Anda di halaman 1dari 12

Proceeding Simposium Nasional IATMI

25 - 28 Juli 2007, UPN Veteran Yogyakarta



IATMI 2007 TS 20 1
Metode Untuk Memprediksi Perilaku Aliran Gas
Dalam Pipa Transmisi Akibat Proses Line Packing

Oleh:
Harry Budiharjo S.
1,4
, Leksono Mucharam
2,4
, Septoratno Siregar
2,4
,
Edy Soewono
3,4
, Darmadi
4
, Anindhita
4
1
Jurusan Teknik Perminyakan UPN "Veteran" Yogyakarta
2
Program Studi Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung
3
Program Studi Matematika Institut Teknologi Bandung

4
Research Consortium OPPINET Institut Teknologi Bandung

ABSTRAK

Dengan memanfaatkan sifat gas yang dapat termampatkan, maka gas alam dapat dimampatkan di
dalam pipa transmisi pada kondisi batas tertentu sebagai cadangan sementara untuk menyediakan pasokan
gas tambahan yang mungkin dibutuhkan apabila sewaktu-waktu terjadi peningkatan permintaan atau ada
masalah operasional. Teknik ini dikenal dengan istilah line packing. Akibat proses line packing tesebut
aliran gas di dalam pipa mengalami perubahan tekanan dan laju alirnya, sehingga terjadilah aliran
transient. Oleh karena itu model steady tidak bisa digunakan untuk menganalisa aliran gas transient
tersebut.Maka dibutuhkan suatu model untuk menganalisa perilaku aliran gas dalam pipa. Zhou dan
Adewumi telah mengembangkan suatu model transient dengan menggunakan faktor deviasi gas rata-rata.
Pada penelitian ini akan dikembangkan model transient Adewumi dengan menggunakan faktor deviasi
gas sebagai fungsi dari tekanan. Metode hasil pengembangan ini kemudian disimulasikan pada pipa baru
dan pipa lama. Software yang digunakan untuk mensimulasikan model ini adalah software yang
dikembangkan pada research consortium OPPINET ITB.

Keywords : Line Packing, transient

PENDAHULUAN

Gas alam sebagai salah satu sumber
energi alternatif masa depan mulai menarik
perhatian kalangan industri. Sifat gas alam yang
lebih ramah lingkungan bila dibandingkan
dengan sumber energi lain seperti batu bara dan
nuklir serta jumlah cadangan gas alam yang
tersedia saat ini jauh lebih melimpah bila
dibandingkan dengan minyak bumi membuat
gas alam menjadi kandidat kuat untuk
menggantikan minyak bumi yang persediaannya
semakin lama semakin menipis.
Berbeda dengan minyak bumi, gas alam
tidak bisa disimpan dalam waktu lama sehingga
sebelum diproduksi, produsen harus mengetahui
dengan jelas siapa pembelinya. Selain itu, jarak
antara lokasi cadangan gas alam dengan
konsumen yang tidak selalu berdekatan menjadi
masalah tersendiri yang memerlukan perhatian
khusus. Pipa transmisi menjadi salah satu cara
yang paling efisien untuk mendistribusikan gas
alam.
Selain untuk transmisi, pipa juga dapat
digunakan sebagai tempat penyimpanan gas
sementara. Hal ini dapat dilakukan dengan
proses line packing. Line packing adalah proses
penyimpanan gas dalam pipa dengan cara
mengatur agar laju alir dan tekanan gas di inlet
jauh lebih besar dari regularly operation.
Peningkatan tekanan dan laju alir gas di inlet
pipa tersebut menyebabkan terjadinya aliran
transient sehingga model untuk aliran steady
tidak dapat digunakan untuk memprediksi
perubahan pada perilaku aliran dalam pipa. Pada
penelitian ini akan disimulasikan perilaku aliran
gas dalam pipa pada kondisi line packing
menggunakan model aliran transient yang
merupakan pengembangan dari model Zhou dan
Adewumi (Zhou dan Adewumi, M.A.,2000).

