Anda di halaman 1dari 12

1

STUDI EKSPERIMENTAL PERFORMANSI VERTICAL AXIS WIND TURBINE (VAWT)


DENGAN VARIASI DESAIN TURBIN

Moch. Arif Afifuddin
Ir. Sarwono, MM.
Ridho Hantoro, ST., MT.
Teknik Fisika Fakultas Teknologi Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
2010

ABSTRAK
Dalam rangka mengembangkan tugas akhir sebelumnya Arief Fajar Prasetya, tahun 2008
dengan judul Uji Performansi Vertical Axis Wind Turbine Tiga dan Lima Blade. Telah dilakukan
kegiatan merancang vertical axis wind turbine untuk kecepatan angin 2 m/s. Penelitian yang telah
dikerjakan saat ini untuk menjelaskan korelasi antara panjang rotor dan jumlah blade dengan
putaran rotor (rpm) dan torsi yang dihasilkan. hasil eksperimen uji perubahan panjang rotor dan uji
perubahan kecepatan angin dapat diperoleh performansi rpm terbaik dihasilkan oleh turbin dengan 5
blade panjang lengan 48 cm sebesar 23.72 kali putaran dalam satu menit dengan kecepatan angin
2m/s. Performansi torsi terbaik dihasilkan oleh turbin dengan 5 blade panjang rotor 170 cm sebesar
1.26 Nm. Hasil eksperimen ini akan di-validasi dengan menggunakan simulasi di software Ansys.
Baik secara eksperimen maupun simulasi di Ansys turbin dengan panjang rotor 170 cm memiliki
performansi torsi lebih baik dari turbin dengan panjang lengan 48 cm.

Kata kunci : Wind turbine, Rotor, Blade, Software ANSYS, rpm, torsi.

I. Pendahuluan
Salah satu teknologi sistem konversi
energi angin (SKEA). yang perlu
dikembangkan lagi adalah Vertical Axis Wind
Turbine (VAWT). Kekurangan dari VAWT
adalah kebanyakan dari VAWT menghasilkan
energi hanya sekitar 50% dari efisiensi yang
dihasilkan HAWT karena gaya drag tambahan
ketika berputar. Sedangkan beberapa
kelebihan dari VAWT adalah lebih mudah
dalam perawatannya karena letak dari
generator dan gearbox terletak di dekat tanah,
konstruksinya yang sederhana, memiliki
karakteristik starting yang cepat dan mampu
menerima angin dari segala arah sehingga
tidak perlu membutuhkan pengarah.
Pada tugas akhir ini mengembangkan
tugas akhir sebelumnya yang sudah ada, yakni
milik saudara Arief Fajar Prasetya. dengan
mengubah beberapa varibel komponen turbin
seperti panjang rotor, dan jumlah blade 3 dan
5 blade pada sistem wind turbine yang sama.

II. Permasalahan
Permasalahan dalam Tugas Akhir ini
adalah: merancang vertical axis wind turbine
yang mampu untuk kecepatan angin 2 m/s.
Menganalisa performansi sistem vertical axis
wind turbine dengan perubahan variable
panjang rotor dan jumlah blade. Mencari
korelasi antara panjang rotor dan jumlah blade
yang berbeda terhadap rpm dan torsi yang
dihasilkan.

III. Batasan masalah
Dalam tugas akhir ini diambil asumsi
dan batasan masalah sebagai berikut :
Analisa yang dilakukan berupa analisa
performansi dari sistem wind turbine
dengan keluaran rpm Shaft dan torsi.
Uji performansi dilakukan pada jumlah
blade dan panjang rotor yang digunakan
dengan sistem wind turbine yang sama.
Hasil rancangan dan algoritma wind
turbine disimulasikan dengan software
CFX Ansys 11
Pengerjaan tugas akhir ini berorientasi
pada estimasi putaran rotor (rpm) yang
dihasilkan oleh wind turbin.
Analisa perhitungan data menggunakan
perhitungan software Microsoft Excel.

IV. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini untuk
menjelaskan korelasi-korelasi antara panjang
rotor dan jumlah blade dengan putaran rotor
(rpm) dan torsi yang dihasilkan.

2
V. Manfaat
Manfaat dari tugas akhir ini adalah :
Manpu merancang wind turbin untuk
kecepatan angin 2m/s
Mampu menganalisa performansi sistem
wind turbine
Mengembangkan ilmu tentang uji
performansi system wind turbine dengan
pengaruh panjang rotor dan jumlah sudu.

