Anda di halaman 1dari 41

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dewasa ini penggunaan kendaraan bermotor bukan hal yang asing
lagi bagi masyarakat. Hal ini membuat peluang industri di dalam usaha
perbaikan atau perawatan motor menjadi kebutuhan masyarakat. Bengkel
yang saat ini tidak menjadi tempat yang langka membuat para pengusaha
untuk bersaing membuat bengkel yang dapat memberikan pelayanan
terbaik untuk pelanggannya. Namun yang kurang terlalu diperhatikan
adalah keadaan bengkel yang seperti apa yang baik untuk para
pekerjanya karena para pekerja bengkel memiliki pekerjaan yang
berdekatan dengan berbagai macam bahaya (hazard).
Bengkel secara umum tempat (bangunan atau ruangan) untuk
perawatan/pemeliharaan, perbaikan, modifikasi alat dan mesin (alsin),
tempat pembuatan bagian mesin dan perakitan alsin. Di dalam bengkel
harus terdapat alat-alat dan bahan-bahan yang menunjang kegiatan-
kegiatan yang dilakukan di bengkel tersebut dan setiap pihak yang
bersangkutan dengan kegiatan ini harus memahami masalah
keselamatan dan kesehatan kerja. Keselamatan seorang atau
sekelompok menjadi sangat penting untuk berjalannya sistem kerja dalam
bengkel. Semua peralatan tangan dan mesin akan menjadi bahaya bagi
pengguna apabila digunakan secara tidak tepat dan sembarangan.
Selain alat-alat dan bahan di dalam bengkel, hal-hal lain juga
banyak yang harus diperhatikan terutama menyangkut dalam upaya
kenyamanan pekerja sehingga kesehatan dan keselamatan pekerja bias
terjaga selama bekerja di bengkel. Seperti contohnya adalah dalam hal
sanitasi dan kenyamanan ruangan di bengkel.
2

Bengkel Rey Raf AHASS Motor 8337 merupakan salah satu
bengkel yang terdapat di kota Jember yang melayani di bidang perawatan
dan perbaikan motor milik induk perusahaan Honda. Bengkel tersebut
merupakan salah satu bengkel yang telah memiliki nama di antara
pesaing bengkel motor lainnya, namun apakah di dalam bengkel tersebut
sudah menerapkan prinsip hygiene atau tidak belum diketahui
kepastiannya. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan
pengamatan atau observasi pada bengkel tersebut untuk mengetahui
bagaimana pelaksanaan hygiene industri di bengkel tersebut.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Menganalisis implementasi dan evaluasi hygiene industri di Rey
Raf AHASS MOTOR 8337.

1.2.2 Tujuan khusus
a. Menganalisis keadaan sanitasi tempat kerja.
b. Mengidentifikasi dan menganalisis bahaya-bahaya yang dapat
terjadi di tempat kerja tersebut.
c. Memberikan rekomendasi terhadap bahaya-bahaya yang dapat
terjadi.
d. Memberikan pengalaman pada penulis dalam menggunakan
salah satu teknik mengidentifikasi hazard yaitu dengan
menggunakan walk trough survey.


3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Hygiene Lingkungan Kerja
Hygiene lingkungan kerja merupakan ilmu dan seni yang mencurahkan
perhatian pada pengenalan, evaluasi, dan kontrol faktor lingkungan dan
stress yang muncul di tempat kerja yang mungkin menyebabkan kesakitan,
gangguan kesehatan, dan kesejahteraan atau menimbulkan
ketidaknyamanan pada tenaga kerja maupun lingkungannya (Haryono dan
Subaris, 2007).

2.2 Pengertian Bengkel
Bengkel secara umum adalah tempat (bangunan atau ruangan) untuk
perawatan/pemeliharaan, perbaikan, modifikasi alat dan mesin (alsin),
tempat pembuatan bagian mesin dan perakitan alat dan mesin (Ayan, 2002).
Sedangkan di dalam bengkel harus terdapat alat-alat dan bahan-bahan yang
menunjang kegiatan-kegiatan yang dilakukan di bengkel tersebut dan setiap
pihak yang bersangkutan dengan kegiatan ini harus memahami masalah
keselamatan dan kesehatan kerja.

2.3 Jenis-jenis Bengkel
Pada umumnya bengkel mempunyai spesifikasi tertentu menurut jenis
pekerjaan jasa yang dapat dilayaninya, yaitu :
2.3.1 Bengkel bubut
Bengkel yang mempunyai kemampuan untuk menghasilkan benda-
benda tertentu, seperti skrup, mur/baut, as, membuat bentuk suatu
4

alat dengan spesifikasi/ukuran tertentu yang kadang-kadang
ukurannya tidak standar atau sulit ditemukan di pasaran.
2.3.2 Bengkel listrik
Bengkel yang mempunyai kemampuan untuk memperbaiki
peralatan-peralatan yang berhubungan dengan penggunaan tenaga
listrik, seperti dynamo, coil, rangkaian dalam peralatan listrik, dan
lain-lain.
2.3.3 Bengkel las
Bengkel yang mempunyai kemampuan untuk melakukan
penyambungan berbagai jenis logam yang terpisah.
2.3.4 Bengkel umum kendaraan bermotor
Bengkel umum kendaraan bermotor yang berfungsi untuk
memperbaiki dan merawat kendaraan bermotor agar tetap
memenuhi persyaratan teknis dan layak jalan.

2.4 Manajemen Bengkel
Manajemen merupakan alat untuk mencapai tujuan dan tujuan itu
sendiri merupakan realisasi dari kebutuhan sehingga secara tak langsung
manajemen adalah alat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Manajemen
bengkel adalah alat untuk mengatur efektivitas dan efisiensi bengkel.
Pengelolaan manajemen bengkel yang baik diharapkan dapat mengatur dan
menggerakkan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan bengkel
tersebut (Daryanto, 2007).
Seluruh peralatan dan mesin tentu memerlukan suatu pekerja atau
operator untuk mengoperasikannya. Keselamatan seorang atau sekelompok
menjadi sangat penting untuk berjalannya sistem kerja dalam bengkel.
Semua peralatan tangan dan mesin akan menjadi bahaya bagi pengguan
5

apabila digunakan secara tidak tepat dan sembarangan. Dengan demikian
diperlukan manajemen bengkel yang baik.
Menurut Daryanto (2007) adapun kondisi yang diharapkan adalah :
a. Suasana nyaman, bersih, tertib dan indah
b. Kondisi peralatan yang baik dan siap pakai
c. Cukup penerangan dan ventilasi
d. Bangunan ruang bengkel terpelihara baik, tidak ada kebocoran, semua
pintu dan jendela aman
e. Halaman dan tanaman terpilihara baik
f. Instalasi listrik yang memadai dan aman
g. Sistem sirkulasi peralatan aman dan lancer
h. Instalasi air terjamin, lancar dan bersih
i. Tersedia alat pemadam kebakaran
Menurut Daryanto (2007), hal yang harus diperhatikan dalam
merencanakan bengkel antara lain:
a. Tata letak bengkel atau lay out
b. Ukuran dan jenis bengkel
c. Ruang gerak
d. Hubungan antar-ruang
e. Karakteristik pengaturan
2.4.1 Perawatan Bengkel
Pekerjaan perbengkelan selalu dibutuhkan oleh setiap unit
kehidupan. Hal tersebut disebabkan oleh sifat alami barang-barang
perlengkapan kehidupan yang selalu membutuhkan perawatan serta
6

