Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN LAPANG

PRAKTIKUM ANALISIS PERTUMBUHAN TANAMAN


TANAMAN TERONG (Solanum melongena)



DISUSUN OLEH:
NAMA : SHOBIRIN REGO PRANATA.
NIM : 115040200111183
KELOMPOK : JUMAT, 06.00-07.30
ASISTEN : MBAK NUNUNG

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN
MALANG
2014

1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Terung (Solanum melongena) adalah tumbuhan penghasil buah yang dijadikan sayur-
sayuran. Asalnya adalah India dan Sri Lanka. Terung berkerabat dekat dengan kentang dan
leunca, dan agak jauh dari tomat.
Karena terung merupakan anggota Solanaceae, buah terung pernah dianggap beracun,
sebagaimana buah beberapa varietas leunca dan kentang. Sementara buah terung dapat
dimakan tanpa dampak buruk apa pun bagi kebanyakan orang, sebagian orang yang lain,
memakan buah terung (serupa dengan memakan buah terkait seperti tomat, kentang, dan
merica hijau atau lada) bisa berpengaruh pada kesehatan. Sebagian buah terung agak pahit
dan mengiritasi perut serta mengakibatkan gastritis. Karena itulah, sebagian sumber,
khususnya dari kalangan kesehatan alami, mengatakan bahwa terung dan genus terkait
dapat mengakibatkan atau memperburuk artritis dengan kentara dan justru itu, harus dijauhi
oleh mereka yang peka terhadapnya.
Terong merupakan salah satu komoditas hortikultura yang telah banyak dikenal oleh
semua golongan masyarakat. Didukung dengan tingginya permintaan barang dan daya beli
masyarakat serta harga jual yang cukup tinggi, terong dapat dijadikan komoditi yang
menjanjikan. Terong termasuk salah satu sayuran buah yang banyak digemari oleh berbagai
kalangan karena mengandung kalsium, protein, lemak, karbohidrat, vitamin A, vitamin B,
vitamin C, fosfor dan zat besi (Soetasad, 2000). Menurut Sunarjono et al. (2003) bahwa
setiap 100 g bahan mentah terong mengandung 26 kalori, 1 g protein, 0,2 g hidrat arang, 25
IU vitamin A, 0,04 g vitamin B dan 5 g vitamin C. Selain itu, terong juga mempunyai khasiat
sebagai obat karena mengandung alkaloid solanin, dan solasodin yang berfungsi sebagai
bahan baku kontrasepsi oral.
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk urea 150% terhadap pertumbuhan dan
hasil tanaman terong.
1.3 Hipotesis
Pemberian pupuk urea 150% berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman
terong.
2. Tinjauan Pustaka
2.1 Pertumbuhanan dan Perkembangan Terong

Terong adalah tanaman famili solanaceae yang berasal dari daerah tropis. Tanaman
terong biasa dikonsumsi buahnya untuk bahan makanan. Pertumbuhan dan perkembangan
tanaman terung umumnya sama dengan pertumbuhan dan perkembangan tanaman lainnya.
Fase-fase yang dilalu yaitu fase vegetatif dan vase generatif. Fase vegetatif biasanya
dimulai dengan perkembangan akar, daun dan batang baru. Pada fase ini terjadi 3 proses
penting yaitu pembelahan sel, pemanjangan sel dan tahap awal dari diferensiasi sel
(Harjadi, SS. 1989).
Masa vegetatif tanaman terong berlangsung sekitar 1 bulan (sampai berbunga) lalu
dilanjutkan pada fase generatif dengan munculnya bunga sekitar umur 2 bulan. Tinggi
pohon terung 40-150 cm, memiliki daun dengan ukuran panjang 10-20 cm dan lebar 5-10
cm, bunga berwarna putih hingga ungu dengan lima mahkota bunga Berbagai varietas
terung tersebar luas di dunia, perbedaannya terletak pada bentuk, ukuran, dan warnanya
(USDA, 2010).
Pada masa generatif, tanaman terong akan berbunga pada umur kurang lebih 2
bulan dan muncul buah pada satu minggu setelahnya. Setelah muncul buah maka buah dari
tanaman terong dapat dipanen pada umur 3 sampai 4 bulan setelah tanam. karena buah
tidak matang bersamaan maka panen dapat dilakukan 2 kali seminggu. Panen dilakukan
pada saat buah berumuran maksimal, tetapi belum tua. Buah yang tua mempunyai rasa
yang kurang enak, biji sudah mulai keras dan kulit liat. Panen yang baik waktu pagi hari atau
sore hari sebelum matahari terbelam. Adapun buah yang dipanen sebaiknya disertakan juga
tangkai buahnya. Tangkai tersebut dipotong lurus agar tidak melukai buah terung (Pracaya,
2006). Namun secara umum buah pertama dapat dipetik setelah umur 50 - 55 hari setelah
tanam. Ciri-cirinya antara lain sudah maksimal dan buahnya masih muda. Buah dipetik pada
sore hari (Bukhari, 2013).