VI. Landasan teori
6.1 Energi Angin
Angin adalah udara yang bergerak dari
tekanan udara yang lebih tinggi ke tekanan
udara yang lebih rendah. Perbedaan tekanan
udara disebabkan oleh perbedaan suhu udara
akibat pemanasan atmosfir yang tidak merata
oleh sinar matahari. Karena bergerak angin
memiliki energi kinetik. Energi angin dapat
dikonversi atau ditransfer ke dalam bentuk
energi lain seperti listrik atau mekanik dengan
menggunakan kincir atau turbin angin. Oleh
karena itu, kincir atau turbin angin sering
disebut sebagai Sistem Konversi Energi Angin
(SKEA). Daya angin berbanding lurus dengan
kerapatan udara, dan kecepatan angin kubik,
seperti diungkapkan dengan persamaan
berikut:
A v Cp P . . . .
2
1
3
=
......................... (6.1)
Dimana :
P = Daya mekanik (Watt)
Cp = Maximum power coefficient (0,25
0,45)

= Massa jenis udara (kg/m3)


v = Kecepatan angin (m/s)
A = Luas Penampang (m2)

Dari persamaan 6.1 di atas dapat
disimpulkan bahwa daya listrik yang
dihasilkan sebuah kincir angin dipengaruhi
oleh kecepatan angin dan luas daerah sapuan
kincir. Sehingga semakin besar nilai kedua
variabel tersebut maka semakin besar daya
listrik yang dihasilkan. Daya angin maksimum
yang dapat keluarkan oleh turbin angin dengan
luas sapuan rotor A adalah,
A v P . . .
2
1
.
27
16
3
=
........................... (6.2)

Konstanta 16/27 (=59.3%) ini disebut
batas Betz (Betz limit). Angka ini secara teori
menunjukkan efisiensi maksimum yang dapat
dicapai oleh rotor turbin angin tipe sumbu
horisontal. Pada kenyataannya karena ada
rugi-rugi gesekan dan kerugian di ujung sudu,
efisiensi aerodinamik dari rotor, rotor ini
akan lebih kecil lagi yaitu berkisar pada harga
maksimum 0.45 saja untuk sudu yang
dirancang dengan sangat baik [1].

6.2 Karakteristik Angin
Beberapa hal penting mengenai
karakteristik angin yang perlu kita ketahui
adalah :

1. Massa Jenis Angin
Definisi dari density adalah massa dari
suatu fluida dalam satu satuan volume, atau =
m/v, lain, yaitu T (temperature) dan S (salinity:
untuk kasus air laut). Kenaikan T memberikan
kontribusi penurunan kerapatan pada sebuah
boundary sistem yang seragam. Kerapatan
udara kering yang diambil sebagai konstanta
pada perhitungan daya keluaran sebuah
pembangkit listrik tenaga angin adalah 1,225
kg/m3. Pada tabel Thermophysical property
kita dapatkan bahwa nilai density udara
tersebut terjadi pada kondisi temperatur sekitar
15
o
C.
Berdasarkan properti physical udara
seharusnya nilai = 1,225 kg/m3 kurang tepat
jika digunakan untuk wilayah Indonesia,
karena temperatur yang berkorelasi seharusnya
sekitar 15
o
C. Hal ini tidak mungkin didapati di
wilayah pesisir dan pantaipada siang hari,
mengingat temperatur ambient sekitar 28
o
C-
32
o
C (1,15741<<1,1726) Kg/m3. Demikian
pula untuk data pada malam hari, dengan
turunnya temperatur maka seharusnya terjadi
kenaikan kerapatan.


6.3 Komponen Vertical Axis Wind Turbine
(VAWT)
Bentuk Blade
Bentuk umum dari Vertical Axis Wind
Turbine (VAWT) yang dapat membangkitkan
energi listrik pada generator adalah :
Karakteristik dari turbin jenis ini adalah :
Turbin angin berporos tegak.
Contoh VAWT yaitu savonius darierus
panemone.
Prinsip aerodinamika : gaya drag
Kincir angin savonius memiliki banyak
kelebihan , yaitu :
Konstruksinya yang sederhana.
3
Karakteristik starting yang cepat
Mampu menerima angin dari segala
arah sehingga tidak perlu
membutuhkan pengarah
Mempunyai jumlah sudu berbeda-beda
( 2, 3, 4 dan 6 )
Dimensi diameter dan ketinggiannya
semua sama termasuk perbandingan
e/d = 1/6.








