Anda di halaman 1dari 20

B.

KODE ETIK KEDOKTERAN INDONESIA


1. Sejarah
Praktik kedokteran dalam pengertian luas pada hakikatnya adalah perwujudan idealisme
dan spirit pengabdian seorang dokter, sebagaimana yang diikrarkan dalam Sumpah Dokter dan
Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI). Dalam perkembangannya kemudian, seluruh aspek
kehidupan di dunia ini mengalami perubahan paradigma secara bermakna, termasuk dalam profesi
kedokteran, dengan akibat terjadi pula perubahan orientasi dan motivasi pengabdian tersebut
pada diri sebagian dokter. Sebagai dampak perubahan yang semakin global, individualistik,
materialistik, dan hedonistik tersebut, maka perilaku dan sikap tindak profesional di sebagian
kalangan dokter juga berubah.
Masyarakat kemudian juga semakin memandang negatif profesi kedokteran karena
melihat dan menyaksikan maraknya praktik-praktik kedokteran yang semakin jauh dari nilai-nilai
luhur Sumpah Dokter dan KODEKI. Masyarakat atau pasien merasa perlu "melindungi diri"
terhadap perilaku hedonistik dan unethical para dokter itu.
Kode etik kedoktran Indonesia pertama kali disusun tahun 1969 dalam Musyawarah Kerja
Susila Kedokteran yang dilaksanakan di Jakarta. Bahan rujukan yang digunakan adalah Kode Etik
Kedokteran Internasional yang telah disempurnakan pada tahun 1968 melalui Muktamar ke-22
Ikatan Dokter Sedunia.
Seperti halnya dengan Kode Etik Internasional yang mengalami berbagai panyempurnaan,
Kode Etik Kedokteran Indonesia pun mengalami perubahan-perubahan, yaitu melalui Musyawarah
Kerja Nasional Etik Kedokteran ke-2 yang dilaksanakan di Jakarta, untuk kemudian pada tahun
1983 dinyatakan berlaku bagi semua dokter di Indonesia melalui surat keputusan
No.434/MENKES/SK/X/1983 tanggal 28 Oktober 1983. Pada Musyawarah Kerja Nasional IDI
XIII, 1993, Kode Etik Kedokteran Indonesia itu telah diubah menjadi 20 pasal.
Sebagai pedoman dalam perilaku, Kode Etik Kedokteran Indonesia mengandung beberapa
ketentuan yang semuanyan tertuang dalam kedua puluh pasalnya. Secara umum pasal-pasal
tersebut dapat dibedakan atas lima bagian, yaitu :
Kewajiban umum seorang dokter
Kewajiban dokter terhadap penderita
Kewajiban dokter terhadap teman sejawat
Kewajiban dokter terhadap diri sendiri
Penutup
2. Definisi Kode Etik Kedokteran
Kode etik Kedokteran adalah suatu landaskan atas norma-norma etik dalam praktik
seorang dokter yang mengatur hubungan manusia umumnya dan dimiliki azas-azasnya dalam
falsafah masyarakat yang diterima dan dikembangkan terus. Khusus di Indonesia- azas itu adalah
Pancasila sebagai landasan idiil dan UndangUndang Dasar 1945 sebagai landasan struktural.
Dengan maksud untuk lebih nyata mewujudkan kesungguhan dan keluhuran ilmu
kedokteran, para dokter Indonesia, baik yang bergabung secara fungsional terikat dalam Ikatan
Dokter Indonesia, maupun secara fungsional terikat dalam organisasi di bidang pelayanan,
pendidikan dan penelitian kesehatan dan kedokteran, dengan rakhmat Tuhan Yang Maha Esa,
telah merumuskan Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI)

Fungsi dari Kode etik kedokteran ini adalah :
Memberikan perlindungan kepada pasien
Meningkatkan dan mempertahankan mutu pelayanan medis yang diberikan oleh dokter dan
dokter gigi
Memberikan kepastian hokum kepada masyarakat, dokter dan dokter gigi.

Tujuan kode etik kedoteran :
Agar seorang dokter dapat menaati dan mengamalkan petunjuk-petunjuk yang tertera
dalam kode etik kedokteran
Agar seorang dokter dan dokter gigi dapat bekerja dengan sepenuh hati dalam
memberikan pelayanan kesehatan
Menjungjung tinggi norma luhur dalam menjalankan pekerjaan maupun kehidupan
pribadinya
Agar tidak melakukan perbuatan yang menyimpang dengan etik dan moral
Agar tidak memberikan keterangan palsu tentang pasien

3. Prinsip Etika Kedokteran
Prinsip adlah berpihak pada pasien, artinya dalam mengambil tindakan seorang dokter
harus mempertimbangkan manfaat dan resiko yang sekecil mungkin, termasuk resiko biaya.
Prinsip etika Kedokteran tersebut meliputi :
Autonomy, yaitu prinsip moral dokter untuk selalu menghargai dan menghormati hak
otonomi pasien, terutama dalam hal hak untuk memperoleh informasi yang jujur dan benar serta
hak untuk melakukan apa-apa yang boleh dilakukan terhadap dirinya.
Beneficience, yaitu melakukan tindakan untuk kebaikan pasien
Non-Malefience, yaitu prinsip moral yang selalu berorientasi kepada kebaikan pasien dan
tidak melakukan tindakan yang memperburuk keadaan pasien.
Justice, yaitu sikap keadilan dan tidak diskriminatif
Altruisme, yaitu pengabdian profesi dokter sebagai profesi seumur hidup dan aplikasinya
untuk masyarakat.





