Anda di halaman 1dari 44

PENGETAHUAN BAHAN NYLON, POLYCARBONAT, TEFLON

(PTFE)
MAKALAH

disusun untuk memenuhi salah satu tugas Pengetahuan Bahan
pada Semester 2 Pogram Studi D4 Teknik Kimia Produksi Bersih

Oleh
Nisa Mardiyah NIM 131424018
Puteri Aulia Rahmah NIM 131424020

Dosen Pembimbing :
Retno Indiarti, Ir., MT



JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2013



KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt. Karena dengan izin dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Makalah ini disusun
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengetahuan Bahan pada semester dua jurusan
Teknik Kimia program studi D-IV Teknik Kimia Produksi Bersih Politeknik Negeri
Bandung. Adapun judul dari makalah ini adalah Pengetahuan Bahan Nylon,Polycarbonat,
dan Teflon (PTFE).
Dalam menyusun makalah ini, penulis memperoleh banyak bimbingan dari berbagai
pihak. Untuk itu, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:
1. Ibu Retno Indiarti, Ir., MT , selaku dosen Pengetahuan Bahan Politeknik Negeri
Bandung yang telah membimbing penulis dalam menyusun makalah ini.
2. Seluruh rekan di kelas 1A TKPB yang telah membantu dan memberikan arahan untuk
penyusunan makalah ini.
3. Orang tua, yang telah memberikan dorongan moril dalam kelancaran penyusunan
makalah ini.
4. Semua pihak yang telah membantu, membimbing dan memberikan arahan dalam
penyusunan makalah ini.
Semoga bantuan dan bimbingan serta dorongan dibalas oleh Allah Swt.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan
karena keterbatasan kemampuan penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan
kritik yang sifatnya membangun dari semua pihak agar penulis dapat memperbaiki dan
meningkatkan kemampuan diri di masa yang akan datang.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis dan menambah
pengetahuan umumnya bagi keluarga besar Politeknik Negeri Bandung.
Bandung, Mei 2014
Penulis




































BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Nylon adalah sebutan umum untuk keluarga polimer sintetik yang dikenal umum sebagai
poliamida , pertama kali diproduksi pada tanggal 28 Februari 1935, oleh Wallace Carothers
di DuPont fasilitas penelitian 's di Stasiun Eksperimental DuPont . Nylon adalah salah satu
polimer yang paling umum digunakan.
Polikarbonat adalah suatu kelompok polimer termoplastik, mudah dibentuk dengan
menggunakan panas. Plastik jenis ini digunakan secara luas dalam industri kimia saat ini.
Plastik ini memiliki banyak keunggulan, yaitu ketahanan termal dibandingkan dengan plastik
jenis lain, tahan terhadap benturan, dan sangat bening. Dalam identifikasi plastik,
polikarbonat berada pada nomor 7.
Teflon merupakan sebuah fluoropolimer thermoplastik. Teflon adalah nama dagang
terdaftar dari bahan plastik yang sangat berguna yaitu Poly Tetra Fluoro Ethylene
(PTFE). PTFE adalah salah satu kelas dari plastik yang dikenal sebagai fluoropolymers.
Nylon, Polycarbonat dan Teflon merupakan bahan yang tidak terlepas dari kegiatan
sehari-hari manusia. Oleh karena itu, merupakan hal yang sangat penting untuk mengetahui
jenis bahan ini baik sifat kimia, fisika, mekanik, keunggulan maupun kekurangannya.

1.2. Rumusan Masalah
Pada makalah ini masalah yang akan dibahas meliputi :
1. Apa saja sifat fisik, kimia atau mekanik dari bahan nylon,polycarbonat dan teflon ?
2. Bagaimana cara memperoleh atau proses pembuatan bahan nylon, polycarbonat dan
teflon ?
3. Bagaimana penggunaan bahan nylon, polycarbonat dan teflon di industri maupun
kehidupan sehari-hari ?
4. Bagaimana tingkat bahaya bahan nylon, polycarbonat, dan teflon bagi kehidupan dan
pencemaran lingkungan ?






1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan dilaksanakannya penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui sifat fisik, kimia atau mekanik dari bahan nylon, polycarbonat, dan
teflon.
2. Agar mengetahui cara memperoleh atau proses pembuatan bahan nylon, polycarbonat
dan teflon.
3. Agar mengetahui jenis-jenis bahan nylon, polycarbonat, dan teflon.
4. Untuk mengetahui penggunaan bahan nylon, polycarbonat, dan teflon di industri.
5. Agar mengetahui dan memahami tingkat bahaya bahan nylon, polycarbonat, dan
teflon bagi kehidupan dan pencemaran lingkungan.

1.4. Manfaat Penulisan
Manfaat yang bisa didapat dari disusunnya makalah ini adalah, sebagai berikut :
Memberikan pemahaman kepada pembaca, Bagaimana sifat fisik, kimia, dan mekanik
dari Nylon, Polycarbonat, Teflon
Memberikan pemahaman kepada pembaca tentang sumber bahan tersebut, dan
bagaimana cara memperoleh atau proses pembuatan dari bahan tersebut (Nylon,
Polycarbonat, teflon)
Memberikan pemahaman kepada pembaca Kegunaan yang didapat dari bahan (Nylon,
Polycarbonat, teflon) tersebut
Memberikan pemahaman kepada pembaca tentang tingkat bahaya bagi kehidupan
dan lingkungan dari bahan(nylon, polycarbonat, teflon) tersebut.

1.5. Cara Memperoleh Data
Dalam penulisan makalah ini penulis memperoleh data dari berbagai literature,
diantaranya dari buku bahan ajar, jurnal dan sumber dari internet (artikel).








BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN
2.1. NYLON
2.1.1. Pendahuluan
Nylon adalah sebutan umum untuk keluarga polimer sintetik yang dikenal umum
sebagai poliamida , pertama kali diproduksi pada tanggal 28 Februari 1935, oleh Wallace
Carothers di DuPont fasilitas penelitian 's di Stasiun Eksperimental DuPont . Nylon
adalah salah satu polimer yang paling umum digunakan.
Nilon adalah kopolimer kondensasi dibentuk dengan mereaksikan bagian yang
sama dari sebuah diamina dan asam dikarboksilat , sehingga amida yang terbentuk pada
kedua ujung masing-masing monomer dalam proses analog dengan polipeptida
biopolimer . Elemen kimia termasuk adalah karbon , hidrogen , nitrogen , dan oksigen.
Contoh aplikasi dalam kehidupan sehari-hari untuk industri benang, tekstil, perlengkapan
rumah, peralatan industry.

2.1.2. Sejarah Nylon
Nilon merupakan suatu keluarga polimer sintetik yang diciptakan pada 1935 oleh
Wallace Carothers di DuPont. Produk pertama adalah sikat gigi ber-bulu nilon (1938),
dilanjutkan dengan produk yang lebih dikenal: stoking untuk wanita pada 1940. Nilon
dibuat dari rangkaian unit yang ditautkan dengan ikatan peptida (ikatan amida) dan
sering diistilahkan dengan poliamida (PA). Nilon merupakan polimer pertama yang
sukses secara komersial, dan merupakan serat sintetik pertama yang dibuat seluruhnya
dari bahan anorganik: batu bara, air, dan udara. Elemen-elemen ini tersusun menjadi
monomer dengan berat molekular rendah, yang selanjutnya direaksikan untuk
membentuk rantai polimer panjang.
Bahan ini ditujukan untuk menjadi pengganti sintetis dari sutra yang diwujudkan
dengan menggunakannya untuk menggantikan sutra sebagai bahan parasut setelah
Amerika Serikat memasuki Perang Dunia II pada 1941, yang menyebabkan stoking sulit
diperoleh sampai perang berakhir.






2.1.3. Deskripsi Nylon
Nilon adalah kopolimer kondensasi dibentuk dengan mereaksikan bagian yang
sama dari sebuah diamina dan asam dikarboksilat , sehingga amida yang terbentuk pada
kedua ujung masing-masing monomer dalam proses analog dengan polipeptida
biopolimer. Elemen kimia yang termasuk adalah karbon , hidrogen , nitrogen , dan
oksigen. Akhiran numerik menentukan jumlah karbon yang disumbangkan oleh
monomer-monomer, sedangkan diamina pertama dan kedua diacid. Varian yang paling
umum adalah nilon 6-6 yang mengacu pada fakta bahwa diamina ( heksametilena
diamina , IUPAC Nama: heksana-1 ,6-diamina ) dan diacid ( asam adipat , IUPAC
Nama: asam hexanedioic ) masing-masing menyumbangkan 6 karbon untuk rantai
polimer. Seperti lainnya kopolimer seperti poliester dan poliuretan , terdiri dari satu
monomer, sehingga mereka bergantian dalam rantai tersebut. Karena setiap monomer
dalam kopolimer ini memiliki sama kelompok reaktif pada kedua ujungnya, arah dari
ikatan amida membalikkan antara masing-masing monomer. Di laboratorium, nilon 6-6
juga dapat dibuat dengan menggunakan klorida adipoyl bukan adipat.
Sumber : www.wikipedia.org






Gambar 1. Nylon

Nilon 5.10, terbuat dari pentamethylene diamina dan asam sebasat , dipelajari oleh
Carothers bahkan sebelum nilon 6,6 dan memiliki sifat unggul, tetapi lebih mahal untuk
membuat. Sesuai dengan konvensi penamaan, nilon 6,12 (N-6, 12) atau PA-6, 12
adalah kopolimer dari 6C diamina dan diacid 12C. Demikian pula untuk N-5, 10 N-6, 11;
N-10, 12, dll nilon lain meliputi asam dikarboksilat dikopolimerisasi / diamina produk
yang tidak didasarkan pada monomer yang tercantum di atas. Sebagai contoh, beberapa
aromatik nilon yang dipolimerisasi dengan penambahan diacids seperti asam tereftalat
( Kevlar , Twaron ) atau asam isoftalat ( Nomex ), lebih umumnya terkait dengan
poliester. Ada kopolimer dari, N-6 6/N6; kopolimer N-6, 6/N-6/N-12, dan lain-lain.


Karena cara poliamida terbentuk, nilon sepertinya akan terbatas pada bercabang, rantai
lurus. Tapi bintang nilon bercabang dapat diproduksi oleh kondensasi asam
dikarboksilat dengan poliamina memiliki tiga atau lebih gugus amino.

