Anda di halaman 1dari 16

FAKTOR-FAKTOR YANG MENPENGARUHI TABUNGAN DI

INDONESIA PERIODE 2002-2012


Disusun Oleh :
Bayu Randi Irawan
(Mahasiswa Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan FE UNIVERSITAS SULTAN AGENG
TIRTAYASA)
Email : bayurandi13@gmail.com
Pembimbing :
Tony S. Chendrawan, ST.,SE.,M.Si
Dr.H.M., Kuswantoro, Drs., M.Si

Abstract
This study aimed to test the influence of BI Rate and Inflation on Saving in The Period 2002-2012.
Analytical techniques used were linear regression, while hypothesis test used t - test and F - test with
significance level of 5%. The classical assumptions test used in this study include normality,
multicollinearity, heteroscedasticity and autocorrelation test. The research prove that BI Rate had a
negative effect and significant to Saving. Meanwhile, Inflation had a positive effect and not
significant to Saving.
Keywords : Saving, BI Rate, Inflation
Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Pada era globalisasi ini diseluruh belahan dunia baik di Negara maju maupun di Negara
yang sedang berkembang aktivitas manusia yang berhubungan dengan tabungan sangatlah penting,
adanya tabungan maka dana tersebut tidaklah hilang dari peredaran, tetapi dipinjam atau dipakai
oleh pengusaha untuk membiayai investasinya. Dengan adanya aktivitas tabungan maka penabung
akan mendapatkan bunga atas tabungannya sedangkan pengusaha juga akan bersedia membayar
bunga tersebut selama harapan keuntungan diperoleh dari investasi lebih besar dari yang
dibayarkannya. Adanya kesamaan antara tabungan dengan investasi misalnya apabila tabungan
meningkat maka pengeluaran investasi juga meningkat adalah sebagai akibat bekerja mekanisme
bunga.
Dalam perekonomian suatu negara, tabungan merupakan indikator yang meningkatkan
pertumbuhan ekonomi. Pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang termasuk didalamnya
pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dan memiliki dana yang cukup besar. Kondisi dunia
perbankan di indonesia telah mengalami banyak perubahan waktu ke wakti yang telah banyak
mengalami perubahan. Selain disebabkan oleh perkembangan internal dunia perbankan, juga tidak
terlepas dari pengaruh perkembangan di luar dunia perbankan, seperti sektor rill dalam
perekonomian politik, sosial, pertahanan, hukum dan keamanan.
Pada saat krisis moneter melanda negeri indonesia berdampak pada kondisi secara umum
tidak hanya terhadap sektor ekonomi saja. Nilai tukar rupiah yang terdeprisiasi sangat tajam, inflasi
yang tinggi, suku bunga bank indonesia yang tinggi, menurunnya minat menabung masyarakat di
indonesia, merupakan beberapa akibat krisis ekonomi tersebut. Akhirnya lambat laun, dengan
beberapa kali perubahan struktur politik dan penerapan kebijakan-kebijakan oleh pemerintah,
kondisi indonesia menunjukan perubahan yang lebih baik dan kondisi perekonomian yang stabil.
Di indonesia, untuk membiayai pembangunan nasional mencakup investasi domestik,
sumber dana yang bersumber dari tabungan dan pinjaman luar negeri. Namun, karena terbatasnya
jumlah dana pinjaman luar negeri, maka diperlukan dana tabungan yang lebih tinggi sebagai sumber
dana yang utama.
Menurut mudrajat kuncoro (2002:155) dana pihak ketiga adalah dana-dana yang berasal
dari masyarakat, baik perorangan maupun badan usaha, yang diperoleh bank dengan menggunakan
produk simpanan yang dimiliki oleh Bank. Tabungan adalah simpanan pihak ketiga yang
dikeluarkan oleh Bank yang penuetoran dan penarikannya hanya dapat dilakukan sesuai ketentuan
yang berlaku masing-masing Bank.
Tabel Tabungan
No. Tahun Tabungan (Miliyar
Rupiah)
Pertumbuhannya
1 2008 495.980 -
2 2009 610.703 23,13%
3 2010 728.902 19,35%
4 2011 893.699 22,6%
5 2012 1.071.485 19,89%
Sumber data : Bank Indonesia (olahan)
Dari tabel tersebut menunjukan bahwa tabungan dari tahun ke tahun mengalami
peningkatan jumlah tabungan. Tetapi pada pertumbungannya mengalami fluktuatif dari tahun ke
tahun, pada tahun 2009 adalah pertumbuhan paling tinggi dan pada tahun 2010 adalah pertumbuhan
paling rendah.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tabungan, antara lain suku bunga, keadaan
ekonomi nasional, tingkat inflasi, dll. Selain faktor tersebut, perilaku masyarakat untuk minat
menabung akan memberi pengaruh terhadap pergerakan tingkat tabungan.
Faktor tingkat suku bunga tampaknya juga mempunyai pengaruh terhadap mobilitas dana
masyarakat melalui tabungan domestik. Sejak deregulasi perbankan tahun 1983 dimana perbankan
diberi kebebasan dalam menentukan tingkat bunga menyebabkan tingkat bunga deposito dan
tabungan cenderung lebih tinggi. Dengan kondisi seperti ini para pelaku ekonomi akan
mempertimbangkan penempatan portofolio-nya pada komponen-komponen tabungan dan deposito.
Akhirnya semua ini akan menyebabkan peningkatan pada tabungan masyarakat.
Tingkat suku bunga memegang salah satu peran penting dalam perekonomian indonesia.
Hal ini dilatar belakangi bahwa di indonesia, Tingkat suku bunga ditentukan oleh penawaran dan
permintaan akan uang yang terjadi dalam pasar uang. Tingkat suku bunga merupakan harga dari
penggunaan uang atau bisa juga dipandang sebagai sewa atas penggunaan uang untuk jangka waktu
tertentu seperti halnya dengan barang-barang lain. Apabila dana yang ditawarkan kreditur lebih kecil
dari dana yang diminta debitur, maka tingkat suku bunga cenderung naik, demikian pula sebaliknya.
Menurut bank Indonesia dalam tanun laporan 1997/1998 bahwa suku bunga mengalami
kenaikan tajam seiring dengan langkah pengetahuan moneter yang dilakukan oleh bank Indonesia.
Sejalan dengan itu, suku bunga tabungan naik tajam menjadi 36,54% pada akhir 1997 dibandingkan
16,47% pada tahun sebelumnya. (Buku Laporan Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik)
Penelitian yang dilakukan samavati, adilov dan dilts (2013) menunjukan bahwa suku bunga
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tabungan di amerika serikat
Selain suku bunga, inflasi merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi
tingkat tabungan. Inflasi selalu ada dimana pun merupakan fenomena moneter jika hal ini terjadi
proses tingkat harga yang meningkat terus menerus dan cepat ( Mishkin, 2009:367). Inflasi dapat
mengurangi hasrat masyarakat untuk menabung atau menyimpan uangnya dalam bentuk tabungan,
jika muncul ekspektasi tingkat return yang lebih rendah dibanding tingkat inflasi.
Penelitian yang dilakukan salman shaikh dan ehsan sheik (2013) menunjukan bahwa inflasi
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tabungan di pakistan.
Secara umum tabungan mencakup beberapa hal yang mempengaruhinya, mungkin antara
lain yang berkaitan dengan tema penelitian ini adalah suku bunga dan inflas.
Berdasarkan dengan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk meneliti judul FAKTOR-
FAKTOR YANG MENPENGARUHI TABUNGAN
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana pengaruh antara tingkat suku bunga terhadap tabungan?
2. Bagaimana pengaruh antara tingkat inflasi terhadap tabungan?
3. Bagaimana pengaruh antara tingkat suku bunga dan tingkat inflasi terhadap tabungan?
Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh antara tingkat suku bunga terhadap tabungan.
2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh antara tingkat inflasi terhadap tabungan.
3. Untuk mengetahui seberapa besar tingkat suku bunga dan tingkat inflasi terhadap tabungan.
Tinjauan pustaka
1.1. Tabungan
1.1.1. Pengertian
Seperti yang telah dijelaskan diatas simpanan tabungan adalah simpanan yang
penarikannya hanya dapat dilakukan menurut ketentuan yang disepakati, tetapi tidak dapat
ditarik dengan cek, bilyet giro dan atau alat lainnya yang dapat dipersamakan daengan itu.
Pengertian dan penarikan hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang
disepakati maksudnya adalah untuk menarik uang yang disimpan direkening tabungan antara
satu bank dengan bank lainnya berbeda, tergantung dari bank yang mengeluarkannya. Hal ini
sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat antara bank dengan nasabah, apabila nasabah
penyimpanan uang di bank maka nasabah tersebut secara otomatis menyetujui perjanjian
tersebut.
Simurangkir (2004: 11) menyatakan bahwa tabungan adalah simpanan dana pihak ketiga
kepada bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat yang ditentukan
antara bank dan nasabah.
Sedangkan menurut Kunarjo (2003: 320) tabungan adalah jumlah yang disisihkan seorang
individu dari pendapatannya untuk tujuan investasi. Atau menurut teori ekonomi, pendapatan
yang tidak dikonsumsi. Biasanya semakin tinggi pertumbuhan ekonomi dan semakin makmur
suatu negara, semakin tinggi pula tingkat tabungan masyarakatnya.
Sadono Sukirno (2004: 103) menyatakan bahwa tabungan merupakan pendapatan rumah
tangga yang disimpan dilembaga keuangan dan tidak digunakan untuk membeli barang.
Sedangkan menurut Taswan (2010: 178) tabunga merupakan simpanan masyarakat atau pihak
lain yang penarikan hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang disepakati, tetapi
tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro dan atau alat lainnya yang dapat dipersamakan
daengan itu. Syrat-syarat tertentu misalnya harus ditarik secara tunai, penarikan hanya dalam
kelipatan nominal tertentu, jumlah penarikan tidak boleh melebihi saldo nominal tertentu.
Ismail (2010: 25) menyatakan bahwa tabungan merupakan dana pihak ketiga yang dapat
ditarik sesuai perjanjian antara bank dan nasabah pemegang rekening tabungan. Tabungan
meskipun merupakan dana simpanan yang dapat ditarik setiap saat, akan tetapi pengendapannya
relatif lebih stabil dibanding dana yang berasal dari giro.
Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan dengan syarat
tertentu yanglebih disepakati, dan tidak menggunakan cek atau bilyet giro atau alat lainnya dapat
dipersamakan oleh hal itu. Cara penarikan rekening tabungan ini biasannya menggunakan cash
card atau ATM, dan debt card (Sri Susilo, 2004: 64).
Sedangkan menurut statistik ekonomi keuangan indonesia (2011) tabungan adalah
simpanan pada bank umum dan BPR dalam rupiah milik pihak ketiga, yang penarikan hanya
dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang disepakati tetapi tidak dapat ditarik dengan
cek atau alat yang dapat dipersamakan dengan itu.
Wikipedia bahasa indonesia menyatakan bahwa tabungan adalah simpanan yang
penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapt
ditarik dengan cek, bilyet giro, dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.



