Anda di halaman 1dari 18

A.

Judul
Pemisahan Campuran
B. Hari / tanggal mulai percobaan
Selasa / 18 oktober 2011 pukul 07.00 WIB
C. Hari / tanggal selesai percobaan
Selasa / 18 oktober 2011 pukul 09.15 WIB
D. Tujuan
1. Untuk memisahkan zat padat dari zat cair
2. Untuk memisahkan zat padat dari zat padat
E. Tinjauan pustaka / Kajian teori
I. Pemisahan Campuran
Dalam Kimia dan teknik kimia, proses pemisahan digunakan untuk
mendapatkan dua atau lebih produk yang lebih murni dari suatu campuran
senyawa kimia. Sebagian besar senyawa kimia ditemukan di alam dalam
keadaan yang tidak murni. Biasanya, suatu senyawa kimia berada dalam
keadaan tercampur dengan senyawa lain. Untuk beberapa keperluan seperti
sintesis senyawa kimia yang memerlukan bahan baku senyawa kimia dalam
keadaan murni atau proses produksi suatu senyawa kimia dengan kemurnian
tinggi, proses pemisahan perlu dilakukan. Proses pemisahan sangat penting
dalam bidang teknik kimia. Suatu contoh pentingnya proses pemisahan
adalah pada proses pengolahan minyak bumi. Minyak bumi merupakan
campuran berbagai jenis hidrokarbon. Pemanfaatan hidrokarbon-hidrokarbon
penyusun minyak bumi akan lebih berharga bila memiliki kemurnian yang
tinggi. Proses pemisahan minyak bumi menjadi komponen-komponennya
akan menghasilkan produk LPG, solar, avtur, pelumas, dan aspal.
Secara mendasar, proses pemisahan dapat diterangkan sebagai
proses perpindahan massa. Proses pemisahan sendiri dapat diklasifikasikan
menjadi proses pemisahan secara mekanis atau kimiawi. Pemilihan jenis
proses pemisahan yang digunakan bergantung pada kondisi yang dihadapi.
Pemisahan secara mekanis dilakukan kapanpun memungkinkan karena biaya
operasinya lebih murah dari pemisahan secara kimiawi. Untuk campuran
yang tidak dapat dipisahkan melalui proses pemisahan mekanis (seperti
pemisahan minyak bumi), proses pemisahan kimiawi harus dilakukan. Proses
pemisahan suatu campuran dapat dilakukan dengan berbagai metode.
Metode pemisahan yang dipilih bergantung pada fasa komponen penyusun
campuran. Suatu campuran dapat berupa campuran homogen (satu fasa)
atau campuran heterogen (lebih dari satu fasa). Suatu campuran heterogen
dapat mengandung dua atau lebih fasa: padat-padat, padat-cair, padat-gas,
cair-cair, cairgas, gas-gas, campuran padat-cair-gas, dan sebagainya. Pada
berbagai kasus, dua atau lebih proses pemisahan harus dikombinasikan
untuk mendapatkan hasil pemisahan yang diinginkan.

II. Metode Pemisahan Campuran
Metode pemisahan merupakan suatu cara yang digunakan untuk
memisahkan atau memurnikan suatu senyawa atau skelompok senyawa yang
mempunyai susunan kimia yang berkaitan dari suatu bahan, baik dalam skala
laboratorium maupun skala industri. Metode pemisahan bertujuan untuk
mendapatkan zat murni atau beberapa zat murni dari suatu campuran, sering
disebut sebagai pemurnian dan juga untuk mengetahui keberadaan suatu zat
dalam suatu sampel (analisis laboratorium). Berdasarkan tahap proses
pemisahan, metode pemisahan dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu
metode pemisahan sederhana dan metode pemisahan
kompleks.
1. Metode Pemisahan Sederhana
Metode pemisahan sederhana adalah metode yang menggunakan
cara satu tahap. Proses ini terbatas untuk memisahkan campuran atau
larutan yang relatif sederhana.
2. Metode Pemisahan Kompleks
Metode pemisahan kompleks memerlukan beberapa tahapan kerja,
diantaranya penambahan bahan tertentu,pengaturan proses mekanik
alat, dan reaksi-reaksi kimia yang diperlukan. Metode ini biasanya
menggabungkan dua atau lebih metode sederhana. Contohnya,
pengolahan bijih dari pertambangan memerlukan proses pemisahan
kompleks. Keadaan zat yang diinginkan dan dalam keadaan campuran
harus diperhatiakan untuk menghindari kesalahan pemilihan metode
pemisahan yang akan menimbulkan kerusakan hasil atau melainkan
tidak berhasil. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain :
1. Keadaan zat yang diinginkan terhadap campuran, apakah zat ada di
dalam sel makhluk hidup, apakah bahan terikat secara kimia, dan
sebagainya.
2. Kadar zat yang diinginkan terhadap campurannya, apakah kadarnya
kecil atau besar.
3. Sifat khusus dari zat yang diinginkan dan campurannya, misalnya
zat tidak tahan panas, mudah menguap, kelarutan terhadap pelarut
tertentu, titik didih, dan sebagainya.
4. Standar kemurnian yang diinginkan. Kemurnian 100% memerlukan
tahap yang berbeda dengan 96%.
5. Zat pencemar dan campurannya yang mengotori beserta sifatnya.
6. Nilai guna zat yang diinginkan, harga, dan biaya proses pemisahan.