(a) (b)
Gambar 6.2. Tipe Blade (a) Darrieus Vertical
Axis Wind Turbine (b) Savonius Vertical Axis
Wind Turbine

Masing-masing tipe yang disebutkan diatas
masih dibagi kedalam model sudu/blade yang
lebih spesifik. Untuk mendesign wind turbin
ini perlu diperhatikan tentang bentuk dan
jumlah blade yang digunakan, bentuk dari
blade itu juga tergantung dari karakteristik
angin di suatu tempat, ketika sudah diketahui
karakteristik angin ini baru kemudian dapat
ditentukan bentuk sudu/blade mana yang akan
dipakai. Penjelasan mengenai pembagian dari
tipe turbin dapat dilihat pada keterangan
berikut ini :














Gambar 6.3. Vertical axis wind
turbine

2. Main Shaft (Poros Utama)
Adalah poros yang digunakan untuk
mentransmisikan power mekanik putaran
sudu/blade ke bagian gear-box.
Berikut adalah perhitungan untuk
menentukan shaft speed dan gaya torsinya.
Shaft speed =
D
v
.
. . 60

.............................(6.4)
Torque =

3 2
.r v
.....................................(6.5)
Dimana :
= Tip speed ratio
v = kecepatan angin dalam m/s
(phi) = 3.1415926535...
D = diameter blade (m)
R = jari-jari blade (m)

3. Hub
Merupakan bagian yang menjadi
penghubung antara rangkaian sudu/blade
dengan main shaft/poros utama.


Gambar 6.4 Hub


6.4 Penelitian yang Relevan
Berdasarkan yang telah dilakuakn oleh
Arief Pajar Prasetya, ST. Pada tahun 2008
tentang Uji Performansi Vertical Axis Wind
Turbine Tiga dan Lima Blade didapatkan
kesimpulan:
Distribusi kecepatan angin terbanyak pada
akhir bulan Juni 2008 dan awal bulan Juli
2008 di lokasi Keputih, Sukolilo, Surabaya
berkisar antara 3 5 m/s, dengan rentang
waktu yang paling efektif antara jam 12.00
15.00 dalam sehari, dengan kecepatan
angin maksimal 6,3m/s
Performansi terbaik pada kecepatan angin
yang relatif tinggi yaitu 6m/s adalah
dengan menggunakan 5 blade dengan
sudut 15 dengan kemampuan berputar
vertical axis wind turbine bisa mencapai
sekitar 50.5 kali putaran dalam 1 menit.
Performansi terbaik pada kecepatan angin
5m/s adalah dengan menggunakan 5 blade
dengan sudut 30 dengan kemampuan
4
berputar vertical axis wind turbine bisa
mencapai sekitar 42.75 kali putaran dalam
1 menit.
Performansi terbaik pada kecepatan angin
4m/s adalah dengan menggunakan 5 blade
dengan sudut 30 dengan kemampuan
berputar vertical axis wind turbine bisa
mencapai sekitar 36 kali putaran dalam 1
menit.
Performansi terbaik pada kecepatan angin
3m/s adalah dengan menggunakan 5 blade
dengan sudut 45 dengan kemampuan
berputar vertical axis wind turbine bisa
mencapai sekitar 29,75 kali putaran dalam
1 menit.
Karena distribusi kecepatan angin
terbanyak pada akhir bulan Juni 2008 dan
awal bulan Juli 2008 di lokasi Keputih,
Sukolilo, Surabaya berkisar antara 3 5
m/s, maka performansi terbaik vertical
axis wind turbine didapat saat
menggunakan 5 blade dengan sudut 30
yang bisa mencapai 42.75 kali putaran
dalam 1 menit, baik untuk diaplikasikan
pada generator DC untuk menghasilkan
listrik.

6.5 Software Ansys
Ansys adalah suatu software
pemodelan finite element untuk memecahkan
secara numerik suatu permasalahan.
Permasalahan ini meliputi: analisis struktural
statik/dinamaik (baik linier maupun tidak
linier), perpindahan kalor, mekanika fluida,
elektromagnetik dan akustik. Pada dasarnya
ada tiga tahapan penting dalam penganalisaan
di Ansys, yaitu :
1. Pembuatan model
2. Pemberian beban dan
mendapatkan solusi
3. Me-review hasil
Ansys mempunyai system menu
sendiri yang dinamakan dengan GUI
(Graphical User Interface) yang fungsinya
untuk mempermudah berhubungan dengan
program ANSYS. Secara umum Ansys GUI
terdapat tiga area utama yaitu Ansys graphics
area, Ansys utility menu, Ansys main menu dan
Ansys toolbar

VII. Perancangan dan pemodelan sistem
Pada bab ini adalah penguraian penelitian
tugas akhir yang berupa perancangan dan
penurunan model geometri yang digunakan
untuk simulasi. Sebelum memulai
perancangan, pemodelan, dan simulasi, di
bawah ini adalah gambar diagram algoritma
pengerjaan tugas akhir.

