Anda di halaman 1dari 31

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, makalah yang
berjudul PROSES PENGERJAAN PLASTIK DARI INDUSTRI HULU-HILIR
akhirnya dapat penulis selesaikan dengan baik. Tujuan penulisan makalah ini
adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah proses manufaktur. Makalah ini
berisikan mengenai proses pembuatan plastik dari industri hulu, menengah,
sampai hilir.
Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
sehingga dapat memperbaiki penulisan makalah yang akan datang. Namun
tersirat setitik pengharapan, semoga makalah ini dapat memberikan bekal
keilmuan yang berguna khususnya bagi penulis,umumnya bagi mereka yang
sempat membacanya.
Jakarta, 23 April 2014



Penulis

ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2 Tujuan ................................................................................................... 2
1.3 Rumusan Masalah ................................................................................. 2
1.4 Metode Pengumpulan Data ................................................................... 2
1.5 Sistematika Penulisan ........................................................................... 2
BAB II ISI ............................................................................................................. 1
2.1 Industri Hulu .......................................................................................... 1
2.1.1 Proses Pengambilan Minyak Bumi dan Gas dari Dalam Perut Bumi ... 1
2.1.2 Proses Pengolahan Minyak Bumi dan Gas ......................................... 6
2.2 Industri Menengah ........................................................................... 12
2.2.1 Polimer ......................................................................................... 12
2.2.2 Proses Polimerisasi ...................................................................... 14
2.3 Industri Hilir ............................................................................................. 19
2.3.1 Cetak Injeksi ................................................................................. 20
2.3.2 Cetak Embus (Blow Molding) ........................................................ 23
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................. 25
3.1 Kesimpulan .......................................................................................... 25
3.2 Saran ................................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kehidupan manusia selalu berhubungan dengan material untuk
memenuhi kebutuhan transportasi, rumah, pakaian, komunikasi, rekreasi, produk
makanan dan sebagainya. Pada tahap awal manusia hanya mampu mengolah
material yang tersedia di alam seperti batu, kayu, kulit, tanah dan sebagainya.
Dengan berkembangnya ilmu material dan proses manufaktur , penggunaan
material-material tersebut menjadi sangat beragam.
Secara garis besar material terbagi kedalam dua kelompok, yaitu
material logam dan material non logam. Material logam itu sendiri terbagi
kedalam dua golongan yaitu golongan logam ferrous yang mengandung Fe
sebagai unsur utamanya seperti besi atau baja dan golongan logam non ferrous
seperti tembaga dan alumunium. Material non logam dapat dibedakan kedalam
tiga golongan yaitu , polimer yang memiliki berat molekul > 10.000 , tersusun dari
monomer yang saling berikatan kovalen, keramik merupakan bahan yang
terbentuk dari hasil senyawa (compound) antara satu atau lebih unsur-unsur
logam (termasuk Si dan Ge) dengan satu atau lebih unsur-unsur anorganik
bukan logam. Dan komposit merupakan campuran bahan yang tersusun dari dua
atau lebih bahan dasar dalam skala makroskopis yang sifatnya sangat berbeda
dengan sifat masing-masing bahan pembentuknya.
Untuk mengolah material-material tersebut terbentuklah industri, dalam
dunia industri terdapat istilah industri hulu, industri menengah dan industri hilir.
Industri hulu merupakan industri yang bergerak untuk menghasilkan bahan
mentah seperti penambangan bijih besi, pengeboran minyak dan gas bumi.
Industri menengah merupakan industri yang bergerak untuk merubah bahan
mentah yang dihasilkan oleh industri hulu sehingga menjadi barang setengah
jadi seperti mengolah bijh besi menjadi batangan besi, mengolah minyak bumi
dan gas yang berupa ethylene dan propylene menjadi bijih plastik . Industri hilir
merupakan industri yang bergerak merubah barang setengah jadi oleh industri
menengah menjadi barang jadi yang siap digunakan oleh masyarakat seperti
bijih plastik menjadi tempat minum atau tempat makan.
2

1.2 Tujuan
Pada makalah ini penulis akan membahas mengenai proses
pengambilan minyak bumi dan gas yang kemudian salah satu turunan dari
minyak bumi dan gas tersebut yaitu propylene dijadikan polypropylene atau bijih
plastik yang kemudian polypropylene atau bijih plastik tersebut dibentuk sesuai
dengan kebutuhan konsumen.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan tujuan di atas , penulis merumuskan beberapa masalah
yaitu :
1. Bagaimana teknik secara umum industri hulu memproses
pengambilan bahan mentah yaitu minyak bumi dan gas serta
mengolahnya sehingga menghasilkan propylene
2. Bagaimana teknik industri menengah mengubah salah satu turunan
dari minyak bumi dan gas yaitu propylene tersebut menjadi bijih
plastik
3. Bagaimana cara industri hilir membentuk bijih plastik dengan cara
cetak injeksi dan cetak embus agar bisa digunakan oleh masyarakat.
1.4 Metode Pengumpulan Data
1. Studi Pustaka
Melakukan studi pustaka dengan mencari teori-teori dasar dalam
menyelesaikan rumusan masalah yang dihadapi penulis.
2. Observasi Media Elektronik
Metoda ini dilakukan dengan cara browsing internet, untuk mendapatkan
informasi yang umum.
1.5 Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pembaca dalam memahami karya tulis ini, maka
penulis membuat sistematika penulisan sebagai berikut :
BAB I Pendahuluan, berisikan secara singkat latar belakang
dilakukannya kegiatan penulisan karya tulis ini. Kemudian dilanjutkan dengan
tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan kemudian rumusan masalah yang
dibahas oleh penulis. Selanjutnya penulis menjelaskan metoda pengumpulan
data yang dilakukan penulis. Dan pada bagian akhir penulis memberikan
3