mengalami kerusakan dari waktu ke waktu. Dapat dikatakan bahwa
pekerjaan perbengkelan hampir selalu menyertai setiap pemilikan
barang.
Menurut Sumaryono (1992) perawatan adalah usaha yang
dilakukan terhadap mesin/peralatan agar selalu siap digunakan.
Perawatan dimaksudkan agar laju kerusakan dapat ditahan serta
kerusakan fatal dapat dihindari. Pada suatu perusahaan yang banyak
menggunakan mesin, adanya bengkel adalah hal yang penting.
Mesin-mesin perlu dirawat secara berkala, sehingga membutuhkan
perkakas perawatan. Soemantri (1989) menjelaskan bahwa
penggunaan sistem perawatan pada dasarnya mempunyai tujuan
merawat peralatan/mesin mesin sehingga akan selalu dalam kondisi
optimal produktivitasnya dan dapat dipercaya kualitas produksinya,
serta mencegah terjadinya kerusakan mendadak pada saat mesin
beroperasi. Mesin-mesin juga mengalami kerusakan dalam
pemakaiannya, sehingga diperlukan perbaikan. Jika mesin tidak
dirawat dengan semestinya, maka umur pemakaian akan berkurang
sehingga merugikan perusahaan. Jika mesin rusak, maka jadwal
kegiatan akan terganggu sehingga akan merugikan perusahaan.
Menurut Daryanto (2007) tujuan perawatan antara lain:
1. Memperpanjang usia aset, yang dimaksud aset yaitu suatu
bagian dari suatu tempat kerja, bangunan dan isinya. Hal ini
penting terutama di negara berkembang karena kurangnya
sumber daya modal untuk penggantian. Di negara-negara maju
kadang-kadang lebih menguntungkan mengganti daripada
memelihara.
2. Menjamin ketersediaan optimum peralatan yang dipasang
untuk produksi atau jasa dan mendapatkan laba investasi
maksimum yang mungkin.
7

3. Mendapatkan kesiapan operasional dari seluruh peralatan yang
diperlukan dalm keadaan darurat setiap waktu, misalnya unit
cadangan, unit pemadam kebakaran, dan penyelamat.
4. Menjamin keselamatan orang yang menggunakan sarana
tersebut.
5. Peralatan yang dapat digunakan terus menerus untuk
berproduksi.
Adapun untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak
diinginkan ketika bekerja di bengkel menurut Sumamur PK (1987),
baiknya memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1. Memakai pakaian dengan pelindung badan yang lengkap
seperti jas bengkel, kacamata, pelindung tangan, sepatu, helm.
2. Bersikap mawas diri terhadap kemungkinan terjadinya
kecelakaan.
3. Bekerja dengan serius, cepat dan teliti, dan tekun.
4. Tidak melamun dan peduli ketika bekerja.
5. Jangan berbuat bodoh ketika bekerja.
6. Beristirahat ketika mulai capek atau bosan.
7. Hindarkan becanda selama bekerja.
8. Jangan beranggapan bahwa mesin yang biasa digunakan itu
aman untuk kita.
2.4.2 Tata Letak
Pada setiap bengkel yang ada diharapkan memiliki
perencanaan yang mantap, baik perencanaan dalam jangka pendek,
menengah maupun dalam jangka panjang. Beroperasinya sebuah
bengkel secara efektif dan efisien tidak terlepas dari aspek
pengorganisasian. Menurut Oetomo dan Tadjo (1989) perencanaan
8

tata letak adalah merupakan suatu perencanaan lantai, guna
menentukan serta menyusun peralatan yang diperlukan oleh bengkel
pada tempat yang tepat.
Tujuan pengorganisasian peralatan/mesin-mesin menurut
Sumaryono (1992) adalah:
a. menciptakan ruang gerak yang aman sehingga dapat
mencegah resiko kecelakaan kerja,
b. mempermudah melakukan perawatan dan perbaikan,
menciptakan kenyamanan kerja karena keteraturan bengkel,
c. memanfaatkan bengkel agar secara lebih efisien,
d. melaksanakan pengawasan bengkel lebih mudah,dan
e. mempercepat proses produksi karena aliran kerja sudah
direncakan secara baik.
Di dalam bengkel permesinan menurut Robert (dalam Storm,
1979) hendaknya tersedia ruang kepala bengkel, ruang guru
instruktur, ruang laboran, ruang kerja/proses, ruang perlengkapan/
penyimpanan alat, ruang penyimpanan bahan, dan ruang ganti
pakaian siswa. Selain itu agar praktikan mempunyai perasaan
senang, dapat meningkatkan semangat, kemampuan kerja, dan sikap
inovatif dan kreatif, maka ruang kerja harus dijaga tetap bersih dan
rapi.
Selain hal di atas, perencanaan penerangan, ventilasi, suhu,
dan kelembapan udara juga harus mendapatkan perhatian.
Penerangan yang baik akan dapat mengurangi ketegangan otot
mata, memudahkan penglihatan, dan meningkatkan ketelitian dalam
bekerja, meningkatkan semangat dan gairah kerja dan dapat
mengurangi terjadinya kecelakaan kerja. Pemasangan ventilasi yang
baik akan menghasilkan jumlah dan kualitas udara yang segar ke
seluruh ruangan yang dapat berfungsi mengurangi dan
membebaskan udara dari bau maupun udara yang beracun. Menurut
9

Oetomo dan Tadjo, temperatur dalam ruangan akan dipengaruhi oleh
kelembaman dan kecepatan gerak udara. Oleh karena itu maka
pengaturan ventilasi dalam bengkel hendaknya direncanakan dengan
sebaik-baiknya agar sirkulasi udara dapat berjalan dengan lancar,
sehingga dalam bengkel tidak terjadi udara yang lembab.
Penggunaan warna pada bengkel akan berpengaruh terhadap
situasi dan kenyamanan kerja. Warna terang menyebabkan obyek
atau ruangan tampak besar, warna gelap menyebabkan obyek atau
ruangan tampak sempit. Warna-warna yang panas/ mencolok dapat
mempengaruhi emosi seseorang, sedangkan warna-warna dingin
dapat mengendalikan emosi seseorang. Penataan warna yang
berimbang pada bengkel akan dapat meningkatkan keuntungan
untuk tujuan belajar bagi praktikan. Selain warna hal lain yang harus
diperhatikan dalam perencanaan bengkel adalah faktor kebisingan.
Hendaknya diupayakan faktor kebisingan ini sekecil mungkin.
2.4.3 Pertolongan Pertama pada Kecelakaan(P3K)
Letak ruang pertolongan pertama (P3K) harus pada tempat
yang strategis, di dekat bengkel atau laboratorium. Ruang ini harus
diberi tanda yang jelas dan setiappengawas, instruktur, dan pekerja
harus mengetahui jalan tercepat menuju ke tempat tersebut
(Daryanto, 2007).
Kotak P3K (Pertolongan Pertama) harus berisi segala peralatan
penting seperti: kain pembalut dan obat-obatan, supaya tindakan
pertolongan pertama berjalan efektif. Persediaan obat harus selalu
diperbarui secara teratus dan dicek tanggal berlakunya obat apakah
masih aktif dan efektif. Obat yang kadaluarsa segera diganti yang
baru (Daryanto, 2007)

10

2.4.4 Pelengkap Pakaian Kerja
a. Pelindung Telinga
Di dalam pekerjaan yang menimbulkan bunyi bising mutlak
dipergunakan alat pelindung telinga(kebisingan akan menimbulkan
orang menjadi agresif dan lebih parah menjadi tuli).
b. Pelindung Mata
Kacamata pengaman berguna untuk melindungi mata dari
bahaya seperti sinar yang tajam, serpihan benda kerja, debu.
Penggunaan kacamata pengaman harus sesuai dengan jenis
pekerjaan.Namun bila mata sudah kemasukkan benda atau partikel
kecil dan tajam jangan sekali-kali menggosok-gosoknya.
c. Kedok/ Pelindung Mulut, dan Hidung
Untuk melindungi pernapasan(paru-paru) dari udara beracun
yang diakibatkan pekerjaan digunakan kedok atau pelindung mulut
dan hidung.
d. Topeng
Topeng atau kedok wajah berguna untuk melindungi bagian
wajah dari percikan atau serpihan benda kerja.
e. Helm
Helm berfungsi untuk melindungi kepala dari benda yang jatuh
sewaktu bekerja.
f. Sepatu Lars
Sepatu Lars untuk pekerjaan proyek sangat tepat sekali
terutama berguna untuk melindungi kaki dari benda tajam di
lapangan(Daryanto, 2007).

