Anda di halaman 1dari 38

Apa yang di maksud dengan star delta?

teman-teman apa yang di maksud dengan star delta dalam listrik yang menggunakan 3 phase?
11 bulan lalu
Lapor Penyalahgunaan
Lee Wang Tui

Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Suara Terbanyak
Dari sumber Asrofi,
Rangkaian Star dan delta adalah jenis rangkaian dalam instalasi listrik sistem 3 fase, terutama
pada mesin-mesin listrik.
Rangkaian star adalah peralatan listrik 3 fase dimana didalamnya terdiri dari 3 unit/bagian
(belitan misalnya) yg sama dirangkai seperti membentuk hurup Y dimana ujung-ujungnya adalah
tersambung sbg line dan bagian tengahnya adalah bagian netral.
Rangkaian delta adalah peralatan listrik 3 fase dimana didalamnya terdiri dari 3 unit/bagian yg
sama (belitan misalnya) dirangkai seperti membentuk bangun segitiga dimana ujung-ujungnya
adalah tersambung sbg line, dan tdk mempunyai netral. Bila ingin mendapatkan netralnya
biasanya diambil dr ground dgn syarat sumber tegangannya juga digroundkan.
Kalo yg dimaksud rangkaian star-delta, pada motor strarter adalah suatu rangkaian utk
menjalankan motor listrik, dimana pada saat start menggunakan hub star dan beberapa saat
kemudian berubah menjadi delta. Tujuannya adalah untuk mengurangi arus start yg cukup
tinggi.
Untuk hal teknis dan spesifikasi bisa mengacu jawaban bos Edgar VSB
materi referensi:
http://id.answers.yahoo.com/question/ind
11 bulan lalu
Lapor Penyalahgunaan
100% 1 Suara
Bukan jawaban yang benar? Coba Yahoo! Search
Cari di Yahoo! untuk
Jawaban Lain (1)
Sugih
Sedikit menambahi jawaban Begawan Lee :
Pada motor listrik 3 fasa, hubungan star delta digunakan untuk menyesuaikan tegangan
listrik yang dipakai. Misalnya pada motor listrik 220 V/380V, bila kita menggunakan
listrik 110 V (tepatnya 127 V ) antara fase to ground kita menggunakan hubungan delta.
Sedangkan bila kita gunakan listrik 220 V antara fase to ground kita menggunakan
hubungan star.
Sistem penskaklaran star delta biasanya digunakan pada motor listrik yang berkapasitas
besar yaitu sebagai soft start, tetapi tidak dapat digunakan pada mesin2 yang pada saat
start membutuhkan torsi yang tinggi seperti pada kompressor.
o 11 bulan lalu
o Lapor Penyalahgunaan


Start Motor Induksi
Motor induksi yang dibahas disini tepatnya adalah motor induksi asynchron.
Untuk mempermudah penyebutan selanjutnya kita namakan saja motor induksi.
Ada banyak cara untuk melakukan start pada sebuah motor induksi.
Kita akan membahas beberapa cara konvensional yang telah dikenal baik,
diantaranya:
1). DOL (Direct On Line)-Starter
2). Star-Delta Starter
3). Start dengan memakai Resistor pada Stator
4). Start dengan memakai Autotransformator
1. Start dengan methode Direct On Line (DOL)
Gambar1 dibawah memperlihatkan sebuah rangkaian untuk start motor induksi
melalui methode DOL dan karakteristik Torsi terhadap Kecepatan Motor.
Rangkaian daya sebuah DOL-Starter mempunyai rancangan yang sangat
sederhana, yakni hanya perlu sebuah pemutus arus atau yang dikenal dengan
istilah breaker Q
1
dan sebuah kontaktor utama K
M.
Rangkaian kontrol (tidak ditampilkan)
hanya untuk mengaktifkan serta memutuskan kontaktor utama saja.

Gambar 1: DOL-Starter

Sebelah kanan gambar 1 memperlihatkan karakteristik motor induksi 5.5kW
/ 4 kutub. Perhatikan arus start yang tinggi hingga mencapai lebih kurang 68A.
Arus nominal untuk motor induksi 4 kutub dengan kapasitas 5.5 kW menurut
data teknis hanyalah 11A. Jadi arus start telah mencapai nilai 6.2 kali dari arus
nominal motor.
Menurut standar Eropah hanya motor motor induksi dibawah 4 kW yang
diperbolehkan untuk start dengan methode DOL.
Kesimpulan DOL-Starter
- Start dengan DOL mempunyai keunggulan karena design yang sangat
sederhana sehingga investasinya relatif rendah.
- Start dengan DOL mempunyai arus start atau arus inrush yang besar
(600% 800%).
- Arus inrush dapat menyebabkan tegangan jaringan turun sesaat (dikenal
dengan istilah voltage sag) dan dapat menimbulkan harmonik pada
jaringan listrik yang lemah.
- Arus inrush mengakibatkan terjadinya torsi kejut pada komponen
komponen transmisi sehingga peralatan peralatan seperti gear reducer,
timing belt, pulley dan lain sebagainya yang ada didalam sistem drive akan
mengalami mechanical stress yang dapat memicu terjadinya keausan dini
pada peralatan tersebut.
Usia motor juga akan berkurang dengan start DOL.
- Komponen pemutus arus seperti breaker dan kontaktor mengalami arus
yang sangat berlebihan setiap kali start motor sehingga akan mengalami
kerusakan lebih cepat.
- DOL-Starter biasanya dipakai hanya untuk motor motor induksi dengan
kapasitas yang rendah.
(bersambung)
Oleh: Amir Kasan Dipl. Ing.
Penulis adalah pelaku dan pengamat di otomasi industri sejak lebih dari
dua dasawarsa yang lalu.Pekerjaannya melingkupi motor, drives dan proses
otomasi. Telah berkarya pada beberapa perusahaan multi nasional dan saat ini memegang
jabatan selaku General Manager pada perusahaan
PT. Yuda Esa Sempurna Sejahtera.
Untuk keterangan lebih jelas silahkan kunjungi website kami di:
http://www.yess.bizweb.co.id atau http://www.yudaesa.com
E-mail: info@yudaesa.com atau yuda@cbn.net.id
Tel: +62-21-54376065, 54372018, 5407091
Fax: +62-21-54372260
Mobile: +62-816 870 443

2. Star-Delta Starter

Start dengan methode star-delta ini memanfaatkan penurunan tegangan yang
dicatu ke motor saat stator motor terhubung dalam rangkaian bintang (star).
Pada waktu start, yakni saat stator berada pada rangkaian bintang, arus motor
hanya mengambil sepertiga dari arus motor seandainya motor distart dengan
methode DOL.
Berhubung torsi motor berbanding lurus dengan quadratis dari tegangan, maka
dengan demikian torsi motor pada rangkaian bintang juga hanya sepertiga dari
torsi pada rangkaian delta.
Data data lengkap mengenai rangkaian star-delta tersusun jelas pada Tabel 1.


Gambar 2: Rangkaian Star-Delta

Tabel 1: Data Star-Delta
Cara kerja
Lihat gambar 3.
Saat start, pertama-tama kontaktor utama K
1
dan kontaktor bintang K
Y

diaktifkan. Peralihan dari rangkaian bintang ke rangkaian delta terjadi pada
kecepatan nD, yakni jika kecepatan motor sudah mencapai kira kira 80%
dari kecepatan nominal. Caranya dengan pengaktifan kontaktor K
D
dan
pada saat yang sama kontaktor K
Y
dibuat tidak aktif.
Bagian kurva Torsi terhadap Kecepatan yang diberi bayangan arsir adalah
torsi asselerasi yang dibutuhkan untuk meng-asselerasi beban.
Perhatikan torsi start pada rangkaian bintang harus selalu lebih besar dari
torsi awal beban supaya motor dapat mengangkat beban dan ber-
asselerasi menuju kecepatan nominal.

Gambar 3: Star-Delta Starter
Kesimpulan Star-Delta Starter:
- Star-Delta Starter memanfaatkan tegangan catu yang lebih rendah pada
rangkaian bintang saat start dengan konsequensi memperoleh torsi start
yang lebih rendah. Torsi start turun menjadi 1/3 dari torsi awal atau
Locked Rotor Torque (LRT).
- Star-Delta mempunyai keunggulan dibandingkan dengan DOL-Starter
karena arus start turun menjadi 1/3 dari arus start DOL.
- Peralihan dari rangkaian bintang ke rangkaian delta biasanya dilakukan
saat kecepatan motor sudah mencapai kira kira 80% dari kecepatan
nominal.
- Sesaat motor sudah terlepas dari rangkaian bintang tetapi masih belum
terhubung ke rangkaian delta, rotor masih berputar, demikian juga arus
rotor masih mengalir di kumparan rotor. Ada flux magnetik sisa di rotor
yang memotong kumparan stator.
Terjadi tegangan induksi ke stator yang frequensinya tergantung dari
kecepatan rotor saat itu.Kecepatan rotor saat itu tergantung sekali
pada beban, apakah beban dengan inersia rendah atau beban dengan
inersia tinggi. Saat motor terhubung ke rangkaian delta, terjadilah arus
inrush yang sangat besar, yang mana nilainya dapat mencapai hingga
2000 % dalam durasi yang sangat pendek sekitar 200 ms (lihat gambar 4).
Hal ini terjadi karena adanya perbedaan phasa yang sangat besar telah
terjadi saat stator terhubung kembali ke jaringan listrik dalam rangkaian
delta dengan flux dari rotor.
Arus yang tinggi ini mengakibatkan terjadinya torsi kejut dan dapat
memberikan dampak buruk bagi komponen transmisi dan komponen
pemutus arus dari sistem drive tersebut.


