Anda di halaman 1dari 18

Teori Tektonik Lempeng

Sebelum teori tektonik lempeng lahir, terlebih


dahulu Alfred Wegener mengemukakan teori
pengapungan benua pada tahun 1912. Teori
pengapungan benua menerangkan bahwa
benua-benua yang ada sekarang dulunya
merupakan satu benua yang bernama Pangea.
Kemudian Pangea pecah menjadi Laurasia dan
Gondwana, yang terus-menerus pecah menjadi
benua-benua yang kita kenal sekarang ini.
Next

Tapi, teori ini tidak diterima oleh kebanyakan
orang karena tidak bisa menjelaskan gaya-gaya
yang menggerakan benua-benua yang besar
dengan masa batuan padat dan dengan jarak
yang begitu jauh. Alasan selanjutnya adalah
benua harusnya pecah berkeping-keping ketika
benua bergerak di atas lantai samudra. Karena
sebab itulah teori pengapungan benua mulai
dilupakan.

Next

Pada awal tahun 1950-an, banyak bukti yang
timbul yang membangkitkan kembali debat
tentang teori pengapungan benua yang menjadi
formulasi dari teori tektonik lempeng. Bukti
pertama bahwalempeng-lempeng itu memang
mengalami pergerakan didapatkan dari
penemuan perbedaan arah medan
magnet dalam batuan-batuan yang berbeda
usianya.
Perkembangan Pergerakan Benua
Teori Elastic Rebound

Teori yang menjelaskan mekanisme terjadinya
gempa bumi yang dikenal sebagai Elastic
Rebound Theory. Dijelaskan dalam teori ini
bahwa gempa bumi terjadi pada daerah
deformasi dimana terdapat dua buah gaya yang
bekerja dengan arah berlawanan pada batuan
kulit bumi.
Next

Energi yang tersimpan selama proses deformasi
berbentuk elastis strain dan akan terakumulasi
sampai melampui daya dukung batas
maksimum batuan, hingga akhirnya
menimbulkan rekahan atau patahan. Pada saat
terjadi rekahan atau patahan tersebut energi
yang tersimpan tersebut sebagian besar akan
dilepaskan dalam bentuk gelombang ke segala
arah baik dalam bentuk gelombang transversal
maupun longitudinal.
Peristiwa inilah yang disebut dengan gempa
bumi
Next

Karena di dalam bumi terjadi gerakan yang
terus-menerus, maka akan terdapat stress yang
lama kelamaan akan terakumulasi dan mampu
merubah bentuk geologi dari lapisan batuan.
Stress

Tegasan adalah gaya yang bekerja pada suatu
luasan permukaan dari suatu benda. Tegasan
juga dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi
yang terjadi pada batuan sebagai respon dari
gaya-gaya yang berasal dari luar.
Tegasan dapat didefinisikan sebagai gaya yang
bekerja pada luasan suatu permukaan benda
dibagi dengan luas permukaan benda tersebut:
Tegasan (P)= Gaya (F) / luas (A).
Next

Tegasan yang bekerja pada salah satu permukaan
yang mempunyai komponen tegasan prinsipal atau
tegasan utama, yaitu terdiri daripada 3 komponen,
yaitu:
P
,
Q
dan
R
.
Tegasan pembeda adalah perbedaan antara
tegasan maksimal (
P
) dan tegasan minimal (
R
).
Sekiranya perbedaan gaya telah melampaui
kekuatan batuan maka retakan/rekahan akan terjadi
pada batuan tersebut.
Kekuatan suatu batuan sangat tergantung pada
besarnya tegasan yang diperlukan untuk
menghasilkan retakan/rekahan.


Penyebab deformasi pada batuan adalah gaya
tegasan (gaya/satuan luas). Oleh karena itu
untuk memahami deformasi yang terjadi pada
batuan, maka kita harus memahami konsep
tentang gaya yang bekerja pada batuan.
Tegasan (stress) dan tegasan tarik (strain
stress) adalah gaya gaya yang bekerja di
seluruh tempat dimuka bumi.

Jenis-Jenis Tegasan (Stress)

Tegasan diferensial dapat dikelompokaan menjadi
3 jenis, yaitu:
Tegasan tensional (tegasan extensional) adalah
tegasan yang dapat mengakibatkan batuan
mengalami peregangan atau mengencang.
Tegasan kompresional adalah tegasan yang
dapat mengakibatkan batuan mengalami
penekanan.
Tegasan geser adalah tegasan yang dapat
berakibat pada tergesernya dan berpindahnya
batuan.

Tegasan Seragam / Uniform Stress (atas);
tegasan tensional (tengah kiri); tegasan
kompresional (tengah kanan); dan tegasan
geser /shear stress (gambar bawah)
material dibagi menjadi 2 (dua) kelas didasarkan atas sifat
perilaku dari material ketika dikenakan gaya tegasan
padanya, yaitu :
Material yang bersifat retas (brittle material), yaitu
apabila sebagian kecil atau sebagian besar bersifat
elastis tetapi hanya sebagian kecil bersifat lentur
sebelum material tersebut retak/pecah (gambar 4 kiri).

Material yang bersifat lentur (ductile material) jika
sebagian kecil bersifat elastis dan sebagian besar
bersifat lentur sebelum terjadi peretakan / fracture
(gambar 4 kanan).
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi stress
Temperatur
Tekanan bebas
Kecepatan tarikan
Komposisi