11

2.5 Pencemaran Akibat Usaha Perbengkelan
Limbah akibat kegiatan perbengkelan dapat menimbulkan pencemaran
terhadap tanah, air, maupun udara di sekitarnya kalau tidak dikelola dengan
benar.Hal ini disebabkan karena jenis limbah yang dihasilkan oleh bengkel
ini berupa limbah cair, padat, dan gas.
2.5.1 Limbah Gas
Hasil pembakaran bahan bakar pada kendaraan bermotor
merupakan faktor penyebab pencemaran udara.Komponen utama
bahan bakar fosil ini adalah Hydrogen (H) dan Karbon (C).
Pembakarannya akan menghasilkan senyawa Hidrocarbon (HC),
karbon monoksida (CO), karbondioksida (CO), serta nitrogen oksida
(Nox) pada kendaraan berbahan bakar bensin. Sedangkan pada
kendaraan berbahan bakar solar, gas buangnya mengandung sedikit
HC dan CO tetapi lebih banyak SO-nya.Dari senyawa-senyawa itu,
HC dan CO paling berbahaya bagi kesehatan manusia.
Penyebab tingginya HC antara lain pengapian tidak tepat,
kompresi lemah, maupun kabel busi yang sudah aus. HC terbentuk
selama proses pembakaran tidak sempurna sehingga bensin tidak
terbakar habis. Sedangkan kadar CO akan bertambah tinggi jika
dalam proses pengapian, komposisi bahan bakar lebih banyak
ketimbang udara (O) yang diperlukan untuk mengubah CO menjadi
CO. Akibatnya, CO yang terbuang meningkat. Selain itu karburator
atau injector, saringan udara atau bensin yang kotor, serta kualitas
bensin yang rendah juga bisa jadi penyebab meningkatnya CO.
Jika sering terhirup, gas beracun HC bisa menyebabkan
timbulnya penyakit kanker, asma, dan sakit kepala.Sedangkan CO
dapat menyebabkan radang tenggorokan. Yang lebih berbahaya lagi,
bila kadarnya tinggi, gas CO mampu melumpuhkan sistem pembuluh
darah serta meredam kemampuan sel darah merah mengedarkan
oksigen ke seluruh tubuh. Dalam sel darah merah, gas CO mudah
sekali menyatu dengan Hb sekalipun dalam kadar yang rendah.
12

Bahaya polutan tadi diperparah dengan adanya paparan timah
hitam atau timbel (Pb) karena bensin yang sekarang ini masih
mengandung zat itu.Pada solar tidak ditambah timbel sehingga tidak
menjadi masalah. Adanya unsur timbel juga mengakibatkan tidak
bisa dipasangnya peralatan pengurang emisi gas buang, seperti
catalytic converter. Padahal alat tersebut mampu menurunkan kadar
polutan sampai 0%.
Berbagai zat pencemar yang beterbangan di udara tersebut
akan sangat merugikan dan berdampak negative bagi kesehatan
manusia dan lingkungannya.
2.5.2 Limbah Cair
Limbah cair dari usaha perbengkelan dapat berupa oli bekas,
bahan ceceran, pelarut/pembersih, dan air.Bahan pelarut/pembersih
pada umunya mudah sekali menguap, sehingga keberadaannya
dapat menimbulkan pencemaran terhadap udara.Terhirupnya bahan
pelarut juga dapat menimbulkan gangguan terhadap pernapasan
para pekerja. Bahan bakar merupakan cairan yang mudah terbakar
oleh nyala api, dan juga merupakan cairan yang mudah sekali
terbawa oleh aliran air. Bahan bakar bensin mudah sekali menguap
dan terhirup oleh para pekerja.
Air limbah dari usaha perbengkelan banyak terkontaminasi oleh
oli (minyak pelumas) dan bahan bakar. Air yang sudah
terkontaminasi akan mengalir mengikuti saluran yang ada, sehingga
air ini mudah sekali untuk menyebarkan bahan-bahan kontaminan
yang terbawa olehnya. Oli bekas jika tidak dikelola dengan baik dapat
menimbulkan kesan kotor dan sulit dalam pembersihannya,
disamping itu oli bekas dapat membuat kondisi lantai licin yang dapat
berakibat mudahnya terjadi kecelakaan kerja.
2.5.3 Limbah Padat
Bengkel pada umunya juga menghasilkan limbah padat yang
dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu limbah logam dan non
13

logam. Limbah padat non logam dapat berupa ban bekas/karet, busa,
kulit sintetis, kain lap bekas yang telah terkontaminasi oleh oli/pelarut,
cat kering, dan lain-lain. Limbah logam banyak terdiri dari berbagai
potongan logam, mur/skrup, bekas ceceran pengelasan dan lain-lain.

2.6 Pengelolaan Limbah Perbengkelan
Pada umumnya usaha perbengkelan di Indonesia dilakukan dalam
skala usaha kecil dan menengah, sehingga limbah yang dihasilkan relatif
dalm jumlah yang sedikit.Untuk mengelola limbah dalam jumlah yang sedikit
tersebut, jika dilakukan oleh oleh penghasil secara individu maka kurang
efisien baik dalam membiayai operasional dari unit pengolahan limbah
tersebut.
Untuk mengatasi hal itu, maka diperlukan kerjasama antar bengkel
maupun dengan para pengumpul, pengguna barang bekas, pemanfaat
barang bekas maupun dengan para pengolah limbah.Setiap jenis limbah
juga memerlukan penanganan atau pengelolaan yang berlainan,
disesuaikan dengan jenis dan sifat dari limbah tersebut.
2.6.1 Solusi Pencemaran Udara
Memburuknya kualitas udara akibat pencemaran di langit
nusantara, khususnya Jakarta serta kota-kota besar telah mendorong
Kementerian Negara Lingkungan Hidup mencanangkan Program
LAngit Biru (PLB) pada 6 Agustus 1996 di Semarang sebagai
langkah strategis Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
(Bapedal). Focus pengendalian pencemaran udara adalah industry
dan kendaraan bermotor. Kontribusi kedua sumber itu terhadap
pencemaran udara memang sangat besar.
Sumber pencemaran udara dari industry dan kendaraan
bermotor ditimbulkan dari hasil pembakaran bahan bakar
hidrokarbon, terutama bahan bakar yang mengandung timbel
(Pb).Mengingat bahayanya yang begitu besar, pemerintah bertekad
14