2.1.4. Sifat Fisik, Kimia, dan Mekanik Nylon
1. Karakteristik Nylon
Karakteristik dari bahan nylon adalah sebagai berikut.
Variasi kilau: nilon memiliki kemampuan untuk menjadi sangat berkilau,
semilustrous.
Durabilitas: serat yang tinggi keuletan digunakan untuk sabuk pengaman,
ban tali, kain balistik dan penggunaan lainnya.
Elongasi tinggi
Ketahanan abrasi yang sangat baik
Sangat tangguh (kain nilon yang panas-set)
Membuka jalan untuk memudahkan perawatan pakaian
Resistensi tinggi terhadap serangga, jamur, hewan, serta bahan kimia
cetakan, jamur, membusuk dan banyak
Digunakan dalam karpet dan stoking nilon
Mencair bukan terbakar
Digunakan dalam aplikasi militer
Spesifik kekuatan baik
Transparan terhadap cahaya inframerah (-12dB)
Poliamida (nylon) merupakan serat yang kuat. Nilon yang cukup mahal
ialah supernilon yang dapat ditenun menjadi kain-kain yang indah, baik yang
menyerupai tweed maupun yang menyerupai brokad emas atau sutera.

2. Sifat-sifat Nylon
a. Sifat Fisik dan Mekanik Nylon
Sifat-sifat fisik dan mekanik dari bahan nylon adalah sebagai berikut:
Titik lebur :363-367
0
F
Kekerasan rockwell :106
Konduktivitas termal :2,01 BTU di/fth
0
F


Panas laten difusi :35,98 BTU/lb
Koefisien ekspansi linier :5,055 x 10-5 /OF
Kekuatan tarik pada hasil :4496-4786 psi
Koefisien gesekan :0,10-0,30
Kepadatan :1,15 g/cm3
Konduktivitas listrik :10-12 S/m
b. Sifat Kimia Bahan Nylon
Sifat-sifat kimia dari bahan nylon adalah sebagai berikut:
Kuat dan tahan gesekan.
Daya mulurnya besar, kalau diregang sampai 8%, benang akan kembali
pada panjang semula, tetapi kalau terlalu regang, bentuk akan berubah.
Kenyal tidak mengisap lengas atau air sehingga mudah kering.
Pada umumnya tidak tahan panas, kalau bahan disetrika harus dicoba
terlebih dahulu dengan temperature yang rendah.
Larut dalam phenol, tetapi kalau dipakai phenol cair akan mengerit dan
dapat digunakan untuk membuat hiasan-hiasan.
Tahan alkali dan tidak tahan klor.

3. Teknik Pemeliharaan Kain Nylon
Nilon putih setelah dipakai hendaknya segera dicuci karena bias menjadi kuning.
Bahan tidak perlu direndam lama karena kotoran hanya menempel.
Cuci dengan cara diremas-remas dalam air
Gantung basah-basah sampai kering dan tidak perlu diperas. Seterika dengan
panas rendah jika diperlukan.

Mengingat kekuatan nylon yang sangat tinggi maka nylon sangat baik untuk
dibuat kain parasut, tali temali yang memerlukan kekuatan tinggi, benang ban
terpal, jala dan untuk tekstil industri lainnya. Selain untuk keperluan industri,
nylon juga dapat dipakai untuk bahan pakaian, terutama untuk pakaian wanita,
kaus kaki dan tekstil rumah tangga seperti gorden jendela.




2.1.5. Proses Pembuatan Nylon
Sintese nilon 6.6 dari industri tradisional melibatkan asam adipin dan
hexamethylene diamin untuk membentuk suatu garam yang meleleh, pada suhu 180oC.
Adipin dan hexamethylena diamin diubah menjadi poliamida dengan pemanasan sampai
suhu 280oC di bawah tekanan, yang menghilangkan air. Asam adipik dengan
menggunakan polymerisasi ini pada umumnya diperoleh dengan oksidasi perpecahan
cyclohexena dengan asam nitrat, suatu cuka mengoksidasi sangat kuat. Ada beberapa
corak yang diinginkan reaksi inti ini jika seseorang mempertimbangkan besar produksi
nilon meliputi seluruh dunia. Asam Nitrat bereaksi dengan cepat dengan kandungan
organik yang bermacam-macam, sebagai faktor kehadiran keselamatan dari kimia
berbahaya. Hal ini juga memberikan beberapa resiko lingkungan yaitu mengakibatkan
emisi dari Nitro oksida (N2O mengandung nitrogen), gas rumah kaca, dan produksi skala
asam adipin yang industri juga dipercaya mengubah 10% dari semua tidak alami emisi
nitro oksida ( NOx). Tekanan tinggi dibutuhkan untuk polymerisasi mugkin juga
bersikap menjadi keselamatan jika reaktor tidaklah dengan baik dibangun dan dirawat.
[COOH(CH2)4COOH] + [H2N(CH2)4NH2] [CO(CH2)4CO NH(CH2)4NH] n + H2O
Asam Adipik Hexamethile diamin nylon 6.6 Air.
2.1.6. Reaksi Pembuatan Nylon
1. Polimer Kondensasi
Polimer kondensasi terjadi dari reaksi antara gugus fungsi pada monomer yang
sama atau monomer yang berbeda. Dalam polimerisasi kondensasi kadang-kadang
disertai dengan terbentuknya molekul kecil seperti H2O, NH3, atau HCl.
Di dalam jenis reaksi polimerisasi yang kedua ini, monomer-monomer bereaksi
secara adisi untuk membentuk rantai. Namun demikian, setiap ikatan baru yang
dibentuk akan bersamaan dengan dihasilkannya suatu molekul kecil biasanya air
dari atom-atom monomer. Pada reaksi semacam ini, tiap monomer harus mempunyai
dua gugus fungsional sehingga dapat menambahkan pada tiap ujung ke unit lainnya
dari rantai tersebut. Jenis reaksi polimerisasi ini disebut reaksi kondensasi.
Dalam polimerisasi kondensasi, suatu atom hidrogen dari satu ujung monomer
bergabung dengan gugus-OH dari ujung monomer yang lainnya untuk membentuk
air.


Kondensasi terhadap dua monomer yang berbeda yaitu 1,6 diaminoheksana dan
asam adipat yang umum digunakan untuk membuat jenis nylon. Nylon diberi nama
menurut jumlah atom karbon pada setiap unit monomer. Dalam gambar ini, ada
enam atom karbon di setiap monomer, maka jenis nylon ini disebut nylon 66.
Sumber: www.wikipedia.org

Gambar 2. Nylon 6-6
Pembuatan Nylon 66 yang sangat mudah di laboratorium.
Contoh lain dari reaksi polimerisasi kondensasi adalah bakelit yang bersifat keras,
dan dracon, yang digunakan sebagai serat pakaian dan karpet, pendukung pada tape
audio dan tape video, dan kantong plastik.
Monomer yang dapat mengalami reaksi polimerisasi secara kondensasi adalah
monomer-monomer yang mempunyai gugus fungsi, seperti gugus -OH; -COOH; dan
NH3.

2.1.7. Daur Ulang Nylon
Perusahaan kimia raksasa dari Amerika Serikat, Du Pont, berhasil
mengembangkan teknologi baru daur ulang untuk Nylon, yakni dengan menggunakan
teknologi ammonolysis. Pilot plant untuk melakukan riset daur ulang Nylon, ternyata
jauh sebelumnya telah dibangun di wilayah Ontario, tepatnya di kota Kingston, Kanada,
demikian Du Pont menjelaskan. Pihak Du Pont sendiri bahkan telah mengadakan riset
dan pengembangan proses ammonolysis pada fasilitas riset tersebut selama bertahun-
tahun.
Dan terakhir, sebelum mengaplikasikannya secara luas, Du Pont merasa perlu
untuk mengadakan test kelayakan terutama dari sudut pandang ekonomis metoda baru
tersebut. Untuk itulah, pada tahun 2000 ini, Du Pont juga telah menyelesaikan
pembangunan sarana yang lebih besar di kota Maitland yang juga terletak di wilayah
Ontario. Sarana demonstrasi daur ulang Nylon dalam skala besar ini, sebenarnya juga
dimaksudkan untuk memberikan sarana penilaian bagi khalayak industri secara luas


terhadap metoda baru tadi. Dan tentu saja sekaligus sebagai sarana promosi Du Pont
yang jitu.
Metoda ammonolysis ini adalah metoda yang murni hasil riset milik Du Pont
sendiri. Nylon yang beredar di pasaran adalah Nylon PA6 dan Nylon PA66. Namun
kenyataannya selama ini, metoda daur ulang kimiawi untuk masing-masing jenis Nylon
adalah saling berlainan. Sehingga sebelum masing-masing didaur ulang, diperlukan
proses pemisahan di antara kedua jenis Nylon tersebut. Apalagi untuk jenis bahan seperti
karpet Nylon (yang biasanya terbuat dari campuran Nylon PA6 dan PA66), tidak ada
metoda kimiawi yang bisa dipakai untuk mendaur-ulangnya. Dan biasanya, bahan-bahan
Nylon yang tidak bisa dipisahkan seperti ini, tidak didaur-ulang, bahkan sebagian besar
ditimbun di dalam tanah begitu saja.
Proses ammonolysis yang ditemukan Du Pont, adalah teknologi degradasi
polimer yang berlaku untuk kedua jenis Nylon, PA6 dan PA66. Disinilah letak
perbedaannya. Jadi ketika Nylon yang akan didaur ulang dikumpulkan, tidak diperlukan
lagi proses pemisahan Nylon PA6 dan PA66. Metoda kimiawi daur ulang seperti ini
adalah metoda pertama di dunia, yang sangat dinanti-nantikan kehadirannya, terutama
pada era ISO 14000 seperti sekarang ini. Hasil daur ulang Nylon dengan proses
ammonolysis terbukti menunjukkan kualitas yang serupa.
Kualitas bahan yang homogen ini memungkinkan dan memudahkan pemasaran
kembali hasil daur ulang Nylon. Ini penting artinya dari sudut pandang ekonomis.
Namun yang jauh lebih penting lagi, proses daur ulang ini sangat besar artinya bagi
pelestarian lingkungan hidup, karena tidak perlu lagi penimbunan berbagai jenis


2.1.8. Aplikasi Penggunaan Nylon
a. Industri Benang
Dengan ketahanan tarik tinggi kekuatan, kelelahan dan ketangguhan, satu
aplikasi utama untuk nilon 6 adalah dalam pembuatan benang industri. Adhesi
unggul untuk karet membuat sebuah media yang ideal untuk memproduksi kain
ban kabel, media untuk memperkuat bias-ply ban bus dan truk. Terlebih lagi, dapat
dicampur dengan polietilena (PE), polimer lebih murah, untuk menghasilkan biaya
rendah benang industri tanpa secara signifikan menurunkan kualitas produk akhir.


b. Tekstil
Nylon 6 digunakan secara luas dalam industri tekstil untuk memproduksi kain
non-woven.Kain yang terbuat dari nilon 6 adalah warna-warni dan ringan namun
kuat dan tahan lama. Contoh pakaian :kemeja, gaun, Kaus kaki, Pakaian dalam
wanita, Jas hujan, Pakaian Ski, Jaket, Pakaian renang, dll
c. Penyerapan UV
Nylon 6 film plastik sering diproduksi dengan kapasitas serapan UV, sebuah
properti yang bermanfaat signifikan dalam pengendalian penyakit virus menular
.Industri lain yang menggunakan nilon 6 film untuk serapan UV yang meliputi
rekayasa, medis, dan pertanian.
d. Perlengkapan Rumah
Alas tidur, karpet, atap dan perkakas rumah lainnya.
e. Peralatan Industri
Tali Ban, Pipa karet, Alat pengangkutan Dan Ikat pinggang di pesawat, Parasut,
Dawai-Dawai Raket, Tali temali dan jaring, kantong tidur, kain terpal, tenda,
benang, bulu sikat gigi.
f. Manufaktur
Nylon 6 merupakan bahan sintetik serbaguna yang dapat dibentuk menjadi
serat, lembaran, filamen atau bulu. Ini pada gilirannya dapat digunakan dalam
produksi kain, benang dan pintal. Sebagai contoh, baik filamen nilon 6 yang
digunakan dalam pembuatan kaus kaki, rajutan pakaian dan parasut. Nylon 6 bulu
yang digunakan untuk memproduksi sikat gigi dan sisir sikat. Sebagai komposit
dengan polimer lain, nilon 6 juga digunakan dalam produksi produk cetakan seperti
mobil mainan, skate-board roda dan frame pistol.

