Anda di halaman 1dari 3

Komunikasi

Jalaluddin Rakhmat (1994), mendefinisikan bahasa secara fungsional dan formal. Secara
fungsional, bahasa diartikan sebagai alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan.
Ia menekankandimiliki bersama, karena bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan di
antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Secara formal, bahasa
diartikan sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan
tatabahasa.
Komunikasi menurut Hovland, Janis, Kelly (1953: 12) berarti sebuah proses dimana seorang
individu sebagai komunikator menyampaikan stimulan yang biasanya verbal untuk mengubah
perilaku orang lainnya.
Komunikasi adalah hubungan batin antara kita dengan lingkungan kita yang didalam hubungannya ada
interaksi pesan yang saling berhubungan dan saling membutuhkan untuk kelangsungan hidup kita, yang
didalam berhubungan dapat melibatkan verbal atau non verbal. Dengan demikian bila ada interaksi pesan
semisal verbal dengan berita bohong dan tidak ada interaksi batin, maka komunikasi tidak terjadi, atau
hanya sekedar komunikasi semu.

Selanjutnya dengan komunikasi. Komunikasi diantara kita dapat menggunakan bahasa verbal atau non
verbal. Sedangkan komunikasi dengan tanaman dengan merawatnya. Komunikasi dengan hewan ternak kita
dengan memeliharanya. Kesemua itu membutuhkan hubungan batin yang kuat bila mengingikan komunikasi
yang lebih baik. Komunikasi dengan Tuhan dengan berdoa yang tulus, hati yang bersih. Berkomunikasi
dengan sesama kita sebenarnya juga menjadi cerminan berkomunikasi dengan Tuhan yang membutuhkan
hati yang bersih, dengan kata lain hubungan horizontal adalah ibadah kepadaNya.

Oleh karenanya, didalam berkomunikasi antara kita dengan pasien, akan lebih baik bila kita tidak hanya
sekedar komunikasi verbal. Tetapi kita sebaiknya mampu lebih dari itu dengan mengkomunkasikan hati kita
sehingga akan ada hubungan batin antara kita dengan pasien. Karena kesuksesan dalam berkomunikasi
adalah tujuan bersama dengan perbedaan kepentingan. Sukses bagi apoteker adalah eksistensi profesi dan
sukses bagi pasien adalah keberhasilan pengobatan yang semua itu didasarkan pada nilai-nilai kemanusia
yang berkembang dalam bangsa ini.

Sehingga komunikasi dalam farmasi adalah hubungan batin yang kuat antara apoteker dengan pasien
menggunakan pesan-pesan profesional agar didapat hasil layanan kesehatan yang maksimal yang
didasarkan pada nilai-nilai yang berlaku pada bangsa kita.

Ada dua bentuk komunikasi yang lazim digunakan, yakni komunikasi verbal dan komunikasi
nonverbal.

1. Komunikasi verbal ( verbal communication ) adalah bentuk komunikasi yang disampaikan
komunikator kepada komunikan dengan cara tertulis (written) atau lisan (oral). Komunikasi
verbal menempati porsi besar. Karena kenyataannya, ide-ide, pemikiran atau keputusan, lebih
mudah disampaikan secara verbal ketimbang non verbal. Dengan harapan, komunikan (baik
pendengar maun pembaca ) bisa lebih mudah memahami pesan-pesan yang disampaikan.

Prakteknya, komunikasi verbal bisa dilakukan dengan cara :

a) Berbicara dan menulis.

Umumnya untuk menyampaikan, orang cenderung lebih menyukai speaking (berbicara)
ketimbang (writing ). Selain karena praktis, speaking dianggap lebih mudah menyentuh
sasaran karena langsung didengar komunikan. Namun bukan berarti pesan tertulis tidak penting.
Untuk menyampaikan pesan bisnis yang panjang dan memerlukan pemahaman dan pengkajian
matang, diperlukan pula penyampaian writing. Semisal penyampaian bussines report. Sangat
tidak mungkin jika hanya disampaikan dengan berbicara.

b) Mendengarkan dan membaca.

Kenyataan menunjukkan, pelaku bisnis lebih sering mendapatkan informasi ketimbang
menyampaikan informasi. Dan aktivitas penerimaan informasi.pesan bisnis ini dilakukan lewat
proses (listening) mendengarkan dan membaca (reading). Sayangnya, kenyataan juga
menunjukkan, masih banyak di antara kalangan bisnis yang tidak memiliki kemampuan dan
kemauan memadai untuk melakukan proses reading dan listening ini. Sehingga pesan penting
sering hanya berlalu begitu saja, dan hanya sebagian kecil yang tercerna dengan baik.


2. Komunikasi non verbal

Komunikais non verbal ( non verbal communicarion) menempati porsi penting. Banyak
komunikasi verbal tidak efektif hanya karena komunikatornya tidak menggunakan komunikasi
non verbal dengan baik dalam waktu bersamaan. Melalui komunikasi non verbal, orang bisa
mengambil suatu kesimpulan mengenai suatu kesimpulan tentang berbagai macam persaan
orang, baik rasa senang, benci, cinta, kangen dan berbagai macam perasaan lainnya. Kaitannya
dengan dunia bisnis, komunikasi non verbal bisa membantu komunikator untuk lebih
memperkuat pesan yang disampaikan sekaligus memahami reaksi komunikan saat menerima
pesan.

Bentuk komunikasi non verbal sendiri di antaranya adalah, bahasa isyarat, ekspresi wajah, sandi,
symbol-simbol, pakaian sergam, warna dan intonasi suara.

Tujuan komunikais non verbal ;

a) Menyediakan/memberikan informasi
b) Mengatur alur suatu percakapan
c) Mengekspresikan suatu emosi
d) Memberi sifat, melengkapi, menentang atau mengembangkankan pesan-pesan verbal.
e) Mengendalikan atau mempersuasi orang lain
f) Mempermudah tugas-tugas khusus, misalnya dalam mengajar seseorang untuk melakukan
serve badminton, belajar golf dan sejenisnya.

Relevansi komunikasi non verbal dalam dunia bisnis, komunikasi non verbal yang disampaikan
dengan baik akan mampu membantu seseorang meningkatkan kredibilitas dan potensi leadeship,
selain tentunya akan mempermudah proses penyampaian pesan inti kepada komunikan.