Anda di halaman 1dari 200

MODUL PLPG

TEKNIK PENDINGIN




























KONSORSIUM SERTIFIKASI GURU
2013
ii

KATA PENGANTAR


Puji serta syukur kami panjatkan kepada Illahi Robbi yang telah memberikan
kekuatan dan kelapangan kepada kami, sehingga kami mampu menyusun buku ajar ini.
Buku ajar ini berisi tentang pengetahuan teknik pendingin yang meliputi: dasar-dasar
refrigerasi dan tata udara, komponen utama refrigerasi dan tata udara, refrigeran dan
minyak pelumas, sistem kompresi uap, psychrometric, estimasi beban pendingin, sistem
air conditioning, dan peralatan kerja refrigerasi dan tata udara.
Buku ajar tentang teknik pendingin yang diperlukan di Indonesia masih langka,
apalagi yang ditulis dalam bahasa Indonesia lebih sukar lagi mendapatkannya.
Berdasarkan hal tersebut penulis menyusun buku ajar tentang teknik pendingin guna
menambah perbendaharaan buku tentang teknik pendingin dalam bahasa Indonesia.
Buku ajar ini dipersiapkan dalam waktu yang relatif singkat dan juga karena
keterbatasan pada kemampuan dan pengalaman yang dimiliki penulis, sehingga isi buku
ini masih jauh dari baik dan sempurna. Namun demikian penulis telah berusaha sekuat
tenaga agar dapat menyajikan sesuatu yang kiranya cukup memadai untuk dibaca. Besar
harapan penulis agar buku ini dapat menambah pengetahuan, meningkatkan kecerdasan
dan memperdalam kepandaian kita dalam bidang teknik pendingin.
Kepada semua pihak yang telah memberikan dorongan dan bantuan sehingga
buku ini dapat tersusun dengan rapih, penulis mengucapkan terima kasih sebesar-
besarnya. Segala saran dan kritik demi kesempurnaan buku ini akan penulis terima
dengan senang hati.

Jakarta , 27 April 2013
Penulis,




Ega Taqwali Berman






iii

DAFTAR ISI




Halaman

KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
DAFTAR GAMBAR x
DAFTAR TABEL xiv
DAFTAR LAMPIRAN xv
BAB I DASAR-DASAR REFRIGERASI DAN TATA UDARA 1
A. Kalor 1
B. Zat (Benda) 4
C. Gaya (Force) 5
D. Tekanan 5
1. Tekanan Atmosfir 5
2. Tekanan Manometer (Pengukuran) 6
3. Tekanan Absolut 6
4. Hubungan Suhu dan Tekanan 7
E. Kerja (Work) 7
F. Daya 8
G. Hukum konservasi energi 8
H. Jumlah panas 8
I. Panas jenis 9
J. Humidity (Kelembaban) 9
K. Hubungan temperatur-volume pada tekanan konstan 10
L. Hukum Charles untuk proses tekanan konstan 11
M. Hubungan tekanan-volume pada temperatur konstan 12
N. Hubungan tekanan-temperatur pada volume konstan 13
O. Hukum Charles untuk proses volume konstan 14
P. Hukum Gas Umum 15
iv

Q. Gas ideal atau gas sempurna 16
R. Proses-proses untuk gas ideal 16
1. Proses volume konstan 17
2. Proses tekanan konstan 18
3. Proses temperatur konstan 18
4. Proses adiabatik 18
5. Proses politropik 20
6. Hubungan PVT selama proses adiabatik 21
S. Titik didih 21
T. Temperatur jenuh 22
U. Uap Jenuh 22
V. Uap panas lanjut dan Cairan dingin lanjut 23
W. Pengaruh tekanan pada temperatur jenuh 24
BAB II KOMPONEN UTAMA REFRIGERASI DAN TATA UDARA 27
A. Kompresor 27
1. Jenis kompresor berdasarkan letak motornya 27
a. Kompresor open type 27
b. Kompresor semi hermetic 29
c. Kompresor hermetic 30
2. Jenis kompresor berdasarkan cara kerjanya 30
a. Kompresor Reciprocating (Torak) 30
b. Kompresor rotary centrifugal 31
c. Kompresor helical-rotary screw 33
d. Kompresor scroll 34
B. Kondensor 35
1. Air Cooled Condenser 36
a. Remote condenser 37
b. Condensing unit 38
2. Water Cooled Condenser 39
a. Shell and Tubes Condenser 40
b. Shell and Coil Condenser 41
c. Tubes in Tube Condenser 41
3. Evaporative Condenser 42
v

C. Evaporator 44
1. Jenis evaporator berdasarkan konstruksinya 44
a. Bare tube evaporator 44
b. Finned tube evaporator 44
c. Plate surface evaporator 45
2. Jenis evaporator berdasarkan metoda pemasokan refrigerannya 45
a. Dry expansion evaporator 45
b. Flooded evaporator 46
3. Jenis evaporator berdasarkan sirkulasi udaranya 47
a. Natural convection evaporator 47
b. Forced convection evaporator 47
4. Jenis evaporator berdasarkan fluida yang didinginkan 48
a. Air cooling evaporator 48
b. Liquid chilling evaporator 48
1) Double pipe cooler (tube in tube cooler) 48
2) Baudelot cooler (falling film surface) 49
3) Shell and coil evaporator 49
4) Shell and tube evaporator 49
5. Jenis evaporator berdasarkan sistem kontak refrigerannya 50
a. Direct system 50
b. Indirect system 50
D. Alat ekspansi 50
1. Keran ekspansi yang diputar dengan tangan (manual) 51
2. Keran pelampung sisi tekanan rendah 52
3. Keran pelampung sisi tekanan tinggi 53
4. Keran ekspansi otomatis 54
5. Keran ekspansi thermotatis 55
6. Pipa kapiler 56
BAB III REFRIGERAN DAN MINYAK PELUMAS 57
A. Definisi Refrigeran 57
B. Jenis-jenis Refrigeran 59
1. Refrigerant R-11, CC1
3
F, Trichloro Monofluora Methane 59
2. Refrigerant R-12, CL
2
F
2
Dichloro Difluoro Methane 59
vi

3. Refrigerant R-22, CHCLF
2
Chloro Difluoro Methane 61
4. Refrigerant R-113, C
2
Cl
2
F
3,
Trichloro Trifluoro Ethane 62
5. Refrigerant R-114 C
2
Cl
2
F
4
, Dichloro Tetrafluoro Ethane 62
6. Refrigerant R-500, CCL
2
F
2
/CH
3
-CHF
2
Azeotrope 63
7. Refrigerant R-502, ChCLF
2
/CClF
2
-CF
3
Azeotrope 64
8. Amonia R-717. NH3 65
9. Carbon Dioxide, R-744, CO
2
66
10. Sulfur Dioxide, R-764, SO
2
67
11. Methylchloride, R-40, CH
3
CL 67
C. Minyak Pelumas 68
D. Kekentalan (Viscosity) Minyak Pelumas 69
BAB IV SISTEM KOMPRESI UAP 71
A. Siklus kompresi uap 71
B. Model siklus kompresi uap 72
C. Diagram tekanan-entalpi 73
D. Proses pendinginan 75
1. Proses ekspansi 76
2. Proses evaporasi 77
3. Proses kompresi 77
4. Proses kondensasi 77
E. Pengaruh superheating refrigeran uap pada siklus refrigerasi 78
F. Pengaruh subcooling refrigerant cair pada siklus refrigerasi 80
BAB V PSYCHROMETRIC 83
A. Definisi Psychrometric 83
B. Letak Garis dan Skala Pada Grafik 85
C. Hubungan antara Bagian-bagian Psychrometric 87
D. Penggunaan Praktis Kandungan Uap Air (Humidity) 96
1. Pengkondisian Udara Di Musim Dingin 96
2. Pengkondisian Udara Di Musin Panas 98
3. Kondensasi atau Pengembunan Di Musim Dingin 99
E. Aplikasi Term Pengembunan/Kondensasi Secara Praktis 100



vii

BAB VI ESTIMASI BEBAN PENDINGINAN 103
A. Macam-macam beban pendinginan 103
B. Waktu operasi (equipment running time) 103
C. Perhitungan beban pendinginan 105
1. Beban panas dari dinding (the wall gain load) 105
2. Beban panas dari pertukaran udara (the air change load) 105
3. Beban panas dari produk 106
4. Beban panas dari alat-alat (beban tambahan) 107
D. Faktor perpindahan panas melalui dinding (wall gain load) 107
E. Menentukan harga faktor U (determination of the U faktor) 108
F. Perbedaan temperatur diantara dinding ruangan pendingin 111
G. Perbedaan temperatur diantara lantai dan langit-langit 111
H. Pengaruh radiasi matahari 112
I. Perhitungan beban panas dari dinding 112
J. Perhitungan beban panas dari udara 115
K. Perhitungan beban panas dari produk 117
L. Faktor pendinginan mula (chilling rate faktor) 119
M. Panas respirasi 120
N. Beban panas dari pembungkus produk 121
O. Perhitungan beban tambahan (miscellaneous load) 121
P. Penggunaan faktor keselamatan (safety faktor) 121
Q. Cara pendek untuk menghitung beban pendinginan 122
BAB VII SISTEM AIR CONDITIONING 123
A. Gambaran umum Air Conditioning 123
B. Jenis-jenis Air Conditioning 124
1. AC Window 124
2. AC Mini split 124
3. AC Split Duct 125
4. VRV System 126
C. Prinsip Kerja Air Conditioning 127
1. Siklus Aliran Refrigeran 127
2. Siklus Aliran Udara 129

viii

D. Precision Air Conditioning (PAC) 129
1. Keakuratan pengontrolan temperatur dan kelembaban ruangan 130
2. Kualitas udara yang disirkulasikan 130
3. Jam operasi unit 131
E. Fungsi Precision Air Conditioning 131
F. Jenis-jenis PAC 132
1. Jenis PAC berdasarkan sistem kerjanya 132
a. DX (Direct Expansion) 132
b. Chilled Water 134
c. Dual Cooling System 134
2. Jenis PAC berdasarkan arah alirannya 135
a. Up flow 135
b. Down flow 135
G. Prinsip kerja Precision Air Conditioning 135
H. Gambaran Umum AC Sentral 135
1. Chiller 137
2. Jenis jenis Chiller 137
a. Air cooled Chiller 137
b. Water cooled Chiller 138
c. Absorption Chiller 139
3. Air Handling Unit (AHU) 140
4. Cooling Tower 140
BAB VIII PERALATAN KERJA REFRIGERASI DAN TATA UDARA 142
A. Manifold Gauge 142
B. Pompa Vakum 143
C. Leak Detector 144
D. Thermometer 145
E. Multitester 145
F. Tang ampere 146
G. Kapasitor Tester 147
H. Mesin 3R (Recovery, Recycle dan Recharging) 148
I. Cutting Copper Tubing 148
J. Flaring Copper Tubing 149
ix

K. Swaging Copper Tubing 149
L. Bending Copper Tubing 150
M. Brazing Copper Tubing 150
N. Dental Mirror 151
O. Alat Pembuntu pipa (Pinch-Off tool) 151
1. Pembuntu pipa jenis Vise-Grip 151
2. Pembuntu pipa jenis plat (Imperial) 152
3. Pembuntu pipa jenis ragum (Robin air) 152
P. Katup Servis (Service Valve) 153
DAFTAR PUSTAKA 154
GLOSSARY 155
LAMPIRAN 159































x

DAFTAR GAMBAR




Halaman
Gambar 1.1 Skala temperatur 1
Gambar 1.2 Proses perpindahan kalor 2
Gambar 1.3 Proses penambahan kalor 2
Gambar 1.4 Nilai Kalor sensibel dan laten 3
Gambar 1.5 Perubahan wujud zat dari cair ke gas 4
Gambar 1.7 Tekanan atmosfir 6
Gambar 1.8 Skala pengukuran tekanan atmosfir dan manometer 6
Gambar 1.9 Skala pengukuran tekanan absolut 7
Gambar 1.10 Kandungan uap air relativ 10
Gambar 1.11 Proses tekanan konstan 11
Gambar 1.12 Proses temperatur konstan 12
Gambar 1.13 Proses volume konstan 13
Gambar 1.14 Hubungan tekanan-volume pada proses adiabatik 19
Gambar 1.15 Hubungan tekanan-volume pada proses politropik 20
Gambar 1.16 Uap jenuh (saturated vapor) 22
Gambar 1.17 Uap panas lanjut (superheated vapor) 23
Gambar 1.18 Grafik hubungan tekanan dan temperatur uap jenuh air 24
Gambar 1.19 Pengaruh tekanan pada temperatur jenuh cairan 25
Gambar 2.1 Kompresor Open-Type 28
Gambar 2.2 Kompresor Semi hermetic 29
Gambar 2.3. Hermetic-Type Compressor 30
Gambar 2.4 Kompresor resiprocating 31
Gambar 2.5 Rotary-Centrifugal Compressor 31
Gambar 2.6 Impeller blade, passage, diffuser passage dan volute 32
Gambar 2.7 Multistage Centrifugal Compressor 32
Gambar 2.8 Kompresor twin screw dan single screw 33
Gambar 2.9 Mekanisme refrigeran di kompresor 34
xi

Gambar 2.10 Kompresor Scroll 35
Gambar 2.11 Air Cooled Condenser 36
Gambar 2.12 Jenis remote air cooled condenser 38
Gambar 2.13 Condensing unit. 38
Gambar 2.14 Water Cooled Condenser 39
Gambar 2.15 Shell and Tubes Condenser 40
Gambar 2.16 Shell and Coil Condenser 41
Gambar 2.17 Tubes and Tube Condenser 41
Gambar 2.18 Evaporative condenser 42
Gambar 2.19 Bare tube evaporator 44
Gambar 2.20 Finned tube evaporator 45
Gambar 2.21 Plate surface evaporator 45
Gambar 2.22 Dry expansion evaporator 46
Gambar 2.23 Flooded evaporator 46
Gambar 2.24 Natural convection evaporator 47
Gambar 2.25 Forced convection evaporator 47
Gambar 2.26 Tube in tube evaporator 48
Gambar 2.27 Baudelot cooler 49
Gambar 2.28 Shell coil evaporator 49
Gambar 2.29 Shell and tube evaporator 50
Gambar 2.30 keran ekspansi yang diputar dengan tangan 51
Gambar 2.31 keran pelampung sisi tekanan rendah pada evaporator banjir 52
Gambar 2.32 Keran pelampung sisi tekanan tinggi 53
Gambar 2.33 Keran ekspansi otomatis 54
Gambar 2.34 Keran ekspansi thermostatis, Sporlan tipe G 55
Gambar 4.1 Siklus diagram sistem refrigerasi kompresi uap sederhana 71
Gambar 4.2 Model siklus kompresi uap 72
Gambar 4.3 Sketsa diagram tekanan-entalpi 74
Gambar 4.4 Sketsa Ph diagram 75
Gambar 4.5 Diagram Ph untuk siklus refrigerasi pada temperatur
penguapan 20
0
F dan temperatur kondensasi 100
0
F

75
Gambar 4.6 Diagram alir dari siklus refrigerasi sederhana 76
Gambar 4.7 Siklus diagram aliran superheated 78
xii

Gambar 4.8 Ph diagram untuk perbandingan siklus satarusi dengan
siklus superheated
79
Gambar 4.9 Ph diagram untuk perbandingan siklus satarusi dengan
siklus subcooled
80
Gambar 5.1 Grafik psychrometric 83
Gambar 5.2 Ilustrasi Grafik psychrometric 86
Gambar 5.3 Garis temperatur kering dan basah 86
Gambar 5.4 Garis temperatur kondensasi dan kanduangan uap air relatif 87
Gambar 5.5 Garis tetes uap air (grains of moisture) 87
Gambar 5.6 Cara menentukan kandungan uap air relatif (RH) 88
Gambar 5.7 Cara menentukan temperatur basah 89
Gambar 5.8 Cara menentukan temperatur kering 90
Gambar 5.9 Cara menentukan temperatur pengembunan kesatu 91
Gambar 5.10 Cara menentukan temperatur pengembunan kedua 92
Gambar 5.11 Cara menentukan temperatur pengembunan ketiga 93
Gambar 5.12 Cara menentukan jumlah tetes air 94
Gambar 5.13 Cara menentukan jumlah tetes air per ft
3
udara 95
Gambar 5.14 Cara menentukan kondisi nyaman di musim dingin 97
Gambar 5.15 Cara menentukan kondisi nyaman di musim panas 98
Gambar 5.15 Cara menentukan temperatur pengembunan di musim dingin 100
Gambar 5.16 Cara menentukan temperatur pengembunan
pada permukaan saluran udara (duct)

101
Gambar 6-1 blok beton 109
Gambar 6.2 Denah toko 113
Gambar 7.1 Skema sistem air conditioning 123
Gambar 7.2. AC windows 124
Gambar 7.3 AC Split 125
Gambar 7.4 AC Split Duct 125
Gambar 7.5 VRV system 126
Gambar 7.6 siklus air conditioning 128
Gambar 7.7 siklus aliran udara 129
Gambar 7.8 Tampilan Precision Air Conditioning (PAC) 129
Gambar 7.9 PAC tipe Air cooled system 132
Gambar 7.10 PAC tipe Water cooled system 133
xiii

Gambar 7.11 PAC tipe Glycool system 133
Gambar 7.12 PAC tipe Chilled water system 134
Gambar 7.13 Dual cooling system 134
Gambar 7.14 Arah Aliran udara PAC 135
Gambar 7.15 AC Sentral 136
Gambar 7.16 Chiller 137
Gambar 7.16 Air Coold Chiller 138
Gambar 7.17 Water coold chiller 138
Gambar 7.18 Absoption Chiller 139
Gambar 7.19 Air Handling Unit 140
Gambar 7.19 Cooling Tower 141
Gambar 7.20 Natural draft 141
Gambar 7.21 Force Draft 141
Gambar 8.1 Manifold gauge 142
Gambar 8.2 Pompa vakum 143
Gambar 8.3 Elektronik Leak Detector 144
Gambar 8.4 Thermometer 145
Gambar 8.5 Multitester 145
Gambar 8.5 Tang ampere 146
Gambar 8.6 Capasitor Tester 147
Gambar 8.7 Mesin 3R 148
Gambar 8.8 Tubing Cutter 148
Gambar 8.9 Flaring Tools 149
Gambar 8.10 Swaging Tools 149
Gambar 8.11 Bending 150
Gambar 8.12 Brazzing Tools 151
Gambar 8.13 Dental Mirror 151
Gambar 8.14 Pembuntu pipa jenis vise grip 152
Gambar 8.15 Pembuntu pipa jenis plat 152
Gambar 8.16 Pembuntu pipa jenis ragum 152
Gambar 8.17 Katup servis 153


xiv

DAFTAR TABEL




Halaman
Tabel 2.1 Kelebihan dan kekurangan kompresor open type 28
Tabel 2.2 Kelebihan dan kekurangan kompresor semi hermetic 29
Tabel 2.3 Kelebihan dan kekurangan kompresor hermetic 30
Tabel 2.4 Patokan penentuan suhu kondensasi 43
Tabel 3.1 Beberapa Merk dagang refrigeran 58
Tabel 3.2 Warna tabung Refrigeran 58
Tabel 3.3 Pedoman Kekentalan Minyak Pelumas 70






























xv

DAFTAR LAMPIRAN




Halaman
Lampiran 1 Tabel 6.1 Heat transfer coefficient (U) for cold storage rooms 159
Lampiran 2 Tabel 6.2 Heat transfer coefficient (U) for cold storage rooms 160
Lampiran 3 Tabel 6.3 Heat transfer coefficient (U) for cold storage rooms 161
Lampiran 4 Tabel 6.4 Thermal conductivity of materials used in cold storage
rooms

162
Lampiran 5 Tabel 6.5 Faktor U untuk kaca atau gelas dan Tabel 6.5A Surface
Conductance (f) for building structures

163
Lampiran 6 Tabel 6.6 Refrigerations design ambient temperature guide 164
Lampiran 7 Tabel 6.7 Allowance for solar radiation 170
Lampiran 8 Tabel 6.8A Btu/ft
3
of air removed in cooling to storage conditions
above 30
0
F dan Tabel 6.8B Btu/ft
3
of air removed in cooling to
storage conditions below 30
0
F

171
Lampiran 9 Tabel 6.9A Average air changes per 24 hours for storage rooms
above 32
0
F due to door opening and infiltration dan Tabel 6.9B
Average air changes per 24 hours for storage rooms below 32
0
F
due to door opening and infiltration

172
Lampiran 10 Tabel 6.10 Design data for fruit storage 173
Lampiran 11 Tabel 6.11 Design data for vegetable storage 175
Lampiran 12 Tabel 6.12 Design data for meat storage 177
Lampiran 13 Tabel 6.13 Design data for miscellaneous storage 179
Lampiran 14 Tabel 6.14 Reaction heat from fruits and vegetables 181
Lampiran 15 Tabel 6.15 Heat equivalent of electric motors 182
Lampiran 16 Tabel 6.16 Heat equivalent of occupancy 183
Lampiran 17 Tabel 6.17 Usages heat gain, Btu/24 Hr for one cubic feet
interior capacity

184
Lampiran 18 Tabel 6.18 Wall heat gain 185



1

BAB I
DASAR-DASAR REFRIGERASI DAN TATA UDARA



A. Kalor
Kalor adalah salah satu bentuk energi yang tidak dapat diciptakan atau
dimusnahkan. Kalor dapat diubah bentuknya menjadi energi lain. Kalor adalah energi
yang berpindah jika terdapat perbedaan temperatur. Kalor akan mengalir dari benda
yang bertemperatur tinggi ke benda yang bertemperatur rendah. Kejadian ini akan terus
berlangsung sampai diperoleh keseimbangan temperatur (termal).















Gambar 1.1 Skala temperatur
Sumber : http://www.nc-climate.ncsu.edu/edu/k12/.Temperature

Temperatur adalah tingkatan atau derajat panas atau dingin dari suatu benda yang
umumnya diukur dalam satuan derajat Fahrenheit (
0
F) atau Celcius (
0
C), seperti
ditunjukkan oleh Gambar 1.1. Jika kalor ditambahkan pada suatu benda maka
temperatur benda itu akan naik. Begitu pula sebaliknya jika kalor dikurangi/dipindahkan
dari suatu benda maka temperatur benda itu akan turun atau menjadi rendah.
Temperatur rendah itulah yang disebut dingin.
2









Gambar 1.2 Proses perpindahan kalor
Sumber: https://www.educate-sustainability.eu

Sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 1.2, proses perpindahan kalor pada suatu
zat terjadi dengan tiga cara yaitu konduksi, konveksi dan radiasi. Perpindahan kalor
secara konduksi adalah perpindahan kalor melalui suatu zat yang sama tanpa disertai
perpindahan bagian-bagian dari zat itu. Contoh: besi yang dipanaskan. Konveksi adalah
perpindahan kalor melalui media gas atau cairan, sebagai contoh udara di dalam lemari
es dan air yang dipanaskan di dalam cerek. Radiasi adalah perpindahan kalor dari suatu
bagian yang yang lebih tinggi suhunya ke bagian lain yang lebih rendah suhunya tanpa
melalui zat perantara, contohnya: cahaya matahari, panas lampu dan tungku api.
Perpindahan kalor secara radiasi hanya dapat terjadi melalui gas, benda yang transparan,
dan ruang yang hampa udara (vacum).
Pada sistem refrigerasi dan air conditioning, satuan energi kalor dinyatakan
dalam British Thermal Unit (BTU). BTU adalah sejumlah kalor yang diperlukan untuk
menaikkan temperatur 1 pon air sebesar 1
0
F. Air digunakan sebagai standar untuk
menghitung jumlah kalor. Pada gambar 1.3 ditunjukkan ilustrasi dari proses
penambahan kalor pada air.







Gambar 1.3 Proses penambahan kalor
3

Pada penggunaannya dikenal dua istilah kalor yaitu kalor sensibel dan kalor
laten. Kalor sensibel adalah kalor yang dapat diukur, kalor yang menyebabkan
terjadinya kenaikkan/penurunan temperatur. Kalor laten adalah kalor yang diperlukan
untuk merubah phasa benda, mulai dari titik lelehnya atau titik didihnya atau titik
bekunya sampai benda itu berubah phasa secara sempurna, tetapi temperaturnya tetap.
Kalor laten yang diperlukan untuk merubah phasa padat ke cair disebut kalor laten fusi
(latent heat of fusion). Kalor laten yang diperlukan untuk merubah phasa cair ke padat
disebut kalor laten pembekuan (latent heat of freezing). Kalor laten yang diperlukan
untuk merubah phasa cair ke gas (uap) disebut kalor laten penguapan (latent heat of
vaporization) dan kalor laten yang diperlukan untuk merubah phasa gas ke cair disebut
kalor laten pengembunan (latent heat of condensation). Besaran nilai kalor laten dan
sensible dari air untuk berubah wujud dan temperaturnya ditunjukkan oleh Gambar 1.4.



















Gambar 1.4 Nilai Kalor sensibel dan laten
Sumber : http://firecontrolman.tpub.com/14104/css/14104_47.htm

4

B. Zat (Benda)
Wujud (phasa) benda yang ada dipermukaan bumi terdiri atas tiga keadaan yaitu
padat, cair dan gas. Diantara ketiganya itu terdapat perbedaan sebagai berikut: (1) benda
dalam keadaan padat memiliki bentuk dan isi yang tetap karena molekul-molekulnya
saling merapat satu sama lain. (2) benda dalam keadaan cair isinya tetap dan bentuknya
berubah-ubah menyesuaikan dengan tempatnya. (3) benda dalam keadaan gas bentuk
dan isinya selalu berubah-ubah. Walaupun ketiga benda tersebut memiliki phasa yang
berbeda-beda, tetapi salah satu phasa benda itu bisa berubah ke phasa benda yang
lainnya. Sebagai contoh pada Gambar 1.5 Proses perubahan phasa suatu benda, dimana
air (cair) dapat berubah menjadi uap (gas) yang bergantung pada temperatur dan
tekanan disekitarnya. Beberapa proses perubahan phasa benda adalah sebagai berikut :
1. Membeku, yaitu perubahan dari cair ke padat
2. Mencair, yaitu perubahan dari padat ke cair
3. Menguap, yaitu perubahan dari cair ke gas (uap)
4. Mengembun, yaitu perubahan dari uap ke cair
5. Menyublim, yaitu perubahan dari padat ke uap tanpa melalui proses perubahan ke
cair.
6. Mengendap (deposition) yaitu perubahan dari gas ke padat tanpa melalui proses
perubahan ke cair.










Gambar 1.5 Perubahan wujud zat dari cair ke gas
Sumber: http://www.chemistry.wustl.edu/~edudev/LabTutorials/Thermochem

Pada sistem refrigerasi dan tata udara proses perubahan phasa benda sangat berperan
besar, secara khusus dilakukan oleh refrigeran. Refrigeran adalah bahan pendingin
5

berupa fluida yang digunakan untuk menyerap kalor melalui perubahan phasa cair ke
gas (menguap) dan membuang kalor melalui perubahan phasa gas ke cair (mengembun).

C. Gaya (Force)
Gaya didefinisikan sebuah dorongan atau tarikan. Sesuatu yang cenderung
mendorong benda untuk melakukan suatu gerakan atau untuk membantu gerakan benda
untuk berhenti, atau untuk mengubah arah gerakan. Gaya juga dapat merubah ukuran
atau bentuk sebuah benda. Benda tersebut dapat berupa belitan, belokan, rentangan,
yang ditekan atau yang lainnya yang berubah bentuk oleh gerakan akibat sebuah gaya.
Gaya lebih dikenal sebagai berat (weight). Berat suatu benda dapat diukur dengan gaya
yang didesakan pada benda oleh tarikan gravitasi bumi (Gambar 1.7). Ada banyak gaya
selain gaya gravitasi, semua gaya diukur dengan satua berat. Namun demikian,
kebanyakan gaya diberi satuan dalam pound (lb) dan satuan lain juga dapat digunakan.

D. Tekanan
Cara memahami air conditioning terlebih dahulu harus memahami tekanan.
Tekanan adalah gaya per satuan luas. Semua benda padat, cair dan gas mempunyai
tekanan. Benda padat memberikan tekanan kepada benda lain yang menunjangnya.
Misalnya kaki lemari es memberikan tekanan kepada lantai. Cairan di dalam bejana
memberikan tekanan kepada dinding dan alas bejana itu. Gas di dalam tabung
memberikan tekanan kepada tabung. Tekanan gas di dalam tabung dipengaruhi oleh
suhu dan jumlah gasnya. Kerja suatu AC sebagian besar tergantung dari perbedaan
tekanan di dalam sistem. Kita harus mengerti arti macam-macam tekanan yang
berhubungan dengan air conditioning. Tekanan tersebut ada tiga macam yaitu tekanan
atmosfir, tekanan manometer (pengukuran) dan tekanan absolut (mutlak).
1. Tekanan Atmosfir
Bumi kita diselimuti udara (21% oksigen, 78% nitrogen dan 1% unsur lain) yang
disebut atmosfir, yang tebalnya diperkirakan lebih dari 600 mil (965,6 km) diukur dari
permukaan bumi. Udara itu mempunyai berat dan berat itulah yang dikenal sebagai
tekanan atmosfir. Besarnya tekanan atmosfir diukur mulai dari permukaan air laut,
besarnya kira-kira 14,7 psi, seperti ditunjukkan oleh Gambar 1.7.


6










Gambar 1.7 Tekanan atmosfir
Sumber : http://hendrix2.uoregon.edu/~imamura/102/section2/chapter14.html

2. Tekanan Manometer (Pengukuran)
Manometer adalah alat untuk mengukur tekanan uap air dalam ketel atau
tekanan gas dalam suatu tabung. Tekanan yang ditunjukkan oleh jarum manometer
disebut tekanan manometer (pengukuran). Sebagai standar tekanan manometer, tekanan
atmosfir pada permukaan air laut diambil sebagi 0, dengan satuan psig atau kg/cm
2
. jadi
pada permukaan air laut tekanan atmosfir 14,7 psi = 0 psig tekanan manometer,
sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 1.8.










Gambar 1.8 Skala pengukuran tekanan atmosfir dan manometer

3. Tekanan Absolut
Tekanan absolut adalah tekanan yang sesungguhnya. Jumlah tekanan manometer
dan tekanan atmosfir pada setiap saat disebut tekanan absolut. Titik nol (0) pada tekanan
7

absolut adalah vakum 100% atau tidak ada tekanan sama sekali = 0 psia. Pada Gambar
1.9 ditunjukkan skala pengukuran tekanan absolut, dimana tekanan 1 atmosfir pada
tekanan absolut adalah 14,7 psia. Tekanan absolut = tekanan manometer + tekanan
atmosfir.










Gambar 1.9 Skala pengukuran tekanan absolut

4. Hubungan Suhu dan Tekanan
Umumnya benda-benda dalam wujud padat, cair dan gas jika dikalori gerak
moleku-molekulnya menjadi lebih kuat dan volumenya mengembang. Jika
mengembangnya dibatasi, akan timbul gaya yang besar dari benda dalam usahanya
untuk mengembang. Makin besar kalor yang diberikan, makin besar tekanan yang
ditimbulkan. Tekanan tersebut dapat diukur denagn manometer. Makin rendah tekanan
pada permukaan cairan, maikn rendah titik didih cairan itu. Hal ini pun berlaku untuk
bahan pendingin di dalam evaporator. Makin rendah tekanan di atas permukaan bahan
pendingin, makin rendah titik didihnya sehingga suhu evaporator juga menjadi makin
rendah.

E. Kerja (Work)
Kerja sesuatu yang dilakukan ketika gaya bekerja pada benda yang bergerak
sejauh benda itu. Jumlah kerja yang dilakukan adalah gaya yang dihasilkan dan sejauh
jarak, dimana gaya bekerja. Hubungan tersebut ditunjukkan oleh persamaan 1-1.
W = F x I (1-1)
dimana :
8

W : Kerja yang dilakukan
F : Gaya
I : Jarak sejauh gaya yang bekerja
Kerja yang dilakukan selalu dinyatakan dalam bentuk satuan yang sama dengan yang
digunakan untuk menyatakan besarnya gaya dan jarak. Untuk jarak, jika gaya
dinyatakan dalam pound (lb) dan jarak dinyatakan dalam feet (ft), kerja yang dilakukan
dnyatakan dalam foot-pound (ft-lb). Foot-pound satuan yang sering digunakan untuk
mengukur kerja.

F. Daya
Daya adalah jumlah kerja yang dilakukan. Daya adalah kerja yang dilakukan
yang didapat dari waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kerja. Satuan daya adalah
tenaga kuda (Horsepower, Hp). Satu tenaga kuda didefinisikan daya yang diperlukan
untuk melakukan kerja sejumlah 33.000 ft-lb per menit atau 33.000/60 sama dengan
550 ft-lb per detik. Daya yang dibutuhkan dalam tenaga kuda dapat ditentukan dengan
persamaan 1-2.
Hp =
xt
W
000 . 33
(1-2)
dimana :
Hp : Tenaga kuda
W : Kerja yang dilakukan (foot-pound)
t : Waktu (menit)

G. Hukum konservasi energi
Hukum pertama termodinamika menyatakan bahwa energi tidak dapat
diciptakan ataupun dimusnahkan, tapi dapat diubah bentuknya menjadi bentuk energi
lain. Hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa perpindahan energi panas
berlangsung jika terdapat perbedaan-perbedaan temperatur. Panas itu akan mengalir dari
benda bertemperatur tinggi ke benda bertemperatur rendah, kejadian ini akan
berlangsung sampai dicapai keseimbangan temperatur.

H. Jumlah panas
Ukuran jumlah panas dinyatakan dalam British thermal unit (Btu). Air
digunakan sebagai standar untuk menghitung jumlah panas, karena untuk menaikkan
9

temperatur 1
0
F untuk tiap 1 lb air diperlukan panas 1 Btu (pada permukaan air laut).
Dua Btu artinya menaikkan temperatur air sebanyak 1 lb untuk 2
0
F atau menaikkan
temperatur air sebanyak 2 lb sebesar 1
0
F. Oleh karenanya untuk menghitung jumlah
panas yang dibutuhkan/dibuang digunakan persamaan1-3.
Btu = W x t (1-3)
Di mana:
W : jumlah air (lb)
t : perbedaan temperatur (
0
F)

I. Panas jenis
Panas jenis suatu benda artinya jumlah panas yang diperlukan benda itu agar
temperaturnya naik 1
0
F. Panas jenis air adalah 1, untuk mendapatkan panas jenis benda
lain panas jenis air dijadikan sebagai pembanding. Harga panas jenis benda tentu saja
tergantung pada perubahan temperaturnya. Berdasarkan hal itu maka jumlah panas yang
diberikan/dibuang dari suatu benda dapat dihitung dari persamaan1-4.
Btu = W x c x t (1-4)
Di mana c : panas jenis benda.
Panas jenis benda akan berubah jika fase benda itu berubah. Air adalah salah
satu contoh yang baik dimana kita dapat lihat perubahan panas jenisnya pada fase yang
lain. Air pada fase cair panas jenisnya 1, tetapi pada fase gas dan padat nilai panas
jenisnya hampir 0,5. udara bila dipanaskan dan bergerak bebas pada tekanan tetap panas
jenisnya 0,24. uap refrigeran R-12 pada tekanan konstan dan temperatur 70
0
F
mempunyai panas jenis 0,148, padahal pada temperatur 86
0
F adalah 0,24. untuk
menghitung jumlah perpindahan panas yang terjadi pada kombinasi beberapa benda
digunakan persamaan1-5.
Btu = (W
1
x c
1
x t
1
) + (W
2
x c
2
x t
2
) + (W
3
x c
3
x t
3
) + ..... (1-5)

J. Humidity (Kelembaban)
Tetes air di udara diukur dengan istilah (terminologi) humidity (kelembaban)
atau kandungan uap air di udara. Sebagai contoh pada Gambar 1.10, kandungan uap air
relativ (relativ humidity) 50% artinya udara itu mengandung tetes air sebanyak 50%
dibanding jumlah total yang mampu dikandungnya secara maksimal berdasarkan
temperatur yang diberikannya. Kandungan uap air relativ yang rendah memungkinkan
10

T ruang 70 F
4 tetes/ft
3
T ruang 70 F
8 tetes/ft
3
a b
tubuh kita untuk mengeluarkan kalor dengan cara penguapan (evaporasi). Karena
kelembaban yang rendah berarti udara itu cenderung kering, sehingga ia dapat dengan
mudah menyerap uap air. Jika kandungan uap air relativ itu tinggi, maka akan berakibat
sebaliknya. Proses penguapan akan berjalan lambat pada kondisi lembab,sehingga
kecepatan pengeluaran kalor dari tubuh melalui proses penguapan akan menurun sampai
akhirnya berhenti. Kondisi nyaman yang dapat diterima oleh tubuh manusia berada pada
kisaran temperatur 72
0
80
0
F (22,2
0
26,6
0
C) dan 45% - 50% kelembaban relativ.










Gambar 1.10 Kandungan uap air relativ. a) RH 50% dan b) RH 100%

K. Hubungan temperatur-volume pada tekanan konstan
Jika gas dipanaskan di bawah satu kondisi dimana tekanan dijaga agar tetap,
maka volume akan meningkat 1/492 dari volume semula pada temperatur 32
0
F untuk
setiap peningkatan temperatur 1
0
F. Demikian juga, jika suatu gas didinginkan pada
tekanan konstan, maka volume akan menurun 1/492 dari volume semula pada
temperatur 32
0
F untuk setiap penurunan temperatur 1
0
F. Supaya penggambaran
perubahan kondisi pada tekanan konstan lebih baik, diasumsikan bahwa gas disimpan
dalam silinder dilengkapi dengan alat yang benar-benar pas, seperti ditunjukkan
Gambar 1.11a. Tekanan gas adalah tekanan yang dihasilkan oleh berat piston dan oleh
berat atmosfir pada bagian atas piston. Karena piston bebas bergerak ke atas dan ke
bawah dalam silinder, maka gas dapat mengembang atau mengkerut, yaitu mengubah
volume dengan cara temperatur gas tetap konstan. Pada waktu gas dipanaskan,
temperatur dan volume meningkat dan piston bergerak naik dalam silinder. Pada waktu
gas didinginkan, temperatur dan volume menurun dan piston bergerak turun dalam
11

silinder. Pada kasus lain, tekanan gas tetap sama atau berubah selama proses pemanasan
atau pendinginan.










Gambar 1.11 Proses tekanan konstan. (a) Gas di dalam selinder. (b) Gas
dipanaskan sehingga temperatur dan volumenya naik. (c) Gas didinginkan
sehingga temperatur dan volumenya turun.


L. Hukum Charles untuk proses tekanan konstan
Hukum Charles untuk proses tekanan konstan mempunyai pengaruh, yaitu
ketika tekanan gas tetap konstan, volume gas langsung berubah dengan temperatur
absolut. Kemudian, jika temperatur absolut gas digandakan pada waktu tekanan dijaga
tetap konstan, maka volume juga akan digandakan. Demikian juga, jika temperatur
absolut gas dikurangi setengah kali pada waktu tekanan konstan, maka volume juga
akan berkurang setengah kali. Persamaan ini diilustrasikan dalam Gambar 1.11b dan
1.11c. Hukum Charles untuk proses tekanan konstan ditulis pada persamaan 1-6, jika
tekanan dijaga tetap konstan, maka :
T
1
V
2
= T
2
V
1
(1-6)
Dimana :
T
1
= Temperatur awal gas (
o
Rankine)
T
2
= Temperatur akhir gas (
o
Rankine)
V
1
= Volume awal gas (cu ft)
V
2
= Volume akhir gas (cu ft)
Jika tiga macam nilai lebih dahulu diketahui, maka yang keempat dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan 1.6.