MODEL ALIRAN GAS DALAM PIPA

Aliran steady state dalam sistem
transmisi pipa gas dalam kenyataannya jarang
ditemui, karena aliran yang terjadi merupakan
Proceeding Simposium Nasional IATMI
25 - 28 Juli 2007, UPN Veteran Yogyakarta

IATMI 2007 TS 20 2
fungsi dari waktu. Jika gas yang mengalir dalam
pipa itu incompressible, Newtonian, dan
perubahan sepanjang pipa terjadi secara
bersamaan dan besarnya sama pada tiap bagian
pipa mulai dari ujung sampai ujung yang
lainnya, maka persamaan steady state dapat
digunakan. Tetapi yang terjadi tidaklah
demikian, oleh karenanya diperlukan suatu
model atau metode untuk mengatasi keadaan
tersebut. Metode transient dalam aliran pipa
telah diyakini dapat menyelesaikan kendala
seperti yang disebutkan di atas. Untuk
menyelesaikan persamaan metode tersebut kita
harus menentukan kondisi awal dan kondisi
batas sistem tersebut.
Kondisi awal harus ditentukan untuk
mendapatkan penyelesaian yang aplikatif
terhadap persamaan diferensial yang diberikan.
Kondisi awal ini diperlukan untuk menentukan
tekanan awal, kecepatan, densitas,
kompresibilitas dan sifat-sifat lainnya sebagai
fungsi dari jarak (x) sepanjang pipa. Pada
makalah ini kondisi awal ditentukan dengan
mengasumsikan bahwa aliran yang terjadi
adalah aliran steady state pada awal analisa
transient, dimana t = 0. Kemudian menggunakan
hubungan atau persamaan steady state untuk
menghitung distribusi tekanan awal dalam pipa
(untuk aliran steady state laju alir konstan).
Kondisi batas harus ditentukan untuk
mendapatkan penyelesaian tertentu, karena tiap
kondisi batas memiliki persamaan-persamaan
yang berbeda antara satu dengan lainnya. Paling
tidak ada dua variable yang harus ditentukan
untuk mendapatkan penyelesaian khusus,
dengan memilih diantara empat variable, yaitu :
tekanan yang masuk, laju alir yang masuk,
tekanan yang keluar, dan laju alir yang keluar.
Pada makalah ini kondisi batas ditentukan
dimana tekanan yang keluar dipertahankan
konstan seperti kondisi awal, sedangkan tekanan
yang masuk dinaikkan sebesar dua kali dan
dipertahankan pada harga tersebut.
Aliran gas pada pipa transmisi yang
mengalami line packing cenderung akan
berperilaku sebagai aliran transient (unsteady
state). Hal ini disebabkan karena line packing
sendiri merupakan proses dimana tekanan yang
dikenakan pada gas berubah terhadap waktu.
Oleh karena itu model matematika yang
dikembangkan untuk aliran gas pada kondisi
line packing akan lebih sesuai apabila
menggunakan model transient daripada model
steady-state.
Ada tiga persamaan yang digunakan
untuk mendesain model matematika aliran
transient pada pipa transmisi gas, yaitu
persamaan kontinuitas, persamaan momentum,
dan persamaan keadaan gas
1,6,8)
. Asumsi-asumsi
yang biasanya dibuat adalah aliran isothermal,
berlaku faktor gesekan kondisi steady, dan tidak
terjadi ekspansi atau kontraksi pipa pada kondisi
terbebani.
Persamaan kontinuitas satu dimensi
untuk aliran gas pada pipa dengan luas
penampang konstan adalah :
( )
0
t x
v c c
+ =
c c
(1)
Persamaan momentum satu dimensi untuk aliran
gas pada pipa horisontal dengan distribusi
temperatur seragam sepanjang pipa adalah :
2
2
( ) ( )
0
2
g
f
p
t x x D
v
v v c c c
+ + + =
c c c
(2)
Persamaan keadaan gas alam adalah :
zRT
p
M
=
(3)
Dengan mengasumsikan kondisi aliran dalam
pipa adalah isothermal maka kecepatan
gelombang suara dapat dihitung dengan
persamaan :
1/ 2
zRT
c
M
| |
=
|
\ .
(4)
Dengan mengambil m=34 dan mensubstitusikan
persamaan (4) ke dalam persamaan (3), maka
persamaan (1) dan (2) dapat disusun ulang dan
menghasilkan persamaan diferensial parsial
hiperbolik nonlinier orde pertama satu dimensi
untuk aliran transient pada pipa transmisi gas
horisontal sebagai berikut :
( )
( )
,
F U
U
r U
t x
c
c
+ =
c c
ur ur
ur
r ur
(5)
dengan :
U
m
| |
=
|
\ .
ur
,
2
2
m
F
m
c

| |
|
=
|
+
|
\ .
ur
,
( )
0
2
g
r U f m m
D
| |
|
=
|

|
\ .
r ur
(6)

