Anda di halaman 1dari 24

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pestisida
12

Menurut Depkes RI (1990) Kata Pestisida berasal dari rangkaian kata pest
yang berarti hama dan cida atau sida yang berarti membunuh. Dalam PP No 7 tahun
1973 yang dimaksud dengan pestisida adalah semua zat kimia atau bahan lain serta
jasad renik dan virus yang digunakan untuk beberapa tujuan berikut:
2.1.1 Memberantas atau mencegah hama dan penyakit yang merusak tanaman,
bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian.
2.1.2 Memberantas rerumputan.
2.1.3 Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan.
2.1.4 Mengatur dan merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman
(tidak termasuk golongan pupuk).
2.1.5 Memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan piaraan dan ternak.
2.1.5 Memberantas atau mencegah hama-hama air.
2.1.6 Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad renik dalam rumah
tangga, bangunan, dan dalam alat-alat pengangkutan.
2.1.7 Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang bisa menyebabkan
penyakit pada manusia.
2.2 Klasifikasi Pestisida
13,14,15
Pestisida dapat diklasifikasikan berdasarkan sifatnya, targetnya/sasaran, cara
kerjanya atau efek keracunan dan berdasarkan stuktur kimianya yaitu:
Universitas Sumatera Utara
2.2.1 Berdasarkan atas sifat pestisida dapat digolongkan menjadi : bentuk padat,
bentuk cair, bentuk asap (aerosol), bentuk gas (fumigan).
2.2.2 Berdasarkan organ targetnya/sasrannya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Insektisida berfungsi untuk membunuh atau mengendalikan serangga
b. Herbisida berfungsi untuk membunuh gulma
c. Fungisida berfungsi untuk membunuh jamur atau cendawan
d. Algasida berfungsi untuk membunuh alga
e. Rodentisida berfungsi untuk membunuh binatang pengerat
f. Akarisida berfungsi untuk membunuh tungau atau kutu
g. Bakterisida berfungsi untuk membunuh atau melawan bakteri
h. Moluskisida berfungsi untuk membunuh siput.
2.2.3 Berdasarkan Cara Kerja atau efek keracunannya dapat digolongkan sebagai
berikut:
a. Racun kontak adalah membunuh sasarannya bila pestisida mengenai kulit
hewan sasarannya.
b. Racun perut adalah membunuh sasarannya bila pestisida tersebut termakan
oleh hewan yang bersangkutan.
c. Fumigan adalah senyawa kimia yang membunuh sasarannya melalui saluran
pernafasan.
d. Racun sistemik adalah pestisida dapat diisap oleh tanaman, tetapi tidak
merugikan tanaman itu sendiri di dalam batas waktu tertentu dapat
membunuh serangga yang menghisap atau memakan tanaman tersebut.
Universitas Sumatera Utara
2.2.4 Berdasarkan stuktur kimianya pestisida dapat digolongkan menjadi: golongan
organoklorin, golongan organofhosfat, golongan karbamat, golongan piretroid.
a. Golongan Organoklorin
Merupakan bagian dari kelas yang lebih luas dari halogenated hydrocarbon,
termasuk diantaranya dan terkenal sebagai penyebab masalah yaitu Polyclorinated
biphenyls dan dioxin. Sebagai kelompok, insektisida organoklorin merupakan racun
terhadap susunan saraf (neurotoxins) yang merangsang sistem saraf baik pada
serangga maupun mamalia, menyebabkan tremor dan kejang-kejang.
b. Golongan Organofosfat
Pestisida golongan organofosfat makin banyak digunakan karena sifat-
sifatnya yang menguntungkan bagi para petani. Cara kerja golongan ini selektif, tidak
persisten dalam tanah, dan tidak menyebabkan resisten pada serangga. Bekerja
sebagai racun kontak, racun perut dan juga racun pernapasan. Golongan organofosfat
bekerja dengan cara menghambat aktivitas enzim kolinesterase, sehingga asetilkolin
tidak terhidrolisa. Oleh karena itu, keracunan pestisida golongan organofosfat
disebabkan oleh asetilkolin yang berlebihan, mengakibatkan perangsangan secara
terus- menerus pada saraf. Keracunan ini dapat terjadi melalui mulut, inhalasi dan
kulit.

c. Golongan Carbamat
Menurut Sartono (2002) pestisida golongan carbamat merupakan racun
kontak, racun perut dan racun pernapasan. Bekerja sama seperti golongan
organofosfat, yaitu menghambat aktivitas enzim kolinesterase. J ika terjadi keracunan
Universitas Sumatera Utara
yang di sebabkan oleh golongan karbamat, gejalanya sama seperti pada keracunan
organofosfat, tetapi lebih mendadak dan tidak lama karena efeknya terhadap enzim
kolinesterase tidak persisten.
d. Golongan Piretroid
Insektisida dari kelompok piretroid merupakan analog dari piretrum yang
menunjukkan efikasi yang lebih tinggi terhadap serangga dan pada umumnya
toksisitasnya terhadap mamalia lebih rendah dibandingkan dengan insektisida
lainnya. Namun kebanyakan diantaranya sangat toksik terhadap ikan, tawon madu
dan serangga berguna lainnya. Bekerjanya terutama secara kontak dan tidak sistemik.
2.3 Patofisiologi
17,18

