Anda di halaman 1dari 139

DIKLAT FUNGSIONAL

PEJABAT FUNGSIONAL
PEMERIKSA DOKUMEN
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI
2011
Disusun Oleh:

Drs. Ahmad Dimyati (Widyaiswara Madya)






DIKLAT FUNGSIONAL
PEJABAT FUNGSIONAL
PEMERIKSA DOKUMEN
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI
2011
Disusun Oleh:

Drs. Ahmad Dimyati (Widyaiswara Madya)



Teknis Kepabeanan Lanjutan Di Bidang Impor

Diklat Fungsional PFPD

i






Teknis Kepabeanan Lanjutan Di Bidang Impor

Diklat Fungsional PFPD

ii
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ...................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL ... v
PETA KONSEP MODUL . vi
MODUL
TEKNIS KEPABEANAN LANJUTAN DI BIDANG IMPOR
A. Pendahuluan 1
1. Deskripsi Singkat ................................................... 1
2. Prasyarat Kompetensi ................................................... 1
3. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) ..................... 2
4. Relevansi Modul ............... 2
B. KEGIATAN BELAJAR ........................................................................ 3
1. Kegiatan Belajar (KB) 1 ................................................. 3
Pelayanan Dokumen Impor
Indikator 3
1.1. Uraian dan contoh ..................................................................... 3
A. Pelayanan Dokumen Impor ......
1) Pengajuan Dokumen Impor ............................................
2) Penetapan jalur dalam sistem aplikasi ...........................
B. Tata Kerja PFPD .... ..................
1) Penerimaan Dokumen .
2) Penelitian Dokumen .
3) Penerbitan dan Pendistribusian Dokumen
3
3
10
15
15
17
21
1.2. Latihan 1 ................... 23
1.3. Rangkuman ... 24
1.4. Tes Formatif 1 25
1.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut .................... 29
2. Kegiatan Belajar (KB) 2 ................................................. 30
Penelitian Dokumen Impor
Indikator 30
2.1. Uraian dan contoh ..................................................................... 30


Teknis Kepabeanan Lanjutan Di Bidang Impor

Diklat Fungsional PFPD

iii
A. Penelitian Dokumen Impor ....
1) Penelitian jumlah, jenis dan uraian barang .....................
2) Penenelitian perizinan dan fasilitas pabean ...................
B. Proses Pengambilan Keputusan ..
1) Keputusan atas hasil penelitian LHP ..............................
2) Keputusan atas hasil penelitian PIB dan dokumen
pelengkap pabean .
3) Keputusan atas kasus-kasus pada penetapan jalur ......
C. Kasus-kasus pada penetapan jalur .....................................
1) Kasus pada Jalur Hijau
2) Kasus pada Jalur Kuning ................................................
3) Kasus pada Jalur Merah ..
4) Kasus pada Jalur MITA
30
30
33
40
41

42
44
46
46
48
51
55
2.2. Latihan 2 ...... 57
2.3. Rangkuman . 59
2.4. Tes Formatif 2 . 60
2.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut .................... 63
3. Kegiatan Belajar (KB) 3 ................................................... 64
Pungutan Pabean Dalam Rangka Impor
Indikator 64
3.1. Uraian dan contoh ..................................................................... 64
A. Pungutan Impor ................................... ............................
1) Dasar hukum pungutan impor ........................................
2) Jenis-jenis pungutan impor .............................................
B. Tempat pembayaran ..........................................
C. Tatalaksana pembayaran .....................................................
1) Tatalaksana pembayaran dan penyetoran penerimaan
negara dalam rangka impor melalui Bank Devisa
Persepsi/Pos Persepsi ...................................................
2) Pembayaran pungutan impor dilakukan di Kantor
Pabean ...........................................................................
3) Pembayaran pungutan impor atas barang kiriman pos ..
64
64
66
72
76


76

79
80
3.2. Latihan 3 ........ 81


Teknis Kepabeanan Lanjutan Di Bidang Impor

Diklat Fungsional PFPD

iv
3.3. Rangkuman ... 82
3.4. Tes Formatif 3 ... 84
3.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut .................... 87
4. Kegiatan Belajar (KB) 4 ............................................................ 88
Surat Penetapan dan Sanksi Administrasi
Indikator 88
4.1. Uraian dan contoh ..................................................................... 88
A. Surat Penetapan ................................. .............................
1) Dasar hukum penetapan ................................................
2) Pengambilan Keputusan ................................................
3) Penerbitan Surat Penetapan ..........................................
B. Sanksi Administrasi ...........................................
1) Jenis pelanggaran dan kelompok sanksi administrasi ....
2) Perhitungan denda administrasi .
3) Kasus-kasus Kesalahan Pemberitahuan Dokumen
Impor dan Perhitungan Sanksi Administrasi ..................
88
88
90
90
96
96
106

107
4.2. Latihan 4 ........ 115
4.3. Rangkuman ... 116
4.4. Tes Formatif 4 ... 118
4.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut .................... 121
PENUTUP .. 122
TES SUMATIF ............................................................ 123
KUNCI JAWABAN ( TES FORMATIF DAN TES SUMATIF ) 128
DAFTAR PUSTAKA . 130









Teknis Kepabeanan Lanjutan Di Bidang Impor

Diklat Fungsional PFPD

v
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
1. Langkah-langkah belajar yang ditempuh.
Modul ini terdiri dari 4 (empat) Kegiatan Belajar (KB). Perserta Diklat harus
mempelajari KB-1 terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan KB-2 dan
seterusnya. Pahami topik/judul Kegiatan Belajar, pelajari isi/materi KB,
kemudian kerjakan latihan. Perhatikan rangkuman KB dan kerjakan kembali
test formatif. Dalam hal belum memenuhi tingkat pemahaman dengan
kategori baik (nilai lebih dari 80), ulangi kembali materi dalam Kegiatan
Belajar tersebut.
2. Perlengkapan yang harus disediakan.
Modul ini juga memberikan referensi bacaan maupun peraturan yang terkait.
Peserta Diklat disarankan mempelajari juga referensi yang diberikan,
terutama ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas dilapangan.
3. Target waktu dan pencapaian dalam pembelajaran menggunakan modul.
Untuk mempelajari modul ini memerlukan waktu 26 (dua puluh enam) jam
latihan. Namun alokasi waktu tersebut dapat ditambah untuk mempelajari
ketentuan terkait lainnya.
4. Hasil evaluasi self assessment.
Evaluasi atas keseluruhan modul dapat dipelajari pada test sumatif. Hasil
evaluasi dapat Saudara nilai sendiri apakah Saudara sudah cukup
memahami materi modul. Jika hasil evaluasi belum mencapai kategori baik
disarankan Saudara mengulangi materi modul.
5. Prosedur peningkatan kompetensi materi.
Dalam rangka untuk meningkatkan kompetensi materi, Saudara dapat
mempelajari ketentuan dan peraturan terkait setelah Saudara selesai
mempelajari keseluruhan materi modul. Oleh karena peraturan terkait dalam
implementasinya berpotensi berubah, maka disarankan Saudara tetap
mengikuti perkembangan/peraturan dimaksud di lapangan.
6. Peran tenaga pengajar dalam proses pembelajaran.
Tenaga pengajar berperan dalam menjelaskan isi materi per sub Kegiatan
Belajar, memberikan contoh-contoh, latihan dan simulasi pemeriksaan
dokumen. Pengajar juga menjawab pertanyaan-pertanyaan atas
permasalahan yang terkait dengan modul dan pelaksanaannya di lapangan.


Teknis Kepabeanan Lanjutan Di Bidang Impor

Diklat Fungsional PFPD

vi
PETA KONSEP


TEKNIS KEPABEANAN LANJUTAN


PELAYANAN DOKUMEN IMPOR


PENELITIAN DOKUMEN IMPOR


PIB & DOKKAP PUNGUTAN IMPOR

PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN


SURAT PENETAPAN SANKSI SPPB
ADMINISTRASI











Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 1








PENDAHULUAN


MODUL
TEKNIS KEPABEANAN LANJUTAN

1. Deskripsi Singkat

Pelajaran dalam modul ini pada garis besarnya membahas mengenai
kewajiban penyelesaian formalitas pabean dan proses penyelesaian dokumen
impor (bussiness procces). Proses penyelesaian dimulai sejak pengajuan
dokumen pemberitahuan impor untuk dipakai (PIB) oleh importir, kemudian
proses penelitian atas kelengkapan dan kebenaran pengisian PIB dan proses
penetapan jalur pada system aplikasi Bea dan Cukai. Penelitian dokumen PIB
beserta dokumen pelengkap pabeannya dilakukan oleh PFPD. Oleh karena itu
dibahas juga prosedur dan tatakerja tugas-tugas Pejabat Fungsional Pemeriksa
Dokumen (PFPD) dalam system pelayanan dokumen impor. Hal yang penting
dalam tugas PFPD adalah proses pengambilan keputusan atas hasil penelitian.
Keputusan meliputi perhitungan pungutan impor, penetapan dan perhitungan
sanksi administrasi

2. Prasyarat Kompetensi

Untuk dapat mempelajari modul ini dengan baik peserta Diklat harus sudah
menguasai teknik pabean dasar, dan telah lulus Diklat Teknis Substantif Dasar
Kepabeanan dan Cukai.
A


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 2

3. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

a. Pemahaman proses bisnis pengajuan dokumen impor dan tata kerja
PFPD.
1) Memahami proses pelayanan penyelesaian dokumen impor.
2) Memahami penetapan penjaluran dalam system aplikasi.
3) Memahami tatakerja pelaksanaan tugas PFPD.
b. Pemahaman proses penelitian dokumen impor.
1) Memahami dan mampu melaksanakan penelitian dokumen impor.
2) Memahami dan mampu melaksanakan proses pengambilan
keputusan atas hasil penelitian.
c. Pemahaman pungutan negara dalam rangka impor.
1) Pemahami jenis-jenis pungutan impor dan mampu melaksanakan
perhitungan pungutan impor.
2) Memahami proses pembayaran pungutan impor dan tanda bukti
pembayaran pungutan impor.
d. Pemahaman proses penerbitan surat penetapan.
1) Memahami dan mampu melaksanakan penerbitan surat penetapan
tariff dan nilai pabean atas hasil penelitian dokumen impor.
2) Memahami ketentuan pengenaan sanksi administrasi dan mampu
melaksanakan perhitungan sanksi administrasi atas hasil penelitian
dokumen impor.

4. Relevansi Modul

Modul ini berguna bagi peserta diklat fungsional PFPD untuk bekal dalam
bekerja dilapangan. Hal ini berkaitan dengan tugas PFPD yaitu melakukan
penelitian dokumen impor dan membuat keputusan atas hasil penelitian untuk
selanjutnya menerbitkan Surat Penetapan. Modul ini juga berguna bagi peserta
diklat dalam mempelajari modul atau mata pelajaran lainnya yang terkait, seperti
Modul Tarif dan Klasifikasi Barang, dan Modul Nilai Pabean.





Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 3







KEGIATAN
BELAJAR


1. Kegiatan Belajar (KB) 1

PELAYANAN DOKUMEN IMPOR DAN
TATA KERJA PEJABAT FUNGSIONAL
PEMERIKSA DOKUMEN










1.1. Uraian Materi dan Contoh

A. Pelayanan Dokumen Impor

Dalam materi ini dibahas mengenai tata cara penyampaian dokumen impor
dan penetapan jalur dalam proses bisnis penyelesaian impor.

1) Pengajuan Dokumen Impor.

Sebagaimana diatur dalam Undang-undang Kepabeanan, yaitu dalam
pasal 10 B Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 bahwa pada prinsipnya
B
Indikator Keberhasilan :
Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu :
1) Menjelaskan proses pelayanan penyelesaian dokumen impor.
2) Menjelaskan penetapan penjaluran dalam system aplikasi.
3) Menjelaskan tatakerja pelaksanaan tugas PFPD
4) Menjawab pertanyaan tentang pelayanan dokumen impor dan tata kerja PFPD.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 4

barang impor dapat dikeluarkan sebagai barang impor untuk dipakai setelah
diserahkan pemberitahuan pabean dan dilunasi bea masuknya. Selain itu
pengeluaran barang impor untuk dipakai juga dimungkinkan dengan
menyerahkan pemberitahuan pabean dan jaminan. Bahkan dalam kondisi
tertentu pengeluaran barang impor dapat dilakukan dengan dokumen pelengkap
pabean dan penyerahan jaminan, contohnya pada importasi dengan fasilitas
pelayanan segera.
Barang impor yang diberitahukan dengan dokumen PIB (Pemberitahuan
Impor Barang) dalam rangka pengeluaran barang impor untuk dipakai, hanya
dapat dikeluarkan dari Kawasan Pabean atau tempat lain yang berada di bawah
pengawasan Kantor Pabean setelah dilakukan pemeriksaan pabean dan
diberikan persetujuan pengeluaran barang oleh Pejabat Bea dan Cukai.
Pemeriksaan pabean sebagaimana dimaksud meliputi penelitian dokumen PIB
dan dokumen pelengkap pabeannya, serta pemeriksaan fisik barang. Namun
tidak semua dokumen impor dilakukan pemeriksaan pabean. Pemeriksaan
pabean sebagaimana dimaksud dilakukan secara selektif. Atas pengajuan
dokumen impor oleh importer tertentu bahkan tidak dilakukan pemeriksaan
pabean.
Sebaliknya terhadap barang yang diimpor oleh importir yang termasuk
dalam kategori risiko sangat tinggi dilakukan pemeriksaan pabean secara
mendalam untuk mengetahui kebenaran fisik barang, tarif, nilai pabean, dan
pemenuhan persyaratan impor dari instansi teknis.
Pengajuan dokumen impor/PIB dilakukan oleh importir atau boleh juga
oleh pihak yang diberi kuasa. Biasanya importir menguasakan pengurusannya
kepada Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK).
Pengajuan dokumen impor dalam rangka penyelesaian barang impor
dilakukan dengan menggunakan program aplikasi modul PIB importir/PPJK.
Langkah pertama importer/PPJK menyiapkan dan mengisi PIB secara lengkap
dan benar termasuk pencantuman/pengisian nomor surat izin impor atau surat
keputusan pemberian fasilitas kepabeanan jika ada.
Selanjutnya importer melakukan pembayaran Bea Masuk, Cukai, dan
Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI) melalui Bank Devisa persepsi/Pos Persepsi
yang telah on-line dengan PDE Kepabeanan. Persyaratan pembayaran tersebut


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 5

tidak dilakukan jika importir mendapatkan fasilitas Pembayaran Berkala, dan
sebagai gantinya disampaikan surat jaminan.
Apabila persyaratan pengajuan dan pengisian PIB telah lengkap, importir
mengirimkan data PIB ke Kantor Pabean. Atas pengajuan dokumen tersebut
system aplikasi pada Kantor Pabean akan memberikan respon. Respon
dimaksud bisa bermacam-macam tergantung kondisi dokumen impor yang
diajukan . Respon pada system aplikasi pelayanan pabean dapat berupa
penolakan data PIB dalam hal:
- data PIB tidak diisi dengan lengkap dan benar;
- importir belum melunasi utang Bea Masuk, Cukai, PDRI, dan/atau denda
dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal SPKPBM;
- importir belum melunasi utang Bea Masuk, Cukai, dan PDRI melewati jatuh
tempo pelunasan pembayaran berkala;
- data nomor B/L, AWB, atau nomor pengajuan yang berulang;
- kode valuta asing tidak tercantum dalam data NDPBM dan/atau pos tariff
tidak tercantum dalam BTBMI;
- importir belum menyerahkan hardcopy pemberitahuan pabean atau dokumen
pelengkap pabean yang dipersyaratkan;
- importir belum teregistrasi pada importasi yang kedua; dan/atau barang impor
termasuk barang larangan;
Respon juga dapat berupa Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB),
atau berupa Surat Pemberitahuan Jalur Merah (SPJM), atau berupa Informasi
Nilai Pabean (INP), Nota Pemberitahuan dan respon-respon lainnya (lihat
Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor Kep-42/BC/2008 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Pengeluaran Barang Impor Untuk Dipakai, sebagaimana
telah diubah terakhir dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor
P-08/BC/2008)
Pada umumnya atas pengajuan dokumen impor system aplikasi akan
menetapkan jalur hijau, jalur kuning atau jalur merah. Pada penetapan jalur hijau
barang impor dapat dikeluarkan lebih dahulu dan penelitian dokumennya
dilakukan kemudian. Pada penetapan jalur kuning sebelum barang impor
diizinkan keluar terlebih dahulu dilakukan penelitian dokumennya. Sedangkan
pada penetapan jalur merah barang impor baru dapat diizinkan keluar setelah
dilakukan pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik barang impor.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 6

a. Pengajuan dokumen dengan penetapan Jalur Hijau
Dalam hal importasi ditetapkan melalui Jalur Hijau, importer akan
menerima respons dan mencetak SPPB untuk pengeluaran barang. Paling
lama 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal penerbitan SPPB importer wajib
menyerahkan hardcopy PIB, Dokumen Pelengkap Pabean, dan Surat
Setoran Pabean Cukai dan Pajak dalam rangka impor (SSPCP) kepada
Kepala Seksi Pabean dan Cukai; Selanjutnya berkas PIB dan dokumen
pelengkap pabeannya beserta tanda bukti bayar didistribusikan kepada
Pejabat Pemeriksa Dokumen untuk dilakukan penelitian.
Dalam hal hasil penelitian dokumen menimbulkan keraguan atas
pemberitahuan nilai pabean jika profile importer termasuk dalam kategori
medium atau high risk, maka Pejabat Pemeriksa Dokumen akan
mengirimkan INP kepada importer. Importir akan menerima respon dan
mencetak permintaan informasi tentang Nilai Pabean, dan menyerahkan
bukti-bukti kebenaran Nilai Pabean/deklarasi nilai pabean (DNP) kepada
Pejabat Pemeriksa Dokumen paling lama dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja
setelah tanggal permintaan informasi;
Demikian juga jika uraian barang tidak jelas, importer akan menerima
permintaan tambahan penjelasan uraian barang dari Pejabat Pemeriksa
Dokumen dan wajib menyampaikan penjelasan tambahan uraian barang.
Importir dengan kategori low risk tidak diberikan respon INP. Penelitian atas
nilai pabean yang diragukan dapat direkomendasikan untuk diaudit.

b. Pengajuan dokumen dengan penetapan Jalur Kuning
Dalam hal importasi ditetapkan melalui Jalur Kuning importer akan
menerima dan mencetak respons jalur kuning. Atas respon tersebut
importer menyiapkan dan menyerahkan hardcopy PIB, Dokumen Pelengkap
Pabean, dan SSPCP kepada Kepala Seksi Pabean dan Cukai dalam jangka
waktu paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal respon Jalur Kuning.
Selanjutnya Kepala Seksi Pabean akan menyampaikan berkas PIB tersebut
kepada Pejabat Pemeriksa Dokumen untuk dilakukan penelitian.
Dalam hal hasil penelitian ditemukan bahwa barang yang diimpor
merupakan barang larangan atau pembatasan maka Pejabat Pemeriksa
Dokumen akan menyampaikan Nota Pemberitahuan setentangnya.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 7

Dalam hal hasil penelitian dokumen menimbulkan keraguan atas
pemberitahuan nilai pabean Pejabat Pemeriksa Dokumen akan mengirimkan
INP kepada importer. Importir akan menerima respon dan mencetak
permintaan informasi tentang Nilai Pabean, dan menyerahkan bukti-bukti
kebenaran Nilai Pabean/deklarasi nilai pabean (DNP) kepada Pejabat
Pemeriksa Dokumen paling lama dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah
tanggal permintaan informasi;
Demikian juga jika uraian barang tidak jelas, importer akan menerima
permintaan tambahan penjelasan uraian barang atau permintaan
pengambilan contoh barang dari Pejabat Pemeriksa Dokumen dan importer
wajib menyampaikan penjelasan tambahan uraian barang atau contoh
barang.
Selanjutnya untuk PIB Jalur Kuning yang telah selesai diproses
importer akan menerima respon SPPB dan selanjutnya mencetak SPPB
untuk pengeluaran barang.

c. Pengajuan dokumen dengan penetapan Jalur Merah
Dalam hal importasi ditetapkan melalui Jalur Merah importer akan
menerima dan mencetak respons Surat Pemberitahuan Jalur Merah (SPJM).
Atas respon tersebut importer menyerahkan hardcopy PIB, Dokumen
Pelengkap Pabean, dan SSPCP/BPN kepada Kepala seksi Pabean dan
Cukai paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal SPJM;
Bersamaan dengan itu importer juga menyiapkan barang yang akan
dilakukan pemeriksaan fisik, memberitahukan kepada Kepala Seksi Pabean
dan Cukai tentang kesiapan pemeriksaan barang, dan turut menyaksikan
pemeriksaan barang;
Dalam hal jangka waktu 3 hari tersebut dilampaui dan importir tidak
mengajukan permohonan perpanjangan batas waktu penetapan
pemeriksaan jabatan, maka atas importasi tersebut dapat diterbitkan
Instruksi Pemeriksaan Jabatan.
Importir akan menerima tembusan Instruksi Pemeriksaan Jabatan dari
Kepala Seksi Pabean dan Cukai. Barang impor akan diperiksa baik dengan
disaksikan pihak importir ataupun tidak, dengan resiko ditanggung importir.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 8

Apabila dari hasil penelitian ditemukan bahwa barang yang diimpor
merupakan barang larangan atau pembatasan maka Pejabat Pemeriksa
Dokumen akan menyampaikan Nota Pemberitahuan setentangnya.
Dalam hal hasil penelitian dokumen menimbulkan keraguan atas
pemberitahuan nilai pabean Pejabat Pemeriksa Dokumen akan mengirimkan
INP kepada importer. Importir akan menerima respon dan mencetak
permintaan informasi tentang Nilai Pabean, dan menyerahkan bukti-bukti
kebenaran Nilai Pabean/deklarasi nilai pabean (DNP) kepada Pejabat
Pemeriksa Dokumen paling lama dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah
tanggal permintaan informasi;
Selanjutnya untuk PIB Jalur Merah yang telah selesai diproses dan
telah memenuhi semua persyaratan, importer akan menerima respon SPPB
dan mencetak SPPB untuk pengeluaran barang;

d. Pengajuan dokumen oleh importir Mitra Utama (MITA)
Berbeda dengan penetapan jalur yang telah diuraikan diatas, terhadap
importer dengan reputasi sangat baik diperlakukan khusus tidak dilakukan
pemeriksaan pabean. Penetapan jalur atas importer tersebut dikenal dengan
jalur MITA
Terhadap importer penerima fasilitas jalur MITA Prioritas tidak
dilakukan pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan dokumen. Dengan
demikian atas pengajuan dokumen impor respon yang diterima selalu SPPB.
Importir tidak diwajibkan menyerahkan dokumen impor (hardcopy PIB).
Namun untuk kepentingan pengawasan itu importir diminta untuk
menyampaikan laporan kepada Koordinator Pelayanan Pengguna Jasa
(client coordinator), berupa :
- rekapitulasi importasi setiap 1 (satu) bulan dalam bentuk softcopy;
- penyelesaian PIB impor sementara, PEB re-ekspor, dan PIB re-impor;
- rekapitulasi (realisasi dan saldo) importasi yang mendapatkan fasilitas
pembebasan atau keringanan;
- rekapitulasi importasi yang terkait dengan kuota tataniaga;
- rekapitulasi PIB pre-notification;
Selain itu terhadap importasi yang memerlukan izin dari instansi terkait,
untuk kepentingan pengawasan, importir tersebut masih diminta untuk


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 9

menyerahkan dokumen pelengkap pabean atas PIB-PIB bulan sebelumnya
kepada Koordinator Pelayanan Pengguna Jasa (client coordinator), berupa:
- dokumen yang dijadikan dasar pembebasan/keringanan, atau fasilitas
lainnya misalnya Form D/E, SKB PPh Ps. 22; dan
- perijinan dari instansi terkait.
Terhadap Importir MITA Non Pioritas mendapatkan fasilitas yang
hampir sama dengan MITA prioritas, artinya tidak dilakukan pemeriksaan
pabean dan tidak wajib menyerahkan hardcopy PIB. Namun . dapat
dijelaskan bahwa dalam hal tertentu terhadap importir jalur MITA non
prioritas yang mengimpor barang tertentu, diterbitkan Surat Pemberitahuan
Pemeriksaan Fisik (SPPF)..
Terhadap importir jalur MITA non prioritas yang mengimpor
barang/komoditi beresiko tinggi, ditetapkan jalur kuning. Sedangkan
terhadap importir jalur MITA non prioritas yang mengimpor barang tertentu
seperti impor sementara, barang re-impor, serta dalam hal terkena random
dilakukan pemeriksaan fisik barang.
Atas Importasi barang tertentu diterbitkan SPPF dan dilakukan
pemeriksaan pabean baik penelitian dokumen maupun pemeriksaan fisik
barang. Respon yang diterima atas importasi barang-barang tersebut
berupa SPPF yang merupakan izin pengeluaran barang sekaligus izin
pemeriksaan fisik barang di lokasi importir.
Berkaitan dengan barang tertentu tersebut, sebagaimana prosedur
impor pada umumnya, terhadap importir MITA non prioritas yang akan
melakukan impor sementara atau mengimpor kembali barang yang telah
diekspor, importir terlebih dahulu mengajukan permohonan impor
sementara, atau re-impor, kepada Kepala Bidang Pelayanan Fasilitas
Pabean dan Cukai atau pejabat yang ditunjuknya;
Selanjutnya atas importasi barang komoditi beresiko tinggi yang
ditetapkan Jalur Kuning importir MITA non prioritas akan menerima respon
permintaan tambahan penjelasan uraian barang dari Pejabat Pemeriksa
Dokumen dan importir wajib menyampaikan respon penjelasan tambahan
uraian barang. Jika diperlukan contoh barang, importir akan menerima
permintaan pengambilan contoh barang dari Pejabat Pemeriksa Dokumen


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 10

dan mengajukan permohonan pengambilan contoh barang kepada Kepala
Seksi Pabean dan Cukai.
Dalam hal jalur pengeluaran barang impor ditetapkan Jalur Kuning dan
Pejabat Pemeriksa Dokumen memerlukan pemeriksaan laboratorium,
importir mengajukan permohonan pengambilan contoh barang kepada
Kepala Bidang Pelayanan Pabean dan Cukai atau pejabat yang ditunjuknya.
Atas importasi yang ditetapkan Jalur Kuning dapat dilakukan
pemeriksaan fisik melalui mekanisme NHI berdasarkan informasi dari
Pejabat Pemeriksa Dokumen.
Oleh karena pada umumnya terhadap penyelesaian barang impor oleh
importir MITA non prioritas tidak dilakukan pemeriksaan pabean (kecuali
atas barang impor sementara, re-impor atau terkena random), maka untuk
kepentingan pengawasan importir diminta untuk menyampaikan laporan
kepada Koordinator Pelayanan Pengguna Jasa (client coordinator), berupa :
- rekapitulasi importasi setiap 1 (satu) bulan dalam bentuk softcopy;
- rekapitulasi (realisasi dan saldo) importasi yang mendapatkan fasilitas
pembebasan atau keringanan;
- rekapitulasi importasi yang terkait dengan kuota tataniaga;
Selain itu terhadap importasi yang memerlukan izin dari instansi terkait,
untuk kepentingan pengawasan, importir tersebut masih diminta untuk
menyerahkan dokumen pelengkap pabean atas PIB-PIB bulan sebelumnya
kepada Koordinator Pelayanan Pengguna Jasa (client coordinator)paling
lama pada tanggal 10. Dokumen tersebut berupa dokumen yang dijadikan
dasar pembebasan/keringanan, atau fasilitas lainnya misalnya Form D/E,
SKB PPh Ps. 22; dan perijinan dari instansi terkait.

2) Penetapan jalur dalam sistem aplikasi

Sejak berlakunya Undang-undang Kepabeanan Nomor 10 Tahun 1996
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai telah menggunakan system pelayanan
kepabeanan secara elektronik. Bahkan jauh sebelum itu (tahun 1988) sistem
pelayanan tersebut telah pernah dilaksanakan pada beberapa Kantor Pabean
seperti KPBC Tg.Perak dan Tg.Priok. Keputusan pemerintah untuk
menggunakan sistem aplikasi pelayanan secara elektronik adalah untuk


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 11

mengantisipasi perkembangan perdagangan internasional dalam rangka
terwujudnya pelayanan yang cepat dan efisien tanpa mengabaikan unsur
pengawasan yang efektif.
Sistem aplikasi pelayanan kepabeanan atas dokumen pabean yang
diajukan ditetapkan berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Sistem aplikasi
pelayanan menetapkan jalur pengeluaran barang impor yang terdiri dari Jalur
Merah, Jalur Kuning, Jalur Hijau, dan Jalur MITA.

a. Jalur Hijau
Jalur Hijau adalah mekanisme pelayanan dan pengawasan
pengeluaran barang impor dengan tidak dilakukan pemeriksaan fisik, tetapi
dilakukan penelitian dokumen setelah penerbitan Surat Persetujuan
Pengeluaran Barang (SPPB).
Jalur pengeluaran barang impor sebagaimana dimaksud ditetapkan
berdasarkan Profil Importir dan/atau Profil Komoditi.
Jalur Hijau ditetapkan dalam hal:
- Importir berisiko menengah yang mengimpor komoditi berisiko rendah;
- Importir berisiko rendah yang mengimpor komoditi berisiko rendah atau
menengah;
Jika dilihat dari kriteria tersebut sebagian besar importasi akan
ditetapkan jalur hijau. Karena pada prinsipnya pengajuan dokumen impor
akan ditetapkan jalur hijau kecuali terhadap importer beresiko tinggi atau
mengimpor komoditi beresiko tinggi. Jalur hijau juga tidak akan diberikan
terhadap importasi barang impor sementara atau barang ekspor yang
diimpor kembali.
Atas pengajuan dokumen impor yang ditetapkan jalur hijau, penelitian
dokumen impor dan dokumen pelengkap pabeannya dilakukan setelah
barang impor dikeluarkan.

b. Jalur Merah
Jalur Merah adalah mekanisme pelayanan dan pengawasan
pengeluaran barang impor dengan dilakukan pemeriksaan fisik dan
penelitian dokumen sebelum penerbitan SPPB.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 12

Jalur Merah ditetapkan berdasarkan Profil Importir dan/atau Profil
Komoditi.
Jalur Merah ditetapkan dalam hal:
- Importasi oleh Importir berisiko sangat tinggi;
- Importir yang berisiko tinggi yang mengimpor komoditi berisiko tinggi
atau menengah;
- Importir berisiko menengah yang mengimpor komoditi berisiko tinggi;
- Importir berisiko rendah yang mengimpor komoditi berisiko tinggi;
- Barang impor sementara, kecuali oleh MITA prioritas;
- Barang re-impor, kecuali oleh MITA prioritas;
- Barang impor dengan fasilitas penangguhan pembayaran Bea Masuk,
cukai, dan PDRI, kecuali oleh MITA;
- Terkena pemeriksaan acak;
- Barang impor tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah.
Dalam hal profile importir belum ada pada system aplikasi (importir
baru) maka system aplikasi akan menetapkan jalur merah atas dokumen
impor yang diajukan. Apabila system aplikasi menetapkan jalur merah,
importir berkewajiban mengajukan hardcopy dokumen dan mempersiapkan
barangnya untuk diperiksa secara fisik. Hasil pemeriksaan fisik akan
menentukan keputusan importasi atas barang tersebut.

c. Jalur Kuning
Jalur Kuning adalah mekanisme pelayanan dan pengawasan
pengeluaran barang impor dengan tidak dilakukan pemeriksaan fisik, tetapi
dilakukan penelitian dokumen sebelum penerbitan SPPB.
Jalur pengeluaran barang impor sebagaimana dimaksud ditetapkan
berdasarkan Profil Importir dan/atau Profil Komoditi.
Jalur Kuning ditetapkan dalam hal:
- Importir berisiko tinggi yang mengimpor komoditi berisiko rendah;
- Importir berisiko menengah yang mengimpor komoditi berisiko
menengah;
- MITA Non Prioritas yang mengimpor komoditi berisiko tinggi.
Pada penetapan jalur kuning tidak dilakukan pemeriksaan fisik barang.
Dalam hal jalur pengeluaran barang impor ditetapkan Jalur Kuning dan


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 13

Pejabat Pemeriksa Dokumen memerlukan pemeriksaan laboratorium,
importir mengajukan permohonan pengambilan contoh barang kepada
Kepala Bidang Pelayanan Pabean dan Cukai atau pejabat yang ditunjuknya.
Namun atas penetapan Jalur Kuning dapat dilakukan pemeriksaan
fisik melalui mekanisme Nota Hasil Intelijen (NHI) berdasarkan informasi dari
Pejabat Pemeriksa Dokumen.

d. Jalur Mitra Utama (MITA)
Mitra Utama (MITA) adalah importir dengan reputasi sangat baik
sehingga diberikan perlakukan khusus tidak dilakukan pemeriksaan pabean
dalam proses penyelesaian dokumen impor. MITA merupakan
pengembangan lebih lanjut dari importir penerima fasilitas jalur prioritas.
Kepala Kantor diberikan wewenang untuk menetapkan importir lain sebagai
penerima fasilitas yang sama/hampir sama dengan fasilitas jalur prioritas.
Oleh karena itu MITA terdiri dari:
i) Importir yang memenuhi persyaratan Jalur MITA Prioritas, yang
penetapannya dilakukan oleh Direktur Teknis Kepabeanan atas nama
Direktur Jenderal.
ii) Importir yang diusulkan sebagai Mitra Utama (MITA) non prioritas oleh
Kepala Kantor Pabean.
Untuk dapat ditetapkan sebagai Mitra Utama importir harus memenuhi kriteria
dan persyaratan sebagai berikut:
i) Dapat berhubungan dengan system jaringan elektronik DJBC.
ii) Mempunyai pola bisnis (nature of business) yang jelas.
iii) Memiliki system pengendalian yang memadai untuk menjamin
keakuratan data yang disajikan..
iv) Memiliki rekam jejak (track record) keakuratan pemberitahuan
pabean/cukai yang baik
v) Telah diaudit oleh kantor akuntan public yang menyatakan bahwa
perusahaan mendapat opini wajar tanpa pengecualian, untuk 2 (dua)
tahun terakhir.
vi) Selalu dapat memenuhi ketentuan perizinan dan persyaratan impor dan
ekspor dari instansi teknis terkait.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 14

vii) Dalam hal perusahaan mendapat fasilitas pembebasan, keringanan,
penangguhan bea masuk, perusahaan melakukan penatausahaan dan
pengelolaan sediaan barang yang dibuat sedemikian rupa sehingga
dapat diketahui jenis, spesifikasi, jumlah pemasukan dan pengeluaran
sediaan barang yang berkaitan dengan fasilitas kepabeanan yang
diperoleh/digunakan.
Pelayanan terhadap Mitra Utama (MITA) Prioritas dan MITA Non
Prioritas dalam penetapan jalur sedikit berbeda.
Jalur MITA Prioritas adalah mekanisme pelayanan dan pengawasan
pengeluaran barang impor oleh Importir Jalur Prioritas, dengan langsung
diterbitkan SPPB tanpa dilakukan pemeriksaan fisik dan penelitian dokumen;
dan
Sedangkan Jalur MITA Non Prioritas adalah mekanisme pelayanan
dan pengawasan pengeluaran barang impor oleh importir yang ditetapkan,
dengan langsung diterbitkan SPPB tanpa dilakukan pemeriksaan fisik dan
penelitian dokumen, kecuali dalam hal:
- impor sementara,
- re-impor,
- terkena random.
Secara singkat dapat disampaikan bahwa perbedaan pelayanan
antara MITA Prioritas dan MITA Non Prioritas adalah bahwa terhadap MITA
Non Prioritas masih dimungkinkan ditetapkan jalur kuning maupun
pemeriksaan fisik.
Kemudahan-kemudahan yang diberikan kepada importir MITA selain
tidak dilakukan pemeriksaan pabean sehingga tidak perlu menyerahkan
dokumen pemberitahuan pabean, apabila dalam hal tertentu perlu dilakukan
pemeriksaan fisik maka pemeriksaan dilakukan digudang importir tanpa
perlu pengajuan surat permohonan. MITA juga mendapatkan akses
pelayanan client coordinator dan pemutakhiran data registrasi importir.
Selain itu bagi MITA penerima fasilitas jalur prioritas juga mendapatkan
kemudahan sebagaimana diatur dalam ketentuan jalur prioritas, seperti
fasilitas pembayaran berkala, truck lossing dan sebagainya.
MITA bukan semata-mata masalah penetapan jalur. MITA merupakan
satu paket program yang terdiri dari pelayanan dan sekaligus pengawasan


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 15

(built in control) yang dirancang secara terpadu dengan pendekatan
manajemen resiko, dengan memanfaatkan teknologi yang telah dimiliki
DJBC.
Terhadap MITA dilakukan pengawasan proaktif dan audit.
Pengawasan proaktif dilakukan dengan melakukan analisis terhadap data
importasi. Setelah terbit SPPB, PIB MITA akan dianalisis oleh suatu aplikasi
yang disebut aplikasi ProAct. Aplikasi computer ini akan menganalisis dan
memisahkan PIB-PIB yang mengandung data transaks yang mencurigakan.
Terhadap transaksi yang mencurigakan tersebut dianalisis oleh petugas
analis. Hasil analisis dapat dikonfirmasikan kepada importir yang
bersangkutan melalui client coordinator, atau direkomendasikan untuk
ditindaklanjuti oleh unit audit atau P2 (Penindakan dan Penyidikan).
Untuk komoditi yang diimpor oleh MITA yang masuk dalam kategori
larangan dan pembatasan merupakan salah satu objek penyaringan dari
aplikasi ProAct, sehingga dapat diketahui oleh analis. Dokumen perizinan
akan diserahkan kepada client coordinator setiap bulan.