untuk memasyarakatkan bensin tanpa timbel pada 1989, lebih cepat
dari semula tahun 2003.Sudah seharusnya sebab dalam pemakaian
bensin tanpa timbel, Indonesia masih kalah dengan negara ASEAN
lainnya.
Seiring dengan menipisnya persediaan bahan bakar fosil serta
hasil pembakarannya yang tidak ramah lingkungan, bahan bakar
seperti liquid petroleum gas (LPG) dan compressed natural gas
(CNG), biodiesel (bahan bakar dari minyak kelapa sawit) menjadi
alternative yang patut dimasyarakatkan pemakaiannya. Apalagi LPG
memiliki nilai oktan lebih tinggi, 102-104 RON (Requirement Octan
Number), harga relative lebih murah dibadingkan dengan bensin,
serta tidak menimbulkan polusi dan akrab lingkungan.
Untuk keperluan pengujian emisi, sudah seharusnya jaringan
bengkel resmi ATPM dilengkapi dengan alat penguji emisi. Alat
penguji itu berupa gas analyzer untuk mengukur emisi gas buang
kendaraan berbahan bakar bensin, dan smoke tester untuk mengukur
kepekatan asap dari kendaraan berbahan bakar diesel. Melalui alat
tersebut, pemilik kendaraan bisa mengetahui kadar polutan dari
kanlpot kendaraannya. Jika ternyata melampaui ambang batas yang
ditetapkan, akan dilakukan penyetelan mesin (tune up). Pemilik
kendaraan akan memperoleh kartu yang berisi hasil pemeriksaan
yang meliputi kadar CO (%), HC (ppm), CO2 (%), maupun O2 (%).
Karena salah satu penyebab timbulnya polusi udara dari
kendaraan tersebut akibat kondisi penyetelan kendaraan yang kurang
tepat, maka diperlukan bengkel-bengkel yang memiliki tenaga
mekanik yang terampil dan dapat menguasai teknologi mesin dengan
baik. Jika para tenaga mekanik dapat melakukan penyetelan
kendaraan dengan baik, maka kendaraan dapat disetel dengan tepat
sehingga komposisi bahan bakar dan udara dapat tepat dan
pembakaran di mesin akan sempurna. Dengan kondisi kendaraan
seperti ini timbulnya pencemaran udara dapat lebih ditekan lagi.

15

2.6.2 Pengelolaan Limbah Padat
Limbah padat usaha perbengkelan pada umumnya berupa
limbah non organic yang dapat dimanfaatkan kembali atau untuk daur
ulang. Agar usaha daur ulang atau pemanfaatan kembali ini dapat
dilakukan dengan baik, maka diperlukan pengelolaan dan kerja sama
dengan pihak pemanfaat barang bekas. Jika upaya ini dapat
dilakukan berarti dapat mereduksi jumlah timbunan sampah dan juga
yang tidak kalah pentingnya adalah dapat menghemat sumber daya
yang ada.
Limbah logam sebaiknya dikumpulkan dalam suatu wadah
tertentu dan dihindarkan terjadi kontak dengan air, terutama air hujan
yang bersifat asam (kondisi asam air hujan akan mempercepat
terjadinya korosi pada logam). Hal ini untuk menjaga agar tidak
terjadi korosi yang lebih besar, sebab korosi terhadap logam akan
merusak sifat-sifat dari logam yang ada sehingga akan menurunkan
kualitas logam dan meningkatkan biaya daur ulang. Logam bekas
yang masih dalam kondisi baik dapat didaur ulang dan dikirim ke
perusahaan pengecoran logam lewat para pengumpul barang bekas
atau langsung ke perusahaan pengecoran logam.
Limbah padat berupa drum bekas dapat dikumpulkan untuk
dijual ke para pengumpul drum. bekas drum oli ini dapat
dimanfaatkna untuk berbagai fungsi, untuk bak penampungan air,
untuk tong sampah, dimanfaatkan sebagai bahan plat/lembaran besi
dan lain-lain. Limbah padat berupa drum bekas dapat dikumpulkan
untuk dijual ke para pengumpul drum. bekas drum oli ini dapat
dimanfaatkan untuk berbagai fungsi, untuk bak penampungan air,
untuk tong sampah, dimanfaatkan sebagai bahan plat/lembaran besi
dan lain-lain.
Aki bekas yang banyak terdapat di bengkel banyak
mengandung larutan asam dan logam timbel (Pb).Larutan asam
tersebut juga banyak mengandung Pb dalam bentuk terlarut, padahal
Pb merupakan salah satu logam berat yang bersifat sangat
16

beracun.Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka
semua aki bekas harus dikumpulkan.Jangan sampai terjadi
kebocoran dari larutan (air aki).Kemudian aki-aki bekas tersebut
dapat dikirim ke perusahaan pendaur ulang atau lewat para
pengumpul barang bekas.
Limbah padat non logam berupa kain lap bekas yang telah
terkontaminasi oleh oli/pelarut, spon/busa,kulit atau kulit imitasi bekas
jok dan plastic. Barang-barang tersebut (kecuali kain lap) sebagian
besar dapat didaur ulang, sehingga sudah seharusnya dikumpulkan
dalam suatu wadah yang dapat terhindar dari hujan maupun kotoran
lainnya.Dalam jangka waktu tertentu barang bekas tersebut dapat
diambil oleh pemulung.
Limbah kain lap yang sudah tidak dapat didaur ulang lagi
dikumpulkan dan dihindarkan terjadi kontak denga air maupun air
hujan. Kontak kain lap dengan air akan melarutkan kontaminan yang
menempel pada lap, sehingga pencemaran akan meluas ke perairan.
Perpindahan bahan kontaminan dari kain ke air akan memperluas
daerah pencemaran dan penanganannya akan lebih sulit serta
memerlukan biaya yang jauh lebih mahal lagi.
Untuk mengatasi keberadaan limbah kain lap dapat dilakukan
dengan pembakaran menggunakan incinerator. Mengingat harga
incinerator yang relative mahal, serta jumlah limbah yang sedikit,
maka pembakaran dapat dilakukan dengan mengirimkan ke
perusahaan lain atau ke rumah sakit yang telah memiliki fasilitas
incinerator. Limbah kain lap dari perbengkelan pada umunya
mengandung kontaminan yang mudah terbakar, sehingga jika limbah
ini dibakar bersama denga limbah padat dari rumah sakit atau
perusahaan lainnya tidak akan mengganggu jalannya pembakaran.
Bahkan dengan ditambahkannya limbah dari bengkel ini akan lebih
mempercepat proses pembakaran sehingga akan lebih menghemat
bahan bakar incinerator.
17

Ban bekas kendaraan dapat dimanfaatkan kembali oleh para
pengrajin. Berbagai barang dan peralatan mulai dari bak sampah, pot
bunga, meja kursi, dan pegas baja dapat dibuat dengan
memanfaatkan ban bekas, oleh karena itu ban bekas yang ada
seharusnya dikumpulkan dan dijual ke para pengumpul ban.
Merekalah yang akan meneruskan ke para pengrajin. Para pemulung
ban bekas dan pengrajin memanfaatkan limbah ban bekas.
Merekalah yang turut membantu upaya pelestarian lingkungan dan
penghematan sumber daya alam.
2.6.3 Pengelolaan Limbah Cair
Limbah cair dari usaha perbengkelan dapat berupa bahan
pelarut/pembersih, bahan bakar kotor, oli bekas, dan air bekas
cucian.Limbah cair ini sering kali menimbulkan kesan kotor dan jorok,
karena warnanya yang kelam dan sulit untuk dibersihkan.
a. Pengelolaan Oli Bekas
Selama bertahun-tahun, minyak oli didaur ulang untuk
digunakan kembali juga untuk melindungi serta menjaga lingkungan
dari limbah minyak tersebut.Daur ulang oli bekas dapat dilakukan di
industry pengolahan pelumas bekas, yaitu industry yang kegiatannya
memproses pelumas bekas dengan menggunakan teknologi tertentu
untuk menghasilkan pelumas dasar. Minyak pelumas dasar
merupakan salah satu bahan utama yang digunakan untuk bahan
baku proses/pabrikasi pelumas (blending) dalam pembuatan
pelumas. Pelumas dasar ini dicampur dengan bahan tambahan
(aditif) sesuai formula tertentu untuk menghasilkan minyak pelumas
baru.
Oli bekas harus ditampung dengan menggunakan alat
penampungan khusus dan terhindar dari kotoran lainnya, sebab oli ini
akan didaur ulang. Tercamurnya oli bekas dengan sampah lain akan
menurunkan kualitasnya dan meningkatkan biaya untuk proses
pemurniannya. Alat penampung oli harus dibuat dari bahan yang
18