12

Contoh 1:
Sebuah gas mempunyai temperatur awal 520
o
R dan volume awal 5 cu ft, melakukan
ekspansi pada tekanan konstan sampai volumenya 10 cu ft. Tentukan temperatur akhir
gas pada derajat Rankine.
Jawab : Gunakan persamaan 1-6
Temperatur akhir gas, T
2
=
1
2 1
V
V T
=
5
8 520x
= 1040
o
R

M. Hubungan tekanan-volume pada temperatur konstan
Ketika volume gas meningkat atau menurun di bawah suatu kondisi, maka
temperatur gas tidak akan berubah, tekanan absolut akan terbalik dengan volume.
Kemudian, ketika gas ditekan (volume menurun), maka temperatur tetap tidak berubah,
tekanan absolut akan meningkat yang sebanding dengan penurunan volume. Secara
bersamaan, ketika gas mengembang pada temperatur konstan, tekanan absolut akan
menurun yang sebanding dengan peningkatan volume. Pernyataan tersebut adalah
hukum Boyle untuk proses tekanan konstan dan digambarkan pada Gambar 1.12.












Gambar 1.12 Proses temperatur konstan. (a) kondisi awal. (b) Proses
ekspansi pada temperatur konstan. (c) Proses kompresi pada temperatur
konstan.

Ketika gas ditekan pada temperatur konstan, kecepatan molekul tetap tidak berubah.
Peningkatan tekanan terjadi disebabkan oleh volume gas yang berkurang dan
mempunyai jumlah molekul gas yang ditahan pada ruang yang kecil sehingga frekuensi
13

tumbukan menjadi besar. Sebaliknya keadaan akan terjadi ketika gas mengembang pada
temperatur konstan. Pada beberapa proses termodinamika yang terjadi seperti hal di atas
yaitu temperatur tidak berubah selama proses disebut proses isothermal (temperatur
konstan).
Hukum Boyle untuk proses temperatur konstan ditunjukkan oleh persamaan 1-7.
P
1
V
1
= P
2
V
2
(1-7)
dimana :
P
1
= Tekanan absolut awal
P
2
= Tekanan absolut akhir
V
1
= Volume awal (cu ft)
V
2
= Volume akhir (cu ft)
Contoh 2:
5 lb udara mengembang pada temperatur konstan dan volume awal 4 cu ft sampai
volume akhir 10 cu ft. Jika tekanan awal udara 20 psia, berapa tekanan akhir dalam psia
?
Jawab : Gunakan persamaan 1-7
Tekanan akhir P
2
=
2
1 1
V
xV P
=
10
5 20x
= 10 psia

N. Hubungan tekanan-temperatur pada volume konstan











Gambar 1.13 Proses volume konstan. (a) Kondisi awal. (b) Tekanan absolut naik
berbanding lurus dengan kenaikan temperatur absolut. (c) Tekanan absolut turun
berbanding lurus dengan penurunan temperatur absolut.

14

Diasumsikan bahwa suatu gas disimpan dalam silinder tertutup sehingga
volumenya tidak akan berubah pada waktu dipanaskan atau didinginkan (Gambar
1.13a). Ketika temperatur gas meningkat oleh penambahan kalor, tekanan absolut akan
naik berbanding lurus dengan kenaikan temperatur absolut (Gambar 1.13b). Jika gas
didinginkan, tekanan absolut gas akan menurun berbanding lurus dengan penurunan
temperatur absolut (Gambar 1.13c). Pada saat temperatur (kecepatan molekul) gas
ditingkatkan sedangkan volume gas (ruang pada molekul terbatas) tetap sama, besarnya
tekanan (gaya dan frekuensi molekul menubruk dinding silinder) meningkat.
Sedangkan, ketika gas didinginkan pada volume konstan, gaya dan frekuensi molekul
menimpa dinding wadah berkurang dan tekanan gas akan berkurang dari sebelumnya.
Penurunan gaya dan frekuensi tumbukan molekul disebabkan oleh penurunan kecepatan
molekul.

O. Hukum Charles untuk proses volume konstan
Hukum Charles menguraikan bahwa ketika gas didinginkan atau dipanaskan di
bawah satu kondisi dimana volume gas tetap tidak berubah atau konstan, tekanan
absolut berbanding lurus dengan temperatur absolut. Hukum Charles dapat ditulis pada
persamaan 1-8 jika volumenya sama, maka :
T
1
P
2
= T
2
P
1
(1-8)
Dimana :
T
1
= Temperatur awal (
o
Rankine)
T
2
= Temperatur akhir (
o
Rankine)
P
1
= Tekanan awal (psia)
P
2
= Tekanan akhir (psia)
Contoh 3:
Sejumlah berat suatu gas disimpan dalam tangki yang mempunyai temperatur awal 80
o
F dan tekanan awal 30 psig. Jika gas dipanaskan sampai akhir tekanan ukur yaitu 50
psi, berapakah temperatur akhir dalam derajat Fahrenheit ?
Jawab : Gunakan persamaan 1-8.
T
2
=
1
2 1
P
xP T
=
7 , 14 30
) 7 , 14 50 ( ) 460 80 (

x
= 782
o
R
Konversi
o
R ke
o
F = 782 460 = 322
o
F

15

P. Hukum Gas Umum
Kombinasi dari Hukum Charles dan Boyle menghasilkan persamaan 1-9.

1
1 1
T
V P
=
2
2 2
T
V P
(1-9)
Persamaan 1-9 adalah pernyataan bahwa untuk beberapa berat suatu gas
dihasilkan tekanan psfa dan volume dalam cu ft dibagi oleh temperatur absolut dalam
derajat Rankine akan selalu konstan. Konstan di sini akan berbeda untuk setiap gas yang
berbeda dan untuk gas yang lain akan memberikan berat yang berbeda-beda pada setiap
gas. Jika suatu gas digunakan berat pound, kemudian V akan menjadi volume spesifik ,
dan persamaan 1-9 dapat ditulis menjadi:

T
Pv
= R
Di mana : R = konstanta gas (berbeda untuk setiap gas).
Jika kedua ruas pada persamaan 1-9 dikalikan dengan M, maka berubah menjadi
persamaan 1-10:
PM = MRT
Tetapi karena : M = V
Maka PV = MRT (1-10)
Di mana :
P = Tekanan (psfa)
V = Volume (cu ft)
M = Massa (lb)
R = Konstanta gas
T = Temperatur (
o
R)
Persamaan 1.10 disebut Hukum Gas Umum dan sering digambarkan dalam
menyelesaikan beberapa persoalan menyangkut gas. Karena nilai R untuk beberapa gas
dapat dicari dalam tabel, jika tiga variabel dari empat variabel P, V, M dan T diketahui,
maka bentuk keempat dapat ditentukan oleh persamaan 1.10. Catatan bahwa tekanan
harus dalam pound per square foot absolut (psfa).
Contoh 4:
Tangki udara kompresor mempunyai volume 5 cu ft dan diisi oleh udara pada
temperatur 100
o
F. Jika alat ukur pada tangki terbaca 151,1 psia, berapakah berat udara
dalam tangki ?
Jawab :
16

Dari tabel 3-1 (Dossat, 1961: 430) didapat nilai R udara = 53,3
Gunakan persamaan 1.10.
Berat udara, M =
460) 53,3x(100
5 14,7)x144x (151,1

=
560 3 , 53
5 144 3 , 165
x
x x
= 4 lb
Contoh 5:
2 lb udara mempunyai volume 3 cu ft. Jika tekanan udara 135,3 psig, berapakah
temperatur dalam derajat Fahrenheit ?
Jawab : Gunakan persamaan 1.10
Dari tabel 3-1 (Dossat, 1961: 430) didapat nilai R udara = 53,3
Temperatur udara dalam
o
R; T =
MR
PV
=
3 , 53 2
3 14,7)x144x (135,3
x

=
3 , 53 2
3 144 150
x
x x

T = 607,9
o
R
Konversi ke
o
F = 607,9 460 = 147,9
o
F.

Q. Gas ideal atau gas sempurna
Berbagai macam hukum yang menentukan hubungan tekanan-volume-
temperatur gas yang akan didiskusikan dalam bab ini dengan menggunakan ketelitian
absolut pada hipotesis gas ideal atau sempurna. Gas sempurna digambarkan sebagai
suatu kondisi dimana tidak ada interaksi antara molekul gas. Molekul gas tersebut
seluruhnya bebas dan independen dari gaya tarik molekul lain. Karena itu, tidak ada
energi yang dipindahkan ke atau dari suatu gas ideal yang mempunyai pengaruh pada
energi potensial internal. Konsep gas ideal atau gas sempurna sangat sederhana dalam
menyelesaikan soal perubahan dalam kondisi suatu gas. Beberapa permasalahan yang
rumit dalam mekanika elemen dibuat sederhana dengan mengasumsikan tidak ada
gesekan yang terjadi, pengaruh gesekan dapat dianggap terpisah. Fungsi dari gas ideal
adalah sama dengan kehilangan gesekan permukaan. Suatu gas ideal diasumsikan
melewati perubahan kondisi tanpa gesekan internal, yaitu tanpa performansi kerja
internal dalam mengatasi gaya internal molekul.

R. Proses-proses untuk gas ideal
Suatu gas dikatakan mengalami proses ketika melewati beberapa keadaan awal
atau kondisi awal sampai beberapa keadaan akhir atau kondisi akhir. Perubahan kondisi
gas dapat terjadi dengan cara yang tidak terbatas, tetapi hanya ada 5 cara yang dibahas.
Cara tersebut antara lain:
17

1) Volume konstan (isometerik)
2) Tekanan konstan (isobar)
3) Temperatur konstan (isothermal)
4) Adiabtik
5) Proses politropik.
Upaya menggambarkan gas ideal dapat dikatakan bahwa molekul gas selalu
terpisah dan molekul teersebut tidak mempunyai gaya tarik satu sama lain, dan tidak ada
energi yang diserap oleh gas ideal dan tidak mempunyai pengaruh pada energi potensial
internal. Jelaslah bahwa, ketika panas diserap oleh gas ideal akan menaikan energi
kinetik internal (temperatur) gas atau akan meninggalkan gas sebagai kerja eksternal
atau keduanya. Karena perubahan pada energi potensial internal, P, akan selalu
menjadi nol, persamaan umum energi untuk gas ideal dapat ditulis seperti pada
persamaan 1-11.
Q = K + W (1-11)
Supaya dapat dimengerti lebih baik, perubahan energi terjadi selama berbagai proses
harus selalu diingat bahwa perubahan pada temperatur gas menunjukkan perubahan
pada energi kinetik internal gas, sebaliknya, perubahan pada volume gas menunjukkan
kerja telah dilakukan oleh atau pada gas.

1. Proses volume konstan
Ketika gas dipanaskan pada saat itu juga gas ditahan dan volume tidak berubah,
tekanan dan temperatur akan merujuk pada hukum Charles (Gambar 1.13). Karena
volume gas tidak berubah, maka tidak ada kerja eksternal yang dilakukan dan W sama
dengan nol. Karena itu, untuk proses volume konstan ditunjukkan oleh huruf v kecil.
Q
v
= K
v
(1-12)
Persamaan 1-12 dapat dinyatakan selama proses volume konstan semua energi
dipindahkan pada gas sehingga energi kinetik internal gas meningkat. Tidak ada energi
yang hilang pada waktu gas sedang bekerja. Ketika gas didinginkan (kalor dibuang)
pada waktu volume konstan, semua energi dibuang secara efektif pada pengurangan
energi kinetik internal gas. Telah ditulis pada persamaan 1-11, Q menunjukkan panas
dipindahkan pada gas, K menunjukkan meningkatnya energi kinetik internal, dan W
menunjukkan kerja yang dilakukan oleh gas. Karena itu, jika panas diberikan oleh gas,
maka Q negatif. Sebaliknya, jika energi kinetik internal gas menurun, maka K
18

negatif, dan jika kerja dilakukan pada gas, maka W negatif. Sebab itu, dalam
persamaan 1-12, ketika gas didinginkan Q dan K negatif.

2. Proses tekanan konstan
Jika temperatur gas meningkat oleh penambahan panas pada waktu gas mulai
mengembang dan tekanan dijaga tetap konstan, volume gas akan meningkat sesuai
dengan hukum Charles (Gambar 1.11). Karena volume gas meningkat selama proses,
maka kerja dilakukan oleh gas pada waktu yang sama sehingga energi internal
meningkat. Sebab itu, pada waktu satu bagian dipindahkan, energi meningkat dan
disimpan sebagai energi kinetik internal. Untuk proses tekanan konstan, ditunjukkan
oleh huruf p kecil, persamaan energi dapat ditulis seperti pada persamaan 1-13.
Q
p
= K
p
+ W
p
(1-13)

3. Proses temperatur konstan
Menurut hukum Boyle, ketika gas ditekan atau mengembang pada temperatur
konstan, tekanan akan berbanding terbalik dengan volume. Tekanan meningkat pada
waktu gas ditekan dan tekanan akan menurun pada waktu gas mengembang. Karena gas
akan melakukan kerja pada waktu mengembang, jika temperatur tetap konstan, energi
akan melakukan kerja yang harus diserap dari sumber luar (Gambar 1.12b). karena
temperatur gas tetap konstan, semua energi diserap oleh gas, selama proses gas ke luar
sebagai kerja, tidak ada yang disimpan oleh gas yang akan meningkatkan energi
internal. Ketika gas ditekan, kerja dilakukan pada gas, dan jika gas tidak didinginkan
selama kompresi, energi internal gas akan meningkat oleh sejumlah yang sama dengan
kerja kompresi. Oleh karena itu, jika temperatur gas tetap konstan selama kompresi, gas
harus membuang panas ke luar (lingkungan), sejumlah panas yang sama dengan jumlah
kerja yang dilakukan pada gas selama kompresi (Gambar 1.12c). Tidak ada perubahan
pada energi kinetik internal selama proses temperatur konstan. Oleh karena itu, dalam
persamaan 1-13, K sama dengan nol dan persamaan umum energi untuk proses
temperatur konstan dapat ditulis seperti pada persamaan 1-14.
Q
t
= W
t
(1-14)

4. Proses adiabatik
Proses adiabatik digambarkan sebagai satu perubahan gas pada kondisi di mana
tidak ada penyerapan atau pembuangan panas, seperti dari atau ke luar benda selama
19

proses. Selanjutnya, tekanan, volume dan temperatur gas semuanya selama proses
adiabatic tidak ada yang konstan. Ketika mengembang secara adiabatik, gas melakukan
kerja eksternal dan energi dibutuhkan untuk melakukan kerja. Pada proses sebelumnya
digambarkan, gas menyerap energi untuk melakukan kerja dari sumber luar. Karena
selama proses adiabatik tidak ada panas yang diserap dari sumber luar, maka gas harus
melakukan kerja eksternal pada energinya sendiri. Ekspansi adiabatik selalu disertai
oleh penurunan temperatur gas pada waktu gas memberikan energi internalnya untuk
melakukan kerja (Gambar 1.14).















Gambar 1.14 Hubungan tekanan-volume pada proses adiabatik

Ketika gas ditekan secara adiabatik, kerja dilakukan pada gas oleh benda luar.
Energi gas meningkat yang jumlahnya sama dengan yang diberikan oleh gas pada benda
luar selama kompresi, energi panas ekivalen dengan kerja yang dilakukan pada gas
sehingga meningkatkan energi internal dan temperatur gas meningkat. Karena tidak ada
panas, seperti yang dipindahkan ke atau dari gas selama proses adiabatik, Q
a
selalu nol
dan persamaan energi untuk proses adiabatik dapat ditulis seperti pada persamaan 1-15.
K
a
+ W
a
= 0 (1-15)
Oleh karena itu ;
W
a
= - K
a
dan K
a
= - W
a

20

5. Proses politropik
Mungkin ada cara sederhana untuk mendefinisikan proses politropik oleh
perbandingan proses adiabatik dengan isothermal. Ekspansi isothermal, merupakan
energi untuk melakukan kerja ekspansi yang disuplai seluruhnya dari sumber luar, dan
ekspansi adiabatik merupakan energi untuk melakukan kerja ekspansi yang disuplai
seluruhnya dari gas itu sendiri, dapat dijadikan sebagai batas ekstrim antara semua
proses ekspansi yang terjadi. Kemudian, proses ekspanasi lain merupakan energi untuk
melakukan kerja ekspansi yang disuplai sebagian dari sumber luar dan sebagian dari gas
itu sendiri yang dapat masuk melalui garis antara proses adiabtik dan isothermal
(Gambar 1.15). Proses tersebut sebagai proses politropik.












Gambar 1.15 Hubungan tekanan-volume pada proses politropik

Jika selama ekspansi politropik lebih banyak energi untuk melakukan kerja yang
diambil dari sumber luar, proses politropik akan lebih mendekati isothermal.
Sebaliknya, jika sebagian besar energi yang digunakan untuk melakukan kerja eksternal
yang diambil dari gas itu sendiri, proses lebih mendekati adiabatik. Hal ini juga berlaku
untuk proses kompresi. Ketika gas kehilangan panas selama proses kompresi,
kehilangan panas yang besar, proses politropik akan mendekati isothermal. Pada waktu
kehilangan sedikit panas, proses politropik akan mendekati adiabatik. Jelas, ketika tidak
ada kehilangan panas, proses menjadi adiabatik. Penekanan gas yang sebenarnya pada
kompresor biasanya akan mendekati kompresi adiabatik. Hal tersebut disebabkan waktu
kompresi biasanya sangat pendek dan tidak mempunyai waktu cukup untuk
21

memindahkan jumlah panas yang banyak dari gas melewati dinding silinder ke
sekelilingnya. Pemberian water jacket pada silinder biasnya akan meningkatkan jumlah
panas yang dibuang keluar dari kompresi mendekati isothermal.

6. Hubungan PVT selama proses adiabatik
Karena tekanan, volume dan temperatur semuanya berubah selama proses
adiabatik, semuanya tidak akan sesuai dengan hukum Charles dan hukum Boyle.
Hubungan antara tekanan, temperatur dan volume selama proses adiabatik dapat
dihitung oleh persamaan 1-16 sampai dengan 1-21.
T
2
= T
1
x
1) - (k
2
1) - (k
1
V
V
(1-16)
T
2
= T
1
x (
1
2
P
P
)
1)/k - (k
(1-17)
P
2
= P
1
x (
2
1
V
V
)
k
(1-18)
P
2
= P
1
x (
1
2
T
T
)
1) - k/(k
(1-19)
V
2
= V
1
x (
2
1
T
T
)
1) - 1/(k
(1-20)
V
2
= V
1
x (
2
1
P
P
)
1/k
(1-21)

S. Titik didih
Hal yang paling penting pada sistem pendingin adalah pengertian tentang titik
didih cairan refrigeran dalam sistem. Dengan menurunkan titik didih, refrigeran
mengambil panas sambil berubah wujud dan sebaliknya dengan menaikkan titik
pengembunannya, uap refrigeran menyerahkan panas yang dikandungnya sambil
berubah wujud pula. Pada dasarnya teknik pendingin bekerja hanya dengan menyetel
titik didih dari refrigeran. Titik didih dinyatakan sebagai temperatur di mana cairan
berubah jadi uap atau uap air jadi air kembali, tergantung pada arah mana enegri panas
itu mengalir.

22

T. Temperatur jenuh
Pada bagian yang lalu telah dibahas bahwa titik didih dan temperatur
pengembunan suatu cairan pada tekanan kerja tertentu adalah sama. Ini berarti bahwa
cairan itu telah mencapai suatu titik di mana ia akan mulai berubah wujudnya menjadi
uap, temperatur inilah yang disebut temperatur jenuh cairan (saturated liquid) atau
temperatur didih atau temperatur penguapan. Sebaliknya jika uap didinginkan sampai
dicapai suatu keadaan uap jadi semakin merapat, akhirnya jadi tetes air, temperatur
inilah yang disebut temperatur jenuh uap (saturated vapor).

U. Uap Jenuh
Uap lanjut dari penguapan cairan disebut uap jenuh sepanjang temperatur dan
tekanan uap sama seperti cairan jenuh yang terjadi. Uap jenuh dapat digambarkan juga
sebagai uap pada temperatur dimana pendinginan uap lanjut disebabkan oleh sebagian
uap mengembun dan dengan cara tersebut struktur molekul cairan kembali lagi. Hal
tersebut penting untuk dipahami bahwa temperatur jenuh benda cair (temperatur pada
waktu cairan akan menguap jika panas ditambahkan) dan temperatur jenuh uap
(temperatur pada saat uap akan mengembun jika panas dibuang) akan memberikan
tekanan yang sama dan cairan tidak akan cair lagi pada temperatur di atas temperatur
jenuh, sedangkan uap tidak akan tetap uap pada temperatur di bawah temperatur jenuh.













Gambar 1.16 Uap jenuh (saturated vapor)
23

Contoh dalam Gambar 1.16, air dalam bejana yang dipanaskan akan jenuh dan
menguap pada 212
o
F sebagai panas laten penguapan yang disuplai oleh pemanas. Uap
(steam) meningkat dari air jenuh dan tetap pada temperatur jenuh (212
o
F) sampai
mencapai kondenser. Uap jenuh memberikan panas pada air yang dingin dalam
kondenser, air tersebut mengembun kembali menjadi cairan. Karena pengembunan
terjadi pada temperatur konstan, maka air dihasilkan dari pengembunan uap juga pada
212
o
F. Panas laten penguapan menyerap penguapan air ke dalam uap air (steam) yang
diberikan oleh uap air sebagai uap air pengembunan yang kembali menjadi air.

V. Uap panas lanjut dan Cairan dingin lanjut
Uap pada temperatur di atas temperatur jenuh adalah uap panas lanjut. Jika
setelah penguapan, uap dipanaskan sehingga temperatur naik di atas penguapan cairan,
uap dikatakan panas lanjut (superheated). Uap panas lanjut diperlukan untuk
memisahkan uap dari penguapan caiaran ditunjukkan dalam Gambar 1.17. Sepanjang
uap tetap berhubungan dengan cairan, maka akan tetap jenuh. Hal tersebut disebabkan
adanya penambahan panas pada campuran uap-cairan yang hanya akan menguap lebih
lanjut adalah ciaran dan tidak ada superheating yang terjadi.











Gambar 1.17 Uap panas lanjut (superheated vapor)
Sebelum uap panas lanjut dapat mengembun, uap harus di desuperheated, yaitu
uap harus didinginkan sampai temperatur jenuh. Panas dibuang dari uap panas lanjut
yang akan menyebabkan temperatur uap menurun sampai temperatur jenuh tercapai.
Pada titik ini, pembuangan panas terus-menerus akan menyebabkan bagian dari uap
akan mengembun (kondensasi). Jika setelah kondensasi, cairan didinginkan sehingga
24

temperatur turun di bawah temperatur jenuh, cairan disebut dingin lanjut (subcooled).
Kemudian cairan pada temperatur di bawah temperatur jenuh dan di atas titik peleburan
adalah cairan dingin lanjut (subcooled).

W. Pengaruh tekanan pada temperatur jenuh
Temperatur jenuh cairan atau uap berbeda tekanannya. Meningkatnya tekanan
akan menaikan temperatur jenuh dan penurunan tekanan akan menurunkan temperatur
di bawah temperatur jenuh. Contoh : temperatur jenuh air pada tekanan atmosfir (0 psig
atau 14,7 psia) adalah 212
o
F. Jika tekanan di atas air meningkat dari 0 psig sampai 5,3
psig (20 psia), temperatur jenuh air meningkat dari 212
o
F sampai 228
o
F. dilain pihak,
jika tekanan di atas air berkurang dari 14,7 psia menjadi 10 psia, maka temperatur jenuh
air yang baru akan menjadi 193,2
o
F. Gambar 1.18 menunjukkan grafik hubungan
antara tekanan dan temperatur uap jenuh air.











Gambar 1.18 Grafik hubungan tekanan dan temperatur uap jenuh air

Guna menggambarkan pengaruh tekanan pada temperatur jenuh cairan,
diasumsikan bahwa air disimpan dalam bejana tertutup yang dilengkapi dengan katup
penutup pada bagian atas (Gambar 1.19a). Alat ukur compound digunakan untuk
menentukan tekanan yang terjadi dalam bejana dan dua termometer dipasang untuk
mencatat temperatur air dan temperatur uap di atas air. Dengan katup penutup
membuka, tekanan terjadi di atas air yaitu pada tekanan atmosfir (0 psig atau 14,7 psia).
Karena temperatur jenuh air pada tekanan atmosfir 212
o
F, maka temperatur air akan
meningkat pada waktu air dipanaskan sampai mencapai 212
o
F. Pada titik ini, jika
dipanaskan lebih lanjut, air akan mulai menguap. Segera ruang di atas air akan terisi
25

oleh milyaran molekul uap air dengan cepat pada kecepatan tinggi. Beberapa uap air
akan jatuh lagi ke dalam air menjadi molekul cairan kembali, sedangkan yang lain akan
keluar melalui sisi yang terbuka dan dibawa oleh aliran udara. Jika pembukaan bagian
atas bejana mempunyai ukuran yang cukup untuk memungkinkan uap bebas keluar, uap
akan meninggalkan bejana jumlahnya sama dengan jumlah air yang menguap. Jumlah
molekul yang meninggalkan cairan menjadi molekul uap akan sama dengan jumlah
molekul uap yang meninggalkan ruangan, ada yang keluar ruangan atau yang kembali
menjadi ciaran. Kemudian jumlah molekul uap dan berat jenis uap (density) di atas air
akan tetap konstan dan tekanan terjadi oleh uap akan sama dengan tekanan luar bejana.
Di bawah kondisi ini, uap air yang lain dari penguapan cairan akan menjadi jenuh, yaitu
temperatur dan tekanan akan menjadi sama dengan air 212
o
F dan 14,7 psia. Berat jenis
uap air pada temperatur dan tekanan tersebut akan menjadi 0,0373 lb/cu ft dan volume
spesifik akan menjadi 1/0,0373 atau 26,8 cu ft/lb. Sejumlah uap diabaikan pada waktu
caiaran menguap, sepanjang uap tersebut dapat meninggalkan ke udara luar sehingga
tekanan dan berat jenis uap di atas cairan tidak berubah, ciaran akan menguap lebih
lanjut pada 212
o
F.











Gambar 1.19 Pengaruh tekanan pada temperatur jenuh cairan

Andaikata katup penutup ditutup sebagian sehingga gas yang keluar dari bejana agak
terhalang, kadang-kadang kesetimbangan agak terganggu oleh uap yang tidak keluar
dari bejana sesuai dengan jumlah cairan yang menguap. Jumlah molekul uap dalam
ruangan di atas cairan akan meningkat, dengan meningkatnya berat jenis dan tekanan
uap di atas cairan, maka temperatur jenuh akan meningkat. Jika diasumsikan bahwa
26

temperatur uap meningkat sampai 5,3 psig (20 psia) sebelum kesetimbangan tercapai,
maka jumlah yang menjadi uap yang keluar sama dengan jumlah cairan yang menguap,
temperatur jenuh akan 228
o
F, berat jenis uap menjadi 0,0498 lb/cu ft dan 1 lb uap akan
mencapai volume 20,080 cu ft. Kondisi tersebut diilustrasikan pada Gambar 1.19b.
Dengan membandingkan kondisi uap pada Gambar 1.19b dengan uap dalam Gambar
1.19a, maka akan didapatkan berat jenis uap sangat besar pada tekanan tinggi dan
temperatur jenuh. Lebih lanjut, jelaslah bahwa tekanan dan temperatur jenuh cairan atau
uap dapat dikontrol oleh pengaturan jumlah uap yang keluar dari atas cairan. Dalam
Gambar 1.19a, jumlah penguapan akan kecil/sedikit atau tidak berpengaruh pada
tekanan dan temperatur jenuh karena uap keluar bebas sehingga berat jenis dan tekanan
uap di atas cairan akan meningkat atau menurun pada waktu penguapan berubah.
Sebaliknya, pada Gambar 1.19b, meningkatnya jumlah penguapan akan
menyebabkan peningkatan temperatur jenuh. Alasannya bahwa meningkatnya jumlah
penguapan mengharuskan dikeluarkannya uap sangat besar dan memerlukan waktu
yang lama. Karena ukuran pipa keluar uap ditentukan oleh pembukaan katup, maka
tekanan uap dalam bejana akan meningkat sampai tekanan berbeda antara di dalam dan
di luar bejana sehingga cukup untuk uap dapat keluar yang jumlahnya sama dengan
jumlah cairan yang menguap. Peningkatan tekanan dihasilkan oleh meningkatnya
temperatur jenuh dan berat jenis uap. Sebaliknya, menurunnya jumlah penguapan akan
mempunyai pengaruh yang berlawanan. Tekanan dan berat jenis uap di atas caiaran
akan menurun dan temperatur jenuh akan menjadi rendah. Sekarang diasumsikan bahwa
pembukaan katup pada wadah dibuka secara penuh, seperti pada Gambar 1.19a,
sehingga uap dapat keluar bebas dan tanpa halangan dari permukaan cairan. Berat jenis
dan tekanan uap akan menurun sampai tekanan uap akan sama dengan udara luar
wadah. Karena temperatur jenuh air pada tekanan atmosfir adalah 212
o
F dan karena
cairan tidak dapat tetap menjadi cairan pada temperatur di atas temperatur jenuh sama
seperti tekanan. Jelaslah bahwa air harus didinginkan dari 228
o
F sampai 212
o
F dengan
segera sehingga tekanan turun dari 20 psia menjadi tekanan atosfir. Pendinginan
dilanjutkan pada bagian cairan yang cepat menjadi uap. Panas laten dibutuhkan untuk
menguapkan bagian cairan yang cepat menjadi uap yang disuplai oleh massa cairan dan
hasil penguapan panas yang disuplai pada temperatur massa cairan akan berkurang dan
menjadi temperatur jenuh baru. Cairan yang telah cukup akan menguap dapat
menentukan jumlah pendinginan yang dibutuhkan.
27

BAB II
KOMPONEN UTAMA REFRIGERASI DAN TATA UDARA



A. Kompresor
Kompresor adalah bagian terpenting dari sistem refrigerasi. Pada tubuh manusia
kompresor dapat diumpamakan sebagai jantung yang memompa darah keseluruh tubuh
kita. Sedangkan kompresor menekan refrigeran ke semua bagian dari sistem. Pada
sistem refrigerasi kompresor bekerja membuat perbedaan tekanan, sehingga refrigeran
dapat mengalir dari satu bagian ke lain bagian dari sistem. Karena adanya perbedaan
tekanan antara sisi tekanan tinggi dan sisi tekanan rendah, maka refrigeran cair dapat
mengalir melalui alat ekspansi ke evaporator. Tekanan gas di dalam evaporator harus
lebih tinggi dari teklanan gas di dalam saluran hisap (suction), agar gas dingin dari
evaporator dapat mengalir melalui saluran hisap ke kompresor. Gas dingin tersebut di
dalam kompresor hermetik berguna untuk mendinginkan kumparan motor listrik dan
minyak pelumas kompresor. Kompresor pada sistem refrigerasi gunanya untuk:
1) Menurunkan tekanan di dalam evaporator, sehingga refrigeran cair di dalam
evaporator dapat mendidih/menguap pada suhu yang lebih rendah dan menyerap
panas lebih banyak dari ruang di dekat evaporator.
2) Menghisap refrigeran gas dari evaporator dengan suhu rendah dan tekanan rendah
lalu memampatkan gas tersebut sehingga menjadi gas suhu tinggi dan tekanan
tinggi. Kemudian mengalirkannya ke kondensor, sehingga gas tersebut dapat
memberikan panasnya kepada media pendingin kondensor lalu mengembun.
Pada sistem refrigerasi kompresi uap, terdapat beberapa macam kompresor yang sering
dipakai untuk mengkompresikan uap refrigeran. Kompresor dapat dibedakan
berdasarkan letak motornya dan cara kerjanya.

1. Jenis kompresor berdasarkan letak motornya
a. Kompresor open type
Kompresor ini disebut juga kompresor tipe terbuka (Gambar 2.1) karena antara
penggerak eksternal dengan bagian pengkompresinya tidak satu rumah (tidak bersatu),
sehingga diperlukan belt/flexible coupling sebagai penyambung penggerak ke
compressor shaft. Penggerak eksternal bisa menggunakan motor listrik, turbin ataupun
28

engine. Perlu digunakannya seal untuk mencegah kebocoran yang sering terjadi pada
poros yang keluar dari housing kompresor jika tekanan didalam crankcase lebih rendah
dibandingkan tekanan atmosfer. Pendingin motor menggunakan udara luar sehingga
perlu adanya ventilasi untuk membuang panas dari motor. Kelebihan dan Kekurangan
dari kompresor tipe ini ditunjukkan pada Tabel 2.1.



















Gambar 2.1 Kompresor Open-Type

Tabel 2.1 Kelebihan dan kekurangan kompresor open type
No. Kelebihan kekurangan
1. Memudahkan penggantian motor
tanpa membongkar sistem refrigerasi
Konstruksi lebih besar dan lebih
mahal.
2. Motor penggerak bisa menggunakan
turbin, diesel dan penggerak lain
tanpa bergantung aliran tenaga dari
PLN.

Sering terjadi kebocoran refrigeran
pada seal crank shaft yang keluar

29

b. Kompresor semi hermetic
Kompresor semi hermetic adalah kompresor yang motor penggeraknya berada
satu rumah dengan housing kompresornya serta didinginkan oleh refrigeran,
ditunjukkan oleh Gambar 2.2. Arti semi hermetic di sini adalah seal pada housing
compressor didesain supaya bisa dibuka untuk perbaikan dan overhaul kompresor atau
motornya. Sama halnya dengan kompresor hermetic, panas motor didinginkan melalui
refrigeran dari suction line, refrigeran dari injeksi liquid line dan oli kompresor.
Kelebihan dan kekurangan kompresor tipe ini ditunjukkan pada Tabel 2.2.















Gambar 2.2 Kompresor Semi hermetic

Tabel 2.2 Kelebihan dan kekurangan kompresor semi hermetic
No. Kelebihan kekurangan
1. Memudahkan penggantian motor
karena seal antara motor dan
kompresor yang bisa dibuka.

Ketika terjadi kerusakan mekanis,
maka semua sistem harus dibersihkan.

2. Harga lebih ekonomis dibandingkan
kompresor open type
Ketika terjadi pecah katup akibat
liquid suction biasanya disertai motor
terbakar akibat serpihan logam masuk
ke dalam motor.

Discharge
Opening
Connecting
Rod
Crank Shaft
Oil Filter
Oil Reservoir
Cylinder
Piston
Suction
Opening
Stator Winding
Rotor
Housing
Compressor
Crank Case
30

c. Kompresor hermetic
Kompresor hermetic adalah kompresor yang motor penggeraknya dipatenkan
berada satu rumah dengan housing kompresornya, sehingga tidak diperlukan shaft
coupling, seperti ditunjukkan oleh Gambar 2.3. Panas motor didinginkan melalui
refrigeran dari suction line dan oli kompresor. Kelebihan dan kekurangan kompresor
tipe ini ditunjukkan pada Tabel 2.3.












Gambar 2.3. Hermetic-Type Compressor

Tabel 2.3 Kelebihan dan kekurangan kompresor hermetic
No. Kelebihan kekurangan
1. Harga murah. Ketika motor terbakar, maka jarang
diservice biasanya langsung diganti.
2. Noise level rendah. Level oli sulit dilihat.

2. Jenis kompresor berdasarkan cara kerjanya
a. Kompresor Reciprocating (Torak)
Sesuai dengan namanya, kompresor ini menggunakan torak atau piston yang
diletakkan di dalam silinder. Piston dapat bergerak bebas turun naik untuk
menimbulkan efek penurunan volume gas yang berada di bagian atas piston. Di bagian
atas silinder diletakkan katup yang dapat membuka dan menutup karena mendapat
tekanan dari gas. Kebanyakan unit kompresor reciprocating memiliki lebih dari satu
piston-silinder yang berada pada satu crankshaft. Refrigeran yang paling banyak
digunakan untuk kompresor reciprocating diantaranya refrigeran 12, refrigeran 22,
31

refrigeran 500, refrigeran 502 dan refrigeran 717 (Ammonia). Motor pada kompresor
reciprocating didinginkan melalui gas refrigeran dari suction lain. Pada Gambar 2.4
ditunjukkan tipe kompresor reciprocating.








Gambar 2.4 Kompresor resiprocating

b. Kompresor rotary centrifugal
Pada Gambar 2.5 ditunjukkan tipe kompresor rotary centrifugal. Kompresi pada
kompresor sentrifugal menggunakan prinsip kompresi dinamik dengan melibatkan
perubahan energi untuk menaikkan tekanan dan temperatur refrigeran.













Gambar 2.5 Rotary-Centrifugal Compressor
Proses kompresi pada kompresor sentrifugal mengubah energi kinetik (kecepatan)
menjadi energi statik (tekanan). Pada kompresor sentrifugal penambahan tekanan gas
dilakukan dengan memutar impeller. Impeller mempunyai sudu-sudu (blade),
Discharge port
Discharge line
Inlet Guide Vane
Suction Port
Volute Diffuser
Rotor
Impeller
Suction
Line
32

ditunjukkan oleh Gambar 2.6. Akibat berputarnya impeller ini maka gas yang masuk
melalului sisi inlet akan menerima gaya sentrifugal, dengan bentuk sudu dan keluar dari
sekeliling impeller. Setelah gas tersebut keluar dari impeller maka gas yang sudah
mempunyai tekanan tersebut akan mengalir melalui diffuser dan volute.













Gambar 2.6 Impeller blade, passage, diffuser passage dan volute

Pada diffuser dan Volute ini kecepatan gas dikurangi dan akibatnya tekanan gas akan
bertambah besar. Gas yang sudah mempunyai tekanan tinggi dialirkan melalui keluar
(discharge line). Kalau tekanan yang keluar dari kompresor kurang besar seperti untuk
mendapatkan gas dengan tekanan yang tinggi maka dipakai multy-stage centrifugal
compressor, seperti Gambar 2.7.







Gambar 2.7 Multistage Centrifugal Compressor
Pada kompresor multy-stage (bertingkat) centrifugal compressor ini gas dari
impeller pertama setelah melalui diffuser akan mengalir ke impeller berikutnya. Untuk
33

diperbesar tekanannya. Jadi pada setiap impeller gas akan memperoleh tambahan
tekanan. Makin banyak impeller maka makin besar tekanan didapatkan. Setiap tingkat
(stage ) mempunyai sebuah impeller dan diffuser. Kompresor sentrifugal dilengkapi
satu atau lebih impeller untuk mengkompresi refrigeran. Suatu multistage kompresor
akan menggunakan lebih dari satu impeller untuk menaikkan tekanan refrigeran.
Refrigeran yang telah dikompresi keluar dari outlet stage pertama impeller kompresor
dan kemudian masuk ke dalam inlet stage kedua impeller kompresor. Setelah
berakselarasi, uap refrigeran akan meninggalkan impeller terakhir dan terkumpul di
volute untuk disalurkan ke kondenser.

c. Kompresor helical-rotary screw
Pada Gambar 2.8 ditunjukkan tipe kompresor helical-rotary screw. Kompresor
tipe ini menggunakan 2 buah screw, seperti rotor, yang berfungsi sebagai alat
pengkompresi. Male screw merupakan screw yang digerakkan oleh motor, sedangkan
female screw bergerak mengikuti male screw. Namun ada juga kompresor screw yang
hanya menggunakan single screw dilengkapi dengan dua buah stargate (rotor gate)
sebagai alat pengkompresinya.











