Anda di halaman 1dari 18

1

ANESTESIA REGIONAL
Anestesia regional adalah anestesia dengan menyuntikkan obat anestesik disekitar
saraf utama sehingga area yang disarafi dapat teranestesi. Anestesi ini dibagi menjadi dua
yaitu anestesia sentral (anestesia neuroaksial) dan anestesia perifer. Anestesia sentral
(anestesia neuroaksial) yaitu meliputi anestesi spinal, epidural, dan kaudal. Sedangkan
anestesia perifer misalnya blok pleksus brachialis, anestesi regional intravena, dan lain-lain.
ANESTESIA SENTRAL (ANESTESIA NEUROAKSIAL)
ANATOMI










Columna vertebralis terdiri dari 7 tulang cervical, 12 tulang thoracal, 5 tulang lumbal,
5 tulang sacral, dan 4 tulang coxcygeus yang menyatu. Columna vertebralis berfungsi untuk
melindungi medulla spinalis, menyangga berat tubuh, serta sebagai poros untuk kepala
berputar.
Columna vertebralis normalnya berbentuk double-C. lengkung thoracal dan lengkung
sakrokoksigeal mencekung ke anterior, sedangkan lengkung cervical dan lengkung lumbal
mencembung ke anterior.
Vertebrae yang khas terdiri dari corpus vertebrae dan arcus vertebrae. Corpus
vertebrae adalah bagian ventral yang memberi kekuatan pada columna vertebralis dan
menanggung berat tubuh. Sedangkan arcus vertebrae adalah bagian dorsal vertebrae yang
terdiri dari pediculus arcus vertebrae dan lamina arcus vertebrae. Pediculus arcus vertebrae
adalah taju pendek yang kokoh dan menghubungkan lengkung pada corpus vertebrae.
Pediculus arcus vertebrae menjorok ke arah dorsal untuk bertemu dengan dua lempeng tulang
2

yang lebar dan gepeng, yakni lamina arcus vertebrae. Antar tulang vertebrae dihubungkan
oleh jaringan fibrokartilagenosa yang disebut discus intervertebralis. Terdapat pula suatu
foramina di antara dua tulang vertebrae yang berdampingan dan disebut foramen
intervertebralis. Foramina ini tempat keluarnya akar saraf yang berasal dari kolumna spinalis.











Terdapat processus yang menonjol dari arcus vertebrae. Processus spinosus menonjol
dari tempat persatuan kedua lamina (di garis tengah) dan bertumpang di sebelah dorsal pada
processus spinosus vertebra di bawahnya. Lalu, dua processus transversus menonjol ke arah
dorsolateral dari tempat persatuan pediculus arcus vertebrae dan lamina arcus vertebrae.
Processus articularis superior dan inferior juga berpangkal pada tempat persatuan pediculus
arcus vertebrae dan lamina arcus vertebrae.
Ujung processus spinosus vertebra lumbal dapat diraba dan seringkali terlihat sewaktu
columna vertebralis difleksikan. Garis horizontal yang menghubungkan titik-titik tertinggi
pada kedua crista iliaca melalui ujung processus spinosus vertebra lumbalis IV dan discus
intervertebralis L4/ L5 merupakan patokan penting untuk pungsi lumbal.
Permukaan vertebra berdekatan yang bersendi memperoleh hubungan melalui sebuah
discus dan ligamentum. Setiap discus intervertebralis terdiri dari sebuah anulus fibrosus yang
teratur konsentris dan mengelilingi nucleus pulposus. Sedangkan ligamentum yang
memperkuat persendian yaitu ligamentum longitudinal anterior, ligamentum longitudinal
posterior, ligamentum flavum, ligamentum interspinosus (lemah) dan supraspinosus (kuat),
dan ligamentum intertransversus.
3

