Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sejak proklamasi kemerdekaan hingga saat sekarang ini telah banyak
pengalaman yang diperoleh bangsa kita tentang kehidupan berbangsa dan
bernegara. Dalam negara Republik Indonesia, pedoman acuan bagi kehidupan
berbangsa dan bernegara itu adalah nilai-nilai dan norma-norma yang termaktub
dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, sebagai sumber dan disain bagi
terbentuknya kebudayaan nasional.
Kebudayaan di Nusantara dengan seiring bergantinya zaman semakin ter
sisi oleh perkembangan teknologi, sehingga seakan-akan Negara kita tidak
memiliki Budaya sendiri. Masuknya budaya barat pun semakin menghancurkan
budaya yang ada di Negara kita, sehingga banyak Negara Lain yang mengklaim
kebudyaan yang seharusnya milik Negara kita, sekarang di klaim sebagai budaya
mereka.
Pada kesempatan Kali ini Penulis ingin membahas tentang budaya-budaya
yang ada di Nusantara Khusunya yang berada di Kepulauan Nias Sumatera Utara.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagamanakah Sejarah Suku Nias ?.
1.2.2 Bagaimana Kebudayaan Suku Nias ?.
1.2.3 Apakah Bahasa yang di gunakan pada Suku Nias ?.
1.2.4 Bagaimana Tradisi serta Adat istiadat Suku Nias ?.
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui sejarah suku nias.
1.3.2 Untuk Mengetahui Kebudayaan Suku Nias.
1.3.3 Untuk Mengetahui Bahasa Suku Nias.
1.3.4 Untuk Mengetahui Tradisi serta Adat-istiadat Suku Nias.
1.4 Manfaat
Bagi pembaca makalah ini bermanfaat untuk memberikan informasi
tentang sejarah, kebudayaan, serta adata istiadat dar suku Nias yang Berada pada
Kepulauan Nias Sumatera Utara.

























BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Suku Nias
Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias,
Sumatera Utara. Dalam bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka Ono
Niha (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai Tan
Niha (Tan = tanah). Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan
adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut
fondrak yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai
kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik, ini dibuktikan
oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih
ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang.
Dalam proses sejarah selama ribuan tahun selalu muncul pendatang yang
baru, yang memasuki pulau Nias dan juga selalu terjadi pembauran, sehingga
lambat laun terjadi satu masyarakat Nias yang sulit dibedakan lagi asal-usul
mereka. Dimana tidak terjadi pembauran, karena perbedaan budaya atau agama
kurang mengizinkan, di situ terjadi pembentukan kasta-kasta kaum Salawa dan
Siulu (tingkatan bangsawan). Suku Nias mengenal sistem kasta (12 tingkatan
Kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah Balugu. Untuk mencapai
tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang
ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari.
Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari
sebuah pohon kehidupan yang disebut Sigaru Tora`a yang terletak di sebuah
tempat yang bernama Tetehli Anaa. Menurut mitos tersebut di atas
mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja
Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehli Anaa karena
memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-
orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.
Penelitian Arkeologi telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 dan
hasilnya ada yang dimuat di Tempointeraktif, Sabtu 25 November 2006 dan di
Kompas, Rabu 4 Oktober 2006 Rubrik Humaniora menemukan bahwa sudah ada
manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia
ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun
lampau kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional
dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama
dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias
berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut
Vietnam.
Di Nias Selatan masih banyak terdapat desa-desa adat. Yang menonjol dari
desa-desa adat ini adalah penataan arsitekurnya, baik landskap maupun
bangunannya. Dulunya setiap desa di pimpin oleh seorang raja. Desa-desa ini
terletak di daerah yang sulit dijangkau seperti di perbukitan terjal atau lembah-
lembah yang ada di baliknya. Tujuannya adalah untuk membentengi diri dari
serangan desa lain. Pada masa lalu perang antar desa kerap kali terjadi.