Gambar 2.8 Kompresor twin screw dan single screw

Pada umumnya jenis kompresor twin screw adalah yang lebih banyak digunakan
dalam sistem refrigerasi. Prinsip utama pengkompresian pada kompresor twin screw
adalah menjebak refrigeran pada celah-celah screw dengan menyempitkan volume
34

ruangnya. Langkah-langkah kompresi pada kompresor twin screw dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1) sejumlah refrigeran masuk melalui intake port dari sebelah kanan, gas yang masih
bertekanan suction akan dibatasi oleh housing kompresor, seperti terlihat pada
Gambar 2.9.
2) Selanjutnya akibat putaran dari rotor akan menjebak uap refrigeran ke sebelah
kanan menuju meshing point (titik penjebakan).
3) Rotor masih terus berputar yang akan menyebabkan meshing point yang berisi uap
refrigeran bergerak menuju katup discharge diakhir dari kompresor.
4) Pada akhirnya, celah ulir yang terisi refrigeran yang sudah terkompresi keluar
menuju discharge port. Pada kompresor twin screw tidak ada katup yang digunakan
untuk memasukkan dan mengeluarkan refrigeran tetapi menggunakan port.
Kompresor dengan model ini disebut ported.











Gambar 2.9 Mekanisme refrigeran di kompresor

d. Kompresor scroll
Kompresor scroll bekerja dengan menggunakan prinsip menjebak uap refrigeran
dan mengkompresikannya dengan penyempitan volume refrigeran secara perlahan-
lahan. Kompresor scroll menggunakan konfigurasi dua scroll yang dipasang saling
berhadapan. Kompresor scroll biasanya digunakan untuk sistem heat pump, AC Split,
Windows AC, Split Duct dan Water Chiller berskala kecil. Sroll paling atas disebut
stationary scroll, dimana terdapat discharge port. Sedangkan scroll paling atas disebut
driven scroll, yang dihubungkan dengan motor melalui poros dan bearing. Stationary
35

Scroll adalah scroll yang diam sedangkan Driver scroll adalah scrol yang berputar.
Selengkapnya Gambar 2.10 menampilkan tipe kompresor scroll.
















Gambar 2.10 Kompresor Scroll

B. Kondensor
Kondensor gunanya untuk membuang kalor dan mengubah wujud refrigeran dari
gas menjadi cair. Kondensor seperti namanya adalah alat untuk membuat kondensasi
refrigeran gas dari kompresor dengan suhu tinggi dan tekanan tinggi. Refrigeran di
dalam kondensor dapat mengeluarkan kalor yang diserap dari evaporator dan panas
yang ditambahkan oleh kompresor. Kondensor ditempatkan antara kompresor dan alat
ekspansi, jadi pada sisi tekanan tinggi dari sistem. Kondensor ditempatkan di luar
ruangan yang sedang didinginkan, agar dapat membuang panasnya ke luar kepada
media pendinginnya. Pemilihan jenis dan ukuran kondensor untuk suatu sistem,
terutama didasarkan pada yang paling ekonomis, seperti: harga dari kondensor, jumlah
energi yang diperlukan, harga dan keadaan media pendingin yang akan dipakai untuk
mendinginkan kondensor. Selain itu tempat atau ruangan yang diperlukan oleh
kondensor juga harus diperhitungkan. Kondensor dapat dibagi menjadi tiga jenis
Stationary
scroll
Driven scroll
Suction
Port
Discharge
Port
Suction
Port
36

berdasarkan pada media pendinginnya yaitu: (1). Kondensor dengan pendingin udara
(air cooled); (2). Kondensor dengan pendingin air (water cooled). (3). Kondensor
dengan pendingin campuran udara dan air (evaporative).

1. Air Cooled Condenser
Air Cooled Condenser adalah kondenser yang menggunakan udara sebagai
cooling mediumnya, biasanya digunakan pada sistem berskala rendah dan sedang
dengan kapasitas hingga 20 ton refrigerasi, ditunjukkan pada Gambar 2.11 . Air Cooled
Condenser merupakan peralatan AC standard untuk keperluan rumah tinggal
(residental) atau digunakan di suatu lokasi di mana pengadaan air bersih susah diperoleh
atau mahal. Untuk melayani kebutuhan kapasitas yang lebih besar biasanya digunakan
multiple air colled condenser. Pemakaian air cooled condenser meningkat pesat untuk
pemakaian unit berskala rendah dan sedang karena lebih mudah pemeliharaannya. Air
colled condenser terdiri dari pipa tembaga yang dibentuk coil (continues tube coil) yang
dilengkapi dengan rangkaian lembaran tipis alumunium yang disebut fin (finned tube)
untuk mempertinggi luas permukaan transfer panas. Dalam operasinya, gas panas
masuk melalui bagian atas coil, dan liquid refrigeran akan diperoleh di bagian bawah
coil kemudian dialirkan menuju ke Liquid Receiver yang terletak di bagian bawah
condenser. Air-cooled condenser harus selalu diletakkan pada ruangan yang mempunyai
lubang ventilasi, untuk dapat membuang panasnya ke udara sekitarnya dan
menggantinya dengan udara segar. Untuk membantu proses penukaran kalor tersebut,
digunakan fan yang akan menarik udara menuju ke coil dan kemudian membuangnya ke
udara atmosfir.










Gambar 2.11 Air Cooled Condenser
37

Air cooled condenser biasanya didesain oleh pabrikannya agar suhu
kondensingnya berkisar antara 30 sampai 40
0
F di atas suhu ambien (udara sekitar).
Salah satu kelemahan dari air cooled condenser adalah bila suhu ambien meningkat
tinggi, misalnya mencapai 110
o
F, pada kondisi tersebut maka suhu kondensingnya
menjadi katakanlah 150 F. Untuk sistem yang menggunakan R12 maka tekanan
kondensingnya dapat mencapai 249 psia atau 369 psia bila menggunakan R22.
Dibandingkan dengan pemakaian water cooled condenser, pada suhu ambien 110
0
F
maka suhu airnya katakanlah mencapai 75
o
F, sehingga suhu dan tekanan kondensing
untuk R12 adalah 100
0
F dan 130 psia atau 210 psia untuk R22, sehingga komsumsi
daya yang diambil kompresornya juga lebih rendah. Berikut ini diberikan sebuah contoh
kasus untuk lebih memperjelas untung rugi menggunakan air cooled condenser. Water
cooled condenser dengan suhu air 75
0
F, memperlukan kompresor yang berkapasitas 5
Hp untuk menghasilkan efek refrigerasi sebesar 5 ton. Bila menggunakan air colled
condenser maka untuk menghasilkan efek refrigerasi yang sama diperlukan kompresor
yang berkapasitas 7,5 Hp.
Ada dua metoda mengalirkan udara pada jenis ini, yaitu konveksi alamiah dan
konveksi paksa dengan bantuan kipas. Konveksi secara alamiah mempunyai laju aliran
udara yang melewati kondenser sangat rendah, karena hanya mengandalkan kecepatan
angin yang terjadi pada saat itu. Oleh karena itu kondensor jenis ini hanya cocok untuk
unit-unit yang kecil seperti kulkas, freezer untuk keperluan rumah tangga, dan lain-lain.
Kondensor berpendingin udara yang menggunakan bantuan kipas dalam
mensirkulasikan media pendinginannya dikenal sebagai kondensor berpendingin udara
konveksi paksa. Secara garis besar, jenis kondensor dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu:
a. Remote condenser
Jenis remote air cooled condenser, pada Gambar 2.12, yang dipasang di dalam
ruangan harus mendapat cukup sirkulasi udara luar. Untuk pemasangan di luar ruangan
harus diperhatikan orientasi matahari dan arah angin agar kondenser terlindung dan
mendapat sirkulasi udara yang cukup. Kapasitasnya berkisar antara 1 kW sampai 500
kW atau lebih. Rancangan yang baik dilihat dari kecepatan aliran udara minimum yang
menghasilkan aliran turbulen dan koefisien perpindahan panas yang tinggi. Kenaikan
laju aliran udara dari suatu titik dapat menyebabkan drop tekanan berlebihan sehinggga
daya motor kipas kondenser harus dinaikan agar sirkulasi udara bertambah besar.
38

Kecepatan aliran udara yang melewati sebuah air cooled condenser didefinisikan
sebagai berikut :

Kecepatan udara normal biasanya berkisar antara 2,5 m/s sampai dengan 6 m/s. Cp
adalah panas jenis udara sekitar kondensor, T adalah selisih temperatur udara
melewati kondensor, dan adalah rapat massa udara sekitar kondensor.







Gambar 2.12 Jenis remote air cooled condenser

b. Condensing unit.
Kapasitas kondensor jenis condensing unit pada Gambar 2.13 biasanya cocok
untuk beban mulai < 1 kW s/d 500 kW, bahkan kadang dapat lebih dari 500 kW.
Keuntungan dari air cooled condenser adalah tersedianya udara yang cukup sebagai
media pendingin tanpa memerlukan biaya tambahan. Sedangkan kerugiannya adalah
sistem refrigerasi beroperasi pada tekanan kerja yang lebih tinggi jika dibandingkan
dengan kondenser berpendingin air, akibatnya kompressor akan memerlukan daya yang
lebih besar sebagai kompensasi dari kenaikan tekanan dan temperatur kerjanya.








Gambar 2.13 Condensing unit.
39

2. Water Cooled Condenser
Kondeser dengan pendinginan air (water-cooled condenser) digunakan pada
sistem yang berskala besar untuk keperluan komersial di lokasi yang mudah
memperoleh air bersih. Water Cooled Condenser biasanya menjadi pilihan yang
ekonomis bila terdapat suplai air bersih secara mudah dan murah. Faktor lain yang perlu
mendapat pertimbangan adalah adanya tumpukan kotoran dan kerak air di dalam pipa-
pipa air pendingin bila kualitas airnya tidak bagus. Pada condenser jenis ini seperti
tampak pada Gambar 2.14, suhu dan banyaknya air sebagai media pendingin kondenser
akan menentukan suhu dan tekanan kondensing dari sistem refrigerasinya dan secara
tidak langsung juga akan menentukan kapasitas kompresinya.









Gambar 2.14 Water Cooled Condenser

Pada lokasi di mana air perlu dihemat karena kesulitan memperoleh air bersih,
maka biasanya digunakan Cooling Tower. Efek mengggunakan cooling tower, maka air
hangat yang keluar dari kondenser dapat didinginkan lagi sampai mendekati tingkat
suhu wet bulb ambient temperatur. Hal ini memungkinkan untuk terus mensirkulasi air
dan mengurangi komsumsi penggunaan air. Water cooled condenser dibedakan menjadi
dua macam, yaitu :
a. Sistem air buang, digunakan untuk sistem sangat kecil namun bersifat boros.
b. Sistem air tersirkulasi ulang.
Pengalaman menunjukkan bahwa laju aliran air untuk sistem air tersirkulasi ulang
antara 0,045 l/s sampai 0,06 l/s per kW adalah paling ekonomis dan seimbang antara
daya yang dibutuhkan kompresor dengan yang dibutuhkan pompa. Makin rendah laju
aliran air, maka makin tinggi kenaikkan temperatur, sehingga dibutuhkan rangkaian
pipa yang lebih panjang. Faktor yang harus diperhatikan adalah kecepatan air dan
40

koefisien perpindahan panas. Faktor lain yang harus diperhatikan adalah pengotoran
permukaaan pipa sehingga akan mengurangi koefisien perpindahan panas dan
menghambat laju aliran air serta meningkatkan tekanan kondenser. Laju pengotoran
pipa dipengaruhi oleh : 1) Kualitas air yang digunakan, 2) Temperatur kondensasi, 3)
Frekuaensi pembersihan pipa yang berhubungan dengan waktu pemakaian total.
Ada tiga jenis water cooled condenser, yaitu :
1) Jenis shell and tube
2) Jenis shell and coil
3) Jenis pipa ganda (double pipe)
Kondenser jenis shell and coil dan double tube digunakan untuk kapasitas kecil, yaitu
sampai kira-kira 35 kW, sedangkan jenis shell and tube untuk kapasitas mulai dari 7 kW
sampai ratusan kW bahkan lebih.
a. Shell and Tubes Condenser
Shell and Tubes Condenser pada Gambar 2.15, terdiri dari sebuah silinder
(Shell) yang terbuat dari besi di mana di dalam shell tersebut diletakkan rangkaian pipa-
pipa lurus sepanjang silindernya. Air pendingin disirkulasikan di dalam pipa-pipa
sehingga gas refrigeran yang berada di dalam shell akan dapat memindahkan kalornya
ke air pendingin melalui permukaan pipa-pipa air tersebut. Suhu gas refrigeran akan
turun tetapi tekanannya tetap tidak berubah. Bila penurunan suhu gas mencapai titik
pengembunannya maka akan terjadi proses pengembunan (kondensasi), dalam hal ini
terjadi perubahan wujud gas menjadi liquid yang tekanan dan suhunya masih cukup
tinggi (tekanan kondensing).










Gambar 2.15 Shell and Tubes Condenser
41

Bagian dasar dari shell berfungsi juga sebagai penampung cairan (liquid) refrigeran.
Pada sistem ini rangkaian water coolingnya dibentuk secara paralel. Penggunaan sirkit
paralel akan menghasilkan rugi tekanan (pressure drop) yang rendah di dalam
rangkaiannya.
b. Shell and Coil Condenser
Di dalam konstruksi Shell and Coil Condenser pada Gambar 2.16, maka pipa-
pipa airnya tidak dibuat lurus sepanjang silinder melainkan berbentuk coil sepanjang
silinder besinya. Dalam sistem ini rangkaian water coolingnya dibentuk secara secara
seri.







Gambar 2.16 Shell and Coil Condenser

c. Tubes in Tube Condenser
Tubes in tube condenser seperti tampak pada Gambar 2.17, menjadi populer
penggunannya baik untuk keperluan residental maupun komersial karena konstruksinya
yang lebih sederhana. Desain condenser ini terdiri dari coil yang berupa pipa kecil yang
dimasukkan di dalam pipa yang lebih besar diameternya. Di dalam pipa kecil dialirkan
air pendingin sedang refrigerannya mengalir di dalam pipa besar. Jadi refrigerannya
didinginkan oleh air yang berada di pipa kecil dan sekaligus oleh udara sekitar pipa
besar sehingga dapat meningkatkan efisiensinya.







Gambar 2.17 Tubes and Tube Condenser
42

3. Evaporative Condenser
Pada Gambar 2.18 ditunjukkan jenis evaporative condenser, pada sistem ini
panas dipindahkan dengan menggunakan air dan udara yang dimodifikasi sedemikian
rupa sehingga dapat menghasilkan efek yang baik bagi kapasitas kondenser. Kondenser
jenis ini didinginkan langsung dengan air yang disemburkan dan hembusan udara yang
menambah efek pendinginan kondenser. Tingkat keefektifan evaporative condenser
tergantung pada suhu wet bulb dari udara yang masuk ke dalam unitnya, di mana suhu
wet bulb tersebut ditentukan oleh suhu water spray-nya. Condensing unit dengan jenis
ini biasanya digunakan untuk sistem yang berkapsitas di atas 100 ton refrigerasi. Selama
operasinya pompa akan mensirkulasi air pendingin dari water pan menuju ke coil
condenser melalui spray nozzle, dalam hal ini diperlukan suplai air tambahan untuk
mencegah kotoran/lumpur masuk dan menempel pada permukaan coil condensernya
dan disamping itu juga digunakan untuk mengurangi efek keasaman air pendinginnya.















Gambar 2.18 Evaporative condenser

Centrifugal fan akan menghisap panas yang dikandung udara dan air. Udara
ditarik dari bagian bawah (dasar) menuju ke atas melalui rankaian pipa refrigeran
(condenser), eliminator dan fan. Pipa refrigerannya tidak dilengkapi dengan fin (non
finned tube) agar tidak terjadi penimbunan kotoran dan debu pada pipanya yang dapat
43

mengganggu aliran udaranya. Condenser ini dapat diletakkan di luar (out door) ataupun
di dalam (indoor) ruangan. Bila diletakkan di dalam ruangan harus dilengkapi dengan
sistem ventilasi yang baik dengan menggunakan duct untuk membuang udara panas di
mana tingkat humiditas relatifnya telah meningkat secara tajam ke luar ruangan.
Tekanan air yang disirkulasikan oleh suatu pompa biasanya sebesar 15 psi sedang
kecepatan udara yang melewati coil sebesar 600 fpm. Sebagian kecil airnya akan
menguap karena proses transfer panas. Air yang tidak menguap akan memperoleh
pendinginan karena panasnya ditarik oleh fan yang memproduksi adiabatic cooling
terhadap air tersebut sehingga suhu air dapat diturunkan hingga mencapai titik tertentu.
Gas panas refrigeran mengalir masuk ke condenser, selanjutnya gas panas tersebut akan
berubah wujud menjadi liquid refrigeran dan akan ditampung di receiver.
Gas refrigeran yang keluar dari sisi tekan kompresor disalurkan ke kondenser.
Gas tersebut mempunyai suhu dan tekanan tinggi dalam kondisi superheat. Selanjutnya
saat berada di kondenser gas panas lanjut tersebut mengalami penurunan suhu akibat
adanya perbedaan suhu antara gas dan medium lain yang ada disekitarnya, yang dapat
berupa udara atau air. Penurunan suhu gas refrigeran tersebut diatur sampai mencapai
titik embunnya. Akibatnya refrigerannya akan merubah bentuk dari gas menjadi liquid
yang masih bertekanan tinggi. Dari pengalaman, agar diperoleh performa yang optimal
dari mesin refrigerasi kompresi gas maka suhu kondensasinya diatur agar mempunyai
harga 6 sampai 17 derajat celsius di atas suhu ambien tergantung dari suhu
evaporasinya, seperti tampak pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4 Patokan penentuan suhu kondensasi
Suhu Evaporasi
(0
C)
Suhu Kondensasi
(Air Cooled Condenser)
Suhu Kondensasi
(Water Cooled Condenser)
- 18 sampai -23 Suhu ambien + 9
0
C Suhu air + 6
0
C
- 10 sampai -17 Suhu ambien + 11
0
C Suhu air + 8
0
C
- 4 sampai - 9 Suhu ambien + 14
0
C Suhu air + 11
0
C
di atas - 3 Suhu ambien + 17
0
C Suhu air + 14
0
C

Berdasarkan patokan di atas, maka suhu dan tekanan kondensasi dapat ditentukan
dengan cepat dan akurat.



44

C. Evaporator
Evaporator juga disebut: Boiler, freezing unit, low side, cooling unit atau nama
lainnya yang menggambarkan fungsinya atau lokasinya. Fungsi dari evaporator adalah
untuk menyerap panas dari udara atau benda di dalam ruangan yang didinginkan.
Kemudian membuang kalor tersebut melalui kondensor di ruang yang tidak
didinginkan. Kompresor yang sedang bekerja menghisap refrigeran gas dari evaporator,
sehingga tekanan di dalam evaporator menjadi rendah. Evaporator fungsinya kebalikan
dari kondensor. Tidak untuk membuang panas ke udara di sekitarnya, tetapi untuk
mengambil panas dari udara di dekatnya. Kondensor ditempatkan di luar ruangan yang
sedang didinginkan, sedangkan evaporator ditempatkan di dalam ruangan yang sedang
didinginkan. Kondensor tempatnya diantara kompresor dan alat ekspansi, jadi pada sisi
tekanan tinggi dari sistem. Evaporator tempatnya diantara alat ekspansi dan kompresor,
jadi pada sisi tekanan rendah dari sistem. Evaporator dibuat dari bermacam-macam
logam, tergantung dari refrigeran yang dipakai dan pemakaian dari evaporator sendiri.
Logam yang banyak dipakai: besi, baja, tembaga, kuningan dan aluminium.
1. Jenis evaporator berdasrkan konstruksinya
a. Bare tube evaporator
Evaporator jenis bare-tube pada Gambar 2.19, terbuat dari pipa baja atau pipa
tembaga. Penggunaan pipa baja biasanya untuk evaporator berkapasitas besar yang
menggunakan refrigerant ammonia. Pipa tembaga biasa digunakan untuk evaporator
berkapasitas rendah dengan refrigeran selain ammonia.










Gambar 2.19 Bare tube evaporator
(Sumber: toolboxes.flexiblelearning.net.au)


b. Finned tube evaporator
Evaporator jenis finned tube pada Gambar 2.20 adalah evaporator bare-tube
tetapi dilengkapi dengan sirip-sirip yang terbuat dari plat tipis alumunium yang
45

dipasang disepanjang pipa untuk menambah luas permukaan perpindahan panas. Sirip-
sirip alumunium ini berfungsi sebagai permukaan transfer panas sekunder. Jarak antar
sirip disesuaikan dengan kapasitas evaporator, biasanya berkisar antara 40 sampai 500
buah sirip per meter. Evaporator untuk keperluan suhu rendah, jarak siripnya berkisar
80 sampai 200 sirip per meter. Untuk keperluan suhu tinggi, seperti room AC, jarak fin
berkisar 1,8 mm.







Gambar 2.20 Finned tube evaporator
(Sumber: www.watcharaaircon.com)

c. Plate surface evaporator
Evaporator permukaan plat atau plate-surface pada Gambar 2.21, dirancang
dengan berbagai jenis. Beberapa diantaranya dibuat dengan menggunakan dua plat tipis
yang dipres dan dilas sedemikian sehingga membentuk alur untuk mengalirkan
refrigeran.. Cara lainnya, menggunakan pipa yang dipasang diantara dua plat tipis
kemudian dipress dan dilas.









Gambar 2.21 Plate surface evaporator
(Sumber: tommyji.en.made-in-china.com)

2. Jenis evaporator berdasarkan metoda pemasokan refrigerannya
a. Dry expansion evaporator
Pada jenis expansi kering ditunjukkan oleh Gambar 2.22, cairan refrigerant yang
diexpansikan melalui katup expansi, pada waktu masuk ke dalam evaporatot sudah
46

dalam keadaan campuran cair dan uap, sehingga keluar dari evaporator dalam keadaan
uap kering. Oleh sebagian besar dari evaporator terisi oleh uap refrigerant, maka
perpindahan kalor yang terjadi tidak begitu besar, jika dibandingkan dengan keadaan
dimana evaporator terisi oleh refrigerant cair. Akan tetapi, evaporator jenis expansi
kering tidak memerlukan refrigerant dalam jumlah yang besar. Disamping itu, jumlah
minyak pelumas yang tertinggal di dalam evaporator sangat kecil.






Gambar 2.22 Dry expansion evaporator
(Sumber: www.tradekorea.com)

b. Flooded evaporator
Pada evaporator tipe banjir ditunjukkan oleh Gambar 2.23, gelembung
refrigerant yang terjadi karena pemanasan akan naik kemudian pecah pada cair atau
terlepas dari permukaannya. Sebagian refrigeran kemudian masuk ke dalam akumulator
yang memisahkan uap dari cairan maka refrigerant yang ada dalam bentuk uap sajalah
yang masuk ke dalam kompresor. Bagian refrigerant cair yang dipisahkan di dalam
akumulator akan masuk kembali ke dalam evaporator, bersama-sama dengan refrigerant
(cair) yang berasal dari kondensor. Jadi tabung evaporator terisi oleh cairan refrigeran.
Cairan refrigeran menyerap kalor dari fluida yang hendak digunakan (air larutan garam,
dsb), yang mengalir di dalam pipa uap refrigeran yang terjadi dikumpulkan di bagian
atas dari evaporator sebelum masuk ke kompresor.







Gambar 2.23 Flooded evaporator
(Sumber: www.freepatentsonline.com)
47

3. Jenis evaporator berdasarkan sirkulasi udaranya
a. Natural convection evaporator
Natural convection evaporator adalah evaporator yang aliran udaranya mengalir
secara alami tanpa adanya dorongan atau paksaan dari kipas atau blower. Pada
evaporator jenis ini udara yang telah didinginkan akan jatuh ke bawah karena massa
jenisnya yang lebih berat dari udara yang lebih panas.














Gambar 2.24 Natural convection evaporator
(Sumber: www.scielo.br)

b. Forced convection evaporator
Pada Forced convection evaporator ditunjukkan oleh Gambar 2.25, udara yang
mengalir melalui evaporator dihembuskan secara paksa menggunakan kipas atau
blower. Sehingga sirkulasi udara berlangsung secara cepat dan lebih efektif. Pada
beberapa jenis sistem refrijerasi dan tata udara, kecepatan aliran udara dapat diatur
dengan mengatur hembusan dari kipas atau blower tersebut.







Gambar 2.25 Forced convection evaporator
(Sumber: ahmedabad.khojle.in)
48

4. Jenis evaporator berdasarkan fluida yang didinginkan
a. Air cooling evaporator
Evaporator jenis air cooling, adalah evaporator yang mendinginkan produk
dengan udara dingin yang telah melawati evaporator tersebut, udara yang telah
didinginkan didistribusikan untuk mendinginkan benda atau udara yang akan
dikondisikan, penggunaan evaporator jenis ini biasanya seperti AC split, Cold storage
room dan lemari es.
b. Liquid chilling evaporator
Liquid chilling evaporator mendinginkan fluida cair biasanya berupa air atau
larutan ari dengan garam. Air yang telah didinginkan nantinya akan didistribusikan pada
wadah yang dinamakan AHU (khusus untuk AC) untuk mendinginkan ruangan, atau
didistribusikan ke dalam pipa ganda yang memiliki dua lubang untuk mendinginkan
produk cair seperti susu. Penggunaan liquid chilling evaporator biasanya pada AC
central, pabrik susu dan pabrik es komersial. Liquid chilling evaporator ada beberapa
jenis yaitu:
1) Double pipe cooler (tube in tube cooler)
Tube in tube cooler seperti Nampak pada Gambar 2.26 adalah evaporator yang
pipanya terdiri dari dua lubang yang salurannya berbeda, saluran yang satu biasanya
adalah untuk saluran refrigeran, sedangkan saluran yang satunya lagi biasanya untuk
fluida yang akan didinginkan, biasanya air. Selain itu, pada tube in tube cooler saluran
pertama biasanya untuk aliran air dingin dan saluran yang satunya lagi untuk produk
yang akan didinginkan seperti susu. Aliran kedua fluida yang mengalir biasanya
berlawanan arah supaya perpindahan kalor menjadi lebih efektif.









Gambar 2.26 Tube in tube evaporator
(Sumber: www.packless.com)

49

2) Baudelot cooler (falling film surface)
Pada baudelot cooler yang ditunjukkan oleh Gambar 2.27, air diguyurkan
melalui pipa-pipa evaporator. Sehingga, pada lapisan pipa tersebut membentuk lapisa es
yang tipis, kemudian air yang jatuh ditampung pada panampungan air dan selanjutnya
didistribusikan untuk mendinginkan benda atau ruangan.











Gambar 2.27 Baudelot cooler
(Sumber: www.colmaccoil.com)

3) Shell and coil evaporator
Shell and coil evaporator pada Gambar 2.28, terbuat dari sebuat tabung yang
besar. Pada bagian dala tabung tersebut terdapat pipa yang berbentuk seperti lilitan atau
coil. Pada coil tersebut dialirkan refrigeran, sedangkan pada bagian tabung/shell
dialirkan air.







Gambar 2.28 Shell coil evaporator

4) Shell and tube evaporator
Shell and tube evaporator yang nampak pada Gambar 2.29, terdiri dari sebuah
tabung besar yang di dalamnya dipasang pipa-pipa. Pada pipa-pipa tersebut dialirkan air
50

yang akan didinginkan, selanjutnya air tersebut digunakan untuk mendinginkan ruangan
atau benda. Penggunaan shell and tube evaporator biasanya pada chiller.











Gambar 2.29 Shell and tube evaporator

5. Jenis evaporator berdasarkan sistem kontak refrigerannya
a. Direct system
Direct system adalah jenis evaporator yang proses pendinginannya langsung
mendinginkan produk atau ruangan yang akan dikondisikan, refrigeran yang menguap
pada evaporator langsung mengambil kalor dari produk atau ruangan yang akan
dikondisikan.
b. Indirect system
Pada indirect system, uap refrigeran yang menguap mengambil kalor dari fluida
yang didinginkan, fluida tersebut biasanya disebut dengan secondary refrigerant.
Refrigeran sekunder tersebut nantinya akan mendinginkan ruangan atau produk yang
akan dikondisikan. Sistem yang biasanya menggunakan indirect system adalah water
chiller dan pabrik es komersial.

D. Alat ekspansi
Alat ekspansi (metering device) pada sistem refrigerasi merupakan suatu tahanan
yang tempatnya diantara sisi tekanan tinggi dan sisi tekanan rendah. Refrigeran cair
yang mengalir melalui alat ekspansi, tekanannya diturunkan dan jumlahnya diatur
sesuai dengan keperluan evaporator. Alat ekspansi harus memberikan kapasitas yang
maksimum kepada evaporator, tetapi tidak membuat beban lebih kepada evaporator.
51

Alat ekspansi bekerjanya atas dasar: 1) perubahan tekanan, 2) perubahan suhu, 3)
perubahan jumlah atau volume refrigeran, 4) gabungan dari perubahan tekanan, suhu
dan volume refrigeran. Kompresor harus mempunyai kapasitas yang cukup besar untuk
menghisap refrigeran dari evaporator. Refrigeran yang dihisap harus lebih besar
jumlahnya daripada yang dialirkan keluar dari alat ekspansi. Kompresor yang dapat
melaksanakan hal ini, dapat mempertahankan tekanan yang rendah atau vakum di
evaporator. Hal ini perlu untuk membuat refrigeran di evaporator menguap pada suhu
yang rendah. Untuk mengatur jumlah aliran refrigeran dan membuat perbedaan tekanan
pada sistem, dahulu sistem refrigerasi memakai alat eksapansi yang harus selalu diawasi
dan dapat diputar dengan tangan. Sekarang setelah mendapat banyak kemajuan dalam
bidang: perencanaan, pelaksanaan dan perawatan, telah dapat dibuat alat eksapansi pada
sistem refrigerasi yang bekerjanya: efisien, ekonomis dan otomatis.
Berdasarkan cara kerjanya alat ekspansi terbagi menjadi enam jenis yaitu:
1. Keran ekspansi yang diputar dengan tangan (manual)
Sistem refrigerasi yang memakai keran ekspansi yang diputar dengan tangan
ditunjukkan oleh Gambar 2.30, harus selalu diawasi oleh seorang penjaga agar dapat
memberikan jumlah refrigeran yang tertentu, sesuai dengan keperluan dan keadaan
sistem.









Gambar 2.30 keran ekspansi yang diputar dengan tangan
(Sumber: Handoko, 1981:105)

Jumlah refrigeran yang mengalir ke evaporator, dapat ditambah atau dikurangi
dengan membuka atau menutup keran ekspansi tersebut. Jumlah refrigeran cair yang
mengalir melalui keran ekspansi tergantung dari perbedaan tekanan antara lubang
orifice dan besarnya lubang pembukaan keran. Besarnya lubang pembukaan keran dapat
diatur dengan tangan oleh penjaga. Misalkan beda tekanan diantara orifice tetap sama,
52

jumlah aliran refrigeran cair yang melalui keran ekspansi setiap saat juga akan tetap
sama, tidak dipengaruhi oleh tekanan maupun beban di evaporator.

2. Keran pelampung sisi tekanan rendah
Alat ini disebut juga dengan istilah low pressur side float valve atau low side
float (LSF), seperti ditunjukkan oleh Gambar 2.31. Pelampung berada di dalam tabung
evaporator pada bagian sisi tekanan rendah. Gunanya untuk mengatur dan
mempertahankan tinggi permukaan refrigeran cair di dalam evaporator. Banyak dipake
dengan jenis refrigeran SO
2
dan Methyl Chloride dari tahun 1920 sampai tahun 1930.
sekarang sudah tidak dipakai lagi karena: 1) Tabung (float chamber), 2) jumlah
refrigeran yang diperlukan banyak. 3) Banyak minyak yang tertinggal di dalam tabung.
Jika evaporator menyerap panas dari sekitarnya, maka refrigeran akan menguap dan
permukaan cairan di dalam tabung akan menurun. Pelampung (floater) di dalam tabung
juga akan turun dan membuka lubang jarum. Refrigeran cair dengan tekanan yang lebih
tinggi akan mengalir masuk ke dalam tabung, untuk menggantikan cairan yang telah
menguap, tanpa dipengaruhi oleh suhu dan tekanan di dalam evaporator.









Gambar 2.31 keran pelampung sisi tekanan rendah pada evaporator banjir
(Sumber: Handoko, 1981:107)

Lubang saluran hisap ditempatkan di dalam tabung pada bagian atas, sehingga
pada keadaan normal hanya refrigeran gas saja yang dapat mengalir melalui lubang
tersebut. Kedudukan pelampung di dalam tabung dapat diatur, disesuaikan dengan suhu
di dalam evaporator yang dikehendaki. Jika pelampung diatur pada kedudukan terlalu
rendah, maka suhu di evaporator menjadi sangat rendah. Pada keadaan suhu yang sangat
rendah ini, minyak yang terbawa oleh refrigeran ke dalam tabung akan tetap tertinggal
di dalam tabung (chamber), tidak dapat ikut dengan refrigeran kembali ke kompresor.
53

Sebaliknya jika pelampung diatur pada kedudukan terlalu tinggi, refigeran cair di dalam
tabung akan menjadi penuh dan dapat mengalir melalui saluran hisap ke kompresor.
Bagian luar dari saluran hisap akan menjadi es dan refrigeran cair akan masuk ke
kompresor. Dapat menyebabkan kerusakan pada kompresor.

3. Keran pelampung sisi tekanan tinggi
Alat ini disebut juga dengan istilah high pressure side float valve atau high side
float (HSF), seperti Nampak pada Gambar 2.32. Pelampung dan jarum ditempatkan
pada bagian sisi tekanan tinggi dari sistem, yaitu pada saluran liquid. Perbedaan dengan
keran pelampung sisi tekanan rendah, yaitu: tabung, pelampung dan keran ditempatkan
di luar evaporator, maka dapat diperoleh lebih banyak ruangan kosong di evaporator.
Alat ini berguna untuk mengatur atau mempertahankan tinggi permukaan refrigeran cair
pada sisi tekanan tinggi dari sistem. Mulai dipakai pada tahun 1925 oleh Servel. Pada
tahun 1930 telah menjadi sangat populer dan dianggap sebagai alat ekaspansi yang
terbaik pada waktu itu. Refrigeran cair dari kondensor mengalir masuk ke dalam tabung
(float chamber). Permukaan cairan di dalam tabung akan naik, mengangkat pelampung
(float ball) dan membuka jarum (valve pin), sehingga refrigeran cair mengalir ke luar
dari tabung lalu masuk ke evaporator.









Gambar 2.32 Keran pelampung sisi tekanan tinggi
(Sumber: Handoko, 1981:108)

Sistem dengan keran pelampung sisi tekanan tinggi tidak boleh memakai
penampung cairan (liquid receiver), kecuali jika penampung cairan sendiri dipakai
sebagai tabung tempat pelampung. Penampung cairan dapat dipakai sebagai tabung
(float chamber), atau memakai lain tabung sendiri. Keran pelampung sisi tekanan tinggi
ini hanya dipakai pada sistem yang mempunyai jumlah isi refrigeran yang kritis atau
54

harus tepat jumlahnya. Pada pengisian refrigeran yang terlalu banyak, akan
menyebabkan refrigeran meluap dari evaporator dan mengalir melalui saluran hisap ke
kompresor, dapat merusak katup kompresor. Pada sistem yang kurang isi refrigeran,
jumlah refrigeran cair yang mengalir masuk ke evaporator terbatas (kurang), sehingga
evaporator tidak dingin. Agar penampung dapat bekerja dengan baik, tabung harus pada
kedudukan mendatar, jangan miring. Keran pelampung sisi tekanan tinggi dan keran
pelampung sisi tekanan rendah sekarang sudah jarang dipakai lagi.

4. Keran ekspansi otomatis
Alat ini disebut juga automatic expansion valve disingkat AEV atau AXV
merupakan suatu keran ekspansi yang tertua dan disebut keran tekanan tetap, seperti
nampak pada Gambar 2.33. Nama ini diperoleh karena keran ekspansi tersebut dapat
mempertahankan tekanan yang tetap pada beban evaporator yang berubah-ubah.








Gambar 2.33 Keran ekspansi otomatis
1.Baut pengatur, 2. Pegas, 3. Membram, 4. Jarum dan dudukan, 5.
Saringan. P
2
- tekanan evaporator, P
3
-tekanan pegas.
(Sumber: Handoko, 1981:109)

Keran ekspansi otomatis bekerjanya berdasarkan tekanan yang seimbang pada
bellow atau diaphragm (membram). Tekanan tersebut terdiri dari dua tekanan yang
saling mengimbangi, Tekanan evaporator (P
2
) dan Tekanan dari pegas (P
3
). Tekanan
dari evaporator, P
2
menekan membram ke atas, membuat lubang saluran refrigeran
menutup. Tekanan dari pegas yang dapat diatur , P
3
, menekan membram ke arah yang
berlawanan membuat lubang saluran refrigeran membuka. Seperti namanya keran
ekspansi tersebut bekerjanya otomatis. Yaitu mengatur jumlah refrigeran yang mengalir
ke evaporator untuk membuat tekanan dari evaporator dan dari pegas dalam keadaan
seimbang atau tetap. Misalkan tekanan pegas telah disetel untuk mempertahankan
55

tekanan di evaporator 10 psig. Jika hanya sedikit refrigeran yang menguap di evaporator
, tekanan di dalam evaporator akan turun, karena terus dihisap oleh kompresor. Keadaan
ini akan terus berlangsung sampai tekanan evaporator P
2
menjadi kurang dari 10 psig.
Tekanan dari pegas P
3
akan melebihi tekanan evaporator. Jarum akan bergerak kearah
membukanya lubang saluran refrigeran, sehingga refrigeran cair lebih banyak mengalir
ke evaporator lalu menguap. Tekanan evaporator akan bertambah sampai mencapai 10
psig dan membuat membram dalam keadaan seimbang lagi dengan tekanan dari pegas.
Apabila tekanan evaporator naik sampai lebih dari 10 psig, membram akan mendapat
tekanan ke atas, sehingga jarum bergerak ke atas menutup lubang saluran refrigeran ke
evaporator. Refrigeran yang menguap berkurang dan membuat tekanan di evaporator
menurun, sehingga terjadi kesimbangan lagi pada membram.

5. Keran ekspansi thermotatis
Alat ini juga disebut Thermostatic expansion valve, disingkat TEV atau TXV,
seperti ditunjukkan oleh Gambar 2.34.









Gambar 2.34 Keran ekspansi thermostatis, Sporlan tipe G
(Sumber: Handoko, 1981:111)

Keran ekspansi thermostatis adalah suatu alat yang secara otomatis mengukur jumlah
aliran refrigeran cair yang masuk ke evaporator, sambil mempertahankan gas panas
lanjut pada akhir evaporator seperti yang telah direncanakan. Karena tekanan di
evaporator rendah, maka sebagian refrigeran cair waktu melalui keran ekspansi masuk
ke dalam evaporator wujudnya berubah dari cair menjadi gas dingin. Keran ekspansi
thermostatis sampai saat ini merupakan alat ekspansi yang terbanyak dipakai untuk
refrigerasi dan air conditioning. Kapasitas keran ekspansi harus tepat. Keran ekspansi
dengan kapasitas yang terlalu besar, dapat menyebabkan control yang tidak menentu.
56

Kapasitas yang terlalu kecil, dapat menjadikan kapasitas dari sistem berkurang.
Perbedaannya dengan keran ekspansi otomatis dari luar keran ekspansi thermostatis
mempunyai sebuah thermal bulb yang dihubungkan dengan pipa kapiler kepada keran
tersebut.

