Anda di halaman 1dari 10

,Jurnal Karya Tulis Ilmiah

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGETAHUAN IBU TENTANG PROLAPSUS UTERI DI RUMAH SAKIT UMUM KESDAM ISKANDAR MUDA BANDA ACEH

Nurhasidan Siregar

Mahasiswi Pada STIKes U’Budiyah Banda Aceh D-III Kebidanan

ABSTRAK

Latar belakang masalah : Prolapsus uteri merupakan suatu keadaan dimana turunnya uterus melalui hiatus genitalis yang disebabkan kelemahan ligamen-ligamen (penggantung), fasia (sarung) dan otot dasar panggul yang menyokong uterus, wawancara yang dilakukan oleh peneliti mengenai pengetahuan ibu tentang prolapsus uteri terhadap 10 ibu yang berkunjung ke Rumah Sakit Umum Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh 7 ibu diantaranya tidak mengetahui tentang prolapsus uteri dan 3 ibu sudah mengetahui dan pernah mendengar tentang prolapsus uteri. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Ibu tentang Prolapsus Uteri Di Rumah Sakit Umum Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh. Metode Penelitian : penelitian telah dilakukan di Rumah Sakit Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh, pada tanggal 25 Agustus s/d 30 Agustus 2013. penelitian ini menggunakan cross sectional dengan populasi 279 orang, sampel yang di teliti sebanyak 71 orang. Pengolahan data dengan cara Editing, Coding, Transfering, Tabulating. Hasil Penelitian : Menunjukkan bahwa ada pengaruh antara Usia terhadap pengetahuan ibu dengan p-value 0,004, ada pengaruh antara pendidikan tentang pengetahuan ibu, dengan p-value 0,012, dan ada pengaruh informasi tentang pengatahuan ibu dengan p- value 0,025 Kesimpulan : dari 71 responden terdapat ada pengaruh antara Usia dengan p-value 0,004, pendidikan dengan p-value 0,012, informasi dengan p-value 0,025. Tentang pengetahuan ibu terhadap prolapsus uteri. Hasil penelitian ini diharapkan meningkatkan pengetahuannya tentang prolapsus uteri dengan cara bertanya kepada tenaga kesehatan atau dengan mencari informasi dari media elektronik dan media cetak.

Kata kunci

: Pengetahuan Ibu, Terhadap Prolapsus Uteri

I. Pendahuluan Prolapsus uteri merupakan salah satu bentuk dari turunya peranakan, yaitu turunnya rahim beserta jaringan penunjangnya kedalam liang atau rongga vagina. Turunnya peranakan dapat terjadi karena adanya kelemahan pada otot besar panggul sehingga satu atau lebih organ didalam panggul turun (Pajario,

2004).

Menurut penelitian yang dilakukan WHO tentang pola formasi keluarga dan kesehatan, ditemukan kejadian prolapsus uteri lebih tinggi pada wanita yang

mempunyai anak lebih dari tujuh daripada wanita yang mempunyai satu atau dua anak. Prolapsus uteri lebih berpengaruh pada perempuan di negara-negara berkembang yang perkawinan dan kelahiran anaknya dimulai pada usia muda dan saat fertilitasnya masih tinggi. Peneliti WHO menemukan bahwa laporan kasus prolapsus uteri jumlahnya jauh lebih rendah daripada kasus-kasus yang dapat dideteksi dalam pemeriksaan medik (Koblinsky M,

2001).

