Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM IRIGASI DAN DRAINASE

PERANCANGAN JARINGAN IRIGASI OUTDOOR






Oleh :
NAMA : CANDRA AYU FEBRIANA
NIM : 125040201111028
KELAS : A



PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014


1.1 Komponen Irigasi Tetes dan Mikro Sprinkler
1.1.1 Komponen Irigasi Tetes
a. Sumber Air Irigasi
Menurut Irianto (2008) sumber air irigasi dapat berasal dari mata air,
sumber air yang permanen (sungai, danau, dsb), sumur, atau suatu sistem
suplai regional. Contoh sumber air dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini:

Gambar 1. Sumber air irigasi tetes (Irianto, 2008)
b. Pompa dan tenaga penggerak
Pompa berfungsi mengangkat air dari sumber selanjutnya dialirkan ke
lahan melalui jaringan-jaringan perpipaan (Irianto, 2008). Pompa sebagai
sumber energi penggerak dapat dilihat pada gambar 2 berikut ini:









Gambar 2 . Energi Penggerak (pompa) irigasi (Irianto, 2008)
c. Jaringan Perpipaan terdiri dari:
1. Unit utama (head unit), unit utama terdiri dari pompa, tangki injeksi, filter
(saringan) utama dan komponen pengendali (pengukur tekanan, pengukur
debit dan katup) (Prastowo, 2002).


Gambar 3. Komponen unit utama dari suatu sistem irigasi tetes
(Prastowo, 2002)
2. Pipa utama, merupakan komponen yang menyalurkan air dari sumber air
ke pipa-pipa distribusi dalam jaringan. Bahan pipa utama biasanya dipilih
dari pipa PVC atau paduan antara semen dan asbes. Pipa utama (main line)
terdiri dari pompa, tangki injeksi, filter utama, pengukur tekanan,
pengukuran debit dan katup pengontrol. Pipa utama umumnya terbuat dari
pipa polyvinylchloride (PVC), galvanized steel atau besi cord yang
berdiameter antara 7,5 25 cm. Pipa utama dapat dipasang di bawah
permukaan tanah (Prastowo, 2002). Penyambungan pipa pembagipipa
utama dapat dibuat seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.











Gambar 6. Penyambungan pipa pembagi pipa utama (Prastowo, 2002)
3. Pipa sub utama atau manifold, merupakan pipa yang mendistribusikan air
ke pipa-pipa lateral. Pipa sub utama atau manifold biasanya dari bahan
pipa PVC dengan diameter 2 inci - 3 inci. Pipa pembagi dilengkapi dengan
filter kedua yang lebih halus (80-100 m), katup selenoid, regulator
tekanan, pengukur tekanan dan katup pembuang. Pipa sub-utama terbuat
dari pipa PVC atau pipa HDPE (high density polyethylene) dan
berdiameter antara 50 75 mm. (Prastowo, 2002)

Gambar 5. Pipa lateral yang tersambung dengan pipa manipol
(Prastowo, 2002)
4. Lateral, merupakan pipa dimana emitter ditempatkan. Bahan yang
digunakan untuk lateral biasanya terbuat dari pipa PVC atau PE dengan
diameter antara inci - 1 inci (gambar 6). Emiter dimasukkan ke dalam
pipa lateral pada jarak yang ditentukan yang dipilih sesuai dengan tanaman
dan kondisi tanah. Pipa lubang ganda, pipa porus dan pipa dengan
perforasi yang kecil digunakan pada beberapa instalasi untuk
menggunakan keduanya sebagai pipa pembawa dan sebuah system emitter
(Prastowo, 2002). Penyambungan pipa lateralpipa pembagi dapat
dilakukan dengan berbagai cara seperti pada Gambar 8.

Gambar 6. Pipa polyethylene (PE) (Prastowo, 2002)

Gambar 7. Pipa lateral dan pipa penetes(Prastowo, 2002)










Gambar 8. Berbagai cara penyambungan pipa lateral pipa pembagi
(Prastowo, 2002)
Emiter atau penetes, merupakan komponen yang menyalurkan air dari pipa
lateral ke tanah sekitar tanaman secara kontinu dengan debit yang rendah
dan tekanan mendekati tekanan atmosfer. Emiter, merupakan alat
pengeluaran air yang disebut pemancar. Emiter mengeluarkan dengan cara
meneteskan air langsung ke tanah ke dekat tanaman. Emiter mengeluarkan
air hanya beberapa liter per jam. Dari emiter air keluar menyebar secara
menyamping dan tegak oleh gaya kapiler tanah yang diperbesar pada arah
gerakan vertikal oleh gravitasi. Daerah yang dibasahi emiter tergantung
pada jenis tanah, kelembaban tanah, permeabilitas tanah. Emiter harus
menghasilkan aliran yang relatif kecil menghasilkan debit yang mendekati
konstan. Penampang aliran perlu relatif lebar untuk mengurangi
tersumbatnya emiter (Khoerunnisa, 2009). Alat aplikasi terdiri dari penetes
(emitter) (gambar ), pipa kecil (small tube, bubbler) (gambar)

Gambar 9. Berbagai jenis emitter (Khoerunnisa, 2009).

Gambar 10. Bubbler (Khoerunnisa, 2009).
6. Komponen pendukung, terdiri dari katup-katup, saringan, pengatur tekanan,
pengatur debit, tangki bahan kimia, sistem pengontrol dan lain-lain.
(Irianto, 2008)









Gambar 11. Jaringan perpipaan irigasi tetes (Irianto, 2008)
1.1.2 Komponen Irigasi Mikro Sprinkler
Menurut Irianto (2008) Irigasi sprinkler disebut juga sebagai overhead
irrigation karena pemberian air dilakukan dari bagian atas tanaman terpancar
menyerupai curah hujan. Komponen penyusun sistem irigasi sprinkler adalah
sebagai berikut:
a. Sumber Air Irigasi
Sumber air irigasi dapat berasal dari mata air sumber air yang
permanen (sungai, danau, dsb), sumur, atau suatu sistem suplai regional.
Idealnya sumber air terdapat di atas hamparan, bersih (tidak keruh) dan
tersedia sepanjang musim (Irianto, 2008). Contoh sumber air irigasi dapat
dilihat pada gambar 12 berikut ini:

Gambar 12. Sumber air irigasi sprinkler (Irianto, 2008)
b. Sumber Energi untuk Pengairan
Sistem irigasi dapat dioperasikan dengan menggunakan sumber energi
yang berasal dari gravitasi (jauh lebih murah), pemompaan pada sumber air,
atau penguatan tekanan dengan menggunakan pompa penguat tekanan
(booster pump) (Irianto, 2008). Contoh sumber air irigasi dapat dilihat pada
gambar 13 berikut ini:









Gambar 13. Energi penggerak (pompa) irigasi sprinkler (Irianto, 2008)
c. Jaringan Pipa yang terdiri dari :.
Lateral, merupakan pipa tempat diletakkannya sprinkler.
Manifold, merupakan pipa dimana pipa-pipa lateral dihubungkan.
Valve line, merupakan pipa tempat diletakkan katup air.
Mainline, merupakan pipa yang dihubungkan dengan valve line.
Supply line, merupakan pipa yang menyalurkan air dari sumber air.
(Irianto, 2008)
d. Alat aplikasi, terdiri dari penetes (emitter), pipa kecil (small tube, bubbler) dan
penyemprot kecil (micro sprinkler) yang dipasang pada pipa lateral, Alat aplikasi
terbuat dari berbagai bahan seperti PVC, PE, keramik, kuningan dan sebagainya
(Prastowo, 2002).