1.1.2. Penentuan tabungan
a. Teori klasik
Menurut teori klasik tabungan merupakan fungsi dari suku bunga, bahwa semakin tinggi
tingkat bunga akan semakin tinggi pula keinginan masyarakat untuk menabung. Artinya pada
tingkat bunga yang lebih tinggi masyarakat akan lebih terdorong untuk mengorbankan
konsumsi guna menambah tabungan. Investasi juga tergantung atau merupakan fungsi fari
tingkat bunga, semakin tinggi bunga keinginan untuk melakukan invetasi semakin kecil.
Alasannya, seseorang pengusahan akan menambah pengeluaran investasinya apabila
keuntungan yang diharapkan dari investasi lebih besar dari tingkat bunga yang harus dia bayar.
Semakin rendah tingkat bunga, pengusaha akan lebih terdorong untuk melakukan investasi,
sebab biaya penggunaan dan (cost of capital) juga semakin kecil (Sekti Wibowo Listyoadi,
2005).
b. Teori keynes
Dalam teori keynesian bahwa tingkan bunga tidaklah ditentukan oleh interaksi tabungan
dan oleh investasi di pasar modal, akan tetapi tingkat bunga merupakan fenomena moneter,
artinya tingkat bunga ditentukan oleh permintaan dan penawaran uang di pasar uang. Uang
akan mempengaruhi kegiatan ekonomi (pendapatan domestik) sepanjang uang itu
mempengaruhi bunga. Perubahan tingkat bunga selanjutnya akan mempengaruhi keinginan
berinvestasi sektor perusahaan karena investsi sendiri sangat sensitif terhadap tingkat bunga.
Tabungan sendiri menurut mereka tidaklah ditentukan oleh tingakt bunga, namun lebih
ditentukan oleh tingkat pendapatan, semakin tinggi tingkat pendapatan akan semakin tinggi
pula tabungan yang dilakukan sektor rumah tangga (Vanirtis dalam Sekti Wibisini
Listyoadi,2005).

1.1.3. Penentu faktor-faktor lainnya
Sadono Sukirno (2004: 119-121) menjelaskan ada fktor-faktor lain yang menentukan
tabungan selain dari pandangan klasik dan keynes diatas diantaranya:
a) Kekayaan yang telah terkumpul
Sebagai akibatnya dari mendapat harta warisan atau tabungan yang banyak akibat usaha
dimasa lau, maka seseorang berhasil mempunyai kekayaan yang mencukupi. Dalam
keadaan seperti itu ia sudah tidak terdorong lagi untuk menabung lebih banyak. Maka
lebih besar bagian dari pendapatannya yang digunakan untuk konsumsi dimasa sekarang.
Sebaliknya, untuk orang yang tidak memperoleh warisan atau kekayaan, mereka akan
lebih bertekad untuk menabung. Untuk memperoleh kekayaan yang lebih banyak dimasa
yang akan datang atau untuk memenuhi kebutuhan dimasa depan keluarganya seperti
membeli rumah, membiayai pendidikan anak atau membuat tabungan untuk persiapan di
hari tua
b) Sikap berhemat
Berbagai masyarakat mempunyai sikap yang berbeda dalam menabung dan belanja. Ada
masyarakat yang tidak suka belanja berlebihan-lebihan dan lebih mementingkan
tabungan. Dalam masyarakat seperti iti APC dan MPCnya adalah lebih rendah. Tetapi
ada pula masyarkat yang mempunyai kecendrungan menkonsumsi yang tinggi yang berati
APC dan MPCnya adalah tinggi.
c) Keadaan perekonomian
Dalam perekonomian yang tembuh dangan teguh dan tidak banyak pengangguran,
masyarakat berkecendrungan melakukan pengeluaran yang lebih aktif. Mereka
mempunyai kecendrungan belanja lebih banyk pada masa kini dan kurang menabung.
Tetapi dalam keadaan kegiatan perekonomian yang lambat perkembanganannya, tingkat
pengangguran menunjukan tendensi meningkat dan sikap masyarakat dalam
mengguanakan uang dan pendapat menjadi makin berhati-hati.

