Anda di halaman 1dari 14

Pengertian Etika, Profesi, dan Profesionalisme

ETIKA

A. Pengertian Etika

Etika (Yunani Kuno: "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan") adalah sebuah
sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau
kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral.Etika mencakup
analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung
jawab.
St. John of Damascus (abad ke-7 Masehi) menempatkan etika di dalam kajian
filsafat praktis (practical philosophy).

Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-
pendapat spontan kita.Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain
karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk
itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan
oleh manusia.

Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai
etika. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan
refleksi.Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari
etika adalah tingkah laku manusia. Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang
meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif.
Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.

Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika), etika
normatif (studi penentuan nilai etika), dan etika terapan (studi penggunaan nilai-
nilai etika).


B. Definisi Etika

- Menurut Bertens : Nilai- nilai atau norma norma yang menjadi pegangan
seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.

- Menurut KBBI : Etika dirumuskan dalam 3 arti yaitu tentang apa yang baik dan
apa yang buruk, nilai yang berkenaan dengan akhlak, dan nilai mengenai benar dan
salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

- Menurut Sumaryono (1995) : Etika berkembang menjadi studi tentang manusia
berdasarkan kesepakatan menurut ruang dan waktu yang berbeda, yang
menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan manusia pada umumnya.
Selain itu etika juga berkembang menjadi studi tentang kebenaran dan
ketidakbenaran berdasarkan kodrat manusia yang diwujudkan melalui kehendak
manusia.


C. Macam-macam Etika

Ada dua macam etika yang harus kita pahami bersama dalam menentukan baik dan
buruknya prilaku manusia :

1. Etika Deskriptif, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional
sikap dan prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini
sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar
untuk mengambil keputusan tentang prilaku atau sikap yang mau diambil.

2. Etika Normatif, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola
prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu
yang bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai
dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan.

Etika secara umum dapat dibagi menjadi :

1. Etika Umum, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia
bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori
etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam
bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan. Etika
umum dapat di analogkan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai
pengertian umum dan teori-teori.

2. Etika Khusus, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang
kehidupan yang khusus. Penerapan ini bisa berwujud : Bagaimana saya mengambil
keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang saya
lakukan, yang didasari oleh cara, teori dan prinsip-prinsip moral dasar. Namun,
penerapan itu dapat juga berwujud : Bagaimana saya menilai perilaku saya dan
orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang dilatarbelakangi oleh
kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis : cara bagaimana manusia
mengambil suatu keputusan atau tidanakn, dan teori serta prinsip moral dasar yang
ada dibaliknya.

Etika Khusus dibagi lagi menjadi dua bagian :
a. Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap
dirinya sendiri.
b. Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku
manusia sebagai anggota umat manusia.

Perlu diperhatikan bahwa etika individual dan etika sosial tidak dapat
dipisahkan satu sama lain dengan tajam, karena kewajiban manusia terhadap diri
sendiri dan sebagai anggota umat manusia saling berkaitan. Etika sosial
menyangkut hubungan manusia dengan manusia baik secara langsung maupun
secara kelembagaan (keluarga, masyarakat, negara), sikap kritis terhadpa
pandangan-pandangana dunia dan idiologi-idiologi maupun tanggung jawab umat
manusia terhadap lingkungan hidup.
Dengan demikian luasnya lingkup dari etika sosial, maka etika sosial ini
terbagi atau terpecah menjadi banyak bagian atau bidang. Dan pembahasan bidang
yang paling aktual saat ini adalah sebagai berikut :
1. Sikap terhadap sesama
2. Etika keluarga
3. Etika profesi
4. Etika politik
5. Etika lingkungan
6. Etika idiologi