2.1.9. Serat Nylon
Serat nylon adalah serat yang dihasilkan dengan unsur pembentuk serat adalah
suatu rantai panjang polyamida sintetik , dimana kurang dari 85% ikatan amida mengikat


secara langsung (- CO-NH-) dua gugus alifatik. Istilah nylon mengacu pada suatu
polymers yaitu polyamida linier. Ada dua metode umum bagaimana membuat nilon
untuk aplikasi serat. Pada metode pertama , molekul dengan suatu gugus asam ( COOH)
bereaksi dengan molekul yang mengandung gugus amina (NH2). Menghasilkan nilon
yang dinamai berdasarkan banyaknya atom karbon yang memisahkan dua gugus asam
dan dua gugus amina. Nylon 6,6 yang secara luas digunakan untuk serat dibuat dari asam
adipat dan hexametilen diamin. Kedua senyawa tersebut membentuk suatu garam, yang
dikenal sebagai nylon, dengan perbandingan asam dan basa 1:1. garam ini kemudian
dikeringkan dan dipanaskan untuk menghilangkan air dan membentuk polimer. Metode
kedua, suatu senyawa yang mengandung suatu amina pada satu sisi dan suatu asam di
sisi lainnya dipolimerisasi untuk membentuk rantai dengan unit pengulangan NH-
[CH2]n-CO-)x. Jika n=5, nylon dikenal sebagai nilon 6, begitupun dengan jenis polimer
lain. Produksi komersial dari nylon 6 menggunakan caprolactam untuk polymerisasi.
1. Sifat Nylon
Berikut beberapa sifat dari bahan nylon.
Sangat kuat
Elastis
Tidak mudah terkikis
Mengkilap
Mudah dibersihkan
Tidak mudah rusak karena minyak dan bahan-kimia kimia
Dapat diwarnai dengan cakupan warna yang luas
Lentur
Daya serap terhadap air rendah
Benangnya, lembut, halus dan tahan lama
2. Penggunaan Utama Serat Nylon
Beberapa penggunaan utama serat nylon adalah sebagai berikut.
Pakaian: kemeja, gaun, Kaus kaki, Pakaian dalam wanita, Jas hujan,
Pakaian Ski, Jaket, Pakaian renang, dll


Perlengkapan Rumah: Alas tidur, karpet, atap dan perkakas rumah
lainnya.
Peralatan industri dan penggunaan lainnya: Tali Ban, Pipa karet, Alat
pengangkutan Dan Ikat pinggang di pesawat, Parasut, Dawai-Dawai
Raket, Tali temali dan jaring, kantong tidur, kain terpal, tenda, benang,
bulu sikat gigi.
2.2.7. Dampak Polycarbonat Bagi Kesehatan & Environment
Nylon yang biasanya berjangka lama, dipakai dalam kehidupan sehari-hari, ketika
sudah habis dipakai akan bertumpuk dan dibiarkan di atas tanah. Setelah beberapa saat
nylon akan bereaksi dengan tanah dan akan mencemari tanah.
Selain itu juga, nylon yang biasanya dipakai menjadi bahan pakaian dalam yang
tidak menyerap keringat akan menyebabkan tumbuhnya jamur disekitar permukaan dan
akan berdampak buruk bagi kesehatan.


2.2. POLYCARBONAT
2.2.1. Pendahuluan
Salah satu produk plastik (polimer) yang sangat banyak digunakan dalam
kehidupan manusia sehari-hari pada saat ini dalam berbagai bentuk dan ukuran adalah
polikarbonat (polycarbonate). Polikarbonat disebut demikian karena plastik ini terdiri
dari polimer dengan gugus karbonat (-O-(C=O)-O-) dalam rantai molekuler yang
panjang. Tipe polikarbonat yang paling umum adalah bisfenol-a (BPA) yang disebut
polibisfenol-a karbonat dan sering kali jenis ini hanya disebut polikarbonat (Rimbualan,
2010).
Keunggulan polikarbonat ini adalah merupakan polimer yang jernih, ringan, kuat
dan tahan terhadap benturan, transmisi cahaya sangat bagus, stabil dalam suhu, tidak
berubah bentuk ketika diberi beban, tidak tembus air, insulasi listrik sangat bagus,
fleksibel, tahan lama, dan dapat didaur ulang (Sari, 2008).
Polikarbonat merupakan polimer resin yang sangat penting penggunaannya dalam
kehidupan sehari-hari. Polikarbonat telah tersedia secara komersial sejak 1960-an dan
aplikasinya juga berkembang hingga sekarang. Polikarbonat menawarkan kombinasi
yang tidak biasa dalam hal kekuatan, kepadatan, dan ketangguhan sehingga dapat
mencegah kegagalan material yang potensial. Polimer ini memiliki sifat seperti gelas,


yaitu transparan, dan bisa digunakan dalam perlakuan-perlakuan klinis dan diagnosa
yang membutuhkan pengamatan jaringan, darah, dan fluida-fluida lainnya yang jelas.
Polikarbonat ini juga digunakan untuk kemasan air minum dalam kemasan (AMDK)
(Legrand dan John, 2000 ; Sandra, 2011).
Polikarbonat paling banyak diterapkan pada pengkacaan karena memiliki beberapa
keunggulan tersendiri, terutama karena polikarbonat sudah memiliki modal utama yaitu
tembus pandang. Kegunaan polikarbonat pada bidang lain seperti :
1. Perabotan dapur, karena tidak mudah pecah dan memenuhi standar FDA (Food
& Drug Administration) seperti peralatan makan, blender, galon air.
2. Elektrikal dan elektronik, karena sangat baik dalam hal insulasi elektrik dan
tahan api.
3. Kendaraan, seperti untuk jendela mobil, lampu moobil, dan kaca helm.
4. Arsitektur, karena transmisi cahaya yang bagus dan ringan.
5. Alat-alat kesehatan. (Sari, 2008).
Polikarbonat dapat diproses dengan peralatan cetakan dengan injeksi biasa dan
dapat dibentuk menjadi film, lembaran, atau tubular tebal maupun tipis. Lembaran dan
film polikarbonat sangat mudah dibentuk dengan pengolahan termal dan mekanik
menjadi berbagai bentuk yang kompleks (Othmer, 2004).
Pasar global polikarbonat adalah pasar yang menunjukkan perkembangan sesuai
dengan ketersediaan bahan baku yang kontinu dan berkualitas baik. Pasar polikarbonat
ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian tergantung grade polikarbonat yang dihasilkan.
Untuk tujuan penggunaan secara umum, harga polikarbonat berada pada $ 1.90 per lb.
Harga ini diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai $ 5 per lb pada akhir
tahun 2011 (Chemical Market Associates, 2011).
Bahan baku untuk pembuatan polikarbonat ini adalah fosgen dan bisfenol-a. kedua
bahan baku ini telah diproduksi di dalam negeri. Fosgen sebagai reaktan berbentuk gas
telah diproduksi sebagai hasil samping industri petrokimia. Bisfenol-a diproduksi oleh
PT Magicleafs yang diprioritaskan sebagai antioksidan dalam plastizier dan inhibitor
dalam pembuatan polivinil klorida (PVC) (Kertajay, 2011).







2.2.2. Sejarah Penemuan Polycarbonat
Sejarah penemuan polikarbonat bermula pada abad XIX. Polikarbonat ditemukan
oleh Alfred Einhorn, kimiawan Jerman, tahun 1898. Pada waktu itu beliau bekerja di
Universitas Munich. Saat beliau melakukan penelitiaannya dengan eter, beliau
menemukan reaksi antara fosgen dengan tiga isomer dihidroksi-benzena, dan diperoleh
polieter dari karbon dioksida yang berwujud transparan, tahan panas, dan zat yang tidak
larut.
Pada tahun 1953, seorang pekerja di perusahaan Jerman, Bayer Hermann Schnell
memperoleh polikarbonat untuk percobaan pertamanya. Pada tahun yang sama,
polikarbonat dipatenkan dengan nama dagang Macrolon.
Pada tahun yang sama, 1953, tetapi seminggu kemudian, material ini disintesis
oleh pekerja perusahaan Amerika, General Electric Daniel Fox. Dua industri raksasa di
dunia mengadakan negosiasi berhubungan dengan siapa yang akan memperoleh hak
untuk menjadi penemu polikarbonat. Permasalahan diselesaikan dan pada tahun 1955
General Electric menetapkan material dibawah merek dagang Lexan. Berpuluh-puluh
tahun telah berlalu dan pada tahun 1958 Bayer Company dan tahun 1960 General
Electric memperoleh polikarbonat yang cocok dan memulai industry mereka.