sistematika penulisan untuk mempermudah pembaca dalam membaca dan
memahami karya tulis ini.
BAB II berisi tentang penjelasan mengenai industri hulu memproses
pengambilan bahan mentah yaitu minyak bumi dan gas serta mengolahnya
sehingga menghasilkan propylene, teknik industri menengah mengubah salah
satu turunan dari minyak bumi dan gas yaitu propylene tersebut menjadi bijih
plastik. Dan industri hilir membentuk bijih plastik dengan cara cetak injeksi dan
cetak embus agar bisa digunakan oleh masyarakat.
BAB III Kesimpulan dan Saran, berisikan perumusan hasil pembahasan
yang disusun secara singkat dan padat.


V-1

BAB II
ISI

2.1 Industri Hulu
Bahan baku utama untuk pembuatan polimer itu sendiri berasal dari
minyak bumi dan gas alam. Minyak bumi berasal dari jasad renik lautan,
tumbuhan dan hewan yang mati sekitar 150 juta tahun yang lalu. Hal tersebut
berdasarkan pada kesamaan unsur-unsur yang terdapat dalam bahan tersebut
dengan unsur-unsur yang terdapat pada makhluk hidup. Sisa-sisa organisme itu
mengendap di dasar laut, kemudian ditutupi oleh lumpur yang lambat laun
mengeras karena tekanan lapisan diatasnya sehingga berubah menjadi batuan.
Sementara itu bakteri anaerob menguraikan sisa-sisa organisme itu sehingga
menjadi minyak bumi yang terperangkap di antara lapisan-lapisan kulit bumi.
Proses pembentukan minyak bumi ini membutuhkan waktu yang sangat lama.

2.1.1 Proses Pengambilan Minyak Bumi dan Gas dari Dalam Perut Bumi
Untuk mengeluarkan minyak bumi atau gas alam tersebut dari dalam
lapisan kulit bumi diperlukan banyak sekali proses dan melibatkan berbagai
industri. Beberapa industri yang bergerak di bidang oil and gas services adalah,
Shlumberger, Halliburton, Baker Hughes, Elnusa dan masih banyak lagi. Berikut
beberapa proses pengambilan minyak bumi secara umum.

2

A. Seismic

Gambar 1 . seisimic
sumber (http://www.anehdidunia.com/2012/06/cara-mendapatkan-minyak-dan-
gas-bumi.html)
Proses ini bertujuan untuk mencari tempat yang memiliki kandungan
minyak bumi atau gas yang ada di dalam perut bumi. Dengan menggunakan
gelombang akustik yang merambat melalui lapisan tanah kemudian gelombang
tersebut dipantulkan oleh batuan yang ada di dalam perut bumi dan terbaca oleh
sensor yang ada di permukaan . Dari proses perambatan inilah gelombang ini
akan diolah sehingga diketahui susunan batuan yang ada di dalam perut bumi
tersebut.

Gambar 2 Proses Eksplorasi
sumber (http://www.anehdidunia.com/2012/06/cara-mendapatkan-minyak-dan-
gas-bumi.html
3

B. Drilling and Well Construction


Gambar 3 . drilling and well construction
sumber (http://www.anehdidunia.com/2012/06/cara-mendapatkan-minyak-dan-
gas-bumi.html
Setelah lokasi potensial yang mengandung minyak bumi dan gas
diketahui, kemudian dilakukan proses pengeboran . Pengeboran minyak bumi
merupakan suatu kegiatan membuat sebuah lubang ke dalam perut bumi
sampai lokasi yang diduga mengandung minyak bumi dan gas.
Operasi pengeboran merupakan kegiatan di kawasan terbatas dengan
jumlah investasi yang besar. Kegiatan ini melibatkan investasi padat modal
dengan peralatan yang berteknologi tinggi juga pekerja yang memiliki kualifikasi
yang dibutuhkan. Para personil yang bekerja pada proses ini harus memiliki
pengetahuan yang mendalam. Memperhatikan keselamatan kerja sebagai hal
yang paling utama. Keselamatan kerja akan berpengaruh positif pada
keberhasilan proses ini serta berpengaruh pada citra perusahaan minyak bumi
dan gas di mata instansi-instasi seperti pemerintah, pemegang saham, investor,
masyarakat sekitar, dan pemerhati lingkungan.
4

C. Well Logging

Gambar 4. Well Logging
sumber (http://www.anehdidunia.com/2012/06/cara-mendapatkan-minyak-dan-
gas-bumi.html
Proses ini merupakan proses untuk mendapatkan data mengenai
reservoir , Pada proses ini lapisan tanah akan dipetakan dan juga akan dilakukan
pengambilan sampel untuk dicek kandungannya .
D. Well Testing

Gambar 5. Well Testing
sumber (http://www.anehdidunia.com/2012/06/cara-mendapatkan-minyak-dan-
gas-bumi.html
5


