Anda di halaman 1dari 12

PRAKTEK PENGUKURAN DAN ALAT UKUR

RANGKAIAN R-L-C SERI DAN PARALEL PADA TEGANGAN AC




I. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Dapat mempelajari karakteristik impedansi dari rangkaian R-L-C seri dan paralel.
2. Dapat mempelajari hubungan antara resistansi, reaktansi, impedansi dan sudut fase, serta
dapat membandingkannya dengan perhitungan teori.

II. LANDASAN TEORI
Resistansi total pada jaringan listrik arus bolak-balik AC dari sebuah rangkaian
disebut dengan impedansi Z. Dengan menggunakan aplikasi dari hukum Ohm yang
diterapkan pada rangkaian arus bolak-balik AC, didapat bahwa :


IMPEDANSI R-L SERI

Pada suatu rangkaian R-L seri seperti pada Gambar 1.1., besarnya nilai impedansi total Z
ditentukan oleh nilai komponen resistif dan nilai reaktansi induktif, dimana nilai reaktansi
induktif tergantung daripada nilai induktansi dan frekwensi.


Hubungan antara resistansi R, reaktansi induktif XL, dan impedansi Z dapat
dirumuskan sebagai berikut :


Pada Gambar 1.2. terlihat hubungan antara R dan XL. Sumbu horizontal
menunjukkan sumbu nyata (real) untuk nilai dari sebuah resistansi R dengan sudut 0o ,
sedangkan sumbu vertical menunjukkan sumbu khayal (imajiner) untuk nilai dari sebuah
reaktansi induktif XL dengan sudut 90o dari sumbu nyata.













IMPEDANSI R-C SERI


Untuk rangkaian R-C seri seperti pada Gambar 1.3., besarnya nilai impedansi total Z
ditentukan oleh nilai komponen resistif dan nilai reaktansi kapasitif, dimana nilai reaktansi
kapasitif tergantung daripada nilai kapasitansi dan frekwensi.
Hubungan antara resistansi R, reaktansi kapasitif XC, dan impedansi Z dapat dirumuskan
sebagai berikut :

nyata (real) untuk nilai dari sebuah resistansi R dengan sudut 0o , sedangkan sumbu
vertical menunjukkan sumbu khayal (imajiner) untuk nilai dari sebuah reaktansi kapasitif XC
dengan sudut -90
o
dari sumbu nyata.


IMPEDANSI R-L-C SERI

Pada rangkaian R-L-C seri arus bolak-balik, analisa rangkaian yang digunakan sama
dengan analisa pada rangkaian arus searah, tetapi perlu diperhatikan adanya pengaruh fasor
pada komponen reaktif (L atau C).
Maka nilai impedansi dari R-L-C seri adalah

IMPEDANSI R-L PARALEL

Untuk menganalisa rangkaian paralel AC, perlu adanya pengetahuan mengenai analisa
rangkaian paralel pada DC. Pada rangkaian paralel, tegangan yang jatuh pada masing-masing
beban sama dengan tegangan sumber, sedangkan arus yang mengalir pada masing-masing
beban tergantung pada nilai hambatannya.
Untuk komponen resistif, hambatannya harga resistansi, untuk komponen induktif,
hambatannya harga reaktansi induktif dan untuk komponen kapasitif, hambatannya reaktansi
kapasitif.
Untuk nilai impedansi dari rangkaian R-L paralel :

IMPEDANSI R-C PARALEL

IMPEDANSI R-L-C PARALEL

Untuk impedansi total rangkaian R-L-C paralel dapat diselesaikan dengan menyelesaikan
terlebih dahulu komponen induktif dan kapasitif yang dimisalkan dengan Z1.