tahan terhadap karat dan tertutup rapat, bersih dan diberi label Oli
Bekas. Jauhkan dari jangkauan anak-anak dan binatang peliharaan
serta nyala api. Dalam jangka waktu tertentu oli bekas ini dapat dijual
ke para pengumpul oli bekas yang selanjutnya akan dikirim ke
perusahaan pengolah oli.
b. Pengelolaan Air Limbah
Air limbah dari usaha perbengkelan mudah sekali
terkontaminasi dengan berbagai kotoran seperti minyak, oli, bahan
bakar, dan lain-lain. Untuk mengelola air limbah ini, upaya pertama
yang harus dilakukan adalah dengan melakukan minimalisasi limbah
dan pencegahan terjadinya kontaminasi air dengan bahan lain.
Upaya ini dapat dilakukan dengan menghindari terjadinya
kebocoran di selang air dan efisiensi pemakaian air dengan
penggunaan kran yang mudah ditutup seperti kran model tembak
atau penempatan kran yang mudah dijangkau. Langkah lainnya yang
dapat ditempuh adalah dengan menghindari masuknya air hujan ke
dalam lingkungan kerja yang mengandung ceceran oli/minyak atau
bahan bakar lainnya.Jika air hujan ini masuk ke dalam lingkungan
kerja yang kotor, maka kotoran yang ada di lantai akan terlarut dan
terbawa aliran air. Dengan demikian pencemaran akan menyebar
mengikuti arah aliran yang ada.
Tata letak setiap unit kerja di bengkel sangat mempengaruhi
kualitas air limbah buangannya. Tata letak yang baik tidak hanya
akan memberikan kesan bengkel terlihat bersih dan rapi saja, tetapi
juga akna menean jumlah limbah yang dihasilkannya. Jika upaya
tersebut dilakukan oleh bengkel, maka air limbah yang dihasilkan
tidak banyak mengandung kontaminan.Kontaminan yang biasanya
masih ada berupa padatan (kotoran) dan sedikit minyak, dengan
demikian maka unit pengolahan air limbah yang diperlukan juga
sederhana (tidak terlalu rumit dan mahal).Unit pengolahan yang
diperlukan terutama adalah unit pengendapan untuk pemisahan
kotoran dan unit pemisahan minyak berupa fatpit (separator).
19

Mengingat usaha perbengkelan pada umumnya yang berupa
usaha kecil dan menengah dan tingkat pencemaran air limbah
bengkel yang telah mengikuti program pengelolaan lingkungan tidak
terlalu berat maka disini akan diberikan contoh unit pengolahan
limbah yang sederhana, sehingga sangat memungkinkan sekali untuk
dibangun dan dioperasikan oleh semua bengkel yang ada.

20

BAB III
METODE KEGIATAN

3.1 Langkah Kegiatan
Dalam melaksanakan kegiatan penelitian ini dilakukan langkah-langkah
sebagai berikut:
a. Menetapkan lokasi penelitian (Rey Raf AHASS MOTOR 8337)
b. Mendatangi lokasi dan melakukan perjanjian dengan penanggung jawab
Rey Raf AHASS MOTOR 8337 mengenai akan dilakukannya penelitian di
tempat kerja tersebut.
c. Mendapatkan persetujuan dari penanggung jawab Rey Raf AHASS
MOTOR 8337.
d. Menyusun pertanyaan dalam lembar kuesioner dan lembar observasi.
e. Mendatangi Rey Raf AHASS MOTOR 8337 pada tanggal 13 Desember
2011 dan melakukan wawancara serta observasi untuk melaksanakan
survey.
f. Membuat powerpoint sebagai langkah awal penyajian hasil observasi.
g. Mencari literatur dalam membuat tinjauan pustaka dan sebagai tolok ukur
pembuatan laporan.
h. Membuat laporan hasil kegiatan.

3.2 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian dan selanjutnya digunakan
sebagai dasar pembuatan laporan adalah metode walk trough survey.

21

BAB IV
HASIL KEGIATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Kegiatan
Dalam observasi ini didapatkan hasil dari kegiatan analisis
implementasi dan evaluasi hygiene industri di Rey Raf AHASS MOTOR
8337 yang nantinya akan menggambarkan sejauh mana
penerapan/implementasi hygiene industri di tempat tersebut.

4.2 Pembahasan
4.2.1 Profil Perusahaan
Nama Perusahaan : REY RAF AHASS MOTOR 8337
Alamat Perusahaan : Jln. Kalimantan No.13, Jember.
Awal berdiri : Desember 2005
Nama dan Kedudukan Orang yang Bertanggung Jawab di Tempat
Kerja : Yudia Arianto sebagai pemilik
Ukuran Bangunan Bengkel : 7x15 m
4.2.2 Peralatan yang Digunakan
Peralatan yang digunakan dalam proses bekerja di bengkel
AHASS adalah sebagai berikut:
1. Kompresor listrik
2. Air gun (penyemprot angina kompresor)
3. Tyre gun (pengisi angina ban)
4. Selang angina kompresor
22

5. Sendok ban
6. Pembuka pentil ban
7. Tyre pressure meter (pengukur tekanan angina ban)
8. Air filter regulator (saringan angina compressor no water)
9. Obeng plus set (besar, sedang, dan kecil)
10. Obeng minus set (besar, sedang, dan kecil)
11. Obeng tuner plus dan minus (obeng setelan karburator
diameter kecil dan panjang)
12. Obenggetok
13. Mata obeng getok plus (kasar dan halus)
14. Mata obeng getok minus (kasar dan halus)
15. Obeng karet
16. Obeng elektro mini (plus dan minus)
17. Kunci ring pas (6 mm s/d 24 mm)
18. Kunci L
19. Kuncibintang
20. Kunci T sock (8, 10,12 14, 17,19 mm)
21. Kunci Inggris
22. Kunci busi bebek
23. Kunci busi GL
24. Kunci busi 2 T
25. Tang potong
26. Tang jepit
23

27. Tang snapring/circlip inner
28. Tang snapring/circlip outer
29. Tang buaya
30. Tang rivet
31. Paku rivet aluminium
32. Palu besar
33. Palu karet
34. Palu kecil
35. Ragum / tanggem
36. Multitester
37. Adaptor
38. Solder listrik
39. Kikir
40. Stigmata
41. Fueller / heller
Perawatan peralatan dilakukan setiap hari dengan cara
hanya dibersihkan dan setiap 3 tahun sekali dilakukan pembelian
peralatan baru (hanya peralatan yang benar benar perludi ganti).
Sedangkan pengecekan alat dan bahan dilakukan setiap hari.
4.2.3 Langkah-servis Sepeda Motor
1. Servis Karburator
Langkah kerja servis karburatoryaitu :
a. Melepas/membuka karburator dari sepeda motor.
24

b. Buka baut-baut kap (cover/leg shield) kemudian
lepaskan cover dari sepeda motor.
c. Lepaskan selang bahan bakar yang terhubung ke
karburator, kemudian tutup agar bahan bakar tidak
mengalir.
d. Buka dan lepaskan saringan udara (Air Cleaner).
e. Buka dan lepaskancarburator assy.
f. Buka baut pengikat karburator dengan pipa saluran
masuk bahan bakar (inlet pipe), kemudian lepaskan
karburator dari inlet pipe.
g. Buka dan lepaskan ruang pelampung (float chamber
set).
h. Buka dan lepaskan pelampung (float set).
i. Buka dan lepaskan jet needle set (holder needle jet dan
main jet.
j. Buka dan lepaskan slow jet.
k. Buka dan lepaskan screw set.
l. Bersihkan karburator dengan kuas dan bensin.
m. Semprot dengan udara bertekanan (kompresor udara),
pada lubang-lubang saluran dan jet pada karburator
sampai benar-benar bersih.
n. Periksa dengan cermat dan teliti tiap komponen
karburator, ganti jika rusak atau luka bergaris-garis.
o. Komponen karburator yang diperiksa antara lainscrew
set (skrup pengatur bahan bakar dan udara), main
jet(saluran utama bahan bakar), slow jet (saluran bahan
bakar ketika mesin putaran langsam / stasioner), float
(pelampung), needle valve (jarum Pelampung), throttle
valve dan jet needle, gasket dan O-ring, dan lubang
saluran bahan bakar (by pass dan pilot outlet)
p. Setelah diperiksa rakit kembali tiap komponen
karburator.
q. Pemeriksaan jarum pelampung (needle valve).
25

