Anda di halaman 1dari 5

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit kanker merupakan penyakit penyebab kematian nomor 2 di
Amerika Serikat. Di Indonesia terdapat kecenderungan peningkatan jumlah
penderita kanker dari tahun ke tahun. Penyelidikan selama 20 tahun terakhir
menyimpulkan bahwa 60-90% penyakit kanker berhubungan dengan lingkungan,
sehingga secara teoritis penyakit kanker dapat dicegah. Lingkungan di sini berarti
semua yang berinteraksi dengan manusia yaitu bahan-bahan yang dimakan,
diminum, diisap dan dihirup, juga radiasi, obat-obatan serta aspek-aspek kelakuan
seksual. Dari penyelidikan epidemiologis dan laboratoris didapatkan bahwa diet
(misalnya banyak lemak, kurang serat dalam makanan) mempunyai peranan
sebesar 35-50% untuk timbulnya kanker pada saluran pencernaan, payu dara,
endometrium dan ovarium. Bahan yang diminum, diisap dan dihirup (misalnya
alkohol, tembakau, debu asbes) berperanan (22-30%) untuk timbulnya kanker
pada paru, orofarings dan esofagus. Demikian pula radiasi, faktor genetik dan lain
substansi yang belum diketahui. Faktor psikogenik berperanan untuk timbulnya
kanker karena mempunyai hubungan dengan imunitas tubuh. Untuk mengurangi
insidens penyakit ini diperlukan pengetahuan yang lebih luas.
Kanker buli merupakan penyebab kedua keganasan urologi dengan 5108
kematian di Amerika Serikat pada tahun 1997. Setiap tahunnya terdapat 13000
kasus baru yang mengindikasikan sebagian besar mortalitas diakibatkan kanker
buli.








2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi

2.2 Epidemiologi

2.3 Etiologi
Pria kali lebih beresiko berkembangnya kanker buli dibandingkan wanita
yang kasusnya terus meningkat seiring pertambahan usia. Belum terdapat data
yang adekuat kuat tenting kemungkinan faktor genetic sebagai etiologi dan
bangsa kulit hitam tingkat insidensi lebih rendah dibandingkan bangsa kulit putih.
Perkembangan karsinogen ditemukan pada urin yang merupakan penyebab mayor
karsinoma buli, hal ini disebabkan adanya inflamasi kronik pada mukosa buli.
Merokok merupakan penyeba tersering karsinoma buli pada Negara
berkembang. Pada sebatang rokok terdapat zat karsionegenik berupa 4-
aminobifenil dan 2-naptylamin. Perokok beresiko 2-5 kali dibandingkan bukan
perokok. Menurut estimas 25-60% karsinoma buli disebabkan karena merokok.
Faktor resiko lain berupa radiasi dan karsinogen pada rantai aromatic
hidrokarbon seperti aniline. Periode laten 25-45 tahun antara paparan dan
karsinogenesis. Penyebab lain karsinoma buli seperti penggunaan nalgetikk
phenakitin, obat sitotoksik siklofosfamid dan telur Schistosoma haematobium.

2.4 Patofisiologi
3


2.5 Kriteria Diagnostik
Pada karsinoma buli gejala klinis berupa 80% hematuria total tanpa nyeri.
Nyeri jarang dijumpai meskipun telah terjadi obstruksi saluran kemih bagian atas
dan hal ini mengakibatkan kerusakan ginjal secara bertahap. Hematuria bisa
dijumpai pada fase inisial atau terminal apabila lesi terdapat pada leher kandung
kemih. Akan tetapi terkadang juga dijumpai hematuria mikroskopik yang
asimtomatik. Seluruh pasien dematuria baik itu mikroskopik ataua makroskopik
wajib di investigasi adanya kelainan saluran kemih atas dan kandung kemih untuk
menyingkirkan adanya infeksi saluran kemih dan pemberian terapi berupa
pemeriksaan USG renal, foto rontgen, sistoskopi fleksibel dengan anestesi local
yang merupakan pemeriksaaan penunjang lini pertama.Berikut penjelasan
terperinci mengenai alat diagnostic dalam karsinoma buli yaitu:
1. Sistoskopi
Sistoskopi merupakan pemeriksaan standar yang digunakan untuk mendeteksi
dan reseksi karsinoma buli. Teknologi baru telah dikembangkan untuk
memperbaiki kualitas sistoskopi dan reseksi transurethral karsinoma buli yang
lebih dikenal dengan istilah TURBT dan digunakan sebagai upaya preventif
adanya rekurensi penyakit dan progresivitas.
2. Fotodinamik diagnosis
4

Fotodinamik diagnosis digunakan untuk diagnosis selama inisial TURBT dan
pasien dengan hasil sitologi urin positif dan sitoskopi negative, akan tetapi
penegakkan rekurensi tumor tidak dianjurkan pada pemeriksaan ini. Fotodinamik
diagnostic juga direkomendasikan untuk penilaian awal karsinoma insitu dan
tumor multifocal. Fotodinamik diagnostic tidak dapat mencegah progresivitas dan
memperbaiki survival.
3. Narrow band imaging
NBI sistoskopi dapat memperlihatkan struktur mukosa kandung kemih tanpa
penggunaan kontras. Panjang gelombangnya dapat berpenetrasi lebih dalam. Pada
BLC membutuhkan fotosensitasi berangsur melalui kateter uretra akan tetapi NBI
tidak memerlukan prosedur invasive. Dan dapat dilakukan dengan sistoskopi
fleksibel dan bisa diterapkan pada penggunaan rawat jalan. Penggunaaan NBI dan
TURBT menurunkan rekurensi karsinoma buli invasive bukan otot sebesar 10%
dalam satu tahun.
4. Marker urin
Pemeriksaan urin non invasive yang sering digunakan adalah sitologi dengan
spesifisitas dan sensitivitas baik dalam deteksi tumor derajat tinggi, akan tetapi
spesifisitas dan sensitivitas rendah pada tumor derajat rendah.

Transitional sel karsinoma merupakan subtype patologi primer karsinoma
buli dan didapatkan pada 90% tumor. Karsinoma sel skuamosa dan
adenokarsinoma jarang dijumpai dan hanya sebesar 5% dan 1% dari karsinoma
buli. Karsinoma sekunder dapat dilihat pada kolon, yeterus, ovarium dan prostats
seperti limfoma.
Pada area yang merupakan endemic infeksi schistosomiasis,
5


2.6 Penatalaksanaan