4. Kode etik kedokteran Gigi Indonesia
(SK MENTERI KESEHATAN RI NO. 128/MENKES/SK/III/1981)
1. Adalah menjadi kewajiban semua dokter gigi yang menjalankan praktek di Indonesia untuk
mentaati dan mengamalkan petunjuk-petunjuk yang tertera dalam kode etik kedokteran gigi
Indonesia.
2. Seorang dokter gigi berkewajiban untuk bekerja dengan penuh pengabdian bagi kepentingan
pelayanan kepada masyarakat bagi kemajuan ilmu kedokteran gigi dan bagi martabat profesi
kedokteran gigi.
3. Sebagai manusia Indonesia yang berjiwa Pancasila dokter gigi berkewajiban menjunjung tinggi
norma hidup yang luhur, dalam kehidupan pribadinya dan dalam menjalankan pekerjaannya.
4. Dalam menjalankan pekerjaannya, seorang dokter gigi janganlah melakukan perbuatan-perbuatan
yang bertentangan dengan etik, misalnya :
Melakukan perbuatan-perbutan yang bersifat memuji diri sendiri, baik yang menyangkut
kepandaiannya, peralatannya, maupun cara pengobatannya
Melakukan usaha-usaha untuk menarik perhatian umum, melalui cara yang tidak wajar, supaya
praktek lebih dikenal orang
Menjual obat di tempat praktek, bukan dengan maksud memberikan pertolongan pertama
Melakukan tindakan kedokteran gigi tanpa indikasi bahwa tindakan itu perlu dilakukan hanya
dengan maksud mendapatkan keuntungan belaka dari tindakan itu
Meminta uang jasa atau menetapkan tarif pengobatan yang tidak wajar yang melampaui batas-
batas yang tidak lazim
Mempergunakan gelar yang tidak menjadi haknya
Melakukan atau mencoba melakukan tindakan-tindakan yang bersifat asusila terhadap penderita
di kamar prakteknya
5. Seorang dokter gigi hanya memberikan keterangan atau pendapat yang dapat dibuktikan
kebenarannya


5. Pelanggaran Etika Kedokteran
a. Pelanggaran Etika Murni
Menarik Imbalan yang tidak wajar atau menarik imbalan jasa dari keluarga sejawat
dokter dan dokter gigi.
Dalam melakukan pekerjaannya, seorangdokter tidak boleh dipengaruhi oleh pertimbangan
keuntungan pribadi. Seorang dokter dapat menerima imbalan jasanya, jika diberikan dengan
keikhlasan, sepengetahuan atau atas kehendak penderita.
Mengambil alih pasien tanpa persetujuan sejawatnya.
Seorang dokter yang baik tidak menyalahkan sejawatnya di depan pasiennya (walaupun itu benar),
tetapi secara bijaksana membahas kasusnya dengan sejawatnya dan sebaliknya mengembalikan
pasien sejawatnya yang pertama kali dikunjungi pasien tersebut.
Memuji diri sendiri di depan pasien.
Pada dasanrnya dokter sama sekali tidak boleh melibatkan diri dalam berbagai kegiatan promosi,
karena promosi tersebut terkait dengan kepentingan-kepentingan yang sering kali bertentangan
atau tidak menunjang tugas mulia seorang dokter. Perbuatan dokter sebagai pemeran langsung
atau iklan promosi komoditi yang dimuat media masa atau elektronik merupakan perbuatan
tercela, karena tidak dapat disingkirkan penafsiran adanya suatu niat lain untuk memuji diri
sendiri. Walaupun hal itu dilakuakn dalam wahana ilmiah kedokteran, dianggap juga sebagai
perbuatan tercela, apalagi jika tidak berlandaskan pengetahuan kedokteran tertinggi dalam
bidangnya, sehingga tidak diyakini sebagai produk yang layak diberikan kepada pasien, sehingga
untuk dirinya sendiri maupun kepada sanak keluarganya bila mengalami hal yang sama.
Tidak pernah mengikuti pendidikan kedokteran berkesinambungan.
Dokter mengabaikan kesehatan dirinya.

b. Pelanggaran Etikolegal
Pelayanan kedokteran di bawah standar
Menerbitkan surat keterangan palsu
Membuka rahasia jabatan atau pekerjaan kedokteran
Abortus Provokatus
Pelecehan seksual

c. Kasus Malprakter
Tolak ukur praktek kedokteran dianggap criminal jika :
Bertentangan dengan hokum
Akibatnya dapat dibayangkan
Akibatnya dapat dihindarkan
Perbuatannya dapat dipersalahkan


6. Prosedur penanganan pelanggaran etika kedokteran
Pada tahun 1985 Rapat Kerja antara P3EK, MKEK dan MKEKG telah menghasilkan pedoman kerja
yang menyangkut para dokter antara lain sebagai berikut :
1. Pada prinsipnya semua masalah yang menyangkut pelanggaran etik diteruskan lebih dahulu kepada
MKEK.
2. Masalah etik murni diselesaikan oleh MKEK.
3. Masalah yang tidak murni serta masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh MKEK dirujuk ke
P3EK propinsi.
4. Dalam sidang MKEK dan P3EK untuk pengambilan keputusan, Badan Pembela Anggota IDI dapat
mengikuti persidangan jika dikehendaki oleh yang bersangkutan (tanpa hak untuk mengambil
keputusan).
5. Masalah yang menyangkit profesi dokter atau dokter gigi akan ditangani bersama oleh MKEK dan
MKEKG terlebih dahulu sebelum diteruskan ke P3EK apabila diperlukan.
6. Untuk kepentingan pencatatan, tiap kasus pelanggaran etik kedokteran serta penyelesaiannya
oleh MKEK dilaporkan ke P3EK Propinsi.
7. Kasus-kasus pelanggaran etikolegal, yang tidak dapat diselesaikan oleh P3EK Propinsi, diteruskan
ke P3EK Pusat.
8. Kasus-kasus yang sudah jelas melanggar peraturan perundang-undangan dapat dilaporkan
langsung kepada pihak yang berwenang. Pedoman penilaian kasus-kasus pelanggaran etik
kedokteran

