Anda di halaman 1dari 8

KELOMPOK I

LIMBAH NUKLIR RADIOAKTIF


Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat tugas terstruktur mata kuliah Fisika
Lingkungan



Disusun oleh:
1. FUZI NURACHMAN FAUZI H1E010008
2. LANI DEWI A H1E010009
3. INTAN PEGI MEILINDA H1E010013
4. DITA ASA PANUNGGUL H1E010020
5. ATHESSIA NAOMI N H1E010046
6. GALIH WICAKSONO H1E011007



KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI FISIKA
PURWOKERTO
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pemanfaatan tenaga nuklir di Indonesia pada bidang industri, kesehatan dan
penelitian semakin berjalan dengan perkembangan jumlah penduduk, teknologi,
pengetahuan, budaya, dll dan telah terbukti secara nyata memberikan kontribusi
yang berarti bagi masyarakat Indonesia. Di bidang kesehatan, tenaga nuklir
berperan dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan masyarakat antara lain
untuk tujuan diagnostik, terapi dan penelitian. Pemanfaatan tenaga nuklir pada
sektor industri secara langsung berperan dalam meningkatkan mutu dan laju
produksi termasuk industri pertambangan yang merupakan salah satu sumber
Pendapatan Asli Daerah (PAD). Efisiensi proses produksi yang tidak akan
pernah mencapai 100 % berdampak dihasilkannya limbah padat, cair, gas yang
harus dikelola dengan bijaksana, artinya bahwa pengelolaan limbah tersebut
mampu mengoptimalkan tuntutan kepentingan dari berbagai pihak terkait,
terutama kepentingan masyarakat dan lingkungan hidup.
Mengingat kompleksnya permasalahan limbah maka sebelum terbentuknya
limbah hendaknya dilakukan tindakan-tindakan yang berorientasi pada upaya
meminimalkan terjadinya limbah yang dapat dilakukan melalui seleksi bahan
baku, rekayasa proses dan penerapan prinsip reuse, recycle dan recovery.
Bidang radioekologi saat ini banyak menarik perhatian para pecinta lingkungan,
terutama berkaitan dengan masalah limbah radioaktif. Limbah radioaktif selama
ini tidak pernah dibuang ke lingkungan secara sembarangan karena telah diatur
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku secara nasional dan tidak
bertentangan dengan ketentuan yang berlaku secara internasional. Pengaturan
limbah radioaktif dan paparan radiasi secara internasional ditetapkan oleh
International Atomic Energy Agency (IAEA) dan International Commission on
Radiological Protection (ICRP) sedangkan di Indonesia diawasi oleh Badan
Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN).
Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No.10 Tahun
1997 tentang Ketenaganukliran Pasal 14 ayat 2 dilaksanakan melalui peraturan,
perizinan dan inspeksi. Peraturan dan perizinan yang diberikan oleh BAPETEN
juga memperhatikan Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Undang-Undang No. 23 Tahun 1992
tentang Kesehatan dan Undang-Undang lainnya yang terkait beserta produk
hukum dibawahnya. Pada dasarnya tingkat bahaya limbah radioaktif tidak
berbeda dengan limbah berbahaya lainnya, yang membedakan adalah penyebab
dan mekanisme terjadinya interaksi dengan target. Karakteristik bahaya dari
limbah radioaktif adalah memancarkan radiasi yang dapat mengionisasi atau
merusak target sehingga menjadi tidak stabil/disfungsi, sedangkan karakteristik
bahaya dari limbah B3 antara lain: mudah meledak, mudak terbakar, beracun,
reaktif, menyebabkan infeksi dan bersifat korosif.
Dalam pengelolaan limbah B3 dikenal konsep Cradle to Grave yaitu
pengawasan terhadap limbah B3 dari sejak dihasilkan hingga penanganan akhir.
Makalah ini akan membahas implementasi dari sistem pengelolaan limbah
nuklir radioaktif untuk limbah radioaktif dengan treatment dari setiap fase akan
menyesuaikan dengan karakteristik limbah radioaktif.