Gambar 4: Peralihan Star ke Delta


Satu lagi dari kelemahan star-delta starter adalah apabila beban
membutuhkan 40% dari torsi awal atau lebih untuk start maka
kita terpaksa harus memilih motor induksi dengan satu frame size
yang lebih besar.

3. Start dengan Resistor Stator

Star-Delta Starter mempunyai masalah tersendiri, yaitu arus inrush yang
tinggi, walau hanya singkat, saat rotor berpindah dar rangkaian bintang
ke rangkaian delta.
Salah satu masalah yang dihadapai adalah mata kontak pada kontaktor
yang sering lengket (efek las) sebagai akibat dari arus yang berlebihan.

Cara pengaturan start dengan resistor adalah dengan memasukkan
resistor disisi stator pada setiap phasa. Tahanan eksternal ini dihubung
singkat secara bertahap sehingga tegangan yang jatuh pada resistor
semakin berkurang dan seiring dengan itu tegangan ke motor semakin
besar dan dengan demikian motor berputar mencapai kecepatan nominalnya.
Mekanisme pengaturan ini sangat meyita tempat karena volumenya besar,
selain itu investasinya juga mahal.


Gambar 5: Start dengan Resistor Stator
4. Start dengan Transformator
Cara lain start dengan penurunan tegangan adalah dengan memakai
autotransformator. Autotrafo dipakai untuk menurunkan tegangan
(step down). Umumnya autotrafo standar untuk start motor mempunyai
3 tapping, yakni 50%, 65% dan 80% dari tegangan jaringan listrik.

Gambar 6: Autotrafo
Perbandingan tegangan jaringan dangan output dari trafo yang ke motor
adalah i = U
L
/ U
T
sehingga arus start menjadi 1 / i
2
lebih rendah
dibandingkan dengan arus start jika motor distart secara langsung dari
jaringan listrik (DOL). Torsi juga menjadi lebih rendah dan proporsional
dengan faktor 1/ i
2
.

Contoh sebuah rangkaian start dengan autotrafo diperlihatkan pada
gambar 7. Rangkaian ini dikenal juga dengan rangkaian Korndoerfer.

Setelah proses start selesai, melalui sebuah timer kita membuat kontaktor
K
1
dan K
2
tidak aktif. dan membuat K
3
aktif.

Gambar 7: Rangkaian Start dengan Autotrafo


Torsi start tergantung dari tapping autotrafo, tidak dapat disesuaikan
dengan torsi beban. Penggantian step pada autotrafo dapat menimbulkan
arus yang merusak. Sama seperti start dengan resistor, start dengan
autotrafo juga mempunyai volume yang besar dan investasi yang mahal.
Oleh: Amir Kasan Dipl. Ing.
Penulis adalah pelaku dan pengamat di otomasi industri sejak lebih dari
dua dasawarsa yang lalu. Pekerjaannya melingkupi motor, drives dan
proses otomasi. Telah berkarya pada beberapa perusahaan multi nasional
dan saat ini memegang jabatan selaku General Manager pada perusahaan
PT. Yuda Esa Sempurna Sejahtera.
Untuk keterangan lebih jelas silahkan kunjungi website kami di:
http://www.yess.bizweb.co.id atau http://www.yudaesa.com
E-mail: info@yudaesa.com atau yuda@cbn.net.id
Tel: +62-21-54376065, 54372018, 5407091
Fax: +62-21-54372260
Mobile: +62-816 870 443


Posted in Uncategorized | Leave a comment
induksi
Posted on May 31, 2011 by fauzi68
Motor induksi merupakan motor listrik arus bolak balik (ac) yang paling luas digunakan
Penamaannya berasal dari kenyataan bahwa motor ini bekerja berdasarkan induksi medan
magnet stator ke statornya, dimana arus rotor motor ini bukan diperoleh dari sumber tertentu,
tetapi merupakan arus yang terinduksi sebagai akibat adanya perbedaan relatif antara putaran
rotor dengan medan putar (rotating magnetic field) yang dihasilkan oleh arus stator.
Motor induksi sangat banyak digunakan di dalam kehidupan sehari-hari baik di industri maupun
di rumah tangga. Motor induksi yang umum dipakai adalah motor induksi 3-fase dan motor
induksi 1-fase. Motor induksi 3-fase dioperasikan pada sistem tenaga 3-fase dan banyak
digunakan di dalam berbagai bidang industri, sedangkan motor induksi 1-fase dioperasikan pada
sistem tenaga 1-fase yang banyak digunakan terutama pada penggunaan untuk peralatan rumah
tangga seperti kipas angin, lemari es, pompa air, mesin cuci dan sebagainya karena motor
induksi 1-fase mempunyai daya keluaran yang rendah.
3.1 Konstruksi Motor Induksi
Motor induksi pada dasarnya mempunyai 3 bagian penting sebagai berikut.
1. Stator : Merupakan bagian yang diam dan mempunyai kumparan yang dapat menginduksikan
medan elektromagnetik kepada kumparan rotornya.
2. Celah : Merupakan celah udara: Tempat berpindahnya energi dari startor ke rotor.
3. Rotor : Merupakan bagian yang bergerak akibat adanya induksi magnet dari kumparan stator
yang diinduksikan kepada kumparan rotor.
Konstruksi stator motor induksi pada dasarnya terdiri dari bahagian-bahagian sebagai berikut.
1. Rumah stator (rangka stator) dari besi tuang.
2. Inti stator dari besi lunak atau baja silikon.
3. Alur, bahannya sama dengan inti, dimana alur ini merupakan tempat meletakkan belitan
(kumparan stator).
4. Belitan (kumparan) stator dari tembaga.
Rangka stator motor induksi didisain dengan baik dengan empat tujuan yaitu:
1. Menutupi inti dan kumparannya.
2. Melindungi bagian-bagian mesin yang bergerak dari kontak langsung dengan manusia dan
dari goresan yang disebabkan oleh gangguan objek atau gangguan udara terbuka (cuaca luar).
3. Menyalurkan torsi ke bagian peralatan pendukung mesin dan oleh karena itu stator didisain
untuk tahan terhadap gaya putar dan goncangan.
4. Berguna sebagai sarana rumahan ventilasi udara sehingga pendinginan lebih efektif.
Berdasarkan bentuk konstruksi rotornya, maka motor induksi dapat dibagi menjadi dua jenis
seperti yang diperlihatkan pada gambar 3.1, yaitu.
1. Motor induksi dengan rotor sangkar (squirrel cage).
2. Motor induksi dengan rotor belitan (wound rotor)
a) Rangka Stator b) Rotor Belitan c) Rotor Sangkar
Gambar 3.1 Bentuk konstruksi dari motor induksi
Konstruksi rotor motor induksi terdiri dari bahagian-bahagian sebagai berikut.
1. Inti rotor, bahannya dari besi lunak atau baja silikon sama dengan inti stator.
2. Alur, bahannya dari besi lunak atau baja silikon sama dengan inti. Alur merupakan tempat
meletakkan belitan (kumparan) rotor.
3. Belitan rotor, bahannya dari tembaga.
4. Poros atau as.
Diantara stator dan rotor terdapat celah udara yang merupakan ruangan antara stator dan rotor.
Pada celah udara ini lewat fluks induksi stator yang memotong kumparan rotor sehingga
meyebabkan rotor berputar. Celah udara yang terdapat antara stator dan rotor diatur sedemikian
rupa sehingga didapatkan hasil kerja motor yang optimum. Bila celah udara antara stator dan
rotor terlalu besar akan mengakibatkan efisiensi motor induksi rendah, sebaliknya bila jarak
antara celah terlalu kecil/sempit akan menimbulkan kesukaran mekanis pada mesin. Bentuk
gambaran sederhana penempatan stator dan rotor pada motor induksi diperlihatkan pada gambar
3.2.