Gambar 7.1 Diagram alir algoritma pengerjaan
tugas akhir



7.1 Perancangan Sistem

7.1.1 Desain geometris real alat
Desain blade




Gambar 7.2 Desain blade tampak dari atas

5

Gambar 7.3 Desain blade tampak dari samping

Desain rotor blade



Gambar 3.4 Desain rotor blade

3.2.2 Skema Alat


Gambar 3.5 Skema alat Vertical Axis Wind
Turbine (VAWT )

7.2 Bagian-bagian Sistem Wind Turbine
7.2.1 Blade
Bentuk Blade
Bentuk Blade yang akan digunakan
dari turbin angin yang dapat
membangkitkan energi listrik pada
generator adalah Vertical Axis Wind
Turbine (VAWT) model Darieus tipe
straight-blade.
Karakteristik dari turbin jenis ini
adalah :
Turbin angin berporos tegak.
Prinsip aerodinamika : gaya drag
Kincir angin darieus memiliki
banyak kelebihan, yaitu :
o Konstruksinya yang sederhana
o Karakteristik starting yang
cepat
o Mampu menerima angin dari
segala arah sehingga tidak
perlu membutuhkan pengarah
o Mempunyai jumlah sudu
berbeda-beda.
o Dimensi diameter dan
ketinggiannya semua sama


Gambar 7.6 Tipe Straight-Blade Darieus
Vertical Axis Wind Turbine (VAWT )

Untuk mendesain wind
turbine ini perlu diperhatikan tentang
bentuk dan jumlah blade yang
digunakan, bentuk dari blade itu juga
tergantung dari karakteristik angin di
suatu tempat, ketika sudah diketahui
karakteristik angin ini baru kemudian
dapat ditentukan bentuk sudu/blade
mana yang akan dipakai. Pada alat ini
memakai variasi 3 dan 5 buah blade.

7.2.2. Rotor Blade
Daya yang dihasilkan dari
energi angin, dapat dihitung melalui
persamaan berikut ini:
P = 1/2 v
3
r
2
................(7.1)

Adapun persamaan diatas
tanpa memperhatikan nilai power
coefficient (Cp). Dimana menurut
hukum Betz (sebuah hukum yang
diformulasikan oleh Albert Betz,
seorang ilmuwan dari Jerman, pada
tahun 1919) mengatakan bahwa,
energi kinetik yang bisa dikonversi
menjadi energi mekanik pada sebuah
wind turbine adalah kurang dari 16/27
atau 59% saja.
Sehingga didapatkan persamaan baru
seperti berikut :
6
P = 1/2 Cp v
3
r
2.
................(7.2)
Dimana :
P = daya
teoretical
yang dihasilkan dari wind
turbine (Watt).
(rho) = massa jenis udara kering = 1,225
kg/m
3

v = kecepatan angin dalam m/s (meter per
second).
Rata-rata kecepatan angin maksimum 6 m/s
(pi) = 3.1415926535...
r = jari-jari (setengah diameter) rotor dalam m
(meter).
Pada alat ini menggunakan jari-jari
48,170 cm. Dengan memasukan nilai-nilai di
atas didapat besar P = 17.07 kW, 214.16 Kw
Sedangkan untuk mendapatkan nilai
tip speed ratio melalui persamaan:
B = 80 /
2
................(7.3)
Dimana :
B = Jumlah blade = variasi 3 dan
5 blade
= Tip speed ratio
sehingga di dapat nilai = 4 - 5.16


Gambar 7.7 Rotor blade
7.2.3 Main Shaft (Poros Utama)
Adalah poros yang digunakan
untuk mentransmisikan power
mekanik putaran sudu/blade ke bagian
gear-box.

Gambar 7.8 Main shaft
Berikut adalah perhitungan untuk
menentukan shaft speed dan gaya
torsinya.
Shaft speed =
D
v
.
. . 60

................(7.4)
Torque =

3 2
.r v
................(7.5)

Dimana :
= Tip speed ratio
v = kecepatan angin dalam m/s
(pi) = 3.1415926535...
D = diameter blade (m)
Sehingga didapat nilai shaft speed
sebesar 318.5 933.3 rpm dan torque
sebesar 0.22 9.8 N.m

7.2.4 Hub
Semua blade biasanya akan
dibaut pada hub namun beberapa
dilakukan juga pengelasan. Hub ini
biasanya dibuat dari tipe spesial
campuran strong iron, yang disebut
tipe SG (Spherical Graphite). Hal ini
dikarenakan oleh bentuk hub yang
cukup rumit sehingga perlu
dipergunakannya besi campuran.
Selain itu besi murni juga mempunyai
kelemahan seperti mudah pecah atau
lekas meleleh karena kandungan
karbonnya