2.2 Syarat Tumbuh Tanaman Terong

Terung dapat tumbuh sampai ketinggian sekitar 1000 m dpm, tetapi di dataran
rendah tumbuhnya lebih cepat. Suhu yang paling cocok untuk tanaman terung adalah 25
300 C dengan perbedaan sedikit antara suhu siang dan malam. Tanaman ini tumbuh baik
pada tanah-tanah lempung berpasir dengan drainase yang baik. Sekalipun terung
memerlukan suhu tinggi selama pertumbuhannya, akan tetapi juga tahan terhadap hujan
yang tinggi asalkan tanahnya tidak menjadi becek. Terung bermasuk tanaman yan agak
tanah terhadap kadar gram yang tinggi (Sutarya et al., 1995).
Kondisi tanah yang ideal untuk penanaman terung yaitu tanah yang remah, lempung
berpasir, dan cukup bahan organik. Dengan kondisi tersebut, biasanya aerasi dan
draenasinya baik, tidak mudah tergenang air. Sebenarnya terung bisa di tanam disegala
jenis tanah, asal cukup bahan organik. Keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk tanaman
terung sekitar 6,0-6,5 (Pracaya, 2006).
Tanamana terung merupakan tanaman daerah beriklim panas. Pada saat
pertumbuhan dan pembentukan buah memerlukan cuaca panas, temperatur optimum untuk
pembungaan berkisar antara 22 - 300C. Pertumbuhan akan terhenti pada temperatur
dibawah 170 C. Pada temperatur dibawah 170C terjadi kemandulan tepung sari. Terung
tumbuh baik pada tanah ringan maupun yang berlempung. Tanaman ini tidak tahan
genangan sehingga memperluas drainase yang baik. Warna kulit buah kurang menarik
apabila terjadi kekurangan air (Ashari, 1995).

2.3 Pengaruh Perlakuan pada Tanaman Terong

Hasil pengukuran menunjukkan, bahwa penambahan urea berpengaruh terhadap
pertumbuhan terong. Penggunaan urea menunjukkan tinggi tanaman meningkat sejalan
dengan dosis penambahan urea, tetapi menurun pada penambahan dosis tertentu.
Tanaman terong responsif terhadap penambahan dosis urea. Perbedaan jumlah takaran
urea yang ditambahkan menyebabkan perbedaan ukuran terhadap tinggi tanaman terong,
perbedaan ini dapat dilihat diantara perlakuan tambahan urea. Pada perlakuan B4
menghasilkan ukuran tinggi tanaman yang lebih tinggi daripada perlakuan 132 maupun
perlakuan B3. Menurut Goodroad dan Jellum (1988), perbaikan serapan N atau
ketersediaan N tanah dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman. Peningkatan
dosis urea sebagai sumber N dapat meningkatkan hasil tanaman. Hal ini disebabkan karena
fungsi N secara langsung berperan dalam pembentukan protein dan memperbaiki
pertumbuhan vegetatif tanaman, dimana tanaman yang tumbuh pada tanah yang cukup N,
berwarna lebih hijau.
Pemberian pupuk urea dalam tanah mempengaruhi sifat kimia dan hayati (biologi)
tanah. Fungsi kimia dan hayati yang penting diantaranya adalah selaku penukar ion dan
penyangga kimia, sebagai gudang hara N, P, dan S, pelarutan fosfat dengan jalan
kompleksasi ion Fe dan Al dalam tanah dan sebagai sumber energi mikroorganisme tanah
(Notohadiprawiro, 1998). Selain pemberian pupuk organik, pemberian pupuk urea sebagai
sumber hara N merupakan usaha yang banyak dilakukan dalam meningkatkan produktivitas
sayuran khususnya Kangkung. Pupuk urea sebagai sumber hara N dapat memperbaiki
pertumbuhan vegetatif tanaman, dimana tanaman yang tumbuh pada tanah yang cukup N,
berwarna lebih hijau (Koryati, 2004).