2.2 Teori Tingkat Suku Bunga
2.2.1. Suku Bunga
Bunga bank dapat diartikan sebagai balas jasa yang diberikan oleh bank yang berdasarkan
prinsip konvensional kepada nasabah yang membeli atau menjual produknya. Bunga juga
dapat diartikan sebagai harga yang harus dibayar kepada nasabah (yang memiliki simpanan)
dengan yang harus dibayar oleh nasabah kepada bank (nasabah yang memperoleh pinjaman).
Dalam kegiatan perbankan sehari-hari ada 2 macam bunga yang diberikan kepada
nasabahnya yaitu:
a. Bunga Simpanan
Bunga yang diberikan sebagai rangsangan atau balas jasa bagi nasabah yang menyimpan
uangnya di bank. Bunga simpanan merupakan harga yang harus dibayar bank kepada
nasabahnya. Sebagai contoh jasa giro, bunga tabungan dan bunga deposito.
b. Bunga Pinjaman
Adalah bunga yang diberikan kepada para peminjam atau harga yang harus dibayar oleh
nasabah peminjam kepada bank. Sebagai cotoh bunga kredit.
Kedua macam bunga ini merupakan komponen utama faktor biaya dan pendapatan bagi
bank konvensional. Bunga simpanan merupakan biaya dana yang harus dikeluarkan kepada
nasabah sedangkan bunga pinjaman merupakan pendapatan yang diterima dari nasabah. Baik
bunga simpanan maupun bunga pinjaman masing-masing saling mempengaruhi satu sama
lainnya. Sebagai contoh seandainya bunga simpanan tinggi, maka secara otomatis bunga
pinjaman juga terpengaruh ikut naik da demikian pula sebaliknya.
Edward dan Khan (1985), mengatakan bahwa faktor penentu suku bunga tcrbagi alas 2 (dua)
faktor, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal meliputi pendapatan nasional, jumlah uang
beredar, dan Ekspektasi Inflasi. Sedangkan faktor eksternalnya adalah penjumlahan suku
bunga luar negeri dan tingkat Ekspektasi perubahan nilai tukar valuta asing. Seperti halnya
dalam setiap analisis keseimbangan ekonomi, pembicaraan mengenai keseimbangan di pasar
uang juga akan melibatkan unsur utamanya, yaitu permintaan dan penawaran uang. Bila
mekanisme pasar dapat berjalan tanpa hambatan maka pada prinsipnya keseimbangan di pasar
uang dapat terjadi, dan merupakan wujud kekuatan tarik menarik antara permintaan dan
penawaran uang.

2.2.2. Fungsi Suku Bunga
Adapun fungsi suku bunga menurut Sunariyah (2004:81) adalah :
a. Sebagai daya tarik bagi para penabung yang mempunyai dana lebih untuk diinvestasikan.
b. Suku bunga dapat digunakan sebagai alat moneter dalam rangka mengendalikan
penawaran dan permintaan uang yang beredar dalam suatu perekonomian. Misalnya,
pemerintah mendukung pertumbuhan suatu sektor industri tertentu apabila perusahaan-
perusahaan dari industri tersebut akan meminjam dana. Maka pemerintah memberi
tingkat bunga yang lebih rendah dibandingkan sektor lain.
c. Pemerintah dapat memanfaatkan suku bunga untuk mengontrol jumlah uang beredar. Ini
berarti, pemerintah dapat mengatur sirkulasi uang dalam suatu perekonomian.