Gambar 3.2 Gambaran sederhana motor induksi dengan satu kumparan stator dan satu kumparan
rotor

Tanda silang (x) pada kumparan stator atau rotor pada gambar 3.2 menunjukkan arah arus yang
melewati kumparan masuk ke dalam kertas (tulisan ini) sedangkan tanda titik (.) menunjukkan
bahwa arah arus keluar dari kertas.
Belitan stator yang dihubungkan dengan suatu sumber tegangan akan menghasilkan medan
magnet yang berputar dengan kecepatan sinkron (n
s
=, 120f/2p). Medan putar pada stator
tersebut akan memotong konduktor -konduktor pada rotor, sehingga terinduksi arus; dan sesuai
dengan Hukum Lentz, rotor pun akan turut berputar mengikuti medan putar stator. Perbedaan
putaran relatif antara stator dan rotor disebut slip. Bertambahnya beban, akan memperbe sar
kopel motor yang oleh karenanya akan memperbesar pula arus induksi pada rotor, sehingga slip
antara medan putar stator dan putaran rotor pun akan bertambah besar. Jadi. Bila beban motor
bertambah, putaran rotor cenderung menurun.
3.2. Prinsip Kerja Motor Induksi
Motor induksi bekerja berdasarkan induksi elektromagnetik dari kumparan stator kepada
kumparan rotornya. Garis-garis gaya fluks yang diinduksikan dari kumparan stator akan
memotong kumparan rotornya sehingga timbul emf (ggl) atau tegangan induksi dan karena
penghantar (kumparan) rotor merupakan rangkaian yang tertutup, maka akan mengalir arus pada
kumparan rotor. Penghantar (kumparan) rotor yang dialiri arus ini berada dalam garis gaya fluks
yang berasal dari kumparan stator sehingga kumparan rotor akan mengalami gaya Lorentz yang
menimbulkan torsi yang cenderung menggerakkan rotor sesuai dengan arah pergerakan medan
induksi stator.Pada rangka stator terdapat kumparan stator yang ditempatkan pada slot-slotnya
yang dililitkan pada sejumlah kutup tertentu. Jumlah kutup ini menentukan kecepatan
berputarnya medan stator yang terjadi yang diinduksikan ke rotornya. Makin besar jumlah kutup
akan mengakibatkan makin kecilnya kecepatan putar medan stator dan sebaliknya. Kecepatan
berputarnya medan putar ini disebut kecepatan sinkron. Besarnya kecepatan sinkron ini adalah
sebagai berikut.
w
sink
= 2pf (listrik, rad/dt) (3.1)
= 2pf / P (mekanik, rad/dt)
atau:
Ns = 60. f / P (putaran/menit, rpm) (3.2)
yang mana :
f = frekuensi sumber AC (Hz)
P = jumlah pasang kutup
Ns dan w
sink
= kecepatan putaran sinkron medan magnet stator
Prinsip kerja motor induksi berdasarkan macam fase sumber tegangannya dapat dijelaskan lebih
lanjut sebagai berikut dibawah ini.
1. Sumber 3-fase
Sumber 3-fase ini biasanya digunakan oleh motor induksi 3-fase. Motor induksi 3-fase ini
mempunyai kumparan 3-fase yang terpisah antar satu sama lainya sejarak 120
0
listrik yang dialiri
oleh arus listrik 3-fase yang berbeda fase 120
0
listrik antar fasenya, sehingga keadaan ini akan
menghasilkan resultan fluks magnet yang berputar seperti halnya kutup magnet aktual yang
berputar secara mekanik. Bentuk gambaran sederhana hubungan kumparan motor induksi 3-fase
dengan dua kutup stator diperlihatkan pada gambar 3.3.

F
1

S
3

F
2

F
3

S
1

S
2











Gambar 3.3 Bentuk hubungan kumparan motor induksi 3-fase dengan dua kutup stator

Berntuk gambaran fluk yang terjadi pada motor induksi 3-fasa diperllihatkan pada gambar 3.4
(fluks yang terjadi pada kumparan 3-fase diasumsikan sinusoidal seperti yang diperlihatkan pada
gambar 3.4a dengan arah fluks positif seperti gambar 3.4b)
<![if mso & !supportInlineShapes & supportFields]&gt; SHAPE \*
MERGEFORMAT &lt;![endif]>
q
F
m

F
<![if mso & !supportInlineShapes & supportFields]&gt; &lt;![endif]>
Gambar 3.4 Fluks yang terjadi pada motor induksi 3-fase dari gambar 3.3
Bila dimisalkan nilai fluks maksimum yang terjadi pada salah satu fasenya disebut f
m
, maka
resultan fluks f
r
pada setiap saat diperoleh dengan melakukan penjumlah vektor dari masing-
masing fluks f
1
, f
2
dan f
3
akibatpengaruh 3-fasenya. Bila nilai f
r
dihitung setiap 1/6 perioda dari
gambar 3.4adengan mengambil titik-titik 0, 1, 2 dan 3 maka akan diperoleh bentuk gambaran
perputaran fluks stator seperti yang diperlihatkan pada gambar 3.5.
Bentuk perhitungan hingga terjadinya perputaran fluks magnet stator dari gambar 3.5 dapat
diterangkan dengan memperhatikan kembali titik-titik 0, 1, 2 dan 3 pada gambar 3.4 sehingga
didapatkan sebagai berikut.
(i) Saat q = 0
0
pada gambar 3.4a akan diperoleh :
f
1
= 0, f
2
= [()/2] x f
m
, f
3
= [()/2] x f
m

Penjumlahan vektor dari ketiga vektor f
1
,f
2
dan f
3
ini menghasilkan vektor f
r
seperti yang
diperlihatkan pada gambar 5(i) dengan perhitungan :
f
r
= 2 x [()/2] x f
m
x cos (60
0
/2) = x [()/2] x f
m
= (3/2) f
m

(ii) Saat q = 60
0
pada gambar 3.4a akan diperoleh :
f
1
= [()/2] x f
m
, f
2
= [()/2] x f
m
, f
3
= 0
Penjumlahan vektor dari ketiga vektor f
1
,f
2
dan f
3
ini menghasilkan vektor f
r
seperti yang
diperlihatkan pada gambar 5(ii) dengan perhitungan :
f
r
= 2 x [()/2] x f
m
x cos (60
0
/2) = x [()/2] x f
m
= (3/2) f
m

Di sini dapat dilihat bahwa resultan fluks yang dihasilkan adalah tetap sebesar (3/2) f
m
dan
berputar searah jarum jam dengan besar sudut sebesar 60
0
.
60
0

60
0

60
0

60
0

F
r
= 1,5 F
m

F
r
= 1,5 F
m

F
r
= 1,5 F
m

F
r
= 1,5 F
m

F
2

F
3

-F
2

F
1

-F
2

F
1

-F
3

-F
3

(iv) q = 180
0

(i) q = 0
0

(iii) q = 120
0

(ii) q = 60
0















Gambar 3.5Bentuk perputaran fluks stator dari gambar 3.4
(iii) Saat q = 120
0
pada gambar 3.4a akan diperoleh :
f
1
= [()/2] x f
m
, f
2
= 0 ,f
3
= [()/2] x f
m

Penjumlahan vektor dari ketiga vektor f
1
,f
2
dan f
3
ini menghasilkan vektor f
r
seperti yang
diperlihatkan pada gambar 2.4(iii) dengan perhitungan :
f
r
= 2 x [()/2] x f
m
x cos (60
0
/2) = x [()/2] x f
m
= (3/2) f
m

Di sini dapat dilihat bahwa resultan fluks yang dihasilkan adalah tetap lagi sebesar (3/2) f
m
dan
berputar lagi searah jarum jam dengan besar sudut sebesar 60
0
atau 120
0
dari saat awal.
(iv) Saat q = 180
0
pada gambar 3.4a akan diperoleh :
f
1
= [()/2] x f
m
, f
2
= [()/2] x f
m
, f
3
= 0
Penjumlahan vektor dari ketiga vektor f
1
,f
2
dan f
3
ini menghasilkan vektor f
r
seperti yang
diperlihatkan pada gambar 5(iv) dengan perhitungan :
f
r
= 2 x [()/2] x f
m
x cos (60
0
/2) = x [()/2] x f
m
= (3/2) f
m

Di sini dapat dilihat bahwa resultan fluks yang dihasilkan adalah tetap lagi sebesar (3/2) f
m
dan
berputar lagi searah jarum jam dengan besar sudut sebesar 60
0
atau 180
0
dari saat awal.
Dari uraian yang telah dijelaskan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Resultan fluks yang dihasilkan konstan sebesar (3/2) f
m
yaitu 1,5 kali fluks maksimum yang
terjadi dari setiap fasenya.
2. Resultan fluks yang terjadi berputar disekeliling stator dengan kecepatan konstan sebesar 60.f
/P (telah dijabarkan sebelumnya).
Besarnya fluks konstan yang terjadi pada motor induksi 3-fase juga dapat dibuktikan secara
matematik. Dengan cara mengambil salah satu fase-1 sebagai referensi maka didapatkan
sebagaiberikut.
Misalkan fluks yang dihasilkan oleh kumparan a-a (fasa 1) pada saat t dapat dinyatakan dalam
koordinat polar, yaitu :
f
1
= f
a
cos f (3.3)
Dan fluks yang dihasilkan oleh kumparan b-b (fasa 2) dan c-c (fasa 3) masing-masing adalah :
f
2
= f
b
cos (f - 120) (3.4)
f
3
= f
c
cos (f - 240) (3.5)
Karena amplitudo fluks berubah menurut waktu secara sinusoid, maka
amplitudo f
a,
f
b
dan f
c
dapat dituliskan:
f
a
= f
maks
cos wt (3.6)
f
b
= f
maks
cos (wt - 120) (3.7)
f
c
= f
maks
cos (wt - 240) (3.8)
Fluks resultan adalah jumlah ketiga fluks tersebut dan merupakan fungsi tempat (f) dan waktu
(t).
f
t
(f,t) = f
m
cos wt cos f + f
m
cos (f - 120) cos (wt - 120) + f
m
cos (f - 240) cos (wt - 240)
Dengan memakai transformasi trigonometri dari :
cos a cos b = cos (a - b) + cos (a + b) (3.9)
didapat :
f
t
(f,t) = f
m
cos (f - wt) + f
m
cos (f + wt) + f
m
cos (f - wt) +
f
m
cos (f + wt - 240) + f
m
cos (f - wt) + f
m
cos (f + wt - 480)
Suku kedua, keempat, dan keenam saling menghapuskan, maka diperoleh:
f
t
(f,t) = 1,5 f
m
cos (f - wt) (3.10)