Pestisida masuk kedalam tubuh melalui beberapa cara kulit, Pertama absorpsi
melalui kulit berlangsung terus selama pestisida masih ada dikulit. Kedua melalui
mulut (tertelan) karena kecelakaan, kecerobohan atau sengaja (bunuh diri) akan
mengakibatkan keracunan berat hingga mengakibatkan kematian. Ketiga melalui
pernafasan dapat berupa bubuk, droplet atau uap dapat meyebabkan kerusakan serius
pada hidung, tenggorokan jika terhisap cukup banyak.






Universitas Sumatera Utara
Pestisida meracuni tubuh manusia dengan mekanisme kerja sebagai berikut:
2.3.1 Mempengaruhi kerja enzim/hormon. Enzim dan hormon terdiri dari protein
komplek yang dalam kerjanya perlu adanya activator atau cofaktor yang
biasanya berupa vitamin. Bahan racun yang masuk kedalam tubuh dapat
menonaktifkan aktivator sehingga enzim atau hormon tidak dapat bekerja atau
langsung non aktif. Pestisida masuk dan berinteraksi dengan sel sehingga akan
menghambat atau mempengaruhi kerja sel, contohnya gas CO menghambat
haemoglobin dalam mengikat atau membawa oksigen.
2.3.2 Merusak jaringan sehingga timbul histamine dan serotine. Ini akan
menimbulkan reaksi alergi, juga kadang-kadang akan terjadi senyawa baru yang
lebih beracun.
2.3.3 Fungsi detoksikasi hati (hepar). Pestisida yang masuk ketubuh akan mengalami
proses detoksikasi (dinetralisasi) di dalam hati oleh fungsi hati (hepar).
Senyawa racun ini akan diubah menjadi senyawa lain yang sifatnya tidak lagi
beracun terhadap tubuh.







Universitas Sumatera Utara
2.4 Keracunan Pestisida dan Cara Masuk Pestisida Ke Tubuh Manusia
9,16

2.4.1 Keracunan Pestisida
Keracunan pestisida adalah masuknya bahan-bahan kimia kedalam tubuh
manusia melalui kontak langsung, inhalasi, ingesti dan absorpsi sehingga
menimbulkan dampak negatif bagi tubuh.
Penggunaan pestisida dapat mengkontaminasi pengguna secara langsung
sehingga mengakibatkan keracunan. Dalam hal ini keracunan dikelompokkan
menjadi 3 kelompok yaitu:
a. Keracunan Akut ringan, menimbulkan pusing, sakit kepala, iritasi kulit ringan,
badan terasa sakit dan diare.
b. Keracunan akut berat, menimbulkan gejala mual, menggigil, kejang perut, sulit
bernafas, keluar air liur, pupil mata mengecil dan denyut nadi meningkat,
pingsan.
c. Keracunan kronis, lebih sulit dideteksi karena tidak segera terasa dan
menimbulkan gangguan kesehatan. Beberapa gangguan kesehatan yang sering
dihubungkan dengan penggunaan pestisida diantaranya: iritasi mata dan kulit,
kanker, keguguran, cacat pada bayi, serta gangguan saraf, hati, ginjal dan
pernafasan.