6. Pipa kapiler
Alat ini disebut juga Impedance tube, Restrictor tube atau Choke tube. Pipa
kapiler dibuatdari pipa tembaga dengan lubang dalam yang sangat kecil. Panjang dan
lubang pipa kapiler dapat mengontrol jumlah refrigeran yang mengalir ke evaporator.
Pipa kapiler gunanya untuk :
a. Menurunkan tekanan refrigeran cair yang mengalir di dalamnya.
b. Mengatur jumlah refrigeran cair yang mengalir melaluinya.
c. Membangkitkan tekanan refrigeran di kondensor.
Pipa kapiler banyak sekali macamnya dan ukurannya. Yang diukur diameter dalam
(Inside Diameter = ID), lain dengan pipa tembaga yang diukur diameter luar (outside
diameter). Mula-mula dipakai pada tahun 1920 untuk lemari es dengan refrigeran
Methyl Chloride. Sekarang telah dipakai untuk semua sistem refrigerasi yang kecil
kapasitasnya, terutama lemari es untuk rumah tangga. Pipa kapiler dapat dipakai untuk
refrigeran R-12, R-22, R-500, R-502 dan lain-lain. Pipa kapiler tidak boleh dibengkok
terlalu tajam, karena dapat menyebabkan lubang pipa kapiler tersebut menjadi buntu.
Pipa kapiler menghubungkan saringan dan evaporator, merupakan batas antara sisi
tekanan tinggi dan sisi tekanan rendah dari sistem. Pada bagian tengahnya sepanjang
mungkin dilekaktkan dengan saluran hisap dan disolder. Bagian yang disolder ini
disebut penukar kalor (Heat exchanger).
Sistem yang memakai pipa kapiler berbeda dengan yang memakai keran
ekspansi atau keran pelampung. Pipa kapiler tidak dapat menahan atau menghentikan
aliran refrigeran pada waktu kompresor sedang bekerja maupun waktu kompresor
sedang berhenti. Waktu kompresor dihentikan, refrigeran dari sisi tekanan tinggi akan
terus mengalir ke sisi tekanan rendah, sampai tekanan pada kedua bagian tersebut
menjadi sama disebut waktu penyama tekanan (Equalization time). Lemari es
memerlukan waktu lima menit untuk menyamakan tekanan tersebut. Keuntungan
penggunaan pipa kapiler adalah harganya murah dibandingkan dengan alat ekspansi
yang lain. Kerugiannya pipa kapiler tidak sensitif terhadap perubahan beban, seperti
pada alat ekspansi yang lain.
57

BAB III
REFRIGERAN DAN MINYAK PELUMAS



A. Definisi Refrigeran
Refrigeran adalah bahan pendingin berupa fluida yang digunakan untuk
menyerap kalor melalui perubahan phasa cair ke gas (menguap) dan membuang kalor
melalui perubahan phasa gas ke cair (mengembun). Refrigeran yang baik harus
memenuhi syarat sebagai berikut :
1. Tidak beracun, tidak berwarna, tidak berbau dalam semua keadaan.
2. Tidak dapat terbakar atau meledak sendiri, juga bila bercampur dengan udara,
minyak pelumas dan sebagainya.
3. Tidak korosif terhadap logam yang banyak dipakai pada sistem refrigerasi dan air
conditiioning.
4. Dapat bercampur dengan minyak pelumas kompresor, tetapi tidak mempengaruhi
atau merusak minyak pelumas tersebut.
5. Mempunyai struktur kimia yang stabil, tidak boleh terurai setiap kali di
mampatkan, diembunkan dan diuapkan.
6. Mempunyai titik didih yang rendah. Harus lebih rendah daripada suhu evaporator
yang direncanakan.
7. Mempunyai tekanan kondensasi yang rendah. Tekanan kondensasi yang tinggi
memerlukan kompresor yang besar dan kuat, juga pipanya harus kuat dan
kemungkinan bocor besar.
8. Mempunyai tekanan penguapan yang sedikit lebih tinggi dari 1 atmosfir. Apabila
terjadi kebocoran, udara luar tidak dapat masuk ke dalam sistem.
9. Mempunyai kalor laten uap yang besar, agar jumlah kalor yang diambil oleh
evaporator dari ruangan jadi besar.
10. Apabila terjadi kebocoran mudah diketahui dengan alat-alat yang sederhana.
11. Harganya murah.
Refrigeran yang digunakan pertama kali adalah ether, dipakai oleh Perkins untuk
mesin kompresi uap tangan. Kemudian dipakai ethil khlorida (C
2
H
5
Cl) yang kemudian
pula diganti dengan ammonia pada tahun 1875. Hampir pada waktu yang bersamaan
58

dipakai belerang oksida (SO
2
) pada tahun 1874, methil khlorida (CH
3
Cl) pada tahun
1878, dan karbon dioksida (CO
2
) pada 1881 juga ditemukan pernah dipakai sebagai
refrigeran. Semenjak 1910-1930 -an, banyak refrigeran seperti N
2
O
2
, CH
4
, C
2
H
6
, C
2
H
4
,
C
3
H
8
, dipakai sebagai refrigeran. Hidrokarbon yang tidak mudah terbakar seperti
dikloromethana (CH
2
Cl
2
), didikholoroethilene (C
2
H
2
Cl
2
) dan monobromoethana
(CH
3
Br) juga digunakan untuk mesin refrigerasi dengan pompa sentrifugal, dengan
komposisi atom fluor, chlor, dan terkadang bromida, akan membentuk refrigeran
dengan range titik didih yang lebar pada tekanan sekitar 1 atm (disebut sebagai normal
boiling point = titik didih normal atau temperatur jenuh pada tekanan satu atmosfir),
sehingga memenuhi berbagai kebutuhan temperatur kerja yang berbeda untuk berbagai
mesin refrigerasi. Jumlah fluor menunjukkan ketidak beracunan dari refrigeran.
Refrigeran dibuat oleh beberapa negara dari beberapa perusahaan dengan
memakai nama dagang (merk) mereka masing-masing. Beberapa diantaranya yang telah
beredar di Indonesia ditunjukkan oleh Tabel 3.1. Refrigeran disimpan dalam tabung
atau silender dan drum. Untuk mengetahui isinya, tabung-tabung tersebut diberi
berbagai warna, keterangan pada tabung dan label. Warna tabung bahan pendingin dari
Du Pont ditampilkan pada Tabel 3.2.
Tabel 3.1 Beberapa Merk dagang refrigeran
Nama Pabrik Negara
Freon E.I.du Pont de Nemours & Company U.S.A
Genetron Allied Chemical Corporation U.S.A
Frigen Hoechst AG Jerman
Arcton Imperial Chemical Industries Ltd. Inggris
Asahi Fron Asahi Glass Co., Ltd. Jepang
Forane Pacific Chemical Industries Pty. Australia
Daiflon Osaka Kinzoku Kogyo Co., Ltd. Jepang
Ucon Union Carbide Chemicals Corporation U.S.A
Isotron Pennsylvania Salt Manufacturing Co. U.S.A

Tabel 3.2 Warna tabung Refrigeran
Refrigeran Warna tabung
Freon 11 Jingga (Orange)
Freon 12 Putih
Freon 22 Hijau
Freon 113 Ungu tua (Purple)
Freon 114 Biru tua
Freon 134a Biru muda (Biru langit)
Freon 500 Kuning
Freon 502 Ungu muda (Orchid)
59

B. Jenis-jenis Refrigeran
1. Refrigerant R-11, CC1
3
F, Trichloro Monofluora Methane
Kompresor: Sentrifugal yang besar sampai 100 ton lebih. Pemakaian: (0
0
C s/d
20
0
C) termasuk pada air conditioning yang besar dari 200 - 2000 TR, untuk kantor,
hotel, pabrik da lain-lain. Juga sebagai pembersih dan aerosol. Titik didih 23,8
0
C pada
1 atmosfir, titik didih ini tinggi, maka tidak dapat dipakai untuk mendinginkan ruangan
di bawah 23,8
0
C. Tekanan penguapan 24 in Hg vakum pada 5
0
F dan tekanan
kondensasi hanya 3,5 psig pada 86
0
F. Tekanan kondensasi ini rendah sekali. maka
R-11 hanya dapat dipakai untuk kompresor sentrifugal. kalor laten uap 78,3 Btu/lb pada
titik didih. R-11 juga disebut golongan fluorocarbon yang lain, sangat stabil, tidak
beracun, tidak korosif, tidak dapat terbakar atau meledak. R-11 dapat melarutkan karet
alam, tetapi tidak bereaksi dengan karet sintetis yang dipakai sebagai gasket. R-11 juga
dipakai sebagai bahan peniup (blowing agent) dalam pembuatan polystyrene,
polyurethane yang keras maupun lunak. R-11 adalah bahan isolator yang baik dan sifat
isalator ini masih ada busa dari polyurethane tersebut. R-11 mempunyai kekuatan
dielektronika yang besar. R-11 juga sering dipakai sebagai bahan pembersih (cleaning
solvents) atau flushing agent. Utuk membersihkan bagian dalam dari sistem yang
banyak airnya dan lain-lain. R-11 untuk aerosol sering dicampur dengan R-12, untuk
menaikan tekanan R-11 tersebut. Kebocoran dapat dicari dengan halide leak detector
atau electronic leak detector.

2. Refrigerant R-12, CL
2
F
2
Dichloro Difluoro Methane
Kompresor: torak, rotari dan sentrifugal. Pemakaian sangat luas pada suhu
-40
0
C s/d +10
0
C, mulai dari lemari es, freezer, ice cream cabinet, water cooler sampai
pada refrigerasi dan air conditioning yang besar. R-12 juga merupakan bahan pendingin
yang utama untuk air conditioning mobil dan aerosol. Titik didih -21,66
0
F (-29,8
0
C)
pada 1 atmosfir. Tekanan penguapan 11,8 psig pada 5
0
F (15
0
C) dan tekanan
kondensasi 93,3 psig pada 86
0
F (30
0
F). Kalor laten uap 71,74 Btu/lb pada titik didih.
R-12 adalah bahan pendingin yang paling banyak dipakai untuk lemari es, baik dengan
kompresor torak maupun rotari. Telah diselidiki dan dikembangkan di USA sejak tahun
1931, pada tahun 1940 telah hampir dipakai pada semua lemari es.
Bahan pendingin R-12 sangat aman, tidak korosif, tidak beracun, tidak dapat
terbakar atau meledak dalam bentuk gas maupun cair, juga bila bercampur dengan
udara. R-12 tidak berwarna, bahkan transparan (tembus cahaya), tidak berbau dan tidak
60

ada rasanya pada kosentrasi dibawah 20% dari volume. R-12 tidak berbahaya bagi
hewan atau tumbuh-tumbuhan dan tidak mempengaruhi bau, rasa atau warna dari air
atau makanan yang disimpan di dalam lemari es. R-12 dapat dipakai pada suhu tinggi,
sedang dan rendah. Juga dapat dipakai untuk ketiga macam kompresor : kompresor
torak dari 1/12 800 DK. Kompresor rotari yang kecil dan kompresor sentrifugal untuk
air conditioning yang besar. R-12 akan tetap stabil pada suhu kerja rendah, maupun
pada suhu kerja tinggi, tidak bereaksi dan tidak korosif terhadap banyak logam yang
dipakai pada lemari es, seperti : besi tuang, baja. Aluminium, tembaga, kuningan, seng,
timah solder. Jika bercampur dengan air pada suhu tinggi dapat menjadi korosif karena
ada asam halogen yang terbentuk. Apabila kita memakai sistem dengan R-12, jangan
sampai ada air yang tertinggal di dalam sistem.
R-12 sampai saat ini adalah bahan pendingin yang terbanyak dipakai, walupun
dalam beberapa hal keunggulan R-12 telah dikalahkan oleh R-22. Kenggulan R-12
terhadap R-22 :
a. Tekanan kerja dan suhu kerja lebih rendah
b. Bercampur dengan minyak pelumas lebih baik dalam semua keadaan
c. Harganya lebih murah
R-12 tidak dapat melarutkan air, tetapi dapat melarutkan hydrocarbon, alkohol, ether,
aster dan ketone, maka R-12 dapat dipakai sebagai bahan pembersih untuk zat tersebut.
R-12 mempunyai kemampuan melarutkan yang sangat besar, maka kita harus hati-hati
jika memakai bahan-bahan untuk paking, gasket, vernis dan beberapa macam bahan
isolasi di dalam kompresor hermetik. R-12 terhadap logam-logam yang mengandung
magnesium atau aluminium yang mengandung lebih dari 2 % magnesium harus
dihindarkan. R-12 merusak karet alam, tetapi tidak bereaksi terhadap karet sintetis. Jika
memakai bahan dari karet, pakailah karet sintetis seperti: karet neoprene dan
chloroprene. R-12 yang terbanyak dipakai sebagai penyemprot (propellant) yang bukan
untuk makanan. Karena tekanan R-12 sangat tinggi, maka umumnya dicampur dengan
R-11 untuk menurunkan tekanannya.
Salah satu sifat khusus dari R-12 yaitu pada suhu 20
0
F - 80
0
F, mempunyai suhu
dalam fahrenheit dan tekanan dalam psig yang hampir sama besarnya. Dapat dilihat
pada daftar suhu dan tekanan bahan pendingin R-12. misalnya R-12 pada 70
0
F
mempunyai tekanan 70,1 psig. R-12 mempunyai kekuatan dielektrik yang besar, hampir
sama dengan R-113, maka dapat dipakai untuk kompresor hermetik tanpa menimbulkan
61

bahaya atau kesukaran. Kebaikan R-12 yang dapat bercampur dengan minyak pelumas
dalam semua keadaan tidak saja mempermudah mengalirkan minyak pelumas kembali
ke kompresor, tetapi juga dapat menaikan efisiensi dan kapasitas dari sistem.
Evaporator dan kondensor akan bebas dari minyak pelumas yang dapat mengurangi
kemampuan perpindahan kalor dari kedua alat tersebut. R-12 masih dapat bercampur
dengan minyak pelumas sampai suhu -90
0
F (-68
0
C). Di bawah suhu tersebut minyak
pelumas akan mulai memisah. Minyak pelumas lebih ringan daripada bahan pendingin,
maka minyak akan mengumpul pada bagian atas dari bahan pendingin cair tersebut.
R-12 apabila bercampur dengan api yang sedang terbakar atau pemanas listrik yang
bekerja, dapat membentuk suatu gas yang sangat beracun. Kobocoran dapat dicari
dengan hilide leak detector, alectronic leak detecto, air sabun dan lain-lain.

3. Refrigerant R-22, CHCLF
2
Chloro Difluoro Methane
Kompresor: torak, ratari dan sentrifugal. Pemakaian: (-50
0
C s/d +10
0
C)
terutama untuk air conditioning yang sedang dan kecil, juga dipakai untuk freezer, cold
storage, display cases dan banyak lagi pemakaian pada suhu sedang dan suhu rendah.
Titik didih -41,4
0
F (-40,8
0
C) pada 1 atmosfir. Tekanan penguapan 28,3 psig pada 5
0
F
dan tekanan kondensasi 158,2 psig pada 86
0
F. Kalor laten uap 100,6 Btu/lb pada titik
didih.
Mula-mula diperkenalkan pada tahun 1936 dikembangkan untuk pemakaian
pada suhu rendah, lalu kemudian banyak dipakai pada packaged air conditioner. R-22
mempunyai tekanan dan suhu kerja yang lebih tinggi daripada R-12, maka jika
memakai kondensor dengan pendingin udara ukurannya harus disesuaikan jangan
terlalu kecil. Untuk kapasitas yang sama R-22 dibandingkan R-12 memerlukan
pergerakan torak (piston displacement) yang lebih kecil, maka bentuk kompresor juga
kecil sehingga dapat ditempatkan dalam ruang yang terbatas. Ini adalah keuntungan dari
R-22, maka sangat sesuai untuk dipakai pada packaged room air conditioner.
Keuntungan R-22 terhadap R-12 :
a. Untuk pergerakan torak yang sama, kapasitasnya 60% lebih besar
b. Untuk kapasitas yang sama, entuk kompresor lebih kecil. Pipa-pipa yang dipakai
juga lebih kecil ukurannya.
c. Pada suhu di evaporator antara -30
0
C s/d -40
0
C, tekanan R-22 lebih dari 1
atmosfir, sedangkan tekanan R-12 kurang dari 1 atmosfir.
62

R-22 tidak korosif terhadap banyak logam yang dipakai pada sistem refrgerasi
dan air onditioning seperti : besi, tembaga, aluminium, kuningan, baja tak berkarat, las
perak, timah solder, babit dan lain-lain. Minyak pelumas dengan R-22 pada bagian
tekanan tinggi dapat bercampur dengan baik, tetapi pada bagian tekanan rendah,
terutama di evaporator minyak lalu memisah. Suhu dimana minyak pelumas memisah
tergantung dari macam minyak pelumas yang dipakai dan jumlah minyak pelumas yang
bercampur dengan R-22. minyak pelumas mulai memisah pada suhu 16
o
F (-8,9
0
C).
Pada pemakaian suhu rendah, harus ditambahkan pemisah minyak (oil separator) untuk
mengembalikan minyak pelumas ke kompresor. Pada evaporator yang direncanakan
dengan baik, tidak akan terjadi kesukaran untuk mengembalikan minyak pelumas dari
evaporator ke kompresor. R-22 mempunyai kemampuan menyerap air tiga kali lebih
besar daripada R-12. Jarang sekali terjadi pembekuan air di evaporator pada sistem yang
memakai R-22. sebetulnya ini bukan merupakan keuntungan, karena di dalam sistem
harus bersih dari uap air dan air. Kebocoran dapat dicari dengan halide leak detector, air
sabun dan lain-lain.

4. Refrigerant R-113, C
2
Cl
2
F
3,
Trichloro Trifluoro Ethane
Kompresor: centrifugal. Pemakaian: (0
0
C s/d 20
0
C) untuk air conditioning
yang sedang dan besar. Suhu penguapan 117,6
0
F (47,57
0
C) pada 1 atm. Tekanan
penguapan 237,9 In Hg. Vakum pada

5
0
F dan tekanan kondensasi 113,9 In Hg. Vakum
pada 86
0
F. Pergerakan torak (piston displacement) adalah tinggi 100,76 ft
3
/min.ton,
sedangkan HP/ton yang diperlukan hampir sama dengan lain-lain bahan pendingin.
Karena tekanan kerja yang rendah dan pergerakan torak (piston displacement) yang
besar, maka R-113 harus dipakai dengan kompresor centrifugal sampai 4 tingkat atau
lebih, terutama pada sistem air conditioning yang besar. R-113 adalah bahan pendingin
yang aman dan sering dipakai sebagai bahan pembersih (cleaning solvent). Kebocoran
dapat dicari dengan Halide leak detector.

5. Refrigerant R-114 C
2
Cl
2
F
4
, Dichloro Tetrafluoro Ethane
Kompresor: rotary, centrifugal. Pemakaian: (-20
0
C s/d +20
0
C) mula-mula
dipakai pada lemari es dengan kompresor rotary, tetapi sekarang terutama dipakai pada
industri pendingin yang besar dan mesin refrigerasi. Suhu penguapannya 38,6
0
F (3,6
0
C) pada tekanan 1 atm. Tekanan penguapan 16,2 In Hg. Vakum pada 5
o
F dan tekanan
63

kondensasi 21,6 psig pada 86
0
F. Pergerakan toraknya rendah 19,56 ft
3
/min.ton,
sedangkan HP/ton yang diperlukan hampir sama dengan lain-lain bahan pendingin.
R-114 dipakai pada kompresor centrifugal untuk instalasi air conditioning yang besar-
besar. Juga dipakai pada kompresor rotari untuk lemari es water cooler. Seperti halnya
R-22, R-114 juga dapat bercampur dengan minyak pelumas pada bagian sisi tekanan
tinggi tetapi terpisah dengan minyak di evaporator. Kebocoran dapat dicari dengan
Halide leak detetor.

6. Refrigerant R-500, CCL
2
F
2
/CH
3
-CHF
2
Azeotrope
Kompresor: Torak. Pemakain: untuk memperbanyak model packaged dan room
air conditioner yang kecil dan sedang. Juga pada lemari es untuk daerah yag memakai
listri 50 Hertz. Titik didih -28,3
0
F (-33,5
0
C) pada 1 atmosfir. Tekanan penguapan 16,4
psig pada 5
0
F dan tekanan kondensasi 112,8 psig pada 86
0
F. Kalor laten uap 88,5
Btu/lb pada titik didih. R-500 adalah campuran azeotrope dari R-12 (73,8% dari berat)
dan R-152A Difluoro Ethane (26,2 % dari berat). R-500 juga disebut carene-7, pada
umumnya hanya dipakai untuk mesin-mesin refrigerasi buatan Carrier. Seperti bahan
pendingin golongan fluorocarbon yang lain, R-500 tidak dapat terbakar, tidak beracun
dan stabil. R-500 mempunyai daya campur dengan minyak pelumas yang baik. Pada
suhu rendah daya campur tersebut sama seperti R-12. Keuntungan R-500 terhadap R-12
adalah:
a. Jika dipakai dengan mesin yang sama, dapat memberikan kapasitas 18 % lebih
besar.
b. Dapat dipakai dari daerah 60 Hz dengan R-12 ke daerah 50 Hz dengan R-500,
pada mesin yang sama akan memberikan kapasitas yang sama pula.
Pergerakan torak yang diperlukan lebih besar daripada R-22, tetapi lebih kecil
daripada R-12, jika dipakai dengan mesin yang sama dan untuk tujuan yang sama, R-
500 dapat memberikan kapasitas 18% lebih besar daripada R-12. Suatu unit dengan R-
12 yang kapasitasnya hendak dinaikkan 18 %, kita dapat mengusahakan dengan hanya
menukar bahan pendinginnya saja dengan R-500. Jumlah putaran motor listrik
berbanding lurus dengan besarnya frekuensi. Motor listrik 60 Hz yang bekerja di daerah
50 Hz, jumlah putarannya hanya tinggal 5/6 bagian, dan pergerakan toraknya juga
berkurang 18%. Kompresor hermetik 60Hz dengan R-12 akan memberikan kapasitas
yang sama jika dipakai untuk daerah 50 Hz dengan R-500. daya listrik yang diperlukan
juga hampir sama.
64

R-500 mempunyai kemampuan menyerap air yang sangat besar. Apabila sistem
hendak diisi dengan R-500, sebelumnya sistem harus dibuat vakum dengan pompa
vakum yang khusus, agar semua air dan uap air dapat dikeluarkan. Selain itu sistem
harus memakai pengering (drier) untuk menyerap sisa air yang masih tertinggal di
dalam sistem. Mengisi sistem lemari es dengan R-500 tidak banyak perbedaannya
dengan R-12, hanya kedua tekanannya pada sisi tekanan tinggi dan sisi tekanan rendah
sedikit lebih tinggi. Kebocoran dapat dicari dengan halide leak detector, electronic leak
detecto, air sabun atau zat warna dan lain-lain.

7. Refrigerant R-502, ChCLF
2
/CClF
2
-CF
3
Azeotrope
Kompresor: torak dengan 1 atau 2 tingkat. Pemakaian: (-60
0
C s/d 20
0
C) khusus
dibuat untuk suhu evaporator yang rendah, untuk menggantikan R-22, tetapi juga
dipakai pada air conditioning. R-502 adalah suatu campuran azeotrope dari R-22 (48,8%
dari berat) dan R-115 (51,2% dari berat). Suhu penguapan -50,1
0
F (-45,6
0
C) pada 1
atm. Tekanan penguapannya 35,9 psig. Pada 5
0
F pada tekanan kondensasinya 176,6
paig, pada 86
o
F. R-502 mula-mula dipakai pada tahun 1962, bahan pendingin ini tidak
dapat terbakar, tidak beracun dan tidak korosif.
R-502 mempunyai sifat-sifat yang baik dari R-12 dan R-22, yaitu kapasitasnya
sama dengan R-22, sedangkan tekanan kondensasinya hanya sama dengan R-12, jadi
jauh lebih rendah dari R-22.
Keuntungan-keuntungan R-502 terhadap R-22, adalah sebagai berikut :
a. Kompresor akan bekerja pada suhu yang lebih rendah, hingga memperpanjang
daya tahan katup-katup dan lain-lain bagian dari kompresor.
b. Kepala silinder dari kompresor yang leih besar tidak perlu didinginkan dengan
air, dimana biasanya diperlukan pada R-22.
c. Kapasitasnya lebih besar 15 a/d 25%.
d. Suhu motor dan minyak tetap rendah, hingga minyak kompresor tetap dapat
memberikan pelumasan dengan baik karena kekentalannya tetap tidak berubah.
R-502 dapat menyerap air 15 kali lebih banyak daripada R-12 pada 0
0
F (-17,8
0
C),
yaitu 12 ppm (part per million) dari berat. Jika bercampur dengan uap air harus
diperhatikan agar R-502 tidak berhubungan dengan zink murni (Zn) atau magnesium
(Mg). Alumunium dapat dipakai asalkan tidak mengandung magnesium lebih dari 2%.
Timah putih (lead) jangan dipakai sebagai bahan penyambung pipa (soldir timah), atau
65

penahan kebocoran pada rotary seal dari poros engkol. Bahan-bahan plastik yang dapat
dipakai dengan R-22, juga dapat dipakai dengan R-502, misalnya untuk pengikat lilitan
motor, dan sebagainya. R-502 dapat bercampur minyak dengan baik pada suhu diatas
180
0
F (82,2
0
C). Tetapi di bawah 77
0
F (25
0
C) minyak akan memisah dan mengapung
di atas cairan bahan pendingin. Sifat ini menyebabkan minyak ikut ke kondensor, lalu di
evaporator minyak tersebut memisah dari bahan pendingin, maka harus diberi alat
khusus biasanya oil separator utuk mengembalikan minyak ke kompresor. R-502 adalah
bahan pendingin yang aman , kebocoran dapat dicari dengan Halide leak detector, dan
sebagainya.

8. Amonia R-717. NH3
Kompresor untuk refrigerant ini biasanya kompresor jenis torak, banyak dipakai
untuk industri, terutama pabrik es yang besar dan sistem absorpsi. Titik didih -33,3
0
C
pada 1 atmosfir. Tekanan penguapan 19,6 psig pada 50
0
F (-50
0
C). Kalor laten uap
589,3 Btu/Ib pada titik didihnya. Kalor laten tersebut sangat besar dan merupakan yang
terbesar dari pendingin yang lain. Amonia walaupun telah sajak lama dipakai, masih
merupakan satu-satunya bahan pendingin selain fluorocarbon yang tetap dipakai hingga
saat ini. Terdiri dari sebuah nitrogen dan tiga unsur hidrogen. Harganya murah,
efesiensinya tinggi, mempunyai kalor laten uap yang terbesar daripada bahan pendingin
yang lain. Amonia dalam keadaan biasa berwujud gas yang tidak berwarna, tetapi
mudah terbakar, dapat meledak dan sangat beracun . R-717 mudah terbakar, meledak
jika bercampur dengan udara dalam perbandingan tertentu antara 13% - 27% dari
volume dan akan lebih berbahaya lagi jika bercampur dengan oksigen. Amonia sangat
beracun dan mempunyai bau yang sangat merangsang hidung dan tenggorokan. Amonia
tidak dibenarkan dipakai untuk air condotioning untuk hotel, bioskop atau tempat umum
yang banyak orangnya. Jika dalam hal ini kita harus memakai amonia sebagai bahan
pendingin, maka kita harus memakai amonia secara tidak langsung dengan melalui air
atau air garam yang lebih dahulu didinginkan. Ruang untuk kompresor harus dibuat
khusus dan terpisah.
Amonia yang murni tidak korosif terhadap logam yang dipakai pada sistem
refrigerasi. Amonia yang bercampur dengan air akan menjadi korosif terhadap logam
non-ferro, terutama tembaga, kuningan, seng dan timah. Janganlah memakai logam-
logam tersebut pada sistem dengan amonia. Amonia walaupun mengandung banyak air,
tetapi tidak bereaksi dengan besi dan baja. Amonia lebih ringan daripada minyak
66

pelumas kompresor. Juga tidak dapat larut ke dalam minyak pelumas tersebut, maka
tidak dapat menyerap minyak dari tempat minyak kompresor. Karena sukar
mengembalikan minyak pelumas dari evaporator, kita harus menambahkan pemisah
minyak (oil separator) pada saluran tekan dari kompresor. Keluar dielektrik dari amonia
rendah, tidak dapat dipakai dengan kompresor hermetik yang berhubungan langsung
dengan alat-alat listrik. R-717 dapat mudah larut dalam air. Pada suhu 0
0
C, 1 volume
air dapat menyeraf 1,148 V amonia . Tabung amonia dan sistem yang memakai amonia
harus dibuat dari tabung besi atau baja kuat. Kondensornya harus didinginkan dengan
air. Gas amonia lebih ringan dari udara. Jika terjadi kebocoran amonia, kita lebih aman
merebahkan diri dilantai daripada berdiri. Kebocoran pada sistem dengan amonia dapat
diketahui dari baunya yang sangat merangsang hidung dan tenggorokan. Kebocoran
yang kecil dapat dicari dengan batang belerang (sulfur stick). Jika ada gas amonia yang
bocor, belerang dapat mengeluarkan asap putih yang tebal. Kebocoran dapat juga dicari
dengan memakai air sabun yang kental. dioleskan pada sekeliling sambungan pipa. Jika
ada gas yang bocor akan terjadi gelembung-gelembung dari air tersebut.

9. Carbon Dioxide, R-744, CO
2

Kompresor yang paling banyak digunakan adalah jenis torak. Sistem ini biasa
dipakai untuk refrigerasi dan air conditioning yang besar, dimana faktor keamanan
diutamakan. Pada 1 atmosfir titik didih -79
0
C dan titik beku -57
0
C, pada suhu tersebut
dan tekanan 1 atmosfir, CO
2
sudah berwujud padat. Tekanan penguapan 317,5 psig
pada 5
0
F dan tekanan kondensasi 1031 psig pada 86
0
F. Tekanan ini sangat tinggi,
maka harus menggunakan kompresor yang kuat, begitu juga pipa-pipa harus kuat pula.
Kalor laten uap 116 Btu/Ib pada 5
0
F.
R-744 merupakan bahan pendingin yang mula-mula dipakai pada tahun 1884
dengan kompresor torak untuk refrigerasi CO
2
tidak berwarna, tidak berbau, tidak
beracun, tidak dapat terbakar atau meledak dan tidak korosif. Karena sifatnya yang
aman ini, maka dahulu R-744 banyak dipakai dikapal laut. Juga untuk air conditioning
di Hotel, rumah sakit, bioskop dan lain-lain. Pada saat ini CO
2
tidak dipakai lagi, hanya
masih dapat ditemukan pada mesin yang tua. Sekarang CO
2
hanya untuk suhu yang
sangat rendah, terutama untuk pembuatan CO
2
padat (dry ice). R-744 tidak dapat
bercampur dengan minyak pelumas kompresor, maka tidak dapat mengambil minyak
pelunas kompresor. R-744 juga seperti amonia lebih ringan dari pada minyak
kompresor. Kebocoran dapat dicari dengan air sabun.
67

10. Sulfur Dioxide, R-764, SO
2

Refrigeran ini banyak dipakai untuk kompresor torak dengan satu atau dua
tingkat. Refrigerant ini dipakai khusus untuk evaporator dengan suhu rendah, untuk
menggantikan R-22 tetapi juga dapat dipakai pada suhu sedang. Titik didih -10
0
C pada
1 atmosfir. Tekanan penguapan 5,9 inch Hg vakum pada 5
0
F dan tekanan kondensasi
51,8 psig pada 86
0
F. Tekanan kondensasi ini sangat rendah, maka dapat dipakai dengan
kompresor torak yang direncanakan pada waktu itu. Kalor uap 172,3 Btu/Ib pada 5
0
F.
SO
2
dibuat dari pembakaran belerang, dalam wujud gas dan air tidak berwarna, tetapi
sangat beracun. Tidak dapat terbakar dan tidak dapat meledak. R-764 sebagai bahan
pendingin sekarang sudah tidak dipakai lagi, hanya masih dapat ditemukan pada mesin-
mesin yang sudah tua. R-764 mula-mula diganti oleh Methyl Chloride yang lebih aman,
kemudian diganti lagi oleh bahan pendingin golongan fluorocarbon yang lebih baik
sampai saat ini. Seperti bahan pendingin yang lain R-764 dalam keadaan murni tidak
korosif terhadap logam-logam yang dipakai pada sistem refrigerasi. Apabila bercampur
dengan air, SO
2
dapat membentuk H
2
SO
3
dan H
2
SO
4
. Kedua asam ini sangat korosif
terhadap logam.
R-764 tidak dapat bercampur dengan minyak pelumas. Saluran isap harus dibuat
miring ke kompresor. SO
2
cair lebih berat daripada minyak pelumas kompresor,
sehingga minyak pelumas akan mengapung di atas bahan pendingin tersebut. Sipat ini
memudahkan minyak pelumas dialirkan kembali ke kompresor. Ini merupakan
keuntungan dari SO
2
. Kebocoran SO
2
selain dapat diketahui dari baunya yang sangat
pedas dan tajam, juga dapat dicari dengan memakai kain lap yang dicelupkan cairan,
jika ada kebocoran akan mengeluarkan asap putih yang tebal.

11. Methylchloride, R-40, CH
3
CL
Kompresor: Torak dan Rotari. Pemakaian: Dahulu banyak dipakai untuk lemari
es. Titik didih -23,7
0
C pada 1 atmosfir. Tekanan penguap 6,5 psig pada 5
0
F dan
tekanan kodensasi 80 psig pada 86
0
F. Kalor laten uap 180,6 Btu/lb pada 5
0
F.
Walaupun Methylchride termasuk tidak beracun, tetapi pada konsentrasi (kadar) yang
tinggi dapat memabukan orang. R-40 dapat terbakar dan meledak jika bercampur
dengan udara pada konsentrasi 8% - 17% dari volume. Sekarang R-40 dapat bercampur
dengan minyak pelumas kompresor. Kebocoran dapat dicari dengan air sabun yang
dioleskan atau dilumaskan pada sambungan pipa. Jika memakai halida leak detector
68

harus berhatri-hati, karena Methyl chloride jika sedang terbakar berbahaya. Ruang
dimana kebocoran dapat dicari harus mempunyai cukup ventilasi udara.

C. Minyak Pelumas
Minyak pelumas dalam sistem pendingin merupakan bagian yang penting untuk
melumasi dan melindungi bagian-bagian yang bergerak dari kompresor. Kompresor
mesin pendingin harus terus-menerus mendapat pelumasan. Jika cara pelumasannya
kurang sempurna, bagian-bagian yang bergerak dari kompresor akan cepat aus dan
rusak. Gunanya minyak pelumas dalam sistem pendingin adalah untuk :
1. Mengurangi gesekan dari bagian-bagian yang bergerak.
2. Mengurangi terjadinya kalor pada bus dan bantalan.
3. Membentuk lapisan penyekat antara torak dan dinding silender
4. Membantu mendinginkan kumparan motor listrik di dalam kompresor hermetik.
Minyak pelumas di dalam kompresor selalu berhubungan bahkan bercampur dengan
refrigeran dan mengalir bersama-sama ke semua bagian dari sistem. Minyak pelumas
harus tetap stabil pada suhu dan tekanan yang tinggi dari kompresor, juga harus tetap
dapat memberikan pelumasan dan melindungi bagian-bagian yang bergerak agar tidak
aus dan rusak. Pada suhu rendah minyak pelumas harus tidak menimbulkan kotoran
atau endapan yang dapat menyebabkan katup ekspansi menjadi buntu. Minyak pelumas
yang ikut terbawa oleh refrigeran harus dapat dikembalikan ke kompresor dengan
perencanaan dari sistem, terutama evaporator yang baik. Minyak pelumas dapat dibagi
dalam tiga jenis yaitu yang berasal dari hewan, tumbuhan dan mineral.
Minyak pelumas yang berasal dari hewan dan tumbuhan adalah minyak pelumas
yang tetap (fixed oil), karena tidak dapat dimurnikan tanpa diuraikan. Minyak tersebut
tidak stabil, mudah membentuk asam dan endapan, sehingga tidak dapat dipakai untuk
mesin pendingin. Minyak pelumas untuk mesin pendingin dibuat dari mineral yang baik
dari golongan napthene. Minyak mineral harus dibersihkan melalui proses penyulingan
minyak, untuk diambil kandungan lilin, air, belerang dan lain-lain kotorannya.
Umumnya minyak pelumas diberi bahan tambahan untuk menghindarkan terjadinya
endapan atau busa. Minyak pelumas harus mempunyai pour point (suhu terendah
dimana minyak masih dapat mengalir) yang rendah, agar pada suhu rendah lilinnya
tidak memisah lalu membeku. Lilin yang membeku dapan membuat buntu alat kontrol
refrigeran seperti katup ekspansi. Syarat-syarat minyak pelumas untuk mesin pendingin
adalah :
69

1. Tidak mengandung air, lilin, asam dan lain-lain kotoran.
2. Mempunyai pour point yang rendah yaitu -25
0
F sampai dengan -40
0
F (-32
0
C
sampai dengan -40
0
C). Agar pemakaian pada sistem dengan suhu rendah, lilinnya
tidak memisah dan membeku.
3. Mempunyai sifat dielektrik (tidak menghantar listrik) yang kuat, minimum 25 kilo
volt.
4. Mempunyai struktur kimia yang stabil, tidak mudah bereaksi denga refrigeran atau
benda lain yang dipakai pada sistem pendingin.
5. Tidak berbusa, karena jika berbusa minyak pelumas dapat membawa refrigeran cair
masuk ke kompresor, dapat merusak katup kompresor.
6. Mempunyai kekentalan (viscosity) pada 100
0
F (37,8
0
C) antara 150 300 SUV
(Saybolt Universal Viscosity) dan untuk kompresor AC mobil 500 SUV.