2. Sumber 2-fasa atau 1-fasa
Pada dasarnya, prinsip kerja motor induksi 1-fasa sama dengan motor induksi 2-fasa yang tidak
simetris karena pada kumparan statornya dibuat dua kumparan (yaitu kumparan bantu dan
kumparan utama) yang mempunyai perbedaan secara listrik dimana antara masing-masing
kumparannya tidak mempunyai nilai impedansi yang sama dan umumnya motor bekerja dengan
satu kumparan stator (kumparan utama). Khusus untuk motor kapasitor-start kapasitor-run, maka
motor ini dapat dikatakan bekerja seperti halnya motor induksi 2-fasa yang simetris karena motor
ini bekerja dengan kedua kumparannya (kumparan bantu dan kumparan utama) mulai dari start
sampai saat running (jalan).
Motor induksi 1-fase yang bekerja dengan satu kumparan stator pada saat running (jalan) dapat
dikatakan bekerja bukan berdasarkan medan putar, tetapi bekerja berdasarkan gabungan medan
maju dan medan mundur. Bila salah satu medan tersebut dibuat lebih besar maka rotornya akan
berputar mengikuti perputaran medan ini. Bentuk gambaran proses terjadinya medan maju dan
medan mundur ini dapat dijelaskan dengan menggunakan teori perputaran medan ganda seperti
yang diperlihatkan pada gambar 3.6.
-F
m

+F
m

F
m
/2
F
m
/2
F
m
/2
F
m
/2
F
m
sin q
+q
-q
-q
+q


Gambar 3.6 Teori perputaran medan ganda pada motor induksi 1-fase

Gambar 3.6 memperlihatkan bahwa fluks sinusoidal bolak balik dapat ditampilkan sebagai dua
fluks yang berputar, dimana masing-masing fluks bernilai setengah dari nilai fluks bolak-
baliknya yang berputar dengan kecepatan sinkron dengan arah yang saling berlawanan. Gambar
3.6a memperlihatkan bahwa fluks total yang dihasilkan sebesar F
m
adalah akibat pengaruh dari
masing-masing komponen fluks A dan B yang mempunyai nilai sama sebesar F
m
/ 2 yang
berputar dengan arah yang berlawanan. Setelah fluks A dan B berputar sebesar +q dan -q (pada
gambar 3.6b) resultan fluks yang terjadi menjadi 2 x (F
m
/2) sin (2q/2) = F
m
sin q. Selanjutnya
setelah seperempat lingkaran resultan fluks yang terjadi (gambar 3.6c) menjadi nol karena
masing-masing fluks A dan B mempunyai harga yang saling menghilangkan. Setelah setengah
lingkaran (gambar 3.6d) resultan fluks A dan b akan menghasilkan 2 x (F
m
/2) = F
m
(arah
berlawanan dengan gambar 3.6a). Selanjutnya setelah tigaperempat lingkaran (gambar 3.6e)
resultan fluks A dan B yang terjadi kembali nol karena masing-masing fluks yang saling
menghilangkan. Proses pada gambar 3.6 ini akan terus berlangsung sehingga terlihat bahwa
medan fluks yang terjadi adalah medan maju dan medan mundur karena pengaruh fluks magnet
bolak balik yang dihasilkan oleh sumber arus bolak balik.
3.3 Slip
Apabila rotor dari motor induksi berputar dengan kecepatan N
r
, dan medan magnet stator
berputar dengan kecepatan Ns, maka bila ditinjau perbedaan kecepatan relatif antara kecepatan
medan magnet putar stator terhadap kecepatan rotor, ini disebut kecepatan slip yang besarnya
sebagai berikut.
Kec.slip = Ns Nr (3.11)
Kemudian slip (s) adalah :
S = (3.12)

Frekuensi yang dibangkitkan pada belitan rotor adalah f
2
dimana
f
2
= (3.13)
dengan: p = jumlah kutup magnet stator.
Sedangkan frekuensi medan putar stator adalah f
l
, di mana
f
1
= (3.14)
Dari persamaanpersamaan di atas akan diperoleh
= f
2
= sf
1
(3.15)

Apabila, slip = 0 (karena Ns=Nr) maka f
2
= 0. Apabila rotor ditahan slip = 1 (karena Nr= 0)
maka f
2
= f
1
. Dari persamaan f
2
= sf
1
, diketahui bahwa frekuensi rotor dipengaruhi oleh slip. Oleh
karena GGL induksi dan reaktansi pada rotor merupakan fungsi frekuensi maka besarnya juga
turut dipengaruhi oleh slip. Besarnya GGL induksi efektif pada kumparan stator adalah :
E
1
= 4,44 f
1
N
1
fm (3.16)
Selanjutnya, besarnya GGL induksi efektif pada kumparan rotor adalah :
E
2S
= 4,44 f
2
N
2
fm (3.17)
= 4,44 s f
1
N
2
fm
= s.E
2

dimana :
E
2
= GGL pada saat rotor diam (Nr = Ns)
E
2S
= GGL pada saat rotor berputar.
Selanjutnya karena kumparan rotor mempunyai reaktansi induktif yang dipengaruhi oleh
frekuensi, maka dapat dibuatkan :
X
2S
= 2p f
2
L
2
(3.18)
= 2p s.f
1
L
2

= sX
2

dengan :
X
2S
= reaktansi pada saat rotor berputar.
X
2
=

reaktansi pada saat rotor diam. (Nr = Ns).

3.4 Arus Rotor
Lilitan rotor dihubung singkat dan tidak mempunyai hubungan langsung dengan sumber, arusnya
diinduksikan oleh fluks magnet ber sama (f) antara stator dan rotor yang melewati celah udara,
sehingga arus rotor ini bergantung kepada perubahan-perubahan yang terjadi pada stator.
Apabila tegangan sumber V
1
diberikan pada stator, pada stator timbul tegangan E
1
yang
diinduksikan oleh fluks-fluks tersebut yang juga menimbulkan tegangan E pada rotor, (E
2
=
E
1
pada saat rotor ditahan dan s E
2
= E
1
pada waktu motor berputar dengan slip s). Besarnya arus
rotor I
2
akan diimbangi dengan arus stator tapi dengan arah berlawanan agar fluks magnet
bersama (fm) tetap konstan seperti yang diperlihatkan pada gambar 3.7.
Gambar 3.7: Diagram vektor motor induksi dengan tinjauan sederhana
Pada slip s, arus rotor ditentukan oleh s E
2
(GGL rotor) dan Z
2
(impedansi rotor), sehingga akan
diperoleh:
I
1=
= I
2
= (3.19)
I
1
ketinggalan sebesar j2 terhadap V
1
, dengan:
j
2
= arc tan (3.20)

3.5. Rangkaian Pengganti Motor Induksi 3-fasa
Motor induksi 3-fasa mempunyai kumparan stator dan kumparan rotor.Rangkaian pengganti
rotor motor induksi ideal digambarkan pada gambar 3.8.
Gambar 3.8 Rangkaian pengganti rotor motor induksidengan tinjauan sederhana.

GGL induksi pada rotor adalah sE
2
= E
1
, jika dibuat E
l
= E
2
maka semua unsur yang ada di rotor
harus dibagi dengan s, sehingga r
2
menjadi dans.X
2
menjadi X
2
. Selanjutnya dapat juga
dibuatkan :
(3.21)
dengann arus rotor I
2
tetap sama dengan I
2
sebelumnya. Bila dinamakan tahanan stator = r
1
dan
reaktansi induksi dari fluks bocor kumparan stator = X
1
, akan dapat dibuatkan rangkaian
pengganti motor induksi 3-fasa perfasanya seperti gambar 3.9. Selanjutnya, bila rotor dilihat dari
sisi stator akan diperoleh gambar 3.10 dengan r
m
(tahanan karena pengaruh rugi-rugi inti) dan
X
m
(reaktansi induktif magnet) pada inti. Gambar 3.10 merupakan gambar rangkaian pendekatan
(ekivalen) motor induksi 3-fasa perfasa yang sudah merupakan standar untuk menganalisa
rangkaian karena sisi rotor dilihat dari sisi stator.

Gambar 3.9. Rangkaian pengganti motor induksi 3-fasa perfasa


E
2
=E
1




Gambar 3.10 Rangkaian pengganti dengan rotor disesuaikan terhadap stator.

