Anda di halaman 1dari 129

Oleh: Dr. H. TRIONO EDDY, S.H., M.

Hum
Hukum abstrak
Perwujudannya: peraturan perundang-undangan
Peraturan keluar sebagai reaksi tarhadap
keadaan yang tidak nyaman
Bidang ilmu yang
masih muda

Hukum Lingkungan:
Harus bisa atisipasif yang dapat menjawab di
masa-masa yang akan datang
Klasik
sektoral, kaku, sukar berubah, orientasinya kepada
pengguna lingkungan (use-oriented law)
Modern
integral komprehensif, environment oriented law
berorientasi kepada lingkungan sehingga sifat dan watak
dari lingkungan itu sendiri dan dengan demikian lebih
banyak bergurau kepada ekologi

Hukum Lingkungan:
Pengelolaan Lingkungan Hidup
Upaya terpadu untuk
melestarikan fungsi LH
Kebijaksanaan
Penataan
Pemanfaatan
Pengembangan
Pemeliharaan
Pemulihan
Pengawasan
Pengendalian
LINGKUNGAN HIDUP
Alinea ke empat Pembukaan UUD 1945, menyebutkan diantaranya
membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi
segenap bangsa Indonesia.
Pasal 28 H UUD 1945 (amandemen) menegaskan: Setiap orang mempunyai
hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menegaskan bahwa: bumi air dan kekayaan alam
yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
TAP MPR NO.IV/MPR/1999 menetapkan Visi-nya sebagai berikut:
Terwujudnya masyarakat Indonesia yang damai, demokratis, berkeadilan,
berdaya saing, maju dan sejahtera, dalam wadah Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang didukung oleh manusia Indonesia yang sehat mandiri,
beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cinta tanah air berkesadaran hukum
dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos
kerja yang tinggi serta berdisiplin,.
.konsep pembangunan berkelanjutan diletakkan sebagai dasar
kebijakan.
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
TENTANG PLH
TAP MPR No. VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa,
diantaranya meyebutkan: Pokok-pokok Etika Kehidupan
berbangsa adalah sebagai berikut:
Pasal 6. Etika Lingkungan menegaskan pentingnya kesadaran
menghargai dan melestarikan lingkungan hidup serta penataan
tata ruang secara berkelanjutan dan bertanggungjawab.

TAP MPR No. IX/MPR/2001 tentang Pembaharuan Agraria dan
Pengelolaan Sumber Daya Alam.
Pasal 3 menyatakan Pengelolaan sumber daya alam yang
terkandung di daratan, lautan dan angkasa dilakukan secara
optimal, adil, berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Peraturan hukum: harus dapat memuat
jangkauan instrument yang lengkap untuk
dapat melaksanakan pendekatan pembangunan
berkelanjutan.
Pendekatan peraturan perundang - undangan di masa
yang akan datang perlu memberikan perhatian kepada
pelaksanaan substantive dari pembangunan
berkelanjutan melalui konsep daya dukung ekosistem
dan metode social-ekonomi.
Hukum dapat menyediakan instrument yang akan
berguna sebagai pedoman bagi perilaku manusia dan di
mana peril, memaksakannya.
Hukum dapat memberikan landasan bagi perubahan
perilaku yang diperlukan bagi pengembangan
masyarakat yang benar - benar berkelanjutan sebagai
upaya untuk menyatukan (to reconcile) pembangunan
dan lingkungan hidup.
tidak hanya semata-mata untuk kepentingan lingkungan
itu sendiri, karena:
kalau mau melindungi lingkungan hidup harus melihat lingkungan
dalam keseluruhannya, dan lingkungan hidup tersebut harus
dianggap sebagai sumber daya yang terbatas, dia hanya dapat
digunakan dalam kompromi pada tatanan dunia yang lebih baik
(better world order ) dan kondisi yang seimbang (more balanced
living conditions).
Perlindungan lingkungan hidup:
O Pengaturan hukum diperlukan guna mencegah dan
menanggulangi dampak negatif dari pembangunan.
O Hukum berperan untuk menstrukturkan seluruh proses
pembangunan dalam menjamin perencanaan, kepastian
dan ketertiban guna terwujudnya pembangunan
berkelanjutan.
Sejumlah asas dari
perundang-undangan
sebagai kerja yuridis
atau teknis juridis
perundang-undangan
O Undang-undang tidak berlaku
surut
O Undang-undang yang dibuat
penguasa yang lebih tinggi,
mempunyai kedudukan yang
lebih tinggi
O Undang-undang yang bersifat
khusus menyampingkan undang-
undang yang bersifat umum, jika
pembuatnya sama
O Undang-undang yang berlaku
belakangan, membatalkan
undang-undang terdahulu
O Undang-undang tidak dapat
diganggu gugat
O Undang-undang sebagai sarana
untuk semaksimal mungkin dapat
mencapai kesejahteraan spiritual
dan materiil bagi masyarakat
maupun individu melalui
pembaharuan dan atau
pelestarian.
O Peraturan itu sendiri, artinya perundang-undangan harus
direncanakan dengan baik yang memenuhi kaidah-kaidah yang
bekerja memenuhi tingkah laku, harus ditulis dengan jelas dan
dapat dipahami dengan kepastian. Sehingga suatu ketaatan atau
tidak taatnya warga Negara (masyarakat) dapat disidik dan dilihat
dengan mudah.
O Petugas yang menerapkan peraturan hukum harus melaksanakan
tugasnya dengan baik dan tegas.
O Fasilitas berupa sarana dan prasarana hukum yang diharapkan
dapat mendukung pelaksanaan hukum.
O Warga masyarakat yang menjadi sarana peraturan harus bertindak
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Tindakan masyarakat yang sesuai dengan aturan hukum dalam
melaksanakan aktifitasnya tergantung kepada tiga variabel, yaitu:
apakah normanya telah disampaikan, apakah normanya sesuai
dengan tujuan yang telah ditetapkan bagi posisi itu dan apakah
warga masyarakat yang terkena peraturan digerakkan oleh
motivasi yang menyimpang.
Penggunaan hukum sebagai instrument
malakukan perubahan-perubahan guna mewu-
judkan tujuan kebijaksanaan pengelolaan ling-
kungan hidup harus memperhatikan empat
faktor
Robert B. Seidman (1978 :311 339).
8 Prinsip tolak ukur
hukum yang sosoknya
sebagai
Peraturan Perundang-
undangan
Aturan hukum yang baik sangat
berpengaruh bagi penegakan hukum
(Lan Fuller, dalam NR Segra,
et.al. 1983 : 122-128), yaitu:
Undang-undang yang bersifat umum
memerlukan peraturan pelaksanaan
Undang-undang agar dapat memenuhi
fungsi mengatur, harus diumumkan
Undang-undang tidak boleh berlaku surut,
jika undang-undang itu dilihat sebagai alat
pemandu tingkah laku dimasa yang akan
datang.
Undang-undang harus jelas, tidak boleh
mempunyai arti ganda, dalam kontek
hermeutika atau metode penafsiran
undang-undang.
Undang-undang tidak boleh bertentangan
secara bathiniah, artinya undang-undang
tidak boleh melarang dan membolehkan
suatu perbuatan pada waktu yang
bersamaan
Undang-undang tidak boleh menetukan/
menuntut hal yang tidak mungkin.
Undang-undang harus menjaga
konsistensi, dalam arti undang-undang
tidak boleh sering dirubah.
Undang-undang tidak hanya berlaku untuk
rakyat, tetapi juga mengikat penguasa.
Tidak ada perundang-undangan yang sedemikian
lengkapnya sehingga dapat mengatur semua perilaku
manusia.
Adanya kelambatan-kelambatan untuk menyesuaikan
perundang-undangan dengan perkembangan-
perkembangan di dalam masyarakat, sehingga
menimbulkan ketidakpastian.
Kurangnya biaya untuk menetapkan perundang-
undangan sebagaimana yang dikehendaki oleh
pembentukan undang-undang.
Adanya kasus-kasus individual yang memerlukan
penanganan secara khusus.
Soerjono Soekanto (1983 : 14), menyatakan
bahwa Diskresi (kebijaksanaan) mempunyai
peraturan penting dalam penegakan hukum,
disebabkan:
PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
Masyarakat
Bukan hanya pada konotasi masyarakat
lapisan bawah saja tetapi pengertian
masyarakat umum dalam arti yang luas
seperti masyarakat ilmiah akademik para
usahawan, lembaga swadaya masyarakat
dan lainnya.
Pandangan antroposentrisme ekosistem.
Mengakui manusia tidak dapat hidup
sendiri, hidup manusia tergantung juga
pada organisme hidup dan ekologi
lingkungan. Kelangsungan hidup dan
kesejahteraan manusia tergantung pada
kesehatan ekosistem dan tempat
tinggalnya. Antroposentrisme ekosistem
mewajibkan setiap orang untuk
melindungi lingkungan hidup dari
kerusakan dan memelihara fungsi
ekologinya.
Konsekuensi
Adanya hak atas lingkungan
yang baik dan sehat, adanya
kewajiban bagi setiap orang
untuk memelihara lingkungan
hidup guna mencegah dan
menanggulangi kerusakan dan
atau pencemaran lingkungan.
Kewajiban untuk melindungi lingkungan hidup:
Lingkungan hidup dengan segala
sumberdayanya merupakan
kekayaan yang dapat digunakan
oleh setiap orang dan karena itu
harus dijaga untuk kepentingan
masyarakat dan generasi
mendatang.
Perlindungan lingkungan hidup dan
sumber daya alamnya, mempunyai
tugas ganda, yaitu melayani
kepentingan masyarakat secara
keseluruhan dan juga kepentingan-
kepentingan individu.
mengandung makna:
O Proses pengambilan keputusan, baik dengan cara
mengajukan keberatan, maupun dengan pendapatan
atau
O Yang ditentukan dalam peraturan perundang-
undangan. Peran tersebut dilakukan antara lain dalam
proses penilaian Amdal atau perumusan kebijaksanaan
LH
O Pelaksanaan didasarkan pada prinsip keterbukaan,
sebab dengan keterbukaan memungkinkan masyarakat
untuk ikut memikirkan dan memberikan pandangan
serta pertimbangan dalam pengambilan keputusan di
bidang pengelolaan LH
Hak berperan serta dalam rangka PLH, meliputi peran dalam:
Kewajiban dalam memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup
dan memberikan informasi dalam pengelolaan lingkungan hidup

Pasal 6 UUPLH

setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup
serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan hidup.

Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban
memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai pengelolaan
lingkungan hidup.
Masalah-masalah yg
terkait dg pemberian
informasi ke masyarakat
Seperti:
dokumen AMDAL
laporan & hasil evaluasi pemantauan LH
rencana tata ruang
-pentaatan
-perubahan kualitas LH
Untuk
Apa ?
Informasi
Data
Keterangan
Informasi lain
Berkenan
Dengan PLH
Peran Serta Masyarakat
Memberi informasi kepada pemerintah
Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerima keputusan
Membantu perlindungan hukum
Mendemokratisasikan pengambilan keputusan
-pemastian penerimaan informasi
-Informasi tepat waktu
-Informasi lengkap
-Informasi dapat dipahami
-Informasi lintas batas
Dilaksanakan secara terorganisir
Dilakukan dengan lembaga eksekutif dan lembaga
perencanaan di mana terdapat hak berbicara bagi rakyat
dan kewajiban mendengar bagi pejabat
Hasil dari inspraak masih batas yang wajar dapat
mempengaruhi keputusan akhir di pemerintahan
Dilakukan pada fase
formulasi gagasan, perencanaan, penetapan suatu proyek
Suatu sistem pelibatan
masyarakat yang
diharuskan UU untuk
perencanaan kegiatan
apapun
Lembaga
inspraak
3 unsur
Masyarakat
mempunyai:
Kesempatan yang sama
Seluas-luasnya
untuk
Berperan
dalam PLH


