Anda di halaman 1dari 11

KULTUR IN VITRO ANGGREK

Oleh :
Nama : Hanifah Kholid Basalamah
NIM : B1J01115
Rom!on"an: I
Kelom#o$ : 1
Asis%en : Ad&en K'is%ian%i
LA(ORAN (RAKTIKUM ORKHI)OLOGI
KEMENTERIAN (EN)I)IKAN )AN KEBU)A*AAN
UNI+ER,ITA, JEN)ERAL ,EO)IRMAN
-AKULTA, BIOLOGI
(UR.OKERTO
/010
I1 (EN)AHULUAN
A1 La%a' Bela$an"
Kultur in vitro merupakan salah satu teknik pembiakan anggrek yang non
konvesional. Metode kultur in vitro merupakan salah satu cara yang mulai banyak
digunakan dalam perbanyakan klon atau vegetatif tanaman anggrek. Kultur in
vitro pertama kali dicoba oleh Haberlandt pada tahun 1902, karena adanya sifat
tanaman yang disebut totipotensi yang dicetuskan oleh kedua orang sarana
!erman "ch#ann dan "chleiden pada tahun 1$%0, dimana sel&sel pada tumbuhan
mampu mengadakan aktivitas hidup dan hasil multiplikasi atau perbanyakan
selnya mampu untuk mengadakan perkembangan 'selain mampu mengadakan
pembelahan sel, pertumbuhan, uga differensiasi membentuk organ( '"aga#a,
19)*(.
Metode kultur in vitro yaitu menumbuhkan aringan&aringan vegetatif
'seperti akar, daun, batang, mata tunas( dan aringan&aringan generatif 'seperti
ovule, embrio dan bii( pada media buatan berupa cairan atau padat secara aseptik
'bebas mikroorganisme(. Keberhasilan dari kultur sangat bergantung dari
ketepatan konsentrasi nutrisi yang berada di dalam media kultur. Ketepatan
konsentrasi ini menyangkut pada ketersediaan nutrisi bagi eksplan tanaman.
Kelebihan nutrisi dari tanaman akan menyebabkan tanaman mengalami keracunan
unsur hara. +embuatan larutan stok dan sterilisasi media dianggap penting untuk
diketahui sebagai sarana penenunang kebutuhan informasi akan kultur aringan.
',ukmana, 2000(.
-nggrek termasuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan dikarenakan
biinya tidak memiliki endosperm sehingga sulit tumbuh di alam. .ii ini hanya
akan tumbuh apabila bersimbiosis dengan amur 'mikori/a( yang sesuai. "alah
satu upaya konservasi anggrek ini adalah dengan perbanyakan anggrek melalui
kultur in vitro bii dengan penambahan berbagai enis /at pengatur tumbuh untuk
memacu perkecambahan dan pertumbuhannya. .agian yang tampak pada bii
anggrek adalah protocorm. +rotocorm berupa sel pada tanaman anggrek dimana
akar, tunas, dan batangnya tidak dapat dibedakan '0unadi, 19)9(. Menurut
+aramartha et al., '2012(, protokorm adalah bentukan bulat padat ber#arna hiau
yang siap membentuk pucuk dan akar sebagai a#al perkecambahan pada bii yang
tidak mempunyai endosperm. +roses ini terbagi dalam 1 fase, fase 02 bii belum
belum berkecambah, fase 12 bii berkembang menadi protokorm, fase 22
protokorm dengan primordia daun, fase %2 prokorm dengan daun dan akar
pertama, fase 32 protokorm dengan beberapa daun dan akar, fase 12 planlet.
B1 T232an
4uuan praktikum kultur in vitro anggrek adalah dapat melakukan tahapan
subkultur anggrek, menyeterilkan bii anggrek yang akan ditanam, dan
menumbuhkan bii anggrek hasil penyilangan.
II1 MATERI )AN METO)E
A1 Ma%e'i
-lat yang digunakan dalam praktikum kali ini antara lain bunsen, botol
kultur, pinset, skalpel dan 5-6 'Laminar Air Flow(.
.ahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah planlet Rynchostylis
sp., bii Bulbophyllum sp., alkohol )07, Hg8l 0,027, akuades, "9: 'Steril
Destiler Water( dan media ;: ';acint < :ent(
B1 Me%ode
a. "ubkultur anggrek Rynchostylis sp.
1. -lat dan bahan disiapkan.
2. +lantlet anggrek dalam botol kultur diambil secara aseptis menggunakan
pinset, kemudian dipindahkan ke botol kultur baru yang berisi media ;:.
%. .otol kultur baru berisi plantlet ditutup dengan rapat dan diamati selama
13 hari.
b. "terilisasi bii anggrek Bulbophyllum sp.
1. -lat dan bahan dipersiapkan.
2. .ii anggrek Bulbophyllum sp. direndam dalam alkohol )07, kemudian
dikocok secara perlahan selama 10 menit.
%. -lkohol )07 dibuang dan ditambahkan Hg8l 0,027, kemudian direndam
dan dikocok selama 1 menit.
3. Hg8l 0,027 dibuang dan ditambahkan "9:, kemudian direndam dan
dikocok selama %0 detik sebanyak % kali.
1. 5arutan Hg8l 0,027 dibuang, selanutnya bii yang telah disterilisasi
ditiriskan.
c. +enanaman bii anggrek Bulbophyllum sp. hasil sterilisasi.
1. .ii yang telah steril dibuka menggunakan skalpel hingga bii anggrek
terlihat seperti kapas ber#arna putih.
2. .ii diambil dan ditanam kedalam botol kultur berisi media ;:, kemudian
ditutup rapat dan diamati selama 13 hari.
III1 HA,IL )AN (EMBAHA,AN
A1 Hasil
Gam!a' 11 ,2!$2l%2' an""'e$ Rynchostylis s#1
min""2 $e41
Gam!a' /1 ,2!$2l%2' an""'e$ Rynchostylis s#1
min""2 $e4/
Gam!a' 51 K2l%2' !i3i an""'e$ Bulbophyllum
s#1 min""2 $e41
B1 (em!ahasan
Kultur aringan atau budidaya in vitro adalah suatu metode untuk
mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, aringan atau organ
yang serba steril dan ditumbuhkan pada media buatan yang steril, dalam botol
kultur yang steril dan dalam kondisi yang aseptik sehingga bagian&bagian tersebut
dapat memperbayak diri dan beregenerasi menadi tanaman yang lengkap. .ahan
yang dapat digunakan sebagai eksplan dalam penerapannya adalah generatif 'bii(
yang dikenal dengan seed culture dan vegetatif 'aringan( yang dikenal denga
tissue culture ':attimena < Mattik, 1992(.
Menurut =usnita '200%(, kelebihan perbanyakan tanaman secara kultur
aringan adalah sebagai berikut 2
1. Memperbanyak tanaman tertentu yang sulit atau sangat lambat
diperbanyak secara konvensional. +erbanyakan tanaman secara kultur
aringan mena#arkan peluang besar untuk menghasilkan umlah bibit
tanaman yang banyak dalam #aktu relatif singkat ,dan lebih ekonomis.
2. +erbanyakan tanaman secara kultur aringan tidak memerlukan
tempat yang luas.
%. 4eknik perbanyakan tanaman secara kultuk aringan dapat
dilakukan sepanang tahun tanpa bergantung pada musim.
3. .ibit yang dihasilkan lebih sehat.
1. Memungkinkan dilakukannya manipulasi genetik.
4eknik kultur aringan uga mempunyai beberapa kekurangan sebagai
berikut 2
1. 9ibutuhkan biaya a#al yang relatif tinggi untuk
laboraturium dan bahan kimia.
2. 9ibutuhkan keahlian khusus untuk melaksanakannya.
%. 4anaman yang dihasilkan berukuran kecil, aseptik dan
terbiasa hidup di tempat yang berkelembapan tinggi, sehingga memerlukan
aklimatisasi ke lingkungan eksternal '=usnita, 200%(.
Kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan kultur in vitro yang optimal
bervariasi antarspesies ataupun antarvarietas. !aringan yang berasal dari bagian
tanaman yang berbeda, nutrisinya pun akan berbeda. 4idak ada satupun medium
dasar yang berlaku universal untuk semua enis aringan dan organ. Meskipun
demikian, medium dasar M" 'Murashige and "koog( adalah yang paling luas
penggunaannya dibandingkan dengan media dasar lainnya '>ulkarnain, 2009(.
Menurut -rditti '199*(, media Knudson 8 merupakan media yang umum
digunakan untuk kultur aringan anggrek. Media ini pertama kali diformulasikan
oleh 5e#is Knudson pada tahun 1939. .eberapa anggrek terkadang membutuhkan
charcoal 'karbon aktif( agar dapat tumbuh baik pada media ini. Hal ini
dikarenakan adanya /at fenol yang diproduksi oleh eksplan yang dapat
menghambat pertumbuhan planlet. Charcoal yang ditambahkan berfungsi untuk
menyerap senya#a&senya#a toksik yang ada dalam media.
Media kultur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan
perbanyakan tanaman secara kultur aringan. Media kultur tersebut, fisiknya dapat
berbentuk cair atau padat. Kebutuhan nutrisi mineral untuk tanaman yang
dikulturkan secara in vitro pada dasarnya sama dengan kebutuhan hara tanaman
yang dibutuhkan di tanah, meliputi hara makro dan hara mikro. Komponen media
kultur yang lengkap adalah sebagai berikut 2
1. -ir distilasi 'akuades( atau air bebas ion sebagai
pelarut.
2. Hara makro dan mikro.
%. 0ula 'umumnya sukrosa( sebagai sumber energi.
3. ;itamin, asam amino dan bahan organik lain.
1. >at +engatur 4umbuh '>+4(.
*. "uplemen berupa bahan&bahan alami ika diperlukan.
). -gar&agar atau gelrite sebagai pemadat media '=usnita,
200%(.
+ercobaan subkultur pada praktikum ini menggunakan anggrek
Rynchostylis sp. anggrek ini merupakan anggrek epifit yang memiliki batang
besar berukuran 21 cm. daun anggrek ini berbentuk tali dan panang sekitar 21
cm. +anang tangkai bunganya sekitar *0 cm. pembungaan teradi pada musim
panas dan musim gugur. +ercobaan yang telah dilakukan pada Rynchostylis sp.,
yang dapat digunakan sebagai eksplan yaitu daun tanaman de#asa dan akar.
Media untuk menumbuhkan Rynchostylis sp. ditambahkan bubuk pisang yang
sangat efektif untuk menginduksi akar '"inha, 2012(.
Hasil yang diperoleh dari subkultur anggrek Rynchostylis sp dan penanaman
bii anggrek Bulbophyllum sp. dalam media ;: yaitu bii dan planlet anggrek
yang ditanam belum menunukkan adanya pertumbuhan yang signifikan dan
media yang digunakan tidak teradi kontaminasi. Menurut 8ahyaningrum '2012(,
pertumbuhan anggrek dalam media kultur akan tergantung pada spesies yang
ditanam. 5ama pertumbuhan dan kondisi yang diperlukan akan bervariasi. "uhu
sekitar 20
o
8 dan pencahayaan selama 12&1* am dengan lampu neon diperlukan
meskipun terdapat beberapa spesies yang lebih menyukai kondisi gelap untuk
perkecambahan.
Kultur bii Bulbophyllum sp. yang ditanam pada media ;: tidak
menunukan adanya pertumbuhan. Menurut 5estari '201%(, kultur bii merupakan
budidaya secara in vitro dengan eksplan bii pada media steril dan kaya akan
nutrisi, sehingga bii dapat beregenerasi dan berdiferensiasi menadi tanaman
lengkap. 6aktor&faktor yang mempengaruhi keberhasilan kultur bii adalah
komposisi media 'adanya vitamin, gula, dan /at pengatur tumbuh(, dan stimulus
fisik 'cahaya, pH, dan suhu(. >at +engatur 4umbuh '>+4( sangat nyata
pengaruhnya.