2.2.3. Deskripsi Polycarbonat
Polikarbonat adalah suatu kelompok polimer termoplastik, mudah dibentuk dengan
menggunakan kepanasan. Plastik jenis ini digunakan secara meluas dalam industri kimia.
Plastik ini memiliki banyak kelebihan yaitu ketahanan termal dibandingkan dengan
plastik jenis lain, tahan terhadap lenturan, dan sangat jernih. Dalam identifikasi plastik,
polikarbonat berada pada nombor 7.
Polikarbonat disebut demikian karena plastik ini terdiri dari polimer dengan
guguskarbonat (-O-(C=O)-O-) dalam rantai molekuler yang panjang. Tipe polikarbonat
yang paling umum adalah bisfenol A (BPA). Polikarbonat adalah material yang tahan
lama dan dapat dilaminasi menjadi kaca anti peluru. Meski memiliki ketahanan yang
tinggi terhadap benturan, namun polikarbonat cukup mudah tergores sehingga
dibutuhkan pelapisan keras (hard coating) untuk membuat lensa kaca mata dan eksterior
otomotif menggunakan polikarbonat dan material optis lainnya karena polikarbonat
sangat bening dan memiliki kemampuan mentransmisikan cahaya yang sangat baik
dibandingkan dengan jenis kaca lainnya. Sifat polikarbonat mirip dengan polimetil


metakrilat (akrilik), namun polikarbonat lebih kuat dan dapat digunakan pada suhu
tinggi, meski lebih mahal.
Sumber : www.wikipedia.org





Gambar 3. Polycarbonat


Polikarbonat akan mengalami transisi gelas pada suhu 150 oC sehingga
polikarbonat akan menjadi lembik secara bertahap pada suhu ini, dan mulai mencair pada
suhu 300 oC.
Polikarbonat lebih dikenali sebagai bumbung atau atap. Sebenarnya ada banyak
lagi kegunaan bahan yang kuat dan tahan panas ini. Kita sudah sering melihat penutup
atap pergola yang dibuat dari bahan semitransparan berwarna-warni dan mendengar
orang menyebut bahan ini dengan nama polikarbonat. Tetapi apa sebenarnya bahan yang
berasal dari kata polycarbonate dalam bahasa Inggeris ini? . Polikarbonat yang sering
juga disebut sebagai engineering plastic ini merupakan hasil sintesis minyak bumi dan
gas. Sebenarnya material ini sudah ditemukan di AS, dan Jerman sejak tahun 1956.
Resin polikarbonat mempunyai daya tahan terhadap bahan-bahan kimia,
kepanasan, lenturan dan cuaca. Termoplastik ini digunakan untuk membuat bermacam-
macam komponen pesawat terbang, kereta dan mesin-mesin industri, dan juga banyak
digunakan untuk alat-alat elektrik dan elektronik. Seperti aluminium, kuningan, dan
tembaga- tetapi tidak seperti plastik pada umumnya, resin polikarbonat dapat dibentuk
dalam keadaan tanpa pemanasan, dengan cara diguling-gulingkan, dipukul, dan ditarik
untuk membuat berbagai piring, penutup dan tabung.
Polikarbonat dapat dibuat dengan menggunakan bisfenol A dan fosgen (karbonil
diklorida, COCl
2
).Langkah awal dalam sintesis polikarbonat adalah dengan
melakukan deprotonisasi bisfenol A dengan natrium hidroksida sehingga terbentuk air.
Reaksinya adalah sebagai berikut:
(CH
3
)
2
-C-(C
6
H
6
)
2
-(OH)
2
+ 2 NaOH ---> (CH
3
)
2
-C-(C
6
H
6
)
2
-O
2-
+ 2 Na
+
+ 2 H
2
O


Molekul oksigen pada bisfenol yang terdeprotonisasi bereaksi dengan fosgen
melalui adisi karbonil dan menghasilkan ion Cl
-
. Reaksinya adalah sebagai berikut:
(CH
3
)
2
-C-(C
6
H
6
)
2
-O
2-
+ Cl-(C=O)-Cl ---> (CH
3
)
2
-C-(C
6
H
6
)
2
-(O-(C=O)-Cl)(O
-
) +
Cl
-

Lalu gugus kloroformat (O-(C=O)-Cl) yang terbentuk menempel pada gugus
bisfenol yang lainnya sehingga rantai panjang polikarbonat terbentuk dan meninggalkan
ion Cl
-
.


2.2.4. Sifat Fisik, Kimia, dan Mekanik Polycarbonat
Polikarbonat terdiri dari bisphenol A (BPA). Dalam struktur molekul polikarbonat,
terdapat dua gugus fenil dan dua gugus metil. Kehadiran gugus fenil dalam rantai
molekul dan dua gugus metil berkontribusi terhadap kekekaran polikarbonat. Kekekaran
ini memiliki pengaruh yang besar terhadap sifat-sifat polikarbonat. Pertama, ketertarikan
antar gugus fenil antara molekul yang satu dengan yang lain membuat kebebasan
molekul individual berkurang. Ini menyebabkan polikarbonat memiliki ketahanan termal
yang baik tapi kental atau berviskositas tinggi. Kebebasan yang sedikit membuat
molekul-molekul polikarbonat tidak fleksibel dan mencegah polikarbonat menjadi
struktur crystalline. Oleh karena itu, plolikarbonat bersifat transparan.
Polikarbonat secara natural tembus pandang dan dapat melewatkan cahaya hampir
sama dengan gelas atau kaca. Polikarbonat memiliki kekuatan dan ketangguhan yang
tinggi, ketahanan termal yang baik, juga stabilitas warna yang tinggi. Secara umum,
polikarbonat memiliki sifat-sifat kekuatan yang lebih baik daripada polimer plastik
lainnya. Akan tetapi, impact strength merupakan kelebihan polikarbonat yang paling
utama.
Polikarbonat tentu memiliki kekurangan. Polimer ini hanya memiliki ketahanan
kimia yang biasa saja dan dapat terserang banyak pelarut organik. Harga polikarbonat
cukup mahal dibandingkan plastik lainnya. Dalam aplikasi yang tidak memerlukan
pengolahan termal dan impact yang tinggi, polikarbonat jarang digunakan dan kurang
menjadi pilihan.



1. Sifat Fisik
a. Keras dan kuat
Material ini sangat kuat. Bahan ini 250 kali lebih kuat dibandingkan kaca,
dan 20 kali lebih kuat dibandingkan akrilik.
b. Fleksibel
Sebagai material bangunan, polikarbonat dibuat dalam bentuk lembaran
berukuran 2,1m x 11m, ketebalan dan bentuk yang tersedia terdiri dari pelbagai
jenis.. Ada yang berupa lembaran bergelombang, lembaran datar, serta lembaran
berongga.
Dibandingkan dengan yang lainnya, yang paling istimewa adalah jenis
berongga. Kesemua jenis itu memiliki ketebalan yang pelbagai. Untuk
polikarbonat yang berupa lembaran bergelombang, ketebalan materialnya hanya
0,8mm. Sedangkan yang berbentuk lembaran datar, ketebalannya 1,1mm. Jenis
yang berongga paling pelbagai ketebalannya mulai dari 5mm sampai 16mm.
Kerana nipis, material ini dapat dilekukkan secara fleksibel. Material ini pun
sangat ringan, per m2 bobotnya hanya 1,2 kg (Densitas () polikarbonat = 1200
1220 kg/m3). Agar lebih mudah dipadankan dengan bangunan yang sudah
ada.
c. Tak berwarna/transparan
Polikarbonatpun memiliki sifat transparan yang setara dengan kaca, namun
punya kekuatan lebih baik.
d. Tahan panas
Selain kuat, polikarbonat juga tahan panas, alias baru meleleh sampai
20000C. Bila material ini terbakar, lelehannya tidak akan menyebar.

Sifat Fisik Polycarbonat
Densitas = 1,2-1,22 g/cm
3

Nomor Abbe = 34
Index Bias = 1,584
Kesetimbangan Absorpsi Air = 0,16-0,35 %
Titik Leleh = 265 - 267
o
C
Glass transition temperature(T
g
) = 150
o
C


Linear thermal expansion coefficient () = 65-70 10
6
/K
Specific heat capacity (c) = 1.2-1.3 kJ/kg K
Thermal conductivity (k) at 23 C = 0.19-0.22 W/(m K)
Heat transfer coefficient (h) = 0.21 W/(m
2
K)

2. Sifat Mekanik Polycarbonat
Berikut adalah sifat mekanik dari bahan Polycarbonat.
Poissons Ratio = 0,37
Coefficient of friction () = 0,3 1
Young's modulus (E) = 2,38 Gpa
Specific Gravity = 1,2
Tensile strength (
t
) = 62,8 72,4 Mpa
Yield Strength = 62,1 Mpa
Elongation () at break = 110 150 %
Notch test = 20 35 kJ/m
2

3. Sifat dan Ketahanan Kimia Polycarbonat
Tabel 1. Sifat dan Ketahanan Kimia Polikarbonat
E = excellent resistance: no etching B=Good res. little etching after 30 days exposure to reagent.
S= Fair resistance, etching after 7 days exposure to reagent N= not recommended
Side by Side Material Comparison Chemical Resistance Chart (Note: Large File)
Reagent PC
ol 20C 50C
Actaldehyde S N
Acetone N N
Acetic acid E B
Aluminum hydroxide S N


Ammonium chlodide E E
Ammonium hydroxide 5% S N
Ammonium hydroxide 28% N N
Amyl chloride N N
Aniline S N
Banzaldehyde S N
Benzene N N
Boric acid E E
Bromine S N
Bromoform N N
Butadiene N N
Butyl acetate N N
Butyl Alcohol B S
Butyric acid S N
Calcium hydroxide N N
Calcium hypochloride S N
Carbon disulphide N N
Carbon tetrachloride N N
Cellosolve S N
Chlorine in air E B
Chlorine (moist) B S
Chloroform N N
Citric add. E E


Cresol N N
Cyclohexane E B
p-dichlorobenzene N N
Diethylene glycol B S
Diethylene formamide N N
Dioxane B S
Ethyl acetate N N
Ethyl alcohol E B
Ethyl chloride N N
Ethylene chloride N N
Ethylene oxide S N
Ethyl ether N N
Formaldehyde E B
Formic acid E S
Gasoline S S
Hexane N N
Hydrochloric acid 35% N N
Hydrofluoric acid N N
Hydrogen peroxide E E
Kerosene B S
Lactic acid E B
Methyl alcohol B S
Methyl ethyl ketone N N


Methyl isobutyl ketone N N
Methylene chloride N N
Mineral oil E B
Nitric acid 1-10% E B
Nitric acid 50% B S
Nitric acid 65% S N
Nitrobenzene N N
Perchloric acid N N
Petroleum ether S N
Phenol E N
Phosphoric acid 85% E B
Potassium bichromate E B
Potassium hydroxide conc. N N
Potassium permanganate E B
Propane S N
Propylene glycol S N
Silver nitrate B S
Sodium hydroxide conc. S S
Sodium hypochloride N N
Sulfuric acid 20% B S
Sulfuric acid 98% E B
Tetrahydrofuran N N
Thionil chloride N N


Toluene N N
Trichloroacetic acid S N
sim-trichloroethane N N
Trichloroethylene N N
Turpentine S N
Urea N N
Xylene


N N


2.2.5. Cara Pembuatan Polycarbonat
Polikarbonat dapat dibuat dengan menggunakan bisfenol A dan fosgen (karbonil
diklorida, COCl2). Langkah awal dalam sintesis polikarbonat adalah dengan melakukan
deprotonisasi bisfenol A dengan natrium hidroksida sehingga terbentuk air. Tindak
balasnya adalah seperti berikut:
(CH
3
)
2
-C-(C
6
H
6
)
2
-(OH)
2
+ 2 NaOH > (CH
3
)
2
-C-(C
6
H
6
)
2
-O
2
- + 2Na
+
+ 2
H
2
O
Molekul oksigen pada bisfenol yang terdeprotonisasi bertindak dengan fosgen
melalui adisi karbonil dan menghasilkan ion C l -. Tindak balasnya adalah seperti
berikut:
(CH
3
)
2
-C-(C
6
H
6
)
2
-O
2
- + Cl-(C=O)-Cl > (CH
3
)
2
-C-(C
6
H
6
)
2
-(O-(C=O)-
Cl)(O - ) + Cl -
Lalu gugus kloroformat (O-(C=O)-Cl) yang terbentuk menempel pada gugus bisfenol
yang lainnya sehingga rantai panjang polikarbonat terbentuk dan meninggalkan ion Cl-.