Gambar 14. Penyemprot kecil (micro sprinkler) (Prastowo, 2002)
Skema jaringan irigasi sprinkler dan contoh jaringan pipa dapat dilihat
pada gambar 15 berikut ini:

Gambar 15. Skema jaringan irigasi sprinkler (Irianto, 2008)

1.2 Tahapan kegiatan dalam setting peralatan irigasi tetes dan mikro sprinkler
1.2.1 Irigasi Tetes
Tahapan desain yang harus dilakukan sama dengan tahapan desain untuk
irigasi sprinkler adalah sebagai berikut :
a. Menyusun nilai faktor-faktor rancangan, yang meliputisifat fisik tanah, air
tanah tersedia, laju infiltrasi, evapotranspirasi tanaman, curah hujan efektif dan
kebutuhan air irigasi.
b. Menyusun rancangan pendahuluan, mencakup pembuatan skema tata letak
(lay-out) serta penetapan jumlah dan luas sub-unit dan blok irigasi.
c. Perhitungan rancangan hidrolika sub-unit dengan mempertimbangkan
karakteristik hidrolika pipa dan spesifikasi emiter. Apabila persyaratan
hidrolika sub-unit tidak terpenuhi, altematif langkah penyelesaian yang dapat
dilakukan adalah:
Modifikasi tata letak
Mengubah diameter pipa
Mengganti spesifikasi emitter
d. Finalisasi (optimalisasi) tata letak
e. Perhitungan total kebutuhan tekanan (total dynamic head) dan kapasitas sistem,
berdasarkan desain tata letak yang sudah final serta dengan
mempertimbangkan karakteristik hidrolika pipa yang digunakan.
f. Penentuan jenis dan ukuran pompa air beserta tenaga/mesin penggeraknya.
Perhitungan rancangan hidrolika sub unit merupakan tahapan kunci
dalam proses desain irigasi tetes. persyaratan hidrolika jaringan perpipaan harus
dipenuhi untuk mendapatkan penyiraman yang seragam (nilai koefisien
keseragaman harus > 95%). Mengingat jumlah dan spesifikasi emiter maupun
jenis dan diameter pipa yang sangat beragam, maka tahapan rancangan hidrolika
sub unit harus dilakukan dengan metoda coba-ralat.
(Irianto, 2008)
1.2.2 Irigasi Mikro Sprinkle
Tahapan desain tersebut adalah sebagai berikut :
a. Menyusun nilai faktor-faktor rancangan, yang meliputi sifat fisik tanah, air
tanah tersedia, laju infiltrasi, evapotranspirasi tanaman, curah hujan efektif,
dan kebutuhan air irigasi.
b. Menyusun rancangan pendahuluan, mencakup pembuatan skema tata letak
(lay-out) serta penetapan jumlah dan luas sub-unit dan blok irigasi.
c. Perhitungan rancangan hidrolika sub-unit dengan mempertimbangkan
karakteristik hidrolika pipa dan spesifikasi sprinkler. Apabila persyaratan
hidrolika sub-unit tidak terpenuhi, alternative langkah/penyelesaian yang dapat
dilakukan adalah (a) modifikasi tata letak, (b) mengubah diameter pipa dan
atau (c) mengganti spesifikasi sprinkler.
d. Finalisasi (optimalisasi) tata letak.
e. Perhitungan total kebutuhan tekanan (total dynamic head) dan kapasitas sistem,
berdasarkan desain tata letak yang sudah final serta dengan
mempertimbangkan karakteristik hidrolika pipa yang digunakan.
f. Penentuan jenis dan ukuran pompa air beserta tenaga/mesin penggeraknya.
Perhitungan rancangan hidrolika sub unit merupakan tahapan kunci dalam
proses desain irigasi sprinkler. Persyaratan hidrolika jaringan perpipaan harus
dipenuhi untuk mendapatkan penyiraman yang seragam (nilai koefisien
keseragaman/coefficient of uniformity harus > 85%). Mengingat jumlah dan
spesifikasi sprinkler maupun jenis dan diameter pipa yang sangat beragam, maka
tahapan rancangan hidrolika sub unit harus dilakukan dengan metoda coba-ralat.
Beberapa hal yang perlu diperhitungkan dalam desain irigasi sprinkler
adalah letaknya. Dalam penentuan tata letak jaringan irigasi sprinkler, terdapat
beberapa kriteria yang perlu diperhatikan antara lain :
o Lateral dipasang sejajar kontur lahan dan dipasang tegak lurus arah angin
utama.
o Pemasangan lateral yang naik sejajar dengan lereng dihindari,
pemasangan lateral yang menuruni lereng akan memberikan keuntungan
tertentu.
o Saluran utama atau manifold dipasang naik turun atau sejajar dengan
lereng.
o Apabila memungkinkan saluran utama dipasang di suatu tempat, sehingga
saluran lateral dapat dipasang di sekelilingnya.
o Apabila memungkinkan lokasi sumber air berada di tengah-tengah areal
rancangan.
Tata letak lateral yang ideal bergantung pada jumlah sprinkler yang
beroperasi serta jumlah posisi leteral, topografi dan kondisi angin.
(Irianto, 2008)

1.3 Penghitungan dan pembahasan parameter2 efisiensi pada jaringan irigasi tetes dan mikro
sprinkler
Plot 1: Mikro Sprinke


No Volume (ml)
Daerah terbasahi
(cm)
Waktu
(jam)
Debit
(l/jam)
1 1600 187,25 0,03 53,33
2 1630 149 0,03 54,33
3 1682 148,75 0,03 56,07
4 1496 133,5 0,03 49,87
5 1663 221,75 0,03 55,43
6 1646 216,25 0,03 54,87
7 1607 169,25 0,03 53,57
8 606 189,25 0,03 20,2
Jarak antar emitter = 50 cm
Jarak lateral 1-2 =84 cm
Jarak lateral 3-4, 5-6, 7-8 =100 cm
Waktu : 2 menit = 0,03 jam

a. Laju Tetesan Emitter
No Volume (ml) Waktu (jam)
Debit
(cm
3
/jam)
EDR
(mm/Jam)
1 1600 0,03 53333,33 761,90
2 1630 0,03 54333,33 776,19
3 1682 0,03 56066,67 672,8
4 1496 0,03 49866,67 598,4
5 1663 0,03 55433,33 665,2
6 1646 0,03 54866,67 658,4
7 1607 0,03 53566,67 642,8
8 606 0,03 20200,00 761,90