Gambar 7.9 Hub

7.3 Pemodelan Sistem dan Simulasi

Selanjutnya alat yang sudah dibuat
dan dirakit diturunkan bentuk geometrinya ke
dalam software ANSYS. Penurunan bentuk
geometri hanya dilakukan pada bentuk blade
dan ukuran disesuaikan keadaan yang
sebenarnya. Pada ANSYS WORKBENCH
menggunakan ukuran dalam satuan centimeter,
sehingga bentuk blade akan tampak seperti
gambar di bawah ini :


Gambar 7.10 Geometri bentuk blade
dalam ANSYS WORKBENCH

Setelah bentuk blade tergambar dalam
ANSYS WORKBENCH, maka selanjutnya
digambar bentuk geometri dari bentuk
lingkungan wind turbine yang nanti akan
7
diidentifikasikan ada fluida yang mengalir
yaitu angin, seperti gambar di bawah ini :


Gambar 7.11 Geometri bentuk blade
dan lingkungannya dalam ANSYS
WORKBENCH.

Setelah membuat geometri, langkah
selanjutnya adalah melukukan identifikasi
kondisi batas dari bidang geometri
pembagian obyek menjadi bagian-
bagian kecil. Pertama melakukan mesh pada
garis dan selanjutnya pada bidang, sehingga
akan tampak seperti gambar di bawah ini :


Gambar 7.12 Hasil meshing bentuk
geometri

Setelah membuat meshing, langkah
berikutnya adalah identifikasi kondisi batas
dari bidang geometri. Pada garis kiri dari
bidang diidentifikasikan sebagai inlet yaitu
tempat masuknya fluida yang mengalir, pada
garis kanan dari bidang diidentifikasikan
sebagai out yaitu tempat keluarnya fluida yang
mengalir, pada garis atas dan bawah dari
bidang diidentifikasikan sebagai wall yaitu
dinding pembatas aliran. Setelah identifikasi
garis, maka selanjutnya identifikasi bidang
geometri. Bidang geometri diidentifikasikan
sebagai area fluid yaitu area yang teraliri
fluida.
Setelah membuat kondisi batas,
langkah berikutnya adalah menyimpan file
dalam bentuk ( .gtm ) karena pada proses
selanjutnya akan dimasukkan pada CFX Ansys.
Langkah yang terakhir dan yang paling inti
adalah pemprosesan simulasi pada CFX
ANSYS. Gambar bentuk geometri di atas
dibuka dalam CFX ANSYS, yang nanti akan
diatur beberapa variable seperti kecepatan
angin, penyelesaian masalah dalam bentuk
orde dua,dsb. Setelah mengatur variabel yang
berpengaruh, maka langkah selanjutnya
mendispalykan. Display yang dipakai adalah
contour velocity dan pressure yang nantinya
akan dianalisa.

Gambar 7.13 Velocity dari bentuk
geometri dengan panjang rotor 48 cm.


Gambar 7.14 Velocity dari bentuk
geometri dengan panjang rotor 170 cm.

VIII. ANALISA DAN PEMBAHASAN
HASIL SIMULASI
Pada bab ini berisi tentang data
pengukuran kecepatan pada tiap waktu dan
hari; rpm dan torsi blade dari wind turbine
pada variasi jumlah blade, panjang rotor,
kecepatan angin; dan pembahasan hasil uji
simulasi yang berupa : uji perubahan panjang
rotor uji perubahan kecepatan angin pada
distribusi tekanan dan kecepatan dari blade.
Dari hasil uji tersebut juga menganalisa
performansi terbaik dari wind turbine.

8.1 Analisa Data
8.1.1 Perancangan wind turbin
Dari data di atas kecepatan angin tidak
lebih dari 3m/s kalaupun ada sangat jarang
sehingga perancangan alat wind turbin
dirancang pada kecepatan 2m/s. Pada
perancangan ini menggunakan persamaan 2.1,
nilai daya mekanik (P) menggunakan
perancangan tugas akhir sebelumnya yang
berjudul Uji Performansi Vertical Axis Wind
Turbine Tiga dan Lima Blade sebesar 25 watt,
Nilai Cp maksimum power coefficient
digunakan Betz number (0.59), massa jenis
udara 1,1726 Kg/m3, kecepatan angin 2m/s
8
sehingga diperoleh panjang rotor sebesar 170
cm.
Data rpm pada masing-masing blade
Setelah tahap pengambilan data
kecepatan angin pada tiap waktu dan tiap hari,
maka selanjutnya dilakukan pengukuran rpm
dari masing-masing blade yaitu menggunakan
3 dan 5 buah blade pada variasi panjang rotor
dan variasi kecepatan angin, sehigga didapat
hasil seperti tabel di bawah ini :