B. Tata Kerja PFPD

Pada materi ini dibahas mengenai penerimaan dokumen oleh PFPD untuk
dilakukan penelitian dokumen, dan selanjutnya didistribusikan.

1) Penerimaan Dokumen

Sebagaimana diatur dalam Undang-undang Kepabeanan, yaitu dalam
pasal 16 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 bahwa Pejabat Bea dan Cukai
dapat menetapkan tarif dan nilai pabean barang impor untuk perhitungan bea
masuk sebelum penyerahan pemberitahuan pabean atau dalam waktu 30 (tiga
puluh) hari sejak tanggal pemberitahuan pabean.
Sebagaimana telah dibahas diatas bahwa pada sistem aplikasi pelayanan
pabean, atas pengajuan dokumen impor dapat ditetapkan jalur hijau, jalur kuning,
jalur merah atau jalur MITA.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 16

Pada prinsipnya dokumen impor (hard copy PIB) yang diterima oleh PFPD
adalah dokumen impor yang akan dilakukan penelitian PIB dan dokumen
pelengkap pabeannya.
Dokumen pelengkap pabean dan dukumen pelengkap pabean lainnya
yang dilampirkan pada PIB meliputi dokumen:
- invoice,
- packing list,
- B/L,
- Polis Asuransi.
- Surat Keputusan pemberian fasilitas/Master List,
- SKB (Surat Keputusan Bebas pajak dalam rangka impor),
- SSPCP (Surat Setoran Pabean Cukai dan Pajak),
- API (Angka Pengenal Impor),
- NPWP,
- surat izin PPJK,
- surat tanda terima jaminan dan;
- perizinan dari instansi terkait lainnya.
Dokumen impor yang diterima untuk diteliti oleh PFPD adalah dokumen
yang mendapatkan penetapan jalur hijau, jalur kuning dan jalur merah. Dengan
demikian PFPD tidak menerima dokumen impor dari importir MITA baik MITA
prioritas maupun non prioritas (kecuali dilakukan pemeriksaan fisik). PFPD juga
menerima dokumen pelengkap pabean yang diminta seperti izin atau
rekomendasi dari instansi terkait. Disamping itu juga menerima dan meneliti
bukti-bukti kebenaran nilai pabean dari importir dalam rangka menetapkan nilai
transaksi dapat diterima atau tidak. Dalam hal dilakukan pemeriksaan fisik PFPD
juga menerima berkas PIB dan LHP (Laporan Hasil Pemeriksaan ).
Pada penetapan jalur hijau barang impor dapat dikeluarkan terlebih dahulu
sedangkan penelitian atas dokumen impornya dilakukan kemudian. Atas
penelitian dokumen tersebut PFPD memutuskan apakah tarif dan/atau nilai
pabean yang diberitahukan dapat diterima atau tidak.
Namun tugas PFPD sebenarnya tidak hanya melakukan penelitian atas
dokumen PIB setelah penerbitan SPPB (pada penetapan jalur hijau), .atau pada
penetapan jalur kuning dan jalur merah. PFPD juga melakukan penelitian data
PIB yang disampaikan pada hari itu. Pada saat data PIB (cusdec) disampaikan


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 17

oleh importir, PFPD melakukan penelitian data PIB yang menyangkut
pemenuhan ketentuan barang larangan dan pembatasan. Apabila kedapatan
barang yang akan diimpor merupakan barang larangan atau pembatasan hal itu
harus diberitahukan kepada importir pada hari itu juga.

2) Penelitian Dokumen

Tugas PFPD pada intinya adalah melakukan penelitian dokumen impor
beserta dokumen pelengkap pabeannya. Penelitian meliputi klasifikasi tarif bea
masuk dan nilai pabean untuk perhitungan bea masuk. Disamping itu PFPD juga
melakukan penelitian pemenuhan persyaratan impor yang diwajibkan.
Berkaitan dengan sistem penetapan jalur pada sistem aplikasi pelayanan
pabean, penelitian persyaratan impor pada saat PIB diajukan (cusdec) dilakukan
oleh Pejabat Analyzing Point.
Penelitian data PIB mengenai pemenuhan persyaratan impor dilakukan
dalam hari kerja yang sama dengan pengajuan PIB dan hasil penelitian
diberitahukan kepada importir dengan cara mengirim respon pemberitahuan,
yaitu:
- Pemberitahuan berupa permintaan izin/rekomendasi dari instansi teknis dan
permintaan agar menyerahkan hardcopy izin/rekomendasi dalam jangka
waktu 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal Pemberitahuan apabila barang
impor termasuk barang pembatasan/tataniaga;
- Pemberitahuan penolakan PIB berupa Nota Pemberitahuan, apabila barang
impor termasuk barang larangan dengan tembusan kepada Kepala Seksi
Penindakan.
Importir wajib menyerahkan hardcopy izin/rekomendasi instansi teknis
terkait kepada Pejabat Analyzing Point dalam jangka waktu 3 hari. Sistem
aplikasi melakukan proses lebih lanjut setelah Pejabat Analyzing Point merekam
data izin/rekomendasi instansi teknis terkait ke dalam sistem aplikasi;
Berkaitan dengan tugas penelitian dokumen berikut ini disampaikan
tatakerja pelaksanaan tugas PFPD yang dikelompokan pada masing-masing
penetapan jalur.




Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 18

a. Untuk PIB Jalur Hijau
Pada prinsipnya semua dokumen impor yang ditetapkan jalur hijau
dilakukan penelitian dokumen setelah diberikan persetujuan pengeluaran
barang. Pada penetapan jalur hijau PFPD melakukan tugas sebagai berikut:
i) Menerima hardcopy PIB, Dokumen Pelengkap Pabean, dan SSPCP dari
Kepala Seksi Pabean; Atas penerimaan tersebut PFPD selanjutnya
melakukan penelitian uraian barang dalam data PIB dan memutuskan
apakah perlu meminta tambahan uraian barang kepada importir.
Dalam hal diperlukan uraian tambahan, mengirimkan respon kepada
importir/PPJK dengan menyebutkan uraian yang perlu ditambahkan;
ii) Meneliti kebenaran tarif dan kewajaran Nilai Pabean, serta pelunasan
Bea Masuk, Cukai, dan PDRI dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja
sejak tanggal diterimanya hardcopy PIB, kecuali dalam hal tertentu;
iii) Menerbitkan permintaan informasi tentang Nilai Pabean sesuai
ketentuan penerbitan Informasi Nilai Pabean; dan selanjutnya
menerima dan meneliti bukti-bukti kebenaran Nilai Pabean dari
importir.
iv) Menerbitkan Surat Penetapan Tarif dan Nilai Pabean. Dalam hal hasil
penelitian tariff dan/atau nilai pabean yang dilakukan dalam waktu 30
(tiga puluh) hari sejak tanggal pendaftaran PIB mengakibatkan
kekurangan pembayaran Bea Masuk, Cukai, dan PDRI, PFPD
menerbitkan Surat Penetapan Tarif dan Nilai Pabean dalam 2 (dua)
rangkap, dengan peruntukan lembar pertama untuk Kepala Seksi
Penagihan; dan lembar kedua disematkan pada berkas PIB. Penelitian
dan penetapan tarif dan/atau nilai pabean harus dilakukan dalam waktu
30 (tiga puluh) hari sejak tanggal pendaftaran PIB.
v) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian terhadap PIB terdapat
kekurangan pembayaran bea masuk, tetapi jangka waktu 30 (tiga puluh)
hari sejak tanggal pendaftaran PIB telah dilewati, PFPD menyampaikan
rekomendasi mengenai hal tersebut kepada Kepala Bidang Audit;
vi) Begitu juga dalam hal terdapat kelebihan pembayaran Bea Masuk,
Cukai, dan PDRI, menerbitkan Surat Penetapan Tarif dan Nilai Pabean
dalam 2 (dua) rangkap, dengan peruntukan lembar pertama untuk


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 19

Kepala Seksi Penerimaan dan Pengembalian; dan lembar kedua untuk
disematkan pada berkas PIB;
vii) Menerbitkan Nota Pemberitahuan Barang Larangan dan Pembatasan
(NPBL). Dalam hal terdapat barang impor yang terkena ketentuan
larangan dan pembatasan yang tidak diberitahukan atau diberitahukan
tidak benar dalam PIB menerbitkan Nota Pemberitahuan.
Disamping tugas-tugas tersebut, PFPD juga melakukan penelitian
berkas PIB jalur hijau yang terkena random dan telah dilakukan pemeriksaan
fisik. Tindak lanjut atas penelitian PIB yang terkena random sama seperti
yang telah dijelaskan diatas.

b. Untuk PIB Jalur Merah:
Dokumen impor yang ditetapkan jalur merah dilakukan penelitian
dokumen dan fisik barang sebelum diberikan izin pengeluaran barang.
Importir menyampaikan berkas PIB kepada Kasi Pabean untuk selanjutnya
dilakukan pemeriksaan fisik oleh Pejabat Pemeriksa Barang. Hasil
pemeriksaan tersebut diteruskan oleh Kasi Pabean kepada PFPD.
Pada penetapan jalur merah PFPD melakukan kegiatan sebagai berikut:
i) Menerima berkas PIB dan LHP dari Kepala Seksi Pabean dan Cukai,
berupa:
- PIB Jalur Merah; atau
- PIB Jalur Hijau yang oleh Pejabat Analis Hi-Co Scan ditetapkan untuk
dilakukan pemeriksaan fisik dengan hasil pemeriksaan kedapatan
tidak sesuai;
ii) Meneliti kelengkapan dokumen dan kebenaran pengisian PIB
berdasarkan invoice, packing list, dan dokumen pelengkap pabean
lainnya;
iii) Mengembalikan LHP yang tidak jelas kepada Pejabat Pemeriksa Barang
disertai penjelasan mengenai hal-hal yang harus diperbaiki dan
menerimanya kembali setelah diperbaiki;
iv) Meneliti dan menetapkan tarif dan nilai pabean serta pelunasan Bea
Masuk, Cukai, dan PDRI, dimana penetapan tarif dan nilai pabean harus
dilakukan paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak tanggal penerimaan LHP,
kecuali dalam hal tertentu;


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 20

v) Mengirim contoh barang ke laboratorium dalam hal perlu dilakukan
pengujian dan jika berdasarkan data PIB dan dokumen pelengkap
pabean:
- Dapat diketahui bahwa barang impor bukan termasuk barang
larangan dan/atau pembatasan, maka penetapan tarif dan nilai
pabean sampai dengan penerbitan SPPB dilakukan tanpa
menunggu hasil laboratorium;
- Tidak dapat diketahui bahwa barang impor bukan termasuk barang
larangan dan/atau pembatasan, maka SPPB tidak dapat diterbitkan
sebelum adanya hasil laboratorium;
vi) Memberitahukan kepada importir untuk mengajukan permohonan
perbaikan persetujuan fasilitas impor sementara kepada Kepala Bidang
Pelayanan Fasilitas Pabean dan Cukai atau Pejabat yang ditunjuknya
dalam hal terdapat perbedaan jumlah dan/atau jenis barang
berdasarkan hasil pemeriksaan fisik barang;

c. Untuk PIB Jalur Kuning:
Dokumen impor yang ditetapkan jalur kuning dilakukan penelitian
dokumen dan fisik barang sebelum diberikan izin pengeluaran barang.
Importir menyampaikan berkas PIB dan dokumen pelengkap pabean kepada
Kasi Pabean untuk selanjutnya diteruskan oleh Kasi Pabean kepada PFPD.
Pada penetapan jalur kuning PFPD melakukan kegiatan sebagai berikut:
i) Menerima hardcopy PIB, Dokumen Pelengkap Pabean, dan SSPCP dari
Kepala Seksi Pabean dan Cukai;
ii) Meneliti kelengkapan dokumen dan kebenaran pengisian PIB
berdasarkan invoice, packing list, dan Dokumen Pelengkap Pabean
lainnya;
iii) Meneliti uraian barang dalam data PIB dan memutuskan apakah perlu
meminta tambahan uraian barang kepada importir. Dalam hal diperlukan
uraian tambahan, mengirimkan respon kepada importir/PPJK dengan
menyebutkan uraian yang perlu ditambahkan;
iv) Meminta importir menyiapkan contoh barang dalam hal penetapan tariff
dan kewajaran nilai pabean memerlukan pemeriksaan laboratorium;


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 21

v) Meneliti dan menetapkan tarif dan nilai pabean serta pelunasan Bea
Masuk, Cukai, dan PDRI, dimana penetapan tarif dan nilai pabean harus
dilakukan paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak tanggal penerimaan
berkas PIB, kecuali dalam hal tertentu;
vi) Menginformasikan adanya indikasi pelanggaran jumlah, jenis atau
informasi intelijen lainnya kepada Kepala Seksi Intelijen untuk
ditindaklanjuti.

3) Penerbitan dan Pendistribusian Dokumen

Terhadap hasil penelitian PIB dengan penetapan jalur merah dan jalur
kuning, PFPD berwenang melakukan penerbitan surat pemberitahuan, surat
penetapan ataupun nota pemberitahuan yang akan disampaikan kepada pihak
importir. Secara lengkap tugas dan kegiatan PFPD tersebut adalah sebagai
berikut:
i) Menerbitkan permintaan informasi tentang nilai pabean sesuai ketentuan
penerbitan informasi nilai pabean;
ii) Menerima dan meneliti bukti-bukti kebenaran nilai pabean dari importir;
iii) Dalam hal terdapat kekurangan pembayaran Bea Masuk, Cukai, dan PDRI,
menerbitkan Surat Penetapan (SPTNP) dalam 2 (dua) rangkap, dengan
peruntukan lembar pertama untuk Kepala Seksi Penagihan; dan lembar
kedua untuk disematkan pada berkas PIB;
iv) Dalam hal terdapat kelebihan pembayaran Bea Masuk, Cukai, dan PDRI,
menerbitkan SPTNP dalam 2 (dua) rangkap, dengan peruntukan: lembar
pertama untuk Kepala Seksi Penerimaan dan Pengembalian; dan lembar
kedua untuk disematkan pada berkas PIB;
v) Dalam hal terdapat barang impor yang terkena ketentuan larangan dan
pembatasan yang tidak diberitahukan atau diberitahukan tidak benar dalam
PIB, PFPD menerbitkan:
- menerbitkan Nota Pemberitahuan (NPBL) dalam rangkap 3 (tiga) dengan
peruntukan:
> lembar pertama untuk importir;
> lembar kedua untuk Kepala Seksi Penindakan;
> lembar ketiga untuk disematkan pada berkas PIB;


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 22

- mengirimkan berkas PIB kepada Kepala Seksi Penindakan untuk
diproses lebih lanjut;
vi) Menerbitkan SPPB dalam hal:
- setelah selesainya proses penetapan tarif dan nilai pabean dalam hal
penetapan tarif dan nilai pabean tersebut tidak mengakibatkan
kekurangan pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI, dan/atau sanksi
administrasi berupa denda;
- setelah dilunasinya kekurangan pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI,
dan/atau sanksi administrasi berupa denda dalam hal penetapan tariff
dan/atau nilai pabean tersebut mengakibatkan kekurangan pembayaran
Bea Masuk, Cukai, PDRI, dan/atau sanksi administrasi berupa denda;
atau
- setelah diserahkannya jaminan sebesar Bea Masuk, Cukai, PDRI,
dan/atau sanksi administrasi dalam hal importir mengajukan keberatan
atas penetapan tarif dan/atau nilai pabean;
vii) Terhadap barang impor yang terkena ketentuan larangan dan pembatasan
yang diberitahukan dengan benar dalam PIB, tetapi belum memenuhi
persyaratan impor, maka terhadap barang lainnya yang tidak terkena
ketentuan larangan dan pembatasan dalam PIB yang bersangkutan dapat
diizinkan untuk diberikan persetujuan pengeluaran barang;
viii) Mengirim berkas PIB kepada Kepala Seksi Penindakan, dalam hal terdapat
kesalahan jumlah dan/atau jenis barang yang mengakibatkan kekurangan
pembayaran Bea Masuk, Cukai, dan PDRI sebesar 500% (lima ratus persen)
atau lebih dari pungutan impor yang telah dibayar;
Dalam hal terdapat barang impor berupa Barang Kena Cukai yang
dikemas untuk penjualan eceran, pengeluarannya dari Kawasan Pabean atau
tempat lain yang berada dibawah pengawasan Pabean hanya dapat dilakukan
setelah dilekati Tanda Pelunasan atau Pengawasan Cukai sesuai ketentuan
yang berlaku.
Apabila permasalahan telah diselesaikan, selanjutnya PFPD mengirimkan
kembali berkas PIB yang telah selesai diproses kepada Kepala Seksi Pabean
dan Cukai.




Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 23

1.2. Latihan 1

1) Jelaskan berapa lama batas waktu yang diberikan kepada Pejabat
Pemeriksa Dokumen untuk menetapkan tarif dan nilai pabean atas PIB
yang diajukan.
2) Atas dokumen dengan penetapan jalur hijau barang sudah diberikan izin
keluar (SPPB) sebelum hard copy dokumen diajukan. Apa tindakan
Pejabat Pemeriksa Dokumen jika ternyata pemberitahuan nilai pabeannya
diragukan.
3) Atas dokumen dengan penetapan jalur hijau barang sudah diberikan izin
keluar (SPPB) sebelum hard copy dokumen diajukan. Apa yang dilakukan
Pejabat Pemeriksa Dokumen atas pengajuan dokumen impor (cusdec)
oleh importir pada hari itu sebelum diterbitkan SPPB.
4) Sebutkan tugas-tugas yang dilakukan Pejabat Pemeriksa Dokumen atas
penerimaan dokumen/hard copy:
- PIB jalur hijau.
- PIB jalur kuning.
- PIB jalur merah.
5) Dari hasil penelitian dokumen diketahui terjadi salah pemberitahuan tarif
pos. Apa yang dilakukan Pejabat Pemeriksa Dokumen dalam hal pada
pemberitahuan dokumen barang impor terdapat kekurangan pembayaran
bea masuk dan pungutan impor lainnya.
6) Atas PIB jalur merah, apa yang dilakukan Pejabat Pemeriksa Dokumen
dalam hal terdapat barang impor berupa barang larangan dan
pembatasan yang tidak diberitahukan atau diberitahukan tidak benar.
7) Pejabat Pemeriksa Dokumen berwenang melakukan penetapan atas
dokumen PIB. Berkaitan dengan wewenang tersebut dokumen/nota
(cusres) apa yang dapat diterbitkan oleh PFPD.
8) Jelaskan tindakan apa yang harus dilakukan jika hasil pemeriksaan fisik
terdapat kesalahan jumlah/jenis barang yang mengakibatkan kekurangan
pembayaran bea masuk 500% dari pungutan impor yang telah dibayar.
9) Untuk mengeluarkan barang impor dari Kawasan Pabean importir harus
memenuhi kewajiban pabean. Sebutkan tujuan pengeluaran barang dari
kawasan pabean, dan apa syarat-syaratnya.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 24

10) Jelaskan apa yang dimaksud dengan impor untuk dipakai, dan apa syarat-
syarat pengeluaran barang impor untuk dipakai.

1.3. Rangkuman

1) Pada prinsipnya barang impor dapat dikeluarkan sebagai barang impor
untuk dipakai setelah diserahkan pemberitahuan pabean dan dilunasi bea
masuknya.
2) Barang impor yang diberitahukan dengan dokumen PIB (Pemberitahuan
Impor Barang) dalam rangka pengeluaran barang impor untuk dipakai,
hanya dapat dikeluarkan dari Kawasan Pabean atau tempat lain yang
berada di bawah pengawasan Kantor Pabean setelah dilakukan
pemeriksaan pabean dan diberikan persetujuan pengeluaran barang oleh
Pejabat Bea dan Cukai. Pemeriksaan pabean sebagaimana dimaksud
meliputi penelitian dokumen PIB dan dokumen pelengkap pabeannya,
serta pemeriksaan fisik barang.
3) Pada PIB jalur hijau, setelah persetujuan pengeluaran barang importer
wajib menyerahkan hardcopy PIB, Dokumen Pelengkap Pabean, dan
Surat Setoran Pabean Cukai dan Pajak dalam rangka impor (SSPCP)
kepada Pejabat pemeriksa Dokumen untuk dilakukan penelitian.
4) Pada PIB jalur kuning, sebelum diberikan persetujuan pengeluaran
barang importer wajib menyerahkan hardcopy PIB, Dokumen Pelengkap
Pabean, dan Surat Setoran Pabean Cukai dan Pajak dalam rangka impor
(SSPCP) kepada Pejabat pemeriksa Dokumen untuk dilakukan penelitian.
5) Dalam hal importasi ditetapkan melalui Jalur Merah importer
menyerahkan hardcopy PIB, Dokumen Pelengkap Pabean, dan
SSPCP/BPN kepada Kepala seksi Pabean untuk dilakukan pemeriksaan
fisik. Hasil pemeriksaan fisik dijadikan dasar oleh Pejabat Pemeriksa
Dokumen untuk pengambilan keputusan atas importasi tersebut.
6) Terhadap importer penerima fasilitas jalur MITA tidak dilakukan
pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan dokumen. Importir tidak
diwajibkan menyerahkan dokumen impor (hardcopy PIB). Namun untuk
kepentingan pengawasan importir diminta untuk menyampaikan laporan


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 25

bulanan kepada Koordinator Pelayanan Pengguna Jasa (client
coordinator).
7) Pejabat Pemeriksa Dokumen Bea dan Cukai dapat menetapkan tarif dan
nilai pabean barang impor untuk perhitungan bea masuk sebelum
penyerahan pemberitahuan pabean atau dalam waktu 30 (tiga puluh) hari
sejak tanggal pemberitahuan pabean.
8) Pada penetapan jalur hijau barang impor dapat dikeluarkan terlebih
dahulu sedangkan penelitian atas dokumen impornya dilakukan
kemudian. Atas penelitian dokumen tersebut PFPD memutuskan
apakah tarif dan/atau nilai pabean yang diberitahukan dapat diterima atau
tidak.
9) Pada saat data PIB (cusdec) disampaikan oleh importir, dilakukan
penelitian data PIB yang menyangkut pemenuhan ketentuan barang
larangan dan pembatasan oleh Pejabat Analyzing Point. Apabila
kedapatan barang yang akan diimpor merupakan barang larangan atau
pembatasan hal itu harus diberitahukan kepada importir pada hari itu
juga.
10) Dokumen impor yang ditetapkan jalur merah dilakukan penelitian
dokumen dan fisik barang sebelum diberikan izin pengeluaran barang.
Importir menyampaikan berkas PIB kepada Kasi Pabean untuk
selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik oleh Pejabat Pemeriksa Barang.
Hasil pemeriksaan tersebut diteruskan oleh Kasi Pabean kepada PFPD
untuk dilakukan penetapan.


1.4. Test Formatif 1

Lingkarilah jawaban yang Saudara anggap benar dalam pertanyaan
dibawah ini.

1) Dalam hal PIB mendapat jalur hijau, pejabat pemeriksa dokumen
melakukan penelitian PIB atas tariff dan nilai pabean:
a. Sebelum diserahkan kelengkapan dokumen
b. Setelah diserahkan kelengkapan dokumen


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 26

c. Sebelum diterbitkan SPPB
d. Setelah diterbitkan SPPB
2) Penerimaan Pabean lainnya merupakan penerimaan Negara dalam rangka
Impor. Penerimaan Pabean lainnya meliputi :
a. Bea Masuk, PPn Impor, PPh Pasal 22 impor
b. Bunga dan Biaya surat paksa
c. Denda Administrasi
d. PPn Impor, PPh pasal 22 impor, PPN BM
3) NHI (Nota Hasil Intelijen) di terbitkan oleh
a. Direktur P2
b. Kepala Kantor Wilayah DJBC
c. Kepala Kantor Pelayanan DJBC
d. Jawaban di atas benar semua
4) Terhadap importasi yang mendapat penetapan jalur prioritas dilakukan :
a. Pemeriksaan Pabean
b. Penelitian dokumen
c. Pemeriksaan fisik
d. Tidak dilakukan pemeriksaan Pabean
5) Dokumen yang diserahkan kepada pemeriksa barang untuk melakukan
pemeliharaan fisik adalah :
a. PIB, invoice, packing list
b. PIB beserta dokumen pelengkap Pabean, izin
c. PIB beserta dokumen pelengkap Pabean dan instruksi
pemeriksaan
d. Foto copy invoice/ packing list serta instruksi pemeriksaan.
6) Atas kelebihan pembayaran BM, Cukai, PDRI, KPPBC menerbitkan
restitusi/pengembalian atas nama Menteri Keuangan atas :
a. BM
b. BM, sanksi administrasi, Bunga
c. BM, cukai, sanksi administrasi, Bunga
d. BM, cukai, sanksi administrasi dan PDRI
7) Dalam hal terdapat kesalahan pemberitahuan Nilai Pabean, jika prosentasi
denda sebesar 100% maka jumlah denda adalah :
a. 100% x jumlah kekurangan Bea Masuk


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 27

b. 100% x jumlah kekurangan Bea Masuk dan PDRI
c. 400% x jumlah kekurangan BM
d. 500% x jumlah kekurangan BM
8) Jika dalam 1 (satu) PIB terdapat kelebihan bayar Bea Masuk untuk barang
A sebesar Rp. 100 juta, dan kekurangan bayar BM untuk barang B sebesar
Rp. 100 juta, maka :
a. Atas kekurangan bayar barang B diterbitkan SPTNP
b. Atas kekurangan bayar barang B diterbitkan SPTNP, dan atas
barang A dapat dimintakan restitusi
c. Diterbitkan SPTNP
d. Kelebihan bayar barang A dikompensasikan dengan kekurangan bayar
barang B.
9) Penetapan importir sebagai importir penerima Jalur MITA Non Prioritas
ditetapkan oleh;
a. Dirjen Bea dan Cukai .
b. Direktur Teknis Kepabeanan.
c. Kepala Kantor Wilayah DJBC.
d. Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai.
10) Atas jalur MITA Non Prioritas tidak dilakukan pemeriksaan fisik dan
dokumen, kecuali:
a. Komoditi resiko tinggi & komoditi yang ditetapkan pemerintah.
b. Barang impor sementara/re-impor.
c. Barang yang mendapatkan penangguhan bea masuk.
d. Benar semua.
11) Terhadap penyelesaian pemberitahuan impor barang dengan mendapat
jalur MITA:
a. Dilakukan pemeriksaan dokumen setelah barang dikeluarkan
(SPPB).
b. Dilakukan pemeriksaan dokumen sebelum barang dikeluarkan
(SPPB).
c. Tidak dilakukan pemeriksaan pabean.
d. Dilakukan pemeriksaan pabean 5 hari setelah tgl SPPB.
12) Terhadap penyelesaian pemberitahuan impor barang dengan mendapat


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 28

jalur kuning, SPPB diterbitkan:
a. Sebelum PIB dan dokumen pelengkap pabean diajukan.
b. Setelah PIB dan dokumen pelengkap pabean diajukan.
c. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik.
d. Setelah mendapat persetujuan Client Coordinator.
13) Pada Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai Palembang
dapat diterapkan pelayanan penyelesaian impor dengan sistem
penjaluran:
a. Jalur Hijau, Jalur Merah, Jalur Prioritas.
b. Jalur Hijau, Jalur Merah, Jalur Kuning, Jalur Prioritas.
c. Jalur Hijau, Jalur Merah, Jalur Kuning, Jalur MITA.
d. Jalur Hijau, Jalur Merah, Jalur Biru, Jalur Kuning, Jalur Prioritas,
Jalur MITA.
14) Pada proses dokumen atas jalur MITA tidak ada intervensi pemeriksaan
pabean. Pengawasan terhadap proses pelayanan dokumen jalur MITA
adalah:
a. Persyaratan perizinan jalur MITA
b. Aplikasi ProAct
c. NHI
d. Spotcheck
15). Industri makanan yang mengimpor gula (barang yang ditetapkan oleh
pemerintah) akan terkena jalur merah. Jika importir ditetapkan kedalam
golongan MITA Prioritas maka aplikasi akan menetapkan :
a. Jalur hijau
b. Jalur kuning
c. Jalur merah
d. Jalur prioritas









Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 29

1.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan hasil jawaban dengan kunci jawaban yang terdapat di modul
ini. Hitung jawaban Saudara dengan benar. Kemudian gunakan rumus untuk
mengetahui tingkat pemahaman Saudara terhadap materi impor ekspor.

TP = Jumlah jawaban yang benar X 100%
Jumlah keseluruhan soal

Apabila tingkat pemahaman Saudara dalam memahami materi yang sudah
dipelajari mencapai :
91 % s.d. 100 % : Amat baik
81 % s.d. 90,99 % : Baik
71 % s.d. 80,99 % : Cukup
61 % s.d. 70,99 % : Kurang

Bila tingkat pemahaman belum mencapai 81 % ke atas (kategori Baik),
maka Saudara disarankan mengulang materi.


















Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 30

2. Kegiatan Belajar (KB) 2


PENELITIAN DOKUMEN IMPOR













2.1. Uraian contoh dan non contoh

A. Penelitian Dokumen Impor

Dalam materi ini dibahas mengenai tata cara penelitian dokumen impor
yang meliputi penelitian jumlah, jenis dan uraian barang, pemenuhan persyaratan
impor, dan proses pengambilan keputusan atas hasil penelitian.

1) Penelitian jumlah, jenis dan uraian barang.

Sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, Pejabat Fungsional
Pemeriksa Dokumen (PFPD) diberi wewenang melakukan penelitian dan
penetapan atas data pemberitahuan pabean. Penelitian dan penetapan atas data
pemberitahuan tersebut diperlukan karena sistem kepabeanan yang mengatur
bahwa pengisian dan pengajuan dokumen sepenuhnya dilakukan oleh importir
(self assessment). Tugas pemeriksaan atas dokumen pabean tersebut berlaku
terhadap semua dokumen impor yang perlu dilakukan pemeriksaan
pabean.terkecuali atas dokumen impor yang diajukan oleh MITA (Mitra Utama).
Penelitian dokumen impor berupa PIB (Pemberitahuan Impor Barang)
meliputi penelitian PIB dan dokumen pelengkap pabean serta dokumen
Indikator Keberhasilan :
Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu :
1) Menjelaskan proses penelitian jumlah, jenis dan uraian barang pada dokumen
impor dan dokumen pelengkap pabeannya.
2) Menjelaskan proses penelitian atas pemenuhan persyaratan impor dan dokumen
pemberian fasilitas kepabeaanan.
3) Menjelaskan proses pengambilan keputusan atas hasil penelitian.
4) Menjawab pertanyaan tentang proses penelitian dokumen impor.



Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 31

pelengkap pabean lainnya. Data yang tercantum dalam PIB berasal dari data
yang ada pada dokumen pelengkap pabean dan dokumen pelengkap pabean
lainnya. Dokumen pelengkap pabean meliputi dokumen invoice, packing list,
B/L, Polis Asuransi. Sedangkan dokumen pelengkap pabean lainnya meliputi
dokumen yang mendukung data pada PIB, antara lain: Surat Keputusan
pemberian fasilitas/Master List, SKB (Surat Keputusan Bebas pajak dalam
rangka impor), SSPCP (Surat Setoran Pabean Cukai dan Pajak), API (Angka
Pengenal Impor), NPWP, surat izin PPJK, surat tanda terima jaminan dan
perizinan dari instansi terkait lainnya. Dokumen pelengkap pabean lainnya
biasanya juga disebut sebagai dokumen pelengkap pabean.
Pada intinya tugas penelitian dokumen pabean adalah untuk mengetahui
apakah dokumen pabean yang diajukan oleh importir benar dan telah memenuhi
persyaratan. Dalam hal tertentu pemeriksaan dokumen impor dibantu dengan
hasil pemeriksaan fisik barang (misalnya: pada penetapan jalur merah).
Pengujian atas kebenaran data pemberitahuan impor tersebut difokuskan
pada penelitian uraian barang yang meliputi jumlah, jenis, berat, ukuran dan
spesifikasi barang lainnya. Penelitian data tersebut berkaitan dengan
pemungutan bea masuk dan pemenuhan persyaratan impor.
Sebagaimana kita ketahui bahwa unsur penetapan bea masuk adalah tarif
dan nilai pabean. Penetapan pos tarif atas suatu komoditi tergantung dari
pengenalan barang. Ketrampilan dalam mengidentifikasi suatu barang akan
memudahkan tugas penetapan tarif (cara melakukan identifikasi dan klasifikasi
barang dibahas dalam modul tersendiri). Oleh karena itu penelitian atas uraian
barang ini sangat penting. Suatu jenis barang dapat dikelompokan dan masuk
dalam beberapa pos tarif HS (Harmonized System of Nomenclature), tergantung
dari uraian barangnya.
Pada dokumen impor dengan penetapan jalur hijau, PFPD dapat meminta
penjelasan uraian barang jika uraian barang pada PIB dianggap tidak lengkap,
sehingga dapat menimbulkan kemungkinan penetapan tarif yang berbeda
daripada yang diberitahukan dalam PIB.
Pada dokumen impor dengan penetapan jalur kuning, PFPD dapat
meminta suatu jenis barang diperiksa di laboratorium untuk memastikan jenis
barang yang diimpor.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 32

Pada dokumen impor dengan penetapan jalur merah, PFPD dapat
mengembalikan laporan hasil pemeriksaan fisik (LHP) untuk dilengkapi oleh
Pemeriksa Barang jika uraian barang tidak jelas sehingga barang dapat
dimasukan dalam beberapa pos tarif.
Penetapan jenis barang yang berbeda daripada yang diberitahukan pada
PIB dapat berakibat perubahan tarif dan nilai pabean.

Contoh:
- Air Condition; AC ada berbagai type. Untuk tipe jendela atau dinding akan
masuk pos tarif HS: 8415.10.00.00 sedangkan tipe lainnya dapat masuk
kepos yang berbeda, yaitu pos tarif HS: 8415.82.90.00
- Perabot, perangkat kamar tidur; yang berbahan logam masuk pos tarif
9403.20, yang berbahan kayu masuk pos tarif 9304.50, dan yang berbahan
plastik pos tarif 9403.70, tergantung karakter utama/dominan.
- Camera; camera film masuk pos tarif HS Bab 9006 namun camera digital
masuk pos tarif HS Bab 8525 sebagai barang elektrik.
- Pesawat televisi; Penentuan tarif dan nilai pabeannya tergantung dari jenis
dan tipenya., berwarna atau tidak berwarna dan berapa ukuran layarnya.
- Apple; Apakan apel segar, jus apel, apel kering dan sebagainya. Atas buah
apel segar masuk pos tarif 0808.10.00.00 , sedangkan apel kering pos
0813.30.00.00

Penelitian uraian barang tidak semata-mata dilihat dari lengkap dan
panjangnya uraian spesifikasi barang, tetapi harus dilihat apakah dari uraian
barang tersebut dapat dimasukan dalam pos tarif yang tepat. Jika dari uraian
barang kemungkinan dapat masuk dalam beberapa pos tarif atau masuk dalam
pos tarif lain, maka harus diminta penjelasan data barang yang terkait dengan
uraian pos tarif dimaksud. Oleh karena itu fokus penelitian adalah pada uraian
barang dikaitkan dengan penempatan jenis barang pada pos HS yang tepat.
Penelitian atas jumlah barang atau kemasan juga dapat mengakibatkan
penetapan tarif dan nilai pabean yang berbeda daripada yang diberitahukan
dalam PIB. Dalam dunia perdagangan telah dikenal adanya perbedaan grade
dalam suatu komoditi yang berpengaruh pada penggunaan komoditi atau barang
tersebut. Biasanya dikenal dengan pharmacetical grade dan food grade.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 33

Dengan demikian perbedaan grade tersebut akan mempengaruhi perbedaan
kelompok barang dalam pos HS dan nilai pabean.
Contoh:
- Jenis barang: titanium dioksida.
- Titanium oksida sebagai bahan kimia murni (pharmacetical grade) masuk
kedalam pos HS Bab 2823;
- Titanium dioksida sebagai olahan bahan pewarna (industrial grade) masuk
kedalam pos HS Bab 3206;
- Titanium dioksida (bijih ilmenit) bijih logam dari alam masuk kedalam pos HS
Bab 2614.
Dari contoh tersebut diatas terlihat bahwa jumlah barang dan packing
dapat dijadikan langkah awal untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang dapat
mempengaruhi penetapan tarif dan nilai pabean yang jauh berbeda. Pada
olahan bahan pewarna misalnya, titanium dioksida hanya perlu ditambahkan
bahan lain sebanyak 0,8% 1% sebagai bahan pembantu.
Penelitian atas jumlah, jenis dan uraian barang sangat penting dalam hal
dilakukan pemeriksaan fisik barang (misalnya pada penetapan dokumen jalur
merah). Hasil pemeriksaan fisik harus dapat digunakan untuk menetapkan pos
tarif atas barang tersebut. NHI yang kurang jelas dapat dikembalikan kepada
Pemeriksa Barang untuk dilengkapi. Hasil pemeriksaan fisik juga dapat
mempengaruhi penetapan nilai pabean atas barang tersebut. Termasuk
keputusan untuk menetapkan tarif dan nilai pabean yang berakibat tambah
bayar bea masuk dan denda administrasi.

2) Penenelitian perizinan dan fasilitas pabean.

a. Perizinan
Dipandang dari sudut perdagangaan internasional kewajiban
pemenuhan persyaratan impor dianggap sebagai hambatan perdagangan.
Namun dipihak lain negara berkepentingan melakukan pengawasan atas
perdagangan barang tertentu dalam rangka memberikan perlindungan bagi
kepentingan masyarakatnya. Bentuk perlindungan Negara dapat berupa
perizinan maupun pelarangan atas pemasukannya. Pada pelaksanaannya
perizinan dimaksud ditetapkan oleh instansi terkait dibidangnya dan


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 34

pengawasannya dilaksanakan oleh DJBC (Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai).
Sebagaimana diatur dalam pasal 53 Undang-undang Nomor 17 tahun
2006 bahwa untuk kepentingan pengawasan terhadap pelaksanaan
ketentuan larangan dan pembatasan, instansi teknis terkait yang
menetapkan peraturan larangan dan pembatasan atas impor atau ekspor
wajib memberitahukan kepada Menteri Keuangan untuk ditetapkan dan
dilaksanakan oleh DJBC.
Contoh:
- Daging lembu segar yang diimpor dari Belanda dilarang diimpor
berdasarkan keputusan Menteri Pertanian
- Gula pasir dan beras hanya dapat diimpor oleh importer yang ditunjuk.
- Obat-obatan hanya boleh diimpor setelah mendapat izin/rekomendasi dari
Balai POM (Pengawasan Obat dan Makanan).
Penelitian atas pemenuhan persyaratan impor dilakukan oleh Pejabat
Analyzing Point pada saat data PIB diajukan oleh importir melalui PDE
(Pengajuan Dokumen secara Elektronik). Namun apabila dari hasil
penelitian PFPD barang diimpor yang diberitahukan dalam PIB memerlukan
izin/rekomendasi dari instansi terkait, PFPD memberitahukan dan meminta
agar importir menyampaikan izin-izin yang diperlukan. Kecuali jika barang
impor termasuk dalam barang larangan, maka hal tersebut diberitahukan
kepada unit/Kepala Seksi Penindakan untuk ditindaklanjuti sesuai ketentuan
perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal PIB ditetapkan jalur kuning
atau jalur merah, penelitian dilakukan setelah berkas hardcopy dokumen PIB
diterima. Jika dari hasil penelitian atas barang impor yang diberitahukan
dalam PIB dimaksud memerlukan perizinan dari instansi terkait, maka hal itu
harus dipenuhi terlebih dahulu. Jika dari hasil penelitian terdapat barang
impor yang terkena peraturan larangan dan pembatasan yang tidak
diberitahukan atau diberitahukan tidak benar dalam PIB, maka hal tersebut
diberitahukan kepada Kasi penindakan untuk diproses lebih lanjut. Barang
tersebut statusnya menjadi barang yang dikuasai Negara.
Contoh:
- Dalam satu party barang diberitahukan berupa spare part sepeda motor,
hasil pemeriksaan didapati adanya sepeda motor.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 35

- Dalam satu party barang diberitahukan pakaian anak-anak, hasil
pemeriksaan fisik barang ternyata berupa impor pakaian bekas.
Pada prinsipnya penelitian dokumen pemberitahuan pabean bertolak dari
pertanyaan:
- Apa barang yang diimpor;
- Apakah barang tersebut terkena peraturan larangan dan pembatasan;
- Apakah ada /dapat diperoleh izinnya;
- Apa tindak lanjutnya jika izin tidak diperoleh atau merupakan barang
larangan.

b. Fasilitas Pabean
Dalam Undang-undang Kepabeanan (Undang-undang No. 10 tahun
1995 dan No.17 tahun 2006) beberapa aspek yang dianut dalam rangka
upaya meningkatkan kelancaran arus barang dan perdagangan luar negara,
serta upaya bagi peningkatan pertumbuhan perekonomian nasional adalah
pemberian kemudahan atau fasilitas dan pemberian insentif yang diharapkan
akan memberikan manfaat bagi pertumbuhan ekonomi.
Pengertian fasilitas atau kemudahan di bidang Kepabeanan dapat
diartikan sebagai :
- Fasilitas atau kemudahan pelayanan Pabean yang berupa kemudahan
dalam pengurusan barang/dokumen impor/ekspor, contohnya : Pelayanan
segera, pengeluaran lebih dahulu (vooruitslag), prenotifications,
pembayaran berkala, pemeriksaan di gudang Importir, dan sebagainya.
- Fasilitas Kepabeanan yang berupa pemberian Pembebasan atau
keringanan Bea Masuk, contohnya: pembebasan Bea Masuk atas impor
Mesin dan bahan baku dalam rangka ekspor. Fasilitas ini merupakan
insentif yang diharapkan akan memberikan manfaat bagi pertumbuhan
perekonomian nasional.
- Fasilitas Kepabeanan yang berupa pemberian penangguhan Bea Masuk.
Penangguhan adalah peniadaan sementara kewajiban membayar Bea
Masuk sampai timbul kewajiban untuk membayar Bea Masuk, sesuai
ketentuan yang berlaku. Contoh fasilitas ini adalah fasilitas Tempat
Penimbunan Berikat.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 36

- Fasilitas GSP (General System of Preference) atau sistem preferensi
umum yaitu pengurangan tarif Bea Masuk berdasarkan kesepakatan
Internasional/Regional,

Contoh :

Penurunan tarif Bea Masuk dalam rangka ASEAN PTAS (Preferential Tariff
Arrangement) yang dikenal dengan CEPT for AFTA (Common Effective
Prefentional Tariff).
Penetapan tarif Bea Masuk tersebut dikenakan atas beberapa komoditi
barang yang diimpor dari negara-negara Asean. Besarnya dalam rangka
CEPT tersebut lebih rendah dari tarif Bea Masuk yang berlaku umum
sebagaimana dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (H.S).
Tarif Bea Masuk tersebut hanya berlaku terhadap importasi barang yang
telah dilengkapi dengan Surat Keterangan asal atau Certificate of Origin
(Form D), sebagai lampiran PIB (Pemberitahuan Impor Barang).
Preferensi tariff semacam itu telah berkembang terhadap barang-barang
yang diimpor dari China, India, Jepang dan kemungkinan juga negara
lainnya.
Dalam rangka pelaksanaan tugas penelitian dokumen, PFPD melakukan
penelitian PIB dan dokumen pelengkap pabean lainnya, termasuk surat
keputusan pemberian fasilitas pembebasan atau keringanan bea masuk.
Dokumen keputusan pemberian fasilitas pembebasan atau keringanan bea
masuk yang dilampirkan pada PIB dapat berupa M/L, Surat Keputusan dari
DJBC ataupun dari instansi lain seperti: Departemen Keuangan, M/L(
Master List), SKA/Form D/Form E, SKB (Surat Keterangan Bebas)
PPh.Psl.22 dan sebagainya.
Dalam hal barang yang diimpor mendapat fasilitas pembebasan atau
keringanan bea masuk dan PDRI (Pajak Dalam Rangka Impor), maka pada
prinsipnya penelitian dokumen bertolak dari pertanyaan:
- Apakah dokumen dasar/surat keputusan pemberian fasilitas dilampirkan
pada PIB;
- Apakah dokumen dasar/surat keputusan pemberian fasilitas valid.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 37

- Apakah barang yang diimpor sesuai dengan surat keputusan atau
dokumen dasar pemberian fasilitas dimaksud;
- Apa tindak lanjut jika dokumen dasar pemberian fasilitas tidak valid atau
barang yang diimpor berbeda.
Lebih lanjut dalam Modul ini akan dibahas criteria dan persyaratan
pemberian fasilitas pembebasan dan/atau keringanan Bea Masuk, yaitu:

i. Pembebasan Bea Masuk
Fasilitas Pembebasan Bea Masuk diatur dalam Pasal 25 Undang-
undang No. 17 tahun 2006. Pembebasan Bea Masuk adalah peniadaan
pembayaran Bea Masuk yang diwajibkan.
Pembebasan Bea Masuk yang diberikan dalam pasal ini adalah
pembebasan yang bersifat mutlak, artinya jika persyaratan yang diatur dalam
pasal tersebut di atas dipenuhi, barang yang diimpor tersebut diberi
pembebasan Bea Masuk. Barang-barang impor yang dapat diberikan
fasilitas pembebasan Bea Masuk adalah :
- Barang Perwakilan Negara Asing beserta para pejabatnya yang
bertugas di Indonesia berdasarkan azas ocial balik;
- Barang untuk keperluan badan internasional beserta pejabatnya yang
bertugas di Indonesia;
- Buku ilmu pengetahuan;
- Barang kiriman hadiah untuk keperluan ibadah umum, amal, ocial
atau kebudayaan;
- Barang untuk keperluan museum, kebun binatang, dan tempat lain
semacam itu yang berbuka untuk umum;
- Barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu
pengetahuan;
- Barang untuk keperluan khusus kaum tunanetra dan penyandang
cacat lainnya;
- Persenjataan, amunisi dan perlengkapan militer, termasuk suku
cadang yang diperuntukkan bagi keperluan pertahanan dan keamanan
negara;
- Barang dan bahan yang dipergunakan untuk menghasilkan barang
bagi keperluan pertahanan dan keamanan negara;


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 38

- Barang contoh yang tidak untuk diperdagangkan;
- Peti atau kemasan lain yang berisi jenazah atau abu jenazah;
- Barang pindahan;
- Barang pribadi penumpang; awak sarana pengangkut, pelintas batas,
dan barang kiriman sampai batas nilai Pabean dan/atau jumlah
tertentu.
- Obat-obatan yang diimpor dengan menggunakan anggaran
pemerintah yang diperuntukan bagi kepentingan masyarakat.
- Barang yang telah diekspor untuk keperluan perbaikan, pengerjaan
dan pengujian.
- Barang yang telah diekspornkemudian diimpor kembali dalam kualitas
yang sama dengan kualitas pada saat diekspor.
- Bahan terapi manusia, pengelompokan darah, dan bahan penjenisan
jaringan.
ii. Pembebasan atau Keringanan Bea Masuk
Pembebasan atau keringanan Bea Masuk yang diberikan dalam pasal
26 Undang-undang No. 17 tahun 2006, adalah pembebasan yang bersifat
relatif, dalam arti bahwa pembebasan yang diberikan didasarkan pada
beberapa persyaratan dan tujuan tertentu, sehingga terhadap barang impor
dapat diberikan pembebasan atau keringanan Bea Masuk.
Yang dimaksud dengan keringanan Bea Masuk adalah pengurangan
sebagian pembayaran Bea Masuk yang diwajibkan sebagaimana dimaksud
dalam Undang-undang kepabeanan.
Keputusan apakah atas suatu barang akan diberikan pembebasan
atau keringanan Bea Masuk, tergantung kondisi yang ada saat itu dalam
memutuskan kebijakan pemerintah yang akan dilaksanakan Keputusan
tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Keuangan. Sebagai contoh,
barang dan bahan dalam rangka pembangunan dan pengembangan industri
sebelumnya (tahun 90an) diberikan pembebasan Bea Masuk, tapi sekarang
ini dipungut Bea Masuk sebesar 5% (diberikan keringanan Bea Masuk).
Pembebasan atau keringanan Bea Masuk yang dapat diberikan atas
barang impor adalah :
- Barang dan bahan untuk pembangunan dan pengembangan industri
dalam rangka penanaman modal;


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 39

- Mesin untuk pembangunan dan pengembangan industri;
- Barang dan bahan dalam rangka pembangunan dan pengembangan
industri untuk jangka waktu tertentu;
- Peralatan dan bahan yang digunakan untuk mencegah pencemaran
lingkungan;
- Bibit dan benih untuk pembangunan dan pengembangan industri
pertanian, peternakan dan perikanan;
- Hasil laut yang ditangkap dengan sarana penangkapan yang telah
mendapat izin;
- Barang yang mengalami kerusakan, penurunan mutu, kemusnahan
atau penyusutan volume atau berat karena alamiah antara saat
diangkut kedalam Daerah Pabean dan saat diberikan persetujuan
impor untuk dipakai;
- Barang oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah yang
ditunjukkan untuk kepentingan umum;
- Barang untuk keperluan olah raga yang diimpor oleh induk organisasi
olah raga nasional.;
- Barang untuk keperluan proyek pemerintah yang dibiayai dengan
pinjaman dan/atau hibah dari luar negeri;
- Barang dan bahan untuk diolah, dirakit, atau dipasang pada barang
lain dengan tujuan untuk diekspor;

Pada prinsipnya pemberian fasilitas pembebasan atau keringanan bea
masuk diberikan oleh instansi yang melakukan pembinaan. Jika instansi
terkait telah memberikan rekomendasi pemberian fasilitas maka
permohonan fasilitas dapat diberikan oleh Menteri Keuangan atau Pejabat
lain yang ditunjuk..
Surat Keputusan Pemberian Pembebasan atau Keringanan Bea
Masuk harus dilampirkan pada PIB sebagai Dokumen Pelengkap Pabean
Sebagaimana prinsip dalam aturan perbendaharaan negara dan juga
diatur dalam Undang-undang No. 17 tahun 2006 jo. No. 10 tahun 1995
tentang Kepabeanan, bahwa yang berhak memberikan pembebasan
maupun pengurangan (keringanan) pembayaran Bea Masuk adalah Menteri
Keuangan. Namun dalam pelaksanaannya dalam beberapa hal Menteri


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 40

Keuangan memberikan delegasi wewenang pemberian pembebasan dan
keringanan bea masuk kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai atau
Pejabat lain yang ditunjuk, untuk menandatangani Surat Keputusan
Pemberian Pembebasan dan Keringanan Bea Masuk, atas nama Menteri
Keuangan.
Sebelum barang impor tiba di pelabuhan Indonesia, atau setidak-
tidaknya sebelum diajukan dokumen impor (Pemberitahuan Impor Barang),
Importir harus memperoleh surat Keputusan Pemberian Pembebasan dan
Keringanan Bea Masuk yang akan dilampirkan pada dokumen PIB yang
bersangkutan, apabila Surat Keputusan pembebasan dimaksud tidak
diperoleh, maka Importir harus melunasi seluruh pungutan Impor yang
meliputi pembayaran Bea Masuk dan PDRI (Pajak Dalam Rangka Impor).
Surat Keputusan Pemberian Pembebasan dan Keringanan Bea Masuk
meliputi SK dan lampiran barang (jika jumlah/jenis barang banyak) yang
biasanya disebut Master List (M/L). Kadang-kadang tidak seluruh barang di
impor sekaligus, bisa juga hanya sebagian barang di impor dalam satu PIB.
Untuk itu importir harus melakukan pemotongan M/L terlebih dahulu ke
Bendaharwan Bea Cukai dan melampirkan Copy M/L yang telah
ditandasahkan oleh Bendaharawan Bea Cukai.
Pejabat Pemeriksa dokumen harus meneliti nomor dan tanggal Surat
Keputusan dimaksud sebagaimana yang tercantum dalam PIB yang harus
sesuai dengan SK atau M/L yang dilampirkan pada PIB, untuk mengecek
keabsahan SK dimaksud, jika diperlukan dapat mencocokannya dengan
salinan SK yang dikirm oleh Unit Penerbit SK dimaksud kepada Kantor
Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai terkait.

B. Proses Pengambilan Keputusan Atas Hasil Penelitian

Dalam materi ini dibahas mengenai proses pengambilan keputusan atas
hasil penelitian Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP), serta hasil penelitian PIB dan
dokumen pelengkap pabeannya.





Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 41

1) Keputusan atas hasil penelitian LHP.

Pada pengajuan dokumen impor (PIB) dengan penetapan jalur merah;
ataupun pada kasus-kasus dimana party barang dilakukan pemeriksaan fisik,
hasil pemeriksaan fisik barang dituangkan dalam LHP (Laporan Hasil
Pemeriksaan) dan BA (Berita Acara Pemeriksaan).
Pemeriksaan fisik barang dimaksudkan untuk mengetahui jumlah, jenis dan
spesifikasi barang, untuk dibandingkan dengan dokumen pemberitahuan impor.
Dari hasil pemeriksaan fisik tersebut dapat diketahui apakah pemberitahuan yang
disampaikan kepada pihak Bea dan Cukai benar atau tidak benar. Disamping itu
hasil pemeriksaan fisik juga bertujuan untuk menetapkan tarif dan nilai pabean
dengan tepat. Penempatan suatu barang dalam pos tarif BTBMI (Buku Tarif Bea
Masuk Indonesia) tergantung dari berbagai hal. Penetapan pos tarif ada yang
didasarkan pada bahan pembuat barang tersebut ( kayu, besi, bahan plastik ),
ukuran ( TV 14, 32 ), kapasitas/daya ( kapasitas 50 kg, mesin 1500 cc ), fungsi
barang dan sebagainya. Oleh karena itu dalam membaca LHP harus
diperhatikan faktor-faktor yang akan menentukan suatu barang masuk dalam
suatu pos tarif.
Contoh:
Dalam LHP disebutkan uraian barang seperangkat furniture, yaitu 1 set
tempat tidur ukuran 180 x 120 cm, 2 bh nakas, 2 bh bantal, 2 bh guling dan
penutup/ bed cover. Merk: Sleep Soft, Made in China.
Uraian barang dalam LHP tersebut tidak dapat digunakan untuk
menetapkan tarif pos, karena penempatan tempat tidur tersebut dalam pos
BTBMI tergantung dari bahan pembuatnya. Tempat tidur yang terbuat dari kayu
berbeda pos tarifnya dengan tempat tidur yang terbuat dari besi, atau dari rotan,
atau dari plastik. Terhadap LHP dengan pencantuman barang seperti tersebut
diatas, harus dikembalikan kepada pejabat pemeriksa barang untuk dilakukan
pemeriksaan ulang, dengan catatan atensi bahan pembuatnya.
Disamping penetapan tarif, LHP juga dapat mempengaruhi penetapan nilai
pabean. Barang dengan tipe dan spesifikasi yang sama dapat berbeda harganya
jika diproduksi oleh pabrik yang berbeda. Perbedaan merek, negara asal, tipe
atau spesifikasi barang lainnya, walaupun barangnya sama dapat mengakibatkan


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 42

harga yang berbeda. Oleh karena itu dalam membaca LHP harus diperhatikan
faktor-faktor yang dapat menentukan nilai atau harga suatu barang.
Contoh:
Dalam LHP disebutkan uraian barang berupa 10 unit pesawat televisi
berwarna ukuran 32, type :LCD TV, spek: 32CV500E, made in Japan.
Uraian barang dalam LHP tersebut tidak dapat digunakan untuk
menetapkan nilai pabean, karena harga barang tersebut tergantung dari
mereknya. Pesawat televisi dengan jenis, type dan ukuran yang sama dapat
berbeda harganya.
- LCD TV 32 made in Japan, spek: 32CV500E merek: Toshiba, harganya
USD 869,5;
- LCD TV 32 made in Japan, spek: TX-32LX80 merek: Panasonic,
harganya USD 978,2
Terhadap LHP dengan pencantuman barang seperti tersebut diatas, harus
dikembalikan kepada pejabat pemeriksa barang untuk dilakukan pemeriksaan
ulang, dengan catatan atensi merek barangnya.

2) Keputusan atas hasil penelitian PIB dan dokumen pelengkap pabean.

Pada umumnya importir menuliskan uraian barang pada PIB
(Pemberitahuan Impor Barang) sesuai dengan uraian barang yang tertera pada
packing list. Adakalanya penulisan uraian barang pada PIB tidak jelas, sehingga
sulit bagi pejabat pemeriksa dikumen untuk menetapkan tarif dan/atau nilai
pabeannya. Pada kasus-kasus tertentu penulisan uraian barang sengaja dibuat
tidak jelas untuk mengelabui petugas. Dalam hal demikian pejabat pemeriksa
dokumen harus meneliti dokumen pelengkap pabeannya (invoice, packing list,
B/L dsb), melakukan penelitian kewajaran data dalam dokumen pemberitahuan
maupun dokumen pelengkap pabeannya, mengambil kesimpulan dan membuat
suatu keputusan atas pengajuan dokumen pabean tersebut.
Apabila dokumen pelengkap pabeannya juga tidak jelas, pejabat
pemeriksa dokumen dapat meminta tambahan/penjelasan uraian barang. Jika
diperlukan dapat juga meminta contoh barang, untuk kepentingan penetapan tarif
dan/atau nilai pabeannya.
Contoh:


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 43

Dalam PIB kolom uraian barang tercantum:
Perlengkapan olah raga/training sport ( Indoor Sport Acc. Etc. Sport Training );
190 crt, 1250 Kgs
Jumlah dan jenis satuan:
- KW 942 M, 90 pcs, 90 crt, 450 Kgs.
- X FIT 2, 200 pcs, 100 crt, 800 Kgs.
Sebelum membuat kesimpulan atas pemberitahuan pabean tersebut,
pejabat pemeriksa dokumen harus menganalisis jenis dan jumlah barang dalam
uraian barang yang akan diimpor. Jika diberitahukan sebagai baju olah raga,
dokumen pemberitahuan tersebut patut dicurigai.
- Jenis KW 942 M, jumlahnya 90 pcs, dikemas dalam 90 crt @ 1 pcs @ 5
kgs.
- Jenis X FIT 2, jumlahnya 200 pcs, dikemas dalam 100 crt @ 2 pcs @ 4
kgs.
Jika berat barang 1 pcs = 5 kg, maka jenis barang dapat dipastikan bukan
baju olah raga.
Pejabat pemeriksa dokumen harus meminta penjelasan uraian barang
atau contoh barang. Selanjutnya membuat keputusan atas pemberitahuan yang
diajukan, dengan menerbitkan Notul ( Nota Pembetulan )
Pada beberapa kasus penulisan uraian barang sengaja disamarkan untuk
menghindari penetapan tarif dan nilai pabean yang tinggi. Uraian jumlah, jenis
barang tetap mengacu pada dokumen pelengkap pabean ( Packing List), tetapi
dengan merubah harga barang pada invoice. Apabila dicermati dokumen
pelengkap pabeannya, akan terlihat ketidakwajaran pemberitahuan dalam
dokumen impornya.
Contoh:
Dalam PIB kolom uraian barang tercantum:
Note Book ( buku catatan ) Ienovo, 100 crt, 160 kgs.
Jumlah dan jenis satuan:
Thinkpad T 61 A26 50 crt, 50 pcs, 80 kgs
Thinkpad T 61 A24 50 crt, 50 pcs, 80 kgs
Pihak importir memberitahukan jenis barang dalam PIB sebagai buku catatan
(Note Book). Jika diteliti dokumen pelengkap pabeannya, didapati sesuai


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 44

dengan pemberitahuan, yaitu note book. Namun uraian barang dalam invoice
mencantumkan spek barang yaitu:
- Thinkpad T 61 A26 Intel Core 2 Duo T8300 Processor, 50 crt, 50 pcs, 80
kgs.
- Thinkpad T 61 A24 Intel Core 2 Duo T8300 Processor, 50 crt, 50 pcs, 80
kgs.
Jika dicermati lebih lanjut terlihat ketidak wajaran jumlah/berat, jenis dan
spesifikasi uraian barang. Informasi dalam dokumen pelengkap pabean
menunjukan bahwa yang dimaksud dengan Note Book adalah komputer jenis
laptop, bukan buku catatan.
Pejabat pemeriksa dokumen harus meminta penjelasan uraian barang,
brosur atau contoh barang. Selanjutnya membuat keputusan atas
pemberitahuan yang diajukan, dengan menerbitkan Surat Penetapan Tarif dan
Nilai Pabean (SPTNP).

3) Keputusan atas kasus-kasus pada penetapan jalur.

Sebagaimana telah dijelaskan pada KB1 diatas bahwa PFPD (Pejabat
Fungsional Pemeriksa Dokumen) menetapkan tarif dan nilai pabean untuk
perhitungan bea masuk dan pungutan impor lainnya ( berdasarkan pasal 16
Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006). Dalam rangka memberikan kepastian
pelayanan kepada masyarakat dalam hal pemberitahuan dokumen impor (PIB)
telah didaftarkan, maka penetapan atas tarif dan nilai pabean harus sudah
diberikan dalam waktu 30 (tiga puluh hari) sejak tanggal pendaftaran PIB. Batas
waktu 30 hari dianggap cukup bagi Pejabat bea dan cukai untuk mengumpulkan
informasi sebagai dasar pertimbangan dalam mengambil keputusan penetapan
tarif dan nilai pabean.
Dalam mengambil keputusan atas dokumen impor, PFPD telah dilengkapi
dengan sarana dan prasarana yang memadai antara lain data profile (profile
komoditi, profile harga, profile importir, dsb) , sehingga keputusan yang diambil
diharapkan dapat dilakukan secara profesional.
Sebagai rambu-rambu Undang-undang Kepabeanan telah menetapkan
aturan bagi Pejabat bea dan cukai dalam menetapkan atau menghitung bea
masuk atau bea keluar. Dalam pasal 113B Undang-undang Kepabeanan


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 45

disebutkan bahwa apabila Pejabat bea dan cukai dalam menghitung atau
menetapkan bea masuk atau bea keluar tidak sesuai dengan Undang-undang
Kepabeanan sehingga mengakibatkan belum terpenuhinya pungutan negara,
Pejabat bea dan cukai dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Dengan adanya pasal tersebut PFPD diharapkan dapat bekerja
profesional, namun PFPD tidak boleh melakukan penetapan secara sewenang-
wenang. Keputusan yang demikian akan merugikan pengguna jasa kepabeanan
dan membuat citra buruk institus Bea dan Cukai.
Pada prinsipnya pembuatan keputusan oleh PFPD yang dilakukan atas PIB
adalah penetapan tarif dan nilai pabean. Disamping tugas penetapan tersebut
PFPD juga melakukan penelitian atas dokumen impor yang meliputi pemenuhan
persyaratan impor. Persyaratan impor tersebut menyangkut perizinan atau
rekomendasi oleh instansi terkait atas importasi barang larangan dan
pembatasan, maupun persyaratan fasilitas kemudahan pelayanan kepabeanan
dan fasilitas pembebasan atau keringanan bea masuk. Sebagai contoh:
- izin impor makanan/minuman/obat-obatan dari Badan POM;
- izin/rekomendasi Karantina khewan/tumbuh-tumbuhan;
- izin/rekomendasi dari Kepolisian, Kejaksaan, dsb;
- Surat Keputusan Pembebasan Bea Masuk dan PDRI dari Menteri
Keuangan;
- SKA/CoO/Model D/Model E dalam hal mendapat preferensi tarif bea
masuk.
Sehubungan dengan tugas-tugas tersebut, berikut ini disampaikan
beberapa kasus yang terjadi dalam proses pengambilan keputusan. Kasus-
kasus meliputi hasil penelitian yang dilakukan atas dokumen impor/PIB yang
mendapatkan penetapan jalur hijau, jalur kuning dan jalur merah. Pada
penetapan jalur MITA pada prinsipnya tidak dilakukan pemeriksaan pabean.
Namun dalam beberapa kasus ditemui adanya pemeriksaan pabean/dokumen
atas jalur MITA non prioritas.






Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 46

C. Kasus-kasus pada penetapan jalur

1) Kasus pada Jalur Hijau.

Pelayanan dokumen PIB dengan penetapan jalur hijau diberikan
berdasarkan variable-variable yang telah ditetapkan, antara lain diberikan
terhadap importasi dengan kategori importir beresiko rendah atau menengah
dengan komoditi beresiko rendah atau menengah. Oleh karena itu pada kasus
jalur hijau hanya dilakukan penelitian dokumen setelah barang diberikan izin
keluar.
Penelitian pemenuhan persyaratan atas impor barang larangan dan
pembatasan dilakukan pada saat data diterima oleh pabean (sistem aplikasi
pelayanan pabean) dan diberikan keputusan pada hari yang sama.
Walaupun demikian pada hakekatnya dokumen yang diajukan oleh
importir/ yang berkepentingan tidak tertutup kemungkinan terjadi antara lain
adanya kesalahan, baik berupa pengisian data pada dokumen tentang tarif dan
harga maupun pemenuhan persyaratan impor.
Adakalanya pada penetapan jalar hijau, pemberitahuan impor terkena
random pemeriksaan melalui X-Ray. Dalam hal tersebut jika diperlukan
pemeriksaan fisik, maka penetapan hasil pemeriksaan fisik dilakukan oleh PFPD.
Berikut ini beberapa contoh kasus pada penetapan jalur hijau:
a. Barang larangan dan/atau pembatasan
Importir menyampaikan berkas PIB dan dokumen pelengkap pabeannya
setelah SPPB diterbitkan. PFPD meneliti berkas PIB dan dokumen
pelengkap pabeannya.
Dalam PIB kolom uraian barang tercantum jenis barang sebagai berikut:
Boneless Beef Chock, 660 ctns, 15.053 kgs, origin: India
Check profile barang larangan/pembatasan.
Hasil penelitian pada Analyzing Point barang tersebut merupakan barang
yang dilarang diimpor. Berdasarkan hal tersebut kepada importir diberikan
respon/informasi setentangnya dengan Nota Pemberitahuan. Nota
Pemberitahuan ini juga disampaikan ke unit Penindakan. Importir diminta
mereekspor barang tersebut; atau memusnahkannya dibawah pengawasan
instansi terkait.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 47

b. Nilai Pabean
Importir menyampaikan berkas PIB dan dokumen pelengkap pabeannya
setelah SPPB diterbitkan. PFPD meneliti berkas PIB dan dokumen
pelengkap pabeannya.
Dalam PIB diberitahukan jenis dan jumlah barang sbb:
Fresh Ponkam Mandarins ( jeruk keprok segar ). Jumlah barang: 15.900
Ctns @ 9 Kgs/Ctn.
SPPB sudah diterbitkan dan barang sudah keluar. Penelitian atas berkas IB
kedapatan harga barang sebagaimana tercantum dalam invoice CIF USD
8,30/ctn. Data banding Profil Harga Pusat untuk barang yang sama CIF
USD 9,70/ctn. Namun karena profile importir maupun profile komodity
resiko rendah (low risk), terhadap importir tidak disampaikan INP (Informasi
Nilai Pabean). Dalam hal komoditi termasuk kategori mdium risk, importir
akan diberikan INP. Apabila pernyataan nilai pabean (Deklarasi Nilai
Pabean) tidak dapat diterima, PFPD akan menetapkan nilai pabean sesuai
tatacara penetapan nilai pabean; dan selanjutnya akan membuat Notul.
c. Tarif
Importir menyampaikan berkas PIB dan dokumen pelengkap pabeannya
setelah SPPB diterbitkan. PFPD meneliti berkas PIB dan dokumen
pelengkap pabeannya.
Dalam PIB diberitahukan jenis dan jumlah barang:
10 ML Bigen Amber Empty Bottle (botol kosong warna coklat) uk. 10 ml.
Jumlah barang: 18 pallet @ 312 pack @ 195 pcs . Pos tarif: 7010.90.9000
BM: 5%.
SPPB sudah diterbitkan dan barang sudah keluar. Penelitian atas berkas
PIB dan dokumen pelengkapnya kedapatan uraian jenis barang
diberitahukan kurang jelas, apakah botol kaca ataukah botol plastik. Sesuai
ketentuan dalam menginterpretasi tarif beserta catatan Bab dan Bagian,
barang-barang dari plastik masuk dalam Bab plastik, yaitu pos tarif
3923.30.9000 BM: 20%. Dalam hal ini importir akan diminta menyampaikan
penjelasan uraian barang. Apabila ternyata barang tersebut terbuat dari
plastik, PFPD akan menetapkan tarif barang sesuai tatacara penetapan tarif;
dan selanjutnya akan membuat Notul.



Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 48

d. Bea Masuk Tambahan
Importir menyampaikan berkas PIB dan dokumen pelengkap pabeannya
setelah SPPB diterbitkan. PFPD meneliti berkas PIB dan dokumen
pelengkap pabeannya.
Dalam PIB diberitahukan jenis dan jumlah barang:
Hot Rolled Coil
Jumlah barang 18 coil, 46,8000 MT
Origin China, Pemasok: Angang Steel Company Ltd
SPPB sudah diterbitkan dan barang sudah keluar. Penelitian atas berkas
PIB dan dokumen pelengkapnya kedapatan jenis barang yang diberitahukan
masuk dalam pos tarif 7208.26, terkena bea masuk anti dumping sebesar
25,18%. Apabila ternyata atas barang tersebut belum dibayar bea masuk
tambahannya, PFPD akan menetapkan tarif barang sesuai tarif bea masuk
anti dumping; menghitung bea masuk dan PDRInya dan selanjutnya akan
membuat Notul. Notul dibuat secara manual karena tidak ada programnya
dalam sistem aplikasi.
Sebagai tambahan, selain penetapan Notul secara manual atas barang yang
terkena Bea Masuk Anti Dumping/Bea Masuk Imbalan, pembuatan Notul
secara manual juga dilakukan dalam hal pelanggaran dalam pemberitahuan
pabean yang mengakibatkan pengenaan denda sebesar Rp 5.000.000,-
sebagaimana diatur dalam pasal 114 Undang-undang Kepabeanan.

2) Kasus pada Jalur Kuning.

Berbeda dengan penetapan jalur hijau, terhadap dokumen impor dengan
penetapan jalur kuning dilakukan penelitian atas hard copy dokumen impor
beserta dokumen pelengkap pabeannya sebelum diberikan SPPB (Surat
Persetujuan Pengeluaran Barang Impor). Penelitian meliputi kelengkapan
dokumen yang dipersyaratkan dan keabsahannya. Untuk dapat memberikan
keputusan atas hasil penelitian atau penetapan tarif dan nilai pabean, PFPD
memerlukan data/uraian barang yang lengkap. Dalam hal demikian kadang-
kadang diperlukan tambahan penjelasan uraian barang. Adakalanya penelitian
dokumen yang diserahkan oleh importir atau penjelasan uraian barang tidak


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 49

memuaskan Pejabat bea dan cukai sehingga diperlukan pengambilan contoh
barang.
Berikut ini beberapa kasus pada penetapan jalar kuning :
a. Kelengkapan dokumen
Dalam PIB diberitahukan jenis dan jumlah barang: Indian soyabean
meal/bahan baku pakan ternak. Jumlah barang: 11 x 40 FCL, 5885 bags
@ 50 kgs, total 295.950 MTS Gross Net. Sesuai ketentuan yang berlaku
pemasukan bahan baku pakan ternak tersebut memerlukan perizinan dari
instansi terkait. Penelitian atas berkas PIB dan dokumen pelengkapnya
kedapatan beberapa dokumen yang belum dilampirkan pada PIB, yaitu:
invoice, B/L, Surat Keterangan dari Karantina Tanaman, Surat Keterangan
dari Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan. Dalam hal ini
importir akan diminta menyampaikan dokumen pelengkap pabean tersebut.
Apabila dokumen terkait telah disampaikan, PFPD akan meneliti dokumen
pelengkap pabean, menetapkan tarif dan nilai pabean atas barang tersebut
sesuai tatacara penetapan tarif dan nilai pabean; dan selanjutnya akan
menerbitkan SPPB.
b. Uraian barang
Dalam PIB diberitahukan jenis dan jumlah barang: Australia Red Globe
brand, 1 cont 1000 box, weight 20.610 kgs. Penelitian atas berkas PIB dan
dokumen pelengkapnya kedapatan barang hasil pertanian berupa anggur.
Namun uraian barang kurang jelas apakah anggur segar, anggur kering,
anggur dalam kaleng/olahan dsb. Dalam hal ini importir akan diminta
menyampaikan penjelasan uraian barang tersebut. Apabila penjelasan
telah disampaikan, PFPD akan menetapkan tarif dan nilai pabean atas
barang tersebut sesuai tatacara penetapan tarif dan nilai pabean, meneliti
persyaratan impornya; dan selanjutnya akan menerbitkan SPPB.
c. Barang larangan dan pembatasan
Dalam PIB diberitahukan jenis dan jumlah barang:
1 set AK- SL Dual Flow Used Dyeing Machine, Model AK-SL 250 incl. Acc.
Penelitian atas berkas PIB dan dokumen pelengkapnya (invoice dan packing
list) kedapatan machine tersebut sebagai used machine mesin bekas).
Persyaratan untuk mengimpor barang/mesin bekas adalah dengan izin
Departemen Perdagangan. Importir diminta menyerahkan perizinan terkait


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 50

dalam jangka waktu 3 hari kerja, dengan Nota Pemberitahuan. Apabila
persyaratan dipenuhi, PFPD merekam izin dimaksud kedalam sistem
aplikasi untuk penerbitan SPPB, namun jika tidak dipenuhi PFPD
meneruskan berkas PIB dan Nota Pemberitahuan kepada Seksi
Penindakan.
d. Nilai Pabean
Dalam PIB diberitahukan jenis dan jumlah barang:
1x40 HC Container STC 400 Cartons Various Rubber Product, Air Filled
Rubber Cot Sheet, grade 2, size: 90x60 cm, origin: Malaysia. Jumlah barang:
400 Ctns, 14.400 pcs.
Penelitian atas berkas PIB dan dokumen pelengkapnya kedapatan barang
berupa perlak bayi. Harga dalam invoice CNF USD 0,92/pc Total USD
13,248.00. Dokumen pelengkap pabean dilampirkan. Dalam penelitian DBH
I (profle harga pusat) tidak didapatkan data barang identik maupun serupa.
Nilai pabean tidak dapat diterima (metode I) gugur, penelitian dilanjutkan
dengan menggunakan metode II sampai VI. Dari data importasi yang ada
pada Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (Men Laporan Harian
PFPD), didapatkan data sebagai berikut:
No. PIB Tanggal Importir Uraian Neg.Asal Harga
1. 0046xx 04/01/08 PT. X Air Filled Rub-
ber Cot Sheet
90 x 60 cm
Malaysia USD
1.50
2. 0057xx 07/03/08 PT. Y Air Filled Rub-
ber Cot Sheet
90 x 60 cm
Malaysia USD
1.50
3. 0078xx 12/06/08 PT. Z Air Filled Rub-
ber Cot Sheet
90 x 60 cm
Malaysia USD
1.50
Catatan: tidak ada keterangan kualifikasi (grade ) barang
Hasil pengujian kewajaran nilai pabean (dituangkan pada lembar formulir
BCF 2.7) tidak wajar. Penelitian atas profile importir, mdium risk.
Dari hasil penelitian tersebut PFPD menetapkan nilai pabean atas importasi
barang tersebut diatas berdasarkan metode VI sebesar USD 21,168,00 dan
selanjutnya akan membuat Notul.
e. Tarif
Dalam PIB diberitahukan jenis dan jumlah barang, yaitu:


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 51

Oil Filter, bagian dari mesin piston pembakar dalam, RH.1302; jumlah 375
Ctn @ 1 pc = 375 pcs. Origin: Japan. Pos tarif BTBMI atas barang tersebut
HS: 8409.91.1900 BM: 0 %, PPN: 10%.
Hasil penelitian dokumen khususnya pada uraian barang, walaupun oil filter
merupakan bagian dari mesin namun sesuai ketentuan menginterpretasi tarif
khususnya catatan bagian yaitu bagian untuk pemakaian umum, oli filter
masuk kedalam pos HS 8421.23.9100, BM: 5%, PPN: 10%. Dari hasil
penelitian tersebut PFPD menetapkan tarif atas barang tersebut sesuai
BTBMI dan selanjutnya akan membuat Notul.
f. Fasilitas
Dalam PIB diberitahukan jenis dan jumlah barang:
Fresh Ya Pears (buah pir segar) 1.283 Ct @ 18 kgs/Ctn. Origin: China.
Pos tarif BTBMI atas barang tersebut: 0808.20.0000 BM: 5%, PPN: 10%.
Importasinya mendapatkan pembebasan bea masuk berdasarkan preferensi
tarif Asean PTAs.
Hasil penelitian atas berkas PIB dan dokumen pelengkapnya kedapatan
dokumen pelengkap pabean telah dilampirkan termasuk surat izin karantina.
Namun Surat Keterangan Asal (SKA/Form E) atau Certificate of Origin (CoO)
belum dilampirkan. Persyaratan untuk mendapatkan tarif preferensi adalah
menyerahkan CoO. Oleh karena itu importir diminta menyerahkan CoO
yang diterbitkan oleh Institusi terkait di luar negeri. Apabila dokumen yang
diminta telah disampaikan, PFPD akan meneliti keabsahan dokumen dan
persyaratan impor lainnya; dan selanjutnya akan menerbitkan SPPB.

3) Kasus pada Jalur Merah.

Pengajuan pemberitahuan impor yang ditetapkan jalur merah menimbukan
respon SPJM (Surat Pemberitahuan Jalar Merah) bagi importir. Dalam hal
demikian importir wajib menyampaikan hard copy PIB deserta dokumen
pelengkap pabean dan menyiapkan barang untuk diperiksa. Laporan hasil
pemeriksaan fisik (LHP) akan dibandingkan dengan pemberitahuan pabean (PIB)
dan menjadi acuan atau dasar untuk melakukan penetapan atau keputusan atas
impor barang dimaksud. Hasil keputusan bisa menghasilkan berbagai
kemungkinan.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 52

Contoh:
- Pemeriksaan pabean sesuai dengan pemberitahuan (PIB), diterbitkan SPPB
(Surat Persetujuan Pengeluaran Barang);
- Pemeriksaan pabean tidak sesuai dengan pemberitahuan, dapat diterbitkan
INP (Informasi Nilai Pabean), Notul (Nota Pembetulan), atau Nota
Pemberitahuan;
- Pemeriksaan pabean atas PIB impor sementara tidak sesuai, dapat
diterbitkan pemberitahuan perbaikan izin fasilitas impor sementara.
Pemeriksaan pabean tidak sesuai dengan pemberitahuan dapat disebabkan
antara lain oleh adanya :
- Jumlah dan jenis barang yang menyebabkan adanya kemungkinan tambah
bayar kekurangan bea masuk, maupun kesalahan tarif dan nilai pabean
yang merugikan keuangan negara. Dalam hal demikian barang impor
diselesaikan dengan cara melunasi pungutan impor yang selanjutnya
diberikan SPPB; atau menyerahkan jaminan selanjutnya diterbitkan SPPB.
Dalam hal kesalahan tersebut mengakibatkan kerugian terhadap
importir/yang bersangkutan, selayaknya pemberitahuan disampaikan kepada
importir.
- Barang larangan dan pembatasan
Dalam hal dari hasil pemeriksaan pabean ditemukan adanya jenis barang
yang termasuk dalam golongan barang LARTAS (barang larangan dan
pembatasan) yang tidak diberitahukan atau diberitahukan tidak benar, maka
PFPD memberitahukan kepada yang bersangkutan dengan Nota
Pemberitahuan dan selanjutnya diserahkan kepada unit Pengawasan untuk
penyelesaian lebih lanjut.
Berikut ini beberapa kasus pada penetapan jalur merah:
a. Kesalahan pemberitahuan jenis barang.
Dalam PIB diberitahukan jenis dan jumlah barang:
Barang-barang keramik, 38 Ctns, 5.700 sets Ceramic Short, dengan
perincian sbb:
- Ceramic Short (M) 14 CT, 2.100 sets;
- Ceramic Short (L) 14 CT, 2.100 sets;
- Ceramic Short (LL) 10 CT, 1.500 sets.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 53

Hasil pemeriksaan fisik : 38 Carton, 5700 set pakaian dalam (under wear
product),yaitu: Panty, Cotton Polyurethane, 95%-5%, knitted, Ladies,
Ceramic Short, Dyed, made in : Japan.
Under wear termasuk barang yang impornya memerlukan NPIK (Nomor
Pengenal Importir Khusus). Untuk mengimpor pakaian/tekstile dan produk
tekstile juga harus dengan pemeriksaan surveyor (Laporan Surveyor).
Hasil penelitian atas berkas PIB dan dokumen pelengkapnya kedapatan
sesuai. Dokumen pelengkap pabean yang belum dilampirkan adalah
Laporan Surveyor dan NPIK. PFPD menerbitkan Nota Pemberitahuan atas
dokumen yang dipersyaratkan tersebut. PFPD meneliti dan menetapkan
tarif dan nilai pabean atas produk tekstile tersebut sesuai hasil pemeriksaan
pabean, membuat Notul dan penetapan denda administrasi. Jika
kekurangan bea masuk atas importasi tersebut mengakibatkan kurang bayar
lebih dari 500%, berkas PIB dan Notul disampaikan kepada Kasi Penidakan
untuk ditindaklanjuti.
b. Kesalahan pemberitahuan jumlah barang.
Dalam PIB diberitahukan jenis dan jumlah barang: Japanese Wheat Flour
Fuji brand / tepung terigu. 10 Cont. 7.200 bags 180.000 M/T. Hasil
pemeriksaan fisik barang (LHP) jenis/spesifikasi barang sesuai, jumlah
barang 8.200 bags @ 25 kgs. Hasil penelitian atas berkas PIB dan
dokumen pelengkapnya kedapatan dokumen pelengkap pabean telah
dilampirkan termasuk Surat Izin Karantina Tumbuhan dan Surat Persetujuan
Pendaftaran dari Badan POM. PFPD menetapkan tarif dan Nilai Pabean,
serta perhitungan kurang bayar pungutan impor atas kesalahan jumlah
tersebut dan menerbitkan Notul.
c. Kesalahan tarif
Dalam PIB diberitahukan jenis dan jumlah barang: Marble Slabs, 60 x 60 cm,
sbb:


Type Descriptions Qty (M2) Qty (Pallet) GW
X-1 Select Beech 950,40 M2 8 Pallet 14.496 MT
X-2 Elegant Maple 1.425,60 M2 12 Pallet 22.744 MT



Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 54

Hasil pemeriksaan fisik kedapatan jumlah, jenis dan type barang sesuai.
Hasil penelitian atas berkas PIB dan dokumen pelengkapnya kedapatan
dokumen pelengkap pabean telah dilampirkan termasuk persyaratan
impornya. Hasil penelitian DNP dan profile harga, dapat diterima. Dalam PIB
tarif diberitahukan masuk dalam pos HS 2515.12.2000 yaitu: Marmer dalam
bentuk slab. Pungutan Bea Masuk: 5 %, PPN: 10 %.
Hasil penelitian atas contoh barang merupakan bahan bangunan rumah,
berupa marmer yang siap digunakan, sehingga masuk dalam pos HS
6802.91.0000; Bea masuk 15 %, PPN: 10 %. Dari hasil penelitian tersebut
PFPD menetapkan tarif dan Nilai Pabean, serta perhitungan kurang bayar
pungutan impor atas kesalahan tarif tersebut dan menerbitkan Notul.
d. Kesalahan harga.
Dalam PIB diberitahukan jenis dan jumlah barang:
1x40 HC Container yaitu CO2 Welding Wire in Roll (kawat baja dalam roll,
dipakai untuk industri otomotif) origin: China. Tipe: MG-51T Uk.1.0 MM.
Jumlah barang 14 pallets @ 60 Ctns @ 1 spool @ 20 kgs. Total 840 spool =
16.800 kgs. Unit Price C&F USD 1,117/kg
Penelitian atas berkas PIB dan dokumen pelengkapnya kedapatan jumlah,
jenis dan ukuran/spek barang sesuai. Harga dalam invoice CNF USD
1,117/kg Total USD 18,765.60. Dokumen pelengkap pabean dilampirkan,
termasuk DNA (Deklarasi Nilai Pabean). Dalam penelitian DBH I (profle
harga pusat) tidak didapatkan data barang identik maupun serupa. Nilai
pabean tidak dapat diterima (metode I) gugur, penelitian dilanjutkan dengan
menggunakan metode II sampai VI. Dari data importasi yang ada pada
Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (Men Laporan Harian PFPD),
didapatkan data sebagai berikut:
No. PIB Tanggal Importir Uraian Neg.Asal Harga
1. 0055xx 07/01/08 PT. A Welding Wire in
Roll - MG-51T
Uk.1.0 MM
China USD
1.35
2. 0077xx 09/03/08 PT. B Welding Wire in
Roll - MG-51T
Uk.1.0 MM
China USD
1.35
3. 0088xx 11/06/08 PT. C Welding Wire in
Roll - MG-51T
Uk.1.0 MM
China USD
1.35



Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 55

Hasil pengujian kewajaran nilai pabean (dituangkan pada lembar formulir
BCF 2.7) tidak wajar. Penelitian atas profile importir, high risk.
Dari hasil penelitian tersebut PFPD menetapkan nilai pabean atas importasi
barang tersebut diatas berdasarkan metode VI sebesar USD 22,680.00 dan
selanjutnya akan membuat Notul.
e. Barang larangan dan pembatasan.
Dalam PIB diberitahukan jenis dan jumlah barang sebagai berikut:
50 bdls, 6000 set pakaian jadi (blouse, shirt, jacket, trouser), made in :
China. Importir barang tersebut telah melampirkan fotocopy NPIK (Nomor
Pengenal Importir Khusus).
Hasil penelitian atas berkas PIB dan dokumen pelengkapnya kedapatan
dokumen pelengkap pabean telah dilampirkan kecuali Laporan Pemeriksaan
Surveyor (LS). Dalam LHP (Laporan Hasil Pemeriksaan Fisik) dilaporkan
kedapatan jumlah, jenis barang sesuai, namun kondisi barang bekas pakai.
Sesuai ketentuan Departemen Perdagangan baju bekas dilarang diimpor.
Atas temuan tersebut, PFPD menerbitkan Nota Pemberitahuan, selanjutnya
PFPD meneruskan berkas PIB dan Nota Pemberitahuan kepada Seksi
Penindakan.

4) Kasus pada Jalur MITA.

Pelayanan yang diberikan terhadap importir yang memperoleh fasilitas
Jalur MITA terdiri dari :
- MITA Prioritas; dan
- MITA Non Prioritas.
Pada prinsipnya terhadap PIB yang ditetapkan jalur MITA tidak dilakukan
pemeriksaan pabean. Namun demikian dalam kasus tertentu dapat terjadi pada
pengajuan pemberitahuan oleh importir MITA Non Prioritas dilakukan
pemeriksaan pabean. Pemeriksaan atas berkas PIB dan dokumen pelengkap
pabean dilakukan sebelum diberikan persetujuan pengeluaran barang.
Berikut ini beberapa kasus pada penetapan jalur MITA Non Prioritas:
a. Pemenuhan persyaratan impor dan kesalahan penempatan pos tarif.
Terhadap barang-barang tertentu atas importasi dengan fasilitas jalur MITA
non Prioritas dilakukan pemeriksaan pabean, sehingga masuk kedalam


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 56

pelayanan jalur kuning. Dalam hal ini importir wajib menyerahkan dokumen
PIB beserta dokumen pelengkap pabeannya. PFPD akan meneliti berkas
dokumen, meminta dokumen perizinan dan jika diperlukan akan meminta
tambahan uraian barang. Sebagai contoh seperti berikut ini:
Dalam PIB diberitahukan jenis dan jumlah barang: Laminate Flooring/lantai
kayu, yaitu:
- Laminate Flooring Board BII RC 8MM, Normal Texture 480 box, 950.400
Sqm. - Laminate Flooring Board M23 RC 8MM, Normal Texture 720 box,
1,425.600 Sqm.
- Laminate Flooring Board ZE11 RC 8MM, Deep Emboss 120 box, 237.600
Sqm.
Hasil pemeriksaan fisik kedapatan jumlah, jenis dan type barang sesuai.
Hasil penelitian atas berkas PIB dan dokumen pelengkapnya kedapatan
dokumen pelengkap pabean yang belum dilampirkan yaitu persyaratan
impor/izin dari Karantina Tumbuhan. Hasil penelitian DNP dan profile harga,
dapat diterima. Dalam PIB tarif diberitahukan masuk dalam pos HS
4411.99.9000 yaitu: papan fiber dari kayu atau bahan mengandung lignin
lainnya, direkatkan dengan resin atau bahan organik lainnya maupun tidak,
dikerjakan secara mekanik atau dilapisi permukaannya; Bea masuk 5%.
Hasil penelitian lamnate flooring merupakan bahan bangunan rumah dari
kayu, berupa lantai papan yang siap digunakan, sehingga masuk dalam pos
HS 4418.90.9000; Bea masuk 10%. Dari hasil penelitian tersebut PFPD
menetapkan tarif dan Nilai Pabean, serta perhitungan kurang bayar
pungutan impor atas kesalahan tarif tersebut dan menerbitkan Notul.
b. Barang larangan dan pembatasan, Bahan kimia dan obat-obatan.
Terhadap importasi barang lartas, termasuk juga bahan kimia tertentu dan
obat-obatan, importir harus menyampaikan izin terkait. Jika izin tidak
dipenuhi maka barang tidak boleh diimpor. Namun adakalanya terhadap
barang-barang kesehatan tidak diperlukan izin terkait.
Sebagai contoh seperti berikut ini:
Dalam PIB diberitahukan jenis barang:
Din 32 mm Infusion Stopper Chlorobutyl Grey Ultraclean 6 Washing With
Highly Purified Water Rinsed With WF1 Ready to Sterilize, C 1359 6422 GS
6, French Origin. Jumlah barang: 6 Pallet STC 192 boxes


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 57

Hasil penelitian atas berkas PIB dan dokumen pelengkapnya kedapatan
dokumen pelengkap pabean telah dilampirkan. Berdasarkan contoh barang
yang diajukan kedapatan barang berupa produk Rubber Dropper Bulb dan
Rubber Stopper (sumbat botol), yang digunakan dalam proses produksi obat
sebagai penutup vial. Sesuai ketentuan Departemen Kesehatan dan surat
rekomendasi (yang dilampirkan pada PIB) dari Direktorat Jenderal Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Direktorat Bina Produksi dan Distribusi
Alat Kesehatan, produk tersebut tidak perlu didaftarkan sebagai alat
kesehatan. Atas hasil penelitian tersebut, PFPD menerbitkan SPPB.
c. Impor sementara, salah jumlah/jenis
Terhadap importasi barang impor sementara, respon yang diberikan kepada
importir jalur MITA non Prioritas adalah SPJM (Surat Pemberitahuan Jalur
Merah). Dalam hal ini importir harus menyiapkan PIB dan dokumen
pelengkap pabean serta menyiapkan pemeriksaan barang. Pelaksanaan
pemeriksaan fisik barang dapat dilakukan di lokasi importir. Sebagai contoh
seperti berikut ini:
Dalam PIB diberitahukan jenis barang:
AK SL Dual Flow Dyeing Machine Model: AK-SL250, Made in Taiwan.
Jumlah barang: 1 pallet, 1 set, 3,420 Kgs.
Hasil penelitian atas berkas PIB dan dokumen pelengkapnya kedapatan
dokumen pelengkap pabean telah dilampirkan. Berdasarkan LHP yang
diajukan kedapatan barang berupa Dyeing Machine beserta accessories
buatan Kingdom. Atas kesalahan pemberitahuan tersebut pihak importir
tidak dikenakan denda tetapi harus mengajukan permohonan
perubahan/penyesuaian izin impor sementaranya serta penyesuaian
jaminannya.

2.2. Latihan 2

1) Jelaskan apa tujuan dari penelitian atas dokumen impor (PIB dan
dokumen pelengkap pabean) yang diajukan oleh importir.
2) Jelaskan seberapa jauh kelengkapan penulisan uraian barang penting
bagi PFPD dalam rangka melakukan penetapan tarif dan nilai pabean;
beri contoh dalam hal penetapan dokumen jalur merah.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 58

3) Jelaskan seberapa jauh penelitian atas jumlah/kemasan barang penting
bagi PFPD dalam rangka melakukan penetapan tarif dan nilai pabean;
beri contoh dalam hal penetapan dokumen jalur merah.
4) Jelaskan siapa yang melakukan penelitian persyaratan impor atas
pengajuan pemberitahuan impor (cusdec); dan bagaimana kaitannya
dengan penerapan NSW (National Single Window) pada sistem aplikasi
kepabeanan.
5) Bagaimana tindak lanjutnya terhadap penelitian dokumen, jika ternyata
dari hasil pemeriksaan fisik kedapatan:
- barang diberitahukan kecap kedapatan mobil;
- barang diberitahukan pakaian anak-anak eks China kedapatan baju
bekas.
6) Jelaskan apa yang dimaksud dengan dokumen pelengkap pabean dan
dokumen pelengkap pabean lainnya; sebutkan contoh-contohnya.
7) Pada prinsipnya barang-barang yang diberikan fasilitas pembebasan dan
keringanan bea masuk sudah ditetapkan dalam Undang-undang
Kepabeanan. Sebutkan importasi barang yang mendapat fasilitas tersebut
dan apa syarat-syaratnya.
8) Terhadap pemberitahuan dokumen impor, Pejabat Fungsional Pemeriksa
Dokumen (PFPD) melakukan penetapan atas tarif dan nilai pabean.
Jelaskan bagaimana cara PFPD mengambil keputusan atas
pemberitahuan impor; alat apa yang dapat digunakan dalam proses
pengambilan keputusan.
9) Dalam mengambil keputusan Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen
diharapkan dapat bekerja secara profesional berdasarkan data/informasi
yang ada. Apa akibatnya jika dalam mengambil keputusan tidak sesuai
ketentuan sehingga mengakibatkan belum terpenuhinya pungutan
negara.
10) Jelaskan tindakan yang diambil oleh Pejabat Fungsional Pemeriksa
Dokumen dalam hal
- pada penelitian dokumen jalur hijau diragukan nilai pabeannya.
- pada penelitian dokumen jalur kuning ditemui barang impor berupa
barang larangan dan pembatasan.
- pada penelitian dokumen jalur merah diragukan nilai pabeannya.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 59

- pada penelitian dokumen jalur merah terdapat sejumlah barang yang
tidak diberitahukan dalam PIB.
- pada penelitian dokumen jalur merah terdapat barang larangan dan
pembatasan yang tidak diberitahukan dalam PIB.

2.3. Rangkuman

1. Pada intinya tugas penelitian dokumen pabean adalah untuk mengetahui
apakah dokumen pabean yang diajukan oleh importir benar dan telah
memenuhi persyaratan. Dalam hal tertentu pemeriksaan dokumen impor
dibantu dengan hasil pemeriksaan fisik barang.
2. Barang Pengujian atas kebenaran data pemberitahuan impor tersebut
difokuskan pada penelitian uraian barang yang meliputi jumlah, jenis, berat,
ukuran dan spesifikasi barang lainnya. Penelitian data tersebut berkaitan
dengan pemungutan bea masuk dan pemenuhan persyaratan impor.
3. Penelitian uraian barang tidak semata-mata dilihat dari lengkap dan
panjangnya uraian spesifikasi barang, tetapi harus dilihat apakah dari
uraian barang tersebut dapat dimasukan dalam pos tarif yang tepat. Jika
dari uraian barang kemungkinan dapat masuk dalam beberapa pos tarif
atau masuk dalam pos tarif lain, maka harus diminta penjelasan data
barang yang terkait dengan uraian pos tarif dimaksud.
4. Penelitian atas pemenuhan persyaratan impor dilakukan oleh PFPD pada
saat data PIB diajukan oleh importer melalui PDE (Pengajuan Dokumen
secara Elektronik).
5. Barang impor yang terkena peraturan larangan dan pembatasan yang tidak
diberitahukan atau diberitahukan tidak benar dalam PIB, maka hal tersebut
diberitahukan kepada Kasi penindakan untuk diproses lebih lanjut. Barang
tersebut statusnya menjadi barang yang dikuasai Negara.
6. Dokumen pelengkap pabean/keputusan pemberian fasilitas pembebasan
atau keringanan bea masuk yang dilampirkan pada PIB dapat berupa M/L,
Surat Keputusan dari DJBC ataupun dari instansi lain seperti: Departemen
Keuangan, M/L( Master List), SKA/Form D/Form E, SKB PPh.Psl.22.
7. Sebelum mengajukan dokumen impor (Pemberitahuan Impor Barang),
importir harus memperoleh Surat Keputusan Pemberian Pembebasan dan


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 60

Keringanan Bea Masuk yang akan dilampirkan pada dokumen PIB yang
bersangkutan. Apabila Surat Keputusan pembebasan dimaksud tidak
diperoleh, maka importir harus melunasi seluruh pungutan impor yang
terutang, yang meliputi pembayaran Bea Masuk dan Pajak Dalam Rangka
Impor.
8. Dalam rangka mengambil keputusan atas dokumen impor, PFPD telah
dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai antara lain data
profile, sehingga keputusan yang diambil diharapkan dapat dilakukan
secara profesional.
9. Pada prinsipnya pembuatan keputusan oleh PFPD dilakukan atas
penetapan tarif dan niali pabean. Disamping tugas penetapan tersebut
penelitian atas dokumen impor juga meliputi pemenuhan persyaratan
impor.
10. Pada penetapan jalur merah, hasil pemeriksaan fisik akan dibandingkan
dengan pemberitahuan pabean (PIB) dan menjadi acuan atau dasar untuk
melakukan penetapan atau keputusan atas impor barang dimaksud. Hasil
keputusan bisa menghasilkan berbagai kemungkinan, bisa mengakibatkan
salah jumlah, salah jenis, harga maupun tarif pos, serta kemungkinan
berkaitan dengan perizinan dan pemenuhan persyaratan lainnya..