Penyerbuan sebuah desa oleh desa yang lainnya kerap terjadi. Biasanya disertai
dengan penculikan penduduk yang nantinya akan dijadikan budak. Maka struktur
masyarakat Nias masa lalu terdiri dari kelas raja, cendikia dan bangsawan, rakyat
biasa dan budak. Dan pola pemukiman pun terbentuk dari struktur masyarakat ini.
Di mana rumah tinggal raja yang disebut ,Omo Sebua, yang artinya rumah besar
terletak di poros pola jalan yang berbentuk tegak lurus, tepat di tusuk satenya.
Rumah raja, Omo Sebua, diapit oleh rumah-rumah adat yang lebih kecil lainnya
yang disebut Omo Hada. Rumah-rumah adat atau Omo Hada ini kuat menahan
gempa, pada gempa lalu banyak menyelamatkan nyawa manusia. Dari 850 lebih
korban jiwa hanya satu korban yang tinggal dalam rumah adat, tepatnya di desa
Hilimondregeraya, Teluk Dalam. Sebagian besar yang tewas adalah yang tinggal
di rumah berkontruksi modern.
Sedikitnya ada 14 desa adat yang bisa dikunjungi yaitu desa Bawodobara,
Bawagosali, Bawomataluo, Hiliamaetaliha, Hilifalago, Hilimondregeraya,
Hiliganowo, Hilinamauzaua, Hilinawalo Fau, Hilinawalo Mazino,
Hilinamaetano, Hilizalootano, Lagundri, Lahusa Fau, Onohondro, dan Orahili.
Keempat belas desa adat inilah masih banyak memiliki rumah adat. Tapi tidak
semua desa memiliki Omo Sebua, rumah besar atau rumah raja. Tercatat hanya
empat desa yang masih memiliki Omo sebua, yaitu desa Hilinawalo Fau, Ono
Hondro, Bawomataluo dan Hilinawalo Mazino.
Bagi yang senang berpetualang dan jalan-jalan di pedesaan atau hutan
untuk mengunjungi empat desa yang masih memliki Omo Sebua ini bisa
mengikuti rute yang memakan waktu tempuh 2 hari perjalanan. Sambil melewati
empat desa ini juga rute akan melewati desa-desa lainnya. Rute terbaik desa
pertama yang di singgahi adalah Desa Hilinawalo Mazino. Bisa dicapai dari
Simpang Auge terus menaiki wilayah perbukitan melewati desa Bawolahusa dan
desa Hilizalootano. Waktu tempuhnya sekitar 2-3 jam jalan kaki. Kalau hendak
naik kendaraan roda empat hanya bisa sampai desa Hilizalootano selebihnya
berjalan kaki. Sebelum mencapai desa Hilawalo Mazino kita akan melewati area
persawahan yang cantik dan berbasah-basah menyeberangi beberapa anak sungai.
Sampai di desa ini berkunjunglah ke Omo Sebua dan bertemu dengan ketua adat
yang merupakan keturunan raja, namanya Ama Seniwati Bulolo. Orangnya ramah
dan menyenangkan, dengan sukarela ia akan mengantarkan kita berkeliling desa
melihat kehidupan desa itu. Kita bisa menginap di Omo Sebua ini. Untuk
keperluan mandi bisa bergabung dengan penduduk desa di sungai yang berair
jernih di belakang desa. Kalau hendak melanjutkan perjalanan bisa berjalan kaki
ke desa Hilinawalo Fau. Karena untuk ke desa ini melewati hutan ada baiknya
didampingi penduduk setempat sebagai petunjuk jalan. Lamanya perjalanan
sekitar 2-3 jam. Sampai di desa ini juga bisa meminta ijin menginap di rumah
penduduk. Esok paginya bisa dilanjutkan perjalanan ke desa Ono Hondro sekitar 1
jam perjalanan. Sayangnya Omo Sebua di desa ini tak terawat dan nyaris rusak
berat karena ditinggal pemiliknya. Dari desa ini berjalan kaki lagi sekitar 1 jam ke
desa Bawomataluo melewati desa Siwalawa. Desa Siwalawa pernah mengalami
kebakaran hebat sehingga banyak rumah adatnya musnah, hanya ada beberapa
saja rumah adat yang tersisa. Api memang menjadi musuh utama bagi rumah adat
Nias. Banyak rumah adat yang musnah karena terbakar. Api juga dulunya dipakai
sebagai senjata ampuh oleh desa yang berperang. Karena rumah adat terbuat dari
kayu maka dengan cepat api akan merambat dan memusnahkan seluruh isi desa.