2.2.3. Tipe-tipe Suku Bunga
Ada 2 tipe suku bunga, yaitu :
1. Real interest rate
Koreksi atas tingkat inflsi dan didefinisikan sebagai nominal interest rate dikurangi
dengan tingkat inflasi.
Real rate = Nominal rate Rate of inflation
2. Nominal interest rate.
Tingkat suku bunga yang biasanya tertera di rekening koran dimana mereka
memberikantingkat pengembalian untuk setiap investasi yang dilakukan.
Edmister mengemukakan tiga istilah yang berkaitan dengan suku bunga yaitu :
a. State rate adalah tingkat bunga satu periode dikalikan jumlah pokok pinjaman
untuk menghitung beban bunga
b. Annual percentage rate adalah tingkat bunga disetahunkan dengan menyesuaikan
stated rate untuk jumlah periode pertahun dan jumlah pokok yang benar-benar
dipinjam
c. Yield adalah tingkat bunga yang ekuivalen denga satu kontrak keuangan yang
memenuhi tiga syarat : jumlah seluruhnya yang benar-benar dipinjam, pada awal
tahun, kemudian dibayar kembali pada akhir tahun beserta bunga.
Definisi pertama, stated rate, mendasarkan tingkat bunga pada jangka waktu kontrak.
Definisi kedua, annual pecentage rate, menyesuaikan jangka waktu kontrak untuk
menghitung ekuivalen tingkat bunga. Sedangkan definisi ketiga, yield, membuat
penyesuaian yang diperlukan untuk menghitung tingkat bunga ekuivalen dengan satu
standar yang ditentukan secara jelas.
Suku bunga merupakan salah satu variable dalam perekonomian yang senantiasa
diamati secara cermat karena dampaknya yang luas. Bunga mempengaruhi secara langsung
hehidupan masyarakat keseharain dan mempunyai dampak penting terhadap kesehatan
perekonomian mulai dari segi konsumsi, kredit, obligasi, serta tabungan
2.2.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Suku Bunga
Seperti dijelaskan di atas, bahwa untuk mennetukan besar kecilnya suku bunga
simpanan dan pinjaman sangat dipengaruhi oleh keduanya, artinya baik bunga simpanan
maupun pinjaman saling mempengaruhi disamping faktor-faktor lainnya.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi besar kecilnya penetapan suku bunga
adalah:
a. Kebutuhan dana, apabila bank kekurangan dana sementara permohonan pinjaman
meningkat, maka yang dilakukan oleh bank agar kebutuhan dana tersebut cepat
terpenuhi dengan meningkatkan suku bunga simpanan.
b. Persaingan, dalam memperebutkan daa simpanan, maka disamping faktor
promosi, yang paling utama pihak perbankan harus memperhatikan pesaing.
c. Kebijakan pemerintah, dalam arti baik untuk bunga simpanan maupun bunga
pinjaman kita, tidak boleh melebihi bunga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.
d. Jangka waktu, semakin panjang jangka waktu pinjaman, maka akan semakin
tinggi tinggi bunganya, hal ini disebabkan besarnya kemungkinan resiko di masa
mendatang. Serta faktor-faktor yang lain.
e. Target keuntungan yang diharapkan.
f. Reputasi perusahaan.
g. Kualitas jaminan.
h. Daya saing produk.
2.2.5. Hubungan Tingkat Suku Bunga dengan Jumlah Tabungan
Bunga adalah penghasilan, seperti layaknya orang bekerja maka penghasilan yang mereka
peroleh disebut dengan upah dan gaji, para pemegang saham menerima penghasilan yang
disebut deviden, pemegang hak cipta memperoleh penghasilan yang disebut sebagai
royalty, dan banyak jenis penghasilan lainnya yang diperoleh dengan cara yang berbeda-
beda. Demikian juga halnya dengan bunga, bunga adalah penghasilan yang diperoleh oleh
orang-orang yang memberikan kelebihan uangnya untuk digunakan sementara waktu oleh
orang-orang yang membutuhkan dan menggunakan uang tesebut untuk menutupi
kekurangannya. Dan dari banyaknya orang yang menabung membuat pihak bank pun akan
mendapatkan pendapatan dengan cara memberikan pinjaman kepada nasabah dari dana
tabungan tersebut.
Bank menggunakan tingkat suku bunga yang tinggi untuk menarik nasabah, dengan
banyaknya nasabah maka jumlah tabungan pun akan meningkat. Jadi, Besar atau kecilnya
jumlah tabungan sangat dipengaruhi oleh tingkat bunga yang ditawarkan oleh bank kepada
nasabah.
Analisis ekonomi terdapat dua pandangan yang berbeda tentang faktor penting yang
menentukan jumlah tabungan dalam masyarakat. Pandangan tradisional, yaitu pandangan
ahli-ahli ekonomi ekonomi yang digolongkan sebagai ahli ekonomi klasik (ahli-ahli
ekonomi yang hidup di akhir abad kedelapan belas sehingga permulaan abad kedua puluh),
berkeyakinan bahwa jumlah tabungan yang dilakukan masyarakat ditentukan oleh suku
bunga. Semakin tinggi suku bunga, semakin besar jumlah tabungan yang akan dilakukan
masyarakat. Menurut pandangan modern, yaitu pandangan sebuah masa klasik, tabungan
tergantung kepada pendapatan nasional (pendapatan seluruh penduduk dalam
perekonomian).
Sesuai dengan pernyataan Rimsky K. Judisseno (2005:81) yang menyatakan bahwa :
bahwa fluktuasi bunga dapat mempengaruhi perilaku penabung seperti penjelasan berikut
pada waktu tingkat bunga cukup tinggi,maka jumlah tabungan secara agregat meningkat
dalam jumlah yang sangat besar dalam bentuk dana yang siap dipinjamkan. Dan dipertegas
oleh Malayu Hasibuan (2006:18) bahwa :bunga merupakan hal penting bagi suatu bank
dalam penarikan tabungan dan penyaluran kredinya. Penarikan tabungan dan pemberian
kredit selalu dihubungkan dengan tingkat suku bunganya. Bunga bagi bank bisa menjadi
biaya yang harus dibayarkan kepada penabung.
2.3.1. Pengertian Inflasi
Inflasi merupakan suatu keadaan di mana terjadi kenaikan harga-harga barang dan jasa
secara tajam (absolute) yang berlangsung secara terus-menerus dan dalam jangka waktu
yang cukup lama. Nilai uang mengalami penurunan secara tajam sebanding dengan
kenaikan harga tersebut. Sedangkan deflasi yaitu keadaan di mana harga-harga barang dan
jasa terus menurun dengan tajam. Keduanya dapat mengancam dan merusak stabilitas
perekonomian suatu negara. Menurut Tajul Khalwary (2000 ; 6-9) Inflasi dan deflasi
diukur dari keseluruhan harga-harga barang maupun jasa, jadi bersifat aggregatif. Menurut
Noripin (1998 ; 25) Kenaikan yang hanya terjadi sekali saja meskipun dengan persentase
yang cukup besar bukan merupakan inflasi. Menurut Sadono Sukirno (2004 ; 333) Inflasi
juga diartikan sebagai kenaikan harga-harga barang dan jasa yang terjadi karena permintaan
bertambah lebih besar dibandingkan dengan penawaran barang di pasaran. Dengan kata
lain terlalu banyak uang yang memburu barang yang jumlahnya terbatas.
Menurut Noripin (1998 ; 27) Inflasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis antara lain:
(a) Inflasi merayap (creeping inflation) biasanya ditandai dengan laju inflasi yang rendah
(kurang dari 10% per tahun). Kenaikan harga berjalan secara lambat dengan persentase
yang kecil dan jangka waktu yang relatif lama. (b) Inflasi menengah (glopping inflation)
biasanya ditandai dengan kenaikan harga yang cukup besar (biasanya double digit atau
triple digit). Kenaikan harga berjalan dalam waktu yang relatif pendek serta bersifat
akselerasi, harga minggu/ bulan ini lebih tinggi dari minggu/ bulan lalu. (c) Inflasi tinggi
(hyper inflation) merupakan inflasi yang paling parah, harga-harga naik sampai 5 atau 6
kali. Masyarakat sudah tidak lagi berkeinginan menyimpan uang. Nilai uang merosot
dengan tajam, perputaran uang semakin cepat dan harga naik secara akselerasi.
Tingkat inflasi ialah perubahan persentase dalam seluruh tingkat hargaharga barang dan
jasa yang bervariasi sepanjang waktu dan antar negara. Inflasi merupakan kenaikan dalam
tingkat harga rata-rata, sedangkan harga yaitu nilai dimana uang dapat dipertukarkan untuk
mendapatkan barang dan jasa. Indikator yang sering dipakai untuk mengukur tingkat inflasi
ialah indeks harga konsumen (IHK). Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan
pergerakan harga dari barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. IHK ialah suatu
ukuran atas
keseluruhan biaya pembelian barang dan jasa oleh rata-rata konsumen.