Kondisi Awal

Untuk menyelesaikan persamaan (5)
diperlukan data masukan berupa data densitas
Proceeding Simposium Nasional IATMI
25 - 28 Juli 2007, UPN Veteran Yogyakarta

IATMI 2007 TS 20 3
gas 3 dan laju alir massa gas m (m=3u)
sepanjang pipa, yang dipengaruhi oleh
perubahan kondisi pada inlet dan outlet pipa.
Pada kondisi awal keadaan steady digunakan
persamaan yang diusulkan oleh Zhou and
Adewumi
7)
sebagai berikut :
( )
2 2
2 2
0 2 2
0 0
ln
g g
D Dc
L
f f m

| |
=
|
\ .
(7)
dengan :
0
= densitas gas di inlet dan
= densitas gas di outlet (misalnya pada x = L).
Jika parameter-parameter seperti
densitas gas di inlet, laju alir massa, faktor
gesekan, kecepatan suara, diameter dan panjang
pipa diketahui, maka densitas gas di outlet dapat
diperoleh dari persamaan (7) dengan
menggunakan fixed-point algorithm. Hal ini
dimungkinkan karena faktor kompresibilitas gas
diasumsikan tidak ada perubahan sepanjang
segmen pipa.
Di dalam pipa aliran yang terjadi akan
menghasilkan faktor gesekan yang
menggambarkan perubahan energi mekanik
aliran menjadi energi panas selama proses
aliran. Perubahan energi mekanik ini disebut
sebagai kehilangan energi untuk
menggambarkan semua kehilangan energi akibat
proses irreversible.
Pada aliran satu fasa dalam pipa proses
irreversible merupakan proses yang
menyebabkan kehilangan energi akibat adanya
faktor gesekan. Kehilangan energi yang terjadi
pada pipa dapat disebabkan karena gesekan,
efek viskositas dan kekasaran bagian dalam
pipa
1,4,5)
.
Faktor gesekan pada umumnya
bergantung pada laju alir serta diameter dalam
pipa. Untuk metode Blausius, Panhandle A, dan
Panhandle B, faktor gesekan adalah fungsi dari
bilangan Reynold. Bilangan Reynold adalah
bilangan tak berdimensi yang didefinisikan
sebagai :
RE
Dv
N

= (8)
Jika besaran-besaran pada persamaan diatas
dihitung pada satuan lapangan, maka Bilangan
Reynold menjadi :
D
SG Q
N
RE

20
=
(9)
Dalam penelitian ini persamaan friksi yang
digunakan adalah persamaan Chen, yaitu :
(10)
Sedangkan harga faktor kompresibilitas gas
dihitung menggunakan metode Dranchuk,
Purvis dan Robinson
4)
.
Kondisi Batas

Kondisi batas sistem dibuat sedemikian
rupa sehingga memungkinkan untuk mencakup
situasi di lapangan yang bervariasi. Secara
umum kondisi batas sistem dapat
dikelompokkan ke dalam dua batasan, yaitu :
2,6,7)
1. Pada inlet,
a. Jika densitas atau tekanan dipertahankan
konstan atau fungsi dari waktu, maka
persamaan finite difference di inlet pipa
dapat ditulis sebagai berikut :
(11)
b. Jika laju alir massa atau laju alir gas
dipertahankan konstan atau fungsi dari
waktu, maka persamaan finite difference di
inlet pipa dapat ditulis sebagai berikut :
( )
1
0 0 0 1
n n n n
t
m m
x

+
A
= +
A
(12)
2. Pada Outlet,
a. Jika densitas atau tekanan dipertahankan
konstan atau fungsi dari waktu, maka maka
persamaan finite difference di outlet pipa
dapat ditulis sebagai berikut :
Proceeding Simposium Nasional IATMI
25 - 28 Juli 2007, UPN Veteran Yogyakarta

IATMI 2007 TS 20 4
Proceeding Simposium Nasional IATMI
25 - 28 Juli 2007, UPN Veteran Yogyakarta