Kalau kita menginap di desa adat setiap beberapa saat akan terdengar teriakan
yang mengingatkan agar menjaga api yang ada di dalam rumah. Teriakan ini
berasal penduduk desa yang ronda menjaga kampung siang-malam.
Setelah melewati desa Siwalawa maka sampailah di desa Bawomataluo.
Inilah desa adat yang paling fenomenal di Nias selatan. Di desa ini terdapat Omo
Sebua yang paling megah di Nias. Di desa ini terdapat 230 rumah adat atau Omo
Hada, atau yang terbanyak dari desa adat manapun di Nias Selatan. Di desa ini
pemukimannya paling padat. Akses untuk memasuki desa ini bisa melalui pintu
belakangnya atau lewat gerbang desa. Karena desa ini terletak di atas puncak
bukit untuk mencapai gerbangnya harus menaiki 88 anak tangga dengan sudut 45
derajat. Dari gerbang desa ini kita bisa melihat samudera Hindia dan jika hari
menjelang sore matahari senja terlihat tenggelam di samudera itu. Itulah mengapa
desa ini di namakan Bawomataluo yang artinya Bukit Matahari. Di desa ini seperti
juga di desa lainnya biasa dipertunjukan tarian perang dan atraksi lompat batu
yang dalam bahasa Nias disebut Fahombe. Tarian ini berakar pada tradisi perang
antar desa yang melambangkan kepahlawanan penduduk desa yang menjaga
desanya. Dari gerbang desa Bawomataluo sekitar satu kilometer di bawahnya
akan terlihat desa Orahili Fau. Jika masih kuat berjalan bisa berkunjung dengan
waktu tempuh setengah jam. Selain keempat desa yang memiliki Omo Sebua itu
juga ada desa lain yang tak kalah menariknya untuk wisata budaya, namun
sayangnya rutenya berlawanan. Jika sempat bermalam di pantai Sorake ada empat
desa lain di sekitarnya yang bisa dikunjungi dalam satu kali perjalanan yaitu desa
Hilisimaetano, Bawogosali, Botohilitano dan Hiliamataniha. Banyak pengrajin
ukiran kayu, batu dan anyaman tikar di desa-desa adat itu dan semuanya
diperdagangkan. Kalau berniat membeli oleh-oleh yang paling tepat adalah hasil
kerajinan itu. Tak ada oleh-oleh berbentuk makanan karena budaya kuliner Nias
belum berkembang seperti daerah lain di pulau Sumatera. Pilihan makanan di
Nias terbatas. Kecuali kalau musim buah durian tiba, banyak orang memproduksi
dodol durian untuk oleh-oleh. Harga buah durian pun menjadi murah bisa
mencapai seribu rupiah sebutir. Berkunjung ke Nias Selatan serasa menelusuri
kehidupan masa lalu, di sana waktu seakan berhenti. Di tengah samudera Hindia
yang luas ada jejak budaya megalitikum yang masih hidup sampai saat ini.
2.2 Kebudayaan Suku Nias
2.2.1 Bahasa Suku Nias
Bahasa Nias atau Li Niha dalam bahasa aslinya, adalah bahasa yang
dipergunakan oleh penduduk di Pulau Nias. Bahasa ini merupakan salah satu
bahasa di dunia yang masih belum diketahui persis darimana asal bahasa ini.
