raktur kalvaria + = bisa berbentuk garis atau bintang
= depresi atau non depresi
= terbuka atau tertutup.
#. <raktur dasar tengkorak + = .engan atau tanpa kebocoran cerebrospinal fluid
(!<&
= .engan atau tanpa paresis >.?II.
b.@esi intrakranium.
.apat digolongkan menjadi +
@esi fokal + = 'erdarahan epidural
= 'erdarahan subdural
= 'erdaraha intraserebral
@esi difus + = ,omosio ringan
= ,omosio klasik
= edera akson difus
$( M4+*)e,-4,* Kl*+*,
Manifestasi klinis dari trauma kapitis timbul berdasarkan derajat trauma
yang terjadi. Aal utama yang harus diperhatikan adalah :! (:lasgo( oma
!cale&, karena pasien biasanya mengalami penurunan kesadaran. ,emudian juga
observasi apakah terjadi peningkatan "I, ("ekanan Intra ,ranium& dengan
memperhatikan trias klasik+ nyeri kepala, papil edema dan muntah yang
seringkali proyektil.
"( P4-.)*,*.l./*
'atofisiologi trauma kapitis dapat di golongkan menjadi # yaitu trauma
kapitis primer dan trauma kapitis sekunder. "rauma kapitis primer merupakan
suatu proses biomekanik yang dapat terjadi secara langsung saat kepala terbentur
dan memberi dampak cedera jaringan otak. "rauma kapitis primer adalah
kerusakan yang terjadi pada masa akut, yaitu terjadi segera saat benturan terjadi.
,erusakan primer ini dapat bersifat (fokal& local, maupun difus. ,erusakan fokal
yaitu kerusakan jaringan yang terjadi pada bagian tertentu saja dari kepala,
sedangkan bagian relative tidak terganggu. ,erusakan difus yaitu kerusakan
yang sifatnya berupa disfungsi menyeluruh dari otak dan umumnya bersifat
makroskopis.
"rauma kapitis sekunder terjadi akibat trauma kapitis primer, misalnya
akibat hipoksemia, iskemia dan perdarahan. 'erdarahan cerebral menimbulkan
hematoma, misalnya epidural hematom yaitu adanya darah di ruang )pidural
diantara periosteum tengkorak dengan durameter,subdural hematoma akibat
berkumpulnya darah pada ruang antara durameter dengan subarakhnoid dan intra
cerebal hematom adalah berkumpulnya darah didalam jaringan cerebral.
(:ennarelli, 0**7 dalam Israr dkk, #$$* &.
'ada trauma kepala, dapat timbul suatu lesi yang bisa berupa perdarahan
pada permukaan otak yang berbentuk titik5titik besar dan kecil, tanpa kerusakan
pada duramater, dan dinamakan lesi kontusio. @esi kontusio di ba(ah area
benturan disebut lesi kontusio BcoupC, di seberang area benturan tidak terdapat
gaya kompresi, sehingga tidak terdapat lesi. -ika terdapat lesi, maka lesi tersebut
dinamakan lesi kontusio Bcountercoup. ,epala tidak selalu mengalami
akselerasi linear, bahkan akselerasi yang sering dialami oleh kepala akibat
trauma kapitis adalah akselerasi rotatorik. Bagaimana caranya terjadi lesi pada
akselerasi rotatorik adalah sukar untuk dijelaskan secara terinci. "etapi faktanya
ialah, bah(a akibat akselerasi linear dan rotatorik terdapat lesi kontusio coup,
countercoup dan intermediate. 2ang disebut lesi kontusio intermediate adalah
lesi yang berada di antara lesi kontusio coup dan countrecoup. (Mardjono dan
!idharta, #$$3&.
Akselerasi5deselerasi terjadi karena kepala bergerak dan berhenti secara
mendadak dan kasar saat terjadi trauma. 'erbedaan densitas antara tulang
tengkorak (substansi solid& dan otak (substansi semisolid& menyebabkan
tengkorak bergerak lebih cepat dari muatan intra kranialnya. Bergeraknya isi
dalam tengkorak memaksa otak membentur permukaan dalam tengkorak pada
tempat yang berla(anan dari benturan (countrecoup&. (Aickey, #$$6 dalam Israr
dkk,#$$*&.
,erusakan sekunder terhadap otak disebabkan oleh siklus pembengkakan
dan iskemia otak yang menyebabkan timbulnya efek kaskade, yang efeknya
merusak otak. edera sekunder terjadi dari beberapa menit hingga beberapa jam
setelah cedera a(al. !etiap kali jaringan saraf mengalami cedera, jaringan ini
berespon dalam pola tertentu yang dapat diperkirakan, menyebabkan berubahnya
kompartemen intrasel dan ekstrasel. Beberapa perubahan ini adalah
dilepaskannya glutamin secara berlebihan, kelainan aliran kalsium, produksi
laktat, dan perubahan pompa natrium pada dinding sel yang berperan dalam
terjadinya kerusakan tambahan dan pembengkakan jaringan otak.
>euron atau sel5sel fungsional dalam otak, bergantung dari menit ke menit
pada suplai nutrien yang konstan dalam bentuk glukosa dan oksigen, dan sangat
rentan terhadap cedera metabolik bila suplai terhenti. edera mengakibatkan
hilangnya kemampuan sirkulasi otak untuk mengatur volume darah sirkulasi
yang tersedia, menyebabkan iskemia pada beberapa daerah tertentu dalam otak.
