Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

KIMIA ORGANIK 2








Oleh:
Elisabet Th E Latumaerissa (652010032)
Dewa Surya Nugraha (652012021)
Imelda W (652012028)







Fakultas Sains dan Matematika
Universitas Kristen Satya Wacana
I. JUDUL : Pelarut-pelarut Organik
II. TUJUAN :
a. Menguji pencampuran pelarut orgnaik dengan air
b. Menguji kelarutan senyawa organik dalam pelarut organik

III. DASAR TEORI :
Kunci dengan bentuk yang tidak persis sama tidak dapat digunakan untuk membuka.
Sama halnya dengan benda hidup. Benda hidup mampu mengenali molekul dengan pola
menyerupai gemboki dan anak kunci. Artinya terkait erat denga bentuk. Dasar inilah
yang digunakan dalam reaksi molekul obat dengan reseptor sehingga menimbulkan efek.
Hubungan yang erat juga menjadi dasar kerja pelarut-pelarut organik. Dalam berbagai
macam proses kimia seperti ekstrkasi, kristalisasi, kromatografi dan yang lainnya tidak
sembarangan pelarut organik yang digunakan. Senyawa organik akan melarut dalam
pelarut yang bersifat sama. Sistem ini disebut like disolve like. Sehingga perlu
pengetahuan yang baik akan sifat-sifat pelrut organik. Semakin tepat pemilihan pelarut
organik semakin baik kerja reaksi kimia dan semakin baik juga hasil yang didapat.
Tiap jenis pelarut organik memiliki polaritas yang berbeda-beda. Ikatan antar atom
yang hanya berbeda sedikit keelektronegatifannya menghasilkan suatu ikatan kovalen
dengan kerapatan elektron terletak lebih dekat pada atom yang lebih elektronegatif.
Ikatan inilah yang disebut polar karena distribusi muatannya tak sama. Ikatan polar
biasanya ditandai dengan huruf yunani delta dan sebuah tanda hitung (+/-) untuk
menunjukkan suatu distribusi muatan yang sedikit berbeda. Beberapa contoh gugus
fungsional yang polar adalah hidroksi, karbonil, asam karboksilat, amina, dan amida.
Sedangkan pelarut yang strukturnya tidak memiliki gugus fungsional, simetrik, pada
umumnya bersifat non-polar, misalnya alkana, silkloheksana, kloroform,dll.
Beberapa hal yang biasanya diperhatikan dalam pemilihan pelarut organik adalah:
1. Polaritas
2. Rekativitas
3. Kelarutan
Pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan ekstrak yang besar
(kebutuhan pelarut lebih sedikit).
4. Titik didih
5. Kerapatan
6. Selektifitas
Pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan, bukan komponen-komponen
lain dari bahan ekstraksi

IV. PIRANTI & BAHAN :
a. Bahan
i. n-heksana
ii. aseton
iii. etanol
iv. formaldehida
v. sikloheksana
vi. diklormetan
vii. kloroform
viii. etil asetat
ix. naftalen
x. gula
xi. asam benzoat
b. Alat
i. Tabung reaksi
ii. Spatula
iii. Pipet
iv. Penangas air
v. Termometer

V. METODE :
a. Pengukuran titik didih
i. Dipilih dua pelarut di antara delapan pelarut yang tersedia.
ii. Kemudian di dalam tabung reaksi, pelarut dididihkan di dalam
penangas air.
iii. Diukur titik didih tiap pelarut dengan menggunakan thermometer.
b. Pencampuran pelarut organik dengan air
i. Ke dalam tabung reaksi yang berisi 1 ml sir, diteteskan 5 tetes pelarut
yang akan diuji (diuji delapan pelarut).
ii. Kemudian tabung digoyang.
iii. Diamati kelarutan pelarut, jika tidak ada pemisahan dalam campuran
tersebut maka dikatakan pelarut bercampur dengan air.
iv. Bila terdapat pemisahan cairan dalam tabung, campuran dipanaskan di
dalam penangas air kemudian diamati kembali. Jika tetap terpisah
maka dinyatakan pelarut tersebut tidak dapat bercampur dengan air.
c. Uji kelarutan senyawa organik
i. Setiap pelarut yang yang tersedia dimasukkan ke dalam tabung
masing-masing satu pipet
ii. Kemudian ditambahkan ke dalamnya sedikit senyawa organik yang
akan diuji.
iii. Dikocok, dicatat setiap pengamatan dalam tabung.
iv. Jika senyawa tidak larut dalam pelarut pada suhu kamar, coba
dipanaskan. Diamati, lalu dicatat hasil pengamatannya.
VI. HASIL :
a. Pengukuran titik didih
Pelarut
Titik Didih
Teori Lab
CHCl
3
-