D. Kekentalan (Viscosity) Minyak Pelumas
Minyak pelumas biasanya diukur dengan satuan Saybolt Universal Viscosity
(SUV), yaitu satuan waktu dalam detik yang diperlukan untuk mengalirkan minyak
dalam jumlah tertentu (60 cm
3
) pada suhu udara 100
0
F (37,8
0
C) melalui sebuah pipa
kapiler. Misalnya minyak pelumas pada suhu 100
0
F memerlukan waktu 300 detik untuk
melewati pipa kapiler tersebut, maka dinamakan minyak tersebut mempunyai
kekentalan 300 SUV pada 100
0
F. Minyak pelumas dengan 300 SUV lebih kental
daripada minyak pelumas dengan 200 SUV. Minyak yang terlalu kental akan membuat
tahanan minyak tersebut menjadi besar dan tenaga yang diperlukan untuk
menggerakkan kompresor juga bertambah besar. Minyak pelumas yang terlalu kental
tidak dapat menembus lapisan permukaan antara bagian-bagian yang bergerak, apalagi
pada kelonggaran atau celah yang sempit, minyak tidak dapat menembus ke celah-celah
tersebut yang harus dilumasi, sehingga hasil pelumasan tidak merata dan bagian yang
bergesekan cepat menjadi aus dan rusak. Sebaliknya minyak pelumas yang terlalu
encer, tidak dapat membuat lapisan film dan melumasi permukaan bagian-bagian yang
bergerak dengan baik, sehingga bagian-bagian tersebut cepat menjadi aus dan rusak.
Secara lengkapnya pedoman kekentalan dari minyak pelumas disusun ke dalam Tabel
3.3. Kekentalan minyak pelumas akan berubah, jika terjadi perubahan suhu.
Kekentalannya akan naik jika suhunya turun. Sebaliknya kekentalannya akan turun jika
suhunya naik. Misalkan minyak pelumas dengan kekentalan 175 SUV pada 100
0
F akan
naik menjadi 1800 SUV jika suhunya turun sampai 40
0
F.
70

Tabel 3.3 Pedoman Kekentalan Minyak Pelumas
Pemakaian Jenis Refrigeran Kekentalan (SUV)
Suhu kompresor:
Normal Semua 150
Tinggi Halogen 150
Amonia 300
Suhu evaporator:
Di atas -18
0
C Halogen 150
Amonia 300
-18
0
C s/d -40
0
C Halogen 150
Amonia 150
Di bawah -40
0
C Halogen 150
Amonia 150
Kompresor AC mobil Halogen 500

Refrigeran yang dapat larut dalam minyak pelumas dibagi menjadi tiga
golongan, yaitu:
1. Dapat bercampur pada suhu tinggi dan suhu rendah.
2. Dapat bercampur pada suhu tinggi, tetapi memisah pada suhu rendah.
3. Tidak dapat bercampur pada suhu tinggi maupun suhu rendah.
Pada suhu yang rendah di evaporator, kemampuan bercampur refrigeran dengan minyak
pelumas berkurang, sedangkan pada suhu tinggi di kompresor dan kondensor
bertambah. Di evaporator biasanya sebagian minyak pelumas akan memisah dari
campuran refrigeran dan minyak pelumas. R-12 adalah refrigeran yang pada suhu tinggi
dan suhu rendah dapat bercampur dengan minyak pelumas. Di dalam saluran pipa
evaporator yang rendah suhunya, R-12 tetap dapat bercampur dengan minyak pelumas.
Kekentalan minyak pelumas di evaporator dan saluran hisap tetap rendah (encer),
sehingga minyak pelumas dapat lebih mudah dibawa kembali ke kompresor.





71

BAB IV
SISTEM KOMPRESI UAP



A. Siklus kompresi uap
Siklus diagram dari sistem kompresi uap sederhana ditunjukkan oleh Gambar
4.1.











Gambar 4.1 Siklus diagram sistem refrigerasi kompresi uap sederhana

komponen-komponen dari sistem tersebut adalah :
1. Evaporator, yang berfungsi untuk melakukan perpindahan kalor dari
ruangan/produk yang didinginkan ke refrigeran yang mengalir di dalamnya melalui
permukaan dindingnya.
2. Saluran suction, yang menghubungkan uap refrigeran tekanan rendah dari
evaporator ke inlet suction dari kompresor.
3. Kompresor, yang berfungsi untuk memindahkan uap refrigeran dari evaporator dan
menaikkan tekanan dan temperatur uap refrigeran ke suatu titik di mana uap
tersebut dapat berkondensasi dengan normal sesuai dengan media pendinginnya.
4. Saluran discharge (hot gas), menyalurkan uap refrigeran tekanan tinggi dan
temperatur tinggi dari discharge kompresor ke kondensor.
5. Kondensor, yang berfungsi melakukan perpindahan kalor melalui permukaannya
dari uap refrigeran ke media pendingin kondensor.
72

6. Receiver tank, berfungsi untuk menyimpan refrigeran cair dari kondensor sehingga
pengiriman refrigeran cair selalu tersedia bilamana evaporator memerlukannya.
7. Saluran liquid, menyalurkan refrigeran cair dari receiver tank ke alat ekspansi.
8. Alat ekspansi, berfungsi untuk mengatur jumlah refrigeran yang mengalir ke
evaporator dan menurunkan tekanan refrigeran cair yang masuk ke evaporator
sehingga refrigeran cair akan menguap dalam evaporator pada tekanan rendah.
Sistem refrigerasi dibagi ke dalam dua bagin berdasarkan pada tekanan kerja
refrigeran yang terjadi, yaitu sisi tekanan tinggi dan sisi tekanan rendah. Pada sisi
tekanan rendah, sistem ini terdiri atas alat ekspansi, evaporator dan saluran suction.
Tekanan yang digunakan oleh refrigeran pada bagian ini adalah tekanan rendah dimana
refrigeran menguap di evaporator. Tekanan ini juga dikenal dengan istilah low side
pressure, evaporator pressure, suction pressure atau back pressure. Pada sisi tekanan
tinggi dari sistem terdiri atas kompresor, saluran discharge, kondensor, receiver tank
dan saluran liquid. Tekanan yang dilakukan refrigeran pada bagian ini adalah tekanan
tinggi dimana refrigeran mengembun di kondensor. Tekanan ini dinamakan juga
condensing pressure, discharge pressure atau head pressure. Batas/ titik pembagi
antara sisi tekanan tinggi dan sisi tekanan rendah adalah alat ekspansi , dimana tekanan
refrigeran di turunkan dari tekanan kondensing ke tekanan penguapan.

B. Model siklus kompresi uap













Gambar 4.2 Model siklus kompresi uap
73

Model siklus kompresi uap ditunjukkan oleh Gambar 4.2, dimulai dari receiver
tank, refrigeran cair yang bertemperatur tinggi dan tekanan tinggi mengalir dari receiver
tank ke alat ekspansi melalui saluran liquid. Tekanan refrigeran cair di turunkan sampai
mendekati tekanan evaporator ketika mengalir di alat ekspansi sehingga temperatur
jenuh refrigeran ketika masuk evaporator akan lebih rendah dari temperatur ruangan
yang didinginkan. Di dalam evaporator, refrigeran cair menguap pada kondisi tekanan
dan temperatur konstan, di mana kalor yang diperlukan untuk menguapkan refigeran
cair itu adalah kalor laten yang berasal dari ruangan yang didinginkan yang mengalir
melalui dinding-dinding evaporator. Selanjutnya akibat kerja kompresi yang dilakukan
kompresor, uap refrigeran ditarik dari evaporator melalui saluran suction ke dalam inlet
suction dari kompresor.
Kondisi uap ketika meninggalkan evaporator adalah uap jenuh dan temperatur
serta tekanannya sama dengan refrigeran cair ketika akan mulai menguap. Ketika
refrigeran mengalir dari evaporator ke kompresor melalui saluran suction, biasanya
menyerap kalor dari udara disekitar saluran suction sehingga wujudnya akan berubah
menjadi uap panas lanjut. Walaupun temperatur uap refrigeran disaluran suction akan
naik sebagai akibat dari panas lanjut tetapi tekanannya tidak mengalami perubahan,
sehingga tekanan uap refrigeran ketika masuk ke kompresor adalah sama dengan
tekanan penguapan di evaporator. Di dalam kompresor, temperatur dan tekanan uap
refrigeran dinaikkan dengan kerja kompresi dan selanjutnya temperatur tinggi dan
tekanan tinggi uap refrigeran disalurkan ke saluran hot gas melalui discharge
kompresor. Uap refrigeran tekanan tinggi dan temperatur tinggi mengalir dari saluran
hot gas ke kondensor, sehingga temperaturnya turun sampai mendekati temperatur
saturasi dan tekanannya juga berubah. Di kondensor, uap refrigeran berubah wujud lagi
menjadi cair sebagai akibat pelepasan kalor yang dilakukannya. Pada akhirnya semua
refrigeran uap berubah menjadi refrigeran cair di bagian akhir kondensor dan
selanjutnya mengalir ke receiver tank dan siap untuk disirkulasikan kembali.

C. Diagram tekanan-entalpi
Diagram yang sering digunakan dalam menganalisa siklus refrigerasi adalah
diagram tekanan-entalpi (P-h) dan diagram temperatur-entropi (T-s). Kondisi refrigeran
pada setiap keadaan termodinamika dapat diketahui dengan memberikan point (titik)
pada Ph diagram. Titik yang diletakkan pada Ph diagram dapat menjelaskan kondisi
termodinamika dari refrigeran jika telah diketahui dua properties refrigeran pada kondisi
74

itu. Untuk memudahkan pemahaman kita sebuah sketsa Ph diagram ditunjukkan oleh
Gambar 4.3.









Gambar 4.3 Sketsa diagram tekanan-entalpi
(Sumber: Dossat, 1961:91)

Diagram tersebut dibagi menjadi tiga bagian dimana setiap bagiannya
dipisahkan oleh kurva cairan jenuh (saturated liquid) dan uap jenuh (saturated vapor).
Daerah pada bagian kiri kurva cairan jenuh disebut daerah cairan (subcooled). Setiap
titik yang ditempatkan pada daerah cairan menunjukkan refrigeran dalam wujud cair
dan temperaturnya di bawah temperatur saturasi yang berhubungan dengan tekanannya.
Daerah pada bagian kanan kurva uap jenuh disebut daerah panas lanjut (superheated)
dan refrigeran dalam keadaan uap panas lanjut (superheated vapor). Daerah pada bagian
tengah dari diagram, diantara kurva cairan jenuh dan uap jenuh adalah daerah yang
menunjukkan perubahan fase refrigeran dari cair ke uap. Setiap titik yang terdapat pada
daerah ini menunjukkan refrigeran dalam wujud campuran cair dan uap. Pada diagram
dapat dilihat bahwa perubahan fase refrigeran dari wujud cair ke uap bergerak dari kiri
ke kanan, begitu juga sebaliknya perubahan fase dari uap ke cair bergerak dari kanan ke
kiri. Jika titik data campuran cair dan uap semakin dekat ke kurva cairan jenuh maka
fase refrigeran hampir seluruhnya cair begitu juga sebaliknya jika semakin dekat dengan
kurva uap jenuh maka fase refrigeran hampir semuanya berwujud uap.
Pada diagram Ph, besaran nilai tekanan terletak pada sumbu vertical dan nilai
entalpi pada sumbu horizontal seperti ditunjukkan oleh Gambar 4.4. Sehingga, garis
horizontal yang memotong luasan diagram sepanjang kurva adalah garis tekanan
konstan dan garis vertical yang memotong luasan diagram adalah garis konstan entalpi.
Garis temperatur konstan pada daerah subcooled hampir tegak lurus dengan diagram
75

dan sejajar dengan garis entalpi konstan. Pada bagian tengah kurva, jika refrigeran
berubah wujud pada temperatur dan tekanan konstan maka garis temperatur konstan
akan sejajar dengan garis tekanan konstan. Pada daerah kurva uap jenuh, garis
temperatur berubah arah lagi menuju ke bagian bawah dari diagram.










Gambar 4.4 Sketsa Ph diagram yang menunjukkan garis tekanan konstan, temperatur
konstan, entalpi konstan, entropi konstan, volume konstan dan kualitas konstan.
(Sumber: Dossat, 1961:92)


D. Proses pendinginan













Gambar 4.5 Diagram Ph untuk siklus refrigerasi yang beroperasi pada temperatur
penguapan 20
0
F dan temperatur kondensasi 100
0
F. (Refrigeran-12).
(Sumber: Dossat, 1961:93)
76

Secara teoritis diasumsikan refrigeran mengalir meninggalkan evaporator dalam
wujud uap dan masuk ke kompresor dalam wujud uap jenuh (pada tekanan dan
temperatur penguapan) dan refrigeran cair mengalir meninggalkan kondensor lalu
masuk kealat ekspansi dalam wujud cairan jenuh (pada tekanan dan temperatur
kondensasi). Sebuah siklus refrigerasi sederhana untuk sistem yang menggunakan R-12
digambarkan pada sebuah Ph diagram dan ditunjukkan oleh gambar 4.5. Sistem ini
diasumsikan beroperasi pada kondisi tekanan penguapan di evaporator sebesar 35,75
psia dan tekanan kondensasi di kondensor sebesar 131,6 psia. Titik A, B, C, D dan E
pada diagram Ph berhubungan dengan titik data pada sistem refrigerasi yang
ditunjukkan oleh Gambar 4.6. Pada titik A, refrigeran berada dalam wujud cairan jenuh
di kondensor dan nilai tekanan, entalpi dan temperatur dapat langsung di ketahui dari Ph
diagram.

















Gambar 4.6 Diagram alir dari siklus refrigerasi sederhana
(Sumber: Dossat, 1961:94)

1. Proses ekspansi
Diasumsikan tidak terjadi perubahan kondisi refrigeran cair ketika mengalir
melalui saluran liquid dari kondensor ke alat ekspansi dan kondisi refrigeran ketika akan
masuk kealat ekspansi sama dengan kondisi refrigeran di titik A. Pada proses yang
Refrigeran
setelah melewati
katup ekspansi
Refrigeran tidak
mengalami
perubahan fase
Proses kondensasi
mulai disini
Pengembunan
refrigerant gas
berakhir di sini
Gas panas lanjut
dari kompresor
Refrigeran tidak
mengalami
perubahan fase
Penguapan liquid
refrigeran
berakhir di sini
77

ditunjukkan oleh titik A B terjadi pada alat ekspansi dimana tekanan dari cairan
diturunkan dari tekanan kondensasi ke tekanan evaporasi. Ketika cairan berekspansi ke
dalam evaporator melalui orifice dari alat ekspansi, temperatur cairan turun dari
temperatur kondensasi ke temperatur evaporasi dan wujud refrigeran cair berubah
menjadi campuran uap dan cair. Titik A dan B mempunyai nilai kandungan panas yang
sama karena terletak pada garis komstan entalpi, harganya 31,16 Btu/lb. Nilai 31,16
Btu/lb adalah kandungan panas refrigeran cair R-12 pada temperatur 100
0
F sedangkan
kandungan panas refrigeran cair pada temperatur 20
0
F adalah 12,55 Btu/lb (titik X).
Selisih B X inilah yang mesti dibuang sebelum refrigeran masuk ke dalam evaporator.
2. Proses evaporasi
Garis horisontal B C merupakan garis penguapan di dalam evaporator,
refrigeran mengambil panas dari luar untuk menguapkan semua refrigeran cair yang ada
di dalam evaporator. Titik C merupakan titik akhir penguapan dan titik awal kompresi,
nilai hC = 80,49 Btu/lb. Selisih antara hB dengan hC adalah merupakan efek
pendinginan (RE), yang besarnya 80,49 31,16 = 49,33 Btu/lb.
3. Proses kompresi
Pada gambar 4.5, Garis C D menunjukkan proses kompresi, temperatur dan
tekanan uap dari evaporator dinaikkan sampai mencapai temperatur dan tekanan
kondensor, dengan asumsi tidak ada bocoran atau sisipan panas pada pipa penghubung
evaporator dan kompresor. Titik D merupakan awal garis tekanan absolut yang senilai
dengan temperatur kondensasi 100
0
F. Titik ini terletak pada daerah panas lanjut
(superheated). Letak titik D merupakan titik pertemuan antara perpanjangan garis
tekanan 131,16 psia dengan konstan entropi dari titik C dan temperatur titik D
mendekati 112
0
F. Besarnya hD = 90,6 Btu/lb dan selisih hD dengan hC = 10,11 Btu/lb
adalah jumlah panas yang ditambahkan kepada uap akibat kerja kompresi. Temperatur
titik D merupakan temperatur teoritis, karena pada kenyataannya temperatur pada titik
D lebih tinggi, lebih kurang 20
0
F sampai 35
0
F.
4. Proses kondensasi
Garis D E merupakan garis superheat yang harus dibuang terlebih dahulu
sebelum refrigeran mengalami proses kondensasi, besarnya adalah hD hE = 90,6
88.62 = 1,98 Btu/lb. Panas lanjut 1,98 Btu/lb dibuang melalui dinding pipa keluar
kompresor atau dari pipa-pipa bagian atas kondensor. Selama terjadi pengeluaran panas
ini temperatur refrigeran turun sampai temperatur kondensasi (100
0
F). Garis E A
78

adalah garis kondensasi yang terjadi di dalam kondensor. Kondisi titik E = titik A, yaitu
100
0
F/ 131,16 psia, kecuali entalpi dan wujudnya berbeda.
Untuk mencari koefisien kerja (Coefficient of Performance)dari suatu instalasi
pendingin mesti diketahui dulu efek pendinginannya (RE) dan kerja kompresi.
Perbandingan efek pendinginan dengan kerjha kompresi adalah koefisien kerja
(Coefficient of Performance, CoP). Kalau dibuat suatu persamaan :
CoP = efek pendinginan : kerja kompresi
Untuk mencari besarnya CoP itu kita mesti kembali ke diagram ph, dimana :
CoP = (hC hA) : (hD hC)
CoP = 49,33 : 10,11
CoP = 4,88
Nilai CoP selalu lebih besar dari 1.

E. Pengaruh superheating refrigeran uap pada siklus refrigerasi












Gambar 4.7 Siklus diagram aliran superheated
(Sumber: Dossat, 1961:107)

Pada siklus refrigerasi aktual terjadi deviasi dari siklus refrigerasi yang
sedarhana. Alasan untuk hal ini karena pada siklus refrigerasi sederhana dibuat beberapa
asumsi yang sebenarnya tidak terdapat pada siklus refrigerasi aktual. Sebagai contoh,
pada siklus refrigerasi sederhana penurunan tekanan (pressure drops) akibat aliran
refrigeran yang mengalir pada pipa saluran, evaporator, kondensor dan sebagainya
79

diabaikan. Lebih lanjut pengaruh dari subcooling dan superheating tidak
dipertimbangkan. Begitu juga kerja kompresi oleh kompresor diasumsikan sebagai
proses isentropik. Pada siklus refrigerasi sederhana, diasumsikan refrigeran uap yang
mengalir ke kompresor berada dalam wujud uap jenuh pada tekanan dan temperatur
penguapan. Pada kenyataannya hal ini tidak selalu benar. Setelah refrigeran cair
seluruhnya menguap di evaporator, kemudian menjadi dingin, biasanya uap jenuh akan
terus menyerap kalor dan akhirnya menjadi uap panas lanjut sebelum ia mencapai
kompresor, seperti ditunjukkan oleh Gambar 4.7.











Gambar 4.8 Ph diagram untuk perbandingan siklus satarusi dengan
siklus superheated. (Sumber: Dossat, 1961:108)

Pada diagram Ph dalam Gambar 4.8 dilakukan perbandingan antara siklus
saturasi dengan siklus superheated sehingga temperatur uap jenuh sebesar 20
0
F berubah
menjadi 70
0
F. Titik A, B, C, D dan E menunjukkan siklus saturasi dan titik A, B, C,
D dan E menunjukkan siklus superheated. Jika penurunan tekanan refrigeran pada
saluran suction diabaikan, ini berarti dapat diasumsikan bahwa tekanan uap refrigeran
konstan selama proses superheating terjadi. Hal ini juga berarti bahwa setelah
superheating, tekanan uap refrigeran di saluran hisap kompresor sama dengan tekanan
penguapan di evaporator. Berdasarkan asumsi tersebut, titik C dapat diletakkan pada
Ph diagram dengan mengikuti garis tekanan konstan dari titik C di mana garis tekanan
konstan tersebut akan berpotongan dengan garis temperatur konstan pada 70
0
F. Titik
D dapat diketahui dengan cara mengikuti garis entropy konstan dari titik C hingga
berpotongan dengan garis tekanan konstan yang menunjukkan garis tekanan
80

kondensing. Pada Gambar 4.8, properties dari uap panas lanjut di titik C dan D dapat
dilihat dalam Ph diagram yaitu sebagai berikut:
Titik C : P = 35,75 psia, T = 70
0
F, v = 1,260 ft
3
/lb

, h = 88,6 Btu/lb.
Titik D : P = 131,6 psia, T = 164
0
F, v = 0,380 ft
3
/lb, h = 99,2 Btu/lb.
Pada Ph diagram, proses C C menunjukkan superheating refrigeran uap dari
20
0
F menjadi 70
0
F pada tekanan penguapan dan perbedaan entalpi pada titik ini
adalah jumlah panas yang diperlukan untuk mencapai superheat untuk setiap pon
refrigeran. Berdasarkan hasil perbandingan dari kedua siklus tersebut, ada beberapa hal
yang menarik untuk diamati, yaitu:
1. Panas kompresi untuk siklus superheated lebih besar daripada untuk siklus saturasi.
Untuk siklus superheated panas kompresinya adalah hD hC = 99,2 88,6 = 10,6
Btu/lb. Sedangkan untuk siklus saturasi panas kompresinya adalah hD hC = 90,6
80,49 = 10,11 Btu/lb.
2. Untuk temperatur dan tekanan kondensing yang sama, temperatur uap refrigeran yang
keluar dari kompresor untuk siklus superheated lebih tinggi daripada untuk siklus
saturasi. Pada kasus ini temperaturnya adalah 164
0
F

untuk siklus superheated dan
112
0
F untuk siklus saturasi.
3. Untuk suiklus superheated, jumlah panas yang harus dilepaskan oleh kondensor lebih
besar daripada untuk siklus saturasi. Hal ini terjadi karena adanya tambahan panas
yang diserap oleh uap refrigeran sebelum ia mengalami superheated dan juga karena
adanya kenaikan pada panas kompresi. Untuk siklus superheated, panas yang harus
dilepaskan kondensor adalah hD hA = 99,2 31,16 = 68,04 Btu/lb dan untuk
siklus saturasi panas yang harus dilepaskan oleh kondensor adalah hD hA = 90,6
31,16 = 59,44 Btu/lb.
Sebagai catatan juga bahwa tambahan panas yang harus dilepaskan kondensor pada
siklus superheated adalah semuanya panas laten. Jumlah panas laten yang harus
dikeluarkan kondensor adalah sama untuk kedua siklus ini. Ini berarti bahwa pada siklus
superheated, sejumlah panas sensibel yang harus dilepaskan kondensor ke media
pendinginnya adalah sebelum proses kondensasi dimulai.

F. Pengaruh subcooling refrigerant cair pada siklus refrigerasi
Pada Ph diagram yang ditunjukkan oleh Gambar 4.9, dilakukan pembandingan
pada siklus saturasi sederhana dengan temperatur kondensing 100
0
F dan temperatur
81

kondensing yang mengalami subcooling hingga mencapai temperatur 80
0
F, sebelum
refrigeran cair mengalir ke alat ekspansi. Titik A, B, C, D dan E menunjukkan siklus
saturasi dan titik A, B, C, D dan E menunjukkan siklus subcooled. Telah dijelaskan
sebelumnya bahwa ketika refrigeran cair yang didinginkan sebelum ia mengalir ke alat
ekspansi maka efek refrigrasi yang terjadi akan meningkat. Pada Gambar 4.9,
peningkatan efek refrigrasi hasil dari pendinginan lanjut (subcooling) berbeda antara
hB dan hB begitu juga halnya dengan hA dan hA. Panas yang dibuang oleh refrigeran
cair selama proses subcooling adalah:
Untuk siklus saturasi, q
1
= hC hA = 80,49 31,16 = 49,33 Btu/lb.
Untuk siklus subcooling, q
1
= hC hA = 80,49 26,28 = 54,21 Btu/lb.
Karena besarnya efek refrigerasi, maka banyaknya refrigeran yang disirkulasikan per
menit per ton akan lebih sedikit untuk siklus subcooled daripada untuk siklus saturasi.
Untuk siklus saturasi, m = 200/49,33 = 4,05 lb
Untuk siklus subcooling, m = 200/54,21 = 3,69 lb.











Gambar 4.9 Ph diagram untuk perbandingan siklus satarusi dengan
siklus subcooled. (Sumber: Dossat, 1961:113)

Kondisi refrigeran uap ketika mengalir ke kompresor adalah sama untuk kedua
siklus. Oleh karena itu volume spesifik refrigeran uap ketika masuk ke kompresor juga
sama, dan jika jumlah refrigeran yang disirkulasikan per menit per ton untuk siklus
subcooled lebih sedikit daripada untuk siklus saturasi, maka besarnya volume refrigeran
uap yang harus ditanggulangi oleh kompresor juga akan lebih sedikit untuk siklus
subcooled daripada untuk siklus saturasi.
82

Untuk siklus saturasi:
Volume spesifik refrigeran uap, v
c

= 1,121 ft
3
/lb. Volume refrigeran uap yang di
tanggulangi kompresor: V = m x v
c

= 4,05 x 1,121 = 4,55 ft
3
/min
Untuk siklus subcooled:
Volume spesifik refrigeran uap, v
c

= 1,121 ft
3
/lb. Volume refrigeran uap yang di
tanggulangi kompresor: V = m x v
c

= 3,69 x 1,121 = 4,15 ft
3
/min.
Karena volume refrigeran uap yang di tanggulangi oleh kompresor untuk siklus
subcooled lebih sedikit, maka daya yang dibutuhkan oleh kompresor juga akan lebih
kecil daripada untuk siklus saturasi. Selain itu koefisien unjuk kerja (CoP) yang
dihasilkan pada siklus subcooled lebih besar daripada siklus saturasi.























83

BAB V
PSYCHROMETRIC



A. Definisi Psychrometric
Psychrometrics adalah ilmu yang mempelajari sifat-sifat (properties) udara. Pada
bidang teknik tata udara, psychrometrics meliputi pengukuran dan menghitung sifat-
sifat udara luar dan udara yang ada di dalam ruangan bangunan yang dikondisikan.
Psychrometrics juga digunakan untuk mencari kondisi udara yang pasti akan lebih
nyaman dalam ruangan yang dikondisikan. Grafik psychrometrics seperti ditunjukkan
oleh Gambar 5.1, merupakan alat penyederhana dalam pengukuran sifat-sifat udara dan
mengurangi beberapa perhitungan rumit ketika mencari sifat-sifat udara. Industri
pembuat alat tata udara (AC) akan mempunyai bentuk grafik yang sedikit berlainan,
yang mungkin disebabkan berlainan lokasi tempat informasi didapat. Namun demikian,
tetap mempunyai dasar yang sama bahwa grafik psychrometrics merupakan sebuah
grafik sederhana yang mewakili kondisi atau sifat-sifat udara. Sifat-sifat udara tersebut
seperti: temperatur, kandungan uap air di udara (humidity) dan titik kondensasi yang
biasa disebut titik pengembunan (dewpoint).













Gambar 5.1 Grafik psychrometric
84

Bagian-bagian yang biasa digunakan dalam hubungannya dengan grafik
psychrometric yaitu:
1. Temperatur kering atau dry-bulb temperature (db) adalah temperatur udara yang
diukur dengan menggunakan thermometer biasa, yaitu thermometer rumah tangga.
2. Temperatur basah atau wet-bulb temperature (wb) adalah temperatur udara luar
yang diukur dengan menggunakan thermometer biasa berselubung kain basah pada
ujung lancipnya. Temperatur dicatat setelah thermometer digoyang secara cepat
(diputar) di udara. Sebuah thermometer disebut thermometer basah karena ujung
lancipnya dibasahi dengan cara membungkus dengan kain yang dicelupkan ke
dalam air. Thermometernya sama dengan thermometer kering. Untuk mengukur
temperatur kering atau basah biasa digunakan psychrometer ayun (sling
psychrometer). Hasil pengukuran thermometer basah biasanya lebih kecil
dibandingkan dengan hasil pengukuran thermometer kering. Perbedaan temperatur
kering dan basah tergantung pada jumlah uap air yang ada di dalam udara. Jika
kandungan uap air tinggi, penguapan yang terjadi di kain basah menjadi rendah.
Akibatnya panas yang dipindahkan menjadi sedikit dan temperatur basah menjadi
tinggi. Jika kandungan uap air di udara rendah, berarti udara itu kering dan dapat
dengan segera mengambil uap air. Oleh karena itu penguapan pada kain basah
terjadi dengan cepat dan panas yang dipindahkan dalam jumlah yang lebih besar.
Hal ini akan menyebabkan permukaan thermometer basah jadi cepat sejuk. Sebagai
hasilnya, hasil pembacaan yang didapat akan lebih rendah dibanding udara yang
mempunyai kandungan uap air tinggi. Udara kering atau udara yang mengandung
uap air rendah mempunyai temperatur basah yang rendah. Udara lembab atau udara
berkandungan uap air tinggi mempunyai temperatur basah yang tinggi. Bila
kandungan uap air mencapai 100 % atau relatif humidity mencapai 100 % maka
temperatur basah akan sama besarnya dengan temperatur kering. Hal tersebut dapat
dilihat dengan mudah di grafik psychrometrics. Pada kondisi seperti ini penguapan
terhenti sebab udara tak mampu lagi mengambil uap air. Oleh karena itu, tidak
mungkin mengeluarkan panas penguapan dari kain basah pada thermometer basah
sehingga kedua thermometer akan memberikan hasil yang sama.
3. Kandungan uap air relatif atau Relativ Humidity (RH) adalah jumlah uap air yang
ada dalam udara dibandingkan dengan jumlah uap air maksimum yang dapat
dimiliki oleh udara pada kondisi yang sama (temperatur dan tekanannya sama).
85

4. Tetes uap air atau grains of moisture adalah ukuran yang digunakan untuk
menghitung jumlah uap air yang ada di udara.
5. Temperatur titik pengembunan atau dewpoint temperature (dp)adalah temperatur
saat uap air mulai mengembun pada suatu permukaan.
Dalam hubungannya dengan grafik psychrometrics, bagian-bagian ini dapat
bercerita banyak tentang kondisi udara, misalnya :
a. Jika temperatur kering dan temperatur basah sudah diketahui maka kandungan
uap air relatif dapat dibaca di grafik.
b. Jika temperatur kering dan kandungan uap air relatif sudah diketahui, maka
temperatur basah dapat dicari.
c. Jika temperatur basah dan kandungan uap air relatif diketahui maka temperatur
kering dapat dicari.
d. Jika temperatur kering dan temperatur basah sudah diketahui, maka temperatur
pengembunan dapat dicari.
e. Jika temperatur basah dan kandungan uap air relatif diketahui, maka temperatur
pengembunan dapat dicari.
f. Jika temperatur kering dan kandungan uap air relatif diketahui, maka temperatur
pengembunan dapat dicari.
Tetes uap air di udara dapat dicari dari tiap kombinasi sebagai berikut :
1) Temperatur kering dan kandungan uap air relatif (RH)
2) Temperatur kering dan temperatur pengembunan
3) Temperatur basah dan kandungan uap air relatif (RH)
4) Temperatur basah dan temperatur pengembunan
5) Temperatur kering dan temperatur basah
6) Titik pengembunan

B. Letak Garis dan Skala Pada Grafik
Ilustrasi pada Gambar 5.2 membantu para pembaca untuk mengetahui letak garis
dan skala pada grafik psychrometric. Gambar grafik seperti sebuah sepatu dengan jari
kaki (toe) disebelah kiri dan tumit (heel) di sebelah kanan. Pada Gambar 5.3
ditunjukkan skala garis temperatur kering dan basah. Skala temperatur kering (dry-bulb
temperature scale) membentang sepanjang alas (sole) dari jari kaki (toe) sampai tumit
(heel). Garis temperatur kering berdiri tegak dari alas (sole) ke satu garis mewakili tiap
86

derajat temperatur dan skala temperatur basah (wet-bulb scale) membentang sepanjang
pergelangan kaki (instep) ke puncak sepatu. Garisnya membentang secara diagonal ke
bawah menuju alas (sole) dan belakang sepatu satu garis satu derajat temperatur.









Gambar 5.2 Ilustrasi Grafik psychrometric











Gambar 5.3 Garis temperatur kering dan basah

Pada Gambar 5.4 ditunjukkan garis skala temperatur kondensasi dan kandungan
uap air relatif. Skala titik kondensasi atau titik pengembunan adalah sama dengan skala
temperatur basah (wet-bulb scale). Garis titik pengembunan membentang secara
horizontal ke bagian belakang sepatu, satu garis satu derajat temperatur. Garis
kandungan uap air relatif berlokasi sepanjang sisi sepatu dan sejajar dengan garis
pergelangan kaki (instep). Garis pergelangan kaki (instep) merupakan garis kandungan
uap air relatif 100%.

87










Gambar 5.4 Garis temperatur kondensasi dan kanduangan uap air relatif

Skala tetes uap air berada di sepanjang bagian belakang sepatu, mulai dari
bawah sampai ke atas. Letak garisnya sama dengan garis pengembunan.










Gambar 5.5 Garis tetes uap air (grains of moisture)

C. Hubungan antara Bagian-bagian Psychrometric
Contoh berikut menggambarkan hubungan antar bagian pada psychrometric.
Setiap contoh langsung berhubungan dengan grafik psychrometrics. Oleh karena itu,
grafik seharusnya selalu digunakan untuk memperjelas persoalan.
Contoh 1: Temperatur kering, temperatur basah kandungan uap air relatif (RH)
Diketahui : Temperatur kering 78
0
F
Temperatur basah 65
0
F
Carilah : Kandungan uap air relatif (RH)
88

Jawab: ikuti langkah penyelesaiannya dan perhatikan ilustrasi pengerjaannya pada
Gambar 5.6.
1. Plot 78 F pada skala temperatur kering, yaitu bagian bawah grafik
2. Dari titik 78 F tarik garis tegak lurus ke atas sehingga memotong kurva pergelangan
kaki (instep).
3. Dari titik itu, ikuti kurva ke arah menurun sampai pada titik 65 F (skala temperatur
basah).
4. Tarik garis sejajar dengan garis temperatur basah sampai memotong garis 78 F.
5. Dari titik itu didapat garis kurva, garis kandungan uap air relatif yang sesuai yaitu
50%.
6. Jadi kandungan uap air relatif (RH) untuk 78F db dan 65 F wb adalah 50%.





















Gambar 5.6 Cara menentukan kandungan uap air relatif (RH)
89

Contoh 2: Temperatur kering, kandungan uap air relatif (RH) temperatur basah
Diketahui : Temperatur kering 78 F
Kandungan uap air (RH) 50%
Carilah : Temperatur basah
Jawab: ikuti langkah penyelesaiannya dan perhatikan ilustrasi pengerjaannya pada
Gambar 5.7.
1. Plot 78 F pada skala temperatur kering, yaitu bagian bawah grafik
2. Dari titik 78 F tarik garis tegak lurus ke atas sehingga memotong garis RH 50%.
3. Letak titik temperatur basah adalah pada titik pertemuannya.
4. Ikuti garis diagonal ke arah kiri atas dan memotong kurva pergelangan kaki.
5. Disitulah letak titik temperatur basah, yaitu sebesar 65 F.





















Gambar 5.7 Cara menentukan temperatur basah
90

Contoh 3: Temperatur basah, kandungan uap air relatif (RH) temperatur kering
Diketahui : Temperatur basah 65 F
Kandungan uap air (RH) 50%
Carilah : Temperatur kering
Jawab: ikuti langkah penyelesaiannya dan perhatikan ilustrasi pengerjaannya pada
Gambar 5.8.
1. Tetapkan titik 65 F pada skala temperatur basah.
2. Tarik garis diagonal ke bawah sampai memotong garis RH 50%.
3. Tarik garis tegak lurus dari atas ke bawah melalui titik potong pada no. 2 sampai
memotong garis skala temperatur kering.
4. Didapat titik potongnya pada 78 F.





















Gambar 5.8 Cara menentukan temperatur kering
91

Contoh 4: Temperatur kering, temperatur basah temp. pengembunan
Diketahui : Temperatur kering 78 F
Temperatur basah 65 F
Carilah : Temperatur pengembunan (dewpoint)
Jawab: ikuti langkah penyelesaiannya dan perhatikan ilustrasi pengerjaannya pada
Gambar 5.9.
1. Carilah titik potong 78 F db dengan 65 F wb.
2. Tarik garis horizontal ke kiri sampai memotong kurva pergelangan kaki (instep).
3. Didapat titik temperatur pengembunan (dewpoint) 58 F.
















Gambar 5.9 Cara menentukan temperatur pengembunan kesatu

Contoh 5: Temperatur basah, kandungan uap air relatif (RH) temp. pengembunan
Diketahui : Temperatur basah 65 F
Kandungan uap air (RH) 50%
Carilah : Temperatur pengembunan (dewpoint)
Jawab: ikuti langkah penyelesaiannya dan perhatikan ilustrasi pengerjaannya pada
Gambar 5.10.
92

1. Cari titik 65 F pada skala temperatur basah.
2. Ikuti garis diagonal ke bawah, mulai dari titik 65 F sampai memotong garis RH
50%.
3. Dari titik perpotongan no. 2, tarik garis horizontal, yaitu garis pengembunan
(dewpoint).
4. Garis di atas memotong kurva di sebelah kiri pada titik 58 F.
5. Garis perpotongan itu adalah temperatur pengembunan yaitu 58 F.

















Gambar 5.10 Cara menentukan temperatur pengembunan kedua

Seperti ditunjukkan pada contoh 3 temperatur basah 65 F dan RH 50% akan
menghasilkan temperatur kering 78 F, dengan kondisi yang sama, dapat digunakan
untuk mencari lebih banyak lagi kondisi lain. Lebih jauh, temperatur basah dan
kandungan uap air relatif telah digunakan untuk mencari temperatur kering dan
temperatur pengembunan.
Contoh 6: Temperatur kering, kandungan uap air relatif (RH) temp. pengembunan
Diketahui : Temperatur kering 78 F
Kandungan uap air (RH) 50%
93

Carilah : Temperatur pengembunan (dewpoint)
Jawab: ikuti langkah penyelesaiannya dan perhatikan ilustrasi pengerjaannya pada
Gambar 5.11.
1. Cari titik perpotongan 78 F db dengan 50% RH.
2. Tarik garis horizontal ke kiri, sampai memotong kurva.
3. Titik perpotongannya yaitu 58 F adalah temperatur pengembunan.
















Gambar 5.11 Cara menentukan temperatur pengembunan ketiga

Seperti ditunjukkan pada contoh 2 temperatur kering 78 F db dan RH 50% akan
menghasilkan temperatur basah 65 F wb, dengan kondisi yang sama dapat digunakan
untuk mencari lebih dari satu kondisi tambahan lainnya. Lebih jauh, temperatur kering
dan kandungan uap air relatif telah digunakan untuk mencari temperatur basah dan
temperatur pengembunan.
Contoh 7 : Temperatur kering, temperatur basah jumlah tetes air
Diketahui : Temperatur kering 78 F
Temperatur basah 65 F
Carilah : Jumlah tetes air (grains of moisture)
94

Jawab: ikuti langkah penyelesaiannya dan perhatikan ilustrasi pengerjaannya pada
Gambar 5.12.
1. Cari perpotongan antara 78 F db dengan 65 F wb.
2. Tarik garis horizontal ke kanan, sampai memotong garis jumlah tetes air.
3. Akan didapat jumlah tetes air sebesar 72.


















Gambar 5.12 Cara menentukan jumlah tetes air

Pada contoh di atas ditunjukan bagaimana cara mencari jumlah tetes air dengan
mengunakan temperatur kering dan temperatur basah. Jumlah tetes air juga dapat dicari
pada grafik psycrometrics dengan menggunakan prosedur seperti di atas, tetapi dengan
kombinasi lain. Secara sederhana, carilah perpotongan dua kondisi tertulis di bawah ini
dan ikuti garis pada grafik yang memotong skala jumlah tetes air.
1. db dengan kandungan uap air relatif (RH).
2. db dengan temperatur pengembunan.
3. wb dengan kandungan uap air relatif (RH).
4. wb dengan temperatur pengembunan.
95





















Gambar 5.13 Cara menentukan jumlah tetes air per ft
3
udara

Perhatikan pada ujung atas skala tertulis kata jumlah tetes air per lb udara
kering. Berarti bahwa pada 78 F db dan 65 F wb udara (per lb) dapat menahan
sejumlah 72 tetes air. Uap air dapat diukur per lb udara atau per ft
3
udara, untuk mencari
uap air per ft
3
udara gunakanlah kondisi yang sama (78 F db dan 65 F wb) dengan
memperhatikan Gambar 5.13 dan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Carilah titik potong 78 F db dab 65 F wb.
2. Tarik garis horizontal ke kanan sampai memotong garis skala jumlah uap air.
3. Didapatkan hasilnya 72 tetes air.
4. Carilah skala ft
3
sepanjang alas gambar sepatu (psychrometrics). Skala mulai dari
12,5 ft
3
dan berakhir pada 14 ft
3
.