Suatu zat dapat dipisahkan dari campurannya karena mempunyai
perbedaan sifat. Hal ini dinamakan dasar pemisahan. Beberapa dasar
pemisahan campuran antara lain sebagai berikut :
1. Ukuran partikel, bila ukuran partikel zat yang diinginkan berbeda
dengan zat yang tidak diinginkan (zat pencampur) dapat dipisahkan
dengan metode filtrasi (penyaringan). jika partikel zat hasil lebih kecil
daripada zat pencampurnya, maka dapat dipilih penyring atau media
berpori yang sesuai dengan ukuran partikel zat yang diinginkan.
Partikel zat hasil akan melewati penyaring dan zat pencampurnya akan
terhalang.
2. Titik didih, bila antara zat hasil dan zat pencampur memiliki titik didih
yang jauh berbeda dapat dipishkan dengan metode destilasi. Apabila
titikdidih zat hasil lebih rendah daripada zat pencampur, maka bahan
dipanaskan antara suhu didih zat hasil dan di bawah suhu didih zat
pencampur. Zat hasil akan lebih cepat menguap, sedangkan zat
pencampur zat pencampur tetap dalam keadaan cair dan sedikit
menguap ketika titik didihnya terlewati. Proses pemisahan dengan
dasar perbedaan titik didih ini bila dilakukan dengan kontrol suhu yang
ketat akan dapat memisahkan suatu zat dari campuranya dengan baik,
karena suhu selalu dikontrol untuk tidak melewati titik didih campuran.
3. Kelarutan, suatu zat selalu memiliki spesifikasi kelarutan yang
berbeda, artinya suatu zat selalu memiliki spesifikasi kelarutan yang
berbeda, artinya suatu zat mungkin larut dalam pelarut A tetapi tidak
larut dalam pelarut B, atau sebaliknya. Secara umum pelarut dibagi
menjadi dua, yaitu pelarut polar, misalnya air, dan pelarut nonpolar
(disebut juga pelarut organik) seperti alkohol, aseton, methanol,
petrolium eter, kloroform, dan eter. Dengan melihat kelarutan suatu zat
yang berbeda dengan zat-zat lain dalam campurannya, maka kita
dapat memisahkan zat yang diinginkan tersebut dengan menggunakan
pelarut tertentu.
4. Pengendapan, suatu zat akan memiliki kecepatan mengendap yang
berbeda dalam suatu campuran atau larutan tertentu. Zat-zat dengan
berat jenis yang lebih besar daripada pelarutnya akan segera
mengendap. Jika dalam suatu campuran mengandung satu atau
beberapa zat dengan kecepatan pengendapan yang berbeda dan kita
hanya menginginkan salah satu zat, maka dapat dipisahkan dengan
metode sedimentsi tau sentrifugsi. Namun jika dalam campuran
mengandung lebih dari satu zat yang akan kita inginkan, maka
digunakan metode presipitasi. Metode presipitasi biasanya dikombinasi
dengan metode filtrasi.
5. Difusi, dua macam zat berwujud cair atau gas bila dicampur dapat
berdifusi (bergerak mengalir dan bercampur) satu sama lain. Gerak
partikel dapat dipengaruhi oleh muatan listrik. Listrik yang diatur
sedemikian rupa (baik besarnya tegangan maupun kuat arusnya) akan
menarik partikel zat hasil ke arah tertentu sehingga diperoleh zat yang
murni. Metode pemisahan zat dengan menggunakan bantuan arus
listrik disebut elektrodialisis. Selain itu
kita mengenal juga istilah elektroforesis, yaitu pemisahan zat
berdasarkan banyaknya nukleotida (satuan penyusun DNA) dapat
dilakukan dengan elektroforesis menggunakan suatu media agar yang
disebut gel agarosa.
6. Adsorbsi, merupakan penarikan suatu zat oleh bahan pengadsorbsi
secara kuat sehingga menempel pada permukaan dari bahan
pengadsorbsi. Penggunaan metode ini diterapkan pada pemurnian air
dan kotoran renik atau organisme.