D. Manfaat Etika

Beberapa manfaat Etika adalah sebagai berikut ,
1. Dapat membantu suatu pendirian dalam beragam pandangan dan moral.
2. Dapat membantu membedakan mana yang tidak boleh dirubah dan mana
yang boleh dirubah.
3. Dapat membantu seseorang mampu menentukan pendapat.
4. Dapat menjembatani semua dimensi atau nilai-nilai.
Pengertian etika kerja adalah sebuah nilai-nilai yang di pegang, baik individu
sebagai pekerja maupun managemen sebagai pengatur/regulasi dalam bekerja.
Webster (2007:45), etika didefinisikan sebagai keyakinan yang berfungsi
sebagai panduan tingkah laku bagi seseorang, sekelompok, atau institusi. Jadi, etos
kerja dapat diartikan sebagai doktrin tentang kerja yang diyakini oleh seseorang atau
sekelompok orang sebagai baik dan benar yang mewujud nyata secara khas dalam
perilaku kerja mereka .
Harsono dan Santoso (2006:35) yang menyatakan etika kerja sebagai
semangat kerja yang didasari oleh nilai-nilai atau norma-norma tertentu. Hal ini
sesuai dengan pendapat Sukriyanto (2000:29) yang menyatakan bahwa etika kerja
adalah suatu semangat kerja yang dimiliki oleh masyarakat untuk mampu bekerja
lebih baik guna memperoleh nilai hidup mereka. etika kerja menentukan penilaian
manusia yang diwujudkan dalam suatu pekerjaan.
Etika kerja merupakan sikap, pandangan, kebiasaan, ciri-ciri atau sifat
mengenai cara bekerja yang dimiliki seseorang, suatu golongan atau suatu bangsa
(Tasmara, 2000:14). Etika kerja yang tinggi tentunya rutinitas tidak akan membuat
bosan, bahkan mampu meningkatkan prestasi kerjanya atau kinerja. Hal yang
mendasari etika kerja tinggi di antaranya keinginan untuk menjunjung tinggi mutu
pekerjaan, maka individu yang mempunyai etos kerja tinggi akan turut serta
memberikan masukan- masukan ide di tempat bekerja.
Pengertian Moral
Definisi
Berbagai definisi atau pengertian moral telah dikemukakan sebagai berikut :
1. Hal yang mendorong manusia untuk melakukan tindakan yang baik sebagai
kewajiban atau norma
2. Sarana untuk mengukur benar tidaknya tindakan manusia
3. Kepekaan dalam pikiran, perasaan dan tindakan dibandingkan dengan
tindakan-tindakan lain yang tidak hanya berupa kepekaan terhadap prinsip-
prinsip dan aturan-aturan (Helden, 1997 & Richard, 1971)
4. Pandangan tentang baik dan buruk, benar dan salah, apa yang dapat dan tidak
dapat dilakukan manusia (Atkinson, 1969)
Ibarat sepeda motor, moral ialah buku petunjuk bagaimana kita harus memperlakukan sepeda
motor, sedangkan etika memberikan pengertian tentang struktur dan teknologi sepeda motor.
Manusia dapat dinilai dari banyak segi. Seorang dosen tertentu dapat dikatakan
buruk, karena cara mengajarnya hanya dengan membacakan diktat dimuka kelas.
Tetapi sebagai manusia, dosen itu baik karena sering membantu mahasiswa dalam
belajar, jujur dan dapat dipercaya., selalu mengatakan yang benar , dan selalu
bersikap adil. Sebaliknya ada seorang dokter ahli yang sangat sukses dalam
profesinya, tetapi mata duitan karena memasang tarif konsultasi sangat tinggi.
Penilaian terhadap seseorang dari profesinya hanya menyangkut satu segi atau satu
aspek saja dari orang itu sebagai manusia. Kata moral mengacu pada baik-
buruknya seseorang sebagai manusia, yang bukan saja baik buruk menyangkut
profesinya, misalnya sebagai dosen, tukang masak, pemain tenis, melainkan
sebagai manusia. Bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi
kebaikannya sebagai manusia Norma-norma moral adalah tolok ukur untuk
menentukan benar-salahnya sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik-
buruknya sebagai manusia, bukan hanya sebagai pelaku peran (profesi) tertentu.
Etika dan Ajaran Moral
Etika perlu dibedakan dari ajaran moral. Ajaran moral ialah ajaran-ajaran, wejangan-
wejangan, khotbah-khotbah, patokan-patokan, kumpulam peraturan dan ketetapan,
yang diperoleh secara lisan atau tertulis tentang bagaimana manusia arus hidup dan
bertindak agar menjadi manusia yang baik. Sumber langsung ajaran moral ialah
pelbagai orang dalam kedudukan yang berwenang, misalnya orang tua, guru/dosen,
pemuka masyarakat dan agama, atau secara tidak langsung dari tulisan para bijak,
misalnya yang tertulis dalam lontara.
Etika bukan suatu sumber tambahan bagi ajaran moral, melainkan merupakan
filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-
pandangan moral. Etika adalah sebuah ilmu, bukan suatu ajaran, sehingga
mempunyai tingkatan yang berbeda. Yang mengatur bagaimana kita harus hidup
adalah ajaran moral. Etika berkaitan dengan pengertian mengenai mengapa kita
harus mengikuti ajaran moral tertentu, atau bagaimana sikap kita yang
bertanggungjawab terhadap pelbagai ajaran moral. Etika berusaha untuk mengerti
mengapa atau atas dasar apa kita harus hidup menurut norma-norma tertentu.
SIKAP-SIKAP KEPRIBADIAN MORAL YANG KUAT
1. Kejujuran
Dasar setiap usaha untuk menjadi orang kuat secara moral adalah kejujuran. Tanpa
kejujuran kita sebagai manusia tidak dapat maju selangkah pun karena kita belum
berani menjadi diri kita sendiri. Tanpa kejujuran keutamaan-keutamaan moral
lainnya kehilangan nilai mereka. Bersikap baik terhadap orang lain, tetapi tanpa
kejujuran, adalah kemunafikan dan sering beracun. Hal yang sama berlaku bagi
sikap tenggang rasa dan mawas diri: tanpa kejujuran dua sikap itu tidak lebih dari
sikap berhati-hati dengan tujuan untuk tidak ketahuan maksud yang sebenarnya.
Bersikap jujur terhadap orang lain berarti dua: Pertama, sikap terbuka, kedua
bersikap fair. Terbuka berarti: orang boleh tahu, siapa kita ini. Dengan terbuka tidak
dimaksud bahwa segala pertanyaan orang lain harus kita jawab dengan
selengkapnya, atau bahwa orang lain berhak untuk mengetahui segala perasaan
dan pikiran kita. Kita berhak atas batin kita. Melainkan yang dimaksud ialah bahwa
kita selalu muncul sebagai diri kita sendiri. Sesuai dengan keyakinan kita. Kita tidak
menyembunyikan wajah kita yang sebenarnya.
Kedua, terhadap orang lain orang jujur bersikap wajar atau fair: ia
memperlakukannya menurut standar-standar yang diharapkannya dipergunakan
orang lain terhadap dirinya. Ia menghormati hak orang lain, ia selalu akan memenuhi
janji yang diberikan, juga terhadap orang yang tidak dalam posisi untuk
menuntutnya. Ia tidak pernah akan bertindak bertentangan dengan suara hati atau
keyakinannya. Keselarasan yang berdasarkan kepalsuan, ketidakadilan dan
kebohongan akan disobeknya.
Lankah awal untuk menerapkan sikap tersebut adalah dengan kita berhenti
membohongi diri kita sendiri. Kita harus berani melihat diri seadanya. Kita harus
berhenti main sandiwara, bukan hanya terhadap orang lain, melainkan terhadap kita
sendiri. Kita perlu melawan kecondongan untuk berasionalisasi,
menghindari show dan pembawaan berlebih-lebihan. Orang jujur tidak perlu
mengkompensasikan perasaan minder dengan menjadi otoriter dan menindas orang
lain.
Maka amatlah penting agar kita mulai menjadi jujur.
2. Nilai-nilai otentik
Di sini tempatnya untuk beberapa kata tentang sesuatu yang erat hubungannya
dengan hal kejujuran dan juga sangat penting kalau kita mau menjadi orang yang
kuat dan matang: Kita harus menjadi otentik. Otentik berarti, kita menjadi diri kita
sendiri. Kita bukan orang jiplakan, orang tiruan, orang-orangan yang hanya bisa
membeo saja, yang tidak mempunyai sikap dan pendirian sendiri karena ia dalam
segala-galanya mengikuti mode, atau pendapat umum dan arah angin.
Ketidakotentikan itu bisa terdapat di segala bidang nilai. Begitu halnya orang yang
dalam segala-galanya mengikuti mode. Atau orang yang merasa malu apabila tidak
tahu lagu pop terakhir, atau yang takut ketinggalan zaman kalau kelihatan tidak
memakai spray pembersih meja mutakhir. Atau di bidang estetis, kalau orang kaya
suka arsitektur gaya Spanyol, tetapi hanya karena gaya itu sedang in di kalangan
orang berada masa kini dan bukan karena ia memang meminatinya. Di bidang
politik seorang mahasiswa yang kritis dan pemberontak karena itulah gaya
mahasiswa, tetapi di rumahnya ia bersikap feodal. Atau sebaliknya si pejabat yang
menghafalkan semua istilah penataran ideologi negara.
Otentik berarti asli. Manusia otentik adalah manusia yang menghayati dan
menunjukkan diri sesuai dengan keasliannya, dengan kepribadiannya yang
sebenarnya. Manusia yang tidak otentik adalah manusia yang dicetak dari luar, yang
dalam segala-galanya menyesuaikan diri dengan harapan lingkungan; orang yang
seakan-akan tidak mempunyai kepribadian sendiri melainkan terbentuk oleh
peranan yang ditimpakan kepadanya oleh masyarakat.