Untuk 3 blade
Tabel 81 Data rpm 3 blade pada panjang rotor
48 cm
Panjang
rotor
nilai v (m/s) rpm (putaran)
1 6.58
1.5 7.29
2 9.16
2.5 11.01
48
3 14.04

Tabel 8.2 Data rpm 3 blade pada sudut
panjang rotor 170cm
Panjang
rotor
nilai v (m/s) rpm (putaran)
1 0
1.5 2.45
2 3.48
2.5 3.71
170
3 4.63

Untuk 5 blade
Tabel 8.3 Data rpm 5 blade pada sudut
panjang rotor 48 cm
Panjang
rotor
nilai v (m/s) rpm (putaran)
1 17.32
1.5 19.55
2 23.72
2.5 26.08
48
3 37.38

Tabel 8.4 Data rpm 5 blade pada rotor 170 cm
Panjang
rotor
nilai v (m/s) rpm (putaran)
1 2.94
1.5 3.68
2 4.30
2.5 4.95
170
3 6.16
Dari tabel perbandingan di atas maka
dapat dibuat grafik perbandingan rpm dari 3
dan 5 blade pada variasi kecepatan angin dan
panjang rotor seperti di bawah ini :

Grafik 8.2 perbandingan rpm 3 blade dan 5
blade dengan panjang rotor 48 cm dan 170
cm.
0
5
10
15
20
25
30
35
40
0 1 2 3 4
kecepatan angin (m/s)
r
p
m

(
p
u
t
a
r
a
n
)
3 blade, 48 cm
5 blade, 48 cm
3 blade, 170 cm
5blade, 170cm


Dari grafik untuk turbin dengan
panjang lengan 170 cm belum ada perbedaan
yang signifikan antara turbin dengan jumlah
blade 3 dan 5, nilai rpm-nya masih saling
mendekati. Untuk turbin dengan pajang lengan
48 cm, antara turbin dengan jumlah blade 3
dan 5 menunjukkan perbedaan yang signifikan
dan turbin dengan jumlah blade 5 memiliki
performansi rpm lebih baik. Nilai rpm untuk
turbin dengan panjang lengan 170 cm jauh
lebih rendah dari turbin denga panjang lengan
48 cm. Hal ini disebabkan oleh semakin
panjang panjang lengan turbin maka semakin
rendah jumlah putarannya dalam satu menit,
sehingga turbin dengan panjang lengan 48 cm
nilai rpm-nya lebih tinggi.

8.1.2 Data torsi pada masing-masing blade
Setelah dilakukan pengukuran rpm,
dilakukan pulah pengukuran terhadap torsi
masing-masing blade. Pengukuran ini dengan
variasi panjang rotor dan kecepatan angin
yang berbeda, sehigga didapat hasil seperti
tabel di bawah ini :
Untuk 3 blade
Tabel 8.6 Data torsi 3 blade pada panjang
rotor 48 cm
Panjang
rotor
nilai v (m/s) torsi (Nm)
1 0.32
1.5 0.38
2 0.63
2.5 0.7
48
3 0.93



9
Tabel 8.7 Data torsi 3 blade pada panjang
rotor 170 cm
Panjang
rotor
nilai v (m/s) torsi (Nm)
1 0
1.5 0.94
2 1.24
2.5 1.49
170
3 1.77

Untuk 5 blade
Tabel 8.8 Data torsi 5 blade pada panjang
rotor 48 cm
Panjang
rotor
nilai v (m/s) torsi (Nm)
1 0.5
1.5 0.51
2 0.65
2.5 0.81
48
3 1.25

Grafik 8.3 Perbandingan torsi 3 blade dan 5
blade dengan panjang rotor 48 cm dan 170
cm.
garfik perbandingan torsii
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
kecepatan angin
t
o
r
s
i

(
N
m
)3 blade, 48 cm
5 blade, 48cm
3 blade, 170cm
5 blade,170cm


Dari grafik perbandingan 8.3 diatas
untuk turbin dengan panjang lengan 170 cm
nilai torsi untuk turbin dengan jumlah blade 3
dan 5 memiliki nilai torsi yang hampir
mendekati di kecepatan angin 2m/s. Saat
kecepatan angin bertambah tinggi lagi nilai
torsi antar kedua jumlah blade perbedaan nilai
torsi-nya mulai mencolok turbin dengan
jumlah blade 5 memiliki nilai torsi yang lebih
tinggi dibandingkan dengan turbin dengan
jumlah blade 3.
Begitu juga pada turbin dengan lengan
48 cm antara turbin dengan jumlah blade 3 dan
5 memiliki nilai torsi yang hamper sama saat
kecepatan angin 2m/s, saat kecepatan mulai
naik lagi perbedaan nilai torsi juga semakin
lebar. Namun turbn dengan panjang lengan 48
cm nilai torsinya masih jauh dibawah nilai
torsi turbin dengan lengan 170 cm. dalam hal
ini panjang lengan turbin sangat berpengaruh
terhadap nilai torsi.