III. ALAT DAN KOMPONEN
1. Modul Rangkaian Listrik Unit 1
2. Kabel Penghubung
3. Multimeter
4. R-L-C Meter
5. Resistor
6. Kapasitor
7. Induktor


IV. LANGKAH PERCOBAAN
1. Rangkaian R-L Seri

1. Gunakan multimeter untuk mengukur harga resistansi dan gunakan R-L-C meter untuk
mengukur harga induktansi yang digunakan pada percobaan.
2. Rangkai rangkaian R-L seri seperti gambar rangkaian diatas, dan pastikan Sumber
Tegangan berada pada posisi minimal.
3. Pasang multimeter untuk mengukur arus rangkaian, setelah itu atur tegangan Sumber
Tegangan sampai arus yang mengalir pada rangkaian 15 mA.
4. Ukur tegangan sumber VS, tegangan pada resistor VR dan tegangan pada induktor VL.
5. Setelah itu posisikan Sumber teganganke minimal dan matikan rangkaian.
6. Hitung harga dari impedansi, reaktansi induktif, resistansi dan sudut fase disesuaikan
dengan hasil data pengamatan. Lengkapi data pengamatan anda.




2. Rangkaian R-C Seri

1. Gunakan multimeter untuk mengukur harga resistansi dan gunakan R-L-C meter untuk
mengukur harga kapasitansi yang digunakan pada percobaan.
2. Rangkai rangkaian R-C seri seperti gambar rangkaian diatas, dan pastikan Sumber
Tegangan berada pada posisi minimal.
3. Pasang multimeter untuk mengukur arus rangkaian, setelah itu atur tegangan Sumber
Tegangan sampai arus yang mengalir pada rangkaian 15 mA.
4. Ukur tegangan sumber VS, tegangan pada resistor VR dan tegangan pada kapasitor
VC.
5. Setelah itu posisikan Sumber tegangan ke minimal dan matikan rangkaian.
6. Hitung harga dari impedansi, reaktansi induktif, resistansi dan sudut fase disesuaikan
dengan hasil data pengamatan. Lengkapi data pengamatan anda.

3. Rangkaian R-L-C Seri


1. Gunakan multimeter untuk mengukur harga resistansi dan gunakan R-L-C meter untuk
mengukur harga induktansi dan kapsitansi yang digunakan pada percobaan.
2. Rangkai rangkaian R-L-C seri seperti gambar rangkaian diatas, dan pastikan Sumber
Tegangan berada pada posisi minimal.
3. Pasang multimeter untuk mengukur arus rangkaian, setelah itu atur tegangan Sumber
Tegangan sampai arus yang mengalir pada rangkaian 15 mA.
4. Ukur tegangan sumber VS, tegangan pada resistor VR, tegangan pada induktor VL dan
tegangan pada kapasitor VC.
5. Setelah itu posisikan Sumber tegangan ke minimal dan matikan rangkaian.
6. Hitung harga dari impedansi, reaktansi induktif, resistansi dan sudut fase disesuaikan
dengan hasil data pengamatan. Lengkapi data pengamatan anda.

4. Rangkaian R-L Paralel

1. Rangkai rangkaian R-L paralel seperti gambar rangkaian diatas, dan pastikan sumber
tegangan berada pada posisi minimal.
2. Pasang multimeter untuk mengukur arus rangkaian, setelah itu atur sumber tegangan
sampai tegangan sumber VS 50 Volt
3. Ukur arus total IT, arus pada resistor IR dan arus pada induktor IL.
4. Setelah itu posisikan Sumber tegangan ke minimal dan matikan rangkaian.
5. Hitung harga dari impedansi dan arus total disesuaikan dengan hasil data pengamatan.
Lengkapi data pengamatan anda.






5. Rangkaian R-C Paralel

1. Rangkai rangkaian R-C paralel seperti gambar rangkaian diatas, dan pastikan Sumber
Tegangan berada pada posisi minimal.
2. Pasang multimeter untuk mengukur arus rangkaian, setelah itu atur tegangan Sumber
Tegangan sampai tegangan sumber VS 50 Volt
3. Ukur arus total IT, arus pada resistor IR dan arus pada kapasitor IC.
4. Setelah itu posisikan Sumber tegangan ke minimal dan matikan rangkaian.
5. Hitung harga dari impedansi dan arus total disesuaikan dengan hasil data pengamatan.
Lengkapi data pengamatan anda.