CH
2
Cl
2


b. Uji Pencampuran Pelarut Organik Dengan Air
Pelarut + Aquades
(1:1)
Kemampuan bercampur
Suhu kamar Suhu tinggi
n-heksana - -
Aseton
Etanol
Formaldehida
Diklormetan - -
Kloroform - -
Etil asetat
Sikloheksana - -

c. Uji Kelarutan Senyawa Organik
Pelarut
Sampel
Naftalen Gula As. Karboksilat
Suhu
Kamar
Suhu
Tinggi
Suhu
Kamar
Suhu
Tinggi
Suhu
Kamar
Suhu
Tinggi
n-heksana - - -
Aseton - -
Etanol - - - - -
Formaldehida - - -
Sikloheksana - - - -
Diklormetan - - -
Klroform - - -
Etil asetat - -
Aquades - - - -


VII. PEMBAHASAN :
Suatu larutan atau senyawa dapat dikatakan polar atau non-polar dapat dilihat juga
dari gugus fungsional yang dimilikinya, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Selain
itu, dapat dilihat juga dari mudah tidaknya senyawa itu membentuk ikatan hydrogen
dianatara molekul. pada percobaan ini ada delapan pelarut dan tiga senyawa organik
yang digunakan. Berikut ini adalah rumus struktur dari bahan-bahan yang digunakan:
a. Gula

b. Naftalen

c. As. Benzoat

d. Heksana

e. Sikloheksana

f. Diklormetan

g. Kloroform

h. Etil asetat

i. Etanol
CH
2
OH
O
CH
2
OH
OH
OH
O

j. Formaldehida

k. Aseton


Dari rumus struktur pelarut maka dapat diketahui pelarut yang bersifat polar dan
nonpolar. Senyawa polar adalah senyawa yang memiliki gugus fungsional polar,
mereka adalah etanol, aseton, dan formaldehida. Air bersifat polar karena mampu
membentuk ikatan hidrogen. Sedangkan yang bukan pelarut non polar adalah pelarut
yang tidak mempunyai gugus fungsional antara lain heksana, sikloheksana,
diklormetan, dan kloroform, dan etil asetat. Senyawa polar akan mudah larut di dalam
air dan sebaliknya senyawa nonpolar akan sukar larut di dalam air.
Aprotik menunjukkan molekul yang tidak mengandung ikatan O-H. Pelarut dalam
kategori ini, semuanya memiliki ikatan yang memilki ikata dipol besar. Biasanya
ikatannya merupakan ikatan ganda antara karbon dengan oksigen atau nitorgen.
Contoh dari pelarut yang termasuk kategori ini adalah aseton [(CH
3
)
2
C=O] dan etil
asetat (CH
3
CO
2
CH
2
CH
3
)
Hal ini terlihatpada hasil percobaan pencampuran pelarut organik dengan air.
Heksana, sikloheksana, kloroform, dan diklormetan tidak larut dalam air meskipun
dalam pemanasan juga karena sifat mereka yang tidak sama. Golongan alkana tidak
dapat bercampur dengan air karena beda kepolaran, pelarut nonpolar tidak memiliki
atom yg memiliki pasangan elektron bebas yang dapat diprotonasi oleh ion H
+
dari
aquades. Demikian sebaliknya, aseton, etanol, formaldehida dan etil asetat dapat
bercmpur dengan aquades karena sifat mereka yang sama yaitu polar.