2.3.2. Teori Inflasi
Secara garis besar ada tiga teori mengenai inflasi, masing-masing menyoroti aspek-aspek
tertentu antara lain:
1. Teori Kuantitas Uang
Teori ini menyoroti aspek-aspek dalam proses inflasi seperti: (a) Jumlah uang yang beredar,
inflasi bisa terjadi jika ada penambahan volume uang yang beredar. Inflasi yang terjadi
karena kegagalan panen, hanya akan menaikan harga-harga untuk sementara waktu saja.
(b) Psikologi atau harapan masyarakat mengenai
kenaikan harga (expectation). Walaupun jumlah uang beredar bertambah namun
masyarakat masih belum menduga bahwa harga-harga akan naik, maka pertambahan uang
hanya akan menambah simpanan atau uang kas/ tunai mereka, tetapi jika masyarakat sudah
menduga bahwa harga-harga barang akan naik maka mereka
cenderung akan membelanjakan uangnya karena khawatir jika uang disimpan terus nilainya
akan merosot. Jadi inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang yang beredar dan
harapan masyarakat di masa mendatang
2. Teori Keynes
Teori ini menyatakan bahwa inflasi terjadi karena masyarakat memiliki keinginan hidup di
luar batas kemampuan ekonominya. Proses inflasi ini ialah proses perebutan bagian rezeki
di antara kelompok kelompok sosial yang menginginkan bagian yang lebih besar dari yang
bisa disediakan masyarakat tersebut. Keadaan di mana permintaan masyarakat akan
barang-barang selalu melebihi jumlah barang-barang yang tersedia (inflationary gap).
3. Teori Strukturalis
Teori inflasi yang didasarkan pada pengalaman negaranegara di Amerika latin. Teori ini
memberikan ketegaran (rigidities) dari struktur perekonomian negara-negara berkembang.
Ada dua ketegaran utama dalam perekonomian yang bisa menimbulkan inflasi seperti: a)
Ketegaran yang berupa ketidak-elastisan dari
penerimaan ekspor, yaitu nilai ekspor yang tumbuh secara lamban dibandingkan dengan
sektor-sektor lain. b) Ketegaran yang berkaitan dengan ketidak-elastisan dari supply atau
produksi bahan makanan dalam negeri. Namun dalam kenyataannya proses inflasi yang
disebabkan karena ketidak-elastisan penerimaan ekspor dan ketidakelastisan produksi
dalam negeri jarang terjadi sendiri-sendiri, melainkan bersama-sama bahkan sering kali
memperkuat satu sama lain.
2.3.3. Cara-cara Mengatasi Inflasi
Cara mengatasi inflasi pada dasarnya harus diarahkan pada faktor-faktor yang
menyebabkan perubahan harga-harga menjadi naik atau dengan kata lain nilai uang
menjadi turun. Dalam hal ini ada beberapa kebijakan (policy) yang dapat ditempuh antara
lain:
1. Kebijakan Moneter (Monetary Policy)
Kebijakan moneter adalah kebijakan yang dilakukan pemerintah atau otoritas moneter
dengan menggunakan pengubah jumlah uang beredar (money supply) dan tingkat bunga
(interest rates) untuk mempengaruhi tingkat permintaan agregat dan mengurangi ketidak-
stabilan perekonomian.12 Kebijakan moneter dilaksanakan oleh bank sentral untuk
menggurangi jumlah uang yang beredar dengan cara menaikkan cash reserve ratio/ cash
ratio/ persentase likuiditas/ giro wajib minimum, menjual surat- surat berharga (open
market operation) dan menaikkan tingkat bunga kredit. Untuk mencegah laju inflasi maka
pemerintah dan bank sentral harus bekerjasama dengan menjamin bahwa uang cadangan
yang tersedia pada sistem perbankan tidak berlebihan, namun cukup untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat akan uang.14
2. Kebijakan Fiskal (Fiscal Policy)
Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang dilakukan pemerintah melalui manipulasi
instrumen fiskal. Kebijakan fiskal dapat dibedakan kedalam kebijakan fiskal aktif
(discretonary fiscal policy), yaitu pemerintah melakukan perubahan tingkat pajak/ program
pengeluaran, sedankan kebijakan fiskal pasif (nondiscreationary fiscal policy), yaitu
kecenderungan membelanjakan marginal dan pendapatan nasional.15 Kebijakan fiskal
dapat dilakukan dengan mengurangi pengeluaran pemerintah, menaikkan pajak dan
pemerintah melakukan pinjaman kepada masyarakat. Apabila pemerintah melaksanakan
kebijakan tersebut maka pemerintah telah campur tangan dalam perekonomian. Apabila
suatu perekonomian mengalami inflationary gap atau deflationary gap maka pemerintah
akan menaikkan atau menurunkan tingkat pendapatan nasional.
3. Kebijakan Non Moneter dan Non Fiskal
Kebijakan untuk mengatasi inflasi diluar dari kebijakan moneter dan fiskal. Kebijakan ini
dapat dilakukan dengan meningkatkan hasil produksi (production approach), kebijakan
upah/ gaji, pengawasan harga barang dan distribusinya dan kombinasi dari berbagai cara.
2.3.4. Hubungan Inflasi Dengan Tabungan
Menurut Milton Friedman inflasi akan terus terjadi karena hal tersebut merupakan
fenomena moneter. Teori kuantitas uang menyatakan bahwa pertumbuhan dalam kuantitas
uang adalah determinan dalam tingkat inflasi, tetapi teori ini hanya bersifat empiris bukan
teoritis (uang dan harga). Teori kuantitas dan persamaan fisher sama-sama menyatakan
bahwa pertumbuhan uang mempengaruhi tingkat bunga nominal. Kenaikan pertumbuhan
uang sebesar satu persen menyebabkan kenaikan satu persen dalam tingkat inflasi.
Sedangkan Kenaikan satu persen tingkat inflasi menyebabkan kenaikan satu persen tingkat
bunga nominal yang disebut efek fisher (fisher effect). Beberapa ahli ekonom menyebutkan
bahwa nilai uang mendatang lebih rendah dibanding masa sekarang. Maka jika terjadi
kenaikan inflasi, nilai uang turun sangat tajam. Perpekstif masyarakat untuk menabung
akan menurun, sehingga akan mempengaruhi penghimpunan dana bank dari masyarakat
(tabungan).

2.4 Penelitian Terdahulu
Penelitian Aldrin Wibowo dan Susi Suhendra (2008), dengan judul Analisis Pengaruh
Nilai Kurs, Tingkat Inflasi dan Tingkat Suku Bunga terhadap Dana Pihak Ketiga Pada Bank
Devisa di Indonesia (Periode Triwulan I 2003- Triwulan III 2008).53 Sumber data
penelitian ini adalah data sekunder. Analisis yang dipakai adalah analisis regresi linier
berganda. Hasilnya secara simultan Nilai Kurs, Tingkat Inflasi dan Tingkat Suku Bunga
tidak berpengaruh signifikan terhadap Dana Pihak Ketiga Pada Bank Devisa di Indonesia.
Sedangkan R square sebesar 19,2% sehingga pengaruhnya sangat lemah.

Sekti wibowo listyoadi (2005) meneliti tentang analisis faktor-faktor yang mempengarui
tabungan perbankan di bank indonesia (pendekatan error correction model) variabel suku
bunga nominal, agriculture share, financial depnt yang berpengaruh secara signifikan
dalam jangka pendek, sedangkan pendapatan peerkapita tidak berpenaruh signifikan.
Dalam jangka panjang variabel berpengaruh signifikan yaitu suku bunga nominal,
agriculture share dan pendapatan perkapita.