EDR : laju tetesan emiter (mm/jam)
q : debit emiter (cm
3
/jam)
s : jarak lubang emiter (cm)
l : jarak lateral emiter (cm)
EDR = (q x 60)/ (s x l)

1) EDR = (53333,33x60)/(50x84)
= 761,9047 mm/Jam
5) EDR = (55433,33x60)/(50x100)
= 665,2 mm/Jam
2) EDR = (54333,33x60)/(50x84)
= 776,1904 mm/Jam
6) EDR = (54866,67x60)/(50x100)
= 658,4 mm/Jam
3) EDR = (56066,67x60)/(50x100)
= 672,8 mm/Jam
7) EDR = (53566,67x60)/(50x100)
= 642,8 mm/Jam
4) EDR = (49866,67x60)/(50x100)
= 598,4 mm/Jam
8) EDR = (20200x60)/(50x100)
= 242,4mm/Jam

b. Efisiensi Penyebaran Air


y : angka deviasi rata-rata untuk kedalaman yang ditampung (cm)
d : kedalaman air rata-rata yang ditampung selama pemberian air irigasi tetes (cm)

Diketahui: y = 9,52 cm; d= 11,32 cm
Ed = 100 (1 y/d)
= 100 (1- 9,52 cm/11,32 cm)
= 16%
c. Keseragaman Tetesan
i. Statistical Uniformity (SU)


CV : coeficient of varians of the data
Diketahui: CV= 0,22
SU = (1 - CV) x 100%
= (1-0,22)x 100%
= 72%

ii. Distribution of Uniformity (DU)


dLq : debit rata-rata seperempat terkecil (l/jam)
Ed = 100 (1 y/d)
SU = (1 - CV) x 100%
DU = (dLq / davg) x 100%
davg : debit rata-rata emiter (l/jam)
Diketahui: dLq : 35,03 l/Jam
davg : 49,71 l/Jam
DU = (dLq / davg) x 100%
= (35,03 /49,71)x 100%
= 70,47%

iii. Koefisien Keseragaman Irigasi (CU)



Cu : koefisien keseragaman irigasi (%)
di : volume air pada wadah ke i (ml)
dz : nilai rata-rata volume air semua titik (ml)
(di-dz) : jumlah deviasi absolut pengukuran (ml)
Diketahui : dz : 1491,25 ml
(di-dz) : 1770,5 ml
CU = [1 ((d
i
d
z
) / (n x d
z
))] x 100%
= [1-( 1770,5)/(8x 1491,25)]x 100%
= 85%
d. Daerah Terbasahi

W : lebar daerah terbasahi atau pola penyebaran air (m)
Vw : volume air yang diberikan (l)
Cs : permeabilitas tanah (m/jam)
q : debit emiter (l/jam)
K : koefisien empiris (0.0031)
Permeabilitas tanah di plot erosi = 5,3 x 10-2 m/jam

1) W = 0,0031 (1,6L)0,22x(0,053/53,33)-0,17 = 0,93 m
2) W = 0,0031 (1,6L)0,22x(0,053/54,33)-0,17 = 0,97 m
3) W = 0,0031 (1,6L)0,22x(0,053/53,33)-0,17 = 1,04 m
CU = [1 ((d
i
d
z
) / (n x d
z
))] x 100%
W = K (Vw)0.22 x (Cs / q)-0.17
4) W = 0,0031 (1,7L)0,22x(0,053/56,07)-0,17 = 0,79 m
5) W = 0,0031 (1,5L)0,22x(0,053/49,87)-0,17 = 1,02 m
6) W = 0,0031 (1,7L)0,22x(0,053/55,43)-0,17 = 0,99 m
7) W = 0,0031 (1,6L)0,22x(0,053/53,57)-0,17 = 0,94 m
8) W = 0,0031 (0,6L)0,22x(0,053/20,20)-0,17 = 0,01 m

Pembahasan Mikro Sprinkle Irigation
Suatu sistem irigasi harus melalui tahap evaluasi, hal ini bertujuan untuk
mengetahui penyebaran air sehingga kebutuhan air tanaman dpat terpenuhi. Evaluasi
sebaran sprinkler terdiri dari perhitungan laju tetesan emitter, efisiensi penyebaran air,
keseragaman tetesan dan luas daerah yang terbasahi. Pada praktikum kali ini dilakukan
pengujian terhadap kinerja irigasi mikrosprinkle, pengujian ini dilakuakan selama 2
menit dengan 8 emiter (mikrosprinkle) dengan debit yang paling tinggi yaitu sebesar
56,07 liter/j pada mikrosprinkle 3 sedangkan debit yang paling rendah yaitu pada
mikrosprinkle 8 yang merupakan saluran yang paling jauh dari sumber air yaitu
sebesar 20,2 liter/jam. Dari pengukuran debit tersebut digunakan untuk mengetahui laju
tetesan emitter (EDR) serta jarak lateral antara mikrosprinkle 1 dan berikutnya juga
menentukan dimana jarak lateral antara 1 dan 2 yaitu 84 cm, sedangkan jarak lateral 3-
4, 5-6, dan 7-8 sebesar 100 cm. Nilai EDR yang paling besar berada pada
mikrosprinkle kedua yaitu sebesar 776,1904 mm/jam hal ini dikarenakan debit yang
tinggi serta jarak lateral yang lebih pendek. Dari hasil perhitungan didatkan nila
Efisiensi penyebaran air (ED) sebesar 16 %. Selain itu dalam mengevaluasi kinerja
sistem irigasi juga dilakukan perhitungan mengenai keseragaman tetesan yang meliputi
Statistical Uniformity (SU), Distribution of Uniformity (DU), Koefisien Keseragaman
Irigasi (CU).
Berdasarkan Prabowo (2006) desain yang tepat dari sistem irigasi ahrus
mendapat keseragaman pemberian air pada tanah, sehingga mampu memberi air yang
tepat selama selang waktu yang tepat pula. desain sistem irigasi tetes maupun sprinkle
yang ideal akan mencapai 100 % keseragaman distribusi tetesan emitter, sehingga
setiap tanaman dapat menerima jumlah air yang sama untuk pertumbuhannya. namun
pada kenyataan dilapang, keseragaman distribusi tetesan tidak mungkin mencapai
100% hal ini dikarenakan banyak faktor yang mempengaruhi. Menurut ASEA dalam
Prabowo (2006), tingkat keseragaman distribusi tetesan diklasifikasikan seperti tabel
berikut ini:
Tabel 1. Kriteria tingkat keseragaman tetesam sistem irigasi tetes menurut ASAE

Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai SU sebesar 72%. Menurut
Kurniati (2007) keseragaman distribusi (DU) adalah rata-rata volume dari nilai
terendah air irigasi yang ditampung dibagi rata-rata volume air tampungan yang
dinyatakan dalam persen (%). dari hasil perhitungan didapatkan nilai DU sebesar 70,47
%, Nilai keseragaman distribusi tersebut berarti nilai rata-rata tampungan terendah
pada jangka waktu tertentu sebesar 70,47% sedangkan pada nilai distribusi selain
terendah sebesar 29,53%. jika distribusi air merata maka setiap tanaman akan
mendapatkan air yang sama sehingga pertumbuhannya baik dan seragam. Dengan hasil
perhitungan tersebut jika dicocokan dengan tabel 1 diatas maka sistem irigasi
mikrosprinkle ini masuk kedalam kategori CUKUP BAIK.
Menurut Kurniati (2007) Koefisien keseragaman (CU) adalah rata-rata
volume air irigasi yang ditampung yang dinyatakan dalam persen (%) dari hasil
perhitungan didapatkan nilai nilai CU sebesar 85%, hal ini berarti rata-rata air yang
dapat ditampug dalam jangka waktu tertentu adalah 85 % sedangkan air yang tidak
dapat ditampung sebesar 15 %. Menurut Meriem et al. (1981), distribusi air yang tidak
merata akan memperbesar nilai deviasi sehingga koefisien keseragaman menjadi kecil.
sedangkan koefisien keseragaman dipengaruhi oleh debit rata-rata keluaran dan nilai
deviasinya. semakin besar deviasi maka nilai koefisien keseragaman semakin kecil.
nilai koefisien keseragaman yang kecil menunjukkan sistem irigasi tersebut kurang baik
dlam pemberian air tang seragam pada masing-masing tanaman, sehingga tanaman
akan menerima air dalam jumlah yang tidak sama. namun dalam praktikum ini CU
sudah termasuk baik yaitu dengan nilai 85% yang termasuk dalam kategori BAIK.
Plot 2: Drip Irigation


No Volume (ml)
Diameter Pembasahan
(cm)
Waktu
(Jam)
Debit (l/jam)
1 152 10,4 0,03 5,07
2 142 24,5 0,03 4,73
3 136 13,9 0,03 4,53
4 158 19,8 0,03 5,27
5 221 15,6 0,03 7,37
6 138 12,8 0,03 4,60
7 141 15,8 0,03 4,70
8 121 12,9 0,03 4,03
9 150 9,8 0,03 5,00
10 213 16,5 0,03 7,10
11 180 15 0,03 6,00
12 161 11,8 0,03 5,37
13 169 9,8 0,03 5,63
14 136 9,5 0,03 4,53
15 180 6 0,03 6,00
16 175 12,75 0,03 5,83
17 180 10,5 0,03 6,00
18 218 7,5 0,03 7,27
19 214 5,5 0,03 7,13
20 175 4 0,03 5,83
21 181 6 0,03 6,03
22 193 15 0,03 6,43
23 189 11 0,03 6,30
24 167 13 0,03 5,57

Panjang lateral = 130 cm
Panjang Emiter = 50 cm
Jumlah Emiter = 24
Waktu = 2 menit = 0,03 jam

a. Laju Tetesan Emitter (EDR)
No Volume (ml) Waktu (jam) Debit (cm
3
/jam)
EDR
(mm/Jam)
1 152 0,03 5066,67 60,80
2 142 0,03 4733,33 56,80
3 136 0,03 4533,33 54,40
4 158 0,03 5266,67 63,20
5 221 0,03 7366,67 88,40
6 138 0,03 4600,00 55,20
7 141 0,03 4700,00 56,40
8 121 0,03 4033,33 48,40
9 150 0,03 5000,00 60,00
10 213 0,03 7100,00 85,20
11 180 0,03 6000,00 72,00
12 161 0,03 5366,67 64,40
13 169 0,03 5633,33 67,60
14 136 0,03 4533,33 54,40
15 180 0,03 6000,00 72,00
16 175 0,03 5833,33 70,00
17 180 0,03 6000,00 72,00
18 218 0,03 7266,67 87,20
19 214 0,03 7133,33 85,60
20 175 0,03 5833,33 70,00
21 181 0,03 6033,33 72,40
22 193 0,03 6433,33 77,20
23 189 0,03 6300,00 75,60
24 167 0,03 5566,67 66,80



EDR : laju tetesan emiter (mm/jam)
q : debit emiter (cm
3
/jam)
s : jarak lubang emiter (cm)
l : jarak lateral emiter (cm)

1) EDR = (5066,67x60)/(50x130)
= 60,80 mm/Jam
13) EDR = (5633,33x60)/(50x130)
= 67,60 mm/Jam
2) EDR = (4733,33x60)/(50x130)
= 56,80 mm/Jam
14) EDR = (4533,33x60)/(50x130)
= 54,40 mm/Jam
3) EDR = (4533,33x60)/(50x130)
= 54,40mm/Jam
15) EDR = (6000,00x60)/(50x1030)
= 72,00 mm/Jam
4) EDR = (5266,67x60)/(50x130)
= 63,20 mm/Jam
16) EDR = (5833,33x60)/(50x130)
= 70,00 mm/Jam
5) EDR = (7366,67x60)/(50x130)
= 88,40 mm/Jam
17) EDR = (6000,00x60)/(50x130)
= 72,00 mm/Jam
6) EDR = (4600,00x60)/(50x130)
= 55,20 mm/Jam
18) EDR = (7266,67x60)/(50x130)
= 87,20 mm/Jam
7) EDR = (4700,00x60)/(50x130)
= 56,40 mm/Jam
19) EDR = (7133,33x60)/(50x130)
= 85,60 mm/Jam
8) EDR = (4033,33x60)/(50x130)
= 48,40 mm/Jam
20) EDR = (5833,33x60)/(50x130)
= 70,00 mm/Jam
9) EDR = (5000,00x60)/(50x130)
= 60,00 mm/Jam
21) EDR = (6033,33x60)/(50x130)
= 72,40 mm/Jam
10) EDR = (7100,00x60)/(50x130)
= 85,20 mm/Jam
22) EDR = (6433,33x60)/(50x130)
= 77,20 mm/Jam
11) EDR = (6000,00x60)/(50x130)
= 72,00 mm/Jam
23) EDR = (6300,00x60)/(50x130)
= 75,60 mm/Jam
12) EDR = (5366,67x60)/(50x130)
= 64,40 mm/Jam
24) EDR = (5566,67x60)/(50x130)
= 66,80 mm/Jam

e. Efisiensi Penyebaran Air
EDR = (q x 60)/ (s x l)


y : angka deviasi rata-rata untuk kedalaman yang ditampung (cm)
d : kedalaman air rata-rata yang ditampung selama pemberian air irigasi
tetes (cm)
Diketahui : y= 2,16 cm; d= 5,53 cm
Ed = 100 (1 y/d)
= 100 (1- 2,16 cm/5,53 cm)
= 61%
f. Keseragaman Tetesan
i. Statistical Uniformity (SU)