Ketidakotentikan itu bisa terdapat di segala bidang nilai. Begitu halnya orang yang
dalam segala-galanya mengikuti mode. Atau orang yang merasa malu apabila tidak
tahu lagu pop terakhir, atau yang takut ketinggalan zaman kalau kelihatan tidak
memakai spray pembersih meja mutakhir. Atau di bidang estetis, kalau orang kaya
suka arsitektur gaya Spanyol, tetapi hanya karena gaya itu sedang in di kalangan
orang berada masa kini dan bukan karena ia memang meminatinya. Di bidang
politik seorang mahasiswa yang kritis dan pemberontak karena itulah gaya
mahasiswa, tetapi di rumahnya ia bersikap feodal. Atau sebaliknya si pejabat yang
menghafalkan semua istilah penataran ideologi negara.
3. Kesediaan untuk bertanggung jawab
Bertanggung jawab berarti suatu sikap terhadap tugas yang membebani kita. Kita
merasa terikat untuk menyelesaikannya, demi tugas itu sendiri. Sikap itu tidak
memberikan ruang pada pamrih kita. Kita akan melaksanakannya dengan sebaik
mungkin, meskipun dituntut pengorbanan atau kurang menguntungkan atau
ditentang oleh orang lain. Tugas itu bukan sekedar masalah di mana kita berusaha
untuk menyelamatkan diri tanpa menimbulkan kesan yang buruk, melainkan tugas
itu kita rasakan sebagai sesuatu yang mulai sekarang harus kita emong, kita
pelihara, kita selesaikan dengan baik, bahkan andaikata tidak ada orang yang
perduli. Merasa bertanggung jawab berarti bahwa meskipun orang lain tidak melihat,
kita tidak merasa puas sampai pekerjaan itu diselesaikan sampai tuntas.
Kesediaan untuk bertanggung jawab termasuk kesediaan untuk diminta, dan untuk
memberikan, pertanggungjawaban atas tindakan-tindakannya, atas pelaksanaan
tugas dan kewajibannya. Kalau ia ternyata lalai atau melakukan kesalahan, ia
bersedia untuk dipersalahkan. Ia tidak pernah akan melemparkan tanggung jawab
atas suatu kesalahan yang diperbuatnya kepada bawahan. Sebaliknya, sebagai
atasan ia, dengan hubungan dengan pihak luar, bersedia untuk mengaku
bertanggung jawab atau suatu keteledoran, meskipun yang sebenarnya
bertanggung jawab adalah seorang bawahan.
Kesediaan untuk bertanggung jawab demikian adalah tanda kekuatan batin yang
sudah mantap.
4. Kemandirian moral
Keutamaan ketiga yang perlu kita capai apabila kita ingin mencapai kepribadian
moral yang kuat adalah kemandirian moral. Kemandirian moral berarti bahwa kita
pernah ikut-ikutan saja dengan pelbagai pandangan moral dalam lingkungan kita,
melainkan selalu membentuk penilaian dan pendirian sendiri dan bertindak sesuai
dengannya. Jadi kita bukan bagaikan balon yang selalu mengikuti angin. Kita tidak
sekedar mengikuti apa yang biasa. Kita tidak menyesuaikan pendirian kita dengan
apa yang mudah, enak, kurang berbahaya. Baik faktor-faktor dari luar: lingkungan
yang berpendapat lain, kita dipermalukan atau diancam, maupun faktor-faktor dari
batin kita: perasaan malu, oportunis, malas, emosi, pertimbangan untung rugi, tidak
dapat menyelewengkan kita dari apa yang menjadi pendirian kita.
Kemandirian moral adalah kekuatan batin untuk mengambil sikap moral sendiri dan
untuk bertindak sesuai dengannya. Kekuatan untuk bagaimanapun juga tidak mau
berkongkalikong dalam suatu urusan atau permainan yang kita sadari sebagai tidak
jujur, korup atau melanggar keadilan. Mandiri secara moral berarti bahwa kita tidak
dapat beli oleh mayoritas, bahwa kita tidak pernah akan rukun hanya demi
kebersamaan kalau kerukunan itu melanggar keadilan.
5. Keberanian moral
Keberanian moral berarti berpihak pada yang lebih lemah melawan yang kuat, yang
memperlakukannya dengan tidak adil. Keberanian moral tidak menyesuaikan diri
dengan kekuatan-kekuatan yang ada kalau itu berarti mengkrompomikan kebenaran
dan keadilan.
Orang yang berani secara moral akan membuat pengalaman yang menarik. Setiap
kali ia berani mempertahankan sikap yang diyakini, ia merasa lebih kuat dan berani
dalam hatinya, dalam arti bahwa ia semakin dapat mengatasi perasaan takut dan
malu yang sering mengecewakan dia. Ia merasa lebih mandiri. Ia bagaikan batu
karang di tengah-tengah sungai yang tetap kokoh dan tidak ikut arus. Ia memberikan
semangat dan kekuatan berpijak bagi mereka yang lemah, yang menderita akibat
kezaliman pihak-pihak yang kuat dan berkuasa.