Bahasa Nias merupakan salah satu bahasa dunia yang masih bertahan hingga
sekarang dengan jumlah pemakai aktif sekitar 1 juta orang. Bahasa ini dapat
dikategorikan sebagai bahasa yang unik karena merupakan satu-satunya
bahasa di dunia yang setiap akhiran katanya berakhiran huruf vokal. Suku
Nias mengenal enam huruf vokal, bukan lima seperti di daerah di Indonesia
lainnya. Suku Nias mengenal huruf vokal a,e,i,u,o dan ditambah dengan
(dibaca dengan e seperti dalam penyebutan enam ).
Contoh kosakata dalam bahasa Nias dan penggunaannya dalam kalimat;
maena kb tarian massal yang diiringi dengan nyanyian bersama. Dalam maena
ada seorang sanun maena yang menyanyikan bagian narasi dari maena
sementara yang lain menyanyikan fanehe maena. mai kb, judi. Ato zi tobali
numana br mai. Banyak yang jatuh miskin karena judi. Famaisa, perjudian.
maliwa kk bergerak mangona kk 1. pamitan. Fatua l mofan ia mukoli ba
mangona ia kh ndra talifusnia. Sebelum dia pergi merantau, ia pamitan
kepada sanak saudaranya. 2. fangona, hal berpamitan. manuku mengantuk.
Manukudo, da ulau mr. Aku mengantuk, biar aku tidur. menewi, kemarin.
Menewi larugi Jakarta. Kemarin mereka tiba di Jakarta. me, 1. ketika. Me
tohare ira ba ladr ira ba nomo zahat khra. Ketika mereka sampai, mereka
menuju ke rumah famili. 2. me sering didahului dengan kata br yang berarti:
karena. (Br) me siman wolaum khnia, ba mofnu ia khu. Karena
demikian perlakuanmu kepadanya, dia marah kepadamu. a 1. huruf pertama
dalam abjad Latin yang digunakan dalam bahasa Nias; 2. makanlah. A gu
fakhe: Makanlah nasimu. 3. dan (dalam pengucapan bilangan), Hn a fitu
ngaotu a fulu: Seribu (dan) tujuh ratus (dan) sepuluh. ababa ks
berpenampilan kaku, tidak ramah, dan cenderung memancing kejengkelan
orang lain. afo kb, sirih. Terdiri dari daun sirih (tawuo), kapur (betua),
gambir (gambe, fangoyo), pinang (fino) dan kadang-kadang tembakau (bago).
Pembuatannya adalah sebagai berikut. Selembar daun sirih dibelah dua,
tangkai daun dibuang, dan ujung daun yang lancip dipotong. Di atas
permukaan bawah (punggung daun) dilengketkan kapur secukupnya, lalu daun
(atau getah) gambir diletakkan di atasnya. Lantas daun sirih yang telah
dibubuhi kapur dan gambir tadi dilipat tiga sehingga campuran tadi tertutup
dalam lipitan tersebut. Di atas lipatan itu diletakkan pinang, lalu daun sirih
tadi digulung, berintikan pinang. Sirih siap ditawarkan atau diedarkan.
Kadang-kadang tembakau dicampur sewaktu penyiapan, atau secara terpisah
dimasukkan ke dalam mulut oleh si penyantap sirih. abtu ks 1. (rasa sirih)
terlalu banyak kapurnya. Afo sabtu: Sirih yang kebanyakan kapur. 2. terluka
tipis di permukaan kulit akibat cakaran atau goresan, dsb. Abtu dangania:
Tangannya tergores. 3. mati. Abtu gutu na labe dalu-dalu: Kutu (kepala) mati
kalau diobati.
2.2.2 Marga Suku Nias
Suku Nias terdiri dari beberapa marga diantaranya : Amazihn, Beha,
Baene, Batee, Bawamenewi, Bawaniwao, Bawo, Bohalima, Buull, Buaya,
Bunawolo, Dachi, Dachi Halawa, Daeli, Dawolo, Dohare, Dohona, Duha, Fau,
Farasi, Gaho,Gea, Giawa, Gowasa, Gul, Halawa, Harefa, Haria, Harita, Hia,
Hondro, Hulu, Humendru, Hura, Lafau, Lahagu, Lahomi, Laia, Laoli, Laow,
Larosa, Lase, Lawolo, Loi, Lombu, Manao, Mandrehe, Maruao, Maruhawa,
Marulafau, Marundruri, Mendrfa, Nazara, Ndraha, Ndruru, Nehe, Saoiago,
Sarumaha, Sihura, Tafonao, Telaumbanua, Wau, Wakho, Waoma,
Waruwu,Zagoto, Zai, Zalukhu, Zamasi, Zandroto, Zebua, Zega.