CV : coeficient of varians of the data
CV = 0,16
SU = (1 - CV) x 100%
= (1-0,16)x 100%
= 84%
ii. Distribution of Uniformity (DU)


dLq : debit rata-rata seperempat terkecil (l/jam)
davg : debit rata-rata emiter (l/jam)
Diketahui : dLq: 4,52 l/Jam
davg: 5,68 l/Jam
DU = (dLq / davg) x 100%
= (4,52 /5,68)x 100%
= 80%
iii. Koefisien Keseragaman Irigasi (CU)


Cu : koefisien keseragaman irigasi (%)
di : volume air pada wadah ke i (ml)
dz : nilai rata-rata volume air semua titik (ml)
(di-dz) : jumlah deviasi absolut pengukuran (ml)
Ed = 100 (1 y/d)
SU = (1 - CV) x 100%
DU = (dLq / davg) x 100%
CU = [1 ((d
i
d
z
) / (n x d
z
))] x 100%
Diketahui : dz: 170,4 ml; (di-dz): 548,00 ml
CU = [1 ((d
i
d
z
) / (n x d
z
))] x 100%
= [1-( 540,00)/(24x 170,40)]x 100%
= 87%
d. Daerah Terbasahi


W : lebar daerah terbasahi atau pola penyebaran air (m)
Vw : volume air yang diberikan (l)
Cs : permeabilitas tanah (m/jam)
q : debit emiter (l/jam)
K : koefisien empiris (0.0031)
Permeabilitas tanah di plot erosi = 5,3 x 10-2 m/jam
No Vw (Liter) q (L/Jam)
K
(Koefisien)
Cs
(m/Jam)
W (meter)
1 0,15 5,07 0,0031 0,053 0,160
2 0,14 4,73 0,0031 0,053 0,161
3 0,14 4,53 0,0031 0,053 0,162
4 0,16 5,27 0,0031 0,053 0,159
5 0,22 7,37 0,0031 0,053 0,149
6 0,14 4,60 0,0031 0,053 0,162
7 0,14 4,70 0,0031 0,053 0,161
8 0,12 4,03 0,0031 0,053 0,164
9 0,15 5,00 0,0031 0,053 0,160
10 0,21 7,10 0,0031 0,053 0,151
11 0,18 6,00 0,0031 0,053 0,156
12 0,16 5,37 0,0031 0,053 0,159
13 0,17 5,63 0,0031 0,053 0,158
14 0,14 4,53 0,0031 0,053 0,162
15 0,18 6,00 0,0031 0,053 0,156
16 0,18 5,83 0,0031 0,053 0,157
17 0,18 6,00 0,0031 0,053 0,156
18 0,22 7,27 0,0031 0,053 0,150
W = K (Vw)0.22 x (Cs / q)-0.17
19 0,21 7,13 0,0031 0,053 0,150
20 0,18 5,83 0,0031 0,053 0,157
21 0,18 6,03 0,0031 0,053 0,156
22 0,19 6,43 0,0031 0,053 0,154
23 0,19 6,30 0,0031 0,053 0,155
24 0,17 5,57 0,0031 0,053 0,158

Pembahasan Drip Irrigation
Irigasi tetes merupakan irigasi dengan tingkat efisiensi yang paling tinggi
dibandingkan dengan sistem irigasi yang lainnya. Hal ini dikarenkan pada irigasi tetes air
diberikan tepat pada sasaran yaitu pada daerah perakaran sehingga sangat minimum
terjadi runoff atau penguapan. Menurut Umar (2008) pemberian air dalam jumlah yang
sedikit dan bertahap melalui pemebrian irigasi tetes dimaksudkan untuk menjaga
kelembaban tanah agar kondisi tanah pada musim kemarau dapat menyediakan air bagi
kelangsungan hidup tanaman. Selain itu agar kebutuhan air tanaman dapat terpenuhi
disetiap tingkat pertumbuhan dan salah satu tujuan dari pemberian air pada tanaman
muda untuk mengurangi tingkat kematian tanaman.
Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian terhadap kinerja irigasi tetes (drip
iriigation), pengujian ini dilakuakan selama 2 menit dengan 24 emiter dengan debit
yang paling tinggi yaitu 7,37 liter/j pada emitter 5 sedangkan debit yang paling rendah
yaitu pada emiiter 8 yaitu sebesar 4,03 liter/jam. Dari pengukuran debit tersebut
digunakan untuk mengetahui laju tetesan emitter (EDR) serta jarak lateral antara
emitter 1 dan berikutnya juga menentukan dimana jarak lateral 50 cm. Nilai EDR yang
paling besar berada pada emitter ke 5 yaitu sebesar 88,40 mm/jam hal ini dikarenakan
debit yang tinggi. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai Efisiensi penyebaran air (ED)
sebesar 61 % lebih besar dari nilai efisiensi pada mikrosprinkler. Selain itu dalam
mengevaluasi kinerja sistem irigasi juga dilakukan perhitungan mengenai keseragaman
tetesan yang meliputi Statistical Uniformity (SU), Distribution of Uniformity (DU),
Koefisien Keseragaman Irigasi (CU) serta luas daerah yang terbasahi.
Berdasarkan Prabowo (2006) desain yang tepat dari sistem irigasi harus
mendapat keseragaman pemberian air pada tanah, sehingga mampu memberi air yang
tepat selama selang waktu yang tepat pula. desain sistem irigasi tetes maupun sprinkle
yang ideal akan mencapai 100 % keseragaman distribusi tetesan emitter, sehingga
setiap tanaman dapat menerima jumlah air yang sama untuk pertumbuhannya. namun
pada kenyataan dilapang, keseragaman distribusi tetesan tidak mungkin mencapai
100% hal ini dikarenakan banyak faktor yang mempengaruhi. Menurut ASEA dalam
Prabowo (2006), tingkat keseragaman distribusi tetesan diklasifikasikan seperti tabel 1.
Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai SU sebesar 84%. Menurut
Kurniati (2007) keseragaman distribusi (DU) adalah rata-rata volume dari nilai
terendah air irigasi yang ditampung dibagi rata-rata volume air tampungan yang
dinyatakan dalam persen (%). dari hasil perhitungan didapatkan nilai DU sebesar 80% ,
Nilai keseragaman distribusi tersebut berarti nilai rata-rata tampungan terendah pada
jangka waktu tertentu sebesar 80% sedangkan pada nilai distribusi selain terendah
sebesar 20%. jika distribusi air merata maka setiap tanaman akan mendapatkan air yang
sama sehingga pertumbuhannya baik dan seragam. Dengan hasil perhitungan tersebut
jika dicocokan dengan tabel 1 diatas maka sistem irigasi tetes ini masuk kedalam
kategori BAIK.
Menurut Kurniati (2007) koefisien keseragaman (CU) adalah rata-rata volume
air irigasi yang ditampung yang dinyatakan dalam persen (%) dari hasil perhitungan
didapatkan nilai nilai CU sebesar 87%, hal ini berarti rata-rata air yang dapat ditampug
dalam jangka waktu tertentu adalah 87 % sedangkan air yang tidak dapat ditampung
sebesar 13 %. Menurut Meriem et al. (1981), distribusi air yang tidak merata akan
memperbesar nilai deviasi sehingga koefisien keseragaman menjadi kecil. sedangkan
koefisien keseragaman dipengaruhi oleh debit rata-rata keluaran dan nilai deviasinya.
semakin besar deviasi maka nilai koefisien keseragaman semakin kecil. nilai koefisien
keseragaman yang kecil menunjukkan sistem irigasi tersebut kurang baik dlam
pemberian air tang seragam pada masing-masing tanaman, sehingga tanaman akan
menerima air dalam jumlah yang tidak sama. namun dalam praktikum ini CU sudah
termasuk baik yaitu dengan nilai 87% yang termasuk dalam kategori BAIK.
Luas daerah pembasahan pada irigasi tetes ini yaitu 0,149 m sampai 0,162 m.
hasil pengukuran terhdap luasnya pembasahan tanah menunjukkan bahwa semakin lama
pemberian air irigasi tetes akan memperbesar diameter pembasahan dan akan semakin
dalam rembesan kea rah vertical. Menurut Umar (2008) semakin kecil kekompakan
tanah maka akan semakin cepat rembesan kedalam tanah, tapi apabila diameter
pembasahan semakin lebar kea rah horizontal menunjukkan kekerasan tanah semakin
tinggi.
Plot 3: Sprinkle 1
No Volume (ml)
Diameter Pembasahan
(m)
Waktu
(Jam)
Debit (l/jam)
1 1000 7,14 0,017 58,82
2 480 13,67 0,017 28,23
Jarak lateral = 4,14 m
Jarak emitter = 4,10 m
Waktu = 1menit = 0,017 jam