Kanalis spinalis memanjang dari foramen magnum pada cranium sampai ke ligament
sarokoksigeal yang merupakan akhir dari kolumna vertebralis. Ada tiga ruangan penting bagi
dokter anestesiologi, yaitu ruangan intratekal/ subarachnoid, ruang subdural, dan ruangan
epidural. Ruangan epidural mengandung vena epidural, jaringan lemak, dan serat saraf
vertebrae. Ruangan subarachnoid berisi medulla spinalis dan cairan serebrospinalis. Ruangan
potensial diantara arachnoid dan duramater disebut ruangan subdural.
Medulla spinalis terletak di canalis spinalis columna vertebralis dan dibungkus oleh
tiga meninges yaitu duramater, arachnoidea mater, dan piamater. Medulla spinalis dikelilingi
oleh cairan serebrospinalis di dalam ruang subarachnoid. Pada dewasa berakhir setinggi L1,
pada anak setinggi L3, tetapi akan bertambah naik ke kranial seiring dengan pertambahan
usia. Oleh karena itu, lumbal pungsi dianjurkan untuk dilakukan di kaudal L1 pada dewasa
dan kaudal L3 pada anak untuk menghindari trauma medulla spinalis akibat jarum spinal.
Sakus duralis, ruang subarachnoid, dan ruang subdural biasanya memanjang sampai S2 pada
dewasa dan sering S3 pada anak. Walaupun begitu, anestesia kaudal pada anak tetap berisiko
masuknya obat ke ruang subarachnoid dibanding dengan dewasa.
Terdapat 31 pasang saraf spinal yang meninggalkan medulla spinalis melalui foramen
intervertebralis di columna vertebralis. Saraf spinal tersebut adalah 8 cervicalis, 12 thoracalis,
5 lumbalis, 5 sacralis, dan 1 cocxygeus. Masing-masing saraf spinal berhubungan dengan
medulla spinalis melalui dua buah radix yaitu radix anterior (serabut motorik) dan radix
posterior (serabut sensorik). Radix nervus spinalis berjalan dari medulla spinalis ke foramen
intervertebralis yang sesuai, kemudian bergabung membentuk nervus spinalis. Di sini serabut
motorik bergabung dengan serabut sensorik. Medulla spinalis diperdarahi oleh A. Spinalis
anterior dan A. Spinalis posterior.
Cairan serebrospinalis merupakan ultrafiltrasi dari plasma yang berasal dari pleksus
choroideus dalam ventrikel III, IV, dan lateralis. Cairan ini jernih tak berwarna yang sedikit
alkalis, mengisi ruang subarachnoid (antara arachnoidea mater dan pia mater) dengan jumlah
total 120-150 ml, sedangkan di daerah vertebra sekitar 25-45 ml. Untuk mencapai cairan
serebrospinalis, maka jarum yang disuntik akan menembus kulit, subkutis, ligamen
supraspinosus, ligamen interspinosus, ligamen flavum, ruang epidural, duramater, dan ruang
subarachnoid.

4

ANESTESIA SPINAL
Definisi :
Penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam ruang subarachnoid.
Indikasi :
1. Bedah ekstremitas bawah
2. Bedah panggul
3. Tindakan sekitar rectum-perineum
4. Bedah obstetri-ginekologi
5. Bedah urologi
6. Bedah abdomen bawah
7. Pada bedah abdomen atas dan bedah pediatri biasanya dikombinasi dengan anestesi
umum ringan
Persiapan :
Hal ini bertujuan sebagai antisipasi perubahan mendadak, tekanan darah, laju nadi, atau
masalah oksigenasi.
1. Informed consent dari pasien
2. Pemeriksaan fisik
Memeriksan dengan teliti daerah sekitar tempat tusukan, apakah akan menimbulkan
kesulitan seperti adanya kelainan anatomis tulang punggung atau pasien yang sangat
gemuk sehingga tak teraba tonjolan processus spinosus.
3. Pemeriksaan laboratorium anjuran
Dilakukan pemeriksaan hemoglobin, hematokrit, PT (prothrombine time) dan PTT
(partial thromboplastine time).
4. Peralatan yang dibutuhkan
- Peralatan monitor
Terdiri dari komponen tekanan darah, nadi, oksimetri denyut (pulse oxymeter) dan
EKG. Serta sebaiknya menyiapkan monitoring suhu badan.
- Mesin anestesi, sungkup muka, sumber O
2
, dan suction
- Peralatan resusitasi/ anestesi umum : Obat-obatan sedasi, induksi, emergensi, dan
pelumpuh otot; alat-alat manajemen jalan nafas seperti pipa endotrakea, laringoskop,
dan pipa orofaringeal.



5

- Jarum spinal

Terdapat dua jenis yaitu jarum spinal dengan ujung tajam (Quincke-Babcock) atau
jarum spinal dengan ujung pinsil (pencil point, Whitacre). Selain itu, ada juga jarum
spinal Sprotte dan Greene.
Posisi pasien :
Ada tiga posisi utama yang biasa digunakan pada teknik penyuntikan obat anestetik local
pada anesthesia spinal yaitu lateral decubitus, duduk, dan telungkup.
Posisi lateral decubitus