+Meningkatkan:
Kemandirian
Keberdayaan masyarakat
Kemitraan


Menumbuhkembangkanan kemampuan

masayarakat

kepeloporan

+Menumbuh ketanggapsegeraan masyarakat untuk melakukan
pengawasan sosial




+Memberikan saran pendapat

+Menyampaikan informasi dan/atau
laporan

prasyarat untuk
menumbuhkan
kemampuan
masyarakat
dalam
PLH
meningkatkan
efektivitas peran
masyarakat
dalam PLH
cara
segera
ditindaklanjutinya
masalah LH
Pencemaran
dan/atau
Kerusakan LH
Masalah
Masyarakat


mengumpulkan
informasi/data



Sebarluaskan ke anggota
Masyarakat lainnya




Bahas masalah
Pemerintah/

Instansi/

Lembaga Terkait
Sumber
Penyebab
Masalah
Organisasi/
Lembaga Kemasyarakatan
DPRD/
DPR
Keputusan/tindak lanjut
Info/data
Info/data
19
Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup
Setiap usaha dan/atau kegiatan dilarang melanggar
Baku Mutu dan Baku Kriteria Kerusakan LH
Rencana usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan
dampak besar dan penting terhadap LH wajib memiliki
AMDAL
Setiap penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan
wajib melakukan pengelolaan limbah yang dihasilkan
Setiap penaggungjawab usaha dan/atau kegiatan wajib
melakukan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkan
APABILA KONSEP DI ATAS DILAKSANAKAN DENGAN BAIK,
MAKA PENEGAKAN HUKUM LEBIH BANYAK SEBAGAI SISTEM
PENGAWASAN TERHADAP PARA PIHAK YANG BERKAITAN
DENGAN LINGKUNGAN YANG MELAKUKAN KEGIATAN
20
AMDAL merupakan persyaratan untuk memperoleh izin
usaha dan/atau kegiatan
Larangan melakukan pembuangan limbah ke media LH
tanpa izin
Larangan melakukan pembuangan limbah dari luar
wilayah RI
Pembuangan limbah ke media LH dapat dilakukan di
lokasi pembuangan yang ditetapkan MenLH
Larangan melakukan impor limbah B3
Pengawasan dilakukan
- Pejabat pengawas pusat/KLH
- Pejabat pengawas Daerah Propinsi
- Pejabat pengawas Daerah Kab/Kota
Penerapan sanksi administrasi
Audit lingkungan
Persyaratan Penataan LH
Konsep Penegakan Hukum
Sanksi Pidana
UUPLH
Penyelesaian Sengketa LH
Di Luar Pengadilan
Sanksi Administrasi
Penyelesaian Sengketa LH
Di Pengadilan
Pelestarian Fungsi
Persyaratan penataan LH
22
Sanksi Administrasi
Ditujukan kepada perbuatan
pelanggarannya
Dimaksudkan agar perbuatan
pelanggaran dihentikan
Sanksi Administrasi bersifat
reparatoir atau pemulihan
keadaan semula
Dapat langsung menangani
masalah pada sumbernya
Dijatuhkan oleh Pejabat Tata
Usaha Negara
Audit Lingkungan Hidup:
Pemerintah mendorong penanggungjawab usaha dan/atau
kegiatan

- Menteri Lingkungan Hidup berwenang memerintahkan Audit
Lingkungan Hidup kepada penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan yang tidak patuh kepada ketentuan UUPLH

- Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib
melaksanakan perintah Menteri Lingkungan Hidup tersebut

- Menteri Lingkungan Hidup dapat menugaskan kepada pihak
ketiga untuk melaksanakan Audit Lingkungan Hidup
Sanksi Administrasi
1. Audit Lingkungan Hidup
2. Pencabutan izin usaha dan/atau kegiatan
Merupakan standard yang tidak hanya ditujukan bagi
perlindungan linkungan, melainkan juga bagi
kebijaksanaan pembangunan.
Artinya, dalam penyediaan, penggunaan, peningkatan
kemampuan sumber daya alam dan peningkatan taraf
ekonomi, perlu menyadari pentingnya pelestarian fungsi
lingkungan hidup, kesamaan derajat antar generasi,
kesadaran terhadap hak dan kewajiban masyarakat,
pencegahan terhadap pembangunan yang destruktif
(merusak) yang tidak bertanggungjawab terhadap
lingkungan, serta berkewajiban untuk turut serta dalam
melaksanakan pembangunan berkelanjutan pada setiap
lapisan masyarakat.
Pembangunan berkelanjutan merupakan standard yang
tidak hanya ditujukan bagi perlindungan lingkungan,
melainkan juga bagi kebijaksanaan pembangunan
Dalam: - penyediaan,
- penggunaan,
- peningkatan kemampuan sumber daya alam
dan peningkatan taraf ekonomi
Perlu menyadari pentingnya:
- pelestarian fungsi lingkungan hidup,
- kesamaan derajat antar generasi,
- kesadaran terhadap hak dan kewajiban masyarakat
- pencegahan terhadap pembangunan yang destruktif
(merusak) yang tidak bertanggungjawab terhadap
lingkungan, serta
- berkewajiban untuk turut serta dalam melaksanakan
pembangunan berkelanjutan pada setiap lapisan
masyarakat.
Pembangunan Berkelanjutan

SUISTAINABLE
DEVELOPMENT
BERSIFAT HOLISTIK
PEMBANGUNAN YANG DIJALANKAN UNTUK
MEMENUHI KEBUTUHAN SEKARANG TIDAK BOLEH
MENGURANGI KEMAMPUAN GENERASI-GENERASI
MENDATANG UNTUK MEMENUHI KEBUTUHANNYA
TRANSFORMASI PROGRESIF
TERHADAP STRUKTUR
SOSIAL DAN POLITIK
UNTUK MENINGKATKAN
KAPASITAS MASYARAKAT
DALAM MEMENUHI
KEPENTINGAN SAAT INI
TANPA MENGORBANKAN
KEMAMPUAN GENERASI
YANG AKAN MENDATANG
UNTUK MEMENUHI
KEPENTINGAN MEREKA
4 Jenis capital stock yang harus
dipertimbangkan


natural capital stock
human-made capital stock
human capital stock
social capital stock
PRINSIP-PRINSIP KEHIDUPAN YANG BERKELANJUTAN
Menghormati dan memelihara komunitas kehidupan
Memperbaiki kualitas hidup manusia
Melestarikan daya hidup dan keragaman bumi
Menghindari sumber-sumber daya yang tidak terbarukan
Berusaha untuk melampaui kapasitas daya dukung bumi
Mengubah sikap dan gaya hidup orang-perorangan
Mendukung kreativitas masyarakat untuk memelihara
lingkungan sendiri
Menyediakan kerangka kerja nasional untuk memadukan
upaya pembangunan pelestarian
Menciptakan kerjasama global
Upaya untuk melaksanakan pembangunan
berkelanjutan, didasarkan pada prinsip
Prinsip konservasi (Principle of Conservation)
(yang mengarah kepada pemeliharaan sumber daya alam yang telah mencapai tingkatan tertentu guna
memperbaharui dan menghindari terjadinya penelantaran sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui

Prinsip peningkatan (Principle of Amelioration)
(bertujuan untuk meningkatkan kualitas/kemampuan lingkungan. Prinsip ini memerlukan peran nyata dari
masyarakat untuk aktif dalam memperbaiki lingkungan)

Prinsip kehati-hatian dan pencegahan (Preccution and Prevention Principles)
(mengutamakan melakukan tindakan hati-hati dan pencegahan terhadap sumber terjadinya pencemaran dan
atau perusakan lingkungan, ketimbang mengatasi akibat yang telah terjadi)

Prinsip perlindungan (Protection Principles)
(meliputi pencegahan aktivitas berbahaya dan melakukan tindakan yang tegas guna tidak terjadinya
pencemaran dan atau perusakan lingkungan. Prinsip ini mengisyaratkan perlunya perencanaan ekologis dan
manajemen yang lebih luas termasuk dibuatnya peraturan pelaksana, prosedur dan kelembagaan dalam skala
nasional)

Prinsip-prinsip lainnya,
-The Best Aviable Technology (BAT)
(menekankan kepada penggunaan teknologi terbaik yang tersedia)
-The Best Aviable Tecnology not Entailing Excessive Cost (BATNEEC)
(menekankan kepada penggunaan teknologi terbaik yang tersedia dengan biaya murah)
-The Best Environment Practices (BEP)
(yang mengutamakan lingkungan)
-The Best Practicable Environmental Option (BPEO)
(melakukan pilihan dengan mengutamakan lingkungan
dijadikan standard
bagi
Artinya
dalam
penyediaan,
penggunaan,
peningkatan kemampuan sumber daya alam dan peningkatan taraf ekonomi


Perlu menyadari pentingnya
O pelestarian kemampuan lingkungan,
O kesamaan derajat antar generasi,
O kesadaran terhadap hak dan kewajiban masyarakat
O pencegahan pembangunan yang deskruktif (merusak) yang tidak bertanggung jawab
terhadap lingkungan, serta
O berkewajiban untuk turut serta dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan pada
setiap lapisan masyarakat
perlindungan lingkungan
kebijaksanaan pembangunan
30
Kajian
mengenai
UUPLH
penting

oleh karena
berkaitan dan menentukan secara langsung
upaya penegakan hukumnya, apalagi sebagian
Hukum Lingkungan masih diwarnai oleh pemikiran
Konservatif yang sulit diterobos dengan wawasan
Berpikir yang inovatif.
UUPLH merupakan dasar
hukum pelaksanaan
kebijaksanaan pemerintah
permasalahan lingkungan hidup tidak cukup
diselesaikan dari segi ILMU dan TEKNOLOGI
Tetapi perlu diwujudkan dalam bentuk
Kebijaksanaan lingkungan hidup
Dan dituangkan dalam perangkat peraturan
Perundang-undangan
Oterpeliharanya proses ekologi yang esensial
-fotosintesis, penambatan nitrogen, pengedalian populasi, penyerbukan, kemampuan
memperbaharui diri, fungsi hidro-orologi
Otersedianya sumber daya yang cukup (menaikkan efisiensi)
-kenaikan eksploitasi sumber daya yang terbaharui mempertinggi resiko kerusakan
-penggunaan sumber daya dalam jumlah yang makin besar, pada umumnya memperbesar
masalah pencemaran
Olingkungan sosial budaya yang sesuai
-pemerataan pembangunan
(dua ekosistem yang berbeda tingkat perkembangannya berhubungan satu sama lain, terjadilah
tukar menukar materi, energi dan informasi antara keduanya ekosistem yang kurang
berkembang dieksploitasi oleh yang lebih berkembang)
-persaingan (antara individu sejenis akan menyebabkan terdesaknya individu yang lemah ke
daerah yang marjinal melebarnya relung jenis)
-masyarakat terasing (yang primitif dan modern)
Opola hidup sederhana
(pola hidup mewah dan konsumtif merupakan bahaya terhadap terdukungnya pembangunan
berkelanjutan mempunyai efek penyusutan sumber daya yang besar dan mendorong terjadinya
keresahan sosial)
Okemampuan Iptek
Opengelolaan lingkungan yang adaptif
(pengelolaan lingkungan yang dapat menyesuaikan diri terhadap kondisi yang berubah-ubah)
Opengelolaan proyek pembangunan
(pendekatan yang holistic jangan sektoral proyek harus dianggap sebagai komponen
dalam ekosistem lingkungan tempat proyek dilaksanakan)
Faktor lingkungan diperlukan dalam pembangunan berkelanjutan
Pembangunan
Berkelanjutan
Hukum






PERATURAN
PERUNDANG-
UNDANGAN
Pelasakanaan
Pembangunan
Lingkungan
Hidup
SINKRONISASI
VERTIKAL
HORIZONTAL
KEBIJAKSANAAN
PERMASALAHAN
-asas-asas dan pemikiran konseptual
-instrumen hukum lingkungan
-sarana-sarana penegakan hukum
-konsep kebijaksanaan
34
Pembangunan
Mempe-
ngaruhi
dan
dipengaruhi
berinteraksi
Membentuk system ekololgi
(ekosistem)
menghasilkan
manfaat