Makanan dan Minuman Khas Nias;
Bawi niowuru
Dodol durian
Durian
Bawi Niunag (Daging babi yang dikeringkan dengan pengasapan)
Gowi Nihandro/Gowi Nitutu (Ubi tumbuk)
Harinake
Gado-godo
Dedek babi
Tuo Nifar (minuman khas Nias)
2.3 Tradisi Suku Nias
2.3.1 Lompat Batu
Lompat batu (hombo batu) merupakan tradisi yang sangat populer
pada masyarakat Nias di Kabupaten Nias Selatan. Tradisi ini telah dilakukan
sejak lama dan diwariskan turun temurun oleh masyarakat di Desa Bawo
Mataluo (Bukit Matahari).
Tradisi lompat batu sudah dilakukan sejak jaman para leluhur ,di
mana pada jaman dahulu mereka sering berperang antar suku sehingga mereka
melatih diri mereka agar kuat dan mampu menembus benteng lawan yang
konon cukup tinggi untuk dilompati.
Seiring berkembangnya jaman, tradisi ini turut berubah fungsinya.
Karena jaman sekarang mereka sudah tidak berperang lagi maka tradisi
lompat batu digunakan bukan
untuk perang lagi melainkan
untuk ritual dan juga sebagai
simbol budaya orang Nias.
Tradisi lompat batu adalah
ritus budaya untuk
menentukan apakah seorang pemuda di Desa Bawo Mataluo dapat diakui
sebagai pemuda yang telah dewasa atau belum. Para pemuda itu akan diakui
sebagai lelaki pemberani apabila dapat melompati sebuah tumpukan batu yang
dibuat sedemikian rupa yang tingginya lebih dari dua meter. Ada upacara
ritual khusus sebelum para pemuda melompatinya. Sambil mengenakan
pakaian adat, mereka berlari dengan menginjak batu penopang kecil terlebih
dahulu untuk dapat melewati bangunan batu yang tinggi tersebut.
Sampai sekarang tradisi ini tetap eksis di tengah budaya moderen
yang semakin menghimpit. Semoga saja kita dapat melestarikan budaya ini
agar menjadi kebanggaan tersendiri untuk bangsa kita.
2.3.2 Tari Perang
Tari Perang atau Foluaya merupakan lambang kesatria para
pemuda di desa desa di Nias, untuk melindungi desa dari ancaman musuh,
yang diawali dengan Fanaa atau
dalam bahasa Indonesia disebut
dengan ronda atau siskamling.
Pada saat ronda itu jika ada aba-
aba bahwa desa telah diserang
oleh musuh maka seluruh
prajurit berhimpun untuk
menyerang musuh. Setelah musuh diserang, maka kepala musuh itu dipenggal
untuk dipersembahkan kepada Raja, hal ini sudah tidak dilakukan lagi karna
sudah tidak ada lagi perang suku di Nias.
Persembahan ini disebut juga dengan Binu. Sambil menyerahkan
kepala musuh yang telah dipenggal tadi kepada raja, para prajurit itu juga
mengutuk musuh dengan berkata Aehohoiyang berarti tanda kemenangan
setelah di desa dengan seruan Hemitae untuk mengajak dan menyemangati
diri dalam memberikan laporan kepada raja di halaman, sambil membentuk
tarian Fadohilia lalu menyerahkan binu itu kepada raja. Setelah itu, raja
menyambut para pasukan perang itu dengan penuh sukacita dengan
mengadakan pesta besar-besaran. Lalu, raja menyerahkan Rai, yang dalam
bahasa Indonesia seperti mahkota kepada prajurit itu.