Penentuan letak uterus normal dan kelainan dalam letak alat genital

bertambah penting artinya, karena diagnosis yang tepat perlu sekali guna penatalaksanaan yang baik sehingga tidak timbul kembali penyulit pascaoperasi di kemudian hari (Wiknjosastro, 2005). Frekuensi prolapsus genitalia di beberapa negara berlainan, seperti dilaporkan di klinik d’Gynecologie et Obstetrique Geneva insidensinya 5,7%, dan pada periode yang sama di Hamburg 5,4%, Roma 6,7%. Dilaporkan di Mesir, India, dan Jepang kejadiannya tinggi, sedangkan pada orang Negro Amerika dan Indonesia kurang. Frekuensi prolapsus uteri di Indonesia hanya 1,5% dan lebih sering dijumpai pada wanita yang telah melahirkan, wanita tua dan wanita dengan pekerja berat. Dari 5.372 kasus ginekologik di Rumah Sakit Dr. Pirngadi di Medan diperoleh 63 kasus prolapsus uteri terbanyak pada grande multipara dalam masa menopause dan pada wanita petani, dari 63 kasus tersebut 69% berumur diatas 40 tahun. Jarang sekali prolapsus uteri dapat ditemukan pada seorang nullipara (Winkjosastro, 2005). Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering merupakan faktor utama terjadinya prolapsus uteri. Wanita yang pernah melahirkan terutama yang mempunyai riwayat melahirkan empat kali atau lebih akan mengalami kelemahan otot besar panggul sehingga terjadi penurunan organ panggul (Suryaningdyah,

2011).

Prolapsus uteri terjadi karena kelemahan otot ligamen endopelvik terutama ligamentum tranversal dapat dilihat pada nullipara dimana terjadi elangosiokoli disertai prolapsus uteri tanpa sistokel tetapi

ada enterokele. Pada keadaan ini fasia pelvis kurang baik pertumbuhannya dan kurang keregangannya. Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan menopause. Persalinan lama yang sulit, meneran sebelum pembukaan lengkap, laserasi dinding vagina bawah pada kala dua, penatalaksanaan pengeluaran plasenta, reparasi otot-otot panggul yang tidak baik. Diprediksi hampir setengah dari seluruh wanita yang pernah melahirkan akan mengalami penurunan organ peranakan (Mazna, Shafinaz Sheikh. 2007). Berdasarkan data yang peneliti dapatkan dari pengkajian buku register di Rumah Sakit Umum Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh keseluruhan pasien dari bulan Januari-Desember tahun 2012 berjumlah 279 orang yang terbagi dari 105 orang ibu hamil, 87 orang ibu bersalin dengan persalinan normal 29 orang dan 58 orang dengan persalinan sectio sesaria. Survey wawancara yang dilakukan oleh peneliti mengenai pengetahuan ibu tentang prolapsus uteri terhadap 10 ibu yang berkunjung ke Rumah Sakit Umum Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh 7 ibu diantaranya tidak mengetahui tentang prolapsus uteri dan 3 ibu sudah mengetahui dan pernah mendengar tentang prolapsus uteri.

Tujuan Penelitian Tujuan Umum Untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Ibu Terhadap Prolapsus Uteri Di Rumah Sakit Umum Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh.

Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui pengaruh usia tentang pengetahuan ibu tentang Prolapsus Uteri di Rumah Sakit Umum Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh.

b. Untuk mengetahui pengaruh pendidikan terhadap pengetahuan tentang Prolapsus Uteri di Rumah Sakit Umum Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh.

c. Untuk mengetahui pengaruh informasi terhadap pengetahuan ibu tentang Prolapsus Uteri di Rumah Sakit Umum Kesdam

Iskandar Muda Banda Aceh.

II. METODOLOGI 1. Kerangka Konsep Menurut penelitian yang dilakukan tentang pola informasi keluarga dan kesehatan, ditemukan kejadian prolapsus uteri lebih tinggi pada wanita yang mempunyai anak lebih dari tujuh dari pada wanita yang mempunyai satu atau dua anak. Peneliti menemukan bahwa laporan kasus prolapsus uteri jumlahnya jauh lebih rendah daripada kasus-kasus yang dapat dideteksi dalam pemeriksaan medik (Koblinsky M, 2001). Berdasarkan teori tersebut, maka secara skematis kerangka konsep penelitian ini dapat dilihat pada bagian di bawah ini :

Usia Pendidikan Informasi
Usia
Pendidikan
Informasi

Pengetahuan

ibu tentang

prolapsus uteri

Hipotesa Ha : Ada pengaruh Usia Tentang pengetahuan ibu tentang Prolapsus Uteri di RSU Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh Tahun 2013 Ha : Ada Pengaruh Pendidikan Tentang pengetahuan ibu tentang Prolapsus Uteri di RSU Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh Tahun 2013 Ha : Ada Pengaruh informasi Tentang pengetahuan ibu tentang Prolapsus Uteri di RSU Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh Tahun 2013

Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional, yaitu observasi atau pengumpulan data di lakukan sekaligus pada suatu waktu (point time approach) (Notoatmodjo,

2005).