Proses well testing dilakukan untuk mendapatkan berbagai properti dari
reservoir secara dinamis dan hasilnya lebih akurat dalam jangka panjang.
Tujuannya untuk memastikan apakah sumur akan mengalir dan
berproduksi. Untuk mengetahui berapa banyak kandungan hidrokarbon di dalam
reservoir dan kualitasnya. Untuk memperkirakan berapa lama reservoirnya akan
berproduksi dan berapa lama akan menghasilkan keuntungan secara ekonomi.
Teknik ini dilakukan dengan mengkondisikan reservoir dalam keadaan
dinamis dengan cara memberi gangguan sehingga tekanan reservoirnya akan
berubah. Jika reservoirnya sudah atau sedang berproduksi, tes dilakukan
dengan cara menutup sumur untuk mematikan aliran fluidanya. Teknik ini
disebut build up test. Jika reservoirnya sudah lama idle, maka sumur dialirkan
kembali. Teknik ini disebut draw down test.
E. Well Completion

Gambar 6. Well Completion
sumber (http://www.anehdidunia.com/2012/06/cara-mendapatkan-minyak-dan-
gas-bumi.html
Well Completion adalah pekerjaan tahap akhir atau pekerjaan
penyempurnaan untuk mempersiapkan suatu sumur pemboran menjadi sumur
produksi. Untuk mendapatkan hasil produksi yang optimum dan mengatasi efek
negatif dari setiap lapisan produktif maka harus dilakukan pemilihan metode well
completion yang tepat dan ukuran peralatan yang sesuai untuk setiap sumur.
Tidak ada jenis well completion yang sama persis antara sumur satu dengan
6

yang lainnya, tetapi selalu bervariasi tergantung dari faktor yang
dipertimbangkan. Tujuan dari well completion adalah mengatur aliran fluida dari
formasi produktif dasar sumur ke permukaan sebaik mungkin.
F. Production

Gambar 7. Production
sumber (http://www.anehdidunia.com/2012/06/cara-mendapatkan-minyak-dan-
gas-bumi.html
Proses produksi merupakan proses mengalirkan minyak bumi atau gas
alam dari dalam reservoir ke permukaan yang kemudian nantinya akan dilakukan
proses penyulingan untuk diolah dalam berbagai bentuk seperti naptha,
kerosene, gasoline, dan diesel.

2.1.2 Proses Pengolahan Minyak Bumi dan Gas
Setelah minyak bumi dan gas diproduksi kemudian minyak bumi dan
gas tersebut diolah di kilang-kilang minyak dengan teknik destilasi. Pertamina
merupakan sebuah perusahaan besar milik Indonesia yang bergerak di bidang
ini, Kilang-kilang minyak milik pertamina hilir adalah.
Unit Pengolahan I di Pangkalan Brandan - Sumatera Utara (ditutup pada
Januari 2007) dan bergabung dengan Unit Pengolahan II Dumai pada tahun
2010.
Unit Pengolahan II di Dumai - Riau
Unit Pengolahan III di Plaju-Sei Gerong Palembang - Sumatera Selatan
Unit Pengolahan IV di Cilacap - Jawa Tengah
7

Unit Pengolahan V di Balikpapan - Kalimantan Timur
Unit Pengolahan VI di Balongan Indramayu - Jawa Barat
Unit Pengolahan VII di Sorong - Papua

Semua unit milik pertamina tersebut secara umum menggunakan teknik
destilasi, Teknik destilasi merupakan suatu teknik untuk memisahkan
hidrokarbon berdasarkan fraksi atom C nya yang terjadi di menara fraksinasi.
Atom karbon C yang titik didihnya lebih tinggi akan tetap berupa cairan dan turun
ke bawah, sedangkan yang titik didihnya lebih rendah akan menguap dan naik ke
bagian atas melalui sungkup-sungkup yang disebut menara gelembung. Makin
ke atas, suhu dalam menara fraksinasi itu semakin rendah. Demikian seterusnya,
sehingga komponen yang mencapai puncak menara adalah komponen yang
pada suhu kamar berupa gas.

Diagram 1 . Fraksionisasi
Sumber : http://sherchemistry.wordpress.com/kimia-x-2/minyak-bumi/
Fraksi minyak bumi yang dihasilkan berdasarkan rentang titik didihnya
antara lain sebagai berikut :
1. Gas , rentang rantai karbon : C1 sampai C5 ,
8

titik didih 0 sampai 50 degC
2. Gasoline , rentang rantai karbon : C6 sampai C11 ,
titik didih 50 sampai 85 degC
3. Kerosin ( minyak tanah), rentang rantai karbon : C12 sampai C20,
titik didih 85 sampai 105 degC
4. Solar, rentang rantai karbon : C 21 sampai C30,
titik didih 105 sampai 135 degC
5. Minyak berat, rentang rantai karbon C31 sampai C40,
titik didih 135 sampai 300 degC
6. Residu , rentang rantai karbon diatas C40 ,
titik didih sampai 300 degC
Fraksi fraksi minyak bumi dari proses destilasi bertingkat belum
memiliki kualitas yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sehingga perlu
pengolahan lebih lanjut yang meliputi proses cracking, reforming, polimerisasi ,
treating dan blending .
Berikut beberapa teknik untuk mendapatkan propylene .
A. Steam Cracking
Cara yang sering dilakukan untuk memproduksi olefin ringan seperti
ethylene dan propylene yang merupakan bahan pembuat polimer adalah dengan
menggunakan steam cracking pada hidrokarbon.. Etana, LPG dan naphta adalah
bahan baku utama untuk steam cracker.
Prinsip dari reaksi steam cracking adalah dengan memecah ikatan,
Sehingga dibutuhkan banyak energi untuk melakukan produksi olefin. Sifat dari
reaksi ini adalah endotherm sehingga beroperasi pada suhu yang tinggi dengan
tekanan rendah. Uap superheated digunakan untuk mengurangi tekanan parsial
pada reaksi hidrokarbon dan mengurangi deposit karbon yang terbentuk selama
proses pirolisis.
Hidrokarbon dengan rantai panjang akan lebih mudah di pecah daripada
senyawa dengan rantai yang pendek. Selain itu suhu yang digunakan untuk
pemecahan juga lebih rendah. Steam cracker terdiri dari furnace yang digunakan
untuk proses pirolisis dimana bahan baku dipecah menggunakan uap sebagai
pengencernya. Gas hasil cracking didinginkan kemudian dikirim menuju
demethanizer untuk memisahkan gas hydrogen dan methane. Sedangkan untuk
effluent kemudian di olah untuk memisahkan asetylena. Dan untuk ethylene
9