2.4. Test Formatif 2

Lingkarilah jawaban yang Saudara anggap benar dalam pertanyaan
dibawah ini.

1. Pengisian dan pengajuan pemberitahuan dokumen impor sepenuhnya
dilakukan oleh importir dalam hal dokumen impor berupa:
a. PIB
b. PIBK
c. CD dan PPKP
d. Semua jawaban benar
2. Terhadap dokumen impor oleh MITA Prioritas :
a. Dapat dilakukan pemeriksaan pabean
b. Tidak dapat dilakukan pemeriksaan pabean.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 61

c. Dapat dilakukan pemeriksaan pabean jika ada NHI.
d. Dapat dilakukan pemeriksaan dokumen/jalur kuning.
3. Penelitian dokumen pabean dilakukan untuk mengetahui:
a. Pelunasan bea masuk dan PDRI
b. Kebenaran tarif dan nilai pabean.
c. Pemenuhan persyaratan pabean.
d. Semua jawaban benar.
4. Penelitian atas pemberitahuan impor harus memenuhi tahap:
a. Penyerahan dokumen dan dokumen pelengkap pabean
b. Pemeriksaan fisik.
c. Dilakukan pemeriksaan dokumen dan fisik.
d. Dapat dilakukan tanpa pemeriksaan dokumen dan fisik.
5. Pengujian kebenaran data pemberitahuan impor difokuskan pada
penelitian:
a. Uraian barang
b. Jumlah, jenis barang.
c. Berat, ukuran, spesifikasi barang.
d. Semua jawaban benar.
6. Unsur-unsur penetapan bea masuk adalah:
a. Tarif dan nilai pabean
b. Berat barang.
c. Uraian barang.
d. Jumlah, jenis, ukuran dan spesifikasi barang.
7. Jika importir sudah ditetapkan jalur hijau dan barang sudah dikeluarkan
maka:
a. Tarif dan nilai pabean diterima.
b. Tarif dan nilai pabean dapat ditolak/ditetapkan lain.
c. Tidak perlu menyerahkan hardcopy PIB.
d. PIB difile.
8. Dalam hal laporan hasil pemeriksaan fisik uraian barang diragukan, maka
untuk kepentingan penetapan tarif dan nilai pabean, PFPD:
a. Menetapkan berdasarkan data PIB dan dokap.
b. Menetapkan berdasarkan data LHP.
c. Minta data tambahan dari importir.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 62

d. Mengembalikan LHP untuk dilengkapi.
9. Pada pemberitahuan impor diberitahukan 10 set furniture set berupa
perangkat kamar tidur, masing-masing terdiri dari tempat tidur ukuran
double lengkap dengan dua buah nakas. Uraian barang tersebut:
a. Dapat diterima karena sudah cukup jelas.
b. Tidak dapat diterima karena ukuran tempat tidur tidak jelas.
c. Tidak dapat diterima karena ukuran dan berat tidak jelas.
d. Tidak dapat diterima karena bahan dasar tidak jelas.
10. Jenis barang/packing dapat dijadikan langkah awal untuk melakukan
penelitian. Dalam pemberitahuan, kemasan barang dapat
mempengaruhi:
a. Penempatannya pada pos tarif.
b. Nilai pabean/harga barang.
c. Tarif dan nilai pabean.
d. Persyaratan impor.

11. Pemeriksaan persyaratan impor atas suatu komoditi merupakan:
a. Hambatan perdagangan.
b. Upaya untuk menambah pendapatan negara.
c. Kebijakan untuk mengawasi impor.
d. Untuk perlindungan/kepentingan dalam negeri.
12. Barang larangan dan pembatasan yang tetap diimpor:
a. Menambah pendapatan negara
b. Menambah pendapatan importir/pedagang .
c. Menambah pendapatan masyarakat.
d. Merugikan masyarakat.
13. Barang larangan dan pembatasan yang diberitahukan dalam PIB pada
hasil pemeriksaan fisik kedapatan selisih lebih jumlah barang yang
diizinkan:
a. Perlu ada izin instansi terkait
b. Cukup menggunakan izin yang sudah ada .
c. Ditetapkan sebagai barang tidak dikuasai.
d. Ditetapkan sebagai barang yang dikuasai negara.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 63

14. Barang larangan dan pembatasan yang tidak diberitahukan dalam PIB
pada hasil pemeriksaan fisik kedapatan selisih lebih jumlah barang :
a. Perlu ada izin instansi terkait
b. Dikenakan tambah bayar dan sanksi administrasi.
c. Ditetapkan sebagai barang tidak dikuasai.
d. Ditetapkan sebagai barang yang dikuasai negara.
15. Fasilitas pembebasan atau keringanan bea masuk sesuai Undang-
undang Kepabeanan antara lain berupa:
a. Fasilitas KITE
b. KB (Kawasan Berikat) .
c. GSP (General System of Preference).
d. Vooruitslag.

2.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan hasil jawaban Saudara diatas dengan kunci jawaban yang terdapat di
modul ini. Hitung jawaban Saudara dengan benar. Kemudian gunakan rumus
untuk mengetahui tingkat pemahaman Saudara terhadap materi penelitian
dokumen impor, sebagai berikut:.

TP = Jumlah jawaban yang benar X 100%
Jumlah keseluruhan soal

Apabila tingkat pemahaman Saudara dalam memahami materi yang sudah
dipelajari mencapai :
91 % s.d. 100 % : Amat baik
81 % s.d. 90,99 % : Baik
71 % s.d. 80,99 % : Cukup
61 % s.d. 70,99 % : Kurang

Bila tingkat pemahaman Saudara belum mencapai 81 % ke atas (kategori
Baik), maka Saudara disarankan mengulang materi.




Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 64

3. Kegiatan Belajar (KB) 3


PUNGUTAN NEGARA DALAM RANGKA
IMPOR





Indikator








3.1. Uraian Materi dan Contoh

A. Pungutan Impor

Dalam materi ini dibahas mengenai tata cara penyampaian dokumen impor
dan penetapan jalur dalam proses bisnis penyelesaian impor.

1) Dasar hukum pungutan impor.

Bea Masuk adalah pungutan Negara berdasarkan Undang-undang
Kepabeanan yang di kenakan terhadap barang yang di impor.
Sesuai pasal 2 ayat (1) undang-undang No.17 tahun 2006 jo.No. 10 tahun
1995 tentang Kepabeanan, dinyatakan bahwa barang yang dimasukkan kedalam
daerah Pabean diperlakukan sebagai barang impor dan terutang Bea Masuk.
Bea Masuk wajib dibayar apabila barang impor dikeluarkan dari TPS
(Tempat Penimbunan Sementara) keperedaran bebas dengan tujuan diimpor
untuk dipakai. Dalam pasal 10B ayat (2) butir a Undang-undang Kepabeanan
Indikator Keberhasilan :
Setelah mempelajari materi peserta diklat mampu :
1. Menjelaskan dasar hukum dan jenis-jenis pungutan negara dalam rangka
impor.
2. Menjelaskan tatacara perhitungan bea masuk dan pajak dalam rangka impor.
3. Menjelaskan tata cara pembayaran dan tempat pembayaran pungutan negara
dalam rangka impor.
4. Menjawab pertanyaan tentang pungutan negara dalam rangka impor.



Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 65

disebutkan bahwa barang impor dapat dikeluarkan sebagai barang impor untuk
dipakai, setelah diserahkan pemberitahuan Pabean dan dilunasi Bea Masuk.
Sebagaimana diatur dalam Undang-undang Kepabeanan pasal 10A ayat
(7) penyelesaian barang impor dalam hal ini pengeluaran barang impor dari
kawasan Pabean (atau tempat lain yang disamakan dengan tempat penimbunan
sementara) dapat dilakukan dengan tujuan :
- Di impor untuk di pakai
- Di impor sementara
- Di timbun di TPB (Tempat Penimbunan Berikat)
- Di angkut ke TPS (Tempat Penimbunan Sementara) di kawasan Pabean
lainnya.
- Diangkut terus atau diangkut lanjut.
- Di ekspor kembali (re ekspor).
Terhadap barang impor yang akan di keluarkan dari kawasan Pabean
dengan tujuan di impor untuk dipakai, pihak importir atau kuasanya membuat
dokumen PIB (Pemberitahuan Impor Barang) dengan dilampiri dokumen
pelengkap Pabean (antara lain: invoice, packing list, B/L, polis asuransi), dan
menghitung sendiri Bea Masuk, Cukai, dan pajak dalam rangka impor yang harus
di bayar.
Selanjutnya importir membayar pungutan impor tersebut ke kas Negara
melalui Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi atau Kantor Pos Persepsi (dalam
hal tertentu dapat dibayar di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai),
dengan mendapatkan bukti pembayaran berupa SSPCP (Surat Setoran Pabean
Cukai dan Pajak dalam rangka impor).

Dasar hukum PDRI dan PNBP

Selain tugas pemungutan bea masuk dan pungutan lain yang diatur dalam
Undang-undang Kepabeanan (Undang-undang No.17 tahun 2006 jo .No. 10
tahun 1995); dan Undang-undang Cukai (Undang-undang Nomor 39 Tahun
2007 jo. No. 11 tahun 1995 ), Direktorat Jenderal Bea dan Cukai juga diminta
untuk melaksanakan pemungutan pungutan lain, yaitu PDRI (Pajak Dalam
Rangka Impor) dan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak).


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 66

PDRI adalah pungutan untuk penerimaan Direktorat Jenderal Pajak
berdasarkan Undang-undang Perpajakan (Undang-undang Nomor 17 Tahun
2000 jo. No.7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan; dan Undang-undang
No.18 Tahun 2000 jo. No. 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai
Barang dan jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah).
Sedangkan PNBP adalah pungutan untuk penerimaan Direktorat Jenderal
Anggaran berdasarkan Undang-undang tentang Penerimaan Negara Bukan
Pajak (Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997).

2) Jenis-jenis pungutan impor.

Pungutan impor atau penerimaan Negara dalam rangka impor meliputi :
a. Bea Masuk
yaitu pungutan negara berdasarkan Undang-undang No.17 tahun 2006
jo.No. 10 tahun 1995 tentang kepabeanan, yang dikenakan terhadap barang
yang di impor.
Dasar untuk menghitung Bea Masuk adalah harga barang dalam bentuk CIF
(cost insurance and freight) atau disebut dengan nilai Pabean dikalikan tarif
Bea Masuk (tarif advalorum)
Contoh :
Dalam PIB diberitahukan 1 unit barang X, harganya dalam CIF adalah US
$. 1000,- . Kurs NDPBM (nilai dasar perhitungan Bea Masuk) USD 1, = Rp.
9000,- tarif Bea Masuk 10%. Jumlah Bea Masuk yang dibayar adalah 10%
x (1000 x Rp. 9000,-) = Rp. 900.000,-.
Namun untuk barang tertentu (seperti beras, gula pasir) perhitungan Bea
Masuk ditetapkan berdasarkan jumlah barang dikalikan tariff Bea Masuk per
unit barang (tarif spesifik).
Contoh :
Dalam PIB diberitahukan 10 ton gula pasir harga CIF USD. 3000,-
Pembebanan tarif Bea Masuk gula pasir (tariff spesifik) Rp. 700,-/kg, Bea
Masuk yang di bayar 10.000 x Rp. 700 = Rp. 7000.000,-.
Nilai Pabean sebagai dasar penetapan bea masuk berupa harga barang
dalam CIF terdiri dari tiga unsur, yaitu


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 67

- Cost, atau nilai barang dalam FOB (Free on Board) yaitu harga
barang sampai di atas kapal, di negara pemasok. Harga barang
adalah harga transaksi yang sebenarnya di bayar.
- Insurance, atau biaya asuransi barang dalam pengangkutan hingga
di pelabuhan tujuan. Jika dalam satu pemberitahuan Pabean (PIB)
terdiri dari lebih dari satu jenis barang yang pembiayaan asuransinya
tergabung menjadi satu maka perhitungan masing-masing jenis
barang adalah harga tiap jenis barang berbanding total harga barang
dikalikan nilai asuransi barang keseluruhan.
Biaya asuransi dapat ditutup dengan perusahaan asuransi luar negeri
maupun dalam negeri. Terhadap polis asuransi dalam negeri biaya
asuransi pada nilai Pabean di hitung 0 (nol).
- Freight, atau biaya angkut, yaitu biaya pengangkutan barang dari
pelabuhan negara pemasok hingga tiba di pelabuhan tujuan. Biaya
angkut biasanya di pungut berat atau volume barang. Dalam hal satu
pemberitahuan Pabean (PIB) terdiri dari lebih dari satu jenis barang
yang pembiayaan freightnya tergabung menjadi satu, maka
perhitungan freight masing-masing jenis barang adalah berat/volume
tiap jenis barang berbanding total berat barang keseluruhan
dikalikan total biaya angkut yang dibayar. Dalam hal tidak tercantum
berat barang dalam dokumen yang ada (invoice, pacling list) maka
perhitungannya adalah harga masing-masing jenis barang total harga
dikalikan dengan total biaya angkut.
b. Bea Masuk Tambahan
Selain bea masuk tersebut pada butir a) diatas, pada beberapa komoditi
impor dikenakan Bea Masuk Tambahan. Bea Masuk Tambahan ini dapat
berupa Bea Masuk Anti Dumping, Bea Masuk Imbalan, Bea Masuk Tindakan
Pengamanan (Safeguard) dan Bea Masuk Pembalasan. Bea Masuk
Tambahan yang telah dilakukan saat ini adalah Bea Masuk Anti Dumping
dan Bea Masuk Tindakan Pengamanan. Pemungutan bea masuk tambahan
ini dilakukan secara manual, dengan menggunakan formulir tersendiri.
Terhadap komoditi yang dikenakan bea masuk tambahan tersebut pada
dokumen impornya harus dilampirkan tanda pelunasan bea masuknya.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 68

Perhitungan bea masuk dan PDRI atas bea masuk tambahan adalah
sebagai berikut:
Bea Masuk Tambahan: tarif BMT x Nilai Pabean
PDRI : tarif PDRI x BMT
Oleh karena pemungutannya secara manual, PFPD menerbitkan Notul atas
tambahan pungutan bea masuk dan PDRI tersebut.
c. Bea Masuk berasal dari SPM (Surat Perintah Membayar) hibah,
yaitu pungutan Bea Masuk yang dikenakan terhadap barang-barang bantuan
luar negeri kepada pemerintah Indonesia.
Dalam pelaksanaannya barang lebih dimaksud dibebaskan dari Bea Masuk
dan pungutan impor lainnya.
Prinsip perhitungan Bea Masuk dan pajak dalam rangka impor adalah sama
dengan perhitungan barang impor biasa, sebagaimana tersebut di atas pada
huruf a.
d. Sanksi administrasi
adalah sanksi berupa denda yang dikenakan terhadap pelanggaran
ketentuan undang-undang kepabeanan yang bersifat administratif.
Penetapan denda atas pelanggaran yang diancam dengan sanksi
administrasi berkaitan dengan pemberitahuan Pabean di lakukan oleh
Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai atau pejabat yang
ditunjuknya dengan menggunakan Nota Pembetulan dan selanjutnya
diterbitkan Surat Penetapan/SPKPBM (Surat Pemberitahuan Kekurangan
Pembayaran Bea Masuk). Pelanggaran tersebut ditetapkan dalam pasal 16
ayat (4) dan pasal 82 ayat (5). Sedangkan pelanggaran pasal-pasal lainnya
dengan ancaman sanksi administrasi, penetapan denda menggunakan
SPSA (Surat Penetapan Sanksi Administrasi), yang selanjutnya akan di
terbitkan Surat Penetapan/SPKPBM sebagai surat tagihan.
e. Penerimaan Pabean lainnya,
yaitu penerimaan yang berasal dari bunga dan biaya surat paksa.
- Bunga adalah sanksi yang dikeluarkan terhadap wajib bayar maupun
kepada pemerintah karena keterlambatan melakukan pembayaran
melebihi jangka waktu yang ditetapkan. Utang atau tagihan kepada
negara yang tidak atau kurang di bayar dikenakan bunga sebesar 2%
(dua persen) setiap bulannya untuk selama-lamanya 24 (dua puluh


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 69

empat) bulan di hitung sejak tanggal jatuh tempo sampai hari
pembayarannya, dan bagian bulan di hitung satu bulan (walaupun
hanya lewat satu hari).
- Biaya surat paksa adalah biaya penagihan dengan surat paksa yang
terdiri dari biaya harian Juru Sita dan biaya perjalanan yang jumlahnya
sebesar Rp. 25.000,- (dua puluh lima ribu rupiah). Yang di maksud
dengan biaya penagihan piutang Bea Cukai adalah biaya pelaksanaan
pemberitahuan surat paksa, surat perintah melaksanakan penyitaan,
pengumuman lelang, pembatalan lelang dan biaya lainnya sehubungan
dengan penagihan Bea Masuk, Cukai, denda administrasi dan bunga
dalam rangka impor. Biaya penagihan tersebut di setor ke kas Negara
sebagai pendapatan Negara.
f. Pungutan Cukai
Cukai adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang
tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik yang di tetapkan dalam
undang-undang Cukai. Berdasarkan undang-undang No. 11 tahun 1995 dan
Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai ada empat jenis yaitu :
- Etil Alkohol (Etanol)
- Minuman yang mengandung Etil Alkohol
- Hasil tembakau, misalnya : Rokok, Tembakau iris, Cerutu
- Konsentrat yang mengandung Etil Alkohol
Pengenaan Cukai untuk barang kena Cukai yang di buat dalam negeri
adalah pada saat selesai di buat. Sedangkan pengenaan Cukai untuk
barang kena Cukai yang di impor adalah pada saat pemasukannya ke dalam
daerah Pabean.
g. Penerimaan Cukai lainnya
Penerimaan Cukai lainnya yaitu penerimaan yang berasal dari bunga, biaya
surat paska, biaya pengganti percetakan pita Cukai dan biaya pengganti
pembuatan label tanda pengawas Cukai.
Biaya pengganti pita Cukai adalah ongkos cetak pita Cukai, yang harus
dibayar oleh pengusaha BKC (Barang Kena Cukai) karena adanya
penggantian pita, misalnya karena adanya pemusnahan pita Cukai.
Biaya pengganti pembuatan label tanda pengawas Cukai (Semacam Pita
Cukai) adalah biaya yang harus di bayar oleh pengusaha untuk


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 70

mendapatkan label tanda pengawas Cukai untuk barang kena Cukai yang di
jual di toko Bebas Bea wajib di lekati label tanda pengawas Cukai Indonesia
Duty and Excise Not Paid.
Contohnya : Biaya pengganti pembuatan label tanda pengawas Cukai untuk
MMEA (Minuman Mengandung Etil Alkohol) sebesar Rp. 200,- per keping.
h. Jasa Pekerjaan
Jasa pekerjaan adalah biaya yang harus di bayar berupa penerimaan negara
bukan pajak (PNBP) oleh orang pribadi atau badan yang :
- Mengajukan pemberitahuan/permohonan pelayanan di lingkungan
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, atau
- Bertanggung jawab menyelesaikan kewajiban kepabeanan dan Cukai
menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Contoh :
Pelayanan penyelesaian PIB dan Manifest. Pembayaran PNBP atas jasa
pelayanan penyelesaian pemberitahuan barang impor (PIB) di lakukan
bersamaan dengan pembayaran Bea Masuk dan pajak dalam rangka impor.
Penyetoran atau pembayarannya menggunakan formulir SSPCP (Surat
Setoran Pabean, Cukai dan Pajak Dalam Rangka Impor). Biaya pelayanan
pemberitahuan barang impor dengan menggunakan EDI (Electronic Data
Interchange) per pemberitahuan adalah Rp. 100.000,-, dan pelayanan Non
EDI sebesar Rp. 50.000,-
Jenis penerimaan negara bukan pajak sebagaimana di tentukan dalam
Keputusan Menteri Keuangan No. 118/KMK.04/2003 tentang Tatalaksana
Pembayaran dan penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak, meliputi
jasa:
- Pelayanan impor, ekspor dan Cukai
- Biaya penagihan Bea Masuk dan Cukai
- Biaya pengumuman, pembatalan dan pencacahan barang lelang
- Jasa pengujian laboratorium Bea dan Cukai
- Sewa penggunaan auditorium
- Jasa pengujian data impor/ekspor/Cukai
i. PPN impor (Pajak Pertambahan Nilai)
adalah jenis pajak tidak langsung yang dikenakan atas impor barang kena
pajak. Sesuai penjelasan pasal 4 huruf b, undang-undang PPN dan PPnBM


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 71

No. 18 tahun 2000 jo. No.8 Tahun 1983 bahwa pajak dipungut pada saat
impor barang kena pajak, pemungutannya dilakukan melalui Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai.
Berbeda dengan penyerahan barang kena pajak di dalam daerah Pabean
yang di lakukan oleh pengusaha, maka siapapun yang memasukkan barang
kena pajak kedalam daerah Pabean tanpa memperhatikan apakah dilakukan
dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya atau tidak, tetapi dikenakan
pajak besarnya PPN impor adalah 10% (sepuluh persen) dari nilai impor.
Contoh :
Dalam PIB disebutkan 1 unit barang Y harganya CIF Rp. 9.000.000,-
- Tarif Bea Masuk 10% , jumlah bea masuk di bayar Rp. 900.000,-
- PPN 10% , jumlah PPN = 10% x (Rp. 9.000.000,-+ Rp. 900.000,-)
= Rp. 990.000,-.
j. PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah)
adalah jenis pajak tidak langsung yang dikenakan atas impor barang kena
pajak yang tergolong mewah. Dalam pasal 5 undang-undang UU PPN dan
PPnBM tersebut di atas di atur bahwa disamping pengenaan PPN terhadap
impor barang kena pajak yang tergolong mewah dikenakan juga PPnBM.
PPnBM dikenakan hanya satu kali pada waktu penyerahan barang kena
pajak yang tergolong mewah oleh pengusaha yang menghasilkan, atau pada
waktu impor. Tarif PPnBM paling tinggi 75% (tujuh puluh lima persen), jenis
barang yang dikenakan PPnBM ditetapkan dengan keputusan Menteri
Keuangan (dapat dilihat dalam buku tarif H. S.), cara perhitungannya sama
dengan perhitungan PPN. Penetapan pungutan PPn.BM atas suatu barang
tergantung pada spesifikasi barang. Atas jenis barang yang sama ada yang
dikenakan PPn.BM dan ada yang tidak dikenakan PPn.BM, tergantung
spesifikasinya.
Contoh:
Pesawat televisi berwarna ukuran 14 tidak dikenakan PPn.BM; tetapi atas
pesawat televisi ukuran 21 atau 42 dikenakan PPn.BM. Biasanya pada
pos HS kolom PPN/PPn.BM diberi tanda asterik (*) sebagai referensi SK
Menteri Keuangan terkait.




Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 72

k. PPh pasal 22 atau pajak penghasilan
adalah jenis pajak subjektif yang kewajiban pajaknya melekat pada subjek
pajak yang bersangkutan, artinya kewajiban pajak tersebut di maksudkan
untuk tidak dilimpahkan kepada subjek pajak lainnya. Pajak penghasilan
dikenakan terhadap subjek pajak atas penghasilan yang diterima atau
diperolehnya dalam tahun pajak. Dalam pasal 22 undang-undang No. 7
tahun 1983 jo. No. 17 tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan, disebutkan
bahwa Menteri Keuangan dapat menetapkan bendaharawan pemerintah
untuk memungut pajak sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan
barang dan badan-badan tertentu untuk memungut pajak dari wajib pajak
yang melakukan kegiatan di bidang impor dan kegiatan usaha di bidang lain.
Lebih lanjut dalam pasal 1 Surat Keputusan Menteri Keuangan No.
254/KMK.03/2001 tentang Penunjukkan Pemungutan Pajak Penghasilan
Pasal 22, Sifat dan Besarnya Pungutan Serta Tatacara Penyetoran dan
Pelaporannya, di tetapkan bahwa pemungutan pajak penghasilan pasal 22
atas impor barang adalah Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai. Kemudian dalam pasal 22 disebutkan bahwa besarnya pajak
penghasilan pasal 22 di tetapkan sebagai berikut:
- Atas impor yang menggunakan API (Angka Pengenal Impor) sebesar
2,5% (dua setengah persen) dari nilai impor.
- Atas impor yang tidak menggunakan API sebesar 7,5% (tujuh
setengah persen) dari nilai impor.
Cara perhitungan pungutan PPh pasal 22 adalah sama seperti perhitungan
PPN impor yang telah di jelaskan di atas.

B. Tempat pembayaran.

Pembayaran Bea Masuk dan pungutan impor di lakukan dengan
menggunakan surat setoran SSPCP (Surat Setoran Pabean, Cukai dan Pajak
Dalam Rangka Impor) yang merupakan Single Document. Satu SSPCP
digunakan untuk menyetorkan semua jenis penyetoran penerimaan Pabean,
Cukai dan penerimaan pajak dalam rangka impor, untuk satu dokumen
pemberitahuan impor barang.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 73

Pembayaran penerimaan negara dalam rangka impor di lakukan melalui
Bank Devisa Persepsi atau Kantor Pos Persepsi. Dalam hal tertentu (contoh:
pembayaran Bea Masuk Anti Dumping atau bea masuk tambahan lain, atau
pembayaran bea masuk oleh penumpang) pembayaran pungutan impor dapat
dilakukan di kantor Bea dan Cukai.
Dalam hal pembayarannya dilakukan melalui kantor Pabean maka
penyetoran ke bendaharawan Bea dan Cukai menggunakan formulir BPPCP
(Bukti Pembayaran Pabean, Cukai dan Pajak Dalam Rangka Impor) dan
selanjutnya bendaharawan akan menyetorkan ke kas negara melalui Bank
Devisa Persepsi dengan menggunakan SSPCP tersebut di atas.
Sedangkan jika pembayaran melalui Kantor Pos di gunakan PPKP
(Penetapan Pencacahan dan Pembawaan Kiriman Pos) dan SSPCP.
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 144/PMK.04/2007 tentang
Pengeluaran Barang Impor Untuk Dipakai; dan Peraturan Menteri Keuangan No.
145/PMK.04/2006 jo. No.84/KMK.04/2003 tentang Tatalaksana pembayaran dan
penyetoran penerimaan negara dalam rangka impor dan penerimaan negara
atas barang kena cukai buatan dalam negeri; ditetapkan bahwa pembayaran
penerimaan negara, dalam hal ini pembayaran Bea Masuk, Cukai dan Pajak
dalam rangka impor dilakukan melalui loket atau e-banking.
Pembayaran pungutan impor dapat dilakukan di :
i. Bank Devisa Persepsi atau Kantor Pos Persepsi yang terhubung dengan
MPN (Modul Penerimaan Negara).
ii. Kantor Pabean :
- Dalam hal tidak terdapat Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi/Pos
Persepsi di kota/wilayah kerja KPPBC tempat pemenuhan kewajiban
pabean;
- Atas impor barang penumpang, impor barang awak sarana
pengangkutan atau impor barang pelintas batas.
iii. PT Pos Indonesia, khusus untuk barang-barang kiriman pos.

Khusus untuk penerimaan pungutan negara yang di setorkan melalui
Kantor Pabean (KPBC) maka Bendaharawan Bea Cukai wajib menyetorkan
penerimaan negara dalam rangka impor yang diterima oleh KPBC disetor ke kas


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 74

Negara melalui Bank Devisa Persepsi yang sekota/sewilayah kerja dengan
KPBC dengan menggunakan SSPCP pada hari berikutnya.
Dalam hal tidak terdapat Bank Devisa Persepsi/Bank Persepsi, atau Pos
Persepsi, penyetoran oleh bendaharawan KPBC sebagaimana dimaksud dapat
dilakukan melalui PT. Pos Indonesia yang sekota/sewilayah kerja dengan
KPBC/kantor Pabean yang bersangkutan.
Bank Devisa Persepsi/Bank Persepsi/Pos Persepsi, atau Kantor Pelayanan
dan pengawasan Bea Cukai yang menerima pembayaran penerimaan negara
dalam rangka impor wajib :
- Meneliti kelengkapan dan kebenaran pengisian formulir SSPCP atau SSCP
dan
- Mencocokkan penghitungan penerimaan negara dalam rangka impor
dengan dokumen yang dijadikan dasar penyetoran.
Lebih lanjut dalam SK Menteri Keuangan tersebut diatas ditetapkan bahwa
pembayaran penerimaan negara dalam rangka impor disetor ke Kas Negara
melalui Bank Devisa Persepsi yang sekota/sewilayah kerja dengan kantor
pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) tempat pemenuhan kewajiban Pabean.
Penyetoran dilakukan dengan cara :
- On-line untuk KPBC yang memiliki jaringan Pertukaran Data Elektronik
(PDE) kepabean atau
- Manual untuk KPBC/kantor Pabean yang tidak memiliki jaringan PDE
Kepabeanan.
Kebijakan yang ditetapkan dalam rangka penyempurnaan sistem
pembayaran pungutan impor sebagaimana tertuang dalam keputusan Menteri
Keuangan, antara lain meliputi :
Penggunaan single document setoran penerimaan (SSPCP untuk setoran
impor dan SSCP untuk setoran Cukai dalam negeri
Pembayaran secara mandatory harus dilakukan di Bank Devisa
Persepsi/Pos Persepsi.
Sistem pembayaran secara on-line untuk KPBC yang sudah menerapkan
PDE kepabeanan (Sistem Aplikasi Pelayanan Impor)





Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 75

Surat Setoran pungutan impor atau SSPCP dinyatakan sah apabila:
- SSPCP telah mendapat NTPN (Nomor Transaksi Penerimaan Negara) dan
NTB (Nomor Transaksi Bank), atau NTPN dan NTP (NomorTransaksi Pos);
atau
- BPN (Bukti Penerimaan Negara) yang diterbitkan oleh Bank atau Kantor Pos
telah mendapat NTPN dan NTB atau NTP

Sebagai tindak lanjut pelaksanaan penyetoran penerimaan pungutan
impor, DJBC telah melakukan berbagai kesepakatan dengan berbagai pihak
yang terkait dengan pembayaran pungutan impor, baik dari institusi pemerintah
maupun dari kalangan swasta. Secara internal bersama-sama dengan Direktorat
Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Anggaran, Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai telah mengeluarkan surat keputusan bersama untuk mengatur mekanisme
pembayaran dan penyetoran pungutan impor. Sedangkan untuk mempermudah
pelaksanaan pungutan impor, telah dilakukan penandatanganan perjanjian kerja
sama antara DJBC dengan beberapa Bank Devisa Persepsi. Bank-bank Devisa
tersebut adalah :

No Nama Bank No Nama Bank
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
ABN Amro Bank, NV
Bank of America, NA
Bank Anz Panin
Bank Arta Niaga Kencana
Bank Public Company Ltd
Bank Buana
Bank Bukopin
Bank Bumi Arta
Bank Bumi Putra
Bank Central Asia
Bank Chinatrust Indonesia
Citibank, NA
Bank Danamon
Bank Daiwa Perdania
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
Bank Maspion
Bank Mega
Bank Metro Ekspres
Bank Mizuho Indonesia
Bank Negara Indonesia
Bank Niaga
Bank NISP
Bank Nusantara Parahyangan
Bank Panin
Bank Paribas Indonesia
Bank Permata
Rabobank International Indonesia
Bank Rakyat Indonesia
Standard Chartered Bank


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 76

15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
Deutsche Bank, AG
Bank DBS Indonesia
Bank Ekonomi Rahardja
Bank Finconesia
Bank Ganesha
HSBC Bank
Bank Haga
Bank Haga Kita
Bank International Indonesia
Jp Morgan Chase Bank
Bank Kesawan
Korea Exchange Bank Danamon
Bank Lippo
Bank Mandiri
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56

Bank Sumitomo Mitsui Indonesia
Bank Swadesi
Bank Syariah Mandiri
Bank of Tokyo Mitsubishi
Bank UFJ
Bank Woori Indonesia
Bank Shinta Indonesia
Bank OCBC Indonesia
Bank UOB Indonesia
Bank Halim
Bank Artha Graha
Bank Mestika Dharma
Bank Antar daerah
Bank CIC
Demikian nama-nama bank yang telah on line dengan Kantor Pabean yang
dapat menerima Pungutan Negara Dalam Rangka Impor. Nama-nama Bank
tersebut dapat berkurang ataupun bertambah tergantung pada keadaan Bank
yang ada saat itu.

C. Tatalaksana pembayaran.

1) Tatalaksana pembayaran dan penyetoran penerimaan negara dalam
rangka impor melalui Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi.