Populasi dan sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu-ibu yang berkunjung ke Rumah Sakit Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh periode Januari-Desember tahun 2012 yang berjumlah 279 orang.

Sampel dalam penelitian ini adalah ibu- ibu yang berkunjung ke Rumah Sakit Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh. Cara pengambilan sampel dengan menggunakan rumus slovin (Notoatmodjo, 2005) :

=

n

N

1

N

(

d

2

)

ket

:

N = Besar populasi n = Besar Sampel

d

2

= kepercayaan/ketepatan diinginkan (0,1)

tingkat

yang

Maka berdasarkan rumus slovin di atas, didapat jumlah sampel untuk penelitian ini berjumlah:

Tempat dan waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh. laksanakan pada tanggal 25 Agustus s/d 30 Agustus 2013

Cara Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang langsung di peroleh dari responden dengan cara menyebarkan kuesioner yang berisi pertanyaan yang telah di sediakan dan selanjutnya oleh responden sesuai denngan petunjuk. Sedangkan data sekunder adalah data yang di tinjau dari laporan kunjungan di Rumah Sakit Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh.

Pengolahan Data

:data yang

telah didapatkan akan diolah dengan

tahap-tahap

Menurut

(Arikunto

berikut:

2010)

Editing,

Coding,

Transfering, Tabulating,

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Analisa Univariat

a. Pengetahuan Ibu

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu di Rumah Sakit Umum Kesdam Muda Kesdam Banda Aceh Tahun 2013

No.

Pengetahuan Ibu

Jumlah

(%)

1.

Tahu

61

85,9

2.

Tidak Tahu

10

14,1

 

Jumlah

71

100

Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan bahwa dari 71 responden yang memiliki pengetahuan ibu yang tahu tentang prolpasus uteri sebanyak 61 responden

(85,9%)

b. Pendidikan

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Ibu di Rumah Sakit Umum Kesdam Iskandar Muda banda Aceh Tahun 2013

No.

Pendidikan

Jumlah

(%)

1.

Tinggi

35

49,3

2.

Menengah

25

35,2

3.

Dasar

11

15,5

 

Jumlah

71

100

Berdasarkan tabel 5.2 menunjukkan bahwa dari 71 responden yang memiliki pendidikan tinggi sebanyak 35 responden (49,3%).

c.

Usia

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Usia Ibu di Rumah Sakit Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh Tahun 2013

No.

Usia

Jumlah

(%)

1.

Tua

28

39,4

2.

Muda

43

60,6

 

Jumlah

71

100

Berdasarkan tabel 5.3 menunjukkan bahwa dari 71 responden yang memiliki usia tua sebanyak 43 responden

(60,6%).

d. Informasi

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Informasi yang di peroleh Ibu di Rumah Sakit Umum Kesdam Iskandar Mudan banda Aceh Tahun 2013

No.

Informasi

Jumlah

(%)

1.

Pernah

51

71,8

2.

Tidak Pernah

20

28,2

 

Jumlah

71

100

Berdasarkan tabel 5.4 menunjukkan bahwa dari 71 responden mayoritas yang yang pernah mendapatkan informasi sebanyak 51 responden

(71,8%).

2. Analisa bivariat

a. Pengaruh

Dengan

Pengetahuan Ibu tentang Prolapsus

Uteri

Usia

Tabel 5.5 Pengaruh Usia Dengan Pengetahuan Ibu di Rumah Sakit Umum Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh Tahun 2013

Usia

Pengetahuan Ibu

Total

p

Tahu

Tidak Tahu

value

n

%

n

%

N

%

Tua

28

100

0

0

28

100

 

Muda

33

76,7

10

23,3

43

100

0,005

Jumlah

61

85,9

10

14,1

71

100

 

Berdasarkan tabel 5.5 menunjukkan bahwa dari 43 responden yang berusia muda dengan pengetahuan Ibu tentang prolapsus uteri sebanyak (76,7 %) dan yang tidak tahu tentang Prolapsus uteri sebanyak (23,3%). sedangkan dari 28 responden yang berusia tua dengan pengetahuan ibu tentang prolapsus uteri sebanyak (100%) dan yang tidak memiliki pengetahuan tentang Prolapsus Uteri sebanyak (0%).

statistik

menggunakan uji chi-square

value = 0,005.

