Anda di halaman 1dari 11

Statigrafi daerah Jawa Timur dapat dibagi 3 zona yaitu Pegunungan Selatan Jawa ,

Zona Kendeng , dan Zona Rembang. Pada tiap tiap zona ini stratigrafi dapat dipisahkan
menjadi tiga unconformity sistem. Menurut Sutarso dan Suyitno (1976), secara fisiografi
daerah penelitian termasuk dalam Zona Rembang yang merupakan bagian dari cekungan
sedimentasi Jawa Timur bagian Utara (East Java Geosyncline). Cekungan ini terbentuk
pada Oligosen Akhir yang berarah Timur Barat hampir sejajar dengan Pulau Jawa (Van
Bemmelen, 1949).
Tenaga pembentuk daerah yang berstruktur patahan, adalah tenaga endogen yang
mengakibatkan kulit bumi bergerak mendatar dengan berlawanan arah atau bergerak ke
bawah atau ke atas, yang sering disebut dengan kekar, rekahan atau retakan yang cukup
besar. Kulit bumi mengalami sesar dimana patahan yang disertai dengan pergeseran
kedudukan lapisan yang terputus hubungannya (fault). Berdasarkan gerakan atau
pergeseran kulit bumi terdapat tiga macam sesar (Mulfinger & Snyder, 1979: 341), yaitu:
a. Dip slip fault, yaitu sesar yang tergeser arahnya vertikal (sesar vertikal), sehingga salah
satu dari blok terangkat dan membentuk bidang patahan. Dip slip fault dapat dibagi lagi
menjadi dua bagian berdasarkan bagian yang tergeser, (Lobeck , 1939) yaitu:
Kalau batuan yang terletak di atas bidang sesar yang relatif turun, maka disebut
sesar turun, normal atau gravity fault.
Kalau batuan yang terletak di atas bidang sesar yang relatif naik, maka
dinamakan sesar naik atau thrust fault. Sesar naik digolongkan pula menjadi dua
bagian, yaitu: Reverse fault, kalau bidang sesarnya mempunyai kemiringan lebih
dari 45 derajat dan Thrust fault atau kelopak, jika kemiringan bidang sesar
kurang daru 45 derajat.
b. Strike slip fault, yaitu sesar yang pergeserannya ke arah horisontal (sesar mendatar),
sehingga hasil dari aktivitas ini kadangkala dicirikan oleh kenampakan aliran air sungai
yang membelok patah-patah.

Strike slip fault disebut juga lateral fault yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu:
Dextral atau right lateral fault adalah sesar yang bergerak relatif ke kanan.
Sinistral atau left lateral fault merupakan pergerakan sesar yang relatih ke kiri.

c. Oblique slip fault, yaitu sesar yang pergeseran vertikal sama dengan pergeseran
mendatar, yang sering disebut sesar miring (oblique). Pergeseran kulit bumi pada tipe
ini membentuk celah yang memanjang, kalau terjadi di dasar laut/samudera terbentuk
palung laut, dan bila di daratan bisa berupa ngarai

Daerah yang berstruktur lipatan, kubah, dan struktur patahan, pada dasarnya
disebabkan oleh tenaga endogen. Hanya saja tenaga endogen pembentuk ketiga daerah
struktur lipatan, kubah, dan patahan tidak sama. Pada daerah berstruktur lipatan,
disebabkan oleh tenaga endogen yang arahnya mendatar berupa tekanan, sehingga batuan
sedimen yang letak lapisan-lapisannya mendatar berubah menjadi terlipat atau
bergelombang. Daerah yang berstruktur demikian disebut daerah lipatan, dalam bahasa
Inggris disebut folded zone. suatu lipatan memilik beberapa bagian, sebagai akibat dari
adanya lipatan tersebut. Unsur-unsur tersebut adalah antiklinal, sinklinal, sayap antiklin.
(Sudardja & Akub,1977).
Di samping itu juga ada berupa sumbu antiklinal dalam kaitannya dengan
menentukan posisi suatu lipatan yaitu dip (kemiringan) dan strike (jurus), serta sumbu
sinklinal. Berbicara mengenai lipatan ada beberapa macam sebagai akibat dari kekutan yang
membentuknya, yaitu lipatan tegak, miring, menggantung, isoklin, rebah, kelopak,
antiklinoriun, dan sinklinorium. Di dunia ini banyak terdapat daerah lipatan yang
memperlihatkan bentukan topografi yang jelas, lipatan yang terkenal adalah Sirkum Pasifik
dan lipatan Alpina. Kedua lipatan tersebut mempunyai kelanjutan di Indonesia. Lipatan
Alpina di Indonesia berupa sistem pegunungan Sunda yang terbentang di Indonesia mulai
dari Sumatera, Jawa, Nusra, Maluku, dan berakhir di P Banda. Lipatan ini merupakan busur
dalam yang Indonesia bersifat volkanis dan busur luar yang non vulkanis. Demikian pula
dengan lipatan Sirkum Pasifik dari Pilipina bercabang ke Kalimantan dan Sulawesi dan
seterusnya. Sumber: Lobeck (1939).