resiko
Lingkungan hidup
Subjek dan
Objek pembangunan
Bagaimana
membangun
agar sekaligus
mutu lingkungan
meningkat
Manfaat dan resiko harus diperhitungkan secara Seimbang
Resiko diterima sebagai biaya manfaat yang diambil
- Hanya memperhatikan manfaatnya saja dapat
membahayakan lingkungan
- Hanya memperhatikan resikonya (terlaku dibesar-
besarkan) akan membuat takut membangun
manusia
(SUATU TINJAUAN DARI
SUDUT PANDANG
AKADEMIS)
Perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan
atas demokratis ekonomi dengan prinsip
Kebersamaan
Efisiensi berkeadilan
Berkelanjutan
Berwawasan lingkungan hidup
Kemandirian
Serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan
ekonomi nasional
Pasal 33 ayat (3) dan (4) UUD 1945:
Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
Visi Indonesia 2020
Terwujudnya masyarakat Indonesia yang
religius manusiawi, bersatu, demokratis, adil,
sejahtera, maju mandiri, serta baik dan bersih
dalam penyelenggaraan negara
Negara Indonesia:
Memliki kesadaran terhadap Pengelolaan
Lingkungan Hidup dan menjadikan konsep
pembangunan berkelanjutan diletakkan
sebagai dasar kebijaksanaan
Kebijaksanaan Lingkungan Yang
Ingin Dicapai Pemerintah
Dituangkan dalam wadah undang-undang yang
menjadi dasar hukum pelaksanaan
kebijaksanaan lingkungan.
Asas, Tujuan dan Sasaran
Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pasal 3 UULH berbunyi: Pengelolaan lingkungan hidup berasaskan
pelestarian kemampuan lingkungan yang serasi dan seimbang untuk
menunjang pembangunan yang berkesinambungan bagi peningkatan
kesejahteraan manusia.
Asas pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana tercantum dalam Pasal 3
UUPLH berbunyi: Pengelolaan lingkungan hidup yang diselenggarakan
dengan asas tanggung jawab negera, asas berkelanjutan dan asas
manfaat.
Pelestarian mengandung makna tercapainya kemampuan lingkungan yang
serasi dan seimbang dan peningkatan kemampuan tersebut. Hanya dalam
lingkungan yang serasi dan seimbang dapat dicapai kehidupan yang optimal.
Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bertujuan mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang
berwawasan Lingkungan Hidup dalam rangka pembangunan
manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat
Indonesia seluruhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa
1. Tercapainya keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara
manusia dan lingkungan hidup;
2. Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup
yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina
lingkungan hidup;
3. Terjaminnya kepentingan generasi kini dan generasi masa
depan;
4. Tercapainya kelestarian fungsi lingkungan;
5. Terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana
6. Terlindungnya Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap
dampak usaha dan/atau kegiatan di luar wilayah negara yang
menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan.
Sasaran yang hendak dicapai dalam
Pengelolaan Lingkungan Hidup:
Dilandasi oleh cara pandang (visi) yang luas dan
tajam jauh ke depan dengan misi yang jelas dan
program-program nyata yang bermanfaat dalam
rangka mewujudkan suatu kebijaksanaan program
pengelolaan lingkungan hidup dengan paradigma,
mengintegrasikan tuntutan penerapan hak asasi,
demokrasi dan lingkungan hidup dalam suatu
kelestarian fungsi lingkungan yang menunjang
ketahanan lingkungan
Arah dan Pendekatan Pengelolaan Lingkungan Hidup:
Pembangunan dielaborasikan sebagai:
Suatu Interaksi antara tiga sistem yaitu:
- Sistem biologis dan sumber daya (lingkungan hidup);
- Sistem ekonomi; dan
- Sistem sosial.
Makna pembangunan yang didasarkan konsep pembangunan
berkelanjutan (suistainable development).
Konsep pembangunan berkelanjutan bersifat holistik:
Ada 4 jenis capital stock yang harus dipertimbangkan:
- Natural capital stock, berupa segala sesuatu yang
disediakan oleh alam;
- Human-made capital stock, antara lain dalam wujud
investasi dan teknologi;
- Human capital stock, berupa SDM dengan segenap
kemampuan, ketrampilan dan perilakunya;
- Social capital stock, berupa organisasi sosial dan
kelembagaan atau institusi.
Pasal 12 ayat (1) b UUPLH
Pemerintah dalam mewujudkan keterpaduan dan keserasian
pelaksanaan kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan
lingkungan hidup dapat mengikutsertakan peran Pemerintah Daerah
untuk membantu Pemerintah Pusat dalam pelaksanaan Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
Pasal 10 ayat (3) Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah
Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang
pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri,
pertahanan keamanan, moneter dan fiscal, agama, serta
kewenangan bidang lain.
daerah tidak mempunyai wewenang dalam menetapkan
kebijaksanaan mengenai perencanaan pendayagunaan sumber daya
alam dan konservasi.
Pasal 10 Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah:
memberikan kewenangan bagi daerah untuk mengelola sumber
daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab
memelihara kelestarian fungsi lingkungan serta mempunyai
kewenangan untuk mengeksplorasi, mengeksploitasi, konservasi
dan pengelolaan kekayaan laut, berikut pengaturan tata ruang laut.
KELEMBAGAAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH
Mengatur dan mengembangkan kebijaksanaan dalam
rangka pengelolaan lingkungan hidup;
Mengatur penyediaan, peruntukkan, penggunaan,
pengelolaan lingkungan hidup, dan pemanfaatan
kembali sumber daya alam, termasuk sumber daya
genetika;
Mengatur perbuatan hukum dan hubungan antara orang
dan atau subjek hukum lainnya serta perbuatan hukum
terhadap sumber daya alam dan sumber daya buatan
termasuk sumber daya genetika;
Mengendalikan kegiatan yang mempunyai dampak
sosial;
Mengembangkan pendanaan bagi upaya pelestarian
fungsi lingkungan hidup sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 8 ayat (2) UUPLH
Penataan Ruang dan Konservasi Sumber
Daya Alam;
Pengendalian Dampak Lingkungan
Hidup;
Penegakan Hukum Lingkungan;
Pengembangan peran serta masyarakat
di bidang pengelolaan lingkungan hidup.
Ruang lingkup pekerjaan mencakup:
Merumuskan kebijakan, koordinasi dan pengawasan di bidang
Pengelolaan Lingkungan Hidup daerah;
Menetapkan perencanaan dan pengendalian pemanfaatan ruang,
konservasi SDA;
Melaksanakan kebijakan pengendalian dampak lingkungan daerah;
Mengevaluasi dan merekomendasikan pembatalan terhadap
keputusan di bidang penataan ruang, konservasi SDA, AMDAL dan
perizinan lingkungan hidup, yang bertentangan dengan kebijakan
pengelolaan lingkungan daerah maupun nasional;
Melaksanakan pengawasan, penataan dan penegakan hukum
terhadap pelanggaran di bidang penataan ruang, konservasi SDA
dan pengendalian dampak lingkungan;
Mengkoordinasikan pelaksanaan pengendalian dampak lingkungan
hidup antar sektor;
Menumbuhkembangkan peran serta dan kemitraan masyarakat di
bidang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan di bidang
Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah.
Memiliki Kewenangan untuk:
URUSAN WAJIB YANG MENJADI WEWENANG PEMDA:
Provinsi Pengendalian Lingkungan Hidup yang merupakan urusan
dalam skala provinsi.
Kabupaten/Kota Pengendalian Lingkungan Hidup yang merupakan
urusan yang berskala kabupaten/kota.

Rujukan:
Mengacu kepada Agenda 21 Nasional, Kesepakatan
Pembangunan Berkelanjutan
Peraturan Perundang-undangan:
- UU No. 24/1992 tentang Penataan Ruang
- UU No. 23/1997 Tentang PLH
- Ketentuan lainnya yang terkait dengan PLH
PERDA DI BIDANG LINGKUNGAN HIDUP
PERDA LINGKUNGAN HIDUP:
Penjabaran perundang-undangan yang lebih tinggi
Ditetapkan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah
Tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan yang
lebih tinggi
Diundangkan dalam lembaran daerah
Tidak boleh mengatur sesuatu yang telah diatur oleh perundang-undangan
yang lebih tinggi
Dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan
hukum, seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar
Dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 bulan atau denda
paling banyak Rp. 50 juta
Dapat memuat ancaman pidana atau denda selain di atas sesuai yang diatur
dalam perundang-undangan lainnya
Kepala Daerah menetapkan Peraturan Kepala Daerah, baik karena delegasi
dari Perda atau perundang-undangan lain maupun atas prakarsa sendiri
Perda Lingkungan Hidup dan Peraturan Kepala Daerah harus didasarkan
pada kewenangan yang dimiliki, kemampuan dan kebutuhan daerah
Memuat prinsip kehati-hatian/pencegahan dini
Keadilan antar dan intergenerasi
Perlindungan masyarakat adat
Keterbukaan dan keterpaduan antar sektor dapat menciptakan harmonisasi
antar kepentingan lingkungan, ekonomi dan sosial sebagai prinsip
pembangunan berkelanjutan
PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN PERDA LINGKUNGAN HIDUP
Kejelasan tujuan
Kelembagaan atau organ pembentuk
yang tepat
Kesesuaian antara jenis materi muatan
Dapat dilaksanakan
Kedayagunaan dan keberhasilgunaan
Kejelasan rumusan
Keterbukaan
Asas-asas lain yang sesuai dengan
perundang-undangan yang bersangkutan
Asas Peraturan Perundang-undangan
Pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi khusus
dalam penyusunan Perda bidang Lingkungan Hidup
Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan urusan lingkungan
hidup di daerah di bidang lingkungan hidup
Pemberian atau pembuatan pedoman dan standard
pelaksanaan urusan lingkungan hidup di daerah sebagai
tolak ukur apakah pelaksanaannya di daerah sudah sesuai
atau tidak (seperti baku mutu air limbah, dll)
Melakukan evaluasi terhadap Perda, Peraturan Kepala
Daerah apakah bertentangan dengan prinsip dalam
penyusunan Perda
Peranan Menteri Lingkungan Hidup dalam Pembinaan
dan Pengawasan Perda Bidang Lingkungan Hidup
Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Pemda
secara nasional dikoordinasikan oleh Mendagri
Bagan Alur Pikir Penyusunan Perda di Bidang
Pengelolaan Lingkungan Hidup
Ps. 33 (4) UUD 1945
TAP MPR IX/2001
UUPLH
UUPR
UUPEMDA
Keadilan
Demokrasi
Keberlanjutan
Manajemen
Kemampuan
Kebutuhan
Filosofis, Yuridis
Sosiologis
Peran serta
masyarakat
Kebijakan PLH
Proses Politik
Norma Hukum
Kesepakatan
Multi Stakeholders
Perda tentang
PLH
Perancangan
Perda
Kewenangan Kabupaten/Kota
Bidang Lingkungan Hidup
Pemanfaatan SDA dengan mengakomodasi
aspek budaya
Fungsi sosial dalam PLH
Penetapan
Aspek sosbud dalam perubahan fungsi ruang
kawasan/lahan
Penentuan
Profil, sifo geografi serta atlas daerah PLH dan
SDA
Sistem jaringan informasi geografi PLH dan
SDA
Program pemantauan kualitas Lingkungan
Hidup daerah
Perencanaan pembangunan jangka pendek,
menengah, panjang dengan mengintegrasikan
kebijakan perubahan iklim
Penetapan
Kebijakan implementasi cara-cara adaptasi dan
strategi mengahadapi perubahan iklim
Kebijakan dampak hujan asam
Sistem pemantauan yang memadai untuk menghadapi
perubahan iklim
Kawasan yang beresiko menimbulkan bencana
Lingkungan Hidup
Kawasan lingkungan dan SDA wilayah pesisir dan laut
< 4 Mil yang potensial dan sensitif terhadap
pencemaran
Prosedur pelaksanaan penanggulangan bencana
akibat tumpahan minyak dan bahaya kimia lainnya di
pesisir dan laut < dari 4 Mil
Perlindungan ekosistem peka terhadap pencemaran
minyak di lokasi pesisir dan laut < dari 4 Mil
Prosedur operasi standar penanggulangan
pencemaran pada ekosistem pkea di lokasi pesisir dan
laut kurang dari 4 Mil
Penetapan
Titik referensi pemantauan kualitas udara
ambient
Titik referensi pemantauan emisi kenderaan
bermotor jalan raya (road side)
Penentuan
Kualitas udara daerah Pengumuman
Tanda lulus uji emisi kenderaan bermotor
Sistem intensif dan disintensif PLH
Lembaga yang menangani permasalahan akses
sember daya genetika di daerah
Pembentukan kelembagaan dalam
pengendalian kebakaran hutan dan lahan
Potensi SDA
Pelestarian keanekaragaman hayati daerah
Baku Mutu Lingkungan Kabupaten/Kota
berdasarkan peraturan nasional
Penetapan
Penetapan konservasi exsitu dan insitu
Kabupaten/Kota
Penetapan lokasi Tempat Pembuangan Akhir
Penetapan
Pemberdayaan masyarakat dalam PLH