2.2.6. Aplikasi dan Pengolahan Polycarbonat
Polikarbonat merupakan polimer resin yang sangat penting penggunaannya dalam
kehidupan sehari-hari, terutama pada alat-alat kesehatan (medical devices). Polikarbonat
telah tersedia secara komersial sejak 1960-an dan aplikasinya juga berkembang hingga


sekarang. Dengan sifat-sifat fisik yang memiliki rentang lebar, polikarbonat dapat
dijadikan pengganti gelas atau logam sebagai bahan baku banyak produk. Polikarbonat
menawarkan kombinasi yang tidak biasa dalam hal kekuatan, kepadatan, dan
ketangguhan sehingga dapat mencegah kegagalan material yang potensial. Polimer ini
memiliki sifat seperti gelas, yaitu transparan, dan bisa digunakan dalam perlakuan-
perlakuan klinis dan diagnosa yang membutuhkan pengamatan jaringan, darah, dan
fluida-fluida lainnya yang jelas.
Polikarbonat dapat diproses dengan peralatan cetakan dengan injeksi biasa dan
dapat dibentuk menjadi film, lembaran, atau tubular tebal maupun tipis. Lembaran dan
film polikarbonat sangat mudah dibentuk dengan pengolahan termal dan mekanik
menjadi berbagai bentuk yang kompleks.
1. Sterilisasi
Dalam aplikasi medis, sterilisasi merupakan prosedur krusial dalam penggunaan
peralatan yang membutuhkan kontak langsung dengan pasien. Keuntungan dari
polikarbonat adalah polimer ini dapat disterilisasi dengan hampir semua metode
umum, antara lain penggunaan etilen oksida, irradiasi dengan sinar gamma maupun
elektron, juga steam autoclave. Polikarbonat juga dapat didesinfektasi dengan
desinfektan klinis yang umum seperti isopropil alkohol. Berbagai macam metode
yang dapat dipakai ini memberikan fleksibilitas dalam penentuan metode sterilisasi
yang ekonomis untuk produk tertentu yang diinginkan. Perlu diketahui
polikarbonat tetap kurang cocok digunakan untuk peralatan yang
mengalami autoclave berulang kali.

2. Aplikasi Medis
Renal Dialysis. Pasien dengan penyakit renal seringkali membutuhkan
penanganan eksternal untuk membersihkan darah mereka (hemodialisis). Ini
disebabkan oleh gagal ginjal yang tidak bisa mengolah dan membuang kelebihan
air dan senyawa-senyawa beracun dari darah. Hemodialisis dilakukan dengan cara
melewatkan darah pasien melalui membran semipermeabel. Filter yang digunakan
diproduksi dari polikarbonat yang menyokong dan melindungi membran
hemodialisis. Bahan polikarbonat tidak mudah retak atau pecah selama pembuatan,
distribusi, maupun penggunaan. Stabilitas termalnya memungkinkan proses
sterilisasi uap single-pass lewat EtO atau sinar gamma. Transparansi dari


polikarbonat dapat membuat teknisi dialisis dapat mengamati darah selama
prosedur hemodialisis berlangsung.
Cardiac Surgery Products. Operasi jantung melibatkan proses bypass arteri
koroner dan pemindahan keran. Ketika bypass berlangsung, jantung dihentikan dan
blood oxygenator (pengalir oksigen darah) mengambil alih fungsi jantung dan
paru-paru. Polikarbonat telah digunakan dalam pengalir oksigen, reservoir, dan
filter darah yang berada dalam rangkaian sirkuir bypass jantung lebih dari 20
tahun. Evaluasi visual dari aliran darah pada jantung dapat dilihat karena sifat gelas
polikarbonat.
Dalam banyak operasi, darah pasien seringkali diolah, disaring, dan diinfus
kembali ke dalam tubuh pasien untuk meminimalisasi donasi darah yang
dibutuhkan. Pengolahan darah semacam ini menggunakan filter dan wadah
sentrifugasi. Karena kecepatan sentrifugasi sangat kencang, bahan wadah tersebut
harus cukup kuat untuk mempertahankan kecepatan dan ketangguhannya selama
proses berlangsung agar wadah tidak pecah dan isinya tidak terbuang. Oleh karena
itu, polikarbonat digunakan karena memiliki ketangguhan dan kekuatan yang baik.
Surgical instruments. Peralatan-peralatan operasi banyak yang menggunakan
polikarbonat dalam desain, bahan, dan penggunaan. Ketangguhan polikarbonat
membuat polimer ini dapat menjadi pengganti logam. Beberapa alat operasi yang
dimasukkan ke dalam tubuh pasien tidak boleh sampai bengkok atau bahkan patah
dan transparan untuk memungkinkan pengamatan.
3. Safety Bahan Plastik Polycarbonat
Plastik yang terbuat dari polikarbonat sangat ringan dan keseimbangan unik
antara ketangguhan, stabilitas dimensi, dan transparansi secara optikal seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya. Ketahanan plastik polikarbonat meliputi ketahanan
terhadap panas dan listrik. Oleh karena itu, polikarbonat banyak digunakan secara
luas dalam produk-produk dan dibutuhkan sehari-hari. Produk-produk tersebut
meliputi media digital (CD, DVD, dll.), peralatan elektronik, bahan konstruksi, dan
perlengkapan keselamatan olah raga. Jadi, polikarbonat tidak hanya digunakan
dalam safety aplikasi medis, tetapi juga dalam barang-barang yang dipakai sehari-
hari.
Polimer plastik polikarbonat terutama terbuat dari bisphenol A (BPA). Berbagai
penelitian telah dilakukan untuk mengamati potensi migrasi BPA dari produk-
produk polikarbonat ke dalam makanan dan minuman. Studi-studi ini telah secara


konsisten menunjukkan bahwa potensi migrasi BPA ke dalam makanan dan
minuman sangat kecil, rata-rata lebih rendah dari 5 ppb dalam kondisi ruang.
Hasil penelitian-penelitian ini telah membuktikan bahwa polikarbonat adalah
plastik yang ringan dan aman untuk digunakan sebagai bahan produk-produk
secara luas. Produk-produk tersebut meliputi termasuk peralatan rumah dan dapur
yang melibatkan kontak langsung dengan makanan dan minuman, contohnya
wadah-wadah penampung makanan dan minuman seperti botol minuman, botol
bayi, dan tableware.
Penelitian The Japanese National Institute of Health Sciences (Kawamura et al,
1998) melakukan studi sensitif terhadap botol-botol bayi. Karena senyawa yang
digunakan dalam prosedur analitik adalah campuran 20%-etanol, 4%-asam asetat
dan heptan, limit pendeteksian BPA ditetapkan 0,5 ppb. Uji dilakukan selama 30
menit pada temperatur 95
o
C dan dilanjutkan dengan 24 jam pada temperatur
kamar. Hasil menunjukkan migrasi BPA lebih kecil dari 1 ppb dan tidak ada BPA
yang terdeteksi pada limit deteksi 0,5 ppb. Pengecualian hanya terjadi pada botol
baru yang belum dicuci. Jumlah BPA yang termigrasi 3,9 ppb. Setelah pencucian,
migrasi BPA turun hingga limit deteksi.
Penelitian yang sama dilakukan oleh United Kingdoms Department of Trade
and Industry (DTI) (Earls et al, 2000). Studi tersebut mengamati 21 botol bayi baru
yang dibeli dari berbagai macam merk. Botol-botol tersebut dicuci dan disterilisasi,
diisi dengan air mendidih atau 3% larutan asam asetat, kemudian dimasukkan ke
dalam kukas selama 24 jam pada temperatur 15
o
C. Setelah itu, botol-botol
dihangatkan dan dianalisis menggunakan metode dengan limit deteksi 10 ppb dan
tidak ada BPA yang terdeteksi pada 21 isi botol-botol tersebut.
Dalam studi US FDA, air dari beberapa botol polikarbonat dianalisis dengan
limit deteksi 0,05 ppb. Air tersebut disimpan selama 39 minggu. BPA hanya
terdeteksi pada level yang sangat rendah, yaitu berkisar antara 0,1 sampai 4,7 ppb.
Botol-botol tersebut dinyatakan aman karena migrasi BPA yang kecil. Jumlah BPA
yang termigrasi mencapai 4,7 ppb dikarenakan waktu penyimpanan air-air tersebut
sangat lama, yaitu 39 minggu. Dengan demikian, penggunaan botol-botol yang
terbuat dari plastik polikarbonat yang pendek tidak berbahaya.
NIHS Jepang juga telah melakukan studi evaluasi untuk beberapa mug dan
mangkok. Sama seperti penelitian terhadap botol bayi, senyawa yang digunakan
untuk menganalisis adalah air dan 20%-etanol dengan limit deteksi 0,5 ppb.


Hasilnya adalah tidak ada BPA yang terdeteksi setelah 3 dari 5 produk dikontakkan
dengan air selama 30 menit pada temperatur 95
o
C dan dengan 20%-etanol selama
30 menit pada temperatur 60
o
C. Migrasi BPA terdeteksi pada dua produk lainnya,
tapi tetap pada jumlah di bawah 5 ppb.
Dengan adanya bukti-bukti di atas, polikarbonat memiliki tingkat migrasi yang
rendah ke dalam makanan dan minuman. Oleh karena itu, aplikasi polikarbonat
sangat luas dalam produksi peralatan rumah dan dapur karena keamanannya.
Banyak sekali produk-produk plastik yang terbuat dari polikarbonat telah
digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

4. Glass Fiber Reinforced Grade of Polycarbonates
Penambahan serat-serat gelas atau kaca (glass fiber) pada polikarbonat secara
signifikan meningkatkan kuat tarik, kuat luluh, modulus fleksural (flexural
modulus), dan temperatur batas panas dari polimer tersebut. Di samping itu, serat-
serat ini akan menurunkan impact strength danelongation (peregangan) yang
terjadi. Penjualan polikarbonat yang telah diolah dengan serat gelas dibedakan
karakteristiknya sesuai persentase serat dalam produksi plastik. Polikarbonat yang
belum diolah sama sekali disebut virgin polycarbonat.
5. Aplikasi
Polikarbonat menjadi bahan pembentuk alat-alat rumah tangga, sama halnya
seperti di industri dan laboratorium, terutama dalam aplikasi yang berhubungan
dengan kemampuan bahanl ini, iaitu ketahanan terhadap lenturan, keras, ketahanan
terhadap suhu dan sifat optisnya.
Transformasi pada resin polikarbonat yang utama diantaranya:
ekstrus i menjadi tiub, batang, dan bentuk lainnya
ekstrus i dengan menggunakan silinder menjadi lebar dengan ketebalan di
bawah 1 mm hingga 15 mm yang bisa digunakan secara langsung atau dibuat
menjadi bentuk lain menggunakan thermoforming atau teknik fabrikasi
sekunder seperti pembengkokan, pengeboran, penggulungan, pemotongan
dengan laser, dan sebagainya.
Injection molding menjadi suatu bentuk tertentu




Aplikasi berupa lembaran diantaranya:
Papan iklan
Banguan: atap, pelapis dinding, dan sebagainya
Industri: badan mesin, panel instrumen, pelindung, dan sebagainya
Aplikasi hasil injeksi diantaranya:
Compact disk
Botol minum, gelas minum
Peralatan laboratorium
Lensa penerangan, lensa kaca mata, lensa pengaman, lensa lampu otomotif, dan
sebagainya
Untuk aplikasi yang mengakibatkan terdedahnya material oleh sinar UV atau
cuaca, perlakuan khusus terhadap permukaan diperlukan, misalnya pelapisan
(untuk mencegah abrasi), koekstrusi atau yang lainnya.
Beberapa jenis polikarbonat digunakan dalam aplikasi perubatan kerana
polikarbonat boleh dipanaskan pada suhu 120 oC di mana suhu tersebut berguna
untuk mensterilkan peralatan perobatan.