Gambar 3.10 memperlihatkan bahawa untuk menggabungkan rangkaian stator dan rangkaian
rotor, rangkaian rotor harus disesuaikan dengan rangkaian stator. Apabila rangkaian rotor
disesuaikan terhadap rangkaian stator maka rangkaian rotor dianggap mempunyai nilai yang
sama dengan bayangan dari rangkaian stator itu sendiri, sehingga E
1
= E
2
. Selanjutnya untuk
parameter-parameter yang lain pada sisi rotor juga diberik tanda ( ) seperti yang diperlihatkan
pada gambar 3.10.

3.6. Daya Motor Induksi
Dengan memperhatikan gambar 3.8 sampai dengan gambar 3.10 dapat dibuatkan besarnya daya
aktif makanik yang ditransfer dari stator melalui celah udar ke rotor (Pg) sebesar.
Pg = I
2
2
. = I
2
2
. () (3.22)
= (I
2
)
2
. = I
2

2
. ()
dan rugi-rugi daya aktif pada kumparan rotor (Pr
2
) sebesar:
Pr
2
= I
2
2
r
2
= (I
2
)
2
.r
2
(3.23)
Selanjutnya daya aktif mekanik yang bermanfaat untuk menggerakkan rotor (Pm) sebesar:
Pm = I
2
2
. = (I
2
)
2
. (3.24)
Bila dibuatkan perbandingan antara ketiga daya tersebut, dengan asumsi rugi-rugi putar
diabaikan, maka dapat dibuatkan perbandingan sebagai berikut.
Pm : Pr
2
= (1-s) : s (3.25)
Pg : Pm : Pr
2
= 1: (1 - s) : s (3.26)
Kemudian rugi-rugi daya aktif pada kumparan primer motor induksi 3-fasa perfasa (P
1
) dapat
dibuatkan sebagai berikut.
P
1
= I
1
2
r
1
(3.27)
Daya masukan motor induksi 3-fasa perfasa menjadi:
Pin = P
2
+ Pg (3.28)
Selanjutnya daya 3-fasanya dapat dibuatkan sebagai berikut.
Pin
(3ph)
= 3. Pin
(3ph)
(3.29)
Pin
(3ph)
= V
L
. I
L
. Cos (3.30)
Dengan = perbedaan sudut antara V
L
dan I
L
.

3.7 Torsi Motor Induksi
Torsi berhubungan dengan kemampuan motor untuk mesuplai beban mekanik. Oleh karena itu
Torsi (T) secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut.
T = (3.31)
Dengan : w
r
= kecepatan sudut (mekanik) dari rotor.
Dari persamaan (3.12) dapat dibuat bahwa Nr = Ns (1-s), sehingga diperoleh pula:
w
r
= w
s
(1-s) (3.32)
Bila dilihat torsi mekanik yang ditransfer pada rotornya (perhatikan gambar 3.10) akan diperoleh
sebagai berikut.
Tg = (3.33)
Dimana:
k =
a =
Ttorsi start yang dibutuhkan pada motor induksi dapat dihitung dengan memasukkan nilai s = 1
pada persamaan (3.33). Selanjutnya dengan memperhatikan persamaan 3.26, torsi mekanik yang
bermanfaat untuk memutar rotor menjadi:
Tm = (3.34)
Torsi maksimum dicapai pada , maka dari persamaan (3.33), maka diperoleh:
a (s
2
+ a
2
) s.a (2s) = 0
s
2
+ a
2
2 s
2
= 0
s
2
= a
2

s = a (3.35)
Dari keadaan ini akan diperoleh torsi maksimum (T
mx
) sebesar:
T
mx
= (3.36)

Torsi maksimum (1/2k) tersebut dicapai pada slip positif (mesin bertindak sebagai motor
induksi) dan pada slip negatif (mesin bertindak sebagai generator induksi).
Hubungan antara torsi dan slip dinyatakan pada gambar 3.11.

Gambar 3.11 Hubungan antara torsi dan slip motor induksi
Dengan memperhatikan gambar 3.11 dapat dilihat bahwa:
- Pada kecepatan hipersinkron (kecepatan melebih kecepatan sinkron), slipnya negatif (biasanya
kecil), mesin beroperasi sebagai generator induksi dengan torsi bekerja dengan arah yang
berlawanan dengan putaran medan putar.
- Saat mesin bekerja pada kecepatan di antara standstill dan kecepatan sinkron, dengan slip
positif antara 1 dan 0: Mesin berputar pada keadaan tanpa beban sehingga slipnya kecil sekali,
GGL rotor juga kecil sekali, Z
2
(rotor circuit impedance) hampir R murni dan arus cukup untuk
membangkitkan torsi dan memutar rotornya.
- Selanjutna beban mekanik dipasang pada poros sehingga putaran rotor makin lambat, slip naik,
GGL rotor naik (besar maupun frekuensinya), menghasilkan arus dan torsi yang lebih besar.
- Jika motor induksi diputar berlawanan dengan arah putaran medan putar maka masih akan
dihasilkan torsi yang bertindak sebagai rem dan terjadi penyerapan tenaga mekanik: Misal nya
mesin dalam keadaan berputar dengan slip s, kemudian arah medan putar tiba-tiba di balik,
maka akan terjadi rotor mempunyai slip (2 - s), kecepatan turun menuju nol dan dapat dibawa ke
kondisi standstill. Cara ini adalah cara pengereman motor yang disebut dengan plugging.

3.8. Hubungan Antara Torsi dan Slip
Dari persamaan (34) terlihat bahwa untuk s = 0, T = 0 sehingga kurva dimulai dari titik 0. Pada
kecepatan normal (mendekati kecepatan sinkron, harga (s.X
2
) sangat kecil dibanding harga
r
2
-nya, sehingga T = untuk r2 konstan.
Gambar 3.12. Grafik T = f(s) untuk bermacam-macam nilai r
2
pada motor induksi


Apabila slip terus dinaikkan (dengan menambah beban motor) torsi (T) terus meningkat dan
mencapai harga maksimum pada saat s = , torsi ini disebut pull - out atau break - down
torque. Dengan bertambahnya beban, slip makin besar, putaran motor makin turun maka
lama-lama X
2
meningkat terus sehingga r
2
dapat diabaikan bila dibandingkan terhadap (s.X
2
)
sehingga bentuk kurva torsi - slip sesudah mencapai titik maksimum berobah dalam setiap
penambahan beban motor dimana torsi yang dihasilkan motor akan terus merosot, akibatnya
putaran semakin pelan dan akhirnya berhenti. Pada prinsipnya daerah kerja dari motor berada di
antara slip, s = 0 dan s = saatmencapai torsi maksimum, perhatikan gambar 3.12. Dari gambar
3.12 terlihat bahwa nilai T
maks
tergantung dari r
2
, makin besar harga r
2
makin besar pula nilai
slip untuk mencapai T
maks.


3.9 Membalik Arah Putaran Motor Induksi 3-fasa
Untuk membalik putaran motor dapat dilaksanakan dengan menukar dua di antara tiga kawat
dari sumber tegangannya seperti yang diperlihatkan pada gambar 3.13.

Gambar 3.13 Cara membalik arah putaran motor induksi 3-fasa


3.10 Memilih Motor Listrik
Setiap motor listrik sebagai alat penggerak sudah mempunyai klasifikasi tertentu sesuai dengan
maksud penggunaannya menurut kebutuhan yang diinginkan. Klasifikasi tiap motor listrik bisa
dibaca pada papan nama (name plate) yang dipasang padanya sehingga untuk berbagai keperluan
bisa dipilih motor yang sesuai.
Di dalam pemakaian sederhana, klasifikasi motor hanya dikenal menurut::
1. Tenaga output motor (HP).
2. Sistem tegangan (searah, bolak-balik, ukurannya, fasenya).
3. Kecepatan motor (rendah, sedan, tinggi).
Dalam pemakaian yang sederhana ini belum dicapai hal-hal lain yang sangat penting dalam
memilih motor yang sesuai. Jadi dapat disimpulkan bahwa klasifikasi motor ini sangatlah luas
mencakup dalam:
1. Hal-hal yang dibutuhkan oleh mesin-mesin yang digerakkan (driven machines) yang sesuai
dengan: tenaga dan torsi yang dibutuhkan
2. Karakteristik beban dan macam-macam kerja yang diperlukan
3. Konstruksi mesin-mesin yang digerakkan
Hal-hal yang demikian akan memberikan pula macam-macam variasi bentuk dari motor
termasuk alat-alat perlengkapannya (alat-alat pengusutan dan pengaturan).
3.11 Motor Induksi 1-fasa
Motor induksi 1-fasa biasanya tersedia dengan daya kurang dari 1 HP dan banyak digunakan
untuk keperluan rumah tangga dengan aplikasi yang sederhana, seperti kipas angin motor pompa
dan lain sebagainya. Didasarkan pada cara kerjanya, maka motor ini dapat dikelompokan sebagai
berikut :
1. Motor fase belah/fase bagi (split phase motor)
2. Motor kapasitor (capacitor motor)
a. Kapasitor start (capacitor start motor)
b. Kapasitor start-kapasitor jalan (capacitor start-capacitor run motor)
c. Kapasitor jalan (capacitor run motor)
3. Motor kutub bayangan (shaded pole motor)
Penjelasan dari jenis-jenis motor ini dijabarkan sebagai berikut di bawah ini.
3.11.1 Motor fase belah/fase bagi
Motor fase belah mempunyai kumparan utama dan kumparan bantu yang tersambung paralel dan
mempunyai perbedaan fasa antara keduanya mendekati 90
o
listrik. Gambaran konstruksi dan
bentuk rangkaian sederhana pemasangan kumparannya diperlihatkan pada gambar 3.14.