Sistem pemantauan kondisi dan potensi serta
kerusakan keanekaragaman hayati

Penetapan

Pemanfaatan

Kebijakan biaya efektif (Cost Effectiveness) dalam
mengalokasikan sumber daya dan lingkungan di
Kabupaten/Kota
perlindungan keanekaragaman hayati
(tumbuhan, satwa liar, mikroorganisme,
Dan plasma nutfah)
Daerah
Kab/Kota
Pemberdayaan masyarakat dalam PLH
Pembinaan terhadap masyarakat dalam PLH
Perlindungan kearifan lingkungan hidup dalam konservasi SDA dan PLH
Pengkajian dan evaluasi ekonomi lingkungan di Kab/Kota
Pelatihan dengan pedoman yang ditetapkan pemerintah
Penilaian kegiatan AMDAL bagi kegiatan-kegiatan wajib AMDAL di luar
kewenangan pusat dan provinsi yang lokasinya di Kab/Kota
Peningkatan kelembagaan untuk program perlindungan lapisan ozon dan
penghapusan Bahan Perusak Ozon (BPO)
Sosialisasi tentang program perlindungan lapisan ozon dan penghapusan
Bahan Perusak Ozon
Sosialisasi antisipasi dampak perubahan iklim
Sosialisasi tentang antisipasi dampak hujam asam di Kabupaten/Kota
Penegakan hukum terhadap pelanggaran Baku Mutu Emisi Sumber
Bergerak dan Sumber Tidak Bergerak spesifik (semen, PLTU, Baja, Kertas)
Pengukuran mutu udara ambient (permukiman, perkotaan dan industri)
Pengendalian limbah cair domestik di Kabupaten/Kota
Penegakan hukum Pelanggaran Baku Mutu Limbah cair (BMLC)
Peningkatan kebersihan kota
Perizinan lahan aplikasi di Kabupaten/Kota
Potensi SDA laut kurang dari 4 Mil dan pesisir ke dalam
valuasi ekonomi
Kondisi dan potensi serta kerusakan keanekaragaman hayati
daerah
Spesies langka yang dilindungi
Perdagangan spesies langka/dilindungi
Akses sumber daya genetika
Pengendalian kerusakan dan pencemaran tanah daerah
Kabupaten/Kota pengendalian kerusakan tata air daerah
Kabupaten/Kota
Penataan baku mutu air limbah dari kegiatan (industri, hotel,
Rumah Sakit, dll)
dan evaluasi terhadap industri-industri yang memakai bahan
perusak ozon
Dengan pengukuran emisi kenderaan bermotor di jalan raya
Pengelolaan sampah domestik
Pengendalian kerusakan hutan daerah Kabupaten/Kota
Peraturan dan standard internasional yang akan diberlakukan
Pelaksanaan inventarisasi data dan pemantauan serta penelitian
kemungkinan dampak yang akan terjadi di Kabupaten/Kota
Dan inventarisasi terhadap industri yang memakai bahan perusak ozon
Kualitas air hujan (hujan asam) meliputi deposisi asam
Dan inventarisasi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dan tindakan penetapan
program untuk pengurangan emisi GRK (hutan kota)
Pencemaran udara di sekitar sumber tidak bergerak spesifik (semen, PLTU,
Baja, Kertas)
Emisi sumber tidak bergerak
Emisi sumber bergerak (emisi gas buang kenderaan bermotor)
Kualitas udara aimbient dari asap kebakaran hutan dan lahan
Tingkat kebisingan lingkungan
Tingkat getaran di Kabupaten/Kota
Kualitas air meliputi air limbah dan air permukaan < 4 Mil
Kualitas air tanah di Kabupaten/Kota
Operasional perdagangan satwa langka dilindungi
Terhadap penghasilan limbah B3 di Kabupaten/Kota
Dan pengawasan sistem tanggapan darurat serta penanggulangan bencana
di Kabupaten/Kota
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
Pengertian konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya mengandung tiga
aspek, yaitu:




Sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumber daya
alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa) yang bersama dengan
unsur non hayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem.
Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang
pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan
persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan
nilainya.
Ekosistem sumber daya alam hayati adalah sistem hubungan timbal balik antara unsur
dalam alam baik hayati maupun non hayati yang saling tergantung dan pengaruh-
mempengaruhinya.
Pasal 2 UU No.5 Tahun 1990 menetapkan bahwa konservasi sumber daya alam hayati dan
ekosistemnya berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam
hayati dan ekosistemnya secara serasi dan seimbang.
Tujuan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, menurut Pasal 3, adalah
mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan
ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan
masyarakat dan mutu kehidupan manusia.
a. perlindungan sistem penyangga kehidupan;
b. pengawetan dan pemeliharaan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa serta
ekosistemnya pada matra darat, air dan udara;
c. pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
E Penegakan hukum bukan hanya melalui proses di
pengadilan saja dan perlu diperhatikan juga bahwa
penegakan hukum dilaksanakan melalui berbagai jalur
dengan berbagai sanksinya, seperti sanksi administrasi,
sanksi perdata dan sanksi pidana.
E Penegakan hukum bukan hanya semata-mata tanggung-
jawab aparat penegak hukum, tetapi merupakan kewajiban
dari seluruh masyarakat dan untuk ini pemahaman tentang
hak dan kewajiban menjadi syarat mutlak. Masyarakat
bukan penonton hukum ditegakkan, akan tetapi
masyarakat aktif berperan dalam penegakan hukum.
Masyarakat yang tidak membuang sampah di sungai ikut
menegakkan hukum, karena membuang sampai di sungai
adalah pelanggaran.
E Penyidikan serta pelaksanaan sanksi administrasi dan
sanksi pidana merupakan bagian akhir (sluitstuk) dari
penegakan hukum. Yang perlu ada terlebih dahulu adalah
penegakan preventif, yaitu pengawasan atas pelaksanaan
peraturan. Pengawasan preventif ini ditujukan kepada
pemberian penerangan dan saran serta upaya meyakinkan
seseorang dengan bijaksana agar beralih dari suasana
pelanggaran ke tahap pemenuhan ketentuan peraturan
(Milieurecht, 1990: 389-399).

Pelaksanaan program penghijauan tidak bisa dilakukan dengan
semangat kerja rutin, tetapi harus disertai semangat urgensi (sence of
urgency) yang tinggi dan kesadaran para pemimpin pelaksnaan program
akan luas akibat dari kegagalan program ini
Konservasi hutan ialah menjaga, memelihara dan memperbaiki kuantitas
maupun kualitasnya sehingga hutan berfungsi melindungi tata air,
biasanya penebangan yang berlebihan diakibatkan nafsu serakah
manusia yang tidak mengindahkan kepentingan pemilik maupun publik
Konsumsi yang berlebihan akan merusak sumber air dan akan
menghancurkan pertumbuhan ekonomi yang berimbang. Air dibutuhkan
mulai dari sektor pertanian, perikanan, peternakan, konsumsi industri dan
proses industri, konsumsi rumah tangga dan kebersihan rumah.
Konsumsi berlebihan di satu sektor akan merusak sektor lain, terlebih
kalau terjadi pemborosan dan pencemaran
Upaya Penegakan Hukum Dalam Rangka
Penyelamatan Hutan Sebagai Penyangga Debit Air
Bencana alam biasanya terjadi (disebabkan)
oleh kelalaian manusia mengikuti kaidah-
kaidah sains dan keberanian manusia dalam
melawan etika atau nilai moral yang dianutnya
atau ketidakmampuan manusia berpraksis
dalam kehidupan sehari-hari.

Etika dan moral adalah relatif dan bergantung
kepada masyarakat yang melingkupinya atau
perumusan suatu praksis juga sangat
dipengaruhi oleh sistem hukum dan budaya
masyarakat yang menjalankannya.

Akan tetapi tidak dapat disangkal bahwa
hukum alam yang seharusnya dijabarkan
secara rinci dalam sains.
Penegakan hukum adalah kewajiban dari seluruh
masyarakat dan untuk ini pemahaman tentang hak
dan kewajiban menjadi syarat mutlak. Masyarakat
bukan penonton bagaimana hukum ditegakkan, akan
tetapi masyarakat aktif berperan dalam penegakan
hukum.

Penegakan hukum lingkungan dapat didefinisikan
sebagai suatu tindakan dan/atau proses paksaan
untuk mentaati hukum yang didasarkan kepada
ketentuan peraturan perundang-undangan dan/atau
persyaratan-persyaratan lingkungan.

Tujuan penegakan hukum (law enforcement) adalah
complience (penataan) terhadap persyaratan-
persyaratan perlindungan lingkungan yang biasa
dituangkan dalam izin (licence), baku mutu
lingkungan, dan peraturan perundang-undangan
lainnya.
Pasal
dlm
UUPLH

Subyek Kewenangan

Mekanisme/ Substansi

Hal baru dlm UUPLH
Administratif 18, 19,
20, 22,
23, 24,
25, 27,
29
- Penerbit izin usaha (Menteri
sektoral)
- Menteri Lingkungan
- Kepala Daerah
- Pencabuatan persyaratan lingkungan ke
dalam izin usaha
- Kewajiban melibatkan masyarakat dalam
menerbitkan izin usaha
- Kewajiban izin bagi setiap
pembuangan limbah (dumping) ke media
lingkungan
- Pengawasan penataan ketentuan lingkungan
- Tindakan paksaan pemerintah
- Perintah melaksanakan audit (audit mandatory)
Kewenangan Menteri
lingkungan menerbitkan
izin, pengawasan dan
perintah melaksanakan
audit
Perdata 30, 32,
32, 33,
34, 35,
36, 37,
38, 39
- Masyarakat yang dirugikan
- LSM/Organisasi lingkungan
yg dilandasi pada kepedulian
- Instansi pemerintah yang
bertanggung jawab dan
bertindak untuk epentingan
masyarakat
- Di luar pengadilan
(Negosiasi, Mediasi & Arbitrase)
- Melalui Pengadilan
PMH Lingkungan
Strict Liability
Hak Gugat LSM
Class Action
Representative Standing
- Dasar Hukum
Penerapan
- ADR yang bersifat
optional
- Rumusan Komprehensif
tentang Stict Liability
- Dasar Hukum penerapan
Class action
- Hak Gugat pem. a/n
masy. yang dirugikan
Pidana 41, 42,
43, 44,
45, 46,
47, 48
- Kepolisian Negara
- PPNS Lingkungan
- Penyidik khusus dlm perairan
Indonesia dan Zee
- Jaksa
- Hakim
- Keberadaan PPNS
- Pengaturan Generic Crimes yang bersifat delik
materiel dan Specific crimes yang bersifat delik
formil
- Pengaturan Corporate Crimes & Corporate
Criminal Liability
- Pendayagunaan Tindakan Tata tertib (Financial
Business & Reparatory sanction)
- PPNS
- Specific Crimes disamping
generic crimes
- Penyempurnaan
perumusan pertanggung
jawaban korporasi
Hutan sebagai salah satu penentu sistem
penyangga kehidupan dan sumber kemakmuran
rakyat, cenderung menurun kondisinya oleh karena
itu keberadaannya harus dipertahankan secara
optimal, dijaga daya dukungnya secara lestari, dan
diurus dengan akhlak mulia, adil, arif, bijaksana,
terbuka, profesional, serta bertanggung-gugat.

Dalam rangka memperoleh manfaat yang optimal
dari hutan dan kawasan hutan bagi kesejahteraan
masyarakat, maka pada prinsipnya semua hutan
dan kawasan hutan dapat dimanfaatkan dengan
tetap memperhatikan sifat, karakteristik, dan
kerentanannya, serta tidak dibenarkan mengubah
fungsi pokoknya yaitu fungsi konservasi, lindung
dan produksi.
Menjamin keberadaan hutan dengan luasan yang cukup dan
sebaran yang proporsional;
Mengoptimalkan aneka fungsi hutan yang meliputi fungsi
produksi untuk mencapai manfaat lingkungan, sosial, budaya
dan ekonomi yang seimbang dan lestari;
Meningkatkan daya dukung daerah alinran sungai;
Meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan
kapasitas dan keberdayaan masyarakat secara partisipatif,
berkeadilan, dan berwawasan lingkungan sehingga mampu
menciptakan ketahanan sosial dan ekonomi serta ketahanan
terhadap akbiat perubahan eksternal; dan
Menjamin distribusi manfaat yang berkeadilan dan
berkelanjutan.
Penyelenggaran kehutanan bertujuan untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
yang berkeadilan dan berkelanjutan dengan:
Aspek pengawasan yang merupakan bagian integral dari
pengelola lingkungan tidak berfungsi dengan baik khususnya
apabila dikaitkan dengan Undang-undang Pengelolaan
Lingkungan Hidup (UU No. 23 Tahun 1997.

Air merupakan sumber daya yang terbatas, diharapkan
masyarakat pengguna air akan melakukan efisiensi dalam
pemanfaatan sumber daya air untuk berbagai keperluan.
Pengelolaan sumber daya air yang terintegrasi harus mencakup
apsek-aspek ketersediaan (kuantitas).