2.2.7. Dampak Polycarbonat Bagi Kesehatan & Environment
Polimer plastik polikarbonat terutama terbuat dari bisphenol A (BPA). BPA atau
bisphenol-A merupakan zat kimia sintetis yang biasa digunakan pada beragam produk
konsumer salah satunya botol bayi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ikatan BPA
yang tergolong tidak stabil dapat menyebabkan sejumlah kecil zat kimia ini terlepas ke
dalam makanan atau susu formula yang menjadi isi suatu kemasan yang mengandung
BPA. Dan pada akhirnya lepasan BPA ini kemudian dapat tertelan oleh manusia.
Pelepasan zat kimia ini akan terjadi semakin banyak saat botol bayi atau botol air terkena
panas seperti saat direbus atau disterilisasi. Para ilmuwan menyebutkan bahwa BPA
dapat menjadi senyawa pengganggu hormon karena berpotensi mengganggu fungsi
normal dari sistem hormon, baik itu pada manusia maupun pada hewan yang
menimbulkan efek merugikan pada kesehatan, reproduksi, perkembangan, serta masalah
tingkah laku (behavioural).
Botol yang mengandung zat BPA ini sebenarnya telah dilarang penggunaannya di
negara-negara maju. Larangan yang diberlakukan ini lebih ditujukan pada pihak
produsen, dan mencakup larangan untuk memproduksi botol susu dan peralatan makan
yang mengandung BPA, serta larangan untuk menjual dan mengimpornya. Trus gimana


di Indonesia? Menurut Menurut Husna Muzahir dari Yayasan Lembaga Konsumen
Indonesia (YLKI), di Indonesia belum ada lembaga berwenang yang melakukan uji
toksisitas terhadap BPA. Departemen Kesehatan RI sekalipun belum mengatur secara
khusus soal botol susu atau perlengkapan makan untuk anak. Namun ada yang namanya
SNI (Standar Nasional Indonesia) yang menjelaskan soal potensi migrasi dari kemasan
ke makanan atau minuman. Dalam peraturan itu dijelaskan bahwa untuk meminimalkan
potensi migrasi tersebut, makanan atau minuman panas sebaiknya tidak bersentuhan
langsung dengan kemasan tertentu, terutama yang terbuat dari plastik.



2.3. TEFLON
2.3.1. Pendahuluan
Suatu polimer adalah senyawa yang terbentuk oleh reaksi kimia yang
menggabungkan partikel / molekul molekul ke dalam kelompok-kelompok. Polimer
biasanya berbentuk serat sintetis seperti polyester dan nilon. PTFE memiliki banyak
sifat-sifat unik, yang membuatnya berharga dalam sejumlah aplikasi. Teflon memiliki
titik lebur yang sangat tinggi, dan juga stabil pada suhu sangat rendah. Teflon sangat
tahan panas dan tahan korosi. Teflon merupakan bahan yang sangat baik untuk melapisi
bagian-bagian mesin yang terkena panas, pakaian, dan gesekan, untuk peralatan
laboratorium yang harus tahan korosif bahan kimia, dan sebagai lapisan untuk peralatan
masak dan peralatan lainnya. PTFE digunakan untuk memberi perlindungan terhadap
kain, karpet, dan penutup dinding, dan tahan cuaca di luar ruangan.
2.3.2. Sejarah Teflon
PTFE ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1938 oleh seorang ilmuwan
muda yang mencari sesuatu yang lain. Roy Plunkett adalah seorang ahli kimia untuk EI
DuPont de Nemours and Company (Du Pont). Dia telah memperoleh gelar PhD dari
Ohio State University pada tahun 1936, dan pada tahun 1938 ketika ia kebetulan
menemukan teflon, padahal umurnya masih 27 tahun. Banyak bahan kimia yang
digunakan sebagai pendingin sebelum tahun 1930-an sangat terancam dapat meledak
(flammable). Du Pont dan General Motors telah mengembangkan jenis baru non-
pendingin mudah terbakar, sebuah bentuk pendingin freon yang disebut pendingin 114,
dan diikat dalam suatu perjanjian eksklusif dengan divisi General Motor's Frigidaire, dan


pada saat itu tidak dapat dipasarkan ke produsen lain. Kemudian nama teknis untuk 114
adalah pendingin tetrafluorodichloroethane. Plunkett berharap untuk membuat pendingin
yang serupa dengan asam klorida yang bereaksi dengan senyawa yang disebut
tetrafluoroethylene, atau TFE.
TFE sendiri dikenal substansi, dan Plunkett memutuskan tugas pertamanya adalah
membuat sejumlah besar gas ini. Para ahli kimia berpikir, sebaiknya ia membuat seratus
pon gas, untuk memastikan agar mencukupi untuk semua tes kimia , dan untuk tes
toksikologi juga. Dia menyimpan gas dalam kaleng logam dengan sebuah katup rilis,
sangat mirip dengan kaleng yang digunakan secara komersial untuk semprotan
bertekanan seperti hair spray. Plunkett dan asistennya melepaskan TFE gas dari kaleng
ke dalam sebuah ruangan dipanaskan. Pada pagi hari, tanggal 6 April, tahun 1938,
Plunkett menemukan bahwa gas dari kaleng telah hilang. Plunkett dan asistennya
menafsir bahwa gas dalam semalam telah berubah menjadi putih.
Polimerisasi adalah proses kimia di mana molekul-molekul bergabung menjadi
tali panjang. Salah satu yang paling dikenal adalah polimer nilon, yang juga ditemukan
oleh para peneliti di Du Pont. Ilmu polymer itu masih pada tahap awal tahun 1930-an.
Plunkett percaya bahwa TFE tidak bisa dipolimerisasi, namun entah bagaimana
melakukannya. Dia mengirimkan serpihan putih yang aneh pada DuPont Central
Research Department, di mana tim ahli kimia menganalisis barang. Serpihan putih
tersebut tidak bereaksi dengan bahan kimia lain, dan serpihan tersebut menolak arus
listrik, dan permukaannya sangat halus dan licin. Plunkett bisa mengetahui bagaimana
gas TFE tidak sengaja terpolimerisasi, dan ia mengeluarkan sebuah paten untuk
polimerisasi substansi, polytetrafluoroethylene, atau PTFE.
Ketika perang dunia II pecah, blok barat dan blok timur berlomba-lomba untuk
mempersenjatai masing-masing dengan senjata yang lebih mutakhir. Tentu hal ini
dilakukan secara diam-diam karena tidak ingin musuh mengetahui senjata pamungkas
yang mereka kembangkan. Amerika sebagai ujung tombak blok barat mengembangkan
bom nuklir yang mengambil ide dasar dari reaksi pembentukan inti helium dari
penggabungan atom hidrogen di matahari atau yang lebih dikenal dengan reaksi fusi.
Ada masalah yang ditimbulkan dari pengembangan ini yaitu bagaimana menyimpan
uranium sebagai bahan utama yang berbahaya. Setelah mengetahui bahwa Dupont telah
berhasil menemukan jenis polimer yang mempunyai karakteristik mampu menahan
bahan-bahan kimiakelas berat maka diujicobakanlah polimer baru tersebut yaitu teflon


untuk menyimpan uranium. Dan saat terbukti berhasil, teflon yang saat semula
ditemukan belum jelas diketahui guna dan manfaatnya, dengan penggunaan ini
terjawablah sudah pertanyaan besar Dupont.
Penggunaan teflon untuk material pelapis dari wajan dadar sehingga bersifat anti
lengket sendiri baru mulai dikembangkan pada era 60-an. Dan meskipun di awal
pemasarannya belum begitu berkembang karena masyarakat belum tahu kelebihan dari
alat ini. Namun 30 tahun kemudian distribusi pemasarannya begitu meluas. Jika awal
tahun 90-an memiliki wajan teflon ibarat memiliki alat masak mutakhir yang tidak
sembarang orang mampu, tapi pada era 2000-an memiliki wajan anti lengket sudah
menjadi hal yang biasa. Begitulah teknologi ini dikembangkan dan berkembang.
Bermula dari riset, penemuan, penggunaan, produksi dan pemasaran yang memakan
waktu hampir 1 abad untuk menuju kejayaannya.

2.3.3. Deskripsi Teflon
Teflon adalah nama merk dari sebuah compound polimer yang ditemukan
olehRoy J. Plunkett (19101994) di DuPont pada 1938 dan diperkenalkan sebagai
produk komersial pada 1946. Teflon merupakan sebuah fluoropolimer thermoplastik.
Teflon adalah nama dagang terdaftar dari bahan plastik yang sangat berguna yaitu Poly
Tetra Fluoro Ethylene (PTFE). PTFE adalah salah satu kelas dari plastik yang dikenal
sebagai fluoropolymers.