III. Jenis Jenis Metode Pemisahan
1. Filtrasi
Filtrasi atau penyaringan merupakan metode pemisahan untuk
memisahkan zat padat dari cairannya dengan menggunakan alat
berpori (penyaring). Dasar pemisahan metode ini adalah perbedaan
ukuran partikel antara pelarut dan zat terlarutnya. Penyaring akan
menahan zat padat yang mempunyai ukuran partikel lebih besar dari
pori saringan dan meneruskan pelarut. Proses filtrasi yang dilakukan
adalah bahan harus dibuat dalam bentuk larutan atau berwujud cair
kemudian disaring. Hasil penyaringan disebut filtrat sedangkan sisa
yang tertinggal dipenyaring disebut residu (ampas). Metode ini
dimanfaatkan untuk membersihkan air dari sampah pada pengolahan
air, menjernihkan preparat kimia di laboratorium, menghilangkan
pirogen (pengotor) pada air suntik injeksi dan obat-obat injeksi, dan
membersihkan sirup dari kotoran yang ada pada gula. Penyaringan di
laboratorium dapat menggunakan kertas saring dan
penyaring buchner. Penyaring buchner adalah penyaringan penyaring
yang terbuat dari bahan kaca yang kuat dilengkapi dengan alat
penghisap.
2. Sublimasi
Sublimasi merupakan metode pemisahan campuran dengan
menguapkan zat padat tanpa melalui fasa cair terlebih dahulu
sehingga kotoran yang tidak menyublim akan tertinggal. bahan-
bahan yang menggunakan metode ini adalah bahan yang mudah
menyublim, seperti kamfer dan iod.
3. Kristalisasi merupakan metode pemisahan untuk memperoleh zat
padat yang terlarut dalam suatu larutan. Dasar metode ini adalah
kelarutan bahan dalam suatu pelarut dan perbedaan titik beku.
Kristalisasi ada dua cara yaitu kristalisasi penguapan dan kristalisasi
pendinginan. Contoh proses kristalisasi dalam kehidupan sehari-hari
adalah pembuatan garam dapur dari air laut. Mula-mula air laut
ditampung dalam suatu tambak, kemudian dengan bantuan sinar
matahari dibiarkan menguap. Setelah proses penguapan, dihasilkan
garam dalam bentuk kasar dan masih bercampur dengan pengotornya,
sehingga untuk mendapatkan garam yang bersih diperlukan proses
rekristalisasi (pengkristalan kembali). Contoh lain adalah pembuatan
gula putih dari tebu. Batang tebu dihancurkan dan diperas untuk
diambil sarinya, kemudian diuapkan dengan penguap hampa udara
sehingga air tebu tersebut menjadi kental, lewat jenuh, dan terjadi
pengkristalan gula. Kristal ini kemudian dikeringkan sehingga diperoleh
gula putih atau gula pasir.
4. Destilasi
Destilasi merupakan metode pemisahan untuk memperoleh suatu
bahan yang berwujud cair yang terkotori oleh zat padat atau
bahan lain yang mempunyai titik didih yang berbeda. Dasar
pemisahan adalah titik didih yang berbeda. Bahan yang dipisahkan
dengan metode ini adalah bentuk larutan atau cair, tahan terhadap
pemanasan, dan perbedaan titik didihnya tidak terlalu dekat. Proses
pemisahan yang dilakukan adalah bahan campuran dipanaskan pada
suhu diantara titik didih bahan yang diinginkan. Pelarut bahan yang
diinginkan akan menguap, uap dilewatkan pada tabung pengembun
(kondensor). Uap yang mencair ditampung dalam wadah. Bahan hasil
pada proses ini disebut destilat, sedangkan sisanya disebut residu.
Contoh destilasi adalah proses penyulingan minyak bumi,
pembuatan minyak kayu putih, dan memurnikan air minum.
5. Ekstraksi
Ekstraksi merupakan metode pemisahan dengan melarutkan bahan
campuran dalam pelarut yang sesuai. Dasar metode pemisahan ini
adalah kelarutan bahan dalam pelarut tertentu.
6. Adsorbsi
Adsorbsi merupakan metode pemisahan untuk membersihkan
suatu bahan dari pengotornya dengan cara penarikan bahan
pengadsorbsi secara kuat sehingga menempel pada permukaan
bahan pengadsorbsi. Penggunaan metode ini dipakai untuk
memurnikan air dari kotoran renik atau mikroorganisme,
memutihkan gula yang berwarna coklat karena terdapat kotoran.
7. Kromatografi
Kromatografi adalah cara pemisahan berdasarkan perbedaan
kecepatan perambatan pelarut pada suatu lapisan zat tertentu. Dasar
pemisahan metode ini adalah kelarutan dalam pelarut tertentu, daya
absorbsi oleh bahan penyerap, dan volatilitas (daya penguapan).
Contoh proses kromatografi sederhana adalah kromatografi kertas
untuk memisahkan tinta.