dipisahkan pada fraksionasi ethylene. Fraksi bawah dipisahkan pada de-
ethanizer menjadi ethane dan C3+ yang ditreatment lebih lanjut untuk
menghasilkan propylene dan olefin lainnya. Kondisi untuk ethane steam cracker
adalah 750-800 C, tekanan 1 1,2 atm dan rasio steam / ethane 0,5.
Untuk bahan baku cair biasanya dipecah dengan waktu tinggal yang
singkat dan rasio pengenceran uap lebih tinggi dibanding cracking dengan bahan
baku gas. Kondisi untuk cracking naphta terjadi pada suhu 800 C, tekanan 1 atm
dan rasio steam/hydrocarbon 0,6 0,8 dengan waktu tinggal 0,35 detik.
Produksi bahan baku cair mempunyai coproduct yang lebih luas.
Sebagai contoh aromatic BTX yang dapat digunakan untuk produksi berbagai
turunan dari bahan kimia. Dalam tungku cracking, perbandingan propylene
dangan ethylene terbatas sekitar 0,65. Apabila bahan baku yang digunakan lebih
besar maka akan menyebabkan produk samping C5+ lebih banyak.
B. Fluid Catalytic Cracking (FCC)
Sekitar 97% produksi propylene pada kilang merupakan co product dari
gasoline menggunakan unit fluid katalitik. Pada beberapa kilang fraksi propylene
dan gas ringan biasanya dialihkan menjadi bahan bakar sweet gas. Sekitar 60 %
FCC propylene digunakan pada produksi kimia dan sisanya digunakan untuk
campuran bensin ber oktan tinggi.
Komponen utama FCC terdiri dari sistem injeksi bahan baku, reactor,
stripper, fraksionator, dan regenerator. Sistem Fluidize katalyst digunakan
sebagai fasilitas katalyst dan transfer panas antara reactor dan regenerator.
Reaksi cracking yang terjadi bersifat endotherm. keseimbangan panas diperoleh
oleh pembakaran katalyst-kokas disimpan di regenerator. Secara umum, semua
reaksi cracking dicirikan oleh produksi jumlah yang cukup banyak akan olefin.
Hasil propylene dari unit FCC adalah fungsi dari parameter berikut:
kapasitas proses unit FCC, jenis bahan baku, suhu keluar riser reactor, dan jenis
katalyst cair dan zat aditif. Untuk mendapatkan hasil yang lebih tinggi pada olefin
ringan, khususnya propylene. Hydrogen pada bahan baku harus ditingkatkan dan
kandungan sulfur harus dikurangi. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan
minyak mentah kandungan sulfur rendah atau dengan meningkatkan performa
dari hydrotreater upstream bahan baku pada unit FCC.
Untuk saat ini Ada beberapa proses FCC komersial yang bekerja
dengan menggunakan katalyst. Pembangunan FCC tidak bernilai ekonomis
10

apabila tujuannya hanya untuk memproduksi propylene karena yield yang
dihasilkan rendah. Akan lebih bernilai apabila menggunakan propylene untuk
kebutuhan kimia. Catalitic cracking yang dirokemendasikan oleh Stone dan
Webster/Shaw shaw and RIPP/Sinopec merupakan proses FCC dengan hasil
olefin tinggi sehingga dapat digunakan untuk skala komersial. Perkembangan
katalyst membantu meningkatkan yield FCC konvensional dari 4,5 % menjadi 10
% atau lebih besar.
C. Dehydrogenasi Propane
Reaksi dehidrogenasi propane bersifat sangat endhoterm sehingga
kondisi operasi berlangsung pada suhu tinggi dan tekanan rendah. Jumlah olefin
pada reactor tergantung pada kondisi output reactor. Reaksi perengkahan
thermal dibatasi kondisi maksimum temperatur dan tekanan yang menjadi
variabel dominan.

Reaksi samping yang terjadi bersamaan dengan reaksi utama
menyebabkan pembentukan hidrokarbon ringan dan hidrokarbon berat yang
menghasilkan pengendapan dalam jumlah kecil yang terjadi di katalyst. Hal yang
berbeda dari sistem katalyst pada kromium dan platinum digunakan dalam
rentang suhu 500-650
o
C. Karena DEAktivasi cepat dengan pembentukan coke,
maka konsep yang berlawanan telah digunakan untuk mengaktifkan regenerasi
katalyst.
D. Methatesis
Olefin methathesis adalah reaksi yang digunakan untuk memproduksi
propylene dan ethylene dan butane menggunakan katalyst senyawa logam
transisi tertentu. Dua reaksi utama yang terjadi secara simultan adalah
methatesis dan isomerisasi. Methateisi mengubah ikatan ganda pada carbon
carbon yang tidak reaktif terhadap reagen lainnya mejadi gugus fungsional yang
reaktif. Ikatan karbon-karbon yang baru terbentuk pada suhu kamar pada media
cair untuk memulai bahan. Karena reaksi methatesis adalah reaksi bolak-balik,
maka propylene dapat diproduksi dari ethylene dan butane-2. Methatesis dapat
ditambahkan steam cracking untuk meningkatkan produksi ethylene dari
perubahan ethylene dan perengkahan butane. Secara skematik dijelaskan pada
bagan di bawah ini.
11