Merupakan posisi tersering dilakukan oleh ahli anestesi. Pasien tidur miring di atas
meja operasi dengan membelakangi ahli anestesiologi. Pinggul dan lutut difleksikan
secara maksimal, dan dada serta leher difleksikan mendekat ke arah lutut. Posisi ini
digunakan untuk kasus-kasus cedera atau fraktur pada pinggul dan kaki dimana pasien
tidak dapat bangun untuk duduk.
Posisi duduk
Anatomi tulang belakang kadang-kadang lebih mudah dipalpasi bila dilakukan
dengan posisi ini dibandingkan dengan posisi lateral decubitus. Posisi ini baik
dilakukan pada pasien obesitas dan sering diindikasikan untuk operasi lumbar bawah
atau sacral. Pasien dengan bantuan seorang asisten dan memeluk bantal, diposisikan
6

duduk dengan punggung belakang difleksikan maksimal dan kedua kaki menggantung
di atas lantai atau di atas bangku.
Posisi telungkup (prone position)
Posisi ini dapat dilakukan untuk prosedur pembedahan pada bagian anorektal. Pasien
diposisikan dalam posisi jack-knife, dan selanjutnya lumbal pungsi dilakukan.
Teknik ini menggunakan larutan anestetik lokal yang hipobarik, dan keuntungannya
pasien tidak perlu mengubah posisi setelah tindakan lumbal pungsi, sehingga
menghasilkan anestesia di daerah sacral.
Teknik/ cara melakukan anestesia spinal :
1. Posisikan pasien
2. Identifikasi tempat penyuntikan/ celah antar ruas tulang vertebrae yakni dengan
berpatokan bahwa garis khayalan setinggi crista iliaca dianggap setinggi L4 atau L4-
L5. Kemudian lakukan asepsis dan antisepsis di lokasi penyuntikan dengan betadine
dan alkohol. Ada beberapa pendekatan dalam melakukan lumbal pungsi, yaitu :
Pendekatan garis tengah (midline approach)
Pendekatan ini yang paling populer dan paling sering digunakan. Setelah celah
diidentifikasi maka jarum penuntun atau jarum berisi anestetik lokal untuk infiltrasi
disuntikkan pada garis tengah sampai kedalaman jarum kira-kira sampai di
ligamentum interspinosum. Kemudian jarum spinal disuntikkan baik melalui
penuntun atau langsung menembus kulit. Ketika ujung jarum menembus ligamentum
flavum, umumnya akan terjadi kehilangan tahanan (loss of resistance). Setelah
resistensi menghilang, jarum didorong terus sampai menembus lapisan dura dan
membran subarachnoid dan berhenti setelah ditandai dengan keluarnya cairan liquor.
Lalu pasang semprit berisi obat dan obat dimasukkan pelan-pelan (0,5 ml/ detik)
diselingi aspirasi sedikit, hanya untuk meyakinkan posisi jarum tetap baik. Apabila
kita yakin ujung jarum spinal pada posisi yang benar namun LCS tidak keluar, maka
putar arah jarum 90 biasanya LCS akan keluar. Jarak antara kulit ke ligamen flavum
pada dewasa 6cm.
Pendekatan paramedian
Teknik ini dipilih bila mengalami kesulitan menggunakan pendekatan garis tengah.
Pada pendekatan ini secara anatomi celah yang akan dilalui oleh jarum spinal lebih
lebar dibandingkan dengan midline. Posisi atau lokasi penyuntikan adalah 2 cm ke
lateral dan 2 cm ke arah kaudal. Pada titik ini dilakukan penyuntikan dengan besar
sudut 10-25 dari midline. Pada pendekatan ini, jarum tidak melewati ligamentum
7

interspinosum. Oleh karena itu identifikasi ligamentum flavum dan masuknya ujung
jarum ke ruang epidural dengan sensasi hilang tahanan sering sulit dibedakan.
Pendekatan Taylor (The Taylors Approach)
Pendekatan ini merupakan variasi dari pendekatan paramedian, dimana kita
memanfaatkan celah antar ruangan L5-S1 sebagai jalur untuk memasukkan obat.
Pendekatan ini dapat dilakukan dalam posisi lateral, duduk, maupun telengkup.
Awalnya dengan identifikasi aspek inferior Spina Ischiadika Posterior Superior
(SIPS) secara palpasi. 1cm ke medial dan 1 cm ke inferior dari SIPS dan dengan
membentuk sudut 45 terhadap midline dan cephalad, jarum spinal disuntikkan. Pada
saat menyentuh lamina, jarum didorong ke arah mediosuperior untuk memasuki
interspace L5-S1.
Anestetik lokal untuk yang digunakan :
Berat jenis cairan serebrospinalis pada suhu 37C ialah 1,0006 0,0003. Anestetik lokal
dengan berat jenis sama dengan cairan serebrospinalis disebut isobarik, sedangkan berat jenis
lebih besar disebut hiperbarik, dan berat jenis lebih kecil disebut hipobarik.
Anestetik lokal yang sering digunakan adalah jenis hiperbarik diperoleh dengan mencampur
anestetik lokal dan larutan dekstrosa 7,5 atau 10%. Untuk jenis hipobarik biasanya dibuat
dengan menambahkan H
2
O destilasi steril.
Menguji keberhasilan blokade :
Lima menit setelah dilakukan anestesia spinal, sebaiknya dilakukan pengujian. Pada saat ini
blok sensorik dan motorik sudah tercapai. Tes blokade motorik dapat dengan cara menyuruh
pasien mengangkat kakinya dalam keadaan lurus. Ketidakmampuan mengangkat kaki dalam
keadaan lurus merupakan tanda keberhasilan blokade motorik pada dermatom lumbalis.
Sensorik lapangan operasi sebaiknya diuji dengan jarum tumpul.
Jika setelah lima menit tidak ada tanda-tanda yang secara objektif menunjukkan keberhasilan
blokade, maka harus mengulangi melakukan anestesia spinal atau teknik anestesia diganti
menjadi anestesia umum.
Efek samping dan komplikasi :
1. Neurotoksisitas
2. Hipotensi
3. Bradikardia
4. Total spinal atau blok spinal tinggi
5. Transient neurological symptoms (TNS)
6. Postdural puncture headache (PDPH)
8