Dokumen yang menjadi dasar pembayaran bea masuk dan pungutan impor
adalah PIB, PIBK atau SPTNP/SPSA.. Dalam hal tagihan yang belum dibayar
setelah jatuh tempo importir juga akan menerima Surat Teguran dan Surat
Paksa, surat tersebut juga dapat digunakan sebagai dasar pembayaran bea
masuk dan pungutan impor lainnya.
a. Hal-hal yang dilakukan oleh Importir atau wajib bayar.
Langkah pertama importir menyiapkan dokumen yang menjadi dasar
pembayaran tersebut serta mengisi formulir SSPCP dalam rangkap 4
(empat). Selanjutnya melakukan pembayaran ke Bank Devisa Persepsi/Pos


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 77

Persepsi dengan menyerahkan PIB atau dokumen yang menjadi dasar
pembayaran, SSPCP yang telah diisi dengan lengkap dan benar; dan uang
pembayaran sejumlah nominal yang tercantum dalam SSPCP.
Jika pembayaran disetujui importir akan menerima kembali dokumen yang
telah dibubuhi tanda terima dari Bank Devisa Persepsi/Bank Persepsi
berupa:
- PIB, PIBK, Surat Penetapan/ST/SP/SPSA dan dokumen pelengkap
Pabean lainnya; dan
- SSPCP lembar ke1 atau BPN lembar ke-1 dalam amplop tertutup
untuk disampaikan ke KPBC; dan SSPCP lembar ke3 atau BPN
lembar ke-3 untuk Penyetor / Wajib
Selanjutnya importir menyerahkan PIB, PIBK, SPTNP /ST/SP/SPSA dan
SSPCP lembar ke 1 ke KPPBC yang bersangkutan untuk dilakukan
pemeriksaan dokumen dan atau pengurusan pengeluaran barang.
b. Hal-hal yang dilakukan Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi.
Bank Persepsi atau Pos Persepsi menerima PIB atau dokumen pembayaran
lainnya dari Importir atau Wajib Bayar dan meneliti kebenaran Perhitungan
Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor dalam PIB dan SSPCP.
Penelitian SSPCP terutama mengenai jumlah yang akan dibayar, NPWP,
Jenis Penerimaan (Bea Masuk, Cukai, Denda Administrasi, Bunga, Biaya,
Surat Paksa, Jasa Pekerjaan, PPnBM, PPn, dan PPh Pasal 22), dokumen
dasar, Kode Mata Anggaran Penerimaan (MAP) dan KPPBC tempat
pemenuhan kewajiban Pabean dan kode kantor.
Untuk SSPCP dengan dokumen dasar pembayaran SPTNP /ST/SP/SPSA
Bank melakukan penelitian atas jumlah yang dibayar yang tercantum dalam
SSPCP dengan jumlah nominal yang tercantum dalam Surat Penetapan
/ST/SP/SPSA ; dan disamping itu juga meneliti apakah pembayaran yang
dilakukan harus dikenakan bunga 2% (dua persen) tiap bulan atau tidak.
Jika pengisian sudah lengkap dan benar Bank/Pos Persepsi menerima uang
pembayaran yang jumlahnya sama dengan jumlah nominal yang tercantum
dalam SSPCP yang bersangkutan. Selanjutnya merekam dan menerima
dalam sistem komputer untuk setiap Mata Anggaran Penerimaan (MAP)
sesuai modul bank.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 78

Bank/Pos Persepsi wajib membubuhkan tanda terima dalam SSPCP atau
BPN berupa :
- NTPN;
- NTB;
- Nomor SSPCP dan unit KPPN;
- Tanggal dan waktu penerimaan Pembayaran,
- Nama dan Tanda Tangan Petugas penerima pembayaran.
- Cap Bank yang bersangkutan; dan
Selanjutnya menyerahkan kembali dokumen yang telah dibubuhi cap
tanggal pelunasan SSPCP dalam PIB atau dokumen lain dan tanda terima
kepada Importir atau Wajib Bayar berupa :
- PIB atau dokumen dasar lainnya;
- SSPCP lembar ke-1 atau BPN lembar ke-1 untuk disampaikan kepada
KPPBC; dan SSPCP lembar ke 3 atau BPN lembar ke-3 untuk
Penyetor/ Wajib Pajak.
Bank juga wajib menjawab permintaan konfirmasi mengenai suatu
pembayaran atau penyetoran apabila ada permintaan dari KPPBC .
c. Hal-hal yang dikerjakan oleh Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea
dan Cukai (KPPBC):
KKPBC menerima PIB, atau dokumen pembayaran lainnya dari Importir
atau Wajib Bayar dan kemudian meneliti kelengkapan dan kebenaran
pengisian PIB dan PIBK serta mencocokkan jumlah pembayaran yang
tercantum dalam SSPCP atau BPN dengan jumlah Penerimaan Negara
Dalam Rangka Import yang seharusnya dibayar.
Dalam hal pembayaran dilakukan dengan dokumen dasar SPKPBM
/ST/SP/SPSA. melakukan pencocokkan jumlah yang dibayar yang tercantum
dalam SSPCP atau BPN dengan jumlah nominal yang tercantum dalam
SPTNP/ST/SP/SPSA. KPPBC juga wajib meneliti SSPCP lembar ke-1 atau
BPN lembar ke-1 yang diterima dari Bank Devisa Persepsi.
Tugas lain yang berkaitan dengan pembayaran, menatausahakan dokumen-
dokumen yang berkenaan dengan importir termasuk data SSPCP atau BPN
setiap hari, sesuai dengan petunjuk yang ditetapkan Direktur Jenderal Bea
dan Cukai.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 79

Apabila diperlukan KPPBC dapat meminta konfirmasi mengenai suatu
pembayaran atau penyetoran Penerimaan Negara Dalam Rangka Import kepada
Bank Devisa Persepsi atauPos Persepsi tempat penyetoran.

2) Pembayaran pungutan impor dilakukan di Kantor Pabean.

Pejabat yang ditunjuk pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan
Cukai (KPPBC) melakukan hal-hal sebagai berikut:
Atas dokumen pembayaran yang dilakukan pada KPPBC, menerima PIB,
PIBK, SPKPBM/ST/SP/SPSA yang diajukan oleh Importir atau Wajib Bayar.
Kemudian melakukan penelitian kelengkapan dan kebenaran Pengisian PIB
atau PIBK. Atas pembayaran yang menggunakan dokumen dasar
SPTNP/ST/SP/SPSA, diteliti apakah atas pembayaran tersebut harus dikenakan
bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan atau tidak.
Jika dokumen sudah benar, menerima uang pembayaran yang jumlahnya
sama dengan jumlah nominal yang tercantum PIB atau dokumen lain.
Selanjutnya memberikan bukti pembayaran berupa SSPCP kepada Importir atau
Wajib Bayar atas pembayaran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor.
Pejabat Bea dan Cukai menyetorkan seluruh penerimaan Penerimaan
Negara Dalam Rangka Import ke Kas Negara melalui Bank Devisa Persepsi,
Bank Persepsi, atau Pos Persepsi.
Penyetoran sebagaimana dimaksud dilakukan setiap hari dengan
ketentuan :
- Seluruh penerimaan pada hari itu harus disetorkan selambat-lambatnya
pada hari kerja berikutnya.
- Untuk penyetoran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor digunakan
formulir SSPCPmlembar ke-2 s.d 4, untuk semua Mata Anggaran
Penerimaan (MAP);
- Formulir sebagaimana dimaksud diserahkan ke Bank Devisa Persepsi, Bank
Persepsi atau Kantor Pos Persepsi beserta uang setoran yang jumlahnya
sama dengan jumlah nominal yang tercantum dalam SSPCP.
Atas penyetoran tersebut Pejabat bea dan cukai menerima kembali SSPCP
lembar ke-2 atau rekap lembar ke-2, yang telah dibubuhi tanda penerimaan
oleh Bank Devisa Persepsi, Bank Persepsi, atau Pos Persepsi.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 80

3) Pembayaran pungutan impor atas barang kiriman pos.

Dalam hal pembayaran pungutan impor atas barang kiriman pos maka
Pejabat yang ditunjuk pada Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai
(KPPBC) melakukan hal-hal sebagai berikut:
Pejabat bea dan cukai membuat/menetapkan PPKP (Pencacahan dan
Pembeaan Kiriman Pos) dengan mencantumkan besarnya Penerimaan Negara
Dalam Rangka Impor yang harus dibayar oleh Penerima Kiriman Pabean, dalam
rangkap 5 (lima) :
- Lembar ke-1 untuk KPPBC pada Kantor Pos lalu Bea (setelah Penerimaan
Negara Dalam Rangka Impor dibayar)
- Lembar ke-2 untuk Loket Kantor Pos Persepsi;
- Lembar ke-3 untuk penerimaan kiriman Pabean;
- Lembar ke-4 untuk kantor Pusat Pos Persepsi;
- Lembar ke-5 untuk KPPBC
Selanjutnya pihak pabean menyerahkan PPKP lembar ke-1 s/d lembar ke-
4, ke Pos Persepsi menyertai Barang Kiriman Pabean yang telah diperiksa
/dicacah; dan lembar ke-5 disimpan di KPPBC sebagai arsip
Atas barang kiriman yang telah dibayar pungutan impornya, Pejabat bea
dan cukai menerima PPKP lembar ke-1 dilampiri SSPCP lembar ke-1 atau BPN
lembar ke-1 dari kantor Pos Persepsi.
KPPBC wajib melakukan penatausahaan dokumen-dokumen yang
berkenaan dengan Barang Kiriman Pabean termasuk SSPCP setiap hari sesuai
dengan petunjuk yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai.
Dalam rangka pengawasan atas pelunasan pungutan impor, KPPBC
melakukan rekonsiliasi dengan cara meneliti/mencocokkan PPKP lembar ke-1,
SSPCP lembar ke-1 atau BPN lembar ke-1 yang diterima dari Kantor Pos
Persepsi, dengan PPKP lembar ke-5 yang ada pada KPPBC.
Apabila PPKP lembar ke-1 beserta lampirannya belum diterima sehingga
tidak dapat dilakukan rekonsiliasi, KPPBC memberitahukan hal tersebut kepada
Kantor Pos Persepsi pada setiap akhir bulan,
Demikian penjelasan tata cara atau prosedur pembayaran dan penyetoran
Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor, baik yang dilakukan melalui Bank
Devisa Persepsi, Kantor Pabean / KPPBC maupun melalui Kantor Pos Lalu Bea.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 81

3.2. Latihan 3

1) Dalam rangka penyelesaian kepabeanan atas barang impor untuk dipakai,
atas suatu importasi barang kemungkinan dikenakan berbagai pungutan
impor.
- Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis pungutan negara dalam rangka
impor ?
- Bagaimana cara perhitungannya ?
2) Apa yang dimaksud dengan Nilai Pabean dan apa bedanya dengan Nilai
Impor; berikan contohnya ?
3) Seorang importir mengimpor etil alkohol kadar 80% sebanyak 10.000 liter
dengan harga CIF USD 5.000,-
Data lain : NDPBM : USD 1,- = Rp 10.000,-
Cukai : = Rp 10.000,-/liter
BM : = 30%
PPN : = 10%
PPhnya : = 2.5%
Hitung BM dan pungutan impor yang harus dibayar !
4) Apa yang dimaksud dengan PDRI, apa dasar hokum pemungutannya oleh
Bea dan Cukai; dan bagaimana cara perhitungannya.?
5) Apa yang dimaksud dengan pungutan Bea Masuk dan Bea Masuk
Tambahan, dan apa bedanya dengan pungutan impor.
6) Dalam hal apa dan kapan barang impor untuk dipakai wajib dilunasi bea
masuknya dan apa syarat-syaratnya.
7) PTP XI sebagai importir gula pasir yang ditunjuk pemerintah mengimpor 10
ton gula pasir (refine sugar) dengan harga FOB USD 2.500,- ; Freight USD
500,- ; dan Asuransi ditutup di dalam negeri sebesar Rp 5.000.000,- ;
Pembebanan tarif BM gula pasir Rp 700,-/kg. Hitung BM dan PDRI yang
harus dibayar ?
8) Importir A mengajukan pemberitahuan pabean dalam rangka impor dan
sudah membayar pungutan impor. Barang tersebut dikenakan Bea Masuk


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 82

Anti Dumping. Pungutan apa yang harus dibayar lagi oleh importir dan
bagaimana cara penyelesaiannya.
9) Jelaskan bagaimana dan apa syarat-syaratnya subuah Bank untuk dapat
menerima pungutan bea masuk dan PDRI. Sebutkan 10 buah Bank yang
dapat menerima pungutan negara.
10) Jelaskan dokumen-dokumen apa saja yang menjadi dasar pembayaran
pungutan bea masuk dan pungutan impor lainnya.

3.3. Rangkuman

1) Atas importasi suatu barang dipungut BM dan pungutan impor lainnya.
Dasar perhitungan BM adalah Nilai Pabean yaitu transaksi barang dalam
bentuk CIF. Perhitungan BM adalah perkalian tarif BM dengan Nilai
Pabean. Untuk barang tertentu (gula pasir, beras) perhitungan BM
ditetapkan berdasarkan jumlah satuan barang dan tarif pembebanan BM.
Sedangkan PDRI dihitung berdasarkan Nilai Impor yaitu Nilai Pabean di
tambah BM (dan Cukai dalam rangka impor).
2) Tempat pembayaran BM dan PDRI dilakukan di Bank Persepsi atau Bank
Devisa Persepsi atau Pos Persepsi yang sudah on line dengan komputer
BC; atau yang sekota dengan KPPBC (manual).
3) Dalam hal di kota tempat Kantor Pabean tidak terdapat Bank Devisa
Persepsi, pembayaran BM dan PDRI dapat dilakukan di Bendaharawan
Kantor Pabean. Pembayaran di Kantor Pabean juga dapat dilakukan atas
impor barang penumpang / ASP atau pelintas batas. Sedangkan atas
barang kiriman pos pembayarannya dilakukan di Kantor Pos.
4) Nilai Pabean berupa harga CIF terdiri dari tiga unsur, yaitu: Cost, atau nilai
barang dalam FOB (Free on Board) yaitu harga barang sampai di atas
kapal, di negara pemasok; Insurance, atau biaya asuransi barang dalam
pengangkutan hingga di pelabuhan tujuan; dan Freight, atau biaya angkut,
yaitu biaya pengangkutan barang dari pelabuhan negara pemasok hingga
tiba di pelabuhan tujuan.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 83

5) Sesuai Undang-undang dibidang perpajakan, Menteri Keuangan dapat
menetapkan bendaharawan pemerintah untuk memungut pajak
sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang dan badan-
badan tertentu untuk memungut pajak dari wajib pajak yang melakukan
kegiatan di bidang impor dan kegiatan usaha di bidang lain. PDRI dipungut
pada saat impor barang kena pajak, pemungutannya dilakukan melalui
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
6) Dasar penyetoran penerimaan negara dalam rangka impor dapat berupa :
PIB, PIBT (termasuk juga CD, PPKP, KILB), Surat Tagihan (SPKPBM),
SPSA, Surat Teguran, Surat Paksa.
7) Penyetoran dilakukan dengan mengisi formulir SSPCP untuk pembayaran
semua mata anggaran penerimaan.
8) Dalam hal penyetoran pemerimaan negara dalam rangka impor melalui
Kantor Pabean digunakan formulir BPPCP (Bukti Pembayaran Pabean,
Cukai dan Pajak). Selanjutnya Bendaharawan BC menyetorkan seluruh
penerimaan negara tersebut selambat-lambatnya pada hari kerja
berikutnya ke Bank Devisa Persepsi yang sekota / sewilayah kerja dengan
KPBC (atau ke Kantor Pos jika tidak terdapat Bank Devisa Persepsi).
Penyetoran oleh Bendaharawan ke Bank Devisa dengan menggunakan
SSPCP.
9) Tempat pembayaran BM, Cukai dan PDRI dapat dilakukan diBank Devisa
Persepsi atau Pos Persepsi. Pembayaran pada Kantor Bea dan Cukai,
dilakukan dalam hal ditempat tersebut tidak ada Bank Devisa Persepsi/Pos
Persepsi, Barang penumpang, ASP, pelintas batas. Untuk barang impor
yang dikirim melalui jasa pos pembayaran dilakukan di Kantor Pos.
10) Surat Setoran pungutan impor atau SSPCP dinyatakan sah apabila:
- SSPCP telah mendapat NTPN (Nomor Transaksi Penerimaan Negara)
dan NTB (Nomor Transaksi Bank), atau NTPN dan NTP
(NomorTransaksi Pos); atau
- BPN (Bukti Penerimaan Negara) yang diterbitkan oleh Bank atau Kantor
Pos telah mendapat NTPN dan NTB atau NTP


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 84

3.4. Test Formatif 3

1) Penerimaan Pabean lainnya merupakan penerimaan Negara dalam
rangka impor. Penerimaan Pabean lainnya meliputi
a. Bea Masuk, PPn Impor, PPh Pasal 22 impor
b. Bunga dan Biaya Surat Paksa
c. Denda Administrasi
d. PPN Impor, PPh pasal 22 impor, PPn. BM
2) Penyetoran penerimaan negara dalam rangka impor dapat dilakukan
melalui PT. Pos Indonesia untuk :
a. Impor barang penumpang dan awak sarana pengangkut
b. Barang pelintas batas
c. Barang dagangan
d. Barang kiriman pos
3) Atas kelebihan pembayaran BM, Cukai, PDRI, KPPBC menerbitkan
restitusi atas nama Menteri Keuangan dengan menerbitkan SKPBM atas
:
a. BM
b. BM. Sanksi administrasi, Bunga
c. BM, Cukai, Sanksi Administrasi, Bunga
d. BM, Cukai, Sanksi dan Biaya, PDRI ( PPN, PPnBM, PPh)
4) PIB MITA dengan fasilitas pembayaran berkala diajukan pada tanggal
10 Oktober 2008, maka pelunasannnya paling lama :
a. Tanggal 30 Oktober 2008
b. Tanggal 10 November 2008
c. Tanggal 30 November 2008
d. Tanggal 10 Desember 2008
5) Dasar hukum pemungutan bea masuk atas impor untuk dipakai adalah:
a. Pasal 2 ayat (2) UU Pabean.
b. Pasal 10B UU Pabean.
c. Pasal 4 UU Pabean.
d. Pasal 7 UU Pabean.
6) Tujuan pengeluaran barang impor adalah untuk:
a. Dipakai.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 85

b. GB.
c. TBB.
d. Semua jawaban benar.
7) Pengeluaran barang impor untuk dipakai harus memenuhi persyaratan:
a. Pengajuan dokumen impor dan pembayaran bea masuk.
b. Pengajuan dokumen impor dan garansi bank.
c. Pengajuan dokumen pelengkap pabean dan jaminan
d. Semua jawaban benar.
8) Salah satu tugas DJBC adalah memungut:
a. Bea Masuk
b. PDRI.
c. PNBP
d. Semua jawaban benar
9) Dasar perhitungan bea masuk adalah:
a. Nilai pabean x tarif bea masuk.
b. Nilai impor x tarif bea masuk.
c. Harga transaksi x tarif bea masuk.
d. Harga invoice x tarif bea masuk.
10) Perhitungan nilai pabean meliputi unsur-unsur:
a. Harga FOB + asuransi.
b. Harga FOB + freight.
c. Harga FOB + asuransi + ongkos angkut.
d. Harga FOB + asuransi + freight + biaya pelabuhan.
11) Dalam hal PIB terdiri dari lebih dari satu jenis barang yang freightnya
tergabung menjadi satu, maka perhitungan freight masing-masing jenis
barang adalah:
a. Berat/volume tiap jenis barang berbanding dengan total berat barang
dikalikan total freight.
b. Berat/volume barang berbanding dengan total berat barang dikalikan
total freight.
c. Berat/volume barang berbanding dengan berat barang dikalikan total
freight.
d. Berat/volume tiap jenis barang berbanding dengan total berat barang
dikalikan masing-masing freight.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 86

12) Bea Masuk Tambahan berupa:
a. Tambahan bea masuk akibat salah jumlah, tarif, nilai pabean.
b. Tambahan bea masuk dan denda.
c. Tambahan bea masuk, denda dan bunga.
d. Bea Masuk tindakan pengamanan.
13) Kekurangan pembayaran bea masuk ditagih dengan:
a. Notul.
b. Nota Pemberitahuan.
c. SPTNP.
d. SPSA.
14) Penerimaan pabean lainnya adalah:
a. Bunga dan surat paksa.
b. Denda dan bunga.
c. Cukai dalam rangka impor.
d. PDRI.
15) DJBC dalam berwenang memungut pungutan sebagai jasa pekerjaan,
berupa pungutan:
a. PNBP.
b. Fee 2%.
c. Bunga 2,5%.
d. Seikhlasnya.















Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 87

3.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan hasil jawaban dengan kunci jawaban yang terdapat di modul ini.
Hitung jawaban Saudara dengan benar. Kemudian gunakan rumus untuk
mengetahui tingkat pemahaman Saudara terhadap materi pembayaran
pungutan impor.

TP = Jumlah jawaban yang benar X 100%
Jumlah keseluruhan soal

Apabila tingkat pemahaman Saudara dalam memahami materi yang sudah
dipelajari mencapai :

91 % s.d. 100 % : Amat baik
81 % s.d. 90,99 % : Baik
71 % s.d. 80,99 % : Cukup
61 % s.d. 70,99 % : Kurang

Bila tingkat pemahaman belum mencapai 81 % ke atas (kategori Baik),
maka Saudara disarankan mengulang materi.
















Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 88

4. Kegiatan Belajar (KB) 4

SURAT PENETAPAN DAN SANKSI
ADMINISTRASI








4.1. Uraian Materi dan Contoh

A. Surat Penetapan

Dalam materi ini dibahas mengenai tata cara penerbitan surat penetapan
akibat dari hasil keputusan yang diambil atas penelitian dokumen pabean..

1) Dasar hukum penetapan

Berdasarkan pasal 10B ayat (2) Undang-undang Kepabeanan disebutkan
bahwa barang impor dapat dikeluarkan sebagai barang impor untuk dipakai
setelah diserahkan Pemberitahuan Pabean dan dilunasi Bea Masuknya (atau
menyerahkan jaminan dengan memenuhi persyaratan tertentu). Selanjutnya
dalam pasal 16 ayat (1) dan (2) disebutkan bahwa Pejabat Bea dan Cukai dapat
menetapkan tarif dan nilai pabean barang impor sebelum penyerahan
pemberitahuan atau dalam waktu 30 hari sejak tanggal pemberitahuan pabean.
Dalam Undang-undang Kepabeanan Pejabat Bea dan Cukai diberi
wewenang untuk menetapkan tarif dan nilai Pabean untuk perhitungan Bea
Masuk atas barang impor. Hasil dari penetapan tersebut dapat mengakibatkan
timbulnya kekurangan pembayaran bea masuk maupun terjadinya kelebihan
pembayaran bea masuk. Dalam hal penetapan dimaksud mengakibatkan
kekurangan pembayaran Bea Masuk importir harus melunasi Bea Masuk yang
Indikator Keberhasilan :
Setelah mempelajari materi peserta diklat mampu :
1. Menjelaskan proses penerbitan surat penetapan.
2. Menjelaskan jenis pelanggaran dan sanksi administrasi.
3. Menjelaskan perhitungan dan penetapan sanksi administrasi.
4. Menjawab pertanyaan tentang penerbitan surat penetapan dan perhitungan
sanksi administrasi.



Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 89

kurang di bayar sesuai dengan penetapan. Sebaliknya dalam hal penetapan
atas pemberitahuan impor tersebut mengakibatkan terjadinya kelebihan
pembayaran, pihak importir diberikan hak untuk meminta pengembalian
pembayaran bea masuk. Penetapan Pejabat Bea dan Cukai atas pemberitahuan
impor tersebut dituangkan dalam Surat Penetapan Tarif dan Nilai Pabean
(SPTNP).
Prinsip yang dianut dalam pembayaran Bea Masuk adalah asas
perhitungan sendiri (self assessment). Namun Pejabat Bea dan Cukai tetap
diberi wewenang untuk meneliti dan menetapkan tariff dan nilai Pabean untuk
perhitungan Bea Masuk yang tersebut dalam dokumen Pemberitahuan
Pabean/Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang diserahkan importir.
Penetapan tarif maupun nilai pabean dapat diberikan sebelum atau
sesudah Pemberitahuan Pabean atas impor diserahkan, atau dalam waktu 30
hari sejak tanggal pemberitahuan pabean. Pengertian dapat dalam pasal ini
dimaksudkan bahwa Pejabat Bea dan Cukai mengetapkan tarif dan nilai Pabean
hanya dalam hal tarif dan nilai Pabean yang diberitahukan berbeda dengan tarif
yang ada dan/atau nilai Pabean barang yang sebenarnya, sehingga:
- Bea Masuk kurang dibayar dalam hal tarif dan/atau nilai Pabean yang
ditetapkan lebih tinggi;
- Bea Masuk lebih dibayar dalam hal tarif dan/atau nilai Pabean yang
ditetapkan lebih rendah.
Dalam pemberitahuan kedapatan sesuai atau benar, pemberitahuan
diterima dan dianggap telah dilakukan penetapan oleh Pejabat Bea dan Cukai.
Dalam hal tertentu atas barang impor dilakukan penetapan tarif dan nilai
Pabean untuk pemberitahuan Bea Masuk setelah pemeriksaan fisik, tetapi
sebelum diserahkan Pemberitahuan Pabean, misalnya untuk impor sementara,
barang penumpang, barang kiriman.
Dalam rangka memberikan kepastian pelayanan kepada masyarakat, jika
Pemberitahuan Pabean sudah didaftarkan, penetapan harus diberikan dalam
waktu tiga puluh hari sesudah tanggal pendaftaran. Batas waktu selama tiga
puluh hari dianggap cukup bagi Pejabat Bea dan Cukai untuk mengumpulkan
informasi sebagai dasar pertimbangan dalam melakukan penetapan.




Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 90

2) Pengambilan Keputusan

Hasil pemeriksaan Pabean mengenai klasifikasi, pembebanan dan nilai
Pabean dapat mengakibatkan kekurangan ataupun kelebihan Pembayaran Bea
Masuk dan Pajak dalam rangka impor.
Keputusan yang diambil Pejabat Pemeriksa Dokumen dapat terjadi akibat
dari hasil pemeriksaan dokumen PIB beserta lampirannya, maupun pemeriksaan
fisik barang berkaitan dengan jumlah, jenis dan tipe barang.
Disamping meneliti kebenaran klasifikasi, pebebanan dan nilai pabean
serta pelunasan Bea Masuk, Cukai dan PDRI (Pajak Dalam Rangka Impor)
sesuai dokumen PIB yang ada, Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen juga
dapat menerbitkan permintaan informasi tentang Nilai Pabean dalam hal PIB
mendapat jalur hijau, apabila Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen
meragukan kebenaran Nilai Pabean yang diberikan. Dari hasil penelitian data
yang di peroleh dibandingkan dengan data yang diberitahukan dalam
Pemberitahuan Pabean (PIB), Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen dapat
memutuskan apakah atas barang impor dimaksud terdapat kekurangan
pembayaran Bea Masuk dan PDRI atau tidak.
Penelitian meliputi data barang yaitu: jenis, jumlah dan klasifikasi barang;
pungutan Pabean yang meliputi Bea Masuk dan Cukai (atas impor barang kena
cukai); dan pungutan denda akibat pelanggaran pasal dalam Undang-undang
Kepabeanan serta pungutan pajak dalam rangka impor yang meliputi PPN,
PPnBM, dan PPh pasal 22. Masing-masing data tersebut memuat jumlah yang
diberitahukan dibandingkan dengan jumlah yang seharusnya, sehingga di dapat
angka selisih lebih atau pun selisih kurang, berapa jumlah kelebihan atau
kekurangannya, dan berapa jumlah selisihnya. Dengan demikian diperoleh
jumlah yang harus dibayar dari seluruh item di atas.

3) Penerbitan Surat Penetapan

Surat Penetapan adalah Surat Penetapan Kewajiban Pembayaran Bea
Masuk dan Pajak dalam rangka impor, serta sanksi administrasi berupa denda.
Surat Penetapan dapat berfungsi sebagai:
- Penetapan Pejabat Bea dan Cukai


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 91

- Pemberitahuan; dan
- Penagihan kepada importir/orang yang bersangkutan.
Surat penetapan diterbitkan karena adanya pungutan impor atau denda
yang harus dibayar. Jenis-jenis Surat Penetapan meliputi:
a. Surat Penetapan Tarif dan/atau Nilai Pabean (SPTNP).
SPTNP diterbitkan akibat dari pelanggaran pasal 16 dan pasal 82. SPTNP
merupakan surat penetapan tarif dan nilai pabean atas barang impor yang
diberitahukan dalam pemberitahuan pabean impor. Penetapan ini
merupakan hasil penelitian dokumen impor oleh PFPD yang dituangkan
dalam NOTUL, dan selanjutnya diterbitkan Surat Penetapan. Demikian juga
atas hasil pemeriksaan fisik barang impor dalam hal terdapat perbedaan
jenis dan atau jumlah barang dengan pemberitahuan pabean (PIB), PFPD
melakukan penetapan tarif dan/atau nilai pabean sesuai dengan hasil
pemeriksaan fisik. Dalam hal penetapan tarif dan nilai pabean
mengakibatkan kekurangan pembayaran bea masuk, importir wajib melunasi
kekurangan pembayaran bea masuk dan PDRI, serta sanksi administrasi
berupa denda. Kecuali terhadap kesalahan tarif tidak dikenakan denda.
b. Surat Penetapan Pabean (SPP).
SPP merupakan surat penetapan tarif dan nilai pabean yang bukan
merupakan kesalahan pemberitahuan impor (PIB). Penetapan tersebut
dapat mengakibatkan penagihan pembayaran bea masuk, PDRI dan denda.
SPP diterbitkan akibat dari pelanggaran pasal 8A ayat (2), 10A ayat (3), 43
ayat (3) dan pasal 45 ayat (4). Demikian juga atas pelanggaran pasal 25
ayat (4) dan pasal 26 ayat (4).
c. Surat Penetapan Sanksi Administrasi (SPSA).
SPSA merupakan surat penetapan pengenaan sanksi administrasi berupa
denda atas pelanggaran yang hanya mengakibatkan kewajiban membayar
sanksi administrasi. Pelanggaran dimaksud ditetapkan dalam pasal-pasal
yang tersebar di Undang-undang Kepabeanan. Contoh: Pasal 7A ayat (7)
yang berbunyi: Pengangkut yang tidak memenuhi ketentuan tentang RKSP
dikenai sanksi administrasi berupa denda paling sedikit Rp 5.000.000,- dan
paling banyak Rp 100.000.000,-




Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 92

d. Surat Penetapan Kembali Tarif dan/atau Nilai Pabean (SPKTNP).
SPKTNP merupakan surat penetapan kembali tarif dan/atau nilai pabean.
Penetapan kembali dapat dilakukan dalam jangka waktu 2 tahun sejak
tanggal pendaftaran PIB. Penetapan kembali dilakukan apabila hasil dari
penelitian ulang berbeda dengan hasil penetapan sebelumnya. Dalam hal
penetapan tarif dan nilai pabean mengakibatkan kekurangan pembayaran
bea masuk, importir wajib melunasi kekurangan pembayaran bea masuk dan
PDRI, serta sanksi administrasi berupa denda. Kecuali terhadap kesalahan
tarif tidak dikenakan denda. Penerbitan SPKTNP didasari pada pasal 17
Undang-undang Kepabeanan.