Selain steam cracking masih banyak lagi cara lain untuk mendapatkan
propylene seperti fluid catalytic cracking (FCC), Dehydrogenasi Propane, dan
Methatesis. Berikut perbandingan kelebihan dan kekurangan pembuat propylene
Berdasarkan beberapa cara yang disebutkan di atas.
Tabel 1. Kelebihan dan Kekurangan Proses Pembuatan Propylene


12

2.2 Industri Menengah
2.2.1 Polimer
Sejak tahun 1960, penggunaan plastik mulai menggantikan posisi
material lain seperti logam dan keramik pada berbagai aspek kehidupan. Ringan,
murah, dapat didaur ulang, dan mudah dibentuk adalah beberapa sifat dasar
plastik yang menjadi alasan penggunaannya.
Seringkali istilah polimer tertukar dengan plastik. Sebenarnya, yang
dimaksud dengan polimer merupakan suatu molekul panjang yang terdiri atas
ribuan unit yang berulang. Sedangkan plastik adalah suatu material rekayasa
yang struktur molekulnya memiliki komposisi yang rumit yang dengan sengaja
diatur untuk memenuhi aplikasi-aplikasi spesifik yang diinginkan.


Berikut merupakan kategori kategori polimer berdasarkan struktur dan
perilaku molekulnya, polimer dapat diklasifikasikan menjadi thermoset,
thermoplast, dan elastomer

Gambar 8. Klasifikasi material polimer
Sumber : Pengetahuan Dasar Plastik, Catatan 1, PT Try Polyta Indonesia
TBK

PLASTIK = POLIMER + ADITIF
13

Sifat sifat khas yang dimiliki oleh polimer pada umumnya adalah
sebagai berikut:
1. Mampu cetak dengan baik.
Pada temperature relative rendah polimer dapat dicetak dengan
penyuntikan, penekanan, ekstrusi dan seterusnya, sehingga biaya
pembuatan lebih rendah daripada logam dan keramik.
2. Produk yang ringan dan kuat dapat dibuat.
Berat jenis polimer rendah dbandingkan dengan logam dan keramik, yaitu
1 1.7 yang menyebabkan barang yang terbuat dari plastik ringan dan
kuat
3. Banyak diantara polimer bersifat isolasi listrik yang baik
Polimer mungkin juga dibuat sebagai konduktor dengan cara
mencampurkan dengan serbuk logam, butiran karbon dan sebagainya.
4. Baik sekali dalam ketahanan air dan ketahanan zat kimia
Pemilihan bahan yang baik akan menghasilkan produk yang mempunyai
sifat-sifat yang tahan air dan zat kimia.
5. Produk-produk dengan sifat yang cukup berbeda dapat dibuat tergantung
cara pembuatannya.
Dengan mencampur zat pemplastis, pengisi dan sebagainya sifat-sifat
dapat berubah dalam daerah luas, sebagai contoh polivinil klorida dengan
zat pelapis karet dengan pengisi (serbuk karbon) plastik diperkuat serat
gelas ( FRP= fiberglass reinforced plastis)
6. Kurang tahan terhadap panas
7. Umumnya bahan polimer murah
8. Kekerasan permukaan yang rendah
9. Kurang tahan terhadap pelarut
10. Mudah termuati listrik secara electrostatic
11. Beberapa bahan tahan abrasi atau mempunyai koefisien gesek yang
kecil.

14

2.2.2 Proses Polimerisasi

Diagram 2. Block Flow Diagram Main Process
A. Unit Ekstraksi
Unit ekstraksi dibagi menjadi dua tahap yaitu ekstraksi dengan
menggunakan Diethanol Amin (DEA) dan ekstraksi dengan menggunakan
Natrium Hidroksida (NaOH).
1. Ekstraksi dengan menggunakan Diethil Amin (DEA).
Fungsi dari ekstraksi dengan DEA ini ialah menghilangkan kadar
carbonyl sulfide (COS) dalam RAW PP hingga menjadi 5 ppm mol maksimum.
Dan sebagian hydrogen sulfide (H
2
S) dari 6000 ppm menjadi 10 ppm, dan
carbon dioxide (CO
2
) dengan menggunakan larutan diethanolamine (DEA) pada
konsentrasi 20% berat.
Pada ekstraksi ini, terjadi dua kali proses ekstraksi, yang pertama ialah
primary DEA ekstraktor dan secondary DEA ekstraktor. Ektraksi dilakukan
sebanyak dua kali dikarenakan untuk menghilangkan atau melepaskan beberapa
15

zat yang tidak diinginkan seperti Carbonyl Sulfide (COS), Hydrogen Sulfide
(H
2
S), dan Carbon Dioxide (CO
2
) yang ada didalam RAW propane propylene.
Pelepasan gas-gas yang tidak diinginkan tersebut terjadi di dalam sebuah alat
yang dinamakan DEA regenerator dengan larutan DEA pada temperatur 120
o
C
dan tekanan 0,5 kg/cm
2
g.
Beberapa reaksi yang terjadi pada proses ekstraksi dengan DEA adalah