Ada 4 macam pekerjaan yang dapat menimbulkan kontaminasi dalam penggunaan
pestisida yakni :
Universitas Sumatera Utara
a. Membawa, menyimpan dan memindahkan konsentrat pestisida (Produk pestisida
yang belum di encerkan).
b. Mencampur pestisida sebelum diaplikasikan atau disemprotkan.
c. Mengaplikasikan atau menyemprotkan pestisida.
d. Mencuci alat-alat aplikasi sesudah aplikasi selesai.
Diantara keempat pekerjaan tersebut di atas yang paling sering menimbulkan
kontaminasi adalah pekerjaan mengaplikasikan, terutama menyemprotkan pestisida.
Namun yang paling berbahaya adalah pekerjaan mencampur pestisida. Saat
mencampur, kita bekerja dengan konsentrat (pestisida dengan kadar tinggi), sedang
saat menyemprot kita bekerja dengan pestisida yang sudah diencerkan.
2.4.2 Cara Masuk Pestisida Ke Tubuh Manusia
Pestisida dapat masuk kedalam tubuh manusia melalui berbagai cara yakni:
kontaminasi memalui kulit (dermal Contamination), terhisap masuk kedalam saluran
pernafasan (inhalation) dan masuk melalui saluran pencernaan makanan lewat mulut
(oral).
a. Kontaminasi Melalui Kulit (dermal contamination)
Pestisida yang menempel di permukaan kulit bias meresap masuk ke dalam
tubuh dan menimbulkan keracunan. Kejadian kontaminasi lewat kulit merupakan
kontaminasi yang paling sering terjadi, meskipun tidak seluruhnya berakhir dengan
keracunan akut. Lebih dari 90% kasus keracunan diseluruh dunia disebabkan oleh
kontaminasi lewat kulit. Risiko bahaya karena kontaminasi lewat kulit dipengaruhi
oleh faktor sebagai berikut:
Universitas Sumatera Utara
a.1 Toksitas dermal (dermal LD 50) pestisida yang bersangkutan maka makin rendah
angka LD 50 makin berbahaya.
a.2 Konsentrasi pestisida yang menempel pada kulit, yaitu semakin pekat pestisida
maka semakin besar bahayanya.
a.3 Formulasi pestisida misalnya formulasi EC dan ULV atau formulasi cair lebih
mudah diserap kulit dari pada formulasi butiran.
a.4 Jenis atau bagian kulit yang terpapar yaitu mata misalnya mudah sekali
meresapkan pestisida. Kulit punggung tangan lebih mudah meresapkan pestisida
dari pada kulit telapak tangan.
a.5 Luas kulit yang terpapar pestisida yaitu makin luas kulit yang terpapar makin
besar risikonya.
a.6 Kondisi fisik yang bersangkutan. Semakin lemah kondisi fisik seseorang, maka
semakin tinggi risiko keracunannya.
Dalam penggunaanya atau aplikasi pestisida, pekerjaan-pekerjaan yang
menimbulkan risiko kontaminasi lewat kulit adalah:
a. Penyemprotan dan aplikasi lainnya, termasuk pemaparan langsung oleh droplet
atau drift pestisidanya dan menyeka wajah dengan tangan, lengan baju atau
sarung tangan yang terkontaminasi pestisida.
b. Pencampuran pestisida
c. Mencuci alat-alat pestisida.
b. Terhisap masuk ke dalam saluran pernapasan (inhalation)
Keracunan pestisida karena partikel pestisida terhisap lewat hidung merupakan
yang terbanyak kedua sesudah kontaminasi kulit. Gas dan partikel semprotan yang
Universitas Sumatera Utara
sangat halus (misalnya, kabut asap dari fogging) dapat masuk kedalam paru-paru,
sedangkan partikel yang lebih besar akan menempel di selaput lendir hidung atau di
kerongkongan. Bahaya penghirupan pestisida lewat saluran pernapasan juga
dipengaruhi oleh LD 50 pestisida yang terhirup dan ukuran partikel dan bentuk fisik
pestisida.
Pestisida berbentuk gas yang masuk ke dalam paru-paru dan sangat
berbahaya. Partikel atau droplet yang berukuran kurang dari 10 mikron dapat
mencapai paru-paru, namun droplet yang berukuran lebih dari 50 mikron mungkin
tidak mencapai paru-paru, tetapi dapat menimbulkan gangguan pada selaput lendir
hidung dan kerongkongan. Gas beracun yang terhisap ditentukan oleh:
a. Konsentrasi gas di dalam ruangan atau di udara
b. Lamanya paparan
c. Kondisi fisik seseorang (pengguna)
Pekerjaan-pekerjaan yang menyebabkan terjadinya kontaminasi lewat saluran
pernafasan adalah
a. Bekerja dengan pestisida (menimbang, mencampur dan sebagainya) di ruangan
tertutup atau yang ventilasinya buruk.
b. Aplikasi pestisida berbentuk gas atau yang akan membentuk gas (misalnya
fumigasi), aerosol serta fogging, terutama aplikasi di dalam ruangan; aplikasi
pestisida berbentuk tepung (misalnya tepung hembus) mempunyai risiko tinggi.
c. Mencampur pestisida berbentuk tepung (debu terhisap pernafasan)
c. Masuk kedalam saluran pencernaan makanan melalui mulut (oral)
Universitas Sumatera Utara
Peristiwa keracunan lewat mulut sebenarnya tidak sering terjadi dibandingkan
dengan kontaminasi kulit. Karacunan lewat mulut dapat terjadi karena beberapa hal
sebagai berikut:
c.1 Kasus bunuh diri.
c.2 Makan, minum, dan merokok ketika bekerja dengan pestisida.
c.3 Menyeka keringat di wajah dengan tangan, lengan baju, atau sarung tangan
yang terkontaminasi pestisida.
c.4 Drift (butiran halus) pestisida terbawa angin masuk ke mulut.
c.5 Meniup kepala penyembur (nozzle) yang tersumbat dengan mulut,
pembersihan nozzle dilakukan dengan bantuan pipa kecil.
c.6 Makanan dan minuman terkontaminasi pestisida, misalnya diangkut atau
disimpan dekat pestisida yang bocor atau disimpan dalam bekas wadah atau
kemasan pestisida.
c.7 Kecelakaan khusus, misalnya pestisida disimpan dalam bekas wadah makanan
atau disimpan tanpa label sehingga salah ambil.