Tujuan pembangunan lingkungan hidup itu sendiri adalah
meningkatkan kualitas pemanfaatan sumber daya alam secara
berkelanjutan, memperbaiki kerusakan/pencemaran lingkungan
dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Untuk itu telah
disusun strategi pengolahan sumber daya air yang berprinsip atas
dasar keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatannya.
Dalam pemanfaatan tersebut perlu dipertimbangkan fungsi lokasi
atau distribusi dalam dimensi ruang dan waktu serta pengaturan
fungsi sosial dari segi otoritas dan penggunaannya agar daya
dukung sumber daya air di setiap lokasi tidak dilampaui baik dari
segi kuantitas maupun kualitas.
Penyidikan PPNS
Pemeriksaan atas laporan atau keterangan
Pemeriksaan terhadap orang atau Badan Hukum
yang diduga melakukan Tindak Pidana di bidang
Lingkungan Hidup
Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang
atau Badan Hukum
Melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan,
dokumen lain
Melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang
diduga terdapat bahan bukti, pembukuan, catatan,
dan bahan dan barang hasil pelanggaran yang
dapat dijadikan bukti
Penyidikan PPNS (Bidang Kehutanan)
Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau
keterangan
Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga
Memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada di
kawasan hutan atau wilayah hukumnya
Melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti TP
Meminta keterangan dan barang bukti dari orang atau Badan
Hukum sehubungan TP
Menangkap dan menahan dalam koordinasi dan
pengawasan penyidik POLRI
Membuat dan menandatangani Berita Acara
Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti
tentang adanya TP
HUTAN
KAWASAN HUTAN
HASIL HUTAN
Tindak Pidana di bidang Kehutanan Pasal 78 UU No. 41/1999
Pasal 50 ayat (1) dan (2) 78 ayat (1)
Merusak prasarana dan sarana perlindungan hutan.
Melakukan kegiatan yang menimbulkan kerusakan hutan (10 tahun dan denda
Rp. 5 M)

Pasal 50 ayat (3) huruf a, b, atau c 78 ayat (2)
Mengerjakan dan atau menduduki kawasan hutan secara tidak sah.
Merambah kawasan hutan.
Melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan dengan radius atau jarak
s/d:
- 500 m dari tepi waduk atau danau
- 200 m dari tepi mata air dan kiri kanan sungai di daerah rawa
- 100 m dari kiri kanan tepi sungai
- 50 m dari kiri kanan tepi anak sungai
- 2 kali kedalaman jurang dari tepi jurang
- 130 kali selisih pasang tertinggi dan pasang terendah dari tepi pantai
(sengaja 10 tahun dan denda Rp. 5 M)

Pasal 50 ayat (3) d 78 ayat (3) dan (4)
Membakar hutan
(sengaja 15 tahun dan denda Rp. 5 M)
(kelalaian 5 tahun dan denda Rp. 1,5 M)
Pasal 50 ayat (3) huruf e, f Pasal 78 ayat (5)
Menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan di dalam hutan tanpa memiliki hak
atau izin dari pejabat yang berwenang
Menerima membeli atau menjual, menerima tukar, menerima titipan, menyimpan atau memiliki
hasil hutan yang diketahui atau patut diduga berasal dari kawasan hutan yang diambil atau
dipungut secara tidak sah
(sengaja 10 tahun dan denda Rp. 5 M)

Pasal 38 ayat (4) atau Pasal 50 ayat (3) huruf g Pasal 78 ayat (6)
Pada kawasan hutan lindung dilarang melakukan pertambangan dengan pola pertambangan
terbuka
Melakukan penyelidikan umum atau eksplorasi atau eksploitasi bahan tambang di dalam
kawasan hutan tanpa izin Menteri
(sengaja 10 tahun dan dendan Rp. 5 M)

Pasal 50 ayat (3) huruf h Pasal 78 ayat (7)
Mengangkut, menguasai, atau memiliki hasil hutan yang tidak dilengkapi bersama-sama dengan
surat keterangan sahnya hasil hutan
(sengaja 5 tahun dan denda Rp. 10 M)

Pasal 50 ayat (3) huruf i Pasal 78 ayat (8)
Mengembalakan ternak di dalam kawasan hutan yang tidak ditunjuk secara khusus untuk
maksud tersebut oleh pejabat yang berwenang
(sengaja 3 bulan dan denda Rp. 10 juta)

Pasal 50 ayat (3) huruf j Pasal 78 ayat (9)
Membawa alat-alat berat/lainnya yang lazim atau patut digunakan
untuk mengangkut hasil hutan di dalam kawasan hutan tanpa izin
(sengaja 5 tahun dan denda Rp. 5 M)

Pasal 50 ayat (3) huruf k Pasal 78 ayat (10)
Membawa alat-alat yang lazim digunakan untuk menebang,
memotong atau membela pohon di kawasan hutan tapa izin
(sengaja 3 tahun dan denda Rp. 1 M)

Pasal 50 ayat (3) huruf l Pasal 78 ayat (11)
Membuang benda-benda yang dapat menyebabkan kebakaran dan
kerusakan serta membahayakan keberadaan atau kelangsungan
fungsi hutan ke dalam kawasan hutan
(sengaja 3 tahun dan denda Rp. 1 M)

Pasal 50 ayat (3) huruf m Pasal 78 ayat (12)
Mengeluarkan, membawa dan mengangkut tumbuh-tumbuhan dan
satwa liar yang tidak dilindungi undang-undang yang berasal dari
kawasan hutan, tanpa izin
(sengaja 1 tahun dan denda Rp. 50 juta)
Pasal 78 ayat (13)
KEJAHATAN tindak pidana dalam ayat (1) s/d (7), (9) s/d (11)
PELANGGARAN tindak pidana dalam ayat (8) dan (12)

Pasal 78 ayat (14)
Badan Hukum melanggar Pasal 50 ayat (1) (3)
HUKUMAN ditambah 1/3
dikenakan kepada:
pengurusnya baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama

Pasal 78 ayat (15)
Semua hasil kejahatan dan pelanggaran alat-alat termasuk alat
angkutnya dirampas untuk negara
Pasal 51 Kepolisian Khusus
(terselenggaranya perlindungan hutan)

Mengadakan patroli atau perondaan di dalam kawasan
hutan atau wilayah hukumnya
Memeriksa surat-surat atau dokumen yang berkaitan
dengan pengangkutan hasil hutan di dalam kawasan hutan
atau wilayah hukumnya
Menerima laporan tentang terjadinya tindak pidana yang
menyangkut hutan, kawasan hutan dan hasil hutan
Mencari keterangan dan barang bukti terjadinya tindak
pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan dan hasil
hutan
Dalam hal tertangkap tangan wajib menangkap tersangka
untuk diserahkan kepada yang berwenang
Membuat laporan dan menandatangani laporan tentang
terjadinya tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan
hutan dan hasil hutan
(Pasal 1 angka 19 UUPLH)
SUBJEK SENGKETA

Pencemaran dan/atau perusak
lingkungan
vs
Korban pencemaran dan/atau
perusakan lingkungan
Perselisihan antar dua pihak atau lebih yang ditimbulkan oleh
adanya atau diduga adanya pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan hidup
SENGKETA LINGKUNGAN
OBJEK LINGKUNGAN

Pencemaran dan/atau
perusakan lingkungan (aktual)

Pencemaran dan/atau
perusakan lingkungan
(potensial)
Penyelesaian Sengketa Lingkungan
Penyelesaian sengketa lingkungan tercantum dalam Pasal 20 ayat (2) UULH, yang
menyatakan bahwa tata cara pengaduan oleh penderita, tata cara penelitian oleh tim
tentang bentuk, jenis, dan besarnya kerugian serta tata cara penutupan ganti kerugian
diatur dengan peraturan perundang-undangan.
Bentuk dan jenis kerugian akibat perusahaan dan pencemaran akan menentukan besarnya
kerugian. Penelitian tentang bentuk, jenis dan besarnya kerugian dilakukan oleh tim yang
dibentuk oleh pemerintah. Penelitian meliputi bidang ekologi, medis, sosial, budaya dan
lain-lain yang diperlukan. Tim yang terdiri dari penderita atau kuasanya, pihak pencemar
atau kuasanya, dan unsur pemerintah dibentuk untuk tiap-tiap kasus. Jika diperlukan dapat
diangkat tenaga ahli untuk menjadi anggota tim. Bilamana tidak tercapai kata sepakat
dalam batas waktu tertentu, maka penyelesaiannya dilakukan melalui pengadilan negeri.
Pasal 30 UUPLH menyatakan:
1) Penyelesaian sengketa lingkungan hidup dapat ditempuh melalui pengadilan atau
di luar pengadilan berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak yang
bersengketa.
2) Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tidak berlaku terhadap tindak pidana lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam
undang-undang ini.
3) Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar
pengadilan, gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya
tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu atau para pihak yang
bersangkutan.
Penyelesaian Sengketa Lingkungan
Hidup
di Luar Pengadilan
Diselenggarakan untuk mencapai kesepakatan
mengenai:
1. Bentuk dan Besarnya Ganti Kerugian; dan/atau
2. Mengenai Tindakan Tertentu Guna Menjamin Tidak Akan
Terjadi/Terulangnya Dampak Negatif Terhadap
Lingkungan Hidup
PEMERINTAH DAN/ATAU MASYARAKAT PADAT MEMBENTUK
LEMBAGA PENYEDIA JASA PELAYANAN PENYELESAIAN
SENGKETA LINGKUNGAN HIDUP YANG BERSIFAT
BEBAS DAN TIDAK BERPIHAK
Diatur Dalam PP No. 54 Tahun 2000
dan Peraturan PEL
di Pusat, di Daerah
PIHAK YANG TIDAK MEMPUNYAI KEWENANGAN MENGAMBIL
KEPUTUSAN
1. NEGOSIASI
Penyelesaian Sengketa LH Dilakukan Langsung Antara
Masyarakat Dengan Perusahaan Melalui Wakil Mereka

2. MEDIASI
Penyelesaian Sengketa LH Diselenggarakan Lewat Jasa MEDIATOR

3. KONSILIASI
Penyelesaian Sengketa LH Diselenggarkan Melalui Jasa
KONSILIATOR

4. PENCARI FAKTA
Penyelesaian Sengketa LH Memakai Jasa PENCARI FAKTA
Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup
di Pengadilan (PERDATA)
Perbuatan melanggar hukum (PMH) berupa pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada
orang lain/lingkungan hidup mewajibkan penanggung jawab usaha
Kegiatan untuk:
1. Membayar ganti rugi
2. Tindakan tertentu
3. Pembayaran uang paksa setiap hari keterlambatan penyelesaian
tindakan tertentu
Tindakan Tertentu
Maksudnya:
1. Memasang/Memperbaiki IPL

2. Memulihkan Fungsi Lingkungan Hidup

3. Menghilangkan Penyebab Timbulnya PENCEMARAN
dan/atau PERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP
1. Kegiatan Usaha Yang Menimbulkan
Dampak Besar dan Penting

2. Menggunakan B3

3. Menghasilkan Limbah B3
TANGGUNG JAWAB
MUTLAK
(STRICT LIABILITY
Unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh
pihak penggugat sebagai dasar pembayaran
GANTI RUGI (Lex Special Gugat PMH)
Tergugat Bebas Dari Kewajiban Membayar
Ganti Rugi apabila dapat MEMBUKTIKAN
bahwa Pencemaran dan/atau Perusakan Lingkungan Hidup
disebabkan:

1. Adanya Bencana Alam/Peperangan
2. Keadaan Terpaksa
3. Adanya tindakan Pihak Ketiga
HAK MASYARKAAT
MENGAJUKAN GUGATAN
(CLASS ACTION)
Hak Kelompok Kecil Masyarakat
Untuk Bertindak Mewakili Masyarakat,
Tuntutan ke Pengadilan
1. Masyarakat Dalam Jumlah Banyak

2. Kesamaan Permasalahan

3. Kesamaan Fakta Hukum

4. Kesamaan Tuntutan
Instansi Pemerintah Yang Bertanggung Jawab
di Bidang LH Bertindak Untuk Kepentingan
Masyarakat.

Masyarakat Menderita Akibat
Pencemaran/Perusakan LH
Mempengaruhi Perikehidupan Pola
Masyarkat
Hak ORG. LH
Mengajukan Gugatan
(Legal Standing)
1. Untuk Pelestarian Fungsi LH
2. Melakukan Tindakan Tertentu
3. Tanpa Adanya Tuntutan GANTI RUGI
4. Biaya/Pengeluaran Riil
Persyaratan:
Berbadan Hukum
AD/ART Melestarikan Fungsi Lingkungan Hidup
Telah Melaksanakan Kegiatan Sesuai AD/ART
KETENTUAN PIDANA
a) Delik Materil (Pasal 41 UUPLH)
b) Delik Delik Formil (Pasal 43 UUPLH)
c) Tanggung Jawab Korporasi (Pasal 45 dan 46 UUPLH)
d) Tindakan Tata Tertib (Pasal 47 UUPLH)
e) Tindak Pidana Kejahatan (Pasal 48 UUPLH)
f) Asas Subsidiaritas (Penjelasan Umum UUPLH)
Pasal 16 UULH berbunyi: Setiap rencana yang
diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap
lingkungan wajib dilengkapi dengan analisis
mengani dampak lingkungan yang pelaksanaannya
diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu
usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada
lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan
usaha dan/atau kegiatan

