Anda di halaman 1dari 1

Prinsip dan Orientasi Bimbingan dan Konseling

Prinsip - Prinsip Bimbingan Dan Konseling


Prinsip dalam bimbingan dan konseling merupakan pedoman dalam pelaksanaan BK, untuk menghindari dari
kesalahan dalam praktik pemberian layanan BK.
A. Prinsip - Prinsip Umum
a) Sikap dan tingkah laku seseorang merupakan refleksi dari kepribadian seseorang
b) Layanan Bimbingan dan Konseling yang berhasil diawali dengan telaah kebutuhan dan kesulitan individu,
c) Bimbingan dan Konseling adalah bantuan yang pada akhirnya klien dapat memecahkan masalahnya
sendiri dengan kemampuannya sendiri,
d) Dalam proses Bimbingan dan Konseling, klien harus aktif, dinamis, banyak ide, sehingga proses Bimbingan
dan Konseling berpusat pada klien,
e) Apabila permasalahan individu tidak dapat ditangani oleh petugas Bimbingan dan Konseling, maka
diperlukan reveral,
f) Program Bimbingan dan Konseling tidak boleh bertentangan dengan program pendidikan,
g) Petugas Bimbingan dan Konseling hendaknya memiliki kemampuan professional sebagai konselor,
h) Dalam program Bimbingan dan Konseling hendaknya dilakukan evaluasi secara terprogram untuk
mengetahui keberhasilannya.
B. Prinsip Prinsip Khusus
a) Prinsip-prinsip berkenaan dengan sasaran layanan.
b) Prinsip-prinsip berkenaan dengan permasalahan individu.
c) Prinsip-prinsip berkenaan dengan program layanan.
d) Prinsip-prinsip berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan.
Orientasi Bimbingan dan Konseling
Orientasi ialah pusat perhatian atau titik berat pandangan konselor terhadap kliennya.
A. Orientasi Perseorangan
Orientasi perseorangan bimbingan dan konseling menghendaki agar konselor menitikberatkan
pandangannya pada siswa secara individual. Individu diutamakan dan kelompok dianggap sebagai lapangan yang
dapat memberikan pengaruh tertentu terhadap individu.
a) Semua kegiatan pelayanan BK diarahkan bagi peningkatan perwujudan diri sendiri setiap individu yang
menjadi sasaran layanan.
b) Pelayanan BK meliputi kegiatan berkenaan dengan individu untuk memahami kebutuhan-kebutuhannya,
motivasi-motivasinya, dan kemampuan-kemampuan potensialnya, yang semuanya unik, serta untuk
membantu individu agar dapat menghargai kebutuhan, motivasi, dan potensianya itu ke arah
pengembangannya yang optimal, dan pemanfaatan yang sebesar-besarnya bagi diri dan lingkungannya.
c) Setiap klien harus diterima sebagai individu dan harus ditangani secara individual (Rogers, dalam
McDaniel, 1956)
d) Adalah menjadi tanggung jawab konselor untuk memahami minat, kemampuan dan perasaan klien serta
untuk menyesuaikan program-program pelayanan dengan kebutuhan klien setepat mungkin.
B. Orientasi Perkembangan
Orientasi perkembangan dalam BK lebih menekankan lagi pentingnya peranan perkembangan yang terjadi
dan yang hendaknya diterjadikan pada diri individu. Peranan bimbingan dan konseling adalah memberikan
kemudahan-kemudahan bagi gerak individu menjalani alur perkembangannya.
C. Orientasi Permasalahan
Perjalanan kehidupan dan proses perkembangan sering kali ternyata tidak mulus, banyak mengalami
hambatan dan rintangan, yang dapat mengganggu tercapainya kebahagiaan. Agar tujuan hidup dan
perkembangan, yang sebagian adalah tujuan bimbingan dan konseling, itu dapat tercapai dengan sebaik-baiknya,
maka risiko yang mungkin menimpa kehidupan dan perkembangan itu harus selalu diwaspadai. Kewaspadaan
itulah yang melahirkan konsep orientasi masalah dalam pelayanan bimbingan dan konseling.