2. Servis Saringan Udara (Air Cleaner)
Langkah kerja servis (penyucian) saringan udara (Air
Cleaner):
a. Buka baut-baut pada saringan udara.
b. Buka dan keluarkan elemen saringan udara
(busa/urethane) dari kotak saringan udara.
c. Cuci elemen dalam minyak solar atau minyak pembersih
yang tidak mudah terbakar dan biarkan sampai
mengering.
d. Celupkan elemen dalam minyak transmisi (SAE 80-90)
dan peras keluar kelebihan minyak.
e. Pasang kembali elemen dan tutup kembali kotak
saringan udara.
3. ServisBusi
Langkah kerjapemeriksaan dan penyetelan celah busi :
a. Buka busi dengan menggunakan kunci busi.
b. Bersihkan busi dengan mempergunakan sikat kawat
dan cuci dengan bensin bila perlu, kemungkinan ada
kerak karbon pada elektroda busi.
c. Setelah kondisi busi bersih, setel celah busi dengan
menggunakan alat ukur feeler gauge dengan ukuran
antara 0,3 - 0,7 mm.
d. Periksa keadaan insulatornya, ganti busi jika rusak atau
retak.
Celah (gap) busi langkah kerja pemeriksaan kondisi api busi:
a. Busi yang sudah bersih kondisinya, periksa dan setel
celahnya, kemudian hubungkan dengan kepala ujung
kabel busi.
b. Tempelkan busi pada kepala silinder.
26

c. Kunci kontak posisi ON, dan kick starter diinjak sambil
memperhatikan warna dan bersarnya bunga api yang
keluar dari busi.
d. Bila warna apinya biru dan besar, maka berarti busi
dalam keadaan baik. Namun jika warna apinya terlihat
kemerah-merahan dan kecil, berarti busi sudah tidak
baik dan perlu segera diganti dengan busi yang baru.
e. Setelah selesai, pasang kembali busi pada tempatnya.
4. Setel Cara Kerja Gas Tangan
Langkah kerja menyetel cara kerja gas tangan :
a. Periksa apakah putaran gas tangan dapat bekerja
dengan lancar dan halus sewaktu membuka dengan
penuh dan menutup kembali secara otomatis pada
setang kemudi.
b. Periksa kabel gas dari kerusakan, lekukan atau
keretakan. Ganti jika sudah rusak, terdapat lekukan atau
retakan.
c. Lumasi kabel gas jika cara kerja gas tangan tidak lancar
(terasa berat).
d. Ukur jarak main bebas gas tangan pada ujung sebelah
dalam gas tangan. Jarak main bebas : 2-6 mm.
e. Jarak main bebas gas tangan dapat disetel melalui
penyetel gas tangan.
f. Lepaskan penutup debu pada penyetel.
g. Setel jarak main bebas dengan melonggarkan mur
pengunci dan memutar penyetel.
h. Periksa ulang cara kerja gas tangan.
i. Ganti (bila perlu) komponen-komponen (parts) yang
rusak.

27

5. Setel Kopling
Langkah kerja penyetelan kopling :
a. Kendorkan Mur pengunci baut stelan kopling dengan
kunci ring 14 ke arah kiri hingga kendor.
b. Putar baut penyetel kearah kanan (searah jarum jam)
hingga terasa ada sentuhan, lalu putar kembali ke arah
kiri hingga mentok (terasa ada sentuhan) dan berhenti.
c. Putar kembali baut penyetel kearah kanan sebanyak 1/4
- 1/8 putaran.
d. Kencangkan mur pengunci ke arah kanan hingga baut
penyetel terkunci.
6. Ganti Oli Mesin
Langkah kerja penggantian oli mesin:
a. Dudukkan sepeda motor pada standar tegak.
b. Buka tutup pengisian oli pada mesin, periksa ketinggian
oli mesin dengan cara melihat batas permukaan atas
dan permukaan bawah pada tangkai pengukur, dan
periksa kekentalan dan warna oli.
c. Buka baut pembuangan oli yang terletak dibawah mesin
dibuka. Tampung oli bekas tersebut dengan wadah atau
kaleng agar tidak mengotori lantai.
d. Biarkan kondisi tersebut untuk jangka waktu sekitar 5 -
10 menit, agar oli yang hendak diganti dapat keluar
semua.
e. Tekan kick stater berulang-ulang secara perlahan-lahan
agar oli yang masih tertinggal di dalam mesin dapat
keluar.
f. Setelah tidak ada oli yang meneter lagi, pasang kembali
baut penutup pembuangan oli.
28

g. Masukkan oli mesin yang baru dan sesuaikan dengan
jumlah yang dianjurkan.
h. Pasang tutup pengisian dan jalankan mesin sebentar.
i. Periksa bahwa tida ada kebocoran minyak pelumas.
7. Setel Rantai
Langkah kerja pemeriksaan dan penyetelan rantai :
a. Periksa jarak bebas (kekendoran) rantai roda sesuai
dengan standar ukuran yang diajurkan.
b. Kendorkan mur as roda, kemudian stel jarak main bebas
rantai dengan cara memutar setelan rantai pada ujung
lengan ayun.
c. Bersihkan rantai yang kotor, kemudian lumasi dengan
oli.
d. Periksa keausan karet peluncur rantai.
e. Ganti rantai dan peluncurnya, apabila sudah rusak atau
aus.
f. Periksa keausan gir (sprocket) depan dan belakang. Gir
yang sudah aus sering menjadi penyebab rantai
tergelincir (loss), sebaiknya segera diganti.
4.2.4 Identifikasi Hazard
1. Hazard fisik
a. Pencahayaan
Pencahayaan yang masih kurang di bagian lampu, di
mana dari 5 area pit hanya ada 3 lampu, sehingga bisa
terjadi kemungkinan adanya sedikit kesulitan pekerja
saat melakukan pekerjaan perbengkelan walaupun
pencahayaan didapat juga dari cahaya matahari, karena
29

di musim penghujan hampir sehari-hari keadaan awan
selalu mendung.
Pengendalian: sebaiknya kuantitas lampu ditambah
menjadi 5 lampu di mana masing-masing area pit berarti
terdapat 1 buah lampu agar pekerja lebih nyaman
kembali waktu bekerja.
b. Kebisingan
Kebisingan ini berasal dari suara sepeda motor yang
sangat keras yang diakibatkan oleh pengegasan
maksimal yang dilakukan oleh pekerja saat sedang
melakukan pengecekan rem dan gas.
Pengendalian: sebaiknya ketika pekerja akan
melakukan pekerjaan cek rem dan gas di mana ada
kemungkinan gas akan diputar maksimal ia
menggunakan pelindung telinga yaitu ear muff dan ear
plug di mana masing-masing dapat mengurangi
intensitas suara 20 s.d. 30 dB dan 10 s.d. 15 dB,
sehingga suara yang masuk ke telinga dapat dikurangi
intensitasnya.
c. Getaran
Walaupun sedikit atau bahkan sampai pekerja tidak
merasakan adanya getaran namun dalam proses
pekerjaan dengan menggunakan kompresor listrik, tentu
masih ada getaran-getaran halus yang ditimbulkan.
Pengendalian: sebaiknya ada pembatasan penggunaan
kompresor listrik dan diadakan pergantian pekerja
dalam bekerja agar pekerja tidak terus menerus
terpapar getaran dari kompresor.