IV. Pemanfaatan Metode Pemisahan Campuran

Pada proses pemisahan suatu campuran ada yang memerlukan
metode pemisahan, ada pula yang dikombinasi lebih dari satu jenis
metode. Berikut ini beberapa contoh pemanfaatan metode pemisahan
dengan menggunakan metode pemisahan tertentu.


1. Pemurnian Garam Dapur
Air laut banyak mengandung mineral terutama garam dapur (NaCl).
Petani garam dapur memisahkan garam dapur dengan menjemur air
laut pada sebuah bangunan yang datar dan lapang. Garam yang
diperoleh, kemudian diolah di industri untuk dicuci dan ditambah
iodium.



2. Pemurnian Air Minum
Air adalah sumber kehidupan. Air selalu diperlukan dalam setiap
bidang kehidupan kita.bagi penduduk Indonesia, tidak sulit untuk
mendapatkan air tawar, namun di daerah timur tengah sulit untuk
mendapatkan air tawar. Mereka melakukan penyulingan (destilasi)
untuk memperoleh air tawar secara besarbesaran.
F. Cara kerja
1. Rancangan alat
gambar 1.1 pasir + air
gambar 1.2 Filtrat dan Residu hasil Dekantasi
gambar 2.1 Serbuk kapur tulis + air
gambar 2.2 Proses Filtrasi
gambar 2.3 Residu kpur tulis dan filtrat

gambar 3.1 Garam dan air
gambar 3.2 Menyaring larutan garam
gambar 3.3 Tidak ada residu di kertas saring

gambar 3.4 Memanaskan larutan garam
gambar 3.5 Residu hasil penguapan
gambar 4.1 Melarutkan CuSO
4
.5H
2
O
gambar 4.2 Memanaskan CuSO
4
.5H
2
O
gambar 4.3 Residu hasil Kristalisasi
gambar 5.1 Residu hasil penyaringan
gambar 5.2 Memanaskan air cucian pasir +
hasil penyaringan
gambar 6 Residu hasil Sublimasi

2. Alat dan bahan
a. Alat :
No. Nama Alat Jumlah
1. Gelas kimia 4 buah
2. Pembakar spirtus 1 buah
3. Kaki tiga 1 buah
4. Gelas ukur 10mL 1 buah
5. Cawan penguapan 1 buah
6. Kaca arloji 1 buah
7. Pipet tetes 1 buah
8. Kassa 1 buah
9. Corong 1 buah
10. Kertas saring 2 buah
11. Alu dan mortar 1 buah
12. Label 6 buah

b. Bahan :