Lipatan merupakan pencerminan dari suatu lengkungan yang mekanismenya
disebabkan oleh dua proses, yaitu bending (melengkung) dan buckling (melipat). Pada gejala
buckling, gaya yang bekerja sejajar dengan bidang perlapisan, sedangkan pada bending,
gaya yang bekerja tegak lurus terhadap bidang permukaan lapisan. (Hill 1953)
Lipatan akibat bending, terjadi apabila gaya penyebabnya agak lurus terhadap
bidang lapisan, sedangkan pada proses buckling, terjadi apabila gaya penyebabnya sejajar
dengan bidang lapisan. Selanjutnya dikemukakan pula bahwa pada proses bucklingterjadi
perubahan pola keterikan batuan, dimana pada bagian puncak lipatan antiklin, berkembang
suatu rekahan yang disebabkan akibat adanya tegasan tensional (tarikan) sedangkan pada
bagian bawah bidang lapisan terjadi tegasan kompresi yang menghasilkan Shear Joint.
Kondisi ini akan terbalik pada sinklin. Hob (1971)


Gambar 2.2 Tipe Lipatan


Gambar 2.3 unsur geometri lipatan
Strike dan Dip adalah sikap atau karakteristik dalam batuan yang dihasilkan oleh
forces geologi maupun sekarang setelah batuan terlipat (ditekuk) atau faulted (retak dan
bergerak di sepanjang celah jarak yang cukup jauh). Strike adalah garis imajiner dengan arah
kompas membangun pada permukaan tempat sedimen. Dip adalah garis imajiner
membangun menuruni lereng di tempat sedimen atau fault arah dip tegak lurus terhadap
arah strike.
Bagian-bagian lipatan dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.4 Bagian Lipatan
Bagian-bagian lipatan meliputi:
Limb (sayap) merupakan bagian lipatan yang terletakdown-dip dimulai
darilengkung maksimum suatu antiklin atau up-dip
dimulaidarilengkungsuatusinklin.
Hinge merupakan titik pelengkungan maksimum pada lapisan yang terlipat.
Crest merupakan titik puncak tertinggi dari lipatan.
Trough merupakan titik dasar terendah dari lipatan.
Core merupakan pusat lipatan.
Inflection merupakan pertengahan antara dua pelengkungan maksimum.
Axial line merupakan garis khayal yang menghubungkan titik-titik pelengkungan
maksimum padasetiap permukaan lapisan. Disebut juga hinge line.
Axial surface merupakan disebut juga hinge surface; bidang khayal yang memuat
semua axial line atau hinge line. Bidang ini pada beberapa lipatan dapat
merupakan bidang planar sehingga dinamakan axial plane.
Crestal line adalah suatu garis khayal yang menghubungkan titik-titik tertinggi
pada setiap permukaan suatu antiklin.
Crestal surface adalahbidangkhayal yang memuatsemuacrestal line suatuantiklin.
Trough line adalah suatu garis khayal yang menghubungkan titik-titik terendah
pada suatu sinklin.
Trough surface adalah bidang khayal yang memuat seluruh trough line
suatusinklin.
Plunge adalah sudut penunjaman dari axial line yang di ukur terhadap bidang
horisontal. Sudut ini terletak pada bidang vertikal.
Bearing adalah sudut horisontal yang dihitung terhadap arah tertentu dan
menyatakan arah penunjaman axial line.
Pitch adalah sudut antara axial line dengan bidang atau garis horisontal yang
diukur pada axial plane/surface.
Bagian-bagian patahan adalah sebagai berikut :