Sehingga didapatkan bahwa p < 0,05 yang artinya Ha diterima atau ada pengaruh antara usia dengan pengetahuan ibu tentang prolapsus uteri.

menghasilkan nilai p

Hasil

analisa

b. Pengaruh Pendidikan Dengan Pengetahuan Ibu tentang Prolapsus Uteri

Tabel 5.6 Pengaruh Pendidikan Dengan Pengetahuan Ibu di Rumah Sakit Umum Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh Tahun 2013

 

Pengetahuan Ibu

 

Total

p

Tahu

Tidak tahu

value

Pendidikan

n

%

n

%

N

%

Tinggi

34

97,1

1

2,9

35

100

 

Menengah

20

80,0

5

20,0

25

100

0,012

Dasar

7

63,6

4

36,4

11

100

Jumlah

61

85,9

10

14,1

71

100

 

Berdasarkan tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 35 responden yang meiliki pendidikan tinggi dengan pengetahuan Ibu tentang Prolapsus Uteri sebanyak (97,1%) dan yang tidak memilki pengetahuan tentang Prolapsus Uter sebanyak (2,9%), sedangkan dari 25 responden yang memiliki pengetahuan menengah tentang Prolapsus Uteri sebanyak (80%) dan yang tidak mengetahui tentang Prolapsus Uteri sebanyak (20,0%). Sedangkan dari 11 responden yang memiliki pendidikan dasar dengan pengetahuan tentang Prolapsus Uteri

sebanyak (63,3%) dan yang tidak memiliki pengetahuan tentang Prolapsus Uteri sebanyak (36,4%). Hasil analisa statistik menggunakan uji chi-square menghasilkan nilai p value = 0,002. Sehingga didapatkan bahwa p < 0,05 yang artinya Ha diterima atau ada pengaruh antara usia dengan pengetahuan ibu tentang prolapsus uteri.

c. Pengaruh

Dengan

Pengetahuan Ibu tentang Prolapsus Uteri

Informasi

Tabel 5.7 Pengaruh Informasi Dengan Pengetahuan Ibu di Rumah Sakit Umum Kesdam Iskandar Muda Banda Aceh Tahun 2013

Informasi

Pengetahuan Ibu

Total

p

Tahu

Tidak tahu

value

n

%

n

%

N

%

Pernah

47

92,2

4

7,8

51

100

0,025

Tidak pernah

14

70

6

30

20

100

Jumlah

61

85,9

10

14,1

71

100

 

Berdasarkan tabel 5.7 menunjukkan bahwa dari 51 responden ibu yang pernah mendapat informasi tentang Prolapsus Uteri sebanyak (92,2%) dan ibu yang tidak pernah mendapat informasi tentang Prolapsus Uteri sebanyak (7,8%). Sedangkan dari 20 responden ibu yang tidak pernah mendapat informasi tentang prolapsus uteri sebanyak (70%). Hasil analisa statistik menggunakan uji chi-square menghasilkan nilai p value = 0,0025. Sehingga didapatkan bahwa p < 0,05 yang artinya Ha diterima atau ada pengaruh antara informasi dengan pengetahuan ibu tentang prolapsus uteri.