(Pasal 1 (21) UUPLH
Pasal 1 (1) PP 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Amdal
Pada dasarnya semua usaha dan kegiatan pembangunan
menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.
Perencanaan awal suatu usaha atau kegiatan pembangunan
sudah harus memuat perkiraan dampaknya yang penting
terhadap lingkungan hidup guna dijadikan pertimbangan
apakah untuk rencana tersebut perlu dibuat analisis
mengenai dampak lingkungan.
Analisis mengenai dampak lingkungan sungguh merupakan
instrumen pengaman masa depan.
Dalam pengelolaan lingkungan seyogyanya tidak hanya
memperhatikan resiko lingkungan saja, melainkan juga
manfaat lingkungan. Pembangunan bertujuan untuk
memperbesar nilai manfaat/resiko yang dapat dicapai dengan
memperbesar manfaat dan/atau memperkecil resiko
(Soemarwoto, 1981)
Usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan menimbulkan
dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi:
Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam;
Eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tak
terbaharui;
Proses dan kegiatan yang secara potensial menimbulkan pemborosan,
pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, serta kemerosotan
sumber daya alam dalam pemanfaatannya;
Proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan
alam, lingkungan buatan, serta lingkungan sosial dan budaya;
Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi
pelestarian kawasan konservasi sumber daya dan/atau perlindungan
cagar budaya;
Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, jenis hewan dan jenis jasad renik;
Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati;
Penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk
mempengaruhi lingkungan hidup;
Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan atau mempengaruhi
pertahanan negara.
Kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu usaha
dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup antara lain:
Jumlah manusia yang akan terkena dampak;
Luas wilayah persebaran dampak;
lamanya dampak berlangsung;
Intensitas dan lamanya dampak berlangsung;
Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang
terkena dampak;
sifat kumulatif dampak tersebut;
Berbalik (reversible) atau tidak terbaliknya
(irreversible) dampak;
Ketentuan-ketentuan tentang AMDAL
UUPLH
PP AMDAL
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup
Kemana berkonsultasi jika akan melaksanakan Studi
AMDAL?
Konsultasi dapat dilakuan di tiga Komisi Penilai
AMDAL:
Komisi Penilai AMDAL PUSAT, atau
Komisi Penilai AMDAL Provinsi, atau
Komisi Penilai AMDAL Kabupaten/Kota
Tergantung dari jenis rencana kegiatan
yang akan distudi Amdalnya
Komisi Penilai AMDAL:
Unsur pemerintah
Wakil masyarakat yang terkena dampak
Perguruan Tinggi
Pakar
Organisasi Lingkungan
Pembangunan Gudang Munisi Pusat dan Daerah
Pembangunan Pangkalan TNI AL
Pembangunan pangkalan TNI AU
Pembangunan Pusat Latihan Tempur
Pembangunan Lapangan Tembak TNI dan Polri
Pembangunan Pelabuhan Samudera dengan salah satu fasilitas:
- Dermaga dengan konstruksi masif
- Penahanan gelombang
- Prasarana Pendukung Pelabuhan (terminal peti kemas, dll)
Pembangunan Bandara Internasional Baru
Pengembangan Bandara Internasional
Perluasan Bandara Internasional dengan:
- Pemindahan penduduk atau pembebasan tanah
- Reklamasi pantai
- Pemotongan bukit dan pengurukan lahan
Pemasangan kabel bawah laut
Teknologi Satelit (pembangunan fasilitas peluncuran satelit)
Industri Pesawat Terbang
Industri Senjata, Munisi, dan Bahan Peledak
Eksploitasi produksi bahan galian radio aktif termasuk pengolahan, penambangan dan pemurnian
a. Rencana Kegiatan
Melakukan Submarine Tailing Disposal
Eksploitasi Migas dan pengembangan produksi di darat dan di laut
Transmisi Migas (tidak termasuk pemipaan di dalam lapangan)
Pembangunan kilang LPG
Pembangunan kilang LNG
Pembangunan kilang minyak
Pembangunan kilang minyak pelumas bekas (termasuk fasilitas penunjang)
Pembangunan dan pengoperasian Reaktor Nuklir untuk penelitian dan/atau daya
(PLTN)
Pembangunan dan pengoperasian instalasi Nuklir Non Reaktor:
- Pabrikasi Bahan Bakar Nuklir
- Pengolahan dan pemunian Uranium
- Pengolahan limbah radio aktif
- Pembangunan Iradiator (kategori II s/d IV)
- Produksi Radio Isotop
- Produksi Kaos Lampu
Pengumpulan, pemanfaatan, pengolahan dan/atau penimbunan B3 sebagai kegiatan
utama
Introduksi jenis-jenis tanaman, hewan, dan jasad renik produk bioteknologi hasil
rekayasa genetika
Budidaya produk bioteknologi hasil rekayasa genetika
b. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan meliputi lebih dari satu
wilayah Provinsi
c. Kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain
d. Di wilayah laut di atas 12 Mil, dan di lintas batas NKRI dengan negara
lain
Budidaya tanaman pangan dan holtikultura tahunan dengan atau tanpa
unit pengolahannya
Budidaya tanaman perkebunan tahunan dengan atau tanpa unit
pengolahannya
Usaha pemanfaatan hasil hutan kayu
Usaha hutan tanaman
Pembangunan bandara baru beserta fasilitasnya di luar kategori
Bandara Udara Internasional
Pengembangan bandara beserta fasilitasnya di luar kategori Bandara
Internasional
Perluasan bandara di luar kategori Bandara Internasional beserta
fasilitasnya
- Pemindahan penduduk atau pembebasan lahan
- Reklamasi pantai
- Pemotongan bukit dan pengurukan lahan
Pembangunan pelabuhan di luar kategori Pelabuhan Samudera dengan
salah satu fasilitas:
- Dermaga dengan konstruksi masif
- Penahan gelombang
- Prasarana pendukung pelabuhan (terminal peti kemas, dll)
Industri semen (yang dibuat melalui produksi klinker)
a. Rencana Kegiatan
Industri pulp atau industri kertas yang terintegrasi dengan industri
pulp (tidak termasuk pulp dari kertas bekas dan dari industri kertas
budaya)
Industri petrokimia hulu
Industri bahan kimia organik dan anorganik yang memproduksi
material yang digolongkan bahan berbahaya dan beracun (B3)
Pembangunan bendungan/waduk atau jenis tampungan air
lainnya
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Gas Uap
Eksploitasi dan pengembangan uap panas bumi dan atau
pembangunan panas bumi
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air
Pembangunan Pusat Listrik dari jenis lainnya: (surya, angin,
biomassa dan gambut)
b. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan meliputi lebih dari satu
wilayah Kabupaten/Kota
c. Di wilayah laut di antara 4 (empat) sampai 12 (dua belas) Mil
Budidaya tanaman pangan dan holtikultura semusim dengan atau tanpa unit
pengolahannya
Budidaya tanaman perkebunan semusim dengan atau tanpa unit
pengolahannya
Budidaya tambak udang/ikan dengan atau tanpa unit pengolahannya
Usaha budidaya perikanan terapung (jaring apung dan pen system) di air
tawar (danau) atau di air laut
Rencana pembangunan prasarana perikanan yang berbentuk pelabuhan
perikanan yang terletak di luar daerah lingkungan kerja pelabuhan umum
Pembangunan rumah sakit
Pembangunan jaringan jalan kereta api
Pembangunan stasium kereta api
Konstruksi bangunan jaringan rel di bawah permukaan tanah
Pengerukan alur pelayaran sungai
Pengerukan capital dredging atau maintenance dredging
Reklamasi (Pengurungan)
Penempatan hasil keruk (dumping) di darat atau di laut
Industri pembuatan besi dasar atau baja dasar (iron and steel making)
meliputi usaha pembuatan besi dan baja dalam bentuk dasar seperti pellet
bijih besi, besi spons, besi kasar/Big iron, paduan besi/alloy, ingot baja, pellet
baja, baja bloom dan baja slab
Industri pembuatan timah hitam (Pb) Dasar (termasuk industri daur ulang)
Industri pembuatan tembaga (Cu) dasar/katoda tembaga (bahan baku
merkuri/Hg)
Industri pembuatan aluminium dasar (bahan baku dari alumina)
Kawasan industri (termasuk komplek industri yang terintegrasi)
Industri galangan kapal dengan sytem graving dock
Industri baterai kering (yang menggunakan bahan baku merkuri/Hg)
Industri baterai basah (akumulator listrik)
Kegiatan industri lain yang menggunakan luas areal di ata batas tertentu
Pembangunan baru daerah irigasi, peningkatan luas daerah irigasi atau
pencetakan sawah
Reklamasi rawa unstruck kepentingan irigasi
Pembangunan pengaman pantai dan perbaikan muara sungai
Normalisasi sungai dan pembuatan kanal banjir
Pembangunan jalan tol, pembangunan jalan layang dan subway
Pembangunan dan atau peningkatan jalan dengan pelebaran di luar daerah
milik jalan
Pembuangan sampah dengan system control landfill/sanitary landfill (di luar
B3), Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) di daerah pasang surut,
pembuangan transfer station dan TPA dengan system open dumping
Pembangunan perumahan/permukiman
Pembangunan instalasi pengolahan lumpur tinja (IPTL) termasuk fasilitas
penunjang, pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) limbah
domestik termasuk fasilitas penunjangnya, pembangunan sistem perpipaan
air imbah
Pembangunan saluran drainase permukiman
Pembangunan jaringan distribusi dan transmisi air bersih
di kota besar/metropolitan
Pengambilan air dari danau (sungai, mata air permukaan,
atau sumber air permukaan lainnya)
Pembangunan pusat perkantoran, pendidikan, olah raga,
kesenian, tempat ibadah, perdagangan dan perbelanjaan
relatif terkonsentrasi
Pembangunan kawasan permukiman unstruck pemindahan
penduduk/transmigrasi
Pengambilan air bawah tanah (sumur tanah dangkal, sumur
tanah dalam, dan mata air)
Kegiatan pertambangan umum dengan luas perizinan atau
daerah terbuka di atas batas tertentu
Tahap eksploitasi produksi batu bara/gambut, biji primer,
biji sekunder/endapan aluvial, bahan galian bukan logam
atau bahan galian golongan c, dan bahan galian timbal
termasuk pengolahan, penambangan dan pemurnian
Tambang di laut
Melakukan proses pengolahan biji dengan proses sianidasi
Pembangunan jaringan transmisi listrik
Taman rekreasi
Kawasan pariwisata
Hotel
Lapangan golf (tidak termasuk driving range)
Pengawasan aktif dilakukan terhadap kepatuhan
kepada peraturan tanpa kejadian langsung yang
menyangkut peristiwa konkrit yang menimbulkan
sangkaan bahwa peraturan hukum dilanggar.

Instrumen penting bagi penegakan hukum preventif:
penyuluhan, pemantauan dan penggunaan
kewenangan yang bersifat pengawasan
(pengambilan sampel, penghentian mesin-mesin,
dsb)

Penegakan hukum yang utama:
pejabat atau aparat pemerintah yang berwenang
memberikan izin dan mencegah terjadinya
pencemaran dan/atau perusakan lingkungan.
Penegakan hukum secara preventif:
Mempunyai fungsi instrumental yaitu:
pengendalian perbuatan terlarang dan sanksinya
ditujukan kepada perlindungan kepentingan yang dijaga
oleh ketentuan yang dilanggar tersebut.

Dengan demikian ada beberapa aspek yang terkait,
yaitu:
- Pengawasan;
- Sanksi administrasi; dan
- Gugatan administrasi.
Sarana Penegakan Hukum
Lingkungan Administratif
Pengawasan
Merupakan sarana penegakan hukum
lingkungan yang bersifat preventif,
yakni guna memastikan bahwa
peraturan perundang-undangan
lingkungan ditaati.
Pasal 22 sampai dengan Pasal 24 UUPLH
Pasal 24 UUPLH
Kewenangan pengawasan meliputi:
Melakukan pemantauan
Meminta keterangan
Membuat salinan dari dokumen dan/atau membuat catatan yang
diperlukan
Memasuki tempat tertentu
Mengambil contoh
Memeriksa peralatan dan/atau alat transportasi
Meminta keterangan dari pihak yang bertanggung jawab atas usaha
dan/atau kegiatan
Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan:
WAJIB memenuhi permintaan petugas pengawasa
Petugas pengawas:
WAJIB memperlihatkan surat tugas dan/atau tanda
pengenal
memperhatikan sikon tempat pengawasan
(nilai dan norma yang berlaku tertulis
maupun tidak tertulis)
Gubernur/Kepala Daerah
Berewenang melakukan paksaan pemerintah terhadap
penanggung jawab usaha dan atau kegiatan, untuk:
- mencegah dan mengahiri pelanggaran
- menanggulangi akibat yang ditimbulkan
- melakukan tindakan penyelamatan
- penanggulangan dan/atau pemulihan
Atas beban biaya penanggung jawab
dan/atau kegiatan
Dapat diganti dengan
Pembayaran sejumlah
Uang tertentu
Dapat dilimpahkan kepada Bupati/Walikota
Pihak ketiga yang berkepentingan dapat mengajukan permohonan
untuk dilakukannya paksaan pemerintah.
Paksaan pemerintah didahului dengan Surat Perintah dari pejabat
yang berwenang
Jenis sarana (instrumen penegakan hukum lingkungan
administratif)
Paksaan pemerintah atau tindakan paksa (bestuursdwang);

Uang paksa (publiekrechtelijke dwangsom);

Penutupan tempat usaha (sluiting van een inrichting);

Penghentian kegiatan mesin perusahan (buitengebruikstelling van
een toestel);

Pencabutan izin (intrekking van een vergunning) melalui proses
teguran, paksaan pemerintah, penutupan dan uang paksa.
Tindakan-tindakan nyata dari penguasa guna mengakhiri suatu
keadaan yang dilarang oleh suatu kaidah hukum administrasi atau
(bila masih) melakukan apa yang seharusnya ditinggalkan oleh para
warga karena bertentangan dengan undang-undang.