IATMI 2007 TS 20 5
Nilai-nilai konstanta
1
A sampai
8
A adalah
sebagai berikut
68446549 . 0
68157001 . 0
10488813 . 0
61232032 . 0
53530771 . 0
57832729 . 0
04670990 . 1
31506237 . 0
8
7
6
5
4
3
2
1
=
=
=
=
=
=
=
=
A
A
A
A
A
A
A
A
Untuk mempermudah perhitungan saat
transient, metode diatas didekati oleh polinom
berderajat dua seperti pada persamaan (17)
dibawah. Sehingga faktor deviasi gas kini
sepenuhnya merupakan fungsi dari tekanan.
(17)
Untuk memperoleh koefisien dari polinom ini
diterapkan metode curve fitting pada kurva
metode Drancuk et al.yang di evaluasi pada
tekanan 15 sampai 3000 psia.

STUDI KASUS

Untuk menganalisa perilaku tekanan gas
sepanjang pipa pada kondisi line packing,
berikut diberikan tiga buah contoh kasus. Pada
kasus pertama disimulasikan suatu contoh kasus
dengan tujuan untuk validasi model dengan
beberapa metode dan data lapangan yang
diambil dari paper Zhou dan Adewumi (Zhou
dan Adewumi, M.A.,1995).
Pipa yang digunakan pada kasus satu
mempunyai panjang 300 kaki, diameter dalam
24 inci, dan kekasaran absolut 0,0243. Pipa
berisi gas dengan specific gravity (SG) 0,675
berada dalam kondisi diam tidak ada aliran
dengan tekanan 600 psia dan temperatur 50

F.
Pada t > 0, laju alir gas di inlet dinaikkan secara
linear hingga mencapai 600 MMSCF/D dalam
waktu 0,145 detik. Setelah mencapai 600
MMSCF/D, laju alir gas di inlet kembali
diturunkan sampai mencapai nol pada saat 0,29
detik. Sementara itu pipa ditutup di bagian outlet
sehingga laju alirnya tetap nol. Faktor gesekan
yang dipakai sebesar 0,03. Simulasi dijalankan
selama 0,8 detik.
Pipa transmisi yang digunakan pada
kasus kedua dan ketiga mempunyai panjang 50
km, diameter 20 inci, dan kekasaran absolut
0,0007. Pipa dialiri gas alam dengan dengan
specific gravity 0,697.
Pada kasus kedua, kondisi awal pipa
merupakan pipa baru sehingga tidak terdapat
aliran gas di dalamnya (no flow) dengan
temperatur operasi sebesar 90F. Pada t>0,
tekanan di inlet dinaikkan menjadi 3000 psia
secara eksponensial dan dijaga konstan
sementara alir gas di outlet ditutup. Proses ini
berhenti ketika tekanan di outlet mencapai 2990
psia.
Pada kasus ketiga, kondisi awal dalam
pipa terdapat aliran steady gas dengan laju alir
sebesar 100 MMscf/D dengan tekanan inlet
sebesar 1000 psia serta temperatur operasi
sebesar 90F. Pada t>0, tekanan di inlet
dinaikkan menjadi 2000 psia secara
eksponensial dan dijaga konstan sementara alir
gas di outlet dijaga konstan sebesar 100
MMscf/D. Proses ini akan terus berlangsung
sampai tekanan di outlet mencapai 2000 psia
atau sama dengan tekanan di outlet.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Kasus 1
Hasil simulasi kasus 1 dapat dilihat pada
gambar 1 dan gambar 2.

Kasus 2
Gambar 3 menunjukan perilaku tekanan
gas di tiga titik pada pipa, yaitu inlet, mid point,
dan outlet. Tekanan di inlet dinaikkan secara
eksponensial hingga mencapai 3000 psia dan
dijaga konstan sepanjang simulasi berlangsung.
Sebagai hasilnya, tekanan gas di mid point dan
outlet juga meningkat. Di mid point, tekanan gas
mulai meningkat 7 menit kemudian, sementara
di outlet, tekanan gas mulai meningkat setelah
15 menit.
Gambar 4 menunjukkan perilaku laju
alir gas di tiga titik pada pipa, yaitu inlet, mid
point, dan outlet. Pada 7 menit pertama lonjakan
yang sangat besar pada laju alir gas di inlet. Hal
ini terjadi karena perbedaan tekanan (pressure
drop) di pipa di 7 menit pertama juga sangat
besar. Di periode waktu berikutnya, laju alir gas
berkurang menuju nol sampai akhir simulasi
sebab hampir tidak ada perbedaan tekanan
antara inlet dan outlet. Pada waktu itu tekanan
outlet telah mencapai 2990 psia. Di mid point,
tidak ada gas yang mengalir (laju alir gas sama
dengan nol) pada 7 menit pertama sebab tidak
ada perbedaan tekanan antara mid point dan
Proceeding Simposium Nasional IATMI
25 - 28 Juli 2007, UPN Veteran Yogyakarta