Poppy maneskhas (2009) meneliti tentang analisis pengarug PDRB, suku bunga dan
tingkat inflasi terhadap simpanan masyarakat pada bank-bank umum di sumatra utara
dengan menggunakan analisis regersi dengan OLS. Dari hasil penelitian tersebut
menyimpulkan bahwa variabel PDRB, tingkat suku bunga, dan tingkat inflasi berpengarug
positif terhadap jumlah simpanan masyarakat pada bank-bank umum di sumatra utara.
2.5 Krangka Pemikiran
Masalah
Naik terusnya tabungan dari tahun ke tahun
Stabilnya suku bunga bank indonesia
Tidak stabilnya inflasi



















Identifikasi masalah
Berapa besar pengaruh suku bunga bank indonesia terhadap tabungan
Berapa besar pengaruh inflasi terhadap tabungan
Berapa besar pengaruh inflasi dan suku bunga bank indonesia terhadap tabungan
Variabel
Y (Tabungan)
X1 (Suku bunga)
X2 (Inflasi)
Jurnal
(Hedayeh Samavati, Nodir Adilov,
David A. Dilts : 2013)
(Salman Ahmed Shaikh dan Ehsan A.
Sheikh : 2013)
(Samuel Igbatayo dan Andrew O.
Agbada : 2012)
( Pradeep Agrawal dan Pravakar
Sahoo : 2012)
Teori
Nopirin
Marshall
Mishkin

Fungsi : S= f (SBI, Inf)
Regresi : S= 0 + 1SBI + 2Inf +
Judul
Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tabungan
Paradigma
Suku Bunga (X1)
Teori Marshall

Inflasi (X2)
Teori friedman.

2.6 Hipotesi
Hipotesis merupakan suatu pernyataan yang bersifat sementara atau dugaan saja. Penelitian
ini bermaksud memperoleh gambaran obyektif tentang analisis faktor-faktor yang
mempengaruhi tabungan di Indonesia tahun 2002 sampai 2012.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti mengemukakan bahwa hipotesis sebagai berikut :
Ha 1 : Terdapat pengaruh suku bunga BI Rate terhadap Tabungan
Ha 2 : Terdapat pengaruh inflasi terhadap Tabungan
Ha 3 : Terdapat pengaruh suku bunga BI Rate dan Inflasi terhadap Tabungan

METODE PENELITIAN
Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Tabungan. Tabungan adalah simpanan yang
penarikannya hanya dapat dilakukan menurut ketentuan yang disepakati. Data Tabungan diperoleh
langsung dari Bank Indonesia www.bi.go.id. Data yang digunakan adalah data tiap akhir tahun
selama periode pengamatan antara tahun 2002-2012.
Variabel Independen
Berikut ini adalah variabel-variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:
1) Suku Bunga adalah kebijakan moneter yang ditetapkan Bank Indonesia. Pada penelitian ini
harga minyak dunia yang digunakan adalah standar West Texas Intermediate. Data suku
bunga yang diperoleh lansung dari Bank Indonesia www.bi.go.id. Data yang digunakan
adalah data tiap akhir tahun selama periode pengamatan antara tahun 2002-2012
2) Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus
berkaitan mekanisme pasar yang disebab kan beberapa faktor. Data inflasi yang diperoleh
lansung dari Bank Indonesia www.bi.go.id. Data yang digunakan adalah data tiap akhir
tahun selama periode pengamatan antara tahun 2002-2012
Operasional variabel
Variabel Definisi
Skala
Indikator Lambang
Tabungan simpanan yang penarikannya hanya dapat
dilakukan menurut ketentuan yang
disepakati
Rasio Rp S
Suku Bunga kebijakan moneter yang ditetapkan Bank
Indonesia
Rasio % SBI
Inflasi Kenaikan dalam tingkat harga umum
dengan menggunakan IHK
Rasio % INF
Sumber : Olahan Peneliti
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan
karaketristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan
(Sugiyono, 2008:61). Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut (Sugiyono, 2008:62) Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
Tabungan (Y).
tabungan perbankan yang ada di Bank Indonesia. Berdasarkan data yang tersedia di internet untuk
semua variabel yang digunakan dalam penelitian ini, tersedia data dari tahun 2002 tahun 2012
Sampel Penelitian
Teknik sampling yang probability digunakan adalah non sampling dengan jenis purposive sampling
yaitu berdasarkan kriteria-kriteria tertentu yang telah ditentukan (Joko Sulistyo,2012). Data yang
digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah data Tabungan, Suku Bunga dan Inflasi, yang
dibatasi pada data penutupan tiap akhir-akhir tahun selama periode antara tahun 2002-2012. Alasan
pemilihan periode tahun yang digunakan adalah untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat sesuai
dengan keadaan sekarang ini.
Metode Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara dokumentasi dari berbagai macam sumber.
Pengambilan data Tabungan dilakukan di Bank Indonesia. Selain itu pengumpulan data dan
informasi dilakukan dengan cara mengambil dari internet, artikel, jurnal, dan mempelajari dari buku-
buku pustaka yang mendukung proses penelitian ini.
Metode Analisis Data
1. Pengujian Asumsi-Asumsi Model Regresi
Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda. Analisis regresi
merupakan suatu alat statistik yang digunakan untuk mengetahui atau memprediksi besarnya
variabel respons berdasarkan variabel prediktor.Analisis regresi dapat menghadapi beberapa
masalah serius oleh karena itu, peneliti harus melakukan beberapa pengujian untuk mendapatkan
hasil yang terbaik. Pengujian tersebut antara lain: uji normalitas, uji autokorelasi, uji
heteroskedastisitas, uji multikolinearitas (Sulistyo, 2002:146).
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa sampel diambil dari populasi yang
berdistribusi normal (Sulistyo, 2010:50). Menurut Gujarati (2003), asumsi normalitas gangguan
penting sekali, sebab uji eksistensi model (uji F) maupun uji validitas pengaruh variabel independen
(uji t), dan estimasi nilai variabel dependen mensyaratkan hal ini. Untuk menguji hal tersebut dapat
dipergunakan metode grafis Normal P-P Plot dari standartdized residual cumulative probability,
dengan identifikasi apabila sebarannya berada disekitar garis normal, maka asumsi kenormalan
dapat dipenuhi.
b. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi
antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Jika
terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi
yang beruntung sepanjang waktu, berkaitan satu sama lain. Masalah ini timbul karena residual
(kesalahan pengganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Hal ini sering
ditemukan pada data urut waktu atau time series karena gangguan pada seseorang atau kelompok
yang sama pada periode berikutnya. Pada data crossection (silang waktu), masalah autokorelasi
relatif jarang terhadap gangguan pada observasi yang berbeda berasal dari individu atau kelompok
berbeda. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Uji autokorelasi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah uji Durbin Watson (DW test). Uji ini hanya digunakan untuk
korelasi tingkat satu (first order autocorrelation) dan mensyaratkan adanya intercept (Konstanta)
dalam model regresi dan tidak ada variabel lain diantara variabel bebas.
Dasar yang digunakan untuk pengambilan keputusan secara umum diperlihatkan dalam tabel berikut
Tabel Durbin-Watson (D-W)
Dw Kesimpulan
Kurang dari 1,34(<dl) Ada autokorelasi
1,34 1,85 (dl du) Tanpa kesimpulan
1,85 2.15(du 4-du) Tidak ada autokorelasi
2,15 2.66 (4-du 4-dl) Tanpa kesimpulan
Lebih dari 2,66 (>4-dl) Ada autokorelasi
Sumber : Jalan Pintas Menguasai SPSS 10.0, Sulaiman Wahid 2002.
c. Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas adalah asumsi yang menyatakan bahwa residu atau deviasi dari garis yang paling
tepat muncul secara random sesuai dengan besarnya variabel-variabel independen. Bila kesalahan
yang terjadi tidak acak tetapi menunjukkan hubungan yang sistematis sesuai dengan besarnya satu
variabel independen atau lebih, berarti adanya heteroskedastisitas. Heteroskedastisitas
mempengaruhi kesalahan baku koefisien sehingga memberikan indikasi yang salah dan
menyebabkan koefisien determinasi menunjukkan daya menjelaskan yang terlampau besar (Arsyad,
1996:198).
Heteroskedastisitas dapat dihilangkan dengan menggunakan logaritma dari variabel penjelas yang
menyebabkan terjadinya heteroskedastisitas tersebut atau dengan menggunakan regresi dengan
sistem kuadrat terkecil tertimbang (weighted least square). Untuk menjalankan regresi jenis ini,
pertama harus membagi semua variabel terikat dan variabel bebas yang menyebabkan terjadinya
heteroskedastisitas dan menjalankan regresi terhadap variabel yang sudah ditransformasikan
tersebut (Salvatore, 2001:170).
d. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antara
variable bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variable bebas.
Akibat bagi model regresi yang mengandung multikolinearitas adalah bahwa kesalahan standar
estimasi akan cenderung meningkat dengan bertambahnya variable independent, tingkat signifikansi
yang digunakan untuk menolak hipotesis nol akan semakin besar dan probabilitas menerima
hipotesis yang salah juga akan semakin besar. Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas
dalam model regresi adalah sebagai berikut:
a. Nilai R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat tingga, tetapi
secara individual variabel-variabel indenpenden banyak yang tidak signifikan
mempengaruhi variabel dependen.
b. Menganalisis matrik korelasi variable-variabel bebas. Jika antar variable bebas ada korelasi
yang cukup tinggi ( umumnya diatas 0,90), maka hal ini merupakan indikasi adanya
multikolinearitas
c. Mutikolinearitas dapat juga dilihat dari nilai tolerance dan lawannya, VIF ( Variance
Inflation Factor ). Jika nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF yang tinggi,
maka menunjukkan adanya kolinearitas yag tinggi. Multikol terjadi bila nilai VIF lebih dari
10 dan nilai tolerance kurang dari 0,1.
2. Uji F
Menurut Salvatore (2001:167) uji F digunakan untuk menguji hipotesis bahwa variasi dari semua
variabel bebas (X) menerangkan proporsi yang signifikan dari variasi pada variabel terikat (Y).
Hipotesis untuk melakukan uji F adalah sebagai berikut:
H0: Variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.
Ha: Variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen.
Untuk mengetahui apakah H0 ditolak atau gagal ditolak maka perlu dibandingkan antara nilai F-
statistik dan nilai F-kritis dari tabel distribusi F. Tolak H0, jika F-statistik > F-kritis Menurut
Salvatore (2001:168) nilai statistik F dapat dirumuskan sebagai berikut:
F =
/ ()
/ ()