Pada percobaan uji kelarutan senyawa organiik, digunakan tiga sampel yaitu asam
benzoate, gula dan naftalen.
l. Gula
Melalui gugus OH gula mampu membentuk ikatan hidrogen di antara
molekulnya dan senyawa yang bersifat polar. Dalam percobaan, kelarutan gula
di dalam pelarut adalah sebagai berikut:
- Heksana, sikloheksana, diklormetan, kloroform
Gula tidak larut pada suhu kamar dan suhu tinggi di dalam heksana,
sikloheksana, diklormetan, dan kloroform karena pelarut-pelarut ini
bersifat non-polar. Struktur yang simetri dan tidak dapat membentuk
ikatan hydrogen membuat pelarut ini tidak cukup kuat untuk bercampur
dengan gula.
- Etanol, aseton, etil asetat
Gula tidak larut dalam pelarut diatas karena bersifat nonpolar. Ekor aseton
dan etil asetat adalah alkil, sehingga juga meningkatkan kesulitan gula
untuk berikatan. Gula seharusnya larut di dalam alkohol, tetapi hal yang
berbeda terjadi saat percobaan. Hal ini mungkin karena gula yang
digunakan sudah terkontaminasi.
- Formaldehida dan air
Glukosa dapat larut dalam air karena ikatana kemampuannya membentuk
ikatan hydrogen melalui atom O dengan atom H pada air.
2. Naftalen
Naftalen adalah senyawa organik bersifat non-polar karena atom-atomnya
mempunyai harga keelktronegatifan yang hamper sama. Dari strukturnya
naftalen merupakan gambaran resonansi dari benzena. Pada percobaan,
pengamatan naftalen sebagai berikut:
- Heksana, aseton, etil asetat
Naftalen dapat larut heksana karena masih memiliki sifat yang sama yaitu
non-polar. Sedangkan dalam pelarut etil asetat dan aseton juga dapat larut
karena et-asetat dan seton bersifat semi plar sehingga masih
memungkinkan naftalen larut.
- Etanol, sikloheksana, diklormetan, kloroform
Naftalen larut pada pemanasan. Hal ini menunjukkan bahwa suhu turut
mempengaruhi kelarutan suatu senyawa dalam larutan. Suhu yang tinggi
menyebabkan ikatan senyawa organik putus dan berikatan dengan pelarut
- Air
Sedangkan pada air, neftanel tidak larut sama sekali meskipun pada suhu
tinggi. Hal ini karena perbedaan kepolaran dari kedua senyawa dan tidak
dimungkinkan terjadi ikatan hydrogen antara naftalen dan air.
3. Asam Benzoat
Asam benzoate merupakan salah satu senyawa orgnaik golongan asam
aromatik yang bersifat polar. Asam benzoate mengandung gugus karboksilat
yang umumnya bersifat semi polar, namun akan berkurang seiring
bertambahnya rantai karbon.
Percobaan kelarutan asam benzoate pada pelarut organik menunjukkan:
- Etanol dan air
Asam benzoate tidak dapat larut dalam air dan etanol baik pada suhu kamar
ataupun suhu tinggi karena asam benzoat memiliki cincin benzena dan
karbon yang berjumlah 7, sehingga memiliki berat molekul yang besar,
sehingga kemungkinan untuk dilarutkan oleh air sangat kecil.
- Diklormetan, kloroform, etil asetat
Asam benzoat larut dengan baik pada suhu kamar karena adanya kesamaan
sifat yaitu semi polar, sama sama memiliki atom yang kaya elektron bebas
sehingga dapat saling tarik sehingga dapat terlarut.
VIII. KESIMPULAN :
1. Pelarut organik yang bersofat polar antara lain: etanol, formalddehida, aseton, etil
asetat
2. Pelarut orgnaik non-polar antara lain: heksana, sikloheksana, kloroform,
diklormetan
3. Semua yang bersifat polar akan cenderung melarut dalam pelarut yang bersifat
polar dan sebaliknya

IX. JAWABAN PERTANYAAN :
1. Contoh tiga pelarut polar dan non polar
a. Pelarut organik non-polar
- Benzene (C
6
H
6
)
- Toluene (C
6
H
5
CH
3

- Dietil eter (CH
3
CH
2
-O-
CH
2
-CH
3
)
b. Pelarut organik polar
- Asam format (CH(=O)OH)
- Isopropanol (IPA)
(CH
3
CH
2
(-OH)-CH
3
)
- Metanol (CH
3
OH)

2. Implementasi pelarut-pelarut dalam industri.
- Benzena dan Toluena
Sebagai pelarut dan sebagai bahan baku pembuatan senyawa-senyawa
aromatic lainnya yang merupakan turunan senyawa benzene. Senyawa
turunannya (toluene) sering dipakai sebagai bahandasar TNT (trinitrotoluene),
senyawa yang sering dipakai sebagai bahan peledak.