IATMI 2007 TS 20 6
outlet. Kemudian laju alir gas di mid point mulai
meningkat mencapai puncaknya pada t = 35
menit. Hal ini terjadi sebab perbedaan tekanan
pada waktu itu paling besar. Setelah itu, laju alir
di mid point terus menurun seiring dengan
berkurangnya perbedaan tekanan dengan
outlet.Laju alir gas di outlet tetap nol sebab
memang sengaja ditutup.
Gambar 5 menunjukkan capaian dari
volume gas dalam pipa. Kenaikan volume yang
cukup besar terjadi pada 7 menit pertama
diakibatkan oleh laju alir yang juga meningkat
tajam pada periode waktu ini. Setelah itu
volume bertambah secara perlahan sampai akhir
simulasi. Volume gas yang dipak dalam pipa
transmisi pada akhir simulasi adalah 71,8
MMSCF.
Gambar 6 dan gambar 7 menunjukkan
distribusi dari tekanan dan laju alir gas
sepanjang pipa pada beberapa waktu tertentu.
Pada t= 7 menit gas baru saja tiba pada daerah
mid point pipa, sementara tekanan di inlet telah
mencapai 2500 psia. Oleh karena itu kita
mempunyai perbedaan tekanan yang sangat
besar antara inlet dan mid point, sementara
antara mid point dan outlet perbedaannya sangat
kecil. Hal inilah yang menyebabkan laju alir di
inlet jauh lebih besar dari laju alir di mid point
seperti yang dapat dilihat pada gambar 7. Pada
t= 51,7 menit, dapat dilihat bahwa perbedaan
tekanan antara inlet dan outlet tidak sebesar
sebelumnya sehingga laju alir gas di inlet juga
menjadi lebih kecil. Pada saat yang sama,
perbedaan tekanan antara mid point dan outlet
justru lebih besar. Hal ini mengakibatkan laju
alir di mid point lebih besar dari saat t= 7 menit.
Waktu terakhir kita amati adalah akhir simulasi
yaitu saat t= 103,3 menit. Saat ini tekanan pada
sepanjang pipa hampir seragam. Sehingga
distribusi laju alir gas pun hampir seragam.
Pada gambar 8 dapat kita lihat
perubahan nilai faktor deviasi gas di tiga titik
pada pipa, yaitu inlet, mid point, dan outlet
selama simulasi berlangsung.