Dari proses tersebut maka yang dihasilkan dari proses ekstraksi dengan
menggunakan DEA ialah propane propylene yang murni, tanpa adanya zat
pengotor.
2. Ekstraksi Dengan Menggunakan Natrium Hidroksida (Naoh)
Ekstraksi dengan menggunakan natrium hidroksida dibagi menjadi 2
yaitu ekstraksi non generatif dan ekstraksi generatif. Fungsi ekstraksi non
generatif dengan menggunakan Natrium Hidroksida (NaOH) ialah untuk
menghilangkan hidrogen sulfida (H
2
S) hingga 1 ppm berat dan carbon dioksida
hingga 5 ppm berat dalam raw propane propilene. Proses ekstraksi non generatif
terjadi didalam primary NaOH extractor. Adapun reaksi yang terjadi didalam
primary NaOH extractor ialah:

Dengan terbentuknya Na
2
S , H
2
O, dan NaHCO
3
maka konsentrasi
NaOH pada kolom non regeneratif NaOH extractor semakin lama akan semakin
16

menurun, dan bila konsentrasi mencapai < 4% berat maka NaOH akan diganti
dengan NaOH 10 % berat yang baru.
Pada proses ekstraksi NaOH generatif berfungsi untuk menghilangkan
methyl mercaptan (RSH) dari 150 ppm mol menjadi 5 ppm mol maksimal.
Penghilangan methyl mercaptan selain untuk memperbaiki kualitas propilene
ialah untuk mencegah terjadinya korosi pada peralatan yang akan dilalui oleh
bahan baku. Didalam kolom generatif extractor terjadi ekstraksi antara liquid-
liquid antara methyl mercaptan dengan NaOH. Dan pada kolom NaOH
regenerator terjadi proses pelucutan methyl mercaptan dalam NaOH dengan
temperatur 120 C dan tekanan 0,5 kg/cm2g.
Adapun reaksi pada alat-alat tersebut adalah :

B. Unit Pengeringan
Unit pengeringan terbagi menjadi dua tahap diantaranya adalah filtrasi
dan pengeringan. Dalam proses filtrasi terdapat beberapa komponen diantaranya
adalah sand filter yang berfungsi untuk memisahkan NaOH, air, dan partikel-
partikel yang terikut dalam treated Propane Propilen. Sand filter berisikan pasir
kuarsa yang dapat dicuci dengan air.Peralatan selanjutnya adalah DEA filter
yang berfungsi untuk memisahkan partikel-partikel terutama iron sulphide yang
terdapat dalam larutan DEA. Selanjutnya propane propylene melewati water
coalescer yang berisikan cartridge filter yang dipasang secara seri (two stage
filter) yang berfungsi untuk memisahkan air dalam treated ipropane propylene
sebelum ke dryer. Pada filter pertama terdiri dari 3 buah cartridge dengan bahan
fiber glass, cotton dan paper. Sedangkan pada filter kedua terdiri dari 2 buah
cartridge dari bahan resin.
Setelah tahap filtrasi propane propylene menuju ke dryer atau alat
pengering. Fungsi dryer disini ialah untuk menghilangkan saturated water yang
ada didalam RAW propane propylene hingga kelembaban air 7 ppm berat
maksimal.

17

C. Unit Depropanizer
Unit depropanizer berfungsi untuk memisahkan propilene dari propane
hingga didapatkan kemurnian propilene mencapai 99,6 mol minimal dengan cara
distilasi bertekanan.
Spesifikasi propilene yang diinginkan adalah :


D. Unit Purifikasi
Dalam unit purifikasi ini terjadi proses peghilangan impurities atau
pengotor didalam propilene dengan metode stripping dan absorbsi. Didalam unit
ini terdiri dari beberapa peralatan didalamnya diantara lain adalah.
Lights End Stripper yang berfumgsi untuk methana, ethana, carbon
dioxide dan carbon monoxide yang terkandung didalam propilene. Setelah
melalui Lights End Stripper, kemudian propilene menuju Dehydrator yaitu alat
yang berfungsi untuk menghilangkan kelembaban air (H
2
O). Setelah itu propilene
menuju ke COS absorber, fungsi COS absorber berfungsi untuk menghilangkan
kadar carbonyl sulfida (COS) yang terdapat didalam propilene. Kemudian
propilene menuju ke arsine removal yaitu alat yang digunakan untuk
menghilangkan kadar arsine yang terdapat didalam propilene. Semua alat
menggunakan proses stripping dan absorbsi.

18

E. Unit Polimerisasi
Dalam proses polimerisasi, polimerisasi dibantu dengan bantuan 3
katalyst sehingga pada akhirnya menghasilkan powder homopolymer
polypropilene. Kondisi operasi reaktor polimerisasi:
Dalam hal ini, propilene, katalyst dan gas hidrogen diinjeksikan ke dalam
reaktor pertama.