Etik lebih mengandalkan itikad baik dan keadaan moral para pelakunya dan untuk
mengukur hal ini tidaklah mudah. Karena itu timbul kesulitan dalam menilai pelanggaran etik,
selama pelanggaran itu tidak merupakan kasus-kasus pelanggaran hukum. Dalam menilai kasus-
kasus pelanggaran etik kedokteran, MKEK berpedoman pada :
Pancasila
Prinsip-prinsip dasar moral umumnya
Ciri dan hakekat pekerjaan profesi
Tradisi luhur kedokteran
LSDI
KODEKI
Hukum kesehatan terkait
Hak dan kewajiban dokter
Hak dan kewajiban penderita
Pendapat rata-rata masyarakat kedokteran
Pendapat pakar-pakar dan praktisi kedokteran senior.

Selanjutnya, MKEK menggunakan pula beberapa pertimbangan berikut, yaitu:
Tujuan spesifik yang ingin dicapai
Manfaat bagi kesembuhan penderita
Manfaat bagi kesejahteraan umum
Penerimaan penderita terhadap tindakan itu
Preseden tentang tindakan semacam itu
Standar pelayanan medik yang berlaku

Jika semua pertimbangan menunjukkan bahwa telah terjadi pelanggaran etik, pelanggaran
dikategorikan dalam kelas ringan, sedang atau berat, yang berpedoman pada :
Akibat terhadap kesehatan penderita
Akibat bagi masyarakat umum
Akibat bagi kehormatan profesi
Peranan penderita yang mungkin ikut mendorong terjadinya pelanggaran
Alasan-alasan lain yang diajukan tersangka

Bentuk-bentuk sanksi Dalam pasal 6 PP no.30 tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin
Pegawai Sipil terdapat uraian tentang tingkat dan jenis hukuman, sebagai berikut :
Tingkat hukuman disiplin terdiri dari :
Hukuman disiplin ringan
Jenis hukuman disiplin ringan terdiri dari :
a. Teguran lisan
b. Teguran tulisan, dan
c. Pernyataan tidak puas secara tertulis
Hukuman disiplin sedang, Hukuman disiplin berat
Jenis hukuman disiplin sedang terdiri dari :
a. Penundaan kenaikan gaji berkala untuk paling lama satu tahun
b. Penurunan gaji sebesar satu kali kenaikan gaji berkala untuk paling lama satu tahun, dan
c. Penundaan kenaikan pangkat untuk paling lama satu tahun
Jenis hukuman disiplin berat terdiri dari :
a. Penurunan pangkat pada pangkat yang setingkat lebih rendah untuk paling lama satu tahun
b. Pembebasan dari jabatan
c. Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai Pegawai Negeri Sipil, dan
d. Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil
Pada kasus-kasus pelanggaran etikolegal, di samping pemberian hukuman sesuai peraturan
tersebut di atas, maka selanjutnya diproses ke pengadilan.

7. Hukum Yang Terkait Dengan Kode Etik Kedokteran
Sumber dan dasar hukum kewajiban dokter pasien adalah:
a.Dunia Kesehatan
Sumpah Hippocrates (460-377 S.M.)

b. Internasional
Deklarasi Jenewa/ World Medical Association (WMA) (1948).
Declaration of Human Rights PBB
International Code of Medical Ethics/ WMA (1949)
Konstitusi WHO (Jenewa, 1976)
Deklarasi Helsinki dari WMA

c. Indonesia
UUD-45 : Sila II.Kemanusiaan yang adil dan beradab.
No. 26 (1960): Lafal Sumpah Dokter
PP 434/MenKes/SK/X/1983: KODEKI
PP No. 585/MENKES/PER/IX/1989: Persetujuan tindakan medik
UU No.23 (1992): Tentang Kesehatan
PP No. 32 (1996): Tentang Tenaga Kesehatan
UU No. 29(2004): Praktik Kedokteran

d. PERATURAN PEMERINTAH
PP No.26(1960) tentang Lafal Sumpah Dokter.
Permenkes: No. 554 (1982) tentang Panitia Pertimbangan dan Pembinaan Etik Kedokteran.
PP No. 434/MenKes/SK/X/1983: KODEKI
Permenkes: No.585(1989) tentang Persetujuan Tindakan Medik
Permenkes: No. 749a(1989) tentang Rekam Medis
PP RI No. 32 (1996) tentang Tenaga Kesehatan

e. Declaration of Human Rights (PBB)
Hak merdeka dan hak yang sama
Dihormati sebagai manusia dimanapun
Tidak boleh diperlakukan kejam
Sama di depan hokum
Berhak atas pendidikan, pekerjaan dan jaminan sosial
Hak memberikan pendapat
Hak mendapatkan pelayanan dan perawatan kesehatan diri sendiri dan keluarga



f. SUMPAH DOKTER INDONESIA (PP No.26 -1960/SK Menkes No. 434-1983)
Demi Allah saya bersumpah bahwa saya akan:
Hidup berbakti untuk kepentingan keperikemanusiaan.
Memelihara martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran
Menjalankan tugas secara terhormat dan bersusila sesuai martabat dokter
Mengutamakan kepentingan masyarakat
Merahasiakan segala sesuatu yang merupakan kerahasiaan dokter.
Tidak menggunakan pengetahuan kedokteran yang bertentangan dengan perikemanusiaan
Menghormati setiap hidup insani, mulai dari saat pembuahan.
Mengutamakan kesehatan penderita
Berikhtiar sungguh-sungguh tidak terpengaruh oleh faktor agama, bangsa, suku, kelamin, politik,
kedudukan sosial dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita.
Memberikan penghormatan dan terima kasih yang selayaknya kepada guru-guru saya.
Memperlakukan TS sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan.
Mentaati dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia.
Mengikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh, dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri
saya.