Rai dalam suku Nias adalah merupakan tanda jasa kepada
panglima perang. Tidak hanya Rai yang diberikan, emas beku juga diberikan
kepada prajurit-prajurit lain yang juga telah ikut ambil bagian dalam
membunuh musuh tadi. Kemudian, raja memerintahkan Mianetogo Gawu-
gawu Bagaheni, dengan fatele yang menunjukkan ketangkasan dengan
melompat-lompat lengkap dengan senjatanya yang disebut Famanu-manu
yang ditunjukkan oleh dua orang prajurit yang saling berhadap-hadapan.
Seiring berkembangnya Zaman Tradisi ini dilakukan hanya pada hari hari
tertentu atau untuk merayakan acara acara tertentu.
2.3.3 Tari Maena
Suku Nias merupakan kelompok masyarakat yang tinggal di Pulau
Nias, propinsi Sumatera Utara. Mereka memiliki sebuah tarian tradisional
yang sejak dulu hingga kini tetap ditarikan
yakni tari Maena. Suku Nias menjadikan
tari Maena sebagai tarian kolosal yang
penuh sukacita. Tari Maena seringkali
menjadi pertunjukan hiburan ketika suku
Nias menyelenggarakan pesta pernikahan
adat. Dalam upacara pernikahan adat, pertunjukan tari Maena diselenggarakan
ketika mempelai lelaki tiba di rumah mempelai wanita. Tarian ini ditarikan
oleh keluarga dari pihak mempelai lelaki untuk memuji kecantikan mempelai
wanita dan kebaikan keluarga pihak wanita. Setelah mempelai lelaki, keluarga
dari mempelai wanita pun menyambut kedatangan keluarga pihak lelaki
dengan menyelenggarakan tari Maena.
Tarian ini menjadi simbol untuk memuji mempelai lelaki beserta
keluarganya. Sesekali, Tari Maena menjadi tari penyambutan tamu
kehormatan yang berkunjung ke Pulau Nias. Dalam sebuah pertunjukan, tari
Maena ditarikan oleh beberapa pasang penari lelaki dan wanita. Dari awal
hingga pertunjukan usai, gerakan tari Maena didominasi dengan perpaduan
gerak tangan dan kaki. Gerakannya terlihat sederhana namun tetap penuh
semangat dan dinamis.
2.3.4 Tari Moyo
Tari Moyo atau disebut juga dengan tari Elang yang terus
mengepakkan sayapnya dengan lembut
tanpa mengenal lelah, menaklukkan sesuatu
yang bermakna bagis esamanya dan dirinya
sendiri. Tarian ini melambangkan keuletan
dan semangat secara bersama dalam
mewujudkan sesuatu yang dicita-citakan. Tari Moyo ini kadang dilaksanakan
setelah atau sebelum acara atau perayaan perayaan atas hari tertentu, bahkan
untuk menyambut tamu di Nias sendiri.
2.3.5 Tari Mogaele
Tarian ini merupakan bagian dari Tradisi Hilinawal Fau. Tarian ini
ini biasanya dilakukan dalam upacara tradisional atau guests.It penyambutan
besar juga untuk menyambut para
bangsawan yang dihormati. Tarian ini
bercerita tentang keindahan dunia ini
masih bersatu dan penuh dengan
perdamaian. Tari dilakukan oleh perempuan disebut Mogaele. Orang-orang
yang melakukan tindakan memerangi menggunakan alat menandai perang aksi
perang di zaman dahulu kala ketika setiap desa sering berperang. Hal ini
disebut Tarian Perang (War Dance). Dalam ini menunjukkan disertai dengan
musik khas Hilinawal Fau-Nias Selatan.