6. Rangkaian R-L-C Paralel

1. Rangkai rangkaian R-L-C paralel seperti gambar rangkaian diatas, dan pastikan
Sumber tegangan berada pada posisi minimal.
2. Pasang multimeter untuk mengukur arus rangkaian, setelah itu atur tegangan Sumber
Tegangan sampai tegangan sumber VS 50 Volt
3. Ukur arus total IT, arus pada resistor IR, arus pada induktor IL dan arus pada kapasitor
IC.
4. Setelah itu posisikan Sumber tegangan ke minimal dan matikan rangkaian.
5. Hitung harga dari impedansi dan arus total disesuaikan dengan hasil data pengamatan.
Lengkapi data pengamatan anda.

V. HASIL PRAKTIKUM
Berikut merupakan tabel hasil praktikum pengukuran iluminasi dengan variasi jarak.
Jarak (m)
Vout (V) Lux
0,5 0,002 3500
0,45 0,004
4070
0,4 0,0042
4120
0,35 0,0049
4860
0,3 0,0055
5550
0,25 0,0057
5780
0,2 0,0069
6760
0,15 0,0073
7300
0,1 0,0086
8560
0,05 0,009
9140
0 0,0206


Tabel 1. Hasil Pengukuran Tegangan Output dan Lux Pada Saat Praktikum
Berikut merupakan tabel hasil praktikum pengukuran iluminasi dengan sumber
cahaya yang berbeda.
Sumber Cahaya Vout
(Volt)
Lux
Lampu Utama 0,003 3840
Lampu LED 0,0047
4712
Cahaya di Luar Ruangan (1) 0,0048
4580
Cahaya di Luar Ruangan (2) 0,01
9940
Cahaya di Luar Ruangan (3) 0,014
14550
Cahaya di Luar Ruangan (4) 0,015
15600

Tabel 2. Hasil Pengukuran Iluminasi dengan Sumber Cahaya yang Berbeda



VI. ANALISA
Berikut merupakan grafik jarak terhadap nilai lux dan Vout













Gambar 2. Grafik Jarak Terhadap Nilai Lux dan Vout


Gambar 4. Grafik Sumber Cahaya Terhadap Nilai Vout dan Lux

0
2000
4000
6000
8000
10000
12000
14000
16000
18000
Lampu
Utama
Lampu
LED
Cahaya di
Luar (1)
Cahaya di
Luar (2)
Cahaya di
Luar (3)
Cahaya di
Luar (4)
Sumber Cahaya
Grafik Sumber Cahaya Terhadap Nilai
Vout dan Lux
Vout (uV)
Lux
20600
9000
8600
7300
6900
5700
5500
4900
4200
4000
2000
10000
9140
8560
7300
6760
5780
5550
4860
4120 4070
3500
0
2000
4000
6000
8000
10000
12000
0
5000
10000
15000
20000
25000
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45 0.5
L
u
x

V
o
u
t

(
u
V
)

Jarak (m)
Kurva Jarak Terhadap Nilai Lux dan Vout
Vout
Lux

Perhitungan lumen pada luasan dengan smber cahaya berbeda
F (lm)= E (lux) x A (m^2)

m

Sumber Cahaya Vout
(Volt)
Lux Lumen
Lampu Utama 0,003 3840 8,448
Lampu LED 0,0047
4712 10,36
Cahaya di Luar Ruangan (1) 0,0048
4580 10,07
Cahaya di Luar Ruangan (2) 0,01
9940 21,86
Cahaya di Luar Ruangan (3) 0,014
14550 32,01
Cahaya di Luar Ruangan (4) 0,015
15600 34,32


VII. KESIMPULAN
Hubungan antara jarak dan nilai Lux dan Vout adalah berbanding terbalik dimana
semakin jauh jarak antara sumber cahaya dan lux meter maka semakin kecil nilai lux
dan Vout nya.
Cahaya di luar ruangan yang berasal dari matahari secara langsung lebih besar
nilainya daripada cahaya dari lampu.