2.3.4. Sifat Fisik, Kimia, dan Mekanik Teflon
Teflon adalah bahan sintetik yang sangat kuat, umumnya berwama putih. Teflon
mempunyai performa yang baik pada temperatur ekstrim, tahan pada temperatur -240C
dan tahan terhadap panas sampai kira-kira 250C. Di atas 250C teflon mulai melunak,
di dalam api akan meleleh dan sulit menjadi arang. Teflon juga anti radiasi Ultra Violet
dan tahan segala cuaca, dan anti lengket.
Berat jenisnya kira-kira 2,2 g/cmI. Tahan terhadap banyak bahan kimia,
termasukozone, chlorine, acetic acid, ammonia, sulfuric acid, dan hydrochloric acid. Satu
satunya bahan kimia yang bisa merusak lapisan teflon adalah lelehan logam alkali.
Teflon tidak tahan terhadap larutan alkali hidroksida. Juga kurang tahan terhadap
hidrokarbon yang mengandung khlor. Teflon digunakan sebagai bahan penyekat,
misalnya untuk kotak penyekat (stuffing box), cincin geser (sifat geseran dapat


diperbaiki dengan bagian-bagian alat dari teflon menambahkan graft ke dalamnya).
Digunakan juga untuk cincin 0 atau 0-ring, untuk gasket konsentrik dengan diberi bahan
lunak (sebab teflon tidak begitu elastis), alat-alat yang kecil, pipa, slang selubung pipa.
Sumber : ifankiwon.blogspot.com





Gambar 1. Panci berlapis teflon.
2.3.5. Bentuk Gugus Teflon
Bila struktur teflon ditentukan, maka molekul teflon ditemukan mengandung
rantai karbon dengan mengikat atom-atom fluorin. Tetra fluoroetena (tetra fluoro etilena)
merupakan molekul yang sangat non polar dan relatif kecil ukurannya serta cenderung
berupa gas pada suhu kamar. Bagaimana caranya molekul tetrafluoroetilena dalam wujud
gas dapat bereaksi dengan molekul lainnya membentuk molekul besar yang berantai
panjang dan umumnya berupa padatan.

Gambar 2. Bentuk Gugus Teflon
Sifat-sifat polimer berbeda dari monomer-monomer yang menyusunnya. Pada
contoh diatas, teflon (politetra-fluoroetilena) yang berwujud padat dibuat bila molekul-
molekul gas tetra-fluoroetilena bereaksi membentuk rantai panjang.
2.3.6. Proses Produksi Panci Teflon


Panci dapat dibuat dengan proses permesinan yang menggunakan metode
spinning / putar tekan. Pada proses ini, lembaran tipis ditekan sambil diputar pada
cetakan tertentu. Benda ditekankan pada cetakan yang berputar berbentuk simetris dan
dibuat dari kayu keras dan untuk menghasilkan jumlah yang banyak digunakan cetakan
dari baja licin. Bahan tebuk dapat berupa lingkaran datar atau benda hasil linyuk ( deep
drawing ).
Pekerjaan putar tekan pada umumnya dilakukan pada permukaan luar meskipun
dapat juga diputar tekan dari sisi dalam. Proses putar tekan memiliki beberapa kelebihan
dibandingkan dengan proses pres, antara lain:
-peralatan lebih murah
-produk baru dapat dihasilkan lebih dini dan produk dalam skala besar
Kerugian pengerjaan putar tekan ;
-upah tenaga terlatih yang lebih tinggi
-laju produksi lebih rendah
Logam nonferrous setebal 6 mm dan logam ferrous lunak hingga 5 mm dapat
dibentuk dengan mudah. Toleransi sebesar 0,8 untuk diameter 460 mm dapat dijamin
dengan mudah. Proses ini sering diterapkan untuk membuat alat-alat musik, alat-alat
penerangan, reflector, corong, bejana besar untuk proses-proses dan alat-alat dapur.
Untuk membentuk pelat yang tebal diperlukan rol penekan bermotor,
menggantikan penekan tangan biasa, operasinya disebut proses putar tekan geser.
Langkah-langkah operasi putar tekan geser bisa dilihat pada. Mula-mula pelat
ditekankan pada madril oleh pemegang. Rol ditekankan pada pelat sehingga pelat
terdesak mengikuti bentuk madril dan tebal untuk keseluruhan benda sama.
Langkah-langkah pembuatan bejana konis dengan proses putar-tekan geser dari
benda tebuk berupa pelat.

2.3.7. Bahan Baku PTFE Dipolimerisasi dari Senyawa Kimia Tetrafluoroethylene,
atau TFE
TFE disintesis dari fluorspar, asam fluorida, dan kloroform. Bahan ini
digabungkan di bawah panas tinggi, perlakuan yang dikenal sebagai pyrolosis. TFE tidak
berwarna, tidak berbau, merupakan gas beracun, dan bagaimanapun, sangat mudah
terbakar. TFE disimpan sebagai cairan pada temperatur rendah. Proses polimerisasi
menggunakan jumlah yang sangat kecil, dan bahan kimia lainnya sebagai pemrakarsa.


Berbagai pemrakarsa dapat digunakan, termasuk amonium persulfate atau disuccinic
peroksida asam. Unsur penting lainnya dari proses polimerisasi adalah air.
Sumber : ifankiwon.blogspot.com

Gambar 3. PTFE

PTFE dapat diproduksi dalam berbagai cara, tergantung pada sifat-sifat khusus
yang dikehendaki untuk produk akhir. Ada dua metode utama memproduksi PTFE. Salah
satunya adalah polimerisasi suspensi. Dalam metode ini, TFE dipolimerisasi dalam air,
menghasilkan butiran PTFE. Butiran lebih lanjut kemudian dapat diolah menjadi pelet
yang dapat dibentuk. Dalam metode dispersi, yang dihasilkan adalah PTFE pasta yang
dapat diolah menjadi serbuk halus. Baik pasta dan bubuk, digunakan dalam lapisan
aplikasi.
Produsen PTFE memulai dengan sintesis TFE. Ketiga bahan TFE yaitu fluorspar,
asam fluorida, dan kloroform digabungkan dalam satu ruang reaksi kimia antara
dipanaskan sampai 1094-1652 F (590-900 C). Gas yang dihasilkan kemudian
didinginkan, dan disaring untuk menghilangkan kotoran.
Sumber : ifankiwon.blogspot.com

Gambar 4. Teflon con digunakan pada berbagai peralatan masak.


Polimerisasi Suspensi
Reaksi 2 ruang diisi dengan air murni dan reaksi reagen atau inisiator, bahan kimia
yang akan memicu pembentukan polimer. TFE cair disalurkan ke dalam ruang
reaksi untuk memenuhi TFE inisiator dan mulai polimerisasi. Bentuk-bentuk yang
dihasilkan padatan PTFE menjadi butir yang mengambang di permukaan air. Ketika ini
terjadi, reaksi ruangan terjadi secara. Reaksi kimia di dalam ruang memanas, sehingga
ruangan didinginkan oleh sirkulasi air dingin atau pendingin. Kontrol otomatis
mematikan pasokan TFE setelah adanya perubahan bobot tertentu di dalam ruang. Air
dikeluarkan dari ruangan, meninggalkan pecahan-pecahan berserabut PTFE yang terlihat
seperti parutan kelapa.
Selanjutnya, PTFE dikeringkan dan dimasukkan ke dalam sebuah pabrik. Dalam
pabrik diolah dengan pisau yang berputar, menghasilkan bahan dengan konsistensi
tepung terigu / bubuk halus. Kemudian oleh pabrik bubuk halus (tepung) diubah menjadi
butiran yang lebih besar dengan proses yang disebut aglomerasi. Hal ini dapat dilakukan
dengan beberapa cara. Salah satu metode adalah dengan mencampur bubuk PTFE
dengan pelarut seperti aseton dan dimasukkan dalam drum yang berputar. Biji-biji PTFE
tetap bersatu, membentuk pelet kecil. Kemudian pellet-pellet tersebut kemudian
dikeringkan dalam oven.
Pellet dapat dibentuk menjadi bagian-bagian dengan menggunakan berbagai teknik.
Namun, PTFE dapat juga dijual dalam jumlah besar yang sudah akan dibentuk menjadi
billet (berupa silinder padat PTFE). Billet tinngginya dapat mencapai 5 ft (1,5 m). Billet
dapat dipotong menjadi lembaran atau blok yang lebih kecil, untuk cetakan selanjutnya.
Untuk membentuk billet, pellet PTFE dituangkan ke dalam cetakan silinder stainless
steel.. Cetakan di-load ke hidrolik tekan, yang merupakan sesuatu seperti lemari besar
yang dilengkapi dengan ram penimbang. Ram turun ke bawah ke dalam cetakan dan
memberikan gaya pada PTFE. PTFE molded dipanaskan di oven selama beberapa jam,
sampai secara bertahap mencapai suhu sekitar 680 F (360 C). Ini adalah di atas titik
leleh PTFE. Partikel PTFE menyatu dan kemudian materi menjadi seperti gel. Kemudian
secara bertahap PTFE didinginkan. Billet yang sudah selesai dapat dikirim kepada
pelanggan, yang diproses lebih lanjut.
Salah satu yang paling umum dan terlihat penggunaan lapisan PTFE adalah untuk
panci dan wajan antilengket. Panci atau wajan harus dibuat dari aluminium atau paduan
aluminium. Permukaan wajan harus disiapkan secara khusus untuk menerima PTFE.
Pertama, panci dicuci dengan deterjen dan dibilas dengan air, untuk menghilangkan


semua minyak. Lalu panci dicelupkan ke dalam air hangat asam klorida yang dalam
prosesnya yang disebut etsa. Kemudian panci dibilas dengan air dan dicelupkan lagi
dalam asam nitrat. Kemudian panic itu dicuci lagi dengan air dan menyeluruh kemudian
deionized kering.
Sekarang panci siap untuk pelapisan dengan PTFE dispersi. Lapisan cairan dapat
disemprotkan atau dikuaskan. Lapisan biasanya diterapkan dalam sampai beberapa
lapisan, lapisan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Setelah lapisan pertama
disemprotkan / dikuaskan, panci dikeringkan selama beberapa menit, dan biasanya
dimasukkan ke dalam oven konveksi. Kemudian lapisan berikutnya diterapkan, tanpa
periode pengeringan di antara keduanya. Setelah semua lapisan diterapkan, panci
dikeringkan dalam oven dan kemudian disinter. Sinter adalah pemanasan lambat yang
juga digunakan untuk finishing billet. Jadi biasanya, oven memiliki dua zona. Pada zona
pertama, panci dipanaskan perlahan-lahan ke suhu yang akan menguapkan air di dalam
lapisan. Setelah air menguap, panci bergerak ke zona yang lebih panas, yang suhunya
sekitar 800 F (425 C) selama sekitar lima menit. Kemudian terbentuk gel, gel ini yang
dinamakan PTFE. Kemudian panci dibiarkan dingin. Setelah pendinginan, panci teflon
siap untuk langkah-langkah perakitan akhir, dan pengemasan dan pengiriman.
Pengendalian kualitas harus dilakukan baik pada fasilitas manufaktur PTFE
utama dan di pabrik pengolahan, untuk lebih lanjut langkah-langkah seperti pelapisan,
pengendalian kualitas harus dilakukan. Dalam fasilitas manufaktur utama, industri harus
mengikuti standar prosedur untuk menentukan kemurnian bahan, ketepatan temperatur,
dan lain-lain hingga produk akhir diuji untuk kesesuaian dengan standar.
Untuk dispersi PTFE, viskositas dan bobot jenis dispersi diuji. Pemeriksaan
lainnya dapat dilakukan juga. Karena teflon adalah produk bermerek dagang, produsen
yang ingin menggunakan nama merek untuk bagian atau produk yang dibuat dengan
teflon dan dengan demikian penggunaan PTFE harus mengikuti pedoman pengendalian
mutu yang ditetapkan oleh DuPont. Dalam kasus manufaktur peralatan masak anti
lengket, misalnya, para pembuat peralatan masak mematuhi DuPont Program Sertifikasi
Mutu, yang mengharuskan memonitor ketebalan lapisan PTFE dan temperatur baking,
dan melaksanakan tes adhesi beberapa kali dalam setiap perubahan.