3. Uji t
Uji statisik t adalah uji statistik yang menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas
secara individual dalam menerangkan variasi variabel terikat (Kuncoro, 2001:97). Hipotesis untuk
melakukan uji t pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
H0: Variabel independen X tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.
Ha: Variabel independen X berpengaruh terhadap variabel dependen.
Keputusan pengujiannya adalah sebagai berikut (Priyatno, 2010:69):
H0 diterima jika t tabel < t hitung < t tabel
H0 ditolak jika t hitung < - t tabel atau t hitung > t tabel
Berdasarkan teori yang ada sebelumnya, maka hipotesis untuk masingmasing variabel independen
adalah sebagai berikut:
1. Hipotesis yang berkaitan dengan perubahan tingkat suku bunga
H01: 1 0
Ha1: 1 < 0
2. Hipotesis yang berkaitan dengan perubahan tingkat inflasi
H02: 2 0
H02: 2 < 0
4. Uji Koefisien Determinasi (R
2
)
R dikenal dengan coefficient of determination atau coefficient of explanation. R mengukur
proporsi dari variasi total varabel terikat yang dijelaskan oleh variabel bebas atau variabel penjelas
dalam regresi (Salvatore, 2001:166).
Nilai R adalah di antara 0 dan 1 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen
dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati 1 berarti variabel-
variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi
variasi variabel dependen (Kuncoro, 2001:100).
Menurut Suliyanto (2011:55), koefisien determinasi merupakan besarnya kontribusi variabel
bebas terhadap variabel terikatnya. Semakin tinggi koefisien determinasi, semakin tinggi
kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variasi perubahan pada variabel terikatnya.
Koefisien determinasi memiliki kelemahan, yaitu bias terhadap jumlah variabel bebas yang
dimasukkan dalam model regresi di mana setiap penambahan satu variabel bebas dan jumlah
pengamatan dalam model akan meningkatkan nilai R
2
meskipun variabel yang dimasukkan tersebut
tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikatnya. Untuk mengurangi kelemahan
tersebut maka digunakan koefisien determinasi yang telah disesuaikan, Adjusted R Square (R
2
adj).
Koefisien determinasi yang telah disesuaikan (R
2
adj) berarti bahwa koefisien tersebut telah
dikoreksi dengan memasukkan jumlah variabel dan ukuran sampel yang digunakan. Dengan
menggunakan koefisien determinasi yang disesuaikan maka nilai koefisien determinasi yang
disesuaikan itu dapat naik atau turun oleh adanya penambahan variabel baru dalam model.
Analisis Regresi Linier Berganda (Multiple Regression)
Model yang digunakan dalam uji hipotesis ini adalah model regresi linier berganda atau multiple
regression untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi tabungan. Model regresi berganda yaitu
regresi yang pada saat variabel yang dicari untuk dijelaskan di hipotesis bergantung pada lebih dari
satu variabel bebas atau variabel penjelas (Salvatore, 2001:164). Dengan rumus sebagai berikut:
Y = 0 + 1 X1 + 2 X2 +
Dimana:
Y = Tabungan
0 = Konstanta
X1 = Suku Bunga
X2 = Inflasi
1,2 = Koefisien Regresi
= standar error
Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual dapat diukur dari goodness of fit-nya.
Secara statistik dapat diukur dari nilai statistik t (uji t), nilai statistik F (uji F), dan koefisien
determinasi (Kuncoro, 2001:97).





Analisis Data Dan Pembahasan Hasil Penelitian
Dependent Variable: TABUNGAN
Method: Least Squares
Date: 06/07/14 Time: 12:42
Sample: 2002 2012
Included observations: 11


Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.