8. Hak dan Kewajiban Dokter
Didalam memberikan layanan kedokteran, dokter mempunyai hak dan kewajiban
sebagaimana tercantum dalam Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 29 Tahun 2004
Tentang Praktek Kedokteran; Kode Etik Kedokteran Indonesia; Pernyataan IDI; Lampiran SK PB
IDI dan Surat edaran Dirjen Yanmed No: YM 02.04.3.5.2504 th. 1997 tentang Pedoman Hak dan
Kewajiban Pasien, Dokter dan Rumah Sakit.

Hak Dokter
Hak dokter adalah kekuasaan atau kewenangan dokter untuk mendapatkan atau
memutuskan untuk berbuat sesuatu:
Hak memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar
profesi dan standar prosedur operasional.
\Memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur operasional serta
berdasarkan hak otonomi dan kebutuhan medis pasien yang sesuai dengan jenis dan strata sarana
pelayanan kesehatan.
Hak untuk menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan,
profesi dan etika.
Hak untuk mengakhiri atau menghentikan jasa profesionalnya kepada pasien apabila hubungan
dengan pasien sudah berkembang begitu buruk sehingga kerjasama yang baik tidak mungkin
diteruskan lagi dan wajib menyerahkan pasien kepada dokter lain, kecuali untuk pasien gawat
darurat.
Hak atas privacy (berhak menuntut apabila nama baiknya dicemarkan oleh pasien dengan ucapan
atau tindakan yang melecehkan atau memalukan).
Hak memperoleh informasi yang lengkap dari jujur dari pasien atau keluarganya.
Hak atas informasi atau pemberitahuan pertama dalam menghadapi pasien yang tidak puas
terhadap pelayanannya.
Hak untuk diperlakukan adil dan jujur, baik oleh rumah sakit maupun oleh pasien.
Hak mendapatkan imbalan jasa profesi yang diberikan berdasarkan perjanjian dan atau
ketentuan atau peraturan yang berlaku di rumah sakit.

Kewajiban Dokter
1.Sumber dan Dasar Hukum kewajiban Dokter antara lain:
Kewajiban Dokter (PP NO. 32-1996)
Pasal 21 : Mematuhi Standar profesi tenaga kesehatan
Pasal 22 : 1. Menghormati hak pasien
2. Menjaga kerahasiaan pasien
3. Memberikan informasi kondisi dan tindakan yang akan dilakukan
4. Meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan.
5. Membuat dan memelihara rekam medis

Kewajiban Dokter (UU No. 29-2004)
Pasal 51
Memberikan pelayanan medis sesuai standar profesi dan standar prosedur serta
kebutuhan medis pasien;
1. Merujuk pasien kedokter lain apabila tidak mampu;
2. Merahasiakan segala sesuatu tentang pasien;
3. Melakukan pertolongan darurat;
4.Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perekmbangan ilmu kedokteran

KEWAJIBAN DOKTER (KODEKI-18 Pasal)

KEWAJIBAN UMUM

Pasal 1
Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan Sumpah Dokter.

Pasal 2
Seorang dokter harus senantiasa berupaya melakukan profesinya sesuai dengan standar profesi
yang tertinggi.

Pasal 3
Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu
yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.

Pasal 4
Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri sendiri.

Pasal 5
Tiap perbuatan atau ansehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik hanya
diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperolah persetujuan pasien.




Pasal 6
Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap
penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan hal-hal yang dapat
menimbulkan keresahan masyarakat.

Pasal 7
Seorang dokter hanya memberi keterangan atau pendapat yang telah diperiksa sendiri
kebenarannya.

Pasal 7a
Sepramg dokter harus, dalam setiap praktek medisnya, memberikan pelayanan medis yang
kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang
(compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.

Pasal 7b
Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubugnan dengan pasien dan sejawatnya, dan
berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter
atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam menangani pasien.

Pasal 7c
Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga
kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien.



Pasal 7d
Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani.

Pasal 8
Dalam melakukan pekerjaannya, seorang dokter harus memperhatikan kepentingan masyarakat
dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial, serta berusaha menjadi pendidik dan
pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya.

Pasal 9
Setiap dokter dalam bekerja sama dangan para pejabat dibidang kesehatan dan bidang lainnya
serta masyarakat, harus saling menghormati.

KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP PASIEN

Pasal 10
Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan ketrampilannya
untuk kepentingan penderita. Dalam hal ia tidak mampu melakukan SUATU permeriksaan atau
pengobatan, maka atas persetujuan pasien, ia wajib merujuk penderita kepada dokter lain yang
mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.


Pasal 11
Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada penderita agar senantiasa dapat
berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah lainnya

Pasal 12
Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui tentang seorang penderita,
bahkan juga setelah penderita itu meninggal dunia.

Pasal 13
Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan, kecuali
bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya.

KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP TEMAN SEJAWAT

Pasal 14
Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan.

Pasal 15
Setiap dokter tidak boleh mengambil alih penderita dari teman sejawatnya, kecuali dengan
persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.


KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP DIRI SENDIRI

Pasal 16
Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik.

Pasal 17
Setiap dokter hendaklah senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tetap setia
kepada citacitanya yang luhur.