Kasus 3
Gambar 9 menunjukan perilaku tekanan
gas di tiga titik pada pipa, yaitu inlet, mid point,
dan outlet. Tekanan di inlet dinaikkan secara
eksponensial hingga mencapai 2000 psia dan
dijaga konstan sepanjang simulasi berlangsung.
Sebagai hasilnya, tekanan gas di mid point dan
outlet juga meningkat. Di mid point, tekanan gas
mulai meningkat 5 menit kemudian, sementara
di outlet, tekanan gas mulai meningkat setelah
10 menit.
Gambar 10 menunjukkan perilaku laju
alir gas di tiga titik pada pipa, yaitu inlet, mid
point, dan outlet. Pada 5 menit pertama lonjakan
yang sangat besar pada laju alir gas di inlet. Hal
ini terjadi karena perbedaan tekanan (pressure
drop) di pipa di 5 menit pertama juga sangat
besar. Di periode waktu berikutnya, laju alir gas
berkurang menuju 100 MMscf/D sebab sampai
akhir simulasi tidak ada perbedaan tekanan
antara inlet dan outlet. Pada waktu itu tekanan
outlet telah mencapai 2000 psia. Di mid point,
tidak ada perubahan pada laju alir gas pada 3
menit pertama sebab tidak ada perbedaan
tekanan antara mid point dan outlet. Kemudian
laju alir gas di mid point mulai meningkat
mencapai puncaknya pada t = 18 menit. Hal ini
terjadi sebab perbedaan tekanan pada waktu itu
paling besar. Setelah itu, laju alir di mid point
terus menurun seiring dengan berkurangnya
perbedaan tekanan dengan outlet. Laju alir gas
di outlet tetap dijaga konstan pada nilai 100
MMscf/D.
Gambar 11 menunjukkan capaian dari
volume gas dalam pipa. Kenaikan volume yang
cukup besar terjadi pada 5 menit pertama
diakibatkan oleh laju alir yang juga meningkat
tajam pada periode waktu ini. Setelah itu
volume bertambah secara perlahan sampai akhir
simulasi. Mulai t = 65 menit hingga akhir
simulasi volume gas bertambah sangat sedikit
sebab pada periode waktu ini perbedaan laju alir
gas di inlet dan outlet juga sangat kecil sehingga
mempengaruhi jumlah gas yang dapat dipak
dalam pipa. Volume gas yang dipak dalam pipa
transmisi pada akhir simulasi adalah 48
MMSCF.
Gambar 12 dan gambar 13
menunjukkan distribusi dari tekanan dan laju
alir gas sepanjang pipa pada beberapa waktu
tertentu. Pada t= 3 menit gas baru saja tiba pada
daerah mid point pipa, sementara tekanan di
inlet telah mencapai 1300 psia. Oleh karena itu
kita mempunyai perbedaan tekanan yang cukup
besar antara inlet dan mid point, sementara
antara mid point dan outlet perbedaannya sangat
kecil. Hal inilah yang menyebabkan laju alir di
inlet jauh lebih besar dari laju alir di mid point
seperti yang dapat dilihat pada gambar 13. Pada
t= 50,2 menit, dapat dilihat bahwa perbedaan
tekanan antara inlet dan outlet tidak sebesar
sebelumnya sehingga laju alir gas di inlet juga
menjadi lebih kecil. Pada saat yang sama,
Proceeding Simposium Nasional IATMI
25 - 28 Juli 2007, UPN Veteran Yogyakarta

IATMI 2007 TS 20 7
perbedaan tekanan antara mid point dan outlet
justru lebih besar. Hal ini mengakibatkan laju
alir di mid point lebih besar dari saat t= 3 menit.
Waktu terakhir kita amati adalah akhir simulasi
yaitu saat t= 100,4 menit. Saat ini tekanan pada
sepanjang pipa hampir seragam. Sehingga
distribusi laju alir gas sepanjang pipa pun sama
dengan laju alir di outlet yaitu 100 MMscf/D.
Pada gambar 14 dapat kita lihat
perubahan nilai faktor defiasi gas di tiga titik
pada pipa, yaitu inlet, mid point, dan outlet
selama simulasi berlangsung.

KESIMPULAN

1. Metode yang dikembangkan dengan
menggunakan faktor deviasi gas sebagai
fungsi tekanan memberikan hasil yang
lebih mendekati dengan data lapangan
dibandingkan dengan metode yang
menggunakan faktor deviasi gas rata-rata.
2. Metode yang dikembangkan ini dapat
diterapkan untuk memprediksi perilaku
aliran gas dalam pipa saat transient, baik
pada pipa baru maupun pada pipa yang
sudah ada.
3. Metode yang dikembangkan ini dapat
menghitung besarnya volume yang
tersimpan dalam pipa.
4. Metode yang dikembangkan ini dapat
menghitung waktu yang dibutuhkan untuk
packing.
DAFTAR SIMBOL

A = luas penampang pipa
c = kecepatan suara dalam gas
u = kecepatan gas
D = diameter dalam pipa
g
f = faktor gesekan gas
L = panjang total pipa
m = laju alir massa
0
m = laju alir massa di inlet
g
M = massa molekul relatif dari gas
RE
N = bilangan Reynolds
P = tekanan
Q = laju alir gas
T = temperatur absolut gas
t = waktu
V = volume gas dalam pipa
x = jarak
Z = faktor deviasi gas
x A = uniform grid size
t A = uniform time step
B = kekasaran pipa
g
= specific gravity gas
g
= viskositas
= rapat massa gas
0
= rapat massa gas di inlet

Subskrip
g = gas
0 = kondisi di inlet,
j-1, j, j +1 = titik-titik ke (j-1), j, dan (j +1)
pada pipa

Superskrip
n, n+1 = tingkatan waktu ke n, n+1

DAFTAR PUSTAKA

Sulistyarso, H.B., Trihandaru, S., Mucharam, L.,
Siregar, S., Saputra, I., dan Canggih, S.,
Solusi Model Aliran Gas Dalam Pipa pada
Kondisi Line Packing Menggunakan
Skema Richtmyer, Proceedings ITB Sains
& Teknologi, Volume 36A No.2,
Th.2004, Lembaga Penelitian dan
Pemberdayaan Masyarakat, Institut
Teknologi Bandung, 2004, pp. 159177.

