Anda di halaman 1dari 2

MEMFASILITASI PEMICUAN STOP BABS

DENGAN METODA CLTS.


(FX SUDARDJO)
(Sumber dari Buku Community Led Total Sanitation oleh Kamal Kar)

CLTS dapat memprovokasi aksi lokal bersama yang mendesak untuk menjadi ODF secara total. Suatu gaya baru
fasilitasi telah berkembang. Dalam bentuk klasiknya, hal ini menggunakan perkataan lokal yang kasar untuk
"kotoran/tinja" dan mendorong komunitas setempat untuk mendatangi daerah-daerah yang paling kotor dan
paling tercemar di lingkungannya. Menilai dan menganalisa praktik-praktik mereka, mengejutkan, menjijikkan
dan membuat malu orang-orang. Gaya ini adalah provokatif dan menyenangkan, dan lepas tangan untuk
menyerahkan keputusankeputusan dan tindakan kepada komunitas tersebut.

Para fasilitator harus merasa bebas untuk menjadi kreatif dan adaptif, dan untuk menggunakan penilaian mereka
sendiri yang terbaik dalam memutuskan apa yang harus dilakukan. Gagasan-gagasan dan nasihat yang mengikuti
telah dicoba dan diuji, tetapi hal itu adalah untuk para fasilitatormereka sendiri untuk memutuskan apa yang
berguna bagi mereka. Prinsip dasarnya adalah memberdayakan komunitas setempat untuk melakukan analisa
mereka sendiri dan mengambil tindakan mereka sendiri untuk menjadi terbebas dari buang air besar
sembarangan.

Ia berkonsentrasi pada perilaku seluruh komunitas dan bukan pada perilaku individu. Manfaat kolektif dari
menghentikan kebiasaan buang air besar sembarangan (OD) dapat mendorong suatu pendekatan yang lebih
kooperatif. Orang-orang memutuskan bersama untuk bagaimana mereka akan menciptakan suatu lingkungan
yang bersih dan sehat yang memberikan manfaat bagi setiap orang. Adalah fundamental bahwa CLTS tidak
melibatkan subsidi perangkat keras rumah tangga individu dan tidak
menentukan model-model jamban/kakus. Solidaritas sosial, membantu dan bekerjasama di antara rumah
tangga-rumah tangga dalam komunitas merupakan suatu unsur yang umum dan penting dalam CLTS. Sifat-sifat
penting lainnya adalah timbulnya para Pemimpin Alamiah secara sepontanitas ketika suatu komunitas berjalan
menuju ke status ODF; inovasi-inovasi lokal mengenai model-model toilet yang murah dengan menggunakan
bahan-bahan yang tersedia secara lokal, dan sistem-sistem imbalan, denda, penyebaran dan peningkatan yang
diinovasi oleh komunitas. CLTS mendorong komunitas untuk bertanggung jawab dan mengambil tindakannya
sendiri

Ketika metoda CLTS dilaksanakan dengan baik terjadi, ini berarti CLTS
1. Adalah total, yang berarti bahwa ia mempengaruhi semua dalam
komunitas dan para pengunjung
2. Adalah didasarkan atas pengambilan keputusan komunitas secara kolektif
tindakan oleh semua.
3. Digerakan oleh rasa pencapaian kolektif dan motivasi yang
bersifat intern bagi komunitas, bukan oleh subsidi atau tekanan dari luar.
4. Mengakibatkan ti,bulnya para Pemimpin Alamaiah yang baru dan atau
sangat mendorong komitmen yang baru dari para pemimpin yang ada, yang tidak
memerlukan atau mengikuti suatu cetak biru, tetapi melakukan sesuatu hal
dengan cara mereka sendiri.
5. Menghasilkan tindakan-tindakan dan inovasi-inovasi lokal yang
beranekaragam.
6. Menghidupkan kembali praktik-praktik sosial transisional, yakni swadaya
dan kerjasama komunitas antara yang kaya dengan yang miskin dalam mencapai
status ODF.
7. Melibatkan laki-laki, perempuan, remaja dan anak-anak dalam kampanye
yang terikat waktu dan tindakan lokal untuk mengakhiri OD yang diikuti oleh
pembersihan umum.
8. Seringkali melalui gerakan kolektif dari komunitas menarik para
pemimpin setempat, wakil-wakil rakyat yang dipilih, pemerintah setempat dan
LSM-LSM untuk membantu, mendukung dan mendorong serta menyebarluaskan
gagasan-gagasan.
9. Komunitas-komunitas ODF lambat laun menaiki tangga sanitasi dan
memperbaiki struktur dan desain toilet-toilet mereka melalui hubungan-
hubungan yang lebih baik dengan para pengusaha dan pedagang/dealer lokal
perangkat keras sanitasi.
10. Seringkali komunitas-komunitas ODF tidak berhenti untuk mencapai
status ODF tetapi bergerak terus untuk mencapai tujuan-tujuan bersama kolektif
lainnya seperti 'tidak ada kelaparan atau kekurangan pangan di desa', 'tidak ada
anak-anak yang tidak sekolah dan semuanya bersekolah', upah yang sama bagi
semua buruh dan mengurangi ketidaksamaan buruh pria dan buruh wanita, dan
lain-lain.
FX SUDARDJO