EDR : laju tetesan emiter (mm/jam)
q : debit emiter (cm
3
/jam)
s : jarak lubang emiter (cm)
l : jarak lateral emiter (cm)

1) EDR = (58823,53x60)/(410x414)
= 20,79 mm/Jam
2) EDR = (28235,29x60)/(410x414)
= 9,98 mm/Jam

a. Efisiensi Penyebaran Air


y : angka deviasi rata-rata untuk kedalaman yang ditampung (cm)
d : kedalaman air rata-rata yang ditampung selama pemberian air irigasi
tetes (cm)

Diketahui: y= 2,35 cm; d= 8,91 cm
Ed = 100 (1 y/d)
= 100 (1- 2,35 cm/8,91 cm)
= 74%
b. Keseragaman Tetesan
i. Statistical Uniformity (SU)

EDR = (q x 60)/ (s x l)
Ed = 100 (1 y/d)
SU = (1 - CV) x 100%

CV : coeficient of varians of the data
CV = 0,35
SU = (1 - CV) x 100%
= (1-0,35)x 100%
= 65%

ii. Distribution of Uniformity (DU)


dLq : debit rata-rata seperempat terkecil (l/jam)
davg : debit rata-rata emiter (l/jam)
Diketahui: dLq : 28,23 l/Jam
davg : 43,525 l/Jam
DU = (dLq / davg) x 100%
= (28,23 /43,525)x 100%
= 67%

iii. Koefisien Keseragaman Irigasi (CU)


Cu : koefisien keseragaman irigasi (%)
di : volume air pada wadah ke i (ml)
dz : nilai rata-rata volume air semua titik (ml)
(di-dz) : jumlah deviasi absolut pengukuran (ml)
Diketahui: dz : 740 ml
(di-dz) : 520 ml
CU = [1 ((d
i
d
z
) / (n x d
z
))] x 100%
= [1-( 520)/(2x 740)]x 100%
= 67%
c. Daerah Terbasahi
\

W : lebar daerah terbasahi atau pola penyebaran air (m)
Vw : volume air yang diberikan (l)
DU = (dLq / davg) x 100%
CU = [1 ((d
i
d
z
) / (n x d
z
))] x 100%
W = K (Vw)0.22 x (Cs / q)-0.17
Cs : permeabilitas tanah (m/jam)
q : debit emiter (l/jam)
K : koefisien empiris (0.0031)
Permeabilitas tanah di plot erosi = 5,3 x 10-2 m/jam
No Vw (Liter) Debit (L/Jam) K (Koefisien)
Cs
(m/jam)
W
(meter)
1 1 58,82 0,0031 0,053 3,27
2 0,48 28,23 0,0031 0,053 0,62