Sulistyarso, H.B., Mucharam, L., Siregar, S.,
Soewono, E., Darmadi, Saputra, I.,
Canggih, S., dan Udayana, W.T. (2006),
Modelling Transient Gas Flow Under Line
Packing Conditions, Journal of JTM ,
Volume XIII No.2/2006, Fakultas Ilmu
Kebumian dan Teknologi Mineral, Institut
Teknologi Bandung, 2006, pp. 81-90.

Hoffman, Joe. D., Numerical Methods for
Engineers and Scientist, Mc.Graw-
Hill International Editions, Printed in
Singapore, 1993.

Ikoku, Chi.U., Natural Gas Production
Engineering, John Wyley & Sons Inc.,
Canada, 1984.

Wylie, E.B., and Streeter, V.L., Fluid
Transient, Mc.Graw-Hill Inc., New
York, 1988.

Proceeding Simposium Nasional IATMI
25 - 28 Juli 2007, UPN Veteran Yogyakarta

IATMI 2007 TS 20 8
Zhou, J., and Adewumi, M.A., Simulation of
Transient in Natural Gas Pipelines
Using Hybrid TVD Scheme, Int. J.
Numer. Meth. Fluids, 32, 2000, pp. 407-
437

590
600
610
620
630
640
650
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8
Waktu (detik)
T
e
k
a
n
a
n
(
p
s
i
a
)Data Lap
Zhou&Adewumi
Faktor Z konstan
Faktor Z variatif
GAMBAR 1. VALIDASI TEKANAN GAS DI INLET KASUS 1

590
600
610
620
630
640
650
660
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8
Waktu (detik)
T
e
k
a
n
a
n
(
P
s
i
a
)
Data Lap
Zhou&Adewumi
Faktor Z konstan
Faktor Z variatif
GAMBAR 2. VALIDASI TEKANAN GAS DI OUTLET KASUS 1

Proceeding Simposium Nasional IATMI
25 - 28 Juli 2007, UPN Veteran Yogyakarta

IATMI 2007 TS 20 9
GAMBAR 3. PERILAKU TEKANAN GAS TERHADAP WAKTU, KASUS 2

GAMBAR 4. PERILAKU LAJU ALIR GAS TERHADAP WAKTU, KASUS 2

GAMBAR 5. VOLUME GAS DALAM PIPA, KASUS 2

Proceeding Simposium Nasional IATMI
25 - 28 Juli 2007, UPN Veteran Yogyakarta

IATMI 2007 TS 20 10
GAMBAR 6. DISTRIBUSI TEKANAN GAS SEPANJANG PIPA, KASUS 2

GAMBAR 7. DISTRIBUSI LAJU ALIR GAS SEPANJANG PIPA, KASUS 2

GAMBAR 8. FAKTOR DEVIASI GAS SELAMA SIMULASI, KASUS 2

Proceeding Simposium Nasional IATMI
25 - 28 Juli 2007, UPN Veteran Yogyakarta

IATMI 2007 TS 20 11
GAMBAR 9. PERILAKU TEKANAN GAS TERHADAP WAKTU, KASUS 3

GAMBAR 10. PERILAKU LAJU ALIR GAS TERHADAP WAKTU, KASUS 3

GAMBAR 11. VOLUME GAS DALAM PIPA, KASUS 3

Proceeding Simposium Nasional IATMI
25 - 28 Juli 2007, UPN Veteran Yogyakarta

IATMI 2007 TS 20 12
GAMBAR 12. DISTRIBUSI TEKANAN GAS SEPANJANG PIPA, KASUS 3

GAMBAR 13. DISTRIBUSI LAJU ALIR GAS SEPANJANG PIPA, KASUS 3

GAMBAR 14. FAKTOR DEVIASI GAS SELAMA SIMULASI, KASUS 3