30

d. Gas
Pekerja dapat dengan mudah terpapar gas-gas beracun
yang berasal dari asap pembakaran bahan bakar saat
sepeda motor di cek kembali kondisinya sebelum
diberikan pada customer.
Pengendalian: pekerja dapat menggunakan pelindung
hidung atau masker agar kuantitas gas yang terhirup
tidak terlalu banyak sehingga efek dan akibat yang
ditimbulkan terhadap tubuh pun akan dapat
diminimalkan.
e. Bau-bauan
Bau-bauan yang ditimbulkan adalah berasal dari bensin
pada proses cek karborator yang digunakan untuk
mencuci karburator dari korosi di mana dalam jangka
waktu yang lama bau-bauan ini tentu akan mengganggu
saluran pernapasan.
Pengendalian: pekerja seharusnya mengunakan masker
saat dalam pekerjaannya pekerja kontak dengan bensin
dan chain lube.
f. Cairan
Tumpahan oli pada permukaan lantai dapat
menyebabkan lantai licin sehingga pekerja dapat
terpeleset.
Pengendalian: pekerja seharusnya lebih berhati-hati
dalam menuangkan oli agar tidak terjadi tumpahan.
g. Listrik
Pada cek pelistrikan motor pekerja berpotensi tersengat
listrik ketika dalam proses pengecekan seperti cek aki,
31

cek lampu, dan sepul pekerja kurang berhati-hati dalam
mengerjakan.
Pengendalian: sebaiknya pekerja menggunakan sarung
tangan dan sandal/sepatu saat bekerja agar tidak
tersengat listrik.
2. Hazard kimia
Berbagai bahan-bahan kimia banyak digunakan dalam
proses perbengkelan ini seperti aki, oli, bensin, dan chain
lube sehingga banyak kemungkinan mengakibatkan iritasi
dan dapat mengkontaminasi makanan yang dimakan
sehingga mengakibatkan keracunan jika kurang bersih
dalam pencucuian tangan.
Pengendalian: ketika pekerja kokntak langsung dengan
bahan-bahan seperti bensin, ole, dan chain lube sebaiknya
mencuci tangan hingga bersih benar dan untuk pekerja yang
akan bekerja kontak dengan aki sebaiknya menggunakan
sarung tangan dalam bekerja agar tidak langsung kontak
dengan aki dan tidak menimbulkan iritasi pada kulit.
3. Hazard biologi
Hazard biologi dapat berasal dari gelas yang digunakan
bersama di mana jika salah satu pekerja menderita sakit
yang dapat ditularkan maka ketika ia minum menggunakan
gelas yang telah tersedia dan selanjutnya gelas yang sama
juga digunakan oleh seluruh pekerja yang ada maka mereka
juga berpotensi untuk tertular penyakit yang diderita oleh
pekerja tersebut.
Pengendalian: Seharusya masing-masing pekerja memiliki
gelas sendiri-sendiri agar tidak tertular penyakit yang
mungkin diderita pekerja lain saat bekerja, misal flu dan
batuk. Sehingga penyakit tidak akan dengan mudah
32

menyebar pada pekerja lainnya dan produktivitas tidak akan
mengalami penurunan.
4. Hazard ergonomi
Tempat duduk yang digunakan pekerja saat bekerja adalah
tempat duduk pendek (dalam bahasa Jawa dingklik) yang
terbuat dari kayu, dilihat dari segi ergonomi tempat duduk
pendek ini sudah sesuai dilihat dari pekerjaanyya yang
memang duduk dalam keadaan tubuh yang rendah, namun
jika duduk dilakukan dalam waktu yang lama dengan
keadaan duduk yang rendah atau bisa dikatakan duduk
jongkok maka kursi yang hanya terbuat dari kayu ini belum
sepenuhnya ergonomis.
Pengendalian: untuk tempat duduk yang digunakan
sebaiknya dilapisi dengan spon agar pekerja lebih nyaman
dan tidak mengalami gangguan pada bagian pantat akibat
duduk yang lama di kayu.
5. Hazard psikologi
Hazard psikologi ini dapat terjadi ketika pekerja
mendapatkan keluhan dari customer mengenai
pelayanannya yang kurang memuaskan yang mana akan
membuat pelaanggan sampai marah-marah pada pekerja
atau langsung pada pemilik AHASS.
Pengendalian: seharusnya dalam bekerja para pekerja
mengerjakan pekerjaan dengan hati-hati dan lebih teliti serta
disesuaikan dengan kemauan dan permintaan konsumen
sehingga tidak akan terjadi keluhan-keluhan dari konsumen.

33

4.2.5 Keadaan Bangunan
1. Lantai
Kondisi lantai bengkel motor ini terlihat bersih, kedap air dan
tidak licin serta menggunakan keramik berwarna cerah pada
bangunan lantainnya.
2. Dinding
Dinding bengkel Rey Raf AHASS MOTOR berwarna putih
dan tidak lembab.
3. Atap atau langit-langit
Atap bengkel tertutup keseluruhan yang mana atapnya
terbuat dari seng yang dicat putih atau berwarna cerah danti
dak kedap air.
4. Cahaya
Pencahayaan di bengkel motor ini sudah baik karena selain
menggunakan lampu TL juga menggunakan cahaya
matahari yang masuk dari pintu depan yang lebar sehingga
tidak pencahyaan di dalam bengkel cukup untuk menerangi
kebutuhan kerja para pekerja. Hanya saja lebih baik jika di
setiap area pit yang merupakan jantung dari setiap
pekerjaan di bengkel ini masing-masing diberikan satu
lampu agar pekerja lebih nyaman lagi dalam melakukan
pekerjaannya terutama bila cahaya alami berupa cahaya
matahari sedang mendung bisa menggunakanl ampu TL
yang tersedia.
5. Ventilasi
Syarat sanitasi yang baik untuk ventilasi udara minimal
adalah sebesar 15% dari luas lantai. (Endang, 2000).
Dengan ventilasi yang baik maka pertukaran udara dapat
34

terjadi dengan baik dan optimal. Ventilasi yang baik dapat
dilakukan dengan menyediakan jendela, lubang jendela,
atau dengan kipas angin. Ventilasi di bengkel motor ini
sudah memenuhi syarat yaitu dengan menyediakan lubang
jeldela, kipas angin, dan pintu yang selalu terbuka di
belakang dan depan bangunan. Sehingga sirkulasi udara di
dalam ruangan bengkel dapat berputar dengan baik.
4.2.6 Penerapan Aspek Sanitasi
1. Sanitasi makanan dan penyediaan air bersih
a. Untuk air minum berasal dari air minum isi ulang
berupa galon. Dalam hal air minum ini berarti bengkel
sudah memperhatikan kebersihan dari air yang akan
diminum oleh pekerjanya. Namun, gelas yang
digunakan hanya 1 untuk semua pekerja yang ada.
Padahal dari gelas tersebut dapat tertular penyakit
dari 1 pekerja yang sakit ke pekerja lainnya yang
sehat.
b. Untuk tempat pencucian tangan adalah di kamar
mandi di mana airnya berasal dari air PDAM. Satu
kamar mandi ini dirasa sudah cukup baik karena
kondisinya yang bersih dan hanya ada 10 pekerja
yang menggunakannya.
c. Pekerja makan 2x sehari di mana makanan ini dibeli
sendiri di luar. Sehingga hygiene sanitasinya
disesuaikan juga dengan tempat pembelian makanan
tersebut. Jika tempat tersebut memiliki hygiene
sanitasi yang baik maka makanan yang dibeli oleh
para pekerja bengkel juga akan baik, tapi ketika
hygiene dan sanitasi di tempat pembelian buruk
maka hal ini juga akan berpengaruh pada keadaan
35