PEMBAHASAN

1. Pengaruh Usia Dengan Pengetahuan Ibu tentang Prolapsus Uteri

Berdasarkan hasil penelitian bahwa dari 43 responden yang berusia muda dengan pengetahuan Ibu tentang prolapsus uteri sebanyak (76,7 %) dan yang tidak tahu tentang Prolapsus uteri sebanyak (23,3%). sedangkan dari 28 responden yang berusia tua dengan pengetahuan ibu tentang prolapsus uteri sebanyak (100%) dan yang tidak memiliki pengetahuan tentang Prolapsus Uteri sebanyak (0%). Hasil analisa statistik menggunakan uji chi-square

menghasilkan nilai p value = 0,005. Sehingga didapatkan bahwa p < 0,05 yang artinya Ha diterima atau ada pengaruh antara usia dengan pengetahuan ibu tentang prolapsus uter Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Rianty (2011) yang meneliti “Hubungan usia , pendidikan dan pekerjaan ibu terhadap pengetahuan ibu tentang prolapsus uteri di wilayah BPS Titik Sri Suparti Boyoli tahun 2011” Dari analisis data menggunakan uji statistic Chi-Square di dapatkan hasil yang menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara usia dengan pengetahuan ibu tentang prolapsus uteri (p=0,001) dengan nilai α=0,05 dan ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan pengetahuan tentang prolapsus uteri dengan (p=0,004) dengan nilai α=0,05 sehingga Ha di terima. Menurut asumsi dari hasil penelitian terhadap 28 responden pada usia akan mempengaruhi pengetahuan seseorang karena semakin bertambahnya usia seseorang maka akan semakin banyak pengalaman yang diperolehnya sehingga akan bertambah juga pengetahuannya hal ini sesuai dengan hasil penelitiaan yang telah di lakukan bahwa usia mempengaruhi pengetahuan seseorang.

2. Pengaruh Pendidikan Dengan Pengetahuan Ibu tentang Prolapsus Uteri Berdasarkan hasil penelitian bahwa dari 35 responden yang meiliki pendidikan tinggi dengan pengetahuan Ibu tentang Prolapsus Uteri sebanyak (97,1%) dan yang tidak memilki pengetahuan tentang Prolapsus Uteri sebanyak (2,9%), sedangkan dari 25 responden yang memiliki pengetahuan menengah tentang Prolapsus Uteri sebanyak (80%) dan yang tidak mengetahui tentang Prolapsus Uteri

sebanyak (20,0%). Sedangkan dari 11 responden yang memiliki pendidikan dasar dengan pengetahuan tentang Prolapsus Uteri sebanyak (63,3%) dan yang tidak memiliki pengetahuan tentang Prolapsus Uteri sebanyak

(36,4%).

Hasil analisa statistik menggunakan uji chi-square menghasilkan nilai p value = 0,002. Sehingga didapatkan bahwa p < 0,05 yang artinya Ha diterima atau ada pengaruh antara usia dengan pengetahuan ibu tentang prolapsus uteri Menurut teori Notoadmodjo (2005) Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi seseorang untuk bertindak dan mencari penyebab serta solusi dalam hidupnya. Orang yang berpendidikan tinggi biasanya akan bertindak lebih rasional. Oleh karena itu orang yang berpendidikan akan lebih mudah menerima gagasan baru. Pendidikan dalam arti formal sebenarnya adalah suatu proses penyampaian bahan-bahan / materi pendidikan pada sasaran pendidik (anak didik) guna mencapai perubahan tingkah laku dan tujuan. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi, misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga meningkatkan kualitas hidup. Oleh sebab itu, makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pengetahuan yang dimiliki dan semakin mudah orang tersebut menerima informasi, sehingga seseorang lebih mudah menerima terhadap nilai-nilai yang baru Menurut asumsi dari hasil penelitian terhadap 35 responden pada pendidikan tinggi sangat mempengaruhi pengetahuan seseorang semakin tinggi pendidikan seseorang maka pengetahuaannya juga akan semakin berkembang dan akan bertambah.