(@ombardo, #$$7&
7( Pe+e/454+ D*4/+.,*,
Drutan penegakan diagnosis trauma kapitis adalah sebagai berikut+
0. Anamnesis
.iagnosis cedera kepala biasanya tidak sulit ditegakkan + ri(ayat
kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja atau perkelahian hampir selalu
ditemukan. 'ada orang tua dengan kecelakaan yang terjadi di rumah,
misalnya jatuh dari tangga, jatuh di kamar mandi atau sehabis bangun
tidur, harus dipikirkan kemungkinan gangguan pembuluh darah otak
(stroke& karena keluarga kadang5kadang tak mengetahui pasti urutan
kejadiannya, jatuh kemudian tidak sadar atau kehilangan kesadaran lebih
dahulu sebelum jatuh.
Anamnesis lebih rinci tentang+
a. !ifat kecelakaan.
b. !aat terjadinya, beberapa jam/hari sebelum diba(a ke rumah sakit.
c. Ada tidaknya benturan kepala langsung.
d. ,eadaan penderita saat kecelakaan dan perubahan kesadaran sampai
saat diperiksa. Bila si pasien dapat diajak berbicara, tanyakan urutan
peristi(anya sejak sebelum terjadinya kecelakaan, sampai saat tiba di
rumah sakit untuk mengetahui kemungkinan adanya amnesia retrograd.
Muntah dapat disebabkan oleh tingginya tekanan intrakranial. 'asien
tidak selalu dalam keadaan pingsan (hilang / turun kesadarannya&, tapi
dapat kelihatan bingung / disorientasi (kesadaran berubah&
#. 'emeriksaan <isik
Aal terpenting yang pertama kali dinilai bahkan mendahului trias adalah
status fungsi vital, status kesadaran pasien dan status neurologis.
a. !tatus fungsi vital
2ang dinilai dalam status fungsi vital adalah+
= Air(ay (jalan napas& dibersihkan dari benda asing, lendir atau darah, bila
perlu segera dipasang pipa naso/orofaring9 diikuti dengan pemberian
oksigen. Manipulasi leher harus berhati5hati bila ada ri(ayat / dugaan
trauma servikal ((hiplash injury&.
= Breathing (pernapasan& dapat ditemukan adanya pernapasan heyne5
!tokes, Biot/hiperventilasi, atau pernapasan ataksik yang menggambarkan
makin buruknya tingkat kesadaran.
= irculation (nadi dan tekanan darah&. 'emantauan dilakukan untuk
menduga adanya shock, terutama bila terdapat juga trauma di tempat lain,
misalnya trauma thoraE, trauma abdomen, fraktur ekstremitas. !elain itu
peninggian tekanan darah yang disertai dengan melambatnya frekuensi
nadi dapat merupakan gejala a(al peninggian tekanan intrakranial, yang
biasanya dalam fase akut disebabkan oleh hematoma epidural.
b. !tatus kesadaran pasien
ara penilaian kesadaran yang luas digunakan ialah dengan !kala ,oma
:lasgo(9 cara ini sederhana tanpa memerlukan alat diagnostik sehingga
dapat digunakan balk oleh dokter maupun pera(at. Melalui cara ini pula,
perkembangan/perubahan kesadaran dari (aktu ke (aktu dapat diikuti
secara akurat. 2ang dinilai adalah respon membuka mata, respon verbal
dan respon motorik.
c. !tatus neurologis
'emeriksaan neurologik pada kasus trauma kapitis terutama ditujukan
untuk mendeteksi adanya tanda5tanda fokal yang dapat menunjukkan
adanya kelainan fokal, dalam hal ini perdarahan intrakranial. "anda fokal
tersebut ialah + anisokori, paresis / paralisis, dan refleks patologis..
!elain trauma kepala, harus diperhatikan adanya kemungkinan cedera di
tempat lain seperti trauma thoraE, trauma abdomen, fraktur iga atau tulang
anggota gerak harus selalu dipikirkan dan dideteksi secepat mungkin.
6. 'emeriksaan 'enunjang
<oto 4ontgen tengkorak (A' @ateral& biasanya dilakukan pada keadaan+
defisit neurologik fokal, liFuorrhoe, dugaan trauma tembus/fraktur impresi,
hematoma luas di daerah kepala.
'erdarahan intrakranial dapat dideteksi melalui pemeriksaan arterografi
karotis atau " !can kepala yang lebih disukai, karena prosedurnya lebih
sederhana dan tidak invasif, dan hasilnya lebih akurat. Meskipun demikian
pemeriksaan ini tidak dapat dilakukan di setiap rumah sakit. " !can juga
dapat dilakukan pada keadaan+ perburukan kesadaran, dugaan fraktur basis
kranii
8( Pe+4-4l45,4+44+
a. 'enatalaksanaan "rauma kapitis 4ingan (:! 0%50/&, dilakukan+
'emeriksaan umum untuk menyingkirkan adanya cedera sistemik
'emeriksaan neurologis terbatas
'emeriksaan foto polos vertebra servikal dan lainnya sesuai indikasi
'emeriksaan kadar alcohol dalam darah dan Gat toksik dalam urine
'emeriksaan " scan kepala sangat ideal pada setiap penderita
,ecuali apabila memang sama sekali tidak ada gejala dan pemeriksaan
neurologis normal
'asien diobservasi atau dira(at di rumah sakit apabila+
" scan tidak ada / abnormal
edera tembus
Adanya ri(ayat hilang kesadaran
,esadaran menurun
!akit kepala sedang5berat
,ebocoran likuor +rhinorrhea H otorrhea
:! I 0/
.eficit neurologis fokal
'asien dapat dipulangkan dari rumah sakit apabila+
'asien tidak memenuhi kriteria ra(at
.iskusikan kemungkinan kembali ke rumah sakit apabila keadaan pasien
memburuk dan berikan lembar observasi
-ad(alkan untuk kontrol ulang
b. 'enatalaksanaan "rauma kapitis !edang (:! *506&, dilakukan+
0. 'emeriksaan A(al
'emeriksaan yang sama dengan trauma kapitis ringan dan ditambah
dengan pemeriksaan darah sederhana
'emeriksaan " scan kepala pada semua kasus
.ira(at untuk observasi
#. !etelah dira(at
'emeriksaan neurologis secara periodik
'emeriksaan " scan ulang apabila kondisi pasien memburuk atau pada
saat pasien akan dipulangkan
Apabila kondisi pasien membaik (*$1&, maka+
Apabila memungkinkan, pasien boleh pulang
ontrol ke poliklinik
Apabila kondisi pasien memburuk (0$1&+
Apabila pasien tidak mampu melakukan perintah lagi, maka segera dilakukan
pemeriksaan " scan ulang dan dilakukan penatalaksanaan untuk trauma
kapitis berat.