Berikut merupakan diagram proses polimerisasi :

Diagram 3. Unit Polypropylene

19

F. Unit Pengeringan
Fungsi dari drying atau pengeringan ialah untuk menghilangkan N-
Hexane dengan cara mengeringkan powder polypropilene hingga kadar N-
Hexane mencapai 100 200 ppm mol . dengan menggunakan media
pemanasan adalah Nitrogen 5 Normal. Selain itu juga menggunakan steam
dengan temperatur 110
o
C dan tekanan 0,8 Kg/cm
2
g.
G. Unit Pencetakan
Pada unit pencetakan atau pelletizing ini polypropilene yang sudah
berbentuk powder kemudian diubah menjadi pellet dengan cara mencampur
powder polimer dan additive , kemudian diextrude pada temperatur 236-241
o
C
dan memotong menjadi butiran-butiran polypropylene (pellet). Sebagai alat
pemotongnya digunakan alat pemotong atau cutter dengan bahan titanium atau
stainless stell.
Adapun jenis additive yang digunakan adalah:
1. AE-Stabilizer : primary heat stabilizer (anti oxidant)
2. AI-Stabilizer : secondary heat stabilizer (anti oxidant)
3. AH-Stabilizer : heat stabilizer (tape& injection grade)
4. HA-Stabilizer : neutralizer dan lubricant.
5. HD-Stabilizer : whitening agent.
6. SB-Stabilizer : slip agent.
7. SC-Stabilizer : anti blocking agent.

H. Unit Packing
Bagging Plant atau unit Packing berfungsi untuk mengantongi produk
politam (polypropylene) dalam karung yang setiap karungnya terdiri dari 25Kg.

2.3 Industri Hilir
Bahan polimer berbeda satu sama lainnya sehingga memerlukan
berbagai cara untuk mengolahnya. Tiap jenis polimer memiliki cara terbaik,
beberapa teknik yang sering digunakan untuk mencetak plastik antara lain
adalah :
20

2.3.1 Cetak Injeksi
Cara cetak injeksi merupakan teknik yang paling banyak dipergunakan.
Produk yang dibuat dengan cara ini antara lain : galon air, televisi, sisir, pulpen,
helm, bumper mobil, dan ribuan bentuk lainnya.
Proses ini meniru teknik cetak die bertekanan untuk logam Proses
pembentukan produk berbahan plastik dengan cara menginjeksikan atau
menyuntikan plastik cair kedalam sebuah rongga cetak yang kemudian
didinginkan dan dikeluarkan dari rongga cetak. Material dari proses ini adalah
plastik dengan bentuk granula (butiran kecil), powder ataupun larutan.
Pengerjaan ini menggunakan cetakan tertutup.
Keuntungan proses cetak injeksi meliputi :
1. Mudah mencetak berbagai produk
2. Mudah diautomasi
3. Dapat memproduksi dengan cepat
4. Prodk relative amat seragam

Gambar 9. Injection Unit
Injection unit terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
1. Motor dan transmission gear unit
Bagian ini berfungsi untuk menghasilkan daya yang digunakan untuk
memutar screw pada barel, sedangkan transmisi unit berfungsi untuk
memindahkan daya dari putaran motor ke dalam screw, selain itu transmission
21

unit juga berfungsi untuk mengatur tenaga yang di salurkan sehingga tidak terjadi
pembebanan yang terlalu besar.
2. Cylinder screw ram
Bagian ini berfungsi untuk mempermudah gerakan screw dengan
menggunakan momen enersia sekaligus menjaga perputaran screw tetap
konstan, sehingga di dapat di hasilkan kecepatan dan tekanan yang konstan saat
proses injeksi plastik dilakukan.
3. Hopper
Hopper merupakan tempat untuk menempatkan material plastik,
sebelum masuk ke barel, biasanya untuk menjaga kelembapan material plastik,
digunakan tempat penyimpanan khusus yang dapat mengatur kelembapan,
sebab apabila kandungan air terlalu besar pada udara, dapat menyebabkan hasil
injeksi yang tidak bagus.
4. Barrel
Barrel adalah tempat screw, dan selubung yang menjaga aliran plastik
ketika dipanaskan oleh heater, pada bagian ini juga terdapat heater untuk
memanaskan plastik sebelum masuk ke nozzle.
5. Screw
Reciprocating screw berfungsi untuk mengalirkan plastik dari hopper ke
nozzle, ketika screw berputar material dari hopper akan tertarik mengisi screw
yang selanjutnya di panasi lalu di dorong ke arah nozzle.
6. Nonreturn valve
Nonreturn valve ini berfungsi untuk menjaga aliran plastik yang telah
meleleh agar tidak kembali saat screw berhenti berputar.
7. Injection Process Mechanism
Bahan baku untuk plastik injeksi berupa plastik raw material yang
berupa butiran butiran kecil plastik tersebut di masukkan dalam hopper, setelah
tekanan, kecepatan dan parameter lainya diatur, raw material (material kasar)
22

akan di panaskan dalam barrel, selanjutnya screw berputar dan mengalirkan
plastik yang mulai meleleh, saat plastik akan di injeksikan oleh nozzle, molding
unit di tutup oleh clamping unit, setelah di tutup dan di tekan oleh clamping unit
plastik di masukkan ke dalam mold unit melalui nozzle.
Setelah plastik di masukkan ke dalam molding unit, screw berhenti berputar, lalu
clamping unit menarik core mold, sehingga mold terbuka, di lanjutkan dengan
melepas produk plastik yang telah di cetak dengan menekan ejektor pada
molding unit.
8. Mold Unit
Mold unit adalah bagian terpenting untuk mencetak plastik, bentuk
benda plastik sangat tergantung dari bentuk mold, karena setelah plastik masuk
ke dalam mold, di dinginkan maka terbentuklah bentuk plastik sesuai dengan
bentuk mold, ada berbagai tipe mold, di sesuaikan dengan bentuk benda yang
akan dibuat, untuk mengenal lebih jauh tentang mold perlu pembahasan
tersendiri.
Mold yang paling simple atau biasa di sebut dengan stadrad mold, secara umum
terdiri dari :
a. Sprue dan runner system
bagian ini yang menerima plastik dari nozzle lalu oleh runner akan di
masukkan ke dalam cavity mold.
b. Cavity side
Bagian ini merupakan salah satu sisi yang membentuk bentuk plastik,
cavity side terletak pada stationary plate, yaitu plate yang tidak bergerak
saat proses ejecting produk plastik.
c. Core side
Bagian ini juga merupakan bagian yang memberikan bentuk pada
produk plastik yang di cetak, bedanya core side berada pada moving
plate, dan bagian ini selalu di hubungkan dengan ejektor. Secara umum
dua bagian inilah yang membentuk produk plastik.
23