c)





b)





a)



Gambar 3.14 Bentuk konstruksi dan hubungan kumparan motor induksi fasa belah

Gambar 3.14a memperlihatkan letak kumparan utama dan kumparan bantu yang diatur berjarak
90
o
listrik, gambar 3.14b memperlihatkan hubungan kumparan utama dan kumparan bantu dalam
rangkaiannya dan gambar 3.14c memperlihatkan hubungan arus dan tegangan yang terjadi pada
kumparan motor induksi fasa belah. Di dalam prakteknya diusahakan antara arus kumparan
bantu dan kumparan utamanya berbeda fasa mendekati 90
o
listrik. Dengan cara ini maka
kumparan motor menjadi seolah-olah seperti motor induksi dua fase yang akan dapat
menghasilkan medan magnet yang seolah-olah berputar sehingga motor induksi ini dapat
berputar sendiri (self starting).
Pada motor fase boleh, kumparan utama mempunyai tahanan murni rendah dan reaktansi
tinggi, sebaliknya kumparan bantu mempunyai tahanan murni yang tinggi tetapi reaktansinya
rendah. Tahanan murni kumparan bantu dapat dipertinggi dengan menambah R yang disambung
secara seri dengannya (disebut motor resistor) atau dengan menggunakan kumparan kawat yang
diameternya sangat kecil. Bila pada kumparan bantuk diberik kapasitor, maka motor ini disebut
motor kapasitor (capacitor motor). Motor fase belah ini biasanya sering disebut motor
resistor saja, sedangkan untuk motor kapasitor jarang disebut sebagai motor fase belah karena
walaupun prinsipnya adalah membagi dua fasa tetapi nilai perbedaan fasanya hampir mendekati
90
o
, sehingga kerjanya mirip dengan motor induksi 2-fasa dan umum disebut sebagai motor
kapasitor saja. Untuk memutuskan arus, kumparan Bantu dilengkapi dengan saklar pemutus S
yang dihubungkan seri terhadap kumparan bantu. Alat ini secara otomatis akan memutuskan
setelah motor mencapai kecepatan 75% dari kecepatan penuh. Pada motor fase belah yang
dilengkapi saklar pemutus kumparan bantu biasanya yang dipakai adalah saklar sentrifugal.
Khusus untuk penerapan motor fase belah ini pada lemari es biasanya digunakan rele.
3.11.2 Motor kapasitor
Motor kapasitor merupakan bagian dari motor fasa belah, namun yang membedakan kedua
motor tersebut adalah pada saat kondisi start motor. Motor kapasitor ini menggunakan kapasitor
pada saat startnya yang dipasang secara seri terhadap kumparan bantu. Motor kapasitor ini
umumnya digunakan pada kipas angin, kompresor pada kulkas (lemari es), motor pompa air, dan
sebagainya. Pada lemari es umumnya memakai rele sebagai saklar sentrifugalnya. Berdasarkan
penggunaan kapasitor pada motor kapasitor, maka motor kapasitor ini dapat dibagi dalam hal
sebagai berikut di bawah ini.
1. Motor kapasitor start (capacitor start motor)
Pada motor kapasitor, pergeseran fase antara arus kumparan utama (I
u
) dan arus kumparan bantu
(I
b
) didapatkan dengan memasang sebuah kapasitor yang dipasang seri terhadap kumparan
bantunya seperti yang diperlihatkan pada gambar 3.15.
Gambar 3.15 Bagan rangkaian motor kapasitor dan diagram vektor I
u
dan I
b

Kapasitor yang digunakan pada umumnya adalah kapasior elektrolik yang pemasangannya tidak
permanen pada motor (sebagai bagian yang dapat dipisahkan). Kapasitor start direncanakan
khususnya untuk waktu pemakaian yang singkat, sekitar 3 detik, dan tiap jam hanya 20 kali
pemakaian. Bila saat start dan setelah putaran motor mencapai 75% dari kecepatan penuh, saklar
sentrifugal (CS) otomatis akan terbuka untuk memutuskan kapasitor dari rangkaian, sehingga
yang tinggal selanjutnya hanya kumparan utama saja.. Pada sebahagian motor ini ada yang
menggunaan rele sebagai saklar sentifugalnya. Ada 2 bentuk pemasangan rele yang biasa
digunakan yaitu penggunaan rele arus dan rele tegangan seperti yang diperlihatkan pada gambar
3.16 dan gambar 3.17.
Gambar 3.16 Bentuk penggunaan rele arus dalam rangkaian
Arus start yang dihasilkan pada gambar 3.16 cukup besar sehingga medan magnet yang
dihasilkan oleh rele sanggup untuk menarik kontak NO (normally open) menjadi menutup
(berhubungan), setelah motor berjalan dan mencapai kecepatan 75% kecepatan nominalnya,
maka arus motor sudah turun menjadi kecil kontak NO yang terhubung tadi terlepas kembali
karena medan magnet yang dihasilkan tidak sanggup untuk menarik kontak NO sehingga
kapasitor dilepaskan lagi dari rangkaian.
Gambar 3.17 Bentuk penggunaan rele tegangan dalam rangkaian
Tegangan awal saat start yang dihasilkan pada rele gambar 3.17 masih kecil sehingga medan
magnet yang dihasilkan oleh rele tidak sanggup untuk menarik kontak NC (normally close)
menjadi terbuka (memisah), setelah motor berjalan dan mencapai kecepatan 75% kecepatan
nominalnya, maka tegangan pada rele sudah naik menjadi normal sehingga kontak NC yang
terlepas tadi terhubung karena medan magnet yang dihasilkan rele sanggup untuk menarik
kontak NC menjadi terbuka sehingga kapasitor dilepaskan lagi dari rangkaian.
Disamping itu, penggunaan kapasitor start pada motor kapasitor dapat divariasikan misalnya
dengan tegangan tegangan ganda seperti yang diperlihatkan pada gambar 3.18.
Gambar 3.18 Motor kapasitor start tegangan ganda, putaran satu arah.
Untuk penggunaan tegangan rendah pada gambar 3.18, kumparan utama I dan kumparan utama
II diparalel dengan cara terminal 1 dikopel dengan 3, terminal 2 dikopel dengan 4, kemudian
terminal 1 dan 2 diberikan untuk sumber tegangan. Untuk tegangan tingginya, kumparan utama I
dan kumparan utama II dihubungkan secara seri, kemudian terminal 1 dikopel dengan 4
dan terminal 3 dan 2 untuk sumber tegangan.
Motor kapasitor start yang sederhana juga dapat diperlengkapi dengan pengaturan kecepatan dan
pembalik arah putaran seperti yang diperlihatkan pada contoh berikut di bawah ini.
a. Motor kapasitor start dengan 3 ujung dengan arah putaran yang dapat dibalik (three leads
reversible capacitor start motor) diperlihatkan pada gambar 3.19.
Gambar 3.19 Motor kapasitor start dengan 3 ujung dengan pembalik arah putaran

b. Motor kapasitor start 2 kecepatan seperti yang diperlihatkan pada gambar3.20.
Gambar 3.20 Motor kapasitor start 2 kecepatan.
Bila saklar diatur pada posisi low pada gambar 3.20, motor berputar lambat, sedangkan bila
saklar diatur pada posisi high, motor berputar lebih cepat, karena kumparan cepat (high run)
mempunyai jumlah kutub sedikit sedangkan kumparan lambat (low run) mempunyai jumlah
kutub yang lebih banyak.
c. Motor kapasitor start dengan 2 kumparan dan menggunakan 2 buah kapasitor seperti yang
diperlihatkan pada gambar 3.21.
-
Gambar 3.21 Motor kapasitor start dengan 2 kecepatan dan menggunakan 2 buah kapasitor.