Pembahasan Irigasi Sprinkler 1
Irigasi sprinkle merupakan salah satu sistem irigasi yang biasanya digunakan
untuk daerah yang luas. menurut Kurniati (2007) sprinkler berfungsi mendistribusikan
air dari sistem irigasi ke tanaman.Sebagian besar sprinkler untuk pertanian memiliki
jenis yang berputar dengan pelan dengan satu atau dua nozzle yang ukuran diameternya
bervariasi. Jaringan Irigasi baik itu sprinkle maupun yang lain perlu dilakukan suatu
evaluasi, evaluasi kinerja jaringan irigasi berfungsi untuk mengetahui keberhasilan dari
pendesainan jaringan irigasi curah.
Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian terhadap kinerja irigasi curah
(sprinkler), pengujian ini dilakuakan selama 1 menit dengan 2 nozzle dengan debit
nozzle pertama yaitu 58,82 liter/j sedangkan debit pada nozzle kedua yaitu 28,23
liter/jam. Dari pengukuran debit tersebut digunakan untuk mengetahui laju tetesan
emitter (EDR) serta jarak lateral antara emitter 1 dan berikutnya juga menentukan
dimana jarak lateral 4,14 m dan jarak emitternya 4,10 m . Nilai EDR yang paling besar
berada pada nozzle pertama yaitu sebesar 20,79 mm/jam , sedangkan pada nozzle
kedua 9,98 mm/jam hal ini dikarenakan debit yang tinggi. Dari hasil perhitungan
didapatkan nilai Efisiensi penyebaran air (ED) sebesar 74 % lebih besar dari nilai
efisiensi pada mikrosprinkler dan tetes (drip). Selain itu dalam mengevaluasi kinerja
sistem irigasi juga dilakukan perhitungan mengenai keseragaman tetesan yang meliputi
Statistical Uniformity (SU), Distribution of Uniformity (DU), Koefisien Keseragaman
Irigasi (CU) serta luas daerah yang terbasahi.
Berdasarkan Prabowo (2006) desain yang tepat dari sistem irigasi harus
mendapat keseragaman pemberian air pada tanah, sehingga mampu memberi air yang
tepat selama selang waktu yang tepat pula. desain sistem irigasi tetes maupun sprinkle
yang ideal akan mencapai 100 % keseragaman distribusi tetesan emitter, sehingga
setiap tanaman dapat menerima jumlah air yang sama untuk pertumbuhannya. namun
pada kenyataan dilapang, keseragaman distribusi tetesan tidak mungkin mencapai
100% hal ini dikarenakan banyak faktor yang mempengaruhi. Menurut ASEA dalam
Prabowo (2006), tingkat keseragaman distribusi tetesan diklasifikasikan seperti tabel 1.
Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai SU sebesar 65%. Menurut
Kurniati (2007) keseragaman distribusi (DU) adalah rata-rata volume dari nilai
terendah air irigasi yang ditampung dibagi rata-rata volume air tampungan yang
dinyatakan dalam persen (%). dari hasil perhitungan didapatkan nilai DU sebesar 67% ,
Nilai keseragaman distribusi tersebut berarti nilai rata-rata tampungan terendah pada
jangka waktu tertentu sebesar 67% sedangkan pada nilai distribusi selain terendah
sebesar 33%. jika distribusi air merata maka setiap tanaman akan mendapatkan air yang
sama sehingga pertumbuhannya baik dan seragam. Dengan hasil perhitungan tersebut
jika dicocokan dengan tabel 1 diatas maka sistem irigasi sprinkle ini masuk kedalam
kategori JELEK.
Menurut Kurniati (2009) koefisien keseragaman (CU) adalah rata-rata volume
air irigasi yang ditampung yang dinyatakan dalam persen (%) dari hasil perhitungan
didapatkan nilai nilai CU sebesar 67%, hal ini berarti rata-rata air yang dapat ditampug
dalam jangka waktu tertentu adalah 67 % sedangkan air yang tidak dapat ditampung
sebesar 33 %. Menurut Meriem et al. (1981), distribusi air yang tidak merata akan
memperbesar nilai deviasi sehingga koefisien keseragaman menjadi kecil. sedangkan
koefisien keseragaman dipengaruhi oleh debit rata-rata keluaran dan nilai deviasinya.
semakin besar deviasi maka nilai koefisien keseragaman semakin kecil. nilai koefisien
keseragaman yang kecil menunjukkan sistem irigasi tersebut kurang baik dlam
pemberian air tang seragam pada masing-masing tanaman, sehingga tanaman akan
menerima air dalam jumlah yang tidak sama. namun dalam praktikum ini CU dengan
nilai 67% yang termasuk dalam kategori CUKUP BAIK.
Luas daerah pembasahan pada irigasi tetes ini yaitu 3,27 m dan 0,62 m . hasil
pengukuran terhadap luasnya pembasahan tanah menunjukkan bahwa semakin lama
pemberian air irigasi tetes akan memperbesar diameter pembasahan dan akan semakin
dalam rembesan kea rah vertical. Menurut Umar (2008) semakin kecil kekompakan
tanah maka akan semakin cepat rembesan kedalam tanah, tapi apabila diameter
pembasahan semakin lebar kea rah horizontal menunjukkan kekerasan tanah semakin
tinggi. Namun pada irigasi sprinkle ini luas daerah pembasahan jauh berbeda sehingga
berpengaruh keseragaman penyebaran. Hal ini sangat perlu mendapat perhatian sebab
ketidakseragaman ini akan mempengaruhi perolehan air pada tanaman dan
memungkinkan pada tanaman yang letaknya jauh dari sprinkle tidak mendapatkan air
irigasi.

Plot 4: Challenger sprinkle
No Volume (ml)
Daerah terbasahi
(cm)
Waktu
(jam)
Debit
(l/jam)
1 1.480 7,14 0,017 87,06
Waktu = 1 menit
Jarak lateral = 4,10 m
Jarak lateral = 4,14 m
Jarak emitter = 4,10 m
Waktu = 1menit = 0,017 jam



EDR : laju tetesan emiter (mm/jam)
q : debit emiter (cm
3
/jam)
s : jarak lubang emiter (cm)
l : jarak lateral emiter (cm)

EDR = (87058,82x60)/(410x414)
= 30,77 mm/Jam
g. Efisiensi Penyebaran Air


y : angka deviasi rata-rata untuk kedalaman yang ditampung (cm)
d : kedalaman air rata-rata yang ditampung selama pemberian air irigasi
tetes (cm)
Diketahui: y = 11,4 cm
d = 11,4 cm
Ed = 100 (1 y/d)
= 100 (1- 11,4 cm/11,4 cm)
= 100 %

EDR = (q x 60)/ (s x l)
Ed = 100 (1 y/d)
h. Keseragaman Tetesan
i. Statistical Uniformity (SU)


CV : coeficient of varians of the data
CV = 0
SU = (1 - CV) x 100%
= (1-0 )x 100%
= 0%

ii. Distribution of Uniformity (DU)


dLq : debit rata-rata seperempat terkecil (l/jam)
davg : debit rata-rata emiter (l/jam)
Diketahui: dLq : 87,06 l/Jam
davg : 87,06 l/Jam
DU = (dLq / davg) x 100%
= (87,06 /87,06 )x 100%
= 100%

iii. Koefisien Keseragaman Irigasi (CU)



Cu : koefisien keseragaman irigasi (%)
di : volume air pada wadah ke i (ml)
dz : nilai rata-rata volume air semua titik (ml)
(di-dz) : jumlah deviasi absolut pengukuran (ml)
Diketahui : dz : 1.480 ml
(di-dz) : 0 ml
CU = [1 ((d
i
d
z
) / (n x d
z
))] x 100%
= [1-( 0)/(1x 1.480)]x 100%
= 100%
c. Daerah Terbasahi
SU = (1 - CV) x 100%
DU = (dLq / davg) x 100%
CU = [1 ((d
i
d
z
) / (n x d
z
))] x 100%


W : lebar daerah terbasahi atau pola penyebaran air (m)
Vw : volume air yang diberikan (l)
Cs : permeabilitas tanah (m/jam)
q : debit emiter (l/jam)
K : koefisien empiris (0.0031)
Permeabilitas tanah di plot erosi = 5,3 x 10-2 m/jam