makanan yang dibeli oleh para pekerja bengkel
tersebut.
2. Pembuangan limbah bengkel
a. Limbah Cair
Berupa oli bekas yang dibuang di dalam sumur
penampungan yang terbuat dari semen di
sekelilingnya, yang terletak di bawah lantai area pit
yang tertutup dan hanya dibuka tiap bulannya saat
akan mengambil cairan oli tersebut oleh petugas
pengambil oli bekas tersebut.
Limbah cair juga berasal dari air limbah bekas
pencucian sepeda motor.
b. Limbah Gas
Berupa gas buang (emisi) yang keluar dari knalpot.
Pembuangannya dilakukan dengan memasukkan
sebuah alat berwarna hitam (blower) dalam ujung
knalpot dengan cara kerja alat dimasukkan dalam
knalpot kemudian ketika mesin dihidupkan gas dari
knalpot akan langsung masuk dalam saluran tersebut
dan akan dilakukan pengolahan gas di dalamnya
sehingga ketika gas keluar dari tempat tersebut
sudah tidak berbahaya lagi sehingga
amanbagilingkungan.
c. Limbah Padat
Berupa kaleng bekas oli. Pembuangan dilakukan di
Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang terletak
di bagian belakang dari bengkel. Kemudian akan
dijual ke pengepul. Limbah padat ini sebagian besar
adalah bekas wadah oli. Di mana setelah pemakaian
36

wadah oli ini langsung dibuang di tempat tersebut
tanpa dilakukan sejenis pembersihan terlebih dahulu.
3. Pengendalian vektor dan rodent
Menurut hasil wawancara yang kami lakukan, di sana
jarang terdapat vektor dan rodent. Oleh karena itu, tidak
pernah dilakukan pengendalian vektor dan rodent di
AHASS.
4.2.7 Perilaku Pekerja
1. Merokok
Dalam melakukan observasi di bengkel motor milik Honda
tersebut masih kami temukan adanya pekerja yang merokok.
Padahal jelas tertera tulisan di sana bahwasannya tempat di
mana pekerja merokok sebenarnya adalah area bebas
rokok, yaitu are pit yang merupakan area di mana terjadi
proses pekerjaan utama dari perbengkelan, seperti servis
sepeda dan ganti oli sehingga jika kemudian ada sedikit
percikan api baik dari rokok maupun dari korek yang
digunakan untuk menyulut rokok tentu hal ini akan dapat
memicu terjadinya kebakaran di bengkel ini. Di tambah lagi
dengan tidak tersedianya APAR maka akan memperparah
terjadinya kebakaran yang awalnya kecil. Memang selama
bengkel motor ini berdiri masih belum pernah terjadi
kecelakaan akibat kerja yang berbahaya namun jika
perilakku ini tidak segera mendapatkan perhatian dari
pemilik dan penanggung jawab bengkel tersebut maka
pekerja akan terus mengabaikan hal-hal kecil semacam ini.
2. Pemakaian APD
Saat observasi dilakukan di bengkel motor AHASS ini kami
tidak melihat adanya pekerja yang menggunakan APD.
Mereka hanya menggunakan baju seragam kerja, sandal,
37

dan beberapa orang menggunakan topi dan kami melihat di
sana memang tidak tersedia APD yang seharusnya dipakai
saat bekerja.
4.2.8 Pengendalian Hazard
1. Pengendalian Teknik
Bengkel Rey Raf AHASS Motor 8337 tidak melakukan
pengendalian teknik.
2. Pengendalian Administratif
Pengedalian administratif yang dilakukan oleh bengkel
antara lain:
a. Pekerja mulai kerja setiap harinya jam 08.00 WIB dan
pulang jam 16.00 WIB (8 jam kerja).
b. Selama bekerja tersedia waktu 1 jam untuk istirahat.
c. Dalam satu minggu terdapat 6 hari kerja
Penerapan jam kerja di sini sudah baik di mana setiap 8
jam terdapat 1 jam istirahat. Dari aspek ini berarti
pemilik dan penanggung jawab bengkel sudah
pemperhatikan jam kerja karyawannya.
3. Pengendalian dengan menggunakan APD
APD yang digunakan dan disediakan oleh bengkel hanya
berupa baju bengkel dan topi, namun seharusnya pihak
bengkel menyediakan beberapa APD yang harus dipakai
oleh para pekerja, antara lain :

38

a. Sepatu boat
b. Masker
c. Sarung tangan
d. Ear plug dan ear muff


39

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Bengkel secara umum adalah tempat (bangunan atau ruangan) untuk
perawatan/pemeliharaan, perbaikan, modifikasi alat dan mesin (alsin),
tempat pembuatan bagian mesin dan perakitan alat dan mesin (Ayan,
2002).
Bengkel Ray Ref AHASS Motor 8337 merupakan salah satu bengkel
yang terletak di Jember yang mana merupakan bengkel anak induk dar
iperusahaan Honda. Hygiene sanitasi yang telah diterapkan di dalam
bengkel tersebut sudah cukup baik. Namun masih ada kekurangan yang
harus diperbaiki oleh pemilik bengkel yaitu masalah sanitasi berupa
penyediaan tempat cuci tangan dan sabun, penyediaan alat minum, dan
penerangan untuk masing-masing area pit.

5.2 Saran
Sebagai bengkel yang sudahterpercaya dan merupakan salah satu
bengkel yang terbesar sudah seharusnya bengkel Ray Ref AHASS Motor
8337 memperhatikan hal-hal terkecil terutama yang bersangkutandengan
kesehatan dan keselamatan kerja parapekerjanya, salah satunya adalah
sanitasi di tempat kerja seperti pengadaan wastafel dan lain sebagainya.
Rekomendasi yang dapat kami berikan terhadap bengkel AHASS
antara lain :
a. Jika sudah dibuat aturan-aturan tertulis seperti larangan-larangan
walaupun hanya tersirat seharusnya karyawan memperhatikan hal
tersebut dengan tidak melanggarnya karena hal itu juga berkaitan
dengan keamanan di dalam bengkel. Contohnya adalah tulisan
40

peringatan Area Bebas Rokok yang dilanggar oleh pekerja harus
dilakukan sanksi bagi pekerja yang melanggar. Jadi, perlu adanya
pengawasan langsung dari pemilik bengkel.
b. Pada masalah penyediaan alat minum berupa gelas seharusya
masing-masing pekerja memiliki gelas terpisah dengan pekerja
lain agar tidak tertular penyakit yang mungkin diderita pekerja lain
saat bekerja, misal flu dan batuk ataupun penyakit menular
seperti hepatitis. Yang diharapkan adalah penyakit tidak akan
dengan mudah menyebar pada pekerja lainnya dan produktivitas
tidak akan mengalami penurunan.
c. Pada masalah sanitasi adalah dengan menyediakan wastafel agar
pekerja dengan mudah mencuci tangannya setelah bekerja dan
disediakan sabun serta handuk dekat wastafel agar seusai
mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, lalu pekerja
dapat langsung mengeringkan tangan mereka dengan handuk
bersih yang tersedia.




41

DAFTAR PUSTAKA

Daryanto. 2007. Kesehatan dan Keselamatan Kerja Bengkel. Jakarta: Rineka
Cipta dan Bina Adiaksara.
Subaris, Heru dan Haryono. 2007. Hygiene Lingkungan Kerja. Jogjakarta: Mitra
Cendikia Press.