c. 'enatalaksanaan "rauma kapitis Berat (:! 653&, dilakukan+
0. 'rimary !urvey dan 4esusitasi
Air(ay dengan ,ontrol !ervikal (!ervical !pine ontrol&
Breathing dan ?entilasi
irculation dengan ,ontrol 'erdarahan
.isability
)Eposure
#. !econdary !urvey dan ri(ayat BAM'@)C
6. 4eevaluasi neurologis+ :!
4espon buka mata
4espon motorik
4espon verbal
4espon cahaya pupil
%. Jbat5obatan
Manitol
Aiperventilasi sedang ('J
#
I 6/ mmAg&
Antikonvulsan
/. "es diagnostik
" scan
Dntuk terapi medikamentosa+
airan intravena
Aiperventilasi
Antikonvulsan
Manitol
Barbiturat
"indakan operatif kadang diperlukan pada+
@uka kulit kepala
<raktur depresi tengkorak
@esi massa intracranial
edera tajam pada otak
9( K.20l*54,*
Menurut :insberg, @. (#$$3&, komplikasi trauma kapitis adalah sebagai
berikut+
a. :ejala sisa trauma kepala berat
Bahkan setelah trauma kepala berat, kebanyakan pasien dapat kembali
mandiri. Akan tetapi, beberapa pasien dapat mengalami ketidak mampuan
baik secara fisik (disfasia, hemiparesis, palsi saraf kranial& dan mental
(gangguan kognitif, perubahan kepribadian&. !ejumlah kecil pasien akan tetap
dalam status vegetatif. "rauma kepala tetap merupakan penyebab kematian
yang signifikan ( */0$$.$$$ populasi per tahun&, terutama pada usia muda.
b. ,ebocoran cairan serebrospinal
Aal ini dapat terjadi mulai dari saat cedera, tetapi jika hubungan antara
rongga subraknoid dan telinga tengah atau sinus paranasal akibat fraktur basis
hanya kecil dan tertutup jaringan otak, maka hal ini tidak akanterjadi dan
pasien mungkin mengalami meningitis di kemudian hari. !elain terapi
infeksi, komplikasi ini membutuhkan reparasi bedah untuk robekan dura.
)ksplorasi bedah juga diperlukan jika terjadi kebocoran cairan cerebrospinal
persisten.
c. )pilepsi pascatrauma
"erutama terjadi pada pasien yang mengalami kejang a(al (dalam
minggu pertama setelah trauma&, amnesia pascatrauma yang lama (K #% jam&,
fraktur depresi kranium, atau hematoma intrakarnial.
d. !indrom pascakonkusi
>yeri kepala, vertigo, depresi, dan gangguan konsentrasi dapat menetap
bahkan setelah trauma kepala ringan. ?ertigo dapat terjadi akbibat cedera
vestibular (konkusi labirintin&.
e. Aematoma subdural kronik
f. <raktur tengkorak
Menunjukkan tingkat keparahan cedera. "idak diperlukan terapi khusus
kecuali terjadi trauma campuran, tekanan, atau berhubungan dengan
kehilangan @! kronis (misalnya fraktur fosa kranialis anterior dasar
tengkorak&.
g. 'erdarahan intrakranial
- 'erdarahan )kstradural
4obekan pada arteri meningea media. Aematoma diantara tengkorak dan
dura. !eringkali terdapat interval lucid sebelum terbukti tanda5tanda
peningkatan tekanan intrakranial ("I,& (penurunan nadi, peningkatan ".,
dilatasi pupil ipsilateral, paresis ata paralisis kontralateral. "etapi, dengan
evakuasi hematoma melalui lubang Burr.
5 'erdarahan !ubdural Akut
4obekan pada vena5vena diantara araknoid, dan durameter. Biasanya terjadi
pada orang lanjut usia. "erdapat perburukan neurologis yang progresif.
"etapi dengan evakuasi namun penyembuhan biasanya tidak sempurna.
5 Aematoma !ubdural ,ronis
4obekan pada vena5vena yang menyebabkan hematoma subdural akan
membesar secara perlahan akibat penyerapan @!. !ering kali yang
menjadi penyebab adalah trauma ringan. Mengantuk dan kebingungan, sakit
kepala, hemipalgia. "rapi dengan evakuasi bekuan darah.
5 'erdarahan Intraerebral
'erdarahan kedalam substansi otak yang menyebabkan kerusakan
irreversibel. Dsaha dilakukan untuk mencegah trauma sekunder dengan
memastikan oksigenasi dan nutrisi yang adekuat.
10( P6./+.,*,
'rognosis berhubungan dengan derajat kesadaran saat tiba di rumah sakit.