1.2 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui pengertian dari
pencemaran limbah nuklir radioaktif, jenis-jenis pencemaran limbah nuklir radioaktif
dan karakteristik dari limbah radioaktif tersebut.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pencemaran Limbah Radoaktif
Limbah radioaktif adalah zat radioaktif dan bahan serta peralatan yang telah
terkena zat radioaktif atau menjadi radioaktif karena pengoperasian instalasi nuklir
dan fasilitas pemanfaatan zat radioaktif, yang tidak dapat digunakan lagi. Limbah
radioaktif berdasarkan bentuk fisiknya terdiri dari limbah radioaktif padat, cair dan
gas. Limbah cair dibedakan menjadi aqueous dan organik, sedangkan limbah padat
dibedakan menjadi tekompaksi-tidak terkompaksi dan terbakar-tidak terbakar.
Limbah radioaktif (LRA) yang dihasilkan dari penggunaan tenaga nuklir,
berdasarkan konsentrasi dan asalnya dikelompokkan menjadi 2 yaitu HLW (High
Level Waste) dan LLW (Low Level Waste). Sebagai contoh ditunjukkan pada
Tabel 2.1 pengelompokan dan jenis limbah radioaktif yang dihasilkan, dan Gambar
2.1 menunjukkan asal dan jenis limbah radioaktif.
a) HLW (High Level Waste)
HLW dihasilkan dari pemisahan uranium dan plutonium dari bahan bakar
bekas pada fasilitas olah ulang. Sebagian besar radionuklida HLW berasal
dari unsur hasil belahan yang diperoleh dari proses ekstraksi uranium dan
plutonium hasil penguraian bahan bakar bekas. Limbah ini disebut limbah
radioaktif cair tingkat tinggi yang akan distabilkan dengan cara vitrifikasi
(blok gelas) sebagai LRA tingkat tinggi (HLW).
b) LLW (Low Level Waste)
Pada bagian ini akan dibagi menjadi dua, antara lain:
Limbah PLTN
Limbah PLTN adalah limbah yang dihasilkan dari proses
pengoperasian PLTN, terutama nuklida yang memancarkan beta dan
gamma dengan waktu paro pendek. Limbah jenis ini akan disimpan
pada fasiltas penyimpanan tanah dangkal seperti yang ada di
Rokkashomura-Jepang. Pada limbah terdapat rentang tingkat
radioaktivitas yang lebar dan dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu
tinggi (pemancar beta-gamma), sedang dan rendah.
Limbah Uranium
Limbah uranium dihasilkan dari proses konversi dan fabrikasi bahan
bakar serta dari mesin sentrifugal pada saat proses pengayaan. Jenis
limbah ini mempunyai waktu paro yang sangat panjang walaupun
aktivitas radiasinya rendah dan tidak dapat disimpan pada fasilitas
penyimpanan tanah dangkal.
Limbah yang berasal dari fasilitas radioisotop dan laboratorium
Aplikasi radioisotop mencakup bidang yang sangat luas, misalnya
dalam bidang kedokteran (diagnostik dan terapi), farmasi (sebagai
perunut), serta industri. Dari kegiatan tersebut dihasilkan limbah
radioaktif. Sedangkan limbah yang berasal dari laboratorium (pusat
riset,universitas,swasta) yang berhubungan dengan penelitian seperti
penggunaan sumber radiasi, bahan bakar reaktor, fasilitas
pengolahan bahan bakar, disebut sebagai limbah laboratorium.
Limbah tersebut akan disimpan dalam sistem penyimpanan
sederhana pada fasilitas tanah dangkal.















Gambar 2.1 Jenis dan sumber utama limbah radioaktif (www.batan.go.id)

Tabel 2.1 Pengelompokan dan jenis limbah radioaktif yang dihasilkan Jepang


BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa:
1. Pencemaran limbah radioaktif merupakan pencemaran zat radioaktif dan
bahan serta peralatan yang telah terkena zat radioaktif atau menjadi radioaktif
karena pengoperasian instalasi nuklir dan fasilitas pemanfaatan zat radioaktif,
yang tidak dapat digunakan lagi.
2. Limbah radioaktif berdasarkan bentuk fisiknya terdiri dari limbah radioaktif
padat, cair dan gas.
3. Sumber radioaktif bekas antara lain sumber dengan umur paro 100 hari
dengan aktivitas sangat tinggi, sumber dengan aktivitas rendah, misalnya
untuk tujuan kalibrasi, sumber yang berpotensi memberikan bahaya
kontaminasi dan kebocoran dan sumber dengan umur paro >100 hari yang
memiliki aktivitas tinggi maupun rendah.

















BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Alfiyan, M., Akhmad, R.Y. 2010. Strategi Pengelolaan Limbah Radioaktif Di
Indonesia Ditinjau Dari Konsep Cradle to Grave. Jurnal Teknologi
Pengelolaan Limbah, Vol 13(2), hal 1-7
Prayitno, B., Susanto, Sunardi. 2011. Pengelolaan Limbah Radioaktif Padat dan Cair
Di Pusat Teknologi Bahan Bakar Nukli Tahun 2010. Seminar Nasional
SDM Teknologi Nuklir VII. Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir: Yogyakarta
www.batan.go.id. Kelompok Dan Jenis Limbah Radioaktif. Diakses pada tanggal 22
Mei 2014. Jakarta