. 9. kewajiban dan hak pasien
Hak dan Kewajiban Pasien
Didalam mendapatkan layanan kesehatan, pasien mempunyai hak dan kewajiban
sebagaimana Surat edaran DirJen Yan Medik No: YM.02.04.3.5.2504 Tentang Pedoman Hak dan
Kewajiban Pasien, Dokter dan Rumah Sakit, th.1997; UU.Republik Indonesia No. 29 Tahun 2004
Tentang Praktek Kedokteran dan Pernyataan/SK PB. IDI, sebagai berikut :

Hak Pasien
Hak pasien dalam hukum kedokteran bertumpu dan berdasarkan atas dua hak asasi
manusia yaitu Hak untuk pemeliharaan kesehatan (The right of health care) dan Hak untuk
menentukan nasib sendiri (The right to self determination)




Sumber dan Dasar Hukum hak pasien adalah:
HAK PASIEN (PP No.32 -1996)
Pasal 23
Pasien berhak atas ganti rugi akibat terganggunya kesehatan, cacat atau kematian karena
kelalain tenaga kesehatan
Ganti rugi dilaksanakan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

HAK PASIEN (UU No.29-2004)
Pasal 52
Mendapatkan penjelasan lengkap tentang tindakan medis.
Meminta pendapat dokter lain.
Mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhan medis
Menolak tindakan medis dan
Mendapatkan isi rekam medis

HAK-HAK PASIEN (KODEKI)
Hak untuk hidup, hak atas tubuhnya dan hak untuk mati secara wajar
Memperoleh pelayanan kedokteran yang manusiawi sesuai dengan standar profesi
kedokteran
Memperoleh penjelasan tentang diagnosis dan terapi
Menolak prosedur diagnosis dan terapi yang direncanakan
Memperoleh penjelasan tentang riset kedokteran yang akan diikutinya
Menolak dan menerima keikutsertaannya dalam riset kedokteran
Dirujuk kepada dokter spesialis kalau diperlukan dan dikembalikan kepada dokter yang
merujuk
Kerahasiaan dan rekam mediknya atas hal pribadi
Memperoleh penjelasan tentang peraturan-peraturan rumah sakit
Berhubungan dengan keluarga, penasihat atau rohaniawan dan lain-lainnya selama
perawatan.
Memperoleh penjelasan tentang perincian biaya
Pada dasarnya hak pasien adalah hak-hak pribadi yang dimiliki manusia sebagai pasien.
Dari sumber dan dasar hukum diatas dapat diambil kesimpulan hak-hak pasien adalah sebagai
berikut:
Hak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di rumah
sakit.
Hak atas pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur.
Hak untuk mendapatkan pelayanan medis yang bermutu sesuai dengan standar profesi
kedokteran/ kedokteran gigi dan tanpa diskriminasi.
Hak memperoleh asuhan keperawatan sesuai dengan standar profesi keperawatan.
Hak untuk memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan sesuai
dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit.
Hak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat klinik dan pendapat
etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar.
Hak atas second opinion / meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain.
Hak atas privacy dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya
kecuali apabila ditentukan berbeda menurut peraturan yang berlaku.
Hak untuk memperoleh informasi / penjelasan secara lengkap tentang tindakan medik
yang akan dilakukan terhadap dirinya.
Hak untuk memberikan persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan oleh dokter
sehubungan dengan penyakit yang dideritanya.
Hak untuk menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri
pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab sendiri sesudah memperoleh informasi yang
jelas tentang penyakitnya.
Hak didampingi keluarga dan atau penasehatnya dalam berobat dan atau masalah lainya
(dalam keadaan kritis atau menjelang kematian).
Hak beribadat menurut agama dan kepercayaannya selama tidak mengganggu ketertiban
dan ketenangan umum/ pasien lainya.
Hak atas keamanan dan keselamatan selama dalam perawatan di rumah sakit.
Hak untuk mengajukan usul, saran, perbaikan atas pelayanan rumah sakit terhadap
dirinya.
Hak menerima atau menolak bimbingan moril maupun spiritual.
Hak transparansi biaya pengobatan/ tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya
(memeriksa dan mendapatkan penjelasan pembayaran).
Hak akses / inzage kepada rekam medis/ hak atas kandungan ISI rekam medis miliknya.

Kewajiban Pasien
Sumber dan Dasar Hukum Kewajiban Pasien adalah:
KEWAJIBAN PASIEN (KODEKI)
1. Memeriksakan diri sedini mungkin
2. Memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang penyakitnya
3. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter
4. Menandatangani surat PTM dan lain-lain
5. Yakin pada dokter dan yakin akan sembuh


C. REGULASI UNDANG-UNDANG
1. UU RI No 23 tahun 1992 tentang kesehatan
Sistematika UU Kesehatan
a. BAB I (ketentuan umum)
Pasal 1 ini mengenai tentang :
Praktik kedokteran
Dokter dan dokter gigi
Konsil kedokteran Indonesia
Sertifikasi Kompetensi
Registrasi
Registrasi ulang
Surat izin praktik
Surat tanda registrasi dokter dan dokter gigi
Sarana pelayanan kesehatan
Pasien
Profesi kedokteran atau kedokteran gigi
Organisasi profesi
Kolegium kedokteran Indonesia dan Kolegium Kedokteran Gigi Indonesia
Majelis kehormatan disiplin kedokteran Indonesia
Menteri



b. BAB II (Asandan tujuan)
Pasal 2 menyangkut asa praktik kedokteran
Pasal 3 menyangkut tujuan praktik kedokteran

c. BAB III (Konsil Kedokteran Indonesia)