7&S ,44- -*84 M.6-4l*-4,
0/
350#
I 3
01
/1
%$1
S928e6 : :race, 'A., Borley >4. (#$$8&
2
KASUS FRAKTUR KOLUM FEMUR
PENDAHULUAN
1( De)*+*,*
<raktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang
dan atau tulang ra(an yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. <raktur colum
femur adalah fraktur yang terjadi pada colum tulang femur.
2( E-*.l./*
)tiologi fraktur femur+
a. "rauma langsung+ benturan pada tulang mengakibatkan fraktur ditempat
tersebut.
b. "rauma tidak langsung+ tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang
jauh dari area benturan.
c. <raktur patologis+ fraktur yang disebabkan trauma yamg minimal atau
tanpa trauma. ontoh fraktur patologis+ Jsteoporosis, penyakit metabolik,
infeksi tulang dan tumor tulang.
3( E0*1e2*.l./*
<raktur collum femur merupakan cedera yang banyak dijumpai pada
pasien usia tua dan menyebabkan morbiditas serta mortalitas. .engan
meningkatnya derajat kesehatan dan usia harapan hidup, angka kejadian fraktur
ini juga ikut meningkat. <raktur ini merupakan penyebab utama morbiditas pada
pasien usia tua akibat keadaan imobilisasi pasien di tempat tidur. 4ehabilitasi
membutuhkan (aktu berbulan5bulan. Imobilisasi menyebabkan pasien lebih
senang berbaring sehingga mudah mengalami ulkus dekubitus dan infeksi paru.
Angka mortalitas a(al fraktur ini adalah sekitar 0$1. Bila tidak diobati, fraktur
ini akan semakin memburuk. <raktur collum femur sering terjadi pada usia di
atas 7$ tahun dan lebih sering pada (anita yang disebabkan oleh kerapuhan
tulang akibat kombinasi proses penuaan dan osteoporosis pasca menopause.
@ebih dari #/$.$$$ fraktur pinggul terjadi di Amerika !erikat setiap tahun (/$1
termasuk fraktur collum femur&, dan jumlah ini diperkirakan dua kali lipat pada
tahun #$%$. 3$ 1 terjadi pada (anita, dan insidensinya menjadi # kali lipat
setiap / hingga 7 tahun pada (anita usia lebih dari 6$ tahun. (Brunner and
!uddarth, #$$0&

( Kl4,*)*54,*
a. <raktur collum femur+
<raktur collum femur dapat disebabkan oleh trauma langsung yaitu misalnya
penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsung
terbentur dengan benda keras (jalanan& ataupun disebabkan oleh trauma tidak
langsung yaitu karena gerakan eEorotasi yang mendadak dari tungkai ba(ah,
dibagi dalam +
<raktur intrakapsuler (<raktur collum femur&
<raktur eEtrakapsuler (<raktur intertrochanter femur&
b. <raktur subtrochanter femur
<raktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke
posterior, hal ini biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari otot ; otot
gastrocnemius, biasanya fraktur supracondyler ini disebabkan oleh trauma
langsung karena kecepatan tinggi sehingga terjadi gaya aEial dan stress valgus
atau varus dan disertai gaya rotasi. fraktur dimana garis patahnya berada / cm
distal dari trochanter minor, dibagi dalam beberapa klasifikasi tetapi yang lebih
sederhana dan mudah dipahami adalah klasifikasi <ielding H Magliato, yaitu +
tipe 0 + garis fraktur satu level dengan trochanter minor
tipe # + garis patah berada 0 5# inch di ba(ah dari batas atas trochanter minor
tipe 6 + garis patah berada # 56 inch di distal dari batas atas trochanterminor
c. <raktur batang femur
<raktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan
lalu lintas dikota kota besar atau jatuh dari ketinggian, patah pada daerah ini
dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita
jatuh dalam shock, salah satu klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan
adanya luka yang berhubungan dengan daerah yang patah. .ibagi menjadi +
5 tertutup, tidak terdapat hubungan tulang patah dengan dunia luar.
5 terbuka, ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang
patah dengan dunia luar dibagi dalam tiga derajat, yaitu 9
.erajat I + Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil,
biasanya diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam menembus
keluar.
.erajat II + @ukanya lebih besar (K0cm& luka ini disebabkan karena
benturan dari luar.
.erajat III + @ukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan lunak
banyak yang ikut rusak (otot, saraf, pembuluh darah&
d.<raktur supracondyler femur
<raktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke
posterior, hal ini biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari otot ; otot
gastrocnemius, biasanya fraktur supracondyler ini disebabkan oleh trauma
langsung karena kecepatan tinggi sehingga terjadi gaya aEial dan stress valgus
atau varus dan disertai gaya rotasi.
e. <raktur intercondylair
Biasanya fraktur intercondular diikuti oleh fraktur supracondular, sehingga
umumnya terjadi bentuk " fraktur atau 2 fraktur.
f. <raktur condyler femur
Mekanisme traumanya biasa kombinasi dari gaya hiperabduksi dan adduksi
disertai dengan tekanan pada sumbu femur keatas.
$( M4+*)e,-4,* Kl*+*,
!etelah terjadinya trauma (terjatuh&, biasanya pasien akan mengalami
nyeri pada panggul dan tidak bisa berjalan. !emua pergerakan pada tungkai akan
menyebabkan nyeri.
"( P4-.)*,*.l./*
<raktur <emur adalah rusaknya kontinuitas tulang femur yang dapat
disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot , kondisi5kondisi tertentu
seperti degenerasi tulang/osteoporosis. Batang <emur dapat mengalami fraktur
akibat trauma langsung, puntiran, atau pukulan pada bagian depan yang berada
dalam posisi fleksi ketika kecelakaan lalu lintas.
"ulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas
untuk menahan tekanan. "api apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar
dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang
mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. !etelah terjadi
fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marro(, dan
jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. 'erdarahan terjadi karena
kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang.
-aringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. -aringan yang
mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai
dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih.
ini merupakan dasar penyembuhan tulang.
.aerah paha yang patah tulangnya akan terlihat sangat membengkak,
ditemukan tanda functio lesa, nyeri tekan dan nyeri gerak. "ampak adanya
deformitas angulasi ke lateral atau angulasi ke anterior. .itemukan adanya
pemendekan tungkai ba(ah. 'ada fraktur 0/6 tengah femur, saat pemeriksaan
harus diperhatikan pula kemungkinan adanya dislokasi sendi panggul dan
robeknya ligamentum didaerah lutut.

7( Pe+e/454+ D*4/+.,*,
'enegakan diagnosis fraktur collum femur dibuat berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
a.Anamnesis
.ari anamnesis diketahui adanya ri(ayat trauma/jatuh yang diikuti nyeri
pinggul, pada pemeriksaan didapatkan posisi panggul dalam keadaan fleksi,
eksorotasi dan abduksi. 'ada atlet yang mengalami nyeri pinggul namun masih
dapat berjalan pemeriksaan dimulai dengan ri(ayat rinci dan pemeriksaan fisik.
.okter harus menanyakan apakah gejala yang muncul terkait dengan olahraga
atau kegiatan tertentu. 4i(ayat latihan fisik harus diperoleh dan perubahan
dalam tingkat aktivitas, alat bantu, tingkat intensitas, dan teknik harus dicatat.
Adanya ri(ayat menstruasi harus diperoleh dari semua pasien (anita. Amenore
sering dikaitkan dengan penurunan kadar serum estrogen. ,urangnya estrogen
pelindung menyebabkan penurunan massa tulang. "rias yang dijumpai pada
(anita bisa berupa amenore, osteoporosis, dan makan teratur banyak
mempengaruhi perempuan aktif. "anda dan gejala pada perempuan meliputi
fatigue, anemia, depresi, intoleransi dingin, erosi enamel gigi. .okter harus
mencurigai adanya fraktur dan memahami tanda5tanda yang mungkin dari para
atlet (anita, terutama mencatat fraktur yang tidak biasa terjadi dari trauma
minimal. !ebagian besar atlet menggambarkan timbulnya rasa sakit selama #56
minggu, dimana dapat dijumpai perubahan dalam pelatihan atau penggunaan
peralatan latihan. Biasanya, pelari meningkatkan jarak tempuh mereka atau
intensitas, atau penggunaan sepatu lari. dokter harus bertanya tentang latihan
individu dan jarak tempuh.
'asien biasanya melaporkan ri(ayat pinggul tiba5tiba, nyeri di
selangkangan, atau nyeri lutut yang memburuk dengan olahraga. ,arakteristik
dari fraktur adalah ri(ayat sakit setempat yang berkaitan dengan latihan yang
meningkat dan berkurang dengan aktivitas dan baik dengan istirahat atau dengan
aktivitas yang kurang. >yeri semakin parah dengan pelatihan lanjutan. 4asa
sakit berasal dari aktivitas berulang, dan berkurang dengan istirahat.
b. 'emeriksaan <isik
'emeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis adalah sebuah proses dari
seorang ahli medis yang memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis
penyakit. 'ada pemeriksaan ini,dapat ditentukan lokalisasi dan sifat5sifat dari
suatu penyakit. "anda ; tanda lokal yang biasanya kita periksa pada fraktur ini
adalah +
a. @ook+ 'embengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang abnormal,
angulasi, rotasi, pemendekan& mungkin akan terlihat dengan
jelas, tetapi hal yang penting adalah apakah kulit itu utuh9 kalau kulit robek
dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cedera terbuka
b. <eel+ "erdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian distal
dari fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. edera
pembuluh darah adalah keadaandarurat yang memerlukan pembedahan
c. Movement+ ,repitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih
penting untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi ; sendi
dibagian cedera.
c. 'emeriksaan 'enunjang
0. <oto 4ontgen
'ada proyeksi A' kadang tidak jelas ditemukan adanya fraktur pada kasus yang
impacted, untuk ini diperlukan pemerikasaan tambahan proyeksi aEial.
'ergeseran dinilai melalui bentuk bayangan tulang yang abnormal dan tingkat
ketidakcocokan garis trabekular pada kaput femoris dan ujung leher femur.
'enilaian ini penting karena fraktur yang terimpaksi atau tidak bergeser (stadium
I dan II :arden & dapat membaik setelah fiksasi internal, sementara fraktur yang
bergeser sering mengalami non union dan nekrosis avaskular.%,/
4adiografi foto polos secara tradisional telah digunakan sebagai langkah
pertama dalam pemeriksaan pada fraktur tulang pinggul. "ujuan utama dari film
E5ray untuk menyingkirkan setiap patah tulang yang jelas dan untuk menentukan
lokasi dan luasnya fraktur. Adanya pembentukan tulang periosteal, sclerosis,
kalus, atau garis fraktur dapat menunjukkan tegangan fraktur. 4adiografi
mungkin menunjukkan garis fraktur pada bagian leher femur, yang merupakan
lokasi untuk jenis fraktur. <raktur harus dibedakan dari patah tulang kompresi,
yang menurut .evas dan <ullerton dan !no(dy, biasanya terletak pada bagian
inferior leher femoralis. -ika tidak terlihat di film E5ray standar, bone scan atau
Magnetic 4esonance Imaging (M4I& harus dilakukan.