3. Bahan dan Meode
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum dilaksanakan pada bulan April sampai bulan Mei 2014 setiap hari sabtu
pukul 06.00 WIB. Di di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Ngijo,
Karangploso, Malang.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan saat praktikum ialah : polibag, cetok, gembor, penggris, timbangan
analitik, oven, LAM, alat tulis dan Kamera.
Bahan yang digunakan ialah 10 bibit terong sebagai bahan tanam dan media yang
digunakan 30% tanah dan 70% kompos.
3.3 Metode
a. Jenis Perlakuan
Sumber Nitrogen: N1 : Urea (45% N) dan N2 : ZA (21% N)
Dosis pemberian: D1 : 100 % dan D2 : 150%
Dari keempat perlakuan akan dilakukan 2 ulangan. Dan kelompok kami masuk dalam
ulangan 3 N1D2.
b. Denah Pengambilan Tanaman contoh




Keterangan :
Destruktif Tanaman :
Non Destruktif Tanaman :
Gambar 1. Denah Pengambilan
Tanaman Contoh Destruktif
c. Parameter pengamatan
Paremeter pengamatan meliputi parameter pertumbuhan, hasil dan analisis
pertumbuhan tanaman. Parameter pertumbuhan antara lain tinggi tanaman, jumlah daun,
waktu berbunga, jumlah bunga, waktu berbuah, jumlah buah, bobot segar per tanaman,
bobot kering per tanaman, luas daun. Pengamatan menggunakan 2 metode, yaitu non-
destructive dan destructive. Metode non-destructive adalah tinggi tanaman dengan cara
mengukur dari atas permukaan tanah sampai tajuk tanaman tertinggi, panjang tanaman
dengan cara mengukur dari atas permukaan tanah sampai bagian ujung tanaman dengan
cara menarik tanaman, jumlah daun, jumlah bunga dan jumlah buah. untuk pengamatan
destructive yaitu mengukur luas daun dengan menggunakan LAM dan menimbang berat
segar tanaman dan berat kering tanaman dengan mengoven bagian tanaman yaitu batang,
daun, dan akar selama 2 kali 24 jam.
Parameter hasil meliputi bobot segar buah pertanaman dan index panen.
1. Bobot segar buah pertanaman
Perhitungan bobot segar buah pertanaman dilakukan dengan menimbang bobot segar
buah menggunakan timbangan analitik.
2. Bobot segar buah seluruh tanaman
Dilakukan dengan menjumlah seluruh bobot segar buah pertanaman.
Indeks panen
3. Indeks panen dihitung menggunakan rumus
Indeks panen =



Parameter analisa pertumbuhan tanaman meliputi RGR dan NAR
1. RGR
Perhitungan RGR dilakukan dengan menggunakan rumus
2. RGR =


NAR
Perhitungan NAR dilakukan dengan menggunakan rumus
NAR =


4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Ulangan 1
Perlakuan Parameter (P1)
TT JD LD BSTT BKTT RGR NAR
Urea 150% 11,89 5 163,20 18,03 7,03 0,012 0,0013
Urea 100% 15 8 85,3 45,2 8,0 0,13 0,0175
ZA 150% 10,2 12 765,292 21,52 10,2 0,053 0,034
ZA 100% 8,625 8 242,9 18,8 2,68 0,148 0,103

Perlakuan Parameter (P2)
TT JD LD BSTT BKTT RGR NAR
Urea 150% 22,39 13 401,7 29,3 9,01 0,011 0,1010
Urea 100% 30 15 44,72 83,8 20,3 0,017 0,008
ZA 150% 17,2 16 777,53 57,8 14,8 0,132 0,425
ZA 100% 19,33 12,33 610,45 46,7 7,6

Perlakuan Parameter (P3)
TT JD LD BSTT BKTT RGR NAR
Urea 150% 28,5 29 677,1 39,41 18,07 0,021 0,01
Urea 100% 40 20 42,3 85,1 23,1 0,014 0,00064
ZA 150% 18,6 16 813,66 66,31 37,38 -0,118 0,355
ZA 100% 15,7