2. Motor kapasitor start dan jalan (capacitor start-capacitor run motor).
Pada dasarnya motor ini sama dengan capasitor start motor, hanya saja pada motor jenis ini
kumparan bantunya mempunyai 2 macam kapasitor dan salah satu kapasitornya selalu
dihubungkan dengan sumber tegangan (tanpa saklar otomatis). Motor ini menggunakan nilai
kapasitansi yang berbeda untuk kondisi start dan jalan. Dalam susunan pensaklaran yang biasa,
kapasitor start yang seri dengan saklar start dihubungkan secara paralel dengan kapasitor jalan
dan kapasitor yang diparalelkan itu diserikan dengan kumparan bantu.
Penggunaan kapasitor start dan jalan yang terpisah memungkinkan perancangan motor
memilih ukuran optimum masing-masing, yang menghasilkan kopel start yang sangat baik dan
prestasi jalan yang baik. Tipe kapasitor yang digunakan pada motor kapasitor ini adalah tipe
elektrolit dan tipe berisi minyak. Rancangan motor ini biasanya hanya digunakan untuk
penggunaan motor satu fasa yang lebih besar dimana khususnya diperlukan untuk kopel start
yang tinggi. Keuntungan dari motor jenis ini adalah :
1. Mempertinggi kemampuan motor dari beban lebih.
2. Memperbesar cos j (faktor daya).
3. Memperbesar torsi start,
4. Motor bekerja lebih baik (putaran motor halus).
Motor jenis ini bekerja dengan menggunakan kapasitor dengan nilai yang tinggi (besar) pada saat
startnya, dan setelah rotor berputar mencapai kecepatan 75% dari kecepatan nominalnya, maka
kapasitor startnya dilepas dan selanjutnya motor bekerja dengan menggunakan kapasitor jalan
dengan nilai kapasitor yang lebih rendah (kapasitas kecil) agar motor dapat bekerja dengan lebih
baik. Bentuk gambaran motor jenis ini diperlihatkan pada gambar 3.22. Pertukaran harga
kapasitor dapat dicapai dengan dua cara sebagai berikut.
a) Dengan menggunakan dua kapasitor yang dihubungkan secara paralel pada rangkaian bantu,
kemudian setelah saklar otomatis bekerja maka hanya sebuah kapasitor yang terhubung secara
seri dengan kumparan bantu (gambar 3.22a)
b) Dengan memasang sebuah kapasitor yang dipasang secara paralel dengan ototransformator
step up (gambar 3.22b).
a) b)
Gambar 3.22 Cara mendapatkan pertukaran harga kapasitor
3. Motor kapasitor jalan (capacitor run motor).
Motor ini mempunyai kumparan bantu yang disambung secara seri dengan sebuah kapasitor
yang terpasang secara permanen pada rangkaian motor. Kapasitor ini selalu berada dalam
rangkaian motor, baik pada waktu start maupun jalan, sehingga motor ini tidak memerlukan
saklar otomatis. Oleh karena kapasitor yang digunakan tersebut selalu dipakai baik pada waktu
start maupun pada waktu jalan maka harus digunakan kapasitor yang memenuhi syarat tersebut
yaitu kapasitor yang berjenis kondensator minyak, atau kondensator kertas minyak. Pada
umumnya kapasitor yang digunakan berkisar antara 2 sampai 20m F, bentuk hubungannya pada
rangkaian motor diperlihatkan pada gambar 3.23 dengan jenis dua arah putaran.
Gambar 3.23 Motor kapasitor jalan yang bekerja dengan 2 arah putaran (maju dan mudur)
dengan kumparan utama sama dengan kumparan bantu.

Pada gambar 3.23, waktu putaran kanan, kumparan A diseri dengan kapasitor dan kumparan B
bertindak sebagai kumparan utama, sedangkan pada waktu putaran kiri, kumparan B diseri
dengan kapasitor dan berfungsi sebagai kumparan bantu, sehingga kumparan A sekarang
berfungsi sebagai kumparan utama. Selanjutnya pada gambar 3.24 diperlihatkan contoh
penerapan motor kapasitor jalan yang dapat diatur kecepatannya yang biasa diterapkan pada
kipas angin.
Gambar 3.24 Motor kapasitor jalan (permanen) dengan 2 kecepatan.
Untuk menentukan berapa besar kapasitor yang harus dipasang pada motor, secara umum
diterapkan diperlihatkan pa
3.11.3 Motor kutup bayangan
Motor kutub bayangan (Shaded pole) ini menggunakan kutup magnet stator yang dibelah dan
diberi cincin pada bagian kutup yang kecil yang disebut kutup bayangan, dan sisi kutup yang
besar disebut kutub pokok (Un shaded pole) dengan rotor yang biasa digunakan adalah rotor
sangkar tupai seperti yang diperlihatkan pada gambar 3.25. Motor kutub bayangan ini biasanya
diterapkan untuk kapasitas yang kecil dan sering dijumpai pada motor-motor kipas angin yang
kecil.
a) bentuk kutup 4 b) kutup bayangan diberi cicin
Gambar 3.25 Kutub utama dan kutub bayangan motor kutub bayangan
Gambar 3.25b menunjukkan sebuah kutub dari motor kutub bayangan, kira-kira 1/3 dari kutub
diberi alur yang selanjutnya dilingkari (diberi cincin) dengan satu lilitan hubung singkat (CU
Coil) dan dikenal dengan kumparan bayangan (shading coil). Kutub yang diberi cincin ini
dikenal dengan nama kutub bayangan, dan bagian lainnya yang besar dikenal dengan kutup
bukan bayangan (Un shaded pole). Medan putar yang dihasilkan pada motor jenis ini adalah
karena adanya induksi pada cincin hubung singkat yang terdapat pada kutub bayangan yang
berasal dari pengaruhi induksi magnet pada kutup yang lainya, sehingga motor ini menghasilkan
fluks magnet yang berputar.

motor sinkrom
Motor Sinkron adalah mesin sinkron yang digunakan untuk mengubah energi listrik menjadi
energi mekanik. Mesin sinkron mempunyai kumparan jangkar pada stator dan kumparan medan
pada rotor. Kumparan jangkarnya berbentuk sama dengan mesin induksi, sedangkan kumparan
medan mesin sinkron dapat berbentuk kutub sepatu (salient) atau kutub dengan celah udara sama
rata (rotor silinder). Arus searah (DC) untuk menghasilkan fluks pada kumparan medan dialirkan
ke rotor melalui cincin dan sikat.

2.1 Prinsip Kerja Motor Sinkron
Gambar 2.1 Terjadinya torsi pada motor sinkron (a) tanpa beban (b) kondisi berbeban (c) kurva
karakteristik torsi

Gambar 2.1 memperlihatkan keadaan terjadinya torsi pada motor sinkron. Keadaan ini dapat
dijelaskan sebagai berikut: apabila kumparan jangkar (pada stator) dihubungkan dengan sumber
tegangan tiga fasa maka akan mengalir arus tiga fasa pada kumparan. Arus tiga fasa pada
kumparan jangkar ini menghasilkan medan putar homogen (BS). Berbeda dengan motor induksi,
motor sinkron mendapat eksitasi dari sumber DC eksternal yang dihubungkan ke rangkaian rotor
melalui slip ring dan sikat. Arus DC pada rotor ini menghasilkan medan magnet rotor (BR) yang
tetap. Kutub medan rotor mendapat tarikan dari kutub medan putar stator hingga turut berputar
dengan kecepatan yang sama (sinkron). Torsi yang dihasilkan motor sinkron merupakan fungsi
sudut torsi (d). Semakin besar sudut antara kedua medan magnet, maka torsi yang dihasilkan
akan semakin besar seperti persamaan di bawah ini.
T = k .BR .Bnet sin d (2.1)
Pada beban nol, sumbu kutub medan putar berimpit dengan sumbu = 0). Setiap penambahan
beban membuat medan motor kumparan medan (d tertinggal dari medan stator, berbentuk
sudut kopel (d); untuk kemudian berputar dengan kecepatan yang sama lagi. Beban maksimum .
Penambahan beban lebih lanjut mengakibatkan 90o tercapai ketika d= hilangnya kekuatan torsi
dan motor disebut kehilangan sinkronisasi. Oleh karena pada motor sinkron terdapat dua sumber
pembangkit fluks yaitu arus bolak-balik (AC) pada stator dan arus searah (DC) pada rotor, maka
ketika arus medan pada rotor cukup untuk membangkitkan fluks (ggm) yang diperlukan motor,
maka stator tidak perlu memberikan arus magnetisasi atau daya reaktif dan motor bekerja pada
faktor daya = 1,0. Ketika arus medan pada rotor kurang (penguat bekurang), stator akan menarik
arus magnetisasi dari jala-jala, sehingga motor bekerja pada faktor daya terbelakang (lagging).
Sebaliknya bila arus pada medan rotor belebih (penguat berlebih), kelebihan fluks (ggm) ini
harus diimbangi, dan stator akan menarik arus yang bersifat kapasitif dari jala-jala, dan
karenanya motor bekerja pada faktor daya mendahului (leading). Dengan demikian, faktor daya
motor sinkron dapat diatur dengan mengubah-ubah harga arus medan (IF)