#. Bone !canning
Bone scanning dapat membantu menentukan adanya fraktur, tumor, atau infeksi.
Bone scan adalah indikator yang paling sensitif dari trauma tulang, tetapi mereka
memiliki kekhususan yang sedikit. !hin dkk melaporkan bah(a bone scanning
memiliki prediksi nilai positif 731. Bone scanning dibatasi oleh resolusi spasial
relatif dari anatomi pinggul.
.i masa lalu, bone scanning dianggap dapat diandalkan sebelum %358# jam
setelah patah tulang, tetapi sebuah penelitian yang dilakukan oleh Aold dkk
menemukan sensitivitas *61, terlepas dari saat cedera.
6. Magnetic 4esonance Imaging (M4I&
M4I telah terbukti akurat dalam penilaian fraktur dan andal dilakukan dalam
(aktu #% jam dari cedera, namun pemeriksaan ini mahal. .engan M4I, fraktur
biasanya muncul sebagai garis fraktur di korteks dikelilingi oleh Gona edema
intens dalam rongga meduler. .alam sebuah studi oleh Luinn dan Mcarthy,
temuan pada M4I 0$$1 sensitif pada pasien dengan hasil foto rontgen yang
kurang terlihat. M4I dapat menunjukkan hasil yang 0$$1 sensitif, spesifik dan
akurat dalam mengidentifikasi fraktur collum femur.
8( Pe+4-4l45,4+44+
0. 'rimary survey
!elama primary survey, perdarahan harus dikenal dan dihentikan.
,erusakan pada jaringan lunak dapat mengenai pembuluh darah besar dan
menimbulkan perdarahan yang banyak. Menurut Americans college of
surgeons (#$$%& "indakan tambahan pada primary survey+
Imobilisasi fraktur
Imobilisasi dilakukan untuk mencegah gerakan yang berlebihan pada
daerah fraktur. Bias dilakukan traksi untuk meluruskan ekstremitas
dan dengan alat imobilisasi. 'emakaian bidai secara benar akan
membantu menghentikan perdarahan, mengurangi nyeri dan
mencegah kerusakan jaringan lunak lebih lanjut.
<oto 4ontgen
Dmumnya pemeriksaan foto rontgen pada trauma skeletal merupakan
bagian dari secondary survey. <oto pelvis A' perlu segera dilakukan
pada penderita trauma multiple dengan sumber perdarahan yang
belum dapat ditentukan.
#. !econdary !urvey
"erapi ,onservatif
0. 'roteksi+ pemakaian mitela
#. Immobilisasi saja tanpa reposisi + pemasangan gips atau bidai bada fraktur
inkomplit
6. 4eposisi tertutup dan fiksasi dengan gips
%. "raksi
"erapi Jperatif
0. 4eposisi tertutup5fiksasi eksterna
#. 4eposisi tertutup dengan control radiologis diikuti dengan fiksasi interna
(!taff pengajar bagian ilmu bedah <,DI -akarta, #$$%&
9( K.20l*54,*
,omplikasi segerea terjadi pada saat terjadinya fraktur tulang9 komplikasi
dini terjadi dalam beberapa hari setelah kejadian9 dan komplikasi lambat terjadi
lama setelah patah tulang.,etiganya dibagi lagi masing5masing menjadi
komplikasi local dan umum.
0. ,omplikasi segera
"erjadi saat terjadinya fraktur tulang
a. @okal
a& ,ulit dan otot+ berbagai vulnus (abrasi, laserasi, sayatan, dll&, kontusio,
avulse
b& ?ascular+ terputus, kontusio, perdarahan
c& Jrgan dalam+ jantung, paru5paru, hepar, limpa (pada fraktur kosta&,
buli5buli (pada fraktur pelvis&
d& >eurologis + otak, medulla spinalis, kerusakan saraf perifer
b. Dmum
"rauma multiple, syok
#. ,omplikasi dini
a. @okal
>ekrosis kulit otot, sindrom kompartmen, thrombosis, infeksi sendi,
osteomyelitis
b. Dmum
A4.!, emboli paru, tetanus
6. ,ompllikasi lama
a. @okal
a& :annguan pada proses penyembuhan tulang +
0& Dnion
'enyambungan tulang tidak sempurna
#& >on5union
!ama sekali tidak menyambung
6& .elayedunion
'erlambatan penyambungan tulang
b& !endi+ ankilosis, penyakit degenerative sendi pascatrauma, miositis
osifikan, distrofi refleks, kerusakan saraf
b. Dmum
a& Batu ginjal (akibat imobilisasi lama di tempat tidur dan hiperkalsemia&
b& >eurosis pascatrauma
-ika komplikasi yang terjadi sebelum satu minggu pasca trauma disebut
komplikasi dini, jika komplikasi terjadi setelah satu minggu pasca trauma
disebut komplikasi lanjut. Ada beberapa komplikasi yang terjadi yaitu +
Infeksi, terutama pada kasus fraktur terbuka.
Jsteomielitis yaitu infeksi yang berlanjut hingga tulang.
Atropi otot karena imobilisasi sampai osteoporosis.
.elayed union yaitu penyambungan tulang yang lama.
>on union yaitu tidak terjadinya penyambungan pada tulang yang
fraktur.
Malunion yaitu keadaan dimana fraktur sembuh pada saatnya, tetapi
terdapat deformitas yang terbentuk angulasi, varus atau valgus, rotasi,
kependekan atau union secara menyilang misalnya pada fraktur radius
dan ulna.
Artritis supuratif, yaitu kerusakan kartilago sendi.