6. Kerendahan hati
Kerendahan hati adalah kekuatan batin untuk melihat diri sesuai dengan
kenyataannya. Orang yang rendah hati tidak hanya melihat kelemahannya,
melainkan juga kekuatannya. Tetapi ia tahu bahwa banyak hal yang dikagumi orang
lain padanya bersifat kebetulan saja. Ia sadar bahwa kekuatannya dan juga
kebaikannya terbatas. Tetapi ia telah menerima diri. Ia tidak gugup atau sedih
karena ia bukan seorang manusia super. Justru karena itu ia kuat. Ia tidak
mengambil posisi berlebihan yang sulit dipertahankan kalau ditekan. Ia tidak perlu
takut bahwa kelemahannya ketahuan. Ia sendiri sudah mengetahuinya dan tidak
menyembunyikannya. Maka ia adalah orang yang tahu diri dalam arti yang
sebenarnya.
Kerendahan hati ini tidak bertentangan dengan keberanian moral, melainkan justru
prasyarat kemurniannya. Tanpa kerendahan hati keberanian moral mudah menjadi
kesombongan atau kedok untuk menyembunyikan, bahwa kita tidak rela untuk
memperhatikan orang lain, atau bahkan bahwa kita sebenarnya takut dan tidak
berani untuk membuka diri dalam dialog kritis. Justru orang yang rendah hati sering
menunjukkan daya tahan yang paling besar apabila betul-betul harus diberikan
perlawanan. Orang yang rendah hati tidak merasa diri penting dan karena itu berani
untuk mempertaruhkan diri apabila ia sudah meyakini sikapnya sebagai tanggung
jawabnya.
7. Realistis dan kritis
Sikap realistis tidak berarti bahwa kita menerima realitas begitu saja. Kita
mempelajari keadaan dengan serealis-realisnya supaya dapat kita sesuaikan
dengan tuntutan prinsip-prinsip dasar. Dengan kata lain, sikap realistis mesti
berbarengan dengan sikap kritis. Tanggung jawab moral menuntut agar kita terus-
menerus memperbaiki apa yang ada supaya lebih adil, lebih sesuai dengan
martabat manusia, dan supaya orang-orang dapat lebih bahagia. Prinsip-prinsip
moral dasar adalah norma kritis yang kita letakkan pada keadaan.
Sikap kritis perlu juga terhadap segala macam kekuatan, kekuasaan dan wewenang
dalam masyarakat. Kita tidak tunduk begitu saja, kita tidak dapat dan tidak boleh
menyerahkan tanggung jawab kita kepada mereka. Penggunaan setiap wewenang
harus sesuai dengan keadilan dan bertujuan untuk menciptakan syarat-syarat agar
semakin banyak orang dapat lebih bahagia. Tak pernah martabat manusia boleh
dikorbankan. Di luar tujuan itu wewenang mereka berhenti. Begitu pula segala
macam peraturan moral tradisional perlu disaring dengan kritis. Peraturan-peraturan
itu pernah bertujuan untuk menjamin keadilan dan mengarahkan hidup masyarakat
kepada kebahagiaan. Tetapi apakah sekarang masih berfungsi demikian ataukah
telah menjadi alat untuk mempertahankan keadaan yang justru tidak adil dan
malahan membawa penderitaan?
Tanggung jawab moral yang nyata menuntut sikap realistis dan kritis. Pedomannya
ialah untuk menjamin keadilan dan menciptakan suatu keadaan masyarakat yang
membuka kemungkinan lebih besar dari anggota-anggota untuk membangun hidup
yang lebih bebas dari penderitaan dan lebih bahagia.
Dalam kenyataannya sikap-sikap tersebut memang sangatlah sulit untuk diterapkan
namun dengan adanya tekad yang bulat dan keyakinan yang mantap. Dan dengan
cara kita senantiasa melatih diri untuk selalu mengamalkan dan memelihara sikap-
sikap tersebut. Maka dengan seiring berjalannya waktu sikap-sikap tersebut akan
mudah kita terapkan dengan sendirinya. Dan dengan demikian kita pasti akan
menjadi sosok pribadi yang memiliki etika dan moral yang mantap.
Semoga tulisan ini dapat membimbing kita untuk menjadi sosok yang lebih baik dari
sebelumnya. Bukan untuk menjadi yang terbaik karena yang terbaik itu hanya ada
pada sosok seorang Nabi. Dan kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata.
Walaupun langkah pertama untuk melakukan sebuah perubahan adalah langkah
yang teramat sulit namun jangan pernah menyerah untuk melakukannya. Karena
sejatinya manusia diciptakan untuk menjadi seorang pemimpin. Dan seorang
pemimpin itu harus bisa menjadi contoh untuk rekan-rekannya.
Pengertian Permintaan dan Penawaran, Hukum &
Faktor Yang Mempengaruhi
Submitted by godam64
on Mon, 05/10/2009 - 00:05
Dalam ekonomi terdapat permintaan (demand) dan penawaran (supply) yang saling