C 1462233. 259655.6 5.631432 0.0005
SUKU_BUNGA -146754.3 48001.09 -3.057313 0.0156
INFLASI 37606.30 27821.53 1.351698 0.2134


R-squared 0.650085 Mean dependent var 508256.9
Adjusted R-squared 0.562606 S.D. dependent var 287206.2
S.E. of regression 189946.0 Akaike info criterion 27.37387
Sum squared resid 2.89E+11 Schwarz criterion 27.48239
Log likelihood -147.5563 F-statistic 7.431344
Durbin-Watson stat 1.197594 Prob(F-statistic) 0.014992


Asumsi klasik
Uji multiikolinearitas
Bila R
2
diantara 0,50 sampai 0,77, maka tidak terdapat multikolinearitas. Pada penelitian ini
menunjukan R
2
sebesar 0,65. Maka dinyatakan tidak terdapat multikolinearitas
Uji Autokorelasi
Pengujian autokorelasi dimaksudkan untuk menguji apakah terjadi korelasi antar variabel
independen. Melihat ada tidaknya autokorelasi digunakan angka Durbin Watson (DW). Hasil uji
yang telah dilakukan menunjukan bahwa nilai DW sebesar 1.197 angka ini berada di bawah 2. Bila
durbin-watson diantara -2 sampai 2, maka tidak terdapat autokorelasi. Kesimpulan dari uji ini
menyatakan bahwa tidak autokorelasi antar variabel independen.





Uji Heteroskedastisitas
Hasil uji heteroskedastisitas yang telah dilakukan nampak seperti nampak pada tabel diatas menun
jukkan bahwa F-statatistic tersebut mempunyai nilai probability di atas 0,05. Hal ini berarti tidak
signifikan sehingga dinyatakan tidak terdapat heteroskedastisitas.
Uji F
Uji F digunakan untuk menguji signifikan pengaruh suku bunga BI Rate dan Inflasi trehadap
Tabungan secara bersama-sama. Hasil selengkapnya uji F dengan program Eviews nampak seperti
pada tabel diatas
Perhitungan dengan Eviews sebesar 7.43 dengan tingkat Probability sebesar 0.014 lebih kecil dari
0,05 berarti dapat disimpulkan bahwa variabel independen secara bersama-sama berpengaruh secara
signifikan terhadap variabel dependen.
Uji t
Uji t merupakan pengujian signifikansi pengaruh suku bunga BI Rate dan Inflasi trehadap Tabungan
secara parsial. Berdasarkan uji regresi yang telahdilakukan diperoleh kesimpulan berikut:
b suku bunga BI Rate mempunyai tingkat probability sebesar 0.015< 0,05 berarti Ho berhasil
ditolak. Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa suku bunga BI Rate berpengaruh secara negatif dan
signifikan terhadap tabungan
a. Tingkat inflasi mempunyai nilasi signifikansi tingkat probability sebesar 0.2134> 0,05 berarti Ho
tidak berhasil ditolak. Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa inflasi tidak berpengaruh secara
positif dan signifikan terhadap tabungan
Koefisien Determinasi (R2)
Analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh yang diberikan variabel
independen yaitu: suku bunga BI Rate dan inflasi terhadap tabungan dalam bentuk prosentase. Hasil
perhitungan selengkapnya nampak pada tabel diatas. Nilai koefesien derterminasi (R
2
) sebesar
0.650085 berarti diketahui bahwa pengaruh yang diberikan oleh variabel independen terhadap
varibel dependen sebesar 65% sedangkan sisanya (100% - 65% ) = 35 % dipengaruhi oleh faktor-
faktor lain diluar variabel independen.
Analisis regresi linier berganda
Berdasarkan analisis perhitungan menggunakan eviews 5 dihasilkan model regresi linier berganda
yang berkaitan dengan pangaruh suku bunga BI Rate dan Inflasi terhadap Tabungan sebagai berikut:
Y = 1462233 -146754.3 X1 + 37606.30 X2 +
Kesimpulan
White Heteroskedasticity Test:


F-statistic 0.377919 Probability 0.817287
Obs*R-squared 2.213678 Probability 0.696526



Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa Tingkat Suku Bunga BI rate berpengaruh signifikan dan
negatif terhadap Tabungan artinya apabila terjadi peningkatan Tingkat Suku Bunga BI rate maka
akan diikuti penurunan Tabungan begitu pula sebaliknya. Koefisien regresi untuk Tingkat Suku
Bunga BI rate adalah sebesar -146754,3 artinya Tingkat Suku Bunga BI rate mempunyai pengaruh
yang negatif terhadap Tabungan sebesar -146754,3
Inflasi tidak berpengaruh signifikan dan positif terhadap Tabungan, artinya apabila terjadi
peningkatan Inflasi maka akan diikuti dengan penurunan Tabungan begitu pula sebaliknya.
Koefisien regresi untuk Inflasi adalah sebesar 37606,30 artinya Inflasi mempunyai pengaruh yang
negatif terhadap Tabungan sebesar 37606,30.
Secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan antara Tingkat Suku Bunga BI rate dan Inflasi,
Tabungan. Nilai koefisien determinasi 0,65 artinya persentase sumbangan pengaruh Tingkat Suku
Bunga BI rate dan Inflasi terhadap Tabungan sebesar 65%.
Saran
Bagi masyarakat yang akan melakukan menabung di bank hendaknya memperhatikan faktor-faktor
makroekonomi seperti Tingkat Suku Bunga BI rate terhadap pergerakan Tabungan. Pemerintah
sebaiknya berusaha menjaga stabilitas perekonomian untuk menghindari fluktuasi faktor-faktor
makroekonomi seperti Tingkat Suku Bunga BI rate dan Inflasi yang dapat mempengaruhi
pergerakan Tabungan yang juga berimbas pada peningkatkan minat menabung di bank.
Daftar Pustaka
Bank Indonesia. Laporan Tahunan, Berbagai Edisi.
Badan Pusat Statistik. Statistik Ekonomi Dan Keuangan Indonesia, Berbagai Edisi.
Hedayeh Samavati, Nodir Adilov Dan David A. Dilts, 2013, Empirical Analysis Of The Saving
Rate In The United States
Louranco, 2011, Analisis Pengaruh Tingkat Suku Bunga Dan Tingkat Inflasi Terhadap Minat
Menabung Konsumen Skripsi S1. Institute Of Business Dili Timor Leste.
Marshall, Alfred. 1895. Principles Of Ecomonic, New York
Mishkin, Frederic S. 2008. The Economics Of Money, Banking And Financial Market, Edisi 8,
Salemba Empat, Jakarta.
Pradeep Agrawal Dan Pravakar Sahoo, 2012, Savings And Growth In Bangladesh
Purba, Jhon Polman, 2008 Analisi Faktor-Faktor Yang Mempengarui Tabungan Dan Investasi
Swasta Di Indonesia Skripsi S1 Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatra Utara, Sumatra Utara.
Salman Ahmed Shaikh Dan Ehsan A. Sheikh, 2013, Macroeconomic Determinants Of Savings In
Pakistan
Samuel Igbatayo Dan Andrew O. Agbada, 2012, Inflation, Savings And Output In Nigeria: A Var
Approach
Sofyan, Muhammad, 2011, Analisis Pengaruh Pendapatan Perkapita, Tingkat Suku Bunga, Jumlah
Uang Beredar (M2) Dan Inflasi Terhadap Jumlah Tabungan Di Indonesia Skripsi S1 Fakultas
Ekonomi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.
www.wikipedia.com