7. Retensi urin
8. Nyeri punggung
9. Pruritus
10. Mual muntah pascabedah (post operative nausea and vomiting/ PONV)
11. Menggigil pasca-anestesia spinal
Level ketinggian blokade anestesia spinal pada prosedur pembedahan umum
Level Prosedur pembedahan
T4-5 (nipple) Abdomen bagian atas
T6-8 (xiphoid) Pembedahan intestinal (termasuk apendektomi), pelvis-
ginekologik, ureter da pembedahan pelvis renalis
T10 (umbilicus) TUR, obstetric-vaginal, operasi panggul
L1 (inguinal ligament)

TUR (jika tidak ada distensi buli), pembedahan pada
paha, amputasi kaki bagian bawah, dsb
L2-3 (lutut ke bawah) Pembedahan pada kaki
S2-5 (perineal) Pembedahan perianal, hemoroidektomi dan dilatasi anal,
dsb

ANESTESIA EPIDURAL
Definisi :
Merupakan blokade saraf dengan menempatkan obat di ruang epidural, yang berada diantara
ligamen flavum dan duramater. Kedalaman ruang ini rata-rata 5 mm dan di bagian posterior
kedalaman maksimal pada daerah lumbal.
Obat anestetik lokal di ruang epidural bekerja langsung pada saraf spinal yang terletak di
bagian lateral. Awal kerja anestesi epidural lebih lambat dibanding anestesi spinal, sedangkan
kualitas blokade sensorik-motorik juga lebih lemah.
Indikasi :
1. Pembedahan dan penanggulangan nyeri pasca bedah
2. Tatalaksana nyeri saat persalinan
3. Penurunan tekanan darah saat pembedahan supaya tidak mengalami banyak
pendarahan
4. Tambahan pada anestesi umum ringan karena penyakit tertentu

9

Teknik anestesia epidural :
1. Posisikan pasien seperti pada anestesia spinal
2. Tusukkan jarum epidural biasanya pada ketinggian L3-L4, karena jarak antara
ligamen flavum-duramater pada ketinggian tersebut adalah yang terlebar.
3. Jarum epidural yang digunakan ada dua macam yaitu jarum ujung tajam
(Crawford) untuk dosis tunggal dan jarum ujung khusus (Tuohy) untuk pemandu
memasukkan kateter ke ruang epidural dimana jarum ini biasanya ditandai setiap cm.






4. Mengenali ruang epidural
Teknik yang paling populer digunakan adalah teknik hilangnya resistensi dan teknik
tetes tergantung.

- Teknik hilangnya resistensi (loss of resistance)
Teknik ini menggunakan semprit kaca atau semprit plastik rendah resistensi yang diisi
oleh udara atau NaCl sebanyak 3 ml. Setelah diberikan anestetik lokal pada tempat
suntikan, jarum epidural ditusukkan sedalam 1-2 cm. Kemudian udara atau NaCl
disuntikkan perlahan-lahan secara terputus-putus (intermiten) sambil mendorong
jarum epidural sampai terasa menembus jaringan keras (ligamentum flavum) yang
disusul oleh hilangnya resistensi. Setelah yakin ujung jarum berada dalam ruang
epidural, dilakukan uji dosis (test dose).
-Teknik tetes tergantung (hanging drop)
Teknik ini hanya menggunakan jarum epidural yang diisi NaCl sampai terlihat ada
tetes NaCl yang menggantung. Dengan mendorong jarum epidural perlahan-lahan
secara lembut sampai terasa menembus jaringan keras yang kemudian disusul oleh
10