Gambar 2.5 Bagian Patahan
Daerah yang berstruktur lipatan, kubah, dan struktur patahan, pada dasarnya
disebabkan oleh tenaga endogen. Hanya saja tenaga endogen pembentuk ketiga daerah
struktur lipatan, kubah, dan patahan tidak sama. Pada daerah berstruktur lipatan,
disebabkan oleh tenaga endogen yang arahnya mendatar berupa tekanan, sehingga batuan
sedimen yang letak lapisan-lapisannya mendatar berubah menjadi terlipat atau
bergelombang. Daerah yang berstruktur demikian disebut daerah lipatan, dalam bahasa
Inggris disebut flexure.




Berdasarkan kedudukan garis sumbu dan bentuknya, lipatan dapat dikelompokkan menjadi :
1. Lipatansimetris: bidangsumbuvertikal

Gambar 2.6 Lipatan simetris

2. Lipatan asimetris: bidang sumbu miring

Gambar2.7 Lipatan asimetris
3. Lipatan overturned atau overfold: bidang sumbu miring namun kedua sayap telah
miring kearah yang sama dengan besar sudut yang berbeda.

Gambar 2.8 Lipatan overturned atau overvold
4. Lipatan rebah atau recumbent fold: bidang sumbu horizontal.

Gambar 2.9 Lipatan rebah atau recumbent fold
5. Lipatan isoklinal: kedua sayap memiliki besar dip yang sama dan miring kearah yang
sama.

Gambar 2.10 Lipatan isoclinal vertical

Gambar 3.7 Lipatan isoclinal miring

Gambar 2.11 Lipatan isoclinal rebah
6. Lipatan chevron: hinge bersifat menyudut tajam.

Gambar 2.12 Lipatan chevron

7. Lipatan kotak: crest bersifat lebar dan datar sehingga memiliki dua hinge pada
kedua ujung crest.

Gambar 2.13 Lipatan kotak
8. Lipatan kipas: kedua sayap bersifat overturned; pada antiklin kipas kedua sayap akan
saling mendekat sedangkan pada sinklin kipas kedua sayap akan saling menjauh.

Gambar 2.14 Lipatan kipas
9. Kink band: varian dari lipatan chevron dengan panjang kedua limb yang saling
berbeda.

Gambar 2.15 Lipatan kink band
10. Monoklin: terbentuk pada lapisan horisontal yang secara lokal memiliki kemiringan.

Gambar 2.16 Lipatan monoklin
11. Teras struktural: terbentuk pada lapisan miring yang secara lokal memiliki lapisan
horizontal.

Gambar 2.17 Lipatan structural
Superposisi
Dalam urutan pengendapan batuan yang belum mengalami perubahan (dalam
keadaan normal), batuan yang tua ada di bawah dan yang muda ada di atas(Steno,
1669). Dalam keadaan yang tidak terganggu, lapisan paling tua akan berada dibawah lapisan
yang lebih muda. Hal ini secara logis dapat dijelaskan bahwa proses pengendapan mulai dari
terbebtuknya lapisan awal yang terletak di dasar cekungan, selanjutnya ditutup oleh lapisan
yang terendapkan kemudian, yang tentu lebih muda dari ditutupinya.
A) Cross Cutting Relationship
Hukum ini menyatakan bahwa Batuan yang terpotong mempunyai umur geologi yang
lebih tua daripada yang memotong. (James Hutton, 1726).
Prinsip-prinsip Cross-cutting Relationship :
a. Cross-cutting Relationship Struktural, dimana suatu retakan yang memotong batuan yang
lebih tua
b. Cross-cutting Relationship Stratigrafi, terjadi jika erosi permukaan atau ketidakseragaman
memotong batuan yang lebih tua, struktur geologi atau bentuk-bentuk geologi yang lain.
c. Cross-cutting Relationship Sedimentasi, terjadi jika suatu aliran telah mengerosi endapan
yang lebih tua pada suatu tempat. Sebagai contoh suatu terusan atau saluran yang terisi
oleh pasir.
d. Cross-cutting Relationship Paleontologi, terjadi jika adanya aktivitas hewan dan tumbuhan
yang tumbuh. Sebagai contoh ketika jejak hewan yang terbentuk atau terendapkan pada
endapan berlebih.
e. Cross-cutting Relationship Geomorfologi, terjadi pada daerah yang berliku atau
bergelombang (sungai, dan aliran di sepanjang lembah).