Merupakan suatu tindakan penguasa dengan cara yang amat
langsung.

Pelaksanaan bestuursdwang suatu wewenang bukan kewajiban.

Sebelum menjalankan bestuursdwang badan pemerintah wajib
mempertinmbangkan semua kepentingan yang terkait.

Peringatan tertulis harus mendahului pelaksanaan nyata
bestuursdwang kecuali dalam keadaan-keadaan mendesak.
Paksaan pemerintah (bestuursdwang)
Peringatan tidak dapat diadakan secara tanpa ikatan.

Perintah atau peringatan tertulis harus memuat perintah yang
jelas.

Surat perintah harus memuat ketentuan-ketentuan peraturan
perundang-undangan yang dilanggar.

Harus ditentukan jangka waktu perintah harus dilaksanakan.

Perintah harus ditujukan kepada yang berkepentingan yang
menurut kenyataan memang juga mampu mengakhiri pelanggaran
tersebut.
Eksplisit atau implisit harus nyata bahwa biaya-biaya dalam hal
tata usaha harus bertindak, akan dibebankan kepada pelanggar.
Persyaratan bagi peringatan atau perintah tertulis:
Pro bestuursdwang:
- Kepentingan umum yang dirugikan oleh keadaan ilegal (mis:
pencemaran)
- Kepentingan pencegahan (pengelakan) pengaruh preseden yang
tidak dikehendaki
- Kepentingan pihak ketiga

Kontra bestuursdwang:
- Kepentingan si pelanggar dengan dipertahankannya keadaan
yang ilegal (mis: akan terjadi pemusnahan modal/mengakibatkan
kebangkrutan)
- Masalah-masalah praktis atau ketidakmungkinan
- Pembiayaan yang tinggi dari bestuursdwang

Kemungkinan legalisasi
Pertimbangan terhadap kepentingan, suatu peran tindakan atau
keadaan yang terlarang dapat dilegalisasi.
Pertimbangan-pertimbangan penjatuhan bestuursdwang:
Pasal 26 UUPLH
Tata cara penetapan biaya serta penagihan ditetapkan dengan
peraturan perundang-undangan
Jika belum dibentuk, pelaksanaannya menggunakan upaya
hukum menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku

Pasal 27 UUPLH
Pelanggaran tertentu dapat dijatuhi sanksi pencabutan izin
Kepala daerah dapat mengajukan usul mencabut izin kegiatan
dan atau usaha kepada pejabat yang berwenang
Pihak yang berkepentingan dapat mengajukan permohonan
kepada pejabat yang berwenang untuk mencabut izin usaha dan
atau kegiatan
Bobot pelanggaran : dari pelanggaran syarat administratif
sampai
pelanggaran yang menimbulkan korban
Pelanggaran tertentu: pelanggaran oleh usaha dan atau kegiatan
yang dianggap berbobot untuk dihentikan
kegiatan usahanya
Audit lingkungan:
Suatu proses evaluasi yang dilakukan penanggungjawab usaha
dan/atau kegiatan untuk menilai tingkat ketaatan terhadap
persyaratan hukum yang berlaku dan/atau kebijaksanaan dan standar
yang ditetapkan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
yang bersangkutan
Pemerintah mendorong penanggungjawab kegiatan dan/atau
untuk melakukan audit lingkungan hidup
Menteri berwenang memerintahkan penanggungjawab kegiatan
dan/atau usaha melakukan audit lingkungan
Menunjukkan ketidakpatuhan
wajib melaksanakan AUDIT
jika tidak melaksanakan Menteri melaksanakan AUDIT atau
menugaskan pihak ketiga
BIAYA DITANGGUNG PENANGGUNGJAWAB
USAHA DAN/ATAU KEGIATAN
JUMLAN BEBAN BIAYA DITETAPKAN OLEH
MENTERI
HASIL AUDIT DIUMUMKAN
POKOK BAHASAN
BENTUK LEMBAGA TUPOKSI
PROGRAM KERJA 100 HARI (K2A)
ALUR PEMIKIRAN
KEBIJAKAN NASIONAL PLH
LH
(SDA)
PEL. KEG.PEMB.
NASIONAL
(EKONOMI)
SEKTOR
DAERAH
SWASTA
GBHN/REPETA
PEM
SWASTA
DPR
MASY.
EKONOMI
EKONOMI/DEVIA/TK
EK/TK/OTDA/SPOL
UDARA
TANAH
AIR
HUTAN
PESISIR LAUT
KEANEKA RAGAMAN
HAYATI
PEM ORLA
DAERAH
SEKTOR
UUPA
KEHUTANAN
PETAMBANGAN
PENGAIRAN
POL. MERCUSUAR
POLITIK LUAR
NEGERI
NASAKOM
KEBEBASAN
BERPOLITIK
KEBEBASAN PERS
PERWAKILAN
MASYARAKAT
SISTEM HUKUM
PENEGAKAN HUKUM
PEM-ORBA
OTORITER
PBBLH
PENCEMARAN
PERUSAKAN
PPLH-LKH (1983-19997
UU 4/82-23/97
UU 24/92
AMDAL
BAKU MUTU
PEM. DOMINAN (OTORITER)
DPR RI TIDAK BERFUNGSI
MASYARAKAT DITEKAN
PEMBANGUNAN-PER. EKONOMI
NASIONAL
LSM-DITEKAN/DIAWASI
PERS-DITEKAN/DIAWASI
KEBEBASANNYA
POLITIK-DIBATASI
BADAN USAHA-MONOPOLI
DIBERIKAN KELONGGARAN HUKUM
SISTEM HUKUM
PENEGAKAN HUKUM
SISTEM HUKUM
PENEGAKAN HUKUM
KEPENTINGAN
JANGKA PENDEK
UU 23/97
TATA RUANG
OTDA
AMDAL
BAKU MUTU
KLH 2004
BAPEDALDA BAPEDALDA
PEM.REFORMASI
(DEMOKRATIS)
PEM. SISTEM HUKUM
PENEGAKAN HUKUM
TERINTEGRASI
PEM.DEMOKRATIS
DPR RI DAERAH BERPERAN
LSM-ADA KEBEBASAN
MENGATAKAN PENDAPAT
PERS-BEBAS
MASYARAKAT-DIBERI
KEBEBASAN
POLITIK-DIBERI KEBEBASAN
BADAN USAHA-DIBERI
KELONGGARAN HUKUM
1. BANGUN PRAJA
2. PARLEMENT WATCH
3. ALIANSI
4. KOMUNIKASI
5. MASYARAKAT
MADANI
6. PENATAAN HUKUM
(PROPER)
PEMERINTAH
YANG EFEKTIF
112
PENYEBAB KERUSAKAN/PENCEMARAN
LINGKUNGAN HIDUP
1. TUMPANG TINDIH PERTAMBANGAN DENGAN
HUTAN LINDUNG;
PEMAKAIAN BENSIN BERTMBAL, TEKNOLOGI
TIDAK RAMAH LINGKUNGAN HIDUP
2. REKLAMASI PANTAI DAN SUNGAI
3. AMDAL YANG BERTENTANGAN DENGAN HUKUM
4. PERIZINAN YANG MELAMPAUI DAYA DUKUNG
LINGKUNGAN HIDUP (SIPD IPK)
GOOD ENVIRONMENTAL
GOVERNANCE G.E.G
BADAN USAHA YANG TERKENA KASUS
LINGKUNGAN HIDUP (ADMINSITRASI, PERDATA,
PIDANA)
SUMBER INSTITUSI (PROPER)
EMISI KENDERAAN LIMBAH
DOMESTIK LIMBAH USAHA KECIL
DAMPAK KEGIATNA RAKYAT
SUMBER NON INSTITUSI
KEBIJAKAN YANG TIDAK
BERWAWASAN LINGKUNGAN HIDUP
(BANGUN PRAJA)
TIDAK MENTAATI PERUNDANG-UNDANGAN
DI BIDANG PENGELOLAN LINGKUNGAN HIDUP
AMDAL
BAKU MUTU LIMBAH
BAKU KRITERIA KERUSAKAN
LINGKUNGAN HIDUP
KURANG BERPERAN DALAM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
(MASYARAKAT MADANI)
PERUBAHAN SIKAP, TINDAKAN DAN TINGKAH LAKU, KETIGA PELAKU TERSEBUT
(KOMUNIKASI DAN ALIANSI)
MENGHAMBAT LAJU PENCEMARAN DAN PERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP


MENTERI
GUB, BUPATI,
WALIKOTA
10%




BADAN USAHA
30%




MASYARAKAT
60%
STRUKTUR ORGANISASI
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP
MENTERI
SEKJEN IRJEN
STAF AHLI
DIRJEN
PENATAAN RUANG
DAN KONSERVASI
SDA
DIRJEN
PENGEDALIAN
DAMPAK LH
DIRJEN
PENEGAKAN HUKUM
LINGKUNGAN
DIRJEN
PENINGKATAN
PERAN SERTA
MASYARAKAT
BALITBANG
POKOK-POKOK PIKIRAN KONSTRUKSI
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP
RUANG LINGKUNGAN KLH:
1. Penataan Ruang dan Konservasi Sumber Daya Alam
2. Pengedalian Dampak Lingkungan Hidup
3. Penegakan Hukum Lingkungan
4. Pengembangan peran serta masyarakat di bidang pengelolaan lingkungan
WEWENANG:
1. Merumuskan kebijakan dan koordinasi di bidang pengelolaan lingkungan hidup nasional
2. Menetapkan perencanaan dan pengendalian pemanfaatan ruang, konservasi sumber daya
alam
3. Melaksanakan kebijakan pengendailan dampak lingkungan
4. Melaksanakan kebijakan pengelolaan lingkungan yang bersifat lintas sektor, lintas daerah
provinsi dan lintas negara
5. Mengevaluasi dan merekomendasikan pembatalan terhadap keputusan di bidang penataan
ruang, konservasi sumber daya alam, analisis mengenai dampak lingkungan dan perizinan
lingkungan hidup, yang bertentangan dengan kebijakan pengelolaan lingkungan nasional
6. Melaksanakan pengawasan, penataan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran di
bidang penataan ruang, konservasi sumber daya alam dan pengendalian dampak lingkungan
7. Mengkoordinasikan pelaksanaan pengendalian dampak lingkungan hidup antara sektor dan
di daerah
8. Merumuskan kebijakan dan pengawasan terhadap penerapan teknologi tinggi, kegiatan
yang bersifat strategis, sumber daya alam yang jumlahnya terbatas, lintas batas provinsi
dan lintas batas negara
9. Menumbuhkembangkan peran serta dan kemitraan masyarakat di bidang pengelolaan
lingkungan hidup
10. Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup
PENYELESAIAN KASUS LH (SEKTOR-DAERAH
PENATAAN BADAN USAHA (SUPER) (TO)
Daerah Provinsi/Kab/Kota (10 Daerah)
Badan Usaha (1000)
PENANGGUNG PERKARA LH (TO) (10)
Pusat (KLH)
Daerah
Mensinergikan aspek sosial, eknomi dan lingkungan
dalam rangka mengentaskan kemiskinan
ANTAR
UNIT KERJA
DI LINGKUNGAN
KLH
INTERNAL KONSOLIDASI
SEKTOR DAERAH
KEBIJAKAN (LH)
BADAN USAHA (LH)
MASYARAKAT (LH)
AKSI
KONSILIASI
PROGRAM 100 HARI
(K2A)
DIPANTAU OLEH
LSM, PERG. TINGGI, MASY
1
2
3
4
1
2
3
PERUBAHAN PERADIGMA
PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN
FAKTOR EKSTERNAL
POLISI - PENYIDKAN
JAKSA - TUNTUAN
HAKIM - VONIS

LINGKUNGAN HIDUP
FAKTOR INTRNAL
PERATURAN PUU
KELEMBAGAAN
SDM (PPNS LH)
PENATAAN (PROPER-SUPER)
JARINGAN ALIANSI KOMUNIKASI
TO
PEBIAYAAN
KLH (PUSAT DAERAH)
PRAKTEK
PENGAKAN
HUKUM
NASIONAL
(BURUK)
PROGRAM PH TERINTEGRASI
(SATU ATAP) DENGAN KONSEP
FORMULA 12 DAN DETASERING
PERADILAN KHUSUS LH
PRAKTEK
PENGAKAN
HUKUM
LH
SEJARAH KEPEDULIAN LINGKUNGAN & PEMBANGUNAN
1972-1978 1978-1983 1983-1988 1988-1993 1993-1998 1998-1999 1999-2004
Panitia
Negara
Masalah
Lingkungan di
BAPPENAS
Menteri Negara
Pengawasan
Pembangunan &
Lingkungan Hidup