tersedotnya tetes NaCl ke ruang epidural. Setelah yakin ujung jarum berada dalam
ruang epidural, dilakukan uji dosis.
5. Uji dosis (test dose)
Uji dosis anestetik lokal untuk epidural dosis tunggal dilakukan setelah ujung jarum
diyakini berada dalam ruang epidural dan untuk dosis berulang (kontinyu) melalui
kateter. Masukkan anestetik lokal 3 ml yang sudah bercampur adrenalin 1:200.000.
Hal yang mungkin terjadi adalah :
-Tidak ada efek setelah beberapa menit, kemungkinan besar letak jarum atau kateter
benar
-Terjadi blokade spinal, menunjukkan obat masuk ke ruang subarachnoid karena
terlalu dalam
-Terjadi peningkatan laju nadi sampai 20-30%, kemungkinan obat masuk vena
epidural
6. Cara penyuntikan
Setelah diyakini posisi jarum atau kateter benar, suntikkan anestetik lokal secara
bertahap setiap 3-5 menit sebanyak 3-5 ml sampai tercapai dosis total. Suntikan
terlalu cepat menyebabkan tekanan dalam ruang epidural mendadak tinggi, sehingga
menimbulkan peninggian tekanan intrakranial, nyeri kepala, dan gangguan sirkulasi
pembuluh darah epidural.
Dosis maksimal dewasa muda sehat yaitu 1,6 ml/ segmen yang bergantung pada
konsentrasi obat. Pada usia lanjut dan neonatus dosis dikurangi sampai 50%, dan pada
wanita hamil dikurangi sampai 30%.
7.Uji keberhasilan epidural
Tanda keberhasilan anestesi epidural :
-Blok simpatis diketahui dari perubahan suhu
-Blok sensorik dari uji tusuk jarum
-Blok motorik dari skala Bromage
Tabel Skala Bromage
Melipat Lutut Melipat Jari
Blok tak ada ++ ++
Blok parsial + ++
Blok hampir lengkap - +
Blok lengkap - -
11

ANESTESIA KAUDAL
Definisi :
Anestesi kaudal sebenarnya sama dengan anestesi epidural, karena kanalis kaudalis adalah
kepanjangan dari ruang epidural dan obat ditempatkan di ruang kaudal melalui hiatus
sakralis. Hiatus sakralis ditutup oleh ligamentum sakrokogsigeal tanpa tulang yang analog
dengan gabungan antara ligamentum supraspinosum, ligamentum interspinosum, dan
ligamentum flavum.
Indikasi :
Merupakan anestesi regional yang sering dilakukan pada pasien anak. Pada dewasa, sering
dilakukan untuk pembedahan pada daerah sekitar perineum dan anorektal.
Teknik anestesi kaudal :







1. Posisi pasien telungkup atau lateral decubitus dengan salah satu atau kedua pinggul
difleksikan.
2. Dapat digunakan jarum suntik biasa atau jarum dengan kateter vena (venocath,
abbocath) ukuran 20-22 pada pasien dewasa.
3. Identifikasi hiatus sakralis dengan menemukan kornu sakralis kanan dan kiri yang
sangat mudah teraba pada penderita kurus dan spina iliaka superior posterior. Dengan
menghubungkan ketiga tonjolan tersebut maka akan diperoleh hiatus sakralis.
4. Setelah dilakukan tindakan asepsis dan antisepsis pada daerah hiatus sakralis,
tusukkan jarum yang mula-mula 90 terhadap kulit. Setelah diyakini masuk kanalis
sakralis, aspirasi darah dan LCS negatif, arah jarum diubah menjadi 45-60 dan
jarum didorong sedalam 1-2 cm. Kemudian suntikkan NaCl sebanyak 5ml secara agak
cepat sambil meraba apakah ada pembengkakan di kulit untuk menguji apakah cairan
masuk dengan benar di kanalis kaudalis.