Pembahasan Hasil Simulasi

Simulasi dilakukan agar dapat
dianalisa karakteristik aliran fluida yang
terjadi saat wind turbine berputar karena
tertabrak aliran fluida yaitu angin. Selanjutnya
alat yang sudah dibuat dan dirakit diturunkan
bentuk geometrinya ke dalam software
ANSYS WORKBENCH. Penurunan bentuk
geometri hanya dilakukan pada bentuk blade
dan main shaft dan ukuran disesuaikan
keadaan yang sebenarnya. Pada ANSYS
WORKBENCH menggunakan ukuran dalam
satuan centimeter, setelah semua pengerjaan
gambar di ANSYS WORKBENCH selesai,
maka gambar selanjutnya di-meshing. Setelah
pengerjaan selesai hasil meshing dengan file
.gtm, geometri selanjutnya dikerjakan di CFX
ANSYS pada tahap ini diberi inisialisasi
terhadap geometri. Untuk boundary
diinisialisasi sebagai dinding dengan
karakteristik free slip dimana gaya gesek
fluida terhadap dinding bernilai nol.
Sedangkan untuk blade dan main shaft diberi
inisialisasi no slip dimana terdapat gaya
gesekan antara fluida dengan turbin.

8.2.1 Uji simulasi perubahan panjang rotor
Pada uji ini menggunakan kecepatan
angin tetap 2 m/s dan perubahan panjang rotor
yaitu 48 cm dan 170 cm. Dalam software CFX
ANSYS hasil seperti gambar di bawah ini:

Untuk 3 blade

Gambar 8.1 Contour of velocity 3 blade,
panjang rotor 48 cm
10

Gambar 8.2 Contour of velocity 3 blade,
panjang rotor 170 cm

Untuk 5 blade


Gambar 8.3 Contour of velocity 5 blade,
panjang rotor 48 cm


Gambar 8.4 Contour of velocity 5 blade,
panjang rotor 170 cm
Dari gambar di atas maka dapat dibuat
analisa karakteristik aliran fluida dan
performansi dari 3 dan 5 blade pada variasi
panjang rotor dengan menggunakan
perbandingan nilai pressure dan velocity dari
masing-masing gambar. Analisa karakteristik
aliran fluida dan performansi menggunakan
identifikasi warna yang terlihat pada gambar,
nilai paling rendah pada warna biru tua, dan
nilai tertinggi pada merah tua. Keseluruhan
daerah yang akan dianalisa sudah
teridentifikasi semua dengan warna-warna
yang berbeda. Selanjutnya analisa karakteristik
aliran fluida dan performansi adalah sebagai
berikut :

Analisa dengan pressure coefficient
(Cp)
(lihat gambar 8.1, 8.3, 8.5, 8.7)
Pada gambar 8.1 pressure coefficient
menyebar merata pada 3 blade, begitu juga
pada gambar 8.5 pressure coefficient
menyebar merata pada 5 blade. Pressure
coefficient (Cp) merupakan koefisien
distribusi tekanan dari pengaruh angin
terhadap 3 blade yang masing-masing
blade akan berbeda nilainya karena disaat
blade yang satu menghadap arah angin,
blade yang lain membelakangi arah angin,
sehingga Cp-nya akan berbalik arah
sehingga akan mengurangi daya berputar
dari blade. Cp maksimal diperoleh jika
luasan blade yang menghadap arah angin
cukup besar dibandingkan luasan blade
yang membelakangi arah angin. Hal ini
dapat terlihat jelas dari warna dari gambar
di sekitar permukaaan blade, disaat blade
menghadap arah angin, warna permukaan
blade merah tua, artinya pressure
coefficient mencapai nilai tertinggi dari
gambar, sedangkan blade yang
membelakangi arah angin warna
permukaan blade hijau, artinya pressure
coefficient mencapai nilai terendah dari
gambar. Sehingga apabila kita
menbandingkan gambar 8.1 dengan
gambar 8.3, dan gambar 8.5 dengan
gambar 8.7, dan gambar 8.1; 8.3; 8.5; 8.7
memiliki sudt yang sama sehingga
memiliki pressure coefficient yang sama
juga.