Garis ini membentang diagonal dari alas ke kiri
atas.
5. Cari lagi titik potong antara 78 F db dab 65 F wb.
96

6. Tarik garis sejajar dengan ft
3
melalui perpotongan pada item no.5 terus miring ke
bawah sampai memotong alas. Titik potongnya berada antara 13,5 dan 14
katakanlah 13,8 ft
3
.
7. Bagilah 72 dengan 13,8.
8. Hasilya yaitu 5 tetes air per ft
3
.
Pada temperatur 78 F db dab 65 F wb uap air di dalam udara adalah sejumlah 72 tetes
tiap lb udara, atau 5 tetes tiap ft
3
.

D. Penggunaan Praktis Kandungan Uap Air (Humidity)
Kandungan uap air relatif digunakan untuk kenyamanan pada sistim
pengkondisian udara (air conditioning) yang menunjukkan adanya sejumlah uap air di
dalam udara. Kenyamanan pada sistim pengkondisian udara merupakan cara lain untuk
menggambarkan bahwa pengkondisian udara menyuguhkan adanya rasa nyaman untuk
tubuh manusia dibandingkan dengan pengkondisian udara yang digunakan untuk
industri. Melalui berbagai tes dan observasi, para pakar teknik telah menemukan bahwa
pada suatu kombinasi tertentu antara kandungan uap air dan temperatur udara
memberikan hasil yang nyaman dibanding dengan kombinasi lainnya. Pada musim
dingin suasana nyaman untuk kebanyakan orang akan tercapai bila kombinasi 30%
sampai 35% kandungan uap air relatif pada temperatur 72 F sampai 75 F (dalam suatu
ruangan). Pada musim panas kombinasi yang cocok untuk kenyamanan adalah antara
45% sampai 50% relative humidity dan temperatur 75 F sampai 78 F. Dengan
menggunakan pengetahuan ini pada grafik psychrometrics, memungkinkan untuk
mencari apa yang harus dilakukan terhadap udara luar sebelum disalurkan ke dalam
ruangan. Selain itu, juga untuk mempertahankan kombinasi ternyaman antara
kandungan uap air relatif dan temperatur di dalam ruangan
1. Pengkondisian Udara Di Musim Dingin
Diketahui temperatur kering udara luar yaitu 30 F dan kandungan uap air relatif
udara luar yaitu 20%. Carilah kombinasi kandungan uap air relatif dan temperatur
kering yang berada dalam kondisi nyaman untuk musim dingin (temperatur 72-75 F dan
RH 30-35%). Perlakuan yang dibutuhkan untuk merubah kondisi udara luar ke kondisi
dalam ruangan yang nyaman. Pemecahan dari permasalahan di atas adalah dengan
mengamati Gambar 5.14 dan mengikuti langkah-langkah berikut ini:
a. Plot titik pada grafik psychrometrics pada perpotongan antara 30 F db dengan 20%
RH
97

b. Letakan sebuah titik pada perpotongan temperatur kering dan kandungan uap iar
relatif yang berada pada daerah nyaman di dalam ruangan pada saat musim dingin,
misalnya: 30% dan 72 F db.
c. Gambarlah garis antara kedua titik tersebut.
d. Dengan mengikuti garis dari titik ke 1 dan ke 2 pada titik potong, memungkinkan
untuk mendapatkan beberapa perubahan yang harus dibuat/ dilakukan agar kondisi
udara dapat distel ke kondisi yang diinginkan (temperatur dan kandungan uap air
relatif).
1) Karena kandungan uap air relatif naik, dari 20% menjadi 30% berarti uap air
harus ditambah ke udara.
2) Karena temperatur kering harus dinaikan dari 30 F menjadi 72 F db artinya harus
ada panas yang ditambahkan.
Pada contoh di atas, grafik psychrometrics menunjukkan sebuah contoh
sederhana dimana dibutuhkan sebuah ketel atau koil pemanas agar panas bertambah.
Selain itu, diperlukan sebuah pengabut (dehumidifier) untuk menambah jumlah uap air
ke udara.

















Gambar 5.14 Cara menentukan kondisi nyaman di musim dingin
98

2. Pengkondisian Udara Di Musin Panas
Diketahui bahwa temperatur udara luar 85 F dan kandungan uap air relatif
adalah 70%. Carilah kombinasi yang tepat antara kandungan uap air relatif dengan
temperatur udara kering agar tercipta suasana nyaman untuk musim panas (45-50% RH
dan temperatur 75-78 F). Dibutuhkan suatu pengaturan untuk mengubah kondisi udara
luar agar memenuhi kondisi yang nyaman. Pemecahan dari permasalahan di atas adalah
dengan mengamati Gambar 5.15 dan mengikuti langkah-langkah berikut ini:
a. Letakan sebuah titik pada titik potong antara 70% RH dan 85 F pada grafik
psychrometrics.
b. Letakan juga sebuah titik pada perpotongan antara dry bulb dan RH yang
memenuhi syarat kenyamanan untuk musim panas, misalnya: 50% RH dan
temperatur 75 F.
c. Tarik garis antara ke 2 titik tersebut.
















Gambar 5.15 Cara menentukan kondisi nyaman di musim panas
d. Dengan mengikuti garis dari titik 1 ke titik 2 didapatkan beberapa hal yang harus
mengalami perubahan.
1) Karena kandungan uap air relatif turun dari 70% menjadi 50% berarti ada
sejumlah uap air yang harus dikeluarkan dari udara.
99

2) Karena temperatur turun dari 85 F menjadi 75 F artinya ada sejumlah panas yang
harus dibuang.
Pada contoh di atas, grafik psychrometrics menunjukkan sebuah contoh sederhana
mengenai operasi pengkondisian udara pada musim panas. Evaporator menurunkan
temperatur sekaligus membuang uap air di udara.
Contoh berikut menunjukkan sebuah hubungan kerja antara kandungan uap air
relatif dengan temperatur kering. Jika kandungan uap air relatif dipertahankan tetap
berada di dalam daerah nyaman (30-35% untuk musim dingin dan 40-50% untuk musim
panas), maka penghuni yang berada di dalam ruangan yang dikondisikan akan merasa
nyaman. Kandungan uap air relatif dan grafik psychrometrics mempunyai aplikasi
praktis lainnya, misalnya: keduanya biasa digunakan untuk mencari kondisi di mana
kondensasi akan terbentuk pada suatu permukaan dingin.

3. Kondensasi atau Pengembunan Di Musim Dingin
Diketahui kondisi temperatur permukaan jendela 30 F dan temperatur ruangan
sebelah dalam 72 F. Carilah besarnya kandungan uap air relatif agar pada kondisi itu
tidak terjadi pengembunan di permukaan jendela. Pemecahan dari permasalahan di atas
adalah dengan mengamati Gambar 5.15 dan mengikuti langkah-langkah berikut ini:
a. Gunakan temperatur jendela sebagai temperatur pengembunan dan plot 30 F pada
skala pengembunan.
b. Carilah titik potong antara 30 F dp dengan 72 F db.
c. Tentukan besarnya kandungan uap air relatif pada titik itu, kira-kira 20%. Hal
tersebut artinya bahwa pada temperatur 72 F dan kandungan uap air relatif dibawah
20%, maka permukaan jendela akan tetap kering. Jika kandungan uap air relatif
berada diatas 20% uap air akan mengembun. Pada kenyataannya, dibawah kondisi
ini, uap air akan terbentuk di permukaan yang bertemperatur 30 F.
Contoh pengkondisian udara pada musim dingin menunjukkan bahwa sebuah
kombinasi antara 30% kandungan uap air relatif dengan 72 F akan menghasilkan
kondisi yang nyaman. Pada contoh kondensasi di musim dingin memperlihatkan,
bahwa pada 72 F kandungan uap air relatif maksimum yang diijinkan untuk mencegah
pengembunan hanya 20%. Artinya 10% kurangnya dibandingkan untuk kenyamanan.
Dua alternatif yang diijinkan untuk memperbaiki kekurangan akan uap air yang
mencukupi di dalam udara yaitu:
100

a. Seperti diutarakan sebelumnya, bahwa uap air dapat dibuang atau dicegah dengan
menggunakan udara hangat di atas permukaan jendela. Udara hangat dihembuskan
di atas permukaan jendela, sehingga kandungan uap air lebih tinggi dapat
dipertahankan di dalam ruangan tanpa terjadi pengembunan atau kondensasi.
b. Dengan adanya penambahan permukaan jendela ke 2 (storm window) atau dengan
menggunakan 2 lapis kaca jendela (thermopane), temperatur permukaan bagian
dalam lapis kaca jadi naik (di atas 30 F) dan oleh karena itu, kandungan uap air
relatif akan naik juga ke tingkat yang lebih nyaman.














Gambar 5.15 Cara menentukan temperatur pengembunan di musim dingin

E. Aplikasi Term Pengembunan/Kondensasi Secara Praktis
Pada contoh kondensasi di musim dingin, pengembunan (dewpoint) digunakan
karena kandungan uap air relatif dengan temperatur kering di dalam ruangan berkondisi
nyaman. Sebagai tambahan untuk menggambarkan penggunaan uap air relatif secara
praktis, contoh ini menunjukkan bahwa pengembunan (dewpoint) memegang peranan
penting untuk mendapatkan dan mempertahankan kondisi di dalam ruangan yang
sekaligus mencegah terbentuknya pengembunan di permukaan dingin seperti jendela.
Untuk menambah penggunaannya di dalam ruangan yang dikondisikan, diperlukan
pengetahuan mengenai pengembunan/kondensasi, juga aplikasinya di daerah yang tidak
dikondisikan. Saluran udara (duct) pada sistem pengkondisian udara yang membentang
101

melalui daerah yang tidak dikondisikan akan menyebabkan terjadinya pengembunan
pada permukaan saluran udara (duct).
Contoh 1 Pengembunan di dalam ruangan yang tidak dikondisikan
Diketahui: Temperatur ruang yang tidak dikondisikan 90 F db
Temperatur ruangan yang tidak dikondisikan 75 F wb
Temperatur saluran udara dingin masuk 60 F
Carilah: Temperatur pengembunan dan periksalah apakah akan terjadi
pengembunan pada permukaan saluran udara (duct)
Pemecahan dari permasalahan di atas adalah dengan mengamati Gambar 5.16 dan
mengikuti langkah-langkah berikut ini:
1. Carilah temperatur pengembunan (dewpoint) dari kondisi yang telah diketahui.
Carilah lokasi titik potong 90 F db dan 75 F wb, kemudian tarik garis horizontal ke
kiri sampai memotong garis lengkung, maka akan didapat temperatur pengembunan
(dewpoint) kira-kira 69 F.
2. Temperatur permukaan saluran udara dianggap sebagai temperatur pengembunan.
Temperatur pengembunan di permukaan saluran udara adalah 60 F.














Gambar 5.16 Cara menentukan temperatur pengembunan
pada permukaan saluran udara (duct)
3. Temperatur dimana kondensasi mulai terjadi di permukaan adalah 69 F. Setiap
temperatur permukaan saluran yang ada di bawah 69 F akan menyebabkan
102

terjadinya pengembunan. Karena temperatur saluran udara 60 F, maka kondensasi
pasti terjadi di permukaan saluran udara.
Air yang menetes dari sebuah saluran udara dapat merugikan, karena akan membasahi
daerah di bawahnya. Tetesan air juga akan merusak makanan, minuman dan alat
elektronik yang ada di bawahnya bila tertetesi dari air hasil kondesasi pada saluran
udara tersebut. Cara yang paling umum dilakukan yaitu membungkus saluran udara
(duct) dengan insulasi dan juga menambah suatu lapisan anti uap air. Insulasi itu harus
cukup tebal mencegah terjadinya pengembunan di permukaan saluran udara.
Pengembunan merupakan permasalahan utama pada saluran udara sehingga perlu
dicarikan suatu kombinasi antara temperatur udara dan temperatur permukaan saluran
udara, dinding, jendela dan lainnya yang menyebabkan terjadinya pengembunan.






















103

BAB VI
ESTIMASI BEBAN PENDINGINAN



A. Macam-macam beban pendinginan
Beban panas yang menjadi beban pendinginan umumnya berasal dari
bermacam-macam sumber yang berbeda. Adapun sumber panas yang umum adalah:
1. Panas yang berasal dari sisi luar dinding berisolasi transparan (melalui konduksi).
2. Panas yang masuk melalui kaca atau bahan-bahan transparan (melalui radiasi).
3. Panas yang dibawa udara dari luar ruang pendingin.
4. Panas yang berasal dari produk/benda-benda yang didinginkan.
5. Panas yang berasal dari pekerja /operator.
6. Panas yang berasal dari peralatan yang di simpan di dalam ruangan seperti motor
listrik, lampu, peralatan listrik lainnya.
Pada prakteknya tidak selalu semua jenis sumber panas di atas merupakan beban
pendinginan tergantung dari pemakaiannya saja. Seandainya semua sumber panas itu
ada atau bahkan dari sumber lainnya tidak tertulis di atas tentu mesti di perhitungkan
juga.

B. Waktu operasi (equipment running time)
Kapasitas pendinginan yang normal dinyatakan dalam BTU/jam, tapi untuk
menghitung jumlah beban pendinginan secara keseluruhan dihitung dalam waktu 24
jam (BTU/24 jam). Kemudian untuk menentukan besarnya kapasitas mesin yang di
perlukan, beban total itu (BTU/jam) di bagi jumlah waktu operasi. Selengkapnya
perhitungan kapasitas mesin yang diperlukan dengan menggunakan persamaan 6-1.
(6-1)
Keterangan:
Q : Kapasitas mesin yang diperlukan (BTU/jam)
Q
total
: Jumlah beban pendinginan (Btu/24 jam)
t : Jumlah waktu mesin bekerja (jam)
Walau telah dinyatakan jumlah waktu mesin bekerja, tetapi tetapi pada saat evaporator
diselimuti es (dalam batas-batas tertentu) mesin itu akan berhenti bekerja untuk
104

memberikan kesempatan agar es yang menempel pada sirip-sirip evaporator mencair
(defrost). Setelah selesai mencair semua, baru mesin itu bekerja lagi. Lapisan es itu
berasal dari uap air yang ada di dalam udara yang disirkulasikan, karena didinginkan
sampai di bawah titik bekunya maka uap air itu membeku. Dengan tertutupinya lalu
lintas sirkulasi udara melalui koil pendingin, maka koil pendingin itu jadi terisolasi,
sehingga daya guna koil pendingin itu menurun. Air hasil defrost dialirkan keluar
ruangan pendingin.
Defrost (pencairan bunga es) dilakukan secara berkala dengan jalan menaikkan
temperatur evaporator (koil pendingin) sampai di atas titik cairnya dan dipertahankan
sampai beberapa saat agar semua bunga es mencair dengan sempurna, juga memberikan
kesempatan untuk mengalir keluar ruangan. Dengan demikian usaha untuk
mendapatkan efek pendinginan yang dikehendaki tertunda dulu. Cara untuk mencairkan
bunga es itu adalah dengan jalan menghentikan kompresor bekerja, artinya membiarkan
temperatur evaporator berangsur-angsur naik akibat panas yang ada di dalam ruangan
dan bunga es mencair. Cara ini disebut sebagai off-cycle defrosting, pencairan bunga
es dengan jalan menghentikan kompresor bekerja. Karena panas yang digunakan untuk
mencairkan bunga es itu berasal dari udara di dalam ruangan, tentu saja waktu yang
dibutuhkan relative lama. Berdasarkan pengalaman para ahli untuk off-cycle
defrosting ini waktu maksimum yang diijinkan mesin beroperasi adalah 16 jam kerja
untuk sehari semalam yang 8 jam lagi untuk pencairan bunga es, artinya beban
pendinginan per 24 jam mesti dapat ditanggulangi oleh manusia selama 16 jam bekerja.
Bila ruangan pendingin dipertahankan pada temperatur di bawah 34
0
F, cara
defrost off cycle tak dapat digunakan lagi sebab untuk mencairkan bunga es itu
diperlukan temperatur lebih tinggi dari 34
0
F akibatnya dapat merusak produk yang
disimpan. Oleh sebab itu untuk temperatur di bawah 34
0
F beberapa cara defrost
otomatis yang digunakan, antara lain dengan menggunakan pemanas buatan pada
evaporatornya baik dengan menggunakan pemanas listrik, menggunakan air atau
dengan mengalirkan ke dalam evaporator uap panas (hot gas) yang keluar dari
kompresor. Cara defrost itu dilakukan hanya dengan maksud agar pencairan bunga es
dapat dilakukan dengan cepat dan sempurna dibanding cara off cycle. Cara defrost
otomatis digunakan untuk sistem pendinginan yang bekerja maksimum antara 18-20
jam kerja/sehari semalam tergantung dari berapa kali defrost mesti dilakukan. Sekali
defrost memakan waktu berapa lama (menit) dan lain-lain. Secara umum satu kali
105

dalam waktu 18 jam. Pada sistim pengkondisian udara temperatur kerjanya sekitar 40
0
F
tak diperlukan defrost karena kemungkinan adanya isolasi evaporator oleh lapisan es
kecil sekali. Oleh karena itu pada sistem pengkondisian udara direncanakan harus kerja
terus menerus dan beban pendinginan dihitung dalam BTU/jam.

C. Perhitungan beban pendinginan
Guna menyederhanakan perhitungan, beban pendingin itu dibagi dalam
beberapa macam beban panas tergantung dari asalnya panas itu bersumber. Setelah
didapatkan beban panas/tiap sumber baru dijumlahkan untuk mendapatkan jumlah total
beban pendinginan yang harus diatasi oleh mesin pendingin. Untuk sistem pendinginan
komersial jumlah beban pendinginan dibagi atas 4 kelompok beban panas secara
terpisah, seperti misalnya:
1. Beban panas dari dinding (the wall gain load)
Walaupun dinding bagian dalam diisolasi, tetapi karena tak ada isolasi yang
sempurna, maka tetap terjadi perpindahan kalor dari panas ke dingin. Pada setiap sistem
pendinginan pasti terjadi beban panas melalui dinding dan merupakan salah satu bagian
dari dari beban pendinginan. Tetapi untuk sistem penyejuk (chiller) biasanya beban
melalui dinding dianggap tidak ada, sebab luas dinding bagian chiller kecil dan
terisolasi dengan baik sehingga bocoran panas melalui dinding demikian kecil
bandingkan beban pendinginan secara total. Sebaliknya untuk sistem pengkondisian
udara untuk perumahan, komercial, untuk ruangan-ruangan penyimpanan (cold-
storage)justru beban panas melalui dinding merupakan bagian beban yang paling besar.
2. Beban panas dari pertukaran udara (the air change load)
Pada saat pintu ruangan yang dikondisikan terbuka, udara panas dari luar akan
masuk menggantikan sebagian udara dingin yang ada di dalam ruangan. Tentunya hal
ini akan mempengaruhi temperatur udara dalam ruangan pendingin. Panas dari udara ini
akan merupakan bagian dari beban pendinginan. Pada beberapa pemakaian, beban panas
udara ini tidak merupakan beban yang harus diperhitungkan. Seperti misalnya untuk
pendinginan cairan (liquid chiller) dimana tidak ada pintu atau lubang haluan lainnya
yang dapat menyebabkan mengalirnya beban panas. Sebaliknya pada sistem
pengkondisian udara beban panas udara ini mesti diperhitungkan. Udara panas itu dapat
masuk ke ruangan melalui celah-celah jendela, pintu atau bocoran lainnya atau
disengaja dialirkan masuk (tentu dalam batas tertentu) untuk ventilasi. Jika jumlah
penghuni suatu ruangan yang dikondisikan cukup banyak tentu udara segar (fresh air)
106

yang harus dimasukan banyak pula, sehingga sering kali beban panas dari udara ini
menjadi bagian terbesar dari beban pendinginan total.
Pada bidang pengkondisian udara (AC) udara segar itu disebut beban infiltrasi
atau beban ventilasi. Disebut beban ventilasi kalau udara segar yang sengaja dimasukan
untuk maksud ventilasi saja, untuk menggantikan udara yang telah kurang oksigennya
dengan udara segar. Sedangkan beban infiltrasi, jika udara segar yang masuk itu
merupakan udara infiltrasi yang masuk melalui celah-celah pintu, jendela dan bagian
lain dari rumah atau ruangan. Pada setiap sistem pengkondisian udara akan terdapat
salah satu dari beban udara, ventilasi atau infiltrasi, tetapi tidak kedua-duanya. Pada
setiap pendinginan untuk komersial, pintu-pintu dan celah-celah diberi perapat (seal)
yang baik, sehingga kalaupun ada kebocoran hanya dalam jumlah yang kecil. Dengan
demikian pada sistem pendinginan untuk komercial yang harus diperhitungkan adalah
beban panas dari udara yang masuk saat pintu terbuka.
3. Beban panas dari produk
Panas dari produk yang didinginkan sampai dapat mencapai temperatur kamar
pendingin merupakan beban yang harus ditanggulangi mesin pendingin. Macam-macam
produk dapat didinginkan seperti misalnya bahan makanan dan juga elektroda las,
betonan, plastik, karet dan segala jenis cairan. Bila suatu ruangan didinginkan untuk
maksud sebagai ruangan penyimpanan (cold storage), biasanya produk itu didinginkan
terlebih dahulu sebelum dimasukan ke dalam ruangan penyimpanan, sehingga dengan
demikian beban panas dari produk tidak jadi masalah lagi. Tetapi seandainya produk
yang disimpan itu bertemperatur di atas temperatur ruangan pendingin, tentu saja
produk itu mengeluarkan sejumlah panas yang menjadi bagian dari beban pendinginan
total. Ada juga produk yang dimasukkan bertemperatur di bawah temperatur ruangan
pendingin, dengan demikian sudah mengurangi beban pendinginan total. Seperti
misalnya es krim, es krim dibekukan pada temperatur antara 0
0
sampai 10
0
F, tetapi
disimpan pada temperatur 10
0
F. pada kasus ini justru produklah yang menyerap panas
dari udara di ruangan penyimpanannya.
Beban panas produk merupakan bagian dari beban pendinginan total, hanya
pada saat penurunan temperatur produk ke temperatur ruangan penyimpanan. Setelah
dicapai temperatur ruangan, tentu tidak ada lagi beban produk. Satu hal yang
dikecualikan adalah untuk produk buah-buahan dan sayur-sayuran yang tetap masih
mengeluarkan sejumlah panas respirasi walaupun telah dicapai temperatur
107

penyimpanannya. Ada 2 macam aplikasi pendinginan yaitu pendinginan sementara dan
terus menerus. Pada sistem pendinginan terus menerus (chilling coolers) produk yang
telah didinginkan sampai mencapai temperatur tertentu, setelah itu produk disimpan di
ruangan penyimpanan dan coolers itu diisi lagi dengan produk baru. Dengan demikian
beban produk tetap ada yang merupakan bagian terbesar dari beban pendinginan total.
Contoh lainnya adalah pendinginan cairan ( liquid chilling). Sedangkan pada sistem
pengkondisian udara tidak ada beban yang terus menerus terjadi, di sini jumlah beban
pendinginan total selalu berubah dari minimal ke maksimum atau sebaliknya,
tergantung pada keadaan dan pemakaian.
4. Beban panas dari alat-alat (beban tambahan)
Selain berbagai beban di atas ada juga beban tambahan seperti misalnya pada
saat ada beberapa pegawai/operator yang bekerja untuk selang waktu tertentu, juga
adanya perlengkapan lain yang dipakai (lampu, kipas angin, dan lain lain). Pada sistem
pendinginan komersial beban tambahan ini kecil jumlahnya, tetapi pada sistem
pengkondisian udara justru besar jumlahnya. Baban panas dari manusia, peralatan,
dianggap sebagai beban terpisah. Aplikasinya misalnya di gereja, gedung, bioskop,
restaurant, dan lain lain.

D. Faktor perpindahan panas melalui dinding (wall gain load)
Jumlah beban panas yang dipindahkan melalui bidang ruangan pendingin tiap
satuan waktu merupakan fungsi dari 3 faktor dari persamaan 6-2.
Q = A . U . t (6-2)
Dimana:
Q = jumlah panas yang dipindahkan (BTU/jam)
A = luas permukaan dinding bagian dalam (ft
2
)
U = angka koefisien perpindahan panas (BTU/jam/der. F/ft
2
)
t = perbedaan temperatur diantara dinding (der.F)
Faktor U atau koefisien perpindahan panas adalah ukuran jumlah panas yang
mengalir melalui luas permukaan dinding tiap 1 ft
2
dari satu sisi ke sisi yang lain dengan
perbedaan tiap 1
0
F. Harga faktor U (BTU/jam) tergantung dari tebalnya dinding dan
material yang dipakai, dalam hal ini diusahakan agar perpindahan panas dapat dicegah
sebesar mungkin maka material yang digunakan untuk ruang penyimpanan tentu dipilih
bahan isolator yang baik dengan demikian dicari harga faktor U yang serendah
mungkin.
108

Berpatokan pada persamaan 6-2, jika faktor U telah ada maka jumlah panas
yang mengalir melalui dinding akan bergantung pada luas permukaan dinding dan pada
perbedaan temperatur diantara dua sisi dinding itu. Faktor U dinyatakan dalam
BTU/jam.
0
F. ft
2
maka jumlah total panas yang mengalir melalui suatu dinding tiap-tiap
jam dapat dicari dengan mengalikan faktor U dengan luas tembok (ft
2
) dan dengan
perbedaan temperatur diantara kedua sisi dinding (
0
F).
Contoh 1:
Carilah jumlah panas panas yang mengalir per jam melalui suatu dinding berukuran
12ft x 22ft, jika faktor U dari tembok itu = 0,18 BTU/jam.
0
F.ft
2
dan perbedaan
temperatur diantara kedua sisi 45
0
F dan 100
0
F.
Jawab :
Luas tembok = 12 x 22 = 264 ft
2

Perbedaan temperatur = 100 45 = 55
0
F
Q = A . U . t
Q = 264 x 0,18 x 55
Q = 2613,6 BTU/jam
Karena faktor U dinyatakan dalam jam, maka Q juga dinyatakan dalam jam. Untuk
mencari harga Q total dalam 24 jam, maka harga Q di atas dikalikan 24. Oleh karena itu
pers 6-2 jadi berubah :
Q = A . U . t . 24 (6-3)

E. Menentukan harga faktor U (determination of the U faktor)
Harga faktor U untuk bermacam-macam jenis dinding yang di pakai pada ruang
pendingin dapat dilihat pada tabel 6-1 sampai 6-3.
Contoh 2:
Dari tabel 6-1 (Lampiran 1, 159), carilah harga faktor U dinding yang terdiri dari 4 inch
ubin keramik (clay-tile) dan berinsulasikan kayu gabus setebal 6 inch.
Jawab :
Dari gambar ke 3 pada Tabel 6-1 didapat keterangan tentang ubin keramik 4 inch dan
insulasi 6 inch. Faktor U-nya 0,046 BTU/jam.
0
F.ft
2
.
Faktor U untuk tiap jenis dinding tembok dapat segera dihitung kalau
konduktivitas bahan yang dipakai sudah diketahui. Konduktivitas panas dari bahan yang
umum dipakai untuk ruangan pendingin dapat dilihat dalam tabel-tabel, juga biasanya
diberikan oleh pabrik pembuatan bahan dinding tembok tertentu. Pada tabel 6-4 dapat
109

dilihat konduktivitas panas dari bahan yang biasa dipakai pada ruangan pendingin.
Faktor konduktivitaspanas juga disebut faktor k dan dinyatakan dalam BTU/jam, faktor
itu menyatakan jumlah panas yang mengalir melalui penampang material tembok
dinding seluas 1 ft
2
, tebalnya 1 inch untuk perbedaan temperatur tiap 1
0
F.
Faktor k atau konduktivitas panas dipakai hanya untuk bahan bahan yang
homogen saja dan harga faktor k selalu untuk bahan dinding setebal 1 inch, sedangkan
faktor C (thermal conductance) dapat digunakan untuk bahan yang homogen maupun
tidak homogen dan biasanya nilai faktor C itu tergantung dari tebalnya bahan. Untuk
sembarang bahan yang homogen, faktor C dapat dicari dengan cara membagi harga
faktor K dengan tebalnya material yang digunakan x inch. Persamaan untuk yang
homogen disajikan pada persamaan 6-4.
C = k / x (6-4)
Dimana:
x = tebal material/bahan, inch
Contoh 3:
Carilah besarnya harga faktor C untuk kayu gabus setebal 4 inch.
Jawab:
Dari tabel 6-4 (Lampiran 4, 162), didapat faktor k = 0,30 BTU/jam.
0
F.inch.ft
2

Dengan menggunakan persamaan 6-4 didapat :
C = 0,30/4 = 0,075 BTU/ jam.
0
F.ft
2








Gambar 6-1 blok beton

Karena jumlah perpindahan panas melalui bahan bahan yang non homogen, seperti
misalnya pada Gambar 6.1, akan bervariasi pemakaiannya dengan berlapis-lapis
material yang berlainan, maka faktor C nya harus dicari dengan suatu cara yang didapat
dari percobaan-percobaan. Tahanan panas dari suatu material merupakan kebalikan
(invers) dari kemampuan suatu bahan untuk mengalirkan panas. Oleh karenanya tahan
Rongga udara

110

panas dari suatu tembok dapat dinyatakan sebagai rentetan dari beberapa koefisien
perpindahan panas. Tahanan panas suatu material (over-all thermal resistance) = 1/U.
tahanan panas untuk masing-masing bahan 1/k atau 1/C atau x/k. 1.k dan 1/C untuk
bahan tunggal (single material ) hanya dari satu sisi ke permukaan sisi lainnya, belum
termasuk tahanan panas lapisan udara (thin fil of air). Untuk mencari besarnya tahanan
panas untuk suatu aliran panas dari satu sisi dinding ke sisi lain, tahanan film udara
kedua sisi mesti diperhitungkan juga. Koefisien film udara untuk kecepatan angina rata-
rata dapat dilihat pada Tabel 6-5A (Lampiran 5, 163). Jika suatu tembok terdiri dari
beberapa lapisan material berbeda, maka total tahanan panasnya merupakan jumlah
tahanan dari masing-masing bahan yang tergabung dalam tembok itu termasuk juga
lapisan film udara.
1/U = 1/f1 + x/k1 + x/k2 + + 1/fd (6-5)
Atau:
U =
Dimana :
1/f1 = harga 1/C (conductance ) dari permukaan lapisan sisi luar tembok, langit-langit,
lantai
Contoh 4:
Hitunglah harga faktor U untuk dinding yang terdiri dari lempengan-lempengan batu
campura setebal 12 inch, insulasi kayu gabus 5 inch, luarnya dilapisi plesteren semen
setebal 0,6 inch.
Jawab :
Dari tabel 6-4 didapat:
12 inch lempengan batu campuran C = 0,53
Insulasi kayu gabus k = 0,30
Plesteren semen k = 8,00
Dari tabel 6-5a didapat :
Permukaan dalam f d = 1,65
Permukaan luar f1 = 4,00
1/U = + 1/0,53 + 5/0,3 + 0,6/8 + 1/1,65
= 0,25 + 1,887 + 16,67 + 0,075 + 0,606
= 19,488
111

Jadi U = 1/19,488 = 0,051314 BTU/jam/der.F/ft
2

Secara umum, lapisan bahan-bahan tembok kecuali insulasi mempunyai harga
1/C (conductance) yang kecil, akibatnya tentu mempunyai efek yang kecil pula. Oleh
karena itu pada instalasi pendingin yang kecil, lebih efisien kalau hanya dianggap
lapisan insulasi saja sebagai faktor U.

F. Perbedaan temperatur diantara dinding ruangan pendingin
Perbedaan temperatur yang dimaksud di sini adalah perbedaan temperatur di
dalam ruangan yang didinginkan/direncanakan dengan temperatur udara di dalam
ruangan. Temperatur dalam ruangan dipertahankan pada temperatur tertentu tergantung
pada jenis produk yang disimpan dan juga terhadap lamanya waktu produk itu
disimpan, untuk menentukan temperatur ruangan pendingin untuk jenis produk tertentu
dapat dilihat pada tabel 6-10 sampai 6-13 (Lampiran 10 - Lampiran 13, hal: 173-179).
Temperatur udara luar tergantung pada lokasi ruangan pendingin itu berada.
Untuk ruangan yang berada di dalam ruangan lain, maka temperatur udara luar diambil
sama dengan temperatur udara didalam ruangan itu. Jika dinding dinding ruang
pendingin yang direncanakan terkena langsung cahaya matahari, maka temperatur udara
luarlah yang dipilih. Pada tabel 6-6 (Lampiran 6, 164) diperlihatkan temperatur udara
luar rata-rata pada kondisi normal. Tapi tabel ini tidak tepat jika digunakan untuk
menghitung beban untuk pengkondisian udara (AC).

G. Perbedaan temperatur diantara lantai dan langit-langit
Jika ruang pendinginnya (cooler) terdapat di dalam ruang lain dan diantara
langit-langit ruang pendingin dengan langit-langit bangunan induk terdapat ruang antara
sehingga udara dapat bersirkulasi dengan bebas, maka atap ruangan pendingin itu
dianggap sama temperaturnya dengan dinding-dinding bagian dalam. Sebaliknya jika
langit-langit ruang pendingin langsung terkena sinar matahari, maka langit-langit
dianggap sama seperti atap bangunan. Demikian juga halnya dengan lantai, kecuali jika
lantai ruang pendingin itu langsung berada diatas tanah. Untuk temperatur tanah di
bawah plesteran/aduakan hanya berkisar sedikit bedanya dan selalu dianggap lebih
rendah daripada temperatur ruangan pada musim panas. Untuk mencari perbedaan
temperatur lantai dengan tanah dapat dilihat pada tabel 6-6A (Lampiran 6, 167). Tabel
ini dibuat berdasarkan temperatur bola kering (dry bulb) di musim dingin.
112

Ada 2 macam temperatur yaitu temperatur bola kering (dry bulb) dan temperatur
bola basah (wet bulb ), temperatur dry bulb biasanya lebih tinggi disbanding wet bulb-
nya. Gunanya ke 2 macam temperatur itu adalah untuk mengetahui property udara. Pada
pengukuran temperatur yang lazim dilakukan, adalah temperatur bola kering (dry-bulb).

H. Pengaruh radiasi matahari
Jika dinding ruangan pendingin terkena pengaruh pantulan sinar radiasi, baik
dari matahari, maupun dari benda lain yang memancarkan panasnya, maka temperatur
permukaan dinding luar selalu dianggap lebih tinggi dari temperatur udara sekitarnya.
Contoh gamblang yang dapat ditunjukkan adalah jika sebuah mobil parkir di tempat
terbuka pada saat matahari terbit, temperatur dinding luar mobil (yang terbuat dari
logam) akan lebih panas daripada temperatur udara sekelilingnya. Berapa lebih
panasnya tergantung pada jumlah panas radiasi yang mengenai permukaan mobil itu
dan juga tergantung pada faktor pantulan permukaan. Permukaan yang yang berwarna
muda dan licin cenderung untuk memantulkan lebih banyak sinar dan juga menyerap
panas radiasi lebih sedikit dibanding permukaan yang kasar dan bewarna gelap.
Setiap terjadi kenaikan temperatur pada dinding luar akan membawa dampak
pada perbedaan temperatur di dalam ruangan dan di luar ruangan. Perbedaan temperatur
itu tergantung pada posisi matahari dengan demikian tidak selalu tepat, untuk itu
diperlukan faktor koreksi yang dapat dilihat pada tabel 6-7 (Lampiran 7, 170). Harga
dari tabel itu ditambahkan pada perbedaan temperatur normal. Untuk dinding yang
menyerong letaknya, dapat diambil harga rata-ratanya.

I. Perhitungan beban panas dari dinding
Beban panas dari dinding termasuk lantai dan langit-langit harus dicari satu
persatu untuk kemudian dijumlahkan. Jika beberapa dinding atau bagian dari dinding
berbeda konstruksinya serta mempunyai faktor U yang berbeda, maka beban panasnya
mesti dihitung secara terpisah. Tetapi untuk dinding yang mempunyai nilai-nilai yang
sama, dapat dihitung secara gabungan. Juga bila terdapat perbedaan U yang kecil atau
beda luas dinding yang sedikit saja, maka perbedaan itu dapat dianggap tidak ada.
Contoh 5:
Sebuah lemari pendingin (walk in cooler) berukuran 18 ft x 22 ft x 12 ft, ditempatkan di
sudut barat daya sebuah took di Dallas, Texas (lihat Gambar 6.2). Dinding lapisan
selatan dan barat lemari itu menghadap ke arah selatan dan barat gedungnya. Tinggi
113

toko itu 16 ftsehingga ada jarak antara dinding atas lemari dengan langit-langit selebar
4 ft. temperatur udara di dalam toko itu dipertahankan 80
0
F dan temperatur di dalam
lemari pendingin diinginkan 35
0
F. Carilah beban panas dari dinding lemari pendingin
itu jika konstruksinya terdiri dari :
a. Dinding luar, bagian selatan dan barat terdiri dari 6 inch bata (clay tile), 6 inch
kayu gabus (cork board), 0,5 inch lapisan plesteran semen (dari sisi dalam).
b. Dinding dalam, bagian utara dan timur terdiri dari : 1 inch lempengan kayu, 2
sisi, diganjal kayu 2 x 4 dilapisi kayu gabus kasar setebal 3 5/8 inch (granulated
cork).
c. Langit-langit, bahannya sama seperti dinding bagian utara dan selatan
d. Lantai terdiri dari 4 inch kayu gabus lempengan yang ditaruh diatas adukan
semen (slab) setebal 5 inch, kemudian bagian atasnya dilapisi betonan setebal 3
inch.