- Dietil eter
Dietil eter merupakan sebuah pelarut laboratorium yang umum dan memiliki
kelarutan terbatas di dalam air, sehingga sering digunakan untuk ekstrasi cair-
cair. Karena kurang rapat bila dibandingkan dengan air, lapisa eter biasanya
berada paling atas. Sebagai salah satu pelarut umum untuk reaksi Grignard,
dan untuk sebagian besar reaksi yang lain melibatkan berbagai reagen
organologam, Dietil eter sangat penting sebagai salah satu pelarut dalam
produksi plastik selulosa sebagai selulosa asetat. Dietil eter memiliki angka
setana yang tinggi, 85 sampai 96, digunakan sebagai salah satu cairan awal
untuk mesin diesel dan bensin

karena keatsiriannya yang tinggi dan temperatur
autosulutan.
- Asam formiat
Asam formiat memiliki banyak kegunaan dan digunakan pada berbagai maca
m industri dan reaksi- reaksi. Salah satu industri yang sering menggunakan
asam formiat adalah industri karet. Dalam industri karet, asam formiat
digunakan sebagai bahankoagulan untuk meng-koagulasi karet dari lateks.
Kualitas karet yang dihasilkan denganasam formiat lebih baik dibandingkan
dengan jenis koagulan lainnya. Industri lain yang menggunakan asam formiat
adalah industri tekstil dan kulit.
Pada industri tekstil,asam formiat digunakan untuk mengatur pH pada proses
pemutihan, pencelupan/pewarnaan. Asam formiat merupakan asam yang lebih kuat dari
asam asetat sehingga menghasilkan produk yang lebih baik.
Pada industri kulit, asam formiat digunakan dalam proses penyamakan kulit
yaitu sebagai bahan pembersih zat kapur dan pengaturpH saat pencelupan.
Asam formiat digunakan untuk menetralkan kapur (deliming) agarkulit
menjadi lebih besar dan padat. Asam formiat merupakan bahan yang
mudahmenguap sehingga tidak akan tertinggal pada serat kulit. Asam formiat
juga seringdigunakan pada peternakan. Pada peternakan, asam formiat untuk
mengawetkan membunuh bakteri yang terdapat pada makanan ternak. Apabila
disemprotkan
ada jerami, asam formiat dapat menahan proses pembusukan dan membuat ma
kananternak dapat mempertahankan nutrisinya lebih lama.
Kegunaan-kegunaan lain dari asam formiat adalah sebagai berikut: a. Reagen
pada reaksi kimia organik, sebagaisumber gugus formil dan ion hidrogen. b.
Cleaning / disinfection, sebagai bahan produk pembersih komersial dan disinfektan
tong kayu untuk membuat anggur atau bir. c.Membersihkan logam asam
(industri electroplating) d. Desulfurisasi flue gas, digunakandalam proses
desulfurisasi SHU (Saarberg-Hoelter-Umwelttlechnik) e. Sebagai
bahan baku dalam industri farmasi f. Sebagai bahan aditif pada pengeboran mi
nyak.

X. DAFTAR PUSTAKA :

Basset, J. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta: Buku
Kedokteran.
Effendy. 2006. Seri Buku Ikatan Kimia dan Kimia Anorganik Teori VSEPR Kepolaran
dan Gaya Antar Molekul. Malang : Banyumedia Publishing.
Fessenden dan Fessenden. 1992. Kimia Organik Jilid I Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga.
Joshua, M. (2010, Mei 3). Rakjat Djelata. Retrieved Mei 30, 2014, from
marnalajoshua.wordpress:
tp://marnalajoshua.wordpress.com/2010/05/03/pelarut-organik/