2.5 Gejala Keracunan Pestisida
9

Gejala keracunan khususnya pestisida dari golongan organofosfat dan
karbamat tidak spesifik bahkan cenderung menyerupai gejala penyakit biasa seperti:
pusing, mual, dan lemah. Gejala klinik baru akan timbul bila aktivitas kolinesterase
50 % dari normal atau lebih rendah.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel gejala klinis tingkat keracunan pestisida
dibawah ini.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 2.1
Gejala Klinis untuk Setiap Tingkatan keracunan Dan Prognosisnya
Aktivitas
Kolinesterase (%)
Tingkatan
Keracunan
Gejala Kelinis Prognosis
50-75 Ringan Lemah, sakit kepala, pening,
mau muntah, berliur banyak,
mata berair, miosis, detak
jantung cepat.
Sadar dalam waktu
1-3 hari
25-50 Sedang Lelah mendadak, penglihatan,
berliur banyak , berkeringat,
muntah diare, sukar bernafas,
hipertonia, tremor pada tangan
dan kepala, miosis, nyeri dada,
sianosis pada membran mucosa
Sadar dalam waktu
1-2 Minggu
0-25

Berat Tremor mendadak, kejang-
kejang, otot tidak dapat
digerakkan, intensif sianosis,
pembengkakan paru, koma.
Kematian karena
gagal pernafasan dan
gagal jantung
(Sumber: Munaf, 1997)



2.6 Diagnosis Keracunan Pestisida
Diagnosa keracunan pestisida yang tepat harus dilakukan lewat proses medis
baku, kebanyakan harus dilakukan di laboratorium. Namun jika seseorang yang mula-
mula sehat kemudian selama atau setelah bekerja dengan pestisida merasakan salah
satu atau beberapa gejala keracunan pestisida diduga telah keracunan pestisida. Untuk
pestisida yang bekerja dengan menghambat enzim cholinesterase (misalnya pestisida
dari kelompok organofosfat dan carbamat), diagnosa gejala keracunan biasa
dilakukan dengan uji (test) cholinesterase.
17

Universitas Sumatera Utara
Umumnya gejala keracunan organofosfat atau karbamat baru akan dilihat jika
aktivitas kolinestrase darah menurun sampai 30%. Namun penurunan sampai 50%
pada pengguna pstisida diambil sebagai batas, dan disarankan agar penderita
menghentikan pekerjaan yang berhubungan dengan pestisida.
3
2.7 Epidemiologi Keracunan Pestisida
2.7.1 Distribusi dan Frekuensi Keracunan Pestisida
Epidemiologi keracunan Pestisida yaitu mempelajari frekuensi, distribusi
keracunan Pestisida dan determinan atau faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Dalam distribusi keracunan Pestisida dapat dilihat berdasarkan 3 variabel yaitu
variabel orang (Person), variabel Tempat (Place), dan variabel waktu (Time).
19
a. Menurut Orang (Person)
Keracunan akibat pestisida sudah menjadi masalah seluruh dunia, dengan
estimasi jumlah kasus per tahun sebesar 1-3 juta. Angka kematian beragam mulai dari
1% sampai 9% kasus yang datang berobat, dan bergantung pada ketersediaan antidot
serta mutu layanan medis yang diberikan. Keracunan yang disengaja (terutama untuk
upaya percobaan bunuh diri atau berhasil bunuh diri), proporsinya dalam kasus
keracunan pestisida cukup besar di Negara tertentu. Pestisida mudah didapat di rumah
tangga sehingga menjadikannya sebagai metode kesukaan/pilihan mereka yang
berniat bunuh diri.
Mayoritas kasus keracunan pestisida yang tidak disengaja terjadi di kalangan
petani dan keluarga mereka. Paparan terjadi terutama selama pencampuran atau
penyemprotan pestisida, penyemprotan dengan pesawat atau memasuki wilayah yang
disemprot. Paparan okupasional akut juga dapat terjadi selama pembuatan, formulasi,
Universitas Sumatera Utara
pengemasan, dan pendistribusian pestisida. efek akutnya yang berkaitan dengan
paparan okupasional terhadap pestisida antara sensasi terbakar di mata yang terkena
semprotan zat kimia, kerusakan kulit, efek neurologis, dan efek pada hati. Paparan
kronis diduga menyebabkan masalah reproduksi dan memperbesar risiko terkena
kanker, mengalami efek neurologis dan psikologis serta efek pada fungsi imun.
Banyak kasus keracunan pestisida yang terjadi pada anak-anak karena mereka
berhasil menjangkau pestisida yang kemasannya terbuka yang disimpan di rumah.
Kejadian keracunan massal akibat mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi
pestisida juga pernah terjadi dan menyebabkan banyak kematian.
18
Berdasarkan hasil monitoring Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
proporsi keracunan pestisida berdasarkan kholinestrase darah tahun 1990 dengan
tingkat keracunan berat 0,16%, sedang 3,32%, ringan 38,35% dan normal 58,17%.
Tingkat keracunan pestisida pada petani berdasarkan hasil pemeriksaan kolinestrase
darah pada tahun 1991 dengan proporsi keracunan berat 0,39%, sedang 10,64%,
ringan 38,32%, dan keracunan normal 50,65%.
20