Gambar 6.2 Denah toko
Jawab:
Luas permukaan dinding
Utara 12 x 18 = 216 ft
2

Barat 12 x 22 = 264 ft
2

Selatan 12 x 18 = 216 ft
2

Timur 12 x 22 = 264 ft
2

Langit-langit 18 x 22 = 396 ft
2

114

Lantai 18 x 22 = 396 ft
2

Faktor U dari tabel 6-1, 6-2, 6-3.
Untuk dinding bagian utara dan timur U = 0,079 BTU/jam/der.F/ ft
2
Untuk dinding selatan dan barat = 0,045
Untuk lantai = 0,066
Untuk langit-langit = 0,079
Temperatur udara luar di Dallas pada musim panas, diambil dari dari tabel 6-6 adalah
92
0
F. Temperatur tanah di Dallas, dari tabel 6-6A adalah sebesar 70
0
F
Dinding
bagian
Temp.
luar
Temp.
dalam
Beda temp.
normal
Faktor
koreksi dari
tabel 6-7
Beda temp.
setelah
dikoreksi
Utara 80 35 45 0 45
Selatan 92 35 57 4 61
Barat 92 35 57 6 63
Timur 80 35 45 0 45
Langit-
langit
80 35 45 0 45
lantai 70 35 35 0 35
Dengan menggunakan persamaan 6-2, didapat :
Dinding utara 216 x 0,078 x 45 = 767,88 BTU/jam
Dinding barat 264 x 0,045 x 63 = 748,44 BTU/jam
Dinding selatan 216 x 0,045 x 61 = 592,92 BTU/jam
Dinding timur 264 x 0,079 x 45 = 938,52 BTU/jam
Langit-langit 396 x 0,079 x 45 = 1407,78BTU/jam
Lantai 396 x 0,066 x 35 = 914,76 BTU/jam +
5370,30 BTU/jam
Total beban panas = 5370,30 x 24 = 128887,2 BTU/jam
Untuk lemari pendingin yang kecil dapat dihitung dengan cara yang singkat,
demikian juga untuk lemari pendingin yang besar asal saja harga faktor U dan
perbedaan temperaturnya sama. Tabel 6-18 (Lampiran 18, 185) menunjukan faktor
beban panas (BTU/24 jam ft
2
) yang dibuat atas dasar tebalnya insulasi dinding dan juga
pada perbedaan temperatur dinding. Untuk mendapatkan beban panas dalam BTU/24
jam dengan cara singkat, kalikan saja jumlah total luas dinding bagian luar (termasuk
lantai dan langit-langit) dengan faktor panas dari tembok yang sesuai (tabel 6-18), jadi :
115

Beban panas dinding = luas permukaan bagian luar x faktor panas dari tembok.
Untuk mendapatkan faktor panas dari tembok yang sesuai dari tabel 6-18, carilah dulu
tebalnya insulasi ujung kiri tabel, kemudian bergeser kearah kanan untuk mencari beda
temperatur dinding dan didapat beban panas dinding dalam BTU/24 jam/ ft
2
Contoh 6:
Anggap saja tembok-tembok lemari pendingin diisolasi dengan kayu gabus setebal 4
inch dan perbedaan temperaturnya diantara tembok-tembok adalah 55
0
F. Dari tabel 6-18
didapat panas tembok-tembok sebesar 99 BTU/24 jam/ ft
2

J. Perhitungan beban panas dari udara
Beban panas di sini ternyata terjadi karena adanya pertukaran udara dari luar ke
dalam ruangan pendingin, baik dengan sengaja maupun melalui celah-celah pintu atau
jendela. Berapa besarnya beban panas itu sulit untuk mendapatkan jumlah panas melalui
udara secara tepat, kecuali kalau udara ventilasi, karena memang telah diketahui berapa
jumlahnya. Jika jumlah berat udara luar yang masuk ke ruangan pendingin dalam waktu
24 jam sudah diketahui, maka beban panasnya dapat di hitung atas dasar perbedaan
enthalpy udara dalam ruang pendingin enthalpy udara luar, dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut :

Beban panas udara (air change load) = W. (hl hd) (6-6)

Dimana:
W = berat udara yang masuk ke ruangan pendingin selama 24 jam (lb/24 jam)
hl = enthalpy udara luar (BTU/lb)
hd = enthalpy udara dalam (BTU/ lb)

untuk menghitung jumlah udara, biasanya digunakan satuan ft
3
dan jarang digunakan lb.
Untuk menghitung jumlah panas udara (ft
3
) luar yang masuk ke ruangan dapat dipakai
tabel 6-8A dan 6-8B (Lampiran 8, 171), karena pada kedua tabel ini tercantum berbagai
kondisi udara dalam dan udara luar. Dan untuk mencari jumlah beban panas dalam 24
jam, kita tinggal mengalikan jumlah udara yang mengalir masuk setiap 24 jam dengan
faktor yang tepat diambil dari tabel 6-8A dan 6-8B. Jika jumlah udara ventilasi
dinyatakan dalam satuan ft
3
/ menit (cfm) harus diubah dulu jadi ft
3
/24 jam, dikalikan
60 lalu 24.

116

Contoh 7:
350 ft
3
/menit udara luar dipakai sebagai udara ventilasi. Temperatur udara dalam
dipertahankan pada temperatur 35
0
F. sedangkan kondisi udara luar 85
0
F dry bulb dan
humiditynya 50 %
Carilah beban panas dari udara dalam BTU/24 jam.
Jawab :
Jumlah udara dalam 24 jam = ft
3
/menit x 60 x 24
= 350 x 60 x 24
= 504.000 ft
3
/24 jam
Dari tabel 6-8A atas dasar temperatur ruang pendingin, temperatur udara masuk dan %
humidity, didapat jumlah panas/ ft
3
sebesar 1,86 BTU/ ft
3
.


Jadi jumlah beban panas udara ventilasinyanya
= ft
3
/24 jam x BTU/ ft
3

= 504.000 x 1,86
= 937.440 BTU/24 jam

Selain udara ventilasi yang masuk ke dalam ruangan pendingin, juga udara infiltrasi
melalui pintu yang terbuka. Jumlah udara yang masuk ke dalam ruangan melalui
infiltrasi dalam waktu 24 jam tergantung dari ukuran dan likasi pintu, jumlah pintu,
sering tidaknya pintu itu dibuka, lamanya pintu terbuka, dan lain-lain. Karena
kombinasi faktor-faktor di atas sulit untuk dapat dihitung secara pasti, karena itu
diambil langkah praktis yaitu dengan cara memperkirakan sering tidaknya pintu itu
dibuka, lamanya pintu terbuka, volume bagian dalam dari ruang pendingin dan juga
jenis pemakaiannya.
Tabel 6-9A dan 6-9B (Lampiran 9, 172) adalah tabel perkiraan berapa kali
pergantian udara tiap 24 jam untuk berbagai ukuran kamar pendingin. Pada tabel-tabel
itu tercantum pemakaian rata-rata. Menurut buku Data ASHRAE pemakaian rata-rata
dan pemakaian yang sering adalah sebagai berikut:
Pemakaian rata-rata (biasa), pintu lemari ruang pendingin tidak terlalu sering
dibuka tutup, jumlah produksi yang disimpan jumlahnya tidak terlalu banyak,
Pemakaian yang sering (heavy usage ), biasanya dijumpai di restoran, pasar besar
dan ramai, dapur-dapur hotel yang temperatur sekelilingnya cukup panas dan
jumlah produk yang disimpan banyak dan sering keluar masuk.

117

Contoh 8:
Sebuah lemari pendingin besar berukuran 10 ft x 17 ft x 12 ft, di buat dari kayu gabus
setebal 4 inch yang ke 2 sisinya dilapisi kayu setebal 1 inch. Temperaturnya udara luar
95
0
F dan kandungan uap air relatifnya 50 %. Temperatur dalam lemari dipertahankan
pada temperatur 35
0
F dan pemakaiannya biasa biasa saja (rata-rata).
Carilah beban panas pertukaran udara (BTU/24 jam)
Jawab :
Karena tebal dinding lemari rata-rata 6 inch (4 inch + 2 inch x 1 inch) maka ukuran
dalam lemari berkurang 1 ft
Volume dalam lemari = 9 ft x 16 ft x 11 ft = 1584 ft
3

Dari tabel 6-8A didapat beban tiap ft
3
udara sebesar 2,49 BTU/ ft
3
. Jadi jumlah panas
dari pertukaran udara adalah sebesar 21637,44 x 2,49 = 53877,2256 BTU/jam

K. Perhitungan beban panas dari produk
Beban panas dari produk akan muncul kalau produk disimpan bertemperatur
lebih tinggi dari temperatur ruang pendinginnya. Jika temperatur ruang pendingin
dipertahankan di atas temperatur beku produk maka jumlah panas yang dikeluarkan
oleh produk tergantung dari temperatur ruangannya. Juga terhadap berat produk, panas
jenis dan temperatur masuk produk. Jumlah panas dari produk dapat dicari dari
persamaan 6-7.
Q = W x c x ( T2 T1 ) (6-7)
Dimana:
Q = jumlah panas (BTU)\
W = berat produk (lb)
\c = panas jenis produk diatas temperatur beku (BTU/lb/der.F
T2 = temperatur ruang pendingin (der.F)
T1 = temperatur produk saat masuk (der.F)

Contoh 9:
Seribu dua ratus lb daging sapi tanpa lemak, bertemperatur 55
0
F didinginkan pada
ruangan pendingin yang bertemperatur 25
0
F dalam waktu 24 jam
Jawab :
Dari tabel 6-12 (Lampiran 12, 177), diketahui bahwa panas jenis untuk daging segar
tanpa lemak di atas titik bekunya adalah 0,75 BTU/
0
F.
118

Maka jumlah beban panas produk dapat dicari:
Q = 1200 x 0,75 x (55-35)
= 1200 x 0,75 x 20
= 18.000 BTU/24 jam
Perhatikan pada perhitungan di atas tidak ada sangkut pautnya dengan waktu yang 24
jam itu dan hasil yang didapat merupakan beban panas yang mesti dikeluarkan dari
ruang pendingin selama 24 jam. Jika waktu yang diinginkan kurang dari 24 jam, maka
beban total untuk 24 jam itu mesti di bagi dengan waktu operasi yang diinginkan, maka
persamaam di atas jadi berbentuk :
Q = (6-8)
Contoh 10:
Anggap saja soal pada di atas itu dikerjakan dalam waktu 6 jam kerja. Carilah jumlah
panas produk yang mesti dibuang tiap jam kerja.
Jawab :
Q =
Q = 72.000 BTU/jam kerja
Bandingkan hasil yang didapat pada contoh sebelumnya.
Bila produk didinginkan dan disimpan di bawah titik bekunya, beban panas
produkn itu di hitung dalam 3 urutan, yaitu :
1. Panas yang dikeluarkan produk dari temperatur masuk sampai ke temperatur
bekunya
2. Panas yang dikeluarkan produk pada saat dibekukan
3. Panas yang dikeluarkan produk dari temperatur beku sampai ke temperatur ruang
pendingin.
Untuk bagian 1 dan 3, persamaan 6-7 dapat digunakan. Untuk bagian 1, T1 adalah
temperatur produk pada saat masuk dan T2 adalah temperatur bekunya. Untuk T2 dapat
dilihat dari tabel 6-10 sampai 6-13. Untuk bagian 3, T1 adalah temperatur beku produk
yang disimpan dan T2 adalah temperatur ruang pendinginnya. Sedangkan untuk bagian
dua dapat dicari dari persamaan :
Q = W x h if (6-9)
Dimana :
W = berat produk ( lb )
119

H
if
= panas laten dari produk (BTU/lb)
Jika proses pendinginan dan pembekuan produk itu dihitung dalam waktu 24
jam, maka jumlah ke 3 bagian itu merupakan beban panas produk selama 24 jam. Jika
waktu prosesnya diinginkan kurang dari 24 jam, maka jumlah ke 3 bagian di atas mesti
di kalikan 24 dan dibagi lagi dengan jumlah jam kerja yang diinginkan.
Contoh 11:
Tujuh ratus lima puluh lb daging ungags bertemperatur 40
0
F didinginkan dan kemudian
dibekukan sampai temperatur -5
0
F dalam waktu 12 jam kerja. Carilah jumlah beban
panas tiap-tiap jam kerja.
Jawab :
Dari tabel 6 12 didapat :
a. Panas jenis di atas temperatur beku = 0,79 BTU/lb/
0
F
b. Panas jenis di baeah temperatur beku = 0,37 BTU/lb/
0
F
c. Panas laten = 106 BTU/lb
d. Temperatur bekunya (freezing point) = 27
0
F
Maka jumlah beban panasnya sebagai berikut :
a. Di atas temperatur bekunya = 750 x 0,79 x (40 27)
= 7702,5 BTU
b. Di bawah temperatur bekunya = 750 x 0,37 x ( 27 (-5)
= 8880 BTU
c. Panas latennya = 750 x 106
= 79500 BTU
Jumlah total panas dari produk:
7702,5 + 8880 + 79500 = 96082,5 BTU

Jadi beban panas produk tiap jam kerja adalah sebesar :
Q =
= 192165 BTU/ jam kerja

L. Faktor pendinginan mula (chilling rate faktor)
Beban panas maksimum terjadi pada saat permulaan proses pendinginan di
mulai, karena pada saat ini mesin pendingin menerima beban penuh dibandingkan
beban rata-rata tiap jam kerja. Oleh karena itu mesin pendingin tidak akan mampu
120

menghadapi beban maksimum inin. Nah, untuk mengatasi beban maksimum itu maka
pada saat menghitung beban panas total digunakan suatu faktor yang disebut faktor
faktor pendinginan mula (chilling rate faktor). Maksud menggunakan faktor
pendinginan mula ini adalah untuk meningkatkan jumlah kapasitas pendinginan dari
suatu instalasi pendingin, sehingga beban dengan demikian mesin akan mampu
mengatasi beban maksimum pada saat proses pendinginan dimulai.
Tentu saja dengan menggunakan hasil perhitungan yang dipengaruhi faktor
pendinginan mula akan didapat kapasitas mesin pendingin yang lebih besar. Faktor
pendinginan mula untuk bermacam-macam jenis produk dapat dilihat pada tabel 6-10
sampai 6-13. Faktor yang diberikan pada tabel itu dapat didapat dari hasil pengetesan
yang dilakukan dan atas dasar perhitungan dan perbandingan waktu yang dibutuhkan
untuk mengatasi beban maksimum dengan waktu untuk pendinginan total. Sebagai
contoh, hasil tes pada daging sapid an babi didapat bahwa beban pada saat pendinginan
permulaan adalah 50% lebih besar disbanding beban pendinginan rata-rata. Untuk
mencari jumlah pendinginan maksimum adalah dengan mengalikan kapasitas
pendinginan rata-rata dengan angka 1,5. Angka faktor ini diberikan pada tabel-tabel di
atas secara kebalikannya, maka angka untuk daging sapid an babi di atas adalah 0,67
(1/1,5).
Bila faktor pendinginan mula digunakan, maka persamaan 6-7 jadi :
Q = (6-10)
Secara umum faktor pendinginan mula ini tidak digunakan untuk perhitungan pada
bagian pembekuan sampai bagian akhir suatu proses pendinginan. Chilling rate faktor
digunakan hanya untuk pendinginan mula-mula saja (dari temperatur masuk sampai
dengan temperatur beku, atau temperatur ruang pendinginan jika temperatur ruang
pendinginannya di atas temperatur beku produk ), tetapi tidak digunakan pada ruang
penyimpanan karena temperatur produk masuk telah lebih rendah daripada temperatur
ruangannya sendiri. Pada ruang penyimpanan beban panas yang mesti diatasinya
relative kecil jumlahnya disbanding ruang pendingin yang digunakan untuk mengatasi
jumlah beban panas awal sampai dengan akhir.

M. Panas respirasi
Buah-buahan dan sayuran tetap hidup walaupun sudah dipanen dan disimpan
dalam ruangan pendingin, tetap mengalami perubahan alamiah, misalnya warnanya jadi
121

kuning dan lain-lain. Faktor yang lebih penting adalah perubahan yang dihasilkan akibat
respirasi ini adalah bahwa selama proses berlangsung oksigen dari udara bergabung
dengan karbo-hidrat yang terdapat di dalam jaringan-jaringan buah-buahan dan sayuran
dan akan menghasilkan karbo dioksida serta panas. Panas itu disebut panas respirasi dan
harus dianggap sebagian dari beban panas produk buah-buahan/sayuran yanf disimpan
dalam ruang pendingin. Jumlah panas respirasi tergantung pada jenis dan temperatur
produk. Panas respirasi untuk berbagai jenis buah-buahan dan sayuran dapat dilihat
pada tabel 6-14 (Lampiran 14, 181). Karena panas respirasi dinyatakan dalam
BTU/lb/jam, maka beban panas yang terjadi akibat panas respirasi didapat dengan
mengalikan berat produk total dengan panas respirasi dari tabel 6-14.
Q (BTU/24 jam) = berat jumlah produk (lb) x panas respirasi (BTU/lb/jam) x 24 jam

N. Beban panas dari pembungkus produk
Kalau produk didinginkan di dalam wadahnya seperti misalnya susu dalam botol
atau karbon, telur dalam karton, buah-buahan dan sayuran dalam keranjang dan lain-
lain, maka panasyang dikeluarkan oleh pembungkusnya/wadahnya pada saat masuk
sampai sesuai temperaturnya dengan temperatur didalam ruangan harus dianggap
sebagai bagian dari panas produk. Besarnya panas ini dapat dicari dengan menggunakan
persamaan 6-7.

O. Perhitungan beban tambahan (miscellaneous load)
Beban tambahan berasal dari panas yang dikeluarkan oleh sinar lampu dan
motor listrik yang dioperasikan didalam ruangan pendingin dan juga panas dari badan
orang yang bekerja di dalam ruangan itu. Besarnya panas yang dikeluarkan sinar lampu
adalah 3,42 BTU/watt.jam. Panas dari motor listrik dan manusia dapat dilihat dari tabel
6-15 dan tabel 6-16 (Lampiran 15 dan 16, 182-183). Jadi untuk menghitungnya adalah
sebagai berikut :
Sinar lampu : jumlah watt x 3,42 BTU/jam x 24 jam
Motor listrik : faktor dari tabel 6-15 x jumlah dayanya (hp) x 24 jam
Manusia : faktor dari tabel 6-16 x jumlah orang yang bekerja x 24 jam

P. Penggunaan faktor keselamatan (safety faktor)
Jumlah total beban pendinginan untuk waktu 24 jam adalah jumlah dari semua
jenis beban panas yang telah dibicarakan di atas. Untuk pengamanan ditambahkan 5%
122

sampai dengan 10 %. Besarnya persentasi ini tergantung dari tingkat kepercayaan atas
informasi yang digunakan pada saat mengadakan perhitungan sebelumnya, biasanya
diambil 10%. Setelah ditambahkan faktor pengaman, maka total beban panas untuk 24
jam dibagi dengan jumlah waktu operasi yang diinginkan, maka didapat beban rata-
rata/jam kerja. Beban/jam inilah yang digunakan untuk memilih peralatan dari mesin
pendingin.

Q. Cara pendek untuk menghitung beban pendinginan
Selama masih memungkinkan beban pendinginan dapat dicari dengan prosedur
seperti yang telah diuraikan di atas, tetapi untuk ruang pendingin yang kecil (volumenya
di bawah 1600 ft
3
) dan digunakan untuk penyimpanan secara umum, produknya selalu
berganti-ganti dari hari ke hari tidak mungkin mencari beban pendingian dengan cara
yang betul-betul teliti. Pada kasus ini, ada cara pendek untuk menghitung beban
pendinginan dengan menggunakan beberapa faktor yang didapat dari percobaan-
percobaan. Kalau cara pendek yang digunakan, maka beban pendinginannya dipisah
menjadi 2 bagian :
1. Beban dari dinding
2. Beban pemakaian (the usage or service load).
Beban dari dinding dapat dihitung seperti pada sub bab I (perhitungan beban panas dari
dinding), dan beban pemakaian dapat dicari dengan persamaan:
Beban pemakaian = volume bagaian dalam x faktor pemakaian.
Perhatiakan, bahwa faktor-faktor pemakaian yang ditulis pada tabel 6-17 (Lampiran 17,
184) akan bergantung dari volume bagian dalam ruangan pendingin serta perbedaan
temperatur antara dalam dan luar. Juga hanya digunakan untuk pemakaian yang normal
dan berat saja, mengenai klasifikasi normal dan berat telah di bicarakan pada sub bab J
(perhitungan beban panas dari udara). Bila menggunakan cara perhitungan yang pendek
tidak perlu memakai faktor penggunaan. Jumlah beban total dibagi jumlah waktu
operasi, maka akan didapat beban panas rata-rata tiap-tiap jam kerja, yang nantinya
hasil rata-rata ini digunakan untuk mengadakan pemilihan komponen utama mesin
pendingin.



123

BAB VII
SISTEM AIR CONDITIONING



A. Gambaran umum Air Conditioning
Secara umum Air Conditioning (AC) dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: AC
comfort (untuk kenyamanan manusia) dan AC industri (untuk kebutuhan-kebutuhan
khusus) (ASHRAE handbook, 1987). Sesuai namanya, AC comfort dipergunakan untuk
keperluan kenyamanan manusia seperti di perumahan, perkantoran, pertokoan,
supermarket, sekolah, bioskop, gelanggang olahraga, dan tempat-tempat lainnya yang
ditempati oleh manusia. sedangkan AC industri dipergunakan untuk keperluan-
keperluan khusus di industri seperti untuk pendinginan peralatan, bahan-bahan bio-
kimia, mesin-mesin dan keperluan-keperluan industri lainnya yang memerlukan
penanganan khusus baik skala kecil maupun besar.













Gambar 7.1 Skema sistem air conditioning
Air Conditioning (AC) adalah proses pengkondisian udara suatu ruangan melalui
pengaturan temperatur, kelembaban, aliran, dan kebersihannya sehingga diperoleh
kondisi udara yang diinginkan. Sistem air conditioning (AC) merupakan salah satu
aplikasi dari sistem refrigrasi. Prinsip dasar dari sistem air conditioning ini adalah
124

memindahkan panas dari suatu ruangan ke ruangan lain. Udara dari ruangan yang akan
dikondisikan disirkulasikan melewati evaporator, karena temperatur fluida (refrigeran)
yang ada di dalam evaporator lebih rendah daripada temperatur udara ruangan, maka
panas dari udara tersebut diserap oleh refrigeran. Selanjutnya refrigeran yang
bersirkulasi dalam sistem refrigrasi ini akan membuang panas dari evaporator tadi di
kondensor ke ruangan lain.

B. Jenis-jenis Air Conditioning
Berdasarkan jenisnya air conditioning di bedakan menjadi beberapa macam
yaitu:
1. AC Window
Tipe AC seperti yang nampak pada Gambar 7.2 ini sudah jarang digunakan,
karena unit tersebut memerlukan lobang di dinding sebesar unitnya dimana dibelakang
dinding harus menghadap kearah luar gedung untuk pelepasan panas buang dari
kondensor. Dengan demikian tidak memungkinkan untuk menempatkan unit tersebut
dimana belakang dindingnya adalah ruangan yang terpakai, apalagi yang juga
dikondisikan. Pada umumnya tipe AC ini di bawah 2 PK.






Gambar 7.2. AC windows

2. AC Mini split
Jenis ac ini termasuk Split Wall Mounted, AC Cassette, AC Floor, AC Ceilling
Concealed (duct), dll. Karena kompresor dan kondensor berada dalam satu unit
diluar gedung, sedangkan evaporator dan Fan (blower) berada didalam ruangan.
Untuk menghubungi kedua unit terpisah hanya diperlukan 2 pipa dengan
lobang didinding relatif kecil, Evaporator dan blower dalam satu unit dapat
ditempatkan dengan bebas, baik untuk segi teknisnya maupun segi estetikanya. Untuk
tipe ini dapat dirancang 1 unit luar (outdoor) dan dua atau lebih unit dalam (indoor).
Selanjutnya disebut dengan multi split. Unit outdoor dapat ditempatkan di atas lantai
125

atau ditempelkan didinding gedung, sedangkan unit indoor, ada unit untuk duduk
dilantai dan ada unit yang ditempel didinding. Dalam perkembangan mini split, maka
salah satu jenis split terbaru menggunakan sistim Inverter, dan dapat
memberi penghematan energi listrik sampai 70% dibandingkan mini split konvensional
yang ada dipasaran Indonesia. Pengembangan tipe ini pada kompresor yang
menggunakan DC Inverter dimana putaran kompresor dapat menyesuaikan kebutuhan
beban pendinginan. Pada umumnya tipe AC ini 1/2 ~ 5 PK.








Gambar 7.3 AC Split

3. AC Split Duct
Sesuai dengan sebutannya tipe AC ini juga memisahkan unit utama, yang
terdiri dari kelima komponen utama, dengan penyaluran udara dingin
menggunakan terowongan udara dingin yang disebut dengan ducting, seperti nampak
pada Gambar 7.4. Ducting ini dihubungkan dengan ruangan-ruangan yang mau
dikondisikan, masuk ruangan melalui pengatur yang disebut dengan diffuser. Sistim ini
di Indonesia disebut sebagai sentral AC.







Gambar 7.4 AC Split Duct
Kebocoran udara dingin diducting menjadi salah satu penyebab utama kerugian
energi di tipe Split duct AC ini. Dalam desain gedung dengan sistem ini harus perlu
126

didesain alur dari ducting, sehingga jangan sampai ducting ini banyak berbelok ataupun
harus menembus kolom-kolom beton. Pada umumnya tipe AC ini 5 PK sampai 25 PK.
4. VRV System
Sistem VRV atau VRF (variable refrigerant flow) yang telah diperkenalkan di
Jepang lebih dari 20 tahun yang lalu, dan menjadi sangat popular dibanyak negara.
Teknologi ini secara bertahap diperluas pemasarannya dan menjangkau benua Eropa
pada tahun 1987, dan terus meningkatkan pangsa pasarnya diseluruh dunia. Di Jepang
sendiri, sistem ini penggunaannya sekitar 50% dari ukuran medium gedung komersial
(sampai 6500 m
2
) dan sepertiga dari gedung komersial yang besar (lebih dari 6500 m
2
).
Sistem konvensional membuang udara dari ruangan yang diserap oleh refrigerant
dengan cara mensirkulasikan udara (pada sistem duct) atau air (pada chiller) ke seluruh
bangunan. Sistem VRV keunggulannya adalah dalam hal kapasitas yang lebih besar,
versi yang lebih rumit dalam sistem multisplit dengan penggunaan duct yang lebih
sedikit, dengan kemampuan tambahan dari hubungan antara duct dengan fan coil unit.













Gambar 7.5 VRV system

Sistem ini membutuhkan banyak evaporator dan pengaturan refrigerant yang
rumit serta untuk sistem kontrolnya. Sistem ini juga memerlukan sistem saluran udara
yang terpisah. Istilah variable refrigerant mengacu pada kemampuan sistem untuk
mengontrol jumlah refrigerant yang mengalir ke masing-masing evaporator. Hal ini
memungkinkan penggunaan banyak evaporator dengan kapasitas yang berbeda,
127

pengontrolan kenyamanan secara individu serta proses pendinginan dan pemanasan
dalam area yang berbeda secara serentak. Efisiensi energi sistem VRV lebih tinggi
daripada sistem duct yang normal. Menurut LG HVAC Total Solution Provider, sistem
VRV pada dasarnya mengurangi kerugian saluran (duct) yang diperkirakan antara 10%
- 20% dari total aliran udara pada sistem duct. Sistem VRV atau VRF biasanya
dilengkapi dengan dua atau tiga buah kompresor dan jam operasi dari sistem HVAC
biasanya pada kisaran 40% - 80% (menurut LG HVAC Total Solution Provider) dari
kapasitas maksimum. Terdapat beberapa kelebihan dalam sistem VRV ini. Kelebihan
tersebut antara lain:
a. Fleksibilitas desain
Single condensing unit bisa dihubungkan ke banyak unit indoor dengan beban
yang bervariasi (misalnya 1,75 14 kW) dan berbagai konfigurasi (ceiling, wall
mounted, floor console). Produk terkini memungkinkan pemasangan 20 unit indoor
yang ditangani oleh satu condensing unit.
b. Pemeliharaan
VRV termasuk kedalam jenis DX system, sehingga biaya pemeliharaan untuk
sistem VRV menjadi lebih rendah dibandingkan dengan sistem chiller dengan
pendingin air. Pemeliharaan secara normal untuk sebuah VRV hampir sama dengan
sistem DX yang lain, utamanya terdiri dari penggantian filter dan pembersihan koil.
c. Kenyamanan
Banyak area yang memungkinkan dikontrol secara individu, karena sistem VRV
menggunakan variable speed compressor dengan kapasitas yang besar. Sistem tersebut
dapat mempertahankan temperatur secara presisi, biasanya dalam 10F(0,60C)
(menurut LG HVAC Total Solution Provider).
d. Penggunaan
Sistem VRV bisa digunakan untuk bermacam-macam gedung yang memiliki
area banyak dan memerlukan kontrol tersendiri, seperti gedung perkantoran, rumah
sakit, atau hotel.

C. Prinsip Kerja Air Conditioning
1. Siklus Aliran Refrigeran
Mesin pendingin udara ruangan (Air Conditioning) adalah alat yang
menghasilkan dingin dengan cara menyerap udara panas sekitar ruangan. Proses udara
menjadi dingin adalah akibat dari adanya perpindahan panas. Sedangkan bahan yang
128

digunakan sebagai bahan pendingin dalam mesin pendingin disebut refrigeran. Di dalam
Air Conditioning dibagi menjadi 2 ruang. Ruang dalam dan ruang luar. Dibagian ruang
dalam udaranya dingin karena adanya proses pendnginan. Dibagian ruang luar
digunakan untuk melepaskan panas ke udara sekitar. Secara umum gambaran mengenai
prinsip kerja AC adalah:
a. Penyerapan panas oleh evaporator
b. Pemompaan panas oleh kompresor
c. Pelepasan panas oleh kondensor












Gambar 7.6 siklus air conditioning

Prinsip kerja AC tidak berbeda jauh dengan prinsip pada Kulkas, hanya saja
pada AC pemindahan panas diperlukan energi tambahan yang ekstra besar karena yang
udara dinginkan skalanya lebih besar dan banyak. Di dalam mesin Air Conditioning
(AC) bentuk refrigeran berubah-ubah bentuk dari bentuk gas ke bentuk cairan. Pada
kompresor refrigeran masih berupa uap, tekanan dan panasnya dinaikkan dengan cara
dimampatkanoleh piston dalam silinder kompresor. Kemudian uap panas tersebut
didinginkan pada saluran pipa kondensor agar menjadi cairan. Pada saluran pipa
kondenser diberi kipas untuk mempercepat proses pendinginan. Proses pelapasan panas
ini disebut teknik pengembunan. Selanjutnya cairan refrigeran dimasukkan ke dalam
evaporator dan dikurangi tekanannya sehingga menguap dan menyerap panas udara
sekitar. Di dalam AC bagian dalam ruangan, udara dingin disebarkanmenggunakan
kipas blower. Dalam bentuk uap (gas) refrigeran dihisap lagi oloeh kompresor.
129

Demikian proses tersebut berulang terus sampai gas habis terpakai dan harus diisi
kembali.
2. Siklus Aliran Udara
Ruangan yang dikondisikan akan menjadi dingin akibat dari adanya perpindahan
panas dari ruangan atau produk ke evaporator yang lebih dingin. Proses sirkulasi udara
di ruang pendingin yaitu ketika udara panas dari produk bisa manusia, computer, lampu,
motor dan lain sebagainya akan naik karena berat jenis udara panas lebih ringan di
banding udara dingin. Udara panas naik maka udara dingin akan menggantikan tempat
udara panas tersebut, sehingga semakin lama seluruh ruangan akan menjadi dingin.









Gambar. 7.7 siklus aliran udara

D. Precision Air Conditioning (PAC)












Gambar 7.8 Tampilan Precision Air Conditioning (PAC)
130

Pada tempat-tempat seperti ruang komputer (computer room atau data centre),
ruang telekomunikasi (telecommunication equipment), ruang terkondisi bersih (clean
room), ruang obat-obatan (Pharmaceutical manufacturing), dan ruang pengujian (test
room) terdapat peralatan-peralatan elektronik yang sensitif dan memiliki respon yang
sangat tinggi, sehingga memerlukan pengaturan suhu, kelembaban, dan kebersihan
udara yang sesuai dengan spesifikasi dan tingkat akurasi yang tinggi. Oleh sebab itu,
pengkondisian udara untuk industri pada tempat-tempat seperti yang disebutkan di atas
lebih dikenal dengan sebutan AC Presisi (Precision Air Conditioning). Kelebihan ac
presisi adalah sebagai berikut:

1. Keakuratan dalam pengontrolan temperatur & kelembaban ruangan
Dalam AC presisi, tidak hanya temperatur yang dikontrol, tapi kelembaban juga
harus dikontrol sesuai dengan spesifikasi perangkat yang dikondisikan. Oleh karena itu,
dalam sebuah AC presisi dilengkapi dengan humidifier dan heater. Hal ini dilakukan
karena bila ruangan terlalu lembab, maka akan terjadi pengembunan pada PCB alat
elektronik & komputer, sedangkan bila terlalu kering maka akan menempel debu-debu
halus yang bermuatan statis, dan lama kelamaan akan terjadi hubungan singkat pada
Card. Berbeda dengan AC comfort, dimana pengontrolan dilakukan hanya terhadap
temperatur saja, sedangkan kelembaban (relative humidity) akan berubah ketika terjadi
proses cooling tanpa ada pengontrolan kelembaban secara langsung.

2. Kualitas udara yang disirkulasikan
Precision air conditioning beroperasi dengan aliran udara yang tinggi, biasanya
160 cfm/kW atau lebih besar. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan distribusi udara
yang bergerak melalui ruangan. Peralatan teknologi modern biasanya membutuhkan
sekitar 160 cfm aliran udara untuk setiap kW konsumsi daya listrik, sehingga jumlah
supply udara dingin ini harus tersedia di saluran inlet peralatan. Jika tidak, hal ini dapat
menyebabkan peralatan dalam ruangan menjadi overheat. Distribusi udara (cfm/Kw)
yang tinggi pada AC presisi juga menyebabkan lebih banyak udara yang bergerak
melalui air filter sehingga menghasilkan suatu lingkungan bersih. Hal ini penting karena
bila ada debu-debu halus yang bermuatan statis yang menempel pada peralatan
komputer dan elektronik, maka lama kelamaan akan terjadi hubungan singkat pada
Card.

131

3. Jam operasi unit
Ruangan-ruangan seperti data centre dan ruang telekomunikasi harus bekerja
selama 24 jam. Oleh karena itu, AC presisi dirancang agar dapat beroperasi selama 24
jam tanpa henti. Kecuali bila terjadi kerusakan dan dilakukan perbaikan. Idealnya suatu
ruangan data centre harus memiliki AC back-up untuk menanggulangi hal tersebut.
Berbeda dengan AC comfort yang bekerja hanya ketika ada orang dalam ruangan yang
dikondisikan

E. Fungsi Precision Air Conditioning
Secara umum, AC Presisi memiliki empat fungsi utama. Diantaranya :
1. Cooling (pendinginan)
Proses pendingin terjadi ketika temperatur ruangan lebih tinggi daripada
temperature set point diluar batas sensitivitinya. Proses pendinginan ini dilakukan oleh
koil evaporator dalam suatu siklus pendinginan.
2. Heating (pemanasan)
Proses pemanasan terjadi ketika temperature ruangan lebih rendah daripada
temperature setpoint diluar batas sensitivitinya. Proses pemanasan ini dilakukan oleh
heater.
3. Dehumidifying (Pengeringan)
Proses dehumidifying terjadi ketika kelembaban ruangan lebih tinggi daripada
humidity setpoint diluar batas sensitifitinya. Proses ini dilakukan oleh koil evaporator
dalam siklus pendinginan saat terjadi proses pendinginan. Artinya ketika kompresor
bekerja, selain terjadi proses pendinginan pada evaporator, juga terjadi proses
dehumidifying. Uap air yang terkandung dalam udara yang bersirkulasi menyentuh koil
evaporator yang memiliki suhu lebih rendah daripada udara tersebut. Sehingga uap air
akan mengembun pada dinding evaporator dan mengurangi kandungan uap air dalam
udara.
4. Humidifying (Pelembaban)
Proses humidifying terjadi ketika kelembaban ruangan lebih rendah daripada
humidity setpoint di luar batas sensitivitinya. Proses ini dilakukan oleh suatu humidifier.
5. Filtering (Pembersihan udara)
Selain pengaturan suhu, PAC Liebert juga dilengkapi dengan air filter yang
berfungsi untuk menyaring kotoran yang masuk bersama udara. Sehingga udara yang
keluar dari sistem akan lebih bersih.
132

F. Jenis-jenis PAC
1. Jenis PAC berdasarkan sistem kerjanya
a. DX (Direct Expansion)














Gambar 7.9 PAC tipe Air cooled system

Direct expansion merupakan sistem pengkondisian udara dimana pengambilan
panas dari udara dilakukan oleh refrigerant yang bersirkulasi dalam suatu siklus
pendinginan. Direct expansion system ini dapat dibagi lagi menjadi :
- Air Cooled
- Water Cooled
- Glycool (Chilled Glycol Cooling) System
Pada air cooled system, pembuangan panas di kondensor dilakukan oleh udara.
Sehingga condensing unit harus diletakkan di tempat yang sirkulasi udaranya baik.
Biasanya, ditempatkan di luar ruangan sehingga sering disebut outdoor unit. Pada water
cooled system, pembuangan panas pada kondensor dilakukan oleh air. Kondensor
diletakkan dalam satu unit dengan komponen utama lainnya. Namun, unit ini
memerlukan cooling tower untuk mendinginkan kembali air yang keluar dari
kondensor. Sistem Glycool memiliki semua fitur sistem kompresi baik air maupun
udara, plus sebuah koil pendingin kedua (second cooling coil) yang dihubungkan pada
saluran air. Proses pendinginan terjadi dengan mengsirkulasikan fluida melewati koil
133

pendingin kedua (alirannya dikontrol oleh sebuah motorized valve). Koil ini merupakan
sumber pendingin utama, sehingga dapat mengurangi kerja kompresor. Untuk lebih
jelasnya, gambar 7.11 menunjukan skema kerja dari Glycool system.
















Gambar 7.10 PAC tipe Water cooled system














Gambar 7.11 PAC tipe Glycool system
AIR FLOW
3 WAY
VALVE
3 WAY
VALVE
134

b. Chilled Water
Chilled water merupakan sistem pengkondisian udara dimana pengambilan
panas dari udara dilakukan oleh air yang telah didinginkan terlebih dahulu dalam suatu
chiller dan air tersebut bersirkulasi dalam suatu koil pendingin.











Gambar 7.12 PAC tipe Chilled water system

c. Dual Cooling System
Dual Cooling System menggunakan sistem direct expansion yang dilengkapi
dengan koil pendingin kedua (second cooling coil) yang disebut Econ-o-coil. Koil
pendingin kedua ini menggunakan air dingin yang disuplai dari chiller gedung. Ketika
beban pendinginan ruangan berada dibawah 25% dari beban puncak, maka second
cooling coil (chiller) akan bekerja, sedangkan system kompresi akan mati. Bila beban
ruangan mulai tinggi, maka system kompresi akan bekerja untuk mendinginkan
ruangan.








Gambar 7.13 Dual cooling system
135

2. Jenis PAC berdasarkan arah alirannya
a. Up flow
Pada PAC jenis ini, udara dalam unit dialirkan dari bawah ke atas oleh blower,
sehingga blower ditempatkan di bagian atas unit.
b. Down flow
Pada PAC jenis ini, udara dalam unit dialirkan dari atas ke bawah oleh blower,
sehingga blower ditempatkan di bagian bawah unit.







Gambar 7.14 Arah Aliran udara PAC

G. Prinsip kerja Precision Air Conditioning
Precision Air Conditioning bekerja mendinginkan ruangan data center dengan
menjaga tingkat keakuratan tinnggi, supaya temperature ruangan dingin dan kering.
Oleh karena itu temperature ruangan di jaga antara 18
o
C 20
o
C dengan 55% RH-60%
RH. Jika terjadi temperature telalu tinggi maka akan terjadi alarm yang memberitahukan
bahwa ada kesalahan pada system, yang di sebabkan oleh berbagai hal. Alarm alakan
berbunyi sampai masalah ditemukan, dan di reset ulang. Jika ruangan data center
memiliki RH nya yang kurang dari set point, maka unit akan melakukan proses
humidifyng sampai RHnya sesuai set point, begitupun sebaliknya jika ruangan terlalu
banyak RH maka unit PAC akan melakukan proses dehumidifying sampai RHnya
tercapai.