Pasal 4 dan 5 menyangkut tempat dan kedudukan
Pasal 6 sampai 10 tentang fungsi, tugas, dan wewenang
Pasal 11 sampai 21 tentang susunan organisasi dan keanggotaan
Pasal 22 sampai 24 tentang tata kerja
Pasal 25 tentang pembiayaan

d. BAB IV (Standar pendidikan profesi kedokteran dan kedokteran gigi)
Pasal 26 tentang standard pendidikan profesi

e. BAB V ( Pendidikan dan pelatihan kedokteran dan kedokteran gigi)
Pasal 27 dan 28

f. BAB VI ( Tentang registrasi dokter dan dokter gigi)
Pasal 29, 30, 31, 32, 33, 34, dan 35

g. BAB VII (Penelenggaraan praktik kedokteran)
Pasal 36 tentang surat izin praktik (juga termasuk pasal 37 dan 38)
Pasal 39 sampai 43 tentang pelaksanaan praktik
Pasal 44 tentang standard pelayanan
Pasal 45 tentang persetujuan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi
Pasal 46 tentang rekam medis (juga termasuk pasal 47)
Pasal 48 tentang rahasia kedokteran
Pasal 49 tentang kendali mutu dan kendali biaya
Pasal 50 dan 51 tentang hak dan kewajiban dokter atau doter gigi
Pasal 52 dan 53 tentang hak dan kewajiban pasien
Pasal 54 tentang pembinaan



h. BAB VIII (Disiplin dokter dan dokter gigi)
Pasal 55 sampai 65 tentang majelis kehormatan disiplin kedokteran Indonesia
Pasal 66 tentang pengaduan
Pasal 67 dan 68 tentang pemeriksaan
Pasal 69 tentang keputusan
Pasal 70 tentang pengaturan lebih lanjut

i. BAB IX (Pembinaan dan pengawasan)
Pasal 71 sampai 74 tentang pembinaan dan pengawasan

j. BAB X (keputusan pidana)
Pasal 75 sampai 80 tentang ketentuan pidana

k. BAB XI (ketentuan penutup)
Pasal 85 sampai 88 tentang ketentuan penutup



2. UU RI No.29 Tahun 2004

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan :
1. Praktik kedokteran adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dokter dan dokter gigi
terhadap pasien dalam melaksanakan upaya kesehatan.
2. Dokter dan dokter gigi adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi, dan dokter gigi spesialis
lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun di luar negeri yang
diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
4. Sertifikat kompetensi adalah surat tanda pengakuan terhadap kemampuan seorang dokter
atau dokter gigi untuk menjalankan praktik kedokteran di seluruh Indonesia setelah lulus uji
kompetensi.
7. Surat izin praktik adalah bukti tertulis yang diberikan pemerintah kepada dokter dan dokter
gigi yang akan menjalankan praktik kedokteran setelah memenuhi persyaratan.
9. Sarana pelayanan kesehatan adalah tempat penyelenggaraan upaya pelayanan kesehatan yang
dapat digunakan untuk praktik kedokteran atau kedokteran gigi.
10. Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk
memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan baik secara langsung maupun tidak langsung
kepada dokter atau dokter gigi.
11. Profesi kedokteran atau kedokteran gigi adalah suatu pekerjaan kedokteran atau kedokteran
gigi yang dilaksanakan berdasarkan suatu keilmuan, kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan
yang berjenjang, dan kode etik yang bersifat melayani masyarakat.

BAB II
ASAS DAN TUJUAN

Pasal 2
Praktik kedokteran dilaksanakan berasaskan Pancasila dan didasarkan pada nilai ilmiah, manfaat,
keadilan, kemanusiaan, keseimbangan, serta perlindungan dan keselamatan pasien.

Pasal 3
Pengaturan praktik kedokteran bertujuan untuk :
a. memberikan perlindungan kepada pasien;
b. mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis yang diberikan oleh dokter dan
dokter gigi; dan
c. memberikan kepastian hukum kepada masyarakat, dokter dan dokter gigi.

BAB III
KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Bagian Kesatu
Nama dan Kedudukan

Pasal 4
(1) Untuk melindungi masyarakat penerima jasa pelayanan kesehatan dan meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan dari dokter dan dokter gigi dibentuk Konsil Kedokteran Indonesia yang
terdiri atas Konsil Kedokteran dan Konsil Kedokteran Gigi.
(2) Konsil Kedokteran Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab kepada
Presiden.

BAB V
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
KEDOKTERAN DAN KEDOKTERAN GIGI

Pasal 27
Pendidikan dan pelatihan kedokteran atau kedokteran gigi, untuk memberikan kompetensi kepada
dokter atau dokter gigi, dilaksanakan sesuai dengan standar pendidikan profesi kedokteran atau
kedokteran gigi.

Pasal 28
(1) Setiap dokter atau dokter gigi yang berpraktik wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan
kedokteran atau kedokteran gigi berkelanjutan yang diselenggarakan oleh organisasi profesi dan
lembaga lain yang diakreditasi oleh organisasi profesi dalam rangka penyerapan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran atau kedokteran gigi.
(2) Pendidikan dan pelatihan kedokteran atau kedokteran gigi berkelanjutan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh organisasi
profesi kedokteran atau kedokteran gigi.

BAB VII
PENYELENGGARAAN PRAKTIK KEDOKTERAN

Bagian Kesatu
Surat Izin Praktik

Pasal 36
Setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki
surat izin praktik.


Bagian Kedua
Pelaksanaan Praktik

Pasal 39
Praktik kedokteran diselenggarakan berdasarkan pada kesepakatan antara dokter atau dokter
gigi dengan pasien dalam upaya untuk pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, peningkatan
kesehatan, pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan.