b. Menurut Tempat (Place)
Keracunan adalah salah satu masalah kesehatan yang semakin meningkat baik
di negara maju maupun Negara berkembang. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) dan Program Lingkungan Persatuan Bangsa-Bangsa (UNEP) memperkirakan
ada 1,5 juta kasus keracunan pestisida terjadi pada sektor pertanian. Sebagian besar
kasus terjadi di Negara berkembang, yang 20.000 kasus diantaranya berakibat fatal.
21

c. Menurut Waktu (Time)
Universitas Sumatera Utara
Untuk mendapatkan gambaran jumlah korban keracunan pestisida di Indonesia
secara akurat, sangat sulit. Karena belum adanya sistem pelaporan dan monitoring
secara sistematik dan periodik. Apalagi dengan penerapan desentralisasi
pembangunan kesehatan, sistem pelaporan sama sekali tidak berjalan, sehingga sulit
mengetahui kondisi kesehatan nasional termasuk gambaran keracunan pestisida.
Namun demikian, dengan menggunakan gambaran piramida dapat diketahui
gambaran dampak (actual hazards) penggunaan pestisid sebagai berikut: pada tahun
1976 diperoleh 105 CFR 7,6%, tahun 1983 CFR 20-50%.
22

2.7.2 Determinan Keracunan Pestisida
a. Faktor Agent (Penyebab)
Proses terjadinya keracunan pestisida disebabkan adanya interaksi antara
agent kimia atau Chemical Agent, manusia sebagai host dan faktor lingkungan yang
mendukung (environment). Agent kimia (Chemical Agent) dihasilkan oleh aktifitas
manusia dan mempunyai berbagai efek pada kesehatan. Paparan oleh factor
lingkungan akan mengenai manusia (Host) yang peka atau kebal terhadap paparan
dan akan memberikan suatu perubahan fungsi atau menyebabkan perubahan
prepatologik.
19

Menurut Achmadi (1983) ada beberapa Faktor yang mempengaruhi
Keracunan pestisida antara lain:
b. Faktor Intrinsik (Penderita)
b.1 Umur
Aktivitas kolinestrase berbeda antara anak-anak dan orang dewasa di atas 20
tahun, baik dalam keadaan terpapar pestisida organoposphat maupun selama bekerja
Universitas Sumatera Utara
dengan organofosfat. Usia di bawah 20 tahun dapat merupakan kontra indikasi bagi
pekerja dengan organofosfat karena menurunkan aktivitas kolinestrase sehingga
memperberat keracunan yang terjadi.
22
b.2 Jenis Kelamin
Menurut Gallo dan Lawryk (1999) dari beberapa penelitian yang telah
dilakukan aktivitas kolinestrase secara signifikan lebih tinggi pada pria di bandingkan
dengan wanita. Aktivitas kolinestrase pada pria dan wanita dalam butir darah merah
bervariasi (13,50%-15,60%) dan plasma darah (14,7%-26,80%) dengan
menggunakan metode manometri. Pekerja wanita yang berhubungan dengan
organofhosfat terutama dalam keadaan hamil akan mempunyai aktivitas kolinestrase
yang lebih rendah. Beberapa penelitian menemukan hubungan pestisida sebagai
pencetus timbulnya kanker, tingkat kesuburan menurun dan gangguan dari terhadap
sistem kekebalan tubuh.
23

b.3 Pendidikan
Permasalahan penggunaan pestisida menurut Achmadi (1983) bertumpu pada
dua hal yaitu kuantitas jumlah petani yang sangat besar dan secara kualitas kurang
memadai karena faktor pendidikan yang umumnya rendah sehingga tidak jarang
petani tidak membaca petunjuk pengunaan pestisida. Selain itu kurang
disosialisasikan penggunaan pestisida yang benar, sehingga tingkat kesadaran
masyarakat terhadap dampak pestisida masih sangat rendah.
c. Faktor Ekstrinsik
c.1 Jangka waktu atau lamanya terpapar pestisida
Universitas Sumatera Utara
Paparan yang berlangsung terus-menerus lebih berbahaya daripada paparan
yang terputus-putus pada waktu yang sama. Jadi pemaparan yang telah lewat perlu
diperhatikan bila terjadi resiko pemaparan baru. Karena itu penyemprot yang terpapar
berulang kali dan berlangsung lama dapat menimbulkan keracunan kronik. Telah
dibuktikan bahwa penggunaan pestisida secara berlama-lama untuk pertanian dapat
menyebabkan kanker seperti non Hodgkin's lymphoma.
23