Surat Penetapan dapat merupakan hasil dari keputusan PFPD yang
dituangkan dalam SPTNP. Dilain hal surat penetapan juga dapat mengakibatkan
timbulnya restitusi dalam hal adanya kelebihan pembayaran bea masuk.
Pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

a). Penagihan Bea Masuk
Pelunasasn utang sebagaimana tersebut dalam Surat Penetapan harus
dilakukan dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari sejak tanggal yang
tertera pada Surat Penetapan.
Pelunasan utang dimaksud dilakukan melalui Bank Devisa Persepsi/Pos
Persepsi dengan menggunakan SSPCP (Surat Setoran Pabean, Cukai dan
Pajak). Dalam prakteknya tanda bukti pelunasan dikirimkan langsung kepada
Pejabat Pemeriksa Dokumen yang segera memasukkan data tersebut ke
komputer Bea dan Cukai, dengan demikian proses penagihan terhenti dan
pengajuan dokumen Pabean berikutnya tidak terblokir.
Dalam hal tagihan Bea Masuk, Cukai dan Denda Administrasi tidak
dilunasi setelah tanggal jatuh tempo maka atas tagihan Bea Masuk, Cukai
dan Denda Administrasi tersebut dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen)
dari jumlah tagihan setiap bulannya. Denda administrasi atau bunga
dihitung sejak tanggal jatuh tempo Surat Penetapan (tanggal yang tertera di
Surat Penetapan sampai dengan tanggal dilunasinya tagihan dimaksud..
Pengenaan bunga dipungut untuk selama-lamanya 24 (dua puluh empat)


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 93

bulan, bagian bulan misalnya satu hari, satu minggu dan seterusnya, dihitung
satu bulan penuh (2%)
Di samping pengenaan bunga sebagaimana tersebut diatas, terhadap
importir yang bersangkutan juga dikenai sanksi pelayanan Pabean. Sanksi
tersebut antara lain berupa pemblokiran pelayanan PIB pada pengajuan
berikutnya, tidak diberikan fasilitas penangguhan bea masuk, pelayanan
segera, dan sebagainya. Oleh karena itu bagi importir yang tidak setuju atau
tidak sependapat dengan keputusan Pejabat Bea dan Cukai atas penetapan
tarif Bea Masuk, Nilai Pabean, pengenaan denda administrasi, maka proses
penagihan harus dihentikan terlebih dahulu. Pihak importer tidak cukup
hanya melayangkan protes atau mendiamkan tagihan (Surat Penetapan) tapi
harus mengajukan keberatan sebelum lewat jangka waktu 60 hari (jatuh
tempo pelunasannya), dengan memenuhi persyaratan pengajuan keberatan.
Persyaratan tersebut antara lain keberatan ditujukan kepada Direktur
Jenderal Bea dan Cukai melalui Kepala Kantor Bea dan Cukai setempat,
dengan mempertaruhkan jaminan sebesar tagihan.
Setelah lewat jangka waktu 60 (enam puluh) hari dan di tambah 7
(tujuh) hari sejak diterbitkan Surat Penetapan, penanggung hutang (dalam
hal ini importir atau pengangkut, pengusaha tempat penimbunan sementara,
pengusaha tempat penimbunan berikat atau pengusaha jasa Kepabeanan)
belum juga melunasi kewajibannya, maka Kepala Kantor Bea dan Cukai
akan menerbitkan Surat Teguran.
Surat Teguran diterbitkan dan disampaikan si Penanggung hutang
dalam hal tagihan belum dilunasi atau tidak diajukan keberatan. Surat
teguran menunjuk Surat Penetapan yang bersangkutan serta uraian jenis
tagihan dan jumlah tagihan. Dalam Surat Teguran dicantumkan atensi
(Perhatian) dengan mengutip pasal 8 Undang-undang Nomor 19 tahun
1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa yang berbunyi : Tagihan
Bea Cukai harus dilunasi dalam waktu 21 (dua puluh satu) hari setelah
tanggal surat teguran ini. Sesudah batas waktu itu tindakan penagihan Bea
cukai akan dilanjutkan dengan penerbitan Surat Paksa.
Apabila dalam jangka waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak
dikeluarkannya Surat Teguran yang bersangkutan belum juga melunasi
hutangnya, maka kepala Kantor Bea dan Cukai akan menerbitkan Surat


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 94

Paksa untuk penagihan Bea Masuk, Cukai dalam rangka Impor, denda
administrasi dan bunga, kepada Penanggung hutang.
Sedangkan untuk piutang pajak dalam rangka impor (PPN, PPnBM,
PPh pasal 22 impor), diterbitkan Surat Pemberitahuan Pajak Dalam Rangka
Impor oleh Kepala Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai.
Surat pemberitahuan piutang pajak tersebut disampaikan kepada Kepala
Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di wilayah penanggung hutang berdomisili,
untuk diproses lebih lanjut sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku. Surat
pemberitahuan piutang pajak menunjuk SuratPenetapan yang bersangkutan,
dan mencantumkan nama penanggung hutang, NPWP, alamat dan bidang
usahanya (bisa importir, pengangkutan/agen pelayaran, Pengusaha TPS,
Pengusaha TPB atau PPJK), dengan mencantumkan jenis dan jumlah
tagihan (PPN, PPnBM, PPh pasal 22). Disamping itu turut dilampirkan
perincian dan bukti terkait.
Dengan demikian setelah lewat jangka waktu 88 (delapan puluh
delapan) hari sejak penerbitan Surat Penetapan, untuk Bea Masuk, Cukai,
Denda Administrasi dan bunga dilakukan penagihan dengan surat paksa,
sedangkan untuk pajak-pajak impor diserahkan penagihannya kepada KPP
setempat (tempat domisili si penanggung hutang). Atas pemberitahuan
piutang pajak kepada KPP dilakukan pencatatan dalam buku catatan khusus
Surat Penetapan. Terhadap piutang pajak yang telah diberitahukan kepada
KPP tidak perlu dilakukan monitoring dan dianggap telah selesai.
Terhadap PPh Pasal 22 (Pajak Penghasilan dalam rangka importasi barang)
yang tidak dibayar atau kurang dibayar setelah lewat tahun takwim tidak
dilakukan penagihan. Atas kekurangan PPh pasal 22 tersebut (lewat tahun
takwim) diberitahukan oleh Kepala Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea
dan Cukai kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak di wilayah penanggung
utang berdomisili.

b). Pengembalian Bea Masuk, Denda Administrasi dan Bunga
Pengembalian Bea Masuk atau yang lebih dikenal dengan istilah restitusi
diberikan apabila memnuhi syarat-syarat yang ditentukan. Pengembalian Bea
Masuk antara lain timbul sebagai akibat kelebihan pembayaran. Hal tersebut
diketahui antara lain dari hasil penelitian Pejabat Pemeriksa Dokumen.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 95

Kelebihan bayar tersebut dituangkan dalam SPTNP yang selanjutnya
dikirimkan kepada Pejabat yang mengelola Penagihan/Pengembalian
(Bendaharawan) untuk proses lebih lanjut.
Pengembalian dapat diberikan terhadap seluruh atau sebagian Bea Masuk
yang telah dibayar atas :
i. Kelebihan Pembayaran Bea Masuk karena penetapan tarif Bea Masuk
dan/atau Nilai Pabean oleh Pejabat Bea dan Cukai;
ii. Kelebihan pembayaran Bea Masuk karena penetapan kembali Bea
Masuk dan/atau Nilai Pabean oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai;
iii. Kelebihan pembayaran Bea Masuk karena kesalahan tata usaha;
iv. Impor barang yang mendapat pembebasan atau keringanan Bea
Masuk;
v. Impor barang yang oleh sebab tertentu harus diekspor kembali atau
dimusnahkan di bawah pengawasan Pejabat Bea dan Cukai;
vi. Impor barang yang sebelum diberikan persetujuan impor untuk dipakai
kedapatan jumlah yang sebenarnya lebih kecil daripada yang telah
dibayar Bea Masuknya, cacat, bukan barang yang dipesan, atau
berkualitas lebih rendah;
vii. Impor barang dalam keadaan curah yang diberikan persetujuan impor
tanpa pemeriksaan fisik (jalur hijau), kedapatan jumlah fisik barang
kurang sehingga menimbulkan kelebihan pembayaran Bea Masuk.
Pemberian restitusi ini hanya dapat dipertimbangkan setelah ada
rekomendasi hasil audit.
viii. Kelebihan pembayaran Bea Masuk sebagai akibat putusan lembaga
banding (Badan Peradilan Pajak).

Jika persyaratan dipenuhi, pengembalian bea masuk (restitusi) dapat juga
diberikan terhadap seluruh atau sebagian denda administrasi dan/atau bunga
yang telah dibayar sebagai akibat pelanggaran terhadap Undang-undang
Nomor 17 Tahun 2006 jo. Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.






Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 96

B. Sanksi Administrasi

Dalam materi ini dibahas mengenai jenis-jenis pelanggaran beserta sanksi
administrasinya, perhitungan sanksi administrasi danpembahasan kasus-kasus
kesalahan pemberitahuan pabean.

1) Jenis pelanggaran dan kelompok sanksi administrasi.

Sanksi Administrasi atau Denda Administrasi adalah sanksi berupa denda
yang dikenakan terhadap pelanggaran ketentuan Undang-undang Nomor 17
Tahun 2006 jo. Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan yang bersifat
administratif.
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa Undang-undang No. 17 Tahun
2006 mengatur Sanksi Administratif dan Sanksi Pidana. Sanksi Administratif
ditetapkan tersebar dalam pasal-pasal dalam Undang-undang Kepabeanan,
sedangkan Sanksi Pidana terkumpul pada Bab XIV Ketentuan Pidana yang
terdiri dari 14 pasal, yaitu pasal 102 sampai dengan pasal 111. Sanksi
Administrasi berupa denda dikenakan terhadap orang yang melakukan
pelanggaran administrasi yang diatur dalam Undang-undang Kepabeanan.
Pengenaan Sanksi Administrasi dilakukan berdasarkan ketentuan sebagaimana
diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2008 tentang Pengenaan
Sanksi Administrasi Berupa Denda Dibidang Kepabeanan.
Pelanggaran Ketentuan Kepabeanan dapat dilakukan oleh siapa saja yang
dalam tindakannya berkaitan dengan bidang Kepabeanan, yang dapat
dikelompokkan dalam :
- Pelanggaran yang dilakukan oleh pengangkut, seperti agen pelayaran,
Nahkoda Kapal, dan sebagainya;
- Pelanggaran yang dilakukan oleh Importir;
- Pelanggaran yang dilakukan oleh Eksportir;
- Pelanggaran yang dilakukan oleh Pengusaha TPS (Tempat Penimbunan
Sementara);
- Pelanggaran yang dilakukan oleh oleh PPJK (Pengusaha Pengurusan Jasa
Kepabeanan).



Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 97

Di atas telah diuraikan bahwa jenis pelanggaran Kepabeanan tersebar di
dalam pasal-pasal dalam Undang-undang Kepabeanan, dan si pelanggar atau
pelanggaran dapat dilakukan oleh siapa saja yang berkaitan dengan bidang
Kepabeanan sebagaimana dalam kelompok tersebut di atas.
Sanksi Administrasi berupa denda tersebut dapat dikelompokkan dalam 5
(lima) kelompok denda yang besarnya dinyatakan dalam nilai rupiah atau dalam
persentase tertentu, sebagai berikut:
Dalam nilai rupiah tertentu
Dalam nilai rupiah minimum sampai dengan maksimum;
Persentase tertentu dari Bea Masuk yang seharusnya dibayar;
Persentase tertentu minimum sampai maksimum dari kekurangan
pembayaran bea masuk atau bea keluar; atau
Persentase tertentu minimum sampai dengan maksimum dari Bea Masuk
yang seharusnya dibayar.
Penjelasan masing-masing kelompok sanksi administrasi adalah sebagai berikut:
a. Denda yang besarnya dinyatakan dalam nilai rupiah tertentu;
Terhadap pelanggaran yang diancam dengan Sanksi Administrasi berupa
denda yang besarnya dinyatakan dalam nilai rupiah tertentu sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 10A ayat (8), Pasal 11A ayat (6), Pasal 45 ayat (3),
Pasal 52, Pasal 81 ayat (3), Pasal 82 ayat (3b), Pasal 86 ayat (2), Pasal 89
ayat (4), Pasal 90 ayat (4), atau Pasal 91 ayat (4) Undang-undang
Kepabeanan, dikenakan denda sebesar nilai rupiah yang tersebut dalam
pasal Undang-undang yang bersangkutan.
Atas pengenaan denda Denda yang besarnya dinyatakan dalam nilai rupiah
tertentu, sebagaimana dimaksud diatas dilaksanakan sesuai dengan
besarnya denda yang tertera dalam pasal Undang-undang Kepabeanan;
Contoh: Eksportir yang tidak melaporkan pembatalan ekspor dikenai sanksi
berupa denda sebesar Rp.5.000.000,- sesuai pasal 11A ayat (6).
b. Denda yang dinyatakan dalam nilai rupiah minimun sampai dengan
maksimum.
Terhadap pelanggaran yang diancam dengan Sanksi Administrasi berupa
denda yang besarnya dinyatakan dalam nilai rupiah minimum sampai
dengan maksimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7A ayat (7) dan
ayat (8), pasal 8A ayat (2) dan ayat (3) , pasal 8C ayat (3) dan (4), pasal 9A


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 98

ayat (3) dan pasal 10A ayat (3) dan ayat (4) Undang-undang Kepabeanan,
ditetapkan secara berjenjang Terhadap pelanggaran yang diancam dengan
Sanksi Administrasi berupa denda minimum sampai dengan maksimum
yang besarnya dinyatakan dalam nilai rupiah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 7A ayat (7) dan (8), Pasal 8A ayat (2) dan (3), Pasal 8C ayat (3) dan
(4), Pasal 9A ayat (3), Pasal 10A ayat (3) dan (4) Undang-undang
Kepabeanan, dikenakan denda sebesar nilai rupiah yang ditetapkan secara
berjenjang berdasarkan jumlah pelanggaran selama enam bulan terakhir.
Denda sebagaimana dimaksud ditetapkan dengan ketentuan:
apabila dalam enam bulan terakhir dilakukan satu kali pelanggaran,
dikenakan denda sebesar satu kali denda minimum;
apabila dalam enam bulan terakhir dilakukan dua kali pelanggaran,
dikenakan denda sebesar dua kali denda minimum;
apabila dalam enam bulan terakhir dilakukan tiga kali sampai dengan
empat kali pelanggaran, dikenakan denda sebesar lima kali denda
minimum;
apabila dalam enam bulan terakhir dilakukan lima sampai enam kali
pelanggaran, dikenakan denda sebesar tujuh kali denda minimum;
apabila dalam enam bulan terakhir dilakukan lebih dari enam kali
pelanggaran, dikenakan denda sebesar satu kali denda maksimum;
Tata cara penetapan denda atas pelanggaran Undang-undang yang dikenai
Sanksi Administrasi dalam bentuk denda minimum sampai dengan denda
maksimum yang besarnya dinyatakan dalam nilai rupiah, adalah sebagai
berikut :
Contoh :
Pada tanggal 15 Juli, atas pengangkutan barang impor
pengusaha/pengangkut melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud
dalam pasal 8A ayat (2) Undang-undang Kepabeanan, yaitu jumlah barang
impor yang di bongkar kurang dari yang diberitahukan dalam Pemberitahuan
Pabean, sehingga berdasarkan Undang-undang dikenai Sanksi Administrasi
berupa denda paling banyak Rp. 250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta
rupiah) dan paling sedikit Rp. 25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah).


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 99

Untuk mengenakan Sanksi Administrasi berupa denda terhadap
Pengangkutan tersebut di atas, terlebih dahulu harus dilihat jumlah
pelanggaran yang dilakukan Pengangkut tersebut dalam kurun waktu enam
bulan terakhir, dalam kasus ini antara kurun waktu 15 Januari sampai
dengan 15 Juli. Apabila dalam kurun waktu tersebut, pengangkut misalnya
melakukan tiga kali pelanggaran, maka dikenakan denda lima kali dari denda
minimum, yaitu sebesar Rp.125.000.000,- (seratus dua puluh lima juta
rupiah).
c. Denda yang besarnya dinyatakan dalam persentase dari Bea Masuk
yang seharusnya dibayar;
Terhadap pelanggaran yang diancam dengan Sanksi Administrasi berupa
denda yang besarnya dinyatakan dalam persentase tertentu dari Bea Masuk
yang seharusnya dibayar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10B ayat (6),
Pasal 10D ayat (5) dan (6), Pasal 43 ayat (3), atau Pasal 45 ayat (4)
Undang-ndang Kepabeanan, dikenakan denda sebesar nilai rupiah yang
diperoleh dari hasil perkalian antara besarnya Sanksi Administrasi dengan
Bea Masuk yang seharusnya dibayar.
Atas pengenaan denda yang besarnya dinyatakan dalam persentase dari
Bea Masuk yang seharusnya dibayar, sebagaimana dimaksud pada butir 3
diatas diperoleh darihasil perkalian persentase tertentu dengan bea masuk
yang seharusnya dibayar.
Contoh:
Barang impor mendapat fasilitas vooruitslag/penangguhan bea masuk
sebesar Rp.50.000.000,- Jika pada waktu jatuh tempo tidak diselesaikan,
importer dikenai sanksi berupa denda sebesar 10% berdasarkan Pasal 10B
ayat (6). Besar denda adalah 10% x Rp.50.000.000,- = Rp.5.000.000,-
d. Denda yang dinyatakan dalam persentase tertentu minimum sampai
dengan maksimum dari kekurangan bea masuk/bea keluar;
sebagai mana dimaksud dalam 16 ayat (4), pasal 17 ayat (4), pasal 82 ayat
(5) dan ayat (6), dan pasal 86 A Undang-undang Kepabeanan, ditetapkan
secara berjenjang berdasarkan perbandingan antara kekurangan
pembayaran Bea Masuk/Bea Keluar dengan Bea Masuk/Bea Keluar yang
telah dibayar.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 100

Denda minimum sampai dengan maksimum yang besarnya dinyatakan
dalam persentase tertentu dari kekurangan pembayaran Bea Masuk.
Terhadap pelanggaran yang diancam dengan Sanksi Administrasi berupa
denda minimum sampai dengan maksimum yang besarnya dinyatakan
dalam persentase tertentu dari kekurangan pembayaran Bea Masuk,
dikenakan denda sebesar nilai rupiah yang ditetapkan secara berjenjang
berdasarkan perbandingan antara kekurangan pembayaran Bea Masuk
dengan Bea Masuk yang telah dibayar.
Denda sebagaimana dimaksud diatas ditetapkan dengan ketentuan :
apabila kekurangan Pembayaran Bea Masuk sampai dengan 25 (dua
puluh lima) persen dari Bea Masuk yang telah dibayar, dikenakan
denda sebesar 100 (seratus) persen dari kekurangan pembayaran
Bea Masuk;
apabila kekurangan Pembayaran Bea Masuk sampai dengan 25 (dua
puluh lima) persen sampai dengan 50 (lima puluh) persen dari Bea
Masuk yang telah dibayar, dikenakan denda sebesar 200 (dua ratus)
persen dari kekurangan pembayaran Bea Masuk;
apabila kekurangan Pembayaran Bea Masuk di atas 50 (lima puluh)
persen sampai dengan 75 (tujuh puluh lima) persen dari Bea Masuk
yang telah dibayar, dikenakan denda sebesar 400 (empat ratus)
persen dari kekurangan pembayaran Bea Masuk;
apabila kekurangan Pembayaran Bea Masuk di atas 75 (tujuh puluh
lima) persen sampai dengan 100 (seratus) persen dari Bea Masuk
yang telah dibayar, dikenakan denda sebesar 700 (tujuh ratus)
persen dari kekurangan pembayaran Bea Masuk;
apabila kekurangan Pembayaran Bea Masuk di atas 100 (seratus)
persen dari Bea Masuk yang telah dibayar, dikenakan denda sebesar
1000 (seribu) persen dari kekurangan pembayaran Bea Masuk;
Tata cara penetapan denda atas pelanggaran Undang-undang Kepabeanan
yang dikenai Sanksi Administrasi dalam bentuk denda minimum sampai
dengan maksimum yang besar dinyatakan dalam persentase tertentu dari
kekurangan pembayaran Bea Masuk, adalah sebagaimana contoh kasus
berikut :



Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 101

Contoh :
Dalam Pemberitahuan Impor Barang, Importir membayar Bea Masuk atas
barang yang diimpornya sebesar Rp.1.000.000,- (satu juta rupiah),
berdasarkan tarif Bea Masuk sebear 10% dan nilai pabean atas barang
impor tersebut sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). Dari hasil
penelitian Pejabat Bea dan Cukai ternyata nilai transaksi dari barang
bersangkutan adalah sebesar Rp. 12.500.000,- (dua belas juta lima ratus
ribu rupiah) dan Bea Masuk yang seharusnya dibayar adalah sebesar
Rp. 1.250.000,- (satu juta dua ratus lima puluh rupiah), sehingga importir
kurang membayar Bea Masuk sebesar Rp. 250.000,- (dua ratus lima
puluh ribu rupiah).
Dalam kasus di atas, kekurangan pembayaran Bea Masuk adalah
sebesar Rp. 25% (dua puluh lima persen) dari Bea Masuk yang telah
dibayar (Rp. 250.000,- dibagi bilangan Rp.1.000.000,-) sehingga denda
administrasi yang dikenakan terhadap Importir adalah 100% (seratus
persen) dari kekurangan pembayaran Bea Masuk, yaitu sebesar Rp.
250.000,- (dua ratus lima puluh rupiah).
Apabila tarif Bea Masuk atas barang yang berkaitan dengan pelanggaran
yang dikenakan Sanksi Administrasi sebagaimana dimaksud di atas
besarnya nol persen, maka denda ditetapkan sebesar
Rp.5.000.000,- (lima juta rupiah).
e. Denda yang dinyatakan dalam persentase tertentu minimum sampai
dengan maksimum dari Bea Masuk yang seharusnya dibayar,
sebagaimana ditetapkan dalam pasal 25 ayat (4) dan pasal 26 ayat (4) UU
Kepabeanan, ditetapkan secara berjenjang berdasarkan perbandingan
antara bea masuk atas fasilitas yang disalah gunakan dengan total bea
masuk yang mendapat fasilitas.
Denda yang dinyatakan dalam persentase tertentu minimum sampai dengan
maksimum dari Bea Masuk yang seharusnya dibayar ditetapkan secara
berjenjang berdasarkan perbandingan antara bea masuk atas fasilitas yang
disalah gunakan dengan total bea masuk yang mendapat fasilitas, dengan
ketentuan apabila kekurangan pembayaran bea masuk :


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 102

apabila kekurangan Pembayaran Bea Masuk sampai dengan 20
(dua puluh) persen, dikenakan denda sebesar 100 (seratus) persen
dari Bea Masuk yang seharusnya dibayar;
apabila kekurangan Pembayaran Bea Masuk diatas 20 (dua puluh)
persen sampai dengan 40 (empat puluh) persen, dikenakan denda
sebesar 200 (dua ratus) persen dari Bea Masuk yang seharusnya
dibayar;
apabila kekurangan Pembayaran Bea Masuk di atas 40 (empat
puluh) persen sampai dengan 60 (enam puluh) persen, dikenakan
denda sebesar 300 (tiga ratus) persen dari Bea Masuk yang
seharusnya dibayar;
apabila kekurangan Pembayaran Bea Masuk di atas 60 (enam
puluh) persen sampai dengan 80 (delapan puluh) persen,
dikenakan denda sebesar 400 (empat ratus) persen dari Bea
Masuk yang seharusnya dibayar;
apabila kekurangan Pembayaran Bea Masuk di atas 80 (delapan
puluh) persen sampai dengan 100% , dikenakan denda sebesar
500 (lima ratus) persen dari Bea Masuk yang seharusnya dibayar;

Pada dasarnya terhadap pelanggaran yang timbul karena tidak
dipenuhinya ketentuan dalam Undang-undang tetap dikenakan suatu sanksi.
Oleh karena itu apabila Sanksi Administrasi yang dasar perhitungannya adalah
persentase dari kekurangan pembayaran Bea Masuk, ternyata Bea Masuk atas
barang yang dilakukan pelanggaran tersebut tarifnya 0% (nol persen), maka
sanksi yang dijatuhkan tidak lagi bersifat proporsional, tetapi didasarkan pada
satuan jumlah dalam rupiah, sesuai pasal 114 .
Berikut ini disampaikan matriks jenis pelanggaran beserta sanksinya sesuai
Undang-undang Nomor 17 tahun 2006.
Jenis pelanggaran beserta sanksinya sesuai pasal-pasal dalam Undang-undang
No. 17 tahun 2006 sebagai berikut :





Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 103

No Jenis Pelanggaran Sanksi Pelangar pasal

1

- Pengangkut tidak menyerah-
kan RKSP (Rencana
Kedatangan Sarana
Pengangkut).


DA maks.50
juta, minimum
5 juta rupiah

Pengangkut
dalam hal
impor

Pasal 7A
ayat (7)
2 - Tidak serahkan manifest.
- Tidak melaporkan keadaan
darurat dan tidak
menyerahkan
pemberitahuan pabean.
BM barang
yang kurang,
DA maks. 100
juta, minimum
10 juta rupiah
Pengangkut
dalam hal
impor
Pasal 7A
ayat (8)
3




Barang impor eks TPS/TPB ke
TPS/TPB lainnya:
- Kekurangan bongkar
- Kelebihan bongkar barang
impor
DA maks. 250
juta rupiah,
minimum 25
juta rupiah

Pengusaha
atau
importir


Pasal 8A
ayat (2)
dan (3)

4 - Kekurangan membongkar
barang tertentu
- Kelebihan membongkar
barang tertentu

DA maks. 50
juta, min. 5
juta rupiah
DA maks. 250
juta, min. 25
juta rupiah
Pengangkut
barang
tertentu


Pasal 8C
ayat (3)
dan ayat
(4)


5 - Tidak memberitahukan
barang yang diangkut
dengan tujuan luar daerah
Pabean atau ke daerah
Pabean lain
DA maks. 100
juta, minimal
10 juta.
Pengangkut Pasal 9A
ayat (3)
6 Barang impor dibongkar di
kawasan pabean:
- Kekurangan membongkar
barang impor
- Kelebihan membongkar
barang impor
- Mengeluarkan barang impor
dari Kawasan Pabean/
tempat lain, setelah
memenuhi kewajiban tetapi
belum mendapat izin.

DA maks 250
juta, min. 25
juta rupiah

DA maks 500
juta, min. 25
juta rupiah
DA 25 juta
rupiah
Pengangkut






-Orang
Pasal 10A
ayat (3)
dan

ayat (4)

ayat (8)
7 - Tidak melunasi bea masuk
dalam jangka waktu yang
ditetapkan.

Denda adm.
10% dari bea
masuk
Orang/siapa
saja
Psl.10B
ayat (6)
8 - Terlambat mereekspor
barang impor sementara
- Tidak mereekspor barang
impor sementara
Denda 100%
dari bea
masuk
Orang/siapa
saja
Psl.10D
ayat (5)
dan (6)


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 104


9 - Tidak melaporkan
pembatalan ekspor.

Denda 5 juta
rupiah
Eksportir Psl.11A
ayat (6)
- Salah memberitahukan Nilai
Pabean sehingga berakibat
kekurangan Pembayaran
Bea Masuk
DA maks.
1000% dan
min. 100%
dari BM yang
kurang

Importir Pasal 16
ayat (4)
10 - Penetapan kembali karena
salah memberitahukan Nilai
Pabean sehingga berakibat
kekurangan Pembayaran
Bea Masuk
Denda adm
maksimum
1000% dan
minimum
100% dari BM
yang kurang

Importir Pasal 17
ayat (4)
11 - Tidak memenuhi ketentuan
tentang pembebasan
/keringanan BM sesuai UU
Kepabeanan

DA
maks.500%
dan min.
100% dari BM
yang
seharusnya

Setiap
orang
Pasal 25
ayat (4)
12 - Tidak memenuhi ketentuan
tentang pembebasan
/keringanan BM sesuai UU
Kepabeanan

DA
maks.500%
dan min.
100% dari BM
yang
seharusnya

Setiap
orang
Pasal 26
ayat (4)
13 - Tidak dapat
mempertanggung jawabkan
barang-barang yang
seharusnya di TPS

DA 25% x BM
yang
seharusnya
Pengusaha
TPS
Pasal 43
ayat (3)
14 - Mengeluarkan barang dari
TPB sebelum ada
persetujuan tanpa
bermaksud mengelakan
kewajiban pabean
- Tidak dapat
mempertanggung jawabkan
barang yang seharusnya di
TPB

DA 75 juta
rupiah.


-D A 100% x
BM yang
seharusnya

-Orang



-Pengusaha
TPB
Pasal 45
ayat (3)
dan (4)
15 - Tidak menyelenggarakan
pembukuan
- Tidak mengindahkan
ketentuan penyelenggaraan
-DA 50 juta
rupiah
-DA 25 juta
rupiah
Importir,
Eksportir,
Pengusaha,
TPB, PPJK,
Pasal 52


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 105

pembukuan, syarat dan
penyimpanan pembukuan

PP
16

- Tidak memberikan bantuan
yang layak pada Pejabat
Bea dan Cukai

Denda
Administrasi 5
juta rupiah
Pengangkut
atau
pengusaha
Pasal 81
ayat (3)
17 - Tidak memenuhi permintaan
pejabat BC untuk :
Menyerahkan barang
untuk diperiksa
Membuka sarana
pengangkut
Membuka pengemas

Denda
Administrasi
25 juta rupiah
Setiap
Orang
Pasal 82
ayat (3)
18 - Salah memberitahukan:
jumlah
jenis
yang berakibat kekurangan
pembayaran BM

DA maks.
1000% dan
min.100% dari
BM yang
kurang

Setiap
orang
Pasal 82
ayat (5)
19 - Salah memberitahukan jenis
dan jumlah barang atas
ekspor yang berakibat tidak
terpenuhi pen.negara.
DA maks, Rp.
1000%, min
Rp. 100% dari
kekurangan

Setiap
Orang
Pasal 82
ayat (6)
20 - Orang yang menyebabkan
pejabat BC tidak dapat
melakukan audit

Denda
Administrasi
75 juta rupiah
Imp/Eksp.
TPS, TPB,
PPJK, PP.
Pasal 86
ayat (2)
21 Tindakan yang menyebabkan
Pej.BC tidak dapat melaks. :
1. Pemeriksaan bangunan
- Yang penyelengga-
raannya dengan izin
(TPS, TPB)
- Yang berisi barang di
bawah pengawasan
Pabean
2. Memasuki/memeriksa
bangunan selain tsb ad.1
dan bukan rumah tinggal

Denda
Administrasi 5
juta rupiah
Setiap
Orang
Pasal 89
ayat (4)
22 - Tidak melaksanakan perintah
penghentian pembongkaran
barang yang bertentangan
dengan ketentuan

Denda
Administrasi
25 juta rupiah
Setiap
Orang
Pasal 90
ayat (4)
23 - Menolak permintaan BC untuk
- menghentikan pengangkut
Denda
Administrasi 5
Pengangkut Pasal 91
ayat (4)


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 106

- menuju ke tempat yang
diperintahkan
- menunjukkan dokumen
pengangkutan

juta rupiah
24 - Penghentian penyidikan
tindak pidana oleh Jaksa
Agung atas perintah Menteri
Keuangan
Yang
bersangkutan
melunasi BM
yang
tidak/kurang di
tambah denda
400% dari BM
yang
tidak/kurang
dibayar

Setiap
orang
Pasal 113
ayat (2)
25 Sanksi administrasi
berdasarkan % dari BM, jika
tarif 0%
Denda 5 juta
rupiah
Pelanggar Pasal 114


2) Perhitungan denda administrasi.

Sebagaimana diuraikan di atas bahwa Sanksi Administrasi berupa denda
dikenakan terhadap setiap orang yang melakukan pelanggaran administrasi yang
diatur dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2006 jo. Nomor 10 tahun 1995
tentang Kepabeanan.
Penetapan denda atas pelanggaran yang diancam dengan Sanksi
Administrasi yang berkaitan dengan pengajuan dokumen pemberitahuan pabean
sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 ayat 4 dan pasal 82 ayat (5) Undang-
Undang tersebut diatas, dilakukan oleh PFPD dengan menerbitkan SPTNP.
Pelunasan denda tersebut dilakukan bersama-sama dengan pelunasan
kekurangan pembayaran Bea Masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor.
Pasal 16 ayat (4) berbunyi :
Importir yang salah memberitahukan Nilai Pabean untuk perhitungan Bea
Masuk sehingga mengakibatkan kekurangan pembayaran Bea Masuk
dikenai Sanksi Administrasi berupa denda paling sedikit 100% (seratus
persen) dari Bea Masuk yang kurang di bayar, atau paling banyak 1000%
(seribu persen) dari Bea Masuk yang kurang dibayar.



Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 107

Pasal 82 ayat (5) berbunyi :
Setiap orang yang salah memberitahukan jenis dan atau jumlah barang
dalam Pemberitahuan Pabean atas impor yang mengakibatkan kekurangan
pembayaran Bea Masuk, dikenai Sanksi Administrasi berupa denda paling
sedikit 100% (seratus persen) dari Bea Masuk yang kurang dibayar dan
paling banyak 1000% (seribu persen) dari Bea Masuk yang kurang dibayar.
Sedangkan penetapan denda atas pelanggaran lainnya (lihat matriks di atas),
misalnya kesalahan pelanggaran di bidang impor, pelanggaran oleh pengangkut,
temuan audit pada suatu perusahaan, dan sebagainya, maka penetapan denda
dimaksud dilakukan oleh Kepala Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan
Cukai. Penetapan denda dilakukan dengan menggunakan SPSA (Surat
Penetapan Sanksi Administrasi). SPSA tersebut disampaikan kepada pihak
yang dikenakan Sanksi Administrasi, dan harus dilunasi dalam jangka waktu 60
(enam puluh) hari sejak diterimanya SPSA.
Pihak yang dikenakan denda administrasi dapat mengajukan keberatan atas
penetapan denda sebagaimana tersebut dalam Surat Penetapan atau SPSA
kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai, sebelum jatuh tempo pembayaran
hutangnya (60 hari sejak tanggal diterimanya Surat Penetapan dimaksud).

3) Kasus-kasus Kesalahan Pemberitahuan Dokumen Impor dan
Perhitungan Sanksi Administrasi

Dalam proses penyelesaian dokumen impor (PIB) kemungkinan dapat
terjadi kesalahan pemberitahuan, mengingat bahwa pemberitahuan impor dibuat
sendiri oleh importir (self assessment).
Berkaitan dengan Sanksi Administrasi, kesalahan dibagi dua, yaitu
kesalahan yang dapat mengakibatkan denda dan kesalahan yang tidak
mengakibatkan denda.
Kesalahan pemberitahuan impor tidak dikenakan denda dalam hal
kesalahan tata usaha misalnya kesalahan tik, kurs dan sebagainya. Kesalahan
memberitahukan tarif Bea Masuk (post tariff HS maupun pembebanannya) juga
tidak dikenakan denda.
Perhitungan denda tidak hanya dikenakan terhadap kesalahan yang
mangakibatkan kekurangan Pembayaran Bea Masuk, terhadap kesalahan


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 108

pemberitahuan yang tarif Bea Masuknya 0% (nol persen) juga dikenakan denda
sebesar Rp. 5000.000,- (lima juta rupiah) yang dikenakan hanya satu kali saja
untuk satu PIB.
Perhitungan persentase denda dari kesalahan pemberitahuan jumlah, jenis
dan nilai pabean didasarkan atas jumlah kekurangan pembayaran Bea Masuk
yang seharusnya di bayar dari seluruh barang impor yang dikenai Sanksi
Administrasi dalam satu PIB.
Perhitungan denda dalam hal terdapat kesalahan yang mengakibatkan
kekurangan pembayaran Bea Masuk didasarkan pada perkalian persentase
denda dengan jumlah kekurangan pembayaran Bea Masuk dari kesalahan
pemberitahuan jumlah, jenis dan nilai pabean.
Untuk lebih jelasnya berikut ini disampaikan contoh perhitungan dalam
keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 07 tahun 2003.
Perhitungan besarnya Sanksi Administrasi berupa denda atas pelanggaran
Pasal 16 ayat (4) dan Pasal 82 ayat (5) dilakukan dengan cara terlebih dahulu
menghitung besarnya prosentase denda, dan setelah itu dilakukan perhitungan
besarnya denda yang harus dikenakan atas pelanggaran yang dilakukan.
Ada beberapa contoh kasus tambah bayar yang dapat dipakai sebagai
pedoman dalam menghitung besarnya Sanksi Administrasi berupa denda
sebagaimana diuraikan di bawah ini :
a. Kesalahan yang menyebabkan terjadinya kekurangan pembayaran
Bea Masuk dari suatu PIB, dikelompokkan menjadi dua yaitu:
kesalahan yang mengakibatkan denda dan kesalahan yang tidak
mengakibatkan denda (klasifikasi atau pembebanan)
Perhitungan denda dilakukan dari kelompok kesalahan yang mengakibatkan
denda yaitu dengan cara :
Jumlah Kekurangan pembayaran Bea Masuk dijumlahkan;
Prosentase denda dihitung dari jumlah kekurangan pembayaran Bea
Masuk dibagi dengan jumlah Bea Masuk yang telah dibayar;
Jumlah denda yang harus dibayar adalah hasil perkalian antara
prosentase denda dengan jumlah kekurangan Bea Masuk yang
mengakibatkan denda.
Perhitungannya adalah sebagai berikut :


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 109


No

Jenis Barang
Jenis
kesalahan
BM.
dibayar
(juta)
BM
seharusny
a (juta)
BM
kurang
bayar
(juta)

1
2
3
4
5

Televisi
Tape Recorder
VCD Player
Lampu Pijar
Speaker Set

Klasifikasi
Pembebanan
Jumlah
Nilai Pabean
Jenis

10.00
10.00
10.00
20.00
0

20.00
20.00
15.00
30.00
10.00

10.00
10.00
5.00
10.00
10.00
Jumlah 50.00 95.00 45.00

Penjelasan:
1) Barang no urut 1 dan 2 tidak dikenakan denda dan kekurangan
pembayaran Bea Masuk = Rp. 20.000.000,-
2) Barang dengan No. urut 3, 4, dan 5 merupakan barang yang
kesalahannya dikenakan denda :
1) % denda = kurang bayar / jumlah pungutan yang dibayar x 100%
= 25 / 30 x 100%
= 83.33% denda = 700 %
2) Besarnya denda yang dikenakan adalah =7 x kurang bayar
=7xRp.25juta
=Rp. 175 juta
3) Jumlah BM yang kurang dibayar = Rp. 20 juta + 25 juta
= Rp. 45 juta
4) Denda = Rp. 175 juta

b. Penghitungan Sanksi Administrasi berupa denda yang dikenakan terhadap
satu jenis barang yang mempunyai dua kesalahan, yaitu kesalahan yang
mengakibatkan denda dan kesalahan yang tidak mengakibatkan denda,
dilakukan dengan cara menghitung terlebih dahulu kekurangan bayar yang
tidak dikenakan denda setelah itu baru dihitung kekurangan bayar yang
mengakibatkan denda.




Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 110

N
o
Jenis
Barang
Jenis Kesalahan Diberitahukan Seharus-
nya
Selisih

1


Televisi
200 pcs

1. Pembebanan
2.Nilai Pabean

5%
50 juta

10%
200 juta


Perhitungan :
Kekurangan bayar tanpa denda
1) Bea Masuk yang telah dibayar dengan kesalahan pembebanan
adalah Rp. 50 juta x 5% = Rp. 2.5 juta;
2) Bea Masuk yang seharusnya dibayar tanpa kesalahan
pembebanan adalah Rp. 50 juta x 10% = Rp. 5 juta;
3) Terdapat kekurangan pembayaran Bea Masuk sebesar Rp. 2.5
juta
Kekurangan Bayar dengan denda
1) Apabila tidak ada kesalahan pembebanan maka importir
membayar Rp. 50 juta x 10% = Rp. 5 juta;
2) Bea Masuk yang seharusnya dibayar dengan Nilai Pabean yang
sebenarnya adalah Rp. 200 juta x 10% = Rp. 20 juta
3) Prosentase denda dihitung dari kekurangan pembayaran Bea
Masuk yang seharusnya dibayar (20-5=15 juta) dengan yang
dibayar apabila tidak terdapat kesalahan pembebanan (5 juta),
yaitu : kekurangan bayar/yang telah dibayar = 15 / 5 x 100% =
300% denda 1000%;
Berarti besar denda adalah 10 kali dari BM kurang bayar.
4) Denda administrasi yang dikenakan adalah sebesar 10 x Rp. 15
juta = Rp. 150 juta;
5) Jumlah Bea Masuk yang kurang dibayar = 17.5 juta
Denda Administrasi = 150 juta

c. Kekurangan bayar yang mengakibatkan denda terhadap barang yang
pembebanannya 0% hanya dikenakan satu kali untuk satu PIB, apabila
pada PIB tersebut tidak ada barang impor lain yang harus dikenai denda.



Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 111

Contoh 1:
N
o
Jumlah &
Jenis
Barang
Jenis
kesalahan
diberita
hukan
Seharus
-nya
Kekurangan dan
denda

1


Televisi
200 pcs

Pembebanan
Nilai Pabean

5%
50 juta

10%
200 juta

Kurang byr = 17.5 jt
Denda = 150 juta
2 Barang B
200 pcs

Nilai Pabean
0%
100 juta

0%
200 juta
Barang B tidak kena
denda karena televisi
sudah kena denda

Contoh 2:
N
o
Jumlah &
Jenis
Barang
Jenis
kesalahan
diberita
hukan
Seharus-
nya
Kekurangan dan
denda

1


Televisi
200 pcs

Pembebanan


5%
100 juta

10%
100 juta

Tambah bayar = 5
juta
2 Barang B
200 pcs
Pembebanan
Nilai Pabean
5%
50 juta

0%
200 juta
Barang B kena
denda Rp. 5 juta

d. Dalam hal setelah pemeriksaan fisik dan/atau dokumen, ternyata dalam
satu PIB terdapat barang yang tidak diberitahukan dan ada barang yang
tidak ditemukan, maka jumlah penerimaan yang telah dibayarkan untuk
barang yang tidak ditemukan tersebut diperhitungkan sebagai pungutan
yang sudah dibayar untuk barang yang tidak diberitahukan.
N
o
Jenis
Barang
Hasil
Pemeriks
aan
Pungutan
diberitahu
kan
Seharus
nya
Catatan
1 Barang A Benar 100 juta 100 juta Benar
2 Barang B Tidak ada 100 juta - Diberitahukan, tetapi
tidak ada

3 Barang C Ada - 200 juta Tidak diberitahukan



Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 112

Perhitungan :
1. Barang A Sesuai;
2. Pungutan yang dibayar untuk barang B dianggap pungutan yang sudah
dibayar untuk barang C;
3. Kurang Bayar ( 200 100) = 100 juta
4. % denda ( 100 / 100 x 100% = 100%) 10 x BM kurang bayar;
5. Jumlah denda = 10 x 100 juta = 1 milyar

e. Dalam hal setelah pemeriksaan fisik dan/atau dokumen, ternyata dalam
satu PIB terdapat barang yang tidak diberitahukan maka terhadap yang
tersebut diperhitungkan sebagai barang baru dan dikenakan pungutan serta
denda.

N
o
Jenis
Barang
Hasil
Pemeriks
aan
Pungutan
diberitahu
kan
Seharus
nya
Catatan
1 Barang A Benar 100 juta 100 juta Benar
2 Barang B Benar 100 juta 100 juta Benar

3 Barang C Ada - 200 juta Tidak diberitahukan

4 Barang D Ada - 50 juta Tidak diberitahukan

Perhitungan :
1) Barang A dan B sesuai;
2) BM yang kurang dibayar untuk barang C dan D = Rp. 250 juta;
3) % denda (250/1 x 100% = 250%) 10 x BM kurang bayar;
4) Jumlah denda = 10 x 250 juta = Rp. 2,5 milyar

f. Jika beberapa jenis barang yang pembebanannya sama diberitahukan
dengan digabung pada satu PIB, denda hanya dikenakan apabila setelah
diperincikan ternyata terdapat kekurangan pembayaran Bea Masuk yang
mengakibatkan denda.
Diberitahukan : Barang A, B dan C masing-masing berjumlah 100 pcs;
Barang tersebut berada dalam satu tarif pos dengan


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 113

pembebanan 5%. Total nilai Pabean Rp. 200 juta,
dan jumlah Bea Masuk Rp. 10 juta
Misalnya :
Ditemukan (1) : Barang A 100 pcs, pembebanan 5% NP 100 juta, BM:
Rp 5 Juta
: Barang B 50 pcs, pembebanan 5% NP 50 juta, BM Rp
2.5 juta
: Barang C 150 pcs, pembebanan 5% NP, 50 juta, BM:
Rp 2.5 juta
atau
ditemukan (2) : Barang A 100 pcs, pembebanan 5% NP 100 juta, BM
Rp 5 Juta
: Barang B 50 pcs, pembebanan 5% NP 50 juta, BM Rp
2.5 juta
: Barang C 150 pcs, pembebanan 5% NP, 200 juta, BM
RP 10 juta
Penyelesaian
Kasus (1) : Terdapat kesalahan jumlah barang (B & C), seharusnya
kesalahan pemberitahuan jumlah per masing-masing
barang kena denda, akan tetapi karena jumlah total
barang dan nilai pabeannya sama, sehingga jumlah
keseluruhan pungutan BM dan PIB tetap sama, maka
kesalahan tersebut tidak dikenakan denda;
Kasus (2) : Terdapat kesalahan jumlah dan nilai Pabean pada barang
C, yang mengakibatkan terjadinya kekurangan
pembayaran BM, untuk kesalahan tersebut dilakukan
perhitungan besarnya denda dari kekurangan
pembayaran dengan yang telah dibayar, yaitu:
6) BM yang kurang dibayar = Rp. 17.5 juta Rp. 10 juta
= Rp. 7.5 juta;
7) % denda (7.5 / 10 ) = 75% 7 kali BM yang kurang
dibayar;
8) denda = 7 x 7.5 = Rp. 52.5 juta



Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 114

g. Jika dalam satu PIB terdapat beberapa barang yang setelah dilakukan
penelitian ada yang BM-nya kurang dibayar dan ada yang lebih dibayar,
maka kelebihan pembayaran itu dapat dikompensasikan dengan
kekurangan bayar yang terjadi, namun apabila ada sanksi administrasi
berupa denda yang harus dibayar maka prosentase denda dan besarnya
denda yang harus dibayar dihitung dulu dari kekurangan yang sebenarnya,
setelah itu baru kelebihan bayarnya dapat dipakai untuk mengurangi
pembayaran kekurangan BM yang terjadi.

N
o
Jenis
Barang
Jenis
Kesalahan
BM.
Dibayar
(juta)
BM
seharus-
nya (juta)
BM
ku-
rang
BM
lebih

1
2
3
4
5

Televisi
Tape Record
VCD Player
Lampu Pijar
Speaker Set

Pembebana
n
-
Jumlah
Nilai Pabean
Jenis

20.00
10.00
10.00
20.00
0

10.00
10.00
15.00
30.00
10.00


-
5.00
10.00
10.00

10.00
-
-
-
-
Jumlah 60.00 75.00 25.00 10.00

Penyelesaiannya :
a) Barang dengan nomor urut 3, 4 dan 5 merupakan barang yang
kesalahannya dikenakan denda :
1) % denda = kurang bayar / jumlah di bayar x 100 %
= 25 / 30 x 100 %
= 83.33 % denda = 7 x BM kurang bayar
2) Besarnya denda yang dikenakan adalah = 7 x kurang bayar
= 7 x 25 juta
= Rp. 100 juta

b) Jumlah BM yang kurang dibayar = Rp. 25 juta Rp. 10 juta
= Rp. 15 juta
c) Denda = Rp. 175 juta



Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 115

Demikian tatacara pengenaan dan perhitungan denda atas kesalahan
pemberitahuan impor, baik dari hasil penelitian administrasi dokumen PIB
(Pemberitahuan Impor Barang), maupun dari hasil pemeriksaan fisik barang
impor.

4.2. Latihan

1) Pihak yang melakukan pelanggaran administrasi dibidang kepabeanan
dapat dikenakan denda administrasi. Besarnya denda administrasi
dikelompokan dalam empat kelompok denda sebagaimana diatur dalam
UU No.17 Tahun 2006 jo.No.10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.
Jelaskan masing-masing kelompok denda tersebut.
2) Pelanggaran administrasi dapat mengakibatkan denda administrasi
sebagaimana diatur dalam Undang-undang Kepabeanan. Dalam hal apa
kemungkinan timbul penetapan sanksi administrasi, dan apa dokumen
dasar penetapannya?

3) Jelaskan cara menghitung besarnya denda administrasi atas
pelanggaran pasal 16 ayat (4) (kesalahan pemberitahuan nilai pabean);
dan pasal 82 ayat (5) (kesalahan pemberitahuan jenis dan jumlah
barang).
4) Jelaskan bagaimana cara perhitungan Sanksi Administrasi atas suatu
jenis barang yang mempunyai 2 kesalahan yaitu kesalahan tarif dan nilai
pabean sbb: Diberitahukan 100 sets TV Color 21 dengan tarif 5% yang
seharusnya 10%; dan harga Rp.50 juta seharusnya Rp.100 juta.
5) Jelaskan bagaimana perhitungan sanksi administrasi jika dalam satu PIB
terdapat beberapa barang yang setelah dilakukan penelitian ada yang
barangnya kurang bayar dan ada yang lebih bayar sebagai berikut:
Diberitahukan barang A salah nilai pabean bayar bea masuk Rp.20 juta
seharusnya Rp.30 juta; dan barang B salah tarif diberitahukan Rp.30 juta
seharusnya Rp.20 juta.
6) Jelaskan bagaimana pengenaan denda jika beberapa jenis barang yang
pembebanannya sama diberitahukan dengan digabung pada satu PIB,
apabila setelah diperincikan ternyata terdapat kekurangan pembayaran


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 116

Bea Masuk yang mengakibatkan denda. Dalam PIB diberitahukan
: Barang A, B dan C @ 100 pcs dalam satu tarif pos pembebanan
5%, total nilai Pabean Rp. 200 juta, Bea Masuk Rp. 10 juta
7) Dalam suatu proses penyelesaian dokumen impor, hal-hal apa yang
menyebabkan dibuat SPTNP?
8) Jelaskan tatacara penagihan piutang bea masuk/denda administrasi,
yang meliputi tahap-tahap proses penagihan, jangka waktu pelunasan
dan kemungkinan tindakan lain yang, akan diambil dalam hal tagihan
tidak dilunasi.
9) Hasil penelitian atas pemberitahuan pabean dapat mengakibatkan
kekurangan maupun kelebihan pembayaran pungutan impor. Jelaskan
bagaimana penetapan tersebut terjadi dan dimana penetapan tersebut
dituangkan.

10) Jelaskan apa yang dimaksud dengan SPTNP dan apa fungsinya dan
dalam hal apa SPTNP dibuat; dan bagaimana proses penerbitannya serta
tindak lanjutnya.

4.3. Rangkuman

1) Sanksi administrasi berupa denda dikenakan terhadap orang yang
melakukan pelanggaran administrasi yang diatur dalam UU Kepabeanan.
Pelanggaran dapat terjadi / dilakukan oleh pengangkut, importir, eksportir,
pengusaha TPS, Pengusaha TPB maupun PPJK.
2) Sanksi administrasi dikelompokkan dalam 4 kelompok, yaitu: Denda yang
besarnya dinyatakan dalam nilai rupiah; denda yang besarnya dinyatakan
dalam persentase dari BM yang seharusnya dibayar; denda minimum
sampai dengan maksimum yang besarnya disebut dalam pasal UU; dan
denda minimum sampai dengan maksimum yang besarnya dinyatakan
dalam presentasi dari kekurangan pembayaran BM.
3) Penetapan denda atas pelanggaran yang diancam dengan Sanksi
Administrasi yang berkaitan dengan pengajuan dokumen pemberitahuan
pabean sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 ayat 4 dan pasal 82 ayat


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 117

(5) Undang-undang Kepabeanan, dilakukan oleh PFPD, dengan
menerbitkan SPTNP .
4) Perhitungan besarnya Sanksi Administrasi berupa denda atas
pelanggaran Pasal 16 ayat (4) dan Pasal 82 ayat (5) dilakukan dengan
cara terlebih dahulu menghitung besarnya prosentase denda, dan setelah
itu dilakukan perhitungan besarnya denda yang harus dikenakan atas
pelanggaran yang dilakukan.
5) Penghitungan Sanksi Administrasi berupa denda yang dikenakan
terhadap satu jenis barang yang mempunyai dua kesalahan, yaitu
kesalahan yang mengakibatkan denda dan kesalahan yang tidak
mengakibatkan denda, dilakukan dengan cara menghitung terlebih dahulu
kekurangan bayar yang tidak dikenakan denda setelah itu baru dihitung
kekurangan bayar yang mengakibatkan denda.
6) Dalam hal setelah pemeriksaan fisik dan/atau dokumen, ternyata dalam
satu PIB terdapat barang yang tidak diberitahukan dan ada barang yang
tidak ditemukan, maka jumlah penerimaan yang telah dibayarkan untuk
barang yang tidak ditemukan tersebut diperhitungkan sebagai pungutan
yang sudah dibayar untuk barang yang tidak diberitahukan.
7) Surat penetapan/SPTNP adalah surat penetapan tariff dan nilai pabean
untuk perhitungan bea masuk dan PDRI yang dibuat oleh pajabat
pemeriksa dokumen yang berisi perhitungan hasil pemeriksaan pabean
mengenai klasifikasi, pembebanan dan nilai pabean yang mengakibatkan
kekurangan maupun kelebihan pembayaran BM dan PDRI.
8) Dalam hal terdapat kekurangan pembayaran BM dan PDRI, diterbitkan
SPTNP, yang berfungsi sebagai surat penagihan secara administratif.
Surat tagihan tersebut harus dilunasi dalam jangka waku 30 hari sejak
tanggal penerbitan surat penetapan.
9) Pejabat Bea dan Cukai mengetapkan tarif dan nilai Pabean hanya dalam
hal tarif dan nilai Pabean yang diberitahukan berbeda dengan tarif yang
ada dan/atau nilai Pabean barang yang sebenarnya, sehingga Bea
Masuk kurang dibayar dalam hal tarif dan/atau nilai Pabean yang
ditetapkan lebih tinggi; atau Bea Masuk lebih dibayar dalam hal tarif
dan/atau nilai Pabean yang ditetapkan lebih rendah.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 118

10) Pembuatan SPTNP oleh Pejabat Pemeriksa Dokumen dapat terjadi
akibat dari hasil pemeriksaan dokumen PIB beserta lampirannya, maupun
pemeriksaan fisik barang berkaitan dengan jumlah, jenis dan tipe barang.

4.4. Test Formatif 4

Lingkarilah jawaban yang Saudara anggap benar dalam pertanyaan
dibawah ini.

1) Pada pengajuan PIB dengan sistem PDE, jika pengisian PIB lengkap dan
benar, pemberian nomor pendaftaran PIB oleh ........
a. Sistem aplikasi
b. Pejabat Penerima Dokumen
c. Pejabat Analyzing Point
d. Pejabat Pemeriksa Dokumen
2) Terhadap importasi yang mendapat pentapan jalur MITA prioritas
dilakukan
a. Pemeriksaan Pabean
b. Penelitian Dokumen
c. Pemeriksaan Fisik
d. Tidak dilakukan Pemeriksaan Pabean
3) Pemeriksa barang telah menyampaikan LHP dengan hasil pemeriksaan
sesuai. Dengan demikian Pejabat Pemeriksa Dokumen menerbitkan
SPPB dalam jangka waktu paling lama :
a. 4 jam
b. 12 jam
c. 24 jam
d. 40 jam
4) Jika terdapat kekurangan BM, Cukai dan PDRI, Pj. Pemeriksa Dokumen
menerbitkan :
a. Notul ( Nota Pembetulan)
b. Nota Pemberitahuan
c. SPTNP
d. SPSA


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 119


5) Jika dalam satu PIB terdapat kelebihan bayar Bea Masuk untuk barang
A sebesar Rp 100 juta, dan kekurangan bayar BM untuk barang B
sebesar Rp 100 juta, maka :
a. Atas kekurangan bayar barang B diterbitkan SPTNP
b. Atas kekurangan barang barang B diterbitkan SPTNP, dan atas
barang A dapat dimintakan restitusi
c. Diterbitkan SPTNP dan Notul
d. Kelebihan barang barang A dikonpensasikan dengan kekurangan
bayar barang B
6) Apabila keberatan ditolak maka yang bersangkutan dapat mengajukan
banding kepada :
a. Dirjen Bea dan Cukai
b. Badan Peradilan Tata Usaha Negara
c. Badan Peradilan Pajak
d. Badan Peradilan Keuangan Negara
7) Yang dapat diajukan keberatan adalah :
a. Penetapan Tarif dan Nilai Pabean
b. Penetapan Tarif dan Nilai Pabean dan denda
c. Penetapan Tarif dan Nilai Pabean. denda dan hasil audit
d. Semua jawaban benar
8. Permintaan penjelasan atas penerbitan SPTNP dapat dilakukan :
a. Sebelum lewat 30 hari tanggal SPTNP
b. Sebelum lewat 14 hari tanggal SPTNP
c. Sebelum lewat 60 hari tanggal SPTNP
d. Sebelum pelunasan SPTNP
9. Jika jangka waktu 21 hari sejak surat teguran BM dan PDRI tidak
dilunasi, maka diterbitkan :
a. Surat paksa untuk penagihan BM kepada Importir
b. Surat paksa untuk penagihan BM, dan PDRI kepada Importir
c. Surat paksa untuk penagihan BM dan surat pemberitahuan piutang
pajak kepada Importir


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 120

d. Surat paksa penagihan BM kepada Importir dan surat
pemberitahuan piutang pajak kepada KPP setempat
10. Jangka waktu pengajuan keberatan atas penetapan Bea Cukai adalah:
a. 30 hari sejak penetapan
b. Setelah 30 hari penerbitan SPTNP
c. 60 hari sejak tanggal penetapan
d. Setelah 60 hari penerbitan SPTNP
11. Jika pada hasil penelitian dokumen impor ternyata terdapat kelebihan
bayar maka Pejabat Pemeriksa Dokumen menerbitkan:
a. Notul
b. SPKPBM
c. SPTNP
d. Surat Pemberitahuan
12. SPTNP dibuat berdasarkan hasil pemeriksaan mengenai:
a. Klasifikasi dan pembebanan
b. Nilai Pabean
c. Jumlah, jenis, tipe barang
d. Semua jawaban benar
13. Terhadap kekurangan bea masuk dan PDRI ditagih dengan:
a. SPTNP
b. SPKPBM
c. Surat Tagihan Pajak
d. Notul dan Surat Tagihan Pajak
14. SPTNP ditanda tangani oleh:
a. Pejabat Pemeriksa Dokumen
b. Kepala Kantor
c. Kasi Pabean
d. Kasi Penagihan/pengembalian (Bendaharawan)
15. Jika pada hasil penelitian dokumen impor ternyata terdapat kesalahan
tariff bea masuk maka Pejabat Pemeriksa Dokumen menerbitkan:
a. Notul
b. SPKPBM
c. SPTNP
d. Surat Pemberitahuan


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 121

4.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkan hasil jawaban dengan kunci jawaban yang terdapat di modul ini.
Hitung jawaban Saudara dengan benar. Kemudian gunakan rumus untuk
mengetahui tingkat pemahaman Saudara terhadap materi impor .

TP = Jumlah jawaban yang benar X 100%
Jumlah keseluruhan soal

Apabila tingkat pemahaman Saudara dalam memahami materi yang sudah
dipelajari mencapai :
91 % s.d. 100 % : Amat baik
81 % s.d. 90,99 % : Baik
71 % s.d. 80,99 % : Cukup
61 % s.d. 70,99 % : Kurang

Bila tingkat pemahaman belum mencapai 81 % ke atas (kategori Baik),
maka Saudara disarankan mengulang materi.

















Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 122

PENUTUP

Saudara para peserta Diklat.
Saudara telah mempelajari seluruh kegiatan belajar yang meliputi KB-1
sampai dengan KB-4 dengan materi pelayanan dokumen impor, penelitian
atas dokumen impor yang disampaikan serta pengambilan keputusan atas
hasil penelitian dimaksud. Atas hasil penelitian tersebut dapat diterbitkan
surat penetapan. Saudara juga telah mempelajari jenis-jenis pungutan impor
baik berupa bea masuk dan PDRI serta pengenaan sanksi administrasi
berupa denda atas pelanggaran yang dilakukan importir.
Sebelum Saudara menyudahi mata pelajaran ini disarankan Saudara
mengerjakan test sumatif berikut ini. Dengan selesainya pembelajaran
modul ini diharapkan Saudara akan lebih mudah dalam mempelajari modul-
modul berikutnya dalam Diklat PFPD.

Semoga sukses.























Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 123

TEST SUMATIF


1. Lingkarilah jawaban yang Saudara anggap benar dalam pertanyaan
dibawah ini.

1) Atas kelebihan pembayaran BM, Pj Pemeriksa Dokumen menerbitkan..
a. Nota Pembetulan
b. Nota Pemberitahuan
c. SPTNP
d. SPSA
2) Dalam hal terdapat kesalahan jumlah/jenis barang yang mengakibatkan
kekurangan pembayaran BM 500% atau lebih, berkas PIB dan LHP
dikirimkan kepada ..
a. Pejabat yang melakukan pengawasan
b. Pejabat penerima dokumen
c. Pejabat yang mengelola penagihan dan pengembalian
d. Pejabat pemeriksa barang
3) Pada pengajuan PIB dengan sistem PDE, jika pengisian PIB lengkap dan
benar, pemberian nomor pendaftaran PIB oleh.
a. Sistem aplikasi
b. Pejabat Penerima dokumen
c. Pejabat analyzing point
d. Pejabat pemeriksa dokumen.
4) Setelah selesai pengeluaran barang impor, petugas yang mengawasi
pengeluaran barang mengirimkan SPPB kepada
a. Pejabat/Kasi Pabean dan Cukai
b. Pejabat pemeriksa dokumen
c. Pejabat yang mengelola manifest
d. Pejabat yang mendistribusikan dokumen
5) Importir bertanggung jawab terhadap BM, cukai dan PDRI yang terutang,
sejak tanggal :
a. RKSP
b. Penyerahan manifest kapal
c. Pendaftaran PIB
d. Pengeluaran barang (SPPB)

6) Untuk mendapatkan fasilitas GSP dalam rangka Asean PTA (CEPT)
dokumen impor perlu dilengkapi dengan:
a. SK Men.Keu.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 124

b. SK Men.Perdag.
c. CoO.
d. M/L .
7) Atas PIB impor sementara berupa 1 unit Dyeing Machine Mdl AK SL250
Made in Taiwan, hasil pemeriksaan fisik kedapatan 1 unit Dyeing Machine
type Z2500 made in Kingdom beserta Accessories. Atas importasi
tersebut dikenakan: . ...
a. Tambah bayar
b. Tambah bayar dan denda 100%
c. Izin impor sementara batal
d. Izin impor sementara diperbaiki.
8) Atas impor berupa 50 bdls pakaian anak-anak made in Taiwan, hasil
pemeriksaan fisik kedapatan pakaian bekas (bal-balan). Atas importasi
tersebut dikenakan:
a. Denda
b. Menyampaikan izin/NPIK
c. Menyampaikan LS (Laporan Surveyor)
d. Menyampaikan berkas ke unit penindakan.
9) Atas impor barang berupa 840 spool, 16,000 kgs welding wire,
diberitahukan harga barang CF USD 1,117/kg. Hasil penelitian harga
barang diragukan, data pada DBH I tidak ada; DBH II CIF USD 1,35.
Hasil pengujian harga tersebut dituangkan dalam formulir:
a. BCF 2.7
b. BC 2.7
c. BCF 2.6
d. BC 2.6
10) Atas impor 2,376 m2 marble slab, diberitahukan masuk dalam pos tarif
HS: 2515.12.2000, BM: 5 %. Hasil penelitian kedapatan marble slab siap
pakai masuk dalam pos tarif HS: 6802.91.0000. Atas importasi tersebut
diterbitkan:
a. SPMKB
b. SPTNP
c. SPP
d. Notul.


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 125

11) PNBP adalah pungutan:
a. DJBC.
b. DJP.
c. DJA.
d. Pelabuhan.
12) Pembayaran bea masuk atas pemberitahuan impor pada KPBC yang
sudah menggunakan sistem aplikasi pelayanan pabean dilakukan pada:
a. Bank Devisa
b. Kantor Pos
c. Bank Devisa yang sudah on line
d. Bank Devisa atau Kantor Pos yang sudah on line.
13) Pejabat Bea dan Cukai yang melakukan penerimaan pembayaran
pungutan impor menyetorkan pungutan impor pada hari berikutnya
dengan menggunakan:
a. SSBC
b. SSPCP
c. BPPCP
d. PPKP
14) Pada proses pemberitahuan pabean melalui pertukaran data secara
elektronik pelunasan pembayaran dapat diketahui melalui:
a. SSPCP
b. Credit advice
c. SPTNP
d. NTPN
15) Dalam hal pembayaran bea masuk dilakukan dengan dokumen dasar
SPTNP maka KPPBC:
a. Wajib meneliti SSPCP/BPN lbr-1 dari Bank.
b. Tidak perlu meneliti SSPCP
c. Wajib melakukan rekonsiliasi SSPCP dengan Bank dan KPN.
d. Wajib mengkonfirmasi kepada Bank yang bersangkutan.
16) Surat Pemberitahuan Piutang Pajak disampaikan ke KPP dalam jangka
waktu:
a. 21 hari sejak diterbitkan Surat Teguran
b. 30 hari sejak diterbitkan Surat Teguran


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 126

c. 21 hari sejak diterbitkan SPTNP
d. 30 hari sejak diterbitkan SPTNP
17) Pengembalian dapat diberikan terhadap seluruh/sebagian bea masuk
yang telah dibayar atas kelebihan pembayaran bea masuk karena:
a. Penetapan tarif dan nilai pabean oleh PFPD
b. Penetapan tarif dan nilai pabean oleh Dirjen BC
c. Kesalahan tata usaha
d. Semua jawaban benar
18) Sanksi administrasi dinyatakan dalam:
a. Nilai rupiah
b. Persentase
c. Denda minimum & maksimum yang besarnya dinyatakan dalam
rupiah/persentasi
d. Semua jawaban benar
19) Terhadap pelanggaran yang diancam dengan sanksi administrasi
maksimun & minimum dalam rupiah jika dalam 6 bulan terakhir dilakukan
3 x pelanggaran dikenakan denda sebesar:
a. 2 x denda minimum
b. 3 x denda minimum
c. 4 x denda minimum
d. 5 x denda minimum
20) Pada pemberitahuan pabean nilai pabean diberitahukan FOB US$
10/set, ditetapkan oleh PFPD FOB US$ 20/set. Barang tersebut masuk
dalam kelompok pos HS dengan tarif 0%. Atas importasi tersebut
dikenakan denda:
a. 0%
b. 50%
c. 100%
d. 200%






Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 127

2. Lingkarilah jawaban B jika benar atau S jika salah dalam pernyataan
dibawah ini.

1) (S B) Importir jalur MITA non Prioritas yang mengimpor
kembali barang asal dalam negeri mendapat respon
SPJM.
2) (S B) Atas impor yang ditetapkan jalur kuning dapat
dilakukan pemeriksaan fisik melalui mekanisme NHI
berdasarkan informasi dari PFPD.
3) (S B) MITA Prioritas dan MITA non Prioritas wajib
menyampaikan rekapitulasi impor setiap bulan
dilampiri hardcopy PIB yang bersangkutan.
4) (S B) Importir beresiko menengah yang mengimpor
komoditi beresiko rendah ditetapkan jalur hijau dan
tidak dilakukan penelitian dokumen maupun fisik
barang.
5) (S B) Hasil pemeriksaan fisik dituangkan dalam Berita
Acara Pemeriksaan fisik.
6) (S B) Tujuan pemeriksaan fisik adalah untuk mengetahui
jumlah, jenis dan spesifikasi barang sehingga dapat
ditetapkan tariff dan nilai pabeannya..
7) (S B) Semua barang yang berasal dari Negara Asean
pada impornya diberlakukan tariff preferensi.
8) (S B) Pada importasi barang pindahan untuk mendapatkan
fasilitas bea masuk dan PDRI harus dilampirkan SK
Pembebasan dari Menteri Keuangan atau Pejabat
yang ditunjuknya.
9) (S B) Terhadap barang impor berupa furniture, penetapan
PFPD tergantung dari informasi jenis, spesifikasi dan
bahan baku pembuatannya.
10) (S B) Pada barang-barang tertentu packing barang dapat
menentukan penetapan tariff dan nilai pabean.




Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 128

KUNCI JAWABAN

1 Test Formatif

a. Jawaban test formatif 1

1. d 6. c 11. c
2. b 7. d 12. b
3. d 8. d 13. c
4. d 9. b 14. b
5. d 10. b 15. d

b. Jawaban test formatif 2

1. a 6. a 11. d
2. c 7. b 12. a
3. d 8. d 13. a
4. a 9. d 14. d
5. d 10. c 15. a

c. Jawaban test formatif 3

1. b 6. d 11. a
2. d 7. d 12. d
3. c 8. d 13. c
4. c 9. a 14. a
5. b 10. c 15. a

d. Jawaban test formatif 4

1. a 6. c 11. c
2. d 7. d 12. d
3. c 8. b 13. a
4. c 9. d 14. a
5. d 10. c 15. c





Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 129

2 Test Sumatif

a. Jawaban test sumatif A
1. c 6. c 11. c 16. a
2. a 7. d 12. d 17. d
3. a 8. d 13. b 18. d
4. c 9. c 14. b 19. b
5. c 10. b 15. c 20. a


b. Jawaban test sumatif B
1. S 2. B 3. S 4. S 5. S
6. B 7. S 8. S 9. B 10. B





















Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 130

DAFTAR PUSTAKA


Undang-undang No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan .
Undang-undang No. 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-undang
Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.
Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 jo. No.7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan;
Undang-undang No.18 Tahun 2000 jo. No. 8 Tahun 1983 tentang Pajak
Pertambahan Nilai Barang dan jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang
Mewah).
Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan
Pajak .
Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2008 tentang Pengenaan Sanksi
Administrasi Berupa Denda Dibidang Kepabeanan.
Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 87/PMK.01/2008 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai .
Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 144/PMK.04/2007 tentang Pengeluaran
Barang Impor Untuk Dipakai
Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 68/PMK.01/2007 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai .
Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 155/PMK.04/2008 tentang
Pemberitahuan Pabean.
Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 213/PMK.04/2008 tentang Tatacara
Pembayaran dan Penyetoran PDRI, PDRE, BKC, dan Denda
Administrasi Yang Berasal Dari Denda Atas Pengangkutan Barang
Tertentu.
Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-42/BC/2008 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Pengeluaran Barang Impor Untuk Dipakai.
Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-39/BC/2008 tentang Tata
Laksana Pembayaran dan Penyetoran PDRI, PDRE, BKC, dan Denda


Teknis Kepabeanan Lanjutan

Diklat Fungsional PFPD 131

Administrasi Yang Berasal Dari Denda Atas Pengangkutan Barang
Tertentu..
Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-08/BC/2009 tentang
Perubahan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-
42/BC/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengeluaran Barang Impor
Untuk Dipakai.
Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-22/BC/2009 tentang
Pemberitahuan Pabean Impor.