4eknik kultur akan berhasil apabila syarat&syarat yang diperlukan terpenuhi.
"yarat tersebut meliputi pemilihan eksplan sebagai bahan dasar untuk
pembentukan kalus, penggunaan medium yang cocok, keadaan aseptik dan
pengaturan udara yang baik. Hal&hal yang harus diperhatikan ika menggunakan
embrio atau bagian bii sebagai eksplan adalah tingkat kemasakan embrio, #aktu
imbibisi, temperatur, dan dormansi '+anaitan, 2001(.
I+1 KE,IM(ULAN
.erdasarkan hasil pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan bah#a 2
1. 4ahapan subkultur dilakukan secara aseptis dengan cara memindahkan
planlet anggrek dari botol lama ke dalam botol baru yang berisi media. Hasil
yang didapatkan yaitu planlet anggrek tidak menunukkan adanya
pertumbuhan dan tidak teradi kontaminasi.
2. "terilisasi bii dilakukan di dalam 5-6 dengan merendamnya di dalam
larutan alkohol )07, Hg8l 0,027, dan "9:.
%. +enanaman bii anggrek dalam media ;: tidak tumbuh dan media tidak
teradi terkontaminasi.
)A-TAR RE-EREN,I
-rditti, !. < -braham 9,K. 199*. ?rchid Micropropagation2 4he +ath from
5aboratory to 8ommerciali/ation and an -ccount of "everal
@nappreciated Anvestigators. Botanical Journal o the Linnean Society.
122 pp. 1$% B 231.
8ahyaningrum, +aramitha. 2012. Menumbuhkan "emangat .er#irausaha dengan
Memanfaatkan .ioteknologi Melalui +engenalan -klimatisasi -nggrek
Hasil Kultur !aringan. !a"alah# ++M$ Kultur !aringan -nggrek.
0unadi, 4. 19)9. -nggrek dari .ibit Hingga .erbunga. +-A cabang
.andungC+riyangan. .andung.
5estari, D, 4utik, E < "iti, E. 201%. +engaruh Konsentrasi >+4 2,3&9 dan .-+
terhadap +ertumbuhan dan +erkembangan .ii Dendrobium
la%ilorum !.! "mith secara &n 'itro# Jurnal Sains dan Seni (omits.
;ol.2.'1(. pp 2%%)&%120.
+anaitan, D. 2001. ,espons +ertumbuhan 4anaman -nggrek 'Dendrobium sp.(
terhadap +emberian .-+ dan E-- secara &n 'itro. Jurnal (enelitian
Bidang &lmu (ertanian# ;ol %2 31&11
+aramartha, -isya Antan, 9ini D., dan "iti E. 2012. +engaruh +enambahan
Kombinasi Konsentrasi >+4 E-- dan .-+ terhadap +ertumbuhan
dan +erkembangan .ii Dendrobium )aurulinum !.! "mith "ecara &n
vitro# Jurnal Sains dan Seni &)S ;ol. 1 '1(.
"inha, +inaki < Miskat, -.-.!. 2012. 8lonal +ropagation of Rynchostylis retusa
'5in.( .lume through &n 'itro 8ulture and their Dstablishment in the
Eusery. (lant )issue Culture * Biotech. ;ol 22 '1(. pp 1&11.
,ukmana, ,ahmat. 2000. 4eknik +erbanyakan 4anaman Hias. Kanisius.
=ogyakarta.
"aga#a, =. 19)*. +otential of &n vitro 4echniFues for Amprovement of
Horticultural. *2 *1&**.
:attimena, 0.-. < E.-. Mattik. 1992. +emuliaan 4anaman secara in vitro.
9alam 4im 5aboratorium Kultur !aringan 'Dd.(. .ioteknologi
4anaman. +-@ .ioteknologi. Anstitut +ertanian .ogor.
=usnita. 200%. +erbanyakan Anvitro 4anaman -ngrek. @niversitas 5ampung.
.andar 5ampung, 5ampung.
>ulkarnain. 2009. Kultur !aringan 4anaman, "olusi +erbanyakan 4anaman.
!akarta2 .umi -ksara.