c.2 Dosis Pestisida
Dosis pestisida berpengaruh langsung terhadap bahaya keracunan pestisida,
karena itu dalam melakukan pencampuran pestisida umtuk menyemprot petani
hendaknya memperhatikan takaran atau dosis yang tertera pada label. Dosis atau
takaran yang melebihi aturan akan membahayakan penyemprot itu sendiri. Dosis
adalah jumlah pestisida dalam liter atau kilogram yang digunakan untuk
menegendalikan hama tiap satuan luas tertentu atau tiap tanaman yang dilakukan satu
kali aplikasi atau lebih.
24
Dosis pestisida ditentukan oleh produsen atau lembaga penelitian yang
berwenang setelah melalui penelitian yang mendalam dan harus ditaati oleh pengguna
pestisida. namun kenyataanya di lapangan, dosis biasa disesuaikan menurut keadaan.
Dosis aplikasi umumnya diberi dalam satu kisaran (range) yaitu 1-1,5 liter/ha dan
konsentrasinya 1,5-2 ml/liter air.
Berdasarkan hasil penelitian Silaban (2005) Ada hubungan dosis teradap
kejadian keracuanan pestisida. Hal ini dapat dijelaskan karena petani ingin
Universitas Sumatera Utara
mendapatkan hasil yang cepat dalam memberantas dan pertumbuhan tanaman,
sehingga melakukan peracikan dengan menambahkan dosis yang telah ditetapkan.
Penambahan dosis menjadi lebih pekat jika terhirup melalui inhalasi dapat beresiko
terhadap kesehatan dan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan seperti tanah dan
air.
25
c.3 Kebersihan Perorangan (Personal Higiene)
Kebersihan perorangan (Personal higiene) ditujukan untuk menjaga
kebersihan badan dan mencegah material berbahaya menempel untuk waktu yang
lama dan diserap oleh kulit. Sama bahayanya dengan menghisap atau memakan
bahan kimia dalam jumlah kecil yang dapat menggangu kesehatan.
26
c.4 Alat Pelindung Diri (APD)
Pada petani membasmi hama melalui penyemprotan dengan pestisida, tetapi
pelaksanaan penyemprotan tidak dilaksanakan menurut ketentuan atau petunjuk,
artinya sewaktu menyemprot tidak memakai pengaman secara sempurna seperti
masker, topi, sepatu khusus, mantel, sarung tangan, sehingga dapat menyebabkan
keracunan pestisida dalam halnya petani.
26
Berdasarkan hasil penelitian Silaban di Kabupaten Simalungun (2005) dengan
desain kasus control, berdasarkan hasil analisis multivariat menunjukkan ada
hubungan antara pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) terhadap keracunan pestisida
(p=0,000, OR=5,3) artinya bahwa petani yang mengalami keracunan pestisida
kemungkinan 5,3 kali tidak memakai APD dibandingkan dengan petani yang tidak
mengalami keracunan.
25
Universitas Sumatera Utara
2.8 Pencegahan Keracunan Pestisida
1,12
2.8.1 Pencegahan Tingkat Pertama (Primary prevention)
Setiap orang yang dalam pekerjaannya sering berhubungan dengan pestisida
seperti petani penyemprot, harus mengenali dengan baik gejala dan tanda keracunan
pestisida. Tindakan pencegahan lebih penting daripada pengobatan. Sebagai upaya
pencegahan terjadinya keracunan pestisida sampai ke tingkat yang membahayakan
kesehatan, orang yang berhubungan dengan pestisida harus dapat memperhatikan hal-
hal sebagai berikut:
a. Memilih Pestisida
Memilih bentuk atau formulasi pestisida juga sangat penting dalam
penggunaan pestisida. Formulasi pestisida yang bagainana yang harus kita pilih,
apakah cairan, butiran, atau bentuk lainnya. Kalau dilihat dari bahaya pelayangan di
udara, pestisida berbentuk butiran paling sedikit kemungkinannya untuk melayang.
Pestisida yang berbentuk cairan, bahaya pelayangannya lebih kecil jika dibandingkan
dengan pestisida berbentuk tepung.
Disamping itu pertimbangan lain dalam memilih formulasi pestisida adalah
alat yang akan digunakan untuk menyebarkan pestisida tersebut. Bila kita memiliki
alat penyemprot tentunya kita lebih tepat menggunakan pestisida berbentuk cairan
Emulsible Concentrate (EC), Wettable Powder (WP), atau Soluble Powder (SP).
Apabila tidak ada alat sama sekali, kita pilih pestisida yang berbentuk butiran.
b. Alat Yang Digunakan dalam Aplikasi Pestisida
Menurut Wudianto (2007) alat yang digunakan dalam aplikasi pestisida
tergantung formulasi yang digunakan. Pestisida yang berbentuk butiran (granula)
Universitas Sumatera Utara
untuk menyebarkan tidak membutuhkan alat khusus, cukup dengan ember atau alat
lainnya yang bisa digunakan untuk menampung pestisida tersebut dan sarung tangan
agar tangan tidak berhubungan langsung dengan pestisida. Pestisida berwujud cairan
Emulsible Concentrate (EC) atau bentuk tepung yang dilarutkan Wettable Powder
(WP) atau Soluble Powder (SP) memerlukan alat penyemprot untuk menyebarkan.
Sedangkan pestisida yang berbentuk tepung hembus bisa digunakan alat penghembus.