12

- KONTRAINDIKASI ANESTESIA REGIONAL
Absolut :
1. Penolakan pasien
2. Hipovolemia dan syok/ renjatan sepsis meningkatkan risiko hipotensi
3. Koagulopati atau trombositopenia meningkatkan risiko hematoma epidural
4. Peningkatan tekanan intra kranial meningkatkan risiko herniasi otak
Relatif :
1. Sepsis meningkatkan risiko meningitis
2. Infeksi di daerah pungsi dengan risiko membawa mikroorganisme patogen ke dlaam
CSS yang dapat mengakibatkn meningitis
3. Riwayat gangguan neurologi sebelumnya
4. Riwayat pembedaan spinal dengan instrumentasi
5. Kelainan anatomi tulang belakang (skoliosis)
6. Kondisi jantung yang tergantung pada preload (stenosis aorta, kardiomiopati
hipertrofi obstruktif)
- EFEK FISIOLOGI ANESTESIA REGIONAL
Penghentian transmisi otonom eferen pada serat saraf spinal menghasilkan blokade simpatis
dan beberapa serat saraf parasimpatis. Anestesia regional tidak dapat memblok saraf vagus
(parasimpatis), tetapi hanya memblok simpatis. Penurunan aktivitas simpatis akan
menyebabkan dominannya aktivitas parasimpatis.
Kardiovaskular : biasanya terjadi penurunan tekanan darah akibat penurunan
frekuensi laju jantung dan kontraktilitas miokard. Tonus vasomotor primer diatur oleh
serat saraf simpatis yang keluar dari T5-L1 untuk mempersarafi otot polos arteri dan
vena. Blokade berkas saraf ini menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah vena,
penurunan pengisian darah, dan penurunan venous return ke jantung. Di perifer juga
akan terjadi penurunan resistensi sistemik vaskular akibat vasodilatasi arterial.
Respirasi : blok neuroaksial memengaruhi fungsi respirasi secara minimal. Penurunan
kapasitas vital hanya akan terjadi sedikit akibat lumpuhnya otot-otot abdomen,
kekuatan ekspirasi berkurang. Pasien dengan penyakit paru kronis berat akan
bernapas dengan otot bantu pernapasan.
Gastrointestinal : sistem saraf simpatis yang keluar dari level T5-L1 mengakibatkan
penurunan peristaltik, mengatur tonus sphinter, dan menyeimbangkan aktivitas vagal.
13

Blokade simpatis menyebabkan dominasi parasimpatis/ vagal dan menghasilkan
kontraksi usus dengan peningkatan peristaltik.
Traktus urinarius : fungsi renal dipengaruhi minimal akibat blok neuroaksial.
Anestesia regional pada level lumbal atau sacral akan memblok sistem saraf simpatis
dan parasimpatis yang mengontrol fungsi ginjal. Kehilangan kontrol otonom dari
kandung kemih akan menyebabkan retensi urin sampai pengaruh blokade hilang.
Metabolik dan endokrin : blok setinggi T11 dapat memblok jalur adrenal dan
menghambat respon hiperglikemia. Melalui pengurangan pelepasan katekolamin, blok
neuroaksial dapat menurunkan kejadian aritmia perioperatif dan memungkinkan
pengurangan kejadian iskemia.

ANESTESIA PERIFER
BLOKADE SOMATIK EKSTREMITAS ATAS
Blok pleksus brachialis
Blok saraf perifer pada lengan : blok pada nervus radialis, nervus ulnaris, nervus
medianus, dan nervus pada digitalis.
Anestesia regional intravena pada lengan
BLOKADE SOMATIK EKSTREMITAS BAWAH
Blok pleksus lumbar (psoas)
Blok nervus femoralis
Blok fascia iliaca
Blok nervus cutaneous femoralis lateralis
Blok nervus obturator
Blok nervus sciatic
Blok popliteal
Blok nervus saphenous
Ankle blok







14

ANESTETIK LOKAL
Definisi
Anestesi lokal adalah obat yang mampu menghambat konduksi atau memblokade natrium
channel pada dinding saraf secara reversibel terhadap rangsang transmisi sepanjang saraf.
Sifat anestetik lokal yang ideal
Anestetik lokal sebaiknya tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara
permanen. Batas keamanan harus lebar, sebab obatnya akan diserap dari tempat suntikan.
Mula kerja harus sesingkat mungkin, sedangkan masa kerja harus cukup lama. Zat anestetik
lokal juga harus larut dalam air, stabil dalam larutan, dapat disterilkan tanpa mengalami
perubahan.
Struktur anestetik lokal
Anestetik lokal ialah gabungan dari garam yang larut dalam air dan alkaloid larut dalam
lemak. Selain itu pada bagian kepala terdiri dari cincin aromatik tak jenuh bersifat lipofilik,
bagian badan sebagai penghubung terdiri dari cincin hidrokarbon, dan bagian ekor yang
terdiri dari amino tersier bersifat hidrofilik.
Bagian lipofilik biasanya terdiri dari cincin aromatik (benzene ring) tak jenuh, misalnya
PABA (para-amino-benzoic acid). Bagian ini sangat esensial untuk aktivitas anestesi.
Sedangkan bagian hidrofilik biasanya golongan amino tersier (dietil-amin).
Anestetik lokal dibagi menjadi dua golongan, yaitu :
1. Golongan ester (-COOC-)
Obat-obat ini termetabolisme melalui hidrolisis. Contohnya kokain, prokain, tetrakain,
kloroprokain, benzokain, dan ametokain.
2. Golongan amida (-NHCO-)
Obat-obat ini termetabolisme melalui oksidasi dealkilasi di dalam hati. Contohnya
lidokain, bupivakain,mepivakain, dibukain, dan prilokain.
Kecuali kokain, maka semua anestesi lokal bersifat vasodilator atau melebarkan
pembuluh darah. Sifat ini membuat zat anestesi lokal cepat diserap, sehingga toksisitasnya
meningkat dan lama kerjanya menjadi singkat karena obat cepat masuk ke dalam sirkulasi.
Untuk memperpanjang kerja serta memperkecil toksisitas sering ditambahkan
vasokonstriktor. Namun, vasokonstriktor dikontraindikasikan pada keadaan anestesi end
organ, infiltrasi dan blok saraf pada persalinan spontan, usia lanjut, hipertensi, pasien dengan
15

penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, dan pasien tirotoksikosis. Di Indonesia yang paling
banyak digunakan ialah lidokain dan bupivakain.
Mekanisme kerja
Membran yang mudah terangsang dari akson saraf, mirip dengan membran otot jantung.
Badan sel saraf mempertahankan potensial transmembran sekitar -90 sampai -60 mV. Selama
eksitasi, natrium channel terbuka dan arus natrium yang masuk cepat ke dalam sel dengan
cepat mendepolarisasi membran ke arah keseimbangan potensial natrium (+40mV). Sebagai
akibat dari depolarisasi ini maka natrium channel akan menutup/ inaktif dan kalium channel
terbuka. Aliran kalium keluar sel merepolarisasi membran ke arah keseimbangan potensial
kalium (-95mV), kemudian terjadi lagi repolarisasi natrium channel menjadi keadaan
istirahat. Perbedaan ion transmembran dipertahankan oleh pompa natrium.
Obat anestetik lokal bekerja langsung pada sel saraf yakni pada reseptor spesifik pada
natrium channel, sehingga mencegah peningkatan permeabilitas sel saraf terhadap ion
natrium dan kalium, akibatnya terjadi depolarisasi pada selaput saraf dan hasilnya sel saraf
tidak dapat mentransmisikan impuls melalui aksonnya atau tidak terjadi konduksi.
Potensi dipengaruhi oleh kelarutan dalam lemak, makin larut maka semakin poten. Ikatan
dengan protein (protein binding) akan mempengaruhi lama kerja dan konstanta dissosiasi
(pKa) yang akan menentukan awal kerja.
Farmakokinetik
1. Absorpsi sistemik dipengaruhi oleh :
- Tempat suntikan
Kecepatan absorpsi sistemik sebanding dengan ramainya vaskularisasi tempat
suntikan.
- Penambahan vasokonstriktor
Adrenalin 5 ug/ ml atau 1:200.000 membuat vasokonstriksi pembuluh darah pada
tempat suntikan sehingga dapat memperlambat absorpsi sampai 50%.
- Karakteristik obat anestetik lokal
Obat anestetik lokal terikat kuat pada jaringan sehingga dapat diabsorpsi secara
lambat.
2. Distribusi dipengaruhi oleh organ uptake dan beberapa faktor :
- Perfusi jaringan

16

- Koefisien partisi jaringan/ darah
Ikatan kuat dengan protein plasma akan menyebabkan obat lebih lama di darah.
Sedangkan kelarutan dalam lemak yang tinggi akan meningkatkan organ uptake.
- Massa jaringan
Otot merupakan tempat reservoir bagi anestetik lokal.
3. Metabolisme dan ekskresi
- Golongan ester
Metabolisme oleh enzim pseudo-kolinesterase (kolinesterase plasma). Hidrolisa ester
sangat cepat dan kemudian metabolit diekskresi melalui urin.
- Golongan amida
Metabolisme terutama oleh enzim mikrosomal di hati. Kecepatan metabolisme
tergantung pada spesifikasi obat anestetik lokal. Metabolismenya lebih lambat
daripada hidrolisa ester. Metabolit diekskresi lewat urin dan sebagian kecil diekskresi
dalam bentuk utuh.
Farmakodinamik
1. Susunan saraf pusat : semua anestetik lokal merangsang SSP, menyebabkan
kegelisahan dan tremor yang mungkin berubah menjadi kejang klonik. Secara umum,
semakin kuat suatu anestetik makin mudah menimbulkan kejang.
2. Sambungan saraf-otot dan ganglion : anestetik lokal menyebabkan berkurangnya
respon otot atas rangsangan saraf sedangkan perangsangan listrik langsung pada otot
masih menyebabkan kontraksi.
3. Kardiovaskular : pengaruh utama anestetik lokal pada miokard adalah menyebabkan
penurunan eksitibilitas, kecepatan konduksi dan kekuatan kontraksi. Anestetik lokal
sintetik juga menyebabkan vasodilatasi arteriol.
4. Otot polos : anestetik lokal berefek spasmolitik yang tidak berhubungan dengan efek
anestetik. Efek ini mungkin disebabkan oleh depresi langsung pada otot polos, depresi
pada reseptor sensorik sehingga menyebabkan hilangnya tonus refleks setempat.
5. Alergi : dermatitis alergik, serangan asma, atau reaksi anafilaktik yang fatal dapat
timbul akibat anestetik lokal. Reaksi alergi ini terutama terjadi pada penggunaan obat
anestetik lokal golongan ester, yang pada hidrolisis dihasilkan asam
paraaminobenzoat (PABA) yang bisa menyebabkan reaksi alergi.
Cara pemberian anestetik lokal
1. Anestesia permukaan : melalui cara ini obat dioleskan/ disemprotkan pada mukosa
daerah tindakan. Larutan garam anestetik lokal tidak dapat menembus kulit sehat.
17