2.4 Adat Suku Nias
2.4.1 Kepercayaan Asli Suku Nias
Terjadi komplikasi dalam pengertian orang-orang di Nias Selatan
mengenai keaslian agama kuno mereka sebagaimana telah disinggung di atas
mereka dengan sederhana dewasa ini mengatakan bahwa Lowalani adalah
pencipta atau pemerintah yang mempunyai hubunganerat dengan dunia atas,
sedangkan Lature Dano adalah pembela, penjaga, dan pemerintah Dunia
bawah. Di antara dewa atas dan dewa bawah, ada lagi dewi yang disebut
Nazariya Mbanua, istilah orang Nias Selatan untuk menyebut dewi Silewe
Nazarata. Silewe Nazarata(istilah Nias Utara yang dipakai sekarang adalah
dewi penghubung di antara Lowalani (dewa dunia atas) dan Lature Dan
(dewa dunia bawah) dan juga sebagai dewi penghubung di antara kaum dewa
dan ummat manusia. Maka boleh dikatakan bahwa agama kuno Nias termasuk
agama Polythesis.
Selain itu bermacam ciptaan dan makhluk yang dipersonifikasikan
lalu disembah oleh orang Nias. Benda ciptaan dan makhluk ini meliputi
matahari, bulan, pohon-pohon besar, buaya, cecak dan lain-lain. Oleh sebab
itu, agama orang Nias itu bukan hanya polytesis tetapi juga animistis. Pelbegu,
adalah nama agama asli yang diberikan oleh pendatang yang berarti
"penyembah ruh". Nama yang dipergunakan oleh penganutnya sendiri adalah
molohe adu (penyembah patung). Sifat agama ini adalah berkisar pada
penyembahan roh leluhur. Untuk keperluan itu mereka membuatn patung-
patung dari kayu yang mereka sebut "adu". Patung yang ditempati oleh ruh
leluhur disebut adu zatua dan harus dirawat dengan baik.
Pada umumnya, setiap keluarga memahat patung nenek moyang
mereka masing-masing (adu Nuwu dan adu Zatua). Setiap desa juga memahat
patung kesatria mereka (adu Zato). Orang harus menyembah kedua jenis
patung ini demi hubungannya dengan keluarga dan masyarakat desanya.
Adu Zato itu adalah patung para pendiri desa, patriot, berbakat, pemburu
yang hebat dan sebagainya. Pasangan adu Zato dan adu Nuwu atau adu Zatua
tak boleh disembah secara terpisah.
Oleh karena setiap keluarga memahat patung nenek moyangnya
masing-masing dan mereka menganggap patung-patung itu sebagai illah
mereka, maka upacara dan sikap keagamaan para keluarga di desa selalu
bervariasi satu sama lain. Setiap orang berkata "Tuhanku adalah nenek
moyangku" yang berarti dia dan Tuhannya lain dari pada orang dan illah
keluarga lain.
Menurut kepercayaan penganut pelbegu ini, tiap orang mempunyai
dua macam tubuh, yaitu yang kasar dan yang halus. Yang kasar disebut boto
(jasad) dan yang halus terdiri dari dua macam yaitu noso (nafas) dan lumo-
lumo (bayang-bayang). Jika mati atau meninggal, botonya kembali menjadi
debu, sedangkan nosonya kembali kepada lowalangi (Tuhan).
Sedangkan lumo-lumonya berubah menjadibekhu (makhluk halus).
Selama belum dilakukan upacara kematian, bekhu akan tetap berada di sekitar
tempat pemakamannya. Karena menurut kepercayaan, untuk pergi ke teteholi
ana'a (dunia ruh atau gaib), Ia haruslebih dahulu menyeberangi suatu jembatan
yang di sana dijaga ketat oleh seorang dewa penjaga bersama mao-nya
didorong masuk ke dalam neraka yang berada di bawah jembatan.
2.4.2 Rumah Adat
Omo sebua adalah jenis rumah adat atau rumah tradisional dari
Pulau Nias, Sumatera Utara. Omo sebua adalah rumah yang khusus dibangun
untuk kepala adat desa dengan tiang-tiang besar dari kayu besi dan atap yang
tinggi. Omo sebua didesain secara khusus untuk melindungi penghuninya
daripada serangan pada saat terjadinya perang suku pada zaman dahulu.