Pestisida berbentuk fumigant dapat diaplikasikan dengan alat penyuntik pohon kelapa
untuk jenis insektisida yang digunakan memberantas penggerek batang.
Alat penyemprot yang biasa digunakan yaitu penyemprot gendong, pengabut
bermotor tipe gendong (Power Mist Blower and Duster), mesin penyemprot tekanan
tinggi (High Pressure Power Sprayer), dan jenis penyemprot lainnya. Penggunaan
alat penyemprot ini disesuaikan dengan kebutuhan terutama yang berkaitan dengan
luas areal pertanian sehingga pemakaian pestisida menjadi efektif.
c. Teknik dan Cara Aplikasi
Teknik dan cara aplikasi ini sangat penting diketahui oleh pengguna pestisida,
terutama untuk menghindarkan bahaya pemaparan pestisida terhadap tubunya, orang
lain dan lingkungannya. Ada beberapa petunjuk dan teknik serta cara aplikasi
pestisida yang diberikan oleh pemerintah yaitu:
c.1 Gunakanlah pestisida yang telah terdaftar dan memperoleh izin dari menteri
Pertanian R.I Jangan sekali-sekali menggunakan pestisida yang belum
terdaftar dan memperoleh izin.
Universitas Sumatera Utara
c.2 Pilihlah pestisida yang sesuai dengan hama atau penyakit tanaman serta jasad
sasaran lainnya yang akan dikendalikan, dengan cara lebih dahulu membaca
keterangan kegunaan pestisida dalam label pada wadah pestisida.
c.3 Belilah pestisida dalam wadah asli yang tertutup rapat dan tidak bocor juga
tidak rusak, dengan label asli yang berisi keterangan lengkap dan jelas, jangan
membeli dan menggunakan pestisida dengan label dalam bahasa asing.
c.4 Bacalah semua petunjuk yang tercantum pada label pestisida sebelum bekerja
dengan pestisida itu.
c.5 Lakukanlah penakaran, pengenceran atau pencampuran pestisida di tempat
terbuka atau dalam ruangan dalam ventilasi baik.
c.6 Pakailah sarung tangan dan gunakanlah wadah, alat pengaduk dan alat
penakar khusus untuk pestisida.
c.7 Gunakanlah pestisida sesuai dengan takaran yang dianjurkan. Jangan
menggunakan pestisida dengan takaran yang berlebihan atau kurang karena
dapat mengurangi keefektifannya.
c.8 Periksalah alat penyemprot dan usahakanlah supaya dalam keadaan baik,
bersih dan tidak bocor.
c.9 Hindarkanlah pestisida terhirup melalui pernafasan atau terkena kulit, mata,
mulut dan pakaian.
c.10 Apabila ada luka pada kulit, tutuplah luka tersebut dengan baik sebelum
bekerja dengan perban. Pestisida lebih mudah terserap melalui kulit yang
terluka.
Universitas Sumatera Utara
c.11 Selama menyemprot pakailah alat pengaman, berupa masker penutup hidung
dan mulut, sarung tangan, sepatu boot, dan jaket atau baju berlengan panjang.
c.12 Jangan menyemprot melawanan dengan arah angin.
c.13 Waktu yang baik untuk penyemprotan adalah pada waktu terjadi aliran udara
naik (thermik) yaitu antara pukul 08.00-11 WIB atau sore hari pukul 15-
18.00 WIB. Penyemprotan terlalu pagi atau terlalu sore mengakibatkan
pestisida yang menempel pada bagian tanaman akan terlalu lama mengering
mengakibatkan tanaman yang disemprot keracunan.
c.14 Peyemprot segera mandi dengan bersih menggunakan sabun dan pakaian yang
digunakan segera dicuci.
c.15 Jangan makan dan minum atau merokok pada saat melakukan penyemprotan.
c.16 Alat penyemprot segera dibersihkan setelah selesai digunakan. Air bekas
cucian sebaiknya dibuang ke lokasi yang jauh dari sumber air dan sungai.
d. Tempat menyimpan Pestisida
Tempat menyimpan pestisida biasa berupa almari atau peti khusus atau biasa
juga ruangan khusus yang tidak mudah dijangkau anak-anak atau hewan piaraan. Bila
perlu tempat penyimpanan ini dikunci kemudian letakkan tempat penyimpanan ini
jauh dari tempat bahan makanan, minuman, dan sumber api. Peletakan pestisida tidak
dianjurkan di gudang bahan makanan.
Usahakan tempat pestisida mempunyai ventilasi yang cukup, tidak terkena
matahari langsung, dan tidak terkena air hujan agar pestisida tidak rusak.
e. Mengelola wadah Pestisida
Universitas Sumatera Utara
Pestisida harus tetap tersimpan dalam wadah atau bungkus aslinya yang
memuat label atau keterangan mengenai penggunaannya. Dengan demikian bila ata
keracunan akan digunakan lagi petujukya masih jelas. Wadah tidak bocor dan
tertutup rapat. Bila terkena uap air atau zat asam, pestisida bias rusak dan tidak efektif
lagi. Pindahkan isi bila wadah bocor ke tempat yang merek dagangnya sama dengan
petunjuk yang masih jelas. Bila tidak ada, pindahkan ke tempat lain yang tertutup
rapat dengan menuliskan keterangan mengenai merek dagangnya, bahan aktifnya,
kegunaannya, dan cara penggunaanya. Wadah pestisida yang sudah tidak berguna
dirusak agar tidak dimanfaatkan untuk keperluan lain atau dengan cara mengubur
wadah tersebut jauh dari sumber air.
2.8.2 Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
28,29