Pasal 41
(1) Dokter atau dokter gigi yang telah mempunyai surat izin praktik dan menyelenggarakan
praktik kedokteran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 wajib memasang papan nama praktik
kedokteran.
(2) Dalam hal dokter atau dokter gigi berpraktik di sarana pelayanan kesehatan, pimpinan sarana
pelayanan kesehatan wajib membuat daftar dokter atau dokter gigi yang melakukan praktik
kedokteran.

Pasal 42
Pimpinan sarana pelayanan kesehatan dilarang mengizinkan dokter atau dokter gigi yang tidak
memiliki surat izin praktik untuk melakukan praktik kedokteran di sarana pelayanan kesehatan
tersebut.

Bagian Ketiga
Pemberian Pelayanan

Paragraf 1
Standar Pelayanan

Pasal 44
(1) Dokter atau dokter gigi dalam menyelenggarakan praktik kedokteran wajib mengikuti standar
pelayanan kedokteran atau kedokteran gigi.
(2) Standar pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibedakan menurut jenis dan strata
sarana pelayanan kesehatan.

Paragraf 2
Persetujuan Tindakan Kedokteran atau Kedokteran Gigi

Pasal 45
(1) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter
gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan.
(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat
penjelasan secara lengkap.
(3) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup :
a. diagnosis dan tata cara tindakan medis;
b. tujuan tindakan medis yang dilakukan;
c. alternatif tindakan lain dan risikonya;
d. risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan
e. prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
(4) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan baik secara tertulis maupun
lisan.
(5) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung risiko tinggi harus
diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan
persetujuan.

Paragraf 3
Rekam Medis

Pasal 46
(1) Setiap dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran wajib membuat rekam
medis.
(2) Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus segera dilengkapi setelah pasien
selesai menerima pelayanan kesehatan.
(3) Setiap catatan rekam medis harus dibubuhi nama, waktu, dan tanda tangan petugas yang
memberikan pelayanan atau tindakan.

Pasal 47
(1) Dokumen rekam medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 merupakan milik dokter, dokter
gigi, atau sarana pelayanan kesehatan, sedangkan isi rekam medis merupakan milik pasien.
(2) Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disimpan dan dijaga kerahasiaannya
oleh dokter atau dokter gigi dan pimpinan sarana pelayanan kesehatan.
(3) Ketentuan mengenai rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur
dengan Peraturan Menteri.

Paragraf 4
Rahasia Kedokteran

Pasal 48
(1) Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran wajib menyimpan
rahasia kedokteran.
(2) Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan kesehatan pasien, memenuhi
permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien sendiri,
atau berdasarkan ketentuan perundangundangan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai rahasia kedokteran diatur dengan Peraturan Menteri.

Paragraf 5
Hak dan Kewajiban Dokter atau Dokter Gigi

Pasal 50
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai hak :
a. memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi
dan standar prosedur operasional;
b. memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur operasional;
c. memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya; dan
d. menerima imbalan jasa.

Pasal 51
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban:
a. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional
serta kebutuhan medis pasien;
b. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang
lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan;
c. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu
meninggal dunia;
d. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain
yang bertugas dan mampu melakukannya; dan
e. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran
gigi.

Paragraf 6
Hak dan Kewajiban Pasien

Pasal 52
Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak:
a. mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 45 ayat (3);
b. meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;
c. mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;
d. menolak tindakan medis; dan
e. mendapatkan isi rekam medis.

Pasal 53
Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai kewajiban:
a. memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya;
b. mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi;
c. mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan; dan
d. memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

BAB X
KETENTUAN PIDANA

Pasal 75
(1) Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa
memiliki surat tanda registrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus
juta rupiah).
(2) Setiap dokter atau dokter gigi warga negara asing yang dengan sengaja melakukan praktik
kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal
31 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
(3) Setiap dokter atau dokter gigi warga negara asing yang dengan sengaja melakukan praktik
kedokteran tanpa memiliki surat tanda registrasi bersyarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal
32 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Pasal 76
Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki
surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling
lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Pasal 77
Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan identitas berupa gelar atau bentuk lain yang
menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter
gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi
dan/atau surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (1) dipidana dengan pidana
penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima
puluh juta rupiah).

Pasal 78
Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan alat, metode atau cara lain dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat yang menimbulkan kesan seolah-olah yang bersangkutan adalah
dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat tanda
registrasi dokter gigi atau surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (2)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak
Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).

Pasal 79
Dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak
Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), setiap dokter atau dokter gigi yang:
a. dengan sengaja tidak memasang papan nama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (1);
b. dengan sengaja tidak membuat rekam medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1);
atau
c. dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 huruf a, huruf
b, huruf c, huruf d, atau huruf e.

Pasal 80
(1) Setiap orang yang dengan sengaja mempekerjakan dokter atau dokter gigi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 42, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau
denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh korporasi, maka
pidana yang dijatuhkan adalah pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah
sepertiga atau dijatuhi hukuman tambahan berupa pencabutan izin.