2.2 Rangkaian Ekuivalen Motor Sinkron
Motor sinkron pada dasarnya adalah sama dengan generator sinkron, kecuali arah aliran daya
pada motor sinkron merupakan kebalikan dari generator sinkron. Oleh karena arah aliran daya
pada motor sinkron dibalik, maka arah aliran arus pada stator motor sinkron juga dapat dianggap
dibalik. Maka rangkaianekuivalen motor sinkron adalah sama dengan rangkaian ekuivalen
generator sinkron, kecuali arah arus Ia dibalik. Bentuk rangkaian ekuivalen motor sinkron
diperlihatkan pada gambar 2.2.
Gambar 2.2 Rangkaian ekuivalen motor sinkron
Dari gambar 2.2 dapat dibuatkan persamaan tegangan rangkaian ekuivalen motor sinkron sebagai
berikut.
= Ea + Ia.Ra + jIa.XS (2.2) Vq
atau :
- Ia.Ra jIa.XS (2.3) Ea = Vq
2.3 Kurva Karakteristik Torsi-Kecepatan Motor Sinkron
Motor sinkron pada dasarnya merupakan alat yang menyuplai tenaga ke beban pada kecepatan
konstan. Kecepatan putaran motor adalah terkunci pada frekuensi listrik yang diterapkan, oleh
karena itu kecepatan motor adalah konstan pada beban bagaimanapun. Kecepatan motor yang
tetap ini dari kondisi tanpa beban sampai torsi maksimum yang bisa disuplai motor disebut
torsi pullout. Bentuk karakteristik torsi terhadap kecepatan ini diperlihatkan pada gambar di
bawah ini.
Gambar 2.3 Karakteristik torsi kecepatan
Dengan mengacu kebali ke persamaan (2.3) dapat dibuatkan kembali persamaan torsi motor
sinkron sebagai berikut.
(2.4)
Torsi maksimum motor terjadi ketika d = 90. Umumnya torsi maksimum motor sinkron adalah
tiga kali torsi beban penuhnya. Ketika torsi pada motor sinkron melebihi torsi maksimum maka
motor akan kehilangan sinkronisasi. Dengan mengacu kembali ke persamaan (2.1) dan (2.4),
maka persamaan Torsi maksimum (pullout) motor sinkron dapat dibuatkan sebagai berikut.
(2.5)
atau
(2.6)
Dari persamaan di atas menunjukkan bahwa semakin besar arus medan, maka torsi maksimum
motor akan semakin besar.

2.4 Pengaruh Perubahan Beban Pada Motor Sinkron

Gambar 2.4 Pengaruh perubahan beban pada motor sinkron
Gambar 2.4 memberikan gambaran bentuk pengaruh perubahan beban pada motor sinkron. Jika
beban dihubungkan pada motor sinkron, maka motor akan membangkitkan torsi yang cukup
untuk menjaga motor dan bebannya berputar pada kecepatan sinkron. Misal mula-mula motor
sinkron beroperasi pada faktor daya mendahului (leading). Jika beban pada motor dinaikkan,
putaran rotor pada asalnya akan melambat. Ketika hal ini menjadi lebih besar dan torsi induksi
akan terjadi, maka sudut torsi d naik. Kenaikan torsi induksi akan menambah kecepatan rotor,
dan motor akan kembali berputar pada kecepatan sinkron tapi dengan sudut yang l torsi d ebih
besar.

2.5 Pengaruh Pengubahan Arus Medan pada Motor Sinkron
Kenaikan arus medan IF menyebabkan kenaikan besar Ea tetapi tidak mempengaruhi daya real
yang disuplai motor. Daya yang disuplai motor berubah hanya ketika torsi beban berubah. Oleh
karena perubahan arus medan tidak mempengaruhi kecepatan dan beban yang dipasang pada
motor tidak berubah sehingga daya real yang disuplai motor tidak berubah, dan tegangan fasa
sumber juga konstan, maka jarak daya pada diagram fasor dan Ia.cosq) juga harus konstan.
Ketika arus medan dinaikan, (Ea.sin d maka Ea naik, tetapi ia hanya bergeser di sepanjang garis
dengan daya konstan. Gambaran hubungan pengaruh kenaikan arus medan pada motor sinkron
diperlihatkan pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.5 Pengaruh kenaikan arus medan pada motor sinkron
Ketika nilai Ea naik, besar arus Ia mula-mula turun dan kemudian naik lagi. Pada nila Ea rendah,
arus jangkar Ia adalah lagging dan motor bersifat induktif. Ia bertindak seperti kombinasi resitor-
induktor dan menyerap daya reaktif Q. Ketika arus medan dinaikkan, arus jangkar menjadi kecil
dan pada akhirnya menjadi segaris (sefasa) dengan tegangan. Pada kondisi ini motor bersifat
resistif murni. Ketika arus medan dinaikkan lebih jauh, maka arus jangkar akan menjadi
mendahului (leading) dan motor menjadi beban kapasitif. Ia bertindak seperti kombinasi resistor-
kapasitor menyerap daya reaktif negatif Q (menyuplai daya reaktif Q ke sistem). Hubungan
antara arus jangkar Iadengan arus medan IF untuk satu beban (P) yang tetap akan merupakan
kurva yang berbentuk V seperti yang diperlihatkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 2.6 Kurva V hubungan antara arus jangkar Ia dengan arus medan IF untuk satu beban
(P) yang tetap pada motor sinkron
Beberapa kurva V digambarkan untuk level daya yang berbeda. Arus jangkar minimum terjadi
pada faktor daya satu dimana hanya daya real yang disuplai ke motor. Pada titik lain, daya reaktif
disuplai ke atau dari motor. Untuk arus medan lebih rendah dari nilai yang
menyebabkan Ia minimum, maka arus jangkar akan tertinggal (lagging) dan menyerap Q. Oleh
karena arus medan pada kondisi ini adalah kecil, maka motor dikatakan under excitation. Untuk
arus medan lebih besar dari nilai yang menyebabkan Ia minimum, maka arus jangkar akan
mendahului (leading) dan menyuplai Q. Kondisi ini disebut over excitation.

2.6 Kondensor Sinkron
Telah diterangkan sebelumnya bahwa apabila motor sinkron diberi penguatan berlebih, maka
untuk mengkompensasi kelebihan fluks, dari jala-jala akan ditarik arus kapasitif. Karena itu
motor sinkron (tanpa beban) yang diberi penguat berlebih akan berfungsi sebagai kapasitor dan
mempunyai kemampuan untuk memperbaiki faktor daya. Motor sinkron demikian disebut
kondensor sinkron.

2.7 Daya Reaktif
Motor sinkron tanpa beban dalam keadaan penguatan tertentu dapat menimbulkan daya reaktif.
Perhatikan diagram vektor motor sinkron tanpa beban pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.7 Diagram vektor daya reaktif motor sinkron tanpa beban
Pada gambar (a), penguatan normal, sehingga V = E. Motor dalam keadaan mengambang karena
tidak memberikan ataupun menarik arus. Vberimpit dengan E karena dalam keadaan tanpa beban
sudut = 0. Pada gambar (b), penguatan berlebih, sehingga E daya d >V. Arus kapasitif (leading
current) ditarik dari jala-jala. Daya aktif P = = 0. Jadi, motor berfungsi sebagai pembangkit daya
reaktif VI cos q yang bersifat kapasitif (kapasitor). Pada gambar (c), penguatan berkurang,
sehingga E < V. Arus magnetisasi (lagging current) ditarik dari jala-jala. Jadi, motor berfungsi
sebagai pembangkit daya reaktif yang bersifat induktif (induktor).

2.8 Starting Motor Sinkron
Pada saat start ( tegangan dihubungkan ke kumparan stator) kondisi motor adalah diam dan
medan rotor BR juga stasioner, medan magnet stator mulai berputar pada kecepatan sinkron.
Saat t = 0, BR dan BS adalah segaris, maka torsi induksi pada rotor adalah nol. Kemudian saat t
= siklus rotor belum bergerak dan medan magnet stator ke arah kiri menghasilkan torsi induksi
pada rotor berlawanan arah jarum jam. Selanjutnya pada t = siklus BR dan BS berlawanan
arah dan torsi induksi pada kondisi ini adalah nol. Pada t = siklus medan magnet stator ke arah
kanan menghasilkan torsi searah jarum jam. Demikian seterusnya pada t = 1 siklus medan
magnet stator kembali segaris dengan medan magnet rotor. Bentuk hubungan Torsi motor
sinkron pada kondisi start ini diperlihatkan pada gambar di bawah ini.
Gambar 2.8 Torsi motor sinkron pada kondisi start
Selama satu siklus elektrik dihasilkan torsi pertama berlawanan jarum jam kemudian searah
jarum jam, sehingga torsi rata-rata pada satu siklus adalah nol. Ini menyebabkan motor bergetar
pada setiap siklus dan mengalami pemanasan lebih. Tiga pendekatan dasar yang dapat digunakan
untuk menstartmotor sinkron dengan aman adalah.
1. Mengurangi kecepatan medan magnet stator pada nilai yang rendah sehingga rotor dapat
mengikuti dan menguncinya pada setengah siklus putaran medan magnet. Hal ini dapat
dilakukan dengan mengurangi frekuensi tegangan yang diterapkan.
2. Menggunakan penggerak mula eksternal untuk mengakselarasikan motor sinkron hingga
mencapai kecepatan sinkron, kemudian penggerak mula dimatikan (dilepaskan).
3. Menggunakan kumparan peredam (damper winding) atau dengan membuat kumparan rotor
motor sinkron seperti kumparan rotor belitan pada motor induksi (hanya saat start).