Perlakuan Parameter (P4)
TT JD LD BSTT BKTT RGR NAR
Urea 150% 31,23 29 711,58 40,11 17,22
Urea 100% 45 22 42,1 88,2 25,4
ZA 150% 21,2 16 776,431 53,4 16,3
ZA 100% 16,7 16,7






Ulangan 2
Perlakuan Parameter (P1)
TT JD LD BSTT BKTT RGR NAR
Urea 150% 10,2 12 429,42 61,6 4,5 0,233 0,619
Urea 100% 10,5 14 63,613 65,8 6,5 0,02 0,004
ZA 150% 12,9 13 118,25 20,50 12 0,15 0,03
ZA 100% 12,95 13 12,3 25,48 2,66 0,18

Perlakuan Parameter (P2)
TT JD LD BSTT BKTT RGR NAR
Urea 150% 14 10 770,1 76,3 23,1 0,088 0,247
Urea 100% 13,4 16 58,32 83,8 7,9 0,095 0,103
ZA 150% 19,89 22,82 606 72,9 35,3 0,02 0,01
ZA 100% 14,35 15 44,72 83,8 20,3 0,017 0,08

Perlakuan Parameter (P3)
TT JD LD BSTT BKTT RGR NAR
Urea 150% 24 18,6 651,86 92.7 42,8 0,052 0,14
Urea 100% 26 6 672,776 44,3 15,54 0,172 0,0039
ZA 150% 29 34 130,8 41,2
ZA 100% 15,7 18 17,7 68,1 11,90 0,07 0,079

Perlakuan Parameter (P4)
TT JD LD BSTT BKTT RGR NAR
Urea 150% 25,75 18,12 748,94 102,7 61,7
Urea 100% 28 13 720,205 42,6 22,82 0,130 0,0042
ZA 150% 30 27
ZA 100% 16,7 16 16,2 87,6 19,9






Regresi Linear dari Tabel diatas :



y = -0.0001x + 0.2104
R = 0.0211
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0 200 400 600 800 1000
N
A
R

Luas Daun
PENGARUH LUAS DAUN TERHADAP
NAR
NAR (Urea 150%)
Linear (NAR (Urea
150%))
y = -9E-05x + 0.0255
R = 0.0013
0
0.02
0.04
0.06
0.08
0.1
0.12
0 20 40 60 80 100
N
A
R


Luas Daun
PENGARUH LUAS DAUN TERHADAP
NAR
NAR (Urea 100%)
Linear (NAR (Urea
100%))
y = -0.0834x + 0.421
R = 0.4269
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0 2 4 6
N
A
R

luas daun
PENGARUH LUAS DAUN TERHADAP
NAR
NAR (ZA 150%)
Linear (NAR (ZA 150%))






y = 0.0001x + 0.0761
R = 0.9948
0
0.02
0.04
0.06
0.08
0.1
0.12
0 100 200 300
N
A
R

luas daun
PENGARUH LUAS DAUN TERHADAP
NAR

NAR (ZA 100%)
Linear (NAR (ZA 100%))
y = -0.0046x + 0.167
R = 0.1739
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0.25
0 10 20 30 40
R
G
R

Tinggi tanaman
Tinggi Tanaman Terhadap RGR
RGR (Urea 150%)
Linear (RGR (Urea
150%))



4.2 Pembahasan
Dari hasil praktikum dilapang sesuai dengan data yang diperoleh perlakuan yang
terbaik ialah pada Urea 150% dan ZA 150% jika dilihat dari BKTT, karena jika dilihat dari
NAR dan CGR data begitu bervariasi sehingga sulit untuk diambil kesimpulan secara
keseluruhan.
Untuk hubungan perlakuan dan para meter pengamatan adalah Hasil pengukuran
menunjukkan, bahwa penambahan urea berpengaruh terhadap pertumbuhan terong.
Penggunaan urea menunjukkan tinggi tanaman meningkat sejalan dengan dosis
penambahan urea, tetapi menurun pada penambahan dosis tertentu. Tanaman terong
responsif terhadap penambahan dosis urea. Perbedaan jumlah takaran urea yang
y = -0.002x + 0.1253
R = 0.1444
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0 10 20 30 40 50
R
G
R