.ekubitus, karena penekanan jaringan lunak oleh gips.
@epuh di kulit karena elevasi kulit superfisial akibat edema.
"erganggunya gerakan aktif otot karena terputusnya serabut otot,
!indroma kompartemen karena pemasangan gips yang terlalu
ketat sehingga mengganggu aliran darah
10( P6./+.,*,
"ergantung pada sifat fracturenya, seorang atlet dapat kembali ke keadaan
sebelum terjadinya fracture tersebut.Displacedstress fracture pada
fracturecollum femur dapat mengakibatkan kelumpuhan (alaupun diterapi
dengan baik. .iagnosis dan penatalaksanaan a(al dapat mencegah terjadinya
displaced pada fracture dan memperbaiki prognosis yang akan terjadi.
H4,*l S96:e; M4,4l4h K.29+*-4, ;4+/ Te654*- 1e+/4+ T64924-.l./;
.ari hasil survey yang telah dilakukan pada ruang I:., kami
mendapatkan kasus trauma dan non trauma. 'ada kasus trauma terdapat kasus
trauma tajam dan tumpul. 'ada pasien yang kami lakukan observasi selama
hospital tour, kami berkesempatan menganamnesis pasien yang terkena trauma
tumpul pada kapitis. 'ada pasien yang non trauma kami juga berkesempatan
melakukan anamnesis pada pasien peritonitis. >amun yang kami laporkan pada
tugas kelompok kami hanya kasus trauma kapitis.
'ada ruang bangsal bedah terdapat kasus fraktur tulang panjang. ,ami
berkesempatan mengobservasi pasien fraktur kolum femur yang memiliki
ri(ayat osteoporosis.
M4,4l4h ;4+/ 1*1404- 146* H4,*l S96:e;
'ada saat melakukan anamnesis pada pasien trauma kepala kami sedikit
mengalami kesulitan karena pasien anak5anak, dimana emosionalnya masih
labil, sehingga terkadang ja(aban5ja(aban yang dikemukakan kurang objektif.
!ehingga kami banyak memperoleh ja(aban dari orangtuanya.
'ada pasien fraktur femoral kami mendapatkan pasien yang berusia lanjut,
sehingga kami agak kesulitan dalam melakukan anamnesis dan pemeriksaan
fisik. .ilakukan anamnesis hanya pada anak pasien sedangkan pasien hanya
diam saja dan tidak bisa berbicara karena mengeluh sakit.
A+4l*,*, M4,4l4h 14+ S464+ S.l9,*+;4
!aran sebaiknya orang tua selalu menga(asi anak5anaknya dikarenakan
anak5anak sangat aktif serta tidak mengetahui bahaya yang dapat ditimbukan
padanya. !edangkan pada kasus trauma fraktur kolum femur, diperlukan
pencegahan dini dari osteoporosis (karena pada kasus ini pasien memiliki
ri(ayat osteoporosis& dengan minum susu yang mengandung kalsium dan
olahraga teratur serta hindari melakukan aktivitas yang berat dikarenakan tulang
pada pasien osteoporosis sangat rapuh (
E!ALUASI
4( H4l-h4l P.,*-*) 14+ Me+;e+4+/54+ ;4+/ 1*1404-54+ Sel424 K9+<9+/4+
0. !elama kunjungan kami mengetahui bagaimana pasien yang mengalami
trauma tembus.
#. !elama kunjungan kami mendapatkan pasien sangat antusias dalam
menceritakan keluhannya.
6. !elama kunjungan kami mengetahui pasien yang mengalami fraktur
caput femur.
%. !elama kunjungan kami sangat senang sekali kali dapat berinteraksi
langsung dengan pasien dan dapat melihat bagaimana kondisi langsung
pasien.
8( H4l-h4l +e/4-*)
!elama hospital tour kami tidak menjumpai hal5hal negatif selama
kunjungan.
DAFTAR PUSTAKA
American ollege of !urgeon ommittee on "rauma. (#$$%&. "rauma kapitis.
.alam + Advanced Trauma Life Support fo Doctors. Ikatan Ahli Bedah
Indonesia. ,omisi trauma I,ABI.
Anonim. (#$0%&. Fraktur Collum Femoris Dewasa.
http+//(((.ahlibedahtulang.com/artikel503$5#55fracture5collum5femoris5
de(asa.html diakses pada tanggal 08 April #$0%
Brunner and !uddarth. (#$$0&. Buku Ajar Keperawatan edikal Beda!. )disi 6.
?olume 3. -akarta + ):.
<aiG, J. (#$$%&. At A "lance Series Anatom#. -akarta+ )rlangga.
:insberg, @. (#$$3&. Lecture $otes $eurolo%i (pp. 008&. -akarta+ )rlangga
:race, 'A., Borley >4. (#$$8&. At A "lance &lmu Beda! (pp. *6&. -akarta+
)rlangga.
Israr, 2.A., hristopher, A.'., -ulianti,4., "ambunan, 4., Aasriani, A., (#$$*&.
Trauma kapitis dan Fraktur Kruris. http+//(((.<iles5of5.rsMed.tk .
diakses pada tanggal 03 April #$0%
@ombardo, M.. (#$$7&. edera !istem !araf 'usat. .alam + 'rice, !.A., dan
Milson,@.M. 'atofisiolo%i ( Konsep Klinis 'roses)'roses 'en#akit.
-akarta + ):.
Mardjono, M., dan !idharta, '. (#$$3&. Mekanisme "rauma !usunan !araf
'usat. .alam + Mardjono, M., dan !idharta, '. $eurolo%i Klinis Dasar.