bertemu dan membentuk satu titik pertemuan dalam satuan harga dan kuantitas
(jumlah barang). Setiap transaksi perdagangan pasti ada permintaan, penawaran,
harga dan kuantitas yang saling mempengaruhi satu sama lain.
A. Pengertian/Arti Definisi Permintaan dan Penawaran
Permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli atau diminta pada suatu harga dan
waktu tertentu. Sedangkan pengertian penawaran adalah sejumlah barang yang
dijual atau ditawarkan pada suatu harga dan waktu tertentu.
Contoh permintaan adalah di pasar kebayoran lama yang bertindak sebagai
permintaan adalah pembeli sedangkan penjual sebagai penawaran. Ketika terjadi
transaksi antara pembeli dan penjual maka keduanya akan sepakat terjadi transaksi
pada harga tertentu yang mungkin hasil dari tawar-menawar yang alot.
B. Hukum Permintaan dan Hukum Penawaran
Jika semua asumsi diabaikan (ceteris paribus) : Jika harga semakin murah maka
permintaan atau pembeli akan semakin banyak dan sebaliknya. Jika harga semakin
rendah/murah maka penawaran akan semakin sedikit dan sebaliknya.
Semua terjadi karena semua ingin mencari kepuasan (keuntungan) sebesar-
besarnya dari harga yang ada. Apabila harga terlalu tinggi maka pembeli mungkin
akan membeli sedikit karena uang yang dimiliki terbatas, namun bagi penjual
dengan tingginya harga ia akan mencoba memperbanyak barang yang dijual atau
diproduksi agar keuntungan yang didapat semakin besar. Harga yang tinggi juga
bisa menyebabkan konsumen/pembeli akan mencari produk lain sebagai pengganti
barang yang harganya mahal.
C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Permintaan (Demand)
1. Perilaku konsumen / selera konsumen
Saat ini handphone blackberry sedang trend dan banyak yang beli, tetapi beberapa
tahun mendatang mungkin blackberry sudah dianggap kuno.
2. Ketersediaan dan harga barang sejenis pengganti dan pelengkap
Jika roti tawar tidak ada atau harganya sangat mahal maka meises, selai dan
margarin akan turun permintaannya.
3. Pendapatan/penghasilan konsumen
Orang yang punya gaji dan tunjangan besar dia dapat membeli banyak barang yang
dia inginkan, tetapi jika pendapatannya rendah maka seseorang mungkin akan
mengirit pemakaian barang yang dibelinya agar jarang beli.
4. Perkiraan harga di masa depan
Barang yang harganya diperkirakan akan naik, maka orang akan menimbun atau
membeli ketika harganya masih rendah misalnya seperti bbm/bensin.
5. Banyaknya/intensitas kebutuhan konsumen
Ketika flu burung dan flu babi sedang menggila, produk masker pelindung akan
sangat laris. Pada bulan puasa (ramadhan) permintaan belewah, timun suri, cincau,
sirup, es batu, kurma, dan lain sebagainya akan sangat tinggi dibandingkan bulan
lainnya.
D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Penawaran (Suply)
1. Biaya produksi dan teknologi yang digunakan
Jika biaya pembuatan/produksi suatu produk sangat tinggi maka produsen akan
membuat produk lebih sedikit dengan harga jual yang mahal karena takut tidak
mampu bersaing dengan produk sejenis dan produk tidak laku terjual. Dengan
adanya teknologi canggih bisa menyebabkan pemangkasan biaya produksi
sehingga memicu penurunan harga.
2. Tujuan Perusahaan
Perusahaan yang bertujuan mencari keuntungan sebesar-besarnya (profit oriented)
akan menjual produknya dengan marjin keuntungan yang besar sehingga harga jual
jadi tinggi. Jika perusahaan ingin produknya laris dan menguasai pasar maka
perusahaan menetapkan harga yang rendah dengan tingkat keuntungan yang
rendah sehingga harga jual akan rendah untuk menarik minat konsumen.
3. Pajak
Pajak yang naik akan menyebabkan harga jual jadi lebih tinggi sehingga perusahan
menawarkan lebih sedikit produk akibat permintaan konsumen yang turun.
4. Ketersediaan dan harga barang pengganti/pelengkap
Jika ada produk pesaing sejenis di pasar dengan harga yang murah maka
konsumen akan ada yang beralih ke produk yang lebih murah sehingga terjadi
penurunan permintaan, akhirnya penawaran pun dikurangi.
5. Prediksi / perkiraan harga di masa depan
Ketika harga jual akan naik di masa mendatang perusahaan akan mempersiapkan
diri dengan memperbanyak output produksi dengan harapan bisa
menawarkan/menjual lebih banyak ketika harga naik akibat berbagai faktor.
Selamat Belajar Ilmu Ekonomi Dasar.