B) Faunal Succesion
Fosil (fauna) akan berbeda pada setiap perbedaan umur geologi, fosil yang berada pada
lapisan bawah akan berbeda dengan fosil di lapisan atasnya. Fosil-fosil yang dijumpai pada
perlapisan batuan secara perlahan mengalami perubahan kenampakan fisiknya (ekibat
evolusi) dalam cara yang teratur mengikuti waktu geologi. Demikian pula suatu kelompok
organism secara perlahan digantikan oleh kelompok organism lain. Suatu perlapisan
tertentu dicirikan oleh kandungan fosil tertentu. Suatu perlapisan batuan yang mengandung
fosil tertentu dapat digunakan untuk koreksi antara suatu lokasi dengan lokasi yang lain.
B) Lateral Continuity
Pengendapan lapisan batuan sedimen akan menyebar secara mendatar, sampai
menipis atau menghilang pada batas cekungan dimana ia diendapkan (Steno, 1669).
Lapisan yang diendapakna oleh air terbentuk terus-menerus secara lateral dan hanya
membaji pada tepian pengendapan pada masa cekungan itu terbentuk.
C) Law of Inclusion
Suatu tubuh batuan yang mengandung fragmen dari batuan yang lain selalu lebih muda
dari tubuh batuan yang menghasilkan fragmen tersebut.
D) Kompleksitas
Kondisi tektonik yang lebih kompleks menunjukkan bahwa telah terjadi gangguan
tektonik intensif pada daerah tersebut. Hal ini menunjukkan daerah tersebut berumur leih
tua disbanding lapisan batuan yang berstruktur lebih sederhana.
E) Hukum V
Pola penyebaran singkapan batuan dipengaruhi oleh kemiringan lapisan batuan dan
topografi. Hubungan antara kemiringan lapisan batuan dan topografi daerah dirumuskan
dengan Hukum V.
F) Isostasi
Yaitu diferensiasi berdasarkan kerapatan jenis. Massa jenis yang lebih berat berada di
bagian bawah, sedangkan yang lebih ringan berada di bagian atas. Kerak benua lebih ringan,
sehingga berada di atas kerak samudera. Kerapatan jenis kerak benua = 2,7 sedangkan kerak
samudera = 2,95.
G) Conformity dan Unconformity
Keselarasan (Conformity): adalah hubungan antara satu lapis batuan dengan lapis
batuan lainnya diatas atau dibawahnya yang kontinyu (menerus), tidak terdapat selang
waktu (rumpang waktu) pengendapan. Secara umum di lapangan ditunjukkan dengan
kedudukan lapisan (strike/dip) yang sama atau hampir sama, dan ditunjang di laboratorium
oleh umur yang kontinyu.
Ketidakselarasan (Unconformity) : hubungan antara satu lapis batuan dengan lapis
batuan lainnya diatas atau dibawahnya berlangsung secara tidak kontinu.
Jenis-jenis Unconformity:
a. Disconformity adalah salah satu jenis ketidakselarasan yang hubungan antara satu lapis
batuan (sekelompok batuan) dengan satu batuan lainnya (kelompok batuan lainnya) yang
dibatasi oleh satu rumpang waktu tertentu (ditandai oleh selang waktu dimana tidak terjadi
pengendapan).
b. Angular Unconformity (Ketidakselarasan Bersudut) adalah salah satu jenis
ketidakselarasan yang hubungan antara satu lapis batuan (sekelompok batuan) dengan satu
batuan lainnya (kelompok batuan lainnya), memiliki hubungan/kontak yang membentuk
sudut.
c. Nonconformity adalah salah satu jenis ketidakselarasan yang hubungan antara satu lapis
batuan (sekelompok batuan) dengan satu batuan beku atau metamorf.