H. Gambaran Umum AC Sentral
Kalau kita jalan-jalan ke mall atau ke rumah sakit atau gedung-gedung
perkantoran, kita dapat merasakan hawa dingin dari ruangan tersebut akan tetapi kita
tidak melihat AC yang terpasang di sekitarnya. Dan setelah kita perhatikan bahwa di
langit-langit ruangan tersebut terdapat lubang udara / diffuser yang menyemburkan
udara dingin. Sistem udara yang kita lihat itu, itulah yang dimaksud dengan sistem AC
136

Central. AC Central adalah sistem pendinginan ruangan yang dikontrol dari satu titik
atau tempat dan di distribusikan secara terpusat ke seluruh isi gedung dengan kapasitas
yang sesuai dengan ukuran ruangan dan isinya dengan menggunakan saluran udara
(ducting ac).















Gambar 7.15 AC Sentral

Secara garis besar, sistem AC central terbagi atas beberapa komponen yaitu :
Chiller / Condensing Unit / Outdoor AC
AHU (Air Handling Unit)
Ducting AC / saluran ac
Cooling Tower
Pompa Sirkulasi
Ada dua sistem AC central yang ada di pasaran saat ini yaitu sistem langsung
dan tidak langsung. sistem langsung (direx), media yang dipakai untuk membawa
dingin adalah refrigerant. Sedangkan system tidak langsung (indirex), media pembawa
dingin yang berjalan dalam pipa distribusi adalah air (water) system ini memiliki
kelebihan dapat digunakan dalam skala yang besar / gedung bertingkat atau mall yang
137

berukuran besar. Sedangkan system langsung hanya dapat dipakai dalam sistem yang
tidak terlalu besar / jauh jaraknya antara unit indoor dan outdoor.

1. Chiller
Chiller adalah mesin pendingin yang berfungsi untuk mendinginkan air pada sisi
evaporatornya. Evaporator yang digunakan pada system chiller menggunakan jenis shell
and tube dan tube and tube. Agar air dalam evaporator tidak membeku maka di campur
dengan bahan yang memiliki titik beku lebih rendah seperti garam dan glycol. Selain itu
untuk menghindari terjadinya beku di evaporator maka dipasang evaporator pressure
regulator (EPR). Jika terjadi beku di evaporator maka pipa-pipa di evaporator akan
pecah dan air masuk kedalam sistem







Gambar 7.16 Chiller

Berdasarkan kompressornya chiller dibagi menjadi beberapa jenis yaitu: Kompresor
Piston (Reciprocating compressor), Kompresor Kisar (Rotary compressor), Kompresor
Ulir (Screw compressor), dan Kompresor Sentrifugal (Centrifugal compressor).
2. Jenis jenis Chiller
a. Air cooled Chiller
Chiller dengan pendinginan udara (air cooled chiller), pada prinsipnya hampir
sama dengan AC split duct, tetapi dalam ukuran besar. Unit mesin ini pada umumnya di
tempatkan di atas atap beton dari sebuah bangunan. Komponen utama dari 1 unit air
coold chiller adalah kompresor, dengan katup ekspansi dan evaporator berada dalam
unit utama, termasuk kondensornya. Evaporator mendinginkan air ditransfer dalam
tabung heat exchanger dan menjadi air dingin, lalu disirkulasi melalui pipa menuju Air
Handling Unit (AHU). Udara dingin yang masuk kedalam ruangan dari AHU ini
disalurkan menggunakan saluran udara ducting dan dengan diffuser yang ada disetiap
ruangan. Dalam desain gedung, bila menggunakan air cooled chiller perlu
138

diperhatikan lokasi dan luas atap gedung untuk penempatan unit-unit chillernya. Yang
sering kurang diperhatikan dalam desain atap untuk air cooled chiller adalah
akses untuk pemeliharaan unit tersebut. Ada kalanya terjadi perubahan desain dari










Gambar 7.16 Air Coold Chiller

b. Water cooled Chiller
Chiller dengan berpendingin air (water cooled chiller), pada prinsipnya hampir
sama dengan Chiller berpendingin udara (air cooled chiller) dalam distribusi udara
dingin melalui AHU. Perbedaan utamanya adalah pendinginan refrigerannya, bukan
dengan udara, tetapi dengan air, dimana airnya didinginkan melalui menara pendingin
atau cooling tower. Chiller dengan pendinginan air, pada umumnya ditempatkan dalam
lantai bawah (basement) suatu bangunan. Dalam desain yang perlu diperhatikan adalah
ventilasi ke ruangan chiller harus dihitung dengan baik.








Gambar 7.17 Water coold chiller
Sama halnya dengan air coold chiller, refrigeran dari kompresor ditekan melalui katup
ekspansi masuk dalam fasa campuran ke evaporator. Evaporator mendinginkan air dan
139

air dingin disirkulasi kesetiap tingkat melalui AHU. Dari AHU udara dingin disalurkan
kesetiap riuangan dengan bantuan ducting. Udara dingin yang masuk kedalam ruangan
dari AHU ini diatur dengan diffuser yang ada disetiap ruangan, Atau kadang-kadang
dengan pipa-pipa langsung keruangan melalui alat kipas koil fan coil unit (FCU).
c. Absorption Chiller
Salah satu cara tertua untuk melakukan pendinginan suatu ruangan
secara mekanis adalah teknologi absorbsi (absorption technology). Kelihatan tak
masuk akal dengan membakar sesuatu untuk menghasilkan pendinginan, tetapi hal
itu yang terjadi dalam suatu chiller absorpsi. Teknologi absorbsi ini sebenarnya mudah
pengoperasiannya maupun pemeliharaannya.









Gambar 7.18 Absoption Chiller

Refrigeran yang digunakan oleh chiller jenis ini adalah sebenarnya air,
karena perubahan fase yang terjadi dan yang memberi dampak pendinginan
adalah melalui media air. Fluida kedua yang mengatur proses ini adalah garam,
yang dikatakan sebagai Litium Bromida (lithium bromide). Panas dibutuhkan
untuk memisahkan kedua fluida ini, yang kemudian bertemu kembali dalam lingkungan
yang hampir vakum. Air ini mengalami perubahan fase pada waktu dicampur kembali
dengan garam pada suhu yang sangat rendah. (pada tekanan atmosfir yang normal, air
menguap pada suhu 212
o
F, dalam suatu alat absorbsi, air menguap cukup dingin untuk
menghasilkan air dingin pada 46
o
F. Karena suhu air dingin yang dihasilkan oleh chiller
absorbsi paling rendah adalah 46
o
F, maka chiller jenis ini tidak dapat digunakan dalam
penerapan refrigerasi dengan suhu rendah. Air Conditioner dengan Sistem absorbsi ini
sebenarnya sangat efisien dan pemeliharaanya mudah, tetapi bila ada kerusakan pada
peralatan ini perbaikannya memerlukan waktu lama dan biaya yang besar. Bahkan
140

untuk kerusakan tertentu, maka seluruh unit tidak dapat difungsikan kembali.
Ini menyebabkan penggunaan peralatan pengkondisian udara dengan sistem absorbsi ini
kurang diminati.
3. Air Handling Unit (AHU)
Air Handling Unit merupakan bagian penting dalam sistem AC cerntral sebagai
alat penghantar udara yang telah dikondisikan dari sumber dingin ataupun panas ke
ruang yang akan dikondisikan. AHU adalah komponen penukar kalor dimana air dingin
hasil pendinginan oleh evaporator disirkulasikan ke coil di AHU, kemudian udara
dinginnya di sirkulasikan oleh blower dan didistribusikan ke ruangan menggunakan
ducting. Komponen AHU terdiri dari Motor, Blower, Coil, Heater, Filter












Gambar 7.19 Air Handling Unit
4. Cooling Tower
Cooling tower untuk water coold chiller harus diperhatikan aliran udaranya,
supaya tidak terjadi turbulensi. Aliran udara dan aliran air didalam menara pendingin ini
dapat berlawanan arah (counter flow), arah melintang (cross flow), aliran paralel
(paralel flow) aliran melalui dek atau aliran pancar. Cooling tower adalah alat
pembuang panas, yaitu dengan mengeluarkan panas ke atmosfir melalui air yang
disalurkan ke temperatur yang lebih rendah. Jenis pembuang panas yang demikian
disebut cooling tower evaporatif. Evaporasi merupakan perubahan substansi (wujud)
dari cairan ke gas. Ketika molekul cairan dari air dipanaskan akan mulai bergerak lebih
cepat. Bila dipanaskan terus kecepatan gerak molekul air semakin cepat sehingga akan
keluar dari permukaan air dan menguap ke atmosfir.
141













Gambar 7.19 Cooling Tower

Cooling tower merupakan alat yang dapat menghemat air (water conservation)
atau alat yang memproses ulang air atau mampu menurunkan temperatur air (recovery
devices). Berdasarkan cara udara bersirkulasi, cooling tower bisa dibedakan menjadi
dua jenis yaitu natural draft dan mechanical draft. Bila sirkulasi udara yang melewati
tower berlangsung secara alamiah maka cooling tower tersebut berjenis natural draft
atau atmospheric tower (lihat Gambar 7.20). Sedangkan bila sirkulasi udara dilakukan
secara aksi (gaya) oleh fan atau blower maka cooling tersebut berjenis mechanical draft
tower atau force draft. (lihat Gambar 7.21 )











Gambar 7.20 Natural draft Gambar 7.21 Force Draft
142

BAB VIII
PERALATAN KERJA REFRIGERASI DAN TATA UDARA



A. Manifold Gauge
Manifold gauge yang ditunjukkan oleh Gambar 8.1, terdiri dari meter tekan
(discharge) dan meter ganda (suction), dua buah keran yang disatukan dan tiga buah
selang isi dengan tiga warna yang berlainan. Selang pengisian pada manifold gauge,
dirancang untuk mampu menahan tekanan lebih dari 500 psi (3448 kPa). Selang ini
memiliki tekanan rata-rata sampai 200 psi (12790 kPa). Selang tersedia dalam berbagai
warna: putih, kuning, merah, dan biru. Karena warna merupakan salah satu ciri dari
penggunaan selang tersebut. Biru digunakan untuk tekanan rendah, merah untuk
tekanan tinggi, dan putih atau kuning untuk saluran tengah. Ciri warna berguna untuk
memperkecil kemungkinan tertukarnya pemasangan dari manifold ke sistem. Standar
akhir dari selang pengisian dirancang sebesar
1
/
4
inci SAE (flare) saluran dari manifold,
dan saluran masuk ke kompresor. Selang saluran dapat diganti dengan Nylon, Neoprene,
atau karet atau gasket karet yang disisipkan. Gasket berfungsi untuk menahan selama
proses pemindahan dan langkah pengisian refrigrant. Selang biasanya dilengkapi
dengan jarum pada bagian ujung saluran yang digunakan untuk menekan pentil saat
menyalurkan refrigrant juga untuk menjaga bagian dalam selang ketika tidak digunakan
sehingga memungkinkan benda asing tidak masuk kedalamnya.









Gambar 8.1 Manifold gauge
Sumber : http://rshsmart.blogspot.com/2012/09/ciri-ciri-sistem-ac-mobil-yang.html
143

Antara tekanan tinggi dan tekanan rendah pada manifold dilengkapi dengan
katup tangan shutoff. Jika katup tengan ini diputar seluruhnya ke arah kanan, searah
jarum jam (cw), manifold akan tertutup. Dalam kondisi ini, tekanan bisa terbaca pada
masing-masing alat ukur. Dengan menghubungkan manifold gauge kepada sistem, kita
dapat lebih cepat mengetahui kesalahan dari sistem. Tekanan kedua meter dari manifold
gauge dapat menunjukkan kepada kita apa yang sedang terjadi di dalam sistem. Selain
itu alat tersebut dapat dipakai untuk: menunjukkan vakum, mengisi refrigeran,
menambah minyak pelumas, memeriksa tekanan dari sistem dan kompresor.

B. Pompa Vakum
Tekanan atmosfir pada permukaan laut adalah 14.696 psia dan untuk
mempermudah pengaplikasiannya nilai ini biasanya dibulatkan menjadi 14,7 psia. Pada
permukaan laut tekanan 14 psia adalah merupakan kondisi vakum. Pemvakuman harus
dilakukan jika sistem pendinginan mengalami :
1. Perbaikan atau perawatan sistem pendinginan
2. Kebocoran refrigrant akibat kerusakan komponen
3. Kontaminasi yang diakibatkan oleh refrigran







Gambar 8.2 Pompa vakum
Sumber : http://ryan86574.en.made-in-china.com/offer/tqoneZOGApVM/Sell-
Vacuum-Pump.html.

Pompa vakum seperti pada Gambar 8.2 berfungsi untuk membuat vakum
(hampa udara) sistem pendingin sebelum diisi dengan refrigeran. Pompa vakum harus
dapat mengeluarkan semua gas, udara dan uap air dari dalam sistem. Pompa vakum
yang baik harus dapat menarik udara sampai beberapa mikron dari vakum mutlak.
Pompa vakum tersedia dalam berbagai ukuran dan kapasitas. Minyak pelumas pada
pompa vakum harus sering diperiksa. Apabila di dalam pompa vakum minyaknya
144

bertambah banyak, ini adalah petunjuk bahwa pompa vakum telah banyak menghisap
kotoran, asam, air dan minyak pelumas dari sistem yang dibuat vakum.

C. Leak Detector
Alat ini digunakan untuk mencari atau mendeteksi kebocoran yang terjadi pada
sistem pendingin. Alat deteksi kebocoran tersedia dalam beberapa jenis yaitu electronic
detector, halide detector, dan air sabun. Satu contoh leak detector ditunjukkan oleh
Gambar 8.3.









Gambar 8.3 Elektronik Leak Detector
Sumber : http://www.refspecs.co.nz/images/69373.jpg

Penggunaan dari beragam jenis leak detector tersebut disesuaikan dengan
kebutuhan dilapangan. Kebocoran yang terjadi ada yang mudah dicari, tetapi ada juga
yang sangat sukar dicari tergantung pada tempat dan besarnya kebocoran. Tempat
kebocoran biasanya dapat mudah diketahui karena ada minyak yang menetes atau
lapisan minyak di tempat yang bocor. Adapun halide detector mendeteksi kebocoran
dengan jalan menghisap udara melalui selang pencari kebocoran yang akan disalurkan
ruang plat reaksi tembaga. Ketika campuran udara dan gas dibakar, aliran yang
disirkulasikan sampai ke mulut pembakar sebesar 1 quarter inci terbuka diatas plat
reaksi. Jika terjadi kebocoran warna api reaksi pada plat berwarna ungu. Air sabun
merupakan sebuah metode atau cara untuk mencari kebocoran yang cukup efektif,
karena kebocoran biasanya terdapat pada daerah khusus dimana halide detektor tidak
dapat mendeteksinya. Pembuatannya dilakukan dengan mencampurkan 1
1
/
2
tutup serbuk
sabun dengan air yang kemudian dipakai dengan menggunakan alat kuas lukis yang
kecil. Ketika cara ini digunakan pada wilayah yang diduga mengalami kebocoran, maka
akan terlihat atau terjadi gelembung sabun.
145

D. Thermometer
Alat ini digunakan untuk mengukur temperatur. Temperatur adalah tingkatan
atau derajat panas dari suatu benda yang umumnya diukur dalam satuan derajat
Fahrenheit (
0
F) atau Celcius (
0
C). Jika panas ditambahkan pada suatu benda maka
temperatur benda itu akan naik. Begitu pula sebaliknya jika panas
dikurangi/dipindahkan dari suatu benda maka temperatur benda itu akan turun atau
menjadi rendah. Temperatur rendah itulah yang disebut dingin.







Gambar 8.4 Thermometer
Thermometer model paku seperti ditunjukkan oleh Gambar 8.4, adalah alat yang biasa
digunakan pada sistem AC mobil untuk mengukur suhu udara yang keluar dari
evaporator menuju ruangan penumpang dan pengemudi. Biasanya alat ini di tempatkan
disaluran udara yang terletak di dashboard mobil.

E. Multitester
Multitester seperti ditunjukkan oleh Gambar 8.4 adalah alat yang digunakan
untuk mengukur tegangan (V) dan hambatan () pada aliran arus searah (DC) dan
aliran arus bolak-balik (AC).








Gambar 8.5 Multitester
146

Ketika akan melakukan pengukuran tegangan, sistem kelistrikan harus dialiri arus
listrik. Sebaliknya jika akan mengukur nilai hambatan pada sistem kelistrikan, arus
listrik yang mengalir harus dimatikan terlebih dahulu.

F. Tang ampere
Tang Ampere seperti pada Gambar 8.5, sering disebut juga clamp tester, hook-
on ammeter, clamp-on ampere-volt-ohmmeter, snap-on volt-ampere-ohmmeter. Alat ini
digunakan untuk mengukur kuat arus (ampere), tegangan (volt), dan hambatan (ohm)
dari komponen-komponen kelistrikan mesin pendingin.









Gambar 8.5 Tang ampere
1. Mengukur Arus
Sebelum memeriksa ampere komponen listrik mesin pendingin, perhatikan dulu
label (name plate) kompresor berapa besar arus yang dihasilkannya. Dikarenakan pada
saat starting nilai arusnya bisa mencapai enam kali saat kompresor berjalan normal.
Untuk mencegah kerusakan clamp tester, putarlah skala ampere-meter pada skala yang
tinggi, baru dilakukan pengukuran. Pengukuran dapat dilakukan dengan membuka
mulut pengait clamp tester, kemudian mengaitkannya ke kabel yang diperiksa. Cukup
satu kabel yang dimasukan, karena yang diukur adalah medan magnet (efek faraday)
dari kabel. Bila angka pembacaan pada clamp tester kecil atau jarum penunjuk bergerak
sedikit, putarlah skala ampere-meter perlahan-lahan ke skala yang lebih rendah,
sehingga diperoleh pembacaan yang akurat.
2. Mengukur Tegangan
Sebelum mengukur, putarlah skala volt sedikit lebih tinggi daripada voltase
aliran listrik yang masuk. Untuk mengukur voltase, tusukan kabel positif-negatif,
biasanya kabel berwarna hitam (negative) dan berwarna merah (positif). Setiap kabel
147

dihubungkan dengan bagian yang dibuka sedikit isolasinya dari kabel rangkaian listrik
yang akan diukur tegangannya. Ujung lain dari kedua kabel pembantu dihubungkan ke
clamp tester, sampai disini pembacaan voltase sudah bisa dilakukan.
3. Mengukur Hambatan
Pengukuran hambatan pada sebuah rangkaian listrik dilakukan setelah aliran
listrik dihentikan terlebih dahulu. Lakukan kalibrasi skala ohm-meter terlebih dahulu
pada clamp tester. Jarum pada skala harus menunjukan 0 Ohm. Pada kondisi ini barulah
clamp tester bisa digunakan. Ohmmeter banyak dipakai untuk mengukur hubungan
kabel dalam suatu rangkaian listrik. Mengukur hambatan motor listrik, untuk mencari
terminal C, S dan R dari motor listrik.

G. Kapasitor Tester
Guna memudahkan pemeriksaan start kapasitor, dipergunakan capasitor tester.
Alat ini menunjukan kondisi start kapasitor dengan tepat, biasanya dengan bunyi. Cara
mempergunakannya adalah dengan menghubungkan kabel capasitor tester dengan
kedua terminal kapasitor. Bila tombol diletakan akan keluar bunyi. Hubungan bunyi
dengan kondisi kapasitor sebagai berikut:
1. Bunyi dengan nada tinggi kemudian merendah perlahan dan akhirnya tidak
bersuara berarti kondisi kapasitor baik.
2. Nada bersuara tinggi terus menerus berarti kapasitor kontak di dalam.
3. Tidak bersuara berarti kapasitor putus hubungan di dalam.
4. Nada suara rendah terus menerus berarti kapasitor bocor.
Saat ini ada juga kapasitor tester jenis digital, yang dapat menunjukan langsung nilai
kapasitansi dari kapasitor dalam satuan mikro Farad.








Gambar 8.6 Capasitor Tester

148

H. Mesin 3R (Recovery, Recycle dan Recharging)
Mesin Recovery, Recycle,dan Recharging biasa juga disebut sebagai mesin 3R,
mempunyai tiga fungsi yaitu mengeluarakn dan menangkap refrigeran (recovery),
mendaur ulang refrigeran yang ditangkap (recycle) dengan cara memisahkannya dari
pelumas dan menyaring kotoran padat, dan mengisikan kembali refrigeran yang
ditampung dalam satu mesin adalah agar tidak ada refrigeran yang terlepas ke atmosfer
ke atmosfer sebagai akibat adanya pergantian selang pada setiap proses. Refrigeran
yang terdapat dalam selang penghubung dapat terlepas ke atmosfer dan merusak ozon.











Gambar 8.7 Mesin 3R

I. Cutting Copper Tubing
Cutting Copper Tubing adalah proses pemotongan pipa tembaga dengan
menggunakan pemotong pipa (tubing cutter).








Gambar 8.8 Tubing Cutter
149

Pemotong pipa tembaga (tubing cutter) digunakan agar potongan menjadi rata dan pipa
tetap bulat serta tidak ada retakan, hal ini penting agar pada saat pipa di flare atau di
swage pipa tidak pecah dan hasilnya baik.

J. Flaring Copper Tubing
Flaring Copper Tubing adalah proses untuk mengembangkan ujung pipa
tembaga dengan menggunakan flaring tools agar pipa dapat disambung dengan
sambungan pipa dari kuningan yang berulir (flare fitting). Sebelum ujung pipa
dikembangkan, terlebih dahulu memasukkan flare nut (mur dari kuningan). Selanjutnya
baru ujung pipa tersebut di masukkan pada flaring block, dengan ujung pipa dibuat 3
mm di atas flaring block.









Gambar 8.9 Flaring Tools

K. Swaging Copper Tubing
Swaging copper tubing adalah proses untuk membesarkan ujung pipa tembaga
dengan menggunakan Swaging tool, agar dua buah pipa yang sama diameternya dapat
disambung dengan las perak (silver brazing).







Gambar 8.10 Swaging Tools
150

Panjang sambungan untuk tiap ukuran pipa berbeda, pada umumnya diambil sepanjang
diameter dari pipa yang akan disambung.

L. Bending Copper Tubing
Bending copper tubing adalah proses untuk membengkokkan pipa tembaga
lunak dengan menggunakan tube bender agar diperoleh hasil bengkokkan yang tepat
dan rapi. Pemakaian tube bender juga dapat menghindarkan pipa menjadi gepeng atau
rusak pada saat pipa dibengkokkan. Alat pembengkok type ini dapat membuat
bengkokan pipa dengan radius tertentu sesuai dengan diameter dari rol, dapat
membengkok pipa tepat pada tempatnya dan dapat membuat sudut bengkokan dengan
akurat dengan hasil bengkokan sangat baik. Dapat membengkokan pipa dari 0
0
-180
0.

Alat pembengkok pipa pada gambar 1.6 hanya dapat membengkokan satu macam
ukuran pipa saja, sedangkan alat pembengkok pipa kecil pada gambar 5.9 memiliki 3
atau 4 rol yang disatukan. Dapat untuk membengkok pipa untuk berbagai ukuran
diameter pipa, untuk pipa 3/16, , 5/16 dan 3/8.









Gambar 8.11 Bending

M. Brazing Copper Tubing
Brazing copper tubing adalah proses yang diperlukan untuk menyambung pipa
atau menutup kebocoran. Pipa yang akan disambung biasanya dipanaskan di atas
temperatur material pengisi tetapi masih dibawah titik leleh material pipa (antara 600
800
o
C). Pemanasan dilakukan dengan semburan api hasil pembakaran bahan bakar
dengan oksigen atau udara. Material pengisi yang umum digunakan adalah silver
(perak) dan untuk hasil brazing yang baik biasanya digunakan flux.
151













Gambar 8.12 Brazzing Tools

N. Dental Mirror
Dental mirror biasanya digunakan oleh doktor gigi, berguna untuk melihat dan
memeriksa bagian-bagian yang terlindung atau sukar dilihat, demikian halnya pada
pemeriksaan bagian-bagian komponen mesin pendingin. Untuk memeriksa hasil
pengelasan atau mencari kebocoran pada tempat yang sukar dilihat. Alat ini ada yang
dilengkapi lampu battery sehingga bisa memeriksa bagian yang gelap.





Gambar 8.13 Dental Mirror

O. Alat Pembuntu pipa (Pinch-Off tool)
Alat ini dipakai untuk membuntukan ujung pipa tembaga supayai tidak bocor,
tetapi dengan tidak merusak dan patah. Pembuntu pipa dibuat oleh beberapa pabrik
dengan bermacam-macam model, bentuk, dan sifat.
1. Pembuntu pipa jenis Vise-Grip
Pada Gambar 8.14 ditunjukkan alat pembuntu pipa dengan bentuknya seperti
tang penjepit yang berbentuk setengah bulatan memanjang. Sangat praktis dan mudah
152

dipakai untuk membuntukan pipa kapiler dan pipa tembaga sampai 1/2. Setelah pipa
dijepit sampai tidak bocor, pembuntu pipa tersebut akan terus menjepit dan melekat
pada pipa. Setelah pekerjaan selesai, barulah vise-grip tersebut dilepas dari pipa.






Gambar 8.14 Pembuntu pipa jenis vise grip

2. Pembuntu pipa jenis plat (Imperial)
Pembuntu pipa seperti ditunjukkan pada Gambar 8.15, penggunaannya
direncanakan untuk membuntukan sementara, setelah itu pipa dapat dibulatkan kembali.
Pipa dijepit seperti pada flaring tool. Alat tersebut juga dilengkapi lubang-lubang untuk
membuka dan membulatkan kembali pipa yang gepeng. Dapat dipakai untuk pipa
ukuran :1/4, 5/16, 3/8, dan1/2.






Gambar 8.15 Pembuntu pipa jenis plat

3. Pembuntu pipa jenis ragum (Robin air)







Gambar 8.16 Pembuntu pipa jenis ragum
153

Pembuntu pipa jenis ini seperti nampak pada Gambar 8.16, digunakan dengan
cara pipa ditekan sampai menjadi satu. Bila dilihat dari bawah berbentuk dua garis
melintang dan dari atas diantara kedua garis tersebut terdapat bulatan. Hasil jepitannya
sangat kuat. Setelah dibuntukan pipa tidak dapat dibulatkan kembali. Dapat dipakai
untuk membuntukan pipa kapiler dan pipa tembaga sampai dengan 3/8.

P. Katup Servis (Service Valve)
Katup servise berfungsi untuk menyambungkan manifold gauge dengan sistem
refrigerasi guna dilakukan proses pengukuran, pemfakuman dan pengisian refrigerant.
Biasanya terdpat di saluran suction kompresor atau di saluran pipa cair (liquid line),
menyatu dengan liqid receiver. Katup servise memiliki 3 lubang dan tiga posisi seperti
ditunjukan oleh gambar 8.17.










Gambar 8.17 Katup servis

Keterangan Posisi-posisi katup service:
Lubang 1 : Dihubungkan ke manifold geage
Lubang 2 : Menuju kompresor (suction line) menuju ekspansi (liquid line)
Lubang 3 : Dari Kompresor (suction line) dari liquid recaiver (liquid line)
Posisi A : Front Seat
Posisi B : Back Seat
Posisi C : Middle Seat


1
3
2
154

DAFTAR PUSTAKA


Althouse, A.D., Turnquist, C.H. and Bracciano, A.F. (1992). Modern Refrigeration
and Air Conditioning. Illinois : The Goodheart & Wilcox Co.Inc.

Carrier Air Conditioning Company. (1965). Hand Book of Air Conditioning System
Design. New york: Mcgraw-Hill Book Company.

Dincer, I. and Kanoglu, M. (2010). Refrigeration Systems and Applications, 2
nd

Edition. UK : John Willey & Sons. Ltd,

Dossat, R.J. (1961). Principles of Refrigeration, John Wiley & Sons, Inc. New York.

Gunawan, R. (1988). Pengantar Teori Teknik Refrijerasi (Pendinginan). Jakarta:
Depdikbud.

Harris, NC. (1974). Modern Air Conditioning (Third Edition). Japan: McGraw-Hill
Book Company.

Handoko. (1987). Alat Kontrol Mesin Pendingin. Jakarta: PT. Ichtiar Baru.
Handoko. (1993). Teknik Lemari Es. Jakarta: PT. Ichtiar Baru

Hasan Samsuri, Dkk. (2008). Sistem Refigerasi dan Tata Udara. Jakarta: Dirjen
Pembinaan SMK.

Lang, V. Paul. (1971). Principles of Air Conditioning. Bombay: D. B. Tarapovrevala
Sons & Co. Private Ltd.

Miller, R. and Miller, M.R. (2006). Air Conditioning and Refrigeration, USA:
Mc Graw-Hill.

Pita. E. G. (1981), Air Conditioning Principles and Systems An Energy Approach. New
York : John Wiley & Sons, Inc.








155

GLOSSARY


AC (Air Conditioning): proses pengkondisian udara suatu ruangan melalui pengaturan
temperatur, kelembaban, aliran, dan kebersihannya sehingga diperoleh kondisi
udara yang diinginkan
AC Central: sistem pendinginan ruangan yang dikontrol dari satu titik atau tempat dan
di distribusikan secara terpusat ke seluruh isi gedung dengan kapasitas yang
sesuai dengan ukuran ruangan dan isinya dengan menggunakan saluran udara
(ducting ac).
AHU (Air Handling Uni: komponen penukar kalor dimana air dingin hasil
pendinginan oleh evaporator disirkulasikan ke coil di AHU, kemudian udara
dinginnya di sirkulasikan oleh blower dan didistribusikan ke ruangan
menggunakan ducting.
Accumulator atau Liquid Separator: komponen yang berfungsi untuk menampung
sementara refrigeran yang keluar dari evaporator sehingga yang masuk ke dalam
kompresor adalah refrigeran uap sedangkan yang masih berwujud liquid akan
tetap berada di accumulator.
Alat pencari kebocoran (Leak detector): Alat untuk mencari lokasi kebocoran pada
sistem AC. Alat tersebut ada yang memakai cairan, nyala api, dan elektronik.
Bahan pendingin (refrigerant): zat yang mengalir di dalam sistem AC. Wujudnya
mudah berubah dari gas menjadi cair atau sebaliknya. Di dalam evaporator
menguap sambil menyerap kalor ruangan dan di kondensor mengembun sambil
mengeluarkan kalor melalui udara yang mendinginkannya. Sifatnya aman tidak
berbahaya. Macamnya banyak sekali dengan karakteristik yang berlainan.
Pemakaiannya disesuaikan dengan macam kompresor dan suhu evaporator yang
direncanakan.
Bellow: sebuah tabung yang bergelombang, apabila mendapat perubahan tekanan dapat
bergerak mengembang atau menyusut. Dipakai pada alat pengatur suhu
(thermostat).
Brazing: Menyambung logam dengan logam-logam nonferro (tidak mengandung besi)
dengan pemanasan sekitar 1200
0
F (650
0
C).

156

Capillary Tube (Pipa kapiler): bagian dari sistem untuk mengatur aliran bahan
pendingin. Dibuat dari pipa tembaga dengan diameter dalam yang sangat kecil.
Juga dipakai untuk menghubungkan bulb dari pengatur suhu dengan pengatur
mekanis.
Chiller: mesin pendingin yang berfungsi untuk mendinginkan air pada sisi
evaporatornya
Cooling tower: alat pembuang panas, yaitu dengan mengeluarkan panas ke atmosfir
melalui air yang disalurkan ke temperatur yang lebih rendah.
Direct expansion: merupakan sistem pengkondisian udara dimana pengambilan panas
dari udara dilakukan oleh refrigerant yang bersirkulasi dalam suatu siklus
pendinginan.
Evaporator: suatu komponen AC tempat bahan pendingin cair menguap sambil
mengambil kalor dari sekitarnya.
Flaring: Cara penyambungan pipa dengan menjepit bibir pipa yang telah
dikembangkan dengan fitting menggunakan flare nut.
Kelembaban (Humidity): Jumlah uap air yang ada di udara, biasanya dinyatakan
dalam persen.
Katup ekspansi: suatu alat pengatur bahan pendingin pada sistem AC. Gunanya untuk
mempertahankan perbedaan tekanan antara sisi tekanan tinggi dan sisi tekanan
rendah dengan mengalirkan bahan pendingin ke evaporator sesuai dengan
keperluannya.
Kompresor: Bagian terpenting dari sistem AC. Menghisap bahan pendingin gas dari
evaporator dengan suhu rendah dan tekanan rendah lalu memampatkannya
sehingga menjadi gas tekanan tinggi dan suhu tinggi.
Kondensor: Komponen AC yang berfungsi untuk mengubah wujud bahan pendingin
dari gas menjadi cair. Bahan pendingin masuk dari bagian atas kondensor dengan
suhu tinggi dan tekanan tinggi. Didinginkan oleh udara luar lalu mengembun,
sambil memberikan kalor kepada udara yang mendinginkannya. Pada bagian
bawah kondensor, bahan pendingin harus sudah mengembun semuanya, lalu
mengalir ke receiver.
Leak Detector: Alat untuk mencari kebocoran bahan pendingin pada sistem. Dapat
terdiri dari: air sabun, nyala api atau electric leak detector.

157

Liquid Receiver Tank: tempat penampungan sementara refrigeran yang akan masuk
menuju filter drier dengan maksud untuk mencegah refrigeran uap mengalir ke
filter drier dan membiarkan refrigeran cair masuk ke filter drier.
Manifold gauge: Alat untuk memeriksa dan mengisi bahan pendingin ke dalam sistem.
Terdiri dari dua buah keran yang disatukan, mempunyai dua buah meter dan tiga
selang isi. Meter ganda untuk mengukur sisi tekanan rendah dan meter tekan
untuk mengukur sisi tekanan tinggi dari sistem.
Minyak pelumas: Minyak pelumas untuk mesin pendingin harus mempunyai sifat-sifat
yang khusus; pada suhu rendah tidak membeku, dapat menghantarkan panas,
mempunyai dielektrik yang besar, dan lain-lain. Diisikan ke dalam kompresor
untuk melumasi bagian-bagian yang bergerak di dalam kompresor. Sifatnya
higrokopis, maka menyimpannya harus pada tempat yang rapat udara.
Pengatur suhu (Thermostat): Alat untuk mengatur suhu di dalam ruangan, agar tetap
berada dalam batasan suhu yang telah direncanakan. Mempunyai tombol yang
dapat diputar untuk mendapatkan batas-batas suhu yang dikehendaki. Apabila
suhu di dalam rungan sudah dingin makan kontaknya akan membuka. Setelah
suhu di dalam ruangan menjadi panas lagi, kontaknya akan menutup kembali.
PAC (Precision Air Conditioning): suatu mesin pendingin yang memiliki pengaturan
suhu, kelembaban, dan kebersihan udara dengan spesifikasi dan tingkat akurasi
yang tinggi
Saluran hisap (Suction line): Pipa yang menghubungkan evaporator dan kompresor.
Saluran tekan (Discharge line): Pipa yang menghubungkan kompresor dengan
kondensor.
Sekering (Fuse): Pengaman untuk melindungi motor listrik dan alat-alat listrik yang
lain. Apabila terjadi arus listrik yang lebih besar, sekering akan putus.
Sistem: Semua komponen AC yang dialiri bahan pendingin; kompresor, kondensor,
receiver, katup ekspansi, evaporator, dan pipa-pipa penghubungnya.
Selang isi: Selang karet yang kedua ujungnya memakai mur yang dapat diputar dengan
tangan, untuk menghubungkan manifold dengan kompresor, tabung bahan
pendingin atau pompa vakum.
Swaging: Membesarkan salah satu ujung pipa, sampai ujung pipa yang lain dengan
ukuran yang sama dapat masuk di dalamnya.
158

Tekanan rendah, Sisi (Low Side Pressure): Bagian dari sistem yang tekanannya
rendah, seperti pada: evaporator, saluran hisap, dan inlet kompresor.
Tekanan tinggi, Sisi (High Side Pressure): Bagian dari sistem yang tekanannya tinggi,
seperti pada: outlet kompresor, saluran tekan, kondensor, dan inlet katup ekspansi.
Vakum: Mengosongkan atau menghampakan suatu ruangan sampai tekanannya kurang
dari satu atmosfir, disebut vakum sebagian. Apabila tekanannya diturunkan
sampai -1 atmosfir, disebut vakum mutlak.
Vakum, mutlak: Membuat vakum sistem pendingin dengan memakai pompa vakum
yang khusus atau memakai kompresor dari sistem sendiri. Sistem dibuat vakum
agar semua udara, asam, air dan sisa bahan pendingin dapat dikeluarkan. Dengan
menurunkan tekanannya, air di dalam sistem akan menguap pada suhu yang lebih
rendah.
VRV (Variable Refrigerant Volume): sebuah teknologi yang sudah dilengkapi
dengan CPU dan kompresor inverter dan sudah terbukti menjadi handal, efisiensi
energi, melampaui banyak aspek dari sistem AC lama seperti AC Sentral, AC
Split, atau AC Split Duct.

















159

Lampiran 1

Tabel 6.1 Heat transfer coefficient (U) for cold storage rooms






























160

Lampiran 2

Tabel 6.2 Heat transfer coefficient (U) for cold storage rooms






























161

Lampiran 3

Tabel 6.3 Heat transfer coefficient (U) for cold storage rooms






























162

Lampiran 4

Tabel 6.4 Thermal conductivity of materials used in cold storage rooms






























163

Lampiran 5

Tabel 6.5 Faktor U untuk kaca atau gelas











Tabel 6.5A Surface Conductance (f) for building structures


















164

Lampiran 6

Tabel 6.6 Refrigerations design ambient temperature guide






























165

Lampiran 6

Tabel 6.6 (Lanjutan)






























166

Lampiran 6

Tabel 6.6 (Lanjutan)






























167

Lampiran 6

Tabel 6.6A Design ground temperatur






























168

Lampiran 6

Tabel 6.6A (Lanjutan)






























169

Lampiran 6

Tabel 6.6A (Lanjutan)






























170

Lampiran 7

Tabel 6.7 Allowance for solar radiation






























171

Lampiran 8

Tabel 6.8A Btu/ft
3
of air removed in cooling to storage conditions above 30
0
F














Tabel 6.8B Btu/ft
3
of air removed in cooling to storage conditions below 30
0
F















172

Lampiran 9

Tabel 6.9A Average air changes per 24 hours for storage rooms
above 32
0
F due to door opening and infiltration












Tabel 6.9B Average air changes per 24 hours for storage rooms
below 32
0
F due to door opening and infiltration

















173

Lampiran 10

Tabel 6.10 Design data for fruit storage






























174

Lampiran 10

Tabel 6.10 (Lanjutan)






























175

Lampiran 11

Tabel 6.11 Design data for vegetable storage






























176

Lampiran 11

Tabel 6.11 (Lanjutan)






























177

Lampiran 12

Tabel 6.12 Design data for meat storage






























178

Lampiran 12

Tabel 6.12 (Lanjutan)






























179

Lampiran 13

Tabel 6.13 Design data for miscellaneous storage






























180

Lampiran 13

Tabel 6.13 (Lanjutan)






























181

Lampiran 14

Tabel 6.14 Reaction heat from fruits and vegetables






























182

Lampiran 15

Tabel 6.15 Heat equivalent of electric motors






























183

Lampiran 16

Tabel 6.16 Heat equivalent of occupancy






























184

Lampiran 17

Tabel 6.17 Usages heat gain, Btu/24 Hr for one cubic feet interior capacity






























185

Lampiran 18

Tabel 6.18 Wall heat gain