2.3.8. Dampak Teflon Bagi Kesehatan & Environment
Hampir kebanyakan orang kini mengenal dan menggunakan segala macam alat
dapur yang telah dilapisi Teflon. Lapisan Teflon yang tipis tersebut merupakan


polimer yang mengandung atom fluor. Berkat ukuran atom fluor dan sifat elektroniknya
maka polimer tersebut memiliki sifat fisik istimewa lebih dari sekedar polimer
kebanyakan, misalnya daya tahan terhadap panas, sinar ultraviolet maupun cuaca, inert
terhadap asam dan basa serta beberapa sifat optik maupun elektrik lainnya.Kita hidup
dalam era polimer. Bahan-bahan polimer alam yang sejak dahulu telah dikenal dan
dimanfaatkan, seperti kapas, wool, dan damar. Polimer sintesis dikenal mulai tahun
1925, dan setelah hipotesis makromolekul yang dikemukakan oleh Staudinger mendapat
hadiah Nobel pada tahun 1955, teknologi polimer mulai berkembang pesat. Beberapa
contoh polimer sintesis yang ada dalam kehidupan sehari-hari, antara lain serat-serat
tekstil polyester dan nilon, plastik polietilena untuk botol susu, karet untuk ban mobil
dan plastik poliuretana untuk jantung buatan. Teflon memberikan suatu lapisan yang baik
untuk wajan, karena teflon bersifat tidak reaktif dan makanan tidak akan lengket pada
wajan. Teflon memiliki daya tahan kimia dan daya tahan panas yang tinggi.
Keistimewaan teflon adalah sifatnya yang licin dan bahan lain tidak melekat .
Berdasarkan hasil uji commissioned by Environmental Working Group (EWG),
Teflon, produk yang diiklankan membuat hidup lebih mudah, juga digunakan dalam
bentuk yang berbeda untuk menjaga warna permadani dan pakaian. DuPont
menyebutnya produk ini adalah teman terbaik ibu rumah tangga. Teflon dan bahan kimia
yang digunakan dalam produksi telah berkembang menjadi US $ 2 miliar per tahun. Ini
termasuk asam perfluorooctanoic (PFOA), yang dikenal sebagai C-8, yang telah
dihubungkan dengan kanker, kerusakan organ dan efek kesehatan lainnya di tes di
laboratorium pada hewan. Dalam dua sampai lima menit di stovetop konvensional riset,
alat masak yg dilapisi dengan teflon pada suhu tinggi lapisan tersebut dapat menjadi
retak dan mengeluarkan partikel dan gas-gas beracun yang mengakibatkan burung mati
dan timbulnya beberapa penyakit yang tidak dikenal setiap tahunnya.
"Dalam tinjauannya, ini bisa jadi tampaknya seperti salah satu yang terbesar dari
kesalahan industri kimia yang pernah dibuat," kata Jane Houlihan, Vice President untuk
penelitian di lingkungan Working Group, sebuah organisasi aktivis. Mereka sudah
sedemikian besar konsumen berbagai produk. Jadi jika anda membeli pakaian yang
dilapisi dengan teflon atau yang lain yang melindungi dari kotoran dan noda, yang bahan
kimia dapat menyerap langsung melalui kulit. " Menurut Badan Perlindungan
Lingkungan, beberapa penemuan kandungan tertinggi C-8 bahwa kandungan tertinggi C-
8 ditemukan pada pakaian anakanak.


DuPont study menunjukkan bahwa Teflon melepaskan gas beracun pada panas
sekitar 464 F. Pada panas 680 F teflon panas mengeluarkan sedikitnya enam gas
beracun, termasuk dua carcinogens, dua global polusi, dan MFA kimia yang dosis rendah
dapat mematikan manusia.
DuPont menyatakan bahwa mereka Teflon Coatings tidak memancarkan kimia
berbahaya dalam penggunaan biasa atau normal. Signifikan dekomposisi dari coating
akan terjadi jika melebihi suhu sekitar 660 derajat F (340 degrees C). Hal ini sendiri
adalah suhu di atas normal memasak. DuPont mengakui bahwa uap juga bisa orang jatuh
sakit, sebuah kondisi yang disebut demam polymer fume.
PFOA, atau amonium perfluorooctanoic acid, merupakan zat kimia utama dalam
pembuatan teflon sebagai pelapis dalam alat memasak. PFOA tidak hanya digunakan
dalam membuat pelapis alat memasak, tapi juga banyak digunakan dalam industri
otomotif, elektronik dan persenjataan. Contohnya, PFOA digunakan untuk membuat
kabel, power steering, rem mobil dan pelumas gear.
Saat ini teflon sedang mendapat perhatian lebih dari kalangan ilmuwan, dan
mereka melakukan tes terhadap beberapa sampel: berang berang sungai di di Oregon,
beruang kutub di Kanada, dan dalam darah dari 96% anak anak yang diuji di 23 negara
bagian.
DuPont sebagai pencipta teflon mengatakan bahwa lebih dari 50 tahun
penggunaan teflon, tidak ada bukti bahwa teflon berbahaya bagi kesehatan makhuk
hidup. Bahan kimia ini tidak memberikan efek apapun terhadap binatang yang diberi
makanan dengan dosis PFOA yang tinggi. Tapi binatang memberi respon yang berbeda
dengan manusia, dan tidak ada bukti bahwa bahan kimia ini berbahaya bagi kesehatan
manusia., David Boothe, manager DuPont.
Pada tahun 2004 Enviromental Protection Agency (EPA), telah melakukan riset
terhadap data sains PFOA terhadap dampaknya pada kesehatan manusia. Pada tahun
yang sama media banyak melaporkan bahwa DuPont, pembuat teflon, tidak memberikan
informasi yang cukup mengenai kehadiran PFOA pada sumber air dan dampaknya pada
ibu hamil, karena dapat menembus plasenta dan menuju janin.
Gas yang dihasilkan oleh panci yang dilapisi oleh teflon mempunyai campuran
yang kompleks yang berbeda beda kompisinya terhadap temperatur. Pada temperatur
tertentu gas yang dihasilkan didominasi oleh satu atau beberapa bahan kimia, sementara
bahan kimi lainnya hanya erdapat dalam jumlah yang sangat kecil. Akumulasi gas ini


pada makanan belom diuji, tapi beberapa jenis gas yang dihasilkan dikenal sebagai gas
yang bersifat racun.
Meskipun PTFE sendiri adalah non-toksik, namun produk sampingan dalam
pembuatannya menghasilkan racun. Yang termasuk dalam racun adalah fluorida asam
dan karbon dioksida. Wilayah kerja dalam pabrik pembuatan teflon sendiri harus cukup
ventilasi untuk mencegah polusi terhadap gas ketika PTFE sedang dipanaskan, atau
ketika mendingin setelah di sinter. Dokter telah mendokumentasikan penyakit tertentu
yang disebut asap demam polimer yang diderita oleh pekerja yang telah menghirup gas
produk sampingan dari manufaktur PTFE. Pekerja pabrik harus juga dilindungi dari
PTFE saat menghirup debu PTFE.
Beberapa limbah yang diciptakan selama proses manufaktur dapat digunakan
kembali (reuse). Karena pada awalnya PTFE sangat mahal untuk diproduksi, produsen
memiliki insentif yang tinggi untuk menemukan cara alternatif untuk menggunakan
bahan memo. Limbah atau sampah yang dihasilkan dalam proses manufaktur dapat
dibersihkan dan dibuat menjadi bubuk halus. Bubuk ini dapat digunakan untuk
pencetakan, atau sebagai aditif pelumas tertentu, minyak, dan tinta.
Setelah digunakan, PTFE harus dikubur di tempat pembuangan sampah, bukan
dibakar, karena apabila dibakar pada suhu tinggi akan merilis hidrogen klorida dan zat-
zat beracun lainnya. Suatu penelitian yang dirilis pada tahun 2001 menyatakan bahwa
PTFE juga terdegradasi dalam lingkungan ke dalam satu substansi yang beracun untuk
tanaman (Trifluoroacetate, atau TFA). Sementara tingkatnya sampai saat ini, kadar
terurainya TFA di lingkungan rendah, zat bertahan untuk waktu yang lama. Jadi TFA
memungkinan menyebabkan polusi dan menyebabkan kekhawatiran untuk masa depan.
Setelah melakukan uji dan pengambilan sampel, ilmuwan menemukan beberapa
efek PFOA dalam kesehatan:
1. Dari pengujian terhadap binatang
Binatang yang digunakan antaranya kelinci, tikus dan monyet yang diberi dosis
PFOA yang tinggi, mengalami perubahan bentuk jantung, pengurangan berat badan.
Pemberian PFOA dengan media udara mengakibatkan binatang percobaan mengalami
gangguan pernafasan, perubahan berat jantung, pengurangan berat baan, dan gangguan
mata. Hal ini dalam jangka waktu panjang mengakibatkan kanker liver, dan pankreas
pada binatang uji.
2. Pengujian terhadap manusia


Pengujian dilakukan terhadap pekerja di USA dan Eropa yang banyak
berhubungan dengan dosis PFOA yang tinggi. Pada 4000 sampel pengujian tidak
ditemukan hubungan antara kadar PFOA yang tinggi dengan penyebab kanker. Namun,
pada tahun 1981 ditemukan dua bukti dari pekerja yang berinteraksi dengan PFOA,
melahirkan anak yang cacat lahir.
Merupakan hal yang sangat miris ketika sebuah perusahaan besar terus
mengambil keuntungan tanpa memperhitungkan keselamatan konsumennya. Oleh karena
itu kita harus berhati hati terhadap penggunaan berbagai bahan yang mengandung
bahan kimia yang belum kita kenali. Lebih baik kita kembali ke alam, hidup serasi
dengan alam. Jangan terlalu percaya terhadap bahan bahan kimia yang dikatakan oleh
produsen mempunyai fungsi yang baik.



2.4. Kesimpulan


































DAFTAR PUSTAKA
http://ifankiwon.blogspot.com/2012/01/ptfe-teflon.html
http://mesinunimus.files.wordpress.com/2008/02/sifat-karakteristik-material-plastik.pdf
http://ivanhadinata.blogspot.com/2010/01/polikarbonat.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Polikarbonat
http://www.yohanli.com/polikarbonat-polycarbonate.html
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/38514/5/Chapter%20I.pdf
http://manoelhakim.wordpress.com/2012/02/04/makalah-nilon-2/
http://www.pslc.ws/macrog/nylon.htm
http://bilangapax.blogspot.com/2011/02/nylon.html