Dalam penanggulangan keracunan pestisida penting dilakukan untuk kasus
keracunan akut dengan tujuan menyelamatkan penderita dari kematian yang
disebabkan oleh keracunan akut. Adapun penanggulangan keracunan pestisida adalah
sebagai berikut:
a. Organofosfat, bila penderita tak bernafas segara beri nafas buatan , bila racun
terlelan lakukan pencucian lambung dengan air, bila kontaminasi dari kulit, cuci
dengan sabun dan air selama 15 menit. Bila ada berikan antidot:
pralidoxime(Contrathion). Pengobatan keracunan organofosfat harus cepat
dilakukan. Bila dilakukan terlambat dalam beberapa menit akan dapat
menyebabkan kematian. Diagnosis keracunan dilakukan berdasarkan terjadinya
gejala penyakit dan sejarah kejadiannya yang saling berhubungan. Pada keracunan
yang berat, pseudokholinesterase dan aktifits erytrocyt kholinesterase harus diukur
Universitas Sumatera Utara
dan bila kandungannya jauh dibawah normal, keracunan mesti terjadi dan gejala
segera timbul. Beri atropine 2mg iv/sc tiap sepuluh menit sampai terlihat
atropinisasi yaitu: muka kemerahan, pupil dilatasi, denyut nadi meningkat sampai
140 x/menit. Ulangi pemberian atropin bila gejala-gejala keracunan timbul
kembali. Awasi penderita selama 48 jam dimana diharapkan sudah ada recovery
yang komplit dan gejala tidak timbul kembali. Kejang dapat diatasi dengan
pemberian diazepam 5 mg iv, jangan diberikan barbiturat atau sedativ yang lain.
b. Carbamat, penderita yang gelisah harus ditenangkan, recoverery akan terjadi
dengan cepat. Bila keracunan hebat, beri atropin 2 mg oral/sc dosis tunggal dan tak
perlu diberikan obat-obat lain.
2.8.3 Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)
Upaya yang dilakukan pada pencegahan keracunan pestisida adalah:
1. Hentikan paparan dengan memindahkan korban dari sumber paparan, lepaskan
pakaian korban dan cuci/mandikan korban.
2. J ika terjadi kesulitan pernafasan maka korban diberi pernafasan buatan. Korban
diinstruksikan agar tetap tenang. Dampak serius tidak terjadi segera, ada waktu
untuk menolong korban.
3. Korban segera dibawa ke rumah sakit atau dokter terdekat. Berikan informasi
tentang pestisida yang memepari korban dengan membawa label kemasan
pestisida.
4. Keluarga seharusnya diberi pengetahuan/penyuluhan tentang tentang pestisida
sehingga jika terjadi keracunan maka keluarga dapat memberikan pertolongan
pertama.
Universitas Sumatera Utara
2.9 Landasan Teori
Secara epidemiologis, keracunan pestisida ditentukan oleh adanya agen dan
faktor risiko yang memungkinkan adanya mekanisme hubungan antara agen dengan
host yaitu manusia, sehingga terjadi keracunan pestisida. Adanya pestisida yang
menjadi agen, adanya manusia sebagai host serta faktor resiko yang mempengaruhi
penjamu. Menurut Notoadmojo (2005), faktor risiko dikelompokkan menjadi dua
yaitu faktor risiko intrinsik (umur, jenis kelamin, faktor nutirisi, bentuk anatomis
tubuh) dan faktor risiko ekstrinsik ( dosis, personal higiene, penggunaan alat
pelindung diri).
Terjadinya keracunan pestisida pada petani dipengaruhi oleh faktor intrinsik
dan ekstrinsik petani dalam melakukan pengelolaan pestisida dan tindakan
pencegahan terhadap keracunan pestisida.










Universitas Sumatera Utara