-akarta + .ian 4akyat

!taff pengajar bagian ilmu bedah <,DI -akarta. (#$$%&. Kumpulan Kulia! ilmu
*eda!. -akarta+ Balai penerbit <,DI.
Le2846 Pe2e6*5,44+ P4,*e+ T64924 K40*-*,
>ama + M. "aufiFurrahman
Dsia + 0# tahun
Alamat + Dlee ,areng, Ie Masen, ,aye Adang
'ekerjaan + !is(a ,elas / !.
,eluhan Dtama + @uka terbuka di kepala
4i(ayat 'enyakit !ekarang + 'asien datang ke instalasi ga(at darurat 4!DNA
Banda Aceh diantar oleh ibu dan neneknya. "erdapat adanya luka terbuka pada
regio parietal kepala di sisi sebelah kiri. 'asien merasakan adanya nyeri pada
luka, namun nyeri kepala dan pusing tidak ada. 'asien pada a(alnya tertimpa
ranting pohon, setelah tertimpa, pasien sempat berjalan pulang kerumah dan
mengetahui kepalanya telah luka dan berdarah dari adiknya. "idak ada cairan
yang keluar dari telinga ataupun hidung pasien. ,elemahan anggota gerak
disangkal. !aat kecelakaan, pasien tidak dalam keadaan sakit. "idak ada ri(ayat
kejang sebelumnya. 'asien terlebih dahulu diba(a ke puskesmas oleh nenek dan
ibunya. .i puskesmas, luka pasien dibersihkan oleh petugas puskesmas,
kemudia luka ditutup dengan kapas dan selotip tanpa dijahit. 'asien juga belum
diberikan obat5obatan sebelumnya. !elanjutnya, pasien dirujuk ke 4!DNA untuk
dilakukan penatalaksanaan lebih lanjut.
4i(ayat 'enyakit .ahulu + 4i(ayat alergi obat (5&
4i(ayat 'enyakit ,eluarga + 5
4i(ayat 'ola Aidup dan ,ebiasaan +
Merokok (5&
Alkohol(5&
>arkoba (5&
'emeriksaan fisik +
a. ,eadaan umum + "ampak sakit sedang
kesadaran + ompos Mentis :! O )
%
M
7
?
/
O 0/
,ooperasi + ,ooperatif
!ikap + .uduk tenang
,eadaan giGi + ukup
"ekanan .arah +
>adi + 0$$E/Menit, isi cukup, irama reguler, ,uat angkat
!uhu Badan +
'ernafasan +
b. ,eadaan @okal
"rauma !tigmata + ?ulnus laceratum regio parietal sinistra belum di hecting
,ulit + Marna sa(o matang, !ianosis (5&, ikterik (5&
,epala + >ormosefali, rambut hitam, distribusi merata, tidak
mudah dicabut, benjolan (5&, ?ulnus laceratum belum di hecting diperban pada
regio parietal sinistra, nyeri tekan (5&
.iagnosa klinis + ?ulnus @aceratum regio parietal sinistra
.iagnosis 'atologis +
.iagnosis )tiologi + "rauma kapitis ringan
'enatalaksanaan+
0. !urvey primer+ AB.)
#. 'era(atan @uka + Mound "oilet dan Aecting
4encana Medikamentosa+
efotaksim /$50$$ mg/kgbb/hari
.eEamethason $,#/5# mg/kgbb/hari
,etorolac $,/50 mg/kgbb
4encana 'emeriksaan +
" !can
Le2846 Pe2e6*5,44+ P4,*e+ F645-96 K.l92 Fe296
>ama + ,hadijah
Dmur + /$ tahun
'ekerjaan + 'etani
Alamat + @hoksukon
,eluhan Dtama + >yeri pada paha kanan dan sulit berdiri serta
berjalan
4i(ayat 'enyakit !ekarang + 'asien di ra(at pada bangsal bedah di 4!DNA di
antar oleh keluarganya. 'asien merupakan rujukan dari 4umah !akit ut
Meuthia @hokseuma(e yang didiagnosa fraktur femur. 'asien tidak dapat
melakukan aktivitas seperti biasanya, hanya bisa berbaring. .i 4!DNA pasien
telah dira(at selama #8 hari dan telah dilakukan pemeriksaan penunjang seperti
foto E5ray dan M4I. !ebelumnya pasien pernah diurut dengan dukun patah
tulang dan masih mengalami keluhan yang sama.
4i(ayat penyakit dahulu + 'asien pernah mengeluhkan kebas5kebas selama
# tahun dan tidak pernah mengobati keluhan tersebut. 4i(ayat penyakit asam
urat disangkal pasien.
4i(ayat penyakit keluarga + "idak ada keluarga yang mengalami keluhan
yang sama seperti pasien
4i(ayat pola hidup dan kebiasaan +
Merokok(5&
Alkohol+ (5&
'asien masih memiliki nafsu makan
'emeriksan fisik+
a. ,eadaan umum + "ampak sakit sedang
kesadaran + ompos Mentis :! O )
%
M
7
?
/
O 0/
,ooperasi + ,ooperatif
!ikap + Berbaring
,eadaan giGi + ukup
"ekanan .arah + 5
>adi + 5
!uhu Badan + 5
'ernafasan + 5
b. ,eadaan @okal
"erlihat paha kanan (bagian femur proksimal& yang telah terbalut elastic
verband.
.iagnosa klinis + <raktur ,olum .ekstra
'enatalaksanaan+
0. 'rimary !urvey+ AB.)
#. Imobilisasi dengan spalk
4encana Medikamentosa+
efotaksim #E0 gram/hari
,etorolac
'emeriksaan yang telah dilakukan+
<oto E5ray
M4I