Analisa dengan velocity magnitude
(vm)
(lihat gambar 8.2, 8.4, 8.6, 8.8)
Pada gambar 4.2 velocity magnitude
menyebar merata pada daerah sekitar 3
blade, begitu juga pada gambar 8.6
velocity magnitude menyebar merata pada
daerah sekitar 5 blade. velocity magnitude
(vm) merupakan magnitudo kecepatan dari
pengaruh angin terhadap daerah sekitar 3
blade yang masing-masing blade akan
berbeda nilainya karena angin yang
diteruskan setelah mengenai daerah sekitar
blade sebagian akan berputar balik
menabrak bagian belakang blade, sehingga
vm yang berada di daerah bagian belakang
blade akan mengindikasikan terjadi aliran
turbulen sehingga akan mengurangi daya
berputar dari blade. Dari gambar 8.2; 8.4;
11
8.6 dan 8.8 memiliki profil kecepatan
angin yang sama kecepatan tertinggi
berada dibelakang blade.

Analisa dengan torsi (Nm)
Dari simulasi dan eksperimenyang
telah dilakukan dapat dilakukan
pengukuran dan perhitungan torsi.
Perhitungan torsi pada simulasi digunakan
kecepatang angin sebesar 2m/s dam
diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.12 Perbandingan torsi hasil
perhitungan simulasi 3 blade dan 5 blade
pada variasi kecepatan angin
Torsi (Nm)
Panjang
rotor
(cm)
Kecepatan
angin
(m/s) Blade 3 Blade 5
1 0.20 0.11
1.5 0.20 0.25
2 0.20 0.45
2.5 0.20 0.73
48
3 0.20 1.08
1 0.56 0.35
1.5 0.57 0.83
2 0.57 1.55
2.5 0.56 2.37
170
3 0.57 3.44

Tabel 4.13 Perbandingan torsi hasil
pengukuran 3 blade dan 5 blade pada
variasi kecepatan angin
Torsi (Nm) Panjang
rotor
(cm)
Kecepatan
angin
(m/s) 3 blade 5 blade
1 0.32 0.5
1.5 0.38 0.51
2 0.63 0.65
2.5 0.7 0.81
48

3 0.93 1.25
1 0 0.62
1.5 0.94 1.2
2 1.24 1.26
2.5 1.49 1.84
170
3 1.77 2.67

Dari simulasi maupun dari pengukuran
menunjukakn bahwa turbin dengan
panjang rotor 170cm lebih baik dengan
nilai torsi dua kali lipat lebih besar dari
turbin dengan panjang lengan 48cm.


IX. Kesimpulan
Berdasarkan analisa data dan
pembahasan hasil simulasi uji perubahan
panjang rotor dan uji perubahan kecepatan
angin dapat disimpulkan bahwa :
Telah dilakukan perancangan vertical axis
wind turbine untuk kecepatan angina 2m/s
dengan mengubah panjang rotor menjadi
170 cm
Turbin dengan panjang lengan 170 cm
dengan jumlah blade 3 memiliki nilai torsi
3.48 kali putaran dalam satu menit pada
saat kecepatan angina 2m/s.
Turbin dengan panjang lengan 48 cm
dengan jumlah blade 3 memiliki nilai torsi
9.16 kali putaran dalam satu menit pada
saat kecepatan angina 2m/s.
performansi rpm terbaik dimiliki oleh
turbin dengan 5blade panjang lengan 48
cm sebesar 23.72 kali putaran dalam satu
menit dengankecepatan angin 2m/s.
performansi torsi terbaik dimiliki oleh
turbin dengan 5 blade panjang rotor 170
cm sebesar 1.26 Nm.
Semakin panjang panjang lengan nilai rpm-
nya semakin kicil namun nilai torsinya
semakin besar

X. Saran
Dari hasil penelitian tugas akhir ini
dapat diberikan saran pengembangan berupa :
pengembangan selanjutnya mengenai desain
dari bentuk blade, penentuan lokasi
pemasangan VAWT dilokasi yang memiliki
intensitas angin yang tinggi semisal di pantai.

X. Biodata penulis

Nama : Moch. Arif
Afifuddin
Tempat tanggal lahir :
sidoarjo, 28 Maret 1987
Saat ini selain sebagai
mahasiswa S1 Teknik
Fisika ITS juga sebagai
pengusaha dibidang agrobisnis.
Pengalaman penelitian yang pernah
dilakukan antara lain Pengukuran Flare di
Petrochina Tuban, Percepatan
Pembelajaran Al Quran Braille dengan
Metode Iqro, Prospek Natural Soft Drink
Sari Buah Pala sebagai Inkubator Usaha
Kecil Menengah (UKM).
12