W = 0,0031(1,480L)x0,22 x (0,053/87,06)- 0,17
= 4,77 meter

Pembahasan Challenger sprinkle
Irigasi sprinkle merupakan salah satu sistem irigasi yang biasanya digunakan
untuk daerah yang luas. menurut Kurniati (2007) sprinkler berfungsi mendistribusikan
air dari sistem irigasi ke tanaman.Sebagian besar sprinkler untuk pertanian memiliki
jenis yang berputar dengan pelan dengan satu atau dua nozzle yang ukuran diameternya
bervariasi. Jaringan Irigasi baik itu sprinkle maupun yang lain perlu dilakukan suatu
evaluasi, evaluasi kinerja jaringan irigasi berfungsi untuk mengetahui keberhasilan dari
pendesainan jaringan irigasi curah. Pada tipe Chalengger Sprinkle memiliki diameter
nozzle 1,4 mm diameter ulir 16 mm, dengan radius pancaran 3,8 m- 4,4 m dan bentuk
pancaran 360. Nozzle pada sprinkle ini memancarkan air pada debit dan tekanan yang
bervariasi. Pemilihan jenis sprinkle ini biasayanya digunakan pada perancangan
jaringan irigasi curah anggrek yaitu dengan pemilihan debit yang keluar dari nozlle
yang kecil dan seimbang.
Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian terhadap kinerja irigasi curah
(Challengger sprinkler), pengujian ini dilakuakan selama 1 menit dengan 1 nozzle
dengan debit nozzle 87,06 liter/j. Dari pengukuran debit tersebut digunakan untuk
mengetahui laju tetesan emitter (EDR) serta jarak lateral 1 yaitu 4,10 m dan jarak
lateral 2 yaitu 4,14 m sedangkan jarak emitternya sebesar 4,10 m. Nilai EDR yang
paling besar berada pada nozzle pertama yaitu sebesar 30,77 mm/jam. Dari hasil
perhitungan didapatkan nilai Efisiensi penyebaran air (ED) sebesar 100 % lebih besar
dari nilai efisiensi pada mikrosprinkler dan tetes (drip) dan sprinkle 1. Selain itu dalam
mengevaluasi kinerja sistem irigasi juga dilakukan perhitungan mengenai keseragaman
W = K (Vw)0.22 x (Cs / q)-0.17
tetesan yang meliputi Statistical Uniformity (SU), Distribution of Uniformity (DU),
Koefisien Keseragaman Irigasi (CU) serta luas daerah yang terbasahi.
Berdasarkan Prabowo (2006) desain yang tepat dari sistem irigasi harus
mendapat keseragaman pemberian air pada tanah, sehingga mampu memberi air yang
tepat selama selang waktu yang tepat pula. desain sistem irigasi tetes maupun sprinkle
yang ideal akan mencapai 100 % keseragaman distribusi tetesan emitter, sehingga
setiap tanaman dapat menerima jumlah air yang sama untuk pertumbuhannya. namun
pada kenyataan dilapang, keseragaman distribusi tetesan tidak mungkin mencapai
100% hal ini dikarenakan banyak faktor yang mempengaruhi. Menurut ASEA dalam
Prabowo (2006), tingkat keseragaman distribusi tetesan diklasifikasikan seperti tabel 1.
Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai SU sebesar 0%. Menurut
Kurniati (2007) keseragaman distribusi (DU) adalah rata-rata volume dari nilai
terendah air irigasi yang ditampung dibagi rata-rata volume air tampungan yang
dinyatakan dalam persen (%). dari hasil perhitungan didapatkan nilai DU sebesar 100%
, Nilai keseragaman distribusi tersebut berarti nilai rata-rata tampungan terendah
pada jangka waktu tertentu sebesar 100% sedangkan pada nilai distribusi selain
terendah sebesar 0%. Dapat dikatakan distribusi air pada sistem irigasi ini merata maka
setiap tanaman akan mendapatkan air yang sama sehingga pertumbuhannya baik dan
seragam. Dengan hasil perhitungan tersebut jika dicocokan dengan tabel 1 diatas maka
sistem irigasi sprinkle ini masuk kedalam kategori SANGAT BAIK
Menurut Kurniati (2007) koefisien keseragaman (CU) adalah rata-rata volume
air irigasi yang ditampung yang dinyatakan dalam persen (%) dari hasil perhitungan
didapatkan nilai nilai CU sebesar 100%, hal ini berarti rata-rata air yang dapat ditampug
dalam jangka waktu tertentu adalah 100 % sedangkan air yang tidak dapat ditampung
sebesar 0 %.. Dalam praktikum ini CU sudah termasuk baik yaitu dengan nilai 100%
yang termasuk dalam kategori SANGAT BAIK.
Luas daerah pembasahan pada irigasi tetes ini yaitu 4,77 m . Hasil pengukuran
terhadap luasnya pembasahan tanah menunjukkan bahwa semakin lama pemberian air
irigasi tetes akan memperbesar diameter pembasahan dan akan semakin dalam
rembesan kea rah vertical. Menurut Umar (2008) semakin kecil kekompakan tanah
maka akan semakin cepat rembesan kedalam tanah, tapi apabila diameter pembasahan
semakin lebar kea rah horizontal menunjukkan kekerasan tanah semakin tinggi. Namun
pada irigasi sprinkle ini luas daerah pembasahan sudah cukup merata dan radius
pemancarannya sesuai dengan pernyataan Kurniati (2007) yaitu pada perancangan ini
digunakan tipe angle chalengger, dengan diameter nozzle 1,4 mm, diameter ulir 16 mm,
radius pancaran 3,8 m 4,4 m, dan bentuk pancaran 360.

KESIMPULAN
Dalam perancangan suatu jaringan irigasi outdor perlu memperhatikan parameter-
paremeter pengelolaan irigasi dengan baik, baik itu pada irigasi curah (sprinkle) ataupun tetes
(drip irrigation). Parameter tersebut yaitu laju tetesan emitter, efisiensi penyebaran air,
keseragaman tetesan meliputi Statistical Uniformity (SU), Distribution of Uniformity (DU)
dan koefisien keseragaman (CU), serta luas daerah pembasahan. Parameter-parameter
tersebut dapat menjadi acuan dalam mengevaluasi sistem irigasi sehingga dapat diketahui
efisensi masing-masing jenis irigasi dan nantinya dapat dilakukan perbaikan terhadap
kekurangan yang terjadi.
Dari hasil praktikum diketahui bahwa pada irigasi tetes memiliki tingkat efisiensi
yang lebih tinggi dibandingkan dengan irigasi mikrosprinkle dan sprinkle 1. Namun pada
irigasi sprinkle tipe Challengger memiliki tingkat efisiensi yang paling besar yaitu sebesar
100% dari seluruh tipe irigasi yang dilakuakan pada saat praktikum. Hal ini mungkin
dikarenakan pada irigasi Sprinkle tipe Challengger tidak ada faktor penghambat yang
menghambat pendistribusian air seperti tidak adanya angin yang kencang pada lahan
praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Umar, Sudirman, et al. 2008. Sistem Irigasi Mikro Menggunkan Octa-Mitter pada Tanaman
Jeruk di Lahan Lebak pada Musim Kemarau. Jurnal Enjiniring Pertanian. Vol. VI
No. 2 Oktober 2008
Prabowo, Agung dan J. Wiyono. 2006. Pengelolaan Sistem Irigasi Mikro Untuk Tanaman
hortikultura dan Palawija. Jurnal Enjiniring Pertanian. Vol. VI No. 2 Oktober 2006
Kurniati, Evi, et al. 2007. Desain Jaringan Irigasi Curah (Sprinkler Irrigation) pada
Tanaman Anggrek. Jurnal Teknologi Pertanian, Vol. 8 No. 1 (April 2007) 35-45.
Khoerunnisa, Nurbaeti. 2009. Mempelajari Karakteristik Hidrolika Pipa Sub-unit Jaringan
Irigasi Tetes pada Sistem Hidroponik (skripsi). Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Prastowo, 2002. Prosedur Rancangan Irigasi Tetes. Laboratorium Teknik Tanah dan Air,
Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor
Irianto. 2008. Pedoman Teknis Pengembangan Irigasi Bertekanan (Irigasi Sprinkler dan
Irigasi Tetes). Departemen Pengelolaan Air. Departemen Pertanian. Jakarta.