D. ORGANISASI KEDOKTERAN GIGI INDONESIA
1. KKI (Konsil Kedokteran Indonesia)
Konsil Kedokteran Indonesia Indonesia atau KKI merupakan suatu badan otonom, mandiri,
non struktural dan bersifat independen, yang bertanggung jawab kepada Presiden RI. Mempunyai
fungsi pengaturan, pengesahan, penetapan serta pembinaan dokter dan dokter gigi yang
menjalankan praktik kedokteran dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan medis.
KKI bertugas melakukan registrasi dokter dan dokter gigi. Mengesahkan standar
pendidikan profesi dokter dan dokter gigi. Melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan
praktik kedokteran yang dilaksanakan bersama lembaga terkait sesuai dengan fungsi masing-
masing.
KKI memiliki wewenang menyetujui dan menolak permohonan registrasi dokter dan dokter
gigi. Menerbitkan dan mencabut surat tanda registrasi. Mengesahkan standar kompetensi.
Melakukan pengujian terhadap persyaratan registrasi dokter dan dokter gigi. Mengesahkan
penerapan cabang ilmu kedokteran dan kedokteran gigi. Melakukan pembinaan bersama terhadap
dokter dan dokter gigi mengenai pelaksanaan etika profesi yang ditetapkan oleh organisasi
profesi. Melakukan pencatatan terhadap dokter dan dokter gigi yang dikenakan sanksi oleh
organisasi profesi atau perangkatnya karena melanggar ketentuan etika profesi.

Visi : Terwujudnya dokter dan dokter gigi profesional yang melindungi pasien

Misi : Meningkatkan kualitas hidup manusia melalui dokter dan dokter gigi yang profesional

Tata Nilai : Konsil Kedokteran Indonesia menjunjung tinggi nilai integritas, profesionalisme
kemitraan, dan respek pada kemanusiaan

Strategi Utama 1 : Menerapkan sistem registrasi & monitoring dokter dan dokter gigi secara
online diseluruh Indonesia.
Sasaran :
Setiap dokter dan dokter gigi yang melaksanakan praktik kedokteran telah teregistrasi dan
terjamin kompetensinya.
Sistim monitoring dokter gigi berfungsi secara aktif dan online diseluruh indonesia.

Strategi Utama 2 : Menegakkan profesionalisme dokter dan dokter gigi dalam praktik
kedokteran.
Sasaran :
Setiap dokter dan dokter gigi menerapkan profesionalisme dalam praktik kedokteran.
Setiap pasien memperoleh jaminan praktik kedokteran yang aman.

Strategi Utama 3 : Memastikan standar nasional pendidikan profesi dokter dan dokter gigi.
Sasaran :
Setiap institusi pendidikan dokter dan dokter gigi telah menerapkan standar nasional
pendidikan.
Setiap dokter dan dokter gigi yang melaksanakan praktik kedokteran mengikuti Pendidikan dan
Pelatihan Berkelanjutan(Continuing Professional Development).
Setiap perkembangan cabang ilmu kedokteran dan kedokteran gigi di Indonesia memenuhi
rambu dan aturan yang jelas.

Strategi Utama 4 : Meningkatkan kemitraan dengan organisasi profesi, instansi pemerintah
dan non pemerintah untuk menerapkan praktik kedokteran yang melindungi masyarakat.
Sasaran :
Seluruh masyarakat menyadari hak dan kewajibannya, memperoleh perlindungan hukum dalam
praktik kedokteran.
Setiap dokter dan dokter gigi memperoleh kepastian hukum dalam menjalankan praktik
kedokteran.
Setiap organisasi profesi, instansi pemerintah dan non pemerintah menjalankan perannya dalam
melaksanakan UU Praktik Kedokteran.

2. PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia)
PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia) merupakan satu-satunya organisasi profesi yang
menghimpun dokter gigi di Indonesia. PDGI didirikan pada tanggal 22 Januari 1950 di Bandung,
atau kini telah berusia lebih dari 50 tahun.
Pengurus Besar PDGI berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia Jakarta dan saat ini
memiliki 12 Pengurus Wilayah dan 119 Cabang PDGI di seluruh Indonesia. (terlampir)
Pada Kongres PDGI XXI tahun 2002 dilaporkan bahwa jumlah total anggota PDGI yang
tercatat di seluruh cabang adalah sebesar + 7000 anggota, atau merupakan 60% dari jumlah
dokter gigi se-Indonesia. Belum semua lulusan dokter gigi terdaftar sebagai anggota PDGI,
tetapi dengan akan diterapkannya sistem registrasi dokter gigi melalui Konsil Kedokteran Gigi
Indonesia (KKGI) diharapkan jumlah anggota PDGI akan bertambah.
Ditingkat Internasional PDGI merupakan country member pada berbagai organisasi
antara lain:
APDF/APRO (Asia Pacific Dental Federation/Asia Pacific Regional Organizations) Organisasi Dokter
Gigi Regiona
FDI (Federation Dentaire Internationale) Organisasi Dokter Gigi se-dunia
Pada tahun 2007, Indonesia (PDGI) diharapkan menjadi tuan rumah untuk APDF Congress.

Tujuan PDGI
Menyumbangkan darma baktinya demi kepentingan bangsa dan negara.
Meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut serta kesehatan umum dalam rangka menunjang
kesejahteraan rakyat Indonesia
Memajukan ilmu kedokteran gigi dalam arti yang seluas-luasnya
Meningkatkan kesejahteraan anggota

Sejarah Singkat PDGI
Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) atau Indonesian Dental Association (IDA)
merupakan satu-satunya organisasi profesi yang menghimpun dokter gigi di Indonesia. PDGI
didirikan pada tanggal 22 Januari 1950 di Hotel Savoy Homann Bandung.
Pendiri PDGI antara lain :
1. R.G. Soeria Soemantri
2. F. Karthaus
3. Kwa Kong Ing
4. Rd. Adang Djajadiredja
5. The Se Hon
6. Siem Kie Hian
7. E. Kaltofen
8. Tjen A Pat
9. Siem Kie Liat
10. Tjiook Kim Tjing
11. RM Soelarko
12. F. H. Lie
13. Birkenfeld