Akses masuk ke rumah hanyalah tangga kecil yang dilengkapi
pintu jebakan. Bentuk atap rumah yang sangat curam dapat mencapai tinggi
16 meter. Selain digunakan untuk berlindung dari serangan musuh, omo sebua
pun diketahui tahan terhadap goncangan gempa bumi.


2.4.3 Pakaian Adat
Pakaian adat suku Nias dinamakan Baru Oholu untuk pakaian laki-
laki dan rba Sili untuk pakaian perempuan. Pakaian adat tersebut
biasanya berwarna emas atau kuning yang dipadukan dengan warna lain
seperti hitam, merah, dan putih. Adapun filosofi dari warna itu sendiri antara
lain:
Warna kuning yang dipadukan dengan corak persegi empat (Niobakola)
dan pola bunga kapas (Niobowo gafasi) sering dipakai oleh para
bangsawan untuk menggambarkan kejayaan kekuasaan, kekayaan,
kemakmuran dan kebesaran.
Warna merah yang dipadukan dengan corak segi-tiga (Niohulayo/
niogna) sering dikenakan oleh prajurit untuk menggambarkan darah,
keberanian dan kapabilitas para prajurit.
Warna hitam yang sering dikenakan oleh rakyat tani menggambarkan
situasi kesedihan, ketabahan dan kewaspadaan.
Warna putih yang sering dikenakan oleh para pemuka agama kuno (Ere)
menggambarkan kesucian, kemurnian dan kedamaian.


2.5 Komentar Penulis
Pulau nias sebagai pulau utama dengan luas sekitar 5.500 kilometer
persegi, menyimpan sejumlah misteri dan keunikan, mulai dari kehidupan sehari-
hari didesa tradisional, suasana budaya (cultural landscape) hingga peninggalan
megalitik dan arsitektur yang mengagumkan.
Masyarakat nias secara turun temurun menyebut diri sebagai one niba
(orang nias) secara harafiah berarti anak manusia yang diyakini oleh sebagian ahli
antropologi dan arkeologi sebagai salah satu puak-puak (suku) berbahasa
Austronesiasalah satu leluhur nusantara yang datang paling awal dari suatu
tempat di daratan asia.
Berdasarkan sejumlah bukti peradaban tertua, orang nias dihubungkan
dengan perkembangan tradisi megalitik (batu besar) yang hingga saat ini masih
terlihat keberadaannya. Tinggalan-tinggalan para leluhur seperti rumah adat,
tradisi lompat batu, dan tari perang telah menjadi ikon peristiwa yang luluh lantak.
Terlebih lagi setelah tertimpa dua bencana : gelombang tsunami pada 2004 dan
gempa bumi pada 2005. untuk mengembalikan kejayaan seperti sedia kala,
sejumlah pihak telah berupaya membangun kembali nias dengan berbasiskan
nilai-nilai budaya yang kini terancam lenyap.
Desa-desa tradisional di pulau nias, yang masih menyimpan sejumlah
tinggalan budaya dan para penutur sejarah, dapat menjadi pilihan wisata yang
menarik bagi para tetamu yang datang dari jauh. Harapannya, selain menjalankan
roda perekonomian Pulau Nias, kegiatan ini mampu mengembalikan kecintaan
pada nilai-nilai tradisi yang diwariskan oleh para leluhur.


























BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Kesimpulan yang dapat diambil bahwa keanekragaman suku yang ada di
Indonesia itu beragam. Perbedaan ras termasuk ke dalam diferensasi sosial,
sehingga tidak ada ras yang lebih tinggi kedudukannya di suatu tempat. Jadi,
sudah sebaiknya tidak terjadi konflik sosial yang timbul atas dasar
primordialisme.
3.2 Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan oleh
karena itu, apa bila terdapat kesalahan dari segi penulisan ataupun gambaran
mohon di maafkan, karena tak ada Gading yang tak retak, begitu pula dengan
penulisan makalah ini.