2. Anestesia infiltrasi : tujuannya untuk menimbulkan anestesia ujung saraf melalui
kontak langsung dengan obat. Larutan obat disuntikkan secara intradermal atau
subkutan. Cara yang paling sering digunakan adalah blokade lingkar (ring block).
3. Anestesia blok : yakni meliputi anestesia spinal, anestesia epidural, dan anestesia
kaudal.
Obat-obat anestetik lokal
1. Kokain
Hanya dijumpai dalam bentuk topikal semprot 4% untuk mukosa jalan napas atas.
Lama kerja 2-30 menit. Contohnya fentanyl. Kokain sering menyebabkan keracunan
akut. Diperkirakan besarnya dosis fatal adalah 1,2 gram.
2. Anestetik lokal sintetik
a. Prokain
- Dosis : infiltrasi <500 mg larutan 0,5%-2%; epidural <500mg larutan 1%-2%;
spinal 50-200 mg larutan 10% dengan glukosa 5%; dosis aman maksimum 10
mg/kgBB (tanpa epinefrin), 15 mg/kgBB (dengan epinefrin)
- Efek puncak : infiltrasi/ epidural/ spinal < 30 menit
- Lama aksi : infiltrasi 0,25-0,5 jam, dengan epinefrin 0,5-1,5 jam; epidural/
spinal 0,5-1,5 jam, diperpanjang dengan epinefrin
b. Lidokain
- Dosis : topikal 0,6-3 mg/ kgBB (larutan 2%-4%); infiltrasi 0,5-5 mg/ kgBB
(larutan 0,5%-2%); bolus spinal 50-100 mg (larutan 0,5%-5% dengan atau
tanpa glukosa 7,5%); bolus epidural 200-400 mg (larutan 1%-2%)
- Awitan aksi : infiltrasi 0,5-1 menit; epidural < 30 menit
- Efek puncak : infiltrasi, epidural < 30 menit
- Lama aksi : infiltrasi 0,5-1 jam (dengan epinefrin 2-6 jam); epidural 1-3 jam
c. Bupivakain
- Dosis : infiltrasi < 150 mg (larutan 0,25%-0,5%); spinal 7-15 mg (larutan
0,75%); epidural 50-150 mg (larutan 0,25%-0,75%); kaudal 37,5-150 mg (15-
30 ml dari larutan 0,25% atau 0,5%)
- Awitan aksi : infiltrasi 2-10 menit; epidural 4-17 menit
- Efek puncak : infiltrasi dan epidural 30-45 menit; spinal 15 menit
- Lama aksi : infiltrasi/ epidural/ spinal 200-400 menit (diperpanjang dengan
epinefrin)

18

d. Mepivakain
- Dosis : infiltrasi 50-400 mg (larutan 0,5%-1,5%); epidural/ kaudal 150-400 mg
(15-20 ml larutan 1%-2%)
- Awitan aksi : infiltrasi 3-5 menit; epidural 5-15 menit
- Efek puncak : infiltrasi/ epidural 15-45 menit
- Lama aksi : infiltrasi 0,75-1,5 jam, dengan epinefrin 2-6 jam; epidural 3-5 jam
e. Tetrakain
- Dosis : spinal 5-20 mg (larutan 1%); semprot/ topikal larutan 2%
- Awitan aksi : infiltrasi 15 menit; spinal <10 menit
- Efek puncak : infiltrasi/ spinal 15 menit-1 jam
- Lama aksi : infiltrasi 2-3 jam; spinal 1,25-3 jam
f. Prilokain
- Dosis : topikal 0,6-3 mg/ kgBB (larutan 2-4%); infiltrasi 0,5-6 mg/kgBB
(larutan 0,5%-2%); epidural 200-300 mg (larutan 1%-2%)
- Awitan aksi : infiltrasi 1-2 menit; epidural 5-15 menit
- Efek puncak : infiltrasi/ epidural < 30 menit
- Lama aksi : infiltrasi 0,5-1,5 jam (dengan epinefrin 2-6 jam); epidural 1-3 jam