No. Nama bahan
1. Air
2. Nacl
3. Kapur tulis
4. Kapur barus
5. Pasir
6.
1 gram CuSO
4
5H
2
O
3. Alur kerja
1. Dekantasi
1 sendok
pasir
- Dimasukkan kedalam gelas kimia yang berisi air
- Diaduk sampai rata
Larutan menjadi
keruh
- Pasir dibiarkan mengendap
- Larutan bagian atas dituang
Filtrat :
Air yang
bening
Residu :
Pasir yang
mengendap

2. Filtrasi
Bubuk
kapur tulis
- Dimasukkan kedalam gelas kimia yang berisi air
- Diaduk sampai rata
Larutan
sedikit keruh
- Disaring dengan corong dan kertas saring











Filtrat :
Air yang
bening
Residu :
Serbuk kapur
tulis yang
mengendap
3. Kristalisasi
Garam dapur
(Nacl)
- Dilarutkan kedalam gelas kimia yang berisi air
Larutan
garam
- Disaring dengan menggunakan kertas saring
Hasil
penyaringan
- Diuapkan dalam cawan penguapan

Filtrat :
Kristal
garam



4. Evaporasi
1 gram CuSO
4
5H
2
O
- Dihaluskan kemudian dimasukkan kedalam 10mL air
Larutan CuSO
4
5H
2
O

- Diuapkan hingga volume hampi habis
- Didinginkan
- Diperhatikan bentuk kristal yang terjadi






Residu :
Uap air
Residu :
Uap air
Filtrat :
Serbuk CuSO
4
5H
2
O
5. Filtrasi dan Evaporasi
1 sendok pasir + 1
sendok NaCl
- Dimasukkan kedalam gelas kimia dan dicampur air
- Diaduk rata
Larutan
homogen
- Dipanaskan lalu disaring
Filtrat :
Larutan
garam

- Dicuci dengan 5mL air 2kali
- Air hasil cucian dan penyaringan dicampur
- Diuapkan dengan cawan penguapan
- Dibiarkan menguap sendiri saat air hampir habis

Filtrat :
Serbuk garam










Residu :
Pasir
Residu :
Uap air dan air
6. Sublimasi
1 gram kapur barus + pasir
- Dimasukkan kedalam cawan penguapan
- Ditutup dengan kaca arloji yang atasnya diberi air
- Dipanaskan perlahan
Terbentuk zat padat
pada kaca arloji
- Di dinginkan
- Kristal dikumpulkan
- Diperhatikan bentuknya
- Semua hasil penguapan dicatat
Filtrat :
Serbuk
bening


G. Hasil pengamatan
No. Nama
pemisahan
campuran
Filtrat Residu
1. Dekantasi Air yang sedikit keruh Pasir yang mengendap
2. Filtrasi Air yang jernih
(tidak berwarna)
Serbuk kapur
3. Kristalisasi Kristal garam yang lebih
bening (partikelnya lebih
kecil)
Uap air
4. Evaporasi Serbuk CuSO45H2O
(warna CuSO45H2O
yang awalnya biru cerah
menjadi biru kehijauan)
Uap air
5. Filtrasi dan
Evaporasi
Serbuk garam yang
sedikit kkasar dan
Uap air dan air
Residu :
Pasir,warna
berwarna putih
(partikelnya lebih besar)
6. Sublimasi Kristal halus dan bening Pasir dan sedikit warna


H. Analisis data
Pada percobaan pemisahan campuran, diperoleh data bahwa dalam
proses dekantasi menghasilkan filtrat berupa air yang sedikit keruh dan residu
berupa pasir yang mengendap.
Sedangkan pada percobaan kedua yaitu proses filtrasi, menghasilkan
filtrat berupa air yang jernih (tidak berwarna) serta menghasilkan residu
berupa serbuk kapur.
Kemudian pada percobaan ketiga yaitu kristalisasi, menghasilkan
filtrat berupa kristal garam yang lebih bening dan partikel garam tersebut lebih
kecil serta menghasilkan residu berupa uap air.
Pada percobaan evaporasi, menghasilkan filtrat yang berupa serbuk
CuSO
4
5H
2
O yang berwarna biru kehijauan serta menghasilkan residu
berupa uap air. Warna dari CuSO
4
5H
2
O yang awalnya (sebelum evaporasi)
berwarna biru cerah menjadi berwarna biru kehijauan.
Percobaan kelima yaitu filtrasi dan evaporasi. Dalam percobaan ini
menghasilkan filtrat berupa serbuk garam yang bening dan sedikit kasar,
sedangkan residunya berupa uap air dan air.
Percobaan terakhir yaitu sublimasi. Pada percobaan ini menghasilkan
filtrat berupa kristal halus yang bening serta residu berupa pasir dan sedikit
warna (pasir lebih dominan).