Tinggi Tanaman
Tinggi Tanaman Terhadap RGR
RGR (Urea 100%)
Linear (RGR (Urea
100%))
y = -0.0042x + 0.1617
R = 0.2632 0
0.02
0.04
0.06
0.08
0.1
0.12
0.14
0.16
0 10 20 30 40
R
G
R

Tinggi Tanaman
Tinggi Tanaman Terhadap RGR
RGR (ZA 100%)
Linear (RGR (ZA 100%))
ditambahkan menyebabkan perbedaan ukuran terhadap tinggi tanaman terong, perbedaan
ini dapat dilihat diantara perlakuan tambahan urea. Pada perlakuan B4 menghasilkan
ukuran tinggi tanaman yang lebih tinggi daripada perlakuan 132 maupun perlakuan B3.
. Selain pemberian pupuk organik, pemberian pupuk urea sebagai sumber hara N
merupakan usaha yang banyak dilakukan dalam meningkatkan produktivitas sayuran
khususnya Kangkung. Pupuk urea sebagai sumber hara N dapat memperbaiki pertumbuhan
vegetatif tanaman, dimana tanaman yang tumbuh pada tanah yang cukup N, berwarna lebih
hijau (Hardjowigeno, 1987).
5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan terong dilapang dapat disimpulkan bahwa perlakuan
yang terbaik ialah Urea 150% dan ZA 150%. Hal ini ditunjukkan dengan ciri-ciri
morfologi tanaman yang pertumbuhannya lebih tinggi dari perlakuan yang lain. Berat
kering tanaman juga berhubungan erat dengan nilai Indeks luas Daun suatu tanaman.
Dari pengamatan dilapang juga dipatkan hasil bahwa tanaman terong responsif
terhadap penambahan dosis urea. Perbedaan jumlah takaran urea yang ditambahkan
menyebabkan perbedaan ukuran terhadap tinggi tanaman terong.
5.2 Saran
Praktikum di lapang kurang efektif, masih banyak kekurangan yang ditemukan
dilapangan. Seperti kurangnya bahan tanam dan media tanam. Sumber air untuk
melakukan penyiraman terlalu jauh dan debit air juga sedikit. Jadwal yang tidak
terstruktur juga mempengaruhi intensitas pengamatan. Penempatan tanaman juga
kurang tertata rapi sehingga mengurangi nilai estetikanya. Semoga untuk praktikum
selanjutnya dapat dipersiapkan lebih baik lagi sehingga semua menjadi lebih sistematis.
















DAFTAR PUSTAKA

Bukhori. 2013. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik dan Air Cucian Beras Terhadap
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Terung (Solanum Melongena L.). Sains Riset 3(1)
:4
Harjadi, S.S. 1989. Dasar Dasar Hortikultura. Departemen Budi Daya Pertanian, Fakultas
Pertanian IPB.
Kaderi, H. 2006. Pengaruh Penambahan Urea dan Bahan Organik untuk Meningkatkan
Pertumbuhan Terong (Solanum Melongena L.) Di Tanah Sulfat Masam. Balai
Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Kalimantan Selatan.
Koryati, Tri. 2004. Pengaruh Penggunaan Mulsa dan Pemupukan Urea Terhadap
Pertumbuhan dan Produksi Cabai (Capsicum annum L.). Jurnal Penelitian Bidang
Ilmu Pertanian 2 (1) : 13-16
Leopold, A. C. and P. E Kriedemann. 1975. Plant Growth and Development. Tata Mc Grow
Hill Pub. Co. Ltd.., New Delhi. 545p.
Pracaya. 2006. Bertanam Sayuran Organik di Kebun, Pot dan Polibag. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Shibles, R. M. Dan C. R. Weber. 1965. Leaf area, solar radiation, interception and dry
matter production by Soybeans. Crop Sci. 5 : 575 578.
Sumarsono. Analisis Kuantitatif Pertumbuhan Tanaman Kedelai (Soy beans). Jurusan
Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro.
Rukmana, R. 1994. Bertanam Terung. Kanisius. Jakarta
USDA. 2010. Eggplant (Solanum melongena L.). Available
at:http://plants.usda.gov/plantguide/doc/pg_some.doc.

Anda mungkin juga menyukai