3. Pengaruh

Informasi Dengan

Pengetahuan Ibu tentang Prolapsus Uteri

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa dari 51 responden ibu yang pernah mendapat informasi tentang Prolapsus Uteri sebanyak (92,2%) dan ibu yang tidak pernah mendapat informasi tentang Prolapsus Uteri sebanyak (7,8%). Sedangkan dari 20 responden ibu yang tidak pernah mendapat informasi tentang prolapsus uteri sebanyak (70%). Hasil analisa statistik menggunakan uji chi-square menghasilkan nilai p value = 0,0025. Sehingga didapatkan bahwa p < 0,05 yang artinya Ha diterima atau ada pengaruh antara informasi dengan pengetahuan ibu tentang prolapsus uteri. Menurut teori Habsari (2011), Informasi adalah sesuatu yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan. Majunya teknologi akan tersedia bermacam- macam media massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan opini dan kepercayan orang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya pengetahuan terhadap hal tersebut. Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang berguna untuk membuat keputusan. Informasi berguna untuk pembuat keputusan karena informasi menurunkan ketidakpastian

atau meningkatkan pengetahuan. Informasi menjadi penting. Menurut asumsi dari hasil penelitian terhadap 51 responden pada informasi yang diperoleh seseorang akan sangat mempengaruhi pengetahuaannya, orang yang pernah mendapatkan informasi mengenai sesuatu hal akan merubah pola pikir dan pemahamannya terhadap hal yang diketahuinya sehingga dengan adanya informasi yang diterima akan berdampak terhadap pengetahuannya.

IV. PENUTUP

Kesimpulan Setelah dilakukan penelitian dan uji statistik secara chi square mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan ibu terhadap prolapsus uteri di rumah sakit kesdam iskandar muda banda aceh tahun 2013 dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Ada pengaruh antara usia dengan pengetahuan ibu tentang prolapsus uteri dengan nilai p=0,005

(p<0,05).

2. Ada pengaruh antara pendidikan dengan pengetahuan ibu tentang prolapsus uteri dengan nilai p=0,012 (p<0,05).

3. Ada pengaruh antara informasi dengan pengetahuan ibu tentang prolapsus uteri dengan nilai p=0,025 (p<0,05).

Saran

1. Diharapkan kepada responden agar dapat meningkatkan pengetahuannya tentang prolapsus uteri dengan cara bertanya kepada tenaga kesehatan atau dengan mencari informasi dari media elektronik dan media cetak.

2. Diharapkan kepada tenaga kesehatan khususnya di bidang pelayanan

Kesehatan Ibu dan Anak agar dapat selalu memberikan penyuluhan, bimbingan serta saran-saran kepada ibu-ibu mengenai bahaya prolapsus uteri.

Hacker Neville F, Moore J.George. (2001). Esensial Obstetri dan Ginekologi.Edisi kedua. Jakarta. Hipokrates.

3.

Diharapkan kepada peneliti lain agar

Notoatmodjo,

S.

(2002).

Metodologi

dapat mengembangkan penelitian

Penelitian

Kesehatan.

pada variabel yang belum diteliti pada penelitian ini serta dapat

Jakarta: Rineka Cipta.

memperluas ruang lingkup pengambilan sampel serta metode penelitian yang berbeda sehingga penelitian lebih baik dari

Pajario

Arsep. (2004). Turunnya Peranakan tak Mengancam Jiwa. Available from http://www.indomedia.com/sr

sebelumnya.

ipo/2004/01/1101kes1.di

REFERENSI

Andra. (2009). www. Menopause.com.

tak

Mengancam Jiwa. 27 April 2009 dikutip 20 April 2013

Turun

Peranakan

Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta : Rineka Cipta.

Freedman,A.& Di Tomasso Little, RA 1994. The Cognitive Theory Of Anxiety dalam BB Wolman 2007. Anxiety and Related Disorders. New York. John Wiley & Sons Inc.

Hanifa, W. (2007). Ilmu

Kebidanan.

Jakarta:

Yayasan

Bina

Pustaka

Sarwono

Prawirohardjo

------------ (1999). Ilmu Kebidanan.

Jakarta

:

Yaysan Bina

Pustaka

Sarwono

Prawirohardjo

akses 2-2-2013

Praputranto, A.S. (2005). Plus Minus Alat Kontrasepsi. www.republika.co.id. (dikutip 2 September 2007).

Suryaningiyah, (2001). Klien Gangguan Sistem Reproduksi dan Seksualitas. Jakrta: EGC

Winkjosastro,

Hanifa.

(2005).

Ilmu

Kandungan. Jakarta: YBP-SP

---------------(1999). Ilmu Kebidanan Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirihardjo. Jakarta