(PPLH)
Menteri Negara
Kependudukan &
Lingkungan Hidup

(KLH)
Menteri Negara
Kependudukan &
Lingkungan Hidup

(KLH)
Menteri Negara
Lingkungan Hidup

(MNLH)
Menteri Negara
Lingkungan Hidup

(MNLH)
Menteri Negara
Lingkungan Hidup

(MNLH)
Dengan Ketua
Prof.
Emil Salim, selaku
Deputi Ketua
BAPPENAS
Digantikan Dr.
Sumarlin Th 1973
Karena Prof. Emil
Menjadi MenHub
Prof. Emil Salim Prof. Emil Salim Prof. Emil Salim
Ir. Sarwono
Kusumaatmadja
Dr. Panangian
Siregar
Dr. Sonny
Keraf Nabiel Makarim
MPA, MSM.
LINGKUNGAN
DALAM
PERENCANAAN
PEMBANGUNAN
LINGKUNGAN
DALAM
PENGAWASAN
PEMBANGUNAN
- LINGKUNGAN
DIPISAHKAN
DARI PEMB
- LINGKUNGAN
DIPENGARUHI
PERILAKU
PENDUDUK
(MANUSIA)
SAMA
(+ BAPEDAL
TH 1991)
LINGKUNGAN
TERPISAH
DARI
PEMBANGUNAN
&
PENDUDUK

(BAPEDAL)
SAMA

(+ BAPEDAL)





PLH +
DAMPAK
SAMA

(+ BAPEDAL)





PLH +
DAMPAK
KEMENTERIAN
LH

KEBIJAKAN &
OPERASIONAL



PLH +
PELAKU
PEMB.
PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN
ASISTEN DEPUTI IV URUSAN PENEGAKAN HUKUM

Deputi Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Sumber Institusi










Kementerian Lingkungan Hidup

Jakarta 2003
LH. ALAM

Udara
Air
Tanah
Pesisir & Laut
Keanekaragaman
Hayati
LH. BUATAN

Perkotaan
Perdesaan
Kawasan Tertentu
LH.
SOSIAL/BUDAYA

Adat Istiadat
Pranata Sosial
KEBIJAKAN

KEGIATAN
USAHA

PERORANGAN
UU 23/97
PLH
4 PP 41/99
5 PP 54/2000
6 PP 150/2000
7 PP 4/2001
8 PP 74/2001
9 PP 82/2001
3 PP 27/99
2 PP 19/99
1 PP 18/99
PP 85/99
PPA
83
K H & L
PKTUPB
LP JPPSLH
1 Kepemen
1 KepKa
Bapedal
P. P. U
7 KEPMEN LH
2 Kep Ka
BAPEDAL
AMDAL
16 KEPMEN LH
6 Kep. Ka.
BAPEDAL
P.P.L 2 KEPMEN LH
P PLB3
9 Kep Ka
BAPEDAL
PENCEMARAN LH
KERUSAKAN LH
LH
Untuk melakukan pengawasan
MENTERI menetapkan PEJABAT
yang berwenang melaksanakan
PENGAWASAN
Ka. DAERAH
berwenang
menetapkan
PEJABAT
PENGAWASA
Dapat diserahkan
kepada PEMDA
PENGENDALIAN DAMPAK
LINGKUNGAN HIDUP
+Pemantauan
+Meminta Keterangan
+Membuat Catatan
+Membuat Salinan Dokumen
+Memasuki tempat tertentu
+Mengambil Contoh
+Memeriksa Peralatan
+Memeriksa Instalasi
+Memeriksa Alat Transportasi
+Meminta Keterangan
Membawa Tanda Pengenal
Memperlihatkan Surat Tugas
Memperhatikan Situasi dan Kondisi
Tempat Pengawasan
Menteri melakukan
pengawasan terhadap
penaatan penanggung
jawab usaha/kegiatan
atas PUU yang berlaku
ALAT
PENGAWASAN
PEL
PENGAWASAN

PASAL 22
KELEMBAGAAN

PASAL 23
KEWENANGAN

PASAL 24
KEWAJIBAN
P
E
N
G
A
W
A
S
A
N
STANDAR OPERASI PROSEDUR
PENANGANAN KASUS LINGKUNGAN
BENCANA/KECELAKAAN
LINGKUNGAN
TASK FORECE
MEN. LH
PENGADUAN
LANGSUNG
TIDAK LANGSUNG
Deputi IV c.q.
Asdep 5/IV
BID. PENGADUAN
SEKRETARIAT
TIM VERFIKASI
DATA BASE MEDIA CETAK/
ELEKTRONIK
SURAT
PUSINFOMAS
UNIT KERJA TEKNIS
POS PELAYANAN
PENGADUAN
REKOMENDASI TINDAK LANJUT
PENANGANAN KASUS
LINTAS BATAS NEGARA
LINTAS BATAS PROVINSI
LIMBAH B3/B3
12 MB. LAUT
ASDEP. 5/IV KOORDINASI PEMDA PROV/KAB/KOTA
PULBAKET KEWENANGAN
DAERAH
OTONOMI
SUPERVISI
TUTUP KASUS TIDAK
PENCEMARAN/PERUSAKAN
LH
YA
PEMBINAAN DAN
PENGAWASAN
ASDEP 1:2:3:4/IV
PEMBINAAN DAN
PENGAWASAN
ASDEP 1:
2:3:4/IV
PSLH
DI LUAR PENGADILAN
PERDATA PIDANA ADMINISTRASI
UNIT TEKNIS/PEMDA/
SEKTOR
PPNS LH/APARAT
PENEGAK HUKUM
KEJAKSAAN OL
MASYARAKAT
LH/PSLH
SAKSI AHLI
1. BAPEDAL PROVINSI
2. BAPEDAL/Bag. LH
KAB/KOTA
1. KLH 95 Orang
2. Bapedal Prov.
Kab/Kota
195 Orang
1. Kepmen 07 Tahun 2001
2. Kepmen 56 Tahun 2002
3. Kepmen 57 Tahun 2002
4. Kepmen 58 Tahun 2002
PROPER DAN SUPER
Pengembangan
Kelembagaan
Pengawasan Hutan
Lingkungan
Pengembangan SDM
PPLH
Penyusunan Pedoman
Umum Pel. Pengawasan
Bagi PPLH Pusat
dan Daerah
Jaringan Komunikasi
Penetapan Target Operasi
Penataan Pusat dan Daerah
Pertemuan Teknis Daerah
PROGRAM
PENGAWASAN
PENATAAN
HUKUM
ADMINSITRASI
LINGKUNGAN
1
2
3
4
5
6
Pusat dan Daerah
-PMH
-Tanggung Jawab
Mutlak
-Gugatan Perwakilan
-Gugatan Organisasi LH
-Kasus Kebakaran
Batas dan Lahan dan LB3
-Pencemaran Laut
-Pusat
-Provinsi
-Kabupaten/Kota
Konsep
Pengembangan
1. PT. Kayu Lapis Ind.
2. PT. Palur Raya
3. MT. Natuna Sea
4. MT. Bumi Sarana
Target Operasi
Penegakan Hukum
Perdata
Jaringan Komunikasi Dgn Kejagung
Kejati-Kejati dan MA (JAMDATUN, ASDATUN)
(JPN)
Pedoman Umum
Penanganan Kasus
Gugatan Perdata
Tuntutan Pidana
Akan Dibarengi Dgn
Gugatan Perdata
Pembentukan LPJP2LH
di Luar Pengadilan
Pengembangan ORGAN LPJP2LH
-Sekretariat
-Mediator
-Arbiter
Target Kasus Yang Diselsaikan Lewat LPJP2LH
Kasus Yang Sedang
Ditangani
Penyelesaian
Sengketa LH
di Pengadilan
Penyelesaian
Sengketa LH
di Luar
Pengadilan
PENYELESAIAN
SENGKETA LH
1
2
1
2
3
4
1
2
3
4
PENYIDIKAN
KASUS LH
(PENEGAKAN
HUKUM
PIDANA
LINGKUNGAN)
Pengembangan Institusi dan PPNS LH
Pengembangan SDM Penegakan
Hukum di Instansi Terkait
Pembentukan SATGAS PPNS LH
PUSAT - DAERAH
Pengembangan Peodman Umum
- Penyidikan Kasus Kebakaran Batas dan Lahan
- Tindak Pidana MATERIAL LH
- Tindak Pidana Formil LH
- TIndak Pidana Koorparasi LH
- Tindakan Tata Tertib
Pengembangan Jaringan Komunikasi
- POLRI POLDA POLRES (Penyidikan dan Gelar Perkara)
- Kejaksaan Agung Pra Penuntutan (Jampidsus)
Penuntutan
Eksekusi
- Kejaksaan Tinggi (ASPIDUM)
- Kejaksaan Negeri (JPU) Dakwaan Penuntutan - Eksekusi
- Peradilan (Hakim di Pengadilan Negeri Pengadilan Tinggi MA)
- Diperlukan YUDISPRODENSI dari MA
- Diperlukan FATWA MA
- Diperlukan SURAT EDARAN MA

(Jumlah Kebutuhan)
PUSAT DAERAH
- POLISI LH
- JAKSA LH
- HAKIM LH
1
2
3
4
Penetapan Target OPERASI
PUSAT - DAERAH
5
6
KONSEP PENGEMBANGAN
PPLH, PPNS LH, POLISI, JAKSA, DAN HAKIM
DALAM PERADILAN KHUSUS LINGKUNGAN HIDUP
Di setiap Bapedalda
Provinsi 10 PPNS
dan 25 PPLH,
Bapedal Kab/Kota 5
PPNS dan 10 PPLH
PENDIDIKAN DAN
PELATIHAN BAGI
POLISI, JAKSA,
HAKIM KHUSUS
LH PADA DAERAH
KASUS LH
MAJELIS HAKIM
YANG TERDIRI
DARI 3 5 ORANG
DIPERLUKAN
HAKIM ADHOC
DARI PAKAR LH
DIBENTUK
KAMAR-KAMAR
DI DAERAH
RAWAN KASUS LH
DIBENTUK
DI DAERAH
RAWAN KASUS LH
PPLH
DAN
PPNS LH
MANDIRI
DIKLAT POLISI,
JAKSA, HAKIM
KHUSUS LH
PEMBENTUKAN
MAJELIS HAKIM
DALAM
PERSIDANGAN
PERKARA LH
PEMBENTUKAN
KAMAR 2X
PERADILAN
KHUSUS LH
DI P.N/T.U.N
PEMBENTUKAN
PERADILAN
KHUSUS LH
PERUBAHAN
KET. PASAL 40
UU 23 TAHUN
1997 PLH RUU
PSDA
BERDASARKAN
KERJASAMA
PROYEK (PGRI)
KLH, MA,
DEP. KEH/HAM
DAN ICEL
BERDASARKAN
SURAT
EDARAN MA
R.I.
BERDASARKAN
UU
PERUBAHAN
PASAL 24 UUD
1945
PENGEMBANGAN JARKOM
DAN KEW. GAKUM OTONOMI DAERAH
1. POLRI DIT. TIPITER
2. KEJAGUNG JAMPIDUM, JAMDATUM
3. PERADILAN HAKIM, MA
4. SAKSI AHLI
5. LABORATORIUM
6. PAKAR
7. SEKTOR TERKAIT
8. LSM
9. SAKSI KORBAN
1. POLRI DIT. TIPITER
2. KEJAGUNG JAMPIDUM, JAMDATUM
3. PERADILAN HAKIM, MA
4. SAKSI AHLI
5. LABORATORIUM
6. PAKAR
7. DINAS TERKAIT
8. LSM
9. SAKSI KORBAN
1. POLRES POLSEK SERSE
2. KEJAKSAAN NEGERI JAKSA
3. PENGADILAN NEGERI HAKIM
4. SAKSI AHLI PAKAR
5. LABORATORIUM
6. PAKAR
7. DINAS TERKAIT
8. LSM
9. SAKSI KORBAN
PENGEMBANGAN INSTITUSI DAN SDM
PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN
1. Penegakan Hukum Lingkungan
2. POS PEL PEPALORAN
3. KORLAP dan JARKOM
4. SATGAS
5. LPJP2SLH
6. PPLH DAN PPNS LH
7. T.O.
1. Bidang Penegakan Hukum Lingkungan
2. POS PEL PELAPORAN
3. KORLAP dan JARKOM
4. SATGAS
5. LPJP2SLH
6. PPLH dan PPNS LH
7. T.O.
1. Bidang Penegakan Hukum Lingkungan
2. POS PEL. PELAPORAN
3. JARKOM
4. SATGAS
5. LPJP2SLH
6. PPLH dan PPNS LH
7. T.O.
PERADILAN
LINGKUNGAN HIDUP
K
E
M
E
N
T
E
R
I
A
N
LH



BAPEDAL
PROVINSI
BAPEDAL/BAG. LH
KABUPATEN/KOTA