Klaim asuransi adalah tuntutan dari pihak tertanggung sehubungan dengan adanya kontrak perjanjian
anatara asuransi dengan pihak tertanggung yang masing-masing pihak mengikatkan diri untuk
menjamin pembayaran ganti rugi oleh penanggung jika pembayaran premi asuransi telah dilakukan
oleh pihak tertanggung, ketika terjadi musibah yang diderita oleh pihak tertanggung.

Untuk mengetahui suatu klaim diganti atau tidak, yang perlu diperhatikan adalah :
Resiko yang dijamin
Resiko yang tidak dijamin
Barang yang dijamin
Barang yang tidak dijamin
Kondisi-kondisi lainnya

Apalagi yang harus diperhatikan ?
Deductible / Resiko Sendiri / OR
Pembayaran Premi
Evidence

TAHAPAN KLAIM
Ada tiga tahapan dalam klaim, yaitu: notification, investigation, dan submission.

Notification
Merujuk kepada batas waktu pelaporan klaim, 7, 14, 30 hari sesuai dengan ketentuan polis
Melaporkan kepada perusahaan asuransi secara tertulis (verbal dan diikuti dengan laporan
tertulis)

Investigation
Fact-finding Survey di lokasi.
Permintaan beberapa dokumen pembuktian atas nilai kerugian dan lainnya
Penunjukkan Jasa penilai kerugian (estimasi nilai klaim diperlukan)

Submission
Tertanggung mengirimkan dokumen pendukung klaim yang diminta oleh penanggung
Penanggung melakukan pemeriksaan kesesuaian dokumen kepada polis, kelengkapan
dokumen yang diminta oleh penanggung dan mengirimkan kepada pihak penanggung.


Read more: http://www.akademiasuransi.org/2012/11/pengertian-dan-tahapan-
klaim.html#ixzz2hcdn6PQE