d. Ejector system
Setiap jenis mold selalu mempunyai sistem untuk melepas produk yang
selesai di cetak dari cavity mold, bagian inilah yang disebut dengan
ejektor, walau jenis ejektor bermacam-macam.
2.3.2 Cetak Embus (Blow Molding)
Blow molding atau blow forming adalah suatu proses pembuatan plastik
(termoplastik) yang bentuknya memiliki rongga rongga pada bagian tengah dari
produk. Plastik cair pada proses ini berbentuk pipa kemudian dimasukan
kedalam cetakan lalu ditiup hingga menempel pada dinding cetakan. Pada hasil
cetakanya, proses ini cenderung memiliki ketebalan dinding yang tidak merata
dan umumnya produk berupa silinder.
Proses ini terdiri dari pembentukan sebuah tabung (disebut parison) dan
memasukkan udara atau gas lain yang menyebabkan tabung tersebut
mengembang menjadi berongga, tertiup bebas sesuai cetakan untuk membentuk
menjadi produk dengan ukuran dan bentuk tertentu. Parison secara tradisional
dibuat oleh proses ekstrusi.

Gambar 10. Blowing Unit
Untuk pengerjaan blowing dibutuhkan mesin ekstruksi dan cetakan.
Melalui mesin ekstruksi ini thermoplastik diekstruksi menjadi sebuah pipa seperti
selang ( dalam kondisi panas ), selang dijepit dengan cetakan dan dipotong.
Cetakan ini bisa bergerak dari mulut ekstruksi ke mulut peniup. Setelah selang
panas ada dalam cetakan, cetakan ini bergerak ke tempat mulut peniup untuk
24

ditiup dengan udara bertekanan. Tekanan ini akan menekan plastik hingga
membentuk sesuai dengan bentuk cetakan. Pengerjaan blowing biasanya
digunakan untuk membuat botol-botol kemasan dan dirigen atau tangki air dari
kapasitas kecil sampai besar.



























25


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Secara umum industri hulu memproses pengambilan bahan mentah
melalui beberapa proses yaitu , seismic, drilling and well construction, well
logging, well testing, well completion production. Setelah itu minyak bumi dan gas
tersebut diolah dengan teknik destilasi. Untuk mendapatkan propylene, terdapat
beberapa teknik yang sering digunakan yaitu steam cracking, FCC,
Dehydrogenasi propane, Methatesis. Kemudian propylene tersebut akan diolah
oleh industri menengah.
Industri menengah mengubah salah satu turunan dari minyak bumi dan
gas yaitu propylene tersebut menjadi polypropilene. Teknik ini disebut teknik
polimerisasi. Hasil dari industri ini berupa bijih atau pelet yang nantinya akan
dibentuk oleh industry hilir agar kegunaannya bias digunakan oleh masyarakat.
Banyak sekali teknik untuk mengolah bijih plastik tersebut, beberapa
teknik adalah cetak injeksi dan cetak embus. Dengan teknik-teknik pengolahan
plastik yang semakin berkembang, sehingga bentuk-bentuk yang dihasilkan bisa
sangat beragam

3.2 Saran
Dengan banyaknya kegunaan yang dihasilkan oleh barang bermaterial
plastik untuk kepentingan manusia, dan banyaknya pula populasi manusia yang
hamper semuanya menggunakan plastik, seharusnya dibangun industri-industri
yang memproduksi barang berbahan plastik, yang akan membawa keuntungan
yang juga akan melimpah ruah, namun dengan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang cukup untuk pengerjaannya.


DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim.Cara mendapatkan minyak dan gas bumi .2013.
http://www.anehdidunia.com/2012/06/cara-mendapatkan-minyak-dan-gas-bumi.html
(online) diakses tanggal 18 April 2014

2. Chicago Bridge & Iron Company. 2012. CATOFIN
Dehydrogenation.www.CBI.com/lummus-technology.

3. Hutama,Indra. Dec 10, 2013. Perancangan Proses Industri Propylen.
http://www.scribd.com/doc/190624912/PERANCANGAN-PROSES-INDUSTRI-
PROPYLEN (online) diakses tanggal 18 April 2014

4. Lee, Sungyu. 2006. Encyclopedia of Chemical Processing. Vol 1. Department of
Chemical Engineering University of Missouri- Columbia Columbia,Missouri U.S.A

5. Mulyanto, Tri. 2013. Casting, Forming, and Joining. Universitas Pancasila. Jakarta

6. Sucitro, Akhmad Ade.2013. Proses Pembuatan Polypropylene di Kilang Pertamina
RU III Plaju. Universitas Sriwijaya.Sumatera Selatan,

7. Ramdhan, Aditia, dkk. 2010. Proses Pembuatan Plastik.Politeknik Negeri
Manufaktur. Bandung

8. Ratna, dkk. 2010. Jenis-Jenis Utama Plastik dan Cara Pembuatan Plastik,
http://www.chem-is-try.org (online) diakses tanggal 18 April 2014