I. Pembahasan
Pada percobaan kristalisasi dan filtrasi - evaporasi, pada percobaan
kristalisasi terbentuk serbuk garam yang lebih bening dan ukuran partikel
lebih kecil dibandingkan serbuk garam hasil percobaan filtrasi dan evaporasi
yang berukuran sedikit lebih besar (kasar) dan basah. Hal ini disebabkan
karena dua faktor penting, yaitu : laju pembentukan inti (nukleasi) dan laju
pertumbuhan kristal. Pada percobaan kristalisasi terjadi laju pembentukan inti
yang tinggi, hal ini tergantung pada derajat lewat jenuh (supersaturation) dari
larutan. Sedangkan pada percobaan filtrasi dan evaporasi terjadi laju
pertumbuhan kristal yang tinggi, hal ini juga dikarenakan derajat lewat jenuh.
Sedangkan pada percobaan sublimasi, kita menggunakan kaca arloji
karena pada percobaan ini terjadi pemisahan zat padat tanpa melalui zat cair.
Percobaan ini terdapat peristiwa penyubliman, dimana zat yang tidak muda
menyublim akan menjadi residu. Oleh karena itu kita menggunakan kaca
arloji untuk memperoleh filtratnya. Jika tidak menggunakan kaca arloji filtrat
akan tidak terbentuk karena zat mudah menguap. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa kaca arloji digunakan untuk menahan hasil sublimasi.
Kami memberikan air bersuhu 30 derajat celcius di atas kaca arloji tersebut
yang berfungsi untuk mempercepat proses pembentukan kristal. Jadi uap
yang dihasilkan oleh percobaan ini dapat langsung didinginkan sehingga
terbentuk kristal kristal halus.


J. Kesimpulan
1. Pada percobaan dekantasi, filtrat hasil dekantasi sedikit lebih keruh
dibandingkan dengan air sebelum dicampur pasir dan juga sedikit lebih
keruh dibandingkan filtrat filtrasi.
2. Pada percobaan filtrasi, air yang dihasilkan kembali jernih seperti semula.
Karena terjadi penyaringan ultra.
3. Pada percobaan kristalisasi dan filtrasi - evaporasi, pada percobaan
kristalisasi terbentuk serbuk garam yang lebih bening dan ukuran partikel
lebih kecil dibandingkan serbuk garam hasil percobaan filtrasi dan
evaporasi yang berukuran sedikit lebih besar (kasar) dan basah. Hal ini
disebabkan karena dua faktor penting, yaitu : laju pembentukan inti
(nukleasi) dan laju pertumbuhan kristal. Pada percobaan kristalisasi terjadi
laju pembentukan inti yang tinggi, hal ini tergantung pada derajat lewat
jenuh (supersaturation) dari larutan. Sedangkan pada percobaan filtrasi
dan evaporasi terjadi laju pertumbuhan kristal yang tinggi, hal ini juga
dikarenakan derajat lewat jenuh.
4. Pada percobaan evaporasi, terdapat perubahan warna dari CuSO45H2O.
Warna CuSO45H2O yang awalnya biru cerah menjadi biru kehijauan. Hal
ini trerjadi karena trrjadi perubahan sifat zat yang awalnya bersifat basa
berubah menjadi asam, sehinnga terjadi warna biru kehijauan.
5. Pada percobaan sublimasi, terbentuk zat padat pada kaca arloji yang
setelah didinginkan menjadi kristal.

K. Daftar pustaka
Purba, michael. 2004. Kimia. Jakarta : Erlangga
Vogel direvisi oleh G. Svehla.1985.Vogel.Jakarta:PT. Kalman media pusaka
Sugiarto, bambang, dkk. 2008. Penuntun Praktikum Kimia Dasar 